Beautifull Aurora, Part 51 : Who Are You, Handphone?

Ada seorang pemuda misterius mengaku bernama 'Handphone'. Siapakah dia? Simak kisahnya berikut ini.
▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Hari ini Band PanicMonkey diundang ke sebuah acara ulang tahun sekolahnya Aaron yang berada di SMA Negeri 2, Tangerang.

Suasana pun sangat meriah karena dihadiri pengunjung yang begitu ramai baik dari sekolah lain maupun orang-orang umum. Dion, Ega, Beny, Pris, Enu, Diki dan orang-orang lain terlihat sedang asyik duduk dan menikmati film yang ada didalam suatu kelas yang dimana filmnya dibantu dengan layar putih dan proyektor. Sebuah film yang sangat menguras otak dari karya sutradara terkenal Christoper Nolan yang berjudul Memento.

Sedangkan Bayu, Arya, Beng-Beng, Johan, Kevin, Damar, Felix, Made, Anto, Diki dan Adis sedang menemani Melody, Shani, Viny, Ve, Hanna, Lidya, Jeje, Naomi, Mova, Panda, Kinal, Novi, Ochi, Michelle, Frieska, Riskha, Andela, Yona, Yupi, Sendy, Beby dan Ayana untuk berkeliling melihat-lihat apa saja yang dijual di stand-stand yang ada karena setelah mendapat info dari Aaron kalau akan ada sponsor yang mengadakan bazar disekolahnya, akan tetapi perhatian mereka tertuju pada stand yang sedang melakukan lelang, mereka pun tertarik dan menuju kesana.

Setelah melakukan penjualan terhadap barang kedua, orang pelelangan kembali melelang sesuatu.

“Oke, barang ketiga. Ini adalah DVD Original dari Michael Jackson yang katanya cuma ada 6 unit di Indonesia.”

Melody dan yang lain tampak tak tertarik dengan hal itu dan memilih menunggu barang-barang lelang yang lain, akan tetapi berbeda dengan 2 orang yang senyumnya merekah dan matanya berbinar melihat kaset DVD tersebut.

“Oke, saya mulai buka harga dari 120ribu. Penawaran dimulai!”

“125 RIBU!!” Novi berteriak sambil mengangkat tangannya.

“Yak! 125 ribu dari gadis itu, ada yang lain?”

“127 RIBU!!” Made juga melakukan hal yang sama seperti yang Novi lakukan.

“130 RIBU!!” Novi mengangkat tangannya lagi.

Made menoleh kearah Novi dan memincingkan matanya.

“Yak, ada yang lain? DVD Michael Jackson 130ribu,” tanya pemilik lelang.

“135 RIBU!!” Made berteriak.

Novi melotot memandang Made, begitu juga Made yang memandangnya dengan mulut sinis.

“140 RIBU!!” Novi kembali berteriak.

“141 RIBU!!” begitu juga Made.

Melody dan orang-orang disitu terlihat cengok melihat Made dan Novi yang melakukan persaingan menawar harga, ada pula yang cekikikan melihat hal itu. Mereka terus menyebutkan harga sampai-sampai nominal harganya melebih angka 200.000.

“215 RIBU!!!!” Novi begitu menggebu-gebu.

“210 RIBU!!! DITAMBAH SEPATU ANE!!” ujar Made sambil mengangkat sepatunya.

“Maaf mas, sepatu tidak bisa dipake untuk pembayaran,” kata pemilik lelang mengingatkan, “Yak! Ada yang mau lebih tinggi dari mbak ini? DVD original Michael Jackson 215 ribu,” pemilik lelang kembali menawarkan.

“UTANG DULU BOLEH GAK?! BESOK ANE KETEMPAT ENTE BUAT NGELUNASINNYA!” teriak Made yang membuat orang-orang cekikikan mendengarnya.

“Aduhh, gak bisa mas. Maaf ya, Yak, ada yang mau lebih tinggi dari 215ribu?”

Novi tersenyum puas karena merasa akan memenangkan DVD tersebut dengan penawarannya, Made yang duitnya cuma 210 ribu mulai menoleh kanan kiri untuk mencari bantuan, matanya pun tertuju pada Bayu.

“Bay! Pinjem duit ente 100ribu!”

“Hah?” Bayu kaget.

Tanpa persetujuan dari Bayu, Made langsung mengangkat tangannya dan berteriak.

“300 RIBU!!!”

“YAK! 300 ribu! Ada yang mau lebih tinggi dari itu?”

Novi panik karena kalah penawaran, dia lalu memeriksa isi dompetnya.

“310 RIBU!!!” teriak Novi.

Made lebih terkejut, Novi mendengus puas dan memandang Made dengan sinisnya. Made mendumel-dumel dan kembali menoleh kearah Bayu.

“BAY! PINJEM DUIT ENTE 100 RIBU LAGI!”

“Hah?” Bayu lagi-lagi kaget.

“350 RIBU!!!” teriak Made.

“351 RIBU!!” Novi mulai panik dan kembali melakukan penawaran.

“370 RIBU!” Made tak mau kalah.

“390 RIBU!!” begitu juga Novi.

“399.999 RIBU!!!” teriak Made penuh semangat.

Novi panik, dia kembali melihat dompetnya dan mulai lesu. Karena isi dompetnya hanya bisa melakukan penawaran 390ribu. Melihat Novi yang tampak kalah tersebut membuat Made tersenyum puas, dia mengepalkan kedua tangannya keudara dan melakukan selebrasi dengan angkuhnya.

“399ribu satu,” kata pemilik lelang melakukan hitungan mundur.

Made berkacak pinggang dan tertawa kayak orang gila untuk mengejek Novi.

“399ribu dua...”

Yeah! Yeah! Yeah!” Made melakukan salam metal terhadap orang-orang yang ada disitu, Novi gregetan karena pas gilirannya Made melakukan headbang didepan dirinya sambil melakukan salam metal.

“399ribu tiga...”

Made berbaring ditanah dan berlagak seolah-olah sedang bersantai dipantai sambil merokok karena hitungan mundur sudah mencapai Final, Novi kesal memandangnya, sedangkan Melody dan yang lainnya cekikikan melihat sikap teman Dion, Bayu, Kevin, Enu, Beng-Beng dan Felix tersebut.

“YAK! JADI DVD ORIGINAL TERJUAL DENGAN HARGA...”

“500 RIBU!!” teriak orang lain tiba-tiba, seorang bapak yang sedang menggandeng istrinya.

Pemilik lelang cengok, begitu juga Made. Novi dan lainnya menoleh dan melihat pasangan suami istri itu tersenyum kearah mereka.

“Yak, ada yang lebih tinggi dari 500ribu?” tanya pemilik lelang.

Tidak ada jawaban, Made masih cengok.

“500 ribu satu...”

Made cengok.

“500 ribu dua...”

Made cengok, matanya sedikit berair.

“500 ribu tiga...”

Made masih cengok, setetes air mata turun dari mata kirinya.

“YAK! DVD ORIGINAL MICHAEL JACKSON TERJUAL DENGAN 500 RIBU! Selamat untuk bapak yang telah menawarkan.”

Suara tepuk tangan diberikan kepada pasangan suami istri tersebut, begitu juga Melody dan yang lainnya.

“Maaf ya, Istri saya penggemar Michael Jackson dan kebetulan dia sedang hamil. Jadi anggap saja bawaan orok hehe,” kata bapak itu kepada Novi dan Made.

Novi tersenyum dan mengangguk, begitu juga Made yang mengangguk sambil cengok. Tak lama kemudian suami istri itu mengambil nomor untuk mengambil barang yang mereka beli dari pelelangan.

 Setelah basa-basi sedikit kepada pasangan suami istri tadi, pemilik lelang mulai melakukan pelelangan barang keempat tapi perhatiannya teralihkan kearah Made yang berada tepat didepannya.

WHY ??!!!!!” teriak Made sambil bersimpuh dan menadahkan kedua tangannya keatas kepada pemilik lelang.

Bayu dan Beng-Beng buru-buru menariknya dengan susah payah. Novi cekikikan.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Setelah selesai menonton Film, Dion, Pris, Beny, Enu dan Ega bertingkah seperti orang mual didekat tong sampah yang ada dikoridor.

Diki yang melihat itu terkekeh dan bertanya, “Kenapa kalian?”

“Heeeeh, lo gak liat film tadi? Benar-benar nguras otak gue nontonnya,” balas Beny.

