Beautifull Aurora IV | 05 : Bastard

Muncul 'Keturunan' Sentry yang sangat berbahaya melebihi 'Keturunan' Sentry yang lain. Simak kisahnya berikut ini.

Beautifull Aurora ® IV
Kabar pernikahan Noid dan Melody bagaikan angin yang terus berhembus diseluruh penjuru planet Ribu. Itu dikarenakan Raja Laks meminta tamu dari kerajaan negara lain untuk datang kekerajaannya untuk menghadiri pernikahan anak pertamanya nanti. Akan tetapi Raja Laks lupa kalau dia itu mengundang pihak-pihak kerajaan yang dimana para pangerannya dulu pernah meminang Melody walaupun ditolak mentah-mentah oleh Melody.
Tak ayal lagi, beberapa pangeran dari penjuru negara segera meluncur dengan pesawat jet pribadi ke Negara Melodia untuk mengetahui kebenaran pernikahan tersebut.
Sementara itu dikerajaan Laks terlihat Noid sedang melamun di taman istana kerajaan. Pikirannya benar-benar kosong dikarenakan besok ia akan menikah dengan putri kerajaan ditempatnya berada sekarang.
“Mantan kakak ipar! Mantan kakak ipar!”
Terlihat Sinka berlari kearahnya dengan Remo dipelukannya, Frieska juga ikutan dibelakang.
“Ha…” respon Noid tanpa mengubah posisinya.
“Jadiin Remo gede dong!” pinta Sinka dan menurunkan Remo dibawah.
“Oh…” dengan malas mengeluarkan suara lebih banyak maka Noid berkata, “Remo…”
Dengan tuntunan suara dari Noid tiba-tiba saja tubuh anak serigala itu membesar dengan sendirinya. Sinka senang bukan main dan menaiki punggung Remo.
“Ayo kak Frieska! Ayo!” Sinka meminta Frieska ikutan menunggangi Remo.
Akan tetapi Frieska merasa heran melihat Noid yang terlihat tidak semangat.
“Kenapa?”
“… Entah…” jawab Noid yang malas.
“Apa kau kepikiran soal pernikahan itu?” Frieska mulai tersenyum.
“Mungkin,” Noid memiringkan bibir.
“Haha jangan coba-coba kabur lagi ya?” Frieska tertawa terbahak-bahak dan menaiki punggung Remo.
Sinka dan Frieska segera meluncur dan terlihat bahagia menunggangi serigala dewasa tersebut. Noid masih terlihat kurang semangat sampai akhirnya ada suara yang menarik perhatiannya.
“Oh rupanya kau juga ada disini,” Bayu mengunyah paha ayam dan duduk disamping Noid.
“Gila! Ini bumbunya sampai terasa sampai ketulang!” ungkap Indra sambil menggigit tulang paha ayam, ia kemudian duduk disamping Bayu.
“Kenapa kalian kesini?” tanya Noid malas.
“Tak ada kerjaan.Oh namaku Bayu, dia Indra,” ujar Bayu yang keasyikan menikmati paha ayam.
“Aku lebih tertarik dengan ayam yang kalian pegang daripada nama kalian,” Noid menguap dan memalaskan matanya.
“Terserah,” balas Bayu cuek karena ia lebih menikmati paha ayam.
“Untung sempat kuambil tadi sebelum keluar,” Indra mengeluarkan ayam panggang dibalik tas nya dan kembali melahapnya.
“Sama,” Bayu mendengus bangga mengeluarkan beberapa paha ayam dari tasnya.
“Bagi 1,” pinta Noid.
“Enak saja, dikiranya mudah kali mencuri ayam ini dari dapur yang banyak orang?” Bayu menyengakkan bibir walau mulutnya mengunyah-ngunyah.
“Betul- betul,” Indra mengangguk-angguk saja.
“Anggota Venom mencuri makanan?” Noid menyengakkan wajahnya.
“Saat ini kami lagi dibebas tugaskan,” jawab Bayu cuek.
“Kalau begitu,” Noid menadahkan tangannya, “Daripada dosa mencurinya kalian tanggung sendiri, mending dosanya dibagi-bagi. Sini,” pinta Noid sekali lagi.
“Bener-bener,” dan lagi-lagi Indra main mengiya-iyakan saja.
“Haaah, yaudah,” Bayu bersungut-sungut.
Dengan ikhtiar ‘Berbagi dosa’ maka Bayu dan Indra memberikan masing-masing 1 paha ayam panggang curiannya kepada Noid. Mereka bertiga menikmati ayam panggang yang nantinya menjadi jamuan makan malam.
“Kalian menggunakan keahlian kalian untuk mencuri?!”
Tiba-tiba saja suara Beny dari belakang menarik perhatian mereka bertiga. Bayu dan Indra seketika takut mendengar suara tegas dari komandannya tersebut. Kecuali Noid yang lebih asyik menikmati ayam.
“M-Maaf komandan! Soalnya kami tidak tahan lagi!” ujar Bayu dengan tubuh kaku.
“B-Bagaimana k-kalau menghukum kami saat kami sudah selesai makan?” sambung Indra yang tak jauh berbeda dengan Bayu, bertubuh kaku tapi mulutnya sedikit demi sedikit mengunyah.
“Mencuri paha ayam? Memalukan!” seru Beny sehingga membuat Bayu dan Indra lagi-lagi ketakutan.
Noid menoleh kebelakang dan memiringkan bibir.
“Terus kau itu apa bedanya?”
Mendengar hal itu membuat Bayu dan Indra memberanikan diri untuk menoleh kebelakang dan melihat Beny dengan nikmatnya menikmati 1 ayam utuh dikedua tangannya.
“Seharusnya kalian mencuri yang ini. Masa paha ayam? Hah! Memalukan!” seru Beny menggebu-gebu.
Melihat tingkah komandannya yang tak jauh berbeda membuat bibir Bayu dan Indra miring seketika, terlebih lagi Beny lebih parah yaitu mencuri 1 ayam panggang utuh untuk dimakannya sendiri.
Kurang ajar emang.
Beny bergabung dengan mereka bertiga dan menikmati pemandangan ditaman kerajaan Laks.
“Katanya kau mencoba kabur dengan kekuatanmu tadi malam, kenapa kau masih disini?” tanya Beny sebelum menggigit potongan ayam.
“Gara-gara benda sialan ini,” Noid menunjuk chip summon ditengkuk lehernya dengan tulang ayam.
“Bukankah kecepatanmu itu menakjubkan?” tanya Indra sambil menggigit ayam.
“… Teknologi ini benar-benar musuhku!” Noid menyengakkan wajahnya dan tangannya memotong ayam panggang curian Beny sehingga Beny sewot dengannya.
Masih teringat jelas diingatan Noid tadi malam.
Ia benar-benar ingin kabur dari istana dengan menggunakan kekuatan level 2, dengan kecepatannya yang melebihi kekuatan suara ia segera meluncur dengan cepat. Akan tetapi Raja Laks melihat itu saat berjalan didepan istana, ia segera memencet remote dan Noid tiba-tiba muncul dihadapannya dengan posisi berlari yang kaku.
“Kau mau melarikan diri?” Raja Laks menyeringitkan dahi.
Noid celingak-celingukan, padahal tadi ia hampir sampai dipelabuhan yang jaraknya sangat jauh dari istana. Ia kemudian menoleh kearah Raja Laks.
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Noid tertawa tak enak dan menepuk tengkuk lehernya sendiri, “Hanya mau menguji chip ini.”
“Hmmmm,” Raja Laks memiringkan bibir dan menggoyang-goyangkan remote summon.
“… Bolehkan aku mengetes sekali lagi?”
“Apanya?”
“Ya..”
Noid benar-benar memaksimalkan tenaga petir level 2 nya sehingga rambutnya berubah warna menjadi perak seutuhnya. Tiba-tiba saja ia menghilang dari hadapan sang Raja Laks karena kecepatannya sangat luar biasa saat Noid memasuki level 2 yang maksimal. Raja Laks memiringkan bibir dan melihat jam, karena alat ini berfungsi 5 menit sekali tekan. Dan saat 5 menit maka Raja Laks langsung menekan remote summon dan Noid lagi-lagi muncul dihadapannya dengan posisi berlari yang kaku.
“Istirahatlah,” Raja Laks tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Noid, sehabis itu ia memasuki istana bersama Malik sang penasehatnya.
Mengingat hal itu membuat Noid benar-benar kehilangan harapan untuk menghindari pernikahan dirinya dengan Melody.
Asyik-asyik menikmati ayam panggang curian tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan awan hitam menggumpal diatas langit. Awan itu bisa dibilang dekat sekali jaraknya dengan mereka sehingga membuat Beny, Indra dan Bayu was-was.
“Santai, itu awan dari ‘Ayah’ku,” ujar Noid sambil membuang tulang ayam ke tong sampah.
“Ayah? Maksudmu Sentry Petir?” tanya Bayu mewakili Beny dan Indra.
“Ya, begitulah cara dia berkomunikasi denganku,” Noid kemudian berdiri dan menunggu awan hitam itu mendekat.
“Bagaimana caranya beliau berbicara denganmu?” tanya Beny sambil menggigit ayam panggang.
“Petirnya akan menghantam tanah dan membentuk sebuah tulisan,” jawab Noid sambil menguap dan menutupnya dengan tangan.
“Rumit juga, apa tidak ada cara lain?” tanya Indra.
“Aku tidak tahu, tapi yang pasti pesannya itu selalu mengandung hal yang sangat penting. Seperti sewaktu aku datang ke desa Distorsia karena suruhan darinya lewat awan hitam itu,” Noid menadahkan kepalanya kearah awan hitam.
“Hoo begitu,” Bayu dan Indra memanggut-manggut, Beny masih asyik menggigit ayam.
Suara gemuruh awan hitam itu semakin jelas ditelinga mereka masing-masing, tiba-tiba saja sebuah petir menyambar halaman tanah yang ada didekat mereka. Petir itu terus-menerus menyambar ditempat yang sama sampai akhirnya awan hitam itu tiba-tiba dan sinar Matahari yang terhalang awan hitam tadi kembali menyinari tempat mereka.
“Apa pesan ‘Ayah’mu itu?” tanya Bayu penasaran.
“Entahlah aku mau melihatnya dulu.”
Noid kemudian berjalan begitu juga Bayu, Beny dan Indra karena mereka bertiga penasaran apa pesan penting yang disampaikan Sentry petir kepada Noid. Mereka berempat akhirnya sampai dan melihat tanah yang menjadi tempat sambaran petir, dan sambaran petir tadi memang benar-benar membentuk sebuah tulisan yang bisa dibaca mereka berempat. Dengan segera mereka berempat membaca pesan penting dari Sentry petir yang berbunyi.
- CIEEE NIKAH! CIEE! HAHAHAHA!-
Mendadak hening.
Sementara itu dikoridor kerajaan lantai 2 terlihat 2 orang putri beda kerajaan sedang berjalan disana, mereka berdua adalah Naomi dan Melody.
“Apa?! Kau menyisakan setetes air itu dijantungku?” Naomi terperangah.
“Ya,” balas Melody seadanya.
“Kenapa?!” seru Naomi.
Melody berhenti berjalan dan menoleh sedikit.
“Aku hanya tak kuat mendengar teriakan dari tuan putri cengeng yang kusembuhkan kemarin.”
Setelah berkata seperti itu Melody melanjutkan perjalanannya akan tetapi Naomi menahannya dengan menggenggam lengan tangan Melody sehingga putri kerajaan Laks ini menoleh kebelakang.
“Apa maksudmu itu? Hah?!”
“Emang kenapa? Kurasa setetes tidak menjadi masalah. Aku juga berniat memberi tahu dia nanti.”
“Bukan kau yang merasakannya! Tapi aku!”
“Oh lalu apa yang kau rasakan?”
“Aku…” Naomi bingung untuk menjawab pertanyaan Melody.
“Apa kau masih ada perasaan dengannya?”
Naomi membelalakan matanya dan berkata.
“Tentu saja tidak!”
“Kalau begitu tidak ada masalah bukan?” Melody melepaskan genggaman tangan Naomi dilengannya.
Melody melanjutkan perjalanannya akan tetapi ia berhenti sebentar dan menoleh kebelakang.
“Lagipula terlalu beresiko, aku takut kau mati kalau tetap kulanjutkan mengeluarkan tetes terakhir itu.”
“Apa?” Naomi menghampiri Melody dan menyeringitkan dahi, “Apa benar kau berkata seperti itu?”
Melody terdiam sejenak, kemudian ia menghela nafas sambil memandang langit-langit koridor.
“… Lupakan.”
Melody kembali melanjutkan perjalanannya sementara Naomi terdiam, ia merasa Melody memang tidak salah berucap dan arti dari kalimatnya itu adalah Melody khawatir kalau terjadi sesuatu terhadap Naomi dan tidak mau mengambil resiko lebih jauh.
“… Aku tidak membencimu, Imel…”
Mendengar penuturan Naomi barusan membuat langkah kaki Melody berhenti, dan sedikit terjadi kesunyian diantara mereka.
“Aku tau aku terlalu kekanakan sewaktu terakhir kalinya aku kesini… kalimat itu keluar begitu saja saat aku kesal denganmu… aku tidak membencimu, aku benar-benar tidak membencimu…”
Melody masih terdiam, ia menunduk kebawah dan mulai tersenyum tipis. Wanita ini kemudian berkata.
“Aku tau, bodoh.”
Melody kembali berjalan sedangkan Naomi hanya bisa terdiam, tapi ia tersenyum tipis memandang Melody dari belakang karena ia memang begitu mengenal Melody seperti apa.
“Ah rupanya kalian berdua disini.”
Naomi dan Melody menoleh kearah samping dan terlihat Saktia menghampiri tempat mereka.
“Ada apa?” tanya Melody.
“Aku tadi diminta untuk menyampaikan pesan kalau gaun pengantin tuan Putri dan jas mempelai pria baru saja datang. Dan pakaian formal tuan putri Naomi juga sudah tiba tadi.”
“Begitu...” Melody melirik sedikit kebelakang dan memanggil Naomi, “Hey.”
“Apa?” respon Naomi datar.
“Kau benar-benar tidak keberatan bukan?”
“Harus berapa kali agar telingamu itu bosan mendengar jawabanku?” Naomi memiringkan bibir.
“Hanya untuk memastikan,” Melody tersenyum tipis dan menoleh kedepan, “Kalau begitu artinya aku yang lebih dulu menikah dari dirimu.”
“Cih,” Naomi melipat tangan dan menoleh kearah lain.
Melihat suasana antara Naomi dan Melody membuat Saktia tersenyum, karena memang inilah ‘Keakraban’ 2 putri kerajaan ini yang sering dilihatnya dari dulu.
“Oh iya, dimana dia?” tanya Melody ke Saktia yang menarik perhatian Naomi.
“Tuan Noid?”
“Siapa lagi?” Melody memiringkan bibir.
“Oh,” Saktia tertawa ringan, “Kalau tuan putri terus melanjutkan perjalanan tuan putri lurus dari sini, tuan putri akan melihatnya. Dia ada ditaman belakang.”
“Apa yang dilakukannya disana?” Melody menyeringitkan dahi.
“Terakhir kali kulihat sih lagi bengong.”
“Mungkin dia kepikiran tentang pernikahan ini,” Melody sedikit menunduk dan tersenyum tipis.
“Siapa juga yang gak kepikiran menikahi wanita yang hampir membunuh dia sebelumnya,” sambung Naomi cuek yang masih melipat tangannya.
“Tidak masalah,” Melody menoleh kebelakang dan tersenyum tipis kepada Naomi, “Ada pepatah yang mengatakan kalau terlalu benci bisa menjadi suka bukan?”
“Menggelikan,” cibir Naomi.
“Biarin,” Melody memeletkan lidah untuk mengejek.
Melody kemudian melanjutkan perjalanannya untuk melihat calon suaminya tersebut dan disusul Saktia dan Naomi dibelakangnya. Meski sedari tadi Naomi membantah akan tetapi ia memang merasa ada sesuatu yang membuatnya tak rela akan pernikahan Melody dan Noid.
Mungkin karena masih ada setetes kali ya,” batin Naomi menduga-duga.
Mereka bertiga terus melanjutkan perjalan mereka sampai akhirnya mereka sampai dimana mereka bisa melihat taman belakang istana dari atas. Akan tetapi mereka bertiga menyeringitkan dahi melihat apa yang terjadi disitu.
“TURUN KAU ‘AYAH’ SIALAN! APAAN ITU CIE-CIE HAH?! TURUN KAU!!! TURUN DAN UCAPKAN CIE-CIE ITU DIHADAPANKU!!! KAN KUSAMBAR MULUTMU ITU DENGAN PETIR!!”
Terlihat Noid berada disebuah puncak pohon dan menyerang-nyerang awan diudara dengan tenaga petirnya. Dan didahan pohon tersebut juga terdapat Bayu dan Indra yang asyik nangkring didahan pohon sambil melahap paha ayam panggang curian mereka masing-masing.
“Penting banget ya pesannya?” Indra cengengesan.
“Penting banget!” Bayu terkekeh.
Sementara itu dibawah pohon terlihat Beny asyik menikmati sisa-sisa ayam panggang yang ia curi hingga perutnya membuncit. Sepertinya pagi hari di-kerajaan Laks masih aman sentosa.
“TURUN KAU!!!” dan Noid masih teriak-teriak keudara.
Beautifull Aurora ® IV
Siang harinya kerajaan Laks terjadi kehebohan. Itu karena kedatangan para pangeran-pangeran yang sudah sampai dikerajaan tersebut. Mereka sekarang berada diaula istana dan kasak-kusuk sendiri sampai akhirnya rombongan Raja Laks dan Raja Stor datang, begitu juga dengan Melody karena tahu pangeran-pangeran itu ada urusan dengannya.
“Melody! Apa benar kau mau menikah?” tanya salah satu pangeran.
Melody duduk dikursi, menahan kepalanya dengan kepalan tangan kanan dan berkata dengan cueknya.
“Ya.”
“Apa?!” semua pangeran yang berjumlah 20 orang itu kaget.
“Mereka siapa?” tanya Noid kepada Michelle yang melihat hal itu tak jauh dari aula.
“Pangeran-pangeran yang pernah melamar kak Imel.”
“Oh,” Noid memanggut-manggut.
Mereka berdua kembali menonton pertunjukan ini.
“Kenapa kau mau menikahi orang lain?! Emang apanya kurang dariku?” tanya salah 1 pangeran.
“Kan kalian semua sudah kutolak,” balas Melody santai.
 “Tapi apa alasannya?!” seru salah satu pangeran.
Melody menghela nafas, dengan tangan kirinya ia kemudian menunjuk pangeran paling ujung.
“Kau terlalu narsis,” Melody kemudian menunjuk pangeran sebelahnya, “Kau terlalu membanggakan ketampananmu,” lalu dilanjut kepangeran sebelahnya, “Badanmu bau,  terus…”
Melody terus menerus menyebutkan alasan-alasan kenapa ia menolak pangeran-pangeran itu sebelumnya. Apalagi pangeran yang dibilang bau badan kompak dijauhi pangeran lain sehingga ia sewot sendiri.
“Jadi udah jelas bukan?” Melody tersenyum puas.
“Tapi.. tapi…” semua pangeran terlihat bingung untuk membalas pertanyaan Melody.
“Kalau begitu aku sudah tidak ada urusan lagi sama kalian,” Melody kemudian berdiri kursi, “Aku permi…”
“AKU KEBERATAN!” seru salah satu pangeran.
Mendengar itu membuat Melody berhenti beranjak, dengan bibir yang miring ia kembali duduk dan kembali melihat pangeran-pangeran yang ada dihadapannya. Seolah suara hati mereka bersatu tiba-tiba pangeran yang lain menyerukan hal yang sama.
“YA KAMI KEBERATAN!”
“Hahaha putri Melody banyak peminatnya ya?” Raja Stor tertawa ringan.
“Begitulah,” begitu juga Raja Laks.
Mendengar suara keberatan dari 20 pangeran itu membuat Melody menghela nafas dan memalaskan matanya, akan tetapi ada 1 orang yang begitu bahagia mendengar hal tersebut.
“Jadi kalian keberatan?!”
Tiba-tiba saja muncul Noid dihadapan mereka semua, mana senyumnya mengembang lagi. 20 pangeran itu cengok memandangnya. Michelle saja sampai kaget melihat Noid secepat itu berlari dan tiba disana.
“Siapa ini?” tanya salah satu pangeran kepada Melody.
“Itu calonnya kak Imel,” jawab Frieska yang duduk disamping ibunya.
“APA?!” semua pangeran memandang Melody.
“Ya, dia calon suamiku,” Melody mengangguk cuek.
“APA?!” dan lagi-lagi semua pangeran itu berteriak.
20 pangeran ini kemudian memandang Noid yang sedari mesem-mesem memandang mereka. Penampilan Noid yang seperti rakyat biasa, kaos hitam, celana yang bagian lututnya sedikit robek, apalagi rambutnya lurus acak-acakan meskipun paras Noid memang enak dilihat gara-gara gaya rambutnya itu. Pangeran-pangeran itu menyeringitkan dahi dan tak percaya orang yang dihadapannya ini adalah calon suami Melody.
“Kau…”
“KALIAN LAH MALAIKATKU!” seru Noid memotong ucapan salah satu pangeran.
