Beautifull Aurora V

Menceritakan tentang dilema seorang wanita karena pernikahan. Simak kisahnya berikut ini.

- Beautifull Aurora ® V
1. You and I
Kucuran air panas membasahi tiap serbuk kopi hitam dan gula yang sudah menanti didalam cangkir. Alunan sendok searah jarum jam terus berputar dan berputar untuk melarutkan apa yang ada didalamnya. Dengan sendok sehabis mengaduk kemudian dicicipi oleh seorang wanita yang rambutnya terikat dengan piyama tidur melekat ditubuhnya.
“Hmm,” sebuah senyuman puas dihadirkan oleh wanita tersebut.
Cangkir itu kemudian ditaruhnya disebelah cangkir lain berisikan kopi susu diatas meja, wanita ini kemudian mengambil handuk yang ia jemur sebelumnya yang tak jauh dari tempatnya berada. Handuk itu melingkar dilehernya dan saat kembali kedapur suara radio menarik perhatiannya sebentar.
“Dan untuk pembuka pagi kita hari ini kayaknya perlu suasana lagu yang cukup mendukung haha. Baiklah para pendengar dimanapun anda berada, sepertinya lagu Dear God dari Avenged Sevenfold bisa menemani aktifitas pendengar pada pagi hari ini. Selamat mendengarkan.”
Alunan musik dari radio itu menjamah telinga sang wanita, wanita itu tersenyum karena lagu ini merupakan salah satu lagu favoritnya. Ia membesarkan volume radio dan semakin jelaslah suara lagu tersebut.
Wanita ini kemudian melihat jam tangan yang terpasang dilengan tangannya yang mungil, ia sedikit terkejut melihat waktu yang dilihatnya. Dengan buru-buru ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan, bukan kamar mandi, tapi kamar dimana ada seorang pria masih terlelap tidur dikasurnya. Dengan pelan-pelan wanita ini menaiki kasur dan menggoyang-goyangkan punggung pria tersebut.
“Dion, bangun. Nanti telat loh.”
Akan tetapi pria yang bernama Dion ini tidak bergeming, ia malah menjawab hal itu dengan igauan tidurnya. Wanita ini menghela nafas dan memiringkan bibir melihat Dion. Sebuah senyuman usil tercipta dari bibir gadis ini, ia kembali menggoyangkan punggung Dion dan ia mendekatkan bibirnya kearah telinga pria yang tertidur ini.
“Suamiku, ayo bangun. Nanti telat loh.”
Mata Dion tiba-tiba terbelalak, ia kemudian berguling-guling menjauhi wanita itu hingga nyusruk kebawah tempat tidur. Wanita ini menahan tawa melihat gelagat Dion apalagi pria ini dengan wajah ngantuk mulai mengintip dirinya dari bawah tempat tidur.
“Kamu kenapa? Ayo mandi dulu, udah kubuatin kopi susu juga loh.”
Dion tidak bergeming, wajahnya datar bukan main. Tak lama kemudian ia berkata.
“Frieska kan?”
Wanita yang bernama Frieska ini tertawa.
“Yaiyalah, emang siapa lagi?”
“Masa sih?” Dion menyeringitkan dahi.
“Mulai deh,” Frieska memiringkan bibir.
“Ya… Frieska yang kukenal tidak seperti ini, kau pasti orang lain!”
Frieska tertawa ringan dan berkata.
“Emang Frieska yang asli kayak gimana?”
“Dia tidak pernah membangunkanku. Malah dia senang melihatku terlambat masuk kuliah!”
“Hmm, tapi bukankah kemarin kamu memintaku membangunkanmu hari ini?” Frieska tersenyum.
“Errr jadi kau benar-benar Frieska?”
“Iya sayang, yuk. Mandi dulu kamu,” perintah Frieska yang turun dari kasur.
“Nah itu!” seru Dion tiba-tiba.
“Apa?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Itu tadi! Kau memanggilku sayang! Apalagi sebelumnya kau memanggilku suami! Kau pasti bukan Frieska!”
Frieska memiringkan bibir, wanita ini kemudian berkacak pinggang, melotot dan mencondongkan tubuhnya kedepan.
“Aku ini istrimu! Dan kalau kamu ingin hilang ingatan untuk melupakanku dengan senang hati kujedukkan kepalamu ke dinding sekarang juga!”
“Oh…” Dion menelan ludah, “… Sepertinya kau benar-benar Frieska…”
Frieska tersenyum puas dan menghampiri Dion.
“Yaudah cepet! Kamu duluan mandi,” ujarnya sambil membantu Dion berdiri.
Dion gegalapan, tingkahnya itu seperti orang yang merasa asing dengan perlakuan Frieska.
“Kamu kenapa sih?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Kenapa kau… seperti ini?”
“Kan udah kubilang aku mau merubah sikapku untukmu,” Frieska tersenyum manis.
“Ya… tapi… err janggal rasanya…”
“Butuh waktu untuk membiasakannya,” Frieska melepaskan handuk yang melingkar dilehernya dan dilingkarkannya keleher Dion.
“O…oh…” Dion tertegun.
“Ayo, nanti terlambat loh… atau…” Frieska memincingkan mata dan tersenyum.
“Atau apa?” Dion heran melihat ekspresi istrinya tersebut.
“Atau mau kita mandi sama-sama?” Frieska melanjutkan kalimatnya.
Frieska kaget, tentu saja kaget karena sehabis mengatakan itu tiba-tiba membuat sosok Dion lenyap dari hadapannya dikarenakan dengan cepat Dion melarikan diri keluar kamar untuk kekamar mandi. Frieska kemudian tertawa dan merapikan tempat tidur Dion. Setelah itu dia juga bergegas untuk mandi.
Dion yang sudah selesai mandi dan berpakaian kemudian duduk dikursi meja makan, ia melihat 2 cangkir dan ia buka satu per satu. Melihat cangkir berisi kopi susu membuat senyumnya mengembang dan ia ingin segera menikmatinya.
“Nanti antar aku dulu ke-mini market ya?”
Dion menoleh dan melihat Frieska duduk disampingnya, sehabis menyicip kopi maka Frieska menoleh dan menyeringitkan dahi karena Dion bengong memandangnya.
“Kenapa lagi?”
“… Pergi sama-sama?”
“Kan udah sepakat kemarin,” Frieska memiringkan bibir.
“O-oh…”
“Dan ini HP-mu.”
Dion menyambut Handphone yang diberikan Frieska, ia menyeringitkan dahi melihat layar Handphone-nya tersebut tertampang sebuah foto yang menjadi wallpaper.
“Kenapa fotomu jadi Wallpaper HP-ku?” tanya Dion.
“Ng?” Frieska menoleh dengan wajah cuek, “Bukankah kamu yang memintaku yang melakukannya?”
“Emang iya?” alis Dion naik sebelah.
“Mulai deh, kemarin siapa ya yang ngasih HP ini kemudian ngegombal-gombal ingin foto istrinya sendiri dijadiin Wallpaper?”
“Oh…” wajah Dion mendadak datar dan menoleh kedepan, “Seperti kemarin aku kerasukan.”
“Sepertinya begitu, nih,” Frieska menunjuk wallpaper Handphone-nya.
Dion melihat wallpaper itu dan terkekeh, karena wallpaper yang ada di-Handphone Frieska tersebut tertampang foto pria yang asyik mengupil dari samping.
“Jelek sekali,” komentar Dion.
“Ya, ini kan kamu,” Frieska tersenyum.
Dion diem.
“Hihihi bisa gitu ya gak kenal sama muka sendiri,” Frieska tertawa lepas.
“Errr,” Dion mati kutu dibuatnya.
“Seperti orang kerasukan kan? Gak sadar lagi dipotret pas ngupil gitu.”
“Errr,” hanya itu jawaban Dion.
Frieska terus tertawa melihat tingkah suaminya yang mati kutu tersebut. Setelah sarapan beres maka mereka berangkat menggunakan motor Dion, sejenak mereka mampir terlebih dahulu ke-mini market baru mereka melanjutkan perjalanan mereka kekampus. Butuh beberapa menit untuk sampai ketujuan hingga akhirnya mereka berhenti diparkiran kampus.
“Hei, aku tadi memikirkan sesuatu,” ujar Frieska setelah turun dari motor.
“Apa?” tanya Dion sambil menerima helm yang diberikan Frieska.
Frieska tersenyum dan berkata.
“Sepertinya malam ini kita harus tidur bersama, tidak pisah kamar lagi.”
“Apa?!” Dion kaget bukan main.
“Kenapa kaget gitu? Bukannya wajar suami istri tidur bersama?” Frieska menyeringitkan dahi.
“… Nanti hamil gimana?!”
Frieska tertawa lepas dan menjewer pelan telinga Dion.
“Kamu ini pikirannya udah kalah-kalah slogan motor aja, terlalu jauh kedepan.”
“Tapi kan… kalo khilaf… lalu kau bunting… lalu dokter kandungan hamil… eh itu…” Dion mulai meracau tak jelas.
“Gak masalah, emang itu salah satu tugas istri kan?” Frieska tersenyum.
“… Nanti kau akan melaporkanku ke polisi…”
Frieska kembali tertawa dan kali ini pipi Dion yang dijewernya.
“Kan kamu sendiri yang dulu pernah bilang kalau itu wajar dilakukan suami istri, ngapain juga aku ngelaporin kamu ke polisi gara-gara itu?”
“Ya… kan dulu kau bilang itu namanya pemerkosaan…” ujar Dion polos.
Suara tawa dari wanita ini terus keluar, bagaimana tidak tertawa karena dia mengingat kejadian dimana sewaktu menikah ia tidak mau berhubungan badan dengan Dion dan mengancamnya akan melaporkan kepolisi dengan tuduhan pemerkosaan, Dion pas itu juga tertawa terbahak-bahak karena menurutnya ancaman Frieska itu benar-benar tak masuk akal, yang ada Frieska yang dimarahi polisi gara-gara laporan tersebut.
“Hei…” panggil Frieska dengan lemah lembut.
Frieska kemudian memeluk pergelangan tangan Dion, ia tersenyum manis dan menaruh kepala dipundak suaminya tersebut.
“Maafin aku dengan sikapku yang dulu ya, aku tahu aku salah… dan sekarang aku ingin benar-benar mengubah hal itu, aku bahagia mempunyai suami sepertimu.”
Frieska semakin erat memeluk pergelangan tangan Dion dan dari sikapnya bisa terlihat ia begitu menyayangi pria yang dipeluknya tersebut. Akan tetapi Frieska merasa aneh, ia tak mendengar sedikitpun suara. Ia menoleh dan terkejut.
“Loh! Kamu kenapa?”
Terlihat wajah Dion memerah bukan main, apalagi kucuran darah dilubang hidung kirinya perlahan-lahan turun atau bisa dibilang dia sedang mimisan. Dion menoleh dan berkata.
“Bisa tidak jangan memeluk mendadak seperti ini?” pinta Dion polos.
“Ya ampun! Jadi gara-gara ini?” Frieska tertawa untuk kesekian kalinya dan membersihkan darah yang terus menyucur dari hidung Dion.
Yah, mungkin ini sedikit gambaran dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua sekarang. Sepasang suami istri yang masih melanjutkan studi mereka dalam ranah perkuliahan. Dan dari sikap Dion bisa terlihat kalau dia merasa aneh dengan sikap Frieska yang begitu perhatian dengannya.
Karena dulu Frieska tidaklah seperti ini.
- Beautifull Aurora ® V
2. Shall we begin?
“Apa?!”
Itulah teriakan Frieska yang terjadi setahun yang lalu, saat dimana semua keluarganya berkumpul dirumahnya. Sebenarnya tak hanya dia yang terkejut, akan tetapi kakak-kakaknya dan juga saudara sepupunya yang lain.
“Ya, Mpris. Karena itulah tujuan kita berkumpul sekarang ini,” ujar salah satu pamannya Frieska.
Frieska masih tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, ia pun bertanya.
“Ini bercanda kan?”
“Tidak, Frieska. Ini serius.”
“Tapi kenapa aku? Kenapa harus aku yang menjadi pilihan atas semua ini? aku ini masih kuliah dan…”
“Ini karena kedua pihak sudah menyetujui semua ini,” potong ayahnya.
“Tapi kenapa harus aku?!”
“Karena memang kamu yang menjadi pilihan oleh kedua belah pihak semenjak kamu lahir.”
“Ini tidak adil…” Frieska menunduk sedih.
Melihat Frieska seperti itu membuat Ibu dan Kakaknya tak kuasa menghampiri dan memeluknya, sekedar memberi ketenangan yang temporer. Itu dikarenakan suatu asalan.
“Apa tidak bisa ditunda dulu? Bagaimana pun ini benar-benar mendadak untuk Frieska,” ujar kakaknya yang bernama Melody kepada salah satu pamannya.
“Iya, apa tidak bisa ditunda?” sambung kakak Frieska yang tertua bernama Citra.
“Maafkan paman, tapi ini permintaan kakek. Apalagi dengan keadaan kakek yang sekarang… ia ingin melihat semua cucu perempuannya meni…”
“Cukup,” potong Frieska sedih.
Pamannya mengerti keadaan keponakannya tersebut, ia tak banyak berbicara lagi apalagi saudara-saudara sepupu Frieska juga menghampiri untuk menghiburnya.
“Kalau boleh tahu, dia orang mana?” tanya Melody.
“Frieska pasti mengenalnya,” ujar pamannya.
“Maksudnya?” Melody menyeringitkan dahi, begitu juga Frieska.
Suara deru-deru mobil diluar menarik perhatian orang-orang yang ada didalam rumah. Salah satu paman Frieska keluar untuk melihat siapa yang datang, dan tak perlu waktu beberapa lama pamannya masuk kembali untuk memberitahu.
“Mereka sudah datang.”
Sebagian keluarga Frieska keluar rumah untuk menyambut tamu mereka. Sedangkan Frieska masih berdiam diri ditemani ibu dan sanak saudaranya untuk menenangkannya.
“Kenapa harus aku…” gumam Frieska sedih.
Tak lama kemudian para tamu memasuki rumah dan disambut sanak keluarga Frieska yang berada didalam. Terjadi sedikit perbincangan antara tamu dan keluarga Frieska, salah satu paman Frieska membisiki sesuatu kepada Ibunya Frieska. Mengerti maksudnya membuat ibu Frieska akhirnya berbicara sambil menepuk kedua bahu anaknya.
“Jadi ini anak saya, Frieska Anastasia Laksani. Panggilannya Mpris kalau dirumah.”
Para tamu tersenyum dan mengangguk, akan tetapi melihat Frieska yang sedari tadi murung membuat mereka mengerti kondisinya.
“Frieska.”
Suara panggilan dari orang yang tak dikenalnya menarik perhatian Frieska, ia menadahkan kepalanya dan melihat seorang ibu paruh baya yang cantik diusianya tersenyum kepadanya. Ibu itu kemudian duduk disamping Frieska dan mengusap-usap lembut punggung gadis tersebut.
“Ibu tau perasaan kamu, dan ibu benar-benar minta maaf karena hal ini mendadak.”
Frieska hanya bisa terdiam, ia kembali menunduk dan pasrah dengan apa yang terjadi.
“Ah itu dia!”
Suara salah satu tamu itu menarik perhatian keluarga Frieska begitu juga Frieska nya sendiri. Seorang pemuda masuk kedalam rumah berbarengan dengan salah satu tamu dan juga pamannya Frieska. Penampilan pemuda itu sangat santai. Yang lain pakai kemeja hanya dia sendiri yang memakai jaket, apalagi hanya dia yang memakai topi.
“Namaku Leffy, salam kenal Om, tante, bro-bro dan sist-sist sekalian, eh ada anak kecil juga. Nama Om Leffy, tapi panggil bang Leffy saja ya, kakak juga boleh hehe.”
Melihat tingkah Leffy yang ceria dan begitu asyik memperkenalkan diri membuat yang lain merasa sedikit lucu melihat tingkahnya. Akan tetapi juga terbesit rasa penasaran dari keluarganya Frieska.
“Leffy yang sopan!” hardik ibu yang tadi berbicara dengan Frieska.
“Iya Bu, maaf-maaf,” Leffy cengengesan dan mencari posisi tempat duduk dari tempatnya berdiri.
Frieska tentu saja menyeringitkan dahi dan bertanya.
“Apa dia…”
Ibu Leffy menoleh dan tersenyum, begitu juga Ibunya Frieska. Dengan kompak mereka berdua berbicara.
“Bukan dia.”
“Lalu?” Frieska kembali bertanya.
Belum sempat dijawab tiba-tiba perhatian orang didalam tertuju lagi kepada Leffy, terlihat sebuah tangan digunakan untuk memiringkan kepala Leffy dari belakang.
“Ngalangin!” ujar pria tersebut ketus kepada Leffy.
“Lagi nyari tempat duduk,” jawab Leffy dengan posisi kepalanya yang miring.
“Jaga mobil saja diluar, gaya udah kayak tukang parkir juga.”
“Enak aje lu! Kakak murtad lu!”
“Elu!”
“Hei-hei! Malah ribut! Leffy, sini!” suruh Ayahnya agar anaknya itu duduk lesehan disampingnya, dan semua orang yang ada didalam memang duduk lesehan sedari tadi.
Leffy dengan semangat duduk disamping ayahnya, melihat sanak saudara Frieska yang duduk disebelahnya entah kenapa anak ini malah mengajaknya tos tangan, tak hanya sanak saudara Frieska yang disebelahnya saja, akan tetapi disebelahnya lagi lalu disebelahnya lagi hingga dia merangkak kemana-mana hanya untuk melakukan tos tangan.
“Udah sini! Diem!” seru Ibunya menarik celana anaknya itu dari belakang untuk duduk disampingnya.
Suasana menjadi sedikit hangat dengan tingkah Leffy barusan, akan tetapi tidak dengan Frieska. Matanya terbelalak saat melihat seorang pria yang tadi berdiri dibelakang Leffy.
“Nah, ini dia Frieska,” ujar pamannya sambil menepuk pundak pria tersebut dari belakang.
Pria ini menoleh dan melihat 2 gadis duduk didekat ibunya, setelah itu ia memandang sanak keluarga Frieska yang lain.
“Namaku Dion, salam kenal semuanya,” ujarnya dengan nada bicara penuh wibawa.
“Jangan sok keren, kak,” celetuk Leffy.
Suasana sedikit kasak-kusuk terjadi dibarisan saudara-saudara Frieska saat Dion memperkenalkan diri, mereka menilai terlebih dahulu Dion dari penampilannya yang berkemeja biru rapi, celana jeans hitam yang ada sedikit robeknya dan rambutnya yang sedikit acak-acakan akan tetapi masih bisa dikategorikan rapi. Yang pasti penampilannya itu emang enak dilihat.
“Dion, sini,” panggil ibunya.
Dengan langkah yang pasti Dion berjalan, ia menghampiri dimana ibunya sedang duduk berdekatan dengan ibunya Frieska, Frieska dan juga kakaknya yaitu Melody. Setelah sampai ia langsung duduk bersila didepan mereka.
“Hai, namaku Dion,” Dion tersenyum, “Dan seminggu lagi…”
“Dion,” potong ibunya.
“Ya?” Dion menoleh.
“Calon mu yang ini, yang itu kakaknya,” ujar Ibunya menunjuk Frieska yang duduk disampingnya.
“Eh?”
“Iya yang ini, kalau yang ini udah punya suami,” tambah Ibunya Frieska menunjuk Melody.
Dion diem, ia kemudian menoleh kedepan dan melihat Melody termenung memandangnya. Ia kemudian memandang Frieska yang juga termenung, lalu memandang Melody kembali lalu memandang Frieska kembali. Ada beberapa kali ia melakukan ini sampai akhirnya…
 “Aha-ha-ha-ha-ha-!” Dion tiba-tiba tertawa tapi dari nada suara ketawa bisa ketahuan kalau itu ketawa dibuat-buat.
“Udah dibilang jangan sok keren, salah orang lagi, tengsin kan lu,” celetuk Leffy.
“Sengaja, biar gak tegang,” ulas Dion menahan malu, kali ini Dion bergeser kesamping.
“Ngeles lagi,” Leffy cengengesan.
Sekarang Dion duduk tepat dihadapan Frieska, mereka berdua saling memandang tanpa ekspresi apapun sampai akhirnya Dion mengeluarkan suaranya.
“Sepertinya aku pernah melihatmu…”
“Dia 1 kampus denganmu,” ulas pamannya Frieska.
“Oh…” Dion mengangguk-angguk, “Tapi kayaknya ada yang lebih spesifik… tapi apa ya…” Dion menunduk kebawah dan mengurut-urut dagu.
Frieska yang berdiam diri sedari tadi akhirnya angkat bicara.
“Aku korban salah tendang saat kau bermain bola dihalaman belakang kampus.”
“Eh,” Dion menoleh kedepan.
“Sampai pingsan!” Frieska melotot.
“Eh, jadi dulu kamu yang dibuat pingsan sama dia?” ujar seorang pria yang ada dibelakang Melody dan itu adalah suaminya yang bernama Biondy.
“Siapa lagi?!” Frieska memandang Dion geram.
Suasana menjadi kasak-kusuk kembali, apalagi orang tuanya Dion meminta maaf dengan sanak keluarga Frieska karena salah satu keluarganya ini telah membuat pingsan sang bintang utama pertemuan ini yaitu Frieska.
“Itu masa lalu,” Dion tersenyum kalem.
“Masa lalu apanya! 8 hari yang lalu!” Frieska kembali melotot.
“Ya… kan kejadiannya kemarin-kemarin, berarti masa lalu, bahkan 2 menit yang lalu aku berdiri itu sudah masa lalu,” Dion memiringkan bibir.
“Terserah! Dan kau berutang permintaan maaf dariku!”
“Iya maaf.”
“Tidak!”
“Terus?” Dion menyeringitkan dahi.
BUGGH!
Tanpa basa-basi sama sekali Frieska menonjok hidung Dion didepan orang-orang seperti ini.
“Frieska! Kamu ini kenapa?!” hardik ibunya.
“Errrr gakpapa kok, tante,” Dion menengahi sambil meringis memegang hidungnya.
“Jangan kasar gitu, dek,” Melody memberi nasihat.
“Sekarang impas!” Frieska melotot dan menyilangkan tangan.
“Errr jadi udah gak masalah lagi kan, junior?” tanya Dion.
“Ya! Senior!” balas Frieska ketus.
Suasana menjadi sedikit hingar gegara tindakan Frieska tadi, dan dari percakapan tadi sudah jelas kalau Frieska ini 1 kampus dengan Dion hanya saja Dion yang lebih senior darinya.
“Yasudah. Frieska jadi inilah Dion, cucu teman kakekmu yang tadi kita bicarakan,” ujar Ayahnya.
Frieska menatap Dion, begitu juga Dion menatap Frieska. Hanya Leffy yang asyik memandang makanan yang tersaji dimeja makan dikejauhan.
“Kukira dia tadi calonku,” Dion memiringkan bibir memandang Melody.
“Ehem!” dan Biondy berpura-pura batuk.
Suasana sedikit hangat gara-gara perkataan Dion barusan, Dion kembali memandang Frieska.
“Hei,” panggil Dion.
Frieska kembali menatap Dion tanpa ekspresi apapun akan tetapi Dion tersenyum kepadanya.
“Seminggu lagi statusku bukan hanya sebagai seniormu, tapi suamimu.”
Tak ada suara yang dikeluarkan Frieska untuk membalas ucapan pria tersebut, bisa terlihat ia sudah pasrah dengan keadaannya sekarang. Dan semenjak itulah dimulainya keintiman perkenalan antara Dion dan Frieska yang memang sudah dijodohkan sejak dulu oleh kedua kakek mereka.
- Beautifull Aurora ® V
3. The rules
Seminggu kemudian pernikahan Dion dan Frieska digelar dirumah kakeknya Frieska. Acara ini hanya dihadiri oleh kedua pihak keluarga karena bagaimanapun pernikahan ini memang bisa dibilang mendadak. Melihat Frieska yang menikah membuat keluarganya bahagia dan juga kakeknya meskipun sang kakek didera sakit keras.
Setelah pergelaran acara selesai dilakukan dan dilanjutkan dengan basa-basi antara 2 pihak keluarga.
“Dion,” panggil kakeknya.
Dion kemudian menghampiri kakeknya yang duduk bersama kakeknya Frieska.
“Sekarang kau sudah menjadi suami, jangan lupakan tanggung jawabmu.”
“Ya, tenang saja,” Dion cengengesan.
“Kuharap kau bisa menjadi suami yang baik untuk Frieska, jagalah dia,” pinta kakeknya Frieska.
“Jangan ragukan cucuku, dia pasti melakukannya,” kakeknya Dion tertawa.
“Haha aku tidak meragukannya,” kakek Frieska juga tertawa.
“Hahahaha,” Dion juga tertawa, tapi bisa dibilang dia ikut-ikutan tertawa saja.
“Tapi ya benar dengan apa yang dikatakannya, jagalah istrimu dengan baik Dion,” ujar kakeknya Dion.
“Ya,” Dion menangguk.
“Berjanjilah,” tambahnya.
Dion tersenyum memandang mereka berdua.
