Pohon Natal untuk Desy

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, dan tempat hanya kebetulan semata. Semua isi dalam cerita ini adalah hasil dari buah imajinasi saya sendiri, ditambah hal real yang saya lihat, dengar, datangi, dan rasakan sebagai pegangan untuk menyempurnakan cerita ini. Jangan terlalu dianggap serius, tapi kalau serius juga tidak apa-apa. Maaf, jika sekiranya cerita ini kurang sempurna, terkesan berlebihan, ataupun menyinggung beberapa pihak. Saya hanya sekadar berbagi cerita yang saya buat, dan mungkin saja buah pikiran saya bisa bermanfaat bagi para pembaca yang membaca cerita ini.

****
Salah seorang teman datang berkunjung ke tempat tinggalku. Datang jauh dari kota Bandung hanya untuk meminta bantuanku menulis satu kisah. Padahal dia adalah seorang penulis, seharusnya tanpa meminta bantuanku pun dia bisa membuat kisah sesuai imajinasinya sendiri. Saat kutanyakan apa alasannya meminta bantuan dariku, ternyata dia ingin membuat satu kisah untuk idolanya yang akan berulang tahun di bulan Desember nanti, di hari Natal lebih tepatnya. Jika memang untuk idolanya, kenapa harus meminta bantuan dariku?
            Dia menjelaskan bahwa dia tidak percaya diri dengan tulisannya sendiri, terlebih lagi tulisannya nanti akan berhubungan dengan ulang tahun si idola. Mungkin dia tidak ingin tulisannya terlihat mengecewakan, begitu pikir saya.
            Saya sempat menolak, lantaran saya tidak begitu lihai dalam dunia tulis-menulis, terlebih lagi menulis fiksi. Saya lebih memilih melukis, atau pun memahat kayu di dalam gubuk kesayanganku. Menulis bukanlah duniaku. Tapi, saya melihat dia bersungguh-sungguh. Sudah datang jauh-jauh ke desa terpencil ini hanya untuk bertemu dan meminta bantuan dariku. Sebagai teman yang baik, untuk saat ini saya akan membantunya. Demi membuatnya senang. Tidak lucu juga ‘kan kalau dia kembali ke kotanya dengan muka masam dan memberi kesan buruk padaku.
            Saya mulai mencoba menulis satu kisah, tentu saja sesuai arahan temanku ini selaku Yang-Punya-Kuasa kisah ini. Saya hanya membantu menuliskannya meski gaya penulisanku berbeda dengannya. Dia meminta saya menuliskan kisah ini menurut sudut pandang saya. Dia juga memberitahu bagaimana watak si idola yang akan dijadikan lakon di kisah ini. Selain arahan-arahan darinya, dia sedikit memberi kebebasan padaku, dan hasilnya nanti kalian akan lihat sendiri.
            Ya sudah, saya tidak mau banyak berbasa-basi lagi. Selagi temanku sekarang sedang membantu memahat kayu, kalian nikmati saja kisah yang saya buat ini—tentunya tak lepas dari arahan si Yang-Punya-Kuasa kisah ini.
Salam kenal,

L M D
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Aku berjalan menyusuri hutan lebat. Kedua tanganku memanggul sebatang pohon yang baru saja aku tebang di siang hari. Aku tidak sendiri memanggulnya, ada dua orang temanku ikut membantu. Berjalan beriringan sambil menghindari bebatuan tajam dan semak berduri yang bisa saja melukai kami. Suatu pembelajaran, bahwa saat menjelajahi hutan lebat harus memakai pakaian yang memadai. Aku dan dua temanku hanya mengenakan kaus dan celana pendek, serta sandal jepit sebagai alas kaki. Tak ayal kami harus ekstra hati-hati.
            Langkah kami terhenti di area cukup luas. Tidak ada dedaunan yang berfungsi sebagai kanopi hutan ini, hanya padang rumput ilalang layaknya savana Afrika. Batang pohon di pundak kami hati-hati diturunkan ke atas hamparan rumput. Aku tidak mau kalau batang pohon ini rusak, karena batang pohon ini akan aku sulap menjadi sesuatu yang spesial untuk seseorang.
            Peluh keringat mengalir deras, merembes hingga membasahi kaus yang kukenakan. Kulihat kedua temanku duduk di atas hamparan rumput ilalang. Napas mereka tersengal sangking lelahnya setelah memanggul batang pohon. Aku ikut duduk di depan mereka, mengatur napas sambil menyeka keringat yang membasahi wajah. Meski begitu aku tetap senang melihat dua temanku ini mau membantu.
            “Kamu hebat bisa memilih pohon mana yang paling bagus untuk dipahat, Mahesa.” Lukas Antara Bagja, pemuda berpakaian kaus hitam dengan corak gambar harimau mulai memuji keahlianku. Dia satu tahun lebih tua dariku. Aku memang dikenal mereka sebagai ahlinya pepohonan—bahkan sampai penduduk desaku saja tahu.
            “Jangan terlalu memujiku seperti itu, Tara.” Aku menghela napas pendek. Kuseka keringat yang mengalir menuruni leher. “Aku hanya belajar dari apa yang aku lihat dari ayahku. Dia jauh lebih hebat dibanding denganku.”
            Tara tertawa pendek. Sebelah tangannya mengusap kasar rambutnya yang pendek, membuat cairan keringat terhempas ke udara. Dia mempunyai nama paling bagus, tetapi lebih suka dipanggil Tara. Biar lebih enak didengar, begitu katanya. “Tapi, meski begitu kamu sudah hebat, Mahesa. Bisa saja suatu saat nanti kamu akan menjadi pemahat terkenal dan mempunyai bisnis sampai mancanegara.”
            “Terima kasih pujiannya.”
            “Benar yang dikatakan Tara, Mahesa.” Oktavius Anggara Sudrajat, lelaki berambut gondrong yang mengenakan kaus berwarna merah ikut dalam perbincangan. Dia satu tahun lebih muda dariku. Poni rambut gondrongnya menutupi sebagian wajahnya, lantas dia mengesampingkan poninya. “Kalau kamu jadi pemahat terkenal dan sukses, gadis yang kamu sukai bisa jatuh hati padamu.”
            Tawaku sedikit tergelak. “Aku tidak mungkin bisa mendapatkan hatinya, Gara.” Kuhela napas pendek, lantas berbaring di hamparan rumput ilalang ini dengan batang pohon yang sudah kami bawa sebagai bantalan. “Dia orang kota, datang jauh-jauh ke desa kita dan tinggal di sini. Anak kampung sepertiku tidak pantas berhubungan dengannya. Aku takut dia merasa tidak nyaman terus dekat-dekat denganku. Apalah aku ini...”
            Bisa kudengar helaan napas Gara di balik poni rambut yang menutupi wajahnya. Lantas ikut berbaring di sebelah kiriku, diikuti Tara di sebelah kananku. Pandanganku terkunci pada gumpalan-gumpalan awan yang menghiasi langit jingga. Pikiranku melanglang buana, saling berlarian layaknya anak anjing yang sedang kegirangan. Sejemput kemudian, fokusku berhenti di satu titik dimana menampakkan wajah seorang gadis. Ucapan Gara memang benar, aku tidak berdusta, aku memang menyukai gadis itu. Tapi kalau melihat situasinya sekarang, langit sore ini pun nampaknya sepaham dengan jalan pikiranku. Aku tidak mungkin bisa mendapatkannya.
            “Hei, Mahesa.” Suara sedikit nge-bass milik Tara menyadarkanku dari lamunan. Dia menoleh ke arahku sambil menunjuk batang pohon yang jadi sandaran kepala kami. “Pohon yang sudah kita tebang ini mau kamu buat apa, bukankah kamu mau membuatnya untuk gadis itu?”
            “Entahlah,” jawabku sekenanya. “Aku masih belum tahu akan kujadikan apa pohon ini. Tidak seperti biasanya aku kebingungan begini.”
            “Itu karena kamu sedang jatuh hati pada gadis itu,” sanggahnya. Detik berikutnya nada bicaranya sedikit naik. “Hah... kamu ini. Cepat atau lambat kau harus menentukan pilihanmu. Sama seperti perasaanmu, cepat atau lambat kau harus mengungkapkannya pada gadis itu.”
            Aku terdiam. Ucapan Tara memang benar, tapi sudut hatiku berkata lain. Ada sedikit keraguan akan hal itu. Aku memang menyukai gadis itu, tapi untuk mengenalnya lebih jauh pun aku tak bisa. Selama ini hanya saling sapa, mengobrol—itu pun tidak lebih dari lima menit—, alih-alih berbicara seperlunya dan berlalu pergi begitu saja. Sungguh, pria macam apa aku ini?!
            Jentikan jari Gara di depan wajahku membuatku kaget. Refleks aku menoleh ke arahnya. “Bagaimana kalau pohon ini kamu jadikan sebuah patung.”
            Usulnya membuatku sedikit berpikir. “Patung yang seperti apa dulu?” tanyaku.
            “Kudengar, ayahnya yang pemilik perkebunan teh di desa kita suka sekali mengoleksi berbagai patung pahat dari batang pohon.” Kulihat ukiran senyum Gara mengembang lebar di balik poni rambut gondrongnya. Ia melanjutkan usulannya, “Nah, kamu coba saja membuat patung yang menyerupai putrinya itu. Aku yakin gadis itu pasti akan terkesima melihatnya. Kamu kan hebat dalam memahat.”
            “Memahat kayu dia jagonya, tapi memahat hati gadis itu jelas tidak, Gara,” celetuk Tara diiringi gelak tawa, membuat suaranya terdengar menggema ke seantero padang rumput ilalang ini. Aku menanggapinya dengan tawa pelan.
            Mendengar celetukan Tara tadi, membuatku seakan-akan aku ini memang pria bodoh yang tak punya keberanian untuk mendekati wanita. Bodohnya aku yang termakan dengan bualan bahwa anak kampung tidak pantas bergaul dengan anak kota. Terlihat menyedihkan, tapi seperti itulah yang aku rasakan sekarang. Menyerah duluan sebelum perang dimulai. Tapi setelah mendengar usulan Gara tadi, membuatku berpikir.
            “Tapi, aku tidak yakin apa dia akan menyukainya atau tidak,” kataku, menghela napas panjang, merasa putus asa. “Lagipula aku belum terlalu mengenalnya lebih jauh lagi. Bagaimana kalau seandainya dia tidak menyukainya? Ah, bisa-bisa dia merasa tidak nyaman denganku.”
            Kurasakan satu tepukan pelan dari Tara mendarat di pucuk kepalaku. Aku mengaduh sakit seraya mengusap pucuk kepalaku. “Hei, Mahesa. Jangan menyerah duluan sebelum berperang,” katanya. “Kalau kamu bersikap seperti ini terus, kamu tidak akan bisa mendapatkan gadis itu—bahkan mendekatinya saja akan sulit. Buang jauh-jauh pikiranmu itu, lalu lakukan apa yang harus kamu lakukan.”
            “Yang diucapkan Tara benar, Mahesa.” Gara menambahkan. Senyum lebar di bibirnya masih terukir jelas. “Kalau kamu kesulitan, kita akan membantu. Kita ini kan teman dari kecil. Betul tidak, Tara?” Kepalanya menoleh ke arah Tara yang dijawabnya dengan anggukan.
            Aku menengadah memandang langit jingga yang perlahan meredup dilingkupi kegelapan. Kucerna baik-baik nasehat dari kedua temanku ini masuk ke dalam pikiranku, membuka pola pikir baru. Hembusan angin menerpa, membawa semua pola pikir yang sebelumnya membuatku ragu. Mereka benar, aku tidak boleh menyerah sebelum perang. Aku harus melakukan sesuatu. Lantas, aku bangkit dari baringku, duduk, dan berdiri memandang langit.
            “Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan,” kataku sedikit tegas. Kulihat Tara dan Gara ikut berdiri dan tersenyum sumringah. “Kita bawa pulang pohon kita. Hari sudah mulai gelap.”
            Batang pohon yang sudah kami tebang pada siang hari lantas kami panggul kembali. Mulai melangkah meninggalkan hamparan padang ilalang, berjalan menuju desa dengan semangat. Ya, setelah ini mungkin akan menjadi hari baik di esok hari.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Langit pagi yang cerah dengan udara sejuk khas pegunungan mulai membangunkanku dari alam mimpi semalam. Rasanya bahuku terasa sedikit pegal setelah kemarin memanggul batang pohon lumayan besar yang akan kujadikan sesuatu di hari yang sejuk ini. Kulangkahkan kaki keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah hanya untuk sekadar mencuci muka. Butuh sedikit tenaga untuk sekadar membasuh muka, karena aku harus menimba air terlebih dahulu dari dalam sumur. Dengan ember yang sudah terisi air, aku pun membasuh wajahku, mengembalikan nyawa yang sempat menghilang saat tidur semalam. Air yang jernih dan dingin menjadi suntikan semangat buatku untuk memulai hari.
            Rasanya aku belum memperkenalkan diriku kepada kalian. Baiklah, karena aku sedang semangat pagi ini, dengan senang hati aku memperkenalkan diri. Namaku Laban Mahesa Durga, kalian bebas memanggilku apa saja; Laban, Mahesa, Durga, terserah kalian. Aku tinggal di sebuah desa kecil yang letaknya berada di perbatasan kota Cianjur dan Bogor. Banyak hutan yang masih asri di sini karena letak desa kami yang dilingkupi oleh pegunungan. Tak heran desa kami terasa sangat sejuk dan nyaman untuk ditinggali. Jika kalian main ke desaku, aku akan menunjukkan banyak tempat mengasyikan di sini. Aku menjamin kalian akan betah tinggal berlama-lama di sini.
            Mata pencaharian di desaku ini rata-rata sebagai petani, peternak, dan seniman. Mereka banyak mengolah hasil alam yang ada di sini, lalu menjualnya ke kota. Itu menguntungkan bagi kelangsungan desa kami. Terlebih lagi, dengan dibukanya kebun teh milik dari seorang pengusaha sukses dari kota Jakarta—sekarang tinggal di desa kami—menambah pundi-pundi rupiah bagi warga desa. Tidak hanya itu, di desa kami juga terdapat berbagai tempat ibadah, seperti gereja, masjid, dan pure yang memudahkan kami untuk beribadah. Karena sebelumnya kami warga desa harus berjalan sejauh sepuluh kilometer hanya untuk beribadah. Orang-orang di desaku sangat toleran dalam beragama, tidak pernah mendiskriminasi satu sama lain.
            Hm, apa lagi ya yang harus kuceritakan pada kalian tentang desaku ini? Ah, aku melupakan satu hal. Desa tempat tinggalku dan segala yang ada di sekitarnya jarang terekspos dunia luar. Makanya kehidupan di desa ini masih terlihat asri. Banyak vegetasi tanaman yang melimpah. Belum lagi satwa-satwanya masih banyak. Bahkan, di saat malam, warga desa harus menyalakan lampu cempor karena belum tersedianya listrik. Meski begitu, kami merasa sangat nyaman.
            Ah, rasanya cukup sudah perkenalannya. Kalian akan lebih mengenal diriku seiring membaca kisah ini. Si Yang-Punya-Kuasa kisah ini tidak mengizinkanku memperkenalkan diri lebih jauh lagi. Aku harus bergegas keluar kamar mandi karena ibuku sudah memanggil untuk sarapan. Kuingat ibu memasak makanan kesukaanku.
            Ibu terlihat sedang menyiapkan banyak makanan di atas meja. Terlihat juga di sana Melati, adik bungsuku tampak sudah duluan melahap sarapannya. Aku duduk di kursi sebelah adikku. Mengambil piring dan menyendok nasi dari dalam bakul.
            “Melati, kalau makan pelan-pelan, nanti tersedak,” kataku pada adikku yang sedang melahap makanannya dengan cepat, seperti orang yang kelaparan.
            Melati menelan kunyahan makanannya. Diraihnya gelas berisi air putih dan menenggaknya hingga tandas. “Kalau aku nggak cepat makannya, nanti Kakak habisin makanan aku.”
            “Siapa bilang?” Aku tidak sependapat dengannya. Terus terang saja, malah adikku ini yang seenaknya menghabiskan jatah makananku. “Harusnya Kakak yang bilang itu ke kamu.”
            “Hehehe.” Dia cengengesan, tak menyadari kesalahannya. Begitulah sifat adikku.
            Di atas meja makan ini sungguh menggugah selera makanku. Ayam goreng, tahu dan tempe goreng, serta berbagai macam sayuran, membuatku ingin segera menghabiskannya. Tapi, orang tuaku selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tidak rakus terhadap makanan. Harus ingat orang yang belum makan, begitulah kata mereka. Tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Melati, adikku.
            “Mahesa, tolong bawakan bekal makan siang ini ke ayahmu di kebun teh setelah sarapan, ya,” titah Ibu seraya menaruh rantang berisi bekal makan siang di atas meja makan.
            “Memangnya Ayah tidak memahat hari ini, Bu?” tanyaku.
            “Tuan Airlangga memintanya untuk menemani mengawasi kebun teh.”
            Tuan Airlangga. Beliau lah pemilik kebun teh yang menambah lapangan pekerjaan di desa kami. Bisa dibilang, beliau ikut andil dalam perkembangan desa. Dan, beliau memiliki seorang putri cantik yang saat ini sedang kusukai.
            “Kalau kamu antarkan ke sana, mungkin saja kamu bertemu dengan putrinya yang cantik itu,” lanjut Ibu seraya menyunggingkan senyum semanis madu.
            Baru saja hendak menenggak gelas minumanku, lantas mengurungkannya. Sebelah alisku terangkat, memandang ibuku dengan tatapan penuh tanya. Alih-alih menjawab, ibu malah tersenyum makin lebar, memperlihatkan deretan giginya berjajar rapi. Detik berikutnya ibu malah tertawa seakan-akan mengejekku.
            “Kenapa Ibu tertawa? Kan tidak ada yang lucu.” Melati di sebelahku menyeletuk, melihat tingkah pola ibu. Tawa ibu terhenti, dipandangnya adikku ini dengan mimik muka ceria.
            “Kau tahu tidak, Nak, Kakakmu ini sedang jatuh hati dengan putrinya Tuan Airlangga.”
            “Ibu...” Aku merengek. Ucapan Ibu barusan membuatku malu setengah mati. Lantaran aku tidak pernah memberitahukan perihal ini kepada orang tuaku, lantas mengapa Ibu bisa tahu bahwa putra sulungnya ini sedang jatuh hati kepada anak dari pengusaha sukses?
            “Sudahlah, Nak. Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Setiap pagi kamu selalu datang ke kebun teh hanya untuk melihat gadis itu,” ucapnya. Sial, yang dikatakan Ibu barusan benar adanya. “Kalau kamu suka dengannya, cobalah dekati dia lebih dalam lagi. Jangan menyesal di kemudian hari.”
            Aku mendesah pendek seraya kuketuk-ketuk badan gelas berisi air setelah mendengar perkataan ibu. Ucapannya tidak beda jauh dengan yang dikatakan Tara dan Gara kemarin. Lantas aku menjawab, “Iya, Ibuku yang cantik jelita seperti Srikandi.
            Ibu membalasnya dengan senyuman semanis madu. Sementara aku melanjutkan sarapanku dengan khitmad. Tak butuh waktu lama bagiku menghabiskan sarapan pagi ini. Kuambil rantang bekal makan siang untuk Ayah, kemudian melenggang pergi meninggalkan rumah.
            “Aku berangkat, Bu.”
****
Kebun teh milik Tuan Airlangga terlihat dipadati oleh para pekerja. Mereka memetik pucuk daun teh pilihan yang nantinya akan dikirim ke kota. Setelah bertemu dengan ayah dan memberikan bekal makan siang buatan ibu kepadanya, aku menjelajah area kebun teh ini dengan berjalan kaki. Di sini terasa sangat sejuk dengan lapisan kabut tipis menghiasi udara. Jika kalian berkunjung ke sini, kusarankan jelajahi bersama salah seorang warga desa agar tidak tersesat karena kebun teh milik Tuan Airlangga terbilang sangat luas wilayahnya.
            Sepanjang kujelajahi kebun teh, aku tidak menemukan keberadaan gadis yang kusukai. Biasanya di pagi begini dia keluar dari rumahnya yang berada dekat hamparan kebun teh hanya sekadar berjalan-jalan. Tumben sekali tidak terlihat batang hidungnya.
            Langkah kaki terus membawaku menapaki jalan setapak pada kebun teh ini, sambil sesekali iseng memetik daun teh. Udara sejuk pagi ini membuatku nyaman berada di sini. Mataku menutup sejenak sekadar menghirup udara sejuk yang bercampur dengan aroma tanah. Pikiranku seketika melanglang buana, seakan-akan menarikku semakin jauh dari batas kesadaran. Hingga sampai di satu titik. Wajah cantik gadis itu hinggap lagi di pikiranku. Aku membuka mata. Ada seperti bisikan masuk ke indra pendengaran, memintaku untuk segera melangkah cepat.
            Ah, aku lupa, hari ini aku akan membuat sesuatu untuk gadis itu!
            Maka, dengan sedikit berlari, aku bergegas ke tempat pemahatan kayu—dimana aku, Tara, dan Gara menaruh batang pohon kami di sana—yang berada tidak jauh dari area perkebunan teh. Sebenarnya aku masih belum yakin akan membuat karya sesuai usulan Gara kemarin. Meski usulannya menarik untuk dilakukan, tapi aku masih tidak yakin. Aku harus mencari alternatif lain. Tapi apa?
            Seperti biasanya, tempat pemahatan kayu terlihat agak sepi di pagi hari. Gubuk lumayan luas dengan banyaknya batang pohon tertata rapi di depannya, dan juga hasil pahatan kayu yang sudah siap dijual. Pemilik dan para pemahat di sini melakukan aktivitasnya saat menjelang siang. Tapi kurasa pemilik tempat ini sudah memulai aktivitas memahatnya. Itu terlihat saat dia sedang membuat ukiran pada satu buah patung yang telah dibuatnya.
            “Selamat pagi, Paman,” sapaku ramah kepada Paman Arius. Dia menghentikan sejenak pekerjaannya hanya untuk membalas sapaanku. Dia tersenyum ramah.
