Beautifull Aurora III, Chapter 21 : Figuran Profesional

Leffy dan anggota klub film akhirnya melakukan syuting film pendek dikampus. Simak kisahnya berikut ini.

BEAUTIFULL AURORA © III
Burung-burung gereja sedari tadi berkicau dilangit pagi Jakarta, begitu juga deru knalpot kendaraan-kendaraan dijalan dan juga orasi yang dilakukan oleh seseorang ditengah jalan, diisinyalir itu adalah calon legislatif yang stress karena gagal terpilih tahun lalu. Tapi semua itu tidak menjadi persoalan penting bagi 3 orang yang  berada disebuah kampus.
“Gue Danu, mantannya Riskha,” Danu memperkenalkan diri dengan dengus bangga.
“Shania…” balas Shania seadanya, sambil melipat tangan.
“Oh Shania, pas kok, pas,” Danu memanggut-manggut.
“Apanya yang pas?” Shania menyeringitkan dahi.
“Habis ini dia bilang, pas kok nama dengan orangnya, sama-sama menarik hati,” sambung Riskha yang berdiri disamping Shania.
“Kok lo tau?!” Danu terperangah.
“Emangnya aku gak tau kebiasaan kamu?” Riskha memasang wajah singit.
“Ck! Cari gombalan baru ah,” Danu pun berkutat dengan handphone-nya untuk sekedar browsing.
Selagi Danu asyik mencari gombalan baru era anak masa kini, Shania berbisik kepada Riskha.
“Bener ini mantan kamu?”
“Iya,” Riskha mengangguk segan.
“… Pengen kugampar rasanya…”
“Apalagi aku,” Riskha memiringkan bibir.
“Kok bisa sih kamu pacaran sama dia dulu?” bisik Shania karena penasaran.
“Kemakan gombalannya, dan ketipu,” balas Riskha cuek.
“Ketipu gimana?”
“Ngakunya sepantaran, taunya adik kelas,” Riskha memiringkan bibir.
“Kasian,” Shania menepuk pundak Riskha dan memasang ekspresi prihatin.
“Jadi Shania…” Danu menaruh handphone disaku celana, “Emang siapa sih cowok yang mau lu buat begitu?”
“Gak perlu tau, pokoknya nanti ikuti saja tandaku.”
“Tapi gue kan belum bilang kalau gue setuju dengan rencana lo ini.”
“Maksudnya?” alis Shania naik sebelah.
“Ya… profit-nya apa dulu nih?” Danu cengengesan.
“Oh…” Shania memiringkan bibir dan melipat tangannya, “Bagaimana kalau bayarannya balikan lagi sama Riskha?”
“Hah! Kok aku? Kok tega sih Shan ngejual jiwa aku sama Iblis!” Riskha tak terima.
“Segitu amat lu…” wajah Danu merengut.
“Bercanda kok bercanda,” Shania tertawa renyah menepuk-nepuk punggung Riskha dan kembali dingin memandang Danu, “Bagaimana kalau 1 mangkok bakso selama hari-hari rencana ini?”
“Bakso?”
“Ya,” Shania mengangguk.
“Hah!” Danu mendesir, “Hari gini masa bayarannya bakso? Gak level gue! Untuk orang sekelas gue, gue harus dibayar ma…”
“2 mangkok?”
“Oke, Deal,” Danu menyodorkan tangan kanannya.
Jabat tangan kerjasama ini akhirnya terjalin, Shania tersenyum puas saat mengetahui harga diri Danu ternyata murah sekali, seharga 2 mangkok bakso. Lain sang pelaku, lain juga yang dikerjakan sang target.
“Tumben lu gak jemput kakaknya Viddy, Lef,” tanya Egi yang asyik bersantai diparkiran kampus.
“Katanya mau diantar bokapnya,” Leffy menjawab sambil melihat kameranya.
“Jadi syutingnya hari ini?”
“Yo’i, udah lu bilang belum sama yang lain?”
“Bilang apaan?” alis Egi naik sebelah.
“Lah?” Leffy menoleh kearah Egi, “Lu belum bilang sama orang-orang yang syuting hari ini?”
“Beeeh, emang lu ada bilang gitu ke gue?”
“Kemarin pas dirumahnya Viddy!” seru Leffy.
“Lah, kapan lu bilang gitu?”
“Ya…” Leffy terdiam, dia lalu menepuk kepalanya, “Gue lupa bilang ke lu pade!”
“Bego!” sindir Egi.
“Aaaaah!! Gue bilang dulu deh, temenin gue!” Leffy turun dari motor.
“Males gue, tuh dengan Diaz aje,” Egi menadahkan kepalanya kearah Diaz yang baru datang dengan sepeda motornya.
“Yaz!” panggil Leffy.
“Ha?” respon Diaz selesai melepas helm.
“Ikut gue!” Leffy memegang lengan kemeja Diaz.
“Eh? Kemana?”
“Udeh! Ikut aje!” Leffy menarik lengan kemeja Diaz.
“Eh? Eh? Eh?!”
Alhasil Diaz diseret-seret tanpa tahu urusannya apa dan memang sejak SMA nih anak sering digituin sama teman-temannya. Egi terkekeh melihat Diaz yang kalap diseret-seret Leffy dan melanjutkan aktifitasnya merokok diparkiran.
“Jam segini…” Egi melihat jam tangannya, “Haaah, mending gue keruangan klub.”
Egi turun dari motor, sebelum ia berjalan ia mengeluarkan mp4 player andalannya dari SMA dan juga earphone yang ia tempelkan dikedua lubang telinganya. Dipilih-pilihnya lagu baik dari lagu Berak tak cebok dari Kufaku Band sampai ke lagu Aku Ganteng dari unkown artist (alias tidak diketahui siapa penyanyinya).
Emang aneh-aneh semua playlist lagu-lagu anak ini.
Dari 250 lagu akhirnya ia memilih sebuah lagu dari Gorillaz berjudul On Melancholy Hill yang di-cover oleh Remy Sefi yang memiliki nama panggung The Socket.
Gorillaz – On Melancholy Hill
Up on melancholy hill
There's a plastic tree
Are you here with me
Just looking out on the day
Of another dream
Well you can't get what you want
But you can get me
So let's set out to sea
'Cause you are my medicine
When you're close to me
When you're close to me
So call in the submarines
'Round the world will go
Does anybody know her
If we're looking out on the day
Of another dream
If you…
Lagu tersebut mengalun dikedua telinganya dan ia melakukan perjalanannya kebarat untuk mendapatkan buku kitab suci yang dimana bisa menyelamatkan orang-orang mesum se-Indonesia dari kekuatan Internet positif Kemkominfo demi ambisinya menjadi Raja Mesum dan dielu-elukan orang-orang mesum se-Indonesia.
Oke bercanda, dia berjalan menuju ruangan klub film.
Selama perjalanannya itu Egi melirik kekanan dan melihat bapak tukang kebersihan kampus sedang menyapu halaman, ia berhenti berjalan dan kagum melihat cara menyapu bapak tersebut yang handal menarik-narik semua sampah daun dengan sapunya.
Keren, kok bisa teratur gitu ya?” pujinya dalam hati.