“Ya, aku janji.”
Tak lama kemudian 2 pasangan yang baru menikah ini pamit undur diri untuk pergi kerumah mereka. Rumah itu adalah kepunyaan Dion yang diberikan kakeknya semenjak Dion masih kecil, dan akhirnya Dion mempunyai alasan yang tepat untuk menempati rumahnya tersebut.
Sesampainya dirumah tak ada suara yang mereka keluarkan, Frieska duduk disofa didepan TV yang dimana ada Dion disitu sedang menata X-Box dan juga Playstation-nya.
“Hei,” panggil Frieska.
“Hmm,” respon Dion seadanya karena dia sibuk menata kaset dirak.
“Aku tidak pernah mau menikah denganmu!” seru Frieska dengan tatapan mata yang tajam.
“Tapi itu sudah kita lakukan sejam yang lalu,” ulas Dion sambil berdiri dan menghidupkan TV, ia kemudian duduk disofa.
Frieska kesal dan menggebrak meja. Dion menoleh sambil mengunyah permen karet.
“Ingat! Aku melakukan ini karena terpaksa! Bukan karena keinginanku.”
“Hoo,” Dion memanggut-manggut dan membuat balon dari permen karet dimulutnya.
Balon itu pecah, Dion kemudian mengubah posisi duduk menghadap kearah istrinya tersebut dan tentu saja mulutnya masih asyik mengunyah-ngunyah.
“Terus?”
“Jadi jangan harap aku ihklas menjadi istrimu!”
“Tak masalah,” Dion tersenyum dan kembali keposisinya semula untuk menonton TV.
Frieska menyeringitkan dahi, melihat tingkah Dion yang tampak tak mempermasalahkan pernikahan ini melintas pertanyaan yang terbesit dibenaknya.
“Apa kau juga mengharapkan pernikahan ini tidak terjadi sepertiku?” tanya Frieska.
“Aku tidak mengharapkan apa-apa dan tidak memikirkan hal itu, aku main iya-iyain saja saat orang tuaku memberitahu kalau aku diminta untuk menikah oleh cucu temannya kakekku.”
Frieska tentu saja kesal mendengarnya.
“Terus kenapa kau menuruti permintaan mereka? Apa kau tak tahu betapa tertekannya aku mendapatkan permintaan ini? hah!”
“Aku orangnya penurut, lagipula kita memang dijodohkan sedari kecil,” Dion cengengesan sambil membuat balon dari permen karet.
“Jadi kau mau-mau saja dijodohkan?!”
“Sudah kubilang aku tidak mempermasalahkannya,” balas Dion enteng.
“Aku serius!” Frieska kembali menghentak meja dan melotot.
Dion menoleh dan melihat tatapan Frieska yang kesal kepadanya. Dion menghela nafas dan menyandarkan punggunnya disofa.
“Lalu apa maumu?”
“Kita harus buat perjanjian!”
“Perjanjian?” Dion menyeringitkan dahi.
“Tunggu.”
Frieska kemudian mengubek-ngubek koper-koper yang ia bawa sebelumnya, ia mengeluarkan selembar kertas dan pen setelah itu ia kembali duduk disofa. Sementara Frieska asyik menulis maka Dion asyik menonton TV.
“Nih!”
Dion menoleh dan melihat Frieska menyodorkan kertas tadi kepadanya, Dion mengambil kertas itu dan mulai membaca apa yang ditulis Frieska dikertas tersebut.
1. Tidak ada yang namanya hubungan sex meskipun kita suami-istri!
2. Kamar tidur kita harus pisah!
3. Jangan pernah mencampuri urusanku!
4. Jangan pernah beritahu orang lain/kampus kalau kita suami istri!
5. Aku tidak mau memasak untukmu!
6. Aku tidak mau mencuci pakaian kotormu!
7. Aku tidak mau pergi kekampus bersamamu!
8. Aku tidak mau kamarku dimasuki olehmu!
9. Aku mau kamar mandi pribadi!
10. Jangan perhatian denganku!
Dion memanggut-manggut membaca permintaan istrinya tersebut, lalu ia menoleh kearah Frieska.
“Ada lagi?” tanya Dion dan meletakan kertas itu dimeja.
“Itu sudah cukup!” Frieska mendengus puas sambil melipat tangan.
“Tapi dari permintaan-permintaan itu tampaknya hanya 1 saja yang tidak bisa kupenuhi,” ulas Dion enteng dan mencari posisi yang enak untuk menonton TV.
“Maksudmu?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Nanti juga kau tau sendiri,” Dion cengengesan.
Frieska bingung, ia mengambil kertas tadi dan dibacanya satu persatu untuk mencari bagian permintaan mana yang tidak bisa dipenuhi Dion sampai akhirnya mata Frieska terbelalak.
“AKAN KULAPORIN KAU KE POLISI!” teriak Frieska tiba-tiba.
Dion kaget, ia menoleh dan melihat Frieska memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.
“Apanya?”
“Yang  kau maksud tadi permintaan nomor 1 bukan?”
“Hah? Yang tak ada hubungan sex itu?” alis Dion naik sebelah.
“Apalagi emangnya?! Emang ya pria itu sama saja! Berotak selangkangan! Akan kulaporin kau kepolisi atas tindakan pemerkosaan!”
“Ee buset! Bukan yang itu! Yaelah! Lagian ngapain juga aku dilaporin polisi gara-gara itu? aku ini suamimu, kau istriku, wajar kalau kita melakukan itu. Kalau kau melaporkan hal itu malah kau yang dimarahi polisi! Masa suami melakukan itu dengan istri malah dibilang pemerkosaan!”
Wajah Frieska merona merah menahan malu, karena perkataan Dion tadi memang benar adanya.
“Tapi awas saja kalau kau mau melakukan itu denganku! Akan kubakar anu mu!”
“Heleeeeh, terserah!”
“Terus permintaan mana yang kau maksud?”
Dion memiringkan bibir dan berkata.
“Nomor 9.”
Frieska membaca permintaannya yang nomor 9 dan bertanya.
“Kenapa?”
“Kamar mandi dirumah ini hanya 1, kalau kau meminta kamar mandi pribadi aku mau mandi dimana? Rumah tetangga? Enak kalau urat malu ku udah gak ada.”
“Ck! Yaudah!” Frieska mencoret permintaan nomor 9, “Kalau begitu alat mandi kita harus dipisah!”
“Iye, bu! Iye!” Dion memiringkan bibir.
“Dan ingat! perjanjian ini harus kau penuhi sampai saatnya!”
“Saatnya?” Dion menyeringitkan dahi.
“Ya, kau tau kan kondisi kakekku?”
Dion yang mengerti arah pembicaraan ini hanya bisa memiringkan bibir.
“Jangan begitu, bagaimanapun juga dia tetap kakekmu. Dan sekarang kutanya kalau kakekmu sudah tiba saatnya kau mau apa?”
“Cerai! Apalagi?!”
“Tuh, dan kapan kau mengharapkan kita cerai?”
“Secepatnya kalau bisa!”
“Jadi dengan itu kau mengharapkan kakekmu itu cepat meninggal bukan?” Dion tertawa pelan.
Frieska terdiam, dan tentu saja ia tak mengharapkan hal itu sebenarnya bahkan ia ingin kakeknya itu sembuh dari penyakitnya. Gara-gara emosi tadi ia sulit berpikir jernih.
“B-bukan itu maksudku!”
“Haha yaudah-yaudah, kalau begitu kita doakan saja kakekmu itu…”
“Kau mengharapkan kakekku mati?” potong Frieska dengan mata melotot.
“Bukankah kau yang barusan mengharapkan hal itu,” Dion memiringkan bibir, “Lagian jangan main potong seenak jidat, aku tadi mau bilang mari kita doakan saja kakekmu itu sehat selalu dan panjang umur.”
“Jangan mencari muka!”
“Oh enggak kok, jadi kalau kakekmu panjang umur maka tentu saja kau akan terus tersiksa hidup denganku bukan?” Dion terkekeh.
“Ish!”
Frieska yang kesal kemudian beranjak dari tempat duduk dan mengambil kopernya. Dia memasuki salah satu ruangan dan membantingnya dengan keras, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ia keluar dengan wajah yang jengkel terlebih lagi ia melihat Dion menertawain dirinya.
“Apa?!”
“Mau tidur di-Toilet, bu?” Dion cengengesan.
“Bising! Dimana kamar tidurnya?!”
“Tuh,” Dion menunjuk salah satu ruangan sambil tertawa.
Frieska dengan perasaan malu dan kesal memasuki kamar tidurnya tersebut sedangkan Dion tertawa terbahak-bahak melihat Frieska yang tadi salah memasuki ruangan.
Dan semenjak hari inilah dimulai kehidupan Dion dan Frieska sebagai suami istri.
- Beautifull Aurora ® V
4. Take a wife
Esok paginya dikampus membuat Frieska terlihat tidak semangat untuk belajar, mau berapa tulisan yang dibaca dan penjelasan dosen hingga berbuih-buih tidak masuk kedalam otaknya. Bahkan dikantin pun ia hanya mengaduk-aduk bakso dimangkok tanpa dimakannya.
“Kenapa gak dimakan, Mpris?” tanya temannya yang duduk dihadapannya.
“Oh, enggak kok,” Frieska tersenyum.
“Kamu kenapa? Dari pagi kuliat gak ada gairah sama sekali.”
“Gitu ya…”
“Hei.”
Suara panggilan itu menarik perhatian Frieska dan temannya, terlihat seorang pria tersenyum kepada Frieska begitu juga Frieska membalasnya.
“Kemarin HP-mu kenapa? Kok gak aktif?” tanya pria tersebut.
“Baterainya rusak, tapi udah bener kok sekarang.”
“Oh gitu,” pria itu memanggut, “Kalau begitu aku pergi dulu ya, mau kekelasnya Barry.”
“Iya,” Frieska memangguk.
Setelah kepergian pria tersebut maka temannya kembali berbicara.
“Apa ada hubungannya dengan Erin?”
“Oh enggak kok, aku gak ada masalah sama dia,” bantah Frieska.
“Iya juga, kalian tadi berbicara santai saja,” temannya memanggut-manggut, “Jadi karena apa?”
“Hmm gak tau juga hehe, oh iya Vienny. Lidya sama Saktia mana?”
“Mulai ngalihin pembicaraan,” Vienny memiringinkan bibir, “Lidya lagi nemenin Saktia.”
“Kemana?”
“Gak tau,” Vienny menaikan kedua bahunya.
“Oh,” Frieska mengangguk.
“Terus gimana hubunganmu dengan Erin? Apa dia udah bertemu orang tuamu?”
“Belum,” Frieska tersenyum dan menggeleng.
“Masa pacaran diam-diam melulu, kalian ini bukan anak kecil lagi loh.”
“Hihi iya.”
Dan itulah yang terjadi, meskipun Frieska dan Dion sudah menikah mendadak. Ada rahasia lain yang Frieska simpan yaitu dia masih memiliki pacar bernama Erin. Dan gara-gara pernikahan inilah membuat Frieska bingung mencari alasan apabila Erin hendak datang kerumah menemui orang tuanya karena Frieska sekarang tinggal dengan Dion.
“Eh itu mereka,” kata Vienny tiba-tiba.
Vienny kemudian memanggil 2 orang wanita yang baru memasuki kantin, 2 wanita itu pun menghampiri tempatnya dan duduk bersama.
“Kamu kenapa, Sak? Kok lesu gitu?” tanya Frieska.
“Uuh…” Saktia hanya murung.
“Kenapa tuh?” tanya Vienny kepada Lidya.
“Ditolak,” Lidya tertawa.
“Apanya yang ditolak?” Frieska dan Vienny menyeringitkan dahi.
“Ditolak cowok, dia barusan nembak loh,” ujar Lidya tanpa beban.
“Hah?! Yang bener?!” Vienny kaget.
“Iya…” Saktia memanyunkan bibir dan mengangguk sekali.
“Walah, kok kamu sih yang nembak? Cowok dong yang seharusnya nembak,” komentar Vienny.
“Biar gak mainstream, dan siapa tau dia mau gitu kan ditembak cewek secantik aku,” balas Saktia.
“Yeeee,” Vienny memiringkan bibir dan Lidya tertawa.
“Emang siapa?” tanya Frieska sambil menyedot minuman dengan sedotan.
Saktia kemudian memandang Frieska dan Vienny bergantian dengan wajah sedih, tak lama kemudian dia menjawab.
“Dion…”
“Glllp!” Frieska tersedak pelan.
“Dion? Dion yang mana?” tanya Vienny.
“Itu loh yang bikin Frieska pingsan beberapa hari yang lalu,” ulas Lidya.
“Oh senior kita itu,” Vienny mengangguk, “Jadi dia?”
“Iya…” Saktia kembali murung, “Padahal aku udah nyatain perasaan aku didepan teman-teman dia tadi… mau ditaruh dimana muka aku! Kan malu! Ditolak lagi! Sok ganteng sekali sih tuh orang! Kupites-pites juga nanti!” sekarang dia malah kesal.
“Makanya pastiin dulu orangnya kenal apa kagak dengan kamu, main tembak-tembak aja, biarpun ditembak cewek ya pasti ditolaklah kalau gak kenal-kenal amat,” ujar Vienny memiringkan bibir.
“Masa kecantikan aku ini gak dikenal seantro kampus sih?” kata Saktia membela diri.
“Yeeee!” Vienny memiringkan bibir dan Lidya lagi-lagi tertawa.
“Tapi Dion itu kan mantannya Veranda kalau gak salah,” Vienny melanjutkan.
“Oh ya?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Kalau gak salah temenku bilang gitu.”
“Oh…” Frieska memanggut-manggut.
“Pantesan ditolak, senior kita itu kan emang lebih cantik hahahaha. Mungkin Dion nya susah move-on lalu bikin alasan aneh tadi deh,” sambung Lidya.
“Huh! Apa cantiknya sih Veranda!? Make-up gue lebih mahal!” Saktia mendengus sombong.
“Hahaha, eh iya,” Vienny menoleh kearah Lidya, “Emang tadi alasan Dion nolak apa? tadi kamu bilang aneh.”
“Iya aneh, tanya aja Saktia,” Lidya menunjuk Saktia.
“Apa alasannya?” tanya Frieska sambil menyedot minuman.
“Dia…,” Saktia kembali murung dan berpura-pura menangis, “Dia nolak aku.”
“Iya tau,” Vienny memiringkan bibir, “Tapi alasannya?”
“Dia bilang dia udah nikah!” seru Saktia.
“BRUUUUHHH!!” Frieska menyemburkan minumannya kesamping.
“Mpris, kamu kenapa?” Vienny, Saktia dan Lidya menyeringitkan dahi.
“O-oh e-enggak-enggak, silahkan lanjut,” ujar Frieska sambil membersihkan bibirnya dengan tisu.
“Terus, apa itu benar?” lanjut Vienny.
“Mana aku tau! Tapi coba pikir, alasan macam apa itu? Masa nikah dijadiin alasannya lagian dia bilang nikahnya baru kemarin! Kan keliatan sekali aneh dan dibuat-buat!” Saktia tampak menggebu-gebu.
“Iya juga sih, lagian aku baru denger Dion udah nikah,” Vienny menyetujui.
“Lagian kalau benar siapa sih istrinya?! Berani-beraninya dia sama aku! Udah tau aku ini cantiknya luar biasa!” seru Saktia menggebu-gebu.
“Yeeeee,” Vienny lagi-lagi memiringkan bibir dan sekarang Lidya tertawa terbahak-bahak.
“Yaudah deh! Gak ada rotan, akar pun jadi!” kata Saktia tiba-tiba.
“Maksudnya?” Vienny mengeringitkan dahi.
Saktia tersenyum dan bola matanya menadah keatas.
“Temennya Dion boleh juga, yang namanya Enu… Bayu… Arya… uuuuh!! Geregetan jadinya!”
“Mau diembat semuanya, Bu?” tanya Vienny.
“Kalau bisa, kan aku cantik,” Saktia tersenyum, memainkan rambut dan memain-mainkan alis.
“Yeeee,” bibir Vienny sengak bukan main dan sekarang Lidya terbatuk-batuk karena kebanyakan tertawa.
“Tapi aku masih penasaran siapa yang dijadiin istri sama Dion tadi! Penasaran pake banget!” seru Saktia.
“Kan udah ditolak, masih aje,” komentar Vienny.
“Yaiyalah! Kurang ajar banget dia! Mentang-mentang dia enak dilihat masa cewek cakep kayak aku ditolaknya!”
Vienny sewot karena sedari tadi Saktia mengungkit kecantikan dirinya apalagi Lidya sampai sakit rahangnya karena kebanyakan tertawa. Sementara itu Frieska terus berdiam diri dan kesal kenapa Dion memberitahukan hal itu secara terang-terangan kalau dia sudah menikah, meskipun alasan itu bisa dianggap dibuat-buat bagi yang tidak mengetahui kebenarannya.
“Kalau ketemu istrinya mau kamu apain?” tanya Vienny.
“Mau kutabrak! Kuinjek-injek! Kupenggal! Kuarak-arak keliling kampus!” seru Saktia.
“Gila kamu!” seru Vienny dan Lidya menangis karena tak kuat menahan tawa melihat Saktia sok-sok an bersikap psikopat.
Dan sekarang Frieska mulai ketakutan untuk mengakui diri apabila ketahuan oleh Saktia kalau dialah istrinya Dion.
- Beautifull Aurora ® V
5. I won’t hide
Jam pulang kampus dijadikan Dion bersama teman-temannya nongkrong asik disalah satu pondok yang ada didekat parkiran motor dan mobil. Ada saja yang mereka lakukan disitu seperti mengambil buah jambu, tiduran bahkan menggoda mahasiswi yang lewat.
“Eh ada Shani,” teman Dion yang bernama Ega menyapa salah satu mahasiswi yang lewat bernama Shani, junior mereka.
“Terusin jalannya Shan! Bahaya itu!” seru gadis berkacama disampingnya.
“Yee awas aje lu nanti dirumah, gue hack password Wi-fi lu,” ujar Ega ketus kepada gadis yang ada disebelah Shani.
“Bodo!” gadis berkacamata itu memeletkan lidah.
“Beeeh, eh Shania!” panggil Ega kembali kepada gadis berkacamata yang bernama Shania.
“Apa?”
“Salam buat Shani ya hehehe.”
Shania berhenti berjalan, ia kemudian menarik pergelangan tangan Shani agar ikutan berhenti.
“Shani.”
“Iya?” balas Shani polos.
“Ingat ya! Kalau ada orang tadi cepat-cepat kamu bacain ayat kursi. Oke? itu induknya iblis!”
Ega kembali mengomel-ngomel, sedangkan Shani dan juga teman-teman Ega yang lain tertawa terbahak-bahak. Shania kembali memeletkan lidah untuk mengejek Ega dan melanjutkan perjalanannya bersama Shani.
“Eh ada Veranda,” kali ini teman Dion yang bernama Arya yang menyapa.
“Hai,” balas Veranda dengan senyuman.
“Ada yang kangen nih ciahahahaha!” Arya tanpa dosa menepuk-nepuk bahu Dion.
“Cieee kangen,” teman Veranda yang ada disampingnya tertawa mendengar hal itu, begitu juga dengan Veranda-nya sendiri.
“Iya kangen, nih,” Dion melepet-lepetkan rambutnya kedepan sehingga gaya rambutnya itu seperti anak Emo yang diserang beruang, “Saking kangennya rambutku jadi mirip rambut Andika Kangen Band.”
“Receh,” Veranda memeletkan lidah.
“Tapi suka kan?” Dion nyenyir kuda dan memain-mainkan alis.
Veranda tertawa ringan melihat candaan receh khas Dion yang biasa dilihatnya, tak lama kemudian Dion melihat teman Veranda yang ada disebelah gadis tersebut.
“Naomi.”
“Ya?” teman Veranda yang bernama Naomi ini menoleh.
“Teman gue kirim salam,” Dion menepuk pundak temannya yang bernama Beny.
“Eh! Eh! Mana ada! Mana ada!” Beny salah tingkah, wajahnya memerah seperti udang direbus kelamaan.
“Haha iya-iya, wa’alaikumsallam,” balas Naomi sembari tertawa.
Sedangkan tak jauh dari tempat mereka berada terlihat Frieska memperhatikan hal tersebut, dan dari pembicaraan tadi maka Frieska bisa menebak kalau Veranda itu memang benar mantannya Dion.
“Haaaah, bukan urusanku,” gumam Frieska.
Setelah kepergian Veranda dan Naomi menuju parkiran mobil maka sekarang Frieska yang lewat melewati tempat suami dan juga teman-temannya berkumpul. Frieska tampak santai melewati mereka karena bisa dibilang dia tidak mengenal mereka, begitu juga sebaliknya.
“Eh ada bininya, Dion,” celetuk Ega tiba-tiba.
Frieska kaget, ia menoleh dan melihat teman-teman Dion tertawa dan menepuk-nepuk bahkan menoyor-noyor kepala Dion.
“A-apa tadi?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Hehehe Frieska kan? Istrinya Dion?” Arya balik bertanya.
“Adiknya Melody kan?” tanya teman Dion yang bernama Enu.
“Kok lo tau?” Dion menyeringitkan dahi.
“Yeee kakaknya itu temen gue SD dulu, gila lu Yon, adiknya yang lu nikahin haha,” Enu memiting kepala Dion.
Frieska memandang Enu dan bisa dibilang wajahnya memang tak asing dan mungkin memang benar itu adalah teman kakaknya sewaktu SD. Akan tetapi bukan itu prioritas utama yang ada dikepala Frieska.
“S-siapa yang memberitahu?”
“Ya lakimu sendiri,” Ega menunjuk Dion yang cengengesan memandangnya.
Mata Frieska terbelalak, ia tak menyangka Dion akan memberitahukan statusnya itu kepada teman-temannya, apalagi dari alur percakapan tersebut mereka memang percaya kata-kata Dion kalau dirinya adalah istrinya.
“Lakimu ditembak cewek tadi siang, tapi tenang, udah ditolak haha,” ujar Arya.
Friska tidak memperdulikan hal itu, dia terus memandang Dion dengan geramnya.
“Dion!” seru Frieska.
“Ya?” Dion tertegun.
“Pulang sekarang juga!” perintahnya.
Frieska melanjutkan perjalanannya dengan perasaan jengkel, sedangkan Dion ditertawai teman-temannya.
“Garang juga bini lu,” komentar Arya sembari tertawa.
“Kayaknya bini lo cemburu tuh pas tau lo ditembak cewek lain hahaha,” Beny cengengesan.
“Mampus lu, Yon! Gak dapat jatah lu hari ini!” sambung Ega.
“Taik!” Dion cengengesan dan menoyor kepala Ega, “Kalau gitu gue pulang dulu.”
“Eh jangan lupa alamat rumah lu Yon,” tambah Arya.
“Beny tau, dah gue pulang dulu.”
Dion kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran, ia melihat Frieska yang sudah mengendarai motornya sendiri dan tampak kesal memandang Dion. Dion tertawa ringan dan mengambil motornya, setelah itu ia meluncur untuk pulang.
Sesampainya dirumah Dion disambut dengan suara yang hampir mengalahkan vokalis Band Metal manapun saat manggung.
“KENAPA KAU MEMBERITAHUKAN HAL ITU! HAH?!”
Ya, itu adalah Frieska yang berteriak.
“Loh, kan tidak melanggar permintaanmu itu,” balas Dion yang kedua ujung jarinya sudah menutup kedua lubang telinganya.
“Apanya! Lihat! Teman-temanmu tahu akan status kita! Bukankah sudah kubilang jangan memberitahukan hal itu kepada orang lain!”
“Ya itu tadi. Mereka itu teman-temanku, bukan orang lain,” Dion cengengesan.
“Kau ini!”
Frieska celingak-celingukan mencari sesuatu. Ia melihat map diatas meja, diambilnya map itu dan ia gulung-gulung. Ia menghampiri Dion dan menggebuk-gebuk kepala pria tersebut.
“Wah KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)!” seru Dion.
“Biar! Rasakan ini!” Frieska semakin menggebu-gebu menggebukkan gulungan Map tersebut.
“Hahahaha.”
Dion terus tertawa, apalagi ia berpura-pura menguap karena gebukan itu sama sekali tidak terasa sakit baginya. Mungkin kalau gulungan map itu diganti dengan tongkat besi padat lain ceritanya.
“Udah?” Dion tertawa pelan melihat Frieska ngos-ngosan.
Frieska kesal dan ia ingin mencari lagi benda yang dikiranya bisa menyakiti Dion. Sementara itu Dion dengan santainya duduk dikursi tamu.
“Ada alasannya kenapa aku memberitahu mereka kalau kita sudah menikah.”
Frieska menoleh kearahnya dengan tatapan yang sebal.
“Apa?”
“Duduklah, aku yang melihatmu saja jadi ikutan capek,” Dion tertawa pelan.
“Enggak!” Frieska melotot dan menyilangkan tangan.
“Yaudah, akan kukasih tau kalau mau duduk.”
“Banyak gaya! Tinggal bilang saja kenapa?!”
“Terserah,” Dion cengengesan.
