Pergi Tuk Bertemu

PERGI TUK BERTEMU
Cerita ini sebenarnya sudah saya buat setahun yang lalu, di bulan Agustus. Jangan terlalu dianggap serius dengan cerita saya yang receh ini. Selamat membaca.

****
Aku baru saja pulang dari kantor dan menyempatkan mampir ke warung kopi hanya untuk menghilangkan stres akibat kerjaanku yang numpuk. Malam itu terasa dingin, sehingga aku memutuskan untuk memesan segelas kopi hangat dan sepiring pisang goreng. Kunikmati setiap tegukan kopi hangat, sembari memakan pisang goreng yang tadi kupesan. Perlahan stresku mulai menghilang, pikiranku menjadi lebih fresh dan badanku menjadi lebih relax, membuatku malas untuk pulang ke kosan. Kuambil ponsel dari saku celana dan melihat ada notifikasi yang masuk, sebuah pesan.
Trisakti: Aryo, dua hari lagi Kak Ve ulang tahun. Lu mau ngasih kado ke dia, kan? Lu jadi ke Theater JKT48 nggak?
Aku teringat kalau dua hari lagi Ve ulang tahun ke 23, dan sampai saat ini aku belum tahu mau memberinya kado apa. Aku hampir lupa, untung saja Trisakti memberitahuku. Oh iya, Ve adalah salah satu member JKT48 yang kusukai. Di mataku dia seperti bidadari, apalagi pipi gemuknya seperti bakpao menambah kesan imut. Aku pernah sekali bertemu dengannya pada saat JKT48 mengadakan Direct Selling ke Bandung beberapa waktu lalu. Dia terlihat lebih cantik dibanding saat aku melihatnya di tv maupun di photopack.
Aryo: Oh iya, gue lupa. Untung lu ngingetin. Gue jadi ke theater, tapi gue belum tahu mau ngasih kado apa ke dia.
Trisakti: Kasih sesuatu yang berasal dari hati lu.
Sesuatu yang berasal dari hati? Cinta? Oh, tidak mungkin.
Aryo: Oke, deh, nanti gue pikirin lagi.
Trisakti: Oke.
Aku jadi kepikiran dengan apa yang dimaksud Trisakti tadi. Sesuatu yang berasal dari hati? Setahuku sesuatu dari hati itu, cinta. Apa aku harus menyatakan cinta pada Ve? Hey, aku bukan siapa-siapanya, aku hanya seorang fans yang mengaguminya. Cinta? Ya, mungkin saja aku cinta padanya, tapi apakah aku bisa meraihnya yang jelas-jelas dia diidolakan oleh jutaan orang. Mungkin aku akan berpikir seperti itu. Jika bukan cinta, lalu apa lagi? Ah, aku pusing memikirkannya. Lebih baik aku menghabiskan kopi dan pisang goreng dulu selagi masih hangat.
Sedang enak-enaknya menikmati kopi hangat, aku tidak sengaja melihat sebuah lukisan kecil di dinding warung kopi ini. Ah, sepertinya aku tahu harus memberi kado seperti apa untuk Ve. Aku pun menghabiskan kopi dan pisang goreng yang tersisa, lalu bergegas pulang menuju kosan.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku langsung membuat sesuatu yang nanti akan kujadikan sebagai kado ulang tahun Ve. Sesuatu yang berasal dari hati. Kucoret-coret kertas gambar berukuran A3 menggunakan pulpen, perlahan tapi pasti aku membentuk sebuah wajah yang cantik seperti wajah bidadari. Wajah Jessica Veranda, member JKT48 yang aku sukai.
Gambarku sudah selesai dibuat, tinggal melakukan finishing. Kuambil bingkai foto dipojokan kamar kosku, lalu memasang gambar milikku pada bingkai foto itu. Tidak lupa aku menuliskan rangkaian kata untuk Ve di selembar kertas kecil dan memasukkannya ke dalam amplop. Kemudian, kubungkus bingkai foto beserta amplop itu dengan kertas kado berwarna biru, karena Ve sangat menyukai warna biru. Kado ulang tahun untuk Ve sudah siap, tinggal tidur karena malam sudah semakin larut.
****
Aku lega sekali karena sudah selesai membuat sebuah kado ulang tahun untuk Ve. Tinggal memikirkan transport yang akan kugunakan besok. Ya, besok adalah hari dimana Ve ulang tahun, dan aku akan pergi ke Theater JKT48. Aku jadi tidak sabar, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Ve.
“Tris, besok gue ke Theater JKT48, gue bingung kesananya naik apa?” Aku bertanya kepada Trisakti yang sedang makan di sebuah kafe.
“Lu naik kereta aja, Yo. Nanti gue bantu nyari tiketnya,” jawab Trisakti sambil mengunyah makanannya.
“Lu mau ikut gue kesana?”
Trisakti mengambil minuman di meja dan meminumnya. “Gue masih banyak kerjaan di studio music, ada lagu yang belum gue aransemen, kalau gue ninggalin kerjaan lagi bisa-bisa gue didepak dari band gue.”
“Yah... gue kesana sendiri,” kataku.
Next time, kalau gue udah nggak sibuk gue ke theater. Oh ya, salam ya buat Shafa.”
“Yeee... Shafa mah tim K3, gue kan kesana pas show-nya tim J.” Aku menjawab dengan sedikit kesal.
“Ya, kali aja lu ketemu Shafa disana.” Trisakti tertawa.