Selagi ia terkagum-kagum tak jauh dari jaraknya itu terdapat lokasi terjadinya perjanjian antara Shania dan Danu.
“Eh, Shan! Itu dia!” Riskha berseru saat melihat Egi dikejauhan.
“Mana?” Shania menoleh.
“Itu!”
Shania menoleh kearah dimana Riskha menadahkan kepalanya, mata Shania berbinar-binar saat melihat Egi melipat tangan dan mengangguk-angguk. Dimata Shania, Egi begitu keren karena dilihatnya Egi sedang menikmati lagu sampai membuatnya mengangguk-angguk seperti itu.
Meskipun sebenarnya…
Oh gitu cara nyapunya,” batin Egi sambil mengangguk-angguk mengerti.
Pesan dari penulis, gesture memang bisa menipu.
“Oke! Sudah waktunya!” seru Shania kepada Danu.
“Eh yang mana?”
“Itu yang disana!” Shania menunjuk target yang dimaksud.
Danu menoleh kearah yang ditunjuk, ia hanya melihat tukang sapu dan juga Egi temannya.
“Oh… yang mana?” Danu menyeringitkan dahi.
“Itu yang pake jaket hitam?!”
“Hah! Yang serius lo?” Danu terperangah.
“Iya! Ayo!”
“Eh entar-entar! Lu gak salah kan?!”
“Ya enggaklah! Yuk!” ajak Shania.
“Aku disini aja deh,” Riskha menambahi.
“Iya, eh ayo!”
“Eh? I-iya…” Danu mengangguk segan dan membatin, “Waduh! Kok dia bisa naksir sama tukang sapu?”
Kenapa Danu mengira kalau tukang sapulah target Shania? Ada 2 alasan kenapa Danu bisa berpikir seperti itu.
1. Tukang Sapu dan Egi sama-sama memakai jaket hitam.
2. Danu sudah mengenal Egi dari SMA, dan Egi terkenal pandainya naksir doang seperti hal-nya Leffy, terlebih lagi tidak ada satupun wanita dari SMA pernah naksir dengan Egi meskipun Egi lebih tampan dari teman-temannya yang lain.
Dan gara-gara pemikiran polos nan sederhana dari seorang pria maka itulah Danu mengira target Shania adalah tukang sapu, bukannya Egi.
Bego emang.
“Oke! Nanti lakukan pas jarak kita deket dengan dia!” seru Shania memberi perintah.
“I-iya…” Danu mengangguk segan.
Sementara itu tukang sapu yang merupakan bapak-bapak akhirnya selesai menumpuk dedaunan kering menjadi 1 tumpukan.
“Pak,” panggil Egi.
“Ya?”
“Gimana caranya nyapu kayak gitu pak?”
“Hah?” alis tukang sapu naik sebelah.
“Keren pak!” puji Egi dengan senyum sumringah.
“Hah? O-oh, y-yaa. Dari dulu saya terlatih melakukan ini,” tukang sapu salah tingkah karena dipuji.
“Gimana latihannya pak?”
Tukang sapu merapatkan kedua tangannya diujung gagang sapu, ia menatap langit dengan pandangan kelam seolah-olah terlampau banyak beban masalah dipundaknya. Dengan lagak pendongeng rakyat dia mulai bercerita.
“Jadi waktu itu saya masih muda, hidup saya penuh lika-liku dan curam darah. Disaat itu juga…”
Egi begitu khusyuk mendengarkan dan tukang sapu semakin mendramatisir melakukan ceritanya sampai tetangganya dibawa-bawa. Dan dipertengahan cerita tiba-tiba ada suara yang menarik perhatian mereka berdua.
“Shania!”
Egi dan tukang sapu menoleh dan melihat Danu menghampiri Shania.
“Hai,” Shania dengan senyum manis menyambutnya.
“Apa kabar? Lama tak bertemu,” senyum Danu mengembang.
“Baik-baik, ihh kamu itu yang kemana aja,” Shania memanyunkan bibir.
“Biasalah, sibuk hehehe. Makin cantik aja nih,” Danu mencolet dagu Shania.
“Hihihi dasar,” Shania tertawa renyah dan mendorong pelan bahu Danu.
Sandiwara yang dilakukan Danu dan Shania begitu menarik perhatian tukang sapu, terlebih lagi Egi. Pria ini melongo dan menyeringitkan dahi memandang keakraban Danu dan Shania.
“Jadi inget waktu saya SMA, saya bersama Juminten juga seperti itu. Jadi begini ceritanya…”
Tukang sapu kemudian bercerita penuh makna sambil melihat Danu dan Shania dikejauhan. Egi masih melongo dan baru mengetahui kalau Danu sudah mengenal Shania. Tapi mengingat Danu yang hobi mengombal dari SMA mungkin itu bukan hal yang aneh lagi bagi Egi.
Shania mendelikan matanya kearah target.
Hihihi itu ekspresi yang kuinginkan!” batin Shania saat melihat Egi melongo.
Eee buset! Nih Shania sama tuh bapak-bapak emang ada apa-apa kayaknya nih!” seru Danu saat melihat tukang sapu terlihat kusam wajahnya melihat arahnya, seolah-olah bapak tukang sapu tak senang kalau ia dekat-dekat dengan Shania.
Tanpa Danu ketahui emang begitu raut wajah tukang bapak sapu dari dulu.
“Eh kesana yuk?” Shania menunjuk tempat Riskha menunggu sedari tadi.
“Eh? Oh iya, ayo-ayo.”
Shania dan Danu mulai melangkah, demi ke-profesional-annya maka Danu mulai merangkul Shania dan melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya ditempat Riskha maka mereka berjalan memasuki koridor dan menghilang ditelan belokan.
“Kayaknya mereka pacaran,” celetuk tukang sapu.
Tak ada jawaban dari Egi, ia melepas earphone dan menggaruk kepalanya.
“Kalau begitu saya permisi dulu pak,” Egi berpamitan.
“Mau saya ceritakan bagaimana saya mendapatkan jurus menyapu yang jitu dari guru saya?”
“Nanti aje deh pak, kapan-kapan.”
“Oh iya deh.”
Egi melanjutkan perjalanannya dan dilanda kebingungan. Ia bingung sejak kapan Danu dan Shania seakrab itu. Terlebih lagi kepada Shania, dia bingung apa begitu sikap wanita yang beberapa hari yang lalu mengungkapkan perasaan kepada dirinya tetapi akrab dengan pria lain yang sangat dikenali Egi.
“Apa dia juga bilang suka gak hanya sama gue ya?” gumamnya.
Egi terus melanjutkan perjalanannya, sementara itu didekat ruangan kosong sepagi ini dikampus terlihat Shania memiting tangan Danu sampai-sampai Danu dihimpitnya keatas meja.
“NGAPAIN PAKE NYOLET-NYOLET SEGALA HAH? NGERANGKUL-RANGKUL LAGI!” seru Shania.
“ADEDEDEDEDEHH!!! KAN BIAR MEYAKINKAN!!” rintih Danu.
“Rasain! Suka nyari kesempatan sih,” Riskha cengengesan memandang mantannya.
Disaat itu juga Danu berpikir kalau ia telah salah menerima tawaran lawan bisnisnya.
BEAUTIFULL AURORA © III