“Hah?” semua pangeran menyeringitkan dahi.
“Hehehe,” Noid kemudian memutar badan dan memandang Raja Laks, “Aduuh Raja, tampaknya pernikahan ini harus dibatalkan. Nih ada yang keberatan, 20 orang malahan,” ujar Noid menunjuk 20 pangeran dibelakangnya dengan jempol tangan kiri.
“Hmm,” Raja Laks tersenyum, ia berdiri dan berseru dengan lantang, “Siapa yang tidak keberatan dengan pernikahan ini?!”
Hampir semua orang yang ada diaula  disitu mengangkat tangan mereka (Kecuali Naomi, Noid, dan 20 pangeran), bahkan Melody juga menunjukan sedikit telunjuk tangannya sambil tersenyum manis kearah Noid.
“Gawat! Kita kalah suara! Panggil semua rakyat kalian dan sogok mereka untuk mengatakan keberatan!” seru Noid menggebu-gebu kepada 20 pangeran.
“Hah?!” semua pangeran menyeringitkan dahi dan sengak wajahnya memandang Noid.
“Sudahlah Noid, jangan tangkis takdirmu sendiri,” Raja Stor tertawa dan Noid mengerutu dibuatnya.
“A-anda… kalau tidak salah anda Raja Stor kan? Raja Api?” tanya salah satu pangeran.
“Ya,” Raja Stor tersenyum.
“Apa Naomi ada?” tanya mereka semua serempak, senyum mereka mengembang.
“Ada, tuh,” Raja Stor menunjuk cucunya yang berdiri disamping Sinka yang asyik memeluk Remo.
“Oh tidak…” gumam Naomi pelan dan memiringkan bibir.
“NAOMI! CALON ISTRIKU! TERNYATA KAU ADA DISINI!” seru salah satu pangeran.
“ENAK SAJA KAU! DIA CALON ISTRIKU!” dan salah satu pangeran tidak menerima.
Dan sekarang 20 pangeran ini malah ribut memperebutkan Naomi sehingga Noid melongo dibuatnya. Ke-20 pangeran itu juga sama seperti Melody, dalam artian ia juga pernah dilamar pangeran-pangeran disebut tapi ditolaknya mentah-mentah.
“Tak sudi!” seru Naomi dengan mata melotot dan melipat tangan.
“Ah, itu juga jadi alasanku menolak kalian. Kalian terlalu mudah mencari yang lain,” Melody tersenyum.
Mendengar perkataan Melody lagi-lagi membuat perhatian mereka teralihkan kearahnya.
“Oh tidak Imel! Itu tidak benar Imel, aku ini orangnya setia,” salah satu pangeran mulai menggodanya.
“Ya, tidak mungkin aku berkhianat terhadap intan yang indah sepertimu.”
Satu per satu pengaran-pangeran itu mengucapkan kata-kata manis untuk meyakinkan Melody kalau mereka orangnya setia, Noid melongo sedangkan Melody dan Naomi menyengakan bibirnya mendengar kata-kata manis tersebut.
“Aku tetap akan menikah dengan dia, lagian suara keberatan kalian kalah jumlah. Lebih baik kalian pulang kalau tak kuat melihat pernikahanku nanti,” ulas Melody cuek.
Perkataan Melody membuat panas hati para pangeran, kompak mereka memasang wajah bengis dan melotot memandang Noid. Noid termanggu dilihat seperti itu.
“Kalau begitu tak ada jalan lain,” salah satu pangeran berbicara.
“Apa?” Melody menyeringitkan dahi mewakili yang lain.
“Dalam 2 hal yang bisa membatalkan pernikahan. Yang pertama adalah memungut suara keberatan atau tidaknya.”
“Dan kalian baru saja kalah suara tadi kan?” tanya Melody cuek.
“Tapi…” semua pangeran terkekeh, “Ada 1 lagi bukan?” dan mereka kompak menyeringai dan memain-mainkan alis kearah Melody.
“Apa?” Melody menyeringitkan dahi.
Combat!” seru mereka semua.
Setelah itu suasana menjadi hiruk pikuk sehingga membuat Melody dan pihak kerajaannya terdiam. Kecuali Noid karena dia tidak tahu kalau masih ada 1 cara lain untuk membatalkan pernikahan secara resmi.
Combat? Apa itu?” tanya Noid kepada Raja Stor.
“Bagaimana ya…” Raja Stor menggaruk-garuk kepalanya, “Itu artinya ya…” Raja Stor memandang Raja Laks.
“Apa?” Noid benar-benar tidak mengerti.
Setelah sedikit jeda melakukan pembicaraan, maka Raja Laks menggantikan Raja Stor untuk menjawab.
“Itu tradisi lama… Combat artinya…”
“Ya?”
“… Salah satu mempelai harus bertarung dengan orang-orang yang keberatan, dan dalam kasus ini tentu saja kau yang bertarung.”
“APA?!!!” Noid kaget setengah mati.
Noid menoleh kebelakang dan melihat ke-20 pangeran itu menyeringai kepadanya.
“Jadi apa kau menerimanya wahai calon suami?” tanya salah satu pangeran kepada Noid.
Merasa nyawanya terancam maka Noid hendak berkata kalau dia sebenarnya juga tidak ingin melakukan pernikahan ini akan tetapi tiba-tiba muncul Beny disampingnya.
“Hei, kau mau ayam panggang?” tanya Beny pelan sambil menggigit dada ayam panggang yang sempat dicurinya lagi dari dapur.
“Ya,” Noid mengangguk polos.
“DIA BERKATA YA YANG MULIA! DIA MENERIMA COMBAT!” Beny tiba-tiba berteriak sambil menunjuk Noid kepada Raja Laks dan Raja Stor.
“A-APA?!” Noid lagi-lagi kaget dan merasa ditipu oleh pertanyaan Beny yang berhasil menjebaknya.
“Haaah kalau begitu ya sudah,” Raja Laks menghela nafas.
“Noid…” gumam Melody pelan dan terlihat cemas dengan Noid.
“Bodoh!” begitu juga Naomi dengan suara pelan.
“Wow, calon kakak iparku berani juga ya,” Frieska tertawa sambil melipat tangan.
“20 orang lagi,” ditambah Sinka.
“KAMI MAU MELAKUKANNYA SEKARANG!” teriak salah satu pangeran mewakili pangeran lain.
Semua orang-orang yang ada diaula kembali kasak-kusuk sehingga Raja Laks berdiri dan berkata.
“Kalau begitu Combat dilakukan di-stadium tengah kota, 1 jam dari sekarang persiapkan diri kalian masing-masing.”
Semua pangeran begitu gembira mendengar hal itu dan segera keluar istana untuk melakukan persiapan mereka. Akan tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian mereka dan Ibu Melody lah yang berbicara mewakili yang lain.
“Noid mana?”
Kalau Noid sih sekarang lagi berada diluar, bukannya untuk mempersiapkan Combat tapi dia sibuk mengejar-ngejar Beny yang melarikan diri dengan mobil kerajaan Laks yang sudah dibengkas dengan keahliannya
“KELUAR KAU BRENGSEK!!” seru Noid sambil menggebuk-gebuk kaca mobil, dilihat dari rambutnya yang berwarna perak seutuhnya maka sudah jelas ia memakai kekuatan level 2-nya.
“Bodo dipelihara,” gumam Beny pelan bercampur gegalapan dan panik bukan main karena kecepatan Noid setara dengan mobil yang ia kendarai, padahal mobil itu sudah paling kencang.
Siang hari itu… ya sudahlah.
Beautifull Aurora ® IV
Di-stadium sudah dipenuh khayalak ramai yang ingin menonton pertarungan antara Noid melawan 20 pangeran dari negara lain. Dan tentu saja pihak kerajaan Laks dan juga Stor menyaksikan hal itu.
“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, Yah?” Melody terlihat khawatir dengan hal ini.
“Inilah Combat, terlebih lagi Noid menerimanya. Itu tidak bisa diganggu gugat,” Raja Laks juga tampak pasrah.
“Sepertinya calon suamimu kali ini akan benar-benar mati,” komentar Naomi sinis yang duduk disamping Melody.
Melody tidak perduli dengan perkataan Naomi, ia benar-benar cemas melihat Noid berdiri seorang diri ditengah stadium.
“Kau bodoh…” gumam Melody pelan.
Sementara itu Noid benar-benar gugup menjadi tontonan orang-orang sebanyak ini apalagi hanya dia sendiri yang berada disitu. Tapi itu tak berlangsung lama karena 20 pangeran itu datang dan berdiri dihadapannya.
“Kuakui kau benar-benar bernyali, seorang diri melawan 20 orang,” ujar salah satu pangeran.
Aku dijebak si-brengsek itu!” seru Noid didalam hati dan mencari Beny diantara kerumunan penonton.
“Ah sudahlah,” salah satu pangeran mengibas tangan, “Yang pasti kau sudah menerimanya dan persiapkan dirimu melawan wakil kami.”
“Wakil?” Noid menyeringitkan dahi.
20 pangeran itu mengeluarkan remote summon untuk mahluk hidup ditangannya, kompak mereka menekan remote summon tersebut dan munculah para petarung-petarung pilihan mereka. Bahkan salah satu petarung pilihan pangeran itu adalah Ras Gormu, memiliki fisik seperti Huma hanya saja memiliki tubuh yang besar berotot, bertelinga panjang dan bulu-bulu panjang disekujur tubuhnya.
“HEI APA INI DIPERBOLEHKAN?” teriak Noid kepada salah satu penjaga yang mengawasi diarena.
“Boleh,” penjaga itu mengangguk.
“KALAU BEGITU AKU JUGA MINTA DIWAKILKAN! AKU MEMINTA ORANG BRENGSEK BERNAMA BENY YANG MENJADI WAKILKU!”
“Tapi untuk mempelai pria tidak boleh,” penjaga menggeleng-geleng kepala.
“APA?!” dan Noid lagi-lagi berteriak penuh rasa frustasi.
Sementara itu Beny yang menyamar menggunakan topi dan kumis palsu terlihat bernafas lega dan sewot kepada Noid.
“Brengsek! Dia mau membunuhku apa? terlebih lagi ada Ras Gormu disitu!”
“Kita ngapain disini, komandan?” tanya Bayu mewakili Indra, mereka juga disuruh berpenampilan seperti Beny atas perintahnya.
“Huh,” Beny tersenyum sinis dan menghampiri seseorang, “Hei, Bandar bukan?”
“Ya,” Bandar judi mengangguk, “Anda mau bertaruh?”
“Tentu saja!” Beny menggeplak uang diatas meja dan menyeringai, “Kupertaruhkan semua uangku!”
“Wow, kayaknya komandan begitu yakin. Emang komandan mendukung siapa?” tanya Indra yang sibuk membetulkan kumis palsunya.
“Tentu saja 20 pangeran bodoh itu!” Beny mendengus puas dan ia memang merasa yakin kalau Noid akan kalah bertarung.
“Hati-hati saja kalah taruhan, itu semua uang komandan bukan?” tanya Bayu.
“Itu tidak akan terjadi, aku pasti menang! Hahahaha!” Beny melipat tangan dan tertawa terbahak-bahak.
“DISITU KAU RUPANYA BRENGSEK!” dan Noid berteriak ditengah stadium karena akhirnya ia menemukan posisi Beny.
“Gawat! Kok dia tau penyamaranku?” Beny gegalapan.
“Baju anda komandan…” Bayu memiringkan bibir.
Dan memang hanya Beny seorang yang memakai kaos bertuliskan divisi Venom apalagi warna merah bajunya itu sangat mencolok jadi karena itulah Noid bisa menemukannya dengan mudah meskipun berada dikejauhan.
“Baiklah, pertandingan sebentar lagi dimulai,” penjaga stadium memberi arahan.
Para pangeran undur diri dan mencari bangku yang enak untuk menonton wakil-wakil mereka bertarung dengan Noid. Sementara itu Noid kebingungan setengah mati apalagi lawan-lawannya itu benar-benar berbadan besar dan tinggi.
“AKU MENYERAH!” Noid mengangkat tangan.
“Tidak ada kata menyerah dalam Combat, tuan,” penjaga tersenyum.
“Diada-adain saja!” seru Noid.
“Tidak bisa,” penjaga menggeleng.
“Terima saja nasibmu kerdil! Burarararararara!” Ras Gormu yang paling besar diantara petarung lain tertawa terbahak-bahak.
Ahh bagaimana ini… kalau menggunakan kekuatanku aku akan cepat lelah dan belum tentu mereka semua kena seranganku… brengsek! Siapa sih penemu Combat ini?!” keluhnya didalam hati, karena tadi siang ia mengeluarkan level 2 untuk mengejar-ngejar Beny karena itulah energinya sedikit terkuras.
Dengan aba-aba dari penjaga maka ke-20 petarung mulai bersiap-siap. Dan penjaga mulai mengangkat tangan dengan peluit dimulutnya.
PRIIIITTT!!
Bunyi peluit memberi tanda kalau Combat telah dimulai, sorak sorai penonton pun begitu menggelegar distadium. Hanya Raja Stor dan Raja Laks yang terlihat tenang menyaksikan hal ini, kecuali Naomi dan Melody, mereka berdua terlihat begitu gelisah.
“Hah! Hah! Hah!” Noid terengah-engah.
“TUNGGUUUU!!” teriak ke-20 petarung.
Entah kenapa mereka bukannya bertarung, tapi mereka semua sibuk kejar-kejaran dan tentu saja yang dikejar mereka adalah Noid yang ada didepan mereka. Jadi bisa dibilang sekarang bukanlah duel yang mereka lakukan tapi lomba lari, dan Noid ibaratkan piala yang harus mereka raih.
“HEI BERTARUNG! COMBAT MACAM APA INI?! MATI SANA!” seru Beny kepada Noid ditepian stadium.
“BRENGSEK KAU! KENAPA TIDAK KAU SAJA YANG MELAWAN MEREKA SEMUA?!” Noid membalas teriakannya.
“TUNGGUUUUU!!” dan 20 petarung dibelakangnya juga ikut berteriak.
Gara-gara itu Noid kalap dan semakin kencang larinya. Melihat hal ini membuat Beny mendengus kesal karena takut taruhannya menjadi sia-sia apalagi dia mempertaruhkan semua uangnya. Ia kemudian menghampiri penjaga.
“Hei apa memakai senjata diperbolehkan?”
“Sebenarnya sih boleh, tapi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka…”
“Ah aku tak perduli kalau dia mati! Tapi intinya boleh bukan?” potong Beny.
“I-Iya,” penjaga mengangguk.
Senyum licik Beny tercipta, buru-buru ia menghampiri 2 anak buahnya dan bertanya.
“Apa tabung senjata dimarkas kita sudah terisi?”
“Itu sudah pasti, tapi untuk apa?” Bayu menyeringitkan dahi.
“Huh! Kalian membawa remote summon senjata?”
“Ada, tapi untuk apa?” Indra penasaran.
“Berikan kepadaku!” Beny menyeringai.
“Eh t-tapi kata baginda ini untuk keadaan darurat…” ujar Indra.
“Ini sudah darurat!” Beny melotot, dan tentu saja ‘Darurat’ yang dimaksud dalam arti yang berbeda, ia ingin Noid kalah mutlak agar ia menang taruhan.
“Tapi…” Bayu tampak segan.
“Biar aku yang bertanggung jawab!” seru Beny untuk meyakinkan.
Dengan terpaksa Bayu dan Indra menyerahkan remote summon senjata mereka termasuk punya Beny sendiri. Berbeda dengan remote summon untuk mahluk hidup, summon untuk benda mati bisa memanggil begitu banyak benda apabila sudah dipersiapkan sebelumnya didalam tabung summon meskipun jauh jaraknya.
Beny melempar 3 buah chip titik-titik summon senjata ditengah lintasan Noid dan 20 petarung yang sedari tadi berlari memutari stadium. Dan saat Noid melewati chip itu maka Beny langsung menekan 3 tombol remote summon.
“E-Eh apa ini?!” semua petarung mengerem karena tiba-tiba muncul senjata berat dihadapan mereka.
Mereka semua celingak-celinguk untuk mencari orang yang meng-summon senjata ini dan terlihat Beny tersenyum puas memandang mereka.
“Akulah pendukung kalian, sahabatku,” ujar Beny dengan jempol tangan teracung indah, dan entah sejak kapan 20 petarung ini menjadi sahabatnya.
Dan 1 menit kemudian…
“BRENGSEK KAU! SIALAN!” umpat Noid kepada Beny.
“HUAHAHAHAHAHAHAHA!” dan Beny tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang.
Bagaimana dia tidak berteriak? Karena sekarang Noid dikejar-kejar dan diserang dengan senjata-senjata pemberian Beny kepada 20 petarung itu. Jadi selain berlari dia juga harus cekatan untuk menghindari senjata berat yang membabi-buta.
“Apa yang pengawalmu itu lakukan?!” hardik Melody kepada Naomi.
“Hei! Apa aku terlihat seperti orang yang memberikan perintah itu?!” Naomi juga terlihat sebal karena dituduh.
“Haaah,” Raja Stor memiringkan bibir, “Ada-ada saja kelakuan mereka.”
“Dia lincah sekali,” Raja Laks tertawa ringan karena dilihatnya Noid begitu gesit menghindari serangan senjata sambil berlari.
“Tapi kerjaan mereka lari-lari melulu, apa tidak capek?” komentar Michelle.
“Iya ya,” Sinka mengangguk sambil memangku Remo yang tertidur.
“Kenapa dia tidak mengeluarkan kekuatannya?” Frieska menyeringitkan dahi melihat Noid yang memang sedari tadi tidak mengeluarkan kekuatannya karena takut akan cepat lelah.
Melody yang mendengar komentar-komentar itu membuatnya tak banyak bicara, dan ia memang merasa Noid akan lelah kalau berlari terus dan akan cepat lelah kalau mengeluarkan kekuatannya untuk melawan 20 petarung tersebut, itu pun kalau kekuatannya mengenai mereka semua. Kalau tidak maka Noid lagi-lagi akan kerepotan melawan dan keburu habis energinya untuk melawan sisanya.
Melody mengeluarkan Cell-nya dan hendak menghubungi seseorang.
“Saktia, kamu dimana?”  tanya Melody dengan menggunakan Cell.
-Aku diluar tuan putri, ada apa?
“Aku ingin kau menolongku.”
-Apa itu tuan putri?
Bait demi bait perintah dilontarkan Melody kepada pengawalnya tersebut, setelah itu ia menutup perbincangan dan kembali menonton. Sedangkan Naomi yang berada disebelahnya mendengar permintaan Melody kepada Saktia tadi.
“Kenapa kau begitu perhatian kepadanya?”
“Aku hanya ingin mempercayainya, dan ingin dia mempercayaiku,” jawab Melody sambil melihat Noid yang asyik berlari dan menghindar.
“Kau ingin mempercayai orang yang baru kau kenal?” alis Naomi naik sebelah.
“Aku akan mengenalnya lebih jauh…” Melody menoleh kearah Naomi dan melanjutkan perkataannya dengan mantap, “Sebagai istrinya!”
Setelah itu Melody kembali menatap kedepan, dari tatapan matanya ia begitu yakin dengan ucapannya dan percaya kepada Noid. Naomi hanya bisa terdiam melihat Melody seperti itu, ia kemudian melihat Noid.
Apa aku juga seperti itu kemarin?” tanyanya pada diri sendiri saat ia berada dibawah pengaruh air pernikahan ‘Sentry’ air.
Sementara itu peluh keringat Noid menyucur begitu deras dan ia benar-benar capai dengan hal ini, nafasnya terengah-engah dan dirasa ia tak sanggup lagi untuk berlari.
“Ah masa bodohlah! Aku tak perduli lagi!” gumam Noid.
Ia tiba-tiba berhenti dan berhadapan dengan 20 petarung yang masih begitu jauh untuk mengejarnya, dikesempatan itu ia berusaha mengambil energy listrik didalam tanah dan hendak menyerang mereka dengan kekuatan listriknya.
“SEPERTINYA KAU SUDAH SIAP MATI KERDIL! GRARARARARARA!” Ras Gormu tertawa terbahak-bahak, wajahnya semakin beringas.
“Kenapa dia berhenti?” Raja Laks menyeringitkan dahi.
“Sepertinya dia sudah tidak punya jalan lain, dia sedang mengambil energinya,” ujar Raja Stor yang bisa merasakan kalau Noid sedang mengumpulkan energi.
“Tapi sepertinya ia sudah kelelahan,” ujar ibunya Naomi.
Saktia! Cepatlah!” batin Melody yang cemas.
Sementara itu Noid tidak sempat mengumpulkan energinya terlalu penuh karena 20 petarung itu sudah hampir mendekatinya. Bahkan energinya itu tidak cukup untuk mengeluarkan level 2.
“Haha… apakah aku akan mati?” gumam Noid ditengah keputus-asannya.
Tiba-tiba saja disetiap sudut stadium muncul penyemprot air untuk menyemprot rumput, sebuah benda yang selalu ada disetiap stadium untuk rumput-rumput. Dan dari benda itu keluar air yang membasahi semua stadium. Salah satu petarung tak sengaja tersandung oleh alat itu sehinga air bocor dan semakin deras keluarnya.
“Air apa ini?” tanya salah satu petarung.
“Ng?” Raja Stor merasakan aura energi didekatnya.