Frieska masih bertahan dengan posisinya, begitu juga Dion. Akan tetapi kelamaan berdiri membuat Frieska pegal juga kakinya, dengan terpaksa ia duduk dikursi meskipun tangannya masih berlipat.
“Asyeek, istri penurut,” Dion tertawa.
“Berisik!” hardik Frieska.
“Hahaha iya-iya, jadi alasannya itu… apa ya… mendadak lupa,” Dion menggaruk-garuk kepalanya karena gatal, mungkin ketombean.
“Kau ini!” Frieska melotot.
“Oh iya, aku ingat-ingat! santai bu, darah tinggi nanti.”
“Jadi apa alasanmu!”
Dion tersenyum sejenak dan berkata.
“Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu kepada orang-orang terdekatku, dan salah satunya adalah teman-temanku tadi.”
Frieska menyeringitkan dahi.
“Apa? hanya karena itu?!”
“Tak hanya itu. Dengan ini teman-temanku bisa mengetahui dirimu, jadi misalnya kau ada apa-apa diluar dan temanku kebetulan melihat, jadi mereka bisa menghubungiku untuk memberitahu. Sederhana bukan?”
“Sudah kubilang jangan perhatian denganku!”
Dion terdiam, tak lama kemudian dia tertawa.
“Bodoh.”
“Apa kau bilang?” Frieska tampak kesal.
“Ya, kau bodoh,” Dion berdiri dari tempat duduk, sebelum ia melewati Frieska ia menepuk-nepuk kepala istrinya tersebut, “Bagaimanapun juga kau adalah istriku, tanggung jawabku.”
Setelah menepuk-nepuk kepala Frieska maka Dion melanjutkan perjalanannya ke toilet. Sementara itu Frieska terdiam seribu bahasa, karena bisa dibilang alasan Dion itu memang masuk diakal akan tetapi ada 1 alasan yang membuat ia tak suka dengan ucapan suaminya tersebut.
“Sok bijak!” serunya sambil memandang pintu toilet yang Dion pakai.
Ya, itu dia alasannya.
Melihat pintu toilet sedari tadi membuat Frieska memikirkan sesuatu, tiba-tiba matanya berbinar dan senyum liciknya tercipta. Sementara itu Dion yang selesai urusannya dengan toilet hendak keluar dari tempat tersebut. Ia memutar kunci dan memegang kenop.
“Ng?” Dion menyeringitkan dahi.
Dion memutar-mutar kenop pintu toilet akan tetapi pintu tak terbuka-buka.
“Hei! Kenapa ini? hei!” Dion menepuk-nepuk pintu toilet sambil memutar-mutar kenop.
“Oh, sepertinya kau sudah selesai,” terdengar suara Frieska dari luar.
“Frieska?”
“Ya, memangnya siapa lagi selain kita berdua dirumah ini?”
“Hei! Apa-apaan ini? buka pintunya!” seru Dion menggebu-gebu.
“Iya kubukain, tapi pas aku pulang ya?”
“Emang kau mau kemana? Hei buka dulu ini!”
“Aku mau kerumah temanku, dan tenang saja. Pintunya bakalan kubukain kok. Kira-kira… jam 9 malam nanti.”
“Apa?! kau gila apa mengurung suamimu sendiri didalam WC?!” Dion sewot setengah mati.
“Ini kasih sayangku sebagai istri,” balas Frieska kalem.
“Hei buka ini! Buka!” Dion menggedor-gedor pintu.
“Kalau begitu sampai ketemu jam 9 nanti. Jaga rumah ya? S-U-A-M-I-K-U!”
“Hei!!!!” seru Dion.
Frieska dengan langkah ceria keluar rumah dan mengunci pintu. Ia kemudian mengeluarkan motor dan segera meluncur pergi. Sementara itu Dion masih mencoba mencari cara agar dirinya bisa keluar dari toilet.
Dan dihari itulah ‘Keintiman’ antara Dion dan Frieska dimulai… tentu saja dalam arti yang lain.
- Beautifull Aurora ® V
6. A F*cking drama
Hari-hari berikutnya ada-ada saja kelakuan Frieska yang diperbuatnya, dari mengganti waktu alarm Dion agar Dion bangun kesiangan saat Dion tertidur, menaruh sahang sebanyak-banyaknya dimakanan Dion, mengempesi ban motor Dion, menyembunyikan Handphone Dion, bahkan yang lebih ekstrim yaitu memesan makanan mahal atas nama Dion. Dan tentu saja masih banyak lagi yang diperbuatnya.
Apakah Dion kesal dengan semua itu? Sudah jelas dia kesal, akan tetapi ia tidak pernah membalas perbuatan istrinya itu dengan perbuatan lain. Karena dia cukup mengucapkan suatu kalimat yang bisa membuat istrinya kesal setengah mati.
“Ckckck saking sayang sama suaminya saja ampe nyari perhatian kayak begini.”
Itulah kalimat Dion yang mampu membuat Frieska kesal setengah mati. Apalagi Dion selalu cengengesan saat mengatakan hal itu dan kalau sudah begitu maka Dion sudah tahu apa yang akan dilakukan Frieska, digulungnya kertas tebal dan itu selalu digunakannya untuk memukul-mukul Dion. Karena bagi Frieska haram hukumnya bagi kulit telapak tangannya untuk menyentuh Dion.
Yah, mungkin hal tadi bisa mempersingkat penjelasan dengan apa yang selalu terjadi dirumah mereka. Meski begitu ada pula waktu dimana mereka berdua akur. Ini bisa dilihat saat dirumah mereka kedatangan keluarga masing-masing.
 “Kakek kira kalian tidak akan akur gara-gara pernikahan ini, tapi ternyata kakek salah ya,” ujar kakeknya Frieska.
“Haha enggak kok, kek,” Frieska tersenyum.
“Iya,” Dion merangkul pundak Frieska, “Beruntung saya menikahi Frieska, penyayang orangnya hehe.”
“Masa sih?” Melody tertawa ringan dan menyeringitkan dahi memandang adiknya tersebut.
“Oh iya,” Dion mengangguk, “Tiap pagi aku selalu dibangunin, tiap pulang kampus pun udah disambut dengan kasih sayang, benar-benar istri idaman,” Dion tersenyum, menggeleng-geleng kepala saat menatap Frieska.
“Mulai deh,” Frieska tersenyum dan menoyor pelan dada Dion.
“Haha kok gue geli ya dengerin lo muji pake kata-kata manis tadi,” Leffy cengengesan.
“Makanya punya istri,” balas Dion enteng.
“Jadi Frieska, gimana Dion selama ini dirumah?” tanya kakeknya Dion.
“Hmm ya selalu membantu aku ngerjain tugas, sering lembur gara-gara pekerjaan sambilannya itu, tapi yang pasti dia perhatian dengan aku.”
“Oh jelas, masa istri cantik kayak gini gak diperhatiin,” Dion cengengesan dan mencubit pipi kiri Frieska.
“Iihh mulai deh,” Frieska tersenyum dan menoyor paha Dion.
Suara gelak tawa keluarga membuat suasana dirumah mereka berdua menjadi hangat, kecuali Leffy yang merinding melihat sikap kakaknya yang begitu manis terhadap seorang wanita karena baginya itu merupakan hal yang sangat jijik dan langka.
“Oh iya, makan dulu atuh, udah dibuatin juga,” ajak Frieska kepada yang lain.
“Ah iya, ayo-ayo,” sambung Dion.
“Ngerepotin jadinya hehe,” ujar Ibunya Dion.
“Gakpapa kok ma,” Frieska tersenyum.
“Kamu bisa masak Mpris?” tanya Citra.
“Oh bisa! Adikmu ini emang mantap! Masakannya bisa membuat orang yang memakannya lupa akan dosa, bahkan dosa ikutan lenyap!” sambung Dion sambil merangkul pundak Frieska kembali dan mengusapnya.
“Ah kamu,” Frieska tersipu-sipu malu dan menonjok perut Dion pelan.
“Haha yaudah yuk,” kedua kakek mereka beranjak.
Semua keluarga pun segera menuju meja makan.
“Oh iya sayang, temenin bentar yuk keatas, mau ngambil HP,” ajak Frieska kepada Dion.
Dion menelan ludah.
“Nanti saja, habis makan,” balas Dion.
“Sekarang, ayoo,” Frieska menarik lengan baju Dion.
“Dengan kakak aja, Mpris,” Citra menawarkan diri.
“Ah betul tuh! Sama kakakmu saja!” Dion tampak setuju dengan tawaran tersebut.
“Gak mau, maunya sama kamu,” tolak Frieska dengan nada dibuat-buat manja.
“Ciee yang tak mau jauh dari suaminya,” Melody tertawa begitu juga dengan keluarga yang lain.
“Hahahahaha,” begitu juga Dion, hanya saja dia berkeringat dingin.
“Sayang, ayooo,” Frieska kembali mengajaknya.
“Udah, Kak. Gak bakalan gue habisin kok nih makanan, tenang aje,” ujar Leffy sambil menepuk-nepuk pundak Dion.
“Iya Yon, tenang aje,” sambung Vicky, sepupu Dion yang dari Bandung.
Dion melihat adik dan sepupu-sepupunya yang datang dari Bandung, seperti Vicky, Reza, Bams dan juga ke-tiga keponakannya yaitu Nabilah, Zara, dan Kyla.
“Gak yakin nih makanan masih utuh kalau kalian ada disini…” ulas Dion.
“Ah om ini, gak boleh suudzon gitu,” Nabilah tertawa dibuat-buat sambil menggoyang-goyangkan tangan kanan kearah Dion.
“Iya nih, nanti neraka loh tempatnya,” sambung Zara.
“Betul-betul, tak patut-tak patut,” Kyla menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Udeh, sana Yon, temenin bini lo. Gak bakalan habis, tenang aje,” ujar Reza yang cengengesan bersama Leffy, Bams dan Vicky.
“Errrrr…” Dion terlihat bimbang.
“Ayo!” Frieska menarik lengan Dion, “Tinggal sebentar dulu ya semua,” kata Frieska kepada yang lain.
“Yang lama kalau bisa, Fris,” Leffy tersenyum penuh arti mewakili Bams, Vicky, Reza, Nabilah, Zara dan Kyla.
“Lama gigi elu!” Dion terlihat pucat akan tetapi Frieska tersenyum sambil berkata, “Pasti!”
Dion kemudian kelantai 2 sambil ditarik-tarik Frieska, sementara itu Leffy, Vicky, Reza, Bams, Nabilah, Zara dan Kyla begitu beringas mengambil makanan yang ada dimeja makan seolah-olah mereka ini belum pernah bertemu makanan selama sebulan.
“Harmonis juga ya Dion sama bininya,” komentar Bams kepada Leffy sambil mengambil makanan.
“Bodo amat dah, eh Kyla! Itu ayam om enak aje!” seru Leffy saat melihat Kyla mengambil ayam incarannya yang besar.
“Siapa cepat dia yang dapat!” Kyla mendengus-denguskan hidungnya.
Terjadi perebutan ayam goreng antar paman dan ponakan yang menggelitik hati keluarga yang lain. Selain itu juga terjadi perbincangan antara Melody dan ibunya.
“Kayaknya kita gak perlu khawatir lagi, Frieska kayaknya baik-baik saja.”
“Iya,” ibunya tersenyum, “Dan mama merasa aneh ngeliat Frieska bisa segitunya hihi.”
“Hihi iya, tapi gakpapalah. sayang sama suami,” Melody tertawa.
Semua keluarga menikmati santapan tersebut dengan nikmat, diselingi pembicaraan yang hangat dan juga canda tawa. Lalu benarkah Dion dan Frieska benar-benar akur seperti yang keluarganya pikirkan? Mungkin bisa terlihat dengan jelas dengan apa yang dilakukan mereka berdua sekarang didalam kamar yang kosong dilantai 2.
“NGAPAIN NGERANGKUL PUNDAK AKU! HAH?! PAKE CUBIT PIPI SEGALA LAGI!!” seru Frieska sambil memiting kepala Dion dari belakang.
“ATATATATATATAT!!” dan Dion merintih kesakitan.
“MALAM INI KAU TIDUR DILUAR!”Frieska semakin menjadi memiting kepala Dion sehingga suaminya itu melengking seperti kambing diperkosa sapi secara massal.
Ya, mereka akan akur kalau berada didepan keluarga mereka sendiri. Dan karena itulah Dion sedari tadi malas diajak keatas sama Frieska karena dia tahu pasti bakal begini jadinya, selain itu dia juga takut kalau makanan dibawah benar-benar habis dihantam adik, sepupu dan juga keponakannya.
Ya sudahlah.
- Beautifull Aurora ® V
7. Sory, are you cheating?
5 bulan sudah berlalu.
Belum ada konsolidasi yang signifikan antara Dion dan Frieska dalam hubungan mereka. Frieska masih tetap dengan sikapnya, begitu juga Dion. Waktu berbicara pun hanya ada disaat Frieska melakukan ulahnya, selebihnya tidak ada, terlebih lagi Dion mempunyai 2 kesibukan karena selain kuliah dia juga bekerja sambilan disalah satu tempat kerja milik teman ayahnya dan kerjaannya itu selalu ia kerjakan pada malam hari.
“Ck… istirahat bentar,” gumam Dion.
Diambilnya gitar klasik yang sedari tadi nangkring ditepi kursi yang ia pakai, denting demi denting senar dimainkan hingga menghasilkan nada tertentu sebagai pelepas penat karena bekerja memeras otak. Sementara itu Frieska juga masih terjaga pada pukul 1.32 malam ini, terlihat dia begitu asyik melakukan chatting dengan seseorang di Handphone-nya.
Erin : Jadi kira-kira orang tua kamu suka apa nih misalkan aku ada rencana kesana? Hehe.
Frieska tersenyum, tangannya itu begitu cepat untuk membalas chat tersebut.
Frieska : Gayanya :P
Frieska : Dari dulu kamu wacana melulu.
Erin : Namanya juga sibuk.
Erin : Kalau ada waktu pasti deh hehe.
Frieska : Dasar.
Frieska : Gimana nanti persiapan festival kampus?
Erin : Aman terkendali ;)
Erin : Ngomong-ngomong kirim foto kamu dong.
Frieska : Foto apa?
Erin : Ya foto hehe.
Frieska : Di-Instagram aku kan banyak.
Erin : Bukan, foto yang itu. Yang lebih ekslusif :3
Frieska tertawa ringan.
Frieska : Ekslusif gimana?
Erin : Ya… gitu deh hehehe.
Frieska : Apa? :)
Lama tidak ada balasan, sampai akhirnya Erin membalas chat-nya.
Erin : Ya, foto bugil gitu.
Frieska terhenyak saat membaca chat tersebut.
Frieska : Apa?!
Frieska tentu saja terhenyak, karena tidak biasanya pacarnya itu meminta sesuatu yang sangat intim dan pribadi seperti tadi.
Erin : Maaf-maaf, tadi HP ku dibajak!
Frieska : Bohong!
Erin : Sumpah sayang! Tadi dibajak temen aku, sory-sory tadi ditinggal bentar buat pipis.
Frieska : Gak sopan amat sih temen kamu!
Erin : Iya, udah kumarahin kok ini. Maaf ya sayang, maaf-maaf.
Segala permintaan maaf dan kata-kata manis dilontarkan Erin, meskipun Frieska orangnya keras nan cuek ada kalanya dia bisa luluh, apalagi dia dan Erin sudah berpacaran selama 7 bulan lamanya.
Frieska : Makanya kalo nyimpen HP itu yang bener, dibawa kek :|
Erin : Iya, sayang khilaf tadi. Maaf ya :)
Frieska : Hmm yaudah.
Erin : Hehe :) ngomong-ngomong belum selesai ngerjain tugasnya?
Frieska : Belum, ini nyambil kok.
Erin : Kok malem-malem gini ngerjainnya?
Entah kenapa terbesit dibenak Frieska untuk membalas chat itu dengan hal yang lain, ia keluar dari applikasi chat tersebut dan menekan mode video. Dia merekam dirinya sendiri dan menjawab pertanyaan tadi selama beberapa detik, baru ia kembali membuka aplikasi chat kembali untuk mengirimkan video tersebut kepacarnya.
Hehe dia pasti kaget,” pikir Frieska sambil meletakan handphone diatas kasur.
Frieska kemudian berbaring untuk menunggu data video terkirim dan balasan pacarnya. Akan tetapi sudah lewat 2 menit tidak ada bunyi notifikasi apapun.
Apa jaringan lelet ya?” batinnya bertanya.
Frieska beranjak dari pembaringannya untuk mengecek handphone dan bertepatan juga dengan bunyi notifikasi yang ditunggunya sedari tadi.
Erin : Udah tidur kayaknya. Selamat tidur sayang, G’night :*
Frieska menyeringitkan dahi, karena diatas chat tersebut masih ada chat soal pertanyaan Erin yang menanyakan kenapa dia mengerjakan tugas malam begini.
“Loh, video-nya mana?” tanya Frieska pada diri sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu menarik perhatian Frieska, ia malas berdiri dan bertanya dari dalam.
“Apa?”
“Kenapa belum tidur?” tanya Dion dari luar.
“Terserah aku!” balas Frieska ketus.
“Oh, terus ini apa maksudnya?”
“Apa?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Coba keluar sebentar.”
“Ck!”
Dengan malasnya Frieska turun dari kasur, ia terus berjalan menuju pintu dan saat pintu terbuka terlihat Dion menunjukan layar Handphone dihadapannya.
Mata Frieska terbelalak karena itulah Video yang tadi hendak ia kirim ke Erin.
“Kenapa video-nya ada di HP-mu?!”
“Lah, kan kau sendiri yang ngirim,” balas Dion dengan wajah sengak.
Frieska menyeringitkan dahi, ia memeriksa Handphone dan terjawab sudah. Jadi saat mau mengirim video itu sebelumnya tak sengaja ia menekan akun chat miliknya Dion yang berada tepat diatas akun chat miliknya Erin. Itu wajar saja karena huruf D dan E berdekatan, apalagi bisa dibilang sebenarnya Frieska masih mengantuk saat mengirim video tersebut.
“A-a-a-a-a-a-a-a,” Frieska terbata-bata.
“Kau ngapain curhat pake video?” tanya Dion dengan wajah sengak.
“S-s-siapa juga yang curhat!”
“Lah ini, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngirim video. Ngasih tau lagi suka ngerjain tugas jam segini, perasaan… aku tak pernah menanyakannya.”
“I-i-itu aku salah kirim!”
“Oh ya? salah kirim ya?” Dion tersenyum usil, alisnya naik sebelah.
“Ish! Udah sana!” usir Frieska.
“Emang mau dikirim kesiapa emangnya? Pasti cowok,” Dion cengengesan.
“Sok tau!”
“Hahaha kau lihat saja ekspresimu ini di-video. Hati-hati, karma berlaku loh. Kalau selingkuh kau sendiri akan merasakan hal itu nantinya.”
Frieska terdiam karena tak menyangka Dion berhasil menebak hal itu.
“Sana!” Frieska menutup pintu.
Setelah menutup pintu, Frieska bersandar dipintu tersebut dan memukul kepalanya sendiri gegara kebodohannya tadi.
“Fris,” panggil Dion dari luar sambil mengetuk pintu.
“Apa!”
“Besok libur kan?”
“Udah tau nanya!”
“Yaelah, kalau mau begadang, begadang aje ampe pagi nanti.”
“Terus?”
“Ya Sholat subuh, beberapa hari ini aku jarang melihatmu sholat subuh.”
“Cerewet! Jangan sok alim deh!”
Astagfirullah Umi, Abah cuma ngingetin, kan Umi tanggung jawab Abah, jadi Abah wajib ngingetin Umi,” kata Dion dengan logat Arab habis itu dia terkekeh.
“Uma-Umi-Uma-Umi! Sana!”
“Ciahahahaha! Yaudah, jangan lupa sholat subuh tuh,” Dion mengetuk sekali pintu kamar Frieska.
Frieska sebal karena digodain Dion seperti tadi, akan tetapi ia berpikir memang benar apa yang dikatakan Dion karena beberapa hari ini dia memang jarang sholat Subuh. Tetapi ia mendadak kesal sendiri.
“Dibilangin jangan sok perhatian!”
Ya, itu dia alasannya.
- Beautifull Aurora ® V
8. Good Ex
Hari-hari dikampus sekarang begitu lenggang karena beberapa mahasiswa terlihat sibuk untuk mempersiapkan Festival yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Frieska yang tak ada kerjaan terlihat bersantai ditaman kampus bersama Vienny, Saktia dan Lidya sambil melihat mahasiswa-mahasiswa berlalu lalang.
“Erin kemana, Mpris?” tanya Lidya.
“Latihan band katanya,” jawab Frieska seadanya.
“Dengan siapa perginya?”
“Katanya sih dengan Bima.”
“Bima?” Vienny, Lidya dan Saktia saling memandang dan menyeringitkan dahi.
“Kenapa?”
“O-oh… enggak,” Vienny tersenyum dan menggelengkan kepalanya, begitu juga Lidya dan Saktia.
“Hmm,” Frieska memiringkan bibir, “Eh nanti nonton yuk? Film IT katanya udah ada dibioskop.”
“Boleh deh, tapi sore ya, gimana?” tanya Vienny.
“Boleh deh boleh,” Frieska, Lidya dan Saktia mengangguk setuju.
“Ngumpulnya dirumah kamu aja ya, Mpris?”
“Eh, j-jangan! Jangan dirumah aku!”
“Kenapa?” Vienny, Lidya dan Saktia menyeringitkan dahi.
“Emm susah dijelasin hehe, ngumpul dirumah Lidya aja dulu gimana?”
“Hmm belakangan ini kamu aneh deh, kayak nyembunyiin sesuatu,” ulas Lidya.
“Enggak kok enggak.”
“Bener?”
“Iya, sumpah,” Frieska mengangkat kedua jarinya hingga berbentuk V. “Emm aku kekantin dulu ya, beli minuman. Ada yang mau nitip?”
“Fanta deh, pake susu,” ujar Saktia.
“Aku enggak,” Vienny menggeleng, begitu juga Lidya.
“Yaudah, jangan kemana-mana ya.”
Frieska kemudian pergi sebentar meninggalkan teman-temannya. Setelah kepergian Frieska terlihat wajah Vienny begitu murung.
“Kenapa sih dia gak mau jujur saja…” gumamnya.
“Iya,” Lidya menghela nafas dan memiringkan bibir, “Frieska-Frieska… mungkin dia sulit memberitahukan hal itu sama kita kali ya?”
“Tapi apa itu benar?” tanya Saktia ke Vienny.
“Iya, Kak Imel yang ngasih tau pas aku kerumahnya kemarin, ibu Mpris juga membenarkan hal itu,” balas Vienny.
“Kalau gitu… Dion benar-benar jujur dong waktu itu,” kata Saktia.
“Ya, tapi gak nyangka aja kalau Frieska yang menjadi istrinya,” sambung Lidya.
“Jadi sekarang kamu udah tau siapa istri Dion kan? Masih mau ngelakuin yang kamu bilang dulu? Ditabrak dan lain-lain,” Vienny memincingkan mata memandang Saktia.
“Ya kali,” Saktia memiringkan bibir, “Tapi kalau begitu… Frieska ini bisa dibilang lagi selingkuh dong… kan dia masih pacaran dengan Erin.”
“Iya, tapi gimana cara kita ngasih nasehat coba? Ia sendiri masih belum mau jujur sama kita.”
“Paksa saja,” kata Saktia.
“Jangan dulu, kalau dia benar-benar menganggap kita teman dia harus memberitahukan hal itu kepada kita dulu, meskipun kita sudah tahu. Itu kalau dia benar-benar menganggap kita teman, apa susahnya berbagi masalahnya terlebih lagi kita semua udah temenan dari SMP, udah kalah-kalah sahabat malah,” kata Vienny.
“Iya juga sih,” Saktia mengangguk.
“Tunggu saja waktunya nanti,” ujar Lidya.
“Tapi ingat! Jangan paksa Frieska ya, biar dia sendiri yang memberitahu,” kata Vienny memperingatkan.
Mereka bertiga kembali bersantai dengan topik pembicaraan yang lain, sementara itu Frieska baru sampai dikantin dan disalah satu stand tak sengaja ia berpapasan dengan Veranda, Dion dan Naomi.
“Kalian duluan aja, aku bayar dulu,” kata Veranda kepada Dion dan Naomi.
“Oke,” balas Dion mewakili Naomi yang membawa begitu banyak minuman dingin dengan nampan.
Saat hendak berbalik badan tak sengaja Dion melihat Frieska.
“Dion, itu bukan?” tanya Naomi.
“Iya,” Dion tersenyum tipis dan mengangguk.
“Oh,” Naomi tersenyum manis.
Frieska merasa heran karena dilihatnya Naomi mengangguk kearahnya dan tersenyum. Dion dan Naomi kemudian melanjutkan perjalanannya mengantar minuman dingin untuk panitia festival, sedangkan Frieska melanjutkan perjalanannya ke stand kantin.
“Bu, Lemon tea 1 sama Fanta susu 1 ya,” pinta Frieska kepada ibu kantin.
