Beautifull Aurora III | Chapter 24 : For Now and Tomorrow

Anggota Klub Film bertambah 1 orang, siapakah dia? Simak kisahnya berikut ini.

B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
Pagi hari diperumahan Permata Permai sudah diwarnai dengan hiruk pikuk ibu-ibu dan pembantu rumah tangga menawari barang dagangan yang dijual oleh tukang sayur.
“Ini berapa seikat?” tanya seorang ibu.
“4000 ribu, bu.”
Sang ibu mulai menghitung, itu bisa dilihat dari gelagat mukanya, “Kalau begitu 3 ikat-nya 10 ribu ya?”
“Waduh, Bu. Jangan dong, tekor dong saya.”
Kalau udah begini ada jurus tertentu yang dikeluarkan, “Gimana sih, masa 10 ribu saja gak mau?! Yaudah saya gak jadi beli.”
“Iya deh, boleh deh, Bu. Boleh,” tukang sayur pun mengalah, daripada harus kehilangan pelanggan.
“Gitu dong,” sang ibu tersenyum puas.
Yah, begitulah aktifitas yang sering terjadi pada pagi hari dikomplek perumahan ini. Bagi para pedagang, ibu-ibu yang melakukan praktek ‘Tawar-Menawar’ itu merupakan tindak perbuatan yang tidak menyenangkan, sayang sekali karena hal ini tidak bisa diproses hukum. Karena kalau itu terjadi, pasti bakalan menarik.
“Seorang Ibu ditangkap petugas karena telah menganiaya harga dagangan secara brutal dan tidak manusiawi.”
Mungkin seperti itulah Headline berita yang akan terjadi. Dan akan lebih menarik apabila ada sesi wawancara seperti dibawah ini.
Wartawan : Bagaimana perasaan anda setelah ditawari tersangka dengan harga seperti itu?
Sayur : . . . . . . (Tidak bisa ngomong, namanya juga sayur)
Wartawan menarik mic yang dipegangnya, dan memandang kamera dengan tatapan nanar, mulutnya dibuat-buat sebengis mungkin.
Wartawan : Sepertinya ‘Korban’ terlampau shock dengan kejadian ini hingga tidak bisa berbicara, pemirsa! Apakah dengan kasus ini bisa membuat ibu-ibu bisa terbuka hatinya? Bayangkan bu, bagaimana perasaan orang tua korban kalau tahu anaknya ini ditawar secara sadis seperti ini! Bayangkan, bu! BAYANGKAN!!!
Dramatis. ( Anyway, sejak kapan sayur punya orang tua?)
Ngomong-ngomong soal suasana pagi, hari ini Hugo sudah mampir kerumah Leffy. Biasalah acara jemput-menjemput, siapa lagi kalau bukan Yuriva yang dijemputnya.
“Tumben lu bangun pagi?” tanya Hugo saat Leffy membuka pagar rumahnya.
“Kamar gue dijajah Galih,” keluh Leffy dengan nada malas.
Hugo memasukan motor dipekarangan rumah, “Yuri udah mandi belom?”
“Mana gue tau, lu ngapain kesini?”
“Yaelah, aktifitas biasa.”
“Bosen gue ngeliat lu tiap pagi kesini, coba kek lu yang sesekali dijemput.”
“Dijemput Yuri?” senyum Hugo mengembang.
“Malaikat maut,” jawab Leffy, cuek.
“Sialan lu!”
Setelah itu Hugo memasuki rumah sedangkan Leffy malas bergerak sehabis membuka pagar, itu bisa terlihat dari gaya dia yang santai nemplok dipagar, ia menoleh kearah kiri dan melihat tukang sayur sedang ‘Dipalakin’ ibu-ibu.
“Kasian kau mamang ckckc,” Leffy menggeleng-gelengkan kepala, prihatin.
Ia lalu menoleh kedepan dan melihat tetangga baru didepan rumah sedang melakukan Jogging. Siapa lagi kalau bukan Citra. Gadis ini berlari-lari kecil didepan rumah dengan earphone menempel dikedua telinganya.
Eh! Itu dia!” pikir Citra saat melihat Leffy.
Citra melepas earphone-nya dan melanjutkan olahraga ringan yang ia lakukan, berlari-lari kecil didepan rumahnya dengan rute bolak-balik sedari tadi.
Huh! Dia pasti bakalan menyapa gue!” batin Citra penuh kemenangan.
Gadis ini terus berlari kesana kemari dan berharap Leffy menegurnya agar penilaian dia tentang ‘Cowok itu sama saja’ cepat-cepat terbukti.  Akan tetapi aktifitas yang ia lakukan sama sekali tidak membuat Leffy menegurnya, malah pria ini memandang lurus kedepan dengan wajah semasa bodoh saking malasnya.
Kok gak negor sih?!” pikir Citra yang sebal.
Langkah kakinya yang berlari pelan perlahan-lahan berubah kencang, bertambah kencang, dan semaking kencang. Sekarang dia malah kayak orang yang sedang melakukan lari estafet secara solo, lari berputar-putar didepan rumahnya.
