Numeriq | File IX : Bold

5 anggota Redrum terlibat baku hantam. Simak kisahnya berikut ini.
 N U M E R I
A
ksi penggebrekan yang dilakukan oleh kesatuan polisi anti teror, anggota TNI dan anggota eksekusi Redrum terhadap Milo dan anggota-anggota mafia berakhir dengan kegagalan besar karena dalang dibalik peristiwa bom, perampokan bank dan kericuhan dikota Jakarta ini telah berhasil melarikan diri, yakni Milo.
Kerugian yang dialami juga sangat begitu parah.  Tak hanya kerugian materi akan tetapi juga nyawa.  Kerugian materi bisa dilihat disekitar wilayah yang ada didekat perumahan Javva.  Bom berhasil meluluh lantahkan bangunan yang berjejer dipinggir jalan perumahan tersebut dan seluruh jalur yang digunakan Milo melarikan diri dengan mobilnya juga hancur dengan bom.  Korban-korban pun tak bisa terelakan baik saat penyerangan mau pun yang terkena bom diluar, anggota polisi kehilangan 23 anggota, TNI 18 orang dan Redrum juga kehilangan 17 orang.
Pengejaran yang dilakukan Dion bersama Doni, Fajar, Yoga, Remo dan juga Darius berakhir dengan hasil yang pahit.  Dan dari pengejaran ini jumlah anggota Redrum yang tewas bertambah 3 orang.  Darius dan Yoga terkena ledakan mobil yang mereka kejar, dan Doni yang ditemukan tewas ditepi jalan dengan kondisi kepala pecah akibat tembakan senjata semi-otomatis.
Aksi yang menghebohkan ini tentu saja menjadi acuan oleh orang yang tidak menyukai pemerintah untuk menyalahkan Pemerintah Indonesia karena operasi ini merupakan kegagalan besar yang mencoreng nama Indonesia.  Bagaimana tidak? Anggota polisi dan TNI sebanyak itu bisa dilumpuhkan sedemikian rupa oleh pelaku untuk melarikan diri, karena masyarakat umum hanya mengetahui 2 pihak ini yang melakukan penggebrekan.
Pemerintah tentu saja tidak tinggal diam. Keamanan dinegara ini diperketat disetiap perbatasan.  Tak hanya itu, akan tetapi dibandara, stasiun dan juga pelabuhan.  Ini untuk mengantisipasi agar Negara tidak lagi kecolongan oleh orang seperti Milo.  Potret Milo juga disebar dimana-mana, begitu juga Birwan karena mafia ini terbukti membantu semua aksi Milo.  Mereka berdua menjadi orang yang sangat dicari-cari pemerintah Indonesia dan dari tindakan mereka maka mereka berdua juga sudah menjadi buronan Internasional lebih tepatnya di-Asia.
Lalu 2 orang yang menjadi kunci penting dalam aksi pengejaran dan kaburnya Milo yaitu Dion dan Bayu sampai sekarang masih tak sadarkan diri dirumah sakit.  Mereka berdua pun dijaga oleh beberapa polisi dan anggota Redrum karena mereka ini bisa dibilang orang terakhir yang melihat keberadaan Milo.
Sementara itu di-markas Redrum sedang dilakukan penyelidikan terhadap mayat Doni yang ditemukan. Karena selain kondisi kepalanya yang menyebabkan ia tewas, tangan kanannya juga terpotong paksa oleh benda tajam dan tidak ditemukannya earphone dan juga handphone khusus Redrum dibarang bawaannya.
“Bagaimana?” tanya pak Agung, salah satu petinggi Redrum kepada Adis.
Adis, Boby dan beberapa anggota bagian informasi sudah ditunjuk Direktur untuk menangani masalah ini. Mendapat pertanyaan itu maka dengan segera Adis menjawab.
“Kami sudah berhasil mengaktifkan pelacak kita dari jarak jauh.”
“Lalu?” lanjut pak Yuda yang juga salah satu petinggi Redrum.
Sekarang Boby yang menjawab, “Hasil pelacakan mengatakan kalau chip  pelacak di-handphone Doni berada ditengah samudra. Sepertinya mereka berhasil mengeluarkan pelacak itu dan membuangnya.”
“Jadi dengan ini jelas kenapa tangan kanan Doni dipotong...” gumam pak Hengky, karena handphone khusus Redrum hanya bisa diakses oleh sidik jari orang yang memilikinya karena itulah disebut khusus.
“Tapi kenapa ditengah laut?” tanya pak Yuda.
“Sepertinya mereka melepaskan pelacak itu diudara, seperti informasi yang kita dapatkan dari pihak angkatan udara kalau ada helikopter yang menerobos masuk wilayah Indonesia waktu itu,” ulas Adis.
“Masuk diakal... dan apa mereka hendak melacak kita dengan handphone itu?” tanya pak Hengky.
“Sepertinya begitu, tapi...” Boby memutar badan untuk mengetik sesuatu dan menunjukan akses database Redrum dilayar besar diruang tengah, “...Kami sudah memblokir akses handphone Doni agar tidak bisa memasuki database organisasi kita, tapi ini masih abu-abu.”
“Abu-abu?” Direktur dan petinggi Redrum menyeringitkan dahi.
“Ya pak,” kata Adis, “Pemblokiran itu bisa ditangguhkan kalau mereka berhasil menjebol keamanan pemblokiran itu.”
“Apa tidak ada cara lain?”
“Ada, tapi tidak mungkin dilakukan. Handphone itu harus dihancurkan... tapi Handphone itu sekarang tidak ada disini...”
“Lalu bagaimana mengantisipasinya? Kalau mereka berhasil tentu saja ini akan menjadi masalah,” ujar pak Agung.
“Kemarin kami sudah menyelesaikan aplikasi yang saya kembangkan 2 tahun yang lalu, jadi apabila ada handphone Redrum yang dalam status terblokir memasuki database maka akan terhubung dengan sistem keamanan gedung sehingga mengeluarkan suara alarm. Dan aplikasi ini juga kami kembangkan agar mengaktifkan peledak kecil yang ada di-handphone khusus organisasi kita, yang dimana artinya handphone itu akan meledak setelah berhasil membuat alarm berbunyi,” ulas Adis.
“Sudah diuji coba?” tanya Direktur.
“Kami baru mau melakukannya, Desy,” panggil Adis kepada Desy.
Desy kemudian berdiri, ia menghampiri tempat mereka berada dan mengeluarkan handphone anggota Redrum-nya.
“Aku akan memblokir handphone-nya,” kata Boby sambil mengetik-ngetik keyboardnya.
Selama Adis mengetik maka Desy menoleh kearah Direktur.
“Sepertinya aku akan butuh handphone baru untuk organisasi ini,” ulasnya dengan bibir yang miring.
“Hmm,” Direktur tertawa kecil dengan senyum.
“Oke sudah. Desy, sekarang kau bobol keamanan pemblokiran handphone mu itu,” suruh Adis.
Desy mencoba memasuki handphone-nya yang sudah terblokir dan terdapat kolom disitu, “Password?”
“4412.”
Desy menekan angka password tersebut di-Handphone-nya sehingga akses pemblokiran ditangguhkan. Ia menoleh kearah Adis dan bertanya, “Terus?”
“Coba kau masuki database,” suruh Boby.
“Hmm,” Desy memiringkan bibir dan melakukan apa yang diperintahkan.
Dan saat Desy mencoba memasuki database organisasi tiba-tiba bunyi alarm didalam markas berbunyi dimana-mana. Semua anggota Redrum yang ada dimarkas lantas terkejut mendengar suara tersebut.
“Siaga 1! Sepertinya ada yang mencoba menerobos dinding!” seru salah satu anggota Redrum.
“Lakukan formasi pertahanan!”
“Baik!”
Bisa terlihat 30 anggota Redrum melakukan formasi tepat didepan lift dengan senjata berat yang mereka pakai. Suasana disitu begitu tegang karena mereka mengira suara alarm itu gara-gara ada orang yang mencoba menerobos dinding parkiran sebagai akses jalan masuk kemarkas organisasi Redrum yang berada dibawah tanah.
“Sepertinya ini menjadi kesalah-pahaman,” ulas pak Yuda yang mengintip para anggotanya lewat tirai jendela diruangan informasi.
“Hmm,” Direktur tertawa kecil dan memandang Adis, “Sepertinya alat yang kalian buat itu berfungsi... tapi... kenapa handphone Desy tidak meledak?”
“Iya, enggak nih,” Desy menggoyang-goyangkan handphone-nya.
“Kenapa kau masih memegangnya?!” seru Adis dan dilanjut Boby, “Kami mengatur ledakannya terjadi 40 detik kemudian pas handphone yang terblokir statusnya memasuki database!”
“Hah?!” Desy terkejut, “Sekarang detik keberapa?”
“38!” seru Adis.
“SIALAN!!!” Desy berkeringat dingin.
Dengan paniknya Desy melempar handphone-nya itu kearah Boby dan Adis, mereka berdua pun kalap dan entah kerasukan arwah pemain bola darimana maka Boby menendang handphone Desy keudara.
“Oh sial! Menghindar!” seru Adis.
Dan didetik ke-40 handphone Desy pun meledak dan pecahan-pecahan handphone-nya yang terlalap api serta merta menyebar kemana-mana saat terjatuh. Mendengar suara ledakan diruangan informasi lagi-lagi membuat semua anggota Redrum yang berada diluar kaget.
“Sial! Ada penyerangan! Penyusup berhasil masuk!”
“Kalian! Segera kesana!”
“Baik!”
“Ya ampun! Kapan mereka masuk?” Farin terlihat takut dan bersembunyi dibelakang Ega.
“Jangan takut, kan ada aku,” kata Ega dengan nada sok pahlawan, habis itu ia menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Farin, “Aku akan melindungimu sampai mati, Farin...”
“Sumpah aku mau muntah mendengar kau berbicara seperti itu,” kata Manda ketus, ia disebelah Ega dan juga sudah mengarahkan senjatanya kearah ruangan informasi.
“Ini namanya aksi didalam situasi,” balas Ega tak kalah ketus.
“Bodo,” cibir Manda.
Dan sekarang didepan ruangan informasi terlihat 25 anggota Redrum berjaga-jaga dengan senjata api yang sudah siap siaga ditangan mereka.  Sementara itu didalam ruangan terlihat beberapa anggota bagian informasi berusaha memadamkan api akibat pecahan handphone-nya Desy.
“Hmm sepertinya aplikasi kalian berjalan dengan baik,” komentar pak Hengky dan memadamkan api dijasnya dengan kibasan tangan.
“Ya, sepertinya begitu,” ulas Boby.
“Jadi dengan ini kita tidak perlu khawatir lagi. Dan matikan alarm ini sebelum situasi diluar semakin gaduh,” pinta Direktur.
“Baik.”
Boby segera melaksanakan perintah, sementara itu dilantai terlihat Adis sedang menahan tubuh Desy dari belakang dan memiting lehernya.
“Kau mau membunuhku apa? Hah?!” seru Adis yang geram.
“Alalalala!” Desy tertatih kesakitan, ia menggenggam tangan Adis yang memitingnya dan tanpa basa-basi langsung menggigitnya, “Grrrr!!!”
“ALALALALALA!!” sekarang Adis yang tertatih kesakitan.
Selagi Adis dan Desy bergulat-gulat dilantai, maka Direktur berbicara dengan petinggi Redrum lainnya.
“Masalah ini sudah ada pemecahannya, sekarang tinggal anggota kita yang dirumah sakit itu. Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Direktur.
“Terakhir kali yang saya tahu dari Yona kalau Dion bersama polisi itu masih tak sadarkan diri,” ulas Pak Hengky.
“Ada siapa saja anggota kita disana?” tanya pak Yuda.
“Enu, Vienny, Yona, Reno dan Ozy. Saya juga mau kesana nanti,” jelas pak Hengky.
“Saya mau ke-Istana presiden, dan tolong urus sisanya,” pinta pak Direktur sambil menyalakan cerutu.
Setelah bunyi alarm berhenti maka Direktur bersama petinggi Redrum segera keluar ruangan. Dan saat mereka keluar mereka sudah disambut anggotanya dengan senjata api mengacung kearah mereka.
“Loh pak?” Manda menyeringitkan dahi mewakili anggota Redrum yang lain.
“Kalian kenapa?” tanya Direktur cuek.
“Tadi kami...”
“Waspadalah! Mereka Direktur dan petinggi palsu!” potong Ega.
“K-Kamu tau darimana?” tanya Farin yang takut dan mengintip Direktur dan petinggi Redrum dibalik badan Ega.
“Muka mereka jelek semua!” seru Ega dengan alasan yang dipaksakan, tentu saja itu dilakukannya agar Farin terpesona dengan kekerenannya.
“Bukankah emang jelek dari dulu?” tanya salah satu anggota Redrum.
“Apa kalian tidak lihat? Lubang hidung sebelah kanan pak Agung tak mungkin segede itu!” seru Ega dengan alasannya.
“Betul juga! Apalagi bulu hidung pak Hengky tak keluar dari hidungnya!” seru salah satu anggota lain.
Akibat penilaian tersebut membuat semua anggota Redrum lagi-lagi bersiaga dan mengarahkan senjata mereka semua kearah Direktur dan petinggi Redrum.
“Haaah,” Direktur menghela nafas dan memandang Ega, “Gaji kalian saya potong 2 juta masing-masing dari kalian, dan yang menghina kami tadi kami potong 3 juta.”
Semua terdiam, begitu juga Ega.
“Kok... dia bertingkah menyebalkan seperti Direktur?” tanya anggota Redrum kepada Ega.
“Iya, pake acara nurunin gaji lagi diungkit-ungkitnya. Seperti Direktur keparat itu!”
“Mereka benar-benar jago melakukan penyamaran! Siapa kalian? Lepas topeng kulit yang kalian pakai!”
“Hmm,” Manda memiringkan bibir dan menurungkan senjatanya.
“Ega...” Farin menarik-narik pakaian Ega dari belakang.
Tak ada jawaban dari Ega, tubuhnya kaku dengan posisi mengarahkan senjata seperti itu sampai akhirnya keluar suara dari mulutnya.
“... Mereka asli...” Ega menurunkan senjatanya, ekspresinya datar bukan main.
“Apa?” seru semua anggota.
“Lubang hidung saya gede ya?” tanya pak Agung dengan mulut nyenyir.
“... Lalu gaji kami?”
“Saya tidak akan menarik kata-kata saya,” Direktur dengan cuek berjalan menuju ruangannya, begitu juga petinggi Redrum yang lain.
Pak Hengky kemudian menjelaskan seadaanya tentang bunyi alarm dan ledakan tadi. Mendengar hal itu membuat anggota Redrum lainnya lega sekaligus kesal, kecuali Manda yang cengengesan memandang Ega karena Ega menjadi bulan-bulanan anggota Redrum lain karena gaji mereka diturunkan.
 N U M E R I
P
ukul 9 pagi terlihat seorang wanita muda berjalan memasuki rumah Dion dengan kunci yang dibawanya. Hal ini tentu saja menarik perhatian Frieska yang baru pulang dari mini market terlebih lagi tadi dia bersama wanita itu berjalan dari depan komplek rumahnya.
Apa keluarganya Dion?” pikir Frieska sambil mengemut es krim.
Ini sedikit menarik perhatian Frieska karena selama 3 hari ini dia tidak melihat sosok tetangganya tersebut, bahkan rumah Dion sedari kemarin gelap seolah tidak ada yang menempatinya. Dan kedatangan wanita yang memasuki rumah tetangga itu tentu saja menarik perhatiannya.
“... Dia kemana ya...” batin Frieska penasaran.
Bunyi garasi terbuka menarik perhatian Frieska kembali, dari pekarangan rumahnya itu ia berjalan kearah dinding pembatas dan melihat wanita tadi membuka garasi rumah Dion.  Wanita itu kemudian memasuki mobil Dion dan menghidupkannya, mobil Dion yang berupa sedan hitam itu pun dikeluarkannya dan diparkirkannya dihalaman rumah.   Wanita itu kemudian turun dan hendak menutup garasi.
“Apa kutanyain dia saja ya...” gumam Frieska.
“Dion!”
