Beautifull Aurora III | Chapter 22 : Nevermind

Muncul 2 orang yang tak akan disangka-sangka oleh Leffy, Egi dan Diaz. Simak kisahnya berikut ini.
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Hari Minggu. Adalah sebuah hari yang begitu menyenangkan bagi sebagian orang-orang akan tetapi juga menjadi hari yang begitu menyedihkan untuk orang-orang tadi. Tentu saja itu ada alasannya, dari malam Minggu sampai hari Minggu-nya sendiri merupakan hari yang menyenangkan bagi kaum pegawai negeri atau anak-anak sekolah dari penatnya aktifitas. Dan akan menjadi menyedihkan disaat malam mulai menetas karena sugesti alami pada pikiran mereka yang mengatakan seolah-olah esok adalah hari kiamat, yakni Hari Senin.
Emang semenakutkan itukah hari Senin?
Emangnya hari Senin adalah harga mati untuk malas beraktifitas?
Atau karena sudah terlena dengan enaknya hari Minggu dan menyalahkan hari Senin?
Saya tidak tahu alasannya karena saya menilai ini secara subjektif, tidak objektif. Jadi penilaian orang-orang tentang hari Senin berbeda-beda, kalau bagi saya ya B saja.
Padahal lebih menakutkan gantiin popok ponakan yang masih bayi loh, apalagi dia pup. Bagi penulis sih itu menakutkan daripada hari Senin.
Bayangin saja misalnya kalian lagi enak-enak nyantai didepan TV atau apa kek terus saudari atau sepupu perempuan kalian manggil dan meminta, “Tolong gantiin popok anak gue dong, gue mau bikin susu sebentar.”
“Pipis atau pup?”
“Pup.”
R You sure?
Yes, yeah and absolutely,” ia pun berlalu kedapur.
Aw man! That’s F*cking Horror for me!
Kalian bayangin nih ya, hari santai kalian dinodai untuk melihat kotoran bayi suci alami didepan mata kalian yang polos, tapi karena ini adalah keponakan saya yang notabane Keluarga akhirnya saya bersedia.
Akan tetapi… pas membuka popoknya sih ya tak seberapa lah, tapi… selepas membuka popoknya itulah… BENTUK KOTORAN DAN BAUNYA BENAR-BENAR MENGGUGAH JIWA DAN RAGA!
Kalau sudah begitu saya pasti kalut, “Ini anak gue juga bukan! Pas bikinnya pun gue gak ikutan! Kok jadi gue yang ngurus kotoran?!”, pokoknya gara-gara itu saya sedikit lupa dengan yang namanya keluarga, yah… khilaf.
Ambil sisi positif-nya saja untuk sugesti diri, “Nanti gue juga bakalan punya anak.”
Jadi buat yang sering mengeluh “Haah besok Senin,” kalian itu termasuk ras manusia LEMAH! Itulah namanya prosedur kehidupan, tahap bertahap demi yang baik untuk kalian.Lagian bertahun-tahun hidup hampir ketemu hari Senin masih aje ngeluh? Hah! Saya kerasukan setan sok bijak mana lagi ini?!
L-E-M-A-H ! (Diucapkan dengan nada intimidasi, muka agak sengak-sengak sedikit)
Kecuali hari Senin dijadikan Hari Ganti-Popok-Bayi-pup-anak-orang-lain-Sedunia. Nah! Saya akan bergabung menjadi kelompok kalian. Kita bersatu padu kepada pemerintah untuk menghapuskan hari Senin dari kalender!
Yeah!
Itu sedikit curahan hati dari penulis. Mari saya tuntun kejalan cerita yang benar. Belok kanan, belok kiri, nikung dikit akhirnya sampai ~
Oke, jadi Hari Minggu ini atau lebih tepatnya siang hari ini dijadikan Egi untuk membuat scoring film pendek didalam rumahnya. Daya imajinasi anak ini emang tinggi kalau sudah berurusan dengan tanggung jawabnya, dari naskah cerita yang ia baca saja ia sudah menemukan nada lagu yang pas untuk adegan yang ada disitu.
Misalnya ada adegan sedih, ya dikasih lagu sad-sad mellow gitu. Lalu pas ada adegan yang menegangkan ia membuat lagu yang bisa membuat orang yang mendengarnya ikut deg-degan. Terkadang ia juga dibantu kakak sepupunya bernama Ega, kakak kandungnya Hugo. Karena bakatnya itu sama dengan kakak sepupunya tersebut, bahkan nama panggilannya saja hampir sama, hanya beda huruf vokal doang.
Selagi asyik mengatur suara gitar dan keyboard yang barusan ia rekam dengan aplikasi AVID Pro Tools dikomputernya tiba-tiba kakak kandungnya nyelonong masuk dan rebahan dikasurnya.
“Ketuk pintu dulu kek,” kata Egi dengan wajah malasnya.
“Gerah! Panas diluar, AC dikamar abang mati,” ulas Arya sambil membuka kamejanya.
“Wih-wih,” Egi menoleh kebelakang dan wajah tak menyangka, “Kenapa lu gak ikut sekalian?”
“Apanya?” alis Arya naik sebelah.
“Ya mati,” Egi terkekeh.
“Sialan lu!” Arya melempar flasdisc dan tepat mengenai kepala adiknya.
Egi cengengesan dan kembali berkutat dengan komputernya sambil berbicara.
“Emang lu darimana tadi?”
“Jalan-jalan sama kekasih hati,” jawab Arya sambil menguap.
“Oh,” Egi merinding sebentar, mengambil sebatang rokok dimeja dan menyalakannya.
“Eh tadi abang ketemu Leffy sama temen-temen lo yang lain didekat Southbox, katanya syuting. Kok lo gak ikutan?”
“Gue kena bagian bikin lagu, emang ramai tadi?”
“Lumayanlah,” Arya lagi-lagi menguap dan kembali bertanya, “Terus gimana ceritanya teman lo itu, si-Bodong Dengkul?”
Ah bener juga!” pikir Egi yang mengingat keakraban Shania dan Danu, ia berbalik badan dengan gitar listrik yang masih berada dipangkuannya, “Rumit.”
“Rumit gimana?”
 “Ceweknya tiba-tiba deket dengan cowok lain.”
“Hah?” alis Arya naik sebelah.
“Ya pokoknya gitu deh, menurut lo gimana?”
“Bunuh aje tuh cewek, PHP amat!” seru Arya enteng.
“Enak aje lu ngomong, mau lo gue masuk penjara?!”
“Kok elu?” Arya menyeringitkan dahi.
“Ya…” Egi kelabakan, “Kan gue perantara buat nyari solusinya,” dan pikiran Egi dengan cepat mencari alasan.
“Bener juga sih,” Arya memanggut-manggut dan semakin penasaran, “Gimana ceritanya?”
“Jadi begini pemirsa…” Egi menghembuskan asap rokoknya terlebih dahulu.
Setelah itu tombak-tombat kalimat bait demi bait kata telah dilontarkan Egi sehingga menembus pertahanan gendang telinga sang Kakak yaitu Arya. Semua yang ia lihat kemarin diceritakannya dari A sampai Z, dari kutub Utara sampai Selatan, dari Sabang sampai Marauke. Setelah bercerita dengan gaya kupu-kupu ketiban batu akhirnya Arya mengangguk-angguk.
“Bisa gitu ya…”
“Ya itu dia, aneh kan?”
“Lalu cowoknya itu temennya Dengkul?”
“Ho’oh,” Egi kembali menghisap rokoknya.
“Hmm kayaknya ada sesuatu,” Arya mengurut-urut dagunya, “Cewek gak mungkin kayak gitu, segatel-gatelnya cewek gak mungkin dia nunjukin kalau dia gatel didepan cowok yang ia sukai.”
“Itu cewek panuan apa ampe gatel-gatel?” Egi melongo.
“Heeeh itu umpamaannya,” Arya mengibas tangannya, “Lagian dari cerita lo yang kemarin tuh cewek gak mungkin begitu, masa tiba-tiba gatel dengan cowok lain, didepan Dengkul pula.”
“Iya juga sih… jangan-jangan kurapan,” Egi terlihat serius sambil mengurut-ngurut dagu.
“Masih aje,” Arya memiringkan bibir, “Tapi abang rasa ada sesuatu itu, coba lo suruh Dengkul tanyain temannya itu.”
“Males gue, nanti dikiranya gue ke-PD-an.”
“Kok elu?” Arya menyeringitkan dahi.
“Oh… kirain lu nyuruh gue nanyain,” dan Egi dengan cepat mencari alasannya.
“Inti masalah Dengkul tuh ada pada temannya, coba lo suruh teman lo itu nanyain temannya. Abang yakin 80% ada apa-apanya.”
“Lalu 20% nya?”
“Berarti gak ada apa-apanya,” jawab Arya santai.
“Nyet-nyet,” Egi memenclekan bibirnya.
“Bodo amat,” Arya kembali menguap dan mencoba tidur dibawah hembusan AC.
Akan tetapi Egi memikirkan kata-kata kakaknya tersebut, ia memang curiga dengan sikap Shania terlebih lagi Shania tampak sengaja menunjukan itu dihadapannya. Apalagi ia mengenal Danu, karena kalau Danu menyukai seorang cewek yang disukainya tuh anak pasti gembar-gembor nyeritain keteman-temannya, akan tetapi Danu sampai hari ini tidak pernah menggembar-gemborkan seorang wanita bernama Shania. Karena itulah Egi curiga.
“Okelah gue kasih tau Dengkul besok,” gumam Egi.
“Yaudah, keluar lu. Ngantuk, jangan lupa tutup pintu.”
“Oke,” Egi beranjak dari tempat duduk dan keluar kamar.
Sesampai diluar kamar ia termenung sebentar, ia kembali masuk dan menyeret kaki kakaknya dengan beringas dari tempat tidur.
“INI KAN KAMAR GUE!” seru Egi kesal.
“ALALALALALA!” rintih Arya, ya bagaimana tidak merintih coba? Egi menarik kedua kakinya dan Egi menekan selangkangan kakaknya memakai kaki kanan.
Yah… sudahlah.
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Sementara itu ditempat Leffy dan yang lain tampak berbenah diri karena syuting yang mereka lakukan dilokasi tersebut udah selesai.
“Lalu soal besok gimana, Yog?” tanya Leffy membenahi kamera kedalam tas.
“Udah diberitahu, nanti mereka berdua datang. Tenang aje.”
“Oh oke deh,” Leffy memanggut-manggut.
“Eh gue duluan ya? Mpris dicariin mamanya nih,” pamit Izi sambil memangku tasnya.
“Cepat amat Mpris, santai aje dulu,” cegah Viddy.
“Yee gue mau kekondangan rame-rame, gak enak dong kalo gak datang diacara keluarga,” balas Frieska.
“Emang acara apaan?” tanya Yupi.
“Keponakan sunat.”
“Oh,” Leffy memanggut-manggut dan menoleh kearah Izi, “Sekalian aje Zi, sunat 2 kali,” dan terkekeh.
“Ya kali pak, kalau habis gimana gue sama Mpris bisa punya keturunan?” Izi memiringkan bibir.
“Yeee emangnya kita ada hubungan apa?” Frieska terkekeh dan alisnya naik sebelah.
“Yaelah Mpris, kan tiap hari gue nge-jemput antar elu. Masa gak peka sih?” Izi berpura-pura frustasi.
“Iye nih, tega amat lu Mpris,” sambung Viddy berpura-pura simpati.
“Biarin,” Frieska tertawa dan melipat tangan.
“Iya, kan dari itu kalian berdua udah ada hubungan,” samber Leffy.
“Emang hubungan apa?” tanya Frieska dan Izi memainkan kode-kode dengan alis kepada Leffy agar diberi kata-kata yang menjurus kesuatu hubungan yang pink-pink gitu.
“Ya hubungan antara tukang ojek dengan langganannya, lu kan ojek online,” Leffy pun terkekeh karena dia tahu Izi dan Frieska sering chatingan.
“Sialan lu!” Izi menoyor kepala Leffy dan ditertawai dengan bejat oleh yang lainnya.
Tak lama kemudian Frieska berpamitan kepada semuanya dan meluncur pulang dengan tukang ojek langganannya alias Izi. Sementara itu Hugo menghampiri Yuriva yang asyik mendengarkan lagu dipot bunga semen besar yang ada ditepi trotoar.
“Dengerin lagu apa neng?” tanya Hugo.
Akan tetapi Yuriva tidak mendengar karena terlalu asyik mendengarkan lagu memakai earphone, kepalanya saja sampai goyang kekanan dan kekiri untuk menikmati lagu, untung saja kepalanya tidak berputar-putar 360 derajat, kan cerita horor jadinya.
“Aku duluan ya, Go, Yuri,” pamit Yupi.
Hugo menoleh kebelakang, “Oh iya-iya.”
“Langsung antar kakak gue pulang! Awas lu bawa kemana-mana!” seru Viddy menunjuk Leffy.
“Yup, lu habis ini kemana?” tanya Leffy kepada Yupi.
“Nonton film hehe, ama belanja baju.”
“Nah! Lu anak orang aje main bawa kemana-mana! Masa gue gak boleh?!” Leffy protes kepada Viddy.
“Eh gue ini calon adik ipar lo! Terserah gue dong! Sesajen aje belum pernah lu kasih ke gue!” seru Viddy dengan wajah sinis.
“Ck, yaudah nih,” Leffy menyerahkan uang 5 ribu rupiah.
“Buat apa nih?” alis Viddy naik sebelah membentangkan uang pemberian Leffy.
“Buat bayar parkir, jadi lo gak perlu keluar duit buat bayar parkir,” balas Leffy enteng.
“Enak aje lo! Lo belum tau apa kalau Yupi ini kalau belanja baju yang harganya beda harga tipis aje dengan toko lain bisa pindah-pindah Mall! Mana cukup!” seru Viddy dan Yupi menjewer telinganya gara-gara itu.
“Kayak emak-emak aje lu Yup,” Leffy memiringkan bibir memandang Yupi.
“Mana ada!” Yupi sewot dan semakin menjadi menjewer Viddy.
“Yaudeh, sebut saja mau berapa,” Leffy mendengus sombong sambil memandang Vienny yang ada disebelahnya, “Belum tau dia abang baru dapat kiriman duit,” ujarnya sambil menepuk-nepuk dompetnya.
“Wuuu sombong!” Vienny sebal sambil melipat tangan dan menginjak kaki Leffy.
“Oke, kalau lo kasih gue duit buat ongkos hari ini, gue izinin lo bawa kakak gue kemana-mana,” ulas Viddy.
“Oke-oke, sebut saja berapa? Gampang itu mah!” Leffy mendengus-denguskan hidungnya.
“1 setengah juta.”
“Lu mau ngerampok gue?!” dan Leffy sewot setengah mati.
Alhasil Leffy bersama Viddy malah sibuk tawar-menawar uang sesajen, Vienny dan Yupi saja sampai cekikikan melihat tingkah mereka berdua. Selagi mereka sibuk menawar harga maka Yogi berpamitan untuk pulang, katanya sih dia mau menjalani progam diet dirumah. Lalu Hugo kembali melihat Yuriva yang masih asyik mendengarkan lagu.
“Hmm,” senyum Hugo terukir dibibir.
Tangan Hugo kemudian mengarah ketudung jaket Hoodie hitam yang Yuriva pakai, Yuriva tertegun saat Hugo memakaikan tudung Hoodie-nya tersebut setelah itu Hugo merapikan sela-sela rambut Yuriva yang ada didalam tudung Hoodie dengan lemah lembut. Diperlakukan seperti wanita yang sangat berharga ini membuat Yuriva menatapnya dengan lembut.
“Hmm,” Yuriva tersenyum.
“Hmm,” begitu juga Hugo.
Tak lama kemudian Hugo menarik tali yang ada ditudung Hoodie gadis tersebut yang mengakibatkan kepala Yuriva terbungkus tudung Hoodie-nya sendiri. Yuriva sewot setengah mati sedangkan Hugo tertawa ngakak dan menggerakan kepala Yuriva dengan tali jaketnya kekanan dan kekiri.
“Mmmmhhh!!!” Yuriva gegalapan.
“Hahahaha!”
Leffy yang telah membuat Viddy dan Yupi pergi setelah urusan sesajen kemudian menoleh kearah suara.
“Hui!” tegur Leffy.
“Iye-iye,” Hugo memiringkan bibir dan melepaskan genggaman tali.
Kepala Yuriva nongol dari tutup Hoodie yang sudah dilonggarkan, ia menarik tudung Hoodie-nya kebelakang, wajahnya kusut  bukan main dan langsung menggeplak tangan Hugo, “Kamu ini apa-apaan sih?!”
“Makanya denger, daritadi dipanggil juga,” ujar Hugo.
“Kan bisa lepasin earphone aku! Pusing tau gak?!” Yuriva tampak sebal.