“Iya bentar ya,” ibu kantin tersenyum sambil mengembalikan kembalian Veranda.
Veranda menoleh kesamping dan menyeringitkan dahi, akan tetapi tak lama kemudian dia tersenyum.
“Frieska bukan?”
“Eh?” Frieska tertegun, “Kakak kenal aku?”
“Haha ya kenal dong, oh iya nama aku Veranda,” Veranda menjulurkan tangan kanannya untuk berkenalan.
“Frieska…” ujar Frieska sedikit malu menyambut salam perkenalan itu.
Mereka melepaskan salam perkenalan mereka dan Veranda terus tersenyum hingga membuat Frieska sedikit minder.
Ya ampun! Cantik banget!” puji Frieska dalam hati.
“Kamu beli minuman buat siapa?” tanya Veranda berbasa-basi.
“Buat aku sama temen aku…”
“Oh,” Veranda tersenyum dan mengangguk.
“Emm kalau boleh tahu, kakak tahu aku darimana?”
“Dari Dion hehe.”
“Eh?” Frieska terkejut.
“Aku tau kok hubungan kalian itu seperti apa, gak nyangka ya istri Dion manis banget, kirain cantik aja,” puji Veranda dengan nada yang tulus.
“Dion memberitahukan hal itu?” tanya Frieska yang sedikit tersipu akan pujian itu.
“Iya,” Veranda mengangguk
“Kok bisa?”
“Dia sendiri yang ngasih tau hehe, gimana? Dia ember banget kan kalau ngomong? Ngerocos terus,” Veranda tertawa pelan.
“Emm iya sih…,” Frieska menunduk sedikit dan kembali memandang Veranda, “Kakak ini mantannya Dion bukan?”
“Iya,” Veranda tersenyum, “Tapi tenang, aku gak ada niat ngancurin hubungan kalian kok.”
“Emm aku gak ada berpikiran seperti itu kok…”
“Kalau di sinetron-sinetron kan biasanya gitu, mantan gak terima mantannya nikah hihi.”
“Oh,” entah kenapa hal itu lucu bagi Frieska dan dia juga ikutan tertawa.
“Tapi santai aja ya, udah gak ada rasa kok. Kan putusnya 3 tahun yang lalu.”
“I-iya… emmm… aku boleh nanya gak?”
“Ng? boleh kok,” Veranda tersenyum.
“Itu… kakak kenapa putus sama Dion?”
“Oh,” Veranda tertawa ringan, “Gimana ya, agak susah juga dijelasin. Kamu udah nanya Dion belum?”
“Emm,” Frieska menggeleng.
“Hmm jadi kakak masih belum ada hak untuk memberitahu, maaf ya bukannya gak mau. Soalnya kami putus itu dengan alasan yang sangat rumit. Kalau dia belum ngasih tau jadi ya kakak juga masih belum bisa ngasih tau.”
“Iya, gakpapa kok, Kak,” Frieska tersenyum.
“Ngomong-ngomong kakakmu Melody bukan?”
“Eh? Kakak kenal kakakku?”
“Iya, dia kan temen aku waktu SMA,” Veranda tertawa ringan.
“Oh gitu,” Frieska memanggut.
“Jadi gimana dia sekarang? Katanya udah menikah ya?”
Frieska akhirnya asyik mengobrol dengan Veranda, salah satu senior kampusnya yang terkenal akan kecantikannya yang alami dan Frieska terlihat lega karena ternyata Veranda asyik diajak berbicara karena dipikiran dia dulu Veranda orangnya jutek seperti kakaknya.
“Jadi ya kaget aja gitu, soalnya waktu kecil adik aku suka banget joget-joget kalau dengerin lagu Linkin Park,” ujar Veranda.
“Iya, aku juga kaget loh pas tau vokalisnya bunuh diri,” sambung Frieska.
Sekarang topik pembicaraan mereka melebar kemana-mana. Mereka bahkan asyik mengobrol dikursi bahkan minuman fanta susu dingin diberikan Frieska kepada Veranda untuk teman mereka mengobrol.
“Haaaauuuss! Hah! Hah! Hauuuusss!!”
Sementara itu ditaman terlihat Saktia berakting sekarat karena dehidrasi yang membuat Lidya dan Vienny memiringkan bibir melihat tingkahnya.
- Beautifull Aurora ® V
9. Let’s Play with me
Festival kampus akhirnya digelar. Begitu banyak hiburan yang disajikan untuk memeriahkan festival ini. Itu semua berkat Veranda dan teman-temannya yang jago berbicara sehingga tak sulit mendapatkan sponsor. Festival tahun ini dirasa memuaskan baik bagi pengunjung maupun anak kampusnya sendiri.
“Coba undang JKT48, Ve,” kata Ega kepada Veranda.
“Ya kali, mahal tau ngundang mereka, bisa tekor nanti pengeluaran kita,” ujar Yona, salah satu teman Veranda dikampus.
“Padahal gue pengen aje sekali-kali nge oi-oi-oi mereka,” ulas Ega sambil mengangkat tongkat parkir yang ada lampunya.
“Apaan tuh oi-oi-oi?” Enu menyeringitkan dahi.
“Mana gue tau, liat aje di Youtube. Penontonnya nge-oi-oi-oi JKT48 nya sambil ngangkat tongkat parkir mini.”
Lightstick kali,” Veranda tertawa.
Tak lama kemudian datang Beny dan menoyor kepala Ega dari belakang.
“Tongkat parkir kenapa lu bawa? Si Danu butuh tuh diparkiran, udah tau banyak orang gini.”
“Iye-iye,” Ega memiringkan bibir.
Acara terus berlangsung hingga malam, dan malam hari inilah dijadikan waktu untuk anak band tampil hanya sekedar menghibur pengunjung yang datang. Dan 2 diantara ada band nya Erin dan juga Band nya Dion bersama teman-temannya.
“Kita paling terakhir nih, Naomi tadi bilang,” ulas Enu untuk memberitahu.
“Okelah, isi perut dulu,” ujar Dion, Beny, Ega, Arya dan teman-teman Dion yang lain sambil menikmati pop-mie.
Tak lama kemudian datang Yona bersama Naomi menghampiri tempat Dion dan teman-temannya nongkrong sambil makan dan melihat pertunjukan dipanggung.
“Hei, nama kalian apa? biar mudah MC ngaturnya nanti,” tanya Naomi.
“Oh iya ya, apa nih nama band nya?” Beny terlihat bingung.
“Iya ya, apa ya,” sambung Ega.
“Baru kali ini gue ngeliat ada band mau tampil tapi belum ada nama band nya,” Arya dan yang lainnya terkekeh.
“Nih Enu, ngajak-ngajak bikin band tapi nama band gak dibuat,” Dion memiringkan bibir.
“Tanpa nama Band saja,” kata Enu cuek.
“Weeeh jangan! Namanya harus memberi arti yang terdalam lah! Biar kita dikenang sepanjang masa,” Ega yang dramatis tampak tak setuju dengan nama band yang diberikan Enu.
“Penting amat juga soal nama, besok pun bubar,” celetuk Dion.
“Besok bubar band saja,” usul Beny.
“Udah ada,” ulas Damar, salah satu teman Dion yang hapal semua band-band Indonesia.
“Beneran?”
“Cek aje di-Google.”
Sekarang Dion dan teman-temannya malah asyik browsing untuk membuktikan apa benar nama band Besok Bubar itu sudah ada atau tidak, dan faktanya band bernama Besok Bubar benar-benar ada. Kalau tidak percaya lihat saja di-Google, om-om nya dunia maya yang (katanya) tahu segalanya.
“Yee malah ngurusin itu, jadi apa namanya?” Yona memiringkan bibir.
“Hmmm,” Dion, Beny, Enu dan Ega mulai berpikir.
Tak lama kemudian Dion memandang Ega, begitu juga Ega memandangnya.
“Nape lu? Kayak homo lu mandang-mandang gue,” ujar Ega dengan ekspresi jijik.
“Taik lu! Eh tapi coba Ga, gue pengen ngeliat lo panik itu kayak gimana,” pinta Dion.
“Buat apa?” Ega menyeringitkan dahi.
“Lakuin aje, siapa tau gue dapat ide.”
Tanpa basa-basi Ega menunjukan ekspresinya apabila dia lagi panik, Dion mengurut-ngurut dagu sampai akhirnya ia menjentikan tangannya.
“Oke dapat!”
“Apa?” teman-teman Dion yang lain tampak penasaran.
“Monyet panik!” seru Dion puas.
“Hah?” semua temannya menyeringitkan dahi.
“Tapi biar keren, coba diartikan kebahasa Inggris. Nu, bahasa Inggris monyet panik apa?” tanya Dion ke Enu.
Panic Monkey, kalau gak salah sih.”
“Nah itu! PanicMonkey aje, Mi. Dah, itu nama band kami!” seru Dion kepada Naomi.
“Oh, oke,” Naomi tertawa ringan dan mencatat nama itu disecarik kertas.
“Sederhana banget ya,” Yona juga tertawa.
Naomi dan Yona kemudian berpamitan, sementara itu Ega memandang Dion dengan ekspresi bengis.
“Nape lo?” Dion menyeringitkan dahi.
“Lo kenapa ngeliat muka gue buat nyari nama arahnya malah ke monyet! Brengsek!” Ega dengan beringas memiting kepala Dion.
“Alalalala terus mau lu apa?”
Panic Handsome dong!” seru Ega.
“NAJIS!” teriak semua teman-temannya.
Dion masih tertatih-tatih kesakitan karena lehernya dipiting Ega yang membuat teman-temannya yang lain tertawa melihat tingkah mereka berdua. Sementara itu didekat panggun terlihat Frieska sedang duduk bersebelahan dengan Vienny, Lidya, Saktia dan juga Desy, salah satu teman kampus mereka.
“Ciee senyum-senyum melulu,” goda Desy kepada Frieska.
“Apa sih,” Frieska memanyunkan bibir, akan tetapi ia kembali tersenyum.
Itu dikarenakan Erin dan beberapa anggota Band sedang bersiap-siap diatas panggung. Erin yang kebagian menjadi vokalis kemudian berbicara selagi anggota band nya mempersiapkan diri.
“Selamat malam semuanya, silahkan nikmati pertunjukannya,” salam Erin seadanya.
Anggota band nya Erin pun siap dan tanpa perlu menunggu lama maka Erin dan band nya mulai melantunkan lagu pertama. Sebuah lagu dengan irama romantis dan lirik yang mendayu-dayu mulai terdengar diseantro kampus. Ada yang menikmati, ada yang cuek, ada yang merekam ini, ada yang ikutan bernyanyi bahkan ada yang merinding.
Yaitu Dion dan teman-temannya.
“Ini udah 2017 lirik lagunya kok masih “Tanpamu cinta aku tak bisa hidup”, gak ada kata-kata lain apa?” komentar Ega.
“Berarti dia hidup kalau tak ada cinta, kasian hidupnya ckckck,” sambung Beny menggeleng-geleng kepala.
“Yo’i, untung kita hidup kalau ada oksigen, makan dan minum. betul gak-betul gak?” Dion meminta pendapat teman-temannya.
“Hahaha kasian, hidupnya ditentukan oleh cinta,” Enu terkekeh.
“Cinta melulu,” sambung Damar.
“Ah! Putar lagu Efek rumah Kaca, Mar. yang Cinta Melulu, daripada gue dengerin lagu gombal keparat ini,” pinta Beny.
“Oke!” Damar mengeluarkan handphone-nya.
Dan sekarang Dion dan teman-temannya malah asyik mendengarkan lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul Cinta Melulu dari Handphone Cina nya Damar yang terkenal mempunyai speaker yang nyaring. Padahal sudah ada band yang tampil dihadapan mereka.
Emang kurang ajar sih mereka dari dulu.
Meskipun begitu Frieska sedari tadi tersenyum melihat pacarnya itu dan tak  jarang ia ikut menyanyikan lagu tersebut.
“Oke, lagu berikutnya untuk orang yang spesial untuk saya,” Erin tersenyum.
“Ciee! Ciee spesial! Udah kayak martabak aje!” goda Desy sambil menyenggol-nyenggol lengan Frieska.
“Apaan sih,” Frieska tertawa ringan.
Erin menyanyikan lagu kedua yang tak jauh berbeda dengan lagu pertama, apalagi Erin mengkhayati lagu tersebut bahkan bila perlu ia menggrepe-grepe tubuhnya sendiri agar pengkhayatannya maksimal.
Sementara itu Dion dan teman-temannya yang menyaksikan itu sudah memasuki fase merinding level 3, entah bagaimana kalau sudah memasuki level 5. Mungkin bulu-bulu halus ditangan dan tengkuk leher mereka bakal tercabut dengan sendirinya.
“Oh disini kalian rupanya.”
Dion dan teman-temannya menoleh dan melihat Bayu, salah satu teman mereka datang menghampiri bersama kekasihnya yaitu Andela.
“Darimana Bay?” tanya Arya.
“Jemput Andela dulu, band kalian kapan tampil?” tanya Bayu ke Enu.
“Nanti habis ini, lalu 1 band lagi, nah baru habis itu…”
“Kalian tampil?” Bayu menduga-duga.
“Gak, baru habis itu ada 1 band lagi. Nah baru habis itu band kami,” Enu cengengesan.
“Pak, Pak,” Bayu memiringkan bibir.
“Eh Dion, katanya kamu udah kawin ya?” tanya Andela dari belakang.
“Belum,” Dion menggeleng.
“Loh, kata Bayu tadi dimobil,” Andela memandang Bayu.
“Iya, kawin belum, nikah udah,” Dion cengengesan.
“Hari gini masih perjaka?!” Ega mendengus sombong.
“Taik lu!” Dion menoyor kepala Ega, dan tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.
“Kemana Yon?” tanya Damar.
“WC,” jawab Dion seadanya.
“Ikut Yon,” Enu dan Beny juga beranjak.
“Cebok masing-masing,” kata Dion.
“Taik lu!” dan kepalanya pun ditoyor Beny dan Enu.
Tak lama kemudian band Erin akhirnya menyelesaikan aksi panggung mereka, tepuk tangan sekedarnya ditujukan atas hasil performa yang mereka tunjukan. Melihat Erin yang hendak kebelakang panggung membuat Frieska berdiri.
“Mau kemana, Mpris?” tanya Vienny.
“Kesana dulu,” Frieska tersenyum.
Sebelum pergi ia mengubek isi tas nya terlebih dahulu dan dikeluarkannya sebuah kota kado kecil. Ia menitipkan tasnya kepada Vienny baru setelah itu ia segera berjalan menuju belakang panggung.
“Semoga kamu suka,” gumam Frieska sambil tersenyum.
Itu karena tanggal hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Erin, Frieska tentu saja sudah mempersiapkan hal ini sejak 3 hari yang lalu dan yang dibelinya itu adalah sebuah jam tangan yang cocok dipakai untuk pria.
Akan tetapi saat sudah berada dibelakang panggung tiba-tiba Frieska berhenti dan matanya terbelalak.
“Gimana? Suka lagunya? Lagu tadi buat kamu loh hehe.”
“Iya, makasih ya sayang,” gadis itu tersenyum.
Terlihat didepan mata Frieska ini sosok Erin sedang bermesraan dengan seorang gadis yang cukup dikenalnya, yaitu Farin, salah satu mahasiswi yang ada dikelas pacarnya tersebut. Emosi Frieska mulai tak stabil dan dengan lantangnya ia berteriak.
“ERIN!”
Erin dan Farin terkejut, mereka menoleh kebelakang dan terkejut melihat Frieska memergoki mereka.
“F-Fris…” Erin tampak kebingungan.
“Aku pergi dulu ya,” pamit Farin kepada Erin.
“Iya,” bisik Erin pelan.
Setelah kepergian Farin maka Erin menghampiri Frieska.
“Sayang, aku bisa jelasin.”
“Apa! kenapa tadi kau bersama dia! Hah?!” hardik Frieska.
“Cuma ngobrol sebentar tadi, sumpah aku gak ada hubungan apa-apa sama dia.”
“Gak ada hubungan apa? kau mengelus kepalanya tadi! Pegangan tangan!”
“Adoooh, susah dijelasin pokoknya. Bagaimana kalau kita cari tempat, aku akan menjelaskannya disana.”
“Gak!” Frieska meronta saat Erin menggenggam tangannya.
“Aku bisa jelasin! Kamu tadi salah paham! Ayo, kita cari tempat!”
Dengan paksaan akhirnya Frieska ditarik Erin menuju suatu tempat, sedangkan tak jauh dari situ terlihat Beny, Enu dan Dion sedang berjalan dikoridor saat urusan mereka dengan toilet sudah beres.
“Loh, itu kan bini lu Yon?” tunjuk Beny.
“Mana?” Dion menoleh.
Dan bisa dilihat dari mata mereka bertiga kalau Frieska ditarik-tarik oleh Erin dengan sedikit paksaan.
“Wah, kenapa tuh?” tanya Enu.
“Hmm,” Dion menyeringitkan dahi dan memiringkan bibir.
Frieska terus dibawa sampai kelantai 3, disalah satu ruangan yang paling sudut maka Erin membuka pintu dan terkejutlah 2 orang didalamnya.
“Oh elu! Kirain siapa.”
“Ya,” jawab Erin kalem.
“Ng? Kok cewek lo yang dibawa kesini? Bukannya Farin?”
“Ya…” Erin menyeringai memandang Frieska dibelakangnya, “Dari dulu udah pengen gue pecahin.”
Frieska melotot, apalagi melihat Erin dan 2 orang tersebut terkekeh binal memandangnya. Dan 2 orang itu adalah senior nya yang juga merupakan teman Erin, yaitu Jerry dan Budi.
“Apa-apaan ini!” Frieska hendak melepaskan diri dari pegangan tangan Erin.
“Udeh masuk!”
Erin menarik Frieska dan mendorongnya kedalam, setelah itu Erin menutup pintunya.
“Hehehe bener boleh nih, Rin?” tanya Budi.
“Yoi, apalagi gue udah mau putus. Kalau Farin bisa kapan-kapan kita nikmati hahaha!”
“Ide yang bagus,” Jerry menyeringai memandang Frieska.
“Mau apa kalian!” Frieska ketakutan dan berjalan kebelakang untuk menjauhi mereka.
“Bawa kondomnya?” tanya Erin kepada Budi.
“Bawa dong,” Budi cengengesan.
Frieska terkejut bukan main, dari arah pembicaraan itu dia bisa mengerti maksudnya.
“Apa maksudmu dengan semua ini!” seru Frieska.
“Maksudku?” Erin berpura-pura bodoh memandang Jerry dan Budi, habis itu ia kembali memandang Frieska dan menyeringai, “Ya ini, apalagi.”
“Ya kau taulah maksud kami apa,” Jerry dan Budi dengan santainya membuka baju dan celana panjang mereka sehingga mereka berdua hanya mengenakan bokser yang mereka pakai.
Frieska tentu saja tahu maksudnya akan tetapi ia tidak menyangka kalau Erin memiliki niat buruk kepadanya terlebih lagi ia mengajak ke-2 temannya tersebut. Disela rasa takut itu juga diselingi rasa amarah.
“Jadi soal permintaanmu soal foto bugil itu kau berbohong?!”
“Pinter,” Erin tertawa renyah, “Tapi aku bodoh juga sih waktu itu, ngapain juga minta foto bugil kalau bisa melihatmu bugil secara langsung.”
“Sialan kau! Bajingan!” teriak Frieska.
“Udah berapa cewek Jer yang bilang gue bajingan?” tanya Erin kepada Jerry.
“Wihh, jari-jari ini tak bisa lagi dipakai buat menghitung,” Jerry tertawa merentangkan kedua tangannya.
“Kau! Sialan kau! Sialan!!” Frieska mulai menitikan air mata, ia benar-benar tak menyangka kalau pacarnya seperti ini.
“Haaaah, nangis,” Erin memiringkan bibir, “Tapi nanti kau juga akan menikmatinya.”
Erin menyeringai dan berjalan perlahan menuju tempat Frieska berada. Frieska tentu saja berlari kearah pintu, digedor-gedornya pintu dan ia terus-terusan berteriak.
“TOLONG! TOLONG!!!”
“Percuma sayang. Ini dilantai 3, apalagi suara musik hingar bingar begitu. Bagaimana orang lain bisa mendengarnya bukan?” Erin tertawa.
“Toloooonggg,” Frieska menangis sejadi-jadinya, suara isaknya semakin menguat dan gedoran dipintu semakin lemah dilakukan karena itu.
“Tak ada rotan, akar pun jadi. Sebenarnya tadi Farin yang mau dibawa kesini, tapi karena tadi ya… terpaksa, lagian pasti kau mau meminta putus. Jadi sebelum putus boleh dong dipecahin dulu,” Erin menyeringai.
Frieska tidak perduli dengan itu, dia terus melolong meminta tolong. Sementara itu dibagian luar pintu terlihat Dion bersandar dibalik pintu, ia menghidupkan rokok dan terlihat urat-urat merah berkeluaran disekujur bola matanya..
“Yon,” panggil Enu pelan.
Dion mengangguk, dia kemudian menepuk pelan bagian pintu disebelahnya karena dari gedoran itu dia bisa merasakan dibagian mana Frieska menggedor.
“Oke, Nu. Siap-siap,” Beny bersiap-siap.
Tak perlu lama lagi Enu dan Beny menendang bagian pintu yang ditepuk Dion sebelumnya.
BUAR!
Erin, Frieska, Jerry dan Budi terkejut saat mendengar suara keras tersebut.
“A-apa itu? ada orang ya?” Budi meminta Erin memastikan.
“Sepertinya…”
BUAR! BUAR! BUAAR! BUAAR!!
Bunyi hentakan bertubi-tubi membuat Erin, Jerry dan Budi panik setengah mati. Jerry dan Budi buru-buru memakai celana akan tetapi terlambat, pintu akhirnya terdobrak.
BRAAAAAK!!!!
Suasana menjadi mencekam saat pintu itu hancur engsel-engselnya. Tak lama kemudian Enu dan Beny masuk kedalam yang membuat Jerry dan Budi kaget setengah mati.
“E-Enu… B-Beny…” kata Jerry tergagap.
Enu terus memandang mereka bertiga tanpa ekspresi, Beny menoleh kesamping dan melihat Frieska meringkuk dibagian pintu satunya. Terlihat wanita ini masih menangis, Beny kemudian menoleh kedepan.
“Wah-wah, liat siapa Nu. Budi dan Jerry,” Beny menyeringai.
“Hehehe,” Enu akhirnya tertawa akan tetapi sorot matanya yang tajam terus memandang mereka.
“S-santai Ben! I-ini semua bisa diselesaikan baik-baik.”
“Oh,” Beny mengangguk-angguk, “Kalau ini urusannya dengan gue mungkin bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik. Tapi sayang gue sekarang disini berperan sebagai orang yang mau membantu orang yang mempunyai urusan dengan kalian.”
“Mau patah hidung berapa kali, Bud?” Enu menyeringai dan menghidupkan rokoknya.
“A-a-a-a-a-a-a!” Budi dan Jerry tampak ketakutan karena mereka mengenal betul siapa kedua orang yang ada didepannya ini.
“Siapa kalian?! Hah?!” hardik Erin.
“Hei! Bodoh! Jangan!” seru Jerry kepada Erin.
“Emang kenapa?” Erin tersenyum meremehkan.
“J-jangan pokoknya…” sambung Budi.
Beny kemudian menghampiri Frieska dan membantunya berdiri.
“Tenang, sekarang aman,” ujar Beny.
Frieska merasa lega karena pertolongan ini, betapa lega perasaan dia saat hendak menjadi korban pemerkosaan oleh Erin, Budi dan Jerry.
“T-terima ka…”
“Frieska!”
Suara itu memotong ucapan Frieska dan menarik perhatian yang lain didalamnya, terlihat Dion memasuki ruangan dengan rokok menempel dibibirnya. Frieska tertegun melihat sosok suaminya tersebut.
“D-Dion…”
Dilihat dimata Frieska urat-urat Dion bermunculan disekujur tangannya, dan tentu saja bukan ditangannya akan tetapi dileher dan juga kepalanya. Dion kemudian menoleh dan membuat Frieska benar-benar terkejut karena urat-urat mata Dion juga bermunculan dimatanya.
“Keluar!”
“Eh?” Frieska tertegun.
“KELUAR!” bentak Dion dengan mata melotot.
“Keluarlah, ketempat temanmu berada. Biar disini kami yang membereskan,” kata Beny.
Dengan perasaan takut dan kaget, Frieska dituntun Beny untuk keluar ruangan. Frieska menoleh saat jarak ia dekat dengan Dion dan ia bisa melihat semua urat-urat Dion seutuhnya dengan kedua bola matanya.
“Tunggulah bersama temanmu,” kata Beny sekali lagi saat Frieska sudah berada diluar ruangan.
Frieska tak tahu harus berbuat apa selain menuruti kata-kata Beny barusan, ia buru-buru pergi dan Beny kembali masuk kedalam ruangan. Dion kemudian melihat kotak kado yang sempat terjatuh dari tangan Frieska. Dipungutnya benda itu dan langsung saja ia membukanya.