Frieska sedikit terkejut dan menoleh kebelakang, ia melihat sosok kakaknya yaitu Melody berlari tergopoh-gopoh dengan seragam kerjanya. Raut wajah Melody begitu cemas karena selama 3 hari ini juga dia tidak bertemu dengan Dion bahkan handphone Dion tidak bisa dihubunginya.
“Apa itu Dion?” tanya Melody kepada adiknya.
“Bukan,” Frieska menggeleng.
“Terus?”
Bunyi garasi yang tertutup membuat Frieska gagal memberikan jawabannya.  Melody menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang wanita berambut panjang berjalan menuju mobil Dion. Akan tetapi wanita ini tertegun karena ia melihat 2 orang wanita melihat dirinya, yakni tetangganya Dion.
“... Dia siapa?” pikir Melody.
Merasa dilihat terus maka wanita ini tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya sedikit untuk mengucapkan salam, “Pagi.”
“Emm pagi,” balas Frieska mewakili Melody.
“Yang tadi didepan komplek kan?”
“I-Iya,” Frieska mengangguk.
“Oh maaf, aku tidak tahu kalau kamu tetangganya Dion. Maaf atas ketidak sopananku tadi,” wanita ini kembali tersenyum dan menundukan sedikit kepalanya.
Mendengar wanita ini mengungkit nama Dion maka Melody berkata, “Dion dimana?”
Wanita ini terdiam memandang Melody, alisnya naik sebelah dan tertawa ringan, “Kalau gak salah kamu ini yang bekerja dihotel tempat kami kan?”
Mendengar kata ‘Tempat kami’ membuat Melody tertegun.
“Ya...” Melody menangguk, “... Kamu siapa?”
“Aku Shani.”
“Shani,” Melody diam sejenak, “Apa kamu juga...”
“Iya,” potong Shani sambil merentangkan tangan, karena ia melihat Frieska. Seperti biasa Shani bisa menebak apa yang mau ditanyakan oleh Melody dan tentu saja ia tidak akan membiarkan Frieska tahu akan hal itu.
“O-Oh...” Melody juga baru tersadar saat melihat Shani memandang adiknya.
“Hmm,” Shani tersenyum, “Tadi kamu menanyakan Dion?”
“Ya!” seru Melody tiba-tiba karena ia memang cemas selama 3 hari ini.
“Hmm,” Shani mengangguk dan memandang Frieska, “Apa kamu juga ingin tahu?”
“Eh?” Frieska tertegun dan membatin, “Tau darimana dia?
“Raut wajahmu yang mengatakannya,” Shani tersenyum seolah tahu apa yang Frieska ingin tanyakan.
Frieska kaget tapi ia buru-buru membantah, “E-Enggak, enggak kok...”
“Benarkah?” Shani menyeringitkan dahi.
“Emm aku masuk dulu,” pamit Frieska yang gegalapan.
Frieska kemudian membuka garasi rumah yang posisinya dekat jaraknya, akan tetapi setelah memasuki garasi ia tidak masuk kedalam rumah. Ia berdiam disitu untuk mendengarkan perbincangan antara Shani dan Melody dibalik garasi. Sedangkan Shani berjalan ketempat Melody, sebuah tempat dimana Dion dan Melody sering mengobrol dimalam hari.
“Boleh aku tahu namamu?” tanya Shani, tangannya dilipat diatas pagar pembatas, tepat disamping Melody.
“... Melody...”
“Nama yang sangat bagus,” Shani tersenyum dan menoleh, “Sekarang aku yakin kalau kalian bertetanggaan, dia pernah memberitahukan hal ini.”
“Oh... apa kamu ini... anggota Redrum?” tanya Melody.
“Ya,” Shani mengangguk.
Melody terdiam, begitu juga Frieska yang berada dibalik garasi, matanya terbelalak mendengar hal itu, “D-Dia juga anggota itu ya...
“Terus... Dion dimana?” Melody menoleh kearah Shani.
“Dion...” Shani menoleh kedepan, “... Sekarang dia berada dirumah sakit.”
“Rumah sakit?” Melody menyeringitkan dahi.
“Ya,” Shani mengangguk, “Ia tak sadarkan diri selama 3 hari ini.”
“Apa?!”
Bukan main terkejutnya Melody menerima penjelasanan Shani, begitu juga Frieska. Ia ingin tahu kenapa Dion bisa mengalami hal tersebut, akan tetapi ia tidak mungkin keluar dari garasi dan tertangkap basah menguping. Dia yakin kakaknya bisa mewakili rasa penasarannya dan benar saja, Melody segera bertanya.
“Kenapa? Apa yang terjadi padanya?” Melody benar-benar cemas.
Shani tersenyum tipis, melihat gelagat Melody seperti ini membuat dia yakin kalau Melody menyukai Dion, seperti yang pernah Dion jelaskan kepadanya dulu. Akan tetapi bukan ini prioritas utamanya sekarang.
“Ingat dengan aksi penggerebekan yang kemarin?”
“Ya, apa...”
“Ya. Kami juga melakukannya, Dion juga termasuk. Terlebih lagi ia juga mengejar pelaku utamanya.”
“Dia mengejar pelaku utamanya?” Melody terbelalak.
“Ya, ada direkaman berita bukan pengendara motor mengejar 2 mobil dan 1 motor itu? Itu dia.”
“Ya Tuhan...” Melody menutup mulutnya, begitu juga yang dilakukan Frieska didalam garasi, “Jadi itu Dion?!!” pikirnya.
“Dia mengejar pelaku itu bersama 5 anggota kami, tapi seperti yang diberitakan kalau pelakunya berhasil melarikan diri. Dan Dion... dia ditemukan pingsan, tubuhnya lecet dimana-mana, dan kedua pahanya ditembak... dengan cedera separah itu kurasa itulah penyebab ia tak bisa sadarkan diri sampai sekarang.”
“Dion...” alis Melody mengkerut, bisa terbaca kalau ia sangat sedih menerima kabar pria tersebut.
Kau bodoh!” seru Frieska dalam hati, ia juga terlihat cemas mendengar kabar Dion sekarang ini.
“... Apa kau menyukainya?” tanya Shani.
“Eh?” Melody tertegun.
“Hmm,” Shani tersenyum, karena tanpa perlu Melody menjawab ia sudah tahu jawabannya dari raut wajah yang Melody tunjukan, “Lupakan pertanyaanku tadi.”
“Emm...” Melody juga merasa itu bukan pertanyaan penting, maka ia menanyakan sesuatu yang penting baginya, “Dia dirumah sakit mana?”
“Rumah sakit besar yang berada dekat dengan Bank Indonesia, kurasa kau tahu rumah sakit apa yang kumaksud. Apa kau berniat menjenguknya?”
“Apa bisa?”
“Kalau boleh jujur... tidak,” Shani menggelengkan kepala, “Dion itu salah satu saksi penting, ia dijaga oleh anggota kami dan beberapa polisi sampai ia siuman. Kalau kau kesana kurasa kau tidak akan dikasih izin lewat oleh anggota kami, kecuali keluarganya. Tapi... dia tidak memiliki anggota keluarga.”
Mendengar itu membuat Melody menunduk sedih dan merasa perkataan Shani benar adanya, meskipun ia tetangganya pasti tidak akan diizinkan masuk keruangan karena ia bisa dibilang orang luar.  Tahu apa yang menjadi pikiran Melody maka Shani berkata.
“Tenang, akan kuberitahu kalau kau mencarinya saat dia siuman.”
Melody memandang Shani, ia masih membisu.
“Ini bukanlah hal yang penting untuk dibahas sekarang,” Shani tersenyum, “Tapi aku juga sama sepertimu, ya seperti ini.”
“Maksudnya?”
“Rahasia,” Shani tertawa, karena ia berhasil membuat Melody penasaran. Dan tentu saja yang Shani maksud adalah kalau dia juga menyukai Dion seperti hal nya Melody. Terlebih lagi gelagat Melody mengingatkan dirinya sendiri sewaktu mengetahui kondisi Dion sewaktu pertama kali ditemukan, ia cemas setengah mati. Seperti hal nya Yona.
“... Emm maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti.”
“Gak usah dipikirkan, mungkin setelah dia siuman nanti dia baru boleh dijenguk. Nanti aku akan memberitahukanmu.”
“Bagaimana?”
“Lewat telepon, kalau boleh jujur datamu pasti ada di-database kami. Termasuk nomor handphone umum yang kau gunakan.”
“Oh... bener juga...”
“Kalau boleh tahu aku ingin tahu nama panjangmu agar aku mudah mencarinya, kau tahu kalau ada orang lain juga yang menggunakan nama Melody, bukan hanya dirimu saja di-Indonesia ini,” Shani mengeluarkan handphone khusus Redrum-nya.
“... Melody... Melody Nurramdhani Laksani.”
“R-nya 2 dibagian Nurramdhani?” Shani mencoba memastikan.
“Ya,” Melody mengangguk.
“Hmm,” Shani kembali berkutat dengan Handphone-nya untuk mencari data tentang Melody.
“... Kalau boleh tahu kenapa kau membawa mobil Dion?” tanya Melody disela Shani menunggu loading pencarian.
“Oh itu,” Shani menoleh sebentar kebelakang untuk melihat mobil Dion dan kembali melihat handphone-nya, “Aku mengambil kunci rumah dia disakunya, kurasa nanti dia mau pulang dengan kendaraannya daripada kendaraan orang lain nanti saat ia mau keluar dari rumah sakit.”
“Gitu...”
“Oke, ini nomor Handphone-mu?” Shani menunjukan data dan profil Melody.
“Ya...” Melody tertegun melihat datanya, bahkan nomor handphone saja berhasil diketahui oleh Redrum.
“Aku dulu juga kaget saat mereka mengetahui nomor handphone-ku, katanya sih diambil dari provider-nya. Makanya tadi aku memastikan, takutnya kau mengganti nomor HP mu,” ujar Shani sambil melihat profil Melody.
“Jaringan informasi tempat kalian benar-benar menyeramkan...” komentar Melody.
“Ya,” Shani tertawa ringan, “Oh kedua saudaramu perempuan ya?”
“Ya,” Melody mengangguk ringan.
“Apa enak memiliki saudara perempuan?” tanya Shani sambil melihat profil Citra dan juga Frieska.
“... Kenapa?”
“Aku juga memiliki 2 saudara, laki-laki, dan tentu saja mereka berdua terkadang bersikap menyebalkan,” Shani tersenyum.
“Emm ya... terkadang sih...”
“Aku juga sempat memiliki seorang kakak perempuan, meskipun aku seenaknya mengangkat dia menjadi kakakku. Hmm, rasanya menyenangkan memiliki kakak perempuan,” Shani tersenyum sambil memandang profil Frieska.
“Begitu... apa dia mengetahui pekerjaanmu?”
“Tidak,” Shani menggeleng kepala, “Bahkan ia sudah meninggal.”
“Eh? Meninggal kenapa?”
“Kecelakaan,” Shani tersenyum dan memandang Melody, “Dan tidak perlu meminta maaf karena itu ya?”
“Eh? Kenapa kau tahu?” Melody terkejut karena tadi dia memang ingin mengatakan, ‘Maaf dan aku turut berduka cita.’
“Basa-basi umum kok itu hehe, kalau begitu aku pamit dulu ya?”
“Emm i-iya, tapi...”
“Tenang, akan kuberitahu kok kalau dia udah siuman nanti kalau kau mencarinya.”
“Anu...” Melody benar-benar bingung bagaimana Shani bisa mengetahui jalan pikirannya.
“Tapi sebelumnya aku ingin memastikan sesuatu.”
“Memastikan?” Melody menyeringitkan dahi.
“Ya,” Shani mengangguk dan menunjukan data Frieska dengan handphone Redrum-nya, “Apa ini nomor HP-nya?”
Melody melihat nomor Handphone Frieska dan mengangguk, “Ya, lalu untuk apa?”
“Oh,” Shani kembali berkutat dengan handphone-nya dan tersenyum, “Sebentar ya?”
Melody menyeringitkan dahi memandang Shani yang hendak melakukan sambungan telepon dengan handphone-nya. Akan tetapi tiba-tiba ada suara yang menarik perhatian mereka berdua dibalik garasi.
Aduuh! Ini siapa sih yang nelpon?” batin Frieska, ia gegalapan dan buru-buru mengeluarkan Handphone untuk mematikan telepon dari nomor Handphone yang aneh, yaitu 43234, “Nomor apa ini?” pikir Frieska dengan alis mengkerut.
“Itu...” Melody menyeringitkan dahi memandang garasi rumahnya.
“Hahaha,” Shani tertawa melihat Frieska memutuskan panggilan teleponnya, “Sudah kuduga adikmu menguping.”
Dia tahu darimana?!!” batin Frieska gegalapan didalam garasi.
“Lain kali jangan mencoba berbohong didepanku ya?” kata Shani kepada Frieska dibalik garasi, setelah itu ia memandang Melody, “Kalau begitu aku permisi, dan sampaikan permintaan maafku kepada adikmu.”
“Eh? O-Oh i-iya...” Melody mengangguk.
Shani kemudian memasuki mobil dan keluar dari pekarangan rumah, ia keluar lagi untuk menutup pagar dan kali ini ia benar-benar pergi menggunakan mobil Dion. Sementara itu Melody dengan cepat membuka garasi rumah dan melihat sosok adiknya yang ketangkap basah.
“Kamu ngapain, Mpris?”
“I-Itu anu, itu...” Frieska tentu saja kelabakan mencari alasannya.
Dengan perasaan malu maka Frieska berlari kedalam rumahnya, sementara itu Melody menyeringitkan dahi dan memandang arah kemana Shani tadi pergi.
Dia tahu darimana kalau Frieska menguping...” tanyanya dalam hati.
Begitu juga yang dipikirkan Frieska saat sudah sampai dikamarnya.
D-Dia tau darimana sih kalau aku menguping?!” serunya.
Sementara itu Shani tersenyum dan mengingat-ingat raut wajah Frieska sebelum adik Melody ini menghilang dibalik garasi rumahnya.
“Hmm Dion... sepertinya bukan hanya Melody, akan tetapi juga adiknya. Dasar Playboy! Genit! Genit!” seru Shani dengan wajah masam, akan tetapi ia tersenyum kembali mengingat kalau Dion bukanlah pria seperti itu, meski ia sedikit membenarkan hal yang genit dari pria tersebut.
Itulah yang membuat Shani berpikir kalau Frieska pasti menguping terlebih lagi jarak garasi itu dekat sekali jaraknya dengan tempat dia berbicara dengan Melody tadi. Apalagi tadi ia melihat raut wajah Frieska juga cemas seperti Melody karena tidak mengetahui kabar Dion selama 3 hari ini.
 N U M E R I
S
uasana dirumah sakit layaknya seperti rumah sakit biasa. Perawat berlalu lalang dan keluarga pasien hilir mudik sekedar melakukan urusan dengan rumah sakit atau pun mencari kesenggangan dalam waktu mereka menjaga keluarga mereka. Akan tetapi tidak dengan suasana dilantai 2 diruangan paling ujung karena disana ada 3 polisi berjaga diluar dan juga beberapa anggota Redrum.
“Dia masih belum sadar!” kata Reno kepada Enu, Ozy, Yona dan Vienny diluar ruangan.
Setelah berkata seperti itu maka Reno kembali memasuki ruangan, 5 menit kemudian dia keluar lagi.
“Dia masih belum sadar!”
Ozy yang kesal melihatnya segera menarik Reno dan menyeretnya ketempat Enu berkumpul bersama yang lain.
“Kau tak perlu melakukan aksi Live Report seperti itu, kami semua pun tahu kalau dia belum siuman!” Yona tampak kesal sambil melipat tangan.
“Ya, bisakah kau hentikan itu?” sambung Vienny.
“Tapi kan...”
“Hei!” Ozy mencengkram kerah baju Reno dan melotot, “Dengar bangsat, perilaku kau ini menurunkan derajat organisasi kita! Kau begitu konyol keluar masuk hanya untuk melakukan ini! Kau pikir hanya kita saja yang ada disini? Polisi-polisi sialan itu juga ada disini!”
“Aku melakukan ini agar kalian tahu,” ujar Reno.