“Iye, hebat bener dah sutradaranya, maju mundur maju mundur gitu alurnya. Mantap,” puji Dion sambil mengurut-urut kepala.

“Haha Christoper Nolan gitu loh, lo liat aje film Inception nya dia. Bisa 2 kali nonton biar ngerti konsep mimpi didalam mimpinya,” ujar Diki.

Semuanya pun memanggut-manggut, film Memento tadi memang sangat membingungkan kalau otak benar-benar tidak dalam keadaan segar bugar. Karena diawal film itulah ending filmnya.

“Oh iya, yang lain mana?” tanya Enu.

“Ntu dilapangan, wah ada lelang kayaknya tuh,” Ega menunjuk kerumanan Melody dan yang lain.

“Eh kesana yuk? Siapa tau ada barang yang asik,” ajak Enu.

“Males, lupa bawa duit tadi gue,” tolak Dion.

“Alah bilang aje duit lo dipegang bini lo, alesan lagi,” ujar Enu mengejek sedangkan Dion memiringkan bibirnya.

Tak lama kemudian Enu, Pris dan Diki bergabung untuk melihat pelelangan barang yang ada dilapangan. Sedangkan Dion, Ega dan Beny lebih memilih duduk dikursi yang tersedia dikoridor. Asyik-asyik duduk dan mengomentari orang-orang dengan ejekan khas mereka tiba-tiba Aaron menghampiri dan ikut duduk.

“Gak ikut kebawah bang?”

“Males, eh lo kenapa masih pake seragam Ron?” tanya Beny.

“Lupa bawa baju ganti tadi hehe, mau pulang males rasanya. Tadi pagi aku kan ikut upacara buat menyambut selamatan ulang tahun sekolah.”

“Oh gitu,” Dion, Ega dan Beny memanggut-manggut.

Asyik-asyik duduk tiba-tiba mereka mendengar suara orang-orang sedang berbicara didalam ruangan didekat mereka.

“Gue denger-denger katanya nanti Aaron juga mau tampil sama Band nya.”

“Hah? Serius lu? Si cupu itu? Hahahaha.”

“Yoi, heran gue kenapa Ketua Osis mau aje ngundang tuh band anak cupu. Palingan nanti tuh Band dia ngebawain lagu-lagu cupu, cinta-cintaan hahahaha.”

“Mungkin buat lawakan disekolah, biar dia sama band nya malu diatas panggung hahahahaha.”

Tak lama kemudian ada 3 orang yang keluar dari ruangan itu sambil tertawa terbahak-bahak dan terus berjalan tanpa menyadari orang yang diomongin mereka sedang duduk dikursi didepan ruangan tersebut.

Aaron yang mendengar dirinya dihina seperti itu hanya tersenyum dan berusaha cuek. Akan tetapi tidak Beny, Dion dan Ega. Mereka langsung melihat penampilan Aaron.

“Iya Ron, kok lo cupu gini kalau disekolah?” komentar Ega melihat penampilan Aaron.

Aaron hanya tertawa mendengarnya. Tampilan Aaron memang lain, baju seragam yang dikancingkan sampai keatas, celana juga sampai naik keatas diatas pinggang malahan. Persis kutu buku walau Aaron tidak memakai kacamata dan rambutnya tidak belah tengah.

“Lo gak marah Ron diomongin kayak gitu?” tanya Dion.

Aaron menggeleng, “Percuma diladenin bang hehe, gak penting-penting juga.”

“Wah! Belum tau mereka gilanya elo diatas panggung. Mana main asal nebak aje lagi kalau nanti kita ngebawain lagu cupu!” Ega terlihat panas, seperti disiram oli panas.

“Emangnya lo gak kesal Ron? Kayaknya lo sering dibilang cupu deh, itu aje sampai ngatain lo begitu. 3 orang malah,” Dion kembali bertanya.

“Haaah,” Aaron menghela nafas, “Kesal sih Bang, tapi biarlah. Santai aje.”

“Wah gak bisa Ron, lo yang nyantai, gue nya yang enggak,” Beny juga ikut-ikutan panas karena dibilang cupu.

“Hmm! Ah! Bagaimana kalau begini,” Dion tiba-tiba mendapatkan ide.

“Kenapa Yon?” tanya Ega yang penasaran.

“Gini-gini...”

Dion kemudian membisiki sesuatu kepada Beny, Ega, dan Aaron. Setelah berbisik Ega dan Beny mengangguk-angguk, begitu juga Aaron. Dion kemudian melihat jam.

“Masih lama kan Ron giliran kita nanti?”

Aaron juga melihat jam, “Iya Bang masih lama, masih sempat kayaknya dari rumah Abang kesini.”

“Oke, kalau gitu kami pergi dulu. Kalau kakak lo nanya bilang aje kami bertiga pergi sebentar buat beli bensin,” pinta Ega.

“Oke Bang.” Aaron menyanggupi.

“Tenang aje, Ron! Kita bungkam tuh temen-temen yang ngatain lo cupu tadi, dan cewek-cewek disini tergila-gila sama lo,” ujar Dion sedikit berlebihan.

“Waduuh susah dong Bang, nanti Yansen marah,” Aaron panik.

“Yeee malah dianggap serius. Udah ye, lu tunggu aje disini. Dan misal ada yang nyari kita bilang aje tadi, beli bensin,” Beny mengingatkan.

Aaron mengangguk. Dion, Ega dan Beny pun menuju parkiran dan segera meluncur keluar sekolah. Aaron yang merasa bosan mulai berjalan untuk membunuh waktu sekalian melihat kakak dan teman-temannya asyik menawar harga dipelelangan.

Dan selama perjalanan itu dia terkadang mendengar celetukan teman-teman seangkatannya yang mengejek penampilan dia dan band nya nanti, tidak hanya pria akan tetapi juga wanita yang membicarakannya. Aaron tidak memusingkan hal itu dan mencari jajanan untuk mengisi perutnya.

“Ron, Dion sama yang lain kemana?” tanya Melody celingak-celingukan.

“Katanya sih tadi beli bensin sebentar kak sama Bang Ega, Bang Beny.”

“Loh, perasaan tadi aku ngeliat Dion sama Beny udah ngisi bensin deh,” sambung Andela.

“Gak tau juga kak hehe,” ujar Aaron sambil melahap makanannya.

Melody kemudian mencoba menelpon Dion, akan tetapi perhatiannya tertuju kepada suara pemilik lelang.

“Oke! Ini barang ke sepuluh. Baju kaos Band Muse, yang ditanda tangani langsung oleh ketiga personilnya. Baju ini belum dipake siapapun dan sengaja dilelang untuk hari ini.”

Melody yang tahu kalau itu adalah Band favoritnya Dion langsung saja kembali kekerumunan untuk menawar harga kaos Band yang ada tanda tangan personilnya, apalagi dilihat dari ukuran bajunya itu sangat pas buat Dion. Melody tampak semangat menawarkan harga dan bersaing dengan 2 orang lainnya yang menginginkan kaos tersebut.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

1 jam 4 menit kemudian apa yang dinanti datang juga, yaitu penampilan perdana Band PanicMonkey untuk membuka sesi acara musik. Terlihat Melody tersenyum sambil memegang kaos band Muse yang dimenangkannya tadi dipelelangan.

“Aku kok baru tau kamu suka Band Muse, Mel,” tanya Yona yang penasaran.

“Lumayan sih,” Melody tersenyum.

“Terus kenapa tadi kamu antusias banget buat ngedapetin tuh kaos?” Mova juga tampak penasaran.

“Oh hehe, ini buat Dion kok. Kan ini Band favorit dia, ada tanda tangan personilnya lagi tuh, tuh,” jawab Melody sambil menunjuk tanda tangan yang dimaksud.

“Etcieeee nyenangin suami nih yeee,” ejek Frieska sambil tertawa.

“Ish!” Melody langsung saja mencubit pipi adiknya tersebut.

Semua teman-temannya pun terkekeh melihat kelakuan kakak beradik itu, setelah itu mereka melihat staff yang sedang mengatur alat dipanggung yang membuat Naomi berbicara.

“Ini Beny sama yang lainnya mana?”

“Tadi sih gue liat orang kayak mereka udah dibelakang panggung waktu ke WC, tapi bajunya lain. Entah itu mereka atau bukan,” jawab Felix.

“Lain gimana?” Riskha bertanya penasaran mewakilkan yang lain.

“Ya... pake seragam sekolah gitu. Entah itu mereka atau bukan,” Felix menjawab lagi.