“Hehehe bercanda-bercanda, senyum dong kayak tadi,” Hugo duduk disamping Yuriva.
“Enggak! Sana!” Yuriva mendorong Hugo untuk menjauh.
“Yeee nonton mau gak?”
“Gak!” tolak Yuriva sekali dan mencoba mendorong Hugo jatuh sebagai ajang balas dendam.
“Ditambah es-krim mau?”
Mendengar penawaran itu membuat tangan Yuriva berhenti untuk mendorong meskipun wajahnya masih kusut, “Bener?”
“Yo’i,” Hugo tersenyum dan memain-mainkan alis.
Wajah Yuriva masih kusut, “Yang ditempat kemarin ya?”
“Iye.”
Double Dutch?”
“Iye.”
Raut wajah Yuriva berubah ceria.
“Rasa coklat ya?”
“Iye-iye,” Hugo memiringkan bibir, “Tapi temenin nonton dulu.”
“Beliin dulu, kan enak ada yang bisa dilahap pas nonton,” Yuriva tersenyum dan memain-mainkan alis.
“Oke, jadi deal?” Hugo menadahkan telapak tangan kirinya.
“Oke!” dan Yuriva dengan semangat melakukan tos tangan.
“Hehehe jadi damai kan?” Hugo cengengesan dan menyikut pelan lengan tangan Yuriva yang ada disampingnya.
“Wuuuu!” Yuriva menahan senyumnya dan membalas sikutan tersebut.
Melihat hal itu membuat Leffy melongo sedangkan Vienny cekikikan, setelah itu Hugo menghampiri tempat Leffy sedangkan Yuriva dengan perasaan tak sabar sudah duduk diatas motor Hugo.
“Gue duluan Lef, gue ngajak Yuriva nonton dulu. Palingan nanti sore pulangnya, duluan ya Lef, Kak,” pamit Hugo kepada Leffy dan Vienny.
“Iya,” Vienny tersenyum dan mengangguk.
“Eh entar-entar,” Leffy menarik tangan Hugo.
“Nape?” alis Hugo naik sebelah.
“Itu tadi namanya strategi apa?” tanya Leffy sambil menadahkan kepalanya kearah adik sepupunya dikejauhan.
“Oh, itu gue sebut Jurus-Bertengkar-Kecil-Biar-Tambah-Mesra,” Hugo mendengus bangga dan memainkan alis.
“Hah? Apaan tuh?” Leffy menyeringitkan dahi.
“Gak tau juga,” Hugo menggelengkan kepala, “Kata Diaz sih kalau bertengkar itu bisa nambah keharmonisan dalam suatu hubungan. Asal jangan keterlaluan amat katanya. Itu yang dia dapat dari tweet orang yang hidupnya hanya untuk menyembah cinta-cintaan... tapi ada benernya juga sih, tuh Yuri senyum melulu ampe sekarang.”
“Gitu ya?” Leffy tercengang dengan wajah polos.
“Emang nape?”
“Oh kagak-kagak, yaudah cabut lu sana. Hati-hati bawa motor jangan tiang listrik lu tabrak. Dia lecet dikit gue diomelin ibunya.”
“Tenang aje, yaudah gue cabut dulu. Yuk Kak,” Hugo berjalan dan melambaikan tangan sekedarnya kepada Leffy dan Vienny.
Hugo dan Yuriva pun pergi diatas kuda besi menyisakan Leffy dan Vienny ditepi jalan.
“Yaudah yuk, katanya mau nemenin adek nyari buku.”
“Iye-iye, tapi habis itu nonton ya? Katanya film Night Bus udah ada di-bioskop.”
“Iya, tapi habis itu nonton Murder On The Orient Express ya? Adek dari kemarin mau nonton itu,” pinta Vienny.
“Hehe mabok film kita hari ini,” Leffy cengengesan dan mencolet hidung Vienny.
“Yaudah yuk,” Vienny tersenyum dan menarik tangan Leffy menuju tempat Leffy memarkirkan motornya.
Sambil berjalan bergandengan tangan menuju parkiran motor (Ce-i-leeh) maka Leffy kembali berbicara.
“Adek.”
“Ng?” Vienny menoleh kearah Leffy.
“Kalau dipikir-pikir… kita ini hampir tak pernah bertengkar ya?”
“Siapa bilang? Pertama kali bertemu aja kita berantem,” Vienny tertawa ringan.
“Ya maksudnya pas kita begini nih hehe berhubungan maksudnya, gak pernah bertengkar kan? Jarang malah.”
“Iya sih,” Vienny menatap langit dan mengangguk-angguk.
“Nah! Tadi adek dengerkan dari Hugo kalau bertengkar itu bumbu keharmonisan?”
Vienny tertawa ringan dan bertanya, “Terus?”
“Nah! Kita bertengkar yuk? Biar tambah harmonis!” pinta Leffy dengan wajah ceria nan polos.
“Oh,” Vienny memanggut-manggut dan berusaha untuk tidak tertawa, “Jadi maunya kita berantem gitu? Dengan tambahan bumbu-bumbu drama yang dramatis? Hmm,” tanya Vienny dengan senyuman manis.
“Nah! Boleh tuh! Siapa tau tambah romantis nanti hehehe,” Leffy cengengesan.
“Oh boleh aja,” Vienny tersenyum dan menoleh, “… Tapi…”
“Tapi?”
“Pas kita berantem jangan harap adek mau balas SMS abang, Chatting abang, Email abang dan jangan harap adek mau menerima abang pas datang kerumahnya adek, telepon abang juga gak akan adek angkat. Adek gak mau ketemu abang dikampus, pokoknya adek gak mau ketemu abang! Dan…” Vienny mendekat untuk membisiki lanjutannya,  “..Adek gak mau kirim cerita lagi ke abang.”
Leffy diem, mukanya memucat. Sedangkan Vienny kembali tersenyum manis dan menoleh kearah depan.
“Jadi…” Vienny menjelingkan matanya kearah Leffy.
“E-e-e-e…”
Vienny memiringkan kepalanya untuk melihat Leffy.
“Mau kita berantem?” tanya Vienny dengan senyumannya yang teramat manis.
Mendengar pertanyaan itu membuat Leffy menggeleng-gelengkan kepala.
“Gak jadi deh.”
“Hihihihi,” dan Vienny cekikikan dibuatnya.
“Ini gara-gara Hugo nih,” Leffy mendumel-dumel tak jelas.
“Jangan biasain nyalahin orang lain, udah sendiri yang salah,” Vienny menyentil telinga Leffy dengan tangan kiri karena tangan kanannya bergenggaman tangan dengan tangan kiri Leffy.
“Iye-iye,” Leffy memiringkan bibir.
“Lagian bukannya bagus hubungan kita gak ada masalah, ini malah nyari masalah, adek gak suka ah ada drama-drama gituan,” Vienny memanyunkan bibir.
“Gara-gara Hugo tuh,” jawab Leffy dengan bibir ketus.
“Dibilangin!” dan telinga Leffy kembali disentil Vienny, akan tetapi Leffy malah menjadi-jadi supaya Vienny terus menyentilnya, mereka berdua tertawa ringan dan melanjutkan perjalanan mereka keparkiran.
Buat kalian yang menunggu saya membuat drama dan percintaan yang tragis!
Sehingga membuat hati meringis-ringis!
Dan terkikis!
Layaknya protagonis!
Dianiaya antagonis!
Secara bengis!
Dari cerita-cerita yang saya buat seperti inis!
Pake is!
Biar bagian kalimat belakang terus mengulang kata is!
Is-is-is!
Anjis!
Ada yang melempari penulis!
Pake ikan amis!
Wajah pembaca udah mulai sinis!
Menunggu ini abis!
Santai dong dan duduk yang manis!
Karena sebentar lagi habis!
Ehem (batuk)
Jadi intinya kalian salah orang kalau berharap saya membuat cerita seperti itu. Sudah cukup drama dalam ruang lingkup manusia yang ada didunia ini. Hentikan! Sudah lebih dari cukup Indonesia dijajah drama picisan baik dari Sinetron, Internet, gosip tetangga, drama Jepang, drama Korea dan drama-drama lainnya. Hentikan… dan, sudah cukup.
SADIS!
Saya merasa keren menulis kalimat penuh kata bijak bernarasi motivasi untuk pembaca seperti tadi walau itu bertolak belakang dari kepribadian saya yang tak suka memberi kata-kata bijak penuh sastra bermakna sewaktu menulis kalimat seperti tadi. Maka dari itu biar saya sendiri saja yang mengatakan ini untuk diri saya sendiri yaitu…
NAJIS!
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Pagi hari adalah waktu dimana singgasana malam sudah berganti, dan nenek moyang kita semua pun tahu akan hal itu. Dipagi hari yang bla-bla-bla-bla ini terlihat sebuah motor sport hitam Kawasaki Ninja, motor mahal yang dikendarai seseorang yang dimana otaknya itu berada disikut tangannya karena helm sport-nya dihimpitnya disitu.
Siapakah pengendara motor sport hitam tersebut sehingga penulis menulis merek-nya biar kesannya dia itu orang yang sangat kaya raya?
Jujur saja penulis sendiri tidak tahu, tapi kalau pengendara yang berada dibelakang pengendara motor sport itu maka penulis tahu, karena dia adalah salah satu tokoh yang ada dicerita ini, yaitu Egi yang dengan wajah cuek melaju dengan motor matic-nya.
Lalu ngapain saya menulis narasi tentang pengendara motor sport tadi? Saya sendiri tidak tahu.
Mari kejalan cerita yang benar, jangan jalan yang kiri, ada razia ~
Diperjalanannya Egi terus memikirkan kata-kata kakaknya, dan setiap ia mengingat kata-kata kakaknya itu maka ia selalu mengsugesti dirinya sendiri agar itu menjadi kepentingannya saat tiba dikampus nanti.
Gue harus tanyain Danu! Gua harus nanyain Danu!” sugestinya dalam diri.
Meskipun ada sugesti lain yang ia selipkan dalam hati.
Gue bukan Rano Karno! Gue bukan Rano Karno!” Itu karena ia tidak mau mempunyai kumis tebal diatas bibirnya, cukup ayahnya saja yang mempunyai kumis seperti itu menurut dia.
10 menit dijadikan durasi baginya untuk sampai dikampus, akan tetapi belum mencapai gerbang ia sudah dihantam dengan peribahasa Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba. Itu karena ia melihat keberadaan Danu sedang memarkirkan motornya diparkiran rumah makan Padang yang ada didepan kampusnya, dengan segera ia menghampirinya.
“Dan.”
Danu kaget, ia menoleh kebelakang dan tampak lega.
“Elu rupanya Gi, gue kirain siapa.”
“Lu ngapain markir disini? Kan belum buka nih rumah makan.”
“Beeh! Mending disini daripada didalam, gue takut ditungguin sama entu anak!”
“Siapa?” Egi melepas helm dan menyeringitkan dahi.
“Itu yang naksir bapak tukang sapu!”
“Hah? Siapa?” alis Egi mengkerut.
“Lu gak bakalan kenal deh, namanya Shania,” ujar Danu sambil mengibas tangan dan duduk.
“Shania? Yang ada tompel dibawah bibirnya entu?”
Danu kaget, “Kok lo tau?”
“Oh itu sih gue juga tau,” Egi memiringkan bibir, “Eh tapi kenapa lu tadi bilang dia naksir sama bapak tukang sapu? Tukang sapu yang mana?”
“Yaelah! Pak Anwar! Siapa lagi coba? Yang dari kemarin lu sering ajak ngobrol entu.”
“Hah?! Yang bener lu?”
“Iya,” Danu mengangguk.
“Trus kenapa lu ngehindar dari dia?”
“Gue disewa cuy biar gebetan Shania tuh cemburu gitu! Gila! 2017 masih aje pake cara gituan! Bapak-bapak lagi!” seru Danu menggebu-gebu.
“Disewa? Shania maksudnya?”
“Yaiyalah,” Danu memiringkan bibir.
“Lu disewa supaya gebetan Shania itu cemburu?”
“Iye.”
“Bapak tukang sapu?”
“Telinga lo dimana sih?!” Danu sewot.
“Terus dia bayar lo gitu?”
“Yaiyalah, 2 mangkok bakso.”
“Murah amat harga diri lo,” Egi cengengesan.
“Bodo, kan gue anak kos.”
“Ya elu sendiri cari perkara. Udah ada rumah malah milih nge-kos. Mana kos-an lo 1 komplek lagi dengan rumah elu!” sekarang Egi yang sewot.
“Gue ini ingin latihan hidup mandiri, gue mau merasakan apa yang dirasakan anak-anak kos tiap akhir bulan seperti ini.  Jadi menurut gue gakpapalah gue dibayar 2 mangkok bakso, itung-itung hemat pengeluaran.”
“Gaya amat omongan lo, terus kalau pengeluaran lo menipis?”
“Oh gampang! Gue tinggal kerumah orang tua gue, lalu minta makan disitu.”
“Sama aje bohong!” Egi benar-benar sewot dibuatnya.
“Namanya juga anak kos,” dan lagi-lagi Danu kekeh dengan alasannya.
“Beeh,” Egi menghidupkan rokok dan teringat kepentingannya semula, “Oh iya, ceritain dong. Tentang Shania entu.”
“Boleh, perlu pakai ‘Pada suatu hari’ dulu gak?”
“Kalau bisa lo awali dengan konon katanya, biar beda,” ulas Egi sambil menghembuskan asap rokok.
“Oke. Konon katanya…”
Danu kemudian bercerita tentang perihal Shania menyewanya dan didengarkan oleh Egi dengan sungguh-sungguh. Selama mendengar penjelasan Danu membuat Egi terkekeh karena dirasa temannya itu salah paham, karena dia yakin bukan Pak Anwar yang menjadi target Shania, akan tetapi dirinya.
“Oh gitu,” Egi terkekeh dan menghisap rokok.
“Ya jadi gitu, makanya gue markir disini biar agak lama masuknya. Kalau gue masuk pasti gue ditarik-tarik lagi, capek bener gue hari ini kurang tidur.”
“Hahaha,” Egi menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Lucu juga lu Shania hehe, benar juga kata abang gue kalau ada sesuatu dari sikap lo kemaren.
“Ketawa lagi lu!” ujar Danu sinis.
“Hehe tapi menurut gue lu lanjutin aja kerjaan lo yang disewa dia.”
“Kenapa?” Danu menyeringitkan dahi.
“Lumayan kan buat pengeluaran lo, lagian gue mau jujur sama lo nih. Hanya lo sama gue aje yang tau, rahasia kita berdua sesama pria sejati.”
“Sumpah! Kalimat lo homo abis!” ujar Danu dengan jijik.
“Taik lu!” Egi menendang kaki Danu, “Ada alasannya kenapa gue nyarenin lo gitu terus.”
“Emang apa alasannya?”
“Tapi lo diem-diem oke?”
“Ya tergantung itunya,” Danu memainkan alis penuh arti.
“2 batang rokok cukup?”
“Oke!”
“Murahan emang lo,” Egi terkekeh dan menyerahkan 2 batang rokoknya.
“Taik lu,” Danu menaruh 2 batang rokok itu masing-masing dikedua telinganya, “Lalu apa?”
“Oke jadi gini. Pada suatu hari hiduplah pria macho bernama Egi…”
Sekarang giliran Egi yang bercerita kepada Danu, dan dari penjelasannya tersebut membuat Danu terperangah setengah mati.
“Dia naksir elu?!”
“Mungkin,” Egi menghisap rokok dan memain-mainkan alis.
“Buset dah, akhirnya ada juga cewek ngeliat lo ckckck.”
“Yee pokoknya gitu deh, jadi sebenarnya itu gue targetnya, bukan Pak Anwar. Pasti selalu ada gue kan pas kalian ngelakuin itu?”
“Iya sih… gue kirain pak Anwar targetnya.”
“Kenapa lo malah mikir pak Anwar targetnya?”
“Gimana ya… ya lo tau sendiri, mana ada cewek yang naksir elo dari SMA.”
“Beeh! Banyak kali, tapi gak gue perduliin. Itu Vanka yang digebet Leffy kan suka sama gue, terus Ghaida, tuh SMS 2 anak masih ada di-HP gue ampe sekarang. Gak gue hapus-hapus.”
“Kenapa gak lu hapus?”
“Biar bisa ada yang dipamerin, kalo ada yang nanya kan enak gue nunjukin bukti kalau ada cewek yang naksir gue,” Egi cengengesan dan menunjukan SMS yang dimaksud, dan ternyata benar kalau ada SMS dari Vanka dan Ghaida yang menyatakan ingin berpacaran sama Egi.
“Sialan! Sok jual mahal lu!”
“Resiko orang ganteng,” Egi mendengus bangga.
“Najis!” keluh Danu biarpun faktanya memang begitu adanya.
“Bodo,” Egi menghembuskan asap rokok.
“Tukar muka sini!”