“Hmm,” Dion tersenyum sinis.
Dilihatnya sebuah jam tangan dan juga sepucuk surat, dia membaca surat tersebut yang berbunyi “Selamat ulang tahun sayang.” Sebuah kalimat sederhana yang Frieska torehkan dikertas tersebut. Dion mengeluarkan korek api dan membakar surat tersebut, sedangkan jam tangan itu dia kepalkan dikepalan tangannya sebagai pelapis tangannya untuk meninju.
“Kau yang namanya Erin?” tanya Dion.
“Siapa kau!” seru Erin dengan suara nyaring.
“B-Bodoh! Jangan! Dia ini lebih berbahaya!” kata Jerry.
“Hah! Bahaya apanya!” teriak Erin menantang.
“Kalau Bayu juga ada disini habis kalian,” Enu menyeringai.
“Kau yang namanya Erin?” Dion bertanya kembali dan berjalan kearahnya.
“Kau siapa?” Erin bertanya balik.
Dion mencengkram kerah baju Erin dan Erin terkejut melihat urat-urat yang ada ditubuh Dion bermunculan disekujur tubuhnya.
“Kau akan tahu nanti, bocah!” Dion menyeringai dengan mata melotot.
-oOo-
Sementara itu Frieska sudah kembali ketempat teman-temannya dan menceritakan hal tadi dengan nangis terisak-isak, mereka kemudian mencari tempat yang cukup sepi, tak jauh dari belakang panggung.
“Ya ampun! Jahat banget sih Erin!” Desy mendengus kesal.
“Jadi sekarang Dion sama kedua temannya ada disitu?” tanya Vienny yang memeluk Frieska sedari tadi.
“I-iya…” jawab Frieska dengan isak tangisnya.
“Astaga, aku gak nyangka bakalan begini… kalo soal Erin sama Farin sih kami udah tahu tapi gak nyangka aja dia mau berbuat gitu sama kamu,” sambung Lidya.
“Eh?” Frieska tertegun.
“Nanti kami ceritain, kamu tenang dulu ya,” Saktia dan Vienny mengelus-elus punggung Frieska agar tenang.
“Kira-kira Erin mau diapain tuh ya?” Desy menduga-duga.
Vienny menghela nafas.
“Kalian inget gak cerita pas pertama kali kita masuk kuliah, ada mahasiswa berantem dengan seniornya hanya gara-gara futsal?”
“Pernah kalau gak salah,” Lidya mengangguk.
“Iya, sampai-sampai senior itu masuk rumah sakit semua kan? Ada masuk koran loh, tapi gak disebutin nama yang ngelakuinnya,” sambung Desy.
“He’em,” Vienny mengangguk.
“Terus apa hubungannya?” tanya Saktia.
“Ya… mahasiswa itu ya Dion sama teman-temannya.”
“Apa?” Desy terkejut, begitu juga yang lain terutama Frieska.
“Bener?”
“Iya, temen Dion kan tetanggaku, jadi aku tau cerita itu. apalagi temanku itu juga salah satu pelakunya.”
“Oh gitu,” Lidya mengangguk-angguk.
“Masa sih Dion kayak gitu? Kuliat kalem gitu orangnya,” tanya Saktia.
“Ya mana kutau, kata temenku sih selain Dion ada juga yang namanya Bayu, Ega, Pris. Mereka berempat itu yang paling brutal kalau urusan berkelahi kata temenku.”
“Jadi, jangan-jangan Erin sekarang…” Desy mulai menduga-duga.
“Ya, bisa jadi,” kata Vienny dengan tenangnya.
Gara-gara itu membuat sedikit isak tangis Frieska berkurang, ia masih tak menyangka kalau suaminya seperti itu akan tetapi saat melihat kondisi tubuh Dion sebelum ia keluar membuat ia sedikit yakin akan cerita tersebut.
“Oh disini rupanya.”
Suara itu menarik perhatian Vienny, Lidya, Saktia dan Desy. Dan dilihatnya kedatangan Enu, Beny dan Dion ketempat mereka.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Enu.
“Ya bisa dilihat sendiri, eh tapi benar ya tadi itu…”
“Iya,” potong Enu, ia kemudian melihat Frieska, “Dah tenang saja, dia gak bakalan berani lagi sama kamu.”
“Iya, tenang saja,” sambung Beny.
“Diapain Erinnya?” tanya Vienny.
“Gak tau,” Enu cengengesan sehingga membuat Vienny sebal.
“Eh bentar lagi band kita kan? Buruan kesana yuk,” ajak Beny kepada Dion dan Enu.
“Oh iya, sekalian mau beritahu Bayu,” Enu kemudian menoleh kearah Vienny dan teman-temannya, “Pergi dulu, eh nonton lah Vin. Jangan lupa rekam ya? Hehe.”
“Iya-iya,” Vienny memiringkan bibir.
Enu dan Beny kemudian pergi menyisakan Dion yang sedari tadi diam memandang Frieska, Dion kemudian berjalan dan berhenti tepat didepan Frieska.
“Hey, tuh,” bisik Vienny pelan.
Frieska menoleh dan melihat Dion sedari tadi memandangnya tanpa ekspresi terlebih lagi kedua tangan Dion dimasukan kedalam kedua kantong celananya masing-masing. Melihat sikapnya itu membuat Frieska menundukan kepala, karena tampaknya Dion sudah mengetahui kalau dia berpacaran dengan Erin meskipun dia sudah menikah.
“Hmm,” Dion tiba-tiba tersenyum.
Tangan kiri Dion dikeluarkan dari kantong celananya dan tanpa basa-basi ia menyentil pelan kening Frieska.
“Cengeng,” ejek Dion sambil cengengesan.
Dion kemudian berpamitan kepada teman-teman istrinya tersebut dan seperti permintaan Enu sebelumnya, ia mengajak teman-temannya itu untuk menonton aksi panggung band mereka nanti hitung-hitung sebagai hiburan. Setelah kepergian Dion terlihat Frieska terdiam sambil mengelus keningnya yang disentil Dion barusan.
“Yang ngobrol sama kamu itu ya temen kamu Vin?” tanya Desy.
“Iya,” Vienny mengangguk.
“Tetanggaan kan?”
“Kenapa?”
“Hehehe ehem-ehem, jadi… boleh gak aku kerumah kamu tiap hari? Siapa tau ketemu terus sama dia hehehe.”
Vienny tertawa ringan begitu juga Lidya dan Saktia.
“Yaudah deh, yuk nonton mereka. Aku udah janji pula mau ngerekam  panggung mereka nanti,” ajak Vienny.
“Emm aku disini aja…” tolak Frieska.
“Udah gakpapa, Mpris. Masa band suamimu sendiri gak mau dilihat,” sambung Lidya.
“Eh?!” Frieska kaget bukan main.
“Ups!” Lidya menutup mulutnya dan memandang Vienny dan Saktia.
“K-kamu tau darimana?” tanya Frieska kepada Lidya.
“Haaah,” Vienny menghela nafas, “Nanti kami jelasin, mending lebih baik kita kesana yuk.”
“Eh? Eh?” Frieska gegalapan karena dipaksa berdiri.
“Maksudnya suami itu apa?” tanya Desy yang penasaran.
“Udah nanti aja,” jawab Saktia.
Mereka berempat kembali ketempat mereka untuk menonton aksi panggung band nya Enu, Dion, Beny dan Ega yang dimana mereka berempat sudah berada diatas panggung dengan alat musik mereka masing-masing, dan sekarang mereka sedang menyetel ulang, kecuali Beny karena dia bermain drum jadi yang dilakukannya hanya bengong memandang orang-orang berlalu lalang didepan panggung.
“Kok gitar Dion berlawanan arah gitu?” tanya Saktia.
“Kidal berarti,” jawab Vienny.
“Eh, berarti main pake tangan kiri dong?”
“Biasa aja kali kan? Banyak juga kok gitaris yang kidal,” Vienny memiringkan bibir dan bersiap-siap dengan handycam yang dibawanya.
Dion yang sudah selesai menyetel gitarnya kemudian berjalan kearah mic, karena dilihat Enu dan Ega masih menyetel senar bass dan gitar masing-masing.
- Tes-tes, satu dua-satu dua, kijang satu, kijang satu, kata Dion sambil mengetuk Mic.
“JANGKRIK BOSS!” teriak Arya dibawah panggung.
- “Ahahahaha! Dion tertawa salah tingkah, itu bisa dilihat dari sikapnya yang sepertinya demam panggung, - Jadi begini… anu… saya Dion… tukang main gitar… lalu itu Beny, yang lagi bengong dibelakang drum, dia tukang gebuk drum, kasian drum gak ada salah digebuk-gebuknya… terus yang main bass namanya Ega… dari kecil udah jago main bass betot ditepi jalan pas ngamen bareng banci-banci, kalau yang lagi ngobrol dengan staff namanya Enu hehehehe… lalu itu… apa lagi ya…
Melihat gelagat Dion yang demam panggung sehingga dia meracau aneh-aneh membuat teman-temannya yang dibawah panggung tertawa melihat tingkahnya.
- “Lalu kalau ditanya kenapa nama band kami namanya PanicMonkey… itu semua karena Ega, dialah inspirasi kami untuk mendapatkan nama tersebut, tepuk tangan buat Ega, dia memang sumber inspirasi,” pinta Dion kepada penonton.
- Taik lu! Ega sewot setengah mati, dia juga sudah selesai menyetel bass dan berbicara didepan mic yang ada didepannya karena nanti dia juga ikut bernyanyi.
Dan sekarang Dion dan Ega malah asyik mengejek dan berceloteh tentang aktifitas kampus sehingga melupakan tujuan mereka diatas panggung, apalagi celotehan mereka itu mengundang tawa bagi pengunjung.
“Ini mereka mau nge-band atau stand up comedy,” Bayu terkekeh bersama Andela.
“Mantan kamu tuh,” Naomi tertawa dan menoyor lengan Veranda.
“Hihihi,” dan Veranda hanya bisa tertawa sambil menutup mulutnya.
Tak hanya teman-teman Dion akan tetapi teman-teman istrinya itu juga ikutan tertawa. Bahkan Frieska bisa sedikit terhibur gara-gara itu, itu bisa dilihat dari senyum tipisnya saat memandang Dion dari bawah panggung.
“Udah Nu?” tanya Ega kepada Enu dan Enu pun mengangguk.
- Oke karena Enu sudah selesai menyetel… ya sudah, ujar Dion polos.
“YAUDAH! TURUN LU SEMUA!” Arya, Damar dan teman-teman Dion yang lainnya tertawa ngakak.
- “Sialan lu, nyanyi aje belum,” Ega memiringkan bibir.
“JANGAN LUPA BANTING GITAR NU! YON!” teriak Damar untuk Enu dan Dion.
Elu yang gue banting!” Dion memiringkan bibir, - “Oke, terima kasih buat yang datang kekampus ini… semoga kalian terhibur dengan apa yang disajikan oleh kampus kami… dan hehehehe… semoga kalian juga terhibur dengan aksi panggung kami.
PanicMonkey bersiap-siap untuk memulai lagi pertama, begitu juga Vienny yang bersiap-siap merekam hal ini. Dan disalah satu sudut dibawah panggung terlihat 2 orang melipat tangan dan mencemoh PanicMonkey.
“Palingan lagu cinta-cintaan lagi, penampilan mereka rapi gitu. Gak jauh beda dari band-band yang sudah-sudah sedari tadi.”
“Iya hahaha!”
Dion, Enu dan Ega sudah bersiap-siap. Beny memulainya dengan menggebuk-gebuk drum dengan hentakan yang padat setelah itu suara gitar masuk dan berbarengan dengan teriakan Enu, Dion dan Ega secara bersamaan. Dan lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu Black Tears dari band Heaven Shall Burn.
Semua teman-teman Dion, Enu, Ega dan Beny tiba-tiba melakukan moshing dibawah panggung, terlebih lagi datang orang yang tak diduga-duga, yaitu Leffy adiknya Dion, Hugo adiknya Ega, Egi adiknya Arya dan Diaz adiknya Enu. Mereka naik keatas panggung dan meloncat kebawah, untung saja ada teman-teman kampus mereka yang juga ikutan nonton dan menyambut mereka, kalau kagak jadi perkedel tuh mereka berempat.
Leffy, Hugo, Egi dan Diaz juga kuliah dan bisa dibilang juga seangkatan dengan Frieska hanya saja berbeda kampus.
2 orang yang mencemoh tadi terdiam seribu bahasa, karena penilaian mereka salah gegara melihat pakaian PanicMonkey pakai yang rapi karena dikira mereka PanicMonkey akan membawakan lagu cinta yang mendayu-dayu, tapi siapa sangka kalau PanicMonkey membawakan lagu metal dengan penampilan pakaian mereka yang rapi.
-BLACK TEARRRS!!!” teriak Dion.
-BLACK TEARRRSS!!!” disambung dengan teriakan Enu.
-HIYAAAAAAAARRGGGHHH!!!!!!” dan diakhiri dengan teriakan Ega.
“Ciahahaha kayak orang kebanyakan dahak bang Enu.”
Vienny menoleh dan terkejut melihat seorang pria berdiri disampingnya.
“Viddy, kapan kamu datang?”
“Barusan, tuh sama Leffy dengan yang lain. Ngapain kak ngerekam-ngerekam?” tanya Viddy dan Viddy adalah adik kandung Vienny.
“Enu minta direkam, tolong rekamin dek,” Vienny menyerahkan handycam-nya ke Viddy.
“Loh, kakak mau kemana?” tanya Viddy.
“Sakit telinga kakak! Gantiin kakak,” pinta Vienny.
“Beeh, yaudeh,” Viddy memiringkan bibir dan menggantikan tugas Vienny.
Sementara itu ditempat Veranda bersama panitia lainnya.
“Eee buset, itu kak Dion, kak Ega sama kak Enu kerasukan apa,” komentar salah satu pemuda yang berdiri disamping Veranda.
“Hihihi,” Veranda tertawa ringan.
“Aaron, kamu kesini dengan siapa?” tanya Yona kepada pemuda yang bernama Aaron tersebut, ia adalah adik kandungnya Veranda.
“Dengan temen kak hehehe,” Aaron cengengesan.
Dan itulah yang terjadi, lagu kedua juga tak jauh berbeda. PanicMonkey meng-cover lagu Heaven Shall Burn berjudul Nowhere dan diakhiri dengan lagu Nirvana berjudul Negative Creep. Para personil PanicMonkey terlihat puas dengan peluh keringat karena yakin membuat pengunjung dan teman-temannya puas.
Hanya saja mereka tak sadar aksi panggung mereka bisa membuat penonton jantungan mendadak karena teriakan diawal lagu tadi.
“Saktia! Saktia! Kamu kenapa pingsan?!” Desy panik sambil memapah Saktia yang tiba-tiba ambruk saat lagu pertama dinyanyikan, tak hanya Desy, Lidya, Frieska dan Vienny juga ikutan panik.
Yah… PanicMonkey sudah memakan 1 korban.
- Beautifull Aurora ® V
10. The Truth
3 buah mobil berhenti ditanah lapang nan kosong dan diikuti lusinan beberapa motor dibelakangnya. 3 pengendara mobil itu keluar dan membuka bagasi belakang mobil mereka masing-masing, 3 pengendara mobil itu adalah Bayu, Arya dan juga Enu. Dibagasi itu terdapat orang yang sudah bersimbah darah wajahnya, dikeluarkannya mereka dan didudukan didekat mobil. Dan orang-orang itu adalah Erin, Jerry dan Budi yang wajahnya sudah bengkak, terlebih lagi Erin gigi bagian depannya tanggal semua.
“Hei,” Ega menampar wajah Budi.
Budi tak bereaksi karena dia pingsan, begitu juga Jerry dan Erin.
Ega berdiri dan tanpa basa-basi ia menendang muka Budi kesamping.
“BANGUN! NJING!” teriak Ega.
Tak hanya Ega, Bayu juga menendang perut Erin dan teman mereka yang bernama Pris menggebuk muka Jerry.
“Uarrggghhhh!!” mereka bertiga serempak sadar dari pingsannya gara-gara itu.
Dion turun dari motor dan menghampiri tempat Erin, dia berjongkok dan menampar Erin dengan keras.
“Hui jadi gak?” tanya Dion.
“Aaaaaaaa,” rintih Erin dengan darah dimana-mana.
“Emang benar Ben dia nantangin?” tanya Bayu.
“Yo’i,” jawab Beny sambil merokok.
“Hoo,” Bayu tersenyum sinis.
Dion kemudian mencengkram kerah kemeja Erin dan diangkatnya supaya berdiri, Dion kemudian mengeluarkan Handphone yang bukan miliknya dari saku celananya.
“Ayo, panggil teman-teman lo. Kan katanya tadi lo bilang mau ngabisin gue sama temen-temen gue,” kata Dion sambil menyerahkan handphone tersebut.
Ega menarik rambut Budi dan dihentakkan kepala pria tersebut ke bagasi mobil.
“AYO NJING! PANGGIL TEMAN-TEMAN KAU ITU!” teriak Ega penuh emosi.
“Apa? susah megang HP? Yaudah sini gue cariin, apa nama kontak teman-teman lo itu?” tanya Dion sambil membuka kontak yang ada di-handphone Dion.
“A-a-aku…” kata Erin tertatih, wajahnya benar-benar babak belur.
“Apa, santai saja. Nih gue lagi nyariin, siapa nama temen-temen lo yang mau lo panggil?” tanya Dion tanpa mengalihkan perhatiannya dari handphone Erin.
“Bawa yang banyak ya, biar teman-teman kami yang lain kebagian,” ujar Pris.
“Ya bawa yang banyak,” sambung Beny yang duduk dibagasi mobil yang dimana ada Jerry dibawahnya.
“Ayo, mana nih? Katanya mau bawa orang luar, gue juga udah bawa orang luar nih. Nih, tunjukin mana temen lo yang mau dihubungin,” Dion menunjukan kontak-kontak yang ada di-Handphone Erin dihadapannya.
Dengan susah payah Jerry, Erin dan Budi melihat orang-orang yang ada disitu dan betapa terkejutnya mereka begitu banyak orang yang ada disitu yang sudah menunggu sedari tadi diatas motor mereka masing-masing. Dan dikisar dari jumlahnya ada 200 orang lebih ditambah Dion dan yang lain.
“A-a-a-a-a-a,” Erin bergegar ketakutan melihat orang sebanyak ini dihadapannya.
“Mana? Ini kan yang lu mau?” tanya Dion.
“Mana?” Beny menginjak kepala Jerry.
“A-ampun Ben! Ampun!!” Jerry bergegar ketakutan.
“MANA NJING! ATAU HIDUNG KAU YANG KUPATAHKAN SEKARANG!” teriak Ega sambil memukul wajah Budi.
“D-D-Damai… tolong… Damai…,” pinta Erin yang ketakutan.
“Damai?” Dion menoleh santai kearah Erin.
“Y-y-ya…” Erin mengangguk ketakutan, badannya bergegar-gegar.
“Boleh,” Dion tersenyum, “Tapi sebelumnya gue mau nanya sesuatu sama lo.”
Dion kemudian melihat-lihat lagi kontak handphone Erin setelah itu dia menunjukannya kearah Erin.
“Ini siapa yang kontaknya lu kasih nama pelacur nomor 2?” tanya Dion.
“I-i-itu…”
“Lucu ya,” Dion kemudian mengeluarkan handphone dan membuka kontak, setelah itu ia melihat nomor kontak untuk nama tersebut, “Nomornya sama dengan nomor HP istri gue, Frieska.”
“I-I-Istri…?” Erin kebingungan.
Dion memasukan handphone-nya kembali kedalam saku celana, sedangkan handphone Erin dia lempar kebelakang dan terjatuh ditanah.
“Ya, Frieska itu istri gue,” Dion tersenyum.
Setelah berkata seperti itu Dion langsung menjambak wajah Erin dan dihantamkannya wajah pria malang itu kebagasi mobil. Urat-urat ditubuhnya muncul kembali.
“ANJING KAU! APA MAKSUD KAU MENYEBUT ISTRIKU PELACUR! HAH?!”
Dion kemudian melempar Erin kebelakang dan langsung saja ia menginjak pria itu dengan beringas, Erin meringkuk kesakitan sekedar melindungi diri dari rasa sakit yang ia terima. Dion menghentikan aktifitasnya dengan nafas ngos-ngosan, urat-urat ditubuhnya berangsur-angsur menghilang.
“Kau mau damai dengan cara aku atau cara Enu?” tanya Dion tiba-tiba.
“Ngapain juga lo kasih dia pilihan Yon?” tanya Pris.
“Otaknya kan sebatas selangkangan, kalau dikasih pilihan langsung gue gak bakal yakin otaknya ini bakal bisa merespon cepat,” Dion tersenyum sinis dan menginjak kepala Erin.
“Haha otak selangkangan,” Beny tertawa begitu juga orang-orang yang ada disitu.
“Kasih tau aje dulu Yon,” suruh Ega.
“Betul juga,” Dion mengangguk.
Dion kemudian meminta pisau dari salah satu temannya yang menunggu diatas motor dan ia kembali ketempat Erin terbaring tak berdaya.
“Damai cara aku, kau potong jari telunjuk kau sekarang juga,” Dion kemudian menancapkan pisau itu tepat disamping Erin.
“Kalian juga,” kata Ega kepada Budi, begitu juga Beny kepada Jerry.
“A-ampun! Tolong jangan!” pinta Budi dan Jerry, mereka sudah pipis dicelana karena ketakutan. Begitu juga Erin apalagi Dion tidak terlihat main-main dengan hal tersebut.
“Kalau kalian tak mau kami yang melakukannya, tapi bukan telunjuk yang kami potong. Tapi kedua telinga kalian. Jadi kalian mau potong sendiri atau kami yang memotong?” lanjut Dion.
Erin, Jerry dan Budi benar-benar ketakutan. Cara damai yang Dion berikan sangat menakutkan bagi mereka, tak lama kemudian Enu datang menghampiri tempat Dion.
“Cara gue, kalian biarkan kami semua yang ada disini mencatat alamat rumah kalian. Hanya itu saja, tapi semisalnya kalian lagi-lagi berbuat ulah dengan salah satu dari kami ataupun orang-orang yang berhubungan dengan kami. Lihat saja, kami semua yang ada disini bakalan datang kerumah lo semua dan jangan harap kalian bahkan sanak keluarga kalian bisa menemukan dokter tulang yang bisa memperbaiki tulang kalian nanti, kalian pasti tahu maksudku,” Enu menyeringai.
“Jadi mau pilih yang mana?” Dion menginjak kepala Erin.
Mendengar pilihan damai cara Enu yang terbilang ‘Ringan’ akhirnya Erin memilih damai dengan cara itu. Alamat rumah Erin, Budi dan jerry kemudian dicatat Enu dan dibagi-bagikan ke yang lain, Dion kemudian menghampiri Erin.
“Sekali lagi kau berbuat macam-macam dengan Frieska… lihat saja pisau ini akan kugunakan bermacam-macam saat datang kerumah kau,” ancam Dion sambil menunjukan pisau yang dia pegang.
Erin, Jerry dan Budi pasrah. Dan semenjak itu mereka bertiga berjanji pada diri sendiri untuk menjauhi semua segala urusan yang berhubungan dengan Dion dan teman-temannya. Dan sebisa mungkin untuk tidak membuat masalah lagi dengan mereka.
-oOo-
Bermenit-menit yang Dion bersama teman-temannya menyiksa Erin, dirumahnya tersebut juga terjadi perbincangan antara Frieska, Vienny, Lidya, Saktia dan Desy diruang tamu.
“Jadi ini rumah kalian?” Desy memandang sekeliling.
Frieska mengangguk.
“Gitu,” Vienny, Lidya, Saktia juga melihat sekeliling.
Frieska kemudian memandang mereka berempat, ia kemudian menunduk dan berkata.
“Maafin aku!”
“Ng?” ke-4 temannya menoleh.
“Maafin aku gak bilang hal ini sama kalian! Maafin aku!”
Vienny tersenyum dan merangkul pundak Frieska, diusapnya lembut pundak temannya tersebut.
“Gakpapa, kami ngerti kamu butuh waktu untuk memberitahukan hal ini. Dan sekarang kamu udah memberitahukan kebenarannya kepada kami.”
“Kalian itu udah dijodohin ya?” tanya Lidya.
“Iya…” Frieska mengangguk.
“Emang udah berapa lama kalian menikah?” tanya Desy.
“5 bulan yang lalu,” jawab Frieska.
“Woh, udah lama juga ya,” Desy tertegun, “Tapi kenapa kamu masih berpacaran dengan Erin?”
“Itu…”
“Apa karena kamu tidak setuju dengan pernikahan ini kamu gak ikhlas gitu menikah mendadak dan mempertahankan hubungan kamu dengan Erin?” tanya Vienny tiba-tiba.
“Eh?!” Frieska terkejut.
“Sudah kuduga,” Vienny tersenyum, begitu juga Lidya dan Saktia.
“Tapi kan itu namanya selingkuh,” celetuk Desy.