“Hah! Hah! Hah! Hah!” dan berakhir dengan dirinya yang ngos-ngosan, kecapekan.
“Ng?” si Geblek baru sadar dan memandang Citra, “Pagi Neng.”
“Pagi!” jawab Citra, ketus.
“Galak amat, pagi-pagi jangan marah-marah Neng hehehe.”
INI GARA-GARA LO!” seru Citra dalam hatinya.
Leffy melipat tangan diatas pagar rumahnya, “Gak sekolah?”
“Besok,” Citra melemaskan otot-otot kakinya.
“Oh iya murid pindahan ya,” Leffy memanggut-manggut, “Lalu sekolah dimana, neng?”
“Entahlah.”
“Entahlah?”
“Ya.”
“Sekolah Entahlah itu dijalan mana? Baru denger soalnya,” tanya Leffy, polos.
Citra sewot, “SMA Jakarta 4!”
“Oh,” Leffy memanggut-manggut, “SMA Jakarta 4?”
“Ya, kenapa?”
“Disamping kampus gue berarti”
“Siapa?” tanya Citra dan ia berharap Leffy terjebak dan menjawab ‘Aku’ hingga ia membalasnya dengan kalimat ‘Yang nanya?’
“Apanya yang siapa?” Leffy malah balik bertanya dengan wajah bego.
Dan Citra lagi-lagi kesal dibuatnya.
“Ngomong-ngomong, lo ngingetin gue sama seseorang, Neng.”
“Seseorang?” alis Citra naik sebelah.
“Ho’oh.”
“Hmmm,” Citra melipat tangan, “Terus?” tanya Citra melanjutkan.
“Ya mirip aje hehe.”
“Apanya yang mirip?”
“Sekilas sih mirip, kalau Neng pakai kacamata dan sering senyum-senyum pasti bakalan mirip dia.”
“Oh,” Citra memiringkan bibir, “Maaf, aku gak suka dimirip-miripin sama orang lain.”
“Kalau gue sih suka,” Leffy cengengesan, Citra keki setengah mati.
“Lalu apalagi yang mirip?” Citra menantang.
“Hmm,” Leffy mendelikan matanya keatas dan tentu saja yang dimaksudnya itu adalah Shani, “Cantik...”
Huh! Itu sih sudah pasti!” batin Citra, mengibas rambutnya dengan tangan kanan.
“Menarik...”
Udah 68 cowok loh yang bertekuk lutut dihadapanku!” batinnya lagi, dan bersiul-siul seolah cuek dengan hal itu.
“Terus...” Leffy berusaha mengingat-ingat.
“Apa? Apa?” pinta Citra dengan nada remeh.
“Suka malakin gue,” Leffy malah menyebutkan kebiasaan Shani.
Citra mendadak diem.
“Suka nginjek-nginjek kaki gue.”
Masih diem.
“Dan..... ditaksir temen gue yang gendutnya minta ampun,” ulas Leffy, cengengesan.
“Itu gak mungkin!” seru Citra karena tak terima bagian jelek yang dimiripin kepadanya.
“Apanya?” tanya Leffy, polos.
“Aku gak pernah ditaksir cowok gendut! Dan aku ogah ditaksir orang seperti itu!” serunya.
“Lah...” Leffy melongo, “Yang bilang itu eneng siapa?”
“Eh!” Citra baru sadar, “K-K-Kan tadi k-katanya mirip...”
“Mirip bukan berarti sama kan?” Leffy cengengesan, “Lalu kenapa emangnya kalau ditaksir orang gendut?”
“Yaiyalah, masa aku langsing dan cantik begini harus disandingkan dengan pria gembrot?! Dih!”
“Oh gitu,” Leffy memanggut-manggut, ia menumpu kepalanya dilipatan tangan diatas pagar dan tersenyum, “Pintar juga ya.”
“Pintar?”
“Eneng sadar diri kalau Neng itu cantik hehe, dan gue rasa Neng bisa memanfaatkan kelebihan Neng itu.”
“Memanfaatkan gimana?” Citra menyeringitkan dahi.
“Ya jadi artis atau apa kek, bintang iklan hehehe. Tapi biasanya lebih ketara sih mempermainkan cowok-cowok kayak disinetron-sinetron gitu hahahahaha!”
“S-Sok tau!” Citra buru-buru membantah walau ada benarnya.
“Kan hanya opsi, jangan dianggap serius. Tapi meskipun Eneng pintar... tapi pikiran Neng juga dangkal.”
“Apa?” Citra menyeringitkan dahi, “Apa maksudnya?”
“Ya itu tadi, menilai orang dari fisik. Emangnya salah kalau cowok gendut menyukai wanita cantik?”
“Tapi kan...”
“Lagian bisa dibilang temen gue itu hanya mengagumi. Sah-sah saja kalau mau orang jelek fisik kek, bau badan kek bila menyukai seseorang wanita dalam artian kagum. Lalu yang Neng mau itu cowok yang tampan, kaya dan bisa segalanya ya?”
“S-Siapa tau kan?” Citra tergagap-gagap.
“Apa bedanya dengan Cinta Monyet?”
“Apa?”