Selama mereka asyik-asyik berbincang tampak seorang pria berbaju batik ketat berada didalam sebuah kampus, lebih tepatnya disamping pondok parkiran. Dan orang itu adalah Dody yang beberapa hari ini menjadi penguntit Veranda.
“Ini sudah saatnya, gue harus berani ngenalin diri gue sama dia!” gumamnya pada diri sendiri.
Karena sering menguntit Veranda maka pria ini tahu kapan gadis itu biasanya datang kekampus, dan bakat penguntitnya benar-benar harus diacungi jempol gajah karena kedatangan dia bertepatan juga dengan kedatangan Veranda yang memasuki parkiran mobil dengan mobil yang ia kendarai.
“I-Itu dia! Gue harus tenang! Gue harus tenang! Ayo Dody! Lo udah latihan semalaman untuk berkenalan dengan dia!” sugestinya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Kaki jenjang Veranda menyentuh tanah saat ia keluar dari mobil, setelah menutup pintu ia segera berjalan akan tetapi ia tidak masuk kedalam, bahkan ia menunggu didekat parkiran motor seperti hendak menunggu seseorang.
Oke sudah saatnya!” pikir Dody saat ini.
Langkah kaki yang mantap dilakukan oleh Dody, dada dibusungkan dan saat ia sudah dekat dengan penuh percaya diri ia berbicara.
“Randa.”
Veranda tidak menoleh, ia masih celingak-celingukan menunggu sesuatu.
“Randa!” panggil Dody sekali lagi.
Veranda tertegun, wajahnya yang lugu memandang pria tersebut, merasa dilihat maka Veranda menunjuk dirinya sendiri.
“Saya?”
Dody mengangguk dan tersenyum, “Iya kamu.”
“Oh… ada apa ya pak?”
“Errr saya masih muda!” seru Dody tiba-tiba.
“Ohh maaf-maaf,” Veranda yang merasa bersalah dengan tulus meminta maaf, salah Dody juga sih kenapa juga ia memakai baju batik, ketat lagi. Kan kesannya kayak dosen angkat besi.
“Gakpapa, oh iya boleh kenalan?”
“Kenalan?” alis Veranda naik sebelah.
“Iya,” Dody mengangguk, “Boleh?”
“Emm b-boleh…”
“Terima kasih,” Dody tampak bahagia.
“S-sama-sama,” Veranda mengangguk segan.
“Lagi ngapain disini?”
“Emm nunggu temen sih… tapi…”
“Tapi apa?”
“Gak jadi kenalan?” tanya Veranda polos.
Dody terdiam, ia memutar arah dan menepuk kepalanya, “Oh iya! Kok gue bisa lupa?!” pikirnya saat ini.
Selagi Dody mengutuk dirinya sendiri karena lupa berkenalan dan mengumpulkan keberanian maka tak jauh dari situ terlihat Diaz baru datang menggunakan sepeda motornya.
“Loh Ve, nunggu orang?” tanya Diaz saat melepas helm dan melihat Dody membelakangi Veranda sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
“Oh,” Veranda tersenyum dan menggeleng kepala, “Enggak kok, aku tadi baru turun dari mobil, trus jalan kesini.”
“Oh kirain nungguin orang haha, mau kemana?”
“Emm kamu mau kemana?” tanya Veranda sambil membetulkan rambut disela telinganya.
“Ya masuk, ngapain juga kan diparkiran?” Diaz cengengesan.
“Oh, yaudah sama-sama yuk,” ajak Veranda.
“Tapi aku sambil merokok, gakpapa nih?” Diaz menunjukan rokok yang baru dihidupkannya.
“Asal asapnya gak kena aku aja,” Veranda memeletkan lidahnya.
“Haha yaudah yuk.”
“Yuk,” Veranda tersenyum.
Akhirnya apa yang ditunggu Veranda sedari tadi terealisasi juga, itu karena dia memang menunggu kedatangan Diaz apalagi ia sangat suka mengobrol dengan adik kandung temannya Dion tersebut yaitu Enu. Sementara itu Dody sudah siap melakukan perkenalannya.
“Randa…” entah kenapa sehabis mengatakan itu Dody mempertunjukan otot-otot tangannya dan bergaya ala binaragawan, dan dengan gaya itu dia memutar badannnya dan berkata, “Aku Dody! Calon suamimu!”
Mendadak hening dan angin berhembus.
Terlihat Zaky kaku bukan main saat memarkirkan motor Diaz, sedangkan Dody melotot, wajahnya datar walau senyumnya tak lepas. Kenapa mereka berdua berdiam diri? Itu karena saat Dody memperkenalkan diri seperti itu dengan suara lantang akan tetapi yang menjadi lawan bicaranya adalah Zacky yang sedang memarkirkan motor Diaz dibelakangnya.
“Oh… calon suami…” Zacky mengangguk dan memarkirkan terlebih dahulu motor Diaz, setelah itu ia menatap Dody yang gaya nya tak berubah saking cringe-nya.
Zacky menatap Dody.
Dody menatap Zacky.
Sampai akhirnya.
“TOLOOOOOOONGGG!!!” Zacky berlari tunggang langgang memasuki kampus.
Sadar telah membuat Zacky salah paham maka Dody berteriak.
“WOI! ITU TADI BUKAN BUAT ELU!! Dody kemudian celingak-celingukan mencari sosok Veranda yang telah menghilang, “Arrggh!!! Randa kemana lagi?!”
Asyik celingukan kesana kemari tak sengaja Dody menubruk orang yang ada dibelakangnya.
“Woi jalan liat-liat dong!”
Dody menoleh dan melihat Danu dan Egi yang baru memasuki parkiran motor.
“Apa?!” hardik Dody sambil menunjukan otot tangan kanan.
“Waah! Sok jago lo ya!” Danu mendengus-denguskan hidungnya.
“Terus?!” Dody menunjukan kedua otot tangannya yang perkasa.
“Hah! Biar kenapa kalau lo nunjukin otot lo?!” ujar Egi dengan raut wajah bengis.
“Emang kenapa?” Dody melotot.
“Kenapa lagi lu tanya? Hah?! Lu pikir kami berani apa?!” seru Danu tak mau kalah.
Dody diem.
“Hah! Beraninya punya otot besar! Lihat nih!” Egi menepuk tangannya sendiri yang tidak berotot, “Dikiranya kita berani apa, yuk cabut Dan!” Egi mencolet bahu Danu.
“Tuhan masih sayang sama lo hari ini! Untung kami takut sama elo kalau enggak! Beeh!” Danu bergaya sok jago dan berjalan angkuh.
“Awas lo ya nongol lagi disini waktu gue ngambil motor pas pulang! Gue gak bakalan selamet sama elo! Tau gak lo?!” seru Egi meloto sambil menunjuk-nunjuk.
“Cabut Gi, beruntung dia hari ini,” Danu memandang sinis Dody.
“Beruntung lo hari ini, untung oto lo gede makanya kami takut. Yuk Dan!” Egi juga menatap Dody dengan tatapan remeh.
“Pegangin gue, Gi,” pinta Danu ke Egi.
Egi memegang tubuh Danu dari belakang, dan Danu berlagak hendak menerjang Dody dengan kondisi tubuh ditahan-tahan Egi.
“Beruntung lo gue ditahan temen gue! Kalau enggak gue bakalan babak belur dihajar elo!” seru Danu sambil menunjuk-nunjuk.
“Udeh, biarin aje. Belum tau dia kalau kita ini lemah!” ujar Egi menarik tubuh Danu kebelakang dengan angkuh.
Setelah itu Danu dan Egi lari terbirit-birit, bagaimana tidak lari terbirit. Otot Dody yang perkasa membuat mereka berpikir kalau mencari masalah = Masuk rumah sakit. Dengan insting sombong + membela diri maka dengan cepat-cepat mereka melarikan diri.
Yah, begitulah mereka.
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Karena hari ini jadwal kuliah agak lenggang maka Leffy dan tim-nya hendak melanjutkan syuting mereka dikampus. Ada suatu bagian cerita didalam naskah yang membuat Leffy berpikir akan lebih unik kalau ada sesuatu yang menegangkan, ia sudah mendiskusikan adegan itu dengan Vienny sebelumnya dan Vienny merapikan sedikit adegan yang dimaksud oleh Leffy.
“Menurut gue pas adegan itu kita ngambilnya close-up saja, Lef,” saran Izi sambil memeriksa lensa.
Close-up? Sikat gigi?” Hugo menyeringitkan dahi.
“Jarak dekat,” Leffy memiringkan bibir.
“Emang mau ngambil adegannya dimana Lef?” tanya Diaz.
“Disitu, hot spot-nya bagus soalnya,” Leffy menunjuk suatu ruangan yang ada didekat halaman kampus. (Hot spot : Istilah dalam produksi film yang berarti area dalam set memiliki pencahayaan yang terang.)
“Kenapa lo malah Jumping Shoot, Lef?” tanya Viddy. (Jumping Shoot : Proses pengambilan gambar tanpa berurutan.)
Leffy menghidupkan rokoknya terlebih dahulu dan menjawab, “Kan adegan ini bisa dibilang susah, butuh biaya dan orang yang ahli. Yang susah dulu dikerjain, sisanya baru yang mudah.”
“Lagian lu editor, bukan hal yang sulit motong sambung adegan pas ngedit,” sambung Izi.
“Oh, bener juga sih,” Viddy memanggut-manggut dan menghidupkan laptop.
“Leffy.”
Panggilan itu menarik perhatian mereka dan terlihat Shani dan Yupi menghampiri tempat Leffy berada, mereka berdua membawa 2 buah kantong besar.
“Nih, berat!” Shani menaruh kantong besar itu diatas meja, begitu juga Yupi.
“Hehe thank you ngerepotin, beli dimana nih?” Leffy berusaha membuka bungkusan.
“Di-warung dekat counter pulsa, eh mana? Biaya ngerepotin ngerepotin aku,” Shani memanyunkan bibir dan menadahkan tangannya.
“Ye iye, sama aje lu dengan bang Beny” Leffy memberikan uang 50 ribu, “20 ribunya balikin.”
“Yee kan perjanjiannya 40 ribu.”
“Bokek, nanti deh 10 ribunya. Ya? Ya?” Leffy memain-mainkan alis.
“Udeh biar gue aje yang ganti, ambil saja Shan,” ujar Yogi penuh nada wibawa tingkat pak RT.
“Wiih kalau orang kaya yang ngomong gitu terasa betul ya?” Hugo cengengesan, begitu juga Leffy, Viddy, Izi dan Egi.
“Sialan lu!” gerutu Yogi.
“Kalau gitu nanti Shani gantinya kekamu ya, Yog?” saran Shani.
“Eh gakpapa, ambil aje. Ihklas kok ihklas,” ujar Yogi dengan senyum mengembang.
“Si gendut cari muka,” celetuk Leffy yang lagi-lagi membuat yang lainnya terkekeh, Yogi lagi-lagi sewot.
“Hmm kalau begitu makasih ya, Yog, nanti Shani traktir kalo udah dapat gajian dari kakak Shani,” Shani tersenyum manis.
“Eh i-iya, santai aje Shan hehe,” Yogi salah tingkah diberi serangan senyuman maut ala Shani.
“Makasih,” Shani tersenyum dan menginjak-injak kaki Leffy, “Pelit! Pelit! Pelit!”
“Grrrrr guk! Guk!” Leffy malah menggong-gong.
“Wuuu takut! Yuk Yupi, temenin kekantin! Kita makan-makan,” ajak Shani kepada Yupi.
Diperjalanan mereka saat menaiki tangga koridor mereka berpapasan dengan Veranda dan Vienny, mereka mengobrol sebentar setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka. Shani dan Yupi kekantin sedangkan Veranda dan Vienny menghampiri Leffy bersama yang lain.
“Adek kok kesini?” tanya Leffy.
“Adeek?!!!” wajah Viddy sengak bukan main, begitu juga Hugo, Egi, Yogi dan Izi, mereka ikut-ikutan Viddy saja sebenarnya.
“Errr kok kesini?” tanyanya lagi.
Vienny menahan tawa dan menjawab, “Pengen ngeliat aja proses syutingnya, soalnya lagi senggang.”
“Oh gitu,” Leffy dan yang lain memanggut-manggut dan melanjutkan aktifitas mereka.
“Kok kesini?” tanya Diaz pelan kepada Veranda.
“Nemenin Vienny, lagian bosan didalam melulu,” jawab Veranda yang asyik memeluk buku didekapannya sedari tadi.
“Oh gitu, kalau gitu duduk saja disitu, teduh. Ini lagi nungguin temannya Yogi.”
“Iya,” Veranda tersenyum dan menurut, ia pun duduk dibangku yang dimaksud.
“Mana temen lu Yog?” tanya Hugo sambil membuka kantong plastik yang dibawa Yupi, “Wih tepung! Buat apaan Lef?”
“Gak tau, Yogi nyuruh gue beli ini kemarin buat hari ini.”
“Buat apaan Yog?” tanya Egi.
“Efek ledakan gitu, bentar lagi mereka kesini, udah gue SMS barusan,” ujar Yogi.
“Tapi gak kebanyakan nih tepung?”
“Buat jaga-jaga misalkan gagal, kalau sukses barulah gue minta Vienny bawa pulang sisanya kerumah,” jelas Leffy.
“Loh? Buat apa?” Vienny mengeringitkan dahi.
“Buat bahan adek masak, buat bakwan atau kek hehe,” Leffy memain-mainkan alis, Vienny menutup mulutnya dan tertawa ringan.
“ADEEEK?!!” dan lagi-lagi wajah Viddy sengak bukan main, begitu juga Hugo, Egi, Izi dan Yogi.
“Meeh!” gerutu Leffy dan melanjutkan membersihkan kamera.
Vienny kemudian bergabung dengan Veranda dan berbincang-bincang mengenai bursa saham Meikarta dan juga kasus penabrakan tiang yang dilakukan Setya Novanto… maaf bercanda, yang pasti mereka lagi membicarakan cerita dari buku yang pernah mereka baca.
Asik-asik melakukan aktifitas tiba-tiba ada suara yang menarik perhatian mereka semua.
“Yog!”
Yogi dan yang lain menoleh dan melihat kedatangan 2 orang melambai-lambaikan tangannya kearah Yogi. Yang 1 agak besar tubuhnya meski Yogi lebih besar, sedangkan satunya kurus dan memiliki kulit agak kehitam-hitaman.
“Nah! Datang juga lu berdua hehe dari tadi ditungguin,” Yogi menyambut mereka dengan suka cita.
“Biasalah, macet,” ujar Pria bertubuh tambun.
“Lah macet gimana? Kan 1 kampus,” Yogi menyeringitkan dahi.
“Ada cewek cakep lewat, makanya nih anak belok arah, capek gue nyariin dia kayak anak bebek ngikutin induk bebek,” pria kehitam-hitaman menunjuk pria tambun dengan jempol tangannya.
“Hehe soalnya yang lewat tadi Sendy, duh-duh-duh seksi amat tuh anak ya, cakep lagi,” pria bertambun senyumnya mengembang, berkacak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Bukannya udah dari dulu lu ngincer tuh anak?” Yogi terkekeh.
“Yaah bisa nanti-nantilah, oh udah siap semua nih?”
“Oh iya,” Yogi menoleh kebelakang, “Hei sinilah, udah datang nih.”
“Oh, oke,” Leffy, Viddy, Egi, Hugo, Izi dan Diaz menghampiri tempat Yogi.
“Nah! Ini dia ketua klub filmnya, dia butuh bantuan lo berdua buat adegan ledakan gitu,” Yogi menunjuk Leffy.
“Oh sip-sip, tenang bro, gampang itu mah,” pria kehitam-hitaman cengengesan.
“Bahannya udah ada belum?” tanya pria tambun.
“Ada, tepung kan?” tanya Leffy.
“Sip-sip, sisanya biar gue sama temen gue yang urus,” pria tambun mendengus semangat.
“Oh iya kenalin dulu lah,” ujar Yogi.
“Hehe lupa gue, nama gue Anto,” pria tambun memperkenalkan diri dengan nama Anto.
“Gue Ridwan, tapi temen-temen gue biasanya manggil gue Black. Ya taulah kan,” yang bernama Ridwan cengengesan menunjuk kulit wajahnya.
“Wih! Rasis dong!” seru Izi.
“Biasa aje, gue gak nganggep itu rasis. Santai kayak dipantai,” ujar Ridwan dengan gaya terkini, yang dimaksud ia menari lumba-lumba. (Terkini bukan ya?)
“Oh gitu, Cool-Cool,” Viddy memanggut-manggut.
“Hehe,” Ridwan menoleh kesamping dan menyeringitkan dahi, begitu juga Anto.
“Kenapa lu bertiga?” tanya Yogi.
Terlihat Leffy, Egi dan Diaz cengok memandang Ridwan dan Anto. Setelah itu mereka saling menatap dan kembali menatap Anto dan Ridwan.
“Anto?” Leffy menunjuk Anto.
“Iya,” Anto mengangguk.