Semuanya pun menyeringitkan dahi dan juga bertanya-tanya apakah benar itu Dion, Beny dan Ega. Kalaupun benar ngapain juga mereka memaka seragam sekolah. Dan sepertinya yang dilihat Felix itu benar adanya karena dibelakang panggung terlihat Dion, Aaron, Beny dan Ega memakai seragam sekolah dan sedang menunggu band mereka dipanggil.

“Untung masih muat,” ujar Beny melihat seragam putih abu-abu yang dipakainya selama sekolah tahun kemarin.

“Hahaha udah kayak almarhum Jojon gak gue?” tanya Dion memperlihatkan penampilannya.

“Asli! Udah pas, cupu banget. Kalau gue gimana?” Ega balik bertanya.

Penampilan Dion dan Ega seperti Aaron. Baju seragam dikancing sampai atas, baju dimasukan dan celananya naik sampai diatas pinggang. Tak hanya itu, Dion dan Ega juga membasahi rambutnya dan membuatnya belah tengah dengan sisir yang dibawa Ega. Aaron dan Beny yang melihat itu langsung terkekeh apalagi mereka semua juga berpenampilan seperti itu dan meminta pendapat satu sama lain.

Tak jauh dari mereka ada beberapa orang yang melihat penampilan Dion dan yang lain, salah satunya yang mengejek Aaron tadi didalam ruangan.

“Tuh gue bilang juga apa kan, udah cupu satu band nya pun cupu hahaha.”

“Hhahaha parah, bakalan kena bully habis-habisan tuh anak nanti diatas panggung.”

“Yaudah yuk, kedepan panggung. Biar kita lebih leluasa menghina mereka.”

“Hayuuuk.”

Gerombolan orang tadi segera berjalan menuju depan panggung, sedangkan Dion, Aaron, Beny dan Ega semakin menjadi mengubah gaya mereka menjadi cupu abis.

Selang beberapa menit kemudian akhirnya para Staff sudah menyelesaikan tugasnya mengatur Soundsystem. MC pun segera naik dan mengetes mic yang dipegangnya sebentar. Setelah itu dia mulai membuka acaranya dengan berbasa-basi sebentar dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan para tamu yang datang di acara ulang tahun sekolah SMA Negeri 2 Tangerang.

“Dan untuk pembuka acara musik kali ini, ketua Osis sudah mengundang Band dari luar yaitu dari SMA Jakarta 23, dan salah satu personilnya juga sekolah disini, kalau gak salah namanya... ah ya, Aaron. Mari kita sambut mereka, inilah PANICMONKEY!!”

Suara tepuk tangan sekedarnya diberikan untuk menyemarakan suasana. Tak lama kemudian Dion, Ega, Aaron dan Beny muncul diatas panggung dan segera mengambil instrument yang mereka mainkan masing-masing.

“Loh, mereka kenapa?” tanya Enu yang keheranan, bukan hanya dia saja tapi Melody dan yang lainnya juga keheranan melihat penampilan Dion, Enu, Ega dan Aaron begitu cupu.

“Hahahahaha gila cupu banget! Hahaha ngelawak aje Ron, jangan nge Band hahaha!” teriak salah satu siswa dibarisan penonton.

“Iya hahaha! WOOOO BAND CUPU! AARON CUPU!!”

Veranda yang mendengar itu seketika mengkerutkan dahi karena mendengar suara hinaan yang seperti ditujukan kepada adiknya. Terlintas ada perasaan sedih adiknya dihina seperti itu sama teman-teman sekolahnya sendiri, Melody dan yang lain kemudian mencoba menghiburnya.

“H-halo... tes-tes, satu dua, satu dua,” Dion yang kebiasaan demam panggung mulai berbicara terbata-bata di Mic.

“Wiihiii! Belah tengah mulai nge Stand up! Hahahahaha,” Ejek lagi salah satu siswa saat Dion melakukan itu.

Melody yang mendengar itu juga ikutan panas seperti hal nya Ve. Setelah semua selesai menyetel alat instrument masing-masing Dion kembali berbicara.

“Halo hehe terima kasih sudah mengundang kami kesini... J-jadi itu... kami Panicmonkey... itu...” Dion benar-benar bingung harus berkata apa disaat semua orang memperhatikannya.

“CUPU! CUPU!!” gerombolan siswa tadi kembali berteriak hingga sampai ketelinganya Dion, Aaron, Ega dan Beny.

“Hahaha iya kami cupu hehe... ah ya langsung saja ya hehehe.”

Dion kemudian memetik gitarnya sendirian, suara gitar yang dihasilkannya pun terdengar mellow sehingga membuat siswa-siswa tadi kembali berteriak dan tertawa.

“Tuh kan lagu mellow hahahahaha! Payah.”

“Hahahaha turun aje dah!”

Suara sorak-sorai yang menghina itu semakin nyaring tapi sama sekali tidak digubris Dion yang masih asyik memainkan nada mellow tersebut diatas panggung, tak lama kemudian dia berjalan kearah Mic.

“Oke, lagu pertama!”

Sehabis berkata begitu Dion langsung menginjak pedal effectnya dan mulai memainkan Instrument pertama. Suara distorsi gitar yang tajam mulai keluar dari Sound ditambah dengan gebukan drum dan suara bass yang garang. Aaron pun menyambutnya dengan distorsi gitar dari gitarnya sendiri.

Sebuah awal instrument lagu begitu menggelegar dihasilkan oleh band PanicMonkey, berbeda dengan gaya mereka yang cupu, lagu mereka justru cadas dimainkan dan membuat siswa-siswa yang menghina mereka tadi terdiam seketika. Setelah mau memasuki Vocal Aaron langsung saja melangkah menuju mic dan mulai bernyanyi.


_______________________
"Get Free"

I'm gonna get free 
I'm gonna get free 
I'm gonna get free 
Ride into the sun 
She never loved me 
She never loved me 
She never loved me 
Why should anyone? 

(Come here, come here, come here) 
I'll take your photo for ya 
(Come here, come here, come here) 
Drive you around the corner 
(Come here, come here, come here) 
You know you really oughta 
(Come here, come here, come here) 
Move out of California 

Get (get) 
Me (me) 
Far (far) 
When I have alot to lose 
Save (save) 
Me (me) 
From (from) 
Here! (here) 

When it's pretty time 
Look into your mind 
Don't wait 

I'm gonna get free 
I'm gonna get free 
I'm gonna get free 
Ride into the sun 
She never loved me 
She never loved me 
She never loved me 
Why should anyone? 

(Come here, come here, come here) 
I'll take your photo for ya 
(Come here, come here, come here) 
Drive you around the corner 
(Come here, come here, come here) 
You know you really oughta 
(Come here, come here, come here) 
Move out of California
\_______________________/

Lagu yang dibawakan PanicMonkey itu adalah lagu yang berjudul Get Free dari band The Vines. Sebuah lagu yang penuh akan distorsi gitar, gebukan drum yang padat dan alunan bass yang memekat cukup menggelegar buat siapa saja yang mendengarnya ditambah lagi Aaron menyanyikannya dengan suara yang kuat dan keras.

Semua penonton dan siswa-siswa yang menghina tadi terdiam, begitu juga Ochi, Novi, Made, Kevin, Riskha dan Felix karena ini baru pertama kalinya mereka melihat Band PanicMonkey manggung. Sedangkan Melody dan yang lain hanya tersenyum puas karena melihat Band PanicMonkey berhasil membungkam suara orang-orang yang menghina mereka tadi.

Saat memasuki bagian melodi gitar dan itulah waktunya kegilaan Band PanicMonkey dimulai. Aaron menghentak-hentakan kepalanya melanjutkan distorsi gitar begitu juga Dion hanya saja dia kebagian melakukan melodi gitar. Sedangkan Ega mulai meloncat dan berputar-putar dan Beny semakin padat menghentakkan drum yang dimainkannya.

Dan saat selesai bagian itu Aaron kembali mengisi Vocal akan tetapi gaya semua personil PanicMonkey sekarang berubah. Rambut mereka semua sekarang acak-acakan gara-gara  hentakan kepala tadi dan terlihat sangat keren apalagi basah karena keringat, baju seragam mereka juga keluar dengan sendiri karena saat melakukan kegilaan tersebut mereka sangat banyak melakukan banyak gerakan.

