Simple Story (Zero) | Chapter 01

WELCOME TO... SIMPLE STORY : ZERO !

oke, sebelumnya kalian pasti udah pernah ngedenger kata ‘Simple Story’ sebelumnya bukan? Apa? Belum pernah? Wah, kalian pasti bercanda. *hahaha* ngomong-ngomong, cerita ini murni buatanku sendiri dan pertama kali di publikasikan pada tanggal 30 Desember 2015, yaitu sekitar dua tahun yang lalu. Dan, waktu itu aku baru kelas 6 SD. Tadi ceritanya aku baru baca ulang ceritaku itu, dan kalian tau? Aku kebawa suasana! Asli gila, aku aja gak percaya kalo ternyata cerita itu aku yang buat sampe di bagian bawahnya ada tulisan ‘By AuthorCilik’ hahaha, gila gila aku bener-bener gak nyangka tau!
Eit.. kebanyakan bacot ah ni author, mending langsung mulai. Ya nggak? Heheheh!

~oOo~

PROLOG
16 tahun yang lalu... Perang besar terjadi antara dua negara yang sama-sama memiliki latar belakang yang sama. Perang tersebut kurang lebih memakan korban sekitar 2.000 orang di masing-masing negara. Bahkan balita juga ibu-ibu bahkan lansia ikut menjadi korban dalam peperangan tersebut. Akibat perang, kekurangan juga kemiskinan terjadi, bahkan populitas manusia nyaris saja punah apabila pemerintah masing-masing negara tidak cepat mengambil keputusan.
Bukan hanya kedua negara itu saja yang terkena dampaknya, negara-negara luar seperti Amerika juga Singapura bahkan Vietnam ikut menjadi korban dari aksi peperangan ini. Sebab, ini bukanlah sembarang perang, melainkan perang besar atau bisa dikatakan perang semi dunia pertama. Korea selatan membantu semampunya untuk perang ini, dan hasilnya perang tersebut bisa diredakan dan akhirnya berhenti tepat satu tahun setelahnya.
Namun mereka belum tau, kalau perang tersebut bukanlah perang antar negara biasa, melainkan menggunakan kekuatan. Hingga terlahirlah, manusia abadi, atau yang biasa disebut dengan Zero.
THIS IS, SIMPLE STORY : ZERO !

~oOo~

Kami... Yang terlahir sebagai manusia abadi – ralat maksudku sebagai seorang Zero, memiliki kelebihan juga kelemahan. Kelebihan kami yang sudah jelas  yaitu kami dapat hidup selama-lamanya dan tentu saja jikalau kami mati secara otomatis tubuh kami akan menjadi kembali seperti semula, karena kami abadi. Tahan banting itu juga merupakan kelebihan kami, tetapi kami juga memiliki kelemahan. Kelemahan kami antara lain adalah tidak pernah bisa merasakan yang dinamakan pertemanan. Saat mereka telah tumbuh dewasa dan bahkan memiliki anak, saat itulah kami masih berada di tubuh yang sama.

Kami tidak terlahir dari dalam kandungan ibu atau ayah kami, karena umumnya kami ini merupakan anak yatim piatu. Dan lagi, bisa dikatakan kami semua sudah pernah mengalami yang namanya kematian, karena orang yang dapat menjadi seorang Zero hanyalah orang yang sudah pernah meninggal. Atau kalau kita jelaskan lebih detail lagi, bisa dibilang kami ini adalah orang yang selamat dari kematian kemudian merubah identitas dan memulai hidup baru sebagai seorang Zero.

Tidak memiliki orang tua membuat kami terkadang hilang akal dan tidak sedikit manusia yang telah kami bunuh hanya untuk menyalurkan hasrat membunuh kami, dan itu dapat dikatakan tidak adil tentunya. Manusia, mereka telah melakukan berbagai cara untuk mengenyahkan kami, mulai dari membakar kami, memotong kami dengan gergaji mesin, bahkan menjatuhkan kami ke dalam jurang, tetapi semua cara itu sia-sia saja karena tidak ada kata meninggal dalam kehidupan kami.