“Ya, Neng tau gak darimana filosofi Cinta Monyet itu ada?
“.... Gak tau...”
“Apabila ada monyet yang diberi pisang sama monyet lain maka monyet yang diberi pisang itu merasa monyet yang memberinya pisang bisa memberikan pisang sebanyak apapun yang ia mau. Sehingga kemana-mana monyet itu selalu berdua, akan tetapi berpisah saat monyet itu berhenti memberikannya pisang. Lucu kan?”
Citra diem, padahal filosofi Cinta Monyet itu hanya karangan Leffy belaka.
“Jadi realistis aje Neng hehe, lagipula temen gue yang gendut itu baik orangnya. Dia juga kaya raya dan jago bikin efek video, meski fisiknya itu tidak menarik untuk dilihat. Lalu cewek yang gue bilang mirip Eneng itu juga sadar diri kalau dia cantik, tapi dia tidak mau memberi harapan teman gue itu terlalu jauh.”
“Terus?”
“Mereka lebih nyaman menjadi teman, meskipun temen gue masih kepengen sama tuh cewek hehe.  Ibaratkan baju aje nih ye, semisalkan didunia ini hanya ada 2 baju yang bisa dipakai Neng. Eneng mau pake baju biasa atau baju yang nampilin lekuk tubuh Neng?”
“Yang biasalah!”
“Kenapa?”
“Ya lebih nyaman buat aku, gak risih jadinya! Ngapain juga aku ngasih liat tubuh aku sama orang lain?”
“Nah, begitu juga dengan orang. Jadi kalau ada orangnya gendut, jelek, hitam, bau badan tapi kalau bisa bikin Eneng nyaman kenapa Eneng harus risih kan?”
Citra diem lagi.
“Jadi mau ganteng kek, jelek kek, kurus kek, gendut kek selama bisa bikin Eneng nyaman ya jangan Eneng sia-siain. Tapi seperti baju juga semisalnya Neng mau pergi keundangan, kadang harus memilih mana baju mana yang bagus untuk Neng. Tapi bukan berarti baju yang lainnya dianggurin hehe.”
“..... Intinya?”
“Jangan menilai dari fisik,” Leffy tersenyum.
Citra terdiam, ia mengingat sedikit pengalamannya. Dengan kecantikannya itu dia memang sering memanfaatkan pria yang kesengsem kepadanya agar bisa menyuruh pria-pria itu sesuai kehendak yang ia mau, akan tetapi ia juga milih-milih cowok-cowok mana yang mau dimanfaatkan. Ia tidak mau membuat pria jelek baik jelek fisik dan wajah kesengsem kedapanya, ia akan ketus dengan kategori pria tersebut.
“Jadi ceramah jadinya hehehe, kayak Naruto, bacot doang yang banyak daripada berantemnya. Musuhnya langsung tobat! Hahahahaha,” Leffy tertawa lantang.
Citra melihat Leffy dan menilai pria ini sangat berbeda dengan pria-pria yang selama ini mendekatinya. Tidak ada perasaan canggung atau pun bersikap sok manis terhadap seorang wanita.
“Biasa saja, lagian aku tak memandang orang dari fisik,” kilah Citra, melipat tangan dan menoleh kearah lain.
“Bagus deh hehe, kalau begitu gue masuk dulu Neng. Belum mandi.”
“Oh!”
“Ng?” Leffy tidak jadi berbalik badan, “Apa?”
“Kenapa manggil aku ‘Neng’ melulu daritadi?”
“Lalu apa? ‘Sayang’ gitu?” Leffy cengengesan.
“Dih!”
“Bercanda, gak ada salahnya juga kan? Kalau mau Eneng manggil gue ‘Akang’ juga gak masalah atuh hahaha.”
“... Gak ah!”
“Yaudah hehe, gue masuk dulu.”
Leffy memasuki rumah, begitu juga Citra yang berjalan menuju rumahnya.
“Ada-ada aja,” Citra tersenyum tipis.
Gadis ini masuk kedalam rumahnya, setelah menutup pintu tiba-tiba ia terdiam dan tangan memegang gagang pintu. Ia kembali teringat percakapannya dengan Leffy barusan dan juga sikap-sikap Leffy.
“.... Dia... menarik juga ya.... dan.... baru kali ini ada yang memanggilku Eneng...” gumamnya dengan senyum.
Sementara itu Leffy sedang mengobrol dengan Hugo diruang tamu karena kamar mandi masih dipakai Yuriva dan Zara.
“Tadi siapa yang ngobrol dengan lu didepan, Lef?” tanya Hugo.
“Tetangga baru.”
“Namanya?”
“Gak tau,” Leffy menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lah?”
“Lupa, daritadi aje gue manggil dia Eneng melulu,” jawab Leffy cuek.
“Lef! Lef! Bisa-bisanya nama tetangga sendiri bisa gak inget!” Hugo memiringkan bibir.
“Bodo.”
Dan itulah alasannya kenapa Leffy memanggil Citra dengan panggilan ‘Neng’ sedari tadi.