            “Eh, kau rupanya, Mahesa. Tumben sekali kau datang kemari pagi begini?”
            “Harusnya aku yang bertanya, kenapa Paman memulai pekerjaan sepagi ini, biasanya kan menjelang siang?”
            Arius Sukma Sanjaya. Pria berumur tigapuluh tahun merupakan pemilik usaha kerajinan pahatan kayu. Beliau salah satu pemahat terkenal di desaku setelah ayah. Tak jarang mereka bekerja sama membuat pahatan paling bagus dan dijual ke kota. Aku juga belajar cara memahat darinya, tentunya dengan bantuan juga dari ayah.
            Paman Arius sedikit tertawa. “Kebetulan temannya Tuan Airlangga di kota sana tertarik untuk membeli pahatanku ini. Lumayan kan, rezeki besar.” Paman Arius menghampiriku dan mengajakku masuk ke dalam. “Kemarin kau dan dua temanmu menitipkan batang pohon kemari, kan? Nah, mau kau buat apa batang pohon itu?”
            “Aku masih belum tahu, Paman,” kataku tersenyum.
            Paman Arius duduk di kursi kerjanya, kembali memahat sambil tatapannya tertuju padaku. “Tara bilang kau suka pada gadis cantik itu dan ingin memberi sesuatu padanya.” Aku hanya menanggapinya dengan cengengesan. “Tadi gadis cantik itu kemari, Mahesa.”
            Mataku membeliak. Aku terdiam seketika setelah mendengar perkataan Paman Arius. “Benarkah itu, Paman?”
            Paman Arius menganggukkan kepala. “Dia tadi datang melihat-lihat saja sambil mengobrol denganku. Dia bahkan kagum dengan hasil pahatanmu yang pernah kau buat di sini.”
            Aku tidak tahu harus bicara apa. Bibirku terasa kelu mendengar penuturan Paman Arius. Gadis cantik, putri dari pemilik perkebunan teh ternyata mengagumi hasil pahatanku. Lantas aku kembali bertanya pada Paman Arius, “Lalu, dia kemana sekarang?”
            “Gadis cantik itu ke gereja, latihan paduan suara. Kau tidak tahu, bulan depan itu hari Natal akan tiba.” Paman Arius menghela napas pendek. Bodohnya aku sampai lupa bahwa sebentar lagi Natal tiba, terlebih lagi aku baru tahu dia ternyata ikut paduan suara gereja.
            Tanpa basa-basi lagi, aku langsung berlari meninggalkan Paman Arius yang berkutat dengan pekerjaannya. Tak kuhiraukan teriakan Paman Arius yang menanyaiku hendak pergi kemana. Yang terlintas di pikiranku saat ini hanyalah melihat gadis cantik itu sekali lagi.
            Tak butuh waktu lama untuk sampai di gereja. Tempatnya berada di dekat balai desa. Di sini kalian akan menemukan tempat ibadah lainnya selain gereja. Karena area sekitar balai desa ini terbilang luas dengan pepohonan pinus yang mengelilinginya, maka berdiri pula satu masjid dan satu pure. Jika saat sore hari, biasanya tempat ini akan didatangi banyak warga desa.
            Aku melangkah tergesa-gesa hendak memasuki gereja yang tidak telalu besar ini. Saat hendak membuka pintu, kudengar sayup-sayup nyanyian lagu rohani bertema Natal dari dalam sana. Ada beberapa suara yang tercipta saat kudengar lagu tersebut. Ya, orang-orang di dalam gereja tengah melakukan latihan paduan suara. Lantas kubuka pintu lebar dan masuk ke dalamnya.
            Terlihat deretan kursi berjejer rapi di sini, meski kursinya tidak terlalu banyak. Aku memosisikan diri duduk di barisan tengah dekat dengan jendela. Sayup-sayup paduan suara terdengar lebih jelas di dalam sini. Pandanganku menerawang ke seluruh ruangan, kemudian berhenti tepat di sebelah kanan dekat dengan altar. Beberapa anak muda tengah melakukan kegiatan paduan suara gereja. Mereka dibimbing oleh seorang dirigen wanita bernama Bunda Lena. Dia seumuran dengan ibuku.
            Gadis yang kusukai ada di antara mereka. Dia berada di posisi tengah bersama dengan jajaran para gadis yang berpostur lumayan tinggi. Sedangkan di bagian depan diisi oleh anak-anak kecil desa dari berbagai usia. Lalu di bagian belakang diisi oleh para pemuda desa, salah satunya ada Tara temanku. Aku mendengarkan lantunan lagu yang mereka nyanyikan dengan pandangan terus tertuju pada gadis cantik yang kusukai. Dia terlihat sangat cantik, hanya mengenakan gaun sebatas lutut berwarna krem dengan motif bunga mawar putih. Rambutnya yang tergerai hingga bahu ia selipkan ke belakang telinga, membuat wajahnya yang putih menambah kecantikannya. Dari ekspresinya ia terlihat ceria saat menyanyikan lagu tersebut.
            Jantungku berdebar semakin kencang seperti genderang perang. Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku merasakan perasaan tak karuan seperti ini. Padahal, aku belum terlalu banyak mengenali gadis itu, itupun hanya sekadar mengobrol biasa—tidak lebih dari lima menit—, saling sekadar bertegur sapa, dan hanya tahu namanya saja.
            Sepertinya aku belum memberitahu kalian siapa nama gadis itu. Jangan terkejut saat kuberitahukan namanya, karena dia mempunyai nama yang lumayan panjang. Maria Genoneva Natalia Desy Purnamasari Gunawan. Putri sulung dari pemilik perkebunan teh di desa kami, Tuan Airlangga. Orang-orang di desaku, termasuk teman-temanku sering memanggilnya Desy. Tapi aku malah lebih enak memanggilnya Maria. Bukan tanpa alasan aku memanggilnya seperti itu, menurutku panggilan nama Maria lebih cocok untuknya sesuai dengan kecantikannya seperti bidadari turun dari langit.
            Masih ingat betul dalam ingatanku saat pertama kali dia datang ke desaku bersama kedua orang tuanya. Aku sama sekali belum mengenali siapa dia. Tapi, Gara temanku memintaku untuk menyambut kedatangan mereka di balai desa. Belum ada perasaan apapun dalam diriku, hanya tatapan bingung melihat Tuan Airlangga dan istrinya. Namun, saat Maria tiba-tiba datang menghampiri dan menjulurkan tangannya padaku, semua perasaaan dalam diriku mendadak berubah. Dia seperti bidadari yang turun dari langit. Wajahnya sangat cantik, mungkin saja melebihi kecantikan gadis-gadis di desaku. Meski dia berasal dari kota sana, tapi aku sama sekali tidak melihat dia berpakaian seperti ala anak kota. Dia terlihat biasa, namun itu malah membuatku berdebar tak karuan.
            Alih-alih membalas jabat tangannya, aku hanya diam termangu seperti patung kayu yang sering kupahat. Hingga senggolan tangan Gara disertai dehemannya menyadarkanku dari lamunan. Langsung saja kubalas jabat tangannya seraya menyebutkan nama sambil tatapan mata terus melekat pada sepasang mata indahnya.
            Lantunan lagu yang dinyanyikan anggota paduan suara tadi berhenti. Bunda Lena mengintruksi anggotanya istirahat sejenak dan lanjut ke lagu berikutnya. Tatapanku masih melekat pada Maria. Kalau dia bernyanyi di paduan suara seperti itu, aku jadi ingin mendengar dia bernyanyi sendirian. Mungkin saja suaranya jadi terdengar lebih merdu.
            Jantungku rasanya mendadak meloncat dari rongganya saat pandangan kami bertemu. Maria melihat ke arahku. Dia tersenyum manis. Dan yang lebih membuatku semakin tak karuan, kedua matanya menutup seperti bulan sabit saat tersenyum. Ah, sial. Dia terlihat manis sekali. Kucoba mengalihkan pandanganku darinya, melihat beberapa pemuda sedang membuat pohon Natal di sisi kiri dekat altar. Seberapa keras mencoba mengalihkan pandangan, tetap saja pandanganku tertuju lagi pada Maria dengan lirikan-lirikan kecil.
            Sial, dia masih memandangku dengan senyum bulan sabitnya.
****
Aku duduk dalam diam di bangku panjang depan balai desa. Senyum Maria tadi terus terbayang-bayang di dalam kepalaku. Senyum yang begitu manis dipandang. Entah mengapa Tuhan bisa menciptakan wanita paling manis seperti dia. Kalau aku diberi kesempatan lagi, aku ingin melihat kembali senyum manisnya itu dan mengajaknya untuk bisa lebih dekat. Kapan lagi aku bisa merasakan seperti ini lagi.
            Matahari semakin naik ke langit, membuat cahayanya turun ke bumi dengan teriknya. Kendati demikian, kegiatan paduan suara yang baru saja kulihat masih berlangsung di dalam gereja. Aku memilih untuk keluar, tak ingin mengganggu kegiatan mereka, sekaligus menunggu Maria beres kegiatannya. Kuperhatikan sekitaran balai desa ini terlihat beberapa warga tengah melakukan aktifitasnya masing-masing.
            “Kalau duduk sendirian seperti ini pasti ada sesuatu yang sedang kamu rasakan sekarang.” Suara seorang gadis dari sebelah kiri membuatku sedikit terhentak. Kudapati Ratu Vienny Fitrilya sedang menatapku sambil menenteng sebuah keranjang. Dia duduk di sebelahku. “Apa yang sedang kamu rasakan sekarang, Mahesa?”
            Kutatap sejenak wajah samping Ratu yang sedang menyunggingkan senyum kecil. Alih-alih menoleh kembali ke depan, menatap gereja yang baru saja aku singgahi. “Ah, aku tidak merasakan apa-apa, Ratu.”
            “Jangan bohong. Aku bisa merasakannya hanya dengan melihat matamu,” hardiknya. Tawa kecilnya sedikit tergelak. Kemudian kurasakan sentuhan lembut tangannya pada pundakku. “Ceritakan saja padaku, Mahesa.”
            Aku menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa mengelak jika sedang berhadapan dengan Ratu. Dia bagaikan cenayang yang mengetahui isi hati orang lain hanya dengan melihat tatapan mata saja.
            “Kamu memang pandai membaca isi hati orang lain, Ratu,” kataku padanya. “Rasanya aku sedang jatuh hati pada Maria.”
            “Maria putri Tuan Airlangga itu, kan?” Dia balik bertanya, yang kujawab dengan anggukan. “Kamu sungguh beruntung bisa jatuh hati padanya, Mahesa. Gadis itu sangat cantik.”
            “Maksudmu?”
            Ratu bangkit berdiri dari kursi. Keranjang di tangannya diangsurkan ke bawah lutut kakinya, sedikit membungkuk dan menatap padaku. “Kamu sendiri akan tahu, Mahesa.” Dia menegakkan badan kembali, menoleh ke depan gereja. “Nah, tampaknya kegiatan paduan suara sudah selesai. Dia sudah keluar dari dalam gereja. Temuilah dia, Mahesa, aku harus pergi ke ladang.”
            Ratu mulai meninggalkanku sendirian duduk di bangku panjang ini. Dia mengatakan yang sebenarnya. Kulihat anggota paduan suara sudah selesai melakukan latihannya dan mulai kembali ke rumah masing-masing. Dari tempatku duduk, Maria sedikit celingukan seperti sedang mencari sesuatu. Aku sempat mengira kalau dia sedang mencariku. Ah, pasti itu tidak mungkin.
            Maka, aku pun mencoba menghampirinya hanya sekadar menyapanya saja.
            “Selamat siang, Maria,” sapaku ramah padanya. Dia tiba-tiba menoleh padaku. Senyum bulan sabitnya merekah, membuatku sedikit terhenyak.
            “Selamat siang juga, Mahesa,” balasnya.
            “Hm... latihan paduan suaranya sudah selesai?” Aku mendadak gugup seperti orang bodoh. Jelas-jelas dia baru saja selesai latihan, kau tanyakan pula.
            “Sudah, kok,” jawabnya, “tadi aku melihatmu menonton latihan kami di dalam. Kenapa kamu tidak ikut saja latihan bersama?”
            “Oh, itu karena aku tidak pandai beryanyi sepertimu. Suaraku jelek seperti lengkingan burung gagak,” kataku disertai tawa kecil. Memang pada dasarnya aku tidak bisa menyanyi, aku tidak punya bakat dalam hal musik.
            Maria ikut tertawa. Suaranya terdengar mempunyai ciri khas tersendiri, merdu dan manis seperti madu. Sejemput kemudian, tidak ada obrolan lagi di antara kami berdua. Hanya terdengar obrolan-obrolan warga di balai desa ini yang sedang melakukan aktifitasnya. Gadis cantik di sebelahku ini melangkah lamat-lamat. Aku mengekori di sebelahnya. Entah aku sedang sadar atau tidak, ini kali pertama aku berjalan berdua dengannya.
            “Baru beberapa bulan aku tinggal di desa ini, tapi aku belum hafal tentang seluk-beluk desa ini,” ujarnya saat langkah kami mulai menjauh dari area balai desa. “Yang aku hafal hanya area perkebunan teh, tempat pemahatan kayu Paman Arius, dan juga area balai desa.” Ia menjeda perkataannya dengan sedikit tertawa. “Rasanya aku seperti bukan bagian dari desa. Tinggal di sini tapi tidak tahu-menahu soal desa ini. Terasa asing.”
            Aku hanya diam mendengar perkataannya. Wajar saja dia belum mengetahui tentang desa ini, karena baru beberapa bulan tinggal—meski hanya tahu beberapa tempat saja. Kalau seandainya saat pertama kali bertemu, mungkin saja aku bisa mengajak Maria berkeliling desaku yang asri dan tenteram ini.
            “Aku ingin sekali mengelilingi seluruh area di desa tempat tinggalmu ini, Mahesa.” Maria melanjutkan perkataannya. Dia menoleh ke arahku sambil terus tersenyum. Itu malah membuatku semakin gugup.
            Langkah demi langkah terus kami tapaki hingga kami sudah berada di area perkebunan teh. Aku diam tanpa tahu harus berbicara apa lagi dengannya. Bibirku terasa kelu. Pikiranku melanglang buana, mencoba mencari topik obrolan yang kiranya bisa dibahas.
            “Ada satu tempat di sini yang menarik untuk dikunjungi.” Pada akhirnya, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku.
            “Tempat apa itu? Tempatnya dimana? Apa tempatnya bagus?” Berbagai lontaran pertanyaan lolos keluar dari bibir manisnya. Maria sangat antusias dengan tempat yang baru saja akan kuberitahu. Kurasakan gejolak dalam diriku yang seperti melompat-lompat.
            “Kamu mau tahu tempatnya, Maria?” Maria mengangguk semangat. Tanpa basa-basi lagi aku menarik lengannya, membuat gaun kremnya melambai-lambai tertiup angin seiring aku mengajaknya ke tempat yang akan kami tuju. Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa melakukan itu, sepertinya aku melakukannya tanpa sadar.
            Meski harus bersusah payah menapaki jalan setapak dengan kerikil dan bebatuan tajam, dan juga harus melintasi hutan lebat, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Wajah Maria berseri-seri melihat tempat ini. Air terjun yang lumayan tinggi dengan air jernihnya jatuh bersamaan, terpampang di depan mata. Maria langsung berlari kecil mendekati bagian kolam di bawah air terjun itu. Dia memain-mainkan air menggunakan kedua tangannya, mencipratkannya kesana kemari hingga gaun kremnya sedikit basah. Aku tersenyum. Dia terlihat sangat gembira.
            “Ini namanya Curug Malaikat,” ucapku seiring berjalan mendekati Maria. Gadis cantik itu berhenti sejenak memainkan air. Dipandangnya aku dengan tatapan penuh tanda tanya.
            “Curug Malaikat?” Aku mengangguk.
            “Coba kamu lihat ke batu besar di tengah kolam air terjun itu.” Aku menunjuk ke arah batu besar di tengah kolam air terjun. Maria melihat ke arah sana masih dengan tatapan penuh tanya. “Cahaya pada batu itu yang kusebut malaikat.”
            Maria memiringkan kepala, memandang heran padaku. “Aku tidak mengerti. Kenapa batu itu kamu sebut malaikat?”
            Sudut bibirku tertarik membentuk senyuman. Aku duduk di salah satu batu besar di tepi kolam air terjun. “Mau dengar dongeng tentang curug ini?”
            Maria tersenyum lebar, membuat kedua matanya tertutup seperti bulan sabit. “Aku suka dongeng.” Lantas dia menghampiriku dan duduk pada salah satu batu di sebelahku.
            “Ini dongeng yang turun-temurun diceritakan oleh warga desa.” Perlahan aku mulai menceritakan kepada Maria sebuah dongeng tentang Curug Malaikat, curug yang sangat indah dan mengandung mitos di dalamnya.
            “Sebelum desa tempatku tinggal berdiri, tempat ini dahulunya hanyalah hutan belantara. Bertahun-tahun tempat ini tak ditinggali manusia, hanya dilingkupi oleh hewan-hewan beraneka ragam. Hingga akhirnya seorang malaikat cantik turun dari langit dan mendarat di atas batu itu.” Aku menunjuk batu yang berada di tengah-tengah air terjun. Aku melanjutkan dongengku, “Malaikat itu mengepakkan sayap putihnya, meski air terjun tempatnya mendarat membuat sayapnya sedikit basah. Malaikat itu tersenyum sumringah melihat alam di sekitarnya yang sangat indah. Dia menengadah ke atas langit, melihat langit biru disertai awan putih. Tak lama kemudian, terdengar suara menggema dari atas langit.”
            “Suara? Pasti suara Dewa di langit ya?” Maria menyeletuk, menjeda dongeng yang sedang kuceritakan.
            “Tepat sekali,” jawabku, menjentikkan jari padanya. Kulanjutkan lagi dongengku. “Dewa di langit berseru kepada malaikat cantik itu: “Wahai engkau Malaikatku yang paling setia. Hendaknya kau tempati tempat yang sedang kau pijaki sekarang. Berikan tempat ini kehidupan dengan beragam manusia di dalamnya. Jadikan tempat ini sebuah desa yang mampu menopang segala kehidupan di hutan ini.” Malaikat cantik itu membalas: “Tuanku yang Maha Agung, bagaimana kiranya aku bisa mewujudkan perintahmu itu?” Sang Dewa kembali berseru: “Jangan khawatirkan hal itu, Malaikatku yang paling setia. Akan ada seseorang yang datang ke tempatmu. Sejak saat pertemuan kalian itulah, perintahku padamu akan terlaksana.” Malaikat itu menunduk hormat kepada Sang Dewa. Dia pun mulai menunggu kedatangan seseorang itu.”
            “Pasti orang itu adalah seorang pria, iya kan?” Maria kembali memotong dongengku. Dia memandangku dengan tatapan penuh selidik. Aku terkekeh melihatnya.
            “Kamu begitu penasaran sekali, Maria,” kataku. “Tapi aku akan menyudahi dulu dongengnya sampai di sini.”
            “Kok gitu?” protes Maria. Kedua alisnya mengkerut, tak terima aku menyudahi dongeng yang sudah membuatnya penasaran. Aku menanggapinya dengan senyum.
            “Hari sudah mulai menjelang senja, Maria. Aku harus melakukan pekerjaanku, memahat kayu di tempat Paman Arius.”
            Meski sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan dongeng Curug Malaikat yang sempat terpotong, tapi keadaan mengharuskanku untuk melakukan aktivitasku seperti biasanya. Memahat kayu. Untungnya saja Maria bisa memahami situasiku.
            “Aku mau lihat kamu memahat, boleh?” dia bertanya.
            “Boleh saja. Tapi aku tidak terlalu hebat dalam memahat kayu.”
            Maria memandang skeptis padaku. Sedetik kemudian tawanya tergelak. Aku mengernyit melihatnya. “Pahatanmu sangat bagus, Mahesa. Aku melihat-lihat pahatan buatanmu di gubuk Paman Arius.” Dia bangkit dari duduknya, berdiri di depanku. Gaun kremnya terkibas saat semilir angin menerpanya. “Oh iya, selain kamu jago memahat, ternyata kamu juga jago melukis, ya. Lukisan buatanmu juga terpajang di sana, kamu seniman berbakat.”
            Aku termangu. Aku diam memandang gadis cantik di depanku dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Benar yang dikatakan Paman Arius pagi tadi. Ini kali pertama hasil karyaku dipuji oleh gadis cantik yang berasal dari kota sana. Perasaanku bercampur aduk tak karuan.
            “Aku ingin sekali mempunyai satu karya apapun itu darimu, Mahesa. Bolehkah?”
            Pertanyaannya barusan membuatku tersadar dari lamunan. Lantas aku menjawab, “B-boleh..., m-memangnya kamu mau karya seperti apa?”
            Baiklah, aku merasa semakin gugup saja. Maria menopang dagu dengan sebelah tangannya. Bola matanya terputar ke atas, hendak berpikir. “Hm, apa saja, asalkan itu hasil buatanmu sendiri. Ah, benar juga.” Ia menjentikkan kedua jari. “Bulan depan perayaan Natal.”
            “Kalau kamu mau, aku bisa buatkan untukmu,” kataku gugup. Kulihat dia merekahkan senyumnya semakin lebar. “Nah, sekarang ayo kita kembali ke desa.”
            Maria mengangguk semangat. “Tapi, kamu masih berhutang menyelesaikan dongeng tadi padaku. Kamu sudah buat aku penasaran.”
            Aku tertawa pendek. “Tenang saja, aku akan menyelesaikannya, kok.”
            Kami pun mulai berjalan meninggalkan Curug Malaikat kembali menuju desa. Maria terus-menerus tersenyum setiap aku bercerita tentang desa tempatku tinggal ini. Bahkan tak jarang, aku menuntunnya berjalan saat melewati jalan bebatuan tajam agar dia tidak sampai terjatuh. Sekarang pikiranku semakin tidak karuan. Aku memikirkan karya apa yang paling bagus untuk gadis secantik Maria, terlebih lagi berhubungan dengan hari Natal. Banyak ide-ide bermunculan dalam kepalaku, tapi belum ada yang sesuai dengan pilihanku. Hingga kami akhirnya sampai di gubuk Paman Arius pun aku masih memikirkan hal itu.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Senja telah berganti malam. Lampu cempor dinyalakan pada setiap rumah di desa, sekaligus sepasang obor menyala di masing-masing depan rumah. Sudah jadi kebiasaan kami warga desa saat malam penuh dengan cahaya dari nyala api. Itu karena desa kami terpencil dan belum tersedianya listrik. Meski begitu, itu justru terasa sangat nyaman karena terciptanya rasa hangat kekeluargaan antar anggota keluarga.
            Aku duduk di depan teras, bersandar pada dinding bilik bambu sambil menatap lukisan yang baru saja kubuat pada kanvas. Entah mengapa setelah melakukan kegiatan memahat kayu di gubuk Paman Arius tadi sore—bersama Maria tentunya—aku kepikiran untuk membuat lukisan, sampai-sampai aku lupa batang pohon yang kutebang kemarin bersama Tara dan Gara belum kusentuh sama sekali. Padahal, batang pohon tersebut akan kujadikan sesuatu untuk gadis cantik yang sudah membuatku jatuh hati padanya.

            Memang kalau seseorang sudah jatuh hati pada orang lain, pasti akan membuat sesuatu untuk orang itu sekaligus memberi kesan menarik untuknya. Lukisan sosok Maria gadis cantik yang sudah membuatku jatuh hati ini salah satu contohnya. Wajahnya yang selalu terbayang-bayang dalam ingatan, membuatku ingin memvisualisasikan ke dalam lukisan. Kalau seandainya lukisan ini kuberikan padanya, dia pasti akan senang.
            “Malam-malam begini kenapa kau di luar, Mahesa?”
            Suara Ayah yang terdengar berat masuk ke indra pendengaranku. Dia keluar dari dalam rumah dan duduk bersebelahan denganku. “Wow. Kau melukis putri sulungnya Tuan Airlangga rupanya. Bagus sangat lukisanmu, Nak,” lanjutnya, merasa takjub dengan lukisan buatanku.
            Kubalas hanya dengan tawa seadanya. Sudah jadi kebiasaan ayahku jika melihat anaknya membuat suatu karya. Pujian yang sering kudapatkan darinya.
            “Ini masih belum terlalu sempurna, Yah,” kataku seraya menunjukkan lukisan Maria padanya.
            “Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Nak,” ujar Ayah. “Yang terpenting kau sudah berusaha melakukannya dengan baik. Lukisanmu ini saja sudah terlihat bagus.”
            “Hahaha. Terima kasih, Yah.”
            Ayah menyelonjorkan kakinya. Dia merogoh saku celana, mengambil sesuatu yang ada di dalam sana. Lantas kemudian menunjukkannya padaku. Aku mengernyit melihat benda di genggaman Ayah. Benda berkilau emas dan bisa menimbulkan denting nada statis jika digoyangkan.
            “Lonceng?”
            “Ayah mendapatkan lonceng ini dari Tuan Airlangga saat menemaninya mengawasi kebun teh. Ambillah.” Ayah memberikan lonceng itu kepadaku. “Lonceng itu untukmu sebagai kenang-kenangan dan tanda terima kasih karena kau sudah menemani putrinya berjalan-jalan tadi siang.”
            Aku sedikit terhenyak. “Bagaimana Ayah bisa tahu?”
            Ayah sedikit tertawa melihatku yang sedikit terkejut dengan yang dituturkannya. “Tuan Airlangga sendiri yang mengatakannya padaku. Sebelumnya, putrinya pun sempat menceritakannya pada ayahnya sendiri.”
            “Oh.” Ya, sejak selesai kegiatan memahat, Maria pulang kembali ke rumahnya. Aku hendak mengantarkannya, tapi dia menolak karena jarak dari gubuk Paman Arius hingga ke rumahnya tak terlalu jauh. Aku maklumi saja. Tapi, ada satu yang mengganjal dari perkataan ayah barusan. Kenang-kenangan?
            “Tadi Ayah bilang lonceng ini sebagai kenang-kenangan, memangnya Tuan Airlangga beserta keluarganya akan pergi meninggalkan desa?” tanyaku pada Ayah.
            Kulihat raut wajah ayah berubah. Alisnya ditekuk hingga menciptakan kerutan pada dahinya. “Bulan depan setelah perayaan Natal di desa kita, Tuan Airlangga beserta keluarganya akan kembali ke Jakarta.”
            “Apa mereka akan kembali lagi ke sini, Yah?” Entah mengapa aku sedikit merasa sesak di dada. Badanku sedikit gemetar mendengar yang dituturkan Ayah padaku.
            “Kalau itu Ayah sendiri tidak tahu, Nak. Kau coba tanyakan saja padanya,” jawabnya. Ayah memandangku dengan tatapan penuh selidik. “Kenapa memangnya?”
            “Ah, tidak ada apa-apa kok, Yah.”
            Tatapan ayah masih terus menyelidik padaku, membuatku sedikit salah tingkah. Sedetik kemudian, dia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menepuk pundakku. Setelah itu, menghela napas. “Dasar anak muda. Ayah tahu apa yang kau rasakan, Nak. Lakukan apa yang harus kau lakukan sebelum terlambat.” Ayah kembali menepuk pundakku, berdiri memandangku. “Ingat, Nak, sebentar lagi perayaan Natal. Ingat saja apa yang paling identik dengan Natal.” Setelahnya, ayah melenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku yang masih berdiam di teras.
            Sesuatu yang paling identik dengan Natal, ya? Sinterklas? Kado Natal? Kartu ucapan? Salju? Hm, memang itu semua berhubungan dengan Natal, tapi belum ada yang cocok denganku. Aku harus memikirkannya lagi. Benda yang paling identik dan sering digunakan banyak orang saat Natal...
            Ah, aku tahu benda apa itu!
            Tanpa basa-basi lagi, aku masuk kembali ke dalam rumah seraya membawa lukisan Maria yang sudah kubuat. Melenggang masuk ke dalam kamar, duduk di bangku meja belajar, menorehkan goresan pensil di atas secarik kertas ditemani cahaya lampu cempor yang menyinari. Kali ini Maria pasti akan sangat gembira melihat hasil karya yang akan kubuat untuknya.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Pagi ini aku sudah berada di gubuk pahat milik Paman Arius. Tidak ada waktu lagi bagiku, aku harus memahat batang pohon yang kemarin aku tebang menjadi suatu karya yang nantinya akan aku berikan kepada Maria. Dengan desain sketsa yang sudah kubuat semalaman, aku mulai melakukan pekerjaanku. Kedua temanku, Tara dan Gara ikut membantu. Pekerjaan pun akan terasa menjadi lebih mudah.
            Batang pohon mulai kupotong menggunakan gergaji, membentuk pola menyerupai batang yang lebih kecil tapi masih terlihat kokoh. Tara membantu dengan memotong sisa-sisa batang pohon menjadi bagian-bagian kecil yang nantinya akan kugunakan sebagai bahan pelengkap. Sedangkan Gara memotong bagian dahan-dahan kecil disertai daun yang menempel, lalu mengumpulkannya jadi satu di satu wadah.
            “Wah, rajin sekali kalian.” Paman Arius berseru. Dia muncul dari dalam gubuknya sambil membawa nampan berisikan tiga cangkir cokelat hangat. Nampan tersebut ditaruhnya di atas meja kecil. “Mau kalian buat apa batang pohon itu?”
            “Membuat sesuatu yang spesial untuk nona cantik putri dari pemilik perkebunan teh, Paman.” Tara menjawab dengan lantang. “Mahesa sudah tahu akan memberi nona cantik itu hadiah apa.”
            “Begitu rupanya. Lalu, hadiah apa yang kalian buat untuknya?”
            “Pohon Natal, Paman,” celetuk Gara. Aku yang mendengarnya lantas menyenggol tangannya, membuatnya segera menutup mulut dengan kedua tangan. “Yah... keceplosan.”
            Tawa menggelegak di antara mereka bertiga, sedangkan aku hanya diam dengan wajah merengut. Padahal, aku berniat merahasiakannya dulu dari orang-orang, biar surprise kalau kata orang kota. Tapi semua sirna karena Gara sudah membocorkan rahasia.
            “Sudahlah, tak apa-apa, Mahesa,” ujar Paman Arius seraya menepuk pundakku. “Yang kau buat saat ini sangat pas dengan momennya, sebentar lagi kan perayaan Natal. Aku yakin Desy pasti suka dengan pemberianmu ini nanti.”
            Kutanggapi perkataan Paman Arius dengan tawa kecil. “Semoga saja dia suka, Paman.”
            “Hei, Mahesa, kalau kamu sudah memberikan pohon Natal padanya, lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Tara. Kurasakan setiap pandangan dari mereka menohok diriku. Aku menggarukkan belakang kepala yang tidak gatal.
            “Aku tidak tahu,” jawabku seadanya.
            “Ungkapkan saja perasaanmu padanya, Mahesa,” ujar Gara. Sebelah tangannya kurasakan berada di pundakku. “Sebelum terlambat.”
            Kucerna perkataan Gara barusan masuk ke dalam kepalaku. Sebenarnya aku masih tidak terlalu yakin dengan perasaan yang aku rasakan. Memang benar Maria sudah membuatku jatuh hati, tapi hanya dengan itu aku tidak yakin kalau perasaanku bisa tersampaikan padanya, terlebih lagi aku dan Maria belum terlalu lama saling mengenal.
            Alih-alih menanggapi omongan Gara, aku melanjutkan pekerjaanku membuat pohon Natal. Tak kuhiraukan tatapan-tatapan kedua temanku dan Paman Arius yang memandangku heran. Aku mengerti mereka berusaha membantuku, tapi aku sendiri merasa tidak yakin apa itu akan berhasil.
            Cukup membutuhkan waktu lama juga membuat satu pohon Natal hingga tak kusadari matahari sudah semakin condong ke atas langit. Pohon Natal yang kubuat pun sudah setengah jadi, tinggal memasang beberapa komponen lagi pohon Natal pun terbentuk sempurna. Aku mengistirahatkan diri sejenak duduk di salah satu kursi kayu sambil memperhatikan Tara dan Gara yang masih melakukan pekerjaannya. Cangkir cokelat yang mendingin aku ambil dan kutenggak hingga tandas. Rasa manis dari cokelat membuat pikiranku jadi rileks. Lantas pikiranku terfokus pada satu titik.
            Tumben sekali aku tidak melihat Maria hari ini—bahkan sejak pagi—, biasanya dia sering keluar berjalan-jalan di sekitar sini.
            “Selamat siang.”
            Ah, baru saja sedang kupikirkan, sosoknya tiba-tiba datang ke sini. Mungkin Tuhan mentakdirkan aku berjodoh dengannya.
            “S-siang, Maria.” Aku membalas sapaannya. Rasa gugup itu datang lagi, malah melebihi kemarin. Terang saja aku merasa gugup melihat bidadari tak bersayap yang tersesat dan tinggal di desa ini. Kulihat Maria tersenyum manis hingga membuat kelopak matanya menutup seperti bulan sabit. Sial, aku tidak bisa menahan rasa gugup ini lebih lama lagi.
            “Hai, Mahesa.” Dia melambaikan tangan padaku sambil tersenyum. Aku terdiam.
            “Eh, ada nona cantik.” Gara menyahut. Disimpannya sejenak pisau pahat di tanah. “Sini masuk, Non Desy.”
            “Hei, Mahesa, ini gadismu datang. Sapalah dia, jangan kau berdiam diri.” Tara menambahkan. Aku tak menghiraukannya, alih-alih pandanganku terus melekat pada gadis di depanku. Kurasakan sentuhan tangan Tara mengacak-acak rambutku. “Hah... maaf ya, Non Desy. Dia selalu begini kalau bertemu gadis cantik.”
            Kudengarkan tawa Maria tergelak. Suara tawanya yang khas itu seakan-akan terasa menggelitik. Ditambah lagi matanya membentuk bulan sabit, menambah kesan cantik pada gadis ini. “Jangan panggil Non Desy, dong, panggil Desy saja.”
            “Non Desy... eh, Desy ada perlu apa datang ke sini, pasti mau bertemu Mahesa, ya?” tanya Gara, menaik-naikkan kedua alisnya. Maria menanggapi dengan tawa khasnya. Dia menganggukkan kepala dengan semangat.
            “Wah, beruntung kau, Mahesa.” Satu tepukan keras dari Tara pada pundak menyadarkanku kembali menuju ke kesadaran. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. “Mahesa, ajaklah dia jalan-jalan, biar pekerjaan ini aku dan Gara yang menyelesaikannya.”
            “T-tapi...”
            “Sudahlah, ayo. Kasihan gadis secantik dia menunggu terlalu lama.”
            Tara mendorong tubuhku hingga aku hampir bertubrukan dengan Maria. Kurasakan gejolak dalam diri seperti melompat-lompat melihat wajah Maria sedekat ini. Rasanya dia seperti jelmaan malaikat di dongeng Curug Malaikat yang aku ceritakan kemarin. Dia hanya merekahkan senyum, lantas berbalik badan memunggungiku.
            Satu bisikan dari Gara masuk ke telingaku. “Dia memberimu kesempatan, Mahesa, jangan sampai kau lewatkan.”
            Ada semacam suntikan dorongan menyengat ke tubuhku. Tanpa tedeng aling aku menarik lengan Maria, membawanya pergi berjalan-jalan entah kemana, yang pasti masih di sekitaran desa ini.
            Sepanjang jalan bibirku terasa kelu, tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Di sampingku, dia terus-menerus merekahkan senyum. Senyumnya malah membuatku semakin gelagapan. Bahkan aku sendiripun tidak mengetahui sudah berapa lama aku menggenggam tangannya sepanjang perjalanan.
            Kami menyusuri hutan lebat di sekitar desa. Tujuanku kali ini bukan ke Curug Malaikat lagi, melainkan ke satu tempat yang tak kalah menarik dengan tempat kemarin. Maria bertanya-tanya padaku hendak membawanya ke mana. Aku tak menjawab, membiarkannya diliputi rasa penasaran. Sesekali dia menggeretu karena tempat yang kami tuju belum terlihat penampakannya. Aku tidak ingin membuatnya kecewa, maka kupercepat langkah sambil terus memegang lengannya. Beruntung, jalan setapak yang kami lewati tidak separah jalan kemarin.
            Pada akhirnya, kami pun sampai di tempat tujuan. Maria mengernyitkan dahi melihat panorama alam di depan mata. Area agak luas seperti aula dengan rentetan pohon yang mengelilinginya. Maria memiringkan kepala, menoleh padaku dengan pertanyaan yang siap dilontarkan mulutnya. Sebelum dia menanyakannya, aku langsung menjawab rasa penasarannya.
            “Orang-orang di desaku sering menyebutnya Leuweung Pikanyaah. Yang berarti hutan yang paling disayangi.”
            Dari raut wajahnya, kutaksir Maria kebingungan dengan yang aku katakan. Terang saja karena dia dihadapkan dengan tempat baru lainnya, tentunya masih terasa asing.
            “Biasanya tempat ini dipakai oleh warga desa untuk acara-acara tertentu, seperti upacara adat atau acara besar lainnya.” Kuperhatikan lagi Maria. Dia masih belum mengerti. “Di sini hawanya jauh lebih sejuk dibanding tempat lain. Kamu tidak akan menyangka kalau ini adalah tempat favoritku.” Kutatap lagi Maria yang sedang memperhatikan sekitar tempat ini. “Kalau suasana hatiku sedang buruk, aku biasanya akan pergi ke sini dan melakukan satu hal.”
            Pandangan Maria langsung tertuju padaku. Bisa kurasakan rasa penasaran semakin menggelayutinya hanya dengan melihat tatapannya saja. “Memangnya kamu melakukan apa di tempat ini?” dia mulai bertanya.
            Genggaman tanganku pada tangannya semakin erat. Entah sudah berapa lama tanganku dalam posisi seperti itu, seperti ada semacam dorongan dari dalam diriku untuk melakukannya. Dan yang lebih parahnya, Maria tidak merasa segan sama sekali saat aku memegang tangannya, bahkan kurasakan tangannya ikut menggenggam kuat tanganku.
            “Aku akan menunjukkannya padamu,” kataku seraya menarik kembali lengannya, berjalan ke salah satu pohon besar dengan bangunan rumah pohon di atasnya.
            Maria mengernyitkan dahi melihat rumah pohon di atas sana. “Kita mau ngapain?”
            “Aku barusan sudah bilang, kalau aku mau menunjukkannya padamu,” jawabku tanpa melepas genggaman tanganku pada tangannya. “Ayo naik.”
            Meski ada sedikit keraguan terpancar dari balik matanya, Maria mau mengikuti ajakanku naik ke atas rumah pohon. Dengan pijakan anak-anak tangga kayu yang menancap pada batang pohon, aku naik terlebih dahulu. Setelah sampai ke atas, Maria mulai naik ke atas. Dia sedikit merasa kesusahan saat naik. Gaun putih sebatas lututnya sesekali tersangkut pada paku yang mencuat di setiap anak tangga. Meski begitu, dia berhasil naik ke atas sini dengan bantuan tanganku yang menariknya.
            “Fiuh... untung saja aku tidak jatuh,” omel Maria. Kutanggapi dengan senyuman. Dia mulai menerawang sekitar rumah pohon ini. “Aku tidak menyangka di sini ternyata luas juga. Aku pikir rumah pohon tidak seluas ini bagian dalamnya.”
            “Ini pertama kalinya kamu mengunjungi rumah pohon?”
            Maria menggeleng. “Di kota tempatku tinggal, aku pernah masuk ke rumah pohon tapi ruangannya sangat sempit, membuatku tidak betah berlama-lama. Lalu, letaknya juga tidak setinggi ini.”
            “Aku kira di kota tidak ada rumah pohon.” Satu pukulan pelan darinya mendarat di lenganku.
            “Ada, kok,” timpalnya. “Dulu papaku membuatkannya untukku, tapi ukurannya tidak besar cenderung kecil dan membuatku tidak nyaman.”
            Aku manggut-manggut. Dari sejak aku kecil hingga sekarang dewasa, aku sama sekali belum pernah main ke kota. Makanya aku baru tahu kalau di kota sana juga hal seperti ini ternyata masih ada. Kualihkan pandangan menuju jendela rumah pohon ini. Tanganku kembali menggenggam tangannya, hendak membawanya menuju jendela di depan sana.
            “Aku mau menunjukkan apa yang sering aku lakukan di tempat ini padamu.”
            Maria menurut saat aku menariknya menuju jendela. Kedua matanya berbinar cerah melihat lukisan alam di depan mata. Hamparan vegetasi hutan hijau dengan burung-burung beterbangan di atas pepohonan. Bisa kulihat pandangan Maria masih terkunci pada panorama tersebut. Sudut bibirnya membentuk senyum lebar dengan deretan gigi putih yang terlihat cerah. Senyumnya itu seakan-akan menghipnotisku untuk terus menatapnya. Memang sungguh cantik ciptaan-Mu ini.
            Aku menopang kedua tangan pada kusen jendela. Tatapanku mengarah ke depan, memosisikan dua jari pada mulut dan bersiul dengan lantang. Kurasakan tatapan menohok dari Maria yang sedang melakukan sesuatu seperti tak biasanya. Alih-alih aku pun terus melanjutkan siulanku.
            Seekor burung hantu kecil tiba-tiba mendarat di kusen jendela. Maria terkejut melihat kedatangan hewan yang dianggap mitos sebagai penanda roh halus itu. Aku sudah terbiasa dengan kehadiran burung hantu kecil ini, karena dia yang menemaniku jika aku berkunjung ke sini. Burung hantu ini liar, tapi aku berhasil menjinakkannya sejak umurku duabelas tahun.
            “Kenapa burung hantunya tiba-tiba datang ke sini?” tanya Maria yang masih terkejut.
            Tanganku mengusap-usap bulu-bulu halus burung hantu kecil ini dengan lembut. “Aku yang memanggilnya ke sini. Ini yang sering kulakukan jika sedang berkunjung ke sini, bermain dengan burung hantu kecil ini.”
            “Bermain?” Aku mengangguk.
            “Burung hantu ini bernama Parashakti,” kataku sambil terus mengusap lembut burung hantu ini.
            “Namanya bagus seperti nama kamu, Mahesa.” Dia sedikit tertawa. Dia mulai memberanikan diri ikut mengusap bulu Parashakti yang lembut ini. “Oh iya, tadi kamu bilang tempat ini disebut Leuweung Pikanyaah, memangnya kenapa bisa disebut seperti itu?”
            Tanganku berhenti mengusap lembut bulu Parashakti. Alih-alih menyuruhnya kembali terbang meninggalkan rumah pohon. Aku bersitatap dengan Maria. Kulihat tatapannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
            “Aku akan memberitahunya dengan satu dongeng,” ucapku seraya menyandarkan punggung pada dinding rumah pohon. Maria ikut menyandarkan punggungnya di sebelahku. Tatapannya masih menohok diriku.
            “Oh iya, kamu berhutang padaku menyelesaikan dongeng kemarin. Ayo, selesaikan.”
            Aku sedikit tertawa. “Memang itu yang akan aku lakukan, Maria. Kelanjutan dongeng kemarin tentang Curug Malaikat akan berhubungan dengan dongeng di tempat ini.”
            Maria mengerucutkan bibir. Kepalanya manggut-manggut menanggapi ucapanku. “Jadi, dongeng yang kemarin itu berhubungan dengan tempat ini?”
            Aku mengangguk. Lantas, aku mulai bercerita layaknya seorang pendongeng pada anak-anak. “Setelah mendengarkan perintah dari Sang Dewa, malaikat cantik itu duduk menunggu di atas batu yang dipijakinya, menunggu seseorang yang akan menghampirinya. Entah siapa orang itu, ia sendiri pun tidak tahu. Saat langit cerah berubah menjadi langit senja, seorang pangeran dari kerajaan Sandekala datang menghampiri si malaikat. Rasa terkejut dirasakan olehnya, karena ini kali pertamanya ia melihat malaikat yang turun ke bumi.”
            “Pasti setelah itu, si malaikat akan bilang; “Hei, jangan takut.”, seperti yang banyak ditulis di dongeng-dongeng. Benar, kan?” Maria memotong jalannya dongeng yang sedang kuceritakan.
            Kubalas dia dengan sedikit tertawa. “Dengarkan dulu sampai selesai, Maria. Yang terjadi selanjutnya pasti kamu tidak akan suka.”
            “Lalu, bagaimana kelanjutannya?”
            Aku melanjutkan. “Yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Pangeran itu mengangsurkan pedangnya, berlari menuju si malaikat, lantas menebas sepasang sayap putihnya hingga putus. Malaikat memekik kesakitan. Sayap miliknya merupakan sumber kekuatan sekaligus alat untuk kembali terbang ke langit sana. Jika sayapnya rusak ataupun terpotong, maka kekuatannya akan hilang. Risiko terburuknya adalah ia tidak akan bisa kembali ke langit untuk selamanya. Seumur hidup dia akan tinggal di bumi.”
            “Kejam sekali!” Maria mengumpat kesal. Ekspresinya berubah serius. “Aku pikir pangeran itu akan berusaha berkenalan dengan si malaikat.”
            Lantas, aku kembali melanjutkan. “Sadar akan perbuatannya, pangeran itu menjatuhkan pedangnya. Ia segera menghampiri malaikat itu hendak meminta maaf. Namun, si malaikat merasa takut dengannya setelah apa yang telah diperbuat pangeran padanya. Sebenarnya pangeran tidak ingin melakukan hal kejam seperti tadi. Itu murni karena ketidaksengajaan.”
            “Pangeran itu aneh sekali,” potong Maria. “Kalau karena tidak sengaja, seharusnya dia tidak mengeluarkan pedangnya, melainkan terperangah atau langsung melarikan diri. Dia kan kali pertama melihat malaikat.”
            “Setiap orang memiliki rasa terkejutnya masing-masing, Maria,” kataku sambil memosisikan diri duduk bersandar pada dinding rumah pohon. “Yang dilakukan si pangeran murni ketidaksengajaan. Dia reflek begitu saja melihat sosok si malaikat.”
            “Lalu, bagaimana kelanjutannya?” Maria ikut duduk bersandar di sebelahku. Aku melanjutkan dongengku.
            “Meski punggung malaikat itu ternoda darahnya sendiri, ia berusaha menjauh dari pangeran. Ia sudah ketakutan. Ia takut jika si pangeran akan menyerangnya kembali dan membuatnya semakin terluka. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Si pangeran membopong si malaikat ke pangkuannya. Dia lantas berlari, membawa malaikat itu meninggalkan air terjun. Kamu tahu kemana dia membawa malaikat itu pergi?”
            Kualihkan pandangan ke Maria di sampingku yang sedang bersendang dagu. Kedua matanya melirik ke atas, hendak berpikir. “Hm, pasti ke tempat ini, kan?”
            “Tepat sekali.” Aku menjentikkan jari di samping wajahnya. Lalu, kembali melanjutkan dongengku. “Pangeran membawa malaikat itu ke tempat lumayan luas dengan rimbun pepohonan yang mengelilinginya. Setelah lukanya diobati, pangeran membawanya ke satu gubuk kecil, tempat tinggalnya sementara. Dari situlah kedekatan antara mereka dimulai. Dan tempat inilah yang nantinya dinamakan Leuweung Pikanyaah. Si pangeran sudah mengetahui kenapa si malaikat cantik jelita itu bisa turun ke bumi. Begitupun si malaikat, dia mengetahui maksud dan tujuan si pangeran datang ke hutan ini. Rupanya ia ingin membangun sebuah kerajaan baru di tempat ini. Bertahun-tahun hidup bersama, timbul perasaan cinta di antara keduanya.
            “Tigapuluh tahun mereka hidup bersama di hutan ini, sedikit demi sedikit kerajaan yang mereka bangun sudah berdiri. Kerajaan itu diberi nama Kerajaan Cahya Sakti. Para penduduk dari berbagai golongan dan keyakinan mulai menempati kerajaan itu. Bahkan anak cucu dari si pangeran dan malaikat pun ikut andil bagian dalam kerajaan. Sumber daya di hutan ini yang melimpah membuat masyarakatnya semakin makmur dan produktif. Tapi, suatu hari muncul kejadian buruk menimpa kerajaan itu.”
            “Kejadian buruk apa itu?” Maria kembali memotong dongeng yang sedang kuceritakan. “Firasatku mendadak tidak enak.”
            Sejenak kuhela napas panjang. Mendongeng ternyata melelahkan juga. Aku melanjutkan, “Langit cerah tiba-tiba berubah gelap. Gumpalan awan hitam pekat menghiasi langit disertai petir menyambar dan hembusan angin kencang. Petir dan angin kencang itu menyerang penduduk kerajaan. Tak ayal semua makhluk di dalam kerajaan itu dilanda kepanikan. Si pangeran dan si malaikat tentu saja kebingungan bagaimana cara menghentikan musibah yang datang tiba-tiba ini. Korban mulai berjatuhan. Banyak penduduk kerajaan tewas terpanggang disambar petir dan terkena hembusan angin. Pangeran merasa frustasi dan tak mampu menolong para penduduknya. Sedangkan si malaikat hanya diam terpaku.”
            Kudengar Maria sedang menguap. Dia mengatupkan mulutnya menggunakan kedua tangannya. Padahal malam belum tiba, tapi gadis cantik ini sudah mengantuk.
            “Maria, kamu ngantuk?” tanyaku. Dia menggeleng. Lucu, jelas-jelas dia mengantuk. Kedua matanya mengerjap dan sedikit kemerahan. “Kita pulang saja kalau begitu.”
            Dia lagi-lagi menggeleng. “Tidak mau. Aku masih penasaran sama dongengnya,” ucapnya.
            “Tapi kamu sudah mengantuk, Maria.”
            “Tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan dongengnya.”
            Dia menyandarkan kepala pada dinding rumah pohon, menunjukkan senyum bulan sabitnya padaku. Sial, itu malah membuatku terhenyak. Aku semakin tak berkutik dibuatnya. Alih-alih menghentikan dongengku, aku mengurungkannya dan kembali melanjutkan.
            “Baik, aku akan lanjutkan.” Aku melihat sejenak wajah gadis cantik di sebelahku ini. Dia masih tersenyum padaku. Lantas, kuhela napas pendek. “Di tengah keputusasaan, si malaikat memohon bantuan kepada Sang Dewa agar bisa mengembalikan kerajaannya. Namun, Sang Dewa tak menjawab permohonannya. Tak ada yang bisa dilakukan, terlebih lagi si pangeran mengangkat pedangnya sendiri, kemudian menusuk perutnya hingga tak bernyawa. Tak ayal hal itu membuat si malaikat merasa terpukul. Ia sudah kehilangan pria yang dicintainya.”
            “Kasihan sekali,” Maria menyeletuk. Kurasakan kepalanya bersandar pada bahuku. Itu malah membuat jantungku berhenti berdetak. Dia lagi-lagi menguap, pertanda rasa kantuk semakin menguasainya. “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku berada di posisi si malaikat. Kalau mentalku lemah, pasti aku akan ikut bunuh diri.”
            Tak kuhiarukan perkataannya itu, membiarkannya kembali merasakan rasa kantuk. Aku melanjutkan dongengku. “Malaikat yang merasa terpukul itu pergi meninggalkan kerajaan. Dia kembali ke air terjun tempat dimana ia menginjakkan kaki pertama kali ke bumi. Dia bersimpuh pada atas batu di tengah kolam air terjun, memohon kembali kepada Sang Dewa. Akhirnya, Sang Dewa menjawab permohonannya. Ia berseru; “Wahai Malaikatku yang paling setia, kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Sudah saatnya kamu kembali ke sisiku.”. Setelah berkata begitu, cahaya putih menyorot malaikat itu. Cahaya tersebut mulai mengikis tubuh si malaikat dan perlahan menghilang. Dari cahaya itulah maka disebut dengan Curug Malaikat.”
            Aku menghela napas panjang setelah lelah bercerita kepada Maria. Bahkan jemariku terasa sangat lelah menulis penggalan dongeng ini di sini. Kalau saja si Yang-Punya-Kuasa kisah tak memberi makanan kesukaanku, aku tidak akan menuliskannya.
            Lagi-lagi aku menghela napas panjang saat melihat Maria di sampingku sudah tertidur pulas. Padahal sudah kuperingatkan untuk pulang, tapi dia tetap kekeh ingin mendengar kelanjutan dongengku. Ya sudahlah.
            Dia terlihat semakin cantik jika sedang tertidur. Poni rambut yang sedikit menutupi wajahnya aku singkirkan perlahan agar semakin mudah melihat wajah cantiknya. Memang malaikat Tuhan satu ini semakin membuatku tak berkutik dibuatnya. Jika diberi kesempatan, aku ingin terus-menerus melihat wajah cantiknya.
            Tak kusadari senja semakin meredup, aku harus kembali ke desa. Tapi, melihat Maria tertidur pulas seperti ini, membuatku jadi tidak tega membangunkannya. Mau bagaimana pun tetap saja kami harus kembali.
            Tak mau membangunkannya, aku mengangkat tubuhnya perlahan-lahan. Lantas kupeluk erat saat hendak turun dari rumah pohon ini. Akses termudah untuk turun dari rumah pohon ini adalah melalui untaian tali tambang yang menjuntai ke bawah. Hati-hati aku menuruni rumah pohon tanpa melepaskan pelukanku pada Maria. Tak bisa kusangka, ia juga merespon pelukanku dengan erat saat aku meluncur di untaian tali tambang.
            Saat kakiku berpijak ke tanah, debaran jantungku semakin tak karuan mengingat kejadian tadi. Lantas, aku melepaskan pelukanku, memapah tubuh Maria pada punggung agar aku bisa lebih mudah menggendongnya.
            “Mahesa, terima kasih.”
            Bisikan ucapan terima kasih darinya membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menoleh ke arahnya, dia masih tertidur tapi sudut bibirnya membentuk senyuman. Baiklah, Maria, kamu membuatku jadi semakin tak berkutik.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Tadinya aku ingin memperlihatkan sketsa pohon Natal yang baru setengah jadi kubuat kepada kalian. Tapi, si Yang-Punya-Kuasa kisah ini, alias temanku dari Bandung, tidak menginzinkanku memperlihatkannya. Padahal pohon Natal ini terlihat bagus. Akan sangat disayangkan jika kalian tidak melihatnya. Tapi, ya sudahlah. Temanku yang paling memiliki kuasa di kisah ini, aku hanya sekadar membantu menuliskannya.
Baik, kembali ke cerita.
            “Tara, tegakan yang benar! Kalau tidak pohonnya bisa mudah jatuh!”
            “Ini sedang kulakukan! Kau ini cerewet sekali!”
            Aktifitas siang hari ini aku berniat untuk menyelesaikan pohon Natal yang sudah setengah jadi. Batang pohon yang sudah dipahat menjadi berukuran lebih kecil dari sebelumnya dengan ukiran-ukiran motif batik di sekelilingnya sedang berusaha ditegakkan oleh Tara dan Gara. Di sekeliling batang pohon tersebut terdapat beberapa batang kayu kecil yang berfungsi sebagai dahannya. Hanya tinggal memasang dedaunan ke sekitar dahan itu, dan jadilah bentuk dari pohon Natal.
            Kalau kata Paman Arius, untuk bisa menyempurnakan pohon Natal ini harus menggunakan dedaunan dari pohon pinus agar terlihat seperti asli. Padahal sebelumnya, aku coba menyarankan agar menggunakan dedaunan yang lain saja, tapi Paman Arius bilang itu bisa saja, namun hasilnya akan kurang maksimal. Alhasil, Paman Arius memintaku untuk mencari dan mengumpulkan dedaunan pinus di hutan.
            “Aku tidak mengerti kenapa perayaan Natal identik dengan pohon Natal?”
            Ratu tiba-tiba bertanya padaku di tengah perjalanan menuju hutan pinus. Sejak Paman Arius memintaku mengumpulkan dedaunan pinus, Ratu datang berkunjung ke tempat pemahatan Paman Arius. Dia menyerahkan sekeranjang jagung kepada paman. Dan kebetulan, dia mengerti tentang berbagai macam daun di hutan. Oleh karenanya, Ratu ikut pergi bersamaku mencari dedaunan pinus.
            “Yang biasanya aku lihat saat Natal itu pohonnya dihias sedemikian rupa,” Ratu melanjutkan bicaranya. “Penuh dengan kelap-kelip lampu. Lalu, ada semacam hiasan seperti bola-bola berwarna-warni dan juga manik-manik. Kemudian, ada bintang di puncak pohonnya.” Ratu memosisikan kedua tangannya di belakang punggungnya seiring langkah kami sudah memasuki hutan pinus. Dia memiringkan kepalanya ke arahku. “Oh ya, kadang kulihat di bawah atau sekitaran pohonnya terdapat gua yang terbuat dari kertas semen. Di dalamnya ada patung-patung manusia dan hewan ternak, bahkan ada patung malaikatnya juga. Terlihat sangat menarik menurutku.”
            Aku menengadah ke atas, melihat rimbunnya dedaunan pohon pinus yang membentuk seperti kanopi. Angin segar berhembus lembut, menggoyang-goyangkan dahan pohon. Aku menghirup napas panjang, lantas menghembuskannya perlahan. Kuresapi sejenak perkataan Ratu barusan, berusaha mencari kata untuk memberi penjelasan.
            “Biasanya, pohon identik dengan silsilah keluarga,” Aku mulai menjelaskan. “Menurutku, semakin rimbun dan kokoh pohon tersebut, maka semakin banyak juga keluarga yang terbangun dengan relasi yang sama. Mereka akan saling bahu-membahu menopang kokohnya pohon agar terus tegak berdiri, meski dengan sifat masing-masing yang berbeda.” Aku berhenti di salah satu pohon pinus. Ratu mengikutiku dan berdiri di sebelahku. Tangan kananku sedikit menepuk perlahan pohon pinus di depanku. “Tentunya dengan kasih sayang.”
            “Berarti, jika salah satu daun atau dahan dari pohon itu ada yang gugur atau rusak, maka itu tandanya mereka kehilangan salah satu anggota keluarganya,” ucap Ratu. Dia tampaknya sudah mengerti maksud dari penjelasanku.
            “Ya, begitulah menurutku,” kataku. Aku mengeluarkan sebilah golok kecil dan seutas tali tambang dari dalam tas punggungku. “Sama halnya dengan pohon Natal, Ratu. Semua keluarga akan berkumpul di perayaan Natal, saling bersilaturahmi satu sama lain, dan merayakan Natal bersama dengan penuh suka cita. Hiasan-hiasan yang ada di pohon Natal tersebut menandakan tentang kesukacitaan mereka, karena bisa berkumpul kembali dengan masing-masing anggota keluarga.”
            Kulihat Ratu manggut-manggut menanggapi penjelasanku. “Hm, begitu, ya. Aku jadi sedikit paham.” Tali tambang yang kukeluarkan lantas aku lilitkan ke batang pohon pinus agar aku mudah memanjatnya. Kurasakan lengan Ratu sudah berada di pinggangku dengan sisa tali tambang yang melilit pinggangku. “Sini, biar kubantu.”
            “Terima kasih.”
            “Jangan sampai terjatuh, Mahesa,” ujar Ratu memperingatiku. Ikatan tali tambang pada pinggangku terasa kencang. Ratu sudah berada di sebelahku seraya menyunggingkan senyum manis. “Kalau kamu sampai terjatuh, pohon Natal yang susah payah kamu buat tidak akan sampai ke gadismu, Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan.”
            Kutanggapi dengan tawa kecil. Lantas membalasnya dengan senyuman lebar. “Tenang saja, Ratu. Aku kan sudah berpengalaman dalam hal ini.”
            Pukulan ringan darinya mendarat di lengan kiriku. Dia sedikit tertawa. “Walaupun kamu berpengalaman, tetap saja kamu harus berhati-hati.”
            “Iya, Ratu Vienny Fitrilya.”
            Lantas dengan hati-hati aku mulai memanjat pohon pinus ini. Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di puncak pohon, karena aku sudah terbiasa memanjat pohon seperti ini. Aku mulai memilah-milah dahan mana saja yang mempunyai banyak dedaunan pinus. Ratu yang berada di bawah mengarahkanku mana saja dahan yang layak dipotong. Sesuai dengan instruksinya, aku memotong dahan-dahan pohon pinus dan mejatuhkannya ke bawah. Kemudian Ratu mengumpulkan dahan-dahan yang terjatuh menjadi satu.
            “Sepertinya sudah cukup, Mahesa,” ujar Ratu dari bawah pohon. “Ayo turun, kita kembali ke gubuk Paman Arius.”
            “Iya, sebentar.”
            Aku mulai turun dari pohon pinus ini dengan hati-hati. Aku melepaskan ikatan tali tambang yang melilit pinggangku, lalu membantu Ratu mengumpulkan dahan-dahan pinus yang baru saja aku potong.
            “Aku dengar kemarin kamu berjalan berdua dengan Maria, ya?” Pertanyaan Ratu barusan menohok diriku. Jantungku seakan-akan meloncat dari rongganya.
            “Dari mana kamu tahu?”
            Dia tertawa menanggapi pertanyaanku. Alih-alih mulai melilitkan tali ke setumpuk dahan dedaunan pinus. “Tara dan Gara yang menceritakannya padaku saat aku berkunjung ke gubuk Paman Arius siang kemarin.”
            Sebelah tanganku menggaruk-garukan belakang kepalaku. Yang Ratu pertanyakan itu benar adanya. “Iya, hehehe.”
            “Hebat!” Ratu bertepuk tangan dengan riang sambil tersenyum lebar padaku. “Kamu ada kemajuan, Mahesa. Aku yakin dia juga pasti mengalami hal yang sama denganmu.”
            Aku cengengesan menanggapi perkataannya. Kedua tanganku mulai membentuk simpul pada tali yang melilit dahan dedaunan pinus. “Entah mengapa aku merasa tidak yakin bisa mengutarakan perasaanku ini padanya, Ratu.”
            “Lho, kenapa?”
            “Entahlah.” Kuhela napas panjang.
            Sentuhan kecil dari lengan Ratu kurasakan mendarat pada bahu kiriku. “Percaya dirilah, Mahesa. Kamu harus yakin dengan perasaanmu.” Kepalaku menoleh ke arahnya, kudapati seutas senyum manis terpancar di bibirnya. “Kalau kamu tidak yakin pada dirimu sendiri, kamu tidak akan bisa tahu apakah Maria memiliki perasaan yang sama atau tidak.” Ratu sedikit mencondongkan badannya ke arahku tanpa melepas senyum manisnya. “Di hari Natal nanti, Maria juga berulang tahun, lho.”
            Aku tertegun. “Benarkah?”
            Ratu mengangguk. Sejak kedekatanku dengan Maria, selama ini aku tidak mengetahui tentang hari ulang tahun gadis cantik yang sudah meluluhkan hatiku ini. Aku tidak pernah menanyakan hal ini ke teman-temanku, bahkan bertanya padanya pun enggan. Sungguh, ini suatu kebetulan, Maria berulang tahun tepat di hari Natal. Otomatis hadiah pohon Natal yang kubuat ini selain sebagai hadiah Natal, juga sebagai hadiah ulang tahunnya.
            “Suatu kebetulan yang tak disangka-sangka,” kata Ratu. “Momennya sangat pas, Mahesa, apalagi pohon Natalmu selain sebagai hadiah Natal juga sebagai hadiah ulang tahun untuknya.”
            “T-tapi tetap saja aku masih kurang yakin...”
            Ratu menghela napas panjang. Diraihnya kedua tanganku, mengurutnya perlahan menggunakan jemari lentiknya. Seutas senyum mengembang di bibirnya yang manis itu. “Kemarin kamu bisa jalan berdua dengannya, masa sampai sekarang masih tidak percaya pada dirimu sendiri?” Dilepaskannya genggaman pada tanganku. Ada semacam senyum tersirat tampak di wajahnya. Sebelah alisnya terangkat. “Bahkan, kemarin kamu mengantarkannya pulang dengan kondisi dia yang tertidur pulas. Bukankah itu menandakan bahwa kamu sudah selangkah lebih maju dibanding sebelumnya?”
            “Kenapa kamu bisa tahu?” Lagi-lagi aku terhenyak. Entah mengapa Ratu bagaikan detektif yang tahu apa yang sudah aku lakukan. Rasanya aku seperti seorang penjahat yang sedang diinterogasi olehnya.
            Ratu tertawa. Sebelah tangannya menutup mulutnya agar suara tawa yang keluar tidak terlalu keras. “Aku melihatmu di kebun teh saat kamu mengantar Maria ke rumahnya. Kamu terlihat kuat sekali menggendong gadis itu, padahal dia sedikit lebih tinggi dibanding denganmu.”
            “Ternyata begitu, ya.” Aku ikut tertawa menanggapi perkataan Ratu barusan. Memang kemarin aku mengantarkan Maria kembali ke rumahnya. Dia tertidur sangat pulas saat itu, membuatku tidak tega membangunkannya. Saat sampai di rumahnya, aku disambut baik oleh kedua orang tuanya dan memintaku untuk membaringkan Maria di tempat tidur kamarnya. Kukira tidak akan ada yang melihatku seperti itu, tapi ternyata akhirnya ketahuan juga.
            “Bagaimana, masih ingin tetap berjibaku dengan rasa tidak percaya dirimu atau mau berani mengungkapkannya?” tanya Ratu. Pandangannya menatap lekat padaku tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
            Ada benarnya juga yang diucapkan Ratu. Memang rasa tidak percaya diri ini selalu menghantuiku, terlebih lagi terhadap gadis yang kusukai. Tapi mengingat kejadian kemarin bersama Maria, sedikit demi sedikit rasa percaya diriku timbul.
            “Kamu benar juga, Ratu,” kataku seraya menyunggingkan seutas senyum.
            Kulihat Ratu ikut tersenyum. “Jadi?” Aku mengangguk. Lantas, dia bertepuk tangan dengan riang. “Nah, itu baru namanya pemuda desa yang tangguh.”
            “Hahaha. Sudahlah, ayo kita pulang.”
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Tanpa terasa bulan Desember telah tiba. Pohon Natal yang sudah susah payah kubuat sebulan ini akhirnya selesai. Tapi, bentuknya masih seperti pohon Natal biasa, belum ada pernak-pernik yang menghiasi pohon tersebut. Itu karena di desaku tidak ada warga yang memiliki pernak-pernik hiasan untuk pohon Natal. Semua itu bisa didapat dengan pergi ke kota dan membelinya, terlebih lagi lampu kelap-kelip karena di desaku ini tidak ada listrik.
            Seingatku, di gereja juga sedang menghias pohon Natal besar dengan pernak-perniknya. Tapi, tidak mungkin jika aku menggunakannya untuk pohon Natal buatanku ini. Sepertinya aku harus pergi kota dan membelinya sendiri. Namun, bagaimana caraku ke sana?
            “Mahesa anakku.” Panggilan ibu dari dalam rumah menyentak tubuhku yang sedang berbaring di atas hammock, menatap rimbunnya pepohonan di sekelilingku. Aku pun turun dan membalas panggilan ibu.
            “Iya, ada apa, Bu?”
            “Kemarilah, Nak. Ayahmu membawa sesuatu untukmu.”
            Sepertinya ayah akan memberikan kejutan. Daripada penasaran, aku pun masuk ke dalam rumah. Kudapati ayah dan ibu duduk lesehan di lantai. Di antara mereka terdapat sebuah kardus lumayan besar. Aku tidak tahu apa isinya.
            “Itu apa, Yah?” tanyaku. Aku ikut duduk sambil menunjuk kardus lumayan besar itu. Alih-alih menjawab pertanyaanku, ayah menyodorkan kardus itu padaku. Sudut bibirnya membentuk senyuman.
            “Bukalah,” pintanya. Lantas aku pun membuka kardus tersebut, penasaran dengan isi dari dalam kardus ini. Kedua mataku seakan-akan berbinar cerah melihat isi dari kardus ini. Bibirku mengerucut, merasa takjub dengan isi kardus ini. Ayah tahu saja apa yang sedang kubutuhkan.
            “Semua barang dalam kardus itu pasti sedang kamu butuhkan,” ujarnya.
            “Dari mana Ayah mendapatkan semua barang ini?” Aku mencoba memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Semua barang di kardus ini yang sedang kubutuhkan untuk menyempurnakan pohon Natal buatanku. Bola-bola kaca berwarna-warni, manik-manik, pernak-pernik Sinterklas, bintang, bahkan lampu kelap-kelip dengan macam warna. Aku tidak menyangka ayah bisa mendapatkan semua ini.
            “Semua itu Ayah dapatkan dari Tuan Airlangga,” kata ayah. Aku mengernyitkan dahi.
            “Dari Tuan Airlangga?”
            Ayah mengangguk. “Tuan Airlangga tahu kalau kamu sedang membuat pohon Natal untuk ulang tahun putrinya. Paman Arius yang memberitahunya. Jadilah beliau mengajakku pergi ke kota untuk membeli semua ini, karena di desa kita tidak memiliki semua barang itu.”
            “Jadi, Tuan Airlangga tahu kalau aku sedang membuat pohon Natal? Kalau begitu, putrinya juga tahu aku sedang membuat itu?”
            “Tidak, anakku.” Ayah menggeleng. “Untungnya Tuan Airlangga tidak memberitahu kepada putrinya. Sampai sekarang dia masih belum mengetahui apa yang sedang kamu buat untuk hari ulang tahunnya.”
            “Syukurlah....” Kuhembuskan napas panjang seraya mengelus perlahan dadaku sendiri. Sempat aku terkejut karena bisa saja Maria tahu hadiah yang sedang kubuat, tapi aku lega setidaknya dia belum mengetahui hal ini.
            “Hari Natal sebentar lagi tiba, Mahesa.” Ibu bangkit berdiri menghampiriku. Kemudian mengusap perlahan puncak kepalaku. “Gunakan semua barang ini sebaik mungkin. Dan lekaslah memberikannya pada gadismu itu.”
            Ucapan ibu sedikit membuatku tertawa. Benar yang ibu ucapkan, aku harus segera menyempurnakan pohon Natalku, lalu memberikannya kepada Maria tepat di hari Natal. Tanpa tedeng aling, aku pun membawa semua barang pemberian ayah barusan, membawanya ke gubuk Paman Arius dan berniat menyelesaikan pohon Natalku.
****
Gubuk pahat Paman Arius tampak sangat berantakan hari ini. Berbagai barang hadiah pemberian ayahku tadi pagi berserakan di lantai. Tara dan Gara membantu membuat sebuah gua kecil yang terbuat dari kertas semen. Paman Arius sibuk meremas kertas semen menjadi gumpalan-gumpalan kecil, kemudian menyemprotnya dengan cat hitam. Sedangkan aku sendiri dibantu dengan Ratu, memasang pernak-pernik pemberian ayahku tadi pagi ke pohon Natal buatanku ini.
            Kalau melihat hasilnya sejauh ini, aku yakin pohon Natalku akan selesai tepat tiga hari sebelum hari Natal tiba. Rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya agar aku bisa memberikannya kepada Maria.
            “Hei, Mahesa. Bisakah kamu pasang bintang ini ke puncak pohon Natalnya? Aku tidak sampai.” Pergelangan tangan Ratu yang memegang ornamen bintang terjulur ke atas. Kedua kakinya menjinjit, berusaha untuk menaruh bintang pada puncak pohon, tapi tak sampai.
            “Padahal tinggimu tidak terlalu jauh denganku, tapi mencapai puncuk saja tidak sampai,” kataku, sedikit tertawa. Kuambil ornamen bintang dari tangannya dan memasangkannya pada puncak pohon dengan mudah. “Nah, gampang sekali, kan.”
            Cubitan darinya pada perut membuatku mengaduh sakit. Cubitannya terasa agak keras. Ratu mengerucutkan bibir. “Jelas gampang, lah, kamu kan lebih tinggi daripada aku.”
            “Iya, tapi tinggiku kalah dari Maria.”
            Ratu sedikit tertawa seraya menepuk-nepuk lengan kiriku. “Oh ya, ngomong-ngomong soal Maria, apa dia tahu apa yang sedang kamu buat ini?” tanyanya. Kedua matanya memandang lekat padaku.
            “Tidak,” jawabku. Bukan bermaksud membuat Maria penasaran, aku ingin membuatnya terkejut dengan hasil karyaku di hari Natal sekaligus hari ulang tahunnya. Dengan cara seperti itu mungkin saja dia menjadi terkesan.
            “Bagus kalau begitu.” Ratu bertepuk tangan dengan riang. “Dengan begitu, Maria pasti akan merasa tersanjung padamu.”
            “Ya, semoga saja.”
            Tak ada percakapan lagi setelahnya. Aku dan Ratu sama-sama terdiam, memandangi pohon Natal yang sudah kami hias. Tak kuhiraukan pekerjaan yang sedang dilakukan kedua temanku dan Paman Arius di belakang sana. Pandanganku hanya tertuju pada pohon Natal di depanku. Benar-benar cantik.
            Terhitung seminggu lagi hari Natal akan tiba. Desaku pasti akan ramai dipenuhi warga yang bersama-sama merayakannya. Di momen itu pula aku akan mengungkapkan semua perasaan yang tersimpan dalam diriku kepada Maria. Tapi, hingga sekarang aku masih ragu melakukannya. Aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.
            Pandanganku terus tertuju pada pohon Natal. Sedikit demi sedikit pikiranku melanglang buana, berputar mengelilingi porosnya seperti komidi putar. Mendadak aku tak bisa berpikir jernih dan larut dalam sebuah dilema yang terus menghanyutkanku. Hanya satu pertanyaan yang kupikirkan, apakah aku bisa mengungkapkannya? Dan, itu malah menimbulkan opsi-opsi berbeda yang membuatku semakin jatuh ke dalam dilema.
            Aku sempat menanyakan kepada temanku, si Yang-Punya-Kuasa saat menuliskan kisah ini, tapi dia berpendapat bahwa aku harus menentukannya sendiri. Padahal dialah yang memiliki kuasa di kisah ini, tapi sedikit memberi kebebasan padaku. Justru kebebasan yang seperti ini malah membuatku semakin pusing dibuatnya. Memang dasar! Kalau saja dia bukan temanku, sudah aku sesatkan ia di hutan dan diterkam macan tutul.
            “Hei, Mahesa.” Suara Ratu yang terkesan lembut namun sedikit tegas, membawaku kembali menuju kesadaran. Ditatapnya aku dengan sebelah alis terangkat, seperti sedang melihat seorang yang tak dikenalnya. “Kenapa melamun?”
            Kugelengkan kepala. “Tidak. Hanya memikirkan satu hal saja.”
            Ditatapnya aku sekali lagi, namun disertai senyum manisnya. “Jangan terlalu banyak mikir, nanti kamu bisa sakit.” Ratu menyodorkan aku sebotol air. “Mendingan kamu cari udara segar di sekitaran kebun teh, biar pikiranmu segar kembali. Biar sisa karyamu saat ini aku dengan yang lain yang menyelesaikannya. Hanya tinggal mencari sumber listriknya saja.”
            Kuhela napas panjang. Benar juga yang dikatakan Ratu, rasanya aku butuh udara segar untuk menjernihkan isi kepalaku. Mungkin saja dengan begitu aku bisa mudah menentukan pilihan tentang perasaanku ini.
            “Kamu benar juga, Ratu. Kalau begitu aku mau cari udara segar dulu.” Botol air pemberian Ratu tersebut aku ambil. Lalu, melangkah keluar gubuk membiarkan Tara, Gara, dan Paman Arius berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Bisa kurasakan Ratu seolah-olah tersenyum padaku saat berbelok meninggalkan gubuk.
            Kubawa langkah kaki ini lamat-lamat menyusuri jalan setapak perkebunan teh. Hawa segar nan menyejukkan kuhirup dalam-dalam masuk ke rongga paru-paru. Kendati matahari membumbung tinggi di atas langit, justru di tempat ini terasa sangat nyaman dengan hawa dingin menyejukkan. Aku bersyukur bisa lahir dan tinggal di desa dengan vegetasi pegunungan yang masih asri.
            Hamparan kebun teh yang hijau membuat perasaanku jadi sedikit tenang. Sesekali kupetik setangkai pucuk daun teh dan kuhirup aromanya, meski daunnya tidak menimbulkan aroma apapun karena belum diolah. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak kebun teh tanpa tujuan hendak ke arah mana. Yang terbesit di pikiranku saat ini hanyalah menenangkan diri dari dilema yang kualami seiring langkah kaki yang lamat-lamat ini.
            Aku berhenti di salah satu blok kebun teh hanya untuk melihat sebuah pelataran di tengah kebun teh. Ada seseorang di dalamnya, duduk di bawah atapnya yang berbentuk seperti topi sombrero. Dia seorang gadis cantik dengan rambut panjang sebahunya. Gadis yang sudah membuatku dilema seperti ini. Aku tidak menyangka dia berdiam di sini seorang diri. Bukan bermaksud menuduh dia adalah seorang introvert, tapi dia memang sering berjalan-jalan sendiri menyusuri tempat ini, hanya saja baru kali ini aku melihatnya diam sendiri di sini. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, entahlah. Begitu pikirku.
            Sedikit membuatku penasaran, maka aku pun mencoba mendekatinya. Berjalan mengendap-endap, berusaha untuk tak membuat suara sekecil pun saat mendekatinya. Dia masih berdiam diri membelakangiku. Ternyata dia menggunakan gaun yang sama saat aku mengajaknya ke rumah pohon, hanya saja motif gaunnya berbeda kali ini, motif bunga mawar. Kedua tanganku merentang ke depan seiring langkah kakiku semakin dekat. Saat kedua tanganku hendak menggapai pundaknya, detik kemudian tubuhku terhentak ke belakang. Maria sudah terlebih dahulu mengagetkanku. Dia terbahak melihatku sudah terjengkang ke atas tanah.
            “Aku sudah tahu kamu akan datang dan mengagetkanku, Mahesa.” Maria masih tertawa. Kemudian, tangannya menjulur ke depan membantuku berdiri. Aku hanya memasang wajah datar.
            “Kalau tahu kamu akan seperti tadi, aku tidak akan mengagetkanmu.”
            “Kamu juga sih, yang mau isengin aku. Salah sendiri,” ucapnya, menjulurkan lidah dan kemudian tersenyum. “Tumben siang begini kamu di sini, biasanya kan di gubuk Paman Arius?”
            “Hanya iseng saja mencari udara segar,” jawabku. Mataku menyipit menatap gadis di depanku. “Kamu sendiri kenapa diam sendiri di sini?”
            “Kalau misal alasannya sama denganmu, bagaimana?” Sebelah alisnya terangkat.
            Kugaruk tengkukku yang tidak gatal. “Maksudnya?”
            Detik berikutnya Maria tersenyum, menampakkan senyum bulan sabit di matanya. Alih-alih, dia memegang pergelangan tanganku. “Iya, alasanku berdiam diri di sini itu sama denganmu. Sekadar mencari udara segar.” Maria menarikku menuju pelataran yang baru saja ia singgahi. Dia duduk pada salah satu bangku panjang dan aku ikut duduk di sebelahnya. Pandangannya menatap hamparan kebun teh di depan sana tanpa menghilangkan senyum bulan sabitnya. “Sebenarnya, ada hal lain yang membuatku berdiam diri di sini sendirian. Tapi, kamu di sini, jadinya aku tidak sendiran lagi.”
            “Kalau boleh tahu, hal apa itu?” tanyaku, bersipandang dengannya. Senyumnya masih mengembang di bibirnya.
            Ada keheningan sejenak tercipta di antara kami. Detik berikutnya dia mulai berucap, “Sebentar lagi hari Natal, aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba.” Maria menolehkan kepala ke arahku dengan guritan senyum masih terpancar di bibirnya. “Kamu waktu itu berjanji padaku kalau kamu akan membuatkanku satu karya dan akan kamu berikan padaku di Natal nanti. Sampai sekarang aku penasaran karya apa yang kamu buat. Bolehkah kamu memberitahukan kepadaku?”
            Aku memang pernah berjanji padanya akan membuat suatu karya untuknya di hari Natal nanti. Kalian para pembaca sudah tahu membuat karya apa untuknya, aku sudah memberitahukannya kepada kalian sebelumnya bukan, tapi tidak dengan Maria. Sudah aku bilang sebelumnya, aku tidak bermaksud membuatnya penasaran, melainkan membuat kejutan untuknya. Dan sekarang, dia menanyakannya kembali.
            “Bukan kejutan namanya jika aku memberitahukannya lebih dulu, Maria,” kataku, bersipandang dengannya yang menampakkan mata bulan sabitnya. Raut wajahnya berubah, membentuk kerutan kecil pada dahi.
            “Jadi itu kejutan buatku?” Kujawab dengan anggukan mantap. “Tapi, tidak apa-apa kan kalau kamu memberitahukannya sekarang?”
            Sudut bibirku tertarik membentuk senyuman, lantas menggeleng pelan. “Tunggulah sampai Natal tiba.”
            “Ish...” Maria mencebik, kembali melabuhkan pandangan ke hamparan kebun teh. Sepasang tangannya terlipat di depan dada, membiarkan hembusan angin menerpa rambutnya. Wajah putihnya itu selalu membikin jantung berdegup cepat.
            “Mahesa,” dipanggilnya aku, lantas menoleh padanya. “Jika aku diberi kesempatan lebih banyak, aku ingin tinggal lebih lama di desamu. Banyak hal di sini menjadi pelajaran buatku yang tidak kutemukan di kota. Sebelumnya di kota tempatku berasal, semua yang aku inginkan bisa aku dapatkan dengan mudah, tinggal minta langsung dikasih. Tapi di sini, semua hal yang aku ingin harus aku dapatkan sendiri. Desamu membuatku semakin mandiri.”
            Kucerna baik-baik maksud perkataan Maria. Aku tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba berkata seperti itu. Dari perkataannya barusan, seperti ada maksud terselubung yang sedang ia sembunyikan. Mungkinkah yang sempat dikatakan ayahku sebulan lalu itu benar?
            “Aku ingin belajar lebih banyak lagi di desamu, kalau bisa kamu yang menjadi tour guide-nya saat mengenal desa dan sekitarnya lebih dalam lagi,” Maria melanjutkan perkataannya. “Tapi, ada proyek sangat besar didapatkan Papa di kota. Proyeknya tersebut mengharuskan kami untuk kembali tinggal di kota. Meskipun agak berat, mau tidak mau kami harus kembali ke kota.” Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Dia bersipandang denganku, mengukir seutas senyum kecil, namun ada setitik kesedihan di pancaran matanya. “Setelah perayaan Natal di sini, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi, Mahesa.”
            Aku terdiam. Benar yang ayah ucapkan waktu itu, gadis yang kusukai akan pergi meninggalkan desa. Jujur saja aku merasakan perasaan yang begitu menyakitkan dada. Meski aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi rasa sakitnya begitu sesak. Aku sudah mengantisipasi hal ini, tapi tetap saja rasa itu semakin kuat, terlebih lagi kedua mata Maria berbinar basah menahan air mata yang hendak keluar.
            “Kalau memang seperti itu jadinya, mungkinkah kita akan bertemu lagi?” Pertanyaanku barusan membuat raut wajahnya semakin mengerut. Dia mengalihkan pandangannya dariku, kembali menatap hamparan kebun teh.
            “Aku tidak bisa memastikannya, Mahesa.” Dia pun menjawab. “Kalau Tuhan berkehendak mempertemukan kita, ya... kita akan bertemu kembali. Kalau tidak, aku hanya bisa minta maaf padamu.”
            Sejauh ini hanya Maria yang berhasil membuatku sangat jatuh hati padanya. Dia seperti malaikat yang dititipkan Tuhan padaku. Entah mengapa aku tak bisa menolak itu, bahkan aku bersikeras ingin menjaganya. Sekarang dia akan pergi, tapi aku tidak bisa menahannya, meski sudah kucoba. Bibir ini terasa sangat kelu, tak mampu membalas ucapannya itu.
            Maria menghela napas panjang. Digenggamnya tangan kiriku, memijat perlahan pada punggung telapak tanganku. “Mahesa, kamu jangan khawatir,” ucapnya, “kita masih punya waktu bersama. Kamu ajak aku menjelajah ke tempat lain lagi di sini. Aku ingin tahu semua tentang desamu.”
            Kedua mataku bersipandang dengannya. Tak kutemukan titik kesedihan terpancar di balik matanya. Selain itu, perasaanku perlahan-lahan menjadi tenang seiring genggamannya pada tanganku semakin erat.
            “Sebelum nanti kamu pergi meninggalkan desa, aku ingin membuat lukisan dirimu sebagai kenang-kenangan. Bolehkah?”
            “Tentu saja!” Maria mengangguk semangat, sangat antusias.
            “Aku ingin melukismu di sini, saat ini juga.” Genggaman tangannya kulepas. Berdiri di sampingnya dan tersenyum tipis. “Kamu tunggu dulu di sini, ya. Aku mau ambil peralatannya di rumah.”
            “Iya, jangan lama-lama.”
            Tanpa berlama-lama, aku pun berlari meninggalkan Maria yang masih duduk di pelataran. Berlari menuju rumah yang jaraknya lumayan dekat dengan perkebunan teh. Lantas, mengambil beberapa peralatan lukisku, kemudian kembali ke pelataran kebun teh tempat Maria menungguku. Dia masih tenang duduk dengan anggunnya. Aku pun menghampirinya.
            “Kamu sudah siap?” tanyaku sambil mempersiapkan cat-cat lukis, kuas, dan kanvas.
            “Kapan pun kamu mau,” jawabnya. Dia menggelung rambut sebahunya ke atas, mengikatnya dengan seutas karet tipis. Dia berdiri menghadap ke arahku. Gaun ungu dengan motif bunga-bunga sebatas lututnya menjuntai ke bawah. Terlihat sangat cantik, terlebih lagi dia mengikat rambutnya.
            Aku pun mulai membuat coretan di atas kanvas menggunakan kuasku. Coretan demi coretan yang membentuk suatu pola. Kemudian pola itu kukembangkan menjadi gambar rupa manusia, rupa gadis cantik di depanku ini. Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan.

            Dua puluh menit berlalu, lukisan buatanku akhirnya selesai. Aku langsung memperlihatkannya kepada Maria. Dia sangat antusias dan senang melihat lukisanku. Senyumnya terus mengembang lebar melihat lukisanku ini benar-benar menyerupai dirinya. Aku senang bisa melihat dia sesenang ini.

            “Lukisannya bagus banget, Mahesa.”
            Aku tertawa pendek. “Simpan baik-baik lukisannya, Maria, kalau seandainya kita tidak bisa bertemu lagi.”
            “Kalau misalnya kita dipertemukan kembali, berarti lukisanmu ini aku buang, dong.”
            “Ya jangan dibuang. Sia-sia dong aku bikin.”
            Maria terbahak keras, mungkin itu karena dia merasa sangat senang mendapat lukisan dariku. Ditaruhnya lukisan itu di atas bangku panjang, duduk sambil mencoba melepas ikatan karet pada rambutnya. Tanganku serentak menahan tangannya. Entah mengapa aku melakukan itu tiba-tiba, sepertinya alam bawah sadarku yang menuntunku. Pandangan kami saling bersipandang satu sama lain.
            “Kamu lebih cantik kalau rambutmu diikat seperti itu, Maria.” Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku tanpa seizinku. Kulihat Maria hanya memandangku dalam diam. Pipinya yang putih berangsur-angsur kemerahan, mungkin dia merasa sedikit tersanjung dengan yang baru aku ucapkan.
            “T-terima kasih...” ucapnya terbata-bata.
            Kuposisikan diri duduk di sampingnya. Tanganku terlepas dari tangannya, membiarkan tangannya mendarat perlahan ke atas paha. Kepalanya tertunduk berusaha menutupi rona merah pada pipinya. Bibirnya mengatup rapat seperti sedang menahan terbentuknya senyuman. Mendadak perasaanku jadi tak karuan melihatnya.
            Langit yang tadinya sebiru lautan, kini digantikan langit jingga menenangkan dengan sang mentari bersembunyi di balik gumpalan awan. Cukup lama aku berada di sini bersama gadis yang sangat kusukai. Sempat aku berkata pada sendiri bahwa aku ingin bersama dengannya di sini sedikit lebih lama lagi, namun bila ada kesempatan. Meski pada akhirnya dia akan pergi, nyatanya waktu masih memberiku kesempatan. Setidaknya hingga hari Natal tiba.
            Pandanganku menengadah ke atas langit jingga, melihat gumpalan-gumapalan awan bergerak diterpa angin, dipadukan dengan cahaya jingga yang membuat senja kali ini terasa indah. Kedua tanganku bertumpu pada bangku panjang yang kududuki bersama Maria. Sejemput kemudian, kurasakan sentuhan kecil mendarat pada punggung tangan kiriku. Maria menyentuh tanganku. Praktis, aku menoleh ke arahnya dan mendapati ia tersenyum, meski pandangannya menatap ke depan.
            Sentuhannya semakin terasa pada tangan kiriku, bahkan terasa semakin intens. Tangan kiriku bergerak, mencoba membalas sentuhannya itu. Dia membiarkannya. Alhasil, tanganku menggenggam erat tangannya. Kulihat bibirnya membentuk senyum lebar. Praktis, aku pun ikut tersenyum.
            “Mahesa.” Dipanggilnya aku tiba-tiba. “Bawa aku ke tempat waktu itu lagi. Aku ingin melihatnya sekali lagi.”
            Aku menoleh. Sebelah alisku terangkat skeptis. “Kemana memangnya?”
            “Curug Malaikat.”
            “Kamu yakin? Ini sudah senja, Maria.”
            Dia mengangguk mantap. Lantas memalingkan wajahnya padaku sambil menunjukkan senyum bulan sabit yang membuatku tak kuasa melihatnya. Jika sudah begini, aku hanya bisa menuruti kemauannya. Tapi setidaknya aku bisa bersama dengannya, saat ini.
            Kuajak ia menuju Curug Malaikat yang dulu sempat kami kunjungi. Tangan kami saling berpegangan selama perjalanan tanpa melepasnya. Seperti sepasang kekasih. Langit jingga pun mendukung saat langkah kaki terhenti di area curug yang sarat akan dongeng tentang seorang malaikat. Maria melangkah mendekati curug tersebut tanpa melepas pegangan yang masih menempel pada tanganku. Embun-embun air dari curug itu beterbangan hingga mengenai pakaian yang kami kenakan. Dia masuk ke dalam kolam air curug, meski percikan-percikan air mulai membasahi gaun selututnya.
            “Aku ingin merasakan bagaimana rasanya berada tepat di bawah curug itu. Selama kamu mengajakku ke sini, aku belum pernah merasakannya,” ucapnya. Dia menarik tanganku semakin mendekati curug. “Ayo, Mahesa.”
            “Nanti kamu kedinginan, Maria.” Aku berusaha mencegahnya. Tapi dia tetap bersikukuh. Tanganku semakin ditarik olehnya.
            “Hanya sekali ini saja. Aku mohon.”
            Kerlingan mata memohonnya terpancar. Wajahnya sedikit ditekuk. Bibirnya mengerucut seperti bebek. Dia benar-benar membuatku tak bisa berbuat banyak, bahkan hanya dengan senyum bulan sabitnya saja sudah membuatku bertekuk lutut. Entah mengapa Sang Pencipta bisa menciptakan gadis seperti dia. Maka, aku pun pasrah mengikuti ajakan Maria yang terus berjalan menuju curug.
            Deras air yang mengalir dari Curug Malaikat ini menghujam tubuhku dan Maria. Saling berhadapan satu sama lain tanpa melepas genggaman tangan. Tubuh basah kuyup diterjang air, ditambah hawa dingin mulai menusuk kulit. Meski demikian, aku tidak merasa khawatir akan kondisi gadis di depanku. Dia tertawa riang merasakan air yang terus menghujam tubuhnya. Dia sangat senang karena ini merupakan kali pertama baginya.
            “Aku tidak menyangka ternyata seru juga berada di bawah sini,” katanya, sedikit berteriak di tengah hujaman deras air terjun. “Aku ingin merasakannya lebih lama.”
            “Tapi, nanti kamu bisa sakit, Maria,” sanggahku.
            “Asalkan ada kamu, aku rela sakit saat ini juga.”
            Ada seutas senyum di bibirnya. Genggaman tangannya terasa semakin erat. Ucapannya tadi sedikit membuatku terdiam sejenak. Mungkinkah ini?
            Maria kembali tertawa riang merasakan hujaman air jatuh mengenai seluruh tubuhnya. Dengan air sebanyak itu yang jatuh menghujam tubuh, pasti akan terasa agak sakit. Tapi, aku sama sekali tidak melihat ekpresi kesakitan yang ditampakkan Maria, malahan dia sangat menikmati.
            “Aku mau mencoba merasakannya lebih ke tengah lagi.” Dia menggenggam tanganku erat. “Pegang aku kuat-kuat, ya.”
            Kuturuti kemaunnya. Dia sedikit melangkah semakin mendekati tengah air terjun. Namun, sedetik kemudian tubuhnya terhuyung ke arah samping. Sigap, aku segera menariknya mendekat, tapi terlambat. Alih-alih menariknya, tubuhku malah terhuyung ke depan akibat kakiku salah mengambil pijakan pada batu yang licin. Tubuh kami pun masuk ke dalam air. Kemudian menengadah keluar dari air sekadar mengambil napas. Napasku sedikit terengah, begitupun ia.
            Maria tertawa. “Aku kira bakal tenggelam, ternyata kolam air terjunnya tidak terlalu dalam.”
            Aku mengatur napas sejenak seraya mendekat padanya. Keningnya yang tak tertutup poni menjadi sasaran sentilan jariku, membuat ia mengaduh sakit. “Hati-hati dalam melangkah, Maria. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu bagaimana?” Ya, kejadian barusan sudah membuatku sedikit khawatir.
            Lagi-lagi senyum bulan sabitnya ditujukan padaku. Sial! Di situasi seperti ini dia masih saja bisa membuatku tak berkutik.
            “Kamu mengkhawatirkanku, ya?” tanyanya, sebelah tangannya mengusap lembut pipiku. Senyum semakin mengembang di bibirnya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
            Aku terdiam tak menanggapi ucapannya barusan. Kedua mata saling besitatap dengannya, melihat mata indahnya seperti menampakkan langit biru yang menenangkan. Tak kuhiraukan hawa dingin dari hutan dan air terjun menusuk kulit. Fokusku hanya tertuju pada gadis di depanku. Dia seperti malaikat di dongeng Curug Malaikat yang tempo lalu kuceritakan padanya. Dia yang sudah meluluhkan hati ini sejak kali pertama ia menginjakkan kaki di desaku. Dia yang... ah, aku tidak tahu bagaimana mendeskrepsikannya lagi.
            Tatapanku masih melekat padanya. Begitu intens, tenang, dan hangat. Entah sejak kapan kedua tanganku sudah melingkar pada pinggang gadis cantikku ini. Dia pun sama, melingkarkan kedua tangannya pada belakang leherku. Aku merasa semakin dekat dengannya. Hembusan napasnya sedikit memburu di tengah hawa dingin menusuk kulit. Ditambah lagi tubuh basah kuyup yang masih berada di dalam kolam air terjun.
            “Kalau Tuhan memberi kesempatan kedua, aku ingin menghabiskan waktu bersama denganmu lagi. Selalu, setiap saat.” Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku.
            “Aku juga,” dia membalas. Seutas senyum mengembang di bibirnya. Tanganku yang melingkar di pinggangnya kutarik perlahan hingga tubuhnya menghimpit tubuhku. Lingkar tangannya pada belakang leherku semakin erat dan bisa kurasakan hembusan napasnya memburu. Bibirnya bergerak hendak mengucapkan kata. “Stay with me, sweet heart. You and I.”
            Tanpa diminta, dengan gerakan perlahan, bibir kami saling berkelindan. Sangat intens dan hangat. Tak berselang lama, berpagutan satu sama lain. Meski hawa dingin semakin menusuk kulit, aku tak menghiraukannya. Aku bagaikan gula dalam air yang larut dengan adukan perlahan. Saling memeluk satu sama lain ditemani dinginnya air dan senja yang semakin meredup. Persetan dengan hawa dingin datang silih berganti, dan waktu yang kian memburu. Aku takluk oleh perdaya dara jelitaku ini. Aku tidak akan bisa melupakan momen-momen saat bersamanya. Aku tidak akan bisa melupakannya. Untuk kesekian kali.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Kalau saja suasana hatiku tidak sesenang ini karena akhirnya patung pahat buatanku akan dibeli orang kota, mungkin saja hantaman bambu kecil sudah mendarat di kepala temanku, si Yang-Punya-Kuasa kisah ini.
            Bukan tanpa alasan aku ingin melakukan itu. Berawal dari perdebatan kecil saat aku sedang menulis kisah ini. Temanku berkomentar tentang jalan cerita si tokoh utama yang terburu-buru menyatakan perasaannya pada si gadis. Padahal, temanku berpendapat kalau bagian ini ditulis nanti saja. Nasi sudah menjadi bubur. Tinta yang sudah tertuang ke atas kertas tak akan bisa terhapus.
            Aku berdalih, membela diri dari opini tak bersyaratnya, padahal aku tidak terang-terangan menuliskan si tokoh utama menyatakan perasaannya, malah aku menyiratkan hal itu dalam satu adegan. Sialnya, itu malah memicu perdebatan di antara kami berdua. Cobalah baca teliti lagi! Jangan salahkan aku! Aku hanya berusaha membantumu.
            Untung saja perdebatan sepele ini tidak sampai berlarut-larut. Temanku akhirnya membiarkan hal itu dan memintaku melanjutkan lagi kisah ini. Sebenarnya tanganku sudah lelah menulis sampai sejauh ini, tapi berhubung sudah banyak kata yang kutulis sekaligus arahan-arahan darinya, maka kulanjutkan saja.
            Kembali ke cerita!
            Pertama kali kurasakan dalam hidupku. Aku seperti berada di hamparan padang bunga dengan aroma harumnya menyeruak udara, ditambah lagi itu semua malah membuat mabuk kepayang. Mungkin terkesan berlebihan untuk diungkapkan, tapi setiap manusia pasti merasakan hal itu, apalagi jika baru mendapatkan si pujaan hati. Munafik jika kalian tidak merasakannya.
            Masih segar dalam ingatanku meski kejadiannya sudah lewat tiga hari. Di curug itu, rasanya seperti mimpi, pada akhirnya Maria memiliki perasaan yang sama denganku. Sebenarnya ini bertentangan dengan kemauanku sebelumnya, terlalu cepat dari yang kukira. Aku berniat mengungkapkan ini tepat di hari ulang tahunnya sekaligus memberikan pohon Natal yang sudah kubuat. Tapi terkadang, waktu dan situasi selalu tiba-tiba menentang yang kumau. Meski demikian, aku bersyukur dengan apa yang kudapat sekarang, walau pada akhirnya ia akan lepas dari genggaman sampai saat itu tiba.
            Sekarang lihatlah malaikatku di depan sana, berdiri anggun dengan balutan gaun krem sebatas lutut di depan misbar gereja. Bibirnya bergerak melantunkan masmur dari bait-bait lagu di buku Puji Syukur. Anggota paduan suara mulai mengiringkan lagu sesaat Maria menyelesaikan bait akhir masmurnya, dipadukan dengan iringan dirigen Bunda Lena pun menjadi terdengar sangat indah dan menenangkan.
            Tidak-tidak. Mereka tidak sedang tampil dalam Misa Natal, mereka sedang melakukan latihan untuk acara misa nanti, dan aku sekarang sedang menontonnya. Lagi pula hanya dalam hitungan jari, Natal akan tiba.
            Maria meninggalkan misbar, melangkah lamat-lamat menuju barisan paduan suara. Kedua mata saling bersipandang, seutas senyum terukir di bibirnya. Aku pun membalas. Ia terus membawa senyum itu sampai bergabung kembali dengan anggota paduan suara. Tak henti-hentinya senyum terukir di bibirku melihatnya bernyanyi. Hingga satu tepukan di pundak membuat senyumku memudar. Lantas kutolehkan kepala ke arah kanan. Gara sudah duduk di sebelahku.
            “Persiapan sudah siap 90%, tinggal mencari sisanya, nih.”
            “Memang apa yang masih kurang?” tanyaku setengah berbisik, tidak ingin membuat anggota paduan suara merasa terganggu.
            “Tinggal listriknya saja, Mahesa,” jawab Gara setengah berbisik.
            “Bukannya kita sudah mendapatkannya kemarin?”
            “Itu dia!” Nada bicara Gara sedikit meninggi, namun seketika kembali setengah berbisik. Dia menjentikkan jari di depan wajahku. “Mesin pembangkit listrik yang kita pinta dari kota ternyata tidak jadi dikirim karena ada kesalahan prosedur. Paman Arius sudah berusaha untuk memintanya kembali, tapi tidak berhasil.” Gara menghela napas pendek. “Apa yang selanjutnya kita lakukan?”
            Kutopang sebelah tanganku pada dagu, menengadah ke atas menatap langit-langit gereja, berusaha memikirkan langkah apa yang harus kulakukan selanjutnya. Padahal, aku sudah merencanakan untuk menggunakan listrik pada pohon Natalku, lebih tepatnya pada lampu kelap-kelipnya. Aku meminta Paman Arius untuk mendapatkan mesin pembangkit listrik dari kota, tapi nyatanya barang tersebut tidak berhasil didapatkan. Kuhela napas pendek. Pandangan kulabuhkan sejenak kepada malaikatku yang masih melantunkan lagu rohani bersama anggota paduan suaranya, lantas kembali bersitatap dengan Gara.
            “Aku tahu!” kataku, sedikit membuat temanku ini tersentak.
            “Bagaimana?” tanyanya, menyatukan kedua alis.
            “Ajak teman-teman yang lain di desa kita. Masing-masing bawa satu buah toples. Kita bertemu di Leuweung Pikanyaah malam ini.”
            Gara mengernyit semakin dalam kedua alisnya, tak mengerti maksud perintahku tadi. “Memangnya buat apa?”
            Aku menyeringai. “Sudah, lakukan saja.”
            Meski kulihat raut kebingungan pada wajahnya, Gara menyetujui perintahku tadi. Ia beranjak dari kursi melenggang pergi, membuat rambut gondrongnya terombang-ambing saat berjalan. Kulihat ia sejenak hingga tubuhnya hilang ditelan pintu. Kukembalikan pandanganku melihat Maria yang masih bernyanyi. Dia terlihat sangat gembira, wajahnya berseri-seri seperti malaikat. Tak henti-hentinya senyumku mengembang, lagi.
****
Tampaknya sesuai dengan yang aku rencanakan. Teman-temanku di desa sudah berkumpul di Leuweung Pikanyaah berkat ajakan Gara sesuai perintahku. Di tangan mereka sudah tersedia toples. Apa yang sebenarnya akan mereka lakukan di tempat ini, malam-malam begini? Aku akan memberitahu jawabannya tetapi tidak sekarang, karena si Yang-Punya-Kuasa memintaku untuk merahasiakannya lebih dulu.
            Kutinggalkan mereka sejenak yang sudah mulai melaksanakan tugas sesuai perintahku. Tanganku menggenggam erat tangan Maria yang menatap heran teman-temanku, tak mengerti dengan yang sedang dilakukan mereka. Aku menariknya perlahan, membawanya sedikit menjauh dari kerumunan teman-temanku. Tangannya sedikit gemetar, menggigil merasakan angin dingin menerpa. Sejak selesai latihan paduan suara tadi siang, gaun kremnya masih ia kenakan. Terang saja ia kedinginan saat kuajak ia kemari.
            Aku berhenti berjalan, sekadar melepas jaket hoodie abu-abu yang kukenakan. Kusampirkan jaketku pada pundaknya. Ia sedikit terkesiap, lantas menampakkan senyum bulan sabitnya.
            “Aku tidak mau kamu kedinginan,” kataku, kembali melangkah lebih jauh dari kerumunan.
            “Aku tidak mengerti kenapa teman-temanmu berkumpul di sini, membawa toples pula.” Ucapannya membuatku terkekeh. Aku sengaja tidak memberitahukannya soal ini, biar saja itu menjadi kejutan untuknya. Pandangan kami bertemu. Sebelah alisnya melipat ke atas. “Mereka sedang melakukan apa, sih? Boleh aku ikut mereka agar aku tidak begitu penasaran?”
            Kembali aku terkekeh. Kugenggam semakin erat tangannya, sedikit menariknya, dan melangkah agak cepat meski kerumunan teman-temanku sudah tidak terlihat.
            Aku tak menjawab pertanyaannya. Alih-alih terus melangkah cepat tanpa melepas genggaman pada tangannya. Kuhiraukan tatapan skeptis sekaligus gerutuan kecil darinya yang menohok diriku sepanjang jalan. Sekali ini saja aku ingin sedikit membuatnya kesal, dan akan kubayar dengan sesuatu yang belum pernah ia dapatkan.
            Berbeda dari dua tempat sebelumnya yang sudah kami kunjungi. Tidak ada jernihnya air Curug Malaikat, maupun sejuknya hamparan hutan Leuwueng Pikanyaah, melainkan perbukitan yang letaknya berada sedikit jauh dari Leuweung Pikanyaah—bahkan desa. Maria tak henti-hentinya bercericit seperti seekor burung menanyakan hendak membawanya ke mana. Aku terkekeh, melihatnya begitu penasaran.
            “Kamu mau bawa aku kemana? Kok naik ke perbukitan gini, sih?” tanyanya.
            Aku menjawab, “Aku ingin menunjukkan padamu tempat paling sakral di sini.”
            “Tempat sakral?” Sebelah alisnya melipat ke atas. “Pasti tempat angker, ya? Ah, aku tidak mau ke tempat itu...” Maria melepas pegangan tangannya, berbalik badan hendak kembali pulang. Lantas aku menarik kembali lengannya.
            “Ini sudah larut malam, Maria, akan sangat berbahaya jika kamu pulang sendirian.” Kutatap ia sejenak yang menampakkan raut cemas di wajahnya. “Lagi pula kamu belum hafal betul seluk-beluk tempat ini. Kalau tiba-tiba saja arwah penunggu hutan ini menangkapmu bagaimana? Aku bisa sangat kesulitan mencarimu nanti.”
            “Ishh...” Maria mendengus kesal, wajahnya ditekuk masam, disertai bibirnya mengerucut seperti bebek. “Jangan menakut-nakuti aku, ah!”
            Sebelah alisku terangkat. Sudut bibirku tertarik membentuk guritan senyum lebar. “Aku tidak sedang menakutimu. Tapi sebenarnya, memang ada yang pernah diculik oleh makhluk tak kasat mata itu.”
            “Ishh...” Maria lagi-lagi mendengus kesal. Ditariknya aku hendak kembali ke desa, padahal tempat yang akan kami tuju ini sudah semakin dekat. “Ayo kita pulang..., aku tidak mau ke tempat itu. Tempatnya pasti serem.”
            Aku terbahak. Malaikatku satu ini ternyata lucu juga. Aku kira dia bukan seorang gadis penakut yang takut akan hal mistis, tapi nyatanya ia juga memiliki ketakutan seperti itu. Kutarik sedikit keras lengannya mendekat padaku meski ia sempat menolak.
            “Jangan takut, Maria,” kataku lembut, mencoba menenangkan dirinya yang terlihat ketakutan. Kugenggam dan kuelus perlahan punggung tangannya, lantas kukecup. “Tempatnya tidak semenyeramkan dari yang kamu bayangkan. Kamu pasti akan suka.”
            “Justru karena kamu bicara seperti itu, aku jadi semakin takut.” Maria memberengut. Aku sedikit tertawa.
            “Sudah, tenang saja,” kataku, “tempatnya sudah dekat.”
            Ada keraguan terpancar dari raut wajahnya. Meski rasa takutnya masih menguasai dirinya, pada akhirnya ia menganggukkan kepala, menerima ajakanku barusan. Maria tidak lagi memegang tanganku. Tangannya melingkar erat lenganku seperti tidak ingin lepas dari perlindunganku. Matanya sedikit sayu dan berair, menandakan ia masih begitu takut. Itu justru malah membuatku gemas melihatnya.
            “Tapi hanya sebentar saja, ya. Aku takut.”
            Aku mengangguk tersenyum seraya mengelus lembut pucuk kepalanya. Lantas, melangkahkan kaki, melanjutkan perjalanan ke tempat sakral yang sudah aku bilang sebelumnya.
            Jika kalian menyangka perbukitan di sini hanya dihiasi vegetasi ladang-ladang palawija, seperti tempat bernama Caringin Tilu di Bandung—aku pernah sekali ke sana bersama temanku, si Yang-Punya-Kuasa—, kalian salah. Justru tempat perbukitan yang sedang kupijaki bersama Maria ini sedikit menyerupai Gunung Manglayang di Bandung. Kalian tidak akan bisa melihat panorama dari puncak bukit ini karena banyak pohon rindang yang menghalangi. Namun, area di puncak bukit ini lumayan luas, bahkan kalian bisa berkemah di sini.
            Sepertinya tadi aku menyebutkan kata “sakral” mengenai tempat yang kupijaki ini. Ya, tempat ini memang sakral untuk didatangi, hanya di hari-hari tertentu saja biasanya warga desaku datang ke tempat ini. Baik, aku akan memberitahukannya kepada kalian, tetapi sebelumnya izinkan aku dulu untuk menenangkan malaikatku ini yang merinding takut.
            “Mahesa..., tempatnya serem banget.... Aku takut,” Maria merengek, kedua tangannya bergelayut pada lengan kiriku. “Aku mau pulang saja, serem...”
            “Kita baru sampai, Maria,” kataku, berusaha meredakan rasa takutnya. “Ayo, tempatnya tidak menyeramkan seperti yang kamu bayangkan.”
            “Tapi di sini pohon-pohonnya kelihatan serem. Terus udara di sekitar sini dingin banget.” Maria memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Memang hawa di sini lebih dingin dibanding di desa dan dua tempat yang kami kunjungi sebelumnya. Maria menatap padaku, mengernyitkan dahi. “Aku heran sama kamu, kok kamu bisa tahan gini padahal udaranya dingin banget. Aku jadi menggigil karenanya.”
            Aku sedikit tertawa. “Di sini memang hawanya lebih dingin dibanding tempat lain. Tadi sebelumnya aku bilang padamu kalau tempat ini sangat sakral. Nah, karena kesastralannya maka tempat ini terasa sangat dingin.”
            Maria mengeratkan kedua tangannya pada lenganku, bersipandang sejenak dan kulihat raut wajahnya masih dirundung rasa takut. “Lalu, apa yang membuat tempat ini begitu sakral?”
            “Aku akan menunjukkannya padamu.”
            Lantas, kutarik perlahan lengannya yang menggelayut pada lenganku, melangkah lamat-lamat menyusuri area puncak bukit yang luas dengan deretan pohon rindang. Meski bisa kulihat Maria yang masih merasa takut, pada akhirnya dia mencoba memberanikan diri. Langkah kaki terus membawa kami hingga berhenti tepat di salah satu pohon rindang dengan cabangnya yang sedikit. Malam ini terasa sangat cerah tanpa awan-awan yang menghiasi langit. Cahaya bulan purnama memantulkan sinarnya menuju tempat yang baru saja kupijaki.
            “Nah, inilah yang membuat tempat ini sangat sakral.” Jari telunjukku mengarah ke tanah di samping salah satu pohon rindang itu. Terdapat satu buah makam berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bebatuan alam. Di tengah makam tersebut ditutupi tanah dengan satu tanaman pandan kecil. Di satu sisi dari petak makam tersebut, satu gundukan batu alam terpasang yang berfungsi sebagai nisan, dan ditulis dengan aksara sunda. “Ini adalah makam leluhur kami. Seorang tetua adat yang menyatukan desa kami dalam kebersamaan dan kekeluargaan sejak zaman Kerajaan Sunda.”
            Kulihat Maria menatap nisan leluhur desaku dengan raut wajah tak mengerti. Tangannya yang sedari tadi menggelayut pada lenganku, berangsur-angsur melepasnya. Kurasa rasa takutnya sudah mulai mereda. Dia menatapku penuh tanya. Sebagai pacar yang baik, kujawab rasa penasarannya.
            “Menurut cerita para tetua adat dulu, dahulunya desaku hidup dalam lingkup yang penuh konflik akibat pengaruh dari sistem pemerintahan Kerajaan Sunda. Banyak orang membentuk beberapa kubu, yang saling menghakimi, berselisih satu sama lain, bahkan tak segan saling berperang hingga menimbulkan korban jiwa.” Aku memotong sejenak cerita yang sedang kuceritakan. Lantas, menatap Maria yang penasaran menunggu kelanjutan ceritaku. Rupanya dia sangat antusias. Aku menghela napas pendek. Sebelum melanjutkan, aku bertanya padanya terlebih dahulu.
            “Kamu tahu tidak seberapa luas ruang lingkup kekuasaan Kerajaan Sunda pada tahun 932 hingga 1579 Masehi?”
            Maria menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu, bahkan aku saja baru tahu ada Kerajaan Sunda pernah berjaya di negeri ini. Memangnya seberapa luas ruang lingkup kekuasaannya?”
            Tawaku sedikit tergelak. Kulihat Maria mengernyit tak mengerti dengan yang kutertawakan. Kuhela napas pendek. “Maria, sepertinya kamu harus mempelajari lagi pelajaran sejarah.” Sudut bibirku membentuk seutas senyum. Ia mengerucutkan bibir seperti bebek. Lantas aku mulai menjelaskan lagi, “Ruang lingkup kekuasaan Kerajaan Sunda pada masa itu membentang dari bagian barat pulau Jawa (Banten, Jakarta, Jawa Barat) sampai sebagian Jawa Tengah, bahkan pernah juga menguasai sebagian wilayah pulau Sumatera bagian selatan.”
            “Wah, banyak juga luas wilayahnya,” takjub Maria. Kedua matanya membeliak seperti hendak keluar dari rongganya. “Bagaimana bisa mereka menguasai wilayah sampai seluas itu? Pasti butuh perjuangan untuk bisa menyatukan wilayah yang sebanyak itu.”
            Aku mengangguk. “Untuk mencapai tujuan yang sangat diinginkan butuh perjuangan dan kerja keras, Maria. Tidak ada di dunia ini yang mendapatkan tujuannya secara instan, semua butuh perjuangan.” Kuhela napas panjang. Pandanganku bersitatap dengan Maria di sebelahku. Ia tampaknya masih penasaran dengan penjelasanku.
            “Kerajaan Sunda hanya sebagian kecil dari banyaknya kerajaan di Indonesia. Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit lah yang mampu menyatukan Nusantara. Itu merupakan sumpahnya yang diberi nama Sumpah Palapa.” Kuhentikan sejenak penjelasanku sekadar menghirup napas dalam. Aku memosisikan duduk di samping makam leluhur tetua adat desaku, menyilangkan kaki sambil sesekali menaburkan buliran tanah ke atas makam itu. Maria ikut duduk di sampingku, ikut melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan.
            “Patih Gajah Mada sangat hebat bisa menyatukan Nusantara yang luas ini,” puji Maria. “Kalau saja beliau tidak berhasil, mungkin negeri kita tidak akan pernah bisa bersatu.”
            “Yup! Kamu benar sekali, Maria. Tapi aku tidak akan menjelaskan tentang beliau, aku hanya akan menjelaskan sebagian kecil wilayahnya saja, Kerajaan Sunda,” kataku seraya menyunggingkan senyum. Maka, aku melanjutkan. “Wilayah-wilayah Kerajaan Sunda didapatkan dengan cara menguasai kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, memperluasnya dan menjadikannya satu wilayah di bawah kekuasaan satu raja pada masa itu. Kamu tahu selama memperluas kekuasaannya itu banyak yang harus dikorbankan? Kalau dari cerita para tetua desa zaman dulu, banyak nyawa menjadi korban saat Kerajaan Sunda memperluas wilayahnya. Itu mengakibatkan menyulutnya perseturuan antar beberapa kelompok, termasuk di desaku ini.”
            “Kejam sekali.” Maria mengatupkan bibir menggunakan kedua tangannya. “Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana caranya agar desamu ini bisa bersatu?”
            “Nyai Andang, tetua adat desa kami pada masa itu pergi menuju pantai selatan, memohon pada Kanjeng Ratu Kidul agar memberikannya kekuatan untuk bisa merelai konflik yang menyulut desa kami,” aku mulai menjelaskan. “Namun, segala permohonan yang dipinta pasti memiliki risiko tersendiri. Sebagai imbalan telah meminta permohonan kepada Kanjeng Ratu Kidul, Nyai Andang harus rela menyerahkan nyawanya kepada beliau setelah konflik di desa kami selesai.”
            Kedua mata Maria membeliak mendengar penjelasan yang baru saja kuceritakan. Dia menatap padaku dengan tatapan penuh tanda tanya. “Kenapa nyawa Nyai Andang dijadikan sebagai imbalannya, bukannya itu sama saja dengan bunuh diri?”
            Aku menghela napas sejenak. Buliran tanah di telapak tangan kutaburkan di atas makam Nyai Andang, tetua adat desa terdahulu.
            “Itu sudah menjadi suatu keharusan, Maria,” ucapku, menyunggingkan senyum padanya. “Ibaratnya jika kamu meminta permohonan kepada seseorang, pada dasarnya pihak yang dimintai permohonan akan meminta imbalan yang setimpal. Dalam kasus Nyai Andang, imbalan yang ditujukan kepadanya sudah setimpal dengan permohonannya.”
            Maria sedikit bergumam. Sebelah alisnya terangkat skeptis. “Lalu, apa beliau mendapatkan kekuatan yang diberikan Kanjeng Ratu? Apa beliau berhasil menghentikan konflik dan menyatukan desa?”
            Aku mengangguk. “Kekuatan yang diberikan Kanjeng Ratu padanya terbilang cukup besar meski beliau hanya memberikan secuil kekuatannya saja. Dengan itu semua, Nyai Andang kembali ke desa, menghentikan konflik yang berkesudahan, lalu menyatukan desa dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Hingga akhirnya, dari generasi ke generasi, desa kami terus berdiri sampai sekarang.”
            “Setelah semua itu diraihnya, Nyai Andang kembali lagi ke pantai selatan untuk menyerahkan nyawanya?” Maria tampak menebak-nebak alur cerita yang sedang kuceritakan.
            Aku mengangguk lagi. “Nyai Andang kembali ke pantai selatan untuk menyerahkan nyawanya. Beliau wafat saat ombak besar menerjang tubuhnya, mengempaskan tubuhnya ke batu karang tajam.” Aku berhenti sejenak sekadar menaburkan kembali buliran tanah ke atas makam Nyai Andang. “Namun, sebelum menjelang hari wafatnya, warga desa sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Nyai Andang. Beliau berpesan kepada warga desa untuk saling menjaga satu sama lain dalam kekeluargaan, jangan sampai konflik itu terjadi lagi. Kembangkan desa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manfaatkan alam dengan bijak. Tetap menghormati adat istiadat dan keyakinan masing-masing.
            “Setelah jasad Nyai Andang ditemukan tersangkut di salah satu batu karang, warga desa berbondong-bondong membopong jasadnya, membawanya kembali ke desa, dan melakukan upacara pesembahan terakhir untuknya sebagai pahlawan yang telah menyatukan desa dalam harmoni kekeluargaan. Dan, jasad beliau dimakamkan di sini, di tempat kita berada sekarang.”
            Maria memandangku lekat. Bola matanya tampak berkaca-kaca saat sinar rembulan menerpa wajahnya. “Beliau ternyata hebat. Aku salut dengan kegigihannya yang bisa menyatukan desa dalam kekeluargaan. Aku tidak bisa membayangkan jika beliau tidak berhasil. Entah bagaimana jadinya desa ini.”
            Aku sedikit tertawa. “Aku saja tidak sanggup membayangkannya, Maria. Kalau Nyai Andang tidak berhasil, tentu saja aku tidak akan lahir ke dunia dan bertemu dengan malaikat cantik yang sudah membuatku terpedaya.”
            Satu pukulan kecil mendarat pada lenganku. Maria tersenyum lebar yang menciptakan bentuk bulan sabit pada kedua matanya. “Jangan berusaha menggombaliku, Mahesa.”
            “Aku tidak sedang menggombalimu. Memang akhirnya aku bertemu malaikat seperti dirimu.” Tanganku menggapai puncak kepala malaikatku ini, mengelusnya perlahan. “Jangan salahkan aku, karena kamu sendirilah yang sudah membuatku terpedaya.”
            Cubitan tiba-tiba di hidungku membuatku meringis menahan sakit. Gelak tawa Maria terdengar menggema ke sekeliling pepohonan tempat ini. Dia menggoyang-goyangkan hidungku layaknya sebuah mainan. “Udah, deh, lama-lama aku bisa kenyang denger gombalan kamu. Kita pulang, yuk, malam semakin larut.”
            Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berada di sini. Malam semakin larut, hawa dingin semakin terasa menusuk kulit. Dan, sepertinya teman-temanku yang saat ini di Leuweung Pikanyaah sudah melakukan tugas yang sudah aku berikan. Mungkin sekarang mereka sudah kembali ke desa. Aku pun harus segera bergegas kembali ke desa, terlebih dahulu mengantarkan Maria ke rumahnya. Tapi sebelum itu, harus ada yang aku lakukan sebelum pulang kembali.
            “Kita berdoa dulu di sini, Maria, mendoakan Nyai Andang yang mungkin sekarang sedang memperhatikan kita di atas sana.”
            Maria mengangguk. Lantas, kami berlutut di sebelah makam Nyai Andang dan mulai memanjatkan doa.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Sekarang, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari perayaan Natal di desa tampak sedikit lebih ramai dibanding tahun lalu. Bukan hanya dihadiri oleh semua warga desa, melainkan beberapa tamu yaitu kerabat Tuan Airlangga yang datang dari kota sana juga ikut memeriahkan perayaan ini. Aku tidak habis pikir akhirnya suasana desa jadi lebih ramai dari sebelum-sebelumnya.
            Diawali dengan ibadat misa Natal di gereja saat pagi hari, aku mengikuti rangkaian ibadat ini. Iringan lagu dari paduan suara yang dipimpin Bunda Lena semakin melengkapi acara ini, terlebih lagi aku bisa melihat Maria melantunkan mazmur di hadapan orang banyak di dalam gereja ini. Tak henti-hentinya bibirku merekahkan senyuman.
            Dua jam berlalu, ibadat misa Natal pun telah selesai, namun acara belum berhenti sampai di situ saja. Anak-anak kecil di desa ini berbondong-bondong ikut antusias dalam permainan kecil yang dilakukan oleh Sinterklas dan beberapa temanku di sini. Kau tidak akan menyangka kalau yang menjadi Sinterklas itu adalah Tara. Laki-laki itu memakai pakaian santa serba merah dengan topi santa melekat di kepalanya, ditambah lagi janggut putih yang terpasang di wajahnya, serta ia membawa sekarung berisikan mainan dan makanan pada punggungnya. Aku tertawa melihat temanku itu bertingkah pola seperti Sinterklas sungguhan, terlihat lucu sekali.
            Dari banyaknya kerumunan orang yang memadati area depan gereja, kulihat Maria juga ikut bermain dengan beberapa anak kecil desa. Ia terlihat sangat bergembira, tak henti-hentinya senyum dan tawa terus diperlihatkannya. Ia melihat ke arahku, merekahkan senyum manis.
            Oh sial.... Senyumnya membuat semburat bulan sabit pada kedua matanya. Jelas, aku terhenyak dibuatnya.
            Maria melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku membalasnya seraya merekahkan senyum, lantas ia kembali bermain dengan anak-anak, membiarkan aku duduk pada salah satu bangku di halaman gereja.
            “Kamu terlihat senang sekali setelah resmi berpacaran dengan Maria ya, Mahesa.” Ratu datang tiba-tiba. Tanpa seizinku, dia duduk bangku sebelahku, ikut menatap kerumunan anak yang sedang bermain dengan Sinterklas.
            “Bagaimana aku tidak senang karena ini pertama kalinya aku mendapatkan kekasih, apalagi dia terlihat sangat cantik,” kataku tanpa melepas kerumunan anak di depan sana.
            “Kamu sekarang sudah berbeda dengan dirimu yang dulu, Mahesa.” Ucapannya barusan membuatku menoleh pada Ratu. Gadis ini tersenyum tipis seraya sedikit menyampirkan rambut sebahunya ke belakang telinga. “Kamu dulu kelihatan malu-malu gitu kalau sedang berhadapan dengan lawan jenis, bahkan padaku sekalipun. Tapi itu dulu sih.” Ratu tertawa pendek. “Sekarang kamu sudah tidak malu-malu lagi, dan bahkan bisa mendapatkan hati gadis yang kamu sukai. Kalau sudah mendapatkannya, kamu harus janji pada dirimu sendiri kalau kamu akan terus menjaganya.” Ratu mendekatkan dirinya padaku, ia setengah berbisik. “Jangan sekali-kali kamu mengecewakannya, karena dia akan terluka, dan luka itu akan terus membekas meski kamu berhasil menghapusnya.”
            Aku terdiam sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan Ratu. Dia mengucapkan hal yang benar, dan aku setuju dengan itu. Mau bagaimana pun aku tidak akan mengecewakan Maria, meski pada akhirnya ia akan meninggalkan desa ini tanpa tahu ia akan kembali atau tidak.
            Semua tinggal masalah waktu.
            Aku bersipandang dengan Ratu, melihat pancaran bola matanya yang hitam namun terlihat jernih. Ia masih tersenyum manis. Lantas, aku berkata, “Gaya bicaramu seperti orang bijak saja, Ratu. Tentu saja sebagai laki-laki aku tidak akan mengecewakannya.” Aku tertawa.
            “Aku ‘kan hanya mengingatkanmu saja. Siapa tahu kamu tiba-tiba melakukan kesalahan.”
            “Tenang saja.”
            Ratu menaikkan sebelah alisnya. Ia memukul pelan lenganku. “Kamu ini terlihat tenang sekali.” Dia tertawa. “Kalau begitu, semoga hubungan kalian langgeng, ya.”
            “Amin. Terima kasih.”
            Sesaat terjadi keheningan di antara kami berdua. Aku melabuhkan pandangan kembali pada Maria yang kini sedang memberikan berbagai macam mainan pada anak-anak kecil desa. Rasanya benar memang dia seperti malaikat yang turun dari langit. Selain cantik ternyata dia pun baik dan ramah ke setiap orang. Tak habis pikir aku berhasil menaklukan hatinya itu.
            “Hei, Mahesa.” Suara Ratu yang lembut membuatku menoleh padanya. “Semua persiapan untuk nanti malam sudah siap. Kamu tinggal membawa dia ke sana.”
            “Baiklah. Terima kasih sudah membantuku.”
            “Sesama teman ‘kan harus saling membantu.”
****
Aku tengah duduk di teras rumah kediaman Tuan Airlangga. Rumah bergaya Belanda tempo dulu, dan terletak di dekat hamparan kebun teh ini terasa nyaman. Meski sang mentari telah turun dari singgasananya digantikan oleh sang rembulan, bintang-bintang bertaburan di atas langit, serta hawa dingin malam yang menusuk kulit, aku merasa nyaman berdiam diri di luar sini sambil menunggu malaikatku keluar dari rumahnya.
            Kuraih secangkir cokelat hangat di atas meja sebelah kursi yang sebelumnya disiapkan oleh istri Tuan Airlangga, menyicipnya sedikit sekadar menerima rasa manis bercampur pahit pada lidahku. Sudah satu jam aku menunggu di sini sejak maghrib tadi hanya untuk mengajak putri cantiknya pemilik perkebunan teh ini ke tempat yang sudah aku janjikan. Sudah saatnya aku memberikan hadiah Natal untuknya, dan kurasa ia akan suka dengan hadiahku nanti.
            Kucicip lagi cokelat hangat perlahan, kemudian menenggaknya. Rasa manis bercampur pahit dari cokelat sedikit memberiku ketenangan. Ya, aku harus sedikit bersabar lagi, meski ini sudah cukup lama bagiku. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Maria saat ini. Kalau hanya sekadar berpakaian saja seharusnya tidak terlalu lama. Hmm, apakah orang kota rata-rata kalau berpakaian itu membutuhkan waktu lama? Padahal untuk berpakaian saja hanya mebutuhkan waktu sekitar lima sampai sepuluh menit, tergantung dari acara yang akan dihadiri. Contohnya lihat saja aku, yang hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan dipadukan celana jeans. Alas kaki? Aku hanya mengenakan sandal gunung, tidak lebih.
            Tetapi itu semua kembali ke diri masing-masing yang mempunyai selera cara berpakaian berbeda-beda.
            Yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Maria datang menghampiriku. Gaun putih sebatas lutut dengan motif ukiran kembang-kembangan senada dengan paras cantiknya yang bak malaikat. Rambutnya diikat ke belakang membentuk kuncir kuda, menyisakan poni depan panjang yang disampirkan ke samping kanannya. Ditambah lagi pada kedua sisi wajahnya, beberapa helaian rambut membentuk ponytail. Dia benar-benar cantik malam ini.
            “Maaf, nunggunya lama ya?” Bahkan suara khasnya pun membuatku terhenyak, melamun, terpesona akan paras malaikat di depanku.
            Buru-buru aku kembali tersadar dari lamunan. Aku berdiri di hadapannya, membungkukkan badan sambil memosisikan tangan kananku di perut seperti seorang prajurit yang hendak menjemput permaisuri kerajaan menggunakan kuda. Sontak Maria tertawa.
            “Kamu tidak perlu bertingkah seperti itu, Mahesa,” ujarnya. Aku menegakkan badan melihatnya menampakkan senyum bulan sabitnya. Senyum andalan. “Memangnya aku ini permaisuri kerajaan yang sering dikawal oleh para pengawalnya.”
            “Sekali-kali tidak masalah, Maria.”
            Lagi, dia tertawa. “Ada-ada saja kamu, tuh.”
            “Sudah siap?”
            Maria mengangguk. “Memangnya kita mau kemana?”
            “Ke tempat yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup.”
            “Gaya bicaramu membuatku semakin penasaran saja,” ucapnya, mengernyitkan dahi.
            “Dijamin tempatnya pasti kamu suka dan tidak akan bisa melupakannya.” Aku tersenyum.
            “Kalau begitu buat aku jadi tidak penasaran lagi,” pintanya seraya merentangkan kedua tangan. Aku menyambut kedua tangannya, mengusapnya perlahan, dan kukecup bagian punggung telapak tangannya.
            “Tentu, malaikatku.”
            Aku menariknya dan mulai mengajaknya pergi ke tempat yang sudah aku siapkan beberapa hari sebelumnya. Kami menyusuri hamparan perkebunan teh melalui jalan setapak. Tangan kami saling berpegangan satu sama lain, erat seperti enggan dipisahkan. Udara dingin malam ditemani cahaya sang rembulan tak menyurutkan langkah kaki kami menuju tempat yang akan dituju. Maria tak henti-hentinya merekahkan senyum, hingga kami mulai memasuki area hutan, senyumnya masih terpasang jelas di mulutnya.
            “Tunggu sebentar, Maria.” Aku berhenti melangkah.
            “Ada apa, Mahesa? Apa tempatnya masih jauh?” tanyanya penasaran.
            Aku tak menjawab. Alih-alih aku mengambil syal kecil penutup mata dari saku celanaku, kemudian kupasangkan di kedua mata Maria. Tak ayal gadis itu merasa terkejut dengan yang barusan aku lakukan.
            “Tidak apa-apa, Maria, anggap saja aku sedang memberimu kejutan,” kataku setelah selesai mengikat penutup mata di kedua matanya. “Tempatnya sudah dekat kok, sebentar lagi sampai.”
            “Kalau seperti itu kesannya sudah bukan kejutan lagi.” Kedua tangannya merentang ke depan mencari-cari eksistensiku. Aku meraih salah satu tangannya, lalu kugandeng erat agar tak lepas.
            “Meski begitu, aku jamin kamu tetap terkejut setelah kita sampai di sana,” kataku seraya menuntunnya berjalan.
            Kudengar tawa Maria terlontar dari mulutnya. “Kamu memang selalu membuatku penasaran, Mahesa.”
            Aku menyengir, lantas mulai menuntun jalan Maria ke tempat itu. Jalan setapak yang dilalui tak terlalu banyak bebatuan, yang ada hanyalah semak belukar di kedua sisi jalan. Aku melihat Maria mengaduh karena semak-semak tersebut bergesekan dengan kakinya dan membuatnya gatal. Aku hanya bisa menyuruhnya bersabar sambil terus menuntun jalannya agar tidak jatuh karena tempat yang dituju sebentar lagi akan terlihat.
            Sampai di area cukup luas dengan pepohonan pinus yang mengelilingi sekitarnya, toples-toples bercahaya menyambut kedatangan kami. Aku berhenti berjalan.
            “Kita sudah sampai?” tanya Maria.
            “Iya,” jawabku.
            Kulepas penutup mata yang membalut matanya. Ia mengerjapkan mata. Kulihat kedua matanya berbinar cerah seperti sedang melihat sesuatu yang menakjubkan, mulutnya menunjukkan seutas senyum lebar, deretan gigi putihnya terlihat jelas, dan juga kedua matanya membentuk bulan sabit.
            “Kita di mana, kok banyak banget toples bercahaya di sini?” Maria memandang takjub dengan tempat yang baru saja kami singgahi.
            Aku menjawab, “Kita di Leuweung Pikanyaah, Maria. Toples-toples bercahaya ini isinya kunang-kunang lho.”
            “Benarkah?” Kedua matanya membeliak tak percaya. Aku mengangguk. “Jadi waktu kemarin malam teman-temanmu datang membawa toples ternyata untuk menangkap kunang-kunang sebanyak ini?”
            Aku mengangguk lagi. “Sebelumnya ‘kan aku pernah bilang kalau aku ingin memberimu sesuatu di hari Natal dan... juga ulang tahunmu.”
            Ucapanku barusan membuatnya menoleh padaku. Sebelah alisnya terangkat. “Kok kamu bisa tahu kalau sekarang aku ulang tahun?”
            Aku tertawa. “Tentu saja aku tahu, Maria.”
            “Jangan-jangan kamu mata-mata, ya?” Dia meyipitkan kedua matanya sambil mengacungkan jari telunjukku ke arahku.
            “Ada-ada saja kamu ini,” tukasku, tertawa. “Toples berisi kunang-kunang ini memang salah satu hadiah yang akan kuberikan padamu, tetapi bukan itu yang menjadi hadiah utamanya.”
            “Terus apa, dong?”
            Aku tak menjawab pertanyaannya itu. Alih-alih menarik lengannya masuk lebih dalam ke area Leuweung Pikanyaah. Maria tak hentinya bertanya padaku hendak memberinya hadiah apa di hari Natal sekaligus hari ulang tahunnya ini. Dia terlihat begitu tidak sabaran. Aku mengeratkan peganganku pada lengannya dan mempercepat langkah.
            Sampailah di area tengah Leuweung Pikanyaah. Maria terlihat takjub, kedua matanya berbinar, mulutnya menganga seakan-akan tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang. Pohon Natal yang jauh-jauh hari sudah susah payah kubuat dengan bantuan teman-temanku kini terpajang dengan kokohnya. Pernak-pernik Natal pemberian Tuan Airlangga padaku tempo lalu melengkapi setiap sisi dahan-dahan pohon Natal itu. Toples-toples berukuran kecil dengan kunang-kunang bercahayanya menerangi setiap sisi pohon Natal yang sudah kubuat. Terang dan terlihat indah, bahkan cahaya yang dihasilkan banyak kunang-kunang itu menyinari sekitaran tempat ini.
            “Ini semua kamu yang buat sendiri?” tanya Maria takjub. Ia menghampiri pohon Natal itu sekadar melihatnya dari dekat. Ia berjongkok dan mengambil patung gembala di bawah pohon tersebut—ada kandang kecil yang dibuat sedemikian rupa dari kayu dan terdapat beberapa patung kecil di dalamnya.
            “Iya, Maria, tetapi aku mendapat sedikit bantuan dari teman-teman,” jawabku, menggarukkan belakang kepala yang tidak gatal.
            “Selamat ulang tahun, Maria!”
            Suara teriakan tiba-tiba menggema ke seluruh area hutan. Maria terlonjak kaget, tetapi aku tidak terkejut sama sekali saat rombongan teman-temanku di desa mulai keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing—sebelumnya aku sudah menyuruh mereka bersembunyi jika aku sedang dalam perjalanan ke sini bersama Maria. Terlihat raut-raut wajah sumringah dari teman-temanku, terutama Tara yang terus berteriak sambil bertepuk tangan riang. Kalau saja Ratu tidak menyenggol lengannya, mungkin saja sudah kusumpal mulutnya dengan dedaunan.
            “Ya ampun, sampai segitunya kalian menyiapkan ini semua cuma untuk merayakan ulang tahunku. Terima kasih, ya,” ujar Maria tersenyum.
            “Semua ini idenya Mahesa, lho,” sahut Tara sambil tertawa.
            “Dia menyiapkan ini semua sebulan yang lalu sebelum kalian resmi jadi sepasang kekasih,” Gara melanjutkan.
            Aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku. Ucapan mereka membuat pipiku terasa panas. Aku tak berani memalingkan wajah ke depan, bahkan untuk menoleh pada Maria saja aku tidak sanggup. Hah... rasa malu-maluku kembali kumat.
            “Hei, lihat, ada yang tersipu malu nih sekarang,” Ratu malah memperkeruh suasana. Teman-temanku yang lain tertawa, mengejekku. Hei... bisa tidak untuk tidak membuatku merasa malu seperti ini?
            Aku hanya cengengesan menanggapi setiap ocehan mengejek dari teman-temanku. Kurasai sentuhan lembut pada tangan kiriku. Maria tersenyum manis dan menunjukkan mata bulan sabitnya. Lagi-lagi aku terhenyak.
            “Jadi sesuatu yang akan kamu berikan di hari Natal ini adalah pohon Natal buatanmu sendiri?”
            “I-iya,” jawabku, menganggukkan kepala. “Kamu suka hadiahnya.”
            Maria mengangguk cepat tanpa menghilangkan senyum bulan sabitnya. “Suka, suka banget!”
            “Wah, teman-teman! Kayaknya kita cuman jadi nyamuk saja di sini,” Tara tiba-tiba menyeletuk dengan lantang. “Balik kanan, gerak!”
            Sesuai komando Tara, tanpa tedeng aling semua teman-temanku di sini berbalik badan. Mereka berbisik-bisik dan berguman yang tidak jelas, membuatku mengernyitkan dahi dan tak bisa mendengar apa yang mereka gumamkan.
            “Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Mahesa.” Maria menyentuh sebelah pipiku. Detik berikutnya kurasakan sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku terhenyak sejenak, ia menciumku. “Terima kasih, ya. Hadiahnya aku suka banget. Sepertinya aku tidak akan bisa melupakan semua ini.”
            “Eh... i-iya, sama-sama,” balasku gugup. “Berarti setelah ini, kamu....”
            Maria mengangguk, memotong ucapanku. Lantas, ia memeluk tubuhku, erat seperti tak ingin terlepas. “Meski begitu, kita tetap masih bisa bersama. Kamu sudah mengajariku banyak di desa ini, bagaimana aku bisa melupakan semua itu?”
            Kuusap perlahan rambutnya, dan kukecup puncak kepalanya. “Kita bisa bertemu lagi?”
            “Entahlah, biar waktu saja yang menjawabnya,” jawabnya, sedikit tertawa. “Hmm, kita masih bisa berkomunikasi satu sama lain.”
            “Bagaimana caranya? Aku ‘kan tidak memiliki gadget apa pun. Kamu tahu sendiri kalau di sini tidak ada listrik sama sekali.”
            “Pakai surat saja.”
            “Surat? Maria mengangguk dalam dekapan hangatku.
            Kudengar kembali bisik-bisik dari teman-temanku di seberang sana yang sepertinya tengah membicarakanku. Tak kuhiraukan itu, alih-alih mendekap erat tubuh malaikatku ini.
            “Jadi, kita kirim-kiriman surat kalau sedang rindu,” ujarnya, menoleh padaku dan tersenyum.
            “Jangan rindu,” tukasku, yang membuat Maria mengernyitkan dahi.
            “Kenapa?”
            “Rindu itu berat, angkat jemuran saja lebih ringan.”
            Bukan kesan menyentuh yang kudapatkan, malah cubitan darinya pada hidungku membuatku mengaduh sakit. Kembali, kudengar sayup-sayup bisik dari teman-temanku di seberang sana. Mau sampai kapan mereka berada di sana? Mengganggu kemesraan antara aku dengan gadisku ini.
            “Kamu berniat melucu tapi tidak lucu sama sekali. Garing,” ujarnya seraya tertawa cekikikan.
            Aku cengengesan, menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Maklum, aku tidak pandai melucu layaknya seorang komedian.”
            Maria kembali tertawa. Ia memegang pergelangan tanganku, mengaitkannya erat tak ingin terlepas. “Bisa kamu bercerita padaku lagi sebelum aku kembali ke kota?”
            “Bercerita tentang apa?”
            Maria menaruh jari telunjuknya pada dagu, menengadahkan kepala ke atas hendak berpikir. “Hmm, cerita bagaimana kamu bisa menyiapkan semua hadiah ini untukku.”
            Aku menimang-nimang sejenak permintaan Maria. Ia tersenyum menunggu tanggapanku. Aku menoleh dan ikut tersenyum. “Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi mulai dari mana, ya?”
            “Dari pertama kali kamu mendapatkan ide tentang semua ini.”
            “Hmm, begitu ya. Baiklah.”
            Maka, aku mengajak Maria duduk di atas salah batu di sini dan mulai bercerita. Dia terlihat sangat antusias dan begitu penasaran dengan ceritaku. Tak henti-hentinya ia menyunggingkan senyum bulan sabitnya yang sesekali membuatku terhenyak. Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri berhadapan dengan senyumannya itu. Sementara dari tempatku duduk, kulihat teman-temanku yang sudah berbondong-bondong mengitari ke sekitar pohon Natal dan saling bercakap-cakap satu sama lain, bahkan Tara, Gara, dan Ratu membuat api unggun untuk membakar jagung bakar—itu juga salah satu bagian dari ideku, karena tidak etis jika sedang merayakan perayaan ulang tahun tanpa hidangan makanan.
            “Hei, teman-teman. Jagung bakar cukup semua orang yang ada di sini!” sahut Tara.
            Alhasil, semua teman-temanku mulai mengerubungi api unggun dan memakan jagung bakar yang sudah jadi. Sedangkan aku sendiri masih sibuk bercerita dengan Maria. Aku tahu kalau ini adalah malam terakhirku dengannya, dia akan kembali ke kota dan entah kapan akan kembali lagi ke sini. Tapi meski begitu, malam ini terasa sangat menenangkan.
[POHON NATAL UNTUK DESY]
Lima bulan setelah Maria kembali ke kota, hari-hariku dijalani dengan penuh semangat. Meski malaikatku sudah tidak berada di desa asri nan sejuk ini lagi, aku tetap harus menjalani hidupku. Kehadiran dia di sini membuatku menjadi berubah. Teman-temanku di desa mulai berpendapat kalau aku sudah tidak malu lagi jika harus berhadapan dengan wanita, bahkan ada salah satu gadis di desaku yang bernama Indira sempat menyatakan perasaannya padaku. Namun, jika hati sudah memilih hati yang tepat, tentu saja ia tidak akan mengkhianatinya.
            Tak bisa kutampik, kali ini aku benar-benar merindukan Maria. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang. Seingatku, sebelum ia kembali ke kotanya, ia sempat bilang padaku kalau ia akan berkuliah di salah satu universitas swasta di kotanya. Katanya, jika liburan semester nanti ia akan liburan di sini. Kalau benar seperti itu tentu saja aku merasa senang dibuatnya.
            Sempat ia mengirim surat padaku karena ia sangat merindukanku. Dan melalui perantara surat-menyurat itulah aku bisa tahu kalau ia dalam keadaan baik-baik saja di sana, begitu pun sebaliknya. Ini sudah bulan kelima, dan Maria belum mengirimkan surat. Biasanya setiap satu bulan sekali akan ada surat darinya yang tersimpan di meja kamarku. Tapi sekarang kenapa rasanya surat itu lama sekali datangnya?
            “Hei, Mahesa!” Suara panggilan Gara dari luar jendela kamarku membuatku terlonjak kaget.
            Aku mendengus kecil, menatapnya sedikit kesal karena telah membangunkanku dari tidur siang. “Ada apa, Gara?”
            Gara menyodorkan amplop putih padaku. Aku menerimanya. “Surat dari siapa?”
            “Siapa lagi kalau bukan gadismu,” jawabnya, menaik-naikkan kedua alisnya sambil menyengir.
            Buru-buru aku membuka amplop tersebut dan mulai membaca isi surat dari Maria, gadisku yang sudah kurindukan. Kurasakan kehadiran Gara melongokkan kepala ke dalam jendela kamar, penasaran dengan isi surat tersebut. Kubiarkan ia melihatnya.

Untuk  : Laban Mahesa Durga
Dari     : Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan
            Hai, Mahesa, laki-laki yang sudah mengajarkan banyak hal padaku dan luluh dibuatnya. Bagaimana kabarmu di sana? Baik-baik saja, kan? Aku harap kamu dalam keadaan sehat.
            Kamu tahu tidak, aku senang sekali akhirnya bisa mendapatkan universitas yang aku inginkan. Rasanya aku ingin sekali merayakan ini bersamamu di desa, tapi nyatanya jarak tidak memihak pada kita. Dalam waktu dekat, dua bulan lagi aku akan memulai perkuliahanku. Doakan aku ya, agar aku bisa menjalaninya. Oh iya, bukan itu saja. Perusahaan yang dikelola papaku akhirnya sukses besar. Papa bilang katanya sebagian keuntungan dari hasil perusahaannya akan dipakai untuk perkembangan desamu. Dan kamu tahu apa artinya...? Artinya..., kita akan bertemu lagi. Yeayyy...!
            Bersabarlah sedikit lagi ya, Mahesa. Dalam waktu dekat ini aku, papa, dan mamaku akan kembali lagi ke desamu. Sudah lama sekali aku ingin menikmati jernih dan segarnya Curug Malaikat. Aku juga ingin merasakan hutan eksotis dan sejuknya Leuweung Pikanyaah, lalu naik ke atas rumah pohon dan bermain-main dengan burung hantu liar, Parashakti. Aku juga ingin mengunjungi tempat sakral makamnya Nyai Andang yang dahulu berhasil menyatukan desa. Kali ini kamu tidak akan berhasil menakutiku, karena aku sudah tidak takut lagi. Aku juga rindu bermain dan belajar dengan teman-temanmu, Ratu, Tara, Gara, dan lainnya. Aku juga ingin melihat keahlianmu dalam seni melukis dan memahat, kuharap kamu juga mau mengajariku hal itu. Hahaha. Dan, yang paling terpenting adalah, aku merindukanmu dan berbagai kisah yang sering kamu ceritakan.
            Tunggulah sampai aku tiba di sana. Jangan memulainya tanpaku ya, karena jika demikian maka aku tidak akan merasa penasaran lagi. Kamu ‘kan sering banget membuat aku penasaran. Hahaha. Sampai bertemu lagi, Mahesa. Kuharap saat aku datang, yang pertama kulihat adalah wajahmu yang menenangkan. Dadah.... ^^
Salam sayang,

Maria.

            Senyum terus terukir di bibirku setelah membaca surat dari Maria. Ia juga merindukanku, dan dalam waktu dekat ia akan kembali lagi ke desa ini. Entah kapan waktunya, yang jelas aku tidak sabar untuk bisa bertemu dengannya lagi. Kusimpan surat darinya di atas meja kamarku, lantas merebahkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit dan tersenyum.
            “Kelihatannya kamu sangat senang sekali, Mahesa.” Gara yang masih melongokkan kepalanya dari luar jendela menatap padaku.
            “Bagaimana tidak senang, Gara. Maria dalam waktu dekat akan kembali lagi ke desa,” ujarku.
            “Bagus dong kalau begitu. Dengan kedatangan dia memberi warna tersendiri bagi desa.”
            “Ya, kau benar.”
            “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gara, menopang dagu pada kusen jendela.
            “Tentu saja menunggunya datang ke sini. Kalau waktunya sudah tiba, aku yang akan pertama kali menyambut kedatangannya,” jawabku sedikit bersemangat.
            Gara tertawa. “Percaya diri sekali.”
            Tak kuhiraukan ucapan temanku barusan. Alih-alih kembali memandang langit-langit kamar. Senyum semakin mengembang di bibirku. Gadisku, malaikatku, akhirnya akan datang kembali ke sini. Hingga waktunya tiba, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu.
****
Tugasku menuliskan cerita ini sudah selesai. Jari jemari saya terasa sangat pegal dibuatnya. Entah sudah berapa halaman saya menyelesaikan cerita ini. Kalau saja temanku, si Yang-Punya-Kuasa kisah ini tidak datang meminta tolong padaku membuat kisah ini, saya tidak akan merasa kecapekan seperti ini. Lebih baik saya melukis atau memahat saja, itu jauh lebih membuat pikiran saya tenang.
            Asal kalian tahu saja, otak saya terasa panas harus memikirkan alur, latar, dan sebagainya untuk menyelesaikan satu cerita saja. Meski temanku sudah memberi arahan pada saya, tetap saja saya merasa pusing. Satu hal yang dapat saya pelajari, menulis itu tidak mudah. Kau harus memikirkan berbagai macam aspeknya agar ceritamu terlihat hidup dan bermakna. Saya tidak mengerti dengan teman saya yang satu ini sudah menulis banyak cerita tapi dia tidak terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Hmm, kurasa dia mempunyai otak super-duper encer. Lihat saja sekarang, setelah saya menyelesaikan cerita ini, dia sudah mulai membuat cerita baru lainnya.
            Sejak saya mengenalnya, dia dengan mudah mendapatkan inspirasi dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan. Saya sendiri bahkan sekadar membuat satu sketsa gambar di kertas gambar saja harus merenung beberapa jam di rumah pohon sambil melihat hamparan hutan hijau. Saya menghela napas mengingat betapa gila otaknya itu.
            Sekarang tugas saya membantunya sudah selesai. Dia akan kembali ke kotanya berasal dalam waktu dekat ini. Saya harap kisah yang saya buat bisa membuatnya puas. Bukan hanya dirinya, tetapi kalian para pembaca, dan juga idolanya yang berulang tahun tepat di hari Natal—jika dia membacanya.
            Kalau begitu saya pamit undur diri. Tugas saya sudah selesai di sini. Dan terakhir, ada hasil karya buatan saya dan teman saya berkaitan dengan idolanya.

Salam,
L M D
~SELESAI~
Oleh      : Martinus Aryo
Twitter : @martinus_aryo

####
Sekadar corat-coret:
Ini adalah cerita kedua saya di blog ini. Dalam rangka menyambut hari ulang tahun oshi saya yang namanya panjang kayak kereta alias Desy, alhasil jadilah cerita ini. Panjang juga nih cerita saya buat. Wkwkwk.
Saya mengusung konsep “cerita di dalam cerita”, bisa dilihat dari nama penulis di cerita ini ada dua. Jadi, saya selaku si Yang-Punya-Kuasa kisah ini tidak banyak berperan di dalamnya, melainkan teman saya inilah (anggap saja dia adalah kerabat jauh saya yang tinggal di desa terpencil :v) yang menuliskan kisah ini. Padahal, sebenarnya tetap saya yang nulis sendiri. Jadi, jangan bingung kalau di awal saya memberi nama penulisnya berbeda (meski cuma inisial).
Cerita ini selain terilhami dari hari Natal dan ulang tahun oshi saya, Desy, tapi juga ada beberapa hal lainnya yang saya jadikan bahan tulisan saya ini. Mari saya sebutkan satu-persatu:
Setahun yang lalu saya teringat saat mengunjungi teman saya. Dia tinggal di salah satu desa kecil yang ada di Pangalengan. Dari situlah saya menciptakan sendiri desa tempat tinggal Mahesa di cerita ini (tentunya dengan modifikasi sesuai imajinasi saya). Sengaja saya tidak memberi nama pada desanya, karena saya bingung mau ngasih nama apa.
Lalu, Curug Malaikat. Ini saya terinspirasi dari Curug Putri yang berada di kawasan Taman Nasional Palutungan di Kuningan. Saya sudah sering ke sana jika sedang mudik ke Kuningan. Kalau kalian singgah ke Kuningan, cobalah mampir ke Curug Putri. Tempatnya tak kalah indah dari curug-curug lainnya.
Nah, kalau Leuweung Pikanyaah ini saya menciptakannya sendiri, benar-benar menciptakannya sendiri. Termasuk rumah pohon dan Parashakti, si burung hantu kecil.
Kemudian, makam Nyai Andang yang disakralkan. Itu tempatnya di puncak bukit. Saya terinspirasi dari puncak Gunung Manglayang di daerah Cibiru, Bandung. Di atas puncaknya juga terdapat satu makam.
Terakhir, dongeng-dongeng dan cerita yang diceritakan Mahesa kepada Maria itu merupakan hasil karangan saya. Tapi saya sedikit menghubungkan dengan beberapa history dan mitos yang banyak di internet untuk menyempurnakannya. Contohnya, saya menyelipkan Kerajaan Sunda. Kemudian, saya juga memasukkan nama Kanjeng Ratu Kidul (tadinya saya mau memasukkan nama Nyi Roro Kidul atau Dewi Kandita—Dewi Kandita ini nama asli dari Nyi Roro Kidul, saya sudah baca-baca di wikipedia—tapi saya mengurungkan niat menggunakan nama itu). Sekali lagi saya tekankan, ini adalah hasil karangan saya sendiri, tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun.
Sepertinya cukup segitu dulu saja. Semoga kalian merasa puas membaca cerita ini. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan.

Selamat Hari Natal... dan Selamat Ulang Tahun untuk Desy yang ke 21, meski ulang tahunnya nanti tanggal 25 Desember. Wakakakakaka :v
Pohon Natal untuk Desy Pohon Natal untuk Desy Reviewed by Melodion on Desember 23, 2017 Rating: 5

1 komentar:

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.