Karena kami adalah... Seorang Zero.
~oOo~

Seorang pemuda tampak berjalan dengan langkah gontai memasuki sebuah pekarangan rumah yang terlihat begitu terawat. Sepeda gunung berwarna merah miliknya ia letakkan begitu saja di depan pagar sementara dirinya sudah memasuki rumah tersebut. Beberapa pelayan tampak sedikit merundukkan badannya ketika pemuda tersebut datang lengkap dengan sebuah tas ransel di belakang punggungnya, kedua matanya mengamati rumah tersebut sambil mulutnya tersenyum kecil.

“Aku pulang, aku... Benar-benar pulang,” batinnya.

Namun sepertinya kesenangannya itu menjadi hilang seketika saat sebuah teriakan kesakitan seorang wanita terdengar dari halaman belakang rumah tersebut. Pemuda ini langsung berlari dan melompati dinding yang menjadi pembatas antara pekarangan rumah dengan halaman belakang. Baru saja ia memasuki halaman belakang, dirinya sudah merasakan hawa panas yang menusuk seluruh indera tubuhnya.

Dengan berusaha tetap tegar, pemuda ini menatap kearah tiga orang gadis yang berada di hadapannya. Hanya tersisa satu orang yang tetap berdiri sedangkan dua lainnya sudah terlihat babak belur dengan luka dimana-mana serta nafas yang tidak beraturan. Pemuda tersebut sedikit tercengang karena hal itu, tetapi sepertinya tamatlah riwayatnya.

Wanita yang masih berdiri tegap itu menatap tajam kearahnya. Pemuda tersebut menelan nafasnya sambil berusaha menahan wanita itu dengan cara meletakkan kedua telapak tangannya di depan dada. “A-Anu, kak Melody gak usah kayak gitu, heheh... A-Aku cuma gak sengaja dateng kesini terus –“
“Kau siapa?” tanya wanita bernama Melody tersebut dengan nada yang sangat sangat datar.
“Eh? Aku?”
“Iya. Kau siapa?” tanya Melody sekali lagi.

Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. “Aku adikmu, Niko. Kau tidak ingat kah?” tanya pemuda bernama Niko itu.
Melody tampak memiringkan kepalanya kemudian menggeleng. “Bagaimana caramu agar membuatku percaya padamu?” Melody telah siap dengan sebuah bola lava di sebelah tangannya.
“Oh ayolah, ini tampak seperti de ja vu, kau tau?”
“De Ja Vu? Bahkan aku tidak pernah merasa kalau kau pernah pulang kemari,” jelas Melody.

“Eh? Masa iya? Apa jangan-jangan masih ada ingatanku yang tertinggal dari dunia lain? Benar-benar,” ujar Niko yang diakhiri dengan membatin.
“Jangan bicara yang tidak-tidak, pergilah dari sini!”

Melody melontarkan bola lava miliknya kearah Niko yang masih berfikir itu. Tanpa persiapan sama sekali, Niko langsung mengeluarkan perisai api miliknya dan menahan serangan Melody yang tak lain dan tidak bukan adalah kakak kandungnya sendiri. Melody mendecih ketika melihat Niko berhasil menahan serangannya, kini kedua tangannya telah memegang dua buah bola lava yang siap untuk dilemparkan.

“Kalau kau memang adikku, maka kau tidak akan kesulitan dengan yang satu ini,” ucap Melody, ia langsung melemparkan kedua bola panas tersebut kearah Niko.
Sedikit terkejut dengan kedatangan serangan kedua, Niko langsung membelah kedua bola lava tersebut menggunakan pedang api berwarna biru yang terdapat di sebelah tangannya. Perlahan bola lava itu berubah menjadi partikel-partikel kecil dan menghilang bersatu dengan udara di sekitar, begitu pula dengan pedang dan perisai Niko yang kini telah menghilang.

“Bagaimana?” tanya Niko.
“Baiklah kau lulus, selamat datang kembali, Niko,” ujar Melody.
“Sekarang, dunia baru telah dimulai. Entah di dunia mana lagi aku datang kali ini,” batin Niko yang disusul dengan senyum ramahnya.