Lagu pun habis diakhiri dengan teriakan Aaron yang pas dengan lagu tersebut. Suasana seketika hening, sedangkan Dion, Ega, Aaron terlihat cuek membenarkan senar mereka gegara kegilaan tadi diatas panggung dan membuka sedikit kancing seragam dibagian atas karena kegerahan, begitu juga Beny yang mulai membuka sedikit kancing seragamnya.

Suasana masih hening sampai akhirnya terdengar 1 suara tepuk tangan, dari 1 suara tepuk tangan kemudian menyambung, menyambung dan menyambung sampai pada akhirnya suara tepuk tangan menggelegar dibawah panggung.

“KEREN!!! WOOOWWWW!!!” celetuk salah satu seseorang.

“LAGI RON! LAGIIII!!!” pinta salah satu teman-temanya, yang tidak ikut menghina.

Suara semangat dari teman-teman seangkatan, kakak kelas, adik kelas dan orang luar pun tertuju kepada Aaron dan Bandnya. Aaron yang menerima itu hanya bisa salah tingkah dan mengaburkannya dengan berpura-pura melihat pedal Effect.

“Diem nih ye,” celetuk Arya untuk mengejek teman-teman Aaron yang meremehkannya tadi. Melody dan yang lainnya pun serempak menahan tawanya.

Teman-teman Aaron yang menghinanya tadi masih melongo dan tak berkedip memandang Band PanicMonkey diatas panggung. Sedangkan Ve begitu bangga melihat adiknya bisa membungkan hal itu dengan bakatnya bermain gitar walau dia tidak suka melihat Aaron berteriak-teriak pas nyanyi tadi seperti orang gila.

“OKE! LAGU KEDUA BUAT YANG TADI TERIAK-TERIAK BILANG AARON CUPULAH! INILAH! KAMPREEEEEEET LU!” teriak Ega memaki di Mic, dia sudah tidak perduli karena begitu panasnya suasana.

Teman-teman Aaron yang menghina Aaron tadi pun tertunduk malu karena sekarang giliran mereka yang disorakin penonton-penonton lain. Mereka mau melarikan diri tapi tidak bisa karena dihimpit penonton-penonton lainnya.

Lagu kedua pun dimulai dan itu adalah lagu PanicMonkey sendiri yang berjudul Burit. Suasana kembali menggelegar dengan alunan distorsi yang asyik dan kali ini giliran Ega yang menyanyikan lagu tersebut.


_______________________
"Burit"

Kitalah sperma dewasa
Hutan hujan gembira
Terka fatamorgana
Surga muntah tercipta

Lahir dan mati
Proses alami
\_______________________/

Teman-teman Dion dan Ega yang mengetahui lagu ini ikut menyanyikan reff lagunya karena gampang diingat dan dikomandoi oleh Edgar.

“LAHIR DAN MATI! PROSES ALAMI!!!”

Penonton yang mendengar itu juga ikut-ikutan berteriak, lagu nyeleneh yang dibuat Dion sewaktu dirumahnya Ega itu akhirnya bisa dinyanyikan ramai-ramai walau cuma bagian Reff.

Setelah lagu kedua, lagu ketiga langsung dimainkan tanpa basa-basi sebelumnya. Sebuah lagu yang pernah mereka bawakan dikampus Beny kini kembali dibawakan yaitu Bullet for My Valentine yang berjudul Waking the Demon, dan yang menyanyikannya 3 orang sekaligus yaitu Aaron, Dion dan Ega. Seperti biasa mereka melakukan Scream yang saling sahut menyahut dilagu tersebut.


_______________________
"Waking The Demon"

No!
Helpless, my eyes are bleeding from the fear that's inside,
You sealed your demise when you took what was mine
Don't try and stop me from avenging this world,
No voice to be heard

Waking the Demon,
Where'd ya run to
Walking in shadows,
Watch the blood flow
There's not much longer so don't try and fight,
Your body's weakening so walk to the light
All those painful times so alone so ashamed,
I'm not coming back there's nothing to gain

Caution, there's just no limits to the boundaries you push,
I've warned you but still you just fuck with my mind
There's no escape from this rage that I feel,
Nothing is real

Waking the Demon,
Where'd ya run to
Walking in shadows,
Watch the blood flow
There's not much longer so don't try and fight,
Your body's weakening so walk to the light
All those painful times so alone so ashamed,
I'm not coming back there's nothing to gain

Breath for me,
Don't wake me from this slumber
Stay with me,
Possession taking over
Possession taking over

Breath for me,
Don't wake me from this slumber
Stay with me,
Possession taking over
Possession taking over

Waking the Demon
\_______________________/

Sorak sorai tepuk tangan kembali menggelegar saat lagu selesai dinyanyikan. Dion pun mewakilkan personil yang lain untuk berpamitan karena mereka hanya membawakan 3 lagu. Setelah itu mereka semua turun dari panggung.

“Eh? Ody? Kok ada disini?” Dion kaget saat melihat Istrinya itu ada dibelakang panggung bersama Naomi, Ve dan Frieska.

“Ya disini dong. Abang kenapa pake baju seragam? Udah tau baru dicuci,” ujar Melody yang meminta Dion melepaskan seragamnya.

“Hehe iya-iya maaf,” Dion dengan segera membuka seragamnya.

“Haha keren tadi kak, yang tadi ngolok-ngolok Aaron pada diem loh,” Frieska tertawa lepas.

“Oh jelas! PanicMonkey gitu loh haha,” Dion dan Frieska pun melakukan tos tangan sambil tertawa terbahak-bahak, begitu juga Melody yang tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua sambil melipat seragamnya Dion.

Disalah satu sisi Ve juga meminta Ega dan Aaron melepas seragamnya dan melipatnya.

“Tadi kamu kenapa marah-marah gitu, bilang-bilang kampret segala,” tanya Ve kepada Ega.

“Ya marahlah. Masa adik kita ini dihina daritadi? Rame-rame pula, iya gak Ron?” seru Ega sambil merangkul pundak Aaron.

“Hehehe,” Aaron hanya terkekeh.

“Dasar,” Ve tersenyum dan senang melihat Ega begitu membela adiknya itu.

“Kalau mereka gak terima, bilang abang Ron. Kita tampar mereka semua!” lanjut Ega menggebu-gebu.

“Ish! Sok jago!,” Ve memencet hidung Ega, “Nih pake, tadi udah dibeliin buat kalian berdua,” Ve mengeluarkan kaos didalam kantong plastik kepada Ega dan Aaron.

“Weeeh! Hahaha makasih ya sayang,” Ega mengelus rambut Ve dan tersenyum gembira.

“Makasih ya Kak,” begitu juga Aaron yang memeluk kakaknya.

Ve hanya tersenyum mendapatkan perlakuan itu dari mereka berdua, tak lama kemudian Naomi mengajak mereka kembali ketempat teman-temannya berada. Frieska, Ega, Ve, Aaron, Naomi dan Beny pun kembali kedepan. Sedangkan Melody dan Dion masih disitu karena Dion sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang dibawa Melody.

“Oh iya, Adek mau ngasih sesuatu sama Abang.”

“Ngasih apa?” tanya Dion dengan handuk kecil yang masih dikepala.

“Ntar ya,” Melody lalu mengobrak-abrik kantong belanjaan yang dibawanya sedari tadi.

Tak lama kemudian Melody tersenyum dan mengeluarkan benda yang dicarinya tersebut.

“Jreng!Jreng! Ini dia!” seru Melody menunjukan kaos band Muse tadi yang dimenangkannya dipelelangan.

Mata Dion seketika membulat dan senyumnya merekah, dia pun segera menyambut kaos tersebut.

“Wah!! Kok Adek bisa dapat kaos ini?” tanya Dion dengan perasaan bahagia.

“Bisa dong hihi, coba deh Abang bentangin kaosnya,” pinta Melody.

Dion segera membentangkan kaos itu dan mencari-cari apa yang menjadi penyebab Istrinya itu menyuruh membentangkannya.

“Nih, coba liat. Tanda tangan siapa hayooo,” ujar Melody menunjuk sesuatu guratan warna merah yang ada di ujung bawah kaos tersebut.

Mata Dion kembali berbinar saat melihat itu karena dia tahu itu adalah tanda tangan ketiga personil Muse. Dion memandang Melody dan langsung memeluk Istrinya itu.

“Makasih sayang! Makasih!” ucapnya sambil mengecup kedua pipi dan dahi Istrinya itu.

“Ish! Cium-cium segala, kan banyak orang,” bisik Melody memanyunkan bibir.