B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
Suasana kampus siang ini begitu menyengat. Mungkin saking panasnya telor yang dipecahkan diatas genteng bisa menjadi telor mata sapi. Tapi hal ini tidak mematahkan semangat Leffy dan anggota klub film-nya yang dimana mereka sedang sibuk syuting dihalaman samping kampus.
“Oke Yaz, inget dialognya?” tanya Yupi.
“Santai aje.”
“Minka, siap-siap,” komando Leffy.
“Sinka!” Sinka sewot karena ini sudah kesekian kalinya Leffy salah menyebutkan nama.
Proses syuting berlangsung dan dilihat oleh Vienny, Veranda, Frieska, dan Ayana.  Lalu yang bertugas merekam suara diadegan ini terpaksa digantikan oleh Viddy karena Egi sedang melakukan latihan band diruang kesenian.
“Kata panitianya kita harus bawain 6 lagu nih, soalnya yang band-band kampus yang ikut serta sedikit katanya,” ujar Lutfi.
“Widih! Ini sih konser namanya, ada bayaran gak?” tanya Coky.
“Nasi kotak, masing-masing 2.”
“Hooo sepadan-sepadan,” Irgi memanggut-manggut.
“Tapi mau bawa lagu apa nih?” tanya Egi, sambil menyetel senar gitar.
“Apa ya... kalau bisa sih yang unik, biar lain daripada yang lain,” saran Lutfi.
“Ya tapi apa?” Coky memiringkan bibir.
“Ah! Lagu band abangnya Leffy saja gimana?” saran Irgi antusias.
“Yang mana? Burit?” Lutfi terkekeh.
“Boleh tuh, boleh, gue hapal malah semua kunci-kunci nadanya,” Irgi menyetujui.
“Gue juga hapal, gampang-gampang semua kunci lagunya itu,” disambung Lutfi dan Coky.
“Bilang dulu lah sama penciptanya, udah tau tuh semua personil band pelitnya luar biasa,” kata Egi.
“Oh iya, bilangin Gi. Kan Ega abang sepupu lo,” suruh Coky.
“Ntar.”
Egi mengeluarkan handphone untuk menghubungi Ega.
“Halo bang!” salam Egi.
- Halo, nape Gi? Hugo berantem lagi?
“Kagak, mau minta izin.”
- “Izin apaan? Emangnya gue guru piket?!” Ega sewot dibalik telepon.
“Bukan itu, mau izin pake lagu band abang. Mau dibawa buat festival kampus.”
- “Oh itu, bawa aje.
“Bener nih?”
- “Asal rokok sebungkus,” Ega cengengesan.
“Yealah,” Egi memiringkan bibir.
- “Enu, Beny sama Dion udah dikasih tau belum?
“Belum.”
- “Kasih taulah, kalau abang doang ini namanya izin sepihak.
“Yaelah, yaudah deh.”
- “Jangan lupa rokok sebungkus.
“Iye-iye!”
Egi memutuskan hubungan telepon dan menelpon Beny.
“Halo bang.”
- “Siapa nih?
“Egi.”
- “Oh, nape Gi?
“Ini, mau minta izin make lagu band abang buat festival kampus.”
- “Oh itu pake aje.
“Okelah.”
- “Tapi jangan lupa rokok sebungkus.
“Yaelah, sama aje,” Egi memiringkan bibir.
- “Gak ada yang gratis di Jakarta, lo harus tahu kenyataan! Ini bukan alam mimpi!
“Iya-iye, gak usah didramatisir!”
Hubungan telepon terputus, sekarang Egi menghubungi Enu.
“Halo Bang.”
- “Halo, nape Gi?
“Gini bang, gue...”
- “Rokok sebungkus,” potong Enu.
“Lah... gue aje belum selesai ngomong.”
- “Udah tahu, lo minta izin kan bawa lagu band abang?
“Tau darimana?” Egi tertegun.
- “Ya taulah. Abang sama Beny, Ega lagi ditoko kuenya Dion and the Bininya.
“Yealah! Buang-buang pulsa ini namanya!”
- “Hehe jangan lupa rokok sebungkus, masing-masing 1 orang! Awas kalau kagak lo!
“Iye! Iye!” balas Egi ketus.
Setelah selesai menelpon maka Egi mendumel-dumel, ya bagaimana dia tidak mendumel-dumel kalau orang-orang yang mau dimintai izinnya ternyata berada disatu tempat. Dan tentu saja itu berasal dari akal bulus abang sepupunya sendiri yaitu Ega.
“Apa katanya?” tanya Irgi.
“Boleh, yaudah mending kita milih lagu apa yang mau kita bawain sisanya.”
Egi, Irgi, Lutfi dan Coky mulai melakukan rapat dadakan untuk memilih lagu-lagu dari band PanicMonkey, yaitu Bandnya Ega, Dion, Enu dan Beny diwaktu mereka baru masuk kuliah.
“Oke! Kita bawain lagu Burit, Dbrunken Dbrmaster sama Four Windows!” kata Irgi setelah rapat selesai.
“Lagu mana dulu nih?” tanya Coky yang bersiap-siap bermain drum.
“Burit aje, favorit,” Egi cengengesan.