“Kau melakukan itu sebanyak 20 kali, kami sudah cukup tahu jadinya,” balas Enu cuek.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Oke bedebah sialan, kalau kau khawatir dengan panutan kau itu lebih baik kau menunggu didalam saja. Dan keluarlah kalau dia sudah benar-benar siuman! Mengerti?” tanya Ozy dengan nada sinis.
“Oh benar juga!” Reno menepuk telapak tangan kirinya.
“Yaudah sana,” suruh Yona.
Ozy melepas cengkraman tangannya dan membiarkan Reno memasuki ruangan. Setelah kepergiannya maka Yona mengeluarkan selembar foto dari tasnya.
“Loh,” Vienny menyeringitkan dahi, “... Itukan...”
“Ya, foto mendiang istrinya,” Yona menyerahkan foto itu kepada Vienny.
“Kenapa kamu bisa memilikinya?” tanya Vienny.
“Dari Enu,” jawab Yona.
Vienny sontak memandang suaminya tersebut, seolah tahu istrinya hendak menanyakan pertanyaan yang sama maka Enu menjawab.
“Foto itu ditemukan anggota kita dilokasi tempat dimana Dion dan polisi itu ditemukan.”
“... Begitu...” Vienny kembali memandang foto mendiang sahabatnya tersebut.
“Apa foto itu?” tanya Ozy.
“Mungkin,” Enu mengangguk sambil melipat tangan.
“Maksudnya?” Vienny menyeringitkan dahi.
“Dion sampai melanggar perintah dan mengejar pelaku gara-gara foto itu, foto itu katanya ada ditempat yang kami serang kemarin,” kata Yona menjelaskan.
“”Kok...” Vienny memandang Yona, “... Kenapa foto Veranda ada disana?”
“Entahlah,” Yona mengambil foto itu dan memandangnya lagi.
“Tindakannya itu bisa kumengerti,” kata Ozy dan duduk disamping Yona untuk melihat foto yang sama.
“Ya,” Enu juga duduk dikursi yang ada dihadapan mereka bertiga, “Pria mana juga yang tidak penasaran akan hal itu terlebih lagi kalau itu istrinya sendiri.”
“Kalau tak salah Dion dulu menjadi pengawas gara-gara wanita ini bukan?” tanya Ozy.
“Ya...” Vienny mengangguk, “Untuk mengurangi pembunuhan yang ia lakukan...”
“Oh... sewaktu dia menjadi pengawasku sewaktu aku pindah kesini bukan?” tanya Yona dan Vienny mengangguk.
“Heh,” Ozy terkekeh sebentar, “Kalau hal itu aku tak mengerti, aku tak pernah merasakan atau melakukan sesuatu untuk wanita.”
“Curhat pak?” Enu cengengesan.
“Sedikit,” Ozy memiringkan bibir.
“... Dia benar-benar cantik...” Yona tersenyum memandang potret Veranda, terlebih lagi difoto tersebut Veranda tampak bahagia dan tersenyum kepada seseorang yang ia peluk pergelangan tangannya, yakni Dion meskipun wajah Dion terhalang.
“Dan baik, aku pernah dijamunya ayam bakar waktu bertamu kerumah Dion bersama Damar,” ujar Ozy sambil menguap, “Tapi aku pernah juga melihatnya marah saat Dion merokok didepannya,” dan cengengesan.
“Aku juga pernah melihatnya, muka Dion disiramnya pake air untuk memadamkan rokok,” Enu terkekeh, Vienny juga tertawa ringan karena saat itu dia juga bersama Enu melihat Veranda memarahi Dion.
“Hmm,” Yona tersenyum tipis dan melihat ruangan tempat dimana dijadikan ruangan rawat inap Dion dan Bayu, “... Kalau istrinya masih hidup, bagaimana reaksinya melihat dia sekarang ini...”
“Kau benar, 3 hari ini termasuk lama bagi orang seperti dia,” sambung Enu.
“Luka separah itu tentu saja wajar bukan?” ulas Vienny.
“Dion itu salah satu dari 26 orang yang memiliki fisik dan tenaga yang kuat diorganisasi, seperti hal nya aku. Bukankah kemarin lukaku lebih parah darinya? Tapi sehari saja aku sudah siuman,” kata Ozy.
“Iya sih...” Vienny memanggut.
“Haaah,” Enu menghela nafas dan mencari posisi yang enak bagi dia untuk bersandar, “Yang pasti dia tidak akan mati, lagipula kata dokter pahanya sudah membaik dari kemarin.”
“Ya...” Yona tersenyum dan kembali memandang foto Veranda, “Kau benar-benar sosok yang sempurna baginya... entah apa aku juga bisa menjadi seperti dirimu...” batinnya.
Mereka semua berdiam diri.  Vienny memandang foto Veranda yang dipegang Yona, ia tersenyum karena terkenang akan semua kenangan ia bersama Veranda sewaktu sahabatnya itu masih hidup. Sementara itu Ozy dan Enu berupaya untuk mencuri waktu tidur karena mereka sedari kemarin berjaga dirumah sakit.
“Bagaimana keadaannya?”
Ozy dan Vienny menoleh, terlihat Naomi baru saja datang dan berbicara dengan 3 orang polisi yang duduk menunggu didepan ruangan. Enu yang membuka sedikit matanya kemudian menjeling kearah Naomi.
“Zy, cewek lu tuh,” Enu terkekeh.
“Sialan!” Ozy kesal dan menendang kaki Enu.
“Ng?” Yona juga menoleh kearah Naomi dikejauhan, “Oh dia.”
“... Apa sebaiknya kita mengajak ia mengobrol?” Vienny meminta pendapat.
“Kenapa?” tanya Yona.
“Selama 3 hari dia sering kesini untuk melihat temannya itu, dan tak ada yang diperbuatnya selain menunggu temannya siuman didalam. Sekalipun diluar dia hanya termenung dan duduk disitu,” ujar Enu.
“Oh,” Yona mengangguk dan menepuk paha Ozy, “Kenapa gak kamu ajak ngobrol?”
“Harus ya?” Ozy menguap.
“Dih, tipikal cowok sok keren! Mati saja sana!” seru Yona.
“Lah, kenapa malah lu yang sewot?” Ozy ikutan sewot jadinya.
Naomi terus berbincang sampai salah satu polisi memasuki ruangan, setelah itu Naomi duduk diseberang 2 polisi yang kembali berbincang-bincang. Dan benar apa yang dikatakan Enu sebelumnya karena Naomi memilih diam tanpa melakukan apa-apa.
“Omi...”
Mendengar suara itu membuat Naomi menoleh kekanan dan ia melihat Vienny memanggilnya.
“... Apa?” respon Naomi pelan.
“Sini,” ajak Vienny sekali lagi.
Naomi menoleh kedepan dan melihat kedua personil polisi menganggukan kepala, seolah diberi izin maka Naomi berdiri dan menghampirinya.
“Ada apa?”
“Sini duduk, Yona geser dong,” pinta Vienny.
“Sempit. Zy, duduk dengan Enu sana,” usir Yona.
“Ye-iye,” Ozy mengalah dan duduk disamping Enu.
“Nah, sini-sini,” Vienny menepuk bangku kosong disampingnya.
Naomi melihat satu per satu anggota Redrum yang ada disitu, dan sedikit aneh melihat tingkah Ozy yang sepertinya tidak memperdulikan keberadaannya.
“Ada apa?” tanya Naomi setelah duduk.
“Gak ada apa-apa, ngobrol-ngobrol aja,” Vienny tersenyum.
“Oh,” Naomi memanggut akan tetapi ia menyeringitkan dahi, karena ia melihat Ozy mencuri pandang akan tetapi dengan cepat membuang muka.
“Nama temenmu itu siapa?” tanya Enu membuka obrolan.
“Oh, namanya...”
“Bayu,” potong Ozy, Enu menyeringitkan dahi memandang rekannya tersebut, begitu juga Yona dan Naomi karena sehabis menyebutkan nama maka Ozy membuang muka kesamping.
“Yang ditanya yang jawab siapa,” Enu memiringkan bibir dan kembali memandang Naomi, “Kalian 1 kesatuan?”
“...Ya...” Naomi mengangguk.
“Apa dia itu kekasihmu?” tanya Vienny.
“Bukan!” seru Ozy sehingga membuat Vienny, Enu, Naomi dan Yona kompak memandangnya.
“Kenapa malah lu yang jawab?” Enu menyeringitkan dahi.
“Apa salahnya?” Ozy menguap, lebih tepatnya berpura-pura menguap.
“... Cemburu?” tanya Yona.
“Beh! Cemburu? Apaan? Beh! Beh!” Ozy meludah-ludah kesamping.
“Gak usah diperduliin deh,” Vienny memiringkan bibir dan memandang Naomi, “Jadi temen biasa?”
“Ya,” Naomi mengangguk, “Dan temen kalian itu...”
“Namanya Dion, itu dia orangnya,” potong Ozy.
“Lo nape sih?” dahi Enu mengkerut.
“Palingan dia mau nanya namanya, heh,” Ozy mendesir penuh kemenangan.
“Enggak, aku tadi mau bertanya apa teman kalian ada perubahan,” balas Naomi yang merasa lucu melihat sikap Ozy.
“Tapi habis itu mau nanya namanya kan?”
“Enggak,” Naomi menggeleng.
“Pfft, nape pak?” Enu terkekeh memandang Ozy yang mendumel-dumel sendiri.
“Caper,” bisik Vienny, Naomi menahan tawa dengan senyuman. Setelah itu Vienny kembali berbicara, “Yah, tidak ada perubahan... dan sepertinya temanmu dan temenku itu jodoh dalam urusan luka, kedua paha mereka sama-sama ditembak.”
“Ya... dan tak kusangka akan selama ini...” Naomi tersenyum tipis.
“Terus bagaimana dengan investigasi kepolisian?” tanya Vienny.
“Maaf, aku dilarang mengatakannya, tapi yang pasti pria bernama Milo dan Birwan menjadi target utama dalam kasus ini.”
“Birwan ya... benar-benar seperti belut, bagaimana caranya dia kabur dari Jakarta...” gumam Yona.
“Dia mempunyai banyak koneksi,” Enu menguap.
“Itu juga yang dikatakan atasanku,” sambung Naomi.
“Jangan-jangan yang membantu dia bersembunyi sikelompok itu,” ujar Ozy dengan senyum sinis.
“Bisa jadi, kelompok itu netral terlebih lagi mereka mau melakukan apa saja demi uang,” gumam Enu.
“Heh, terlebih lagi mereka diuntungkan dengan teritorial yang tidak bisa kita masuki gara-gara perjanjian.”
Naomi yang mendengar itu menyeringitkan dahi dibuatnya.
“Kelompok apa?” tanyanya penasaran.
“Maaf, orang luar tidak boleh tahu,” ujar Ozy dengan senyum sinis seolah-olah ingin membalas perkataan Naomi sebelumnya yang tidak bisa memberitahu soal investigasi yang dilakukan polisi.
Black Snake,” Enu menguap.
“Eh? Pembunuh bayaran itu?” Naomi terkejut.
“Kenapa lo malah ngasih tau?” Ozy sewot.
Black Snake bukan rahasia umum lagi bagi orang kepolisian bahkan Redrum,” Enu memiringkan bibir.
Ozy lagi-lagi mendumel sehingga membuat Enu terkekeh, kecuali Naomi yang tampak antusias dengan pembicaraan ini.
“Tunggu, kelompok? Jadi Black Snake itu bukan nama seseorang? Tapi Kelompok?” tanya Naomi.
“Iya, itu nama kelompok pembunuh bayaran. Pusatnya disini tapi mereka biasanya sering beraksi di Bali,” jawab Vienny.
“Kau tidak tahu akan hal itu?” sambung Yona.
Naomi menggeleng, “Tapi hasil investigasi kami juga mengatakan mungkin Birwan dibantu oleh sindikat kriminal dan salah satunya Black Snake, tapi aku mengira itu nama kode seseorang...”
“Oh begitu,” Vienny memanggut-manggut.
“Dan tanpa sadar kau sudah memberitahukan sedikit hasil investigasi ditempatmu itu,” kata Ozy.
“Emmm,” Naomi memiringkan bibir dan malas mengakuinya.
“Ya mungkin kalau pihak kalian yang menanyakan masih bisa, tapi kalau kami... hmm,” Enu menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Susah dijelaskan,” Vienny tersenyum.
“Jangan kau bikin dia penasaran, dia itu wanita penasaran. Tapi tetap jangan harap kami beritahu kenapa kami tidak bisa menanyakannya terhadap mereka,” kata Ozy ketus terhadap Naomi.
“Hmm,” Naomi memincingkan matanya, “Apa dengan cara ‘Itu’ kau mau memberitahukannya?”
“Itu?” Vienny menyeringitkan dahi karena dirasa itu adalah sebuah kode antara Naomi dan Ozy.
“Ya dia akan mau memberitahu kalau...”
“Hei!” potong Ozy, “Jangan pernah sekalipun kau memberitahu akan hal itu!”
“Kenapa?” tanya Naomi santai.
“P-Pokoknya awas saja!”
“Yaelah,” Enu memiringkan bibir.
“Lagian gara-gara perbincangan tadi arah pembicaraannya jadi kemasalah ini. Lain kali cari topik yang tidak mengungkit privasi seseorang!” ulas Ozy ketus.
Naomi memandang Ozy, begitu juga Ozy, Vienny dan Yona. Tanpa basa-basi Enu yang berkata, “Kan elu sendiri yang bikin topik pembicaraan tadi!” serunya kesal.
“Eh? O-oh... ooooh,” Ozy membuang muka menahan malu.
“Kode-kode segala,” sindir Yona.
“Hei!” Ozy melotot.
“Apa? Mau kucolok matamu?” Yona juga tak mau kalah.
“Ngomong-ngomong tadi katanya temen kalian didalam itu namanya Dion?” tanya Naomi kepada Vienny.
“Iya, kenapa?”
“Oh enggak,” Naomi mendelik kearah Ozy, “Aku jadi teringat seseorang yang mengaku-ngaku sebagai pacarku dirumah, dan mengaku dirinya bernama Dion.”
“Apa?” Yona menyeringitkan dahi.
“Tapi lucunya bukan Dion yang didalam ruangan itu yang kumaksud,” lanjut Naomi.
“Emang siapa?” Vienny penasaran.
“Entahlah, gak tahu malu ya? Pake nama orang lain buat urusan pribadinya,” Naomi meminta pendapat Vienny.
“Orangnya gak percaya diri berarti, mati sajalah orang kayak begitu,” komentar Yona santai sambil melipat tangan.
“I-Iya, gak tahu malu sekali tuh orang! Kalau gue sih bakalan pake nama gue sendiri,” sambung Ozy.
“Kenapa muka lu merah-merah gitu?” Enu menyeringitkan dahi.
“Diem lu!” Ozy mendengus kesal dan membuang muka.
Naomi menahan tawa sedari tadi melihat tingkah Ozy, apalagi Ozy ikut berkomentar ikut mengaburkan topik pembicaraan yang Naomi buat agar arah pembicaraannya tidak tertuju kepadanya. Tak lama kemudian Shani datang menghampiri mereka dan melempar kunci mobil dan rumah Dion kepadanya.
“Darimana?” tanya Enu.
“Rumah Dion, ngambil mobilnya. Bagaimana dengannya?” tanya Shani sambil duduk disebelah Enu.
“Belum siuman, sekarang Reno yang berjaga didalam.”
“Begitu,” Shani yang asyik mengunyah permen karet kemudian memandang Naomi, “Siapa?”
“Naomi,” jawab Naomi santai.
“Shani,” begitu juga Shani.
Shani?... berarti dia ya anggota organisasi yang katanya otaknya encer,” pikir Naomi dan ia mengetahui tentang Shani dari Ozy dulu.
Naomi... hmmm,” batin Shani, ia kemudian mendelikan matanya kearah Ozy, “Kalian mau kencan habis ini?”
“Kencan?” Yona, Enu dan Vienny kompak memandang Ozy.
“A-Apanya? Kencan apaan? Lu kalau mabok jangan kesini Shan, dirumah aje! Mabok kok kerumah sakit!” Ozy gegalapan mencari alasan.