“Iya sih… itu yang sebenarnya ingin kami bilang sama kamu, jangan kayak gitu Frieska. Biarpun kamu punya pacar pas menikah, akan tetapi seharusnya kami bisa mengerti kalau menikah itu lebih sakral lagi. Terlebih lagi kamu sama Erin pacaran diam-diam kan? Yang kena bagian buruknya ya kamu, seharusnya kamu sudah memikirkan hal itu.”
“Iya…” Frieska menunduk malu.
“Dan kami bertiga minta maaf, sebenarnya kami udah tau kalau Erin sama Farin bakalan ada apa-apa. Lidya pernah tak sengaja melihat mereka nonton gitu dibioskop, mesra lagi. Apalagi yang kemarin kamu bilang Erin pergi sama Bima, sebenarnya Erin pergi sama Farin.”
“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” Frieska penasaran.
“Hmm gimana ya… kami gak mau bikin kamu berpikiran macam-macam, terlebih lagi pas itu kami belum tahu pasti ada hubungan apa antara Erin dan Farin, ditambah lagi kami tau soal beban kamu dengan pernikahan itu. Jadi ya kami bingung, rencana kami akan memberitahukan hal tersebut kalau kamu udah berani berterus terang kepada kami kalau kamu udah menikah,” ulas Vienny.
“Begitu…”
“Maafin kami ya,” pinta Vienny mewakili Saktia dan Lidya.
“Iya, maafin aku juga ya…”
“Itu udah pasti kok,” Saktia tersenyum.
“Emmm kamu gak marah kan, Sak?” tanya Frieska.
“Ng?” Saktia menyeringitkan dahi, “Marah kenapa?”
“Ya… kan dulu kamu bilang kamu gak terima kalau Dion udah nikah… apalagi istrinya itu… aku…”
“Oh,” Saktia tertawa, “Ya enggaklah, aku kan bercanda aja! Ya ampun sampai segitunya.”
“Kirain beneran,” mulut Frieska cemberut.
Suasana menjadi hangat gegara perbincangan itu, mereka terus mengobrol dan mengobrol sampai akhirnya Dion pulang kerumah.
“Eh, ramai orang ternyata,” Dion tersenyum saat memasuki rumah.
“Darimana kak dengan Enu tadi?” tanya Vienny.
“Ada urusan tadi,” Dion tersenyum dan menyeringitkan dahi memandang Saktia, “Kayaknya pernah liat…”
“Yang nembak kakak dulu,” jawab Lidya.
“Ish! Ember!” Saktia mencubit perut Lidya.
“Oh hahaha iya-iya,” Dion tertawa, “Kan udah diberitahu alasannya kan? Tuh istri aku,” Dion menunjuk Frieska.
“Iya, selamat ya kak!” mulut Saktia cemberut.
“Hehe jangan kayak gitu, nanti istrinya jadi 2 lagi,” Dion cengengesan.
Mendengar candaan itu membuat suasana kembali hangat, Frieska tertegun karena melihat suaminya itu cepat berbaur dengan teman-temannya.
“Kalau begitu kami pulang dulu ya,” pamit Vienny mewakili yang lain.
“Cepat amat, belum juga pagi,” cegah Dion.
“Ya kali ampe pagi, kapan-kapan lagi deh.”
“Oh iya-iya, sering-sering saja kemari, biar Frieska ada temennya. Kata kakaknya kalian dulu sering main kerumahnya, semenjak nikah saja jarang.”
“Boleh?” tanya Lidya.
“Ya bolehlah, kan tadi udah dibilang biar Frieska ada temen. Biasanya dia ngerjain tugas murung melulu tuh diruang tamu.”
“Mana ada!” bantah Frieska.
“Dia malu-malu,” sambung Dion sambil tersenyum.
“Hahaha iya deh, kalau begitu kami pulang dulu ya?” pamit Vienny sekali lagi.
Setelah kepulangan Vienny bersama yang lain lagi-lagi terjadi keheningan didalam rumah. Dion kemudian pergi ketoilet sedangkan Frieska mengambil minum dan duduk dikursi meja makan. Ia terus berdiam diri sampai akhirnya Dion keluar dari toilet dan juga mau mengambil minum.
“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Frieska.
“Ng? selingkuhanmu itu?” Dion bertanya balik sambil menuangkan air.
“Jangan sebut hal itu…”
“Iya-iya,” Dion tersenyum dan menenggak minumannya, setelah itu dia melanjutkan ucapannya, “Kau masih ada rasa dengannya?”
“Setelah apa yang dia perbuat itu? hanya orang bodoh yang begitu.”
“Oh,” Dion tersenyum.
Frieska hanya terdiam melihat Dion berkali-kali minum dihadapannya dan bisa dilihat Dion sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu padahal bisa dibilang dia sudah ketahuan selingkuh.
“…Kau tak marah?” tanya Frieska tiba-tiba.
Dion menoleh dengan wajah cuek, ia kemudian tersenyum, tangan kanannya kemudian mengubek-ngubek isi kantong celananya dan dikeluarkanya sebuah jam tangan yang kondisinya hancur lebur, kacanya pecah dan ada bercak darah disitu. Dion melemparkan jam itu dimeja dan Frieska termenung, karena itu adalah jam tangan yang dia belikan untuk Erin sebelumnya.
“Aku tak marah kepadamu.”
Frieska memandang Dion dan suaminya itu tersenyum kepadanya, Dion kemudian minum kembali dan berjalan, saat disamping Frieska pria ini berhenti dan kembali berbicara.
“… Hanya kecewa.”
Setelah mengatakan itu Dion melanjutkan perjalanannya menuju kamar dan gara-gara itu wajah Frieska merengut. Ia akhirnya menyadari kalau perbuatannya itu memang salah, dan akhirnya ia merasakan karma yang menimpa dirinya. Ia berselingkuh dari Dion dan dia bisa merasakan sakitnya saat melihat Erin bermesraan dengan Farin sebelumnya.
“Kenapa aku begitu bodoh,” Frieska memegang kepala dengan kedua tangannya dan isak tangis kembali terjadi.
- Beautifull Aurora ® V
11. Feel
Hari-hari berikutnya dilalui mereka dengan biasa. Terlebih lagi teman-teman mereka akhirnya mengetahui status mereka berdua, meski begitu biasa ada sesuatu yang tidak biasa hingga membuat Dion penasaran.
Criiing!
Kunci motornya ditaruh didekat Frieska saat gadis ini menikmati sarapannya.
“Kenapa?” alis Frieska naik sebelah sambil mengunyah-ngunyah.
Alis Dion mengkerut saat Frieska bertanya seperti itu.
“Kok… biasanya kunci motorku selalu kau lempar kemana-mana.”
“Oh gitu ya?”
“Ya,” Dion mengangguk.
“Hmm, makasih udah ngingetin,” Frieska tersenyum.
Dan tanpa basa-basi kunci motor itu diambilnya dan dilemparnya kelantai 2, Dion kalap dan berlari kelantai 2 untuk mengambil kunci motornya itu. Frieska yang melihat suaminya tadi tiba-tiba menahan tawa saat mau menyeruput minumannya.
Yah, itulah yang dimaksud biasa tapi tidak biasa. Frieska jarang mengusili Dion seperti sebelumnya, bahkan usilnya sekarang itu gegara Dion yang memancingnya begitu karena Dion heran melihat Frieska tidak usil seperti dulu.
Sesampainya dikampus dijadikan Frieska untuk berkumpul bersama teman-temannya terlebih dahulu.
“Mpris, nanti kami kerumah lagi ya? Ngelanjutin nonton drama kemarin,” pinta Saktia.
“Boleh aja, tapi biasanya malam minggu begini teman-temannya Dion datang. Gakpapa?”
“Gakpapa, sekalian hehehe,” Saktia cengengesan.
“Apa?” Vienny penasaran.
“Siapa tau ketemu orang itu lagi pas kita kerumah Frieska beberapa hari yang lalu.”
“Siapa?” Lidya menyeringitkan dahi.
“Itu loh, yang gak pande diem, pake topi hitam melulu.”
“Oh,” Frieska tertawa karena tahu siapa yang dimaksud, “Itu Leffy, adiknya Dion.”
“Eh itu adiknya?” tanya Saktia.
“Iya hehe, kenapa? Suka?”
“Kayaknya hihi, tiap ketemu dia selalu cengengesan gitu mandangin aku. Pasti dia naksir sama aku deh.”
“Yeeee PD amat,” Vienny memiringkan bibir.
“Siapa tau kan?”
“Hahaha Leffy emang gitu, dengan semua orang dicengengesinnya,” ujar Frieska.
“Dia sering kesana ya?” tanya Saktia mengeruk informasi.
“Hampir tiap hari sih, dia datang cuma main game, atau kalau enggak minjem motornya Dion. Ya seenggaknya dia bisa nemanin aku ngobrol.”
“Haha kok malah adiknya, terus kakaknya?” tanya Lidya.
“Jarang,” Frieska menggeleng pelan, “Dion sibuk melulu ngerjain kerjaannya. Kalaupun ngobrol itu pas dia mancing-mancing aku biar aku ngusilin dia atau pun ngingetin sholat.”
“Mancing-mancing?” Vienny menyeringitkan dahi.
“Ya… aku dulu suka ngusilin dia gitu hehe.”
“Hahaha kenapa suka ngusilin suamimu sendiri?” tanya Lidya.
“Ya kan tau sendiri, aku mana nganggap dia suami, bawaannya pengen bikin dia kesal aja sekaligus ngelampiasin kekesalan aku.”
“Haha dasar, suami sendiri digituin. Tapi sekarang gimana?”
“Apanya?”
“Ya kan katanya gak nganggap dia suami, kalau sekarang?”
“Hmm gak tau,” Frieska menggeleng pelan.
“Belum ada rasa gitu ya?” tambah Desy yang sedari tadi diam karena sibuk memainkan game di-handphone.
“Mungkin,” Frieska tersenyum.
Selagi asyik-asyik mereka ngobrol tiba-tiba melintas didepan mereka Bayu dan Beny sedang berjalan. Mereka berdua melihat Frieska dan memanggilnya dikejauhan.
“Fris!”
Frieska dan teman-temannya menoleh kedepan.
“Ya?”
“Coba keparkiran, ada hiburan tuh,” Bayu cengengesan.
“Ada apa emangnya?” Vienny bertanya mewakili.
“Liat aje,” Beny terkekeh dan melanjutkan perjalanannya dengan Bayu.
Karena penasaran maka Frieska beranjak dari tempat duduknya untuk melihat apa yang dimaksud dengan Beny dan Bayu. Ia terus berjalan bersama teman-temannya sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang memang baginya sangat menghibur.
“TAK CUKUP BESARKAH LAPANGAN KAMPUS KITA HAH?! KENAPA KALIAN MAIN BOLA DISINI!” bentak salah satu dosen yang terkenal killer bernama Pak Batak.
“Enu, Pak!” Dion menunjuk Enu.
“Enak aje lo! Ega pak! Dia yang bawa bolanya tadi!” Enu menunjuk Ega.
“Malah gue! Tuh Damar! Nantangin main bola disini!” Ega menunjuk Damar.
“Enak aje lo! Kan gue bilang misalkan ini lapangan bola!” Damar mencari alasan untuk membantah.
“MALAH RIBUT PULA KALIAN! SIAPA YANG PUNYA IDE MAIN BOLA DISINI?!” hardik pak Batak dengan teriakannya.
“DION PAK!” Ega, Enu, dan Damar serempak menunjuk Dion.
“Bukan pak! Bukan!” Dion dengan cepat-cepat membantah.
“JANGAN ALASAN LAGI!”
“Bener pak! Ide kan datangnya tiba-tiba dari langit jadi ini semua salah langit! Salahkan dia aja pak!” ujar Dion yang kacau balau mencari alasan.
“LANGIT LAGI KAU BAWA-BAWA! KAU TAK LIAT MUKA BAPAK KENA CAP BOLA TENDANGAN KALIAN TADI! HAH?! KALIAN KIRA MUKA BAPAK INI GAWANG APA?!” seru pak Batak sambil menunjuk muka sendiri yang memang sudah menempel cap bola diwajahnya.
Tak ayal lagi Dion, Enu, Damar dan Ega dihukum skot jump sebanyak 80 kali oleh pak Batak.
“Bapak keruangan bapak dulu! Nanti bapak kesini lagi!” seru pak Batak.
Dion, Enu, Damar dan Ega menggerutu. Apalagi mereka ditertawai teman-teman mereka dan junior-junior mereka. Yaiyalah, udah senior masih bisa kena hukum. Sebagai senior mereka begitu amatir untuk harga diri mereka sebagai senior. Frieska dan teman-temannya yang melihat dikejauhan juga tertawa.
“Tuh Dion udah selesai duluan, kesana deh Mpris. Kasih minum kek, kan kamu bawa air minum,” saran Vienny.
“Enggak ah! kan malu ramai orang gitu,” tolak Frieska.
Sementara itu ditempat Dion bersama ketiga temannya terlihat kedatangan Naomi, Yona dan Veranda setelah memarkirkan mobil.
“Loh, Ega, Damar, Enu, kalian ngapain?” tanya Naomi.
“Disuruh skot jump tadi, adededeh,” ujar Dion sambil merenggangkan pinggangnya.
“Sama siapa?” lanjut Yona.
“Pak Batak, nih si kampret bertiga, udah dia yang punya ide main bola disini malah gue yang dikambing hitamkan,” ujarnya ketus kepada Ega, Enu dan Damar yang masih melakukan skot jump.
“Daripada diadu domba,” celetuk Damar ketus.
“Kasian,” Veranda tertawa ringan.
“Oh iya, Ve, bawa air kan? Minta dong dikit,” pinta Dion.
“Dingin atau yang biasa?” tanya Veranda sambil membuka tas nya.
“Weeh, ada kulkas ya didalam tas?” Dion terkekeh.
“Yee, aku kan tadi dari mini market,” Veranda memanyunkan bibir.
“Dingin deh.”
Veranda mengeluarkan minuman mineral dingin yang terbungkus dengan kantong plastik didalam tas nya, setelah itu ia memberikannya kepada Dion.
“Akhirnya, terima kasih mantan,” Dion cengengesan.
“Sama-sama, mantan,” Veranda tertawa ringan.
“Buat kami mana, Ve?” pinta Ega.
“Mana ada, bagi-bagi aja itu dengan Dion.”
Akan tetapi Dion dengan cepat menghabiskan air itu tepat didepan ke-3 temannya tersebut. Enu, Damar dan Ega sewot karena mereka tidak disisakan setetespun dan bagi Dion ini hanyalah balas dendam ringan karena sudah dikambing hitamkan sebelumnya.
Sementara itu ditempat Frieska terlihat gadis ini menyeringitkan dahi sambil memegang dadanya.
“Yaah keduluan deh tuh sama Veranda, kamu gak gerak cepat sih,” ujar Saktia.
“Jangan mengapi-ngapi, mereka kan temenan sekarang. Mending kekelas aja yuk,” ajak Vienny.
Frieska dan teman-temannya kemudian berbalik arah untuk berjalan menuju kelas mereka. Akan tetapi Frieska berhenti dan menoleh kebelakang dan ia melihat Dion dan Veranda berbicara dengan penuh canda tawa.
Kok…” batin Frieska sambil memegang dadanya.
“Mpris, ayo,” panggil Lidya.
Frieska menoleh kedepan dan mengangguk, ia melanjutkan perjalanannya dan sesekali ia menoleh kebelakang dan masih melihat Dion dan Veranda berbicara begitu lepas dengan tawa masing-masing. Ia kemudian menoleh kedepan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gak! Gak! Ini gak mungkin cemburu! Gak mungkin!” sugestinya pada diri sendiri.
- Beautifull Aurora ® V
12. Tell me the truth
Hari-hari berikutnya dikampus, Frieska selalu tak sengaja melihat Dion dan Veranda berbicara begitu akrab dimanapun mereka berada dan Frieska bingung kenapa perasaannya sesak melihat hal tersebut. Dia juga tak mencurigai Veranda karena wanita itu sendiri bilang kalau dia dan Dion memang dekat meskipun mereka sudah tidak ada hubungan lagi.
Dan hari ini hujan begitu deras mengucur dari langit. Frieska yang tak sempat sarapan buru-buru kekantin untuk sarapan karena dia merasa kurang enak badan hari ini dan merasa sarapan yang bisa membantu gejalanya tersebut.
“Duh, kok pusing banget ya,” gumamnya selama perjalanan.
Dan saat tiba dikantin membuat wanita ini terdiam, ia kembali melihat Dion sedang berbicara dengan Veranda meskipun ada Beny juga disitu. Akan tetapi Beny sibuk dengan makanannya sedangkan Dion dan Veranda asyik bercakap-cakap.
“Dion…” panggil Frieska lemah, alisnya mengkerut dan ia meremas jaketnya dibagian dada.
Entah dituntun oleh apa tiba-tiba Frieska melanjutkan perjalanannya, ia terus berjalan sampai akhirnya ia berhenti tepat disamping meja Dion, Beny dan Veranda.
“Eh Frieska,” sapa Veranda dengan senyum manisnya, “Sini duduk,” ajak Veranda sambil menepuk kursi disebelahnya yang kosong.
Tak ada jawaban dari Frieska, ia terus menatap Dion dengan alis mengkerut.
“Kenapa?” alis Dion naik sebelah.
Tiba-tiba saja Frieska mengambil gelas minuman Dion dan disiramnya pria itu. Veranda dan Beny kaget, begitu juga dengan Dion.
“Frieska! Apa-apaan kau ini?!” hardik Dion.
“Dion…” kata Frieska dengan suara yang lemah.
Akan tetapi rasa pusing menghantam Frieska seutuhnya, wanita ini benar-benar pusing sampai apa yang dilihatnya itu tak masuk kedalam otaknya. Tak butuh waktu beberapa lama akhirnya ia pingsan.
“Frieska! Frieska!” Dion kaget bukan main dan buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
-oOo-
“Mungkin 2-3 hari ia baru bisa benar-benar sembuh, untuk saat ini dia harus istirahat total.”
“Begitu ya… kalau begitu terima kasih banyak, dok.”
2 suara itu terdengar oleh Frieska dan ia mengenal suara salah satunya, yaitu suara Dion. Suara langkah kaki juga didengarnya dan dirasa itu adalah langkah kaki Dion dan dokter yang keluar dari kamarnya. Dan itu dijadikan kesempatan Frieska untuk membuka matanya dan ia masih bisa mendengar suara hujan lebat diluar rumah.
“Dirumah ya…” gumamnya pelan saat melihat sekeliling kamarnya.
Tak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekat dan ia buru-buru menutup matanya.
“Iya, kata dokter tadi kecapean… iya-iya, sore ya kesini? Yaudah, iya-iya… wa’alaikum sallam,” kata Dion menyudahi pembicaraan ditelepon.
Dion kemudian mengambil kursi kecil dan duduk disamping Frieska yang terbaring dikasurnya.
“Kau ini ada-ada saja, untunglah bukan penyakit yang berbahaya,” kata Dion tiba-tiba.
Dion kemudian meletakkan telapak tangannya dikening Frieska, dia kemudian tersenyum dan mengelus lembut kepala istrinya tersebut.
“Udah agak mendingan, syukurlah.”
Frieska terus memejamkan mata dan membiarkan Dion berbicara, entah kenapa ia merasa senang diperlakukan seperti itu padahal dia tidak mau sedikitpun mendapat perhatian dari Dion.
“Nanti sore ibu dan kakekmu mau kesini, aku sudah menelponnya tadi. Mungkin ibuku juga akan datang, jadi karena itu cepatlah siuman. Kau tentu tidak mau memperlihatkan dirimu seperti ini dihadapan ibu dan kakekmu bukan?”
Frieska sedari tadi menahan senyumnya dan terus membiarkan Dion berbicara dengan dirinya karena Dion masih mengira kalau istrinya ini pingsan.
“Aku mau memasak air panas dulu untukmu.”
Dion kemudian beranjak dari tempat duduk, dengan tangan yang masih mengelus kepala istrinya ia kemudian mendekat dan mengecup kening Frieska.
“Cepat sembuh ya,” Dion tersenyum.
Dion bergegas keluar kamar untuk memanaskan air, mendengar suara langkah kaki Dion keluar kamarnya membuat wanita ini membuka matanya. Ia kemudian tersenyum dan mengelus keningnya yang tadi dicium oleh Dion.
“Dasar… nyari-nyari kesempatan,” ujarnya dengan bibir yang ngambek akan tetapi ia tersenyum kembali.
Frieska kembali mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya dan ia buru-buru menutup matanya kembali. Dion kembali duduk disamping Frieska, pria ini pun berbicara sambil memegang tangan Frieska dengan tangan kanan dan tangan kirinya tak henti-hentinya mengelus lembut kepala istrinya tersebut.
“Hahaha jadi begitulah, tapi itu dulu sih hehe. Kalau Leffy dari kecil tak pernah ikut main dengan anak-anak komplekku waktu di Bandung, kerjaannya main Nintendo melulu dirumah. Oh iya, aku juga punya cerita unik waktu aku pertama kali berkenalan dengan teman-temanku, jadi begini…”
Dion terus berbicara dan berbicara tentang pengalamannya yang unik dan menggelitik, Frieska yang mendengarkan sebisa mungkin tidak tersenyum ataupun tidak tertawa saat ada bagian cerita Dion yang mengundang hasrat untuk tertawa. Dan inilah untuk kali pertama bagi Frieska mendengar Dion menceritakan tentang dirinya sendiri dan ia begitu suka mendengar cerita-ceritanya.
“Dan mungkin inilah waktunya aku memberitahu kenapa aku menyetujui tentang pernikahan kita…”
Frieska tertegun, akan tetapi sebisa mungkin ia bertahan dalam akting pingsannya.
“Kalau kuberitahu kurasa kau bakalan merinding mendengarnya karena itu dulu aku berbohong dan menjawab aku main iya-iya kan saja saat tahu aku dijodohkan olehmu.”
Dion kemudian membaringkan kepalanya tepat didekat Frieska, ia kembali tersenyum dan mengelus lembut kepala istrinya tersebut.
“Aku sudah lama menyukaimu, dan aku sudah tahu soal perjodohan itu sebelum orang tuaku memberitahu. Kakek yang memberitahuku tentang itu, dan alasan aku menyukaimu… mungkin dangkal hehehe, aku dikasih lihat fotomu oleh kakek waktu itu.”
Frieska kaget mendengar penuturan itu.
“Ya… aku sudah mengetahui hal itu, dan hahaha mungkin ini lucu. Aku akhirnya benar-benar bertemu denganmu, dan tak menyangka kalau kita 1 kampus. Aku benar-benar kaget saat yang kubuat pingsan itu adalah calon istriku sendiri, dan asalan aku tidak langsung meminta maaf waktu itu karena shock hehe.”
Dion kemudian mengganti posisinya untuk duduk kembali, ia memandang istrinya tersebut dan tak bosan mengelus kepalanya dengan lemah lembut.
“Kau masih ingat waktu dirumahmu aku salah mengira kalau Melody adalah calon istriku? Haha aku benar-benar jujur kok waktu itu, aku emang sengaja melakukan itu karena kalau langsung duduk didepanmu aku akan merasa grogi. Karena itu aku mencari cara mencairkan suasana dulu, ya dengan itu. Berpura-pura salah orang hehe.”
Frieska kemudian mengingat kejadian itu dan memang gara-gara itu suasana sedikit cair dengan suara tawa akibat tingkah konyol Dion yang mengira kalau Melody adalah calon istrinya. Frieska hendak tertawa akan tetapi sebisa mungkin ia menahannya.
“Dan saat kita menikah, kakek memintaku berjanji untuk menjagamu, begitu juga dengan permintaan kakekmu. Haha tanpa itu pun aku merasa tak perlu diminta lagi, tentu saja aku akan menjagamu. Tapi ya… sifat usilmu kadang membuatku jengkel juga sih, apa kau ingat kau pernah memesan makanan mahal atas namaku? Dikira cari duit gampang kali, aku bekerja itu untuk dirimu juga… ya meskipun gajiku itu kuberikan kepada ayahmu dan ayahmu memberikannya padamu… nafkah secara tidak langsung hehe, dari sifatmu aku takut kau tidak mau menerima pemberianku.”
Frieska tertegun mendengar fakta tersebut, pantas saja ia merasa heran menerima uang lebih dari ayahnya apalagi ayahnya selalu mengatakan jangan dihambur-hamburkan kalau tidak suamimu akan marah.
“Lalu soal pacarmu itu…”
Frieska menjadi tegang gegara itu.
“Yah, aku tak menyangka kalau kau benar-benar berselingkuh. Aku tidak menyalahkanmu, kau pasti ada alasannya. Dan kau tahu, mungkin bisa dibilang saat itu aku benar-benar cemburu dan kesempatan itu kulampiaskan saat menghajarnya, dan aku benar-benar marah saat dia memperlakukanmu seperti itu. Siapa juga yang tak marah melihat orang yang disayangi diperlakukan seperti itu bukan?” Dan… sepertinya kita sudah tahu bagaimana rasa sakitnya saat pasangan kita selingkuh hahaha. Hanya saja dibagianmu itu adalah karma hehehe.”
Frieska benar-benar sulit untuk menahan diri agar tidak berbicara, akan tetapi ia lebih memilih diam.