Egi, Coky, Irgi dan Lutfi bersiap-siap. Dengan komando ketukan stick drum dari Coky maka lagu Burit siap dimainkan.
Kitalah sperma dewasa.
Hutan hujan gembira.
Terka fatamorgana
Surga muntah tercipta.
Reff : LAHIR DAN MATI! PROSES ALAMI.
Lagu yang tak jelas baik judul dan liriknya itu dibawakan begitu semangat oleh band SENAR PUTUS (Nama Band-nya Egi, Irgi, Coky dan Lutfi). Mereka berempat serempak menyanyikan bagian Reff lagu itu dengan suara lantang karena inti lagu laknat ini memang hanya ada dibagian Reff-nya.
“Wuuh mantap!” kata Irgi, sambil mengelap keringat.
“Ini kalau dibawain diacara award musik Indonesia gimana ya?” tanya Lutfi.
“Yang pasti penontonnya pada bubar, berikut juri dan para nominator-nya,” Coky terkekeh.
“Apalagi kalau dibawain diajang Indonesia Idol! Beeh! Tuh Ari Lasso bakalan nangis!” seru Egi.
“Terharu karena lagunya?”
“Bukan, kupingnya berdarah,” Egi cengengesan begitu juga yang lain.
“Okelah, lanjut lagi. Lagu apa nih selanjutnya?” tanya Coky, beringas memukul simbal.
“Sesuai urutan, Dbrunken Dbrmaster,” ujar Irgi.
“Kenapa judulnya gak Drunken Master aje, kan ribet pake DBR segala depannya,” komentar Lutfi.
“Udah tau tuh semua personil tuh band otaknya geser semua, maklumin aje,” kata Egi mengomentari semua personil PanicMonkey.
“Oke, lu duluan atau gue nih Gi yang mainin gitarnya?” tanya Lutfi.
“Gue aje, lu Rhytem-nya.”
“Oke, eh Reff-nya gimana?”
“Asal-asalan aje, mereka aje asal-asalan pas ngerekam lagu,” Egi terkekeh.
Mereka berempat kembali bersiap-siap, dengan komando dari Coky maka lagu Dbrunken Dbrmaster pun mereka mainkan.
Drunken Master
Get high, so high.
Drunken Master
No shame! No Shame!
[Reff asal-asalan dengan bahasa Inggris, dan itu asal sebut semua]
Dengan nada seperti lagu dewa mabuk di film-film kung-fu Cina ini membuat Egi dan yang lain tampak begitu semangat membawakannya. Lagu ini tidak memberi faedah apapun, terlebih lagi pas Reff dinyanyikan dengan lirik asal-asalan dengan bahasa Inggris. Yang pasti pembawaan lagu ini benar-benar ‘Mabuk’ sesuai dengan judulnya yang ‘Mabuk’. Filosofi lagu ini adalah ‘LAGU INI BISA MEMBUAT ORANG YANG MENYANYIKANNYA MABUK’, ya.... Filosofi mabuk dari pikiran orang waras yang mabuk.... dasar mabuk!
“Asyik dah, gue rasa nanti penonton pas denger lagu ini bakalan melakukan tarian Shaolin,” Lutfi terkekeh.
“Berantem semua, pake jurus kung-fu,” lanjut Irgi.
“Ciahahaha konser berdarah,” Coky cengengesan.
“Oke, yang terakhir,” komando Egi sambil menggenjrengkan gitar keras-keras.
“Gak over gitu juga kali, Gi,” Irgi memiringkan bibir.
“Hehehe yuk lah lanjut!”
“Eh pas bagian lirik ‘We walking like another man or just like a pig without brain’ kita nyanyiin bareng-bareng aje lagi,” saran Lutfi.
“Terserah dah, yuk lanjut!”
Mereka kembali bersiap-siap dan lagu terakhir yang dibawakan adalah Four Windows.  Tanpa perlu basa-basi maka Coky memberi komando dengan stick drum dan musik pun dimainkan! (halah)
We on another land.
Probally insane, from ordinary man.
Four window, never, no free time, from five good man.
Reff: Hey! What you looking for? We are ‘animal’!
WE WALKING LIKE ANOTHER MAN OR JUST LIKE A PIG WITHOUT BRAIN
Lagu terakhir ini berhasil mereka bawakan dengan selamat dan sehat sentosa, bahkan lebih baik dari band aslinya. Karena saat band PanicMonkey merekam lagu ini dipenghabisan lagu, yang bertugas menjadi vokal sedang ngantuk sengantuk-ngantuknya dari rasa kantuk yang ada, ditambah sedikit setruman listrik kecil dari gitarnya sendiri.
“Okelah, ulangi lagi dah dari awal,” kata Lutfi setelah lagu selesai dimainkan.
“6 lagu... seharusnya 2 jam ini kita make studio,” ulas Irgi.
“Besok aje mulai main 2 jam nya, kita mainin lagi lagu-lagu yang nanti kita bawain,” komando Coky.
“Oke! Yuk lanjut!” seru Egi semangat.
Akan tetapi tiba-tiba suara dengungan soundsystem menyita perhatian mereka dan mereka melihat handphone Egi menyala karena ia menaruh handphone-nya diatas soundsystem.