“Oh,” Shani tertawa sambil melipat tangan, ia kembali menoleh kearah Naomi, “Itu ideku, dia memintaku mencari cara untuk kencan denganmu dengan menawarkan informasi yang sudah pasti didapatkan pihak kalian dari pihak kami.”
“Oh,” Naomi membelalakan matanya dan menoleh kearah Ozy.
“Oooh!” begitu juga Vienny, Yona dan Enu.
“Kenapa lu kasih tahu?!” Ozy sewot kepada Shani.
“Salah sendiri, kenapa tadi ngatain aku mabok?” respon Shani cuek sambil membuat balon dari permen karet.
“Errr,” Ozy tak berkutik dan salah tingkah didepan Naomi.
“Hmm gitu ya,” Naomi tersenyum penuh arti sambil melipat tangan.
“Kalau kalian mau kencan habis ini boleh aje, kasian yang masih bujangan,” Enu terkekeh.
“Pantas Dhike pernah menanyakan dirimu, jangan-jangan kalian kencan disana ya?” Yona memain-mainkan alis.
“Errrr!!” Ozy benar-benar tak berkutik dan menyalah-nyalahkan Shani karena ini.
Shani terlihat cuek-cuek saja dengan gayanya yang santai, sampai akhirnya mata ia terbelalak, begitu juga Naomi. Mereka berdua kompak memandang pintu ruangan.
“Kenapa?” Vienny penasaran melihat raut wajah Naomi yang serius, begitu juga Shani.
“... Bunyi apa itu...” gumam Shani.
“Kalian!” panggil Naomi kepada 2 polisi yang ada didepan ruangan dan memberinya perintah, “Periksa ruangan sekarang juga!”
“Baik!” kedua polisi itu menyanggupi.
“Ada apa?” Yona begitu penasaran mewakili Vienny, Enu dan Ozy.
“... Apa kau juga mendengarnya?” tanya Shani.
“... Apa kau juga?” Naomi bertanya balik.
“Suara apa?” tanya Enu.
Sementara itu salah satu polisi keluar dari ruangan dengan gelisah, “Gawat!”
“Ada apa?” Naomi segera berdiri dan menghampiri, begitu juga Shani, Ozy, Enu, Yona dan Vienny.
Tanpa perlu menunggu jawaban maka mereka semua melihat kearah ruangan. Mata mereka semua terbelalak melihat Reno dan polisi yang menjaga Bayu sebelumnya meringkuk kesakitan seperti dihantam sesuatu yang kuat diperut mereka berdua.
“Ren!” Enu dan yang lain segera menghampiri.
Dan ketika mereka masuk betapa terkejutnya mereka tempat tidur yang Dion pakai memepet kejendela, bahkan selimut disitu dijadikan tali yang diikatkan ditempat tidur kearah jendela.
“Dion?!!” seru Shani dan Yona karena mereka berdua tidak melihat keberadaan Dion ditempat tidurnya.
“Ren! Dion mana? Apa yang terjadi?” tanya Enu sambil memapah Reno.
“Ughh! M-Maafkan aku... aku tak tahu ternyata sedari tadi ia sudah siuman...”
“Terus kemana dia?”
“Aku tak tahu... aku tadi mau ke toilet, tapi aku mendengar suara rintihan polisi itu dan begitu aku berbalik badan aku sudah diserang oleh Dion... D-Dia mengambil jaket dan kunci motorku...”
“Jangan-jangan...” Ozy segera menuju jendela, ia singkirkan terlebih dahulu dan melihat-lihat.
“Bagaimana?” tanya Yona.
“Sepertinya ia kabur lewat ruangan yang ada dibawah, jendelanya terbuka...”
“Kunci motor... jaket...” mata Shani terbelalak, “Cepat susul dia keparkiran! Dia pasti mau memakai motor Reno!” serunya.
“Sial!” dengan buru-buru Ozy dan Yona segera berlari keluar ruangan untuk mengejar Dion.
“Enu kunci mobil Dion mana?” pinta Shani.
“Kau mau kemana?” Enu melemparkan kunci mobil Dion.
“Buat mengejarnya apabila dia berhasil kabur dengan motor Reno!”
Setelah mendapatkan kunci tersebut maka Shani segera keluar ruangan untuk menyusul Ozy dan Yona. Sementara itu Vienny membantu Enu memapah Reno agar duduk diatas tempat tidur, begitu juga Naomi membantu anggotanya untuk duduk dikursi yang tersedia.
“Anjing! Kok dia punya tenaga seperti itu!” keluh polisi yang dihantam Dion sebelumnya.
“Kau diapakannya?”
“Dibekapnya dari belakang dan pinggangku langsung dihantamnya.”
Naomi terdiam dan melihat Bayu masih tak sadarkan diri, habis itu dia memandang Vienny dan menghampirinya.
“Arrghh!! Sial sakitnya!!” Reno merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
“Kenapa kau tidak berteriak tadi?”
“Bagaimana bisa berteriak? Mulutku tadi dibekapnya! Dibekap lalu ditinju bertubi-tubi perutku ini!”
“Jadi itu yang kudengar...” guman Naomi.
Vienny menoleh dan melihat keberadaan Naomi dibelakangnya.
“Kau mendengarnya?”
“Ya,” Naomi, “Bahkan mendengar suara tempat tidur digeser, mungkin dia mengikatnya terlebih dahulu selimut itu baru dia menyerang mereka berdua, baru habis itu digesernya dan kabur kebawah...”
“... Kau seperti teman kami tadi...” ujar Vienny.
“Maksudnya?”
“Shani, pendengaran dia sangat tajam,” sambung Enu.
“Begitu...”
“Segera beritahu markas dengan kondisi ini,” suruh Enu kepada Vienny.
Sementara itu Ozy dan Yona sudah berada diparkiran dan mereka tentu saja mencari Dion diparkiran tersebut.
“Sial, apa dia sudah kabur?!” seru Ozy.
“Akan aku tanyakan kepada satpam diluar.”
“Bagaimana?”
Mereka berdua menoleh dan melihat Shani sudah menyusul mereka berdua. Melihat raut wajah mereka berdua membuat Shani sudah mengetahui jawabannya.
“Cari dia, Nek! Gunakan mobilmu, dan suruh Adis melakukan pelacakan ditiap CCTV yang ada dikota ini!” suruh Shani.
“Tak perlu kau beritahu aku tentang hal itu, bocah!” Yona mendengus kesal.
Yona dan Shani hendak menuju mobil mereka masing-masing tapi tiba-tiba suara rintihan Ozy menarik perhatian mereka.
“Uggh!!!!”
Yona dan Shani menoleh kebelakang dan terkejut melihat Ozy dihantam perutnya dengan balok kayu oleh Dion. Dan sepertinya Dion sedari tadi bersembunyi dibalik pilar parkiran.
“Dion!!!”
“Uggh!! Apa yang kau lakukan sialan?!” seru Ozy kepada Dion.
“Aku tidak ingin kalian mengikutiku...”
“Dan kau pikir aku akan diam?!”
Ozy hendak menerjang Dion akan tetapi Dion dengan cepat menyerangnya, ditendangnya kaki Ozy dan langsung saja ia menghantamkan balok kayu itu keatas sehingga Ozy tersungkur kebelakang. Setelah itu Dion berjongkok dan memukul perut Ozy dan memukul wajahnya hingga rekan kerjanya itu pingsan.
“DION! APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Yona.
“Hah... Hah...” dengan nafas tersengal-sengal Dion menatap Yona dengan tatapan matanya yang dingin, ia kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Yona.
“... Maafkan aku...”
“Aku takkan... Uggh!!!” rintih Yona saat Dion dengan sekuat tenaga meninju perutnya.
Setelah meninju Yona maka Dion menahan tubuh Yona dengan tangan kirinya, Yona benar-benar kesakitan, dengan sebelah matanya ia menoleh kearah Dion.
“... Kenapa...”
“.... Maaf, setelah berkata seperti itu Dion langsung menyerang pangkal leher Yona sehingga wanita ini pingsan seketika.
Dion membaringkan wanita ini perlahan dilantai parkiran dan ia menadahkan kepalanya untuk melihat Shani.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan kondisimu seperti ini?” Shani mengatup giginya geram.
“Biarkan aku pergi dan jangan minta siapapun untuk melacakku... aku akan kembali kemarkas setelah urusanku selesai...”
“Urusan apa hah?! Sampai menyerang rekan-rekan kerjamu sendiri?!”
“Kalau tidak begini aku tidak mempunyai waktu, aku tahu pasti aku ditanyai soal kasus itu setelah siuman... tapi itu membuang-buang waktu, aku akan kemarkas setelah aku selesai memastikannya... aku ingin segera memastikannya...”
“Memastikan apa?! Hah?! Apa?!” seru Shani.
“Ini urusanku!” Dion menatap Shani tajam.
“Kau ingin menyerangku?”
“Aku tidak punya pilihan...”
“Aku tidak ingin disakiti olehmu... dan aku tidak ingin menyakitimu...”
“Apa kau pikir aku juga mau menyakiti Reno, Ozy, Yona dan polisi diruangan itu?”
“Kalau begitu...” Shani mengeluarkan kunci mobil Dion, “Bawa aku! Aku akan mengantarmu!”
“... Bukankah itu kunci mobilku?” Dion menyeringitkan dahi dengan peluh keringat dikepalanya.
“Ya, aku mengambilnya dari rumahmu!”
“Heh...” Dion sedikit tertawa, “Entah kenapa sifat egoismu itu bisa juga menguntungkanku...” Dion mengeluarkan kunci motor Reno dan melemparnya kebelakang dan tepat mengenai badan Ozy yang pingsan.
“Bawa aku! Aku tidak mau melihatmu seperti ini...” pinta Shani penuh harap.
“Maaf, ini urusan pribadiku... aku tidak mau menuruti keegoisanmu kali ini...”
Dion terus mengampiri Shani dan mengambil kunci mobilnya akan tetapi ditahan oleh Shani.
“Kau benar-benar tidak mau aku menemanimu?”
“Ya...”
“Tapi apa benar kau akan kembali kemarkas?”
“Ya...”
Mendengar hal itu membuat Shani menundukan kepalanya, pegangan kunci itu pun ia relakan untuk diambil Dion. Dan Shani tahu kalau Dion akan membuatnya pingsan sehabis ini karena dia bisa menebaknya dari posisi Dion dan ancang-ancang yang hendak pria ini lakukan.
“... Berjanjilah...” gumam Shani dengan suara pelan.
Dion berdiam sejenak, “Janji?”
“Ya...” Shani menadahkan kepalanya, raut wajahnya begitu sendu, “Berjanjilah kalau kau akan kembali kemarkas...”
“... Baiklah...” Dion tersenyum tipis.
“Dan aku akan membalas perbuatanmu ini nanti disana!” Shani tersenyum dengan wajah yang sendu.
“Maafkan aku.”
Setelah berkata seperti itu maka apa yang diperkirakan Shani benar adanya, Dion menyerang lehernya sehingga gadis ini pun pingsan seketika. Dion membaringkan Shani didekat Ozy dan Yona. Ia bahkan mengambil handphone mereka semua dan memasukannya kedalam tong sampah besar agar mereka bertiga tidak berkesempatan menghubungi markas setelah siuman, kalau dibawa tentu saja pihak markas akan bisa melacaknya. Tak butuh waktu yang lama untuk mencari mobilnya yang diparkir oleh Shani. Dion memasuki mobilnya tersebut dan segera mengebut untuk menuju tujuannya.
N U M E R I
A
pa yang terjadi dirumah sakit tentu saja sudah terdengar oleh tiap-tiap telinga orang yang berada dimarkas Redrum. Terlebih lagi Enu juga memberitahu kalau bukan hanya Reno saja yang diserang oleh Dion akan tetapi Shani, Yona dan juga Ozy. Mereka ditemukan oleh pihak rumah sakit saat hendak keluar menuju mobil.
“Apa dia berkhianat?” Ega menduga-duga.
“Kalau dia berkhianat, dia tidak perlu sampai membuat mereka pingsan, tapi membunuh mereka,” balas Sistim cuek.
“Apa yang dia pikirkan...” gumam Manda sambil melipat tangan.
Tak lama kemudian pintu Lift terbuka dan masuklah Direktur yang langsung berjalan keruang tengah, dimana para anggota yang disuruhnya melacak Dion berkumpul disitu.
“Bagaimana?”
“Sepertinya akan sulit dilacak pak.”
“Sulit bagaimana?” direktur menyeringitkan dahi.
“Kami sudah melacaknya menggunakan CCTV ditiap kota ini.”
“Terus?”
“Tapi tujuan dia adalah arah dimana CCTV tidak bisa menjangkau tempat yang ditujunya tersebut, yang bisa saya ketahui hanya nama jalan terakhir yang ia lalui,” ulas Adis.
“Jalan apa?”
“Jalan Mairarta.”
“Mau kemana dia dengan melewati jalan itu...” gumam Farin.
“Kalau tahu pasti ada yang akan memberitahu sedari tadi,” Manda memiringkan bibir.
“Bener juga... tapi mungkin bisa ditanyakan kepada orang terdekatnya disini, siapa tau dia tau Dion mau kemana bukan?” Farin memberi usul.
“Tapi siapa?”
“Kudengar ada yang dianggapnya sebagai saudara disini bukan? Aku membaca profilnya,” ujar Sistim cuek.
“Oh iya! Enu!” Manda membelalakan matanya.
“Coba hubungi Enu,” suruh Ega kepada Adis.
“Ya hubungi dia,” tambah Direktur.
Tak lama kemudian para petinggi Redrum juga menghampiri tempat mereka dan menanyakan keributan ini. Direktur menjelaskan seadanya selagi Adis berusaha menghubungi Enu.
“Kalau dia berkhianat biar saya yang membunuhnya!” kata pak Yuda.
“Untuk pengkhianat tidak cukup dibunuh, biar kusiksa dia terlebih dahulu dan biar ia mati dengan penyiksaannya,” sambung pak Agung.
“Itu tanggung jawabku,” potong Direktur dan menghidupkan cerutu, “Lagipula saya yakin dia tidak akan berkhianat.”
“Heh, kau percaya sekali dengannya. Apa kau sudah menganggap dia anakmu sendiri?” tanya pak Agung ketus.
“Begitulah.”
Tak lama kemudian suara Enu terdengar dibalik monitor besar yang ada diruangan tengah.
-Ada apa?
“Nu, kami tadi melakukan pelacakan dan pelacakannya berhenti di Jalan Mairarta. Apa kau tahu tujuan Dion melewati jalan itu?”
-Mairarta... Mairarta... Enu terdengar sedang mengingat-ingat.
“Apa makam istrinya?” tanya Ega.
- Bukan, makam istrinya bukan dijalan itu, tapi... Oh! seru Enu tiba-tiba.
“Apa?”
-Aku tahu dia mau kemana, dia pasti mau kerumah pelaku yang menabrak mendiang istrinya itu!
“Pelaku yang menabrak istrinya?” Manda menyeringitkan dahi mewakili yang lain.
-Ya, aku pernah menemaninya sewaktu pelakunya itu bebas dari penjara.
“Begitu... tapi ada urusan apa dia dengan pelakunya?” tanya Ega.
“Mungkin ada hubungannya dengan foto istrinya yang ditemukan ditempat ia berada kemarin!” seru Farin.
-Ya, mungkin, kata Enu, Terlebih lagi tadi Shani bilang kalau Dion mau melakukan urusan pribadi.
“Shani sudah siuman?” tanya Manda.
-Ya.
Apa yang diperkirakan Enu itu benar adanya karena Dion memang bertujuan kerumah sang pelaku yang menabrak istrinya itu hingga tewas. Pelakunya itu bernama Joko, seorang pria tua dan juga seorang ayah bagi anak perempuannya setelah 7 tahun ditinggal istrinya karena sakit. Setelah kasus yang menyebabkan Veranda meninggal maka Joko berhenti untuk menjadi supir bus, dan sekarang kerjaannya hanya sebagai tukang bengkel kecil-kecilan didepan rumahnya untuk membiayai sekolah anaknya.
“J-Jadi itu benar...” Dion terlihat tak menyangka akan penjelasan yang ia dapat dari Joko.