“Ridwan?” Egi menunjuk Ridwan.
“Iya,” Ridwan mengangguk.
“Black?” ditambah Diaz.
“Iya,” Ridwan lagi-lagi mengangguk.
“Entar-entar, Anto…. Ridwan… Black… kayaknya gue kenal nih nama, tapi dimana ya?” Leffy menyeringitkan dahi dan mengurut-urut dagu.
“Iya-ya, gue kayaknya pernah denger,” begitu juga Egi.
“Kok gue bisa lupa ya,” Diaz menyilang tangan dan alisnya mengkerut untuk mengingat-ngingat.
Entah apa yang membuat mereka melupakan nama itu, padahal nama ANTO RIDWAN BLACK adalah nama samaran yang dipakai Leffy saat melakukan curahan hati soal Kimberly kepada Egi dan Diaz beberapa bulan yang silam. (Buat yang lupa baca saja lagi B.A III chapter 9.)
“Haah jangan pikirin mereka. Langsung aje deh To, Black. Kalian bawa kan alat-alat kalian?” tanya Yogi kepada Anto dan Ridwan.
“Bawa-bawa, yaudah yuk.”
Yogi dan Izi menunjukan lokasi yang akan dijadikan mereka syuting kepada Anto dan Ridwan, Viddy membantu sedikit dengan membawa 2 kantong berisi tepung. Sementara itu Leffy, Diaz dan Egi menghampiri tempat Veranda dan Vienny.
“Dek, adek kenal gak yang namanya Anto Ridwan Black?” tanya Leffy ke Vienny.
“Loh, bukannya mereka?” Vienny menunjuk Anto dan Ridwan dikejauhan.
“Bukan, bukan mereka, kok gue bisa lupa ya?” Leffy menoleh kearah Egi yang masih kesulitan mengingat.
“Eh Ve, baca buku Harry Potter kan?” tanya Diaz kepada Veranda.
“Iya,” Veranda mengangguk.
“Nah ada gak nama penyihir Azkaban yang namanya Anto Ridwan Black?”
“Ngg gak ada kayaknya,” Veranda menggeleng-gelengkan kepalanya, “Yang ada malah Sirius Black.”
“Iya Sirius Black,” Vienny membenarkan.
“Kok gue lupa ya?” Diaz menyeringitkan dahi memandang Leffy dan Egi.
“Apalagi gue,” sambung Leffy dan Egi bersamaan.
Yah, yang pasti akhirnya mereka beneran bertemu dengan 2 orang yang memiliki 2 nama tersebut yaitu Anto dan Ridwan yang sering dipanggil Black sehingga kalau namanya digabung akan menjadi Anto Ridwan Black.
Dan siapa tahu kedepannya nanti Egi bakalan bertemu orang dari nama yang ia buat asal-asalan saat meminta solusi dengan kakaknya, yaitu Bodong Dengkul.
Hmm siapa tau bukan?
Walau penulis merasa kasihan… orang tua mana yang tega memberi nama anaknya dengan nama Bodong Dengkul? Teganya-teganya-teganya.
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Siang semakin terik hingga kulit manusia tercekik dengan sinarnya yang apik. Peluh keringat dikening Dody mulai menyucur karena niatnya untuk berkenalan dan meng-Hak-Paten-kan Veranda sebagai Istri masa depan membuatnya berkeliling kampus untuk mencari sosok yang dimaksud.
“Hadeeeh nih anak kemana lagi,” ujarnya sambil berkacak pinggang.
Dody terus melanjutkan perjalannya walau matanya jejalatan saat mahasiswi-mahasiswi cantik melewati dirinya, salah satunya Frieska dan Hanna.
“Hehehe cakep-cakep amat mahasiswi sini, haduuh-haduuuh anda gaji gue cukup buat poligami,” Dody menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum mengembang.
Langkah demi langkah telah dilakukan oleh kaki Dody yang berotot, ia terus berjalan dan berjalan tanpa henti, tiada yang menemani, kasian sekali. Sampai pada akhirnya kedua bola matanya yang berwarna coklat hitam itu melihat sosok manusia yang apabila diberi sayap dan sebuah harpa maka ia akan menjadi cosplayer bidadari surga, siapa lagi kalau bukan V E R A N D A.
“Itu dia calon istri gue!” dengusnya semangat sampai-sampai 4 mahasiswa yang ada didekatnya kaget bukan main dan buru-buru kabur.
Veranda masih ditempat yang sama bersama Vienny, lalu dikejauhan terlihat Egi, Hugo, Diaz dan Yogi memperhatikan Anto dan Ridwan melakukan tugasnya untuk menampilkan spesial efek mentah yang nantinya akan di-edit Yogi dikomputer menjadi sebuah ledakan yang biasa disebut After Effects menggunakan aplikasi Adobe After Effect CS 6.
Kayaknya gue kenal cewek yang ada disamping Randa…” batin Dody dengan alis mengkerut, “Ah bodoh amatlah! Tujuan gue kan si Randa hehehe.
Lagi-lagi langkah perkasa dihentakan Dody menghujam tanah, Bumi serasa tertekan dengan penganiayaan ini dan hendak melaporkan Dody atas tindakan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap komnas HAB! (Hak asasi Bumi, anggap aje begitu.)
Oke, bercanda.
Yang pasti dia menaiki koridor yang menjadi jalan tercepat untuk sampai ketempatnya Veranda yang berada dihalaman belakang.
“Lef mending lu jujur aje, Lef.”
“Apaan?”
Melihat 2 orang yang berada didepannya membuat Dody buru-buru menyembunyikan diri dibalik dinding, hanya saja dia tidak sadar kalau sudah ada mahasiswa lain disitu jadi bisa dibilang mahasiswa itu terjengkang dan buru-buru kabur karena takut melihat otot-otot tangan Dody. Ia kemudian mengintip dibalik dinding.
Loh… kayaknya gue juga pernah liat nih anak,” pikir Dody dengan alis mengkerut.
Yang dilihat Dody adalah Leffy yang sedang berbincang dengan Viddy, mereka baru keluar dari toilet yang ada disitu.
“Lo jujur aje sudah, lo mau dengan kakak gue gegara dia cakep kan?”
“Sok tau lo,” Leffy terkekeh dan menghisap rokok.
“Pake nyangkal lagi,” Viddy mendengus sinis.
“Emang nape lu nanya ginian?”
“Buat buang waktu aje, tuh 2 orang belum selesai kayaknya,” Viddy menadahkan kepalanya menunjuk Ridwan dan Anto yang masih bekerja.
“Oh,” sehabis itu Leffy menatap Viddy dan cengengesan, “Lu kenapa takut bener kakak lo gue apa-apain? Emang kakak lu pernah ngeluh ke elu soal sikap gue?”
“Ya enggak sih, tapi siapa tau dipendemnya. Kan gue jadi kasihan, elu lagi jadi pacarnya! Ngeh!”
“Hehehe ya emang bener sih kakak lo cakep, apalagi pas senyum-senyum gitu. Tapi bukan itu alasan gue mau dengan kakak lo.”
“Terus apa?” alis Viddy naik sebelah.
“Klise sih, gue nyaman dengan kakak lo. Baik ngobrol ini itu.”
“Klise amat.”
“Makanya tadi gue bilang klise,” Leffy memiringkan bibir, “Ah mumpung ada kesempatan, gue kasih lo 2 penjelasan. Lo salah paham mikirin gue sama kakak lo.”
“Maksudnya?”
“Gue sama kakak lo gak pacaran,” jawab Leffy cuek sambil menghisap rokok.
“Lah?” Viddy cengok.
“Yang kedua gue mau sama kakak lo bukan karena dia cakep.”
Viddy terdiam sejenak, begitu juga Dody karena dia merasa percakapan ini menarik untuk otot-ototnya… oh maaf salah, maksudnya baik untuk ilmu menaklukan wanita.
“Tunggu-tunggu, lo sama kakak gue gak pacaran?”
“Yoi,” Leffy mengangguk, “Maksudnya itu, emang bener kami ada hubungan tapi gue sama kakak lo sepakat kalau hubungan kami berdua ini gak dilabeli dengan yang namanya pacaran. Pokoknya gitu deh.”
“Oh… berarti yang dulu pas gue minta lo putus sama kakak gue… Oh!  Pantas lu berdua anteng-anteng aje ye?”
“Ya itu dia, pokoknya gue gak ada niat buat macarin kakak lo. Yang gue pikirin gue bisa terus ngobrol sama kakak lo, bisa terus bersama-sama dengan dia. Ya.. err ngelindungi kakak lo… err perhatian, jaga perasaan dia, itu aje, kayak orang pacaran tapi gak dilabeli pacaran. Ngerti gak maksud gue?”
“Kenapa gak lu lamar aje sekalian?” Viddy memiringkan bibir.
“Emang itu rencananya hehe jadi istilah pacaran tuh kami lakuin aje pas nikah nanti.”
“Hah? Maksudnya lo ada niat mau nikahin kakak gue?”
“Ho’oh,” Leffy mengangguk, “Kalau gue sama kakak lo udah pro dibidang kami masing-masing, gue bakalan langsung lamar tuh kakak elo. Kakak lo aje tau tentang rencana ini. tapi yah gak perlu sampe pro sih, hampir-hampir mencapai itulah hehe, rencananya sih gue nyari kerja dulu pas sarjana nanti. Buat kerjaan cadangan.”
“Sumpah lo?”
“Tuh kakak lo?” Leffy menadahkan kepalanya kearah Vienny dikejauhan yang masih berbicara dengan Veranda, “Lo tanya aje kalau gak percaya,” dan cengengesan.
Viddy diem sejenak, sementara itu Doddy memanggut-manggut.
“Oh, komitmen emang penting kayaknya, sip-sip!” gumamnya pelan sambil mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian Viddy kembali berbicara.
“Terus yang keduanya?”
“Kan tadi gue udah bilang, gue nyaman sama kakak lo, kakak lo juga nyaman sama gue. Klise kan? Emang lo ngarepin kesempurnaan dari gue buat kakak lo?” Leffy terkekeh.
“Yang bener lo?”
“Iye-iye, wajar lo mikir gue naksir cewek dari tampang doang pas kejadian-kejadian waktu SMA. Yaaah namanya juga naksir, cowok mah pasti emang betah ngeliat yang cakep-cakep. Lo juga macarin Della juga karena cakep doang kan? Buktinya lo gak tau sifat aslinya gimana.”
“Iya juga sih…”
“Gue sama kakak lo itu dari awal berantem terus, ngomong pun kaku. Tapi karena sering ketemu lalu ngobrol ya gue merasa nyaman, apalagi pikiran gue sama kakak lo nyambung meski kadang debat-debat juga, tapi ya tetap nyambung akhirnya. Gara-gara begitu terus akhirnya alasan klise tadi lah, nyaman. Gak ada yang lain, bahkan menurut gue itu bukan alasan. Gue emang benar-benar nyaman dengan kakak lo.”
“Pandai juga lu ngomong.”
“Kan lo adik ipar gue,” Leffy cengengesan, “Ya pokoknya gue mau sama kakak lo itu bukan karena tampangnya, tapi ya karena udah nyaman. Cakepnya dia itu hanya bonus aje buat gue.”
“Bonus?”
“Yoi, bonus. Misalkan lu menang apa kek hadiah utama gitu terus ada bonusnya. Yang lebih menyenangkan yang mana? Hadiah utama atau bonus? Yang bonus hanya untuk memberi kegembiraan sesaat bukan?”
“Bener juga sih.”
“Karena itu gue memilih kakak lo yang utamanya, sifat dia apapun yang ada pada diri dia itu gue terima. Bonus nya ya cakep aja, mau bonusnya menghilang asalkan yang utama udah jadi hak gue, gue fine-fine aje. Yang utama yang lebih penting, yang bonus bisa lu simpen bisa juga bisa kasihin keorang lain, asal yang utamanya yang lu genggam.”
“Tumben lu ngomongnya bener.”
“Buat kali ini aje, jangan beritau yang lain,” ujar Leffy sambil menghisap rokok.
“Jadi intinya?”
“Intinya ya… hehehe gue malu,” Leffy menggaruk-garuk lehernya, “… Gue sayang sama kakak lo.”
“Meh!” Viddy terkekeh, “Bisa sayang sama cewek juga akhirnya elo.”
“Yaiyalah! Daripada gue ngagumin bonus melulu, iya gak? Gue aje jadi malu sendiri kenapa gue suka sama cewek dari tampangnya doang dulu, tapi rencana Tuhan untuk membuat gue mengenal arti jodoh emang keren! Salut gue!”
“Wiidiih! Berat bahasa elo!” Viddy cengengesan.
“Bodo amat, jarang-jarang juga. Makanya lo jangan macarin Yupi karena dia cakep doang, mending lo kayak gue. Kenali lebih dalam pasangan lo, iya gak?”
“Gak perlu, gue aje udah nyaman dengan dia,” jawab Viddy sambil melipat tangan.
“Oh kalau gitu lo setuju dong? Yaudah, nih cium tangan gue. Gue kan calon kakak ipar lo,” Leffy menjulurkan punggung tangan kanannya.
“Meh!” Viddy menggeplak tangan Leffy, “Sesajen dulu!” serunya.
“Itu lageeee!” Leffy singit dibuatnya.
“Bodo amat,” Viddy terkekeh.
Tanpa sadar percakapan Leffy dan Viddy tadi diresapi secara mendalam oleh Dody yang merapatkan punggungnya dibalik dinding. Matanya berkaca-kaca dan alisnya mengkerut.
Apa yang kulakukan selama ini?!” serunya dalam hati.
Dia akhirnya menyadari kalau dulu dia menyukai Naomi, Shani dan yang sekarang Veranda gara-gara tampang wanita itu yang baginya sangat cantik. Akan tetapi ia tidak begitu mengenal mereka bertiga terlebih lagi ia merasa melakukan hal yang memalukan dan sia-sia, yaitu menguntit.
Aku benar-benar tak pantas menjadi pria, seenaknya menentukan wanita yang tak kukenal menjadi jodohku dengan delusi!” batinnya pada diri sendiri.
Dan memang itulah bagian lucunya delusi terhadap seorang wanita apalagi dengan wanita yang tak dikenali bahkan berjumpa. Orang begitu mudah jatuh cinta pada imajinasinya sendiri, memuja dan menggombali kata-kata pujangga meski tak pernah berjumpa secara kasat mata. Lalu akan menjadi jurang kekecewaan disaat ekspetasi tak sesuai dengan kenyataan. Delusi hanya kebahagiaan semu belaka.
Itulah bagian lucunya dari delusi. Meskipun kadang ada juga yang delusinya yang benar-benar terwujud. Tapi tentu saja itu tidak terwujud dari khayalan lalu blek! Terwujud didepan mata. Akan tetapi bisa benar-benar terwujud apabila melakukannya dari hasil yang namanya USAHA.
Banyak orang yang ingin cepat-cepat wisuda dan berusaha untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsi-nya.
Banyak orang yang ingin mempunyai rumah dan berusaha menabung sedikit demi sedikit untuk menyicil demi impian punya rumah sendiri.
Banyak juga anak-anak putus sekolah belajar dari pelajaran yang ia dapat seadaanya, demi kepuasannya akan dahaga ilmu pengetahuan.
Banyak yang ingin melamar pasangannya, banyak yang ingin membahagiakan orang tua, istri dan anak, banyak pengangguran yang ingin bekerja, banyak yang ingin diakui orang-orang, ini itu banyak-banyak-banyak dan BANYAK!
Lihatlah kenyataan.
Dunia bukanlah kantong ajaib Doraemon yang bisa mengabulkan keinginan apa saja. Kenali dunia lebih luas, kenali orang-orang yang ada disekitar. Jangan kau memaksa orang lain mengenali duniamu dan jangan paksa diri sendiri untuk memasuki dunia orang lain bila tak mampu. Jangan mengharapkan pengakuan, mulailah mengakui diri sendiri kalau kita adalah bagian dari kehidupan nyata bukan delusi belaka.
Jadi intinya berusahalah demi hidupmu dan pagarilah nasibmu sendiri.
SADIS!
Oh tadi saya ngelantur lagi dengan kata-kata sok Bijak ya? Sepertinya tadi saya kerasukan arwah motivator, untung saja saya tidak kerasukan salah satu motivator yang katanya nge-Vlog tak perlu pake kamera tapi pake M O T I V A S I! Kalau kerasukan motivator entu maka tadi saya menulis bukan pake Keyboard tapi pake M O T I V A S I ! Untung saja.