“Siapa Gi?” tanya Lutfi.
“Bang Dion, bentar,” Egi mengangkat telepon dan mengucapkan salam, “Halo bang.”
- “Gi, kok lu gak nelpon gue?
“Hah?” Egi menyeringitkan dahi.
- “Kan lu udah nelpon Ega, Beny, Enu, masa abang kagak?” Dion terdengar sewot.
“Yealah, masa gak disampein?” Egi memiringkan bibir.
- “Tak mau tau! Pokoknya lo harus nelpon gue! Izin dari gue mahal!
“Hadeeeh, yaudeh. Jadi...”
- “Eh bentar!” potong Dion, - “Lo dong yang nelpon, masa gue?
“Yaelah,” Egi memiringkan bibirnya lagi.
- “Telpon gue habis ini, cepat.
Hubungan telepon terputus, dengan perasaaan malas maka Egi melakukan panggilan ulang kepada Dion.
- “Nah gitu dong!” Dion terdengar puas dibalik telepon.
“Yeeee, masih nih?”
- “Lakukan.
“Jadi gini...”
- “Oke sudah cukup. Jangan lupa rokok sebungkus,” potong Dion.
“Ngapain juga minta ditelpon kalau akhirannya begini?!” Egi sewot.
- “Harus ada adab-nya dong hehehe, inget ye? Rokok abang Dji Sam Soe, Surya pun boleh. Rokok Ega, Beny sama Enu lu yang urusin.
“Iye-iye!” Egi sewot.
- “Bilang apa dulu? Kan udah dikasih izin.
“Makasih!” seru Egi dengan nada terpaksa.
- “Yang lembut dong, pake perasaan.
“Errr... terima kasih...”
- “Jijik!
“Kan abang yang minta!” Egi benar-benar sewot.
- “Siapa suruh mau-mau aje?!” balas Dion enteng.
Hubungan telepon terputus dan Egi bersungut-sungut, dari sikap Dion barusan sudah membuat dia yakin kalau Dion memang abang kandungnya Leffy. 2 saudara kandung yang benar-benar menyebalkan ditambah kelakuan personil PanicMonkey lainnya saat ia meminta izin.
“Yaudah! Lanjut!” seru Egi kepada anggota band-nya.
“Oke!” seru Irgi, Coky dan Lutfi semangat.
Akan tetapi sebelum dimulai bunyi ketukan pintu menarik perhatian mereka. Pintu terbuka dan nongol orang yang sangat mereka kenal.
“Hui! Udah 1 jam, keluar kalian semua!” usir Pak Marwin, salah satu dosen di Fakultas Kesenian.
Mendadak hening.
B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
Suasana...
CUT!” seru Leffy.
Oke, abaikan awal narasi tadi karena sudah dipotong Leffy. Dia bersama kru film pendeknya sudah selesai melakukan syuting yang ia mereka lakukan dari siang hari sampai jam 3 seperti ini.
“Syuting adegan aku nanti masih ada kan?” tanya Sinka antusias.
“Masih, minggu deh ramai-ramai nanti,” ulas Leffy sambil melihat kamera.
“Oke! Kalau gitu aku pulang dulu, takut Shani kelamaan nunggu didepan!” Sinka segera berlari meninggalkan tempat syuting.
“Bener-bener dah, kantin yuk? Panas gini,” ajak Viddy.
“Mending ke warung kopi,” jawab Izi.
“Eh Gi, lihat hasil lo,” pinta Yogi kepada Izi.
Semua pun berberes-beres, Leffy menghampiri tempat Vienny duduk karena ia menyimpan tasnya disamping wanita ini.
“Gimana?” tanya Vienny.
“Udah, adek mau ikut gak nanti kewarkop?”
“ADEK??!!!” Viddy yang mendengar suara Leffy bukan main singit wajahnya. Veranda sama Frieska saja sampai cekikikan melihatnya.
“Errr mau ikut kewarkop gak nanti?” Leffy bertanya lagi.
“Boleh,” Vienny tersenyum, “Oh iya, adek mau ngomong nih soal film ini.”
“Apa? Bolehkah abang mendengarnya?” senyum Leffy mengembang memandang Vienny.
“ABANG?!!” dan lagi-lagi Viddy singit memandangnya dari kejauhan, ditambah Izi, Diaz dan Yogi. Veranda dan Frieska lagi-lagi cekikikan.
“ Errr apa?” tanya Leffy kembali.
Vienny meredakan dulu tahan tawanya, habis itu dia berbicara, “Gini, tadi adek ngomongin hal ini sama Veranda. Bagaimana kalau film ini ending-nya dibikin menggantung?”
“Kenapa?”
“Biar penontonnya penasaran, malah kalau dilihat dari ceritanya bisa membuat penonton berspekulasi sendiri tentang maksud Ending-nya. Jadi biarkan saja mereka menerka-nerka,” Vienny tersenyum.
“Iya sih,” Leffy melihat script, “Tapi gakpapa nih? Kan udah dibuat jelas ending-nya.”
“Gakpapa kok, tapi terserah abang aje sih.”