“Dan soal cerai… jujur saja aku benar-benar tidak mengharapkan itu akan tetapi gara-gara rasa kecewa ku kemarin kepadamu, aku malah berharap cerai itu benar-benar terjadi. Karena bagaimana pun juga aku tak suka melihat pasanganku selingkuh… tapi ya itu dulu, kebawa perasaan hehe. Kalau ditanya kenapa aku mengurungkan niat itu ya… dari sifatmu sekarang yang sedikit berubah kulihat, aku merasa kau mau berubah, dan karena itu aku selalu mengingatkanmu untuk sholat agar ya diberi jalan oleh Tuhan hehe. Dan tentu saja alasan lainnya karena aku menyukaimu, bodoh ya?”
Frieska merasa terharu, ia ingin menitikan air matanya tapi sebisa mungkin ia menahannya.
“Dan aku tak tahu kenapa tadi kau menyiramku, padahal aku, Beny, dan  Veranda lagi mencari rencana untuk ulang tahunmu nanti. Dan ini selalu kudiskusikan dengan Veranda dari kemarin-kemarin. Dia itu jago bikin acara loh hehe, gak liat festival kampus kita meriah kemarin?”
Frieska benar-benar ingin menangis mendengar penuturan itu, ia benar-benar telah salah paham dan akhirnya ia menyadari kalau tadi dia benar-benar cemburu dan tanpa sadar menyiram Dion dengan minumannya.
“Setidaknya kalau cerai itu benar-benar terjadi… aku ingin membuat ulang tahun yang berkesan untukmu, itulah rencanaku,” Dion tersenyum.
Pria ini kemudian berbaring dengan posisinya itu, dia kemudian mengenggam tangan Frieska dan mencoba tidur.
“Mungkin ada bagusnya juga kalau kau sakit, ini jarak terdekat kita selama ini.”
Setelah mengatakan itu Dion mencoba untuk tidur karena dia merasa sangat lelah, terlebih lagi nanti sore Ibu dan kakeknya Frieska hendak datang kerumah. Ada 10 menit suasana kamar hening, Dion sudah tertidur dengan lelap. Tapi tak lama kemudian terdengar suara isak tangis dan itu adalah Frieska.
“Bodoh…” ujar Frieska dengan air mata yang mengalir.
Frieska kemudian bersusah payah untuk beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat Dion tertidur sambil menggenggam tangannya itu.
“Pria bodoh… bodoh… bodoh…” Frieska tersenyum meskipun air matanya mengalir, sekarang dia yang mengusap kepala suaminya tersebut.
Frieska kemudian melepaskan genggaman tangan Dion, ia kemudian tengkurep dan memeluk pria yang tertidur dengan posisi duduk disamping kasurnya itu.
“Jangan berhenti menyayangiku ya… jangan berhenti,” pinta Frieska dengan senyumnya yang tulus, “Dan aku juga akan berusaha… agar jarak terdekat ini tak hanya terjadi hari ini.”
Frieska kemudian memejamkan mata dan memeluk Dion yang tertidur dengan khidmat. Sedikit senyum tercipta dari mulut Dion, mungkin didalam tidurnya itu ia merasa nyaman dipeluk oleh istrinya yang sudah dari dulu ia sukai.
Dan hari ini biarkan jarak mereka menjadi sedekat ini.
- Beautifull Aurora ® V
13. Information
Beberapa hari kemudian Frieska benar-benar ingin mengubah sikapnya terhadap Dion meskipun ia masih harus berusaha ekstra keras untuk itu.  Salah satu contohnya pada malam hari saat Dion sibuk mengerjakan laporan kerjaan sambilannya.
“Nih,” Frieska menaruh secangkir kopi didekat meja.
Dion termenung, ia memandang gelas kemudian ia memandang Frieska, ia memandang gelas kemudian memandang Frieska kembali. Ada 10 kali dia melakukan ini sampai-sampai Frieska sendiri sebal melihatnya.
“Kalau gak mau yaudah!”
Frieska mengambil cangkir itu dan meminum kopi itu sambil berjalan menuju kamarnya. Dion cengok sedangkan didalam kamar Frieska menepuk-nepuk keningnya setelah menaruh cangkir dimeja kamarnya.
“Kenapa malah kuambil lagi sih! iihh!!” ujarnya.
Sedangkan Dion yang masih cengok mulai bergumam.
“Kalau kopi susu sih gue mau,” dan melanjutkan tugasnya.
Ya, emang tak tau rasa bersyukur kali pria satu ini.
Terkadang Frieska juga mencari akal supaya dia dan Dion bisa berangkat bareng kekampus dengan 1 kendaraan.
“Haaah kempes!” seru Frieska saat melihat Dion memasuki garasi.
Dion menoleh saat mau mengeluarkan motornya dan memang terlihat ban belakang motor Frieska kempes. Dan tentu saja itu kempes memang dibuat oleh Frieska nya sendiri.
“Hah! Gimana nih kalau mau kekampus!” seru Frieska sambil melihat jam tangan, sesekali matanya itu menjeling kearah Dion.
Dion yang sedari tadi diam dengan wajah bego akhirnya berbicara.
“Kempes?” tanya Dion.
“Udah tau nanya,” Frieska memiringkan bibir.
“Oh.”
Dion menghampiri motor Frieska dan diperiksanya dengan teliti ban motor istrinya tersebut. Sampai akhirnya Dion berdiri dan berhadapan dengan Frieska.
“Kayaknya tak ada jalan lain,”
“Hmm,” ujar Frieska dan membatin dengan riang gembira, “Ayo! Tawarin aku pergi bareng! Hehehe.
“Sepertinya sudah waktunya buat meresmikannya,” kata Dion mantap.
“Hmm,” Frieska kembali bergumam sok cuek walau berbeda dengan apa yang diungkapkannya dalam hati, “Iya! Resmiin sekarang juga jok motor kamu itu didudukin sama aku!
Dion tersenyum dan tanpa basa-basi ia memasuki rumah dan kembali dengan cepat sambil membawa pompa kecil.
“Hehehe dari dulu pengen nyoba, katanya anginnya kenceng banget pas sekali pompa,” Dion terkekeh.
“Loh?” Frieska melongo.
Tanpa perlu komando maka Dion mulai memompa ban motor Frieska dengan semangat peresmian pompa angin baru. Setelah selesai Dion tersenyum puas dan menaruh pompa angin itu dilemari garasi.
“Oke! tuh udah, kalau begitu aku duluan. Jangan lupa kunci garasi nanti tuh.”
Setelah itu Dion dengan antengnya meluncur dengan motornya dan meninggalkan Frieska yang masih melongo dan melipat tangan memandangnya dari dalam garasi.
“GAK PEKA AMAT SIH!” teriak Frieska tiba-tiba.
Begitu juga saat dikampus, Frieska beberapa kali mencoba menarik perhatian Dion dengan cara purbakala yaitu menjatuhkan sapu tangan.
“Aduhh jatuh.”
Akan tetapi targetnya itu terus berjalan bahkan menginjak sapu tangan tersebut.
“Weeeh, kaki lu ada apaan tuh Yon?” tanya Ega sambil menunjuk.
Dion mengangkat kakinya dan terkejut melihat sapu tangan menempel erat ditelapak sepatunya itu.
“Jemuran siapa ya?” Dion menoleh keatas.
“Gak tau,” Ega juga melongo keatas.
2 mahasiswa ini sudah tampak seperti orang idiot yang mencari-cari pemilik jemuran dan orang mana yang menjemur sapu tangan dikawasan kampus? Entah apa yang ada dipikiran mereka berdua akan tetapi lagi-lagi hal itu membuat Frieska kesal memandangnya.
Akan tetapi ada juga masanya sifat usil Frieska kembali, itu karena dia tahu kalau Dion menyukainya dan tentu saja ia pernah memanfaatkan hal tersebut. Ini terjadi saat jarak Frieska dan Dion hampir berdekatan disalah satu koridor kampus menuju perpustakaan.
“Coba aja ada orang yang mau membersihkan halaman kampus, dia pasti keren deh dimata aku!” seru Frieska kepada teman-temannya.
“Haha emang apa kerennya?” Vienny menyeringitkan dahi.
“Iya nih, aneh-aneh aja,” sambung Lidya.
Frieska tersenyum meskipun dia dianggap aneh oleh teman-temannya dan sepertinya yang diinginkannya itu benar-benar terjadi saat dia menoleh kearah halaman kampus.
“Lo ngapain Yon?” Enu menyeringitkan dahi.
“Tau nih, tiba-tiba berlari, ngambil sapu, malah kesini,” sambung Naomi.
Terlihat Dion begitu semangatnya menyapu halaman kampus dengan penuh suka cita, terkadang ia menjelingkan mata kearah Frieska yang ada dilorong dan kalau terlihat Frieska memandang dirinya maka dia semakin semangat melakukannya.
“Kebersihan adalah sebagian dari Imam!” seru Dion tiba-tiba.
“Stress lu!” ejek Arya dengan mulu nyengir.
“Iman kali, Imam masjid mana yang lu bawa-bawa?” komentar Pris memiringkan bibir.
Frieska menahan tawanya saat berhasil membuat Dion melakukan apa yang diinginkannya secara tak langsung. Vienny yang memang cepat tanggap tampaknya mengerti akan hal itu.
“Sengaja ya?” bisik Vienny.
“Eh,” Frieska tertegun akan tetapi tak lama kemudian dia cengengesan, “Hehehehehe.”
“Hmmm,” Vienny tersenyum penuh arti, “Gimana ceritanya?”
“Rahasia,” Frieska memeletkan lidah.
“Hihi berarti Dion suka ya sama kamu?”
“Mungkin,” Frieska tersenyum.
“Tapi jangan keterusan ya,” nasihat Vienny.
“Iya, lagian ada untungnya juga kan? Halaman jadi bersih deh,” Frieska tertawa.
Frieska dan Vienny tertawa ringan, mereka kembali menoleh kearah kampus dan menyeringitkan dahi.
“Rasakan ini Voldemort! Abrakadabra!” seru Dion sambil mengacungkan ranting kayu kearah Ega.
“Brengsek! Pelahap kegelapan! Ayo kita kabur!” Ega menaiki sapu yang ditumpangi juga oleh Pris dan Beny, tak lama kemudian ia bersama Pris dan Beny berlari seolah-olah mereka mengendarai sapu tersebut.
“Mari kejar!” komando Dion.
Dion, Enu dan Arya menaiki sapu taman yang mereka pegang masing-masing dan berlari-lari seolah-olah mereka menaiki sapu terbang untuk mengejar Voldemort… maksudnya Ega and the genk. Ekspresi Frieska dan Vienny datar gara-gara melihat tingkah senior mereka yang tampaknya sedang bermain Harry Potter-an.
Mungkin masa kecil mereka terampas dengan kejamnya dunia.
Hari demi hari berlalu dan Frieska hampir frustasi karena untuk mengubah sikapnya sangat sulit, terlebih lagi Dion tak pernah peka setelah beberapa kode ditunjukannya kepadanya. Frieska yang merasa lelah kemudian beristirahat dikantin.
“Hei.”
Frieska menoleh dan melihat Veranda tersenyum kepadanya.
“Hei Kak,” Frieska tersenyum.
“Boleh duduk?” pinta Veranda.
Frieska mengangguk dan Veranda langsung saja duduk sambil menghela nafas.
“Oh iya, bagaimana kabar kamu sekarang?” tanya Veranda.
“Baik kok… emm kakak kenapa? Capek bener kayaknya.”
“Ngantar keluarga tadi sebelum kesini, bolak-balik, gini deh jadinya,” Veranda tertawa ringan.
“Oh gitu, jaga kesehatan kak, nanti kayak aku tiba-tiba pingsan dulu disini.”
“Iya, makasih ya,” Veranda tersenyum, “Eh iya, dulu kamu kenapa nyirem wajah Dion?”
“Eeeh!” Frieska tertegun dan bingung mencari alasannya, “I-itu…”
“Hmm, kamu cemburu ya?”
“Eh? E-enggak kok, enggak-enggak,” Frieska buru-buru membantah.
“Oh kirain hehe, soalnya aku udah sering bilangin ke Dion jangan deket-deket terus, nanti kalau kamu ngeliat kan bisa salah paham, apalagi aku sering ngeliat kamu ngeliatin kami saat kami lagi ngobrol berdua,” Veranda cekikan.
“O-oh gitu,” Frieska tersenyum.
“Jangan berpikiran macam-macam ya? Lagian aku udah punya pacar kok.”
“Eh? Beneran?”
“Iya,” Veranda tersenyum manis.
“Sama siapa?” Frieska penasaran.
“Enu,” jawab Veranda malu-malu.
Sekarang mereka membicarakan hal tersebut dan tak sedikit Frieska menggodanya. Frieska benar-benar kagum dengan Veranda karena dilihatnya wanita ini masih bisa merona seperti gadis lugu tak seperti dirinya.
“Emm kak… aku boleh nanya gak?”
“Ng? Nanya apa?”
“Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa ya?”
“Iya,” Veranda tersenyum dan mengangguk.
“Itu… Dion itu gimana sih orangnya…” tanya Frieska malu-malu.
“Ng? gimana apanya?” Veranda menyeringitkan dahi.
“Ya… apa kek gitu… selama kalian berpacaran…”
“Oh,” Veranda tertawa, “Dion ya… hmmm,” Veranda mendelikan matanya keatas untuk mengingat-ingat masa-masa dimana waktu ia dan Dion berpacaran.
Sedangkan Frieska tak sabar menanti jawabannya.
“Dia orangnya sungguh-sungguh, tapi kalau udah sama temen-temennya suka kekanakan. Hmm lalu… dia itu diam-diam perhatian hmmm yah kayaknya hanya itu.”
“Oh gitu,” Frieska mengangguk karena penjelasan Veranda tadi ada benarnya dan itu pernah ia alami.
“Oh iya ada 1 lagi!” seru Veranda tiba-tiba.
“Apa kak?”
“Dia gak peka,” Veranda tertawa ringan.
“Nah itu!” seru Frieska semangat.
Frieska kemudian merocos tanpa henti soal sifat Dion yang satu ini, Veranda saja sampai bengong dibuatnya karena bisa dibilang Veranda tak menanyakan apa-apa saja yang dilakukan Frieska agar Dion peka dengannya.
“Hihihihihihi,” Veranda tertawa ringan.
“Ng? Kenapa kak?”
“Enggak,” Veranda tersenyum dan menggeleng, “Kayaknya kamu suka banget ya sama dia?”
“Eh!” Frieska kaget, kedua pipinya pun merona merah secara alami seperti Veranda tadi.
“Duh manisnya hihihi,” puji Veranda.
“I-itu…” Frieska salah tingkah.
“Hehe tapi kalau dari pembicaraan tadi, kayaknya itu ya masalahnya?” Veranda tersenyum.
Frieska malu untuk mengakuinya, karena itu dia mengangguk untuk memberi jawabannya.
“Hmm ya bilang aja langsung, aku dulu gitu kok,” Veranda tersenyum.
“Tapi… malu…”
“Gakpapa, Dion itu enak diajak ngobrol kok, dia pasti ngerti,” Veranda tersenyum manis, gak bosan apa ya?
“Emmm…”
“Jangan menunda-nunda apa yang baik untukmu nantinya,” Veranda kembali tersenyum dan tersenyum, yang nulis cerita ini lama-lama mimisan.
Frieska termenung untuk sejenak memikirkan kata-kata itu dan mungkin ada benarnya juga saran dari seniornya itu terlebih lagi ia pernah menjalin hubungan dengan suaminya dulu sebelum mereka menikah.
“Terima kasih ya, Kak,” Frieska tersenyum manis.
“Sama-sama,” Veranda membalas senyumannya, ampun dah.
Dan mengenai hal ini ingin dilakukan Frieska pada malam harinya. Karena pada malam hari saja ia melihat Dion bersikap begitu kalem dan mungkin itu yang waktu pas untuk mengajaknya berbicara.
- Beautifull Aurora ® V
14. Declaration
Malam harinya seperti yang direncanakan Frieska sebelumnya, ia ingin mengajak Dion berbicara. Tapi sebelum itu dia mencoba melakukan sesuatu untuk menyenangkan suaminya itu. Sebuah tindakan yang tak pernah ia lakukan ke Dion dari mereka menikah sampai detik ini.
Yaitu memasak.
Frieska terlihat semangat memasak nasi goreng, salah satu makanan kesukaan Dion. Hal ini dia dapatkan dari Leffy saat ingin mengetahui makanan kesukaan suaminya itu.
Walau Frieska terpaksa mengeluarkan duit buat membelikan Leffy rokok atas biaya informasi tersebut.
Tapi itu tidak menjadi masalah bagi dirinya, ia terus memasak sambil menunggu Dion mengambil tugas dari tempat kerja sambilannya. Setelah selesai memasak maka ia mempersiapkan masakannya itu dan menaruhnya dimeja makan.
“Sekarang tinggal nunggu dia datang,” ujarnya puas.
Frieska kemudian memasuki kamar dan melakukan make-up seadanya karena ia juga ingin membuat Dion senang melihat penampilannya. Suara deru motor diluar menarik perhatian Frieska apalagi ia juga mendengar bunyi garasi rumah terbuka.
“Dia datang,” Frieska tersenyum.
Frieska buru-buru keluar kamar dan berlari pelan menuju pintu dapur yang terhubung langung dengan garasi.
“Loh?” Dion tertegun saat membuka pintu.
“Malam,” Frieska tersenyum manis menyambutnya.
“M-M-Malam,” balas Dion dengan segan.
Frieska kemudian menghampiri Dion dan hendak memegang tas yang Dion bawa, sekedar memperingan bawaan suaminya.
“Eh? Eh? Kau kenapa?” Dion malah ketakutan.
“Udah, sini kubawain,” Frieska memaksa.
“Eh? Eh? Eh?”
Sekarang mereka berdua saling menarik tas, seolah-olah Dion ini sedang berada didalam situasi jambret yang dimana Frieska memaksa mengambil tas nya dan Dion mempertahankan tas itu dengan nyawanya seolah isinya adalah dokumen Negara yang bisa mengundang Perang Dunia ke-3 apabila bocor ketangan musuh.
“Udah sini kupegangin!” Frieska akhirnya berhasil dalam usaha jambretnya.
Dion melongo.
“Buka sepatu kamu,” perintah Frieska.
“Oh… I-iya.
Dion melepas sepatunya, dan saat ia menunduk untuk menaruhnya dirak sepatu tiba-tiba saja Frieska mendahuluinya, diambil sepatu suaminya itu dan ia taruh dirak sepatu.
Dion lagi-lagi melongo.
“Ayo masuk, udah kusiapin makan malam loh,” Frieska terlihat ceria.
“Hah?” Dion malah kaget.
“Kenapa?”
“Kau memasak?” Dion mencoba memastikan.
“Iya, barusan kok.”
“Masa sih?” Dion menyeringitkan dahi.
“Dibilangin,” Frieska memiringkan bibir.
“… Boleh ku cek sebentar?”
“Apanya?” Frieska menyeringitkan dahi.
Dion kemudian berjalan kearah kompor, dia melihat ada kuali yang dipakai Frieska sebelumnya saat memasak nasi goreng. Ia pegang kuali tersebut dan dirasakannya begitu hangat, jadi benar kalau Frieska belum lama ini habis menggunakan kompornya itu.
“Oh… oke.”
“Gak percayaan amat sih!” Frieska merengutkan wajahnya.
“Maaf, bukan itu maksudku… jadi… kau memasak apa?”
“Nasi goreng.”
“Nasi goreng?” mata Dion berbinar.
Frieska yang melihat ekspresi suaminya langung tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Hehehe.”
Dion segera ngacir menuju meja makan dan senyum merekah saat melihat nasi goreng panas mengepul ditempatnya.
“Tas mu seperti biasakan ditaruh dikursi tamu?” tanya Frieska.
“Iya,” jawab Dion seadaanya, bisa terlihat pria ini tak sabar untuk menikmati makanan favoritnya.
Frieska menaruh tas Dion dikursi ruang tamu akan tetapi ia melihat ujung pegangan kantong plastik didalam tas suaminya itu, dia penasaran dan langsung membukanya. Didapatnya sebuah nasi bungkus tersimpan rapi didalam kantong plastik itu, ia mendekap nasi bungkus itu dan tersenyum dengan pancaran mata yang sayu.
“Maaf ya gak pernah masakin kamu apapun selama ini…”
Frieska tahu itu adalah nasi bungkus yang saban malam dibeli Dion untuk dirinya sendiri karena Frieska setiap malam selalu membeli makanan sendiri dan tak pernah memasak apapun untuk dia bahkan suaminya. Makan malam yang dulu saat keluarga berkumpul dirumahnya saja beli dirumah makan.
Nasi bungkus itu ditaruhnya diatas meja tamu setelah itu ia kedapur dan melihat Dion begitu khusyuk menikmati nasi goreng miliknya.
“Enak?” tanya Frieska.
“Iya, beli dimana?” tanya Dion.
“Malah beli, emang ada nasi goreng kayak gitu dijual disini?” Frieska memiringkan bibir.
“Oh… hehe, maaf lupa.”
Frieska tersenyum dan merasa wajar kalau Dion merasa aneh dengan hal itu. Dia menuangkan air minum dan diberikannya kepada Dion, setelah itu mengambil piring untuk menemani suaminya menikmati nasi goreng buatannya.
Dion merasa aneh, ia pun menoleh kesamping.
“Kau juga ikutan makan?”
“Iya, aku kan belum makan nungguin kamu tadi.”
“Hah? Yang bener?”
“Iya,” Frieska tersenyum dan mengangguk.
“Kau… agak berubah hari ini…”
“Terima kasih,” Frieska tertawa pelan, “Ayo cepet, nanti kuhabisin loh.”
“O-oh, iya.”
Dion melanjutkan aktifitasnya, begitu juga Frieska. Setelah selesai makan Dion hendak mencuci piring akan tetapi piringnya itu sudah diambil Frieska dan sekarang Dion melongo melihat Frieska mencuci piring.
“Gak ganti baju?” tanya Frieska sambil mencuci piring.
“Hah?” Dion kaget.
“Masa dirumah pun pake kemeja kan?” Frieska tertawa ringan.
“Oh iya sih.”
Dion kemudian memasuki kamar untuk berganti baju, setelah mengganti baju dengan kaos hitam andalan dan celana pendek. Ia melihat Frieska sedang mengelap meja makan sehingga Dion menyeringitkan dahi.
Kenapa ya?” batin Dion bertanya.
Teringat akan pekerjaannya maka Dion hendak menyelesaikannya terlebih dahulu, sesampainya diruang tamu ia menyeringitkan dahi melihat nasi bungkus yang ia beli sudah berada dimeja tamu.
“Oh, itu aku yang ngeluarin. Maaf ya, kirain apa gitu,” ujar Frieska dikejauhan saat mau memasuki kamarnya.
“Oh… iya, gakpapa.”
Dion kemudian mengeluarkan laptop dan juga lembaran pekerjaannya itu, selagi menunggu loading perhatiannya teralihkan dengan kedatangan Frieska yang juga membawa laptop dan duduk disebelahnya.
“Hee?” Dion menyeringitkan dahi.
“Gakpapa kan?” tanya Frieska sambil membuka laptop.
“… Iya…” Dion mengangguk segan.
Frieska kemudian melihat nasi bungkus dimeja dan berkata.
“Mulai besok aku akan memasak, jadi kamu gak perlu beli apapun buat makan kamu,” Frieska tersenyum saat menekan tombol on laptop-nya.
Dion terdiam memandang Frieska, ia bingung melihat perubahan drastis istrinya tersebut, ia terus berpikir sampai-sampai ia mengupil tanpa disadari olehnya kalau Frieska tertawa melihat hal itu. Frieska mengambil handphone dan diam-diam memotret Dion dengan posisi itu.
“Maaf, aku tak tau kau akan memasak hari ini. Tau begitu aku tak perlu beli nasi bungkus tadi.”
“Gakpapa kok,” Frieska tersenyum, “Lagian tadi mau bikin kejutan aja hehe.”
Alis Dion naik sebelah. Ini baru pertama kalinya ia melihat sikap Frieska saat berbicara dengannya dan langsung saja ia tanyakan.
“Kau tertawa?”
“Langka ya?” balas Frieska.
“Lebih dari itu sih…”
“Hihihi,” Frieska cekikikan.
“Kenapa kau…”
“Sebentar,” potong Frieska.
Frieska kemudian mengeluarkan lipatan kertas disaku celananya, dibentangkannya kertas itu dan ia memperlihatkan isinya.
“Itu, kertas permintaanmu kan?” tanya Dion.
“Iya,” Frieska mengangguk.
“Lalu? Apa kau mau menambahkan sesuatu.”
Frieska tersenyum dan menggeleng. Ia kemudian merobek kertas itu didepan mata Dion sehingga membuat suaminya itu terdiam. Setelah selesai dirobek maka dikumpulkannya robekan kertas tersebut dan diremasnya menjadi satu, setelah itu ia meminta Dion untuk membuangnya ketong sampah yang ada didekat situ.
“Kenapa kau robek?” tanya Dion dengan remasan kertas tersebut ditangannya.
“Buang dulu,” pinta Frieska.
Tanpa berlama-lama dan tanpa perlu beranjak dari tempat duduk, Dion melempar kertas itu dan tepat memasuki tong sampah.
“Benar kata Veranda, kamu jago kalau urusan melempar sesuatu ke tong sampah,” Frieska tertawa pelan.
“Hah?” alis Dion naik sebelah.
“Udah, jadi bisa dibilang aku tak perlu kamu memenuhi permintaanku itu lagi,” kata Frieska.
“Kenapa?”
“Entar ya.”
Frieska kemudian mengetikan sesuati di-handphone-nya, dan tak perlu waktu beberapa lama terlihat notifikasi email masuk muncul dilayar laptop Dion.
“Buka,” pinta Frieska.
“Kau yang mengirimnya?”
“Iya,” Frieska mengangguk.
Dion kemudian membuka Email dari istrinya itu dan membuat ia diam sediam-diamnya. Karena Frieska mengirimkan sebuah kalimat yang mampu membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa dan kalimat itu adalah ‘Aku menyukaimu :)
Dion memandang Frieska dan terlihat istrinya ini begitu cantik apalagi Frieska tersenyum kepadanya.
“Kenapa?” tanya Dion.
“Gak ada alasan dan…”
Frieska kemudian membaringkan kepalanya dipundak Dion, Dion menoleh memandang istrinya tersebut.
“Dulu aku pernah bilang kan kalau aku mau cerai…”
“Ya,” Dion mengangguk.
Frieska menggeleng pelan.
“Sekarang aku gak mau kita cerai.”
Dion tertegun.
“Kenapa?”
“Apa tulisanku di-Email tadi menggunakan bahasa asing? Kamu pasti tahu itu dia alasannya,” Frieska tersenyum.
“Tapi bukankah kau membenciku?”
“Itu dulu bodoh, kalau masih aku gak mungkin mengirimkan email itu bukan?”
“Tapi kenapa?”
“Kurang jelas?”
“Apanya?” Dion menyeringitkan dahi.
Frieska kemudian menadahkan kepalanya keatas dari posisinya itu dan posisinya sekarang seperti orang yang mau membisikan sesuatu.
“Aku menyukaimu, Dion.”
Setelah itu Frieska kembali membaringkan kepalanya dipundak suaminya itu sedangkan Dion lagi-lagi terdiam seribu bahasa karena tak hanya tulisan yang ia baca, tapi juga suara dari Frieska yang mengungkapkan kalau istrinya itu menyukainya.
“Alasannya cukup aku saja yang tau, yang pasti alasanku tidak seperti alasanmu yang menyukaiku gara-gara melihat fotoku saja?”
“Apa? bagaimana kau tau?!” Dion kaget setengah mati.
“Kamu kira aku belum siuman ya waktu itu? Dimana kamu panjang lebar nyeritain diri kamu dan semuanya,” Frieska memeletkan lidahnya.
“Jadi… kau udah bangun waktu itu?”
“Iya, gimana? Enak ya nyium kening aku? ampe 2 kali,” Frieska tertawa ringan.
“Aaaaaaa… i-itu,” Dion salah tingkah, dia menoleh kearah berlawan, wajahnya memerah bukan main dan ia asyik menggaruk pipinya sebagai pengalihan.
“Dion,” panggil Frieska.
“… Ya?”
“Ngadep sini dong,” pinta Frieska dengan bibir cemberut.
“Nanti…”
“Kenapa?”
“Errr pake ditanya lagi,” gerutu Dion.
“Ciee malu hihihi, gakpapa kok,” Frieska tersenyum manis.
Terjadi keheningan diantara mereka, Dion masih menoleh kearah lain sedangkan Frieska terlihat damai dengan jaraknya yang sedekat ini dengan suaminya. Frieska kemudian menggenggam tangan Dion dengan kedua tanganya.
“Dion.”
“Ya?”
“Maafin aku ya yang dulu selingkuh dari kamu, aku benar-benar minta maaf… aku tau kamu pasti marah banget sama aku.”
Dion menoleh untuk melihat Frieska.
“Aku gak marah, kan udah kubilang hanya kecewa.”
“Ya tapi tetap aja aku menyakiti perasaan kamu…”
“Udah, lupakan saja. Anggap saja itu pengalaman yang tak perlu diulang kembali.”
Frieska tersenyum dan matanya sayu saat mendengar itu.
“Makasih ya.”
“Sama-sama.”
“Dan terima kasih juga udah melakukan semuanya untukku, kalau kamu mau mulai sekarang aku yang menyimpan gajimu itu. Akan kubuka rekening baru untuk tabungan kita berdua dan…”
“Tunggu-tunggu, kau juga tahu itu?” potong Dion.
“Kan udah kubilang, aku mendengar semua cerita kamu itu,” Frieska tertawa.
“Ooh… sepertinya lain kali aku harus mengecek apa kau udah siuman atau belum.”
“Mulai deh, itu nyumpahin aku pingsan lagi namanya,” Frieska cemberut.
“Maaf,” Dion tertawa pelan.
“Dimaafin,” Frieska juga tertawa, “Dan aku ingin kamu melakukan 1 hal kepadaku…”
“Apa?”
Frieska batuk sebentar karena tenggorokannya seret, baru habis itu dia berkata.
“Tegur aku ya semisalnya aku berbuat salah, jangan pernah bosan ngingetin aku sholat dan kalau bisa aku mau kamu jadi imamku saat sholat nanti, dan tolong… jangan pernah berhenti menyayangiku ya?”
“Kayaknya itu lebih dari 1,” Dion terkekeh.
“Iiiih!” Frieska mencubit perut Dion, “Jadi gimana?”
Dion tersenyum dan mengangguk.
“Baiklah, tak perlu diminta kok.”
“Terima kasih,” Frieska tampak bahagia mendengar jawabannya.
“Emm kalau boleh, aku juga punya 1 permintaan…”
“Apa?” tanya Frieska.
“Boleh minta fotomu? Buat wallpaper HP aja sih.”
“Hihi kenapa?”
“Ya…” Dion malu-malu, “Pengen saja foto istri sendiri dijadiin wallpaper.”
Frieska tertawa renyah mendapatkan permintaan itu.
“Iya boleh, sini HP kamu,” pinta Frieska.
Dion memberikan Handphone-nya dan ditaruh Frieska diatas pahanya.
“Aku boleh nanya?”
“Nanya apa?”
“Kamu kenapa bisa putus sama Veranda?”
“Oh itu,” Dion tertawa pelan, “Kenapa emangnya?”
“Ya heran aja, cantik gitu kok kalian bisa putus. Jangan-jangan kamu ada salah ya?”
“Gak tau juga sih hehe, tapi aku yang minta putus, dia pun menerimanya. Jadi ya putusnya baik-baik.”
“Emang apa alasannya?”
“Rumit sih, agama pokoknya hehe.”
“Agama?”
“Iya, aku sama Veranda kan beda agama.”
“Jadi gara-gara itu kalian putus?”
“Ya, bukannya mau sok alim atau apa. Tapi aku ini orangnya keras kepala, dan aku memang mencari pasangan yang seiman, aku saja baru tahu kalau aku dan Veranda beda agama saat Natal, padahal udah mau setahun kami pacaran.”
“Gitu… tapi biasanya kalau udah suka kenapa gak pindah agama saja?”
“Segampang itu ya pindah agama hanya gara-gara cinta? Hahaha. Lagian gini, kalau aku segampang itu mengkhianati Tuhan diagamaku, berarti segampang itu juga aku nanti meninggalkan dia kan?” Dion tertawa pelan.
“Bijak juga,” Frieska tertawa.
“Komitmen hidup itu penting, asal gak ngerugiin orang lain hehe.”
“Tambah sayang deh,” Frieska menggoda Dion, apalagi Frieska mengelus pelan pundak Dion dengan kepalanya.
“Errrr,” dan Dion berhasil salah tingkah dibuatnya, “Udah malam nih, belum tidur?”
“Masih awal kok,” Frieska cemberut.
“Aku mau kerja dulu sebentar.”
“Oh iya hehe, yaudah aku temenin. Aku juga mau mencari bahan tugas.”
Dion dan Frieska kemudian berkutat dengan laptop masing-masing, terkadang Dion membantu Frieska mencari bahan tugas saat dia lagi istirahat sebentar dengan pekerjaannya, terkadang Frieska mendiktekan laporan kerjaan untuk Dion ketik. Setelah beberapa lama kemudian Frieska akhirnya menguap karena mengantuk.
“Tidur gih,” suruh Dion.
“Iya,” Frieska mematikan laptop dan merenggangkan tulang punggungnya.
“Dan…”
“Ng?” Frieska menoleh.
“Maaf waktu kau memberiku kopi waktu itu, kesannya aku tidak mau menerimanya, sebenarnya aku sih mau saja, tapi aku lebih suka kopi susu.”
“Oh gitu,” Frieska tertawa, “Gak tau terima kasih!” dengan jengkel Frieska menjewer telinga suaminya tersebut.
“Maaf.”
“Iya deh, besok kubuatin. Kamu jangan kemalaman tidurnya ya? Jangan main game lagi, langsung tidur habis itu.”
“Emang itu kok rencananya,” Dion terkekeh, “Kalau bisa bangunin aku ya?”
“Iya,” Frieska berdiri sambil menenteng laptop dan handphone Dion, “Besok ya kujadiin foto aku wallpaper kamu,” ujar Frieska sambil menggoyang-goyangkan handphone Dion.
“Oh iya, password-nya,” Dion meminta handphone-nya kembali.
“Sebutin aja,” cegah Frieska.
“Eh… tapi…”
“Udah gakpapa, sebutin aja.”
Lama Dion berdiam diri sampai akhirnya keluar suara dari mulutnya.
“…Frieska…”
“Ya?”
“Ya,” Dion mengangguk.
“Loh password-nya?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Ya itu tadi… namamu password-nya.”
Matanya Frieska terbelalak, tak lama kemudian wanita ini tertawa.
“Aku kirain kamu manggil aku tadi,” Frieska tertawa ringan.
“Errrr.”
“Hihihi ciee nama aku dijadiin password, oh iya besok kita berangkat bareng ya?”
“Iya,” Dion mengangguk.
“Yaudah.”
Frieska kemudian menghampiri Dion dan mengecup kening suaminya tersebut, Dion terhenyak sementara itu Frieska tersenyum kepadanya.
“Selamat malam.”
“Malam…”
Didalam kamar dijadikan Frieska untuk memilih foto dirinya yang ingin dijadikan wallpaper handphone Dion tersebut. Setelah mendapat foto yang diinginkan membuat Frieska iseng untuk melihat akun chat Dion, dibuka aplikasi chat-nya itu dan ia memilih untuk melihat percakapan Dion dengan Veranda. Dan benar seperti yang Dion bilang, kalau chat-nya itu pun tak jauh dari topik sebuah rencana untuk ulang tahun Frieska nanti.
“Harus berkesan ya,” Frieska tertawa ringan.
Wanita ini kemudian tidur setelah membuat potret foto Dion yang sedang mengupil dijadikan wallpaper untuk handphone-nya sendiri.
Malam hari itu terasa menyenangkan bagi keduanya.
- Beautifull Aurora ® V
15. Now
Dan seperti diawal cerita ini, disinilah Frieska benar-benar mengubah sikapnya untuk Dion. Bahkan Frieska tidak menutup-nutupi lagi apabila ada orang yang bertanya apakah Dion itu beneran suaminya atau bukan karena dengan tegas dia menjawab kalau Dion adalah suaminya.
“Pagi, Frieska.”
Frieska menoleh kebelakang dan melihat Veranda sedang berjalan bersama Enu.
“Aku kesana dulu ya?” pamit Enu.
“Iya,” Veranda tersenyum dan mengangguk.
Veranda kemudian berjalan bersama Frieska dan mereka pun berbincang-bincang.
“Jadi gimana?” tanya Veranda.
“Iya, kalau diomongin baru dia ngerti,” Frieska tertawa.
“Hihihi tapi biasanya dia lupa loh.”
“Tadi pagi aja begitu,” Frieska lagi-lagi tertawa.
Mereka terus berjalan menuju tujuan mereka, sementara itu Saktia menghampiri tempat Dion nongkrong bersama teman-temannya ditemani juga oleh Lidya.
“Ada apa lagi nih? Nembak lagi ya?” Dion terkekeh.
“Kagak, mau nanya sebentar aja. Boleh kan? Boleh dong pasti.”
“Belum aje dijawab,” sambung Beny.
“Hahaha jadi nanya apa?” tanya Dion.
“Gini… emmm si-pecicilan dirumah kakak udah punya pacar belum?”
“Pecicilan?” Dion menyeringitkan dahi, begitu juga teman-temannya.
“Itu loh yang suka cengar-cengir itu, yang pake topi hitam melulu,” sambung Saktia.
“Ohhh, Leffy?” Dion tertawa.
“Iya, itu!” Saktia mendengus puas.
“Hahaha naksir Leffy?” tanya Enu.
“Hehehe dia udah punya pacar belum?”
Dion dan teman-temannya yang lain tertawa karena tak menyangka adiknya Dion itu ternyata ada juga yang naksir.
“Iya ada,” Dion mengangguk.
“Hah?!” Saktia kaget, mulutnya melongo, “Siapa?”
“Loh, tiap hari sama kalian kemana-mana kok ceweknya,” sambung Arya.
“Siapa?” Lidya juga ikutan bertanya.
“Itu Vienny, itu kan pacarnya Leffy,” kata Ega melanjutkan.
“Hah?! Yang bener?!” Saktia kaget bukan main.
“Iya, emang Vienny gak pernah ngasih tau?” sambung Enu.
Saktia terpana dan terbata, ia kemudian memandang Lidya.
“Aaaaaaa ditikung lagi!!!” serunya.
“Yeee malu-maluin lu,” komentar Lidya cuek.
Dion dan teman-temannya tertawa melihat ekspresi Saktia. Dan tanpa basa-basi Saktia segera mencari Vienny yang asyik duduk dikursi bersama Frieska.
“Vienny! Kok kamu gak bilang kalau Leffy itu pacar kamu!”
“Hah! Kamu tau darimana?” Vienny kaget.
“Loh, udah pacaran ya?” tanya Frieska polos.
“Aaaa! Masa aku 2 kali ditikung temen sendiri!” Saktia berpura-pura menangis akan tetapi Lidya malah tertawa melihat tingkahnya.
Vienny buru-buru menjelaskan kalau dia dan Leffy memang memiliki hubungan akan tetapi mereka tidak mau melabeli hubungan mereka tersebut dengan yang namanya pacaran. Akan tetapi sudah dijelaskan Saktia masih merengek tak henti-hentinya.
“Kan kak Ega ada, dia masih lajang kok,” kata Vienny menginformasikan.
“Gak mau! Mukanya mesum banget!” tolak Saktia mentah-mentah.
Sementara itu ditempat Dion yang masih nongkrong dengan teman-temannya.
“Kok perasaan gue gak enak ya?” ujar Ega tiba-tiba sambil mengelus tengkuk lehernya sendiri.
Yah sudahlah.
-oOo-
Malam hari Frieska benar-benar tidur sekamar dengan Dion, ia sudah memindahkan barang-barangnya dikamar suaminya tersebut.
“Besok Vienny sama yang lain mau kesini, gakpapa kan?” tanya Frieska sambil merapikan pakaiannya didalam lemari.
“Ya gakpapa, emangnya selama ini aku keberatan?” Dion terkekeh sambil memasang seprei untuk tempat tidur.
“Oh iya, itu bener ya Leffy sama Vienny jadian?”
“Katanya sih gitu.”
Setelah selesai beres-beres maka Frieska hendak tidur karena kecapaian, apalagi besok libur dan ia berencana mencari bahan masakan untuk besok. Sementara itu Dion hendak keluar kamar.
“Mau kemana?”
“Belum ngantuk, main PS dulu.”
Frieska yang mendengar itu buru-buru beranjak dari tempat tidur, ditariknya kerah baju Dion dari belakang agar memasuki kamarnya kembali dan langsung saja ia menutup pintu.
“Nape?” Dion menyeringitkan dahi sambil mengurut lehernya.
“Gak boleh main game, besok pagi kan udah janji mau nganterin aku belanja.”
“Sebentar doang,” Dion memiringkan bibir.
“Main di-HP aja, kan kamu biasanya juga main game di HP.”
“Errr yaudah deh,” Dion mengalah.
Frieska tersenyum dan kembali menuju kasurnya, sementara itu Dion berdiam diri didekat kasur.
“Kenapa diem? Sini,” Frieska menepuk-nepuk kasur.
“Belum terbiasa hehe.”
Frieska tertawa ringan apalagi melihat Dion yang malu-malu berbaring disampingnya. Setelah itu Frieska juga berbaring dan ingin melihat game apa yang dimainkan oleh Dion.
Game apa sih itu? sering banget aku ngeliatin kamu mainin game ini.”
Dion tak bisa menjawab, wajahnya kaku bukan main dikarenakan saat Frieska bertanya posisi gadis ini sedang memeluknya seolah-olah dia ini guling.
“Mobile legend,” jawab Dion singkat.
“Hmm,” Frieska memanggut-manggut.
Frieska kemudian memperhatikan Dion bermain game tersebut dengan posisi memeluk suaminya, sedangkan Dion tampak tak bisa berkonsentrasi gara-gara ini, itu bisa dilihat hero dia beberapa kali mati saat bertemu musuh.
“Mending tidur aje deh,” Dion menutup game-nya.
Frieska tertawa karena dia memang sengaja memeluk suaminya tersebut agar Dion tidak berkonsterasi memainkan game dan menemaninya tidur.
“Dipeluk aja begini, apalagi kalau bikin anak nanti kan?” Frieska menggodanya.
“Heleeeh, strong!” Dion mendengus sombong.
“Wuu gayanya, tadi pagi aja ampe mimisan,” Frieska dengan geram mengapit hidung Dion.
“Itu namanya pemanasan,” ujar Dion beralasan.
“Wuu, yaudah tidur sayang,” ajak Frieska.
“Errr jangan sering-sering manggil sayang,” pinta Dion.
“Terus manggil apa?”
“Ya yang lain kek, abang adek gimana?”
“Abang adek?”
“Iya.”
“Hmm boleh juga,” Frieska tersenyum, “Kalau gitu abang ayo tidur, kan besok abang mau nemenin adek belanja.”
“Mutar lagu boleh, gak bisa tidur kalau gak ada lagu,” pinta Dion.
“Iya,” Frieska tersenyum dan mengangguk.
Dion mengambil Handphone-nya dan berbaring, Frieska kembali memeluknya agar Dion terbiasa dengan itu apalagi mereka suami istri.
“Lagu apa?” Frieska penasaran.
“Romantis,” Dion tersenyum sambil mencari lagu yang diinginkan di-Handphone-nya.
“Tumben-tumbenan,” Frieska menyeringitkan dahi.
“Peresmian bobo sama istri,” Dion terkekeh.
“Hihihi,” Frieska tertawa dan semakin erat memeluk Dion.
“Nah ini dia lagunya.”
Sebelum memutar lagu Dion memiringkan tubuhnya hingga posisi dia berhadapan dengan istrinya tersebut.
“Boleh meluk?”
“Ya boleh abang, adek kan istri abang,” Frieska cemberut.
“Hehe kali aja ini mimpi kan,” Dion cengengesan dan memeluk Frieska.
Frieska tertawa ringan dan senang dengan posisi tidur begini, seolah-olah dirinya pengantin baru padahal sudah setahun mereka menikah.
“Selamat tidur,” Dion tersenyum dan mengusap punggung Frieska.
“Iya,” Frieska tersenyum dan memejamkan mata.
“Abang putar lagunya ya?”
“He’em,” Frieska mengangguk.
Dion kemudian menekan tombol play dan menaruh handphone-nya itu ditengah-tengahnya. Suara lagu mulai keluar dan mata Frieska tiba-tiba terbelalak.
“Abang!” seru Frieska yang sewot.
“Hahahahaha!” Dion tertawa ngakak.
Ya bagaimana Frieska tidak sewot, karena Dion memutar lagu metal dari Band Heaven Shall Burn berjudul Nowhere. Yang ada orang bukannya pengen tidur tapi mengangguk-angguk mengikuti hentakan musik.
Meskipun begitu ini adalah malam pertama mereka seutuhnya sebagai suami istri. Dan kisah mereka akan terus berlanjut sampai masanya.
T A M A T
- Beautifull Aurora ® V



WRITER/STORY
Dion

PHOTO IN BANNER
Frieska Anastasia Laksani / Saktia Oktapyani

PHOTO EDITED
Ega

MUSIC
Avenged Sevenfold - Dear God
Efek Rumah Kaca - Cinta Melulu
Heaven Shall Burn - Black Tears
Heaven Shall Burn - Nowhere

CAST
Dion D.D.W. ................................... Dion
Frieska Anastasia Laksani .............. Frieska
Melody Nurramdhani Laksani ..... Melody
Citra Apsari Laksani ..................... Citra
Biondy .............................................. Bion
Nur Leffy Ibrahim D.W ................ Leffy
Ratu Vienny Fitrilya ......................... Vienny
Saktia Oktapyani ............................. Saktia
Lidya Maulida Djuhandar ........... Lidya
Merwin Chaniago ........................ Erin
Ega Ramdi A. ............................... Ega
Shania Junianatha .......................... Shania
Shani Indira Natio ......................... Shani
Arya Habriadi Putra .................... Arya
Jessica Veranda .................................. Veranda
Shinta Naomi .................................... Naomi
Ruben Angkasa ............................. Beny
Resnu Abad S. .............................. Enu
Vicky D.S.W. ............................ Vicky
Reza D.B.W ............................. Reza
Nabilah Ratna Ayu Azalia ............ Nabilah
Adhisty Zara ............................ Zara
Hasyakyla Utami K. ................. Kyla
Viviyona Apriani ...................... Yona
Fikry Darmawan ........................ Damar
Maria Genoveva N.D.P.G ......... Desy
Andrea Bayu ............................ Bayu
Andela Yuwono .......................... Andela
Putri Farin Kartika ................... Farin
Jerry Biyanto ........................... Jerry
Budi Adja Kusuma ................... Budi
Hugo Ramdi A. ......................... Hugo
Erlangga Ginan Iskandar ....... Egi
Fahridias Adam S. ................... Diaz
Tubagus Viddy F. ....................... Viddy
Aaron Joshua ............................ Aaron
Pristanto Minarwan J.G ......... Pris

THANKS TO
Allah Subhanahu Wa Ta'ala 
Adobe Photoshop CS 6 - Buat ngedit Banner
Microsoft Word - Buat ngetik cerita
Blogger.com - Buat media untuk memuat cerita ini
Para pembaca www.melodion.xyz
JKT48 - Yang member-nya dipakai untuk delusi cerita


[Celotehan]
1. Bisa dibilang ini adalah B.A 4 yang tidak jadi saya lanjutkan dulu (Link : http://www.melodion.xyz/2017/05/beautifull-aurora-iv-part-i-what.html )
2. Seperti yang saya bilang dahulu, kalau cerita ini adalah ide pertama untuk cerita Beautifull Aurora pertama yang tidak saya pakai.
3. Tidak jadi saya pakai karena saya ingin membuat sesuatu yang tabu, yaitu menikah saat masih SMA. Karena itu ide cerita ini tidak dipakai karena menikah saat kuliah itu udah biasa. (Teman kuliah saya dulu bahkan sudah punya anak.)
4. Dibuat dalam bentuk cerpen (yang kepanjangan) karena saya malas bikin cerita bersambung lagi. Karena saya masih ada 3 cerita bersambung yang belum selesai (B.A 3, B.A 4, Numeriq)
5. Tokoh utama wanita saya ganti menjadi Frieska. Kalau ditanya kenapa tidak dilanjutkan dengan Naomi? Itu karena… ya suka-suka sayalah.
6. Tokohnya Dion lagi untuk Beautifull Aurora 5 ini. Karena saya bingung mencari nama untuk tokoh baru. Tapi gakpapalah, anggap saja tambahan untuk cerita semesta lain ~ Terlebih tokoh-tokoh yang ada saya buat sebagian saya masukan kesini.
7. Jangan tiru apapun yang buruk didalam cerita.
8. Kalau bisa tolong share setiap cerita yang dibaca diblog ini ke media social yang kalian miliki.
9. Terima kasih atas waktunya membaca cerita receh ini. 
© Melodion 2017 All Right Reserved.

Beautifull Aurora V Beautifull Aurora V Reviewed by Melodion on September 30, 2017 Rating: 5

4 komentar:

  1. baca cerita ini jadi kangen baca cerita b.a pertama hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya, rasanya seperti lg baca cerita b.a pertama tp yg ini tokohnya lebih byk, tokoh b.a 3 jg ada. coba dibikin cerbung hehehehe

      Hapus
  2. tumben bikin cerita romance lg bang wkwkw
    Lagu HSB Nowhere cocok untuk penutup, apalagi pas baca credit bawahnya wkwwk kyk habis nonton film ada lagu penggiringnya

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.