~oOo~

“Bahkan disini juga ada Aldy dan Sinka, ya,” gumamnya.
Niko yang tengah duduk di halaman belakang rumah megah ini hanya dapat bergumam seraya menatap seorang pemuda berambut hitam berantakan yang tengah berlatih di ujung sana bersama dengan seorang gadis yang memiliki kemampuan es. Niko memegang kepalanya, entah kenapa dirinya masih memiliki ingatan di dunianya yang dulu.
“Kira-kira mereka mengenalku, tidak ya di dunia ini?” gumamnya lagi. “HAAH! Ini gara-gara gadis kecil bodoh itu yang mengubah segalanya!”


Seorang gadis berambut panjang dengan jubah hitam miliknya tampak berjalan kearah Aldy juga Niko yang tengah menebas beberapa Zombie yang diakibatkan oleh virus HED. Gadis itu berjalan santai tanpa membuat para Zombie menoleh kearahnya, atau lebih tepatnya, mahkluk-mahkluk menjijikkan tersebut tidak dapat melihatnya atau merasakan kehadirannya disini.

Niko-lah yang pertama kali menyadari kehadiran gadis tersebut.
“Dia ‘kan... Yang bersama Ghaida waktu itu,” batin Niko.
“Hoi, Nik! Sedang melamunkan apa?” tanya Aldy yang sibuk menghabisi sisa zombie.
“Eh, oh, itu ada orang yang selamat dari virus HED lagi, apa sebaiknya kita membawanya dan pergi dari sini atau membiarkannya?” tanya Niko.
“Tentu saja membawanya, baka! Sudah cepat bawa dia ke pesawat dan kita kembali ke markas Viny,”

Tanpa menjawab, Niko berlari kearah gadis tersebut. “Maaf, dik. Sepertinya kamu belum terserang virus ini, ‘kan? Ayo ikut aku, aku punya tempat dimana kau bisa aman dan terjamin,” jelas Niko.
“Aku tidak butuh.” Ujar gadis tersebut.
“Ti-Tidak butuh? Bagaimana kalau kau dimakan oleh zombie-zombie ini? Dan bagaimana kalau kau mati nantinya? Sudah, ikut saja! Kau akan segera dievakuasikan ke negara A,”
“Sudah kubilang, aku tidak butuh hal itu!” sahut sang gadis.

Niko terdiam, hanya rambut panjang gadis tersebut yang dapat ia lihat sementara wajahnya tidak dapat dilihat olehnya karena  tertutup dengan hoodie dari jubah hitam miliknya itu. “Tapi, tetap saja–“
“Dunia ini milikku, aku dapat merubah segalanya semauku, bahkan kalau aku mau, kau bisa mati sekarang juga,” jelasnya.
“Ma-Mati? Maksudmu apa?”
“Mudahnya, aku adalah pemilik dari dunia ini. Ingat, hanya dunia ini dan mungkin dunia lainnya. Aku tidak akan menyebut diriku Tuhan, karena itu menyalahkan kehendakNya, tetapi masih banyak orang yang memanggilku dengan sebutan itu. Aku benci mereka. Kalau saja hanya aku yang dapat merubah segala yang ada di dunia ini, memangnya kenapa?”

“Aku tidak begitu paham, karena kau menjelaskannya terlalu singkat. Tapi setidaknya aku mengerti poin utama dari topik yang kau katakan itu. Jadi, kau, anak kecil yang dapat mengubah dunia ini semaumu tidak suka dipanggil Tuhan oleh orang-orang?” tanya Niko, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. “Lantas kenapa kau menampakkan dirimu di depanku? Lagipula aku melihatmu bersama Ghaida beberapa hari yang lalu,”
“Itu karena, kupikir Ghaida lebih baik dalam segala bidang, tetapi ternyata penilaianku salah. Aku telah merancang dunia baru yang lebih bagus dan teratur daripada dunia Simple Story yang berantakan ini, dan aku telah memilih kembali karakter utama dalam duniaku itu,”

“Dan, biar kutebak. Karakter utama itu, aku?”
“Bingo,”
“Pertama, aku tidak percaya kalau kau bisa berbuat seenaknya saja,”
Dengan cepat, gadis kecil tersebut menjentikkan jarinya dan seketika itu juga seluruh zombie yang sedang dilawan oleh Aldy menghilang. Semuanya, semuanya menghilang.

“Apa itu belum cukup?” tanya gadis kecil tersebut.
“Kedua, memangnya kau ini siapa? Maksudku, siapa namamu dan apa urusanmu?”
“Pertanyaan yang menarik. Kau boleh memanggilku Author, aku adalah orang yang menuliskan kisah kalian di dunia ini, singkatnya akulah yang memunculkan kalian dan aku jugalah yang akan memusnahkan kalian. Dengan kata lain, aku akan menghilangkan seluruh manusia yang ada di dunia ini dan menggantinya dengan yang baru, karena aku akan segera memulai duna baruku,”

“Kenapa harus dunia baru? Tidak bisakah kau melanjutkan dunia ini?”
Gadis kecil tersebut menggelengkan kepalanya. “Akulah yang menentukan, Niko. Tekadku sudah bulat, jadi persiapkan dirimu. Saat kau pergi perang dengan Ghaida, maka aku akan menghapus seluruh data yang terdapat di dunia ini. Dan otomatis dunia ini akan kembali kosong layaknya lembaran kertas putih tanpa noda, dan tugasku setelahnya adalah mengetik seluruh imajinasiku di atas kertas putih tersebut.”
“Apa kau masih waras?”
“Lihat saja nanti,”


“Apa yang sedang kau lakukan disini, pemuda malas?”
Suara seorang gadis terdengar, Niko terbangun dari lamunannya dan menoleh kearah samping. Tepat di sampingnya sudah duduk SInka yang sedang bermain dengan bola es di sebelah tangannya. Niko hendak memegang bola es tersebut, tetapi lagi-lagi ia teringat kalau ini bukanlah dunianya dimana ia dan Sinka sudah lama saling kenal. Bahkan disini, ia sama sekali tidak mengenal Sinka atau Aldy.
“Hanya merenung, memikirkan sesuatu,”

“Sesuatu? Contohnya?”
“Tentang siapa yang menciptakan kita, dan untuk apa dia melakukannya. Serta bagaimana bentuk wajahnya dan hal yang lainnya,” jelas Niko.
“Pft, hahahah,” tawa Sinka pecah, ia memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa sementara Niko yang merasa dirinya telah ditertawakan hanya mendengus kesal dan berandai-andai Sinka juga ada saat gadis itu berbicara waktu dulu.

“Oke, jadi panggilanmu adalah pemuda malas dan suka berkhayal. Aneh, aku baru tau kalau adik dari seorang Melody Nurramadhani Laksani yang terkenal ternyata seperti ini, baka,” ujar Sinka.
“E-Eh?” Niko terdiam sementara. “Sialan, dia juga merubah sifat Sinka ternyata,” batin Niko.
“Kau kenapa lagi? Ada-ada saja. Oh iya, perkenalkan namaku Sinka,” Sinka mengulurkan tangannya kearah Niko yang masih terdiam.
“Sinka Juliani, ‘kan? Salam kenal, ya,” Niko meraih tangan Sinka dan menjabatnya sekali.

“Darimana kau tau nama panjangku?” tanya Sinka curiga.
“Hanya menebak, karena dulu aku memiliki sahabat yang sangat mirip denganmu,” jelas Niko.
“Eh, iya kah? Apa mungkin itu diriku yang dulu sebelum meninggal? Atau... Mungkin... Zero yang lain yang memiliki tubuh yang  sama sepertiku?”
“He-He....?” Niko menatap Sinka dengan tatapan heran.
“Tapi setidaknya, kau memang mirip seseorang. Tapi aku lupa siapa itu,” ujar Sinka pada akhirnya.

“Jadi dia masih meninggalkan sedikit ingatan Sinka, baguslah,”  batin Niko.
“Pasti kau salah orang, hehehe,” Niko tertawa renyah.
“Hm, mungkin,”

Niko bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Sinka yang masih duduk. “Mau coba latihan satu lawan satu? Aku tidak akan menahan diri,” ujar Niko.
Sinka mengangguk dan meraih tangannya. Niko berjalan mundur berusaha menjaga jarak dari Sinka begitu juga gadis tersebut mulai mundur beberapa langkah ke belakang. Tanpa aba-aba, Sinka mengeluarkan es miliknya yang sudah ia ubah menjadi tombak panjang, sedangkan Niko hanya mengeluarkan pedang api miliknya saja.

“Apa kau yakin ingin melawanku hanya menggunakan pedang? Jangan remehkan aku, tau?”
“Aku tidak meremehkanmu, kalau aku tidak menggunakan senjata itu artinya aku telah meremehkan kekuatanmu, tetapi sekarang aku menggunakan senjata, bukan? Jadi ayo maju saja,”
“Cih, baiklah,”
Sinka melesat dengan kecepatan yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, tetapi berbeda dengan Niko, Niko dapat melihat seluruh pergerakan tidak berfungsi yang dikeluarkan oleh Sinka itu. Dan meski dirinya sudah mengetahui pergerakan apa yang akan dilakukan Sinka selanjutnya, ia mencoba untuk menahan  diri dan menunggu waktu yang pas untuk melawan.

PRANGGG!!!

Tombak es milik Sinka serta pedang api milik Niko saling bersentuhan, ditambah kekuatan yang ditambahkan oleh pemiliknya membuat dua benda tersebut berdecit nyaring. Perlahan, tombak es milik Sinka melumer karena pedang api milik Niko, sebagai pemilik, Sinka langsung menciptakan sebuah tombak es kecil dan melemparkannya pada Niko.
“Fire Shield, Active!”
Seketika itu juga sebuah perisai api yang berkobar menahan serangan kecil Sinka tadi. Tubuh Sinka yang masih melayang di atas dikarenakan serangannya tadi memang sengaja ia lakukan dari udara untuk menambahkan gaya gravitasi di dalam kekuatannya ternyata gagal total. Kini ia melakukan sebuah lompatan ke belakang dan menyeimbangkan dirinya, nafasnya tampak tidak beraturan dan keringat mengucur deras dari pelipis kepalanya.

“Untuk apa kau melompat dan berlari kesana kemari kalau ujung-ujungnya hanyalah sebuah serangan udara kecil yang kau lontarkan padaku? Hal itu jelas-jelas sangat menguras tenagamu, saranku lebih baik kau lari sedikit jauh dan melayangkan serangan, seperti itu berkali-kali. Dan tentu saja damage yang terkena di tubuh lawan akan lebih sakit ketimbang seranganmu tadi,” jelas Niko.
“Urgh, bagaimana kau dapat membaca pergerakanku? Bahkan kak Melody saja selalu gagal membaca pegerakanku, dan kau, anak yang baru datang kemari sudah dapat membacanya hanya dengan sekali melihat? Luar biasa,”

“Tentu saja karena aku sudah sering melihat itu,” gumam Niko.
“Hm, apa?”
“A-Ah? Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya? Ingin melihat daerah sekitar, siapa tau aku mendapat ingatan lamaku disini,” ujar Niko yang mulai melangkah pergi.
“Tu-Tunggu dulu. Namamu, maksudku, siapa nama panjangmu?”

“Nicholas Alexander Laksani,”
“Jadi benar ya, kau yang namanya Niko itu,” gumam Sinka.
“Hm?”
“Ah tidak-tidak,”

Niko mengangkat kedua bahunya tanda kalau ia tidak peduli dan melangkah masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada Melody yang sedang mengobrol serius dengan Naomi, tanpa Niko sadari, kakaknya itu menatap tajam kearahnya yang perlahan meninggalkan rumah untuk melihat daerah sekitar.

“Apa kau yakin, Naomi?”
“Sangat yakin, Mel. Dan kalau hal itu benar-benar terjadi, pastilah dia akan keluar lagi,”
“Sialan. Kenapa dia selalu ada dimanapun kita berada?!”
“Karena dia adalah...”

Melody menganggukkan kepalanya, setuju terhadap perkataan Naomi walau sahabatnya itu belum melanjutkan perkataannya.
“Lebih baik kita bersiap,” ujar Melody tenang.



To Be Continue...
Simple Story (Zero) | Chapter 01 Simple Story (Zero) | Chapter 01 Reviewed by Melodion on November 28, 2017 Rating: 5

2 komentar:

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.