Leffy melihat script-nya lagi. Cerita yang dibuat Vienny sudah jelas jalan ceritanya dan mungkin memang benar kalau ending-nya dibuat menggantung akan membuat penontonnya penasaran. Seperti hal nya ending di-Film Inception, sampai sekarang orang masih berdebat apakah pemeran utamanya masih terjebak didunia mimpi atau tidak. Dan sutradara nya memberi kebebasan bagi penonton untuk menerkanya sendiri.
“Boleh deh hehe,” Leffy cengengesan dan memandang Vienny, “Bahaya nih! Kayaknya adek udah punya sedikit bakat jadi sutradara, posisi abang terancam nih!”
“Lebay!” Vienny tertawa ringan dan memukul lengan Leffy.
“Hehe tapi makasih, gak kepikiran soal ini tadi.”
“Kan gak masalah, saling membantu,” Vienny tersenyum.
“Aduh-aduh, beruntungnya abang punya adek,” Leffy cengengesan.
“ABANG?! ADEK?!!” Viddy, Izi dan Diaz sengak bukan main wajahnya mendengar Leffy melakukan panggilan itu.
“Diem lu!” seru Leffy ketus sambil melempar puntung rokok kearah mereka bertiga.
Vienny, Veranda dan Frieska tertawa melihat tingkah mereka berempat. Tak lama kemudian datang Egi bersama Shania.
“Oh udah?” tanya Egi dengan kondisi lidah memain-mainkan sela-sela gigi.
“Darimana lu tadi? Masa latihan band lama amat?” tanya Yogi.
“Makan bakso tadi,” jawab Egi.
“Eh, Kak Ve? Kok disini?” tanya Shania.
“Pengen nontonin syuting aja,” Veranda tersenyum.
Plus ngeliatin Diaz,” sambung Frieska pelan.
“Hmm!!” dengan perasaan malu Veranda menoyor paha Frieska, Frieska terkekeh.
“Kalian udah kenal?” tanya Vienny.
“Kakak kelas aku waktu SMA, Inyi geser dong,” pinta Shania.
“Tumben berduaan?” tanya Veranda melihat Egi yang membantu Viddy, Izi, Diaz, Leffy dan Yogi berberes-beres.
“Iya, biasanya kalian berantem kuliat,” sambung Frieska.
“Udah enggak dong,” Shania tersenyum, “Eh iya, nama aku Shania,” Shania menyodorkan tangan kanannya untuk adu panco... oh maaf, berkenalan maksudnya.
“Mpriska,” balas Frieska lembut.
“Mpriska? Unik ya namanya,” komentar Shania saat jabat tangan perkenal lepas.
“Frieska, dia gak bisa nyebut F,” Vienny tertawa ringan.
“Oh,” Shania memanggut-manggut, “Orang Bandung?”
“Hehehe,” Frieska cengengesan.
Tak lama kemudian datang Yupi menghampiri tempat Leffy dan yang lain.
“Leffy,” panggilnya.
“Apa?”
“Didepan ada yang nyariin.”
“Siapa?” alis Leffy naik sebelah.
“Gak tau, dia lagi sama Hugo sekarang didepan,” ulas Yupi.
“Siapa ya?” Leffy menatap Viddy.
“Mana gue tau, ngapain juga lu mandang-mandang gue?” Viddy memiringkan bibir.
“Yaudeh, beresin ini dulu, baru kita kesana,” saran Diaz.
Shania berpamitan karena Kinal sudah menjemput dan menunggunya diseberang kampus. Leffy dan yang lain buru-buru membereskan perlengkapan mereka, setelah itu mereka semua segera ketempat yang ditunjuk Yupi. Disana terlihat Hugo berdiri dihadapan orang yang mencari Leffy.
“Mau ngapain lagi lo disini? Heh?” tanya Hugo, matanya melotot.
“K-Kan t-tadi gue bilangin gue ada perlu sama Leffy,” orang itu tampak ketakutan.
Hugo mendekatkan wajahnya kewajah orang itu, “Mau berantem lagi? Masa gue gak diajak?! Ajak gue!”
“K-Kagak!”
“Wih, mau cipokan lu sama laki?”
Suara pertanyaan itu menarik perhatian Hugo dan orang itu untuk menoleh kearah sumber suara.
“Taik lu! Kalau mulut gue cipokan sama laki gue rela bibir gue disetrika!” seru Hugo melongos menjauh.
Leffy dan yang lain mendekat untuk melihat lebih jelas siapa yang datang.
“Loh, elu kan?!” Diaz terkejut.
“Elu kan?!” ditambah Viddy dan Egi, mata mereka terbelalak.
“Elu ini kan!” diakhiri oleh Leffy, matanya membulat, tangannya menunjuk.
“Siapa?” tanya Yogi dan Izi berbarengan.
“Iya ya, siapa ya?” Leffy menggaruk-garuk kepala dan ditoyor secara brutal oleh Viddy, Egi dan Hugo.
“I-Ini gue, J-Jery,” kata Jery, orang yang dulu pernah ada masalah dengan Leffy gara-gara Kimberly.
“Eh, mantannya Kim kan?” tanya Frieska.
“I-Iya, apa kabar? Lama gak ketemu,” Jerry menundukan kepalanya.
“Oh iya-iya,” Leffy mengangguk-angguk setelah puas ditoyor, “Ada apa?”
“Gini... gue mau ketemu cewek lo...”
“Hah?!” Leffy terkejut dan berdiri membelakangi Vienny, “Mau lu apain dia?! Kurang puas lo sama Kimberly?!”
“Ho! Mau ngerebut cewek orang?!” Hugo melotot dan membunyikan tulang-tulang jarinya.
“Harus kita kebiri orang ini,” saran Viddy dengan nada bengis dan disambung oleh Diaz, “Kita silet-silet teteknya!”
“Gue apa ya... gue apa ya...” Egi kebingungan untuk mencari penyiksaannya untuk Jerry.
“Eh! Eh! B-Bukan!” Jerry kalap dan buru-buru membantah.
Leffy juga tak mau kalah, “Takkan kubiarkan kau menyentuh Inyi Minyi kesayanganku! Bahkan seujung jari pun! Kalau kau mau merebutnya... langkahi dulu mayat dia,” tunjuknya ke Yogi.
“Kenapa gue?” Yogi sewot.
“Badan lo gede, lama matinya,” ulas Leffy.
“Sialan lu!”
“Gi! Go! Yaz! Vid! Tolong gue!” seru Leffy kepada mereka berempat.
Tapi terlihat wajah mereka berempat sengak memandang Leffy, bahkan mereka terlihat menggigil.
“Nape lu?” Leffy menyeringitkan dahi.
“LO ITU APA-APAAN?! INYI MINYI KESAYANGAN?! GAK COCOK AMAT LO NGEDRAMATISIR!” seru mereka berempat dengan bulu kuduk berdiri semua.
Entah kenapa disuasana serius ini malah membuat Veranda, Yupi dan Frieska sulit menahan tawanya, karena mereka juga merasa janggal mendengar suara Leffy yang begitu ‘Manis’ untuk Vienny.
“Udeh,” Diaz menoyor kepala Leffy dan menatap Jerry, “Mau ngapain lo ketemu ceweknya?”
“I-Itu ada buku...”
“Buku?!” potong Leffy, “Berani-beraninya lo ngelangkahin gue! Gue aje belum ngelamar dia!”
“Eh? Apanya?” Jerry menyeringitkan dahi.
“Sekarang keluarkan juga buku nikah itu dan bakar didepan gue!” pinta Leffy menggebu-gebu.
“Buku nikah apaan?!!” Jerry kalut bukan main.
“Berani-beraninya lo mau nikahin kakak gue!” Viddy melotot.
“Bagus! Lo emang adik ipar gue!” seru Leffy bahagia.
“Kecuali lo ngasih gue sesajen! Nah baru gue restuin!” seru Viddy menunjuk Jerry.
“Pengkhianat lo! Adik ipar macam apa engkau ini?!” maki Leffy kesal.
“Bodo!” seru Viddy.
“Udah!” Vienny menggebuk kepala Leffy dari belakang dengan buku sehingga tokoh utama ini berjongkok dan merintih kesakitan.
“J-Jiny bukan?” tanya Jerry.
“Vienny,” kata Vienny meralat, “Ada apa ya?”
“Oh ini, bentar,” Jerry membuka pintu dan mengeluarkan sebuah buku, “I-Ini... Kim minta tolong aku ngasihin buku ini sama ceweknya Leffy katanya...”
“Oh,” mata Vienny membulat.
Vienny menerima buku tersebut dan senyum manisnya tercipta, karena itu adalah 2 buah buku novel berbahasa Inggris yang dikarang oleh penulis favoritnya dari dulu hanya saja belum ada dijual di-Indonesia dan belum ada yang menterjemahkan nya. Vienny sangat antusias dengan buku yang dipegangnya itu.
“Terima kasih ya, tapi katanya Kim mau dikirimin lewat kiriman kilat.”
“2 hari yang lalu aku baru pulang dari sana, dan pas mau pulang dia nitipin ini, mungkin dia lupa ngasih tau,” ulas Jerry.
“Oh gitu,” Vienny tersenyum, Vienny kemudian menunjukan buku itu kepada Veranda dan bisa terlihat kalau Veranda juga antusias melihat buku tersebut.
“Lu nyamperin Kim kesana?” tanya Viddy.
“I-Iya,” Jerry mengangguk.
“Luar biasa, semangat mau balikan sama Kim ampe nyusul ke London,” Egi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Horang Kayah!” kata Hugo dengan nada menyindir, padahal Jerry emang kaya.
“Sekali lagi terima kasih, eh iya... kira-kira Kim udah tidur belum ya? Kan di-London sekarang masih malam,” tanya Vienny.
“Kampusnya libur disana, pasti dia begadang sekarang,” kata Jerry memberi informasi.
“Oh,” Vienny mengeluarkan handphone dan hendak melakukan Video Call dengan Kimberly.
“Piny, mau ngubungin Kim ya?” tanya Frieska.
“Iya,” Vienny mengangguk.
“Ikