Simple Story (Zero) | Chapter 02

Note : bagi kalian yang bingung atau mungkin merasa aneh dengan cerita di chapter 1, lebih baik kalian baca kembali cerita-ku yang berjudul Simple Story, karena jujur, cerita ini merupakan sequel dari cerita tsb. Gimana nyarinya? Cari aja di google “Simple Story JKT48 chapter 1” tanpa tanda petik, nanti akan tersedia satu blog yang menampilkan cerita tsb, sekian dari saya. Terima kasih..

~oOo~ 
Niko berjalan menuju kelasnya dengan langkah gontai, kelelahan. Semalam ia baru bisa pulang kembali ke rumah sekitar pukul satu malam karena dirinya yang tersesat. Hal tersebut membuat Melody dan yang lainnya khawatir, tetapi saat itu, Niko yang sangat kelelahan sampai-sampai lupa kenapa dirinya dapat kehilangan jalan kembali ke rumah.
Sekarang, disinilah dia. Di sebuah sekolah khusus untuk para Zero yang sering disebut juga sebagai satu-satunya sekolah para Zero di Indonesia. Letaknya sangat strategis yaitu tepat di tengah ibu kota dan tentunya hal tersebut membuat banyak murid yang datang dari berbagai tempat, bahkan murid yang berasal dari luar negeri pun ada.
Setelah mengetahui tingkatan, Niko berjalan menuju kelasnya yang terletak di lantai ketiga. Melody, yang bertugas sebagai kepala sekolah sekaligus murid di sekolah ini, menempatkan Niko di kelas yang sama dengan Sinka juga Aldy dengan catatan Sinka harus melerai apabila nantinya Niko dan Aldy bertengkar. Ternyata apa yang dipikirkan Niko benar terjadi, dirinya harus menerima kalau ia hanya mendapat tingkat dua pada sekolah ini.
Di sekolah khusus yang satu ini, memiliki beberapa tingkatan. Tingkat satu sampai tiga akan mendapatkan ranking D, dimana ranking tersebut dapat dibilang sangat dasar dan tidak banyak murid yang mendapatkannya. Sedangkan tingkat empat sampai enam akan mendapatkan ranking C, dan setengah dari murid sekolah ini kebanyakan mendapatkan ranking tersebut. Untuk tingkat tujuh sampai delapan mendapatkan ranking B, dan tingkat sembilan sampai sepuluh mendapatkan ranking A.
Menurut data yang telah diperoleh, murid ranking A bisa saja mengundurkan diri dari sekolah ini, atau lebih tepatnya mereka dapat lulus dengan cepat karena kekuatan serta kemampuan mereka dalam hal bertarung sudah dapat dikatakan nyaris sempurna. Bagi mereka yang tidak ingin cepat-cepat lulus, maka mereka juga bisa melanjutkan pelajaran dan mengincar ranking S tetapi dengan syarat mereka juga harus membantu murid-murid beranking D sampai C selama satu tahun penuh.
Tingkat diskriminasi di sekolah ini dapat dikatakan sangat tinggi, apalagi dengan berlakunya peraturan kalau ranking C dan D tidak boleh makan di tempat yang sama dengan murid yang beranking B atau A, tanpa seijin kepala sekolah. Hal tersebut membuat murid yang memiliki ranking bawah menjadi geram kepada sang kepala sekolah, yaitu Melody. Tetapi dengan tegas juga berwibawa, Melody memberitahukan kenapa ia memberlakukan peraturan tersebut.
Agar murid berangking D dan C dapat mengasah kemampuan mereka sendiri tanpa bantuan orang lain yang memiliki ranking di atas mereka, serta mencegah terjadinya iri akibat ranking tersebut. Tetapi ternyata pernyataan Melody itu berhasil ditentang keras oleh seluruh murid ranking bawah, bukan Melody namanya kalau ia tidak memperdulikan hal tersebut.
“Huah, kau kah murid baru yang dibicarakan di ruang guru itu?!”
Baru saja Niko memasuki kelas, dirinya sudah di sambut oleh teriakan seorang pemuda yang tengah memakan permen lolipop yang langsung berdiri saat itu juga.
“Wah, jadi dia bener-bener masuk kelas kita ya?” sahut salah satu gadis.
“Hei,” seorang pemuda mendatangi Niko. “Selamat datang di kelas kami. Kau... eng...” pemuda tersebut memperhatikan seragam miliknya dengan seksama. “Tingkat dua?” tanyanya kemudian.