“Ya, saya berusaha menghindar dari mobil yang tiba-tiba muncul dari arah kanan. Dan gara-gara itu saya merubah jalur saya dan... seperti yang kita tahu...” pak Joko terlihat tak enak untuk melanjutkan kalimatnya.
Dion terengah-engah nafasnya dan tak menyangka kalau Joko benar-benar menghindari sebuah mobil yang muncul tiba-tiba, dan ini berarti sesuai dengan perkataan Cari kalau anak buah Bing itu sengaja memancing Bus yang dibawa Joko untuk menabrak Veranda.
“Pak Dion, anda tidak apa-apa?” Joko terlihat bingung dengan sikap Dion yang seperti shock akan hal tersebut.
“... S-Saya permisi dulu...”
“Sebentar pak!” serunya untuk mencegah.
Dion berhenti dan melihat Joko memasuki kamarnya terburu-buru, Joko kemudian keluar rumah dan membawa kantong plastik besar dengan kedua tangannya.
“Apa itu...” tanya Dion lemah.
“Bapak tahu akan ini, ini uang asuransi istri bapak yang bapak alihkan kepada saya. Saya benar-benar terkejut sewaktu menerima ini setelah 3 hari keluar dari penjara... Saya tidak bisa menerimanya pak, saya mohon. Ambilah uang ini, bapak yang lebih berhak...”
Dion terdiam mendengar hal tersebut tak lama kemudian ia berbalik badan.
“Saya tidak bisa... bapak lebih membutuhkan uang itu, apalagi karena kasus itu bapak berhenti bekerja dan uang itu lebih dari cukup untuk membiayai pendidikan anak bapak... saya mohon, terimalah uang itu...”
“Tapi ini uang asuransi istri bapak, saya benar-benar tidak bisa menerimanya pak... apalagi... sayalah yang menyebabkan istri bapak meninggal dunia...”
“Saya... hanya melakukan apa yang dipikirkan istri saya... karena saya yakin istri saya juga akan melakukan hal ini...”
“Tapi pak...”
“Saya mohon terima pak! Anak bapak benar-benar membutuhkan pendidikan yang layak dan biaya untuk itu... jangan pikirkan saya... lagipula istri saya tidak akan kembali, dia sudah tenang disana... dan seperti yang saya bilang tadi, saya melakukan apa yang dipikirkan istri saya karena saya merasa istri saya pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan ini... saya mohon, demi ketenangan istri saya disana... mohon terima pak...”
Joko terdiam, apalagi ia melihat mata Dion berkaca-kaca mengucapkan hal tersebut seolah ia mencoba menahan tangis mengingat istrinya. Lama kelamaan mata Joko juga berair karena ia benar-benar merasa tak nyaman menerima kebaikan dari orang yang dimana telah ia renggut orang yang disayangi orang tersebut. Meski begitu ia juga merasa tertolong karena jumlah uang ini lebih dari cukup untuk membiayai anak perempuannya menempuh pendidikan sampai kuliah.
“Maafkan saya pak... kalau saja saya tidak pulang cepat... istri anda pasti masih hidup sampai sekarang, saya benar-benar minta maaf pak!” ujar Joko dengan cegukan tangisannya.
“Saya juga minta maaf kalau cara saya ini kelewatan... saya tidak bermaksud merendahkan penghasilan anda... tapi saya hanya ingin melakukan apa yang ingin istri saya lakukan... setidaknya itu bisa meringankan diri saya... dan juga anda dan anak anda...”
“Terima kasih pak! Terima kasih!” Joko meringkuk dan memeluk bungkusan uang itu erat-erat, ia benar-benar tak bisa menahan tangisnya.
“... Saya permisi dulu...”
Dion pun berjalan keluar rumah dan berpapasan dengan anak SMA yang merupakan anak Joko. Anak perempuan itu berhenti karena ia juga mengenal Dion hanya saja ia heran melihat Dion matanya sembab saat memasuki mobil.
“Apa yang terjadi...” pikirnya.
Setelah kepergian Dion maka anak Joko pun masuk kedalam rumah dan melihat ayahnya menangis sambil memeluk kantong besar yang berisi uang yang sangat banyak.
“Ayah?! Ayah kenapa menangis?!” anaknya itu pun menghampiri ayahnya.
Joko menadahkan kepalanya dan tersenyum kepada anaknya, “Aya... sini nak...”
Anaknya yang bernama Aya ini lantas menghampirinya dan tanpa basa-basi Joko langsung memeluk anaknya.
“Maafkan ayah ya nak, maafkan ayah...”
“Ayah minta maaf kenapa? Ayah salah apa? Terus orang tadi...”
“Maaf telah menjadi ayah yang buruk untukmu selama ini... kamu pasti menderita selama ayah dipenjara...”
“Enggak ayah, enggak!” Aya menggeleng kepalanya, “Aya gak pernah nyalahin ayah! Ayah bukan pembunuh! Ayah benar-benar tidak sengaja melakukan itu! Ayah bukan pembunuh! Bukan!”
Mendengar kata-kata itu membuat ayahnya semakin erat memeluknya, “Terima kasih... terima kasih nak! Terima kasih!”
Mendengar suara ayahnya ini membuat Aya juga terlarut dalam kesedihan.
“Apa yang orang itu lakukan kepada ayah? Apa dia menghina ayah karena ini?!” Aya menggebuk kantong berisi uang tersebut.
“Tidak-tidak... justru dia datang untuk menjelaskan semua tentang uang ini...”
“Apa maksudnya?” Aya menyeringitkan dahi.
Dengan cegukan maka Joko menceritakan semuanya meskipun Aya juga bingung kenapa Dion menanyakan kronologis kasus yang lama padahal itu sudah terbukti kecelakaan biasa. Tapi menerima penjelasan ayahnya mengenai uang itu membuat Aya menggelengkan kepalanya.
“Aya gak mau menerima uang itu, Aya masih mau menerima uang pendidikan dari ayah!”
“Terus bagaimana... dia tentu saja tidak mau menerima uang ini...”
Lama terdiam akhirnya Aya tersenyum dan menyeka air mata ayahnya.
“Jadikan ini modal usaha untuk ayah... kemampuan ayah bukan untuk bengkel itu terlebih lagi bengkel kita sepi... ayah jago memasak, dan Aya rasa membukan usaha rumah makan tak ada salahnya...”
“Tapi...”
“Udah Aya bilang Aya masih mau menerima hasil kerja ayah... gunakan ini untuk modal ayah dan tentu saja... Aya akan membantu ayah...” Aya tersenyum, “Lagian hasil bisnis ayah tidak hanya untuk biaya pendidikan Aya, tapi juga untuk kehidupan kita...”
Mendengar hal itu membuat Joko tersenyum, “Maafkan ayah... dan belajarlah yang rajin, agar kamu tidak seperti ayah nantinya...”
Aya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memeluk ayahnya kembali dengan rasa haru, “Aya sayang ayah...”
Joko tersenyum dan membalas pelukan anaknya tersebut dengan kasih sayang. Ia kemudian memandang luar rumah untuk melihat bengkel kecilnya dan akan melakukan saran anaknya karena kemampuan ia memang dibidang masak-memasak. Dan ia juga berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Dion.
Sementara itu dimarkas Redrum dijadikan Adis kesempatan untuk menghubungi Enu karena ia melihat mobil Dion kembali terlihat di-CCTV yang ia awasi bersama Boby.  Adis memberitahu arah tujuan mobilnya tersebut kepada Enu yang dimana masih berada dirumah sakit.
“Dia kemana, Nu?” tanya Yona setelah melihat Enu menyudahi percakapan ditelepon.
Enu menoleh kebelakang dan terdiam karena Vienny, Shani, Yona dan Ozy kompak memandangnya.
“... Dia pergi ketempat pemakaman istrinya...”
“Apa yang mau ia perbuat disana?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Entahlah, aku mau kesana,” ujar Enu.
“Aku ikut!” seru Yona.
“Aku juga ikut!” begitu juga Shani.
“Lu Zy?” tanya Enu.
“Kalian saja, perutku masih sakit! Sialan kau Dion!” umpat Ozy kesal.
“Yaudah, kami pergi dulu.”
Enu, Shani, Vienny dan Yona segera pergi keparkiran meninggalkan Ozy yang masih kesakitan, ditemani Reno yang sudah tertidur nyenyak ditempat tidur Dion sebelumnya.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Naomi saat menghampirinya.
“Jangan sok perhatian,” kata Ozy ketus.
“Tidak,” Naomi menggeser kursi dan duduk disamping Ozy, “Hanya sebagai pembuka obrolan saja.”
“Heleeh,” Ozy memiringkan bibir.
“Lagian hanya kita berdua diruangan ini yang masih sadar. Temenmu tidur, terus temenku juga masih tak sadarkan diri. 3 rekanku yang lain juga berada diluar.”
“... Tempat ngobrol yang suram...”
“Lalu maunya dimana? Rumah makan itu lagi?”
“... Terserah kau...”
“Lebih baik disini saja dulu bukan?”
“Terus apa juga yang mau diomongin? Bahan obrolan saja tidak ada,” ujar Ozy kesal saat mengingat Dion menghajarnya tadi.
“Siapa bilang? Aku banyak bahan obrolan dikepalaku.”
“Oh ya? Apa?” tanya Ozy dengan nada meremehkan.
“Kenapa nada suaramu meremehkan begitu? Apa kamu yakin bisa meladeni topikku ini?”
“Heh, apa susahnya mengobrol dengamu ini?”
“Hmm,” Naomi tersenyum tipis, “Kalau begitu aku mulai ya?”
“Silahkan saja,” kata Ozy dengan senyum angkuh.
“Oke,” Naomi tersenyum, “Jadi kencan itu modusmu saja ya?”
“Eeeerrr,” dan benar, Ozy langsung tak berkutik dibuatnya.
“Dan hebat sekali caramu meyakinkanku ya? Tadi aku bertanya kepada Vienny, gak ada tuh yang namanya pelacakan terhadap semua anggota yang ada diluar kecuali benar-benar penting. Kau berhasil mengelabuiku.”
“... Salah sendiri,” Ozy bersiul-siul.
Naomi memincingkan mata, tapi tak lama habis itu ia tersenyum dan matanya membulat seolah ia mendapatkan sesuatu yang bisa membuat Ozy tak berkutik lagi.
“Iya-iya emang salah aku sih main percaya aja...”
“Tuh sadar sediri,” Ozy cengengesan.
“Tapi setidaknya aku bisa membuatmu senang bukan dengan kencan itu, apalagi bujangan sepertimu.”
“Apa?! Hah! Itu hal yang biasa bagiku kau tahu! Tidak ada yang spesial dari kencan itu?”
“Oh, gakpapa kok. Tapi aku yang merasa spesial gara-gara itu.”
Ozy terdiam dan bertanya, “Maksudnya?”
“Ya... aku menikmati kencan itu...”
“Kau senang kencan denganku?” tanya Ozy tak menyangka.
Naomi menoleh kearah Ozy dan tersenyum manis, tak lama habis itu dia pun mengangguk untuk memberi jawaban. Ozy terdiam dengan wajah kaku, ia memandang lurus kedepan dan bingung harus bertingkah seperti apa.
Hihihihi aku suka melihatmu seperti ini!” batin Naomi tertawa-tawa.
Itulah percakapan yang dipikirkan Naomi sebelumnya, ia tidak terlalu menikmati kencan itu apalagi ia merinding sedari tadi menyebutkan kata ‘Kencan’ yang kesannya ia gadis muda yang diajal jalan-jalan sama om-om. Akan tetapi ia benar-benar suka melihat tingkah Ozy yang berubah drastis apabila salah tingkah. Apalagi tadi Naomi sengaja bersikap seperti wanita yang merasa senang bersama dengan Ozy, dan itu tidak terlalu dibawa perasaan oleh Naomi tentunya.
“Apa film favoritmu?” tanya Ozy tiba-tiba.
“Kenapa menanyakan hal itu?”
“... Aku ada melihat film bagus kayaknya dibioskop,” jelasnya sambil membuang muka.
“Oh,” Naomi menahan tawa, “Jadi ceritanya ngajakin nonton nih?”
“Siapa bilang?” bantah Ozy, “Cuma kasian saja melihat polisi sepertimu, kayak kurang hiburan. Ya... itupun kalau kau mau...”
“Oh gitu,” Naomi memanggut-manggut, “Apakah itu sebuah bentuk perhatian darimu?”
“.... Perasaanmu saja,” Ozy membuang muka.
Hihihihihi,” dan Naomi lagi-lagi tertawa didalam hati.
N U M E R I
A
pa yang menjadi tujuan Dion sudah berada didepan matanya. Awan hitam dilangit sudah menggumpal dimana-mana bahkan rembesan gerimis sudah turun sedari tadi menghujam tanah. Dion berjalan dengan langkah gontai tanpa memperdulikan luka tembakan dikedua pahanya yang tampaknya terbuka lagi karena ada sediki bercak darah keluar dari lukanya tersebut.
“Ve...”
Dion terperusuk disamping makam istrinya tersebut, ia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dengan cara berpegangan dengan nisan. Suara gemuruh awan kembali memekakan telinga tapi hal itu tidak diperdulikan oleh Dion. Ia terus menatap makam istrinya dengan mata berkaca-kaca sedari tadi.
Pikirannya kembali dimana Veranda sedang hamil 6 bulan. Mereka berdua sedang menonton acara TV akan tetapi tidak diindahkan oleh keduanya, Dion terlihat senang memeluk Veranda dan menempelkan telinganya diperut istrinya tersebut.
“Wow!” seru Dion tiba-tiba.
“Hmm, apa?” Veranda tersenyum dan mengelus kepala Dion yang menempel diperutnya itu.
“Anak kita bilang ‘Ma, jangan ngidam aneh-aneh lagi. Kasian ayah, tengah malam kok disuruh nyari durian’ haha,” ujar Dion dengan tawa ringan.
“Wuuu itu maunya kamu,” Veranda memanyunkan bibir dan menjewer pelan telinga Dion.
“Oh anak kita ngomong lagi nih ‘Ma, ayah boleh punya istri 2 gak?’ gitu katanya.”
“Oh,” Veranda tersenyum, “Boleh-boleh, mama rela kok dimadu.”
“Bener?” Dion menoleh kearah Veranda.
“Iya! Kalau ayahnya rela mama racunin!” Veranda melotot dan dengan beringas menjewer telinga Dion.
Dion merintih kesakitan karena dijewer seperti itu, Veranda pun mendengus puas sambil melipat tangan. Dion kemudian duduk dibelakang dan memeluk Veranda beserta perutnya.
“Bercanda, gitu aje ngambek.”
“Siapa juga yang ngambek?” Veranda memanyunkan bibir.
“Oh, terus nih bibir kenapa?” Dion terkekeh dan memain-mainkan bibir Veranda yang dimanyunin dengan jari telunjuk.
Veranda menyentil jari telunjuk tangan Dion sehingga membuat mereka tertawa ringan. Dion menaruh kepalanya dipundak Veranda dan dengan posisi memeluk istrinya itu dari belakang maka ia bergoyang pelan kekanan dan kekiri yang dimana otomatis Veranda mengikuti gerakannya.
“Dion, nanti pas anak kita lahir... aku berencana berhenti kerja...”
“Eh?” Dion tertegun, “Kenapa?”
“Gak kenapa-napa, hanya saja,” Veranda tersenyum, “Ingin seperti mama, punya banyak waktu luang dirumah sewaktu aku kecil hehe.”
“Oh gitu,” Dion tertawa pelan, “Ibu rumah tangga dong?”
“Enggak juga, pengen buka bisnis tapi yang bisa dikerjain dirumah. Jadi aku juga ada waktu ngurus kamu dan anak kita.”
“Bisnis apa?”
“Nanti deh dipikirin,” Veranda tersenyum.
“Ya terserah kamu baiknya gimana, lagian kerjaan aku juga dirumah terus hehe.”
“Hmmm,” Veranda tersenyum dan menyundul pelan kepala Dion, “Tapi takut juga ngebayangin pas ngelahirin nanti, pasti sakit...”
“Namanya juga resiko ibu hamil, masa gak berani demi anak sendiri?”
“Berani...” Veranda pun menoleh, “Asal ada kamu nanti.”