Ia menoleh kesamping dan melihat Melody tersenyum melihat air-air tersebut, Raja Stor yang mengetahui maksudnya hanya terkekeh dan kembali melihat. Melody kemudian melipat tangannya dan 1 telunjuk ia acungkan diam-diam.
Tiba-tiba saja air didalam penyemprot itu berhamburan keluar. Noid dan ke-20 petarung itu terkeju melihat air yang begitu banyak menyembur lapangan. Tapi dari gerakan airnya membuat Noid menoleh kearah sumber energi, dan terlihat Melody mengendalikan air itu dengan telunjuknya. Bahkan Melody menahan saluran pembuangan air dengan tekanan air agar air itu tidak merembes keluar lapangan.
“Air apa ini?”salah satu pangeran keheranan melihat air dilapangan, begitu juga pangeran-pangeran yang lainnya dari bangku penonton.
Semua pangeran-pangeran itu tidak tahu kalau Melody adalah ‘Keturunan’ Sentry air dan mereka juga tidak tahu kalau Noid adalah ‘Keturunan’ sentry petir. Melihat air yang berhamburan dilapangan stadium membuat semua pihak kerajaan Laks dan Stor menoleh kearah Melody.
“Kamu yang melakukannya?” tanya Ibunya Melody.
“Hmm,” Melody hanya tersenyum dengan pandangan lurus kedepan dan membatin, “Terima kasih, Saktia!
Dengan itu jelas kalau air semprotan itu diaktifkan Saktia dari ruang control stadium atas permintaan Melody sebelumnya. Apalagi sumber air itu berasal dari sungai yang membentang disetiap ruas-ruas jalanan kota Melodia, dan tak perlu disangsikan betapa jernihnya air tersebut.
Kurasa ini perbuatanmu,” pikir Noid untuk Melody.
Dengan energi seadanya ia begitu cepat berlari untuk menghampiri penjaga agar menjauh dari lapangan. Sementara itu para petarung kesusahan bergerak karena air semakin meninggi hingga hampir menyentuh lutut mereka. Setelah yakin penjaga stadium tidak menyentuh air maka Noid melihat ke 20 petarung masih berupaya menghampiri dirinya.
Noid kemudian berjongkok diatas rambu kayu yang ada dilapangan, dengan jari telunjuk dan jempolnya ia menciptakan bulatan listrik kuning.
“Kuharap kau mengerti apa yang kuinginkan setelah ini,” gumam Noid.
Bulatan kuning itu disentil Noid kearah genangan air dibawahnya dan meskipun kecil jangan ditanya lagi efek yang terjadi setelah itu.
“UAA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-RA-A!!!” ke-20 petarung itu menggelinjang tak karuan karena sengatan listrik yang terus menjalar ketubuh mereka.
Melody yang melihat itu mulai tersenyum, ia kemudian menurunkan telunjuk jarinya dan air itu menyusut dengan cepat dan kembali kesumbernya. Semua petarung itu roboh dan bergetar-getar tubuh mereka karena masih ada sengatan listrik yang tersisa.
Suasana mendadak hening didalam stadium. Para penonton terpana dan juga kebingungan melihat fenomena yang barusan terjadi. Bahkan para pangeran-pangeran mengangakan mulutnya. Mereka kebingungan karena tidak aliran listrik itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang
“A-apa yang terjadi? K-kenapa mereka tumbang?” salah satu pangeran bertanya kepada pangeran-pangeran lainnya dan tentu saja yang ditanya tidak tahu jawabannya.
Air semakin menyusut sehingga tidak ada lagi genangan air yang ada disitu, Noid dengan nafas terengah-engah melihat para petarung tumbang dan juga lapangan yang basah. Ia kemudian tertawa ringan dan bergumam.
“Ternyata kau bisa juga memikirkan apa yang kupikirkan.”
Yang dipikirkan Noid tadi adalah saat dia ingin air cepat-cepat surut saat ia meletakan bulatan petir kuning itu kegenangan air kalau pun tidak ia akan menyerap listrik itu kembali agar petarung itu tidak terus kesetrum yang bisa mengakibatkan mereka tewas kesetrum. Akan tetapi Melody memikirkan apa yang tadi Noid pikirkan, saat Melody melihat ke-20 petarung itu kejang-kejang ia dengan cepat menyurutkan air dan tidak ingin Noid menjadi pembunuh dimatanya gara-gara itu.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya penjaga Stadium kepada 20 petarung.
Tak ada jawaban dari mereka, yang ada suara teler karena mereka masih kejang-kejang tak karuan. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan ini maka penjaga wasit mengumumkan dengan mic kecil yang menempel dikerah bajunya.
“PEMENANGNYA ADALAH MEMPELAI PRIA!”
Tak ayal lagi sorak-sorai menyemarakan stadium, meski mereka tidak melihat pertarungan tapi mereka semua terhibur dengan lakon ‘Lomba-lari’ yang dilakukan Noid dan juga ke-20 petarung yang bagi mereka menggelitik.
“Yaaah…” salah satu pangeran terkulai, “…Kalau begini Melody jadi milik dia dong…”
“Yaaaaaaaahh,” begitu juga pengaran-pangeran lain dengan mimik wajah merengek.
Selain ke-20 pangeran yang sedang bersedih, ada juga yang sedang bersedih sampai keluar air matanya.
“Brengsek! Kenapa dia menang?! Duitku bagaimana?!” Beny frustasi, ia menepuk-nepuk dinding dan menutup mata dengan pergelangan tangan kirinya.
Melihat komandannya itu membuat Bayu memiringkan bibir dan memanggil Indra dengan suara pelan.
“Hui.”
“Ha?” respon Indra.
“Untung tadi aku juga bertaruh, tapi untuk Noid,” bisik Bayu dengan senyum suka cita dan menunjukan kartu taruhan.
“Wih!” mata Indra berbinar memandang kartu taruhan tersebut, terlebih lagi Bayu juga mempertaruhkan semua uangnya hanya saja ia lebih beruntung dari komandannya sendiri yaitu Beny.
Suasana suka cita juga terjadi dibangku khusus kerajaan Laks dan Stor.
“Hahaha benar-benar diluar dugaan,” Raja Stor terkekeh.
“Jadi dengan ini tak ada yang keberatan lagi bukan?” Frieska tertawa bersama yang lain.
Melody tersenyum melihat Noid yang masih berdiri dilapangan sampai akhirnya Naomi memanggilnya.
“Hei.”
“Hmm?” Melody menoleh.
“Kenapa kau membantunya?” Naomi menyeringitkan dahi.
Mendengar pertanyaan itu akhirnya membuat Melody tersenyum kepada Naomi untuk pertama kalinya langsung dihadapannya, tak lama kemudian Melody menjawab dengan nada yang sangat tenang.
“Sudah tugas istri untuk membantu suaminya bukan?”
Naomi terdiam akan tak lama kemudian ia menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sepertinya kau begitu yakin akan menjadikannya suami.”
“Ya… dia yang membuatku yakin.”
“Huh,” Naomi tersenyum tipis dan terkekeh pelan.
Melody tidak membalas perkataan Naomi, hatinya begitu lega melihat Noid memenangkan Combat ini. Ia menoleh kedepan dan menyeringitkan dahi, begitu juga orang-orang yang ada distadium, bahkan penjaga stadium yang dilapangan celingak-celingukan.
“A..anu… dimana ya mempelai prianya?” tanya penjaga dengan Mic karena Noid tiba-tiba menghilang dari lapangan.
“Hmmm,” Raja Stor dan Melody serempak memiringkan bibir melihat pintu keluar yang ada dibawah.
Kenapa mereka berdua melihat pintu keluar tentu saja ada alasannya, karena mereka merasakan aura Noid berada diluar stadium dan apa yang dilakukan Noid diluar stadium?
“JANGAN LARI KAU! BRENGSEK!!!” terlihat Noid sekuat tenaga mendayung perahu.
“HAH! HUH! HAH! HUH!” begitu juga Beny yang ada didepannya, nafasnya ngos-ngosan dan begitu mengerahkan tenaga tangannya untuk mendayung lebih cepat.
Ya, bisa dibilang sekarang Noid begitu menggebu-gebu mengejar Beny yang melarikan diri dengan perahu yang ada disetiap sungai dikota Melodia yang memang terkenal dengan julukan Kota air-nya. Beny terlihat kewalahan apalagi Noid melempar-lemparkan listrik-listrik kuning kecil kearahnya sehingga Beny kelabakan untuk mendayung sambil menghindar.
Ah sudahlah ~
Beautifull Aurora ® IV
Malam harinya pesta diadakan diseluruh kota Melodia untuk merayakan hari pernikahan Melody yang akan diadakan esok hari. Meskipun ada yang bersedih dan memilih untuk mabuk-mabukan disuatu bar karena patah hati, siapa lagi kalau bukan ke 20 pangeran yang datang sebelumnya.
Para warga terlihat bahagia menerima kabar kalau putri pertama dari kerajaan Laks itu akhirnya menikah. Bahkan diistana kerajaan Laks sudah dihiasi hiasan yang begitu megah untuk pernikahan besok.
Sementara itu dipusat perbelanjaan terlihat Michelle sedang mencari keperluan make-up untuk dirinya karena keperluan make-up dia sudah habis. Keponakan Raja Laks ini memang terkenal tidak suka menyuruh-nyuruh pelayan untuk membelanjakan keperluannya, ia lebih suka berbelanja sendiri meskipun ditemani oleh seseorang.
“Apa putri juga mau membelikannya untuk nona Sinka?” tanya Malik dibelakangnya.
“Hmm yah, kurasa sebagai hadiah,” Michelle tersenyum.
“Hmm,” Malik tersenyum mendengarnya.
Dengan ditemani penasehat sang Raja yaitu Malik maka mereka terus menurusi tempat-tempat untuk belanja, bahkan tak jarang para penduduk dan pedagang menyapa gadis tersebut dengan ramah karena Michelle juga terkenal ramah dan ceria.
“Paman, kalau paman mau paman menunggu saja dimana dulu gitu. Aku gakpapa kok sendirian,” usul Michelle.
“Gakpapa, paman juga lagi senggang kok.”
“Tapi aku belanjanya lama loh.”
“Tidak apa,” Malik tersenyum.
“Yaudah, tapi awas ya ngeluh?” ujar Michelle dengan mata memincing.
“Hahahaha,” Malik akhirnya tertawa.
Mereka terus berjalan dan berjalan menyusuri tempat-tempat, hingga pada suatu tempat yang agak sepi tiba-tiba Michelle merasa tidak mendengar suara langkah kaki dibelakang, ia menoleh dan tidak melihat keberadaan Malik.
“Hmm, mungkin ke-toilet,” pikir Michelle.
Merasa bisa menghubungi Malik dengan Cell nanti maka Michelle melanjutkan perjalannya seorang diri. Sementara itu ditempat tadi terlihat Malik dibekap oleh orang yang misterius disudut yang gelap, wajahnya tertutup jaket hoodie yang dipakainya.
“Kau yang bernama Malik bukan?” orang itu menyeringai.
“Hmmbbb!!!” Malik melotot karena mulai merasa sesak dibekap seperti itu.
“Ssst! Tenanglah,” dengan seringainya yang tak lepas ia kemudian berbisik, “Kau sangat berguna untukku!”
Malik tak mengerti apa yang orang itu bicarakan, ia terus meronta karena ia benar-benar kesusahan bernafas. Akan tetapi orang itu terus membekapnya dan menariknya kebelakang sampai sosok mereka berdua menghilang dari sudut ruangan yang gelap.
Michelle yang merasa cukup berbelanja mulai celingak-celingukan mencari sosok Malik akan tetapi penasehat pamannya tersebut tak tampak batang hidungnya. Ia kemudian mengeluarkan Cell dengan susah payah untuk menghubungi Malik.
“Halo, Paman. Paman dimana?” Michelle langsung bertanya saat Cell Malik diangkat.
“Oh maaf-maaf, Paman sekarang berada diluar. Dimobil, taukan tempatnya?”
“Ya tau dong, kalau begitu aku kesana.”
Hubungan Cell ditutup dan Michelle melangkah keluar menuju tempat dimana supirnya memarkirkan mobil. Sesampainya disana ia melihat Malik duduk ditempat duduk supir, Michelle lantas penasaran saat masuk kedalam mobil.
“Dimana supirnya?” tanya Michelle.
“Oh dia tadi buru-buru pulang, katanya istrinya mau melahirkan,” Malik tersenyum.
“Eh? Dia udah punya istri ya?”
“Sepertinya begitu, jadi paman izinkan saja.”
“Hmm gitu, yaudah deh. Tapi aneh rasanya melihat paman mengendarai mobil,” Michelle tertawa.
“Hahaha paman juga merasa aneh.”
Tak perlu banyak bertanya lagi maka Malik mengendarai mobil untuk mengantar Michelle pulang ke-Istana. Tanpa Michelle sadari kalau saja ia mau menoleh kesamping sebentar maka ia akan melihat supirnya itu berada didalam sebuah gang sempit. Seorang supir kerajaan dengan kondisi perut berlubang sehingga isi perutnya keluar dan melumerkan begitu banyak gumpalan darah.
Entah apa telah membunuhnya disitu.
-oOo-
Hiruk pikuk pesta juga terjadi didalam istana, semua orang terlihat bersenang-senang dengan pesta hari ini. Bahkan Remo menjadi rebutan wanita-wanita kerajaan lain karena anak serigala ini memang lucu dan memiliki bulu yang lembut. Raja Stor juga melakukan pesta minum bersama Raja Laks dan beberapa Raja-Raja dari kerajaan lain, termasuk 3 kerajaan besar lainnya yang memiliki batu Sentry.
“Haaah, diluar ribut sekali,” keluh Noid yang berbaring ditempat tidur.
Ia kemudian beranjak dari tempat tidur dan duduk dikasur, ia merasakan otot-ototnya tangannya menegang gara-gara terlalu kuat mengayuh tanpa henti saat mengejar Beny tadi siang.
“Ng?”
Suara ketukan menarik perhatiannya, ia memakai kaos hitamnya dan segera beranjak dari tempat tidur.
“Iya sebentar,” ujarnya saat suara ketukan pintu masih terdengar.
Dan saat ia membuka pintu betapa tertegunnya ia karena yang mengetuk pintu adalah Melody, calon istrinya sendiri.
“Syukurlah, kukira tadi kau udah tidur,” Melody tersenyum.
“E…e…e,” Noid terlihat bingung berkata-kata sampai akhirnya pertanyaan klise ia keluarkan, “Ada apa ya?”
“Aku ingin berbicara denganmu sebentar.”
“Berbicara?”
“Ya,” Melody mengangguk.
“Oh… y-yaudah, bicaralah.”
“Bagaimana kalau didalam?” saran Melody.
“Eh?”
“Diluar terlalu berisik soalnya,” ujar Melody sambil menutup kedua kupingnya dengan kedua ujung jari.
“Oh… oke.”
Noid kemudian masuk kedalam dan disusul Melody setelahnya, sehabis menutup pintu maka Melody mengambil kursi dan duduk dihadapan Noid yang duduk diatas kasur.
“Hmmm,” Melody menyeringitkan dahi.
“Kenapa?”
“Aliran darah dikedua tanganmu kayaknya agak kurang normal.”
“Oh… mungkin karena tegang, ya gitu,” Noid mengurut pergelangan tangannya tersebut.
“Sini tanganmu.”
“Untuk apa?”
“Sini saja,” Melody tersenyum.
Dengan segan Noid mengangkat tangan kanannya dan ditahan oleh Melody, Melody kemudian mengusap pergelangan tangan Noid dengan lemah lembut. Merasa canggung maka Noid mengajaknya berbicara.
“Kau… bisa melihat aliran darah?”
“Bisa,” Melody mengangguk, “Darah termasuk cairan, seperti hal-nya air.”
“Oh begitu.”
“Udah,” Melody menepuk pergelangan tangan kanan Noid, “Sini tangan kirinya.”
Noid mengangkat tangan kirinya dan diperlakukan seperti yang Melody lakukan terhadap tangan kanannya. Noid merasa tangannya membaik, tidak ada rasa tegang lagi seperti sebelumnya.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Noid.
“Selama ada cairan didalam tubuhmu aku bisa membentuk organ didalamnya menjadi normal selama itu tidak terlalu parah, sekarang tidak sakit lagi bukan?”
“Ya,” Noid tertawa ringan dan memainkan tangan kanannya, “Kau hebat sekali.”
“Terima kasih,” Melody tersenyum.
“Seharusnya itu kata-kataku, kan kau yang menyembuhkanku.”
“Kalau begitu sama-sama,” Melody tertawa ringan dan menepuk tangan kiri Noid, “Udah.”
Noid merasakan tangan kirinya sudah kembali normal, dan ia merasa takjub melihat kekuatan Melody yang bisa menyembuhkan orang seperti ini.
“Terima kasih,” kata Noid sekali lagi.
“Iya,” dan Melody kembali tersenyum.
Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Noid sendiri tadi menunduk karena kikuk dilihat oleh Melody sedari tadi, apalagi Melody terus tersenyum kepadanya.
“A-Anu…”
“Ya?”
Noid menjelingkan matanya sedikit kearah Melody dan kembali menunduk.
“Terima kasih untuk Combat tadi…”
“Udah jadi kewajibanku kok untuk menolongmu.”
“… Kenapa?”
Melody tersenyum dan memiringkan kepalanya untuk melihat Noid yang sedari tadi menunduk.
“Karena kau calon suamiku.”
“O-oh… errr,” dan Noid salah tingkah dibuatnya.
“Aku tau, pasti canggung rasanya. 2 orang yang belum sampai 5 hari berkenalan akan tetapi langsung menikah seperti ini, aku juga merasakan hal yang sama,” ungkap Melody.
Noid kemudian memandang Melody yang tengah asyik memandang vas bunga yang ada disamping tempat tidur.
“…Kenapa kau setuju dengan pernikahan ini?”
“Aturan negaraku, aku tidak mau memberi contoh yang buruk untuk wargaku sebagai pelanggar aturan. Jadi aku menerima akibatnya.”
“Apa benar?” Noid menyeringitkan dahi.
Melody memandang Noid dan tersenyum.
“Setidaknya dengan aturan itu kau mempunyai alasan yang kuat untuk menikahiku.”
“Tapi aku…”
“Iya aku tau, aku juga muda sepertimu. Ingin pergi kemana-mana, hanya saja,” Melody melihat langit-langit kamar, “Entah kenapa aku mau melakukannya, apalagi dengan dirimu.”
“Bukankah itu…” alis Noid naik sebelah dan melanjutkan kalimatnya, “Aneh.”
“Ya,” Melody tertawa ringan, “Mungkin karena kau tiba-tiba menciumku kemarin.”
“Tapi itu sebenarnya…”
“Aku tau, kau mengambil udara dari mulutku bukan? Memang hanya lewat hidung dan mulutku aku menciptakan udara kalau didalam air dan… emang sedikit terlihat intim kalau kau mengambilnya dari situ, karena tak ada cara lain bukan selain melakukannya, walau tak jauh berbeda dengan ciuman?” potong Melody.
Noid terdiam dan mereka berdua terus bertatapan.
“Lantas kenapa…”
“Aku tak mempunyai alasannya dan aku sendiri tak tau kenapa aku bisa yakin untuk menikah denganmu.”
“Mungkin karena rasa bersaing dengan Naomi? Ya misalnya siapa duluan yang menikah maka dia yang menang.” tanya Noid curiga.
“Aku bukan anak kecil,” Melody tertawa, “Hanya saja… aku memang merasa yakin untuk menjadi istrimu. Kau begitu rela bertanggung jawab dari semua ulahmu  disaat aku begitu marah denganmu kemarin. Dan itu membuatku yakin pada diriku sendiri kalau kau sebenarnya baik dan bertanggung jawab.”
“Oh… penilaian yang aneh…dan ya… sepihak…”
Mendengar kalimat itu lagi-lagi membuat Melody tertawa, ia kemudian tersenyum dan kembali berkata.
“Dan di-Combat tadi aku membantumu karena ingin kau percaya kepadaku…”
“Tapi kau belum mengenal diriku bukan?”
“Kau juga belum mengenal diriku,” Melody tersenyum, “Dan perkenalan itu kurasa akan berlangsung mengikuti arus saat kita menikah nanti.”
“Errr…” Noid bingung untuk berkata-kata.
“Dan ini juga yang ingin kubicarakan sebenarnya.”
“Oh benar juga,” Noid menoleh kearah Melody, “Apa yang tadi ingin kau bicarakan?”
“Sederhana sih, ya perkenalan tadi,” Melody merenggangkan tulang punggungnya.
“Perkenalan?”
“Ya,” Melody mengangguk.
“Perkenalan seperti apa?”
“Hahaha,” Melody tertawa ringan dan berbicara, “Emm aku orangnya ya kadang keras kepala, kadang menurut, apa yang kurasa salah langsung kuutarakan begitu juga sebaliknya… dan mungkin aku sedikit pencemburu.”
“Oh… perkenalan itu toh…” Noid mulai kikuk.
“Ya, setidaknya ada bahan yang bisa kubicarakan denganmu, aku tadi tidak bisa tidur dan terbesit untuk berbicara denganmu.”
“Oh… jadi perkenalan ini hanya alasan saja?” Noid terkekeh.
“Tidak juga, aku juga ingin memperkenalkan diriku kepadamu.”
“Hmm aku tidak mengerti jalan pikiran wanita,” Noid lagi-lagi terkekeh.
Melody tertawa sejenak dan tersenyum kembali.
“… Aku masih ingat disaat kau sedang berbicara dengan mahluk api biru dari Raja Stor… dan aku penasaran akan sesuatu.”
“Apa?”
Ada sedikit keheningan yang terjadi, sampai akhirnya Melody mengungkapkannya.
“Nama aslimu.”
“Eh?” Noid tertegun.
“Aku mendengar sekilas kalau mahluk itu mengatakan kalau kau berbohong soal namamu itu, dan karena itu aku jadi penasaran dengan nama aslimu.”
“Oh…” Noid menunduk.
“Jadi siapa nama aslimu?”
Tak ada suara dari Noid, dengan posisinya yang menunduk ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingin mengingatnya…”
Melody menyeringitkan dahi.
“Kenapa?”
“Hanya bawaan masa lalu…”
“Hmm.”
Melody kemudian beranjak dari kursi dan berjongkok, dan ia melihat raut wajah Noid tampak sedih diposisinya yang sedang menunduk tersebut. Melody kemudian menyentuh pipi Noid dengan tangan kiri dan tangan kanannya
“Maafkan aku…” kata Melody dengan wajah sayu.
“Kau tidak salah… aku hanya teringat kesalahanku… disaat aku masih memakai nama asliku…”
“Begitu,” Melody tersenyum tipis dan dengan lemah lembuh mengelus rambut Noid.
“Maaf, tapi canggung rasanya kalau diginiin,” Noid terkekeh dan memegang tangan Melody yang sedari tadi menyentuh pipi dan mengelus kepalanya.
“Dibiasakan saja,” Melody tertawa ringan.
Akan tetapi melihat raut mata Noid yang masih sayu membuat Melody terdiam, ia kembali memegang kepala Noid dan mempertemukan kening mereka berdua.
“Setidaknya calon suamiku ini ada nama sekarang,” ujar Melody.
“Hahaha aneh rasanya… apa kau menerima nama palsuku ini?”
“Ya, dan…” Melody memundurkan kepalanya dan tersenyum, “Jangan diceritakan hal itu kalau itu membuatmu bersedih.”
Noid memandang Melody.
“Kenapa?” tanya Noid.
“Aku tidak ingin melihat suamiku bersedih yang dimana aku tidak tahu permasalahnnya, kecuali kalau kau sudah siap untuk menceritakannya kepadaku dan barulah…” Melody mempertemukan kening mereka kembali, “…Akan kulakukan tugasku sebagai istri untuk memberimu ketenangan dan membantumu dalam masalah itu.”
Noid terdiam, bahkan ia tidak harus berkata apa.
“Kau terlalu baik rasanya…” komentar Noid.
“Tidak juga,” Melody tersenyum.
“Tapi apa kau yakin dengan semua ini? dan juga kata-katamu barusan?”
“Aku tidak berbohong didepan calon suami pilihanku sendiri.”
“Kau benar-benar aneh,” Noid tertawa ringan.
“Apa itu sial bagimu?”
“Tidak, kau seperti istri idaman semua pria kalau kau benar-benar melakukannya.”
“Kalau begitu kau beruntung memilikiku,” Melody tertawa.
“Hahaha,” Noid memegang kepala Melody dan mendoronganya pelan sehingga kening mereka tidak kembali bertemu, “Sudah kubilang aku canggung diperlakukan seperti ini.”
Melody tertawa dan kembali mempertemukan kening mereka.
“Dibiasain mulai dari sekarang.”
“Terserah kau saja,” Noid terkekeh dan menggoyang-goyangkan keningnya.
“Hihihi,” dan Melody tertawa karena keningnya juga ikut bergoyang.
“Lebih baik kau kembali kekamarmu,” pinta Noid.
“Iya,” Melody kemudian berdiri dan menyentil kening Noid, “Jangan berpikiran untuk kabur lagi ya? Chip itu akan dilepaskan ayahku setelah kita menikah.”
“Nikah paksa ini namanya,” Noid nyenyir kuda.
“Gara-gara kamu sendiri, siapa suruh menciumku didepan publik?” Melody memeletkan lidah.
“Haaah ya sudahlah, kembalilah kekamarmu.”
“Iya,” Melody melangkah kearah pintu dan membukanya, tapi sebelum keluar ia menoleh kebelakang, “Hey.”
“Ya?”
Melody tersenyum dan berkata.
“Selamat tidur.”
“Mungkin selamat bergadang tepatnya, aku rasa aku tidak bisa tidur gara-gara pernikahan besok.”
“Hihihi kau lucu,” ungkap Melody.
“Errr terima kasih.”
Melody terus tertawa dan menutup pintu. Setelah Melody keluar maka Noid memilih berbaring dan menyentuh keningnya.
“Wanita aneh,” ujarnya sambil terkekeh.
Lalu diluar pintu kamar Melody juga sedang memegang keningnya dengan posisi bersandar dipintu.
“Jadi ini rasanya menyukai seseorang…” gumamnya dengan senyum dibibir.
Sementara itu Naomi terlihat gelisah didalam kamarnya karena pernikahan besok.
“Astaga… kenapa aku menjadi tak rela seperti ini…” ujarnya.
Naomi benar-benar bingung kenapa ia tidak rela Noid dan Melody menikah padahal ia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap pria tersebut bahkan ia juga senang kalau Melody mau menikah. Kebingungannya ini terus menghantam kepalanya.
Dan malam diplanet Ribu, masih menimbulkan teka-teki.
Beautifull Aurora ® IV
Keesokan harinya suasana di-Istana kerajaan benar-benar meriah, berbagai macam aksi dan kata penyambutan memeriahkan suasana sebelum hari pernikahan Melody dan Noid. Para tamu undangan dari kerajaan lain juga tak sabar untuk melihat mempelai kecuali 20 pangeran yang lebih memilih minum dimeja makan yang tersedia disitu.
“Melody menikah… terus aku menikah dengan siapa? Huhuhuhu,” salah satu pangeran menangis dan menenggak air minum.
“Kita harus bahagia! Kita harus bahagia!” seru salah satu pangeran memberi sugesti, “…Tapi mempelai prianya jangan bahagia!!!”
“Betul itu! betul!” dan diiyakan ke-19 pangeran lainnya.
Dan sekarang ke-20 pangeran itu malah menyumpah-nyumpahi Noid agar tidak bahagia dengan gaya mabuk-mabukan, padahal belum ada minuman alkohol yang tersedia disitu, yang mereka minum hanya air lemon manis biasa.
“Segitu amat,” cibir Bayu yang tak jauh dari tempat mereka.
“Korban drama,” Indra terkekeh.
“Hei!” seru Beny.
“Apa komandan?” tanya Bayu.
“Suapkan ini! Sudah tahu tanganku kaku!” pinta Beny sambil melotot.
“Ye iye,” Indra memiringkan bibir dan memasukan sembarang udang kedalam mulut Beny karena tangan Beny benar-benar kaku sehabis mendayung seharian kemarin sehingga otot-otot tangannya menegang semua.
Setelah atraksi ini itu maka akhirnya acara puncak akan dilaksanakan. Seorang pria tua dengan jas merah berdiri ditengah mimbar yang dimana dikelilingi oleh para tamu undangan, pria inilah yang akan menikahkan Melody dan Noid.
“Panggil mempelai prianya.”
Salah satu prajurit berjalan menuju suatu ruangan dan tak lama kemudian keluar Noid yang dikelilingi pasukan kerajaan dan terus berjalan menuju mimbar.
“Waaah! Itu ya mempelai prianya?” seorang tamu wanita muda terpana melihat penampilan Noid yang begitu enak dilihat.
“Iya ya! Eh mpris-mpris, itu ya calon suami kakakmu?”
“Iya,” Frieska tersenyum dan memain-mainkan alis.
“Duuuh beruntung banget sih kakakmu!” wanita itu merengutkan wajahnya dan merasa tak rela melihat pria yang menarik hatinya itu menikah dengan orang lain.
Frieska terkekeh melihat tingkah wanita itu, dan ditempat lain Naomi juga tertegun melihat penampilan Noid yang terlihat elegant dan juga enak dilihat.
Astaga! Tampannya!” serunya dalam hati, pipinya merona merah.
“Wah kak Noid tampan ya?” senyum Sinka merekah dan menyinyitkan matanya memandang Naomi.
“Apa?” tanya Naomi saat melihat ekspresi adiknya tersebut.
“Coba gak nolak, tuh kak Noid udah jadi suami kak Omi sekarang,” ujar Sinka.
“Ish!” dengan sebal Noami menarik pipi adiknya.
Noid memang terlihat berbeda kali ini dan tentu saja itu semua berkat bantuan 5 penata rias yang mengerahkan jiwa dan raganya untuk meng-make over Noid habis-habisan sehingga memakan waktu 1 jam.
Noid kemudian berdiri diatas mimbar, tepat disebelah pria tua berjas merah tersebut.
“Tegang ya?” pria tua itu tertawa dan menepuk-nepuk pundak Noid.
“Eer… i-iya…” Noid mengangguk segan.
“Hahahaha!” pria tua tertawa dan berbisik kepada Noid, “Tenang, ingat malam pertama saja nanti ya? Pasti cihui!!!” bisiknya semangat dan memberikan tanda jempol.
“O-oh i-iya haha… cihui…” Noid juga membalas jempol tangannya.
Raja Laks dan beberapa paman Melody mendengar bisikan itu, mereka tertawa dan menepuk-nepuk pundak Noid. Raja Stors yang duduk didekat mimbar tiba-tiba dikagetkan dengan seseorang yang duduk disampingnya.
“Oh kau rupanya Malik,” Raja Stor tersenyum.
“Sepertinya saya belum terlambat,” Malik tersenyum.
“Ya, baru mempelai prianya yang datang,” Raja Stor menadahkan kepalanya kearah mimbar.
Malik tersenyum dan menoleh kearah mimbar, dan saat melihat Noid tiba-tiba alisnya naik sebelah.
“Dia?” Malik menunjuk Noid.
“Ya, itu Noid. Penampilannya benar-benar berubah bukan? Hahaha,” Raja Stor tertawa lepas sambil melipat tangan.
“Apa? Noid?” Malik menyeringitkan dahi.
“Ng? anda kenapa? Masa anda lupa?” Raja Stor juga menyeringitkan dahi.
“Oh,” Malik tiba-tiba menepuk kepalanya dan tersenyum, “Kemarin saya… ya sedikit mabuk, sekarang saja masih pusing,” ulasnya sambil tertawa.
“Wah, saya kira anda sudah berhenti mengkonsumsi alkohol.”
“Saya terbawa suasana tadi malam, apalagi ini hari pernikahan haha. Ya taulah kan malam sebelum pernikahan?”
“Haha benar juga,” Raja Stor memaklumi dan kembali menoleh kearah mimbar.
Malik melihat Noid sekali lagi, tak lama kemudian ia menundukan kepalanya dan terkekeh. Sementara itu didalam istana terlihat Michelle buru-buru merapikan pakaian sambil berjalan bersama ibunya.
“Ayo Michelle, pengantin prianya udah diatas mimbar loh.”
“Iya-iya bentar,” ujar Michelle sambil memasang kalung.
“Ng? kalung siapa?” Ibunya menyeringitkan dahi.
“Oh, ini dibeliin paman Malik kemarin pas nemenin aku belanja. Cantik ya Ma?” ujar Michelle memperlihatkan kalung berwarna biru yang enak dilihat.
“Iya,” Ibunya mengangguk sambil tersenyum, “Eh iya, ayo cepet-cepet.”
“Iya-iya.”
Michelle dan ibunya buru-buru bergabung dengan keluarga kerajaannya, dan beruntung bagi mereka karena Melody belum datang jadi pernikahannya belum dimulai.
“Sekarang panggil mempelai wanitanya,” pinta pak tua berjas merah.
Prajurit kerajaan menuju salah satu ruangan, dan tak butuh waktu beberapa lama terlihat Melody keluar dari ruangan tersebut dikelilingi penjaga kerajaan.
“Demi pencipta planet Ribu! Melody cantik banget!” salah satu pangeran terpukau.
“Iya, dan.. dan… ia menjadi milik bedebah itu!” salah satu pangerang menggebuk-gebuk meja.
“Aarrghhh!! Kenapa harus pria itu yang menikah dengan Melody? Kenapa?!” dan para pangeran lain juga menggebuk-gebuk meja sambil menutup mata mereka dengan pergelangan tangan.
“Hoi! Berisik!” hardik Beny mewakili Bayu dan Indra karena gebukan meja itu menganggu khidmat mereka menghantam makanan.
Jadi bisa dibilang 3 orang anggota Venom ini lebih mementingkan makanan daripada acara pernikahan. Kurang ajar emang.
Semua orang yang ada disitu juga terpukau melihat pesona yang dipancarkan Melody dengan gaun pengantinya berwarna biru muda, selain make-up yang pas, gaunnya juga terlihat mewah. Sehingga kecantikannya itu benar-benar terpancar.
“Waah….” bahkan Noid melongo melihat kecantikan calon istrinya tersebut.
Melody akhrinya berdiri diatas mimbar yang sama dengan Noid, gadis ini menoleh dan tersenyum melihat Noid yang terpukau melihatnya.
“Baik, dengan ini pernikahan dimulai. Akan saya mulai dari sang mempelai pria, tolong sebutkan nama.”
Noid masih melongo.
“Mempelai pria?” pak tua memanggilnya lagi, ia menoleh dan memiringkan bibir melihat tingkah Noid yang masih terpana.
“Noid, hei-hei,” raja Laks mentoel-toel lengan tangan Noid.
“Biar saya saja,” kata pak tua berjas merah, ia menghampiri Noid dan membisiki sesuatu, “Ingat apa yang tadi saya bilang. Jangan tegang, tapi…”
“Malam pertama! Mantap!” seru Noid tiba-tiba dengan suara lantang, jempol tangannya pun teracung.
“Pfffttt!!!” Frieska mengembungkan pipi menahan gejolak tawa saat mendengar kata-kata Noid tadi.
Tak hanya Frieska akan tetapi semua orang juga terlihat berusaha menahan tawa mereka masing-masing, hanya saja Melody memiringkan bibir dan menginjak kaki Noid.
“Eh? O-oh i-iya,” Noid mengangguk.
“Bilang malam pertamanya jangan keras-keras juga kali,” ujar pak tua berjas merah pelan dengan bibir yang miring, “Kesini.”
Noid kemudian berdiri didepan pak tua jas merah, begitu juga dengan yang dilakukan Melody.
“Sekarang taruh telunjuk tanganmu diatas bedak merah ini,” pinta pak tua.
Noid melakukan perintahnya, setelah Noid maka Melody yang melakukannya.
“Sekarang kalian berhadapan dan pertemukan telapak tangan kanan kalian masing-masing.”
Noid dan Melody menuruti perintahnya dan gara-gara ini Noid benar-benar terkesima melihat Melody dari jarak dekat, Melody yang merasa dilihat kemudian tersenyum memandang Noid.
“Dan ucapkan hal ini dengan lantang, namamu Noid kan?” tanya pak tua berjas merah.
“I-iya,” Noid mengangguk pelan.
“Oke dengarkan baik-baik, dan ulangi kalimat ini. Dan tidak boleh ada kesalahan sama sekali.”
Pak tua jas merah itu kemudian memberikan arahan kalimatnya kepada Noid dan begitu cepat diserap oleh Noid. Setelah itu Noid bersiap-siap melakukan apa yang harus dilakukannya.
“Saya Noid dengan ini menyatakan diri dihadapan para saksi, pencipta planet Ribu dan Sang Maha Kuasa bahwa saya akan menjadi suami untuk Melody, wanita yang saya nikahi pada hari yang suci bagi kami berdua.”
Pak tua berjas merah mengangguk dan meminta Melody melakukan balasannya.
“Saya Melody dengan ini membenarkan apa yang dinyatakan oleh Noid, suami yang akan menaungin hidup saya baik jasmani dan rohani.”
Ehh buset! Pendek amat buat mempelai wanita!” seru Noid didalam hati.
Setelah Melody dan Noid mengucapkan kedua kalimat tersebut, pria tua berjas merah meminta mereka untuk menekan telunjuk jari mereka yang diberi bedak merah diatas kertas putih. Kertas putih itu kemudian dibakar didalam nampan yang berisi spritus kemudian dibakar oleh pak tua.
“Atas nama Sang maha kuasa dan pencipta planet Ribu, maka mereka berdua sah sebagai suami istri!”
Suara tepuk tangan memeriahkan hal tersebut, dan disaat itu juga Noid akhirnya benar-benar menikah dengan Melody. Ia benar-benar tak menyangka bisa terlarut dalam upacara pernikahan ini.
“Dan untuk simbolis, Sang Istri dipersilahkan mencium tangan mempelai sang suami, dan sang suami dipersilahkan untuk mencium kening sang Istri.
Suara hiruk pikuk kembali terjadi, bahkan bibi-bibi, dan Frieska menitikan air mata kebahagiaan karena akhirnya melihat Melody menikah. Dan tentu saja yang lebih terharu melihat pernikahan itu adalah ibunya sendiri.
Akhirnya mereka menikah…” batin Naomi dengan wajah murung.
“Kakak kenapa?” tanya Sinka.
“Oh…” Naomi menoleh dan tersenyum, “Enggak.”
Sementara itu Melody sudah melakukan simbolis pertama, ia mencium tangan kanan Noid dengan lembut dan diabadikan oleh beberapa tukang photo yang ada disitu. Dan saat gilirang Noid, pria ini menjadi kikuk setengah mati karena giliran dia harus mencium kening istrinya tersebut.
“Udeh, inget malam pertama,” pak tua berjas merah kembali membisikinya.
“E-errrr…” dan Noid tidak bisa berkata apa-apa.
Dengan gagu dan kikuk maka Noid berjalan menghampiri istrinya, dan Melody terus tersenyum kepadanya.
“Bisakah kau tidak tersenyum? Aku benar-benar canggung kalau dilihat seperti ini,” ujar Noid pelan.
“Hihi dasar, yaudah aku tutup mata,” Melody kemudian menutup mata sambil tersenyum.
“Eeer o-oke.”
Noid kemudian memegang kedua pundak Melody dan hendak menciumnya. Orang-orang begitu heboh untuk menyaksikan simbolis terakhir yang akan dilakukan Noid. Sebenarnya simbolis ini tidak perlu dilakukan hanya saja sudah menjadi kebiasaan, karena mereka sudah seutuhnya menjadi suami istri.
Dan saat bibir Noid hampir menyentuh kening Melody tiba-tiba saja Noid menyeringitkan dahi.
“Ng?!” begitu juga Melody, ia bahkan sampai membuka matanya.
Dan tak hanya mereka berdua, akan tetapi Raja Stor merasakan hal yang sama, ia menyeringitkan dahi dan was-was sambil melihat sekitar.
“Ada apa?” tanya pak tua merah.
“Ada apa Imel?” tanya ayahnya yang melihat ekspresi anaknya tersebut.
“I-ini…” Melody tiba-tiba terbata berbicara.
“P-pekat… hitam… ini,” disambung oleh Noid.
“Astaga!” Raja Stor kemudian berdiri dan terlihat cemas sampai-sampai keringat mengucur dikepalanya.
“Kenapa Yah?” tanya ibunya Naomi.
“Kenapa Kek?” sambung Naomi.
“Ini… aura ini… gila! Aura ini benar-benar jahat!” serunya tiba-tiba.
“A-Apa maksudnya?” Sinka menyeringitkan dahi.
Semua tamu undangan terlihat kebingungan melihat sikap mereka bertiga, sampai akhirnya Melody berteriak.
“Kalian semua masuk kedalam istana! Cepat!” serunya.
“Ada apa Imel? Ada apa?” tanya Ayahnya was-was.
“Ada aura hitam mendekat, yang Mulia… dan ini benar-benar jahat!” disambung Noid.
“Apa maksudnya?” Raja Laks menyeringitkan dahi.
“Jangan dipikirkan! Segera suruh semuanya masuk kedalam! Aura ini benar-benar kuat dan berbahaya!”
Tak mengerti akan maksudnya tapi Raja Laks menuruti perintah putrinya tersebut, ia pun menyuruh orang-orang yang ada disitu memasuki istana karena melihat gelagat ketiga ‘Keturunan’ Sentry merasakan ancaman yang begitu serius.
“KALIAN SEMUA! SEGERA MASUK KEDALAM! CEPAT!” teriak Raja Stor.
“Kek! Emang ada apa kek?” tanya Naomi.
“Naomi! Masuklah kedalam, disini akan ada bahaya!” seru Raja Stor sambil memegang pundak Naomi.
Semua orang yang tak tahu apa-apa tiba-tiba menjadi panik karena dirasanya ini benar-benar serius. Pasukan kerajaan Laks juga bersiap-siap diluar begitu juga didalam.