“HAAAH???” seisi kelas mendadak sepi ketika mendengar hal tersebut.
“Seriusan? Tingkat dua? Hoi, Ricky, kau tidak salah lihat ‘kan?”
Pemuda bernama Ricky ini menggelengkan kepalanya sambil terus memperhatikan seragam Niko. “Jadi, kau benar-benar baru tingkat dua?” tanya Ricky yang mulai serius dengan perkataannya.
“Ya, perkenalkan aku Nicholas Alexander, baru tingkat dua,”
“Cih, mana sudi aku mengenal orang yang baru mendapatkan tingkat dua. Sampah sekali. Kalau kau mau menetap di kelas ini, kuberi waktu satu minggu untuk meningkatkan tingkatanmu itu ke tingkat lima, kalau tidak bisa maka aku akan memberitahu kepala sekolah untuk memindahkanmu dari kelas ini,” jelas Ricky.
“Jadi tingkatan itu sangat penting, hm? Apa kau tau, orang yang namanya Melody itu sudah tingkat berapa?” tanya Niko.
“Tingkat tiga belas. Dan jaga mulutmu, dia adalah orang terkuat di sekolah ini,”
“Oh, begitu. Cih baru tingkat tiga belas. Kalau aku lebih kuat darinya, berarti tingkatku bisa sampai lima belas sekarang ini,” gumam Niko.
“Bangunlah, jangan bermimpi dapat mengalahkannya. Kalau bisa, kau kalahkan dulu Aldy si tingkat sembilan, baru kau boleh menantang kak Melody,”
Aldy yang tampak duduk di kursi belakang menoleh kearah Ricky setelah mendengar namanya disebut. Ia menatap tajam kearah Ricky sambil mendengus kasar. “Aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya untuk melawannya, karena sudah jelas aku tidak akan menang darinya,” ujar Aldy.
“Tidak usah sok rendah hati begitu, Aldy. Itu membuatku jijik,”
“Terserah kau saja,”
“Baiklah, kalau begitu, kau, Niko, kau akan melawanku. Anggap tes masuk di kelas kami, bagaimana?”
“Aku mau saja, tapi kurasa tidak sekarang. Aku terlalu malas untuk bertarung sekarang ini,” ujar Niko, ia melangkah melewati RIcky dan duduk di bangku kosong tepat di depan Aldy.
“Hoi, anak tingkat dua sombong!” sahut Ricky geram. Ia melotot kearah Niko. “Kau, ikut aku ke lapangan latihan sekarang! Akan kubuktikan perbedaan tingkat kita yang sangat jauh itu!” sahutnya lagi.
“Aldy. Dia, apa memang seperti itu?” bisik Niko bertanya.
“Terima saja tawarannya, toh itu akan menguntungkanmu. Jadi tidak ada orang yang meremehkan kemampuanmu lagi,”
“Tapi, aku takutnya malah akan membuatnya pingsan untuk sementara waktu,”
“Itu bagus, karena jujur, aku malas mendengar ocehan sombongnya. Cepat lawan dia dan runtuhkan dinding kesombongannya itu,”
Niko tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku akan sedikit bermain-main dengannya.” Niko tampak bangkit berdiri dari duduknya. “Baiklah, tawaranmu kuterima dengan senang hati,”
“Cih,”
~oOo~ 
“Sial, ini benar-benar seperti de ja vu bagiku,” gumam Niko saat dirinya sudah berada di tengah lapangan ditemani Ricky yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Pertarungannya dengan Ricky ini disaksikan oleh banyak orang termasuk Melody sang kepala sekolah beserta antek-anteknya yaitu Veranda, Naomi, Sinka, Aldy, dan dua orang pemuda lainnya yang berada di dalam rumah, tetapi Niko belum mengenal mereka.
“Disini, akan kukalahkan kau dan akan kubuat kau malu di depan seluruh murid SMA ini!” sahut Ricky.
Setelah mengatakan hal tersebut, Ricky langsung melesat dengan sangat cepat ke berbagai arah. Mungkin bagi murid ranking bawah lainnya pergerakan Ricky ini terlalu cepat sehingga mereka tak dapat melihatnya, tetapi bagi Niko pergerakan pemuda itu terlihat begitu jelas, sampai-sampai ia memilih hanya mundur satu langkah ke belakang untuk menghindari serangan tersebut. Hanya satu langkah saja.
Benar saja, pergerakan Ricky yang cepat tersebut benar-benar sesuai dengan penglihatan Niko, dan saat dirinya mundur satu langkah ke belakang, Ricky menyerangnya dari udara. “EH??” Ricky baru menyadari kalau Niko tidak berada di tempat semula dan pada akhirnya ia harus menerima kalau dirinya akan mencium rumput sebentar lagi.
BRUUKKK
Tubuhnya mendarat kasar di atas rumput hijau, dan tidak sedikit tanah yang masuk ke dalam mulutnya. Tentu saja kejadian itu membuat seluruh penonton tertawa terbahak-bahak apalagi ekspresi Ricky saat wajahnya menyentuh tanah, sangat indah apabila diabadikan.
“Baiklah, sekarang giliranku. Bersiap, karena aku akan sedikit bermain-main denganmu,” ujar Niko.
“Be-Bermain katamu?” Ricky bangkit berdiri dan menatap Niko tajam.
“Hm, karena lapangan ini adalah wahana bermain bagiku,”
Dengan secepat kilat, Niko melesat ke ujung lapangan. Tidak ada yang dapat melihat pergerakannya, termasuk Melody. Pada detik kedua, ia melesat kearah Ricky dan meninju pipi kanannya. Detik ketiga, ia kembali melesat kearah Ricky dan meninju perutnya, detik keempat ia kembali melakukan hal yang sama namun kali ini ia meninju pipi kiri Ricky.
“Niko tidak bermain-main saat bilang kalau lapangan ini adalah wahananya,” ujar Melody.
“Jadi itu artinya, Niko sekarang ini sedang tidak serius?” tanya Veranda, Melody menganggukkan kepalanya. “Tapi kenapa aku tidak dapat melihatnya saat ia berlari kearah Ricky?”
“Veranda...”
“Ya?”
“Apa kau sudah tau dengan legenda orang yang telah mencapai tingkat sepuluh dalam kurun waktu dua tahun, dan mencapai tingkat dua puluh dalam kurun tiga tahun setelahnya?” tanya Melody.
Veranda terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Dialah orangnya. Adikku, Nicholas Alexander Laksani,” ujar Melody tenang.
“A-APA?” sahut Sinka terkejut.
“Kupikir tingkatannya setara denganku,” gumam Aldy.
“Jadi, dengan kata lain, tingkatannya jauh di atasku,” lanjut Melody.
“Tapi kenapa dia mendapatkan tingkat dua di sekolah ini?” tanya Naomi.
“Iya, kenapa?” sambung Sinka bertanya.
“Itu semua permintaannya, dia mau agar diskriminasi yang terdapat di sekolah ini segera musnah. Dan ia akan menunjukkan kepada orang-orang kalau banyak juga ranking rendah yang memiliki kemampuan melebihi ranking di atasnya,”
“Jadi bagaimanapun caranya, tidak ada yang dapat mengalahkannya, begitu?” tanya  Aldy.
“Ya, itu benar. Walaupun sekalipun kita semua melawannya, ia akan tetap menang. Mungkin itulah yang dinamakan kekuatan legendaris,” jelas Melody.
“Pantas saja aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya kemarin,” ujar Sinka.
“Jadi kau sudah pernah melawannya, dik?” tanya Naomi.
Sinka menganggukkan kepalanya. “Tapi hanya aku yang menyerang, Niko hanya menghindar dan memanfaatkan seranganku untuk menyerang diriku kembali.” Jelas Sinka.
“Oh, jadi begitu,”
Setelah menyerang bertubi-tubi, Niko berdiri tepat di hadapan Ricky yang tampak ambruk sambil meringis kesakitan. Darah bersimbah dimana-mana, dan seluruh orang tau kalau darah itu milik Ricky karena Niko sama sekali tidak terluka saat ini.
“Ba-Bagaimana bisa?” tanya Ricky.
“Sebenarnya aku hanya menggunakan daya gravitasi saat menyerangmu, bagaimana kau tidak dapat melihatku? Aneh,” ujar Niko.
“Kemampuanmu tadi... Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Ricky.
“Sudah kukatakan, namaku Nicholas Alexander... Laksani,”
Kedua mata Ricky membulat sempurna mendengar perkataan Niko, kemudian ia tertawa lebar dan keras, membuat para penonton yang tidak dapat mendengar percakapan mereka merasa aneh akan tawa Ricky. “Kau pikir aku akan percaya? Hahahah,”
“Oh? Sebaiknya kau percaya,” Niko mengeluarkan pedang api berwarna biru miliknya yang ia pegang dengan tangan kanan. “Ingin bermain lagi? Kupastikan setelah ini kau akan pingsan dalam kurun waktu yang lama, andai saja kau bisa mati, pasti sudah daritadi kau kubunuh,”
“E-Eh... Tu-Tunggu dulu, tunggu!” sahut Ricky saat Niko sudah berjalan mendekatinya.
Melody yang melihat hal tersebut akhirnya turun tangan, ia masuk ke dalam lapangan yang telah penuh bekas darah dan berdiri di hadapan Niko. Keberadaan Melody yang menghalangi Niko untuk berjalan, membuat pemuda ini kesal dan nyaris saja ia menebas tubuh kakaknya sendiri kalau saja sebuah tangan raksasa yang terbuat dari lava tidak menghentikkan aksi tangannya.
Niko mengerang kesakitan ketika lava-lava itu terkena tangannya. Ia menatap benci kearah Melody, bahkan warna matanya berubah menjadi hitam sepenuhnya, hal itu membuat Melody mendecih kecil dan melepaskan tangan Niko. “Sekarang kembali ke kelasmu,” ujar Melody datar.
Bukannya menaati, Niko malah menerjang Melody menggunakan serangan beruntun sama halnya ketika ia menyerang Ricky tadi. Tameng kecil yang terbentuk dari lava berhasil melindungi Melody dari serangan adiknya itu. Tetapi semuanya tidak bertahan lama.
“Ricky, pergi dari sana. Aku tidak bisa menahannya lebih lama, dasar bodoh!” sahut Melody.
“Kenapa? Kakak hanya perlu mengalahkannya seperti kakak mengalahkan lawan-lawan kakak yang lain, bukan?” tanya Ricky.
“Kemampuannya jauh di atasku, terlalu sulit untukku mengalahkannya,”
“Yang benar saja?”
“Cepat pergi dari sana!” sahut Melody lagi.
Setelah Ricky berlari keluar dari dalam lapangan, Melody membiarkan satu serangan Niko mengenai tubuhnya. Dan bertepatan dengan hal tersebut, Melody langsung meraih tubuh adiknya itu dan memeluknya dengan erat walaupun pedang api biru sang adik masih menusuk daerah perutnya.
“Kembalilah, kumohon, kembalilah,” bisik Melody.
Niko masih meronta di dalam pelukan Melody, bahkan ia mencoba melepaskan pelukan itu dengan seluruh kekuatannya.
“Kembalilah... Kau, adikku, Nicholas Alexander Laksani,”
Pandangan Niko yang awalnya tampak menyeramkan perlahan melemah dengan mata yang nyaris tertutup. Pedang apinya yang tadinya menusuk perut Melody kini telah hilang dan menyatu dengan udara sekitar, sementara pelukan Melody masih belum terlepaskan. Niko menarik nafas dan membuangnya.
“Baguslah...” bisik Melody.
“Bagus apanya...?” Niko bertanya dengan suara serak, ia berusaha melepaskan pelukan kakaknya itu dan seketika itu juga Melody roboh tepat di hadapannya.
“Kakak!” Niko menahan tubuh Melody yang nyaris terkena tanah, ia menoleh kearah Veranda yang masih menonton dari atas sana, sedangkan Melody masih tampak kesakitan di daerah perutnya.
“Apa yang sebenarnya telah kulakukan?” tanya Niko pada dirinya sendiri.
Veranda ikut memasuki lapangan dan memeriksa keadaan Melody, sahabatnya. “Serangan macam apa itu tadi?” tanya Ve pada Niko.
“Kurasa... Itu hasrat membunuhku. Maaf,” jawab Niko.
“Jangan gunakan itu lagi. Lihat, Melody terluka parah karenamu, dan kurasa ia harus menjalankan perawatan rutin. Kau tau, bukan? Kita memang tidak bisa mati, tapi kita masih bisa merasakan sakit sama halnya seperti manusia umumnya,” jelas Veranda.
“Maafkan aku,” ujar Niko dengan suara kecil, ia melihat kearah Melody yang masih belum sadarkan diri.
“Biarpun kau adiknya, jangan bertindak diluar akal sehat, mengerti? Walaupun Melody termasuk orang terhebat di sekolah ini, bukan berarti dia adalah tandinganmu. Silver Dark Knight,” ujar Veranda.
Niko menatap kearah Veranda dengan sangat terkejut, karena bagaimana seorang Veranda dapat mengetahui sebutannya yang bahkan sudah sangat lama ia lupakan? “Darimana... Darimana kak Ve tau nama itu?”
“Bukankah nama itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di internet? Kusarankan, lebih baik kau berhati-hati, Niko. Gunakan kekuatan untuk menolong, bukan untuk membunuh,”
Veranda ditemani Aldy yang baru saja masuk ke dalam lapangan langsung membawa tubuh Melody keluar dari lapangan menuju ruang UKS, meninggalkan Niko sendirian yang berusaha keras mencerna perkataan Veranda tadi.
Sinka datang dan menepuk ringan pundak Niko, Niko yang menoleh kearahnya dihadiahi sebuah senyum, senyum yang sangat menenangkan. “Gak usah khawatir, kak Melody pasti baik-baik aja,”
“Hm,” Niko mengangguk kecil. “Makasih ya, Sinka,”
“Dengan senang hati, Niko,”
~oOo~ 
“Bagaimana, sudah kau cari tau tentangnya?” tanya seorang wanita berambut hitam panjang yang mengenakan dress bernuansa ghotic yang tampak senada dengan sepatu higheels hitam miliknya, mengesankan kalau dirinya adalah orang jahat pada acara-acara televisi.
“Sudah. Kudengar, nama anak itu adalah Nicholas Alexander Laksani. Dia merupakan anak angkat dari keluarga Laksani karena sebenarnya keluarga Laksani hanya memiliki dua orang anak, tetapi karena mendapatkan masalah terhadap satu anak lainnya, jadi anak tersebut dibuang oleh keluarga Laksani dan Niko itu panggilannya, ia diangkat menjadi anak keluarga tersebut. Setelah itu mereka tidak segan-segan menghapus ingatan Niko sebelum ia masuk dan menjadi bagian dari keluarga itu,” jelas seorang gadis yang mengenakan jubah berwarna hijau daun.
“Apa kau mendapatkan latar belakang lain dari anak bernama Niko itu?”
Gadis tadi menggelengkan kepalanya. “Yang kudengar, ia kini tinggal di OurHouse,” gadis tersebut memberikan sebuah foto dimana tampak Niko yang sedang berbicara dengan Melody di halaman belakang sebuah rumah megah.
OurHouse?”
“Itu adalah kediaman Laksani, tapi sepertinya Melody, nama anak sulung dari keluarga Laksani membuat rumah tempat tinggalnya sebagai penginapan, atau lebih tepatnya tempat tinggal bagi sahabat-sahabatnya,”
“Menarik. Oh ya, aku ada kabar bagus untukmu. Anggap saja sebagai imbalan karena kau telah mencari informasi sepenting itu,”
“Apa kabarnya?”
“Kedua orang tuamu...” wanita itu tersenyum kecil melihat wajah gadis yang berdiri di hadapannya sudah penuh harap. “... Mereka telah meninggal,”
Kini kedua mata gadis tersebut membulat sempurna, ia tak percaya dengan perkataan wanita itu. “Bagaimana bisa manusia abadi seperti mereka dapat meninggal? Bagaimana bisa?!” sahutnya.
“Karena aku. Telah melampaui kemampuan yang ada di bumi. Elaine, jangan bersedih hati karena mungkin selanjutnya sahabat kesayanganmu itu yang akan menjadi kelinci percobaanku dan kemudian mati,”
“Kau... Benar-benar... Kau benar-benar iblis!” sahut gadis bernama Elaine itu.
“Memang benar. Memang benar aku ini iblis, lantas kenapa, nona bebek? Hahahah,”
Elaine terdiam menatap tajam kearah wanita yang ada di depannya itu, airmatanya telah mengalir dari kedua pelupuk mata, ia bersumpah akan membunuh wanita itu dengan kemampuannya sendiri mulai dari sekarang.

To Be Continue...
Simple Story (Zero) | Chapter 02 Simple Story (Zero) | Chapter 02 Reviewed by Melodion on Desember 03, 2017 Rating: 5

2 komentar:

  1. pernah baca di KOG kalau g salah hehe lnjut thor

    BalasHapus
  2. menarik, plot dan penulisannya rapi. Semangat authorcilik :)

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.