BEAUTIFULL AURORA © III
Siang harinya dijadikan Leffy bersama tim-nya melakukan syuting dihalaman belakang kampus. Selagi yang lain bersiap seperti membenahkan kamera dan lain-lain maka Leffy berdikusi sebentar dengan Vienny.
“Jadi hanya di-scene ini saja kan?” tanya Leffy menunjuk naskah yang sudah dirapikan Yupi.
“Iya, emang abang mau ngambil adegan apa saja hari ini?”
“Yang ini dulu sih yang pendek, tapi kalau sempet mau ngambil adegan ini juga,” Leffy menunjuk adegan yang ada dinaskah.
“Hmm gitu,” Vienny memanggut-manggut.
“Oke,” Leffy menggulung naskah dan melihat tim-nya yang lain.
“Kalau gitu adek keperpus dulu ya?” pamit Vienny.
“Eh,” Leffy menoleh, “Jangan dong!” dan alisnya mengerut.
“Kenapa? Adek kan ada tugas.”
“Jangan pergi! Abang tak bisa hidup tanpa adek. Please, adek jangan pergi! Tegakah adek meninggalkan abang yang tak bisa hidup tanpa adek?”
“Dih! Apa-apaan sih? Gak cocok!” Vienny tertawa ringan dan memukul pelan lengan Leffy.
“Yaudah, hati-hati dijalan, ada Komo lewat tendang aje,” Leffy cengengesan dan melambai-lambaikan tangan.
“Huuh,” Vienny menoyor pipi Leffy dan melangkah pergi.
Setelah kepergian Vienny maka Leffy menghampiri Izi dan Yogi yang masih mengatur kameranya, dan tak lama kemudian datang Viddy dan Yupi.
“Etseh, calon orang pacaran darimana nih?” Yogi cengengesan, begitu juga Leffy dan Izi.
“Sialan lu!” Viddy mendengus kesal dan menoyor kepala Leffy, karena Leffy lah biang keladi sehingga orang-orang tahu rencana Viddy dan Yupi.
“Shani sama Hugo udah datang belum?” tanya Yupi.
“Shani katanya nanti kesini, dia mau nyerahin salinan tugas ketemannya. Kalau Hugo…” Izi menoleh kebelakang, “Tuh.”
Viddy dan Yupi menoleh kearah yang dimaksud, terlihat Hugo sudah duduk dengan gaya angkuh. Terlebih lagi ia memakai kacamata hitam.
“Huii lama amat?! Kurang ajar sekali kalian membiarkan Aktor mahal kayak gue menunggu seperti ini!” seru Hugo tiba-tiba sambil menyeruput minuman yang ia beli sendiri sebelumnya.
“Bentar ya pak, tunggu aje disitu,” Izi mendengus kesal, begitu juga yang lain gara-gara tingkah Hugo.
“Egi mana, Vid?” tanya Leffy.
“Latihan band katanya,” jawab Viddy sambil melihat naskah.
“Oh iya, dia katanya juga mau nampil sama teman-teman band-nya semasa SMA pas acara,” sambung Yogi.
“Sempet gak tuh anak bikin scoring buat film nanti?” tanya Izi.
“Tenang aje,” Leffy cengengesan begitu juga Viddy.
“Dia bikin lagu mah tutup mata juga bisa,” sambung Viddy.
Melihat gelagat Viddy dan Leffy yang begitu mempercayai Egi tidak membuat tim-nya yang lain khawatir. Sementara itu ada 3 orang yang misuh-misuh tak jauh dari tempat mereka berada.
“Masa kita jadi figuran? Gak adil ini!” Alfiansyah membuka forum dadakan.
“Iya nih. Masa gue jadi figuran? Orang sekelas gue ini sudah harus menjadi pemeran utama!” sambung Arik yang kesal, saking kesalnya ia sampai mengupil karena ada kotoran yang susah ditariknya.
“Yang penting gue masuk film hehe,” Asnur dengan ekspresi datarnya.
“Lu mah emang cocok jadi figuran! Muka kok gak ada ekspresi?!” Alfiansyah sewot.
“Dari lahir emang gini…” Asnur membela diri, tentu saja dengan wajah datarnya.
“Ah udahlah!” Arik mengibas tangannya, “Bagaimana kalau kita sabotase adegan ini?”
“Sabotase gimana?” Alfiansyah tampak tertarik.
“Nanti sutradara marah loh,” sambung Asnur, dengan wajah datarnya.
“Bodo amat! Mau gak nih?” Arik memain-mainkan alis penuh arti, begitu juga senyumannya yang sinis.
“Gimana-gimana?” Alfiansyah begitu menggebu-gebu.
Alfiansyah, Arik dan Asnur mulai melakukan diskusi sambil merangkul pundak masing-masing hingga berbentuk lingkaran. Sementara itu Shani yang sudah menunaikan kepentingannya melangkah ketempat Leffy dan yang lain bersama Sinka.
“Nah datang juga lu,” sambut Leffy.
“Maaf hehe, lama ya?”
“1 jam pun gakpapa kok Shan, kami maafin,” senyum Yogi mengembang.
“Geli sumpah!” Izi bergidik ngeri mendengar alunan kalimat Yogi mengandung gombal yang kentara.
“Lalu aku kapan?” Sinka cemberut.
“Besok kayaknya, mau ngambil adegan Shani sama Hugo dinaskah dulu,” ulas Leffy.
“Gitu,” Sinka memanggut-manggut, karena ia juga diminta menjadi tokoh dalam film pendek ini.
Shani mulai iseng, ditambah lagi ia mengetahui salah satu kekurangan Leffy.
“Inget gak siapa namanya?” tanya Shani sambil menepuk pundak Sinka.
“Inget dong!” seru Leffy.
“Siapa coba?” Shani memasang wajah tak percaya.
“Itu… Yonka, tenang saja,” Leffy tersenyum.
“Sinka!” Sinka mendengus kesal.
“Sinka?” Leffy melongo.
“Iya! Kan tadi pagi udah kuberitau!” Sinka melipat tangan, bibirnya manyun.
“Oh oke-oke,” Leffy memanggut-manggut.
Dirasa sudah siap waktunya maka Leffy memanggil yang lain.
“Aktor mahal!” siap-siap seru Leffy kepada Hugo.
“Gitu dong! Udah tau jam terbang gue padat minta ampun,” Hugo mendengus sombong dan beranjak dari kursi.
“Kalian A3 Figuran! Siap-siap juga!” seru Leffy kepada Alfiansyah, Arik dan Asnur, yang pasti mereka sewot disebut A3 figuran.
“Dah mau syuting nih, siap-siap Shan,” suruh Leffy kepada Shani dan menoleh kearah Sinka, “Lu duduk aje disitu, Bunka.”
“Sinka!” Sinka mendengus kesal dan menginjak kaki Leffy.
Leffy merintih kesakitan dan dikekehi sama yang lain. Tak lama kemudian mereka akhirnya siap melakukan proses syuting, yang meng-handle kamera tentu saja Leffy, Izi, Viddy dan Yogi, mereka mengambil frame dari sudut-sudut yang berbeda.
Take pertama yang diambil adalah percakapan yang dilakukan oleh Hugo dan Shani diarea kampus. Dan yang lebih menarik dari film pendek ini adalah tidak ada yang namanya pemeran utama, jadi semua tokoh yang ada difilm  bisa dibilang ‘Pemeran utama’nya.