Ya, besok aku harus berangkat ke Jakarta sendiri. Temanku Trisakti tidak ikut karena kerjaannya masih banyak. Ya sudahlah, tidak apa-apa aku berangkat sendiri, hitung-hitung pengalaman pergi theateran sendiri.
Selesai makan, aku memesan tiket kereta secara online lewat laptop Trisakti. Aku berhasil mendapatkan tiketnya. Oke, jadwal keberangkatan keretaku besok adalah jam sebelas siang, kalau dari Bandung sekitar tiga jam menuju Jakarta, jadi jam dua siang aku sudah berada di Jakarta. Ya, masih ada waktu lima jam lagi untuk mencari penginapan sambil menunggu show theater jam tujuh malam dimulai. Tiket sudah ditangan, aku pun bergegas pulang ke kosanku untuk melakukan packing.
****
Akhirnya hari dimana Ve ulang tahun tiba. Aku jingkrak-jingkrak di atas kasur karena sangking senangnya hari ini aku bisa bertemu Ve lagi tepat di hari ulang tahunnya juga. Sebelumnya maaf ya, atas kenorakanku tadi. Ya... namanya juga lagi seneng, hehe.
Aku bergegas mandi, berpakaian rapi dan juga sarapan. Setelah semua siap, mulai dari ransel isi baju, print out tiket theater, tiket kereta, dan tidak lupa kado untuk Ve. Aku pun bergegas meninggalkan kosan menuju stasiun Kiaracondong, karena aku naik keretanya di stasiun ini.
Kini aku telah sampai stasiun. Karena hari ini masih pukul 10.25 dan kereta juga belum datang, aku memutuskan untuk mencari makanan disekitar stasiun yang nantinya akan aku makan selama perjalanan. Makanan sudah ditangan, namun jam menunjukkan pukul 10.30 dan kereta masih belum datang. Ya sudah, aku memutuskan untuk menunggunya kembali sambil duduk di bangku stasiun.
“Aryo!”
Seseorang memanggilku. Aku menoleh kearah sumber suara itu. Tepat di depan loket stasiun orang tersebut sedang berdiri melihat ke arahku.
“Oy, Yudha!” Aku membalas panggilannya. Yudha berjalan ke arahku dan duduk disampingku.
“Kemana aja, bro?” tanya Yudha, saling berjabat tangan denganku.
“Biasa, sibuk di kantor, haha,” jawabku dengan antusias. “Lu masih kerja disini, Yud?”
“Masih, dong. Gue kan punya cita-cita jadi Direktur KAI,” jawab Yudha dengan sangat antusias.
Ya, Yudha ini adalah temanku semasa kuliah. Dan dia bercita-cita ingin menjadi Direktur KAI, semoga saja cita-citanya itu tercapai.
“Lu mau kemana, Yo?” tanya Yudha.
“Jakarta, Yud. Gue mau ke Theater JKT48 karena oshi gue ulang tahun,” jawabku.
Yudha terlihat sedikit tertawa. “Masih ngidol aja nih Yo, hahaha.”
“Hehehe. Masih nih, namanya juga hobi.” Aku jadi salah tingkah. Ya, memang sekarang aku masih ngidol, malah dari kelas dua SMA aku sudah mulai ngidol. Memang, ya, yang namanya udah hobi susah buat lepasnya.
“Oh ya, akhir-akhir ini di jalur perlintasan kereta Bandung-Jakarta sering terjadi kecelakaan. Jadi lu harus hati-hati, Yo,” kata Yudha dengan ekpresi muka yang serius.
Aku sedikit khawatir, takut terjadi apa-apa selama perjalanan ke Jakarta. Tapi aku berusaha selalu berpikir positif, semoga saja tidak terjadi apa-apa selama di perjalanan.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00, dan kereta yang kutunggu pun akhirnya datang. Aku berpamitan kepada Yudha. Dia mengantarkanku menuju gerbong kereta yang akan ku naiki. Aku sudah di dalam gerbong kereta, tidak lama kemudian kereta pun berangkat menuju Jakarta.
****
Akhirnya, sebentar lagi aku bertemu lagi dengan Ve dan memberikan kado ulang tahun untuknya. Ingin rasanya aku bilang ke masinis kereta yang kutumpangi supaya melajukan keretanya dengan kecepatan penuh, karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan idolaku. Kalau aku bilang seperti itu ke masinis, yang ada aku malah diturunin dari kereta sebelum sampai Jakarta. Tapi tak apalah, aku nikmati saja perjalanannya sambil melihat pemandangan yang ada diluar kereta.
Ah, lama-lama bosan juga melihat pemandangan dari dalam jendela kereta. Untuk menghilangkan rasa bosanku, aku memakan sebungkus nasi padang yang tadi aku beli di stasiun. Sambil makan aku membuka aplikasi Twitter di ponselku, dan melihat sebuah mantion yang membuatku tersedak kegirangan. Ya, siapa lagi kalau bukan Jessica Veranda.
Jessica Veranda: Hollaaa ^^ Ayo siapa yang datang ke show #TNMkuy hari ini? Ada yang spesial loh hehe.
Ada yang spesial? Hmm, apa ya? Hari ini kan ulang tahunnya Ve, mungkin saja dia mau kasih kejutan waktu show nanti. Bisa saja kan disaat lagu ‘Perbuatan Angin Malam’, dia tiba-tiba menunjuk aku ke atas panggung, kemudian mencium pipiku dan mengatakan “I love you”. Setelah itu semua fans yang ada disitu menjadi iri terhadapku, lalu mereka semua yang kesal menghajarku sampai sekarat. Ah, pikiranku lagi-lagi kacau, mana mungkin Ve ngasih kejutan kayak begitu. Tapi yang jelas, aku semakin penasaran dengan kata ‘spesial’ yang dimaksud Ve itu.