“Biarin! Bang-Bang!” Dion memanggil staff-staff yang ada dibelakang panggung.

“Ya?” respon salah satu Staff mewakili Staff lain.

“Istri gue nih! Gue dibeliinnya kaos band Favorit! Hahahahaha,” ujar Dion kesenangan sambil menunjuk Melody yang dirangkulnya.

“Oh hahahaha selamat ya! Jaga baik-baik tuh kaos.” para Staff-Staff hanya tertawa melihat Dion.

Melody langsung mencubit perutnya Dion akan tetapi Dion membalasnya lagi dengan kecupan didahinya itu. Melody tersenyum melihat Suaminya itu begitu senang dengan apa yang diberikannya, Dion pun langsung memakai kaos itu dan menyusul teman-temannya yang lain bersama Melody. Dan disaat sudah berkumpul Dion langsung saja memamerkan baju pemberian Istrinya, Melody kembali mencubitnya karena Dion bertingkah norak akan hal itu. Mereka semua lalu kembali berjalan-jalan untuk melihat stand-stand yang ada. 

Sedangkan Aaron sudah banyak ditegur teman-temannya yang lain saat dia melintas, begitu juga teman-temannya yang menghina dirinya tadi, mereka meminta maaf dan memuji aksi panggung Aaron tadi sangatlah keren. Aaron hanya tersenyum dan senang teman-temannya tidak melihat dia dari luarnya saja.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Ujian tinggal menunggu 5 bulan lagi, sekarang Dion bersama teman-temanya disibukkan dengan menghapal materi pelajaran, dan undangan band dari beberapa sekolah dan kampus harus mereka tunda. PanicMonkey sekarang begitu dikenal dari mulut ke mulut, bahkan Video mereka yang tampil sudah banyak diunggah di Youtube oleh orang-orang yang menonton aksi mereka.

Disaat melakukan Try Out, Dion, Ega, Damar, Enu dan Arya lagi-lagi tak berkutik dihadapan pelajaran Matematika. Ibarat game, Matematika itu adalah bos terakhir yang harus dikalahkan dengan level 100 sedangkan level mereka baru level 18, sekali hempas mereka tewas. Perbedaannya jauh sekali dan mereka harus ekstra keras untuk mempelajari rumus-rumus tersebut dengan teliti.

Untung saja ada Jeje, Yona, Hanna dan Lidya jago matematika. Jadi selama Istirahat mereka bersedia mengajarkan hal itu kepada mereka berlima. Tentu saja dengan bayaran traktiran.

“Jadi kita lakukan secara bertahap, dari soal yang mudah dulu,” ujar Lidya dan memberikan soal kepada mereka berlima.

Dion, Ega, Arya, Enu dan Damar langsung melihat soal.

“Lid,” panggil Arya walau wajahnya tertutup soal yang dibentangkannya, begitu juga Dion dan yang lainnya.

“Ng?”

“Lo ini kerasukan apa sih?”

“Hah?” Lidya, Yona dan Hanna menyeringitkan dahi.

Mereka berlima serempak menggebrak soal tadi keatas meja dengan raut wajah frustasi tingkat dewa.

“INI DIMANA MUDAHNYA?! OTAK GUE KESELEO, RETAK-RETAK MBACANYA!” teriak Arya mewakilkan teman-temannya

“Yeeee! Itu mudah kok, kami aja gak sampai 4 menit nyelesainnya,” Lidya membela diri, Jeje, Yona dan Hanna mengangguk-angguk.

“Tampaknya kita gak bakalan lulus Yon, Yak, Nu, Mar,” ujar Ega yang frustasi dan memukul-mukul meja karena pasrah.

“Yeee gitu aje nyerah!” ejek Jeje.

“Iya, belum juga dicoba,” sambung Yona.

“Hahahahahahahaahah,” Ijonk, Dharta, Bayu, Erik dan Edgar tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan mereka berlima.

“Ijonk, kantin yuk,” ajak Grace dari luar kelas.

“Cieee Ijonk, cihui-cihui,” goda Jeje, Hanna dan Lidya kepada Ijonk.

“Apaan,” Ijonk sewot kepada Jeje, Hanna dan Lidya, “Oh, nanti aje. Masih kenyang,” balas Ijonk kepada Grace.

“Dih gitu,” Grace cemberut, tak lama kemudian dia melihat Ega, Arya, Damar, Enu dan Dion yang tampak frustasi, karena penasaran Grace pun masuk kedalam kelas.

“Mereka kenapa?” tanya Grace ke Ijonk.

“Ini, masa soal MTK semudah ini mereka gak bisa ngerjain. Aku aje yang bego gini bisa nyelesainnya,” ujar Ijonk memberikan soal Ega kepada Grace.

Grace pun melihat soal yang dimaksud, tak lama kemudian dia mengangguk-angguk.

“Iya, ini gampang kok. Bisa kalian selesaiin dalam waktu 2 menit malah,” kata Grace dan mengembalikan soal itu kebangkunya Ega.

“Tuh denger, mudah kok. Kalian aja yang terlalu cepat nyerah,” ejek Lidya.

“Ngomong gampang, praktek susah,” Enu berkilah.

“Nih, nih aku kasih tau cara nyelesainnya,” tawar Grace.

Dion, Enu, Damar, Arya, dan Ega yang merasa mendapatkan pencerahan langsung saja membiarkan Grace menjelaskan. Tetapi selain menjelaskan Grace meminta mereka berlima untuk mengikuti jalan-jalannya, mereka berlima lalu mencoba mempraktekan dengan penjelasan yang Grace berikan.

“Nah! Lalu kalikan bilangan itu dengan angka ini,” ujar Grace.

Mereka berlima lalu segera mengalikan angka yang dimaksud, setelah itu mereka serempak menyelesaikan hitugannya.

“Jadi berapa jawabannya?” tanya Grace.

“29!” jawab mereka berlima serempak.

“Betul! Nah gampang kan? Hehehe,” Grace tertawa melihat mereka menjawab dengan serempak.

“Tuh mudah kan? Gak percayaan amat sih,” dengus Lidya bangga.

“Kebanyakan tidur sih pas pelajaran, makanya musuhan tuh otak sama matematika,” ejek Jeje.

“HAHAHAHAHAAHAHAHAHAHA,” Ijonk, Dharta, Bayu, Erik dan Edgar semakin menjadi-jadi tertawa melihat mereka berlima.

Tapi diantara semua suara tawa dan ejekan tersebut tidak membuat mereka berlima terpengaruh. Bahkan mereka terpesona melihat Grace yang seperti malaikat penolong yang turun dari bumi, dimata mereka Grace telah memancarkan sinar dibalik badannya.

“OH DEWI MATEMATIKA! JADIKAN KAMI HAMBAMU!” mereka berlima bersimpuh dihadapan Grace.

“Eh? Eh?” Grace kebingungan, sedangkan Ijonk memiringkan bibir.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Selain disekolah hal itu juga terjadi di tempat les, kali ini Enu, Ochi dan Made juga ikut-ikutan les ditempat yang sama dengan Dion dan yang lain. Ditempat les ini mereka juga tekun belajar dan tak segan untuk bertanya jika ada hal yang tidak mereka mengerti. Melody yang melihat Dion juga aktif bertanya tampak tersenyum melihat suaminya itu giat belajar.

Tapi itu cuma sementara.

Karena setiap pelajaran Bahasa Inggris, Dion dan Bayu selalu ketiduran. Hal itu wajar karena mereka berdua jago Bahasa Inggris, dan setelah pelajaran selesai tanpa basa-basi lagi Dion dan Bayu langsung dijewer Melody dan Andela didepan murid-murid yang lain dan pemandangan itu sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.

Saat jam istirahat, hal itu langsung saja dijadikan Made untuk segera meluncur kekantin karena dia tadi belum sempat makan dirumah.

“Bu nasi goreng 1,” pinta Made.

“Bu nasi goreng 1,” pinta Novi.

“Ng?” Made menoleh.

“Ng?” begitu juga Novi.

Mereka berdua saling berpandangan dengan alis yang naik sebelah.

“Ngikut-ngikut aje ente,” celetuk Made.

“Yeee siapa juga yang ngikut-ngikut,” bantah Novi.

“Bah!”

“Cih!”

“Cepet Bu, ya!” pinta Made.

“Cepet ya, Bu!” pinta Novi.

“NG?!!!” Made dan Novi kembali berpandangan dengan wajah yang sinis.