Ini karena cerita Vienny yang tidak ingin menge-spesialkan tokoh manapun didalam ceritanya dan adegan ini untuk memperkuat plot yang ada dicerita Vienny. Jadi semua tokoh-tokoh didalam film ini akan memiliki porsi yang pas untuk memperkuat ceritanya. Dan kenapa wanita yang memiliki banyak ide nan manis ini mempunyai hubungan dengan Leffy yang bahkan dengan cepat melupakan nama orang yang baru dikenalnya?! Kenapa?! KENAPA?! KENAPAAAAAAA!
Oke lanjut kecerita.
“Nanti pas mereka berdua ngobrol, lu bertiga lewat tuh dibelakang. Pura-pura ngobrol,” Viddy mengingatkan ke-3 figuran.
“Tau-tau,” Arik mendengus kesal mewakili 2 figuran lainnya.
“Oke siap semua?” seru Leffy.
“Siap!”
“Tiga… dua… satu… Action!
Adegan dimulai dengan kedatangan Hugo, ia berjalan penuh makna seolah-olah alam menjadi sekutunya. Langkah kakinya begitu eksotis menginjak semen yang menjadi jalanan kampus sampai akhirnya tiba-tiba saja ia sengaja menjatuhkan diri sehingga membuat Leffy berteriak.
Cut!”
“Kok di-Cut?” Hugo menyeringitkan dahi.
“Lu ngapain pake jatoh segala?! Kan naskahnya gak gitu!” seru Izi.
“Improvisasi!” Hugo mendengus puas dan berkacak pinggang.
“Gigi lo improvisasi! Lu kata ini sinetron?! Gak ada apa-apa tiba-tiba jatoh, dikejer kagak apa kagak!” Leffy mendengus kesal.
“Biar lebih bermakna!” Hugo mengepalkan tangan dengan penuh semangat.
“Gue gencet lu nanti!” sambung Yogi sambil menepuk-nepuk perutnya yang gendut.
Omelan dan tiap omelan Leffy bersama teman-temannya kepada Hugo menjadi hiburan bagi Shani, Sinka dan Yupi yang melihat tingkah mereka.
“Oke! Take ke-2! Sekali lo pura-pura jatoh gue suruh Yuriva mutusin elu! Hingga lo jatuh kedalam jurang kesakitan yang dalam!” seru Leffy dengan ekspresi bengisnya, tau kan mulut sengak dan mata melotot-melotot gitu?
“Weh! Jangan dong! Udah tau itu cewek pertama gue!”
“Makanya!”
“Iye-iye! Ipar murtad lu!” Hugo menggerutu, bibirnya bawahnya manyun.
“Elu yang murtad! Lagian lu masih calon! Kecuali gue sama Viddy, udah resmi!” Leffy mendengus bangga sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Viddy.
“Resmi darimana?! Sesajen!” Viddy melotot kearah Leffy.
“Segitu amat lu, nanti kakak lu nangis gak direstuin,” gerutu Leffy.
“Bodo!” Viddy mendengus kesal.
“Eh udah! Lanjut ini take 2,” Izi memiringkan bibir, sementara itu Sinka tertawa terbahak-bahak sampai membuat Yupi bengong melihatnya.
Leffy kembali mengarahkan dan proses syuting dilanjutkan. Dengan ancaman ‘Bakalan-Diputusin-Yuriva’ maka Hugo terlihat bersungguh-sungguh melakukan aktingnya yang pas-pas an. Setelah itu giliran Shani yang memasuki Frame sebagai lawan bicara Hugo.
“Oh begitu, nanti kutanyain ke Frieska,” kata Shani yang enteng melakukan dialog dari naskah.
“Sip! Nanti lo kasih tau gue sama Diaz ya?”
“Iya, tapi apa dulu nih yang ditanyain?”
“Jadi tanyain ke Frieska…” Hugo diam sejenak dengan wajah melongo, tak lama ia melanjutkan, “… Bumi itu bulat atau datar?”
CUT!!” Leffy lagi-lagi berteriak penuh emosi.
“Nape?” Hugo menoleh tanpa perasaan tak bersalah.
“Lu ngapain nanyain Bumi datar atau bulat?! Naskah planet mana yang lo hapalin?!” seru Yogi.
“Gue lupa dialognya!” seru Hugo yang tak mau disalahkan.
“Jangan pake improvisasi elo! Improvisasi elu sesat!” Viddy kesal dan menunjuk Hugo.
“Ah! Udah! Apalin lagi nih dialog!” Izi melempar naskah kearah Hugo.
Sebenarnya dalam akting improvisasi itu memang kadang diperlukan dan menjadi sesuatu yang alternative dalam proses pembuatan film. Hanya saja dialog improvisasi yang diucapkan Hugo melenceng jauh. Karena dialog didalam naskah menyebutkan kalau Hugo seharusnya bertanya kepada Shani dimana tempat mereka berkumpul nanti bersama Frieska, bukannya menjurus keurusan debat kusir seperti Bumi itu bulat atau datar.
Jauh sekali bukan?
“Oke gue udah hapal!” seru Hugo dengan senyum sombongnya.
“Awas kalau salah lagi,” gerutu Leffy.
“Tenang aje.”
Mereka kembali melakukan proses syuting untuk mengambil take ke-3, Shani dan Hugo melakukan perbincangan dari dialog sampai akhirnya.
CUT!” sekarang Izi yang berteriak.
“Nape Zi?” tanya Leffy mewakili yang lain.
“Lu jangan ngobrol sambil liat kamera gue! Liat Shani-nya!” Izi sewot menunjuk Hugo.
“Eh?” Hugo melongo.
“Jangan sadar kamera! Adooh mak!” Viddy menepuk kepalanya.
Sory-sory hehehe,” Hugo cengengesan tanpa dosa sama sekali.
Semua mengeluh dan proses syuting kembali dilanjutkan untuk mengambil take ke-4. Selama proses itu tiba-tiba saja Viddy berteriak.
CUT!
“Apa lagi?” Hugo menyeringitkan dahi.
“Bukan elu! Tapi Shani!”
“Hihihihi,” Shani cekikikan daritadi.
“Nape lu Shan?” Leffy menyeringitkan dahi.
“Mukanya lucu kalau lagi serius,” Shani tanpa dosa menunjuk Hugo, Hugo memiringkan bibir.
Gara-gara itu dengan terpaksa mereka mengambil take ke- 5. Tapi belum dimulai tiba-tiba saja Yogi berteriak.
CUT!
“Belum juga mulai!” Hugo sewot.
“Apalagi?!” tanya Viddy sebal.
“Gue sakit perut! Bentar!” dan Yogi ngacir untuk mencari toilet.
Dengan itu terpaksa mereka menunggu Yogi menuntaskan proses alaminya. Sedangkan Yupi tertawa sedari tadi tapi bukan menertawakan kejadian tadi, tapi ia tertawa melihat Sinka sedari tadi tertawa terbahak-bahak karena proses syuting gagal melulu. Viddy, Izi dan Leffy mendengus kesal mendengar suara tawanya sedangkan Hugo kembali melakukan sikap aktor mahal, nyantai duduk sambil memakai kacamata hitam.
Akan tetapi ada juga yang kesal sedari tadi daripada yang lain.
INI KAMI KAPAN NAMPILNYA?!!” batin Alfiansyah, Arik dan Asnur berbarengan.
Itu karena mereka sudah sedari kepanasan menunggu instruksi dari Viddy agar masuk ke-frame, tapi karena sedari tadi take gagal dilakukan maka karena itu mereka sedari tadi berjemur sinar Matahari dan terus menunggu instruksi.
Jiwa figuran profesional mereka patut diacungi jempol! Mantap jiwa!
BEAUTIFULL AURORA © III

BEAUTIFULL AURORA © III
Vienny yang sudah menyelesaikan tugas bersama Uty hendak keluar dari perpustakaan. Sesampainya diluar mereka berdua berpapasan dengan Frieska, Hanna, dan Ayana.
“Eh kak Inyi, kak Uty,” sapa Ayana.
“Darimana Nyi?” sambung Hanna.
“Basa-basi segala, udah tau mereka baru keluar dari perpus,” sambung Frieska ketus ke Hanna.
Vienny dan Uty cekikikan, setelah itu Vienny bertanya.
“Sonia mana?”
“Lagi makan dikantin, kakak sendiri mau kemana?” tanya Ayana.
“Mau kekantin juga sih, kalian?” Uty bertanya balik.
“Sama! Yaudah sama-sama yuk?” ajak Frieska yang mulai mengapit pergelangan tangan Vienny dengan tangannya.
Mereka ber-lima hendak pergi kekantin akan tetapi langkah mereka berhenti saat ada suara yang memanggil salah satunya.
“Inyi! Inyi!”
Vienny dan yang lain menoleh kebelakang dan melihat Shani tergopoh-gopoh menghampirinya disusul Danu dan juga Riskha.
“Kenapa, Shan?” tanya Uty sambil melihat Danu yang diseret Shania dengan cara menarik kerah kemeja belakangnya.
“Loh, Danu? Kenapa lu?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Itu…”
“Inyi! Leffy sama tim-nya syuting dimana?” Shania memotong ucapan Danu.
“Dihalaman belakang… kamu kenapa?” Vienny heran melihat tingkah Shania.
“Ada Egi gak disana?” lanjutnya lagi.
“Egi… kalau gak salah sih gak ada, itu siapa yang kamu tarik?” alis Vienny naik sebelah melihat Danu yang ditarik Shania.
“Ck, dimana sih?” Shania terlihat gelisah.
“Nyari Egi?” tanya Ayana.
“Kamu tau?” mata Shania berbinar-binar.
“I-iya,” Ayana mengangguk-angguk segan.
Shania melepaskan cengkaraman dikerah kemeja Danu dan memegang kedua bahu Ayana.
“Dimana? Dimana?” tanyanya sambil menggoyang-goyang tubuh Ayana.
“A-UU-AA-AA-UUU,” dan tentu saja Ayana kesusahan menjawab dengan kondisi badan maju mundur seperti itu.
“Egi lagi latihan band,” sambung Frieska.
“Dimana?” sekarang gantian Frieska yang diperlakukan seperti Ayana sehingga Frieska kesusahan menjawabnya.
“Difakultas seni,” sekarang Hanna yang menjawab.
“Oh!” mulut Shania membulat dan kali ini giliran Hanna yang menjadi korbannya, “Terima kasih! Terima kasih!”
“A-U-A-A-A!” dan hanya itu jawaban Hanna.
“Oke!” Shania kembali mencengkram kerah kemeja Danu, “Kalau begitu aku permisi ya? Terima kasih!”
“Eh istiraha… WUAAAAA!!!” teriak Danu tiba-tiba.
Bagaimana dia tidak berteriak, karena Shania begitu beringas berlari sambil menarik-nariknya sehingga Vienny, Uty, Frieska, Hanna dan Ayana melongo dibuatnya.
“Kalau begitu aku juga permisi,” setelah berpamitan Riskha buru-buru menyusul Shania dan Danu.
Setelah kepergian Shania, Danu dan Riskha. Maka yang disisakan adalah sebuah misteri, yaitu Misteri ‘DITARIK-TARIKNYA-MAHLUK-PENGGOMBAL-BERNAMA-DANU-OLEH-SHANIA’ dan tentu saja yang menganggap itu misteri hanya Frieska dan Ayana, karena Danu juga teman mereka sewaktu SMA.
“Hmm yaudah yuk lanjut kekantin,” Uty membuka suara.
Dan mereka berlima melanjutkan perjalanan mereka kekantin.
BEAUTIFULL AURORA © III