Aku mencoba membalas mantion Ve di kolom komentar, ya walau kecil kemungkinan mantion-ku bakal dibalas olehnya karena ada jutaan orang yang mantion ke dia dan berharap mantion-nya dibalas.
Martinus Aryo: Holla Ve ^^ Hari ini aku datang ke theater loh, ini aja aku masih di perjalanan naik kereta dari Bandung hehe. Aku juga ada yang spesial buat kamu ^^
Seketika aku teringat kado ulang tahun untuk Ve. Aku memperhatikan kado ulang tahun yang sudah kubungkus itu secara seksama. Ini adalah kado yang berasal dari hatiku, kado yang sangat berharga. Ya, aku harap Ve bisa menerima kado ulang tahun ini, walaupun nggak seberapa yang penting kan maknanya.
Lima belas menit kemudian, aku kembali melihat timeline di Twitter. Ve kembali membuat mantion yang sukses membuatku tersedak lagi saat minum.
Jessica Veranda: Oh ya, yang lagi di perjalanan ke theater dari luar kota, hati-hati di jalan, ya. Ditunggu di theater :*
Mimpi apa aku semalam? Seakan tidak percaya mantion-ku ditanggapi olehnya. Kalau kata Fans JKT48 sih diwaro member. Kucubit pipiku untuk memastikan aku tidak sedang tertidur saat ini. Aw! Ternyata aku tidak tertidur, ini nyata. Oh, tidak-tidak, mungkin ini hanya kebetulan saja. Aku senyum-senyum sendiri, sampai-sampai orang yang duduk di sebelahku menggeserkan posisi duduknya menjauhiku. “Mas, sehat? Kok senyum-senyum sendiri?” kata orang itu. Cih, aku disangka orang gila, tapi tak apalah.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, dan aku masih di perjalanan menuju Jakarta. Sekitar satu setengah jam lagi aku tiba di kota metropolitan. Aku yang sedang terdiam tiba-tiba teringat omongan Yudha waktu di stasiun tadi. Katanya akhir-akhir ini di jalur perlintasan kereta Bandung-Jakarta sering terjadi kecelakaan, tapi ia tidak menjelaskan penyebab-penyebab terjadinya kecelakaan itu. Aku menjadi sedikit khawatir, pikiranku mulai kemana-mana. Bagaimana jika kecelakaan selanjutnya itu terjadi pada kereta yang sedang kutumpangi? Lalu, jika aku tidak selamat, otomatis aku tidak bisa memberikan kado ulang tahun ini pada Ve. Ah, pikiranku mulai kacau kembali. Kuambil botol air minumku dan meminumnya, kucoba untuk tetap tenang.
Daripada aku menjadi semakin khawatir, lebih baik aku tidur menenangkan kembali pikiranku. Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Belum sampai lima detik aku memejamkan mata, terjadi goncangan yang cukup keras di gerbong kereta yang aku naiki. Ada apa ini?, pikirku. Kemudian terdengar suara benturan keras dari arah gerbong depan. Suara benturan itu terdengar berurutan. Aku mulai panik, ternyata yang kukhawatirkan itu terjadi. Aku melihat keluar jendela, deretan gerbong didepan gerbongku ambruk kepinggir rel. Seketika itu juga aku langsung mengambil semua barangku, beranjak dari tempat duduk yang aku tempati. Orang-orang di dalam gerbong tampak panik, mereka berhamburan berusaha keluar dari gerbong kereta. Tapi semua sudah terlambat. Aku merasakan gerbong yang kunaiki akan ambruk juga. Oke, ini mimpi buruk.
****
Aku terbangun dari pingsan akibat gerbong kereta yang kunaiki ini ambruk dan terguling ke sisi rel. Syukurlah aku selamat. Aku memperhatikan sekitar gerbong, terlihat orang-orang di dalam gerbong bangun dari pingsannya. Mereka hanya mengalami luka-luka, untung saja tidak ada korban jiwa. Aku tidak tahu kenapa kereta yang kutumpangi ini bisa mengalami kecelakaan, tapi sebelumnya aku mendengar suara dentuman yang keras, aku rasa kereta ini menabrak sesuatu.
Aku keluar dari gerbong kereta dengan memecahkan kaca jendela. Kemudian memanjat ke arah jendela, karena posisi gerbong kereta saat itu dalam posisi terguling. Aku berhasil keluar sambil membawa barang bawaanku. Para penumpang yang melihatku berhasil keluar gerbong, ikut keluar gerbong juga.
“Ini, sih, bukan kecelakaan biasa, lihat saja lokomotifnya sampai hancur bagian depan,” ucap seorang penumpang yang baru saja keluar dari gerbong yang kunaiki. “Ditambah lagi disana ada longsoran batu yang menghalangi, pantas saja kereta jadi terguling.” Penumpang itu menunjuk ke arah longsoran.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk penumpang tadi. Sepertinya ada yang aneh dengan longsoran itu. Kenapa di tempat seperti ini bisa terjadi longsoran batu, padahal vegetasi di tempat ini adalah bukit dengan banyak pohon rindang? Selain itu batu-batu di longsoran tersebut seperti batu hasil tambang manusia. Oke, perasaanku mulai tidak enak.