“Yaah, nasi gorengnya tinggal 1 ini,” ujar Ibu pemilik kantin menunjukan piring nasi goreng.

Made dan Novi memandang nasi goreng yang dimaksud, mereka berdua kembali berpandangan dengan tatapan bersaing. Tapi tak lama kemudian Made tersenyum.

“Novi kan nama ente?”

“Udah tau nanya,” Novi menjawab ketus.

“Duuh jangan ketus begitu. Hmm ente sadar sesuatu gak?”

“Apa?”

“Ente itu kalau ane pikir-pikir cantik juga, manis lagi,” puji Made.

Novi tersipu malu tapi buru-buru membantah, “Gak ah, biasa aja.”

“Eh bener. Ane gak salah dengan pemikiran ane, ente ini cantik loh. Iya kan Bu?” Made meminta pendapat Ibu kantin.

“M-masa sih?” wajah Novi memerah.

Made tersenyum dan mengambil piring nasi goreng.

“TAPI ANE MALAS MIKIR! BAHAHAHAHAHA!!!” Made langsung melarikan diri dengan piring nasi goreng.

“Iiiish!!!” Novi kesal dan mendumel-dumel tak karuan didepan stand kantin, Ibu kantin hanya bisa tertawa saja melihat hal tadi.

Novi akhirnya memesan bakso, setelah pesanan jadi Novi melongo melihat kantin yang penuh. Sampai pada akhirnya dia melihat ada salah satu bangku yang kosong diujung.

“Permisi, numpang duduk disini ya.”

“Iya,” jawab Made.

“Eh?” Made dan Novi tersadar saat mendengar masing-masing suara lawan bicaranya. Wajah mereka berdua serempak sengak.

“Ente ngapain daritadi ngikutin ane?” tanya Made.

“Siapa juga yang ngikutin! Lo gak liat kantin penuh gini!” cerocos Novi.

Made celingukan dan benar apa yang dikatakan Novi barusan.

“Yaudah duduk, jangan minta nasi goreng ane ye?” ujar Made dan melindungi nasi gorengnya.

“Siapa juga yang mau!”

Mereka berdua lalu duduk berhadapan dan memakan pesanan mereka. Made lalu melihat Novi menaburkan begitu banyak larutan cabe kedalam baksonya.

“Gak kepedasan ente? Banyak bener tuh cabe,” komentar Made.

“Biasa saja.”

“Hah! Sakit perut nanti ente.”

“Gak mungkin! Daripada lo, cowok kok gak berani pedas,” Novi ucapkan dengan nada meremehkan.

“He’eh, belum tau ente! Cabe ini gak ada pedas-pedasnya! Nih!” Made lalu mengambil botol larutan cabe tadi dan dituangkan diatas nasi gorengnya.

“Dih! Apa enaknya nasi goreng dikasi larutan cabe kayak gitu?” tanya Novi dengan ekspresi geli.

“Hah! Kenapa? Gemeter ente ngeliat cabe ane lebih banyak dari ente?” Made menyombongkan diri.

Merasa diremehkan Novi langsung kesal, direbutnya botol itu dari tangan Made dan langsung dituangkannya kedalam bakso.

“HA-HA! Lo liat sekarang! Cabe gue lebih banyak daripada punya lo!” seru Novi dengan mata melotot dan mendengus puas.

Made semakin tertantang karena diremehkan cewek. Diambilnya botol bubuk sahang dan ditaruhnya banyak-banyak ke nasi gorengnya.

“HAH! SEKARANG ENTE HARUS NGAKU KALAH DARI ANE!”

Novi yang melihat itu semakin tidak mau kalah, diambilnya botol sahang dari meja sebelah dan langsung ditaburkannya kebaksonya.

“Oh yeaaaah!!! Sekarang lihat siapa yang paling banyak! Hah!” dengus Novi penuh kemenangan.

Made yang tak mau kalah lagi-lagi menaburkan bubuk sahang tersebut, begitu juga Novi yang tak mau kalah. Orang-orang dikantin pada melongo melihat semua itu. Merasa semua cabe dan sahang dibotol mereka habis. Made kemudian berbicara.

“Yang kepedesan duluan dia kalah!”

“Siapa takut!” Novi menerima tantangannya.

Mereka berdua pun langsung menyantap makanan mereka.

Sebuah acara gosip di TV menemani sore Ibu kantin dan juga anak buahnya yang asyik bersantai di stand kantin saat jam istirahat seperti ini. Pada saat bagian seru-serunya tiba-tiba bunyi gedoran dimeja stand mengalihkan perhatiannya. Ibu kantin lalu berdiri dan berjalan kedepan untuk melihat siapa yang mengedor-ngedor mejanya.

“Loh, kalian...”

AIR !!!!!!!!” pinta Made dan Novi dengan peluh keringat dan mulut kepedasan.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Diperjalanan pulang tak henti-hentinya Novi berkeluh kesah dengan Ochi didalam mobil.

“Sumpah itu cowok nyebelin banget tau gak?! Kenapa sih Dion punya temen kayak gitu!”

“Hahahahaha kamu sendiri ngapain coba malah mau-mau aja ditantang kayak gitu,” Ochi tertawa terpingkal-pingkal.

“Gimana gak tertantang coba? Gak ada sedikitpun mau ngalah gitu sama cewek! Lagian ngomong kok ane ente, ane ente. Aku aja lahir di Bali gak segitunya.”

“Hihihi,” Ochi hanya cekikikan.

“Eh iya, gimana soal kampus?”

“Oh iya, udah diurus sama Ayah aku. Di Bandung lagi deh kita.”

“Sip! Lagian katanya Imel, Andela sama yang lain juga mau kuliah di Bandung. Makin banyak temen deh disana nanti,” Novi tersenyum.

“Jangan seneng dulu kamu hihi,” Ochi kembali cekikikan.

“Kenapa?” Novi menyeringitkan dahi.

“Tadi kan kamu kekantin tuh, dan tadi Enu cerita dia juga mau kuliah di Bandung nanti.”

“Terus? Kok jadi ke Enu?”

“Soalnya tadi Enu juga tadi bilang, temen dia yang kamu ceritain itu juga bakalan kuliah di Bandung!”

“Hah?!” Novi kaget tapi dia buru-buru kembali bertanya, “Dikampus mana?”

“Sama kayak kita, Padjajaran hihihihi.”

“Ya Tuhan... kok apes bener hidup gue ya,” Novi menepuk kepalanya.

“Haha kan belum tentu juga satu  jurusan, sante aje kali.”

“Biarpun! Kalau udah 1 kampus gitu tetep aja gak nyaman suasananya!”

“Hahaha awas loh, kata orang jangan terlalu benci, nanti jadi suka,” Ochi memain-mainkan alis sambil tersenyum kearah Novi.

“Dih! Mitos dipercaya.”

“Dibilangin, eh jangan lupa mampir ke mini market,” Ochi mengingatkan.

“Iya-iya.”

Tak lama kemudian mereka berhenti di mini market, Ochi sibuk mencari pasir dan makanan kucing sedangkan Novi asyik memilih minuman dingin yang tersedia dalam kulkas.

Setelah menemukan minuman yang diinginkan Novi langsung saja membuka kulkas dan hendak mengambil minuman tersebut. Tanpa disadarinya ada orang lain juga yang hendak mengambil minuman itu  sehingga tangan mereka berdua bertemu. Novi pun menoleh.

“Lo!”

“Ente?!”

Made dan Novi kembali bertemu, ekspresi muka mereka kembali sengak.

“Ini minuman gue!!!” Novi menarik botol minuman itu.

“Enak aje! Ini udah ane targetin dari tadi!” Made juga menarik botol minuman tersebut.

“Enggak! Ini pokoknya punya gue! Udah gue liat dari tadi sebelum masuk!” Novi kembali menarik botol itu.

“Ini udah ane incar malah dari kemarin!” Made kembali menarik botol tersebut.

“Gue dari 2 minggu lalu!”

“Ane dari 1 tahun yang lalu!”

“Gue udah incer dari jaman Pak SBY!”

“Ane dari jaman Megawati!!”

Melihat orang berebut botol minuman membuat pengunjung lain cengok memandang mereka, begitu juga Ochi. Apalagi alasan mereka sungguh jauh dari kenyataan untuk berebut 1 botol minuman itu.

“GUE DARI JAMAN FIR’AUN!” teriak Novi menarik botol tersebut.