“Itu sudah pasti, tapi beraninya dari diri sendirilah, kalau aku gak ada gimana?”
“Pokoknya harus ada kamu!” seru Veranda.
“Iya-iya,” Dion terkekeh dan mengelus perut Veranda kembali, “Jangan manja kayak ibumu ya?”
“Dih,” Veranda tertawa dan mencubit perut Dion yang mengelus perutnya, tapi tak lama kemudian ia menunduk, “Tapi pas hari itu kamu harus benar-benar ada ya...”
“Iya, emang kenapa?”
“Gak tau, hanya saja kalau berada didekatmu... aku merasa aman, tenang...”
“Wih kata-katanya,” Dion terkekeh.
Veranda tersenyum, “Aku serius...”
Dion yang melihat raut wajah Veranda maka menghentikan tawanya, ia tersenyum dan kembali mempertemukan kepala mereka.
“Bodoh, tanpa kau minta pun aku akan selalu ada disampingmu.”
“Hmm,” Veranda tersenyum manis, “Dan sekarang tanggung jawabmu bertambah 1, karena selain aku, kamu juga wajib menjaga anak kita kelak.”
“Hahaha,” Dion tertawa ringan dan memeluk Veranda dengan lemah lembut, “Tentu saja aku akan menjaga kalian berdua, bahkan bila perlu nyawaku kupertaruhkan.”
“Jangan bawa-bawa nyawa deh,” Veranda cemberut.
“Aku tidak keberatan kalau demi kau bodoh,” Dion menyundul pelan kepala Veranda.
“Ya tapi jangan bawa-bawa nyawa...”
“Iya deh hehe, maaf ya sayang?” Dion tersenyum dan mengelus pipi Veranda dengan pipinya sendiri.
“Hmm udah bisa bertingkah juga kayak suami nih ye,” Veranda cekikikan.
“Oh tentu saja, dan aku juga akan bertingkah seperti ayah yang akan mengajari anak kita nanti.”
“Diajarin apa coba?” Veranda tersenyum.
“Cara menggigit pipi gempalmu ini!” dan tanpa basa-basi Dion menggigit pelan pipi Veranda sehingga Veranda tertawa dibuatnya.
Ingatan itulah yang menghantam Dion sedari tadi, layaknya hujan yang sekarang sudah menghantam kota Jakarta. Ditengah hujan itu air mata Dion juga terus mengalir, alis mengkerut memandang makam Veranda, ia pun berbicara dengan susah payah.
“Apanya yang melindungi kalian dengan nyawa... apanya yang tanggung jawab... aku benar-benar gagal melakukan hal itu... aku benar-benar gagal...” Dion cegukan dan melanjutkan kata-katanya, “...Aku membuat kalian terbunuh... olehku, karena ulahku.... aku... membuat... kalian... terbunuh....”
Dion kembali teringat dari penjelasan Joko pas kecelakaan itu dan dicocokannya dengan penjelasan Cari sewaktu itu. Dan dari penjelasaan keduanya maka ia mendapatkan kesimpulan karena Veranda tidak benar-benar mati karena kecelakaan, tapi dibunuh dan dibuat seolah-olah kecelakaan. Apalagi Bing yang memberitahukan hal itu.
“Maafkan aku! Maafkan aku!”
Betapa terpukulnya Dion saat ini. Akhirnya ia bisa menangis sejadi-jadinya karena kepergian istrinya tersebut, ia merasa bersalah karena telah membuat Veranda terbunuh walau ia tidak tahu apa ulah dia terhadap Bing sehingga Bing tega membunuh Istrinya agar ia sengsara. Selama menangis itu tak henti-hentinya ia mengutuk dirinya sendiri dan memaki dirinya sendiri, karena kehadirannya ini mengakibatkan 2 orang yang berharga bagi dirinya mati, yakni Veranda dan juga anak didalam kandungannya.
Dion memeluk makam Veranda dan membenamkan wajahnya ketanah, ia pun berteriak untuk rasa penyesalan dan rasa bersalahnya, “MAAFKAN AKU!!!”
Hujan terus mengguyur pemakaman, meski begitu suara tangisan Dion masih bisa didengar karena pria ini berteriak dan terus mengumandangkan permintaan maaf kemakam istrinya. Bahkan suaranya itu bisa didengar oleh orang yang berada dipintu pemakaman yang jaraknya cukup jauh. Dan dipintu pemakanam itu terlihat Enu, Yona, Vienny dan Shani melihat Dion meraung-raung seperti itu dikejauhan.
“Dion...”
Shani hendak menghampiri Dion sekedar ingin menemaninya dan membuatnya teduh dari hujan dengan payung yang ia bawa, akan tetapi gerakannya ditahan oleh Yona.
“... Lepas...” pinta Shani.
“... Jangan kau ganggu dia...” kata Yona meskipun ia juga ingin melakukan apa yang ingin Shani lakukan.
“Ya, lebih baik jangan ganggu dia,” sambung Enu.
“Tapi...” Shani terlihat sedih dari raut wajahnya, ia terus memandang Dion yang tampaknya benar-benar kehilangan akan sosok Veranda didalam hidupnya.
“Kalau pria sudah seperti itu, itu berarti sudah berasal dari perasaannya... biarkan dia menumpahkan segalanya, beri dia kesempatan untuk melepaskan semuanya...” kata Yona kelam.
“... Tapi bukankah dia bisa membunuh perasaannya...” kata Vienny kepada Enu.
“Emosi, bukan perasaan,” Enu kemudian melihat Dion, “Dan untunglah kami berdua tidak mau menerima cara membunuh perasaan dari pak Juno waktu itu... sewaktu kami melakukan latihan khusus sebelum bergabung dengan organisasi ini.”
“... Kenapa...” tanya Shani.
“Ya, jika kami mau menerimanya maka yang ada disana itu bukanlah manusia, tapi monster,” Enu menadahkan kepalanya untuk menunjuk Dion dikejauhan.
Semua terdiam mendengar kata Enu barusan dan memang benar apa yang dikatakannya. Membunuh emosi saja sudah bisa membuat pengidapnya bisa tenang mengatasi pembunuhan yang dilakukan apalagi kalau membunuh perasaan, pengidapnya tidak akan pernah perduli apa yang dibunuhnya. Dan kalau pengidapnya bisa melakukan keduanya maka ia akan menjadi sosok yang tak jauh berbeda dengan psikopat, atau bahkan lebih.
Perasaan ya...” batin Shani, ini mengingatkan pembunuhan yang ia lakukan karena terkadang ia tak memiliki perasaan apa-apa saat membunuh korbannya karena itu ia lebih suka membunuh memakai pisau dan racun yang lamban, karena dirasanya menyenangkan dirinya melihat korbannya tersiksa sebelum mati.
Enu kemudian mengajak Shani, Yona dan Vienny untuk pergi dari pemakaman dan membiarkan Dion seperti itu. Ditengah hujan deras ini mengingatkan Dion saat melihat Veranda pertama kali dimakamkan, tapi waktu itu dia tidak menangis. Dan hujan lebat kali ini bersamaan dengan tangisannya yang pilu.
Karena ia sudah merasa gagal melindungi orang yang disayanginya.
N U M E R I
D
ion benar-benar kembali kemarkas pada sore harinya. Tapi mendengar penjelasan dari Enu sebelumnya membuat Direktur sedikit bersimpati. Terlebih lagi Dion datang dengan kondisi basah kuyup dan ekspresi wajahnya benar-benar kosong. Rasa dingin dari air hujan yang menimpanya itu pun tidak diperdulikan olehnya. 
“Pulanglah, besok saja kami akan menanyaimu.”
Dion memandang Direktur dan menjawab, “Tidak, lakukan sekarang.”
“Hey, tapi lihat kondisimu ini!” kata Yona menasehati.
Dion memandang Yona dan berkata, “Apa urusannya denganmu?”
“Apa?”
“Lakukan sekarang, aku akan mengganti bajuku dulu,” setelah berkata seperti itu Dion mulai berjalan keruangan ganti yang dimana begitu banyak kaos putih dan juga celana disediakan disitu.
“Lo darimana emangnya, Yon?” tanya Ega.
Dion tak memperdulikan pertanyaan itu dan terus melangkah.
“Kenapa tuh anak?”
Semua juga tidak mengerti, hanya saja Enu, Vienny dan Shani memaklumi hal itu. Akan tetapi tidak dengan Yona, ia pun segera menyusul Dion diruangan ganti dan tak perduli kalau itu adalah ruangan ganti untuk pria.
“Apa maksudmu itu?” tanya Yona saat membuka pintu.
Dion menoleh kebelakang sambil memakai baju, “Mau sampai kapan kau mau tahu urusanku?”
“Apa?!” Yona menyeringitkan dahi.
“Kau mendengarnya dengan jelas,” ujar Dion.
Yona tak mengerti kenapa sikap Dion begitu dingin dengannya, ia pun menghampiri Dion dan mendorong punggungnya.
“Apa maksudmu itu hah?!”
Dion terdiam dan melempar baju dan celana basah kekeranjang, setelah itu ia berjalan melewati Yona seolah ia tidak memperdulikan keberadaannya.
“Hei!” Yona menahan pundaknya.
Akan tetapi Dion dengan cepat menepis tangannya itu dan melanjutkan perjalanannya.
“Kau ini!” Yona berjalan mendahului Dion dan mencengkram kerah bajunya, “Kau ini kenapa hah?!”
“... Bisakah kau berhenti memperdulikanku?” pinta Dion dengan nada dingin.
“Apa?” Yona menyeringitkan dahi.
“Bisakah kau hentikan perhatianmu itu?”
“Apa maksudmu ini? Aku...”
“Aku tak pernah meminta hal itu darimu!” Dion melotot.
“APA?!” Yona juga melotot dan mengatup giginya geram.
Dion juga mencengkram kerah baju Yona dan mengangkatnya.
“BERHENTI BERHARAP APAPUN DARIKU MULAI DARI SEKARANG!” teriaknya lantang.
Yona tertegun mendengar teriakan itu, Dion melepaskan cengkraman tangannya dan juga cengkraman tangan Yona dibajunya. Setelah itu Dion keluar ruangan meninggalkan Yona yang masih shock gara-gara tadi.
“Kenapa tadi kau berteriak?” tanya Reno saat melihat Dion berjalan kearah Direktur.
Dion berhenti berjalan, ia menoleh kearah Reno dan balik bertanya.
“Memang apa yang terjadi kalau aku berteriak?”
“Eh? Aku hanya bertanya...” Reno tertegun.
“Oke, sekarang aku mau bertanya, apa kau masih menjadikanku panutan?”
“E-e-e-e, y-ya,” Reno mengangguk.
“Kau tau,” Dion memegang kepala Reno dan berteriak, “ITU SANGAT MENJIJIKAN BAGIKU!”
Tiba-tiba saja Dion mencengkram rambut Reno dan tanpa ampun sama sekali ia menghantamkan wajah Reno ke meja sampai meja itu hancur dibuatnya. Reno berteriak karena tulang hidungnya patah dan darah terus keluar dari hidungnya. Semua orang yang ada disitu pun kaget dengan perbuatan Dion kepada Reno.
“HEI! KAU INI APA-APAAN!” hardik Ega kepadanya.
“Bukan urusanmu,” Dion melongos pergi menuju ruangan Direktur dan melewati petinggi Redrum dan anggota informasi yang bertugas menanyainya nanti.
“AAARGGGGHHHH!!!” Reno terus mengerang kesakitan.
“Bawa dia keruang kesehatan,” suruh Direktur.
Setelah itu Direktur, petinggi Redrum dan anggota bagian informasi menyusul Dion yang sudah duluan memasuki ruangan Direktur. Sementara itu Reno dipapah Ega dan Damar menuju ruang kesehatan. Enu kemudian melihat meja yang hancur tersebut sambil menghisap rokok.
“... Dia benar-benar berniat membunuh Reno...” gumamnya.
Hal ini wajar dipikirkan oleh Enu karena meja yang kokoh ini saja sampai hancur dibuatnya, dan tak hanya Enu yang berpikir seperti itu. Itu juga dipikirkan oleh Manda dan juga Shani.
“Ada apa ini?” Yona yang baru menyusul tertegun melihat hiruk pikuk disitu.
“D-Dion tadi...” Farin mendadak gagap.
“Dia kenapa?”
“Itu...” Farin menunjuk meja kerja Vienny.
“Apa yang terjadi?” Yona terkejut melihat meja kerja yang hancur tersebut.
“Dion menghantam wajah Reno ke meja itu,” jawab Manda.
“Apa?! Kenapa?!” Yona kebingungan.
“Entahlah...” Vienny kemudian memandang Enu, “Apa yang terjadi?”
Enu tak menjawab ia terus berdiam diri sambil menghisap rokok, setelah itu ia memandang Shani yang masih tertegun sambil melihat ruangan direktur.
“Shan...”
Shani tidak menjawab.
“Shan!” seru Enu.
“Apa?!” Shani kaget.
“Jelaskan,” pinta Enu pelan.
“Tapi...”
Enu kemudian menarik Shani ditempat yang jauh dari keramaian.
“Beritahu aku,” pinta Enu sekali lagi.
“... Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu...”
“Apa kau tahu apa itu?”
Shani menggeleng, “Dan ia melampiaskan dengan emosinya...”
“Sudah kuduga...” Enu kembali menghisap rokok dan melihat ruangan Direktur.
“Apa maksudnya?”
“Kau seharusnya tahu, ia bisa membunuh emosinya sendiri, tapi tidak ia lakukan. Itu berarti apa yang disembunyikannya itu benar-benar beban baginya.”
“Iya sih... tapi apa...” Shani menunduk.
“Kau pikir aku tahu jawabannya?”
“Kalau begitu biar kucari tahu.”
“Kau mau nasibmu sama seperti Yona tadi? Aku tadi yakin dia berteriak kepada Yona diruangan ganti, lalu Reno? Walau kemungkinan kecil ia melakukannya terhadap wanita.”
“Aku tak perduli! Aku...”
“Ada saatnya kau mengetahui batasmu itu! Dan kalau dia masih bersikap seperti itu, aku yang akan turun tangan.”
“Apa yang akan kau lakukan padanya?” Shani menyeringitkan dahi.
“Kau akan tahu nanti.”
Enu kemudian pergi meninggalkan Shani dan menghampiri Vienny. Sementara itu Shani hanya berdiam diri dan memandang ruangan Direktur.
Tak butuh waktu lama akhirnya Dion keluar ruangan bersama Direktur, petinggi Redrum dan anggota bagian informasi lainnya. Dan juga bertepatan dengan datangnya Ozy dari Lift.
“Semua informasi dari Dion akan dikirim ke-handphone kalian masing-masing setelah selesai dirangkum,” ujar Direktur sambil melihat anggota bagian informasi, anggota bagian informasi pun segera undur diri untuk melakukan pekerjaannya.
“Wah, baguslah. Si polisi bodoh itu juga baru siuman dan sekarang sedang ditanyai petugas lainnya,” ujar Ozy sambil menguap dan terkejut melihat meja kerja Vienny yang hancur, “Lu lagi PMS, Vin?!” tanyanya kepada Vienny.
“Ssst!” Vienny melotot dan memberikan tanda diam dengan telunjuk jari dimulutnya.
“Apaan sst-sst?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Dan sepertinya hanya itu yang bisa disampaikan, silahkan kembali kepekerjaan kalian masing-masing. Dan kau Dion.”
“Apa, Pak?” respon Dion dingin.
“Kau tak mau menemui Reno?”
“Aku tak menyesal melakukannya.”
“Hmm ada apa denganmu?” tanya pak Agung.
“Kenapa tuh Dion,” bisik Ozy kepada Yona tapi tak ada jawaban dari Yona.
Suasana memang sedikit aneh gara-gara peristiwa tadi, tapi tak lama kemudian terdengar suara teriakan orang.
“YON!”
Terlihat Ega berjalan dengan rasa penuh amarah dan menghampiri Dion, ia mencengkram kerah baju Dion dan berteriak, “APA-APAAN KAU INI?!”
Dion tidak menjawab, akan tetapi ia menandukan kepalanya kearah muka Ega sehingga Ega terdorong kebelakang dengan erangan.
“DION!” teriak Manda.
“Astaga,” Direktur memiringkan bibir dan berjalan mundur untuk bergabung dengan petinggi Redrum lainnya.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya pak Hengky.
“Yang jelas akan terjadi keributan besar, Ega dihantamnya,” ujar Direktur sambil menyalakan cerutu.
“Hmm menarik.”
Direktur dan petinggi Redrum lainnya kemudian mencari tempat duduk untuk menyaksikan hal ini. Sedangkan Ega sudah melihat hidungnya yang mengucurkan darah, ia pun menyeringai dan melangkahkan kakinya kearah Dion.
“Mungkin ini sudah saatnya mengetahui, siapa diantara kita yang paling kuat.”
“Kau terlalu banyak bicara!” seru Dion.
“Heh!”
Ega yang memang cepat ‘Panas’ langsung menerjang Dion, begitu juga Dion. Hantaman tinju yang mereka lakukan menjadi pembuka pertikaian yang terjadi dimarkas tersebut. Sudah berapa tinju mereka lontarkan kemasing-masing lawannya hingga mereka menubruk meja-meja kerja yang ada disitu.
“Dion...” Shani benar-benar kebingungan dengan sikap Dion yang seperti ini, ia pun berusaha menjauh dari jarak pertikaian.
“Heh! Mari kita lihat apa kepalamu kuat dengan hantaman meja?” Ega menyeringai saat berhasil mencengkram rambut Dion.
Tanpa basa-basi lagi Ega menghantamkan wajah Dion kemeja, untung saja Dion menoleh kesamping sehingga tidak terkena bagian hidungnya akan tetapi hantaman itu benar-benar menyakitkan baginya dan kepalanya pusing seketika.
“Heh!”
Ega melepaskan cengkramannya dan membiarkan Dion tersungkur, ia berbalik badan dan menyeka darah yang keluar dari hidungnya, “Elite lemah.”
“... Mari kita lihat apa mukamu itu tahan dengan hantaman keyboard.”
Ega terkejut dan menoleh kebelakang, akan tetapi sebuah keyboard komputer dihantamkan Dion kearah mukanya. Keyboard itu pecah dan tuts-tuts yang ada disitu sebagian menempel erat diwajah Ega.
“Arrgghh!! Anjing kau!!” umpat Ega.
“Oh, masih rupanya,” Dion mendesis bengis.
Dion kembali menarik sebuah keyboard yang ada disitu dan kembali menghantam wajah Ega sehingga keyboard itu pecah menjadi 2 bagian. Ega tersungkur kebelakang dan mengerang kesakitan sambil memegang wajahnya. Dion menarik kerah baju Ega dan menariknya keatas.
“Elite lemah!” Dion menyeringai.
Ega kemudian didorong dan ditendang oleh Dion sehingga Ega menubruk meja-meja yang ada disitu. Ega pun kesusahan berdiri disaat tulang punggungnya menghantam bagian meja yang keras. Dion kemudian berbalik badan dan menerima tendangan mentah-mentah dari Manda.
“Kau pikir aku akan diam saja melihat hal ini?”
“Errghh!!” Dion berdiri sambil mengusap wajahnya, “Kau rupanya...”
“DAN KAU INI SIAPA HAH?!” teriak Manda.
Manda berlari dan meloncat untuk menendang Dion, Dion pun terdorong kebelakang dan menubruk meja-meja ditempat yang sama dengan Ega. Dion merintih dan mencoba berdiri, begitu juga dengan Ega yang ada disampingnya.
“Sialan kau! Babi!” umpat Ega dengan wajah babak belur.
“Orang kalah tak patut menghina yang menang,” Dion mencengkram kepala Ega dan menghantamkannya ke meja, Ega tersungkur kebelakang dan semakin parah kondisi wajahnya.
Dion yang berhasil berdiri kemudian menyeringai memandang Manda yang menghampirinya.
“Ayo! Aku tak akan segan-segan menghajarmu!” seru Manda.
“Sejak kapan aku pernah segan?”
Dion melempar tumpukan kertas kearah Manda, Manda dengan cepat menghindar tapi karena gerakannya itu dia tak kuasa mengindar dari serangan Dion yang menendang kepalanya dari samping.
“Uggghh!!!”
Dion kemudian melompat dan hendak menginjak perut Manda, akan tetapi Manda dengan cepat menendang perutnya duluan dan mengarahkan Dion kearea lain.
“Sial!” umpat Dion yang berusaha berdiri.
“Heh!” Manda menyeringai.
Dion dan Manda kembali beradu, dan pertarungan anggota Elit ini terlihat imbang karena tentu saja ada alasannya mereka berdua menjadi anggota elit sehingga pertarungan mereka begitu sayang untuk dilewatkan. Shani yang cemas melihat ini kemudian menghampiri Direktur.
“Pak, kenapa tidak bapak hentikan?”
“Hentikan bagaimana? Biarkan saja mereka melakukan itu,” pak Agung menyeringai.
“Ya, lagian gaji mereka bisa dijadikan ganti rugi dari benda-benda yang mereka rusakkan,” sambung pak Direktur enteng.
“Tapi...”
“Tenang saja,” potong pak Hengky, “Kurasa Enu ada rencana, kau tak lihat gelagatnya?”
Shani kemudian memandang Enu dikejauhan dan melihat Enu sedang berbisik kepada Adis dan Boby, Adis dengan segera berlari menuju ruangan informasi sedangkan Boby tampak menyerahkan suatu benda dan Enu menaruhnya dikantong kemejanya. Setelah itu Enu kembali memandang pertarungan antara Dion dan Manda.
“Heh! Segini saja?!” Manda menyeringai dan menarik rambut Dion, terlihat darah diwajah Dion bersimbah dimana-mana.
“Heh!” Dion juga menyeringai.
Dion menyengkang kaki Manda sehingga wanita ini terjatuh kesamping, akan tetapi ia tetap menarik rambut Dion agar Dion jatuh bersama dirinya. Tapi sepertinya memang itu yang diinginkan Dion, disaat ia terjatuh dengan cepat ia mengarahkan sikut tangan kanannya kearah perut Manda.
“UUGGGH!!!” Manda melotot menahan sakit yang ia terima, cengkraman tangan dirambutnya Dion pun terlepas.
Dion kemudian berdiri dan menginjak kepala Manda yang sedang meringkuk menahan sakit diperutnya, “Segitu saja? Heh?”
“SIAL KAU!” umpat Manda ditengah rintihannya.
Dion berbalik badan dan dengan nafas terengah-engah ia kemudian berbicara, “Ada lagi?!”
“Heh sepertinya boleh juga, dan aku muak melihat tingkahmu yang sok penting dan haus perhatian seperti ini,” Sistim menyeringai dan berjalan maju.
“Anak baru belakangan sana,” Ozy menarik Sistim kebelakang, ia pun maju kedepan, “Kau pikir aku lupa apa yang kau lakukan tadi dirumah sakit?”
“Sepertinya aku lupa, mau kau bantu aku untuk mengingatnya?”
“Dengan senang hati!”
Sebuah hantaman tinju bersarang diwajah Dion, akan tetapi Dion dengan cepat menahan diri dengan kakinya dan ia segera membalas hantaman tersebut diwajah Ozy.
“Heh!” Ozy menyeringai dan menyeka pipi kirinya, “Apa kau ingat sekarang?”
“Mungkin dengan kekalahanmu bisa membuatku ingat,” Dion juga menyeringai.
“Oh kau benar-benar tahu bagaimana cara membuat orang marah!”
“Berkat ajaranmu! Pecundang!”
Ozy yang memang terkenal cepat ‘Panas’ seperti hal nya Ega segera menerjang Dion. Hantaman tinju dan juga tendangan hinggap dimasing-masing tubuh mereka. Akan tetapi Dion mulai kelelahan karena ia sudah melawan 2 orang sebelumnya terlebih lagi luka dipahanya kembali menarik paksa konsentrasinya.
“Heh! Kau seharusnya dirumah sakit saja!” Ozy menyeringai dan menendang paha Dion yang terluka.
“UUUGGGGHHHH!!!”
Dion tersungkur kelantai menerima rasa sakit tersebut, dan itu dijadikan Ozy untuk menarik baju Dion dari belakang dan menyeretnya menuju ruang tengah.
“Ada banyak meja yang bisa kuhantamkan kau kesana!” Ozy menyeringai.
“Anjing!” umpat Dion.
“Ozy!” teriak Yona yang khawatir.
“Jangan hentikan aku!” balas Ozy dan kembali menyeringai memandang Dion, “Tenang, akan pelan-pelan kuhantamkan dan...UGHH!!!”
Ozy terdorong kesamping saat Enu menendangnya tiba-tiba, Dion terlepas dari tarikan Ozy dan terjatuh dilantai. Ozy merintih dan mencoba berdiri.
“Apa maksudnya ini?” tanya Ozy yang memandang Enu geram.
“Biar aku yang melakukannya,” ujar Enu sambil memandang Dion dan membunyikan tulang lehernya.
“Heh!” Ozy membanting tempat pulpen dan berkata, “Langkahi dulu mayatku!”
“Oh,” Enu memandang Ozy, “Dengan senang hati.”
Setelah berkata begitu maka Enu segera menerjang Ozy dan menendangnya hingga berguling-guling kebelakang.
“Errgggh!!! Anjing kau!!!” umpat Ozy yang berusaha berdiri.
Akan tetapi kerah bajunya sudah dicengkram Enu dengan tangan kanan dan dengan mudah Enu mengangkatnya dan sudah mempersiapkan tangan kirinya untuk meninju.
“Tunggu! Jangan wajahku!” pinta Ozy tiba-tiba.
“Mayat tak perlu meminta sesuatu bukan?”
Tanpa basa-basi Enu menghantam wajah Ozy bertubi-tubi, tenaga Enu yang masih prima dengan mudah meluluh lantahkan tenaga Ozy yang terkuras karena rasa sakit diwajahnya. Melihat tangan Ozy yang terkulai kebawah maka Enu melepaskan cengkraman dikerahnya dan membiarkan Ozy terjatuh tak berdaya. Setelah itu Enu menghampiri Dion yang kesusahan untuk berdiri.
“Apa yang ingin kau buktikan, Yon?” tanya Enu sambil menyalakan rokok.
“Haah... Haah...” Dion terengah-engah memandang Enu.
“Kau pikir kau ini siapa? Orang yang paling penting dalam organisasi ini dan semua harus memaklumi perbuatanmu? Heh?!” Enu menyeringai.
“... Haaah... Haaah... tak... ada hubungannya denganmu haaah haaah...” jawab Dion susah payah.
“Tak ada hubungannya? Apa kau tak menganggapku sebagai saudaramu? Kita sedari kecil tinggal dipanti asuhan bukan?”
“... Aku tak pernah memintamu menjadi saudara...”
“Heh, kelihatan sekali dibuat-buat.”
Dan Enu dengan cepat menendang perut Dion hingga Dion tersungkur kebelakang, dan disaat Dion hendak berdiri tiba-tiba saja mukanya itu ditendang Enu dan lagi-lagi membuat Dion tersungkur kebelakang.
“Ayo!” Enu menarik rambut Dion dan memaksa saudara tirinya itu untuk berdiri, “Kau pikir aku akan kasihan melihat kondisi tubuhmu ini?”
“Haah... Haaah... apa kau ada mendengar suaraku untuk memohon ampunan darimu?” Dion menyeringai.
“Keras kepala, itu salah satu sifatmu yang tak kusukai!” Enu kemudian menyundul kepala Dion dengan keras.
“UARRGGGHHH!!!” Dion lagi-lagi terjengkang kebelakang.
“Heeh!” Enu menyeringai dan memijit-mijit luka tembakan dipaha Dion dengan tumit kakinya.
“AAARRGGGGGGHHHHH!!” teriak Dion melolong sakit.
“Dion!” Shani mencoba menghampiri akan tetapi dihalang Direktur, “Tapi pak, Enu...”
“Diamlah, Enu itu tidak bodoh,” ujar Direktur.
Shani terdiam dan hanya bisa menyaksikan hal ini, begitu juga Yona dan Vienny. Bisa terlihat Vienny begitu pilu melihat suaminya menghajar orang yang dianggapnya saudara kandung sendiri tanpa belas kasihan sama sekali, terutama Yona, ia terlihat geram akan tetapi ia memilih diam ditempat.
“Kau tidak apa-apa, Yona?” tanya Vienny.
“Bohong kalau aku tidak bilang tidak apa-apa...” kata Yona pelan agar tidak didengar orang lain dan pandanganya pilu memandang penderitaan Dion, “... Tapi entah kenapa aku tidak bisa membencinya... padahal yang ia lakukan tadi begitu menyakitkan buatku...”
“Tenanglah... percayakan semuanya kepada Enu...” bisik Vienny.
Semua orang yang ada dimarkas terus melihat pertikaian yang sedang dilakukan Dion dan Enu.
“Anjing!” Dion menghantam wajah Enu dengan tangan kiri.
“Heeeh,” Enu menyeka wajah kanannya, “Kau merasa kuat telah mengalahkan 2 orang?”
“Jangan banyak bicara!” seru Dion dan menerjang.
Dion hendak meninju wajah kiri Enu akan tetapi Enu menghindar dan menangkap tangan kanan Dion tersebut, ia menariknya dan membanting Dion dengan sekuat tenaga. Setelah itu Enu kembali menginjak-injak luka dipaha Dion.
“UAAARRGGGGGHHHH!!!” tak ayal lagi, Dion pun melengking kesakitan.
Enu mencengkram kerah baju Dion agar pria ini berdiri, setelah itu Enu berkata, “Kau sudah tahu kenyataannya! Meskipun kondisi mu prima! Aku masih jauh lebih kuat daripada kau!”
Itulah yang menyebabkan Enu dengan mudah mengalahkan Ozy, karena diantara anggota Redrum dalam soal adu kekuatan maka Enu lah yang berada ditingkat 1 diantara yang lain.
“BRENGSEK!” Dion menanduk wajah Enu.
“Ugh! Sial!” dan Enu menghantam wajah Dion.
Dion dan Enu terus berbaku hantam, berguling-guling, berdiri dan kembali berbaku hantam. Jarak yang mereka lakukan untuk bertarung terus terarah kearah Lift. Enu menekan tombol lift dan kembali mengangkat Dion untuk berdiri.
“Akan kubuat kau berkicau!” Enu menyeringai.
“Errghh!!!” Dion memukul-mukul tangan Enu yang menyeret-nyeretnya.
Pintu Lift terbuka dan Enu langsung mendorong Dion masuk kedalamnya. Setelah itu Enu masuk dan menendang wajah Dion yang masih tersungkur. Shani yang panik mencoba menghentikan hal itu akan tetapi Boby menghalangi jalannya sampai akhirnya pintu Lift itu tertutup.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Shani.
“Maaf, tapi ini permintaan Enu sebelumnya.”
“Apa?!” Shani menyeringitkan dahi.
“Nanti kau akan tahu.”
Shani tak mengerti, dia melihat Yona dan Yona juga memilih diam tapi dari raut wajahnya bisa membuat Shani menebak kalau Yona juga tak kuat melihat hal tadi dan ingin membantu Dion. Tapi dari sikapnya itu bisa menandakan kalau Yona juga sudah tahu apa rencananya Enu.
Sedangkan didalam lift Enu dan Dion masih berbaku hantam.
“Anjing!” umpat Enu saat Dion menghantamkan wajahnya kedinding Lift.
“Hentikan ini, Nu!” teriak Dion.
“Heh! Pada akhirnya kau meminta ampun?!”
“Meminta ampun?! Apa kau pikir aku mau berkelahi dengan kau?!”
“Lalu kenapa?” Enu meraih kepala Dion dan dihantamkannya kedinding Lift, “KENAPA KAU BERSIKAP SEPERTI INI HAH?! KAU DIPERMAINKAN EMOSI KAU SENDIRI?! KENAPA?”
“Errgghh... k-kau tak perlu tahu!”
“Oh aku harus tahu! Kau satu-satunya saudaraku didunia ini!”
Pintu Lift terbuka dan Enu menendang Dion hingga membentur dinding lorong yang bercat putih dengan cahaya yang terang. Lorong ini adalah penghubung antara akses Lift dari dinding rahasia yang ada parkiran basement hotel.