Firasat burukku mulai terjadi lagi. Aku mendengar suara tembakan dari atas bukit. Para penumpang di area tersebut mulai berhamburan, berusaha melarikan diri dari suara tembakan. Suara tembakan itu mulai mengarah ke arah para penumpang kereta. Sebagian dari para penumpang terkena luka tembak, bahkan banyak yang langsung tewas ditempat. Aku ikut melarikan diri agar aku tidak tertembak. Aku berlari menuju hutan diseberang rel kereta diikuti para penumpang yang lolos, dan bersembunyi di sebuah parit bekas aliran air sambil mengamati dari kejauhan. Tunggu sebentar, sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku mengecek barang bawaanku. Astaga! Kado ulang tahun Ve!
Sial! Kado ulang tahun Ve tertinggal disana, karena sangking paniknya tadi aku sampai lupa kadonya tidak kubawa. Kalau aku tidak mengambil kembali kado itu, bisa-bisa kado ulang tahun itu tidak sampai ke tangan idolaku. Sekarang disana sudah ada sekelompok orang membawa senjata api, berpakaian seperti preman. Mereka mulai menyandera para penumpang yang masih tertinggal disana.
“Hey kalian! Cepat kumpul kesini dan berlutut. Kalau nggak, kalian mati!” ucap salah seorang dari kelompok bersenjata itu sambil menodongkan senapannya kearah para sandera.
Aku sempat berpikir kalau kejadian ini adalah perampokan, tapi kenapa perampokan sampai bisa membuat nyawa banyak orang terbunuh? Oke, ini bukan perampokan biasa, ini sih teroris namanya.
“Waduh, gimana ini? Mereka banyak lagi, kita nggak mungkin bisa selamat,” ucap salah satu penumpang wanita yang selamat.
“Kita sih bisa saja melarikan diri saat ini juga, tinggal lari aja terus ke dalam hutan. Tapi pacarku lagi disandera sama mereka,” ucap salah satu penumpang pria yang berada disampingku.
“Kita harus menyelamatkan mereka dulu, baru kita bisa melarikan diri, kebetulan barangku yang berharga tertinggal di sana.” Aku mencoba berbicara kepada penumpang lain yang selamat. “Oh ya, boleh aku tahu nama kalian?”
“Namaku Derine,” ucap seorang penumpang yang berada disampingku.
“Aku Tika,” ucap penumpang wanita yang tadi berbicara dengan Derine.
“Gue Iqbal dan ini adek gue Dika,” ucap seorang penumpang yang ada di belakangku.
Semua penumpang yang selamat menyebutkan nama mereka masing-masing. Kalau aku hitung-hitung jumlah penumpang yang selamat sekitar sepuluh orang, termasuk aku. Dikit banget, ya. Ya, soalnya sisanya disandera sama para teroris itu dan banyak juga yang tewas. Dengan sepuluh orang ini aku harus bisa menyelamatkan para sandera dan mengambil kembali kadoku yang tertinggal.
Aku bersama yang lain menyusun rencana untuk menyelamatkan para sandera. Entah rencana ini akan berhasil atau tidak, kami harus mencobanya. Kulihat keadaan disekitar tempat para teroris itu. Ada dua orang teroris yang menjaga para sandera lengkap dengan senapan ditangannya. Sisa teroris yang lain berpatroli disekitar kereta.
“Oke, kalian bertiga maju kearah para sandera lewat belakang kereta. Setelah Derine, Tika, Iqbal dan Dika berhasil ngelumpuhin teroris yang lagi patroli, kalian langsung selamatin sandera.” Aku memberi arahan kepada tiga orang penumpang yang selamat. Aku udah kaya leader aja nih, hehe. Mereka bertiga mengangguk paham.
Lalu aku menunjuk dua orang lainnya. “Kalian pergi ke stasiun berikutnya untuk minta pertolongan. Setahuku jarak dari sini kesana tidak begitu jauh, jadi aku harap kalian cepat mendapatkan pertolongan.”
Mereka berdua mengangguk paham akan maksudku. Oke, arahan selanjutnya.
“Derine dan Tika, kalian ke sisi kiri. Lumpuhkan teroris yang lagi patroli di sana pake batu atau semacamnya.” Aku menunjuk ke arah tiga teroris yang sedang patroli di belakang kereta yang ambruk. Derine dan Tika mengangguk paham.
“Iqbal dan Dika, kalian ke sisi kanan. Lumpuhkan juga teroris yang lagi patroli di sana pake batu atau semacamnya.” Aku menunjuk ke arah tiga teroris yang sedang patroli didekat tempat sandera ditawan. Iqbal dan Dika mengangguk paham.
“Selagi kalian sibuk ngelumpuhin para teroris yang lagi patroli, aku akan menyusup masuk lewat jalan memutar ke arah longsoran batu karena jaraknya tidak jauh dengan posisi kita sekarang. Setelah itu aku akan coba ngelumpuhin teroris yang lagi jaga para sandera sambil mencari barangku,” lanjut aku.
Semua paham dengan rencanaku. Semoga saja rencana ini berhasil, kalau sampai tidak berhasil, aku tidak bisa ke Theater JKT48, malah ikut disandera sama para teroris itu. Terus kado ulang tahun buat Ve bisa terbuang sia-sia, bisa saja kan para teroris itu menghancurkan kadonya sebelum aku menemukannya.
Oke, saatnya melaksanakan rencana. Dua orang yang tadi kusuruh pergi ke stasiun berikutnya, langsung berlari menuju kesana melewati hutan agar tidak ketahuan para teroris itu. Derine, Tika, Iqbal dan Dika bersiap di posisi yang sudah aku tentukan dengan batu-batu dan batang kayu sebagai senjatanya. Tiga orang yang lain menunggu disini sampai para teroris yang sedang patroli itu berhasil dilumpuhkan. Aku mulai bergerak menuju ke arah longsoran batu.