“ANE DARI JAMAN DINOSAURUS!!!” begitu juga Made.

“DARI BUMI BELUM KEBENTUK!!”

“DARI ADAM MASIH BELUM TERCIPTA DISURGA!”

“Anu...” suara seorang memecahkan perseteruan mereka.

“APA?!” Novi dan Made serempak menoleh dengan mata melotot.

Terlihat pegawai mini market menelan ludah dipandang mereka seperti itu.

“A-anu... i-itu kan minumannya ada banyak,” ujar Karyawan menunjuk minuman serupa yang ada dikulkas.

Made dan Novi kembali berpandangan dengan muka sengak.

“Ambil nih!” Novi mendorong minuman itu ke Made.

“Ogah! Bekas tangan ente!” Made memberikan botol minuman itu kepada karyawan.

Mereka berdua kembali berebutan mengambil botol minuman yang ada dikulkas. Setelah mendapatkan minuman yang dinginkan mereka saling mendengus kesal dan berjalan berpisah arah.

“Waw,” hanya itu reaksi Ochi melihat tingkah mereka berdua.

Ochi dan Novi lalu segera menuju kasir, karena barang Ochi yang lebih banyak maka dia lebih dulu membayar baru habis itu giliran Novi. Dan saat giliran Novi begitu juga Made yang berada dikasir sebelahnya. Mereka kembali menatap dengan pandangan sinis.

“Jadi berapa semuanya?!” tanya Novi dan Made berbarengan kepada kasir mereka.

“45. 500,” jawab Kasir yang melayani Novi.

“30.000,” jawab Kasir yang melayani Made.

Novi mendengus puas karena harga barang dia lebih mahal dari Made, dan entah kerasukan apa Made langsung mengambil segala snack yang ada dimeja kasir dan diminta untuk dihitung.

“Ditambah ini, jadi 47ribu.”

Made yang merasa barang belanjaannya lebih mahal tersenyum puas dan meremehkan Novi. Novi yang tak mau kalah langsung mengambil segala snack yang ada dimeja kasir dan juga yang ada di Rak. Melihat itu Made juga tak mau kalah, semua yang ada dirak juga diambilnya.

Persaingan mereka begitu sengit sampai-sampai meja kasir penuh dengan barang-barang belanjaan mereka sehingga membuat Ochi dan pelanggan lain cengok melihat mereka berdua. Merasa kurang duitnya Novi lalu segera meluncur ke mesin ATM untuk mengambil duit, sedangkan Made menelpon orang tuanya.

Pather! Kirimkan fulus sekarang juga kerekening Made! Cepat! Nanti Made ganti!” (Pather = Father, panggilan Made terhadap bokapnya.)

Selang beberapa menit kemudian mereka berdua pun membayar dengan nominal yang sama, yaitu 320.000.

Padahal  kebanyakan barang yang mereka ambil sama sekali tidak diperlukan oleh mereka berdua. Seperti Made yang mengambil softex, dan Novi yang mengambil popok untuk pria dewasa. Mereka pulang dengan tatapan meremahkan sambil menenteng belanjaan yang begitu banyak.

Sesampainya dirumah mereka dimarahi habis-habisan sama orang tua mereka dirumah masing-masing karena membelanjakan hal yang tak penting.

Malam hari itu... yah... begitulah.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Bunyi bel sekolah yang menandakan jam pulang telah berdentang di SMA Nusantara. Novi yang bengkak matanya mulai mengendarai mobil untuk pulang, matanya bengkak itu bukan karena menangis atau apa. Tapi karena kurang tidur, setiap dia mau tidur wajah Made yang mengejek dirinya selalu terbayang-bayang.

Jadi karena itulah matanya bengkak.

Dengan ditemani lagu Oasis yang berjudul Wonderwall, Novi ikutan bersenandung selama perjalanan pulang. Tak jauh dari SMA Jakarta 1 yang berdekatan dengan SMA Nusantara tiba-tiba Novi merasakan hal yang ganjil. Bukan karena memikirkan hal kemarin tapi dia merasa aneh kenapa pandangan dia jadi miring sebelah.

Novi lalu berhenti ditepi jalan dan turun dari mobil.

“Aduuh! Pake acara kempes lagi,” ujarnya kesal melihat ban depan sebelah kanan kempes.

Karena kesal dia menendang ban tersebut, akan tetapi dia tertatih kesakitan dan meloncat-loncat sambil memegang kakinya yang sakit itu. Setelah menyender dan menggoyang-goyangkan kaki untuk meredakan rasa sakit dia mencoba untuk menelpon Ayahnya.

“Halo?” suara Ayahnya.

“Halo Yah, tolongin Novi, Yah. Mobil Novi kem....”

Novi tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ucapannya, bukan karena takjub atau apa tapi tadi ada pengendara motor lewat dan langsung merampas Handphonenya. Tanpa basa-basi lagi Novi pun berteriak.

“JAMBRET! JAMBRET!” PENCURI! JAMBRET!!” teriaknya sambil menunjuk pengendara motor yang dimaksud.

Sebuah motor yang melaju tiba-tiba melewati Novi dengan kecepatan tinggi, Novi kembali kaget dan mengelus-elus dadanya. Dilihatnya pengendara itu adalah pelajar SMA, itu bisa dilihat dari seragamnya.

Novi tertunduk pasrah sekarang dia bingung harus bagaimana, apalagi teriakannya itu tidak membuahkan hasil. Tidak ada satupun orang yang berniat menolong atau menghampirinya, dan itu hal yang wajar karena dia berhenti disebuah jalan yang besar yang dimana tidak terlalu banyak orang disitu, orang yang mendengar teriakannya tadi pun mengacuhkannya karena mereka merasa percuma mengejar pencuri Handphone tadi.

5 menit lamanya dia masih disitu dan termenung, dia benar-benar kebingungan dan harus bagaimana mendorong mobilnya dengan kondisi ban seperti itu, kalau dipaksakan maka ban yang kempes itu akan rusak. Tak lama kemudian suara motor menarik perhatiannya, Novi menyeringitkan dahi karena itu adalah siswa SMA tadi yang mengebut tepat disampingnya.

Siswa itu berhenti didepan mobil Novi, dan turun dari motornya. Helmnya itu menutup wajahnya apalagi kaca helm nya yang tidak tembus pandang. Siswa itu lalu menghampiri Novi sambil merogoh koceknya.

“Nih,” siswa itu menyerahkan sebuah Handphone dengan suara yang berat, seperti dibuat-buat.

Novi yang melihat Handphonenya seketika terkejut dan langsung meraihnya, dia mengecek dan benar itu adalah Handphone dia yang dicuri barusan. Dia terlihat senang dan menoleh kearah siswa SMA tersebut.

“Terima kasih ya! Terima kasih, terima kasih!” ucapnya dengan nada bersyukur.

Siswa SMA itu hanya mengangguk-angguk. Tak lama kemudian dia memiringkan kepalanya dan berjalan untuk menghampiri apa yang dilihatnya, dia kemudian berjongkok dan memeriksa ban mobil Novi.

“Bocor ini, ada ban serep?” tanyanya dengan suara berat dibuat-buat.

Novi menyeringitkan dahi mendengar suara siswa itu yang terdengar jelas sekali dibuat-buat, akan tetapi dengan cepat dia meresponnya.

“Iya ada,” jawabnya sambil memangguk-angguk.

“Yaudah, biar an... maksudnya biar g-gue yang ganti.”

Novi kembali menyeringitkan dahi, akan tetapi karena merasa mendapat pertolongan akhirnya dia menyetujui hal itu. Novi lalu mengeluarkan ban serep yang dibantu pemuda itu dan juga kunci pas.

Saat pemudia itu lagi sibuk mengganti ban nya, Novi kemudian mengajaknya berbicara.

“Itu... terima kasih ya, saya benar-benar tertolong?”

“Hah? Oh.. I-iya, santai saja, ha-ha-ha-ha-ha,” tawanya menjadi aneh karena suara yang dibuat-buat itu.

Novi sedikit tertawa dan menyeringitkan dahi mendengar suaranya itu.

“Kenapa suaranya gitu?”

“Oh... i-ini... tadi habis latian nyanyi opera... ya opera... makanya suara ane... maksudnya... makanya suara g-gue jadi begini.”

“Oh gitu,” Novi memanggut-manggut, “Terus kenapa mukanya ditutupin gitu? Bukannya ngeganggu ya?”

“Oh...I-ini...buat latihan saja sebenarnya...”

“Latihan?”

“I-iya latihan... itu latihan... ah! Latihan misalnya 1 kota Jakarta mati lampu, jadi g-gue bisa melihat jalan kalau gelap ha-ha-ha-ha-ha,” jelasnya lagi dengan suara tawa yang aneh karena suara dibuat-buat.

Novi tertawa kecil mendengar alasannya yang sungguh tidak dimasuk akal.

“Jadi kamu sekolah dimana?” Novi terlihat penasaran dengan orang yang menolongnya tersebut.

“Di-di sekolah...”

“Iya disekolah mana?”

“Di mana-mana saja bisa ha-ha-ha-ha-ha,” jawabnya mengada-ngada, dan tentu saja dengan tawa aneh seperti itu.

Novi kembali tertawa dan tak banyak bertanya lagi. Tak lama kemudian ban mobil selesai diganti, setelah membantu Novi memasukan ban bocor dan kunci pas kedalam bagasi pemuda itu kembali motornya. Novi yang melihat pemuda itu mau pergi kemudian menghampirinya akan tetapi dia mulai tertegun melihat plat motor pemuda tersebut karena dia merasa pernah melihat sebelumnya.

“Kalau begitu ane...m-maksudnya kalau begitu g-gue pergi dulu, lain kali hati-hati,” pemuda itu menasehati dengan suara yang dibuat-buatnya.

“Iya...” Novi mengiyakan dan pandangan matanya sudah curiga.

Saat pemuda itu menghidupkan motor dan berbalik arah, Novi kembali memanggilnya.

“Made?”

Pemuda itu tampak gegalapan.

“M-made? S-siapa itu? Ha-ha-ha-ha-ha” ujarnya lagi dengan suara tawa yang aneh.

Novi menyeringitkan dahi dan berjalan untuk mendekati siswa tersebut, “Kalau bukan Made lalu siapa?”

Pemuda itu semakin gegalapan melihat Novi mendekati dirinya dan langsung saja dia berbicara.

“A-ANE HANDPHONE! ANE BUKAN MADE! ENTE SALAH ORANG!!”

Setelah itu pria yang mengaku bernama 'Handphone' tadi langsung mengendarai motornya, akan tetapi ada siswa lain yang ada tiba-tiba datang dengan sepeda motor dan mengendarai motor tepat berada disamping pemuda itu.

“Woi Made, darimana lu?”

Pemuda yang disapa temannya itu semakin gegalapan dan melajukan motornya untuk menjauhi Novi dan juga teman yang menyapanya itu.

Novi yang melihat itu hanya terdiam, lama-lama dia mulai tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat kebawah. Novi kemudian masuk kedalam mobil dan kembali meneruskan perjalanan untuk pulang.

Diperjalanan pulang dia melihat kerumunan orang melihat seseorang yang babak belur dan diikat disebuah pohon. Novi yang melihat orang yang diikat itu lantas terkejut karena itu adalah orang yang tadi menyabet Handphonenya. Itu bisa dilihat dari jaket dan juga motor yang tak jauh dari situ yang kondisinya hancur lebur.

Novi berhenti dan bertanya dari dalam mobil.

“Itu kenapa Pak?” tanyanya kepada seorang pria yang ada disitu.

“Oh ini, jambret.”

“Jambret? Kok diiket, bukannya dibawa kekantor polisi?”

“Ini juga lagi nungguin polisi datang Neng.”

“Oh gitu, terus siapa tuh yang ngiket dia? Ampe babak belur begitu.”

“Tadi sih dia ditendang anak SMA gitu, nah saat jatuh langsung dihajarnya tuh Jambret. Lalu siswa itu meminta orang untuk mengikatnya dipohon karena tadi dia bilang kalau entu orang adalah jambret, habis itu dia balik lagi ketempat korban entu si jambret. Katanya sih HP tadi yang diambilnya. Barusan juga tadi anaknya lewat lagi, tapi dia ngebut kearah sana.”

“Oh gitu,” Novi tersenyum mendengar penjelasannya.

Setelah puas mencari tahu tak lama kemudian Novi melanjutkan perjalanannya menuju rumah.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Di tempat les Novi langsung memarkirkan mobilnya diparkiran mobil. Ochi duluan masuk kedalam akan tetapi Novi berjalan-jalan dulu diparkiran motor, Novi kemudian tersenyum karena perkiraannya sedari tadi benar karena dia melihat motor yang sama dengan motor yang menolongnya tadi pas pulang sekolah. Itu bisa dilihat dari plat motornya.

Novi kemudian masuk kedalam menuju kelasnya.

Didalam kelas terlihat Dion, Bayu, Ega dan Made asyik mencoret-coret wajah Enu yang sedang tertidur. Setelah mencoret-coret mereka semua tertawa ngakak sehingga membuat Enu terbangun, melihat Enu yang terbangun mereka berempat lalu berpura-pura tidak tahu dan duduk ditempat duduknya masing-masing.

“Novi, nanti kerumah aku ya? Adik sama kakak aku mau bikin pesta jagung bakar nanti,” ajak Melody kepadanya.

“Rumah Dion atau dirumahnya kamu?” tanya Novi setelah meletakkan tas.

“Rumah aku dong hehe, tadi Ochi juga udah diajak.”

“Oke hehe, Ochi mana?” tanyanya sambil celingak-celingukan.

“Ochi tadi kekantin sama Ve, Yona, Michelle, Arya.”

“Oh iya-iya,” Novi memanggut-manggut.

“BUSET!! KAMPRET!” Enu berteriak tiba-tiba.

Novi dan Melody menoleh dan melihat Enu sewot melihat mukanya penuh coretan dengan cermin yang dibelakang kelas.

Sedangkan si pelaku yang berjumlah 4 orang tadi tertawa terpingkal-pingkal. Damar, Naomi dan Andela langsung saja mengabadikan hal ini dengan Handphone mereka.

“Hihi kesana yuk,” ajak Melody.

“Hayuk,” jawab Novi sambil tertawa.

Disitu terlihat Enu memiting kepalanya Bayu dan mencoret-coret mukanya. Dan tak jauh dari mereka Dion, Ega, Damar, Made, Naomi dan Andela tertawa-tawa.

Sehabis mencoret muka Bayu, Enu lalu mengejar Ega yang melarikan diri.

Novi terus berjalan sampai kebangkunya Made mumpung perhatian orang-orang lain tertuju kepada Enu yang sibuk mengejar Ega.

“Hei,” Novi menopang tangannya dimeja Made.

Made menoleh dan langsung terdiam, apalagi Novi tersenyum kearahnya.

“K-kenapa ente?” tanyanya terbata-bata.

“Makasih ya buat tadi.”

“A-apanya?”

“Ya yang tadi siang, pas pulang sekolah tadi... yang nolongin aku dari...”

“A-apaan! Nolongin apa? Ngaco ente! Ane gak merasa nolongin ente dari jambret!” ucap Made memotong tiba-tiba.

“Oh...” Novi memincingkan matanya, “Padahal aku belum ada bilang loh ada yang nolongin aku dari jambret,” Novi tersenyum

Made gegalapan dan berpura-pura fokus kembali melihat Enu mengejar Ega. Kemudian Novi mendekatkan jaraknya kearah Made dan ingin membisikinya sesuatu.

“Terima kasih ya udah ngebantuin gantiin ban dan nangkapin jambret, Handphone. Ha-ha-ha-ha-ha,” ucap Novi memakai suara tawa yang dibuat-buat seperti suara tawa pemuda yang tadi menolongnya.

Made terlihat semakin gegalapan, dan bersiul-siul sambil menoleh kearah lain seolah-olah dia tidak mendengar bisikan Novi tersebut. Novi kemudian duduk dimejanya Made dan melihat Enu yang akhirnya berhasil menangkap Ega dan langsung membalas mencoreti mukanya.

Tanpa sadar tangan Novi hinggap dibahunya Made, Made mendelikan matanya kearah bahunya yang dipegang Novi. Habis itu dia melihat Novi yang sedang menutup mulutnya karena tertawa melihat muka Ega dicoret-coreti oleh Enu.

Made mendadak kaku dan tak bisa bergerak dari posisinya.

Ciee.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬




Baca juga : Daftar cerbung lainnya.

Beautifull Aurora, Part 51 : Who Are You, Handphone? Beautifull Aurora, Part 51 : Who Are You, Handphone? Reviewed by Melodion on Januari 01, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.