“Ada apa Raja?” tanya Beny saat menghampiri.
“Pakai alat tempur kalian, aku merasakan aura yang benar-benar bahaya disini,” pinta Raja Stor kepada Beny, Bayu dan Indra.
“Baik!”
Bayu dan Indra menekan sebuah pin berbentuk V yang sedari tadi melekat dibaju bagian pundak mereka dan pakaian tempur mereka otomatis terpasang dari bawah hingga keatas.
“Hei,” panggil Beny.
“Apa komandan?” tanya Bayu.
“Pencetin! Udah tahu tanganku masih kaku!” pinta Beny.
Bayu memiringkan bibir dan memencet pin-nya Beny sehingga pakaian tempurnya terpasang secara otomatis.
“Emang ada yang mulia? Bahaya apa yang akan datang?” tanya Indra was-was.
“Aku masih belum tahu, ini untuk pertama kalinya merasakan aura sejahat ini, siapkan senjata kalian!”
“Baik.”
Bayu dan Indra meng-summon senjata tempur mereka akan tetapi tidak dengan Beny.
“Apa perlu ku-summon senjata untukmu komandan?” tanya Indra kepada Beny.
“Tidak perlu, dengan tanganku seperti ini bagaimana aku menggunakannya bukan?”
“Lalu bagaimana?”
“Heh! Kalian kira kakiku ini tidak berfungsi? Jangan remehkan aku!” Beny menyeringai.
Tubuh Raja Stor kemudian berbalutkan api merah untuk berjaga-jaga dan para pasukan kerajaan Laks juga bersiap-siap melihat Raja Api sudah mempersiapkan persiapannya.
“Kupikir kau masuk saja dan lindungi orang-orang yang ada didalam,” pinta Noid kepada Melody.
“Tidak, aku akan bertempur bersama kalian.”
“Keras kepala sekali.”
“Selamat mengenal salah satu dari diriku,” Melody tersenyum tipis.
“Lalu bagaimana kau bertempur dengan gaun pengantin seperti itu? kau akan kesusahan bergerak.”
“Apa kau lupa kalau aku berdiam diri saja sudah cukup untuk mengeluarkan dan mengendalikan kekuatanku.”
“Oh ya maaf, dan sepertinya pernikahan ini gagal gara-gara ini.”
“Tidak sepenuhnya gagal, aku sudah menjadi istrimu bukan?” Melody tersenyum.
“Haha yah… kau benar.”
Noid kemudian mengeluarkan listrik kuning disekujur tubuhnya dan Melody membentuk sebuah perisai dari air untuk melindungi prajurit-prajurit kerajaan. Setelah itu sisa airnya dikendalikannya untuk mengelilingi tubuhnya.
“Saktia, kumohon jaga orang-orang didalam,” pinta Melody dengan Cell.
-Baik tuan putri.
Setelah itu Melody, Noid, Raja Stor, 3 pasukan Venom dan prajurit kerajaan Laks menunggu bahaya yang akan terjadi menghampiri kerajaan karena mereka merasakan aura hitam pekat nan jahat menghampiri tempat itu.
Sementara didalam istana terjadi kehebohan, itu karena mereka mempertanyakan kenapa Noid dan Melody berada diluar. Maka paman Frieska dibantu dengan ibunya Naomi menjelaskan kepada mereka semua.
“A-apa?! J-jadi Melody itu ‘Keturunan’ Sentry air? Seperti hal nya raja Stor?” salah satu pangeran tampak tak percaya, begitu juga orang-orang lain yang tak tahu menahu soal itu.
“Ya,” paman Melody mengangguk.
“Tak kusangka…” Raja dari kerajaan Bira yang negaranya memiliki batu Sentry besi terpana mendengar hal itu.
“Dan suaminya itu juga ‘Keturunan’ Sentry?” tanya salah satu tamu undangan.
“Iya benar,” Ibunya Naomi dan Sinka mengangguk.
“Dia ‘Keturunan’ Sentry apa?” tanya Raja dari kerajaan Siva yang negaranya memiliki batu Sentry Tanah.
“Petir,” jawab pamannya Melody.
“Keturunan langka?” tanya Raja dari kerajaan Enila yang negaranya memiliki batu Sentry Udara.
“Ya.”
Semua orang kembali kasak-kusuk mendengar hal itu, mereka tak menyangka selain melihat pernikahan putri kerajaan, ternyata mereka juga melihat pernikahan antar ‘Keturunan’ Sentry yaitu Air dan Petir. Akan tetapi masih ada orang yang terlihat cemas dan itu adalah ibunya Melody.
“Imel! Kenapa Imel tidak disuruh masuk Yah!” ibunya Melody terlihat cemas.
“Maafkan ayah, tapi Imel pasti baik-baik saja. Ada Raja Stor dan Noid diluar. Pasti mereka akan menjaganya.”
Raja Laks mencoba menenangkan istrinya, sementara itu Frieska berbicara dengan Naomi.
“Kira-kira ada apa ya?”
“Aku tidak tahu,” Naomi menggeleng kepalanya, “Tapi kurasa ini serius, aku baru pertama kalinya melihat kakekku seperti itu.”
“Benarkah?” tanya Michelle.
Naomi mengangguk untuk memberi jawabannya.
“Tenanglah.”
Frieska, Naomi dan Michelle menoleh kebelakang dan melihat Malik tersenyum sambil memegang kedua bahu Michelle dari belakang.
“Semua pasti akan baik-baik saja.”
“Semoga saja, paman,” ujar Michelle.
Dan disaat semua orang kebingungan dan cemas tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan bunyi keras dari atas, dilihat sebuah mahluk besar menerobos dinding dan melompat dari dinding ke dinding lainnya hingga ia berdiri didepan semua orang-orang.
“R-Remo!” seru Sinka.
Terlihat Remo sudah dalam bentuk mode serigala dewasanya, akan tetapi ada yang aneh dengan serigala ini yaitu dia bisa membesar dengan sendirinya tanpa perlu tuntunan suara dari Noid karena sebelumnya ia tertidur dikamar Melody yang paling atas dan aneh yang kedua adalah ia terus mengeram kearah orang-orang.
“R-Remo, kamu kenapa?!” tanya Ibunya Sinka.
“Grrrrrrr!!!!” Remo terus mengeram dan mengeram kearah mereka semua.
“K-kenapa dengan serigala ini?” Naomi tampak panik, begitu juga orang-orang yang ada didekatnya.
“Remo! Kau kenapa? Tenanglah, kau menakuti semua orang,” pinta Sinka.
Akan tetapi Remo menggertak Sinka dengan lolongannya sehingga membuat Sinka ketakutan bukan main dan terjatuh kebelakang. Remo tiba-tiba melompat kekerumunan sehingga orang-orang berusaha melarikan diri.
“REMO! APA KAU GILA?!” teriak Naomi.
Remo tidak perduli dan terus menakuti-nakuti orang-orang yang ada disitu hingga mereka berpisah kemana-mana. Mereka semua takut melihat serigala yang besar bukan main ini begitu liar dan mengeram kearah mereka.
“Tuan Putri, mundurlah…” Saktia mencoba melindungi Frieska.
Setelah membuat orang-orang menjauh kesana-kemari akhirnya Remo menoleh, perlaha demi perlahan ia berjalan dan mengeram kepada seseorang yang ada didepannya. Dan orang itu adalah Michelle.
“K-K-Kenapa dengan dia?” Michelle ketakutan, kakinya lemas.
“Tenanglah tuan putri,” Malik berusaha melindungi Michelle dari belakang.
“GRRGGGHHHHHHHH!!!!” dan Remo semaki ganas eramannya dan menatap Michelle seolah-olah ia sudah siap menerkam gadis tersebut.
Sementara itu diluar ada sesuatu yang mengejutkan Melody, Noid dan Raja Stor secara bersamaan.
“B-Bagaimana bisa….” Raja Stor melotot dan nafasnya terengah-engah.
“Ada apa raja?”
Raja tidak menjawab, ia menoleh kebelakang begitu juga Noid dan Melody. Kedua keringat dikening mereka turun dengan mata Melotot, Noid dan Melody merasakan apa yang dirasakan Raja Stor.
“S-Sejak kapan aura orang ini melewati kita?” tanya Melody dengan nafas terengah-engah.
“Astaga… auranya benar-benar kuat!” sambung Noid.
“Ada apa Raja?” seru Beny.
“KALIAN SEMUA! SEGERA MASUK! BAHAYA ADA DIDALAM ISTANA!” teriak Raja Stor kepada prajurit kerajaan Laks.
Mendengar teriakan itu sontak membuat semua orang yang siap bertempur diluar hendak masuk kedalam istana. Mereka semua masuk dan terkejut melihat Remo berubah menjadi serigala dewasa dan terlihat mengancam Michelle dari gerakannya.
“Remo… kau bahkan berubah dengan sendirinya…” Noid membelalakan matanya.
“Apa yang terjadi dengan serigalamu itu?” tanya Indra.
“Oh tidak… ini berarti ancaman ini tidak main-main. Remo bahkan berubah tanpa seizinku.”
“Kurasa serigalamu itulah ancamannya, kau tak lihat tingkahnya itu?” ujar Beny.
“Kak Noid!” seru Sinka saat melihat Noid.
Remo menoleh sebentar untuk melihat Noid akan tetapi ia kembali melihat Michelle dan mengeram.
“Noid lakukan sesuatu terhadapany!” seru Naomi.
“Kak Noid! Tolong Remo kak! Dia aneh!” ditambah Sinka setelahnya.
Tahu kalau Remo menjadi tanggung jawabnya maka Noid bersedia untuk menenangkannya.
“Hati-hati…” kata Melody pelan untuk Noid.
“Gila! Aura hitam ini semakin kuat!” Raja Stor terengah-engah merasakan aura yang begitu dahsyat kekejamannya.
Melody dan Noid juga merasakan hal yang sama, nafas mereka terengah-engah tertekan aura hitam yang melingkupi istana. Akan tetapi ia lebih memprioritaskan Remo terlebih dahulu.
“Remo, tenang kawan, ada aku disini…” kata Noid dengan langkah perlahan menghampiri Remo.
“GRAAARRRWW!” Remo mengeram kearah Noid akan tetapi ia kembali memandang Michelle, “GGRRRRRRRRR!!!!”
“A-a-a-a-a-aa-aaaaa!!!” Michelle benar-benar ketakutan hingga air matanya menetes dan Malik senantiasa memeluk gadis tersebut dari belakang untuk melindunginya.
“Remo!” hardik Noid.
“GGRRRGGGHHH!” Remo terus mengeram.
Langkah Noid akhirnya berada disamping Remo, tangannya direntangkan untuk mengelus kepala anak serigala tersebut.
“Tenanglah kawan, tenang. Kau tidak mengganggu Huma, kau juga tidak makan daging, tenanglah, te…”
Tiba-tiba Noid menghentikan ucapannya, matanya melotot dan nafasnya terengah-engah. Dan tak hanya dia, akan tetapi juga Raja Stor dan Melody. Sampai akhirnya Noid menoleh kearah Michelle.
“Oh Tidak!” seru Noid dengan mata terbelalak.
“LARI!” teriak Raja Stor.
“MICHELLE LARI!” begitu juga Melody.
“Eh?” Michelle tertegun.
“Sial!” Noid kemudian berlari untuk menyelamatkan Michelle.
Akan tetapi terlambat.
“UUUUGGGHHHHH!!!” Michelle melotot dan mulutnya memuncratkan darah.
Semua orang disitu terkejut, terlebih lagi Noid yang berada dihadapannya.
“MICHELLEEEEE!!!” Ibunya Michelle berteriak dan shock dengan apa yang dilihatnya.
Bagaimana semua orang tidak terkejut, itu karena ada sebuah pedang air menembus tubuh gadis malang ini dari belakang.
“A-a-a-a—aargggghhh….” Michelle menoleh kebawah dan melihat pedang air yang menembus tubuhnya tersebut. Ia mencoba memegang pedang air itu tapi tangannya tidak bisa menyentuhnya.
“K-Kau! APA YANG KAU LAKUKAN MALIK?!” Raja Laks berteriak.
Terlihat Malik menyeringai melihat korban tusukannya itu dari belakang, ia kemudian mengambil kalung Michelle secara paksa.
“Terima kasih sudah menjaga kalung ini wanita bodoh!”
“Aaarrggghhhhhhh!” Michelle yang sekarat menoleh kebelakang dan tak percaya kalau Malik melakukan ini.
“K-Kau juga ‘Keturunan’ Sentry air…” Melody terperangah.
“Hmm,” Malik tersenyum sinis.
Ia kemudian berdiri sehingga Michelle juga terangkat karena pedangnya, Malik kemudian mengibas pedang airnya sehingga Michelle terlempar kedepan. Akan tetapi dengan cepat Remo menangkapnya dan menyerahkannya kepada ibunya Michelle.
“Aarrrggghhh-arrggghhh!!” Michelle benar-benar sekarat, mulutnya terus mengeluarkan darah.
“CEPAT BAWA DIA KERUANG OPERASI!” perintah Raja Laks.
Saktia, Frieska dan beberapa pamannya segera berlari menjauhi Malik untuk menolong Michelle. Michelle digotong beramai-ramai untuk segera dilakukan pengobatan. Orang-orang yang ada disitu pun berhamburan keluar melihat salah satu ‘Keturunan’ Sentry air baru saja melakukan serangan yang dahsyat.
“Peluang dia untuk hidup 50%, hmm,” Malik tersenyum sinis sambil memangku pedang airnya dipundaknya.
“MALIK APA-APAAN KAU INI?!” teriak Raja Laks yang marah.
“Malik?” Malik terkekeh dan menunjuk wajahnya dengan jempol tangannya, “Aku bukan Malik, aku hanya meminjam kulit wajahnya.”
“APA?!” semua anggota keraajan dan prajurit Laks kaget bukan main.
“Kalau kalian mencari orang yang bernama Malik, kalian cari saja disalah satu toko yang ada dikota. Aku menaruh mayatnya disitu dan… tak berwajah,” Malik palsu menyeringai.
“S-SIAPA KAU?!” teriak Raja Stor terengah-engah, aura gelap dari Malik palsu sangat kuat hingga menekan auranya, bahkan aura Melody dan Noid.
“Entahlah,” Malik menyeringai, “Aku tertawa melihat kalian menyangka aura itu datang dari luar, itu semua berkat kalung ini, aku bisa mengaburkan aura-aura ini sehingga dengan kalung ini sehingga kalian salah mendeteksinya,” Malik menunjukan kalung yang ia berikan kepada Michelle sebelumnya.
“KENAPA KAU MELAKUKAN INI HAH?!” teriak Melody.
“Oh tenanglah tuan putri, tentu saja disini aku mempunyai urusan. Dan urusanku dengan orang yang sudah mencapai level 4, yaitu kau,” Malik palsu menadahkan kepalanya, “Raja Stor.”
Raja Stor kaget terlebih lagi Malik palsu ini tahu kalau ia sudah bisa mencapai level 4 kekuatan apinya.
“S-SIAPA KAU?” teriak Beny untuk Malik palsu.
“Kalian tidak akan mengenalku, kecuali,” Malik palsu menyeringai dan memandang Noid, “Kau.”
Semua perhatian orang tertuju kepada Noid yang nafasnya terengah-engah.
“Siapa dia Noid?” tanya Raja Stor.
“A-Aku sendiri tidak tahu,” Noid menggelengkan kepalanya dengan mata terbelalak.
“HAHAHAHAHAHAHAHA!” Malik palsu tiba-tiba tertawa dan menepuk wajahnya sendiri dengan tangannya, “Bahkan kau merubah namamu menjadi Noid? Kau benar-benar menghiburku tuan muda.”
“K-Kau” Noid menyeringitkan dahi saat Malik palsu menyebutnya ‘tuan muda’ dan tampaknya ia memang mengenalinya.
“Oh, mungkin akan kulepas wajah pria tua ini dulu.”
Malik Palsu kemudian menarik kulit wajah Malik dari wajahnya dan tertampanglah seorang pria yang parasnya hampir tak jauh berbeda dengan Noid hanya saja rambutnya lebih rapi.
“Kau pasti mengingatku,” Malik palsu menyeringai dan melempar kulit wajah Malik kebelakang.
Noid kaget bukan main, nafasnya terengah-engah, keringatnya mengucur, sampai akhirnya ia mengatup geram giginya dan berkata penuh dendam.
“DION!!”
“Hehehehe,” dan pria yang bernama Dion ini menyeringai terhadapnya.
“Siapa dia?” tanya Naomi.
“Hmm,” Dion tersenyum kepada Melody dan kembali menoleh kearah Noid, “Seharusnya kau berterima kasih kepadaku, karena aku mengeluarkan aura ini disaat kau sudah resmi menjadi suaminya. Dan aku benar-benar tak menyangka kau ada dinegeri ini!”
“Sialan kau!” seru Noid dengan penuh amarah.
“Heh! Dan namamu itu sepertinya kebalikan dari namaku, kenapa kau membalikan namaku untuk namamu?” tanya Dion kepada Noid.
“Untuk mengingat apa yang kau lakukan terhadapku bajingan!” mata Noid mulai sedikit memerah.
“Ouh ckckck dendam lama rupanya, tapi sayang sekali aku tidak mempunyai urusan denganmu bocah petir, kau masih lemah dan petirmu itu kurasakan baru sampai di-level 2,” ujar Dion menunjuk Noid dengan pedang airnya.
“TAPI AKU YANG MEMPUNYAI URUSANMU BAJINGAN! KAU PIKIR UNTUK APA AKU BERKELANA SELAMA INI HAH?!”
Tiba-tiba saja petir ditubuh Noid berubah menjadi biru seutuhnya dan begitu juga rambutnya yang hitam menjadi perak.
“Wah-wah, lumayan juga,” Dion tertawa dan mengetuk-ngetuk pedang air dipundaknya.
“Noid…” Melody dan Raja Stor terhenyak karena Noid akhirnya mengeluarkan aura membunuhnya.
“Lebih baik jangan sia-siakan energimu,” Dion tersenyum.
“DIAM KAU!”
Dengan kecepatannya maka Noid langsung menerjang Dion, tangannya berbalutkan listrik biru yang memekat yang akan menghancurkan apapun yang disentuhnya. Didalam kecepatannya itu yang lain terlihat berdiam diri, begitu juga Dion. Dan disaat Noid hampir menghantam wajahnya dengan kepalan petir tiba-tiba saja mulut Dion tersenyum.
“Sudah kubilang jangan sia-siakan energimu.”
“Apa?!” Noid terkejut bukan main karena Dion masih bisa berbicara didalam mode kecepatannya.
Disaat Noid sudah hendak menghantam tiba-tiba saja sosok Dion menghilang didepannya. Noid terperangah begitu juga yang lain.
“D-dia menghilang kemana?” Naomi begitu takjub melihat pemandangan barusan.
“KENAPA KAU MASIH DISINI! CEPAT KESANA! ORANG INI SANGAT BERBAHAYA!” seru Noid kepada Naomi.
“Beny!” kata Raja Stor kepada Beny.
Meskipun tangannya tak bisa digerakan akan tetapi dengan cepat Beny menghampiri tempat Naomi. Naomi segera berdiri dan dibawa Beny ketempat ia berkumpul bersama Raja Stor, Melody, 2 anggota Venom dan prajurit kerajaan Laks.
“Dimana dia?” tanya Raja Siva.
Noid tidak bisa menjawab karena ia sendiri kebingungan mencari jejak Dion bahkan ia tidak bisa merasakan auranya. Semua orang juga celingak-celingukan sampai akhirnya suara Dion terdengar.
Level 2 kecepatannya memang mengagumkan.”
“APA? DIMANA DIA?!”
Orang-orang kembali celingak-celingukan mencari sosok Dion yang tadak wujudnya.
“Kau pikir kau bisa mengalahkanku mengandalkan kekuatan level 2 ini? hahahaha!” suara Dion lagi-lagi terdengar.
“BRENGSEK! KELUAR KAU BAJINGAN!” teriak Noid.
“Oh kau yakin? Karena saat aku menunjukan diri aku akan memberimu kenyataan kalau kau tidak akan bisa mengalahkanku.”
“DIAM! KELUAR DAN AKAN KUBUNUH KAU!” aura membunuh Noid benar-benar meningkat drastis.
“Kau begitu yakin membunuhku dengan level 2 petirmu itu, tapi apa kau tidak sadar…”
Tiba-tiba muncul Dion dibelakang Noid, ia menyeringai akan tetapi wujud fisik Dion benar-benar membuat Noid dan semua orang kaget.
“Kalau bukan hanya kau yang bisa melakukan level 2?” Dion menyeringai dengan balutan listrik biru ditubuhnya dan rambutnya juga berwarna perak.
“A-APA?!” Noid membelalakan matanya.
“D-Dia… juga ‘Keturunan’ Sentry petir…” Raja Stor terperangah, begitu juga Melody.
“HEH!” Dion langsung meninju punggung Noid.
“ARGGGHHH!!” Noid berteriak dan terhempas keudara
Akan tetapi tiba-tiba Dion sudah muncul diatasnya dengan kecepatan level 2 yang sama seperti Noid, ia kembali menghantam Noid kebawah dan Noid meluncur dengan cepat. Tetapi sebelum menyentuh tanah lagi-lagi Noid terhantam kesamping, dan pria ini terhempas kesana kemari akibat hantaman Dion yang begitu cepat melakukan gerakannya.
“UAARRGGGGHHHHHHHHHH!!” Noid akhirnya memuntahkan darah akan rasa sakit yang diterimanya apalagi kepalan tinju Dion juga berbalutkan listrik biru yang.
Noid jatuh dan terhempas kelantai, dia benar-benar sekarat apalagi bajunya koyak disana-sini. Tiba-tiba muncul Dion didekatnya dan menekan ujung kakinya dengan sangat kuat kedada Noid.
“Sudah kubilang kau akan kuhajar habis-habisan,” Dion menyeringai.
“Errgghhh!! Sial!!!” rambut Noid kembali menghitam dan aliran listrik birunya kembali berwarna kuning.
“Apa ini?! Kenapa ada ‘Keturunan’ sentry petir lain? Dan kenapa kau ada 2 kekuatan ‘Keturunan’?” Raja Stor terperangah.
“Hmm,” Dion mendesis dan rambutnya menghitam kembali serta menghilangnya aliran listrik biru ditubuhnya, “Aku tidak mau menjawabnya,” ujar Dion sambil menyeringai memandang kebelakang.
Tiba-tiba muncul air dari luar dan meliuk-liuk disekitar tubuh Dion, dan dari auranya maka Raja Stor dan Melody bisa merasakan kalau kekuatan airnya itu berada di-level 2 sama seperti Melody.
“Oh, nafsu membunuhmu keluar. Apa karena kau marah aku menghajar suamimu habis-habisan?” Dion menyeringai kepada Melody.
“Aku tidak tahu kau siapa! Tapi berani-beraninya kau menusuk sepupuku!” air disekitar Melody membludak tiba-tiba, “Dan menghajar suamiku!”
“Heh, kalau begitulah cepatlah. Biar aku bisa berurusan dengan pria tua itu,” Dion kemudian mengeluarkan pedang airnya.
“Uugghhh!!” rintih Noid saat Dion berhenti menginjak dadanya.
“NOID PAKAI PERISAIMU!” teriak Melody.
“Hm,” Dion tersenyum sinis, “Bagaimana kalau aku kesitu, jadi serangamu tidak akan mengenainya. Dengan energi selemah itu apa kau pikir ia masih bisa membuat perisai petirnya?”
Dion kemudian berjalan santai kesamping sambil bersiul-siul dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pedang airnya. Setelah itu ia berbalik badan dan merentangkan kedua tangannya.
“Ayo seranglah.”
“BRENGSEK KAU!” Melody terlihat berang karena diremehkan.
Air-air yang ada disekitar Melody kemudian membentuk trisula air tajam yang begitu banyak jumlahnya.
“Oh Poseidon,” Dion menyeringai.
“POSEIDON!” teriak Melody dan merentangkan tangannya kedepan.
Ribuan trisula air yang pernah merepotkan Noid dan Raja Stor itu meluncur kearah Dion. Dion hanya tersenyum dan air yang ada disekelilingnya segera membuat tameng untuk dirinya.
“Kau pikir tameng itu bisa menahan seranganku?!” seru Melody.
“Ya,” Dion tersenyum.
Tak ayal lagi ribuan trisula itu menghantam Dion seutuhnya sehingga semua orang menutup mata menahan angin ledakan akibat hantaman tersebut. Merasa tak cukup Melody membuat ribuan trisual air dan menghantamnya kembali. Ada 2 menit ia melakukannya sampai ia terengah-engah karena energinya mulai terkuras.
“Kau makan itu!” ujar Melody sinis.
Dikepulan asap itu tiba-tiba saja ada sedikit bayangan besar disitu, dan saat asap itu menghilang betapa kagetnya Melody dan yang lain melihat trisula-trisula air itu membeku, begitu juga tameng airnya Dion.
“2 menit kau melakukan hal yang sia-sia,” terdengar suara Dion didalam tamengnya.
Tiba-tiba tameng dan trisula-trisual air yang membeku itu pecah. Dan terlihat Dion sehat-sehat saja dan tersenyum sini kearah Melody.
“A-Apa…” Melody terperangah.
“Kau tau,” Noid mengeluarkan kekuatan petir level 2 dan tiba-tiba saja ia berada disamping Melody, “Kekuatan airku sudah mencapai level 4 wahai wanita. Poseideon-mu itu tidak berarti bagiku.”
Melody terkejut melihat Dion sudah berada disampingnya menggunakan kekuatan petir level 2, tiba-tiba saja kekuatan petir itu lenyap dan Dion memegang tangan kiri Melody.
“ARRGGGHHHH!!!!”
Tangan kiri Melody tiba-tiba membeku karena genggaman tangan dari Dion, ia pun meringkuk dan merasakan tangan kirinya mati rasa gara-gara itu.
“Kau suka spoiler? Akan kukasih tau, kekuatan air level 3 bisa membekukan cairan,” Dion menyeringai kepada Melody yang tertatih kesakitan dibawahnya.
“K-Kalian… l-lari…” Noid merintih dan berusaha merangkak untuk menghampiri Dion.
“Diamlah!” Dion melancarkan serangan petir kuning kearah Noid sehingga Noid terhempas dan menubruk dinding.
Dion kemudian memandang Raja Stor, dan Raja Stor terlihat berang kepadanya. Akan tetapi Indra dengan sigap berdiri didepan untuk melindungi sang Raja.
“Takkan kubiarkan kau menyentuh Raja,” ujar Indra dengan pedang besar teracung kearah Dion.
“Hmm,” Dion tersenyum tipis.
“MATI KAU BEDEBAH!!!”
Indra kemudian melompat dan hendak menebas Dion dari atas, akan tetapi tiba-tiba Indra Melotot dan bermuntahkan darah.
“Perasaanku tadi ada yang berteriak ‘Mati kau bedebah’, dimana pembuktiannya itu?” Dion terkekeh melihat Indra yang sekarat.
“INDRA!” teriak Bayu dan Beny.
“K-Kau… Kau bahkan…”
“Ya,” Dion menyeringai dan mengangkat Indra tanpa menyentuhnya sama sekali.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” ditengah rintihannya Melody juga tidak percaya dengan apa yang dirasakannya.
“Kurasa aura tidak berbohong dan kalian benar-benar merasakannya. Aku juga memiliki ‘Kekuatan’ Sentry angin,” Dion tertawa sinis menatap Indra yang sekarat.
“Apa ini… bagaimana kau bisa memiliki 3 kekuatan Sentry?” Raja Stor terperangah.
“Sudah kubilang aku malas menjawabnya, dan mungkin kali ini 4. Karena kau targetku pak Tua api!” Dion menyeringai kepadanya.
“Apa?!” Raja Stor terhenyak.
“Jadi dengan itu kau akan tahu bagaimana aku bisa mendapatkan semua kekuatan Sentry.”
“Arrggghhh,” Indra benar-benar sekarat, mata hidung dan mulutnya terus mengucurkan darah.
“Dan jujur saja kekuatan anginku baru di-level 2, tadi aku memasukan angin kedalam tubuhnya dan memporak-porandakan organ didalamnya,” Dion kemudian merentangkan tangan kanannya kearah Indra, “Seperti ini.”
Ditengah udara itu tiba-tiba tubuh Indra mengejang bukan main, ada sebuah gejolak-gejolak sesuatu yang muncul dari kulit tubuhnya dan tiba-tiba saja tubuh Indra meledak dan terjadilah hujan darah dan organ-organ tubuh terjadi disitu.
“INDRAAA!!!” Bayu kaget bukan main melihat Indra dibunuh dengan cara keji seperti itu.
Bayu hendak menerjang Dion akan tetapi dengan cepat ditahan tubuhnya oleh Raja Stor.
“Hentikan! Kau jangan bertindak bodoh!” seru sang Raja.
“Lepaskan aku Raja! Dia telah membunuh Indra!”
Sebuah hantaman dari belakang langsung membuat Bayu pingsan seketika, ia akibat Beny yang menendang tengkuk lehernya secara keras. Dengan tangan yang sulit digerakan Beny memang masih bisa bertarung dan dia berhadapan dengan Dion.
“Aku sering mendengar desas-desus komandan pasukan Venom, apakah itu kau?” tanya Dion.
“Entahlah,” jawab Beny dingin.
“Hmm,” Dion tersenyum sini, “Lalu kau mau apa?”
“Aku bukan orang bodoh, aku juga akan mati sia-sia melawanmu dengan kekuatanmu yang gila.”
“Hmm pintar juga, terus?”
“Aku akan terus hidup dan akan mencari cara untuk membunuhmu nanti.”
“Hmm,” Dion merentangkan tangannya kedepan dan keluarlah listrik biru ditelapak tangannya, “Kurasa kau tidak akan sempat mencari caranya.”
“Dia akan mencari caranya.”
Dion terdiam karena Raja Stor ikut campur dalam obrolan mereka.
“Karena aku yang akan menjadi lawanmu.”
“Heh, akhirnya,” Dion tersenyum.
Raja Stor kemudian meminta Beny membawa Bayu dan Naomi menjauh, para prajurit Laks juga membantu Melody untuk berdiri dan mencari cara untuk mencairkan tangan kirinya yang membeku. Orang-orang yang ada disitu pun menjauh untuk menjaga jarak sehingga hanya ada Raja Stor dan Dion yang berada disitu.
“J-j-jangan…” Noid dengan sebelah matanya terengah-engah melihat Raja Stor siap bertempur dengan Dion.
“Langsung saja kau keluarkan level 4 mu, pak tua,” pinta Dion.
“Emang itu rencanaku,” Raja Stor tersenyum sinis.
Api merah menyelimuti tubuh sang Raja seutuhnya, Raja Stor kemudian mengerahkan energinya lagi sehingga api merahnya itu berubah menjadi biru. Dan sekarang terlihat urat-urat tubuh timbul disekitar tubuhnya dan saja api biru itu lenyap karena Level 3 merupakan api putih yang tak terlihat.
“Oh ini akan menarik,” Dion menyeringai.
“AAARGGGGHHHHHH!!!”
Raja Stor tiba-tiba berteriak dan ledakan dashyat terjadi disekitar tempatnya berdiri. Batu-batu yang berhamburan tiba-tiba dilahap sesuatu yang berwarna hitam dan batu itu langsung hangus dan lenyap dibuatnya. Dan sekarang tertampanglah wujud level 4 kekuatan api bagi ‘Keturunan’ Sentry api, yaitu api hitam.
“Jadi ini yang namanya api hitam… mengagumkan,” Dion terlihat bersemangat.
“Kemarilah nak,” Raja Stor menarik-narik ujung jarinya sebagai tanda untuk Dion menghampirinya.
“Sesuai permintaanmu pak tu… URGGGHHH!!!”
Tiba-tiba saja Dion menghilang dari hadapan sang Raja, itu bukan karena kekuatan level 2 petirnya akan tetapi ia ditubruk Noid dari samping dengan kekuatan level 2 nya. Bahkan bangunan-bangunan yang ada disekitar kerajaan hancur akibat tubrukan kecepatan tubuh mereka.
“Kau!” Dion melotot kearah Noid.
“Takkan kubiarkan kau melakukan apa yang kau inginkan bedebah!” ujar Noid dengan mata memerah.
“Kau…” Dion terperangah melihat warna bola mata Noid.
Mereka terus menubruk bangunan-bangungan sampai akhirnya mereka menubruk kuil tua yang ada disekitar wilayah kerajaan. Kuil tua itu pun luluh lantah karena itu. Dion kemudian berdiri diatas pepuiangan dan mencari keberadan Noid.
“Disitu kau rupanya,” Dion menyeringai.
“Urrggghhhh!!!!!” Noid terlihat berbeda dari biasanya, petir-petir birunya sedikit demi sedikit berubah menjadi berwarna merah, dan rambutnya juga hampir berubah menjadi merah.
“Hehehe level terlarang, kau benar-benar lemah,” Dion menggeleng-gelengkan kepala.
Raja Stor kemudian terbang ketempat mereka berada dan ia terkejut melihat kondisi Noid yang tampaknya sedang bertarung dengan diri sendiri. Karena warna petirnya itu sungguh aneh yaitu berwarna merah.
Sementara itu orang-orang yang ada dikerajaan masih kalut karena kejadian tadi.
“Dimana kakek?” tanya Naomi.
“Ia mengikuti arah Noid dan bajingan itu,” jawab Beny.
“Naomi! Dimana kakekmu?!” tanya Ibunya saat menghampiri.
“Sepertinya kakek bertarung disana bu,” Naomi menunjuk bangunan-bangungan yang hancur diluar.
“Aku mau kesana, lebih baik kalian disini,” Melody dengan susah payah berjalan.
“Tuan putri, tapi tangan anda!” seru Saktia.
“Tidak, ternyata air panas penawarnya. Kau lihat tanganku berangsur-angsur normal,” Melody menunjkan tangan kirinya yang ia terbalut air panas mendididih dengan kekuatannya.
“Aku juga mau kesana, aku khawatir dengan kakek dan tadi aku melihat sekilas…” Sinka terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Apa?” tanya Naomi.
“Entah aku salah lihat atau apa, tapi aku sempat mengintip, dan Kak Noid menubruk pria itu sehingga bangungan-bangungan itu hancur seperti itu, tapi… ada petir berwarna merah dikakinya.”
“Petir merah?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Entahlah, apa itu kekuatan level 3 nya?” tanya Sinka.
“Aku tidak tau,” Melody kemudian berdiri, “Aku akan kesana.”
Dan tiba-tiba saja air muncul dibawah tubuh Melody, air itu mengangkatnya dan segera meluncur ketempat Noid, Dion dan Raja Stor berada.
“Aku juga mau kesana, aku khawatir dengan kakek,” ujar Naomi.
“Aku juga!” sambung Frieska.
“Aku juga dan…”
Suara erangan tiba-tiba menarik perhatian mereka, terlihat Remo berubah kembali menjadi wujud anak serigalanya akan tetapi anak serigala ini bergegar ketakutan.
“Remo kau kenapa?” Sinka terlihat khawatir.
“Saya juga mau kesana, saya tidak bisa tenang melihat semua ini kalau belum berakhir!” ujar Raja Laks.
Semua orang yang ada disitu hendak pergi kesana akan tetapi dicegah yang beberapa untuk berjaga-jaga diistana. Semua Raja dari berbagai negara juga ingin melihat ini terlebih lagi Raja Stor ikut bertarung. Dan mereka sepakat untuk melihat itu dari kejauhan karena tidak mau membuat Raja Stor kesusahan bertarung sambil melindungi mereka apabila dijadikan target oleh Dion.
“Ma, maaf. Tapi tolong jaga bibi sama yang lain, dan juga Michelle,” pinta Frieska kepada ibunya.
“Hati-hati ya Mpris,” ibunya memberi nasihat.
Tak butuh waktu beberapa lama orang-orang yang ingin melihat segera meluncur kesana. Sementara itu Melody terkejut bukan main melihat api hitam yang menyelimuti tubuh Raja Stor.
“Tuan putri! Kenapa anda kesini?” raja Stor kaget melihat kedatangan Melody.
“Aku ingin membantu, dimana Noid?”
“Dia…” Raja Stor menoleh kebawah.
Melody juga menoleh kebawah dan melotot melihat Noid mengerang-ngerang sejadi-jadinya dan berguling-guling ditanah. Petir merahnya itu seakan-akan ingin menguasai dirinya dan Dion malah tertawa memandangnya.
“Hahaha ayo! Aku ingin melihat tekadmu.”
“Raja! Apa yang terjadi dengan Noid? Kenapa dia begitu?” tanya Melody kepada Raja Stor.
“Entahlah, tapi lebih baik aku bertanya kepada sesuatu yang lebih tahu akan hal ini. Tuan putri, menjauhlah sedikit.”
Melody menuruti perintah Raja Stor, ditengah udara tersebut tiba-tiba saja Raja Stor berteriak dengan keras.
“BALTAZHOR!!”
Dan tiba-tiba saja muncul lubang hitam diatas langit, sedikit demi sedikit sosok Baltazhor keluar dari lubang hitam itu dan fisiknya sangat berbeda tak seperti dulu yang berbalutkan api biru. Akan tetapi sekarang fisiknya benar-benar mirip Huma hanya saja dengan tubuh yang besar dan matanya masih mengeluarkan api merah yang menjilat-jilat. Bisa dibilang itulah wujud asli Baltazhor.
Kedatangan Baltazhor menarik perhatian Dion, ia menoleh dan tersenyum sinis memandang Inquisitor ‘Keturunan’ Sentry api.
Level 4? Apa yang terjadi?” Baltazhor menyeringitkan dahi memandang Raja Stor.
“Kau lihat orang itu, dan itu,” Raja Stor menunjuk Dion dan Noid dari atas.
Baltazhor melihat mereka berdua dan kaget bukan main melihat Dion.
Dia!
“Kenapa? Kau kenal dia?” Raja Stor menyeringitkan dahi.
Bukan kenal lagi, dia itu adalah ‘Keturunan’ haram yang mengambil kekuatan sentry lain secara paksa! Dan tak kusangka ternyata dia masih hidup!
“Apa maksudmu?” Raja Stor begitu penasaran begitu juga Melody.
Umurnya itu sudah lebih dari 900 tahun kau tau!
“APA?!” Raja Stor dan Melody kaget bukan main.
“Seperti aku dikenal olehmu, merupakan suatu kehormatan bagiku,” ujar Dion kepada Baltazhor.
Bagaimana aku tidak mengenalmu! Caramu mengambil kekuatan sentry lain sangat menjijikan!
“Heh! Ternyata kau tau juga,” Dion menyeringai dan kembali memandang Noid.
“Bagaimana dia mengambilnya?” tanya Raja Stor.
Dia…” Baltazhor melotot kearah Dion, “… memakan tubuh mereka!
Bukan main kagetnya Melody dan Raja Stor, Melody kemudian melihat Dion dengan mata terperangah.
“Itu berarti dia memakan ‘Keturunan’ air dan angin…”
“Tapi bagaimana caranya dia mengambil kekuatan petir? Apa dia memakan ‘Keturunan’ sentry petir terdahulu?”
Tidak,” Baltazhor menggeleng.
“Ya benar, aku tidak perlu memakannya karena 900 tahun yang lalu aku adalah ‘Keturunan’ Sentry petir,” Dion menyeringai keatas.
“J-Jadi kau…” Raja Stor terperangah.
“Dan daripada dipanggil “Keturunan haram” gara-gara aku memiliki kekuatan selain petir, aku lebih suka disebut Bastard. Hmm,” Dion tersenyum. (Bastard artinya anak haram dalam bahasa Inggris.)
 “Dan kau memakan ‘Keturunan’ sentry air dan angin terdahulu! Kau menjijikan!” seru Melody.
“Terserah, lagipula daging mereka tak enak. Daripada kau mengawatirkan ku, lebih baik kau khawatirkan orang yang ada didepanku ini.”
Raja Stor baru teringat dengan Noid yang sampai sekarang mengerang sedari tadi. Baltazhor yang melihat itu segera berbicara.
Cepat hentikan dia! Itu adalah fase terlarang disaat level 2 mau mencapai level 3!
“Apa itu?” Melody menyeringitkan dahi.
Fase dimana menjadi penentu apa dia sanggup melawan nafsu membunuh yang ada pada dirinya, dan kalau dia dikuasai nafsunya maka ia akan dikuasai petir merah. Dia tidak akan ingat apapun dan tujuannya hanya membunuh semua orang, si tua ini pernah merasakannya dulu sewaktu mencoba mencapai level 3,” Baltazhor menunjuk Raja Stor dari atas.
“Sudah kuduga! Tuan putri segera bantu Noid! Buat dia pingsan atau semacamnya!”
Melody dengan rasa cemasnya segera meluncur kebawah untuk membantu Noid akan tetapi Noid terus memberontak dan aliran petir merahnya itu menyambar kemana-mana.
“Sepertinya aku harus membantunya!” Raja Stor juga meluncur kebawah.
Melihat Raja Stor dan Melody berusaha menolong Noid, maka Baltazhor memandang Dion.
Kau seharusnya malu! Seharusnya kau cabut saja kutukan yang dibuat oleh kekasihmu itu! bahkan kau tidak berterima kasih dengan dan membunuhnya untuk mengambil kekuatannya! Orang macam apa setega itu melakukan hal tersebut kepada kekasihnya!
Mendengar hal itu membuat Dion memandang tajam kearah Baltazhor.
“Kau hanya mahluk yang berspekulasi dari desas-desus, lebih baik kau diam saja.”
Sombong sekali! Aku sering mendengar cerita Poseidon yang mengatakan kau membujuk ‘Keturunan’ Sentry air untuk menemukan air abadi dan itu untuk pertama kalinya aku melihat Poseidon sedih saat mengetahui ‘Keturunan’ sentry air itu mati kau bunuh!
“Diamlah!” Dion mengatup geram giginya.
Kau membunuh Veranda! ‘Keturunan’ Sentry air yang begitu penyayang dizamannya waktu itu! Kau membunuh kekasihmu sendiri untuk niatmu menguasai semua ‘Kekuatan’ Sentry!
“DIAM KAU!” teriak Dion dengan mata melotot kearah Baltazhor.
Heh! Memang apa yang mau kau lakukan kepadaku? Bastard!
“Sepertinya aku akan menguasaimu,” Dion menyeringai.
Dion kemudian menoleh kedepan dan tatapan matanya tajam melihat Noid yang masih menggeliat, tak lama kemudian ia mengaktifkan kekuatan petir level 2 nya dan ia segera menerjang.
“Kau lemah, bocah!”
Dion menghantam Noid sehinnga Noid terpental dan menubruk bangunan. Raja Stor dan Melody kaget, akan tetapi Dion tiba-tiba menyerang Raja Stor sehingga Raja Stor melayang keudara untuk menghindari serangannya.
“Noid! Noid!”
Sementara itu Melody menghampiri Noid dan terlihat wujud Noid kembali seperti semula, berambut hitam dan petir kuningnya menghilang dari tubuhnya.
“Apa yang terjadi padaku?” tanya Noid dengan nafas terengah-engah.
“Itu…”
Akan tetapi sebuah bunyi ledakan menarik perhatian mereka berdua. Noid dan Melody melihat keatas dan melihat pertarungan Raja Stor bersama Baltazhor melawan Dion yang sudah memasuki kekuatan air level 4, yang dimana tidak hanya air yang menjadi senjatanya akan tetapi semua cairan racun yang ada diperut planet Ribu dikendalikannya secara sempurna.
“Aku… aku harus membunuhnya, dia harus dibunuh… dia harus dibunuh…” Noid hendak beranjak dengan tenaganya yang terkuras, apalagi ia seperti kehilangan akal sehat dan ingin sekali membunuh Dion.
“Noid! Kau belum pulih betul!” Melody mencegahnya.
“Aku harus membunuhnya…” mata Noid tiba-tiba berair, “Dia mengambil semuanya dariku… aku harus membunuhnya…”
“Noid… apa yang dia lakukan padamu…” Melody terlihat cemas melihat kondisi suaminya yang lemah tapi masih bertekat untuk membunuh Dion.
“Aku… harus… membunuhnya…” Noid tiba-tiba terisak, ia tahu ia sudah tidak sanggup berdiri lagi karena energinya terkuras dan ia kesal terhadap dirinya yang benar-benar lemah dan tak berkutik melawan Dion.
Melihat Noid yang menahan tangis seperti itu membuat Melody langsung memeluk untuk menenangkannya, Noid terlihat tak berdaya setelah dihajar habis-habisan oleh Dion terlebih lagi ia hampir kalah dengan nafsu membunuhnya sendiri.
Sementara itu dikejauhan rombongan orang yang ingin melihat pertarungan terpaksa berhenti karena mereka melihat Baltazhor yang begitu besar tubuhnya sedang membantu Raja Stor bertarung dengan Dion diudara.
“Kakek!” Naomi dan Sinka terlihat khawatir  saat turun dari mobil.
Itu tentu saja beralasan karena meskipun dibantu Baltazhor akan tetapi Dion benar-benar bisa memanfaatkan seluruh kekuatan yang ia miliki, disaat Baltazhor menyerangnya dengan cepat ia mengaktifkan kekuatan petir level 2 untuk berpindah, dan digunakannya kembali untuk menerjang Raja, dan saat ia menerjang tiba-tiba saja ia mengubah kekuatannya menjadi kekuatan air level 4.
“Kau pikir aku akan kepanasan dengan api hitammu pak tua?” tanya Dion ditengah pertarungan.
FLOOR!!” raja Stor merentangkan api hitamnya kearah Dion akan tetapi Dion menghindarinya dengan kekuatan petir level 2.
“Ckck seharusnya kau berpikir kalau petir juga bisa menciptakan api, karena itu aku tidak merasa kepanasan karena pada dasarnya aku adalah ‘Keturunan’ sentry petir.”
Banyak bicara kau!” ujar Baltazhor sambil menyerang tapi lagi-lagi dihindari Dion dengan kekuatan petir level 2-nya.
“Hahaha! Aku berbicara karena merasa serangan kalian itu sia-sia!”
Sementara itu dibawah terlihat Noid sudah begitu tenang dan melihat Raja Stor.
“Kau harus membantunya… orang itu sungguh berbahaya…”
“Bagaimana caranya? Bahkan tangan kiriku belum pulih benar,” Melody menunjukan tangan kirinya yang masih setengan beku.
“Ini salahku, seharusnya aku menyadari lebih awal… Remo pasti membesar karena perintah suara dia… dan aku seharusnya menyadari hal itu.”
“Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, Noid… Tapi kenapa Serigalamu tadi mengeram kepadanya?”
“… Aku sulit menjelaskannya… yang jelas…,” Noid menoleh keatas, “Dia harus dibunuh, orang itu benar-benar mengerikan…”
“Aku tahu, Inqusitor Raja Stor tadi menyebutkannya. Ia memakan ‘Keturunan’ Sentry untuk memiliki kekuatannya.”
“Itu baru salah satunya… Kau tidak tahu apa rencananya bukan?”
“Apa?”
“Tolong suruh kakek tua itu untuk melarikan diri, itu yang lebih penting sekarang ini. Kalau tidak dia akan menguasai kekuatan api.”
“Tapi sepertinya Raja Stor bisa mengimbanginya,” Melody menoleh keatas.
“Tidak, orang itu dulu pernah mengatakan kepadaku kalau ia mencapai level 4 kekuatan petir. Dan aku anggap hanya omong kosong belaka karena dulu aku hanya melihat kekuatan airnya dan tak mungkin ada ‘Keturunan’ memiliki 2 kekuatan.”
“Lalu?”
“Kau tidak lihat tadi? Dia mengimbangi level 2 ku, bahkan lebih. Dia pernah berkata kalau dia tidak berbohong, dan kalau itu benar…” Dion menadahkan kepalanya keatas, “Raja Stor akan kalah.”
“Kau sudah lama mengenalnya…”
“Dari aku lahir, mending cepat kau beritahukan Raja Stor untuk melarikan diri… aku benar-benar tak punya tenaga, suaraku saja sampai serak seperti ini.”
“Tak perlu repot-repot!” Dion menyeringai.
Noid dan Melody terkejut melihat Dion tiba-tiba berada didepannya. Mereka menoleh keatas akan tetapi disana masih ada Dion yang bertarung dengan Raja Stor dan Baltazhor.
“K-Kau…”
“Kau benar, aku akan memenangkan pertarungan ini dan akan kuambil kekuatan raja itu,” Dion melangkah dan melihat dirinya yang lain bertarung diudara, “Aku bayangan petir, disana masih aku yang asli.”
“Apa yang kau inginkan dariku!” Noid mengatup geram.
Dion berjongkok dan menyeringai.
“Hentikan aku.”
“Apa?” Noid dan Melody menyeringitkan dahi.
“Jadilah lebih kuat dengan 5 ‘Keturunan’ sentry lainnya, dan hentikan aku.”
“Apa yang kau bicarakan?!” Noid mengatup geram.
“Huh,” Dion berdiri, “Anak haram seperti kita tidak seharusnya lahir, kau tahu itu? kita hanya menyebabkan malapetaka.”
“A-Anak haram? Apa maksudnya?” Melody menyeringitkan dahi.
Dion hanya menyeringai, ia mengangkat kakinya dan langsung ia hujamkan kewajah Noid.
“Ughhhh!!” rintih Noid saat Dion menginjak mukanya.
“Dan kau boleh memakai kebalikan namaku itu sampai mati,” Dion tersenyum tipis.
“Sialan kau! Bajingan!” teriak Noid dengan wajah terhimpit kakinya Dion, Melody hendak menolong akan tetapi tangannya kesetrum setiap kali menyentuh kaki Dion.
“Aku bayangan listrik wanita bodoh,” ujar Dion sinis kepada Melody, setelah itu ia menoleh keatas, “Dan sepertinya sudah waktunya.”
“JANGAN!!” teriak Noid.
“Sesuatu yang besar harus kehilangan yang penting,” Dion tersenyum sinis.
Tiba-tiba bayangan listrik Dion pecah dihadapan mereka berdua, Noid ambruk dan segera menoleh kearah Melody.
“Cepat suruh kakek tua itu melarikan diri! Dia akan membunuhnya!”
“Baik!” Melody mengangguk dan air pun berkumpul dibawah tubuhnya.
Sementara itu Dion menoleh kebawah untuk melihat Noid dan Melody, tiba-tiba saja ada putir putih ditelapak tangannya dan ia hempaskan kearah Noid dan Melody.
“Ugggh!!!” Melody terhempas kebawah gara-gara serangan itu.
Akan tetapi petir putih itu tidak menghilang, bahkan petir itu membentuk sebuah perisai dan mengurung Dion bersama Melody didalamnya.
“Sial! Apa ini! Uaaaghhhh!!!” Noid terpental saat mencoba memukul petir putih tersebut, tangannya langsung kejang-kejang.
“D-Dia mengurung kita,” nafas Melody terengah-engah.
Sedangkan Raja Stor melihat itu dari atas dan bingung dengan maksud perbuatan Dion.
“Itu petir level 3, petir putih. Mereka tidak akan sanggup menghancurkannya.”
Terus kenapa! Kau mau pamer?!” seru Baltazhor.
“Tidak, dan seperti yang aku bilang kenapa aku bisa tahan dengan api hitammu. Karena sudah dibilang aku ini ‘Keturunan’ Sentry petir dan level kekuatan petirku ini sama dengan dirimu.”
“Apa?” Raja Stor terkejut.
Tiba-tiba saja tubuh Dion mengeluarkan petir kuning yang berganti dengan warna biru, sehabis itu berubah menjadi warna putih. Urat-urat diototnya bermunculan dan sebuah cahaya menyilaukan keluar dari tubuhnya. Raja Stor dan Baltazhor kesilauan dengan cahaya itu, begitu juga dengan orang-orang yang menyaksirkan itu dari kejauhan.
“A-apa itu,” tanya Frieska yang melindungi matanya dengan pergelangan tangan.
“K-kakek, bagaimana dengan kakek?” tanya Naomi ditengah cahaya yang menyilaukan.
Dan saat cahaya menyilaukan itu meredup betapa kagetnya Raja Stor melihat wujud Dion sekarang, begitu juga dengan Baltazhor.
“Kau tahu dari semua ‘Keturunan’ Sentry petir hanya aku satu-satunya ‘Keturunan’ yang mencapai level 4, kau tentu tidak tahu hal itu bukan?” Dion menyeringai kepada Baltazhor.
Kau!” Baltazhor mengatup geram.
Terlihat listrik-listrik hitam membalut setiap inci tubuh Dion dan rambut pria ini berubah putih seutuhnya. Noid dan Melody merasakan aura level 4 petir yang dikeluarkan Dion.
“D-Dia benar-benar bisa mencapai level 4 dalam kekuatan petirnya…” Melody bergegar-gegar mulutnya.
“RAJA STOR! CEPAT LARI DARI SITU! LARI!” teriak Noid.
Akan tetapi teriakan Noid tidak bisa didengar oleh Raja Stor karena perisai Noid menghalangi suaranya. Dan Dion sudah siap melakukan serangan terhadap sang Raja.
“Kau mungkin masih bisa melihat gerakanku kalau di-level 2, tapi bagaimana dengan level 4?” Dion memainkan alis dan menyeringai memandang Baltazhor.
Heh! Tidak satu pun kecepatan yang tak bisa kulihat.
“Oh ya?” terdengar suara Dion dibelakang Baltazhor.
Baltazhor kaget, ia menoleh kebelakang dan sudah melihat Dion disana. Ia menoleh kedepan dan sudah tidak ada lagi Dion didepannya.
Apa?! Bagaimana!” Baltazhor terperangah.
“Sifat api adalah angkuh, saking angkuhnya kau terlalu mudah meremehkan,” Dion tersenyum kepada Baltazhor.
Sial! Kecepatan apa itu?!
“Kau akan kaget kalau kubilang kecepatanku dalam level 4 ini melebihi cahaya.”
Apa?!
“Dan benar dugaanku bukan? Kau kaget,” Dion menyeringai.
Hati-hati Bellamy! Orang ini benar-benar berbahaya! Hati-hati dengan kecepatannya!” Baltazhor bersiap-siap untuk menghadapi Dion.
“Berjaga-jaga? Aku sudah melakukannya,” Dion tersenyum sinis dan menunjuk tangan kanannya yang sudah berlumuran darah.
Mata Baltazhor terbelalak, ia kemudian melihat kebawah dan melihat Raja Stor sudah memuntahkan darah. Bagian dadanya berlubang dan ada percikan listrik hitam disekitaran lubang didadanya tersebut
“A-a-a-a-a…” dengan terengah-engah Raja Stor menadahkan kepala, “B-Baltazhor…”
Setelah mengucapkan hal itu Raja Stor mulai terkulai, api hitamnya pun menghilang dan ia terjun bebas kebawah.
BELLAMY!” Baltazhor berteriak dan segera menangkap Raja Stor yang terjatuh.
Melihat kakeknya terjatuh dan dikejar oleh Baltazhor bukan main membuat Naomi dan Sinka. Mereka tidak tahu apa yang membuat Kakeknya tiba-tiba jatuh padahal kalau dilihat dari Jauh Dion tidak melakukan apa-apa kepadanya. Naomi dan Sinka buru-buru menaiki mobil, melihat Raja Stor yang terjatuh tadi membuat semua orang melakukan hal yang sama.
“Kakek! Kakek! Semoga kakek baik-baik saja!” doa Naomi kepada kakeknya dengan perasaan cemas.
Sementara itu Baltazhor sudah berhasil menangkap Raja Stor dan membaringkannya ketanah. Raja Stor benar-benar sekarat, darah terus bermuntahan dari mulutnya.
“N-N-Naomi… Naomi…” racau Raja Stor.
Baltazhor kemudian hendak mencari aura cucu ‘Keturunan’ api tersebut akan tetapi ia merasakan aura Naomi mendekat. Baltazhor menciutkan tubuhnya dan mencoba menolong Raja Stor.
Bellamy! Bertahanlah! Kau pasti…
“Tidak,” potong Raja Bellamy, “Listrik hitamnya menjalar disekujur dan menghancurkan organ dalamku, dia benar-benar kuat… aku bahkan tidak sadar kalau ternyata dia sudah menyerang… kecepatannya sungguh mengerikan…”
Oh tidak!” seru Baltazhor karena aura kehidupan Raja Stor semakin menipis.
“RAJA! RAJA!” teriak Noid didalam perisai, itu karena ia bersama Melody juga meraskan aura kehidupan Raja Stor melemah.
“… Kita terlambat…” Melody terduduk lesu menyikapi semua ini.
Rombongan orang-orang sudah tiba ditempat, Naomi dan Sinka segera turun dari mobil untuk mencari keberadaan kakeknya. Dan itu tak perlu berlangsung lama karena mereka berdua melihat sosok Baltazhor yang menyusut meskipun tubuhnya masih agak besar dari ukuran Huma biasa. Dan disaat mereka menghampiri Sinka terkulai ditempatnya, air matanya keluar.
“Kakek!” sedangkan Naomi segera menghampiri kakeknya yang sekarat.
“N-Naomi…,” Raja Stor tersenyum dengan darah yang memenuhi bibirnya, “Dimana Sinka dan ibumu…”
Naomi menoleh kebelakang dengan isak tangis, “A-Adek… kakek memanggilmu…”
Sinka tak bisa bergerak sampai akhirnya rombongan orang-orang dibelakang menghampiri dan terkejut melihat kondisi Raja Stor. Ibu Sinka yang melihat itu tak kuasa menahan tangisnya dan memeluk Sinka dikejauhan.
“Astaga! Yang mulia!!” Raja Laks segera menghampiri Raja Stor yang sekarat.
Tak hanya Raja Laks, akan tetapi Raja-Raja yang negaranya memiliki batu Sentry juga menghampirinya.
“Aku hanya ingin bilang… segera cari ‘Keturunan’ Sentry yang lain… orang itu benar-benar berbahaya…”
Semua Raja yang mengerti maksudnya mengiyakan permintaan tersebut. Raja Stor kemudian menoleh kearah Naomi yang sedari tadi menangis.
“… Dan Naomi… sudah saatnya kakek mengembalikan keistimewaanmu…”
“Apa?” Naomi menyeringitkan dahi dengan isak tangis.
Tak lama kemudian Raja Stor menyentuh kening Naomi, Naomi merasakan ada sesuatu yang sejuk memasuki keningnya tersebut. Sampai akhirnya ia menoleh kearah Baltazhor.
“Terima kasih sudah menemaniku selama ini… Teman…”
Baltazhor hanya terdiam dan mengangguk akan ucapan Raja Stor.
Kau benar-benar ‘Keturunan’ sentry Api yang tangguh,” ujar Baltazhor.
“Aneh rasanya kau memujiku…” Raja Stor tertawa ringan.
Setelah itu Raja Stor kembali memandang Naomi.
“Mungkin kau akan kerepotan nanti, tapi percayalah… ada alasannya kau menerima keistimewaan itu, dan asahlah dengan baik… melebihi kakekmu ini..”
“Apa maksud kakek?”
Raja Stor tersenyum sampai akhirnya tangannya yang mengelus kepala Naomi tiba-tiba terjatuh, pelupuk mata Raja Stor perlahan-lahan menutup sehingga membuat Naomi semakin menjadi isak tangisnya.
“Kakek…” panggil Naomi.
Tidak ada jawaban dari Raja Api tersebut.
“Kakek…” Naomi memanggilnya sekali lagi dengan isak tangisnya.
Mengetahui apa yang sudah terjadi dengan kakeknya membuat Naomi meraung-raung menangis. Semua orang yang ada disitu hanya bisa terdiam melihat Raja Stor tewas dalam pertarungannya melawan Dion.
… Naomi…” panggil Baltazhor, “…ingatlah pesan kakekmu itu…
Tak lama kemudian Baltazhor menghilang dari hadapan orang-orang. Semua orang mungkin memaklumi dengan kematian Raja Stor maka salah satu kekuatannya juga ikut menghilang, seperti Inquisitor tadi.
“Hmm tampaknya dia sudah mati.”
Semua orang menoleh dan serempa memandang keatas, dan terlihat Dion tersenyum kepada mereka semua.
“BRENGSEK KAU! BAJINGAN!” teriak Sinka dengan isak tangis dan mencoba melempar Dion dengan batu yang ada disitu.
“Huhuhu, yah yang penting aku mendapatkan apa yang kuinginkan.”
Dion kemudian menunjukan sedikit daging yang ia ambil dari tubuh Raja Stor ia menelan daging itu mentah-mentah dan merasakan kekuatan api meresep didalam tubuhnya.
“Hehe.”
Dion merentangkan tangan kanannya dan muncullah api merah yang meliuk-liuk ditangannya tersebut, dan tak hanya itu. api merah yang meliuk ditangannya itu tiba-tiba berubah warna menjadi biru, kemudian putih dan terakhir menjadi warna hitam.
Jadi bisa dibilang Dion sudah langsung mengusai kekuatan api level 4 karena ‘Keturunan’ yang dimakannya itu sudah mencapai level 4.
“APA TUJUANMU HAH?!” teriak Raja Laks.
“Hmmm!” Dion tersenyum dan menadahkan tanganya kearah perisai.
Perisai petir putih yang mengurung Noid dan Melody akhirnya hancur. Dan Noid dan Melody terlihat terengah-engah karena sudah tahu apa yang terjadi dengan Raja Stor.
“Akan kuberitahu tujuanku.”
Suara Dion lagi-lagi menarik perhatian orang-orang yang ada disitu. Dion kemudian menunjuk tanah yang dibawahnya dan berkata.
“Aku akan membangkitkan mahluk yang bersemayam didalam planet ini!”
Mendengar itu membuat semua orang kaget.
“M-Maksudmu… Blighter?” tanya Raja dari kerajaan Siva.
“Ya,” Dion menyeringai.
“KAU GILA!” teriak Noid.
“Ya, aku sudah gila semenjak dulu. Dan bukankah pengalamanmu denganku sewaktu ‘kejadian itu’ sudah membuktikan itu semua?” Dion menyeringai.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dengan bangkitnya monster tersebut?” tanya salah satu tetua dalam kerajaan Laks.
“Tentu saja, kehancuran mutlak,” Dion tersenyum sinis, “Dan tinggal beberapa kekuatan yang harus aku miliki selanjutnya.”
“Apa maksudmu?” seru Beny.
“Carilah maksud itu kalau kau ingin tahu,” Dion tersenyum.
Tiba-tiba sosok tubuh Dion menghilang diudara, dengan kecepatan ia di-level 4 itu bukan hal yang sulit terlebih lagi ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu mendapatkan kekuatan Sentry api.
Sepeninggalannya Dion maka orang-orang kembali berduka dengan apa yang menimpa Raja Stor. Noid yang dipapah Melody hanya bisa termenung melihat jasad Raja api tersebut.
“… Aku harus menjadi kuat… aku akan menghentikannya…” ujar Noid pelan.
“Ya… aku juga…” sambung Melody.
Ditengah rasa duka itu tiba-tiba mereka semua dikagetkan dengan kobaran api merah yang meliputi tubuh seseorang. Orang-orang yang ada disekitarnya panik terlebih lagi orang yang tubuhnya terjilat-jilat api merah tersebut.
“A-APA INI?!!” dan terlihat Naomi panik bukan main saat api merah itu menjalar disekujur tubuhnya.
Noid dan Melody terperangah melihat Naomi, biarpun tubuh Naomi seperti terbakar akan tetapi Naomi tidak merasakan kepanasan. Yang justru kepanasan orang-orang yang ada didekatnya.
“Apa kau juga merasakan auranya?” tanya Noid ke Melody.
“Ya,” Melody mengangguk, “… Tak kusangka…”
Ya itulah keistimewaan yang dimaksud Raja Stor sebelumnya, karena Naomi juga merupakan salah satu ‘Keturunan’ Sentry api.
[Bersambung]
Beautifull Aurora ® IV
[Celotehan]
Jadi sudah bisa diperjelas kalau nama tokoh utama ini bukanlah Dion, meskipun nama Noid adalah kebalikan dari nama Dion jika dibaca terbalik. Justru Dion yang menjadi Villain didalam cerita ini.
Nama asli Noid hanya saya dan Tuhan yang tahu.
© Melodion 2017 All Right Reserved

Beautifull Aurora IV | 05 : Bastard Beautifull Aurora IV | 05 : Bastard Reviewed by Melodion on November 30, 2017 Rating: 5

7 komentar:

  1. Njiirr seru banget sumpaah!!

    BalasHapus
  2. Baru kali ini dion berperan jadi antagonis yang amat sangat dah. Di tunggu kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
  3. Mirip salah satu scene di JL ya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg noid mau menghantam dion pertama kali itu ya?
      emg, tp saya lebih terinspirasi adegan itu dari adegan Quicksilver vs Apocalypse haha

      https://www.youtube.com/watch?v=tVxn-AUjQUg

      Hapus
  4. gw kirain dion itu nama asli noid waktu melody nanyain nama aslinya wkwkwkw soalnya gw pikir 'wah ada beny, ada bayu, pasti noid ini dion, namanya saja dibalik' wkwkwkw

    jd pnjahat rupanya :D

    BalasHapus
  5. Akhirnya B.A 4 menuju titik terang soal plotnya haha,

    w suka konsep elemen yg dipake bg dion utk cerita ini
    1. masing2 1 org 1 kekuatan sentry
    2. level, tiap2 lvl intinya tetap sama tapi pengaruhnya beda2 (kyk keturunan petir, kecepatannya meningkat saat memasuki lvl 2 lalu keturunan air, bisa membekukan pas lvl 3)
    3. tdk overpower, mksudnya tdk ada keturunan sentry yg tdk bs dikalahkan
    4. jd dgn itu w rasa masing2 keturunan saling membutuhkan 1 sama lain (seperti melody membantu noid waktu combat), apalagi musuhnya over-power (dion) jadi harus kerja sama utk mengalahkannya w rasa

    lalu yg w suka dipart 5 ini (versi w hehehe)
    1. Humor, ini sudah jelas wkwkw seperti saat noid yg kesal dpt pesan cie cie dr sentry petir, lalu adegan noid sama beny wkwkwkw beny kocak abis apalagi pas w baca bagian ia dikejar noid pake perahu
    2. diperkenalkannya lvl 4 dari semua kekuatan (air, api, petir)
    3. dan itu tadi, w suka kekuatan keturunan sentry tdk over. noid saja tdk berkutik dgn chip summon ayahnya melody
    4. kematian tokoh yg tak diduga" (indra sama raja stor)
    5. munculnya dion sbgai keturunan yg over-power, untung bg dion udh memberi keterangan klo keturunan sentry hnya bs menguasai 1 kekuatan saja. tp dgn munculnya dion bisa dibilang sbgai musuh yg benar" diperhitungkan krn dia pnya 4 kekuatan, 3 diantaranya udah ampe lvl 4 malah.
    6. diperkenalkannya Naomi sebagai keturunan api yg baru hehehe
    7. upacara pernikahan yg berbeda, sesuai genrenya yg fantasy
    8. karakter dion yg ndk pandang bulu, indra yg diledakkan bahkan michelle saja ditusuknya. jd kesan 'jahat'nya sudah diperkenalkan

    yg w rasa agak kurang dipart ini
    1. banyak typo bang wkwkwk

    yg ane harapin utk kedepannya
    1. tokoh" baru, kan keturunan angin sama besi belum diperkenalkan
    2. masa lalu noid bersama dion (ps: nama aslinya noid klo bsa hehe)
    3. cara para keturunan berlatih utk meningkatkan kekuatan, trlebih lg naomi menjadi keturunan api baru

    mungkin itu saja dari w bang hehehe, semangat terus bang!!

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.