Aku terus berjalan sampai tempat longsoran sembari terus waspada agar tidak tertangkap teroris itu. Aku melihat salah satu teroris yang patroli dekat kereta mendadak pingsan karena terkena lemparan batu. Kayaknya Derine dan Tika berhasil melaksanakan rencana. Dengan ini salah satu teroris itu berkurang.
Akhirnya aku sampai di tempat longsoran. Baru juga sampai aku melihat para teroris yang lagi patroli itu berhasil dilumpuhkan. Oke, kali ini Iqbal, Dika, Tika dan Derine berhasil melakukan rencanaku. Sekarang giliranku yang beraksi. Aku memperhatikan keadaan disekitar tempat para sandera sambil sembunyi dibalik batu besar. Ada dua orang teroris yang menjaga para sandera itu.
Oke, ini mudah buat dilumpuhkan. Tapi tunggu sebentar, aku melihat benda yang dibungkus kertas warna biru yang tergeletak di dekat tempat para sandera. Kayak kenal itu benda.
“Itu kado ulang tahunku buat Ve,” kataku pelan. Akhirnya ketemu juga, jadi bisa ketemu Ve langsung nanti, haha.
Aku harus mengambil kado itu, tapi sebelumnya aku harus melumpuhkan dua teroris yang jaga para sandera lebih dulu. Aku mengambil beberapa batu di tanah, dan melemparkan satu batu kearah kereta sebagai pengalih perhatian.
“Siapa disana?!” tanya salah satu dari mereka.
“Coba lu samperin,” ucap salah seorang lagi.
Oke, pengalih perhatian berhasil. Aku mencoba mengintip dan ternyata salah seorang dari dua teroris itu maju kearah tempat batu yang aku lempar tadi. Kesempatan. Aku mengambil salah satu batu berukuran sedang, lalu aku arahkan ke kepala teroris itu, kemudian melemparnya dengan sangat keras. Teroris itu langsung pingsan terkena hantaman batu dariku.
“Woy!! Keluar lo! Lo apain anak buah gue?!” Teroris yang satu lagi menyadari kalau anak buahnya mendadak pingsan. Kalau aku dengar dari ucapannya barusan, nampaknya dia pemimpin kelompok ini.
“Kalau lo nggak keluar, gue bunuh para sandera disini!”
Waduh, gawat! Kalau aku nggak keluar, itu teroris bakal ngebunuh para sandera. Tapi kalau aku keluar, bisa saja dia malah ngebunuh aku pake senapannya. Situasiku cukup sulit nih, aku harus bertindak.
Aku memberanikan diri keluar dari tempat persembunyianku sambil menggenggam sebuah batu berukuran sedang ditangan.
“Akhirnya keluar juga lu bocah,” ucap teroris itu sambil menodongkan senapannya kearahku. Jarak aku dengan teroris itu hanya beberapa meter, jadi ada kemungkinan aku bisa tertembak.
“Tenang, Bang, saya nggak bermaksud ngelukain temen Abang.” Aku berusaha mencoba mencairkan suasana.
“Banyak bacot lo! Berlutut disitu atau gua tembak kepala lu.”
Buset galak amat teroris satu ini. Aku tidak mau ngambil risiko yang terlalu besar, akhirnya aku menuruti perintah si teroris. Namun saat hendak berlutut, tidak jauh dari tempat si teroris berdiri ada tiga orang penumpang yang tadi kusuruh menyelamatkan sandera. Mereka memberi isyarat dengan mengacungkan jempolnya. Oke, aku mengerti apa yang dimaksud mereka.
“Bang, saya kesini bukan buat nyelametin sandera, tapi saya mau ngambil barang saya yang ketinggalan. Itu disana.” Aku menunjuk kearah kado ulang tahun Ve yang tergeletak dekat kereta.
“Terus masalahnya sama gue apa?” tanya si teroris.“Lu harus tau, ye, barang-barang yang ada di kereta ini udah jadi milik gue dan temen-temen gue. Gue sama yang lain udah susah payah bikin longsoran supaya itu kereta anjlok. Kalau lu berani ngambil barang-barang disini apalagi nyelametin para sandera, mati lu!”
Ini teroris bodoh banget ya, terang-terangan dia ngasih tau kalau merekalah yang mencipatakan longsoran itu. Seketika aku jadi mengerti kenapa akhir-akhir ini sering terjadi kecelakaan disepanjang jalur perlintasan Bandung-Jakarta. Penyebabnya adalah para teroris ini.
“Bang, bisa tolong ambilin barang saya yang ada di sana nggak?” Aku menunjuk kearah kado ulang tahun Ve. Aku harap dia mau mengambilnya.
“Buat apa? Barang itu sekarang jadi milik gue,” kata teroris itu sambil mengacungkan senapannya ke kadoku.
“Yaelah bang, barang itu sangat berarti buat saya. Kalau saya nggak dapetin lagi barang itu, saya bisa mati,” kataku dengan wajah memelas.
Ya, memang aku terancam terbunuh oleh si teroris ini, tapi aku berusaha sedikit mengeles saja.
Si teroris itu masih memasang tampang curiga kepadaku, namun karena aku terus memohon dengan tampang memelasku akhirnya si teroris terpaksa untuk mengambil barangku itu.