“Errgggggghhhh!!!!”
Dion tertatih-tatih saat Enu menyeretnya menuju dinding rahasia, dinding rahasia terbuka dan Enu langsung melempar Dion kedepan hingga menabrak motor-motor yang terparkir disitu. Dinding rahasia tertutup dan Enu meloncat kebawah untuk menghampiri Dion.
“Dengarkan aku! Akan kubuat kau lumpuh! Benar-benar lumpuh! Hingga kau tidak akan berkesampatan melakukan apa yang kau inginkan sehingga termakan emosi kau seperti ini!” seru Enu sambil mencengkram kerah baju Dion.
“Errggh!!”
“Jadi kau mau memberitahu atau tidak? Kau tahu kalau aku tak pernah membuat ancaman kosong.”
“Errggghh!!” Dion masih merintih.
“Kau masih bisa menahan rasa sakit itu! JANGAN BERPURA-PURA SAKIT DIDEPANKU! BANGSAT!”
Enu kemudian membanting Dion diatas kap mobil miliknya, alarm mobil pun berbunyi akan tetapi dengan cepat dinon-aktifkan oleh Enu dengan remote kunci mobilnya.
“Kau mau memberi tahu,” Enu kemudian memegang tangan Dion dan menahan sikut tangannya dengan kaki, setelah itu ia menariknya kebelakang, “ATAU TIDAK HAH?!!”
“UAARGGGGGGHHHH!” teriak Dion saat rasa sakit tulang yang mau dipatahkan paksa menjalar diseluruh bagian tangannya.
Enu melepaskan tangan Dion, dengan kedua kepalan tangannya itu Dion menghujam perut Dion sehingga semburan darah dari mulut Dion mengenai wajah Enu. Enu kembali menarik Dion keatas, dan membantingnya lagi diatas kap mobil dan karena alarm-nya sudah dinon-aktifkan maka Enu tak perlu lagi repot untuk mematikan alarmnya.
“Haah,” Enu berbalik badan dan menyalakan rokoknya, setelah menghembuskan asap maka dia berbicara, “Apa yang membuatmu seperti ini, Yon?”
“Haaah.... Haaah...Haaah...” Dion terengah-engah dan terlihat lelah dengan semua ini, tenaga ia benar-benar terkuras apalagi untuk melawan.
“Kau jangan keras kepala, sedari kecil kau selalu bercerita apa yang menjadi masalah bagimu...” Enu kemudian duduk dibawah mobil, tepat disamping Dion yang terbaring diatas kap dengan posisi terbalik, “... Kau satu-satunya saudaraku disini, Yon... apa jadinya aku kalau kau begini, apa artinya menjadi saudara kalau tidak tahu masalah saudaranya sendiri...”
“Haaah... Haaaah.... Haaaah...” nafas Dion masih tersengal-sengal.
“Haaaah,” Enu menghela nafas dan menghisap rokok.
Enu terus merokok dan membiarkan Dion seperti itu, suara hujan yang ada diluar bertepatan dengan bunyi pintu basement parkiran yang tertutup dan itu dilakukan oleh Adis diruang kontrol agar tidak ada orang yang masuk kedalam. Jadi hanya ada Dion dan Enu diparkiran tersebut.
Suara hujan terus mengalir dan mengalir hingga memekakan telinga. Sementara itu Enu terus merokok hingga apinya hendak membakar filter. Dion yang terus menatap langit-langit parkiran tiba-tiba saja cegukan dan menarik perhatian Enu meskipun Enu tidak menoleh.
“... Apa?” tanya Enu sambil membuang puntung rokok.
Tak ada jawaban dari Dion, air matanya kembali mengalir seperti disaat ia berada dikuburan.
“Ini gara-gara aku...”
“Apanya?”
Tak ada suara dari Dion, air matanya terus mengalir meskipun tidak ada suara isak tangis darinya.
“Veranda...”
Enu menyeringitkan dahi karena Dion mengungkit nama mendiang istrinya sendiri.
“Apa maksudmu? Kenapa dengan Veranda?”
“... Dia... mati...”
Enu menghela nafas, “Kecelakaan, aku tau itu. Apa karena itu? Kau tak rela?”
Dion menggelengkan kepalanya, “Dia...” Dion menelan ludah dan melanjutkan perkataannya, “....Dibunuh...”
“Apa?!”
“Dia... dibunuh...” Dion terlihat susah payah mengucapkan kalimat itu karena ia menahan tangisnya sedari tadi meskipun air matanya sudah mengalir.
Betapa terkejutnya Enu mendengar penuturan ini, ia menoleh dan akhirnya melihat Dion mengalirkan air matanya sedari tadi. Dan tanpa Dion sadari kalau dirinya itu bisa dilihat lewat CCTV dan suara bisa terdengar jelas dengan alat yang ada disaku kemeja Enu dari Boby sebelumnya.
“Veranda dibunuh?” Vienny tercengang, ia pun menutup mulutnya dengan tangan tak percaya dengan hal ini.
“Veranda? Veranda itu istri Dion bukan?” tanya Damar.
“A-Aku tidak tahu,” Farin menggelengkan kepalanya.
“Ya... Itu istrinya...” jawab Ega yang sudah dipapah Sistim, wajah pria ini benar-benar babak belur dihajar Dion.
“V-V-Veranda... dibunuh...” Shani juga bertekuk lutut, matanya terbelalak dan ia menutup mulutnya.
“Dion...” batin Yona yang bisa melihat Dion dilayar tengah ruangan markas Redrum, dan itulah rencana Enu sebelumnya, memberitahu semua anggota apa yang menjadi masalah Dion tersebut agar tidak terjadi kesalah pahaman dengan yang lain. Dan tentu saja ini berkat kerja sama Enu dengan Adis sebelumnya.
“Jadi begitu...” Adis mempertemukan punggungnya dengan kursi dan melihat Dion dan Enu dengan layar yang ada didepannya.
Sementara itu terjadi kebisuan antara Enu dan Dion diparkiran, Enu benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan kepolisian dan anggota Redrum sudah menganalisa kalau ini murni kecelakaan.
“A-Apa maksudnya? Veranda dibunuh? Dibunuh siapa?” tanya Enu.
“Dibunuh... oleh... Bing....”
“Bing? Orang yang bersama Milo itu? Kenapa dia bisa tahu tentang Veranda? Dan apa alasan dia?”
Dion masih kesusahan berbicara, akan tetapi ia merasa memang perlu menceritakan hal ini agar bebannya bisa sedikit terlepas. Ia pun menceritakan semua ini sewaktu ia mengejar Milo hingga ia berbicara dengan Bing. Ia ceritakan semuanya kepadanya Enu bahkan alasan ia melarikan diri dari rumah sakit, karena ia ingin benar-benar memastikan apa Joko orang yang menabrak istrinya itu benar-benar ingin menghindar dari mobil yang dikendarai Cari dan itu benar adanya. Secara tak langsung Veranda benar-benar dibunuh oleh Cari atas suruhan Bing.
“... Kau benar-benar yakin?”
“Ya...” jawab Dion lemah.
“... Apa Bing itu... adikmu? Kau bilang dia memanggilmu ‘Kak’ sebelum dia pergi...”
“Aku tidak tahu... aku benar-benar tidak tahu Kak yang dimaksud itu dalam ranah apa... saudara kandung atau yang lain... ini berhubungan erat dengan masa kecilku... masa dimana aku kehilangan ingatan waktu itu...”
“... Begitu...” Enu menoleh kedepan dan menyeringitkan dahi dan tak menyangka akan hal ini.
“... Ini semua salahku bukan... andai saja Veranda tidak mempunyai hubungan denganku... hidup dia tidak akan berakhir seperti ini...”
“Entahlah... hanya saja... aku rasa Veranda tidak akan menyalahkanmu...”
“Aku tau... tapi tetap saja aku merasa bersalah... aku lah yang membuat dia menjadi targetnya... kenapa harus dia... kenapa harus dia dan calon anakku...”
“Yon...”
“Hidupku memang seperti sampah, bahkan lebih buruk dari binatang... tapi apa karena itu aku tak berhak untuk mendapatkan hidup yang layak dan memiliki kebahagiaan... semua yang kusayangi selalu musnah... anak-anak panti asuhan... Veranda... anakku sendiri...”
Enu hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Dion barusan, walau terkesan Play Victim tapi memang itu kenyataan yang dialami Dion, terlebih lagi hanya ada Dion dan Enu disitu.
“Kau tak sendirian, Yon,” kata Enu tiba-tiba.
“Aku muak mendengar kata-kata bijak ampas yang diucapkan orang tanpa pernah mengalaminya...” ujar Dion.
“Aku tidak berniat seperti itu,” Enu memiringkan bibir, “Tapi yang harus kau tahu, tidak hanya kau sendiri yang sengsara akan itu. Kau tahu begitu banyak orang yang tewas karena ulah Milo, dan juga Bing karena dia ketuanya. Dan pikirkan baik-baik, apa kau pikir hanya kau saja yang mendapatkan penderitaan yang sama?”
Dion terdiam sejenak.
“Semua keluarga korban kemarin sama hal nya dengan kau, mereka juga kehilangan dan bingung harus berbuat apa. Mereka berharap dengan tertangkapnya pelaku kemarin akan tetapi harapan mereka sekarang pupus...”
“Lalu apa yang harus kuperbuat, dan gara-gara aku juga mereka lolos bukan...”
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Brengsek!” Enu menepuk kepala Dion, “Lakukan apa yang harus kau lakukan ditempat kau bekerja sekarang ini, kau tidak sendirian. Ada aku dan yang lain, kita semua disini juga mengincar mereka! Apa kau pikir bisa menemukan mereka sendiri? Ditambah lagi dengan perbuatan kau tadi?”
“... Aku hanya tidak ingin menyeret orang lain, dan kalau Bing benar-benar mempunyai hubungan erat denganku... tentu saja ini menjadi tanggung jawabku bukan...”
“Siapa bilang? Dia tanggung jawab kita semua, kita akan cari dia, berikut Milo dan Birwan. Sudah kubilang jangan merasa semua beban ini kau yang menanggung! Brengsek! Bukan hanya kau yang menderita karena perbuatan mereka! Banyak! Noh ribuan orang diluar yang merupakan keluarga korban juga merasakan hal yang sama!”
“... Aku tak...”
“Sekali lagi kau mau menyalahkan diri sendiri kulumpuhkan kau sekarang juga! Dan kau kubiarkan menderita tanpa berbuat apapun untuk menemukan mereka! Itu yang kau mau?!” ancam Enu.
Dion terdiam, tak lama kemudian dia terkekeh.
“Sok tahu, tadi aku mau bilang aku tak tau caranya harus menjelaskan kepada mereka... Reno kuhajar. Yona kubentak... apa yang harus kulakukan saja aku tak tau sekarang ini...”
“Meminta maaf apa susah?”
“Kurasa tidak akan cukup, mereka akan puas kalau mereka sudah menghajarku...”
“Kau sendiri yang mencari perkara bukan?”
“Ya..” Dion tersenyum tipis, “... Dan bisakah kau tidak mengatakan sesuatu hal yang dramatis tadi? Saudaraku-saudaraku seperti tadi...”
“Kenapa?”
“Menggelikan kau tau,” Dion cengengesan.
“Heh,” Enu juga cengengesan.
Apa yang dilakukan Enu dan Dion sudah disaksikan semua oleh anggota Redrum, dan merasa wajar kenapa Dion bisa begitu termakan emosinya sendiri. Terlebih lagi Yona, akhirnya dia tahu alasan Dion membentaknya dan memperlakukannya secara dingin tadi, itu agar Dion membuat ia menjauh darinya karena dia tidak ingin ada orang terdekatnya mati lagi seperti anak-anak panti asuhan dan juga Veranda.
Bodoh...” Yona tersenyum dan mencoba menahan tangisnya.
Enu benar, Dion... dan bukan hanya kau satu-satunya orang yang merasa kehilangan Veranda...” pikir Shani didalam hati, ia pun merasa sedih saat tahu kalau Veranda ternyata dibunuh, ia buru-buru ketoilet untuk menangis disitu.
“Brengsek! Jadi karena urusan pribadi dia sampai menghajarku!” umpat Ega.
“Takkan kubiarkan! Permintaan maaf tidak cukup!” ditambah Ozy dan memaki Enu, “Dan brengsek kau Nu! Aku hari ini berencana mau nonton! Bagaimana ceritanya kebioskop dengan wajah memar seperti ini?!”
“Nonton sama siapa lu?!” tanya Ega.
“Mau tau aje lu! Brengsek!” umpat Ozy kepada Ega.
“SIALAN!” Manda menggebrak meja, “BOBY! SAMBUNGKAN SUARA KAMI DISINI KE SPEAKER PARKIRAN!” perintahnya.
Tak lama kemudian Ega, Manda dan Ozy mendapatkan pesan dari Reno yang berbunyi – Tolong gantikan aku menghajar panutanku.
“LAKUKAN SENDIRI!” teriak Manda, Ozy dan Ega berbarengan.
“Hmm sepertinya hiburan kita sudah berakhir,” pak Agung terkekeh bersama petinggi Redrum lainnya.
“Dan ternyata benar, ada yang disembunyikan Dion tadi saat memberi informasi. Bing memanggil dia ‘Kak’, entah itu panggilan dalam ranah apa,” sambung pak Hengky.
Dari semua pembicaraan itu hanya Direktur yang tampak tak tertarik, ia menghisap cerutu dan berdiri, ia kemudian berjalan menuju ruangannya seorang diri. Sementara itu Manda, Ozy dan Ega menggebu-gebu berbicara kepada Dion lewat speaker yang sudah diaktifkan Boby diparkiran. Mereka akan kesana untuk melakukan babak kedua karena tak terima berkelahi karena alasan pribadi Dion. Dion yang masih terbaring lemah diatas kap mobil hanya bisa termangu.
“... Kurasa aku tahu alasanmu membawaku kesini...” kata Dion sinis.
“Hehe, kalau tidak begini kau tidak akan mau memberitahuku bukan?”
“Tapi gak gini juga... kesannya aku mau orang bersimpati dengan masalahku. Brengsek! Aku tak mau menjadi ‘Tokoh yang utama’ dalam organisasi ini!”
“Gakpapalah, sekali-kali.”
“Sialan lu!”
“Ya, lebih baik kau bersiap-siap saja menunggu kedatangan Manda, Ozy dan Ega kesini.”
“... Kurasa aku akan kembali terbaring dirumah sakit... tapi sebelumnya apa kau membawa HP-ku?”
“Ya, untuk apa?” Enu mengeluarkan handphone Dion dari saku celananya.
“Hanya tidak ingin membuat orang khawatir sebelum aku masuk rumah sakit lagi,” kata Dion sambil melihat kontak di-Handphone-nya.
“Siapa?” Enu menyeringitkan dahi.
“Lebih baik kau masuk saja, biarkan aku menunggu 3 orang itu kesini,” usir Dion.
“Haaah yaudah,” Enu lalu berdiri dan melompat, dinding rahasia terbuka dan Enu memasuki dinding tersebut.
Lama menunggu panggilang akhirnya telepon yang tuju terangkat.
-Halo? Halo? Dion?! Dion kamu dimana?! Aku denger kamu masuk rumah sakit?! Kamu udah siuman? Halo? Halo? suara wanita diseberang telepon tampak panik hingga meracau tak jelas.
Dion tersenyum mendengar suara wanita tersebut sebelum ia dikirim kembali kerumah sakit karena ulah Manda, Ozy dan Manda. Dan ia segera membalas salam telepon dan berkata.
“Halo... Ody.”
[ B e r s a m b u n g ]
N U M E R I Q  
[ C e l o t e h a n ]

© Melodion 2017 all right reserved
Numeriq | File IX : Bold Numeriq | File IX : Bold Reviewed by Melodion on Desember 29, 2017 Rating: 5

3 komentar:

  1. Mantap bang cerita lo....

    Ditunggu cerita selanjutnya...

    BalasHapus
  2. Sampai sedih anjay... Kerasa gimana kehilangan orang tersayang... Lanjut gw ingi liat cerita selanjutnya yon...

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.