BEAUTIFULL AURORA © III
Didalam studio yang berada di-Fakultas Seni terlihat Egi, Coky dan 2 kakak kelas mereka waktu SMA yaitu Irgi dan Lutfi sedang melakukan latihan band.
“Okelah lagu terakhir, tapi yakin gak nih lagu ini kita bawain?” tanya Lutfi kepada Egi.
“Gue sering mainin lagu ini dirumah,” ujar Egi sambil melemaskan jarinya.
“Lagu klasik dijadiin Rock, oke punya!” Irgi cengengesan.
“Yaudah! Langsung aje!” seru Coky sambil mengetuk simbal drum.
Dalam Band ini tentu saja mereka memiliki porsi masing-masing. Coky memainkan drum, Irgi memainkan bass, Lutfi memainkan gitar begitu juga Egi. Dan untuk urusan vocal diserahkan kepada Lutfi karena hanya dia sendiri yang suaranya paling bagus. Akan tetapi lagu yang hendak mereka mainkan sekarang ini tidak akan memakai vocal sama sekali alias  full instrument. Dan Egi mengubah posisinya menjadi pemain keyboard.
“Udah siap?” tanya Egi.
“Udeh!” Irgi mewakili 2 lainnya.
“Oke!” seru Egi.
Alunan dentingan keyboard mengalir dari tangannya Egi dan disambung oleh rekan-rekan band-nya yang lain. Sebuah lagu berjudul Kolibre dari pianis Maksim Mrvica yang menjadi pilihan mereka. Lagu klasik modern ini di-cover mereka dengan nuansa music Rock yang kental.
Jemari tangan Egi yang begitu lihai memainkan keyboard dan juga distorsi gitar begitu nikmat didengar, terlebih lagi dentuman bass dan gebukan drum mengimbangi itu semua. Mereka ber-4 terlihat semangat memainkan lagu ini, peluh keringat menjadi saksi kearifan mereka terhadap musik.
“Mantap! Sip-sip!” Lutfi memanggut puas setelah mereka selesai menyanyikan lagu.
“Senar gitar lu aje ampe putus,” Irgi terkekeh menunjuk senar gitar Lutfi.
“Okelah, besok kita sempurnain lagi. 3 lagu kan?” tanya Coky sambil beranjak dan mengelap keringat dengan handuk kecil.
“Oh iya, apa nama band nya nih?” Egi bertanya setelah selesai minum.
Suasana mendadak hening, mereka saling melihat satu sama lain.
“Iya ya, apa nama bandnya?” Lutfi cengok.
“Eee buset! Gue kirain lu udah nyiapin nama!” seru Coky kepada Irgi.
“Ah gimana kalau make nama band abangnya Hugo… apa itu kalau tak salah…” Irgi mencoba mengingat-ingat, “Ah PanicMonkey!”
“Jangan, udah dipake Leffy buat klub film,” sanggah Egi.
“Oh iya, tuh klub film kalian udah jadi?” tanya Lutfi.
“Udah daridulu keles,” Egi memiringkan bibir.
“Abangnya Leffy sama Hugo masih nge-Band?”
“Udah enggak,” Egi menggeleng.
“Eh terus apa namanya nih?”
“Hmm,” Egi, Irgi dan Lutfi mengurut dagu dan berpikir.
Egi kemudian memandang gitar Lutfi, begitu juga dengan yang dilakukan Irgi.
“Kenapa lu ngeliatin gitar gue?” tanya Lutfi penasaran.
“Bagaimana kalau nama band kita ‘Senar putus’?” tanya Irgi dengan senyum sumringah.
“Gua juga baru mikirin itu,” begitu juga Egi.
“Eeee buset! Jelek amat!” Lutfi dan Coky kaget.
“Sudahlah, apalah artinya nama. Yang penting nama band ini ada,” ujar Egi penuh wibawa dengan kedua tangan direntangkan.
“Ya ada artinya lah! Coba lu bayangin misalnya ada bunga yang cantik bentuk dan wangi harumnya tapi dinamakan Tai mencret! Ilfil gak lo?” Lutfi sewot.
“Iya juga sih, tapi udahlah. Lagian nama Senar Putus mewakili kita,” ujar Irgi sambil menaruh bass.
“Maksudnya?” Coky menyeringitkan dahi.
“Kita ini sangat semangat nge-Band! Saking semangatnya senar gitar aje ampe putus! Itulah arti nama band kita sesungguhnya!” Egi mendengus semangat, sambil mengepalkan tangan kanannya.
“Betul sekali, filosifi nama band ini begitu mendalam bagi orang-orang yang mencintai musik!” sambung Irgi.
“… Terserah lo berdua deh,” Coky dan Lutfi memiringkan bibir.
Dan sejak itulah nama band mereka terbentuk, yaitu SENAR PUTUS. Sebuah nama yang diambil dari pemikiran yang… yang… yang bahkan penulis sendiri tidak tega mengomentarinya.
Bunyi ketukan pintu menarik perhatian mereka berempat. Karena Egi yang paling dekat pintu maka ia yang membukanya.
“Loh pak!” Egi kaget karena tukang sapu halaman yang ada dihadapannya.
“Kalian udah selesai? Pak Marwin tadi nanyain soalnya ada band lain juga yang mau make.”
“Oh udah-udah,” Egi mengangguk, “Kok ada disini pak? Gak nyapu-nyapu lagi?”
“Yee masa nyapu melulu, kan tugas bapak masih ada yang lain,” tukang sapu memiringkan bibir.
“Emang selain nyapu bapak ngapain?”
“Ya ngebersihin lingkungan kampus, kan bapak petugas kebersihan.”
“Oh gitu,” Egi memanggut-manggut.
“Kalian keluar dululah, pak Marwin tadi juga minta tolong sama bapak buat beresin ruangan musik sehabis kalian pakai.”
“Oh iya deh.”
Egi meminta anggota band-nya untuk berberes-beres dan merapikan alat musik mereka, karena Egi tidak membawa alat musik apapun maka ia menunggu diluar bersama bapak tukang sapu. Egi mengeluarkan bungkus rokok dan menaruh sebatang dimulutnya.
“Rokok pak?”
“Oh tak usah,” bapak tukang sapu tersenyum.
“Oh hehe ane kirain bapak perokok.”
“Maksud bapak tak usah ragu-ragu,” bapak tukang sapu cengengesan dan mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok Egi, dan tentu saja bibir Egi miring dibuatnya.
Dengan tokai yang dihidupkan Egi maka mereka berdua membakar ujung rokok dan menghisap asap dengan penuh sensasi.
“Bapak dari kapan merokok pak?” Egi berbasa-basi sambil menghisap rokok.
“Dari tamat SMA,” jawab sang Bapak dengan gaya tak jauh berbeda.
“Saya pas kelas 1 SMA,” Egi mendengus puas.
“Ah… sebenarnya sih pas lulus SMP,” sang Bapak tersenyum dan menghisap rokok.
“Kalau boleh jujur sih pak saya dari kelas 2 SMP ngerokok,” Egi kembali membalas.
“Tapi mulai kecanduan sih pas kelas 1 SMP,” tambah si Bapak.
“Err ane pas lulus SD mulai merokok.”
Dan entah kenapa mereka berdua malah saling berbohong dan tak mau mengalah soal berapa lama pengalaman mereka merokok. Mungkin inikah yang namanya ‘Gengsi pengalaman’ dalam urusan merokok? Para pembaca wanita mungkin akan sulit mengerti akan hal ini.
“Kelas 5 SD!” bapak melotot sambil menghisap-hisap rokok.
“4 SD!” balas Egi menggebu-gebu.
“Dari kelas 1 SD!” si Bapak pun tak mau kalah.
“TK!” seru Egi.
“Dari lahir!” dan si Bapak semakin ngaco bohongnya.
“Ee buset!” si Egi malah percaya, bego emang.
Selagi mereka berbicara tak tenturudu, lagi-lagi perhatian mereka tertuju kepada suara yang tak jauh dari tempat mereka berada, dan tentu saja itu bukan suara anggota band-nya Egi yang masih berberes-beres didalam ruangan.
“Shania!” seru Danu.
Shania menoleh ala FTV, senyumnya mengembang.
“Dani! Kamu darimana aja?”
“Danu, Shania. Masa lupa?” Danu memiringkan bibir.
“Eh iya, maaf,” Shania membetulkan rambutnya disela telinga, “Habisnya semenit gak ketemu kamu jadinya lupa.”
“Ah bisa saja kamu,” Danu cengengesan.
“Hmm,” Shania tersenyum dan mendelikan matanya kearah Egi yang melongo, ia pun membatin, “Ayo, bagaimana perasaan kamu sekarang?!
Ya Tuhan… serem amat muka tuh bapak…” begitu juga Danu, hanya saja ia berpikir untuk bapak tukang sapu yang emang daridulu begitu raut wajahnya.
“Mereka kok ada dimana-mana ya?” komentar bapak tukang sapu pelan.
“Hmm,” alis Egi naik sebelah, bibirnya miring.
Sementara itu Danu dan Shania kembali berbincang.
“Kamu mau kemana, Shan?”
“Nungguin kamu,” Shania tersenyum manis, matanya menyipit dan tompelnya… oh tompelnya tidak berpindah dari tempatnya, masih ditempat semula.
“Asek hehehe, kalau gitu bagaimana kalau kita kekantin?”
“Ngapain?”
“2 mangkok,” Danu tersenyum penuh arti.
“Oh,” senyum Shania mengembang, dia menoleh kearah lain agar raut wajahnya yang sengak memandang Danu tidak dilihat oleh Egi, ia kemudian berbisik, “Nanti saja! Tahan dulu kenapa?!”