“Hah… Lu nyusahin gue aja. Oke, gue ambil barang lu.” Dia melangkah maju menuju barangku di dekat kereta. Lalu membungkuk untuk mengambil barangku.
Oke, ini kesempatanku. Aku yang dari tadi memegang batu lantas melemparkan batu itu tepat ke arah kepala si teroris. Yes, KENA! Si teroris meringis kesakitan, darah mengalir deras dari kepalanya yang botak. Kemudian dia bersiap dengan senapannya dan hendak menembakku, namun usahanya gagal karena dia mendadak terjatuh dan pingsan. Loh kok dia tiba-tiba pingsan?
Oh, ternyata Iqbal dan Dika yang memukul bagian belakang kepala teroris itu dengan batang pohon. Syukurlah aku selamat. Aku berterima kasih pada Iqbal dan Dika, karena mereka menyelamatkanku dari teroris itu. Aku lalu menyuruh mereka untuk membantu yang lain membebaskan para sandera dengan cepat, sebelum para teroris itu sadar dari pingsannya.
Akhirnya para teroris itu berhasil kami lumpuhkan dan para sandera pun selamat. Namun tidak bagi para penumpang yang tergeletak tak bernyawa karena tembakan dari para teroris itu. Keluarga mereka pasti merasa terpukul kalau anggota keluarganya pulang dalam keadaan tak bernyawa. Seketika mataku sedikit mengeluarkan air mata.
Tak berapa lama diujung tempat longsoran, dua orang yang tadi kusuruh pergi untuk meminta pertolongan datang dengan membawa banyak pasukan polisi. Pasukan polisi itu langsung meringkus semua teroris itu, ada juga yang memeriksa keadaan kami dan para sandera, ada juga yang menggotong mayat-mayat penumpang yang tewas.
Akhirnya rangkaian kejadian menegangkan ini berakhir. Semoga saja setelah ini tidak terjadi kejadian yang sama. Dan aku bisa melanjutkan perjalananku ke Theater JKT48. Tapi aku kesananya naik apa, keretanya kan sudah anjlok? Waduh masalah baru ini namanya. Yasudahlah, aku pikirkan nanti. Lalu aku mengambil kado ulang tahun Ve di dekat kereta.
“Ve, kamu pasti terkejut jika aku menceritakan kejadian ini kepadamu. Tunggu ya, kado ini harus sampai ke tangan kamu,” kataku sambil memandang kado hasil buatanku sendiri.
Aku terkejut saat ada seseorang menepuk pundakku. Dan itu ternyata adalah salah satu polisi yang ditemani oleh rekan-rekan yang membantuku dalam menyelamatkan para sandera tadi.
“Terima kasih, Nak, karena kalian telah berhasil menangkap komplotan teroris yang sudah lama kami cari,” ucap polisi itu kepadaku dan rekan-rekanku sambil berjabat tangan pada kami semua.
“Sama-sama, Pak,” kataku mewakili rekan-rekanku.
“Setelah ini kalian akan kemana?”
“Kalau saya sih mau ke Jakarta, ke Theater JKT48. Soalnya idola saya ulang tahun hari ini, dan saya ingin memberikan kado ini untuknya.” Aku memperlihatkan kado ulang tahun Ve kepada polisi itu.
“Wah kamu mau ke Theater JKT48? Kebetulan kami juga mau kesana. Hari ini ulang tahun Jessica Veranda, kan?” kata Tika dengan penuh semangat.
“Kami?” tanyaku dengan tampang bloon.
“Iya. Jadi kami sama-sama berasal dari kota yang sama dan tujuan kami juga sama,” jawab Derine.
Aku jadi sedikit keheranan. Aku pikir selama kami menyelamatkan para sandera, mereka tidak saling kenal. Ternyata mereka sudah saling kenal, pantas saja kerjasama mereka terlihat kompak. Oke, akhirnya aku ke theater nggak sendirian lagi, kali ini mereka ikut ke theater bersamaku. Senangnya.
“Eh sekarang udah jam tigasore, kita harus cepat-cepat ke Jakarta,” ucap Dika sambil melihat jam tangannya. “Show mulai jam tujuh malam, penginapan pun kita tidak akan sempat mencarinya sebelum show dimulai,” tambahnya.
Ah iya ya, aku sampai lupa soal penginapan. Bagaimana ini? Aku juga tidak tahu harus bagaimana.
“Tenang saja,” ucap pak polisi yang sedari berada disampingku. “Kalian akan kami antar kesana dengan mobil patroli kami. Kalau soal penginapan, di sekitar tempat theater terdapat hotel-hotel, nanti saya akan mengantarkan kalian juga ke salah satu hotel itu,” tambahnya sembari tersenyum.
Wah serius, nih? Aku bersama yang lain melompat kegirangan. Asik naik tumpangan gratis. Kapan lagi bisa dianterin sama polisi, pasti cepet kalau polisi yang nganterin. Polisi yang melihat kami melompat kegirangan hanya tertawa.
****
Jakarta, kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk didalamnya. Kota yang setiap harinya selalu padat, terutama soal kemacetan. Aku sekarang sudah sampai di kota metropolitan ini. Duh, ternyata macet banget, untungnya aku sama yang lain sudah sampai di hotel soalnya kami naik mobil polisi dan tidak terjebak kemacetan. Aku jadi kepikiran kalau nanti ke Jakarta lagi, aku naik mobil polisi saja.