Mari kembali kecerita.
Dody yang merasa terenyuh keluar dari tempat persembunyiannya.
“TOLOOOONGGG!!” dan Zacky berlari tunggang-langgang.
Itu karena dia keluar saat Zacky melewati koridor yang ada disitu, tapi ia tidak memperdulikan kesalah-pahaman yang tampaknya masih Zacky dapatkan, ia menghampiri tempat Leffy dan Viddy berada.
“Hey bro.”
Leffy dan Viddy menoleh dan melihat sosok Dody tersenyum kepada Leffy.
“Eh, elo kan…” Leffy menunjuk Dody.
“Iya ini gue! Masih inget gue kan?”
“Oh iya-iya hahaha,” Leffy tertawa, “Apa kabar elo?”
“Baek hehe, elo sendiri apa kabarnya?”
“Baek hehe. Elo darimana nih? Kok ada disini?”
“Numpang Toilet disini, kebelet ditengah jalan tadi. Elo darimana?”
“Dari WC juga hahaha,” Leffy menunjuk toilet yang didepannya.
“Oh hahahaha,” Dody tertawa.
“Hahaha,” begitu juga Leffy.
“Hahahahahahahahaha,” sekarang mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya mereka berdua ini lupa-lupa ingat, Dody lupa akan namanya Leffy, sedangkan Leffy yang memang tidak tahu namanya Dody tentu saja lupa dimana ia pernah bertemu pria berotot ini.
Jadi bisa dibilang mereka berharap “ELO” itu memang sebuah nama  lawan bicara mereka masing-masing, karena itulah sedari tadi mereka nyebutin ‘Elo-elo’ melulu.
“Elo,” Dody menepuk pundak Leffy.
“Eh?” Leffy tertegun, “Elo kenapa?”
“Terima kasih,” Dody tersenyum.
“Eh? Buat apa? perasaan gue gak berbuat apa-apa sama elo.”
“Elo gak perlu tau, tapi berkat elo. Akhirnya mata gue terbuka!”
Leffy dan Viddy saling melirikan mata dengan wajah datar.
“Emangnya selama ini lo tidur melulu ampe kesusahan buka mata?” tanya Leffy polos.
“Pokoknya gitu deh,” Dody menepuk-nepuk pundak Leffy, Leffy meringis karena tepukannya Dody pedas bukan main padahal nepuknya pelan, namanya juga tangan berotot.
“Errr oke deh, sama-sama,” ujar Leffy meski dia tidak tahu apa yang diperbuatnya untuk Dody.
“Mungkin takdir yang membuat gue ketemu elo disini.”
“Hahahaha,” Leffy tertawa dan membatin bersamaan juga dengan Viddy, “Kalimat elo homo abis!
“Gue pulang dulu, jaga kesehatan elo,” Dody berpamitan.
“Oh iya, sama-sama, elo juga,” balas Leffy.
“Titip salam sama Randa kalau ketemu,” Dody tersenyum.
“Randa?” Leffy dan Viddy menyeringitkan dahi.
“Yaudah gue pulang dulu, elo.”
“Oke, hati-hati dijalan elo.”
Dody kemudian melangkah pergi dengan jiwa yang baru, jiwa yang lama telah ia jual kepada pembeli jiwa bekas yang usang. Dadanya terbusung, kedua tangan dimasukan kedalam kocek celana, tatapan matanya tajam sampai akhirnya ia berkata.
“ANJAAAY!!!”
“Eh?” Danu kaget karena ia tak sengaja menginjak kaki Dody.
“Liat-liat dong kalau jalan!” Dody sewot.
“Oh elu rupanya!” Danu memasang wajah bengis, “Lu nyari gue? Kurang puas lo diparkiran tadi?”
“Apaan?” Dody menyeringitkan dahi.
“Apa lagi lu nanya? Hah?! Hah?! Apa mandang-mandang? Ayo! Lo pikir gue berani? Sana lu! Sana-sana! Sana yang jauh! Beruntung lo hari ini gue takut sama elo!” seru Danu sambil berjalan mundur dengan cepat, habis itu berbalik badan dan menggebu-gebu melarikan diri.
Sementara itu Leffy dan Viddy ketempat timnya berada.
“Udah selesai?” tanya Leffy ke Egi yang duduk dihadapan Vienny dan Veranda.
“Dikit lagi katanya,” jawab Egi cuek sambil melihat mirofon boom mini miliknya untuk merekam suara saat syuting.
“Tadi itu siapa Lef? Akrab bener kayaknya,” tanya Viddy.
“Gak tau,” Leffy menggelengkan kepala.
“Lah terus kalau gak tau ngapain lu ladenin?” Viddy terperangah.
“Lu gak liat otot tangannya tadi? Kalau gak gue ladenin takutnya dia tersinggung, lalu dia ngamuk. Trus siapa korbannya? Ya kita berdua ditaboknya secara kita berdua dijarak jangkauan serangannya. Gue lagi gak rindu suasana rumah sakit.”
“Bener juga sih,” Viddy memanggut-manggut.
Leffy kemudian ikut bergabung untuk duduk, dan ia duduk disamping Vienny. Sementara itu Viddy berpura-pura tak melihat dan lebih fokus melihat kameranya.
“Tumben Viddy gak ngomel-ngomel ya?” bisik Vienny kepada Leffy.
“Udah bersedia merestui kali,” Leffy cengengesan.
“Sesajen,” ujar Viddy dengan kepala menunduk melihat kamera, dan bibirnya miring.
“Ng? apanya?” tanya Veranda polos.
“Enggak, tuh,” Viddy menadahkan kepalanya kearah Vienny dan Leffy walau posisi kepalanya masih menunduk memandang kamera.
Vienny dan Leffy terdiam, mereka saling menjelingkan mata dan berusaha menahan tawa masing-masing. Setelah itu Leffy ikut bergabung dengan percakapan yang dilakukan Veranda dan Vienny sedari tadi.
Sementara itu Dody sedang terjebak kemacetan dadakan, karena penasaran ia melihat kedepan dan terlihat seorang gadis mencoba menolong nenek tua renta untuk menyebrang.
“Maaf ya maaf, sebentar,” ujar gadis tersebut kepada pengendara.
Merasa kasihan maka ia menepikan mobilnya dan keluar dari mobil untuk membantu sekedarnya.
“Sini saya bantu.”
“Eh?” gadis dan sang nenek melihat Dody.
Tanpa ampun sama sekali sang nenek kemudian membanting Dody disegala penjuru jalan! Tak cukup puas sang Gadis kemudian memanjat tiang listrik dan melompat kearah Dody yang terbaring tak berdaya hingga komedo dihidungnya berkeluaran semua. Melihat Dody yang menyatu dengan aspal membuat sang Gadis dan sang nenek berteriak sambil menunjul-nunjuk Dody dengan dengus bangga.
THIS IS PRANK BRO!” nenek dan sang gadis kemudian memakai kacamata dan menghisap rokok longlat. Yeah, Thug Life!
Oke bercanda dan jangan tiru adegan tadi.
Yang pasti Dody menolong nenek itu dengan lemah lembut, diangkatnya pelan-pelan dan dibantu sang gadis sampai ketepian jalan.
“Terima kasih ya,” sang nenek tersenyum tulus kepada Dody.
“Sama-sama nek, rumah nenek dimana? Saya anter ya?” tanya Dody.
“Gak usah, nenek nunggu cucu nenek. Dia mau jemput nenek disini.”
“Loh ini bukan cucu nenek?” Dody menunjuk sang gadis.
“Bukan,” sang gadis tertawa.
“Terima kasih ya,” sang nenek lagi-lagi tersenyum dan memegang tangan Dody dan sang gadis secara bergantian.
Setelah itu Dody dan gadis hendak menyebrang jalan kembali.
“Kirain saya kamu itu keluarga nenek tadi,” Dody cengengesan.
“Enggak, daritadi saya perhatiin nenek itu kesusahan banget buat menyebrang. Jadi saya tolong saja, apalagi tulang kaki dan punggungnya gak kuat katanya, kan kasihan,” sang gadis tersenyum dengan mata sayu.
“Oh gitu,” Dody memanggut-manggut.
“Terima kasih ya, mas. Udah mau bantu nolongin nenek tadi.”
“Oh iya gakpapa hehe.”
Mereka berdua menyebrang jalan dan berpisah.
“Sekali lagi makasih ya mas,” sang gadis tersenyum.
“Iya, gak usah dipikirin,” Dody membalas senyumannya.
Mereka menuju kendaraan mereka masing-masing dan saat Dody mengendarai mobil ia berhenti karena melihat sang gadis tadi membuka kap mobilnya yang mengeluarkan asap.
“Kenapa?” tanya Dody.
“Gak tau, pas di-starter tiba-tiba berasap,” ulas gadis tersebut.
“Oh saya tau-saya tau,” Dody mematikan mesin mobil dan turun dari mobilnya.
Dengan segera ia membantu gadis tersebut seadanya, dan berkat bantuannya mobilnya gadis itu hidup kembali.
“Terima kasih ya mas!” senyum gadis itu sangat ceria.
“Iya, tapi ini untuk sementara loh. Bagaimana kalau kebengkel dulu,” Dody memberi saran.
“Aku gak tau bengkel mobil daerah sini.”
“Saya tau, yuk saya tunjukin. Lagipula harganya manusiawi hehe.”
“Boleh deh,” sang gadis tertawa ringan, “Oh iya mas.”
“Ya?” Dody menoleh.
“Nama saya Sisil, terima kasih ya udah mau direpotin.”
“Sama-sama, saya juga lagi senggang hehe. Sisil ya? Nama saya Dody,” Dody tersenyum.
“Iya, sekali lagi terima kasih ya mas Dody,” Sisil tersenyum tulus.
“Sama-sama,” Dody membalas senyumannya.
Kemudian Dody memasuki mobil dan menuntuk Sisil dari depan menuju bengkel yang ia maksud. Dan dari situlah Dody merasa nyaman hatinya saat menolong seorang nenek dan suka melihat Sisil yang bersedia menolong nenek tadi.
Tampaknya ia anak baik-baik, meski parasnya biasa-biasa saja. Tapi itu bukan masalah lagi sekarang hehe,” batinnya didalam mobil.
Dan mereka terus melanjutkan perjalanan mereka… ke Bengkel Cinta.
Oke.
Ah Bercanda lagi, bengkel mobil maksudnya.
Dan soal mereka berdua kedepannya… biarlah menjadi misteri cerita ini. ~ #Tsaaah
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Sementara itu dikampus sudah dijadikan waktu bagi Leffy dan timnya melakukan syuting. Shani, Sinka, Yupi, dan Uty juga datang untuk melihat prosesnya tersebut.
“Gak bahaya kan?” tanya Leffy untuk memastikan.
“Tenang, kan tadi bukan masang bom,” Anto memiringkan bibir karena merasa diragukan.
“Tenang aje, percaya sama kami. Udah ada garansi soal pekerjaan kami,” Ridwan mendengus bangga.
“Kalian udah berapa kali ngelakuin ini?” tanya Diaz.
“Satu,” jawab Anto.
“Satu tahun?” sambung Hugo.
“Ya satu, maksudnya ya baru pertama kalinya kami melakukan ini,” sambung Ridwan.
“Eee buset! Lef, Lef, Lef, mending ditunda Lef! Gue masih kepengen hidup Lef, gue gak mau mati konyol saat masuk ruangan itu!” seru Diaz sambil menunjuk ruangan yang dijadikan ruangan syuting.
“Iye Lef! Gila lu! Gue ketemu bokapnya Yuriva aje belum! Gue bahkan lupa bayar utang gue sama penjaga warteg! Masa lo tega ngebiarin gue ninggalin utang-utang?!” sambung Hugo.
“Udeh gakpapa, aman kan?” tanya Leffy kepada Anto dan Ridwan.
“Aman!” Anto dan Ridwan mengacungkan jempol.
“Noh, aman. Percaya aje deh!” seru Leffy.
“Enak aje lu ngomong!” Hugo dan Diaz sewot.
“Udeh aman kok, kan itu tepung. Bukan mesiu,” sambung Viddy.
“Oh iya bener juga,” Hugo dan Diaz bernafas lega karena tak jadi bertemu Malaikat maut.
“Kira-kira aman gak sih?” bisik Ridwan tak yakin ke Anto.
“Gue sendiri gak tau, mudah-mudahan aje aman,” balas Anto ragu.
Sepertinya Hugo dan Diaz mempercayakan nyawa mereka ditangan orang yang salah.
“Oke siap-siap lah kalian berdua, kalau ada pesan terakhir buruan sampaikan,” Egi terkekeh begitu juga Viddy dan Izi.
“Sialan lu!” Hugo menoyor kepala Egi.
“Semangat ya,” Veranda tersenyum kepada Diaz.
“Mudah-mudahan,” Diaz mengembungkan pipi dan merenggangkan tulang punggungnya.
Lalu tiba-tiba saja Bumi bergetar, petir menyambar dimana-mana, gunung api meletus, Setya Novanto mengaku bersalah, Tsunami merajalela dan JKT48 merilis original single. Dan kalau sudah begini berarti fenomena ini sedang menyambut kedatangan seseorang sampai-sampai membuat Setnov merasa bersalah.
“Hoo udah mulai syuting?” dan itu adalah Pak Batak dan tentu saja hal yang tadi hanya imajinasi belaka, langit normal-normal saja.
“Eh kok kesini pak?” tanya Izi.
“Kaki bapak pengen melangkah kesini, kira-kira kalian butuh aktor tambahan tidak?” tanya pak Batak.
“Udah cukup pak, hanya Diaz sama Hugo aje nih,” ulas Leffy menunjuk mereka berdua.
“Ck, pasti kalian butuh 1 orang lagi, jangan malu-malu,” pak Batak melipat tangan dan berwajah bengis.
“Bener pak udah cukup,” sambung Hugo.
“Aaah! Alasan, kalian itu harus butuh 1 orang lagi!” seru pak Batak.
“Yee,” Leffy dan yang lain memiringkan bibir.
“Ada sih pak, tapi kayaknya bapak gak bisa,” ujar Shani yang tahu maksud sang dosen tersebut.
“Ah macam mana pulak kau ini! Kan bapak belum buktiin akting bapak!”
“Oooh!” Leffy dan yang lain memonyongkan bibir karena tahu maksudnya.
“Gimana Lef?” Hugo, Diaz, Izi, Yogi, Egi, Leffy dan Viddy membuat forum dadakan.
“Yaudah deh, anggap aje pak Batak dapat peran penjaga gudang. Kan diceritanya Hugo sama Diaz masuk gudang tapi gudangnya tiba-tiba meledak gegara ada yang listrik konslet yang mengenai genangan bensin. Biarpun Hugo sama Diaz gak mati… plus pak Batak deh.”
Setelah itu rapat dadakan mereka bubar.
“Bisa sih pak, tapi bapak jadi penjaga gudang gimana?”
“Beeh! Pemeran utama dong!” pak Batak tak terima.
“Malah nawar,” Viddy memiringkan bibir.
Akan tetapi setelah dijelaskan dengan bumbu tambahan dibuat-buat akhirnya pak Batak setuju menjadi penjaga gudang.
“Oke nanti bapak, Hugo, Diaz masuk keruangan itu. Nanti…”
“Udeh gak usah dijelasin!” potong pak Batak angkuh.
 “Tapi…” Izi berusaha menjelaskan.
“Tak perlu kau jelaskan yang namanya akting wahai anak muda,” pak Batak mendengus sombong.
“Errr yaudah… kalau gitu bapak masuk aja, gitu doang shoot-nya nanti,” ujar Leffy.
“Ehh tapi siapa pemeran ceweknya?”
“Mana ada pak, dibagian ini hanya…”
“Harus ada cewek lah!” potong pak Batak sewot.
“Ya… tapi siapa…?” Yogi memiringkan bibir.
Pak Batak menoleh kebelakang. Sementara itu Veranda, Shani, Vienny, Sinka, Yupi dan Uty berpura-pura sibuk memainkan handphone.
“Beeh, gak ada yang sekelas Jaenab ya?” pak Batak mendengus sombong.
“Jaenab siapa pak?” Leffy menyeringitkan dahi.
“Itu loh, awewe yang jualan kembang gula yang didekat ragunan. Body-nya bahenol kayak tukang jamu inoy-inoy! Uuh! Mantap sekali pokoknya! Sekali geboy tak heboy-heboy! Goyang tak ingat dunia!” sebuah jempol tangan diacungkan pak Batak dengan senyum merekah.
“… Kayaknya gak ada Pak,” ujar Diaz sambil melihat para wanita.
“Lain kali siapin artis kayak begitu, tak level bapak sama mereka! Beeh!” seru pak Batak.
“Yaudah deh, yang ada aje pak. Tak perlu tokoh cewek,” kata Leffy.
“Okelah!”
Vienny dan yang lain merasa lega meskipun mereka sedikit kesal dibanding-bandingkan dengan Jaenab yang dimana bentuk rupanya hanya diketahui pak Batak seorang diri. Leffy dan timnya pun bersiap-siap.
“Kalau tuh pak Batak tahu pas masuk ruangan bakalan kena ledakan tepung gimana Lef?” bisik Viddy.