Danu juga melakukan hal yang sama dan berbisik.
“Eh! Gue ini belum makan dari pagi! Tega amat lu! Udah tadi gue diseret-seret!”
“Nanti saja!”
“Nanti kapan?”
“Pas dia nyamperin!” Shania melotot.
“Nyamperin?” Danu terperangah, ia menoleh dan melihat raut wajah bapak tukang sapu yang tajam memandangnya. Danu menelan ludah dan kembali berbisik.
“Sekarang aje! Gila seram amat tuh mukanya! Ngeri gue!”
“Hah?” Shania menyeringitkan dahi, ia sedikit menoleh kebelakang untuk melihat Egi, “Serem darimananya muka Egi…” pikirnya.
Alis bapak tukang sapu ikut-ikutan naik sebelah karena ia bersama Egi melihat Danu dan Shania berbicara berbisik-bisik dengan posisi memunggungi mereka apalagi mereka berdua heran melihat sikap Shania dan Danu yang terkadang mencuri pandang untuk melihat mereka berdua. Sampai akhirnya Coky keluar sambil membawa kemoceng dari dalam ruangan.
“Eh pak Anwar rupanya,” Coky cengengesan memandang lawan bicara Egi sedari tadi yang bernama pak Anwar.
“Kenapa malah kau bawa keluar kemocengnya?” pak Anwar menyeringitkan dahi sambil menghisap rokok.
“Biar bapak gak capek nyari lagi hehe,” Coky terkekeh dan penasaran dengan Egi yang terus memandang lurus kedepan, “Ngeliatin apaan lu?”
“Tuh,” Egi menadahkan kepalanya kearah Shania dan Danu dikejauhan.
Coky melihat salah satu orang yang dikenalnya dan tidak mengenal lawan bicara teman SMA-nya tersebut. Dan Coky termasuk orang yang suka menganggu teman-temannya dalam kondisi seperti ini, karena itu dengan lantang ia berbicara.
“WOI DAN!!!” teriaknya kepada Danu sambil mengibas-ngibas kemoceng diudara.
Danu dan Shania kaget, Danu menoleh dan melihat Coky memanggilnya. Akan tetapi debu-debu dari kemoceng yang dikibas-kibaskan Coky menyerang hidung Egi dan pak Anwar. Hingga pada akhirnya.
“HAAAAACHEEEEEEM!!!” pak Anwar bersin dengan suara menggelegar.
“Buset pak! Kenceng amat!” Coky kaget dan mengelus-elus dadanya, begitu juga Egi yang tak jadi bersin gara-gara kaget.
“Gara-gara kau ini! Hacheeem!! Hacheeem!!” pak Anwar melanjutkan aktifitasnya.
“Sebut Alhamdullilah kalau bersin pak,” Egi memberi nasehat.
Sementara itu ditempat Shania.
“Ya ampun, ngagetin aja,” gumam Shania sambil mengelus dada, ia kemudian menoleh kedepan, “Jadi… loh?” Shania menyeringitkan dahi.
Kenapa ia menyeringkan dahi? Itu karena sosok Danu sudah lenyap dari hadapannya. Shania mencari-cari sosok Danu dan terlihat pria itu sudah jauh melarikan diri.
“Eh? Eh? Danu! Danu!” Shania segera berlari untuk menyusulnya.
“HAH! HAH! HAH! GUE MAU DILABRAK TUH BAPAK! GUE MAU DILABRAK!!!” racau Danu tak jelas, keringat dinginnya keluar.
Ditempat Egi, Lutfi dan Irgi akhirnya menyusul mereka diluar dan pak Anwar lantas masuk untuk berberes-beres.
“Jadi kemana nih?” tanya Irgi sambil memanggul tas bass-nya.
“Keruangan klub Diaz aje, ada DVD disana,” ajak Coky.
“Yaudah deh, lo ikut gak Gi?” tanya Lutfi ke Egi.
Egi masih bersin-bersin ringan, tapi ia menjawab.
“Gue mau ketempat Leffy syuting dulu.”
“Oh yaudah deh, yok!” ajak Coky kepada Irgi dan Lutfi.
Mereka bertiga meninggalkan Egi yang masih menggesek-gesek hidungnya dengan telunjuk jari. Mengingat perilaku Shania dan Danu tadi membuatnya berpikir akan sesuatu dan entah kenapa pikirannya sedikit encer dengan masalah ini.
“Mencurigakan,” gumamnya.
Egi melangkahkan kakinya menuju halaman belakang kampus yang dimana anggota klub filmnya sedang melakukan syuting.
****
Lalu dihalaman belakang kampus Leffy dan lain sudah melakukan proses syuting walau harus beberapa kali mengulang take karena ulah konyol mereka sendiri, salah satu contohnya adalah Egi, Leffy, Viddy dan Izi lupa menekan tombol untuk merekam padahal Hugo dan Shani sudah melakukan akting dengan baik.
Contoh lainnya? Oh ada, bahkan barusan terjadi.
Itu saat kedatangan Vienny dan Uty untuk melihat proses syuting. Saat proses mengambil adegan Hugo dan Shani tiba-tiba Leffy malah berlari dengan riang gembira menyambut Vienny, akan tetapi dipiting juga kepalanya dengan suka cita oleh Viddy karena 2 sebab. Sebab pertama karena Leffy hendak menghampiri kakaknya, yang kedua gara-gara itu adegan dari frame-nya Leffy dan dia tak terekam gara-gara tingkah Leffy.
“Leffy emang suka gitu ya kekamu?” tanya Uty ke Vienny.
“Terkadang,” Vienny menahan tawanya melihat sikap Leffy barusan.
“Ya ampun ini kapan selesainya?” Sinka tertawa ngikik sampai-sampai keluar air matanya.
“Hihihi,” begitu juga Yupi, tapi dia tertawa karena melihat Sinka yang begitu lucu baginya bila melihat adik Naomi ini tertawa.
“Oke! Take ke-20!” seru Leffy dengan rambut acak-acakan sehabis diamuk massal oleh Hugo, Yogi, Izi dan Viddy. Ditambah Shani, dia pengen ikut-ikutan saja mengacak-acak rambut Leffy.
“Sekali lagi ada halangan, lu gue pecat jadi ketua klub!” Viddy mendengus kesal dan diiyakan oleh Izi dan Yogi.
“Bodo!” Leffy memalaskan wajahnya, memasang topi dan membalikan arahnya, “Oke siap. 3… 2… 1, ACTION!!
Adegan Shani dan Hugo kembali terulang, karena sering diulang-ulang begini mereka sampai hapal dialognya diluar kepala. Sekarang proses syuting begitu lancar tanpa gangguan.
“Oke, tapi kalau bisa kerumah aku dulu nanti buat bawain barangnya,” kata Shani dengan dialog yang ada dinaskah.
“Pake motor masih bisa kan?” sambung Hugo.
“Ya,” Shani mengangguk.
Dialog demi dialog terus diutarakan oleh Hugo dan Shani. Viddy yang merasa sudah waktunya memberi latar para mahasiswa kemudian menoleh kebelakang dan berbisik.
“Kalian siap-siap.”
“Akhirnya!” Alfiansyah, Arik dan Asnur bernafas lega.
Mereka bertiga beranjak dari tempat mereka menunggu yang bisa dibilang tempat yang tidak teduh sama sekali. Jadi bisa dibilang mereka itu daritadi berjemur sinar Matahari. Untung saja mereka ini manusia, bukan ikan asin. Kalau ikan asin rasanya pengen digoreng habis dijemur, lumayan buat dijual.
“Oke! kita lakukan!” bisik Arik pelan dengan peluh keringat dan dijawab anggukan kepala oleh Alfiansyah dan Asnur.
Alfiansyah, Asnur dan Arik berjalan dibelakang yang menjadi tempat Hugo dan Shani sedang melakukan adegan saling berbicara. Leffy awalnya meminta mereka bersikap biasa-biasa saja dan berpura-pura mengobrol agar kesan kampus makin terasa.
Tapi karena kesal dianggap FIGURAN maka mereka sepakat melakukan sabotase.
Sabotase-nya tidak terlalu gimana, mereka hanya tidak menuruti permintaan Leffy sebelumnya bahkan mereka melakukan dengan gaya mereka sendiri.
Alfiansyah tiba-tiba melakukan kayang.
Asnur malah melakukan tarian Gangnam Style membelakangi kamera.
Sedangkan Arik tertawa terbahak-bahak melihat mereka berdua, tentu saja tawa itu adalah tawa buatan.
Jadi selama percakapan Hugo dan Shani tersebut, maka tak jauh dibelakang mereka terlihat Alfiansyah, Asnur dan Arik melakukan gaya-gaya aneh. Leffy yang kebagian frame menyeringitkan dahi melihat mereka bertiga.
“HEI LO MAU KEMANA?”
“UWAAAAAA!!”
Bahkan ditempat A3 tersebut lewatlah Danu yang kelabakan berlari dan dikejar-kejar Shania dibelakangnya. Mereka bertiga melongo melihat hal itu dengan wajah polos nan bego. Tapi mengingat sabotase yang ingin mereka lakukan maka mereka melanjutkan aksinya.
Alis Leffy naik sebelah melihat hal itu dikameranya.
Tak lama kemudian apa yang menjadi tugas mereka selesai, itu dengan tanda dari Leffy yang berteriak.
CUT!
“Apalagi?” Hugo memiringkan bibir.
“Ya udah selesai, mau lagi?” tanya Leffy.
“Udah?” tanya Hugo.
“Iya, kan dialog kita hanya sampai disitu,” Shani memiringkan bibir.