Hotel yang kami tempati ini letaknya tidak jauh dengan mall FX, tempat Theater JKT48, tinggal jalan sedikit sudah sampai. Polisi yang mengantarkan kami sampai ke hotel berpamitan pada kami, dan pergi meninggalkan hotel dengan mobilnya. Tapi sebelum itu kami mengucapkan terima kasih pada polisi itu. Kami pun masuk ke dalam hotel untuk melakukan check in, karena jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Artinya dua jam lagi show theater akan dimulai, dan kami harus bersiap-siap.
Jam menunjukkan pukul 18.00. Aku kini sudah berada di sebuah mall tempat theater JKT48 bersama teman-temanku. Tidak lupa juga aku membawa kado ulang tahun Ve. Aku memperhatikan setiap sudut mall ini yang sangat luas, dan mataku terjuju ke lantai 4 dimana disana banyak orang-orang yang berkumpul disana, lebih banyak dibanding lantai bawah. Aku memprediksikan kalau disitu adalah Theater JKT48. Dan ternyata benar, disana adalah Theater JKT48 tempat idolaku Ve akan tampil malam ini.
“Sebelum kita masuk theater, foto selfie dulu bisa kali, haha,” ucap Iqbal sambil bergaya selfie dengan ponselnya. Aku dan yang lain ikut berfoto di belakang Iqbal. Foto kami pun terpampang jelas di layar ponselnya.
Setelah berfoto, aku bersama yang lain ke loket untuk menukarkan print out tiket theater dengan tiket theater yang sudah ada nomor bingo-nya. Aku mendapatkan bingo nomor 7. Menurut info dariTrisakti yang pernah ke theater, kalau bingo-ku dipanggil duluan oleh staff maka aku bisa duduk dibarisan depan. Wah, semoga keberuntungan berpihak padaku. Amin.
Pembacaan bingo pun dimulai. Alangkah terkejutnya aku, bingo-ku dipanggil kedua. Ini artinya aku duduk di barisan depan, bisa melihat para member dari dekat. Apalagi aku tidak sabar untuk melihat wajah Ve diatas panggung, apakah cantiknya masih tetap sama dengan saat pertama kali bertemu dengannya? Ah, dia kan bidadari, bidadari kan cantik.
Sekarang disinilah aku, di sebuah ruangan yang didepannya ada sebuah panggung. Ya, aku berada di dalam ruangan Theater JKT48. Aku tengah menunggu show Tim J yang sebentar lagi dimulai. Teman-teman baruku tidak ikut duduk bersama denganku, karena mereka dapat panggilan bingonya berbeda-beda. Ya, tak apalah, toh aku juga akan menikmati pertunjukan ini.
Lampu perlahan meredup, sebuah suara dari speaker ruang theater itu berbunyi. Overture. Tanda show Theater no Megami dimulai.
Aku menikmati setiap lagu-lagu yang dibawakan tim J. Sampai-sampai entah mengapa Ve selalu memberi eyelock kepadaku. Apalagi saat dia membawakan lagu ‘Perbuatan Angin Malam’, dia terus-terusan memberi eyelock sekaligus wink padaku. Jantungku berdetak kencang serasa mau meledak. Aku jadi salah tingkah dibuatnya, aku hanya bisa membalas tatapan indahnya dengan senyuman. Oke Ve, kali ini aku bukan sekedar kagum lagi, aku jadi makin cinta sama kamu. Kamu telah meracuni hati ini dengan tatapanmu Ve. Sip, sepertinya aku mulai melantur.
Dua jam berlalu, show theater pun selesai. Semua penonton pun berbaris keluar lewat pintu yang sudah disediakan. Aku keluar dari ruang theater dan melakukan hi-touch dengan semua member tim J satu persatu. Tiba saatnya aku hi-touch dengan Ve, dia mengatakan sesuatu saat telapak tanganku bersentuhan dengan telapak tangannya.
“Terima kasih sudah datang. Lain kali datang lagi ya, aku tunggu loh,” ucap Ve sambil tersenyum.
****
Aku saat ini sedang berbaris untuk twoshoot dengan Ve. Sebelumnya aku membeli dulu sebuah DVD theater sebagai syarat untuk bisa foto berdua dengan member. Ini adalah kesempatanku untuk memberikan kado ulang tahun ini untuk Ve. Aku harap dia suka dengan hadiahku ini.
Cukup lama aku mengantre, akhirnya giliranku tiba. Aku memberikan tiket twoshoot kepada staff dan memberikan ponselku yang sudah kuatur ke mode kamera. Aku maju mendekati Ve yang duduk di kursi sambil kubawa kado ulang tahunnya. Dia cantik sekali kalau dilihat sedekat ini. Pipinya lebih tembem jika dilihat secara langsung, gemas aku jadinya pingin nyubit pipinya itu.
“Hollaaa,” sapa Ve ramah.
Kemudian aku duduk di kursi samping Ve. “Haii Ve,” balasku dengan gugup. Oh, Tuhan, senyumannya.
“Posenya mau kayak gimana?”
Aku hanya bengong tak menanggapi pertanyaan Ve. Aku hanya memperhatikan wajahnya yang cantik itu, wajahnya seakan-akan menghipnotisku, membuatku tak bisa berbuat apa-apa.
“Hei, kenapa bengong?” Ve melambaikan tangannya kearah mukaku. Seketika aku pun tersadar dari lamunan. Duh, bodohnya aku kenapa bisa bengong, sih?
Akupun memberikan kado ulang tahun itu kepada Ve. “Selamat ulang tahun Jessica Veranda. Itu adalah hadiah yang berasal dari hatiku untukmu, Ve.”