“Ya mana gue tau, mau dijelasin sama Izi tadi eh dia main potong,” Leffy memiringkan bibir.
“Tinggal tekan tombol ini saja kan nanti?” tanya Egi kepada Anto dan Ridwan dengan remote yang dipegangnya.
“Iya,” jawab Anto yang cengengesan memandang Sendy, mahasiswi kampus yang berjalan dikoridor tak jauh dari tempat mereka berada.
“Oke siap semua!” seru Leffy, kru dan aktornya pun bersiap-siap, “Tiga… dua… satu…”
ACTION!” malah pak Batak yang memberi komando.
Pak Batak kemudian memerankan penjaga gudang dengan sungguh-sungguh, ia hanya tahu tugasnya sebagai penjaga yang mengantar Hugo dan Diaz untuk membukakan pintu gudang akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya saat memasuki gudang.
“Oke, Gi. Siap-siap,” komando Viddy dengan suara pelan kepada Egi.
Egi sudah siap dengan jempol tangan untuk menekan tombol On di-remote yang ia pegang. Dan disaat Pak Batak, Hugo dan Diaz memasuki gudang tanpa ambisi dan basa-basi lagi ia segera menekan tombol itu penuh semangat.
Mendadak hening.
“Loh, mana ledakannya?” Leffy menoleh kebelakang.
“Gak tau nih,” Egi menyeringitkan dahi dan menekan tombol On-Off berulang-ulang.
“Wah! Kacau! CUT-CUT!” teriak Izi.
“Ah! Apa?! Saya kan sudah membuka pintu gudang memakai gaya Tom Cruise menjebol pintu Bank yang ada laser?! Gimana sih kalian ini?! Makanya tonton James Bond! Jangan nonton film cinta remaja masa kini!” Pak Batak marah-marah.
“Bukannya Tom Cruise di-film Mission Impossible ya?” bisik Hugo ke Diaz.
“Udeh, lu iya-iyain aje. Komodo kalau disuruh pak Batak jadi sapi ya nurut komodo-nya jadi sapi.”
“Bener juga sih,” Hugo memanggut-manggut.
“Bukan itu pak, ada kesalahan teknis!” seru Egi dari kejauhan.
“Siapa Teknis? Anak fakultas mana dia! Berani-beraninya dia mengganggu aktor seperti saya!” Pak Batak menyingsingkan lengan bajunya dan matanya jejalatan mencari mahasiswa yang bernama ‘Teknis’.
Leffy dan yang lain malas meladeni pak Batak dan menyerahkan hal itu kepada Diaz dan Hugo karena mereka berdua yang paling dekat posisinya dengan pak Batak.
“Hei! Kok gak aktif? Gimana nih?” ujar Izi kepada Anto dan Ridwan.
“Bentar,” Ridwan terlihat serius memandang remote, “Oh!” dan matanya tiba-tiba berbinar.
“Nape?” tanya Leffy mewakili yang lain.
Ridwan menyerahkan remote itu kepada Anto.
“Oh!” dan ekspresi Anto juga seperti Ridwan, mata berbinar dan mulut monyong.
“Nape sih?” sekarang Viddy yang bertanya mewakili yang lain.
Anto kembali menyerahkan remote itu ketangan Egi.
“Entar ye, gue sama Ridwan meriksa ruangan dulu, Yuk Black,” ajak Anto.
Anto dan Ridwan kemudian berjalan, dan selama diperjalanan itu Ridwan sama Anto berbisik-bisik.
“Lu tau, Nto permasalahnnya apa?” tanya Ridwan.
“Kagak, lu?”
“Ya kagak, gue pura-pura kaget aje tadi biar dikira ngerti.”
“Sama dong,” Anto melongo.
“Yaudeh, pokoknya kita masuk dan pura-pura meriksa. Biar harga jual kita tetap terjaga didepan mata konsumen,” saran Ridwan.
“Oke deh.”
Anto dan Ridwan melanjutkan perjalanan mereka, dan dilihat oleh Leffy dan teman-temannya dari belakang.
“Ah gue mau kesana deh, pengen tau gue prosedurnya,” Leffy kemudian berjalan.
“Ikut-ikut,” Yogi, Izi, Viddy dan Egi menyusul.
Sekarang didalam ruangan terdapat Leffy, Viddy, Egi Yogi, Izi, Diaz, Hugo dan pak Batak untuk melihat apa yang dilakukan Anto dan Ridwan. Merasa dipandang begitu banyak mata mereka berdua kembali berbisik.
“Gimana nih? Kita diliatin.”
“Udeh pake rencana sebelumnya, ingat kita harus menjaga nama kita untuk konsumen.”
“Yaudah deh.”
Setelah asyik berbisik maka Anto mengeluarkan suara sambil memegang kabel.
“Black, coba kabel Apravium-nya lu sambungin dengan kabel Ekoporium. Nanti lo hubungkan dengan gaya silang listrik Afternal Invilit.”
“Oh Afternal ya? Sip-sip,” Ridwan mengangguk-angguk.
Dengan lagak ahli kabel maka mereka terus bekerja dan menutupi pandangan Leffy dengan yang lain memakai tubuh mereka masing-masing. Sedangkan Leffy bersama-sama temannya takjub melihat sikap professional Anto dan Ridwan.
“Gila! Bahasanya susah dipahami otak gue, gue baru tau kabel-kabel  gituan ada namanya,” Egi takjub sambul menekan remote on-off karena merasa aman-aman saja.
“Udah dibilang, serahkan sama mereka berdua,” ujar Yogi dengan dengus bangga.
“Baru tau gue ngubungin listrik ada pakai gaya silang segala,” ujar Leffy.
“Gitu saja tak tahu? Bah! Makanya belajar ilmu elekro!” pak Batak mendengus sombong sambil melipat tangan.
“Bapak tau bapak?”
“Ya taulah!” serunya dan membatin, “MANA BAPAK TAU!!
Cape deh.
Leffy dan teman-temannya masih kagum dengan Anto dan Ridwan, tanpa mereka berdua sadari kalau Anto dan Ridwan lagi berpikir, “Apravium, Ekoporio, sama Afternal Invilit apaan ya?
Ya… sebenarnya Anto asal sebut saja tadi dan diiya-iyakan oleh Ridwan.
Sementara itu ditempat Vienny dan yang lain kedatangan Frieska, Hanna, Ayana dan juga Sonia.
“Loh, Viddy sama yang lain mana?” tanya Frieska dan duduk disamping Vienny.
“Masuk keruangan itu, ada kesalahan teknis katanya. Kalian darimana?” Vienny balik bertanya.
“Makan hehe, eh iya kenalin dong, Ayana,” Ayana merentangkan tangannya kepada Shani.
“Shani,” balas Shani.
Hal itu dijadikan Frieska, Ayana, Sonia dan Hanna untuk berkenalan sama orang yang belum dikenalnya karena yang paling mereka kenal disitu cuma Vienny.
“Hanna, Son, Yupi, coba duduk disamping Shani sama Sinka,” pinta Frieska.
“Kenapa?” tanya Hanna mewakili Sonia.
“Udah lakuin aja,” Frieska tersenyum penuh arti.
“Aneh-aneh aje lu,” keluh Sonia tapi mereka berdua tetap melakukannya.
“Hahaha 5 amoy kampus hahahahaha,” Frieska tertawa tanpa beban.
“Yeeee itu rupanya!” Sonia memanyunkan bibir sehingga membuat yang lain juga ikutan tertawa apalagi betul dengan apa yang dikatakan Frieska karena hanya mereka berlima memiliki wajah oriental.
Gara-gara ulah Frieska tadi maka rasa canggung dengan orang yang baru dikenal sedikit memudar, gadis Bandung satu ini emang jago mencairkan suasana.
“Kak Veranda,” panggil Ayana.
“Ya?” Veranda tersenyum.
“Pacaran sama Diaz ya?” tanya Ayana dengan senyum mengembang.
“Eh!” pipi Veranda merona merah, “E-Enggak kok, enggak.”
Tak ayal lagi sekarang giliran Veranda yang menjadi bulan-bulanan disitu, entah sampai bulan keberapa ~ akan tetapi gegara itu suasana kembali cair secair es krim yang direbus diatas kompor.
“Duh, baterai mau habis lagi. Ada colokan gak?” tanya Sonia.
“Emm…” mata Shani kelayapan kemana-mana, “Ah pake itu aja,” Shani menunjuk colokan yang tak jauh dari tempat mereka yang dimana dijadikan Leffy dan yang lain menaruh tas.
Dengan semangat ‘Baterai 5%’ maka Sonia meluncur kesana dengan charge yang selalu ia bawa. Setelah mencolok charge untuk Handphone maka ia meletakan handphone-nya tersebut disamping tas-nya Viddy karena ia kenal betul tas temannya tersebut.
“Ng? ini kabel apa ya?”
Sonia melihat plug listrik berwarna hitam yang kabelnya tersambung kesebuah alat seperti modem di-kejauhan, lebih tepatnya ditempat Anto dan Ridwan tadi berdiri.
Hmm modem kali ya,” pikir Sonia, “Ah kebetulan! Mau update app baru hehe, mudah-mudahan modem-nya gak pake password.
Dengan semangat Wi-Fi gratisan maka Sonia dengan semangat hendak memasukan plug hitam itu kedalam colokan setelah baterai-nya naik ke 6 %, sementara itu didalam ruangan Egi terus menerus menekan tombol On-Off selagi melihat Anto dan Ridwan bekerja.
“Hmm coba kabel Megatron-nya lu hubungin dengan kabel Optimus Prime!” seru Anto memberi perintah.
“Pake gaya silang StarScream kan?” sambung Ridwan.
“Iya,” Anto mengangguk.
“Kok gue kayak kenal ya nama kabel yang disebutin tadi,” gumam Viddy sambil mengurut-urut dagu.
“Itu persilangan neutron positif dengan neutron negative, agar terjadi kolerasi yang memadai untuk kemajemukan listrik statis kecil sehinga menjadi Neutron Atom,” kata pak Batak dengan wajah sombong.
“Gitu ya, Pak?” Viddy takjub bukan main.
“Itu masalah kecil,” pak Batak memasang wajah angkuh dan membatin, “MANA BAPAK TAU! BAPAK NGASAL-NGASAL AJA TADI!” dan demi menjaga martabat dosen aje ia sampai mengibul mahasiswanya sendiri.
“Waah,” sedangkan Leffy dan yang lainnya lagi-lagi kagum sambil melipat tangan dengan usaha Anto dan Ridwan.
Entah apa yang ada dipikiran Anto dan Ridwan, saking mumet dan bingung apa yang menjadi penyebab ledakan tepung tak terjadi mereka malah  membawa nama-nama tokoh Transformers tak berdosa untuk bahasa sok keintelektualan mereka.
Sementara itu ditempat Sonia.
“Oke udah 6 %, waktunya Wi-Fi gratis! Hehe please-please jangan pake password,” gumamnya sambil menggoyang-goyangkan plug hitam.
Lalu ditempat Egi bersama yang lain.
“Lama juga ya,” komentar Egi sambil menekan tombol On-Off.
Plug hitam sudah dicolok Sonia dan tangan Egi menekan tombol On. Benda yang mirip modem tiba-tiba hidup sehingga akhirnya.
BOOOOOUUUUMMMM!!
Suara ledakan diruangan tempat syuting mengagetkan Sonia dan yang lain.
“Ada apaan tuh?” tanya Sonia dengan wajah polos.
“Abang! Viddy!” Vienny terlihat khawatir, ia segera beranjak dari tempat duduk.
“Diaz! Diaz!” begitu juga Veranda.
Tak hanya Vienny dan teman-temannya yang kaget, akan tetapi hampir seluruh mahasiswa dan mahasiswi buru-buru mendatangi Tempat Kejadian Perkara.
“Ada apa? Ada apa?” tanya Shania sambil menyeret kerah kemeja Danu dari belakang, dan tentu saja sambil berlari sehingga Danu kelabakan dibuatnya.
“Inyi, ada apa Nyi?” tanya Riskha.
“Leffy sama yang lain disitu!” seru Vienny sambil berlari, wajahnya merautkan wajah yang sangat cemas.
“Ada Egi-nya?” Shania mencoba memastikan.
Vienny hanya mengangguk memberi jawaban.
“Egi!” dengan perasaan cemas dan kakinya yang jenjang maka Shania paling cepat berlari, hanya saja dia lupa…
“KECEKIK GUE! GUE KECEKIK!!” yah, itu Danu yang ditarik kerah kemejanya oleh Shania.
Semua orang akhirnya berkumpul didepan ruangan, asap-asap dan debu putih mendominasi pemandangan sampai akhirnya muncul bayangan seseorang.
“BUHUEEEEK!!!” Diaz keluar dengan tubuh penuh balutan tepung, dia meringkuk dan hendak memuntahkan tepung yang masuk dalam hidungnya.
“Diaz!” Veranda dengan cemas menghampiri Diaz.
Tak lama kemudian dibelakang Diaz disusul oleh Leffy, setelah itu Viddy, Yogi, Izi, Anto, Ridwan, Hugo dan terakhir Egi bersama pak Batak. Mereka semua serempak meringkuk dan terbatuk-batuk gara-gara ledakan tepung tadi.
“Viddy… Abang…” gumam Vienny pelan dengan alis mengkerut dan mencoba membantu mereka berdua.
“Buhueeek! Ohok-ohok!!” dan hanya itu jawaban Leffy dan Viddy.
“Ya ampun!” Shani berjongkok untuk melihat Yogi, “Mirip Bakpau!” dan sekarang malah ketawa-tawa tanpa dosa.
Udah badan gede ditepungin pula, gimana gak dibilang mirip bakpau.
“Kamu gakpapa?” Veranda mengeluarkan seluruh isi tisu yang ia bawa untuk mengusap wajah Diaz.
“Maunya sih bilang gakpapa… tapi kenyataannya berbeda… Bohoeeeek!” Diaz kembali terbatuk-batuk mengeluarkan tepung.
“Ya ampun!” dan Veranda semakin cemas dibuatnya.
“Egi! Egi!” Shania yang cemas kemudian menghampiri Egi yang sudah duduk dengan nafas terengah-engah, yang jelas seluruh badannya berwarna putih.
Egi menoleh dengan wajah teler dan berkata, “Oh elu…”
“Kamu gakpapa kan?” alis Shania mengerut dan membersihkan tepung yang menempel diwajah Egi.
“… Puyeng…”
Dengan lemah Egi menaruh kepalanya dipundak Shania, Shania awalnya tertegun akan tetapi tak lama kemudian dia tersenyum sambil membersihkan sisa-sisa tepung yang menempel dibadan Egi.
“Hahahahaha tinggal digoreng aja ini mah kewajan panas,” Frieska tertawa ngakak melihat kondisi Izi.
“Malah ketawa lagi, uhuk-Ohok!” Izi terbatuk-batuk sebentar, “Bantuin gue dong.”
“Hihihihihi,” dengan perasaan menggelitik Frieska bersedia membersihkan tepung yang menempel ditubuh Izi.
Sementara itu Anto menoleh kearah Ridwan.
“Wih Black! Lu jadi putih sekarang! Gak perlu operasi kulit lagi lo!”
“Ngeeeh!” Ridwan sewot, ia menutup lubang hidung kiri dan mengeluarkan tepung yang bersarang dilubang hidung kanan dengan menghembuskannya.
Sementara mahasiswa-mahasiswa yang penasaran mulai bertanya kepada Leffy yang sudah berdiri dibantu oleh Vienny dan Ayana.
“Ada apa tadi bro?” tanya salah satunya mewakili.
Mendengar pertanyaan itu Leffy segera mencari 2 orang yang ditetapkannya sebagai tersangka, siapa lagi kalau bukan Anto sama Ridwan Black.
“Lo berdua! Tadi itu apa-apaan?!” tanyanya dengan sewot.
“Mana gue tau, gue aje kaget tadi,” jawab Anto mewakili Ridwan.
“Kacau lu berdua! Lalu apa gunanya tadi metron-botron, kawin silang neutron!” seru Hugo yang ikutan sebal.
“Namanya juga musibah,” ujar Anto seakan-akan itu hal yang biasa.
“Ah!” seru Ridwan tiba-tiba.
“Nape lo?”
“Gue baru inget! Tuh remote berfungsi kalo alat transmisi-nya hidup!”
“Trus tadi hidup gak?” tanya Anto.
“… Kayaknya enggak,” Ridwan menggeleng polos.
“LALU LU BERDUA NGAPAIN TADI DISINI?! KAWIN SILANG LAH! INILAH! ITULAH!” Leffy dan korban-korban yang lain sewot bukan main.
“Yeee namanya juga musibah,” dan Ridwan memakai alasan yang serupa dengan Anto.
“Emang dimana alat transmisi-nya?” tanya Uty.
“Disana, didekat tempat mereka naruh tas. Yang kabelnya hitam gitu,” ulas Ridwan.