“Akhirnya,” Hugo tersenyum puas, ia memakai kacamata hitamnya lagi dan bergaya bak Aktor Korea yang tak laku.
Viddy, Izi dan Yogi kemudian menghampiri Leffy dan memperlihatkan rekaman yang mereka ambil. Setelah itu mereka bertiga bergabung bersama yang lain akan tetapi Leffy malah berjalan menghampiri A3.
“Hei kalian!” seru Leffy.
“Hehe dia pasti marah?” ujar Alfiansyah dengan senyum sinis kepada Asnur dan Arik.
“Udah pasti, masa calon aktor dijadiin figuran,” dengus Arik sombong.
“Kalau gue disalahin, dosa gue ditanggung lu berdua ya? Kan gue dipaksa kalian,” ujar Asnur dengan wajah datarnya.
“Iye-iye,” Alfiansyah dan Arik memiringkan bibir.
Leffy terus berjalan menghampiri 3 orang ini, tatapan matanya tajam, raut wajahnya serius. Ia pun akhirnya sampai dan memandang mereka bertiga.
“Apa yang kalian bertiga lakukan tadi?” tanyanya dengan nada serius.
“Pengen aje, iya gak?” tanya Alfiansyah enteng kepada Arik.
“Iya, anggap aja improvisasi,” sambung Arik dengan senyum angkuh.
“Hmm,” gumam Leffy sambil mengangguk-angguk.
Leffy kemudian memegang bahu Arik dan Alfiansyah dengan kedua tangannya, lalu tubuh mereka dipepetkan yang dimana Asnur kegencet karena ia berada ditengah.
“Kalian!” seru Leffy dengan mata melotot, giginya mengatup geram.
Hehehe bodo amat kalau lo mau marah-marah,” batin Alfiansyah dan Arik sinis.
“Sempurna banget!” senyum Leffy tiba-tiba mengembang.
“Hah?!” Alfiansyah, Arik dan Asnur melongo.
“Gila! Kalian bertiga hebat sekali! Gue salut sama kalian! Emang gak salah gue memilih kalian buat jadi figuran hahahahaha!” Leffy tertawa dan menepuk pundak mereka satu per satu.
Alfiansyah, Arik dan Asnur bengong, sampai akhirnya Arik mengeluarkan suaranya.
“Kok lo gak marah?”
“Ng? Ngapain juga gue harus marah? Akting kalian tadi benar-benar membantu adegan tadi,” Leffy tersenyum puas dan memain-mainkan alis tebalnya.
“Maksudnya?” Alfiansyah menyeringitkan dahi.
“Jadi begini,” Leffy menghidupkan rokok dan menghembuskan kearah Asnur, Asnur terbatuk-batuk dengan wajah datarnya, “Kalian tadi melakukan apa yang tadi terlintas dipikiran gue sebelumnya!”
“Maksudnya? Kami benar-benar gak ngerti.”
“Kirain ngerti,” Leffy memiringkan bibir, “Jadi tadi gue merasa kalau kalian bertiga hanya mengobrol-ngobrol saja itu bakalan basi, klise! Disetiap film pasti begitu, akan tetapi kalian telah melakukan sesuatu yang unik apalagi pas dengan suasana kampus.”
“Gue gak ngerti…” sambung Arik.
“Kalian tadi telah melakukan hal-hal konyol yang biasanya dilakukan para mahasiswa disaat lagi bersama-sama!” senyum Leffy mengembang, “Hal itu bukan hal yang aneh lagi bukan? Apalagi bagi kita mahasiswa-mahasiswa, kita pasti pernah berbuat aneh-aneh dan konyol pas gabut atau lagi bersama-sama.”
Alfiansyah, Arik dan Asnur kembali melongo.
“Ditambah tadi ada orang yang dikejar-kejar cewek! Gila! Ini keren sekali, seolah-olah hal-hal yang ada dikampus terekam menjadi 1 frame! Tingkah konyol kalian dan orang kejar-kejaran tadi! Itu benar-benar mendukung adegan yang barusan kita rekam!”
Alfiansyah, Arik dan Asnur masih melongo.
“Tapi 2 orang tadi siapa ya? Gak keliatan jelas dari kejauhan, ah sayang sekali. Mereka bisa itu gue rekrut buat nemenin kalian jadi figuran,” Leffy terlihat pasrah, ia berkacak pinggang dan menggeleng-geleng kepala.
Alfiansyah, Arik dan Asnur masih melongo.
“Dan kalian!” Leffy kembali menepuk pundak Arik dan Alfiansyah kemudian menggencet Asnur yang ditengahnya, “Kalian benar-benar hebat! Kalian benar-benar Figuran yang gue mau! Gue berdoa semoga kedepannya kalian menjadi Figuran professional dan dipakai semua industri film!”
Alfiansyah, Arik dan Asnur masih melongo.
“Kalau begitu gue pergi dulu, dan soal bayaran beres! Hehe, makan-makan kita di rumah Yogi. Oke? dah gue cau dulu! Hambredeeeee!!!” Leffy menepuk tangannya sekali dan menunjukkan kedua telunjuknya kearah Alfiasnyah, Arik dan Asnur yang masih melongo.
Leffy menghampiri tim-nya yang asyik bersantai dimeja taman kampus. Sambil membereskan alat maka Leffy berbicara.
“Pinka.”
“Sinka!” Sinka melotot.
“Iye-iye,” Leffy memiringkan bibir, “Besok giliran lu ya sama temen gue Diaz?”
“Iya, santai saja,” jawab Sinka cuek.
“Oh udah selesai?”
Leffy dan yang menoleh melihat kedatangan Egi menghampiri tempat mereka.
“Baru datang lu, soal scoring gimana?” tanya Izi sambil memasukan kamera didalam tas.
“Besok malam dah,” Egi menguap.
“Nanti malam kerumah lu lagi, Vid?” tanya Yogi.
“Boleh aje, laptop lu kan dirumah gue,” jawab Viddy cuek.
“Eh mana bayaran artisnya nih?” Shani tersenyum penuh arti.
“Gampang itu, yaudah yuk semua kekantin. Yogi yang bayar!” seru Leffy semangat.
“Beh! Katanya patungan?!” Yogi sewot.
“Kan lo orang kaya ditim ini, pelit amat lu,” Hugo mendengus kesal.
“Gak melorotin juga kali,” Yogi memiringkan bibir.
“Bercanda, yaudah yuk kekantin. Adek ajak saja temannya,” pinta Leffy kepada Vienny.
“Boleh Yog?” tanya Uty.
“Gakpapalah sekalian, lagian patungan,” balas Yogi sambil memangku tas.
“Boleh nambah gak?” Egi cengengesan.
“Karena lu tadi yang gak ada, lu bawa nih tripod-tripod kami!” ujar Izi tanpa beban.
“Sialan lu,” Egi memenclekan bibirnya, tapi ia bersedia membawa tripod kepunyaan Leffy, Izi dan Yogi.
Sebelum mereka beranjak tiba-tiba Viddy menahan tubuh Leffy.
“Entah-entar, tadi lu manggil kakak gue apa?”
“Adek, kenapa?”
“Adek?” wajah Viddy sengak bukan main.
“Yaelah, masa istri? Kan gue belum nikah sama kakak elu.”
“Istri?!” Viddy semakin sengak.
“Inyi, tolong adikmu gih,” Leffy menoleh kearah Vienny dan menunjuk Viddy.
“Inyi?!!!”
“Diem lu ipar!” Leffy kesal dan memiting kepala Viddy sambil berjalan mendahului yang lain.
“Viddy sama Leffy suka begitu ya, Vin?” tanya Uty.
“Sering,” Vienny tertawa ringan melihat tingkah Leffy dan adiknya.
Leffy dan yang lain meneruskan perjalanan mereka untuk kekantin, karena proses syuting adegan pendek ini benar-benar menyita waktu gara-gara melakukan kesalahan dalam proses syuting. Tapi dari raut wajah Leffy dan timnya tampak puas karena adegan ini akhirnya selesai dan menunggu proses syuting selanjutnya.
Anyway… Alfiansyah, Arik dan Asnur masih melongo.
[Bersambung]
BEAUTIFULL AURORA © III
[Celotehan]
Kalau pun cerita yang saya buat (re : B.A 3, 4 dan Numeriq) tidak sempat saya selesaikan diwaktu saya total berhenti menulis. Saya akan membuat orang-orang yang membaca cerita-cerita saya akan tahu bagaimana akhiran ceritanya nanti.
Trust me.


© Melodion 2017 All Right Reserved – Beautifull Aurora III

Milo (Numeriq)

Beautifull Aurora III, Chapter 21 : Figuran Profesional Beautifull Aurora III, Chapter 21 : Figuran Profesional Reviewed by Melodion on November 25, 2017 Rating: 5

5 komentar:

  1. Anjerr gue kembali lagi di BA wkwkw mantep bang.

    BalasHapus
  2. Sadis mantap bang usahakan tamatin lah bang jangan Tanggung hehehe tapi tetap Mantap ceritanya

    BalasHapus
  3. Selesaikan lah dulu bang๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  4. filosofi nama senar putus benar" menggugah hati wkwkwkwk

    BalasHapus
  5. Menurutku mas dion terusin saja menulis, tp jgn dlm bentuk FF lagi. jujur saja selama aku membaca cerita2 mas dion ini cerita2nya benar2 original, hanya memakai nama member agar mudah dikenal org awam maupun fans

    terus berkarya mas, ceritamu bnr2 menghibur dari pekatnya isu2 diinternet hahaha

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.