Ve menerima kado dariku itu. “Wah, terima kasih, ya. Kamu udah jauh-jauh dari Bandung kesini buat ngasih hadiah ulang tahun untukku,” ucap Ve sambil tersenyum.
Loh, kok dia bisa tahu ya kalau aku datang dari Bandung? Jangan-jangan dia paranormal lagi. Ah, ngaco aja pikiranku, masa bidadari secantik ini jadi paranormal. Enaknya dia kujadikan istri, haha. Sip, mulai melantur.
“Kok kamu bisa tahu kalau aku dari Bandung?” tanyaku kepadanya.
Ve hanya tertawa kecil mendengar pertanyaanku. “Aku tahu dari Twitter kamu di salah satu mantion aku. Dari sekian banyak orang yang komen, cuma kamu aja yang komen kalau kamu mau datang ke theater dari luar kota.”
Aku tersipu malu mendengar ucapan Ve barusan. Ternyata dia diam-diam memperhatikanku. Ah, aku jadi mengerti sekarang, jadi karena itulah dia selalu menatapku saat show berlangsung. Beruntungnya aku kalau begitu, sudah diwaro Ve dari sebelum show sampai sekarang. Ini akan jadi kenangan indah dihidupku, aku tidak akan melupakannya.
“Oh ya, ini kado isinya apa?” tanya Ve sambil melihat-lihat kado itu.
“Kamu bukanya nanti aja kalau udah di rumah, soalnya itu kado spesial buat kamu,” jawabku sambil menatap mata indahnya.“Aku juga sempat kehilangan kado itu saat perjalanan, apalagi saat itu aku menghadapi situasi yang sulit menyangkut hidup dan mati.”
Terlihat alis matanya mengerut, pertanda dia kalau dia sedikit penasaran dengan ucapanku.
“Oh ya? Boleh kamu ceritakan kejadiannya?”
Aku berpikir sejenak, dan melihat kearah antrean yang sudah mulai panjang kembali.
“Hmmm, nanti aja Ve. Kasian itu yang mau foto sama kamu, kelamaan nunggu.” Aku menunjuk kearah antrean.
Ve yang melihat itu langsung kaget. Dan akhirnya kami pun foto bersama dengan gaya sambil memegang kado ulang tahun Ve. Setelah itu, aku hendak beranjak dari tempat dudukku, namun Ve mengatakan sesuatu kepadaku.
“Kamu nanti jangan pulang dulu ya, aku mau denger cerita kamu itu.”
Aku membalasnya dengan anggukan dan tersenyum. Ve membalas senyumanku, dan aku pun beranjak dari situ.
Hari yang melelahkan. Mulai dari aku berangkat dari Bandung ke theater naik kereta sendirian. Kemudian menghadapi para teroris dibantu sembilan orang penumpang kereta yang ternyata fans JKT48 juga. Lalu kado ulang tahun Ve sempat hilang akibat ulah teroris itu. Namun, semua kelelahan itu terbayar karena aku berhasil mencapai kesini dan memberikan kado ulang tahun ini kepada Ve tepat di hari ulang tahunnya. Aku menjadi lega sekarang, dan juga senang. Aku harap di lain waktu aku akan datang lagi kesini.
~TAMAT~
Created by Martinus Aryo
Twitter: @martinus_aryo <-[Click]
####
Nyorat-nyoret:
Hai, kalian para pembaca. Saya sebenarnya tipikal orang yang tidak terlalu pandai dalam berbicara banyak, maunya langsung to the point saja. *Wkwkwk :v* Intinya saya cuma mau bilang, Salam Kenal. Nggak perlu nyebutin nama kali ya, kan udah saya tulis nama saya di atas. Hehehe.
Ini cerpen pertama saya di blog ini. Terima kasih kepada admin yang sudah bersedia mem-posting cerpen saya yang tidak sempurna ini.

#TeamDesy *Lahhh apa hubungannya :v
Pergi Tuk Bertemu Pergi Tuk Bertemu Reviewed by Melodion on Desember 05, 2017 Rating: 5

1 komentar:

  1. menarik hehe
    ----
    point2 yg w suka.

    1. Narasi yang rapi
    2. memperkenalkan sesuatu yg klise tp tdk terlalu klise, sebuah lukisan. krn pikiran umum selalu berpikir kalau dari hati itu pasti cinta, good job buat point ini.
    3. kata2 asing diberi garis miring, ini memang harus diperhatikan bagi penulis
    4. bangga menjadi wota wkwwk didepan polisi saja berterus terang mau ke theater JKT48 demi bertemu ve, padahal bilang ke jakarta karena ada keperluan saja sudah cukup, ini disebutin secara lengkap wkwkw. sebagai sesama fans jkt48 w bangga padamu

    poitn2 yg janggal
    1. bhs inggris yang salah, yang benar 'Mentions/mention' bukan 'Mantion' hehehe
    2. saat tokoh utama menyimpulkan 'Untung saja tidak ada korban jiwa" akan lebih masuk akal kalau kalimatnya 'Sepertinya tidak ada korban jiwa', klo 'Untung tidak ada korban' jiwa kesannya tokoh utama sudah memeriksa semua gerbong2 dikereta api wkwk
    3. Sebutan 'Teroris' untuk para penjahatnya, lebih pas disebut bandit atau perampok menurut w hehe. Krn tujuan teroris mutlak utk meruntuhkan aspek pemerintah, klo utk mencuri harta rasanya krg cocok
    ---

    semangat buat cerita selanjutnya mas :D

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.