Mendengar itu membuat mata Sonia terbelalak, ia melihat alat yang hidup saat ia mencolokan plug hitam tadi. Merasa dirinya akan menjadi tersangka dan disidang secara tidak mahasiswi-i (Manusiawi-nya para mahasiswi, anggap aje begitu) oleh Leffy dan kawan-kawan, maka ia melakukan apa yang harus ia lakukan.
“Syulululululu!”
Sonia menopang kepala, bersiul dan berjalan mundur sambil melihat langit biru nan elok, saat area-nya sudah kondusif dari halangan mahasiswa-mahasiswa lain maka ia segera berlari tunggang langgang meninggalkan TKP.
Dan hari ini akan adalah hari yang akan dikenang sebagai ‘Hari Manusia Tepung’, penemunya tentu saja adalah Anto dan Ridwan Black.
Dan sebagai hadiahnya maka mereka diberi tanggung jawab oleh pihak kampus untuk menjelaskan kepada polisi dan pasukan anti teror yang datang karena tadi sebelumnya ada mahasiswa mengira ini adalah teror bom dan melaporkannya kepada polisi.
“Bagaimana kalau menjelaskannya dikantor polisi,” ajak pak polisi dan beberapa pasukan anti-teror.
“Pak ampun pak! Ampun! Kalau saya dipenjara anak istri saya makan apa Pak? Anak saya masih kecil!” Anto meronta-ronta, saking paniknya ia kacau membuat alasan. Sejak kapan ia punya anak dan istri?
“Bapak jangan rasis ya! Mentang-mentang saya hitam! Apa berkulit hitam itu berarti harga mati di-cap kriminal?! Saya punya hak untuk bebas seperti burung yang lepas!” apalagi alasannya si Ridwan, malah Rasis yang dibawa-bawanya.
“Cuma keterangan, gak bakalan kami penjara,” ujar salah satu polisi hanya saja suaranya kalah nyaring dengan teriakan Anto dan Ridwan.
“Istri saya dua Pak!!!” dan entah kenapa Anto malah menambah istri untuk alasannya.
“Agnes Monica saja mau jadi hitam pak biar kulitnya eksotis!” dan kenapa Agnes Monica malah dibawa-bawa sama si Ridwan.
Ya sudahlah, yang penting tak ada korban jiwa.
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
Jam sudah menunjukan jam 2.45 siang, itu berarti 2 menit sebelumnya adalah jam 2.43. Sekarang dirumah Egi kedatangan tamu, atau bisa dibilang sih tamunya itu ngikut Egi pulang. Mereka berdua sekarang berada diruang tamu saat Egi selesai mandi untuk membilas tepung-tepung yang tersisa.
“Lu ngapain ngikutin gue pulang?” Egi menyeringitkan dahi memandang Shania.
“Aku kan khawatir!” seru Shania sambil melipat tangannya, wajahnya tampak sebal.
“Yeee mending gue luka parah, ini kan enggak.”
“Ish! Dikhawatirin malah gitu jawabannya!” sekarang bibirnya kayak Donal Bebek, manyun-manyun gitu.
“Oh khawatir toh,” Egi terkekeh, “Kenapa khawatir sama gue?” tanya Egi sambil mengusap-usap kepalanya sendiri dengan handuk.
“Ya…” Shania menoleh kearah Egi, ia terdiam dan kembali menghadap kedepan, “Gitu deh!”
“Gak jelas amat,” Egi cengengesan, “Nanti cowok lo marah lo kesini.”
“Emang siapa cowok aku?”
“Ya… yang sering ngobrol dengan lo didepan-depan gue.”
“Oh…” kepala Shania membelakangi Egi dan berusaha menahan tawa, setelah itu raut wajahnya kembali dingin sambil menoleh kedepan, “Kenapa? Cemburu? Hah?”
“Iya,” Egi mengangguk, wajahnya sedih dan menunduk kebawah.
“Beneran?” Shania terperangah dan merasa usahanya berhasil untuk mengetahui perasaan Egi dengannya.
“Iya, tompel lo dicoletnya… gue kan suka sama tompel elu,” jawab Egi dengan wajah frustasi.
“Iiiih!!!” Shania sebal dan memukul Egi.
Egi cengengesan dan mencoba menangkap kedua tangan Shania yang mencoba memukulnya. Usahanya berhasil dan ia menekan tangan Shania kebawah.
“Nah, kayak gini kan enak. Seperti biasanya,” Egi tersenyum dan memain-mainkan alis.
Shania terdiam dengan raut wajah tak mengerti.
“Maksud kamu?”
“Ya kayak gini, berantem kecil-kecilan,” Egi melepas genggaman tangannya dan duduk menyandar, “Dengan begini gue merasa kayak dulu, gak seperti waktu lo dengan entengnya bilang suka sama gue.”
“Eh?”
“Hehe gue canggung neng dari kemarin,” Egi terkekeh.
“Canggung?” raut wajah Shania berubah polos, “K-kamu canggung… pas aku bilang itu?”
“Iya,” Egi mengangguk.
“Jadi…”
“Ya,” Egi menggaruk kepala dan menguap sebentar, “Yang pasti gue gak tau, jujur aje lo emang cakep, siapa juga yang gak mau sama elu. Tapi ya gue belum ada rasa apa-apa sih… mungkin ada, tapi sedikit.”
“Oh…” Shania menunduk.
“Tapi ya emang menyenangkan kalau ngobrol sama lo, terutama pas berantem gitu,” Egi terkekeh.
“Emm,” Shania memiringkan bibir dan mendelik kearah lain.
“Tapi ya bukan berarti gue mau nolak lo mentah-mentah.”
Shania menoleh dan menyeringitkan dahi, “Maksudnya?”
“Ya…” Egi tersenyum dan menjawab, “Kalau lo mau kasih kesempatan, gue mau ngenal lo lebih jauh lagi. Tapi dengan suasana seperti dulu, bukan dengan suasana canggung kayak yang dulu gue rasain.”
Shania benar-benar terdiam, mereka terus saling memandang sampai akhirnya Shania berbicara.
“Kamu serius?”
“Ya, dan juga tidak dengan suasana yang lo buat-buat untuk menarik perhatian gue ampe segitunya,” Egi terkekeh.
“Maksudnya?”
“Heeleeh, lo kira gue gak tau lo nyewa Danu,” Egi tertawa ringan.
“Kamu tau darimana?” Shania terbelalak.
“Ya taulah, Danu kan teman SMA gue, ada-ada aje lo Shan-Shan pakai acara gituan.”
“I-itu kan…” Shania kelabakan.
“Oke! Pokoknya lo gak usah gitu lagi, kesannya lo agresiff tau gak?” Egi menundukkan kepala dan menatap Shania dengan mata yang tajam.
“Gitu ya…”
“Ya, kan gue bilang gue mau ngenal gue lebih jauh, dan lo harus kenal gue lebih jauh lagi. Gue gak mau buat kedepannya lo sakit hati sama sikap gue yang belum lo kenal, begitu juga gue sebaliknya.”
“… Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?”
“Ada temen gue namanya Kimberly, dulu waktu SMA dia diputusin sama pacarnya gara-gara pacarnya itu bilang bosan. Kimberly itu cakep loh, tapi dia mutusin Kimberly hanya dengan alasan bosan. Gue juga denger cerita kalau mantannya itu dulu selalu memberi yang baik-baik pada awalnya, tanpa sempat memperkenalkan keburukannya kepada Kim.”
“Oh gitu…”
“Ya, gue gak mau kenal gue dari baiknya saja, tapi juga buruknya. Begitu juga gue ke elu. Biar kita tahu baik buruknya agar gak sakit-sakit amat. Ngerti kan maskud gue?”
“Emm,” Shania mengangguk.
Egi tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Shania.
“Jujur aje sih gue bingung kenapa senior kayak lo suka sama gue hehe, tapi gue gak mau nanya alasannya dan gue gak mau tahu alasannya. Jadi lo jangan pernah beritahu alasannya oke?”
Shania terdiam, tak lama kemudia ia tersenyum dan menyentil tangan Egi yang menepuk-nepuk kepalanya.
“Jadi bisa dibilang kita harus mengenal diri kita masing-masing?”
“Ya, dan gue gak mau lo kayak gitu lagi. Nyewa-nyewa gituan, agresif tau gak?”
“Habisnya kamu nyebelin sih!” Shania memanyunkan bibir.
“Hanya gue yang boleh agresif, lo jangan,” Egi terkekeh.
“Tuh, aneh-aneh lagi,” Shania tertawa dan menggeplak tangan Egi.
“Tapi kalau gue pikir-pikir lagi hmmm…” Egi mengurut dagu, “Gue malah meminta kita saling mengenal diri kita masing-masing…”
“Kenapa?”
“Hmm itu berarti gue memang kepengen suka sama lo, kan tadi gue ngusulin biar gue mau kenal lo lebih jauh,” Egi tertawa.
Mendengar itu membuat pipi Shania merona merah, dengan perasaan malu ia lampiaskan dengan menepuk-nepuk tangan Egi.
“Ini mukul-mukul karena suka denger gue ngomong tadi atau emang kesal?” Egi cengengesan.
“Bising!” Shania mendengus kesal dan terus menepuk tangannya.
“Nah gitu dong hehehe, kayak gini kan kayak Shania yang gue kenal.”
Shania tersenyum mendengar perkataannya, ia memandang Egi sebentar dan terus memukul tangan Egi meskipun sekarang pelan.
“Udah berapa bakso yang lu bayarin ke Danu?” tanya Egi.
“Emm,” Shania mencoba berpikir, “Kalau gak salah udah 7 bakso selama 3 hari ini, pas ke-8 tiba-tiba dia sakit perut dikantin.”
“Oh,” Egi mengangguk-angguk.
“Kenapa?”
“Kalau gitu gue ada alasan ngajakin lo kekantin, tiap 1 hari 1 mangkok. Anggap aje sebagai ganti uang yang lu pakai buat bayarin Danu.”
“Dih, gak usah. Itu kan kesalahan aku sendiri,” tolak Shania.
“Bodo amat, pokoknya mulai besok kita kekantin. 1 hari 1 mangkok selama 7 hari.”
“Emang kenapa?” Shania menyeringitkan dahi.
“Ya kan jadi ada alasan gue ngajakin lo ngomong berdua dikantin hehehe,” Egi cengengesan.
“Dih,” Shania tertawa, ia menyandar dan kembali memukul-mukul lengan Egi, “Akal bulus cowok!”
“Eh mau kagak? Katanya bosan dikasih coklat terus.”
“Huh,” Shania menoyor tangan Egi sebentar dan tak lama kemudian ia tersenyum, “Mulai besok ya? Awas kalau enggak.”
“Kalau inget hehehe.”
“Tuh kan! Ih suka banget sih gitu,” Shania sewot.
“Ya samperin aje gue biar inget, gue diruangan klub melulu juga kan. Sekalian lo latian ngejemput gue hahahahaha.”
Shania juga tertawa dan kembali memukul tangan Egi, “Pandai akalnya ya!”
“Gak tau juga nih kenapa gue mendadak encer nih otak hehe.”
Shania tertawa ringan begitu juga Egi. Egi kembali mengeringkan rambut dikepalanya dan dilihat oleh Shania, ia kemudian membantu Egi untuk mengelap rambutnya.
“Eh lu ngapain?”
“Udah diem, daritadi gak kering-kering,” Shania memanyunkan bibir.
“Oh perhatian nih ye?” Egi cengengesan.
Shania menahan ketawa, setelah mengeringkan rambut maka ia duduk disebelah Egi dan menatapnya.
“Jangan bertingkah kayak cewek agresif lagi ya?” Egi tersenyum.
“Iya, aku baru pertama kalinya gitu juga kok.”
“Dan gue juga ada dendam sedikit nih,” Egi nyenyir kuda dan memain-mainkan alis.
“Dendam apaan? Dih sama cewek kok dendaman?!” Shania sewot.
“Ya hehehe.”
Tanpa basa-basi Egi menahan kepala Shani, gadis ini pun kaget akan tetapi ia lebih kaget saat Egi mencium pipinya.
“Nah balas dendam selesai!”
Shania terdiam dan memegang pipinya.
“… Kenapa?” tanya Shania.
“Canggung gak?”
“Emmm,” Shania mengangguk-angguk.
“Ya itu dia yang gue rasain pas lo nyium pipi gue! Hahaha.”
Shania menyeringitkan dahi mendengar itu, akan tetapi tak lama kemudian ikutan tertawa dan memukul tangan Egi kembali.
“Lagian tadi gue udah bilang, hanya gue aje yang boleh agresif, lo jangan,” Egi terkekeh.
“Ish kaget tau gak?! Kirain aku mau diapain tadi!”
“Tenang aje, gue gak terlalu agresif. Kecuali temen gue, Leffy. Nah itu hantunya Agresif,” Egi tertawa ringan.
“Gak kenal,” Shania memeletkan lidah, “Maunya lebih kenal kamu,” dan tertawa.
“Heleeh gombal segala,” Egi memiringkan bibir, “Bawa earphone gak?”
“Bawa, buat apa?”
“Pinjem.”
Shania mengeluarkan earphone dari tasnya, sementara itu Egi mengeluarkan handphone dari kocek celananya. Egi memasang plug earphone terlebih dahulu di-handphone habis itu dia duduk mememet disamping Shania.
“Ngapain deket-deket?”
“Nikmatin lagu,” jawab Egi cuek dan menaruh sebelah earphone dikuping kiri Shania dan sebelahnya lagi untuk kuping kanannya sendiri.
“Lagu apa?” Shania tersenyum.
“Ntar, gue suka lagu ini dari kemarin. Enak didengar.”
Selama memilih lagu tiba-tiba saja tangan Egi merangkul pundak Shania, dan dengan itu ia mengajak Shania untuk bersandar disofa yang mereka duduki bersama-sama.
“Hanya gue yang boleh agresif,” Egi terkekeh sambil memilih lagu.
“Ish!” Shania sebal dan menyentil hidung Egi, akan tetapi ia tersenyum dan menerima rangkulan tersebut.
“Oke, ini dia,” Egi menekan tombol play.
Dan lagi-lagi lagu Gorillaz  berjudul On Melancholy Hill menjadi pilihannya, selain lagunya enak didengar, suasanya juga pas dengan yang mereka berdua rasakan.
“Hmm,” Shania mulai menikmati lagu, ia pun menidurkan kepalanya dipundak Egi.
Egi menoleh dan tersenyum, ia juga membaringkan kepalanya diatas kepala Shania yang berbaring dipundaknya. Dan tangan yang merangkulnya gadis itu sekarang digunakan untuk mengelus kepala Shania.
Dan untuk Shania ini memang suasana yang ingin ia rasaka bersama orang yang ia sayangi.
Sementara itu ditoko kue dan kafe Yona terlihat Leffy sedang duduk disalah satu kursi sambil mendengarkan lagu yang sama. Ia sebelumnya dari rumah bersama Vienny untuk mandi, yang pasti enggak mandi bersama, Leffy sendiri yang mandi. Sehabis itu mereka mampir kekafe Yona dan Dion, lalu mengantar Vienny pulang karena Vienny dicariin Ayahnya, dan Leffy kembali kekafe untuk bersantai.
“Besok Zara sama Kyla mau datang tuh Lef, kamar udah lu beresin belum?” tanya Dion.
“Udeh,” jawab Leffy cuek karena lagi nikmat mendengarkan lagu.
“Nanti malam jalan yuk Lef? Ajak Vienny sekalian,” ajak Yona saat melewatinya.
“Nah! Emang calon kakak ipar idaman,” Leffy terkekeh.
“Hihihi,” Yona tertawa dan menoyor pelan bahu Leffy, ia kemudian menyusul Dion kedepan toko untuk melihat tukang cat mengecat dinding depan.
Asyik-asyik mendengar lagu tiba-tiba Vienny mengirim Chat.
- Vienny : Dimana?
 Leffy : Mabes-nya adek, ada apa?
- Vienny : Enggak, lagi bosen aja. Belum nyampe tujuan soalnya.
Leffy : Emang adek dimana?
- Vienny : Dimobil, sama mama, ayah, Viddy.
Leffy : Maksudnya adek mau kemana? :|
- Vienny : Makanya jangan salah pertanyaan :P, makan-makan dong.
Leffy : Beh gak ngajak-ngajak :E
- Vieeny : Siapa suruh buru-buru pulang tadi :P
Leffy : Hehe kan canggung didepan camer.
- Vienny : Hihihi :P
- Vienny : Eh iya
- Vienny : Foto adek di-HP abang jangan dihapus ya?
Leffy : Foto apaan?
- Vienny : Tadi adek selfie dikafe kak Yona pake HP abang
Leffy : Beeh! Pasti penuh nih gallery
- Vienny : Jangan dihapus, nanti mau adek ambil :(
Leffy : tergantung, kalau jelek abang hapus semua.
- Vienny : Ish! >:|
Leffy tertawa sebentar untuk melihat foto yang dimaksud, dan benar seperti yang diperkirakan Leffy kalau Gallery-nya penuh dengan foto Vienny.

Ia kembali melanjutkan chatting-nya dengan Vienny.
Leffy : Banyak amat bu! Hahahaha.
- Vienny : Biarin! :P temenin adek chatting ya? Viddy tidur jadi gak ada temen ngobrol.
Leffy : Loh ibu sama ayah?
- Vienny : mereka lagi karaokean didalam mobil :|
Leffy : Hahahahaha.
Leffy pun bersedia menemani Vienny agar wanita yang berharga selain ibunya itu tidak merasa sendirian. Dan lagu Gorillaz berjudul On Melancholy Hill masih mengalun ditelinganya.
Suasana sore ini, sangat menyenangkan bagi kedua insan.
[Bersambung]
B E A U T I F U L L   A U R O R A  III
[Celotehan]
Terima kasih untuk Anto, Ridwan, Zacky dan Dody untuk nama kalian yang saya pakai dalam chapter kali ini.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :)
- Dion
© MELODION 2017 All Right Reserved


Beautifull Aurora III | Chapter 22 : Nevermind Beautifull Aurora III | Chapter 22 : Nevermind Reviewed by Melodion on Desember 03, 2017 Rating: 5

5 komentar:

  1. Kok gini amat 😓

    BTW, ini chapter paling deep buat gue *bukan gegara nama gue akhirnya dipake di cerita ini*

    Tapi, yah di adegan Doddy nguping Leffy ama Viddy tadi, gue jadi sadar akan realita di sekitar gue, dan hidup di dunia delusi memang tak enak, karena saat kita dikecewakan oleh orang yang kita jadikan bahan delusi, dia mungkin nggak merasa terlalu bertanggung jawab

    Yah, salah sendiri berdelusi secara liar 😅😅😅

    Dan, yah semuanya memang perlu perjuangan, bahkan untuk bertahan hidup, kita harus berjuang agar tetap bisa makan

    Thanks for your motivation, gue rasa ini adalah cara lu untuk menyadarkan orang-orang yang terjebak dalam genjutsu delusi

    BTW, katanya mau pensi nulis gegara mau nikah, moga sukses ya Bro? 😂 janlup adain live streaming pas malam pertama *plakk!* *just kidding*😂✌

    Ps : itu ciri fisik gue kayaknya agak kurang tepat, perut gue buncit lho

    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Iya sama sama bang, makasih udah di masukin cerita. Semoga sukses terus buat penulisnya bang Dion kedepannya. Salam juga buat Randa, hihihi... Akhirnya gue sadar. Hahaha...

    BalasHapus
  3. sumpah kocak ceritanya xD
    suka semua bagiannya tapi lebih suka dibagian dody menguping pembicaraan lefy sama viddy dan bagian saat mereka syuting dan kena ledakan tepung hahahaha

    BalasHapus
  4. No comment lagi, benar" menghibur :D

    BalasHapus
  5. Wkwkwkwkw baru kali ini aku ngeliat orang ngasih kata bijak tapi dia menghina dirinya sendiri dan juga kalimat bijaknya karena memberi kata bijak xD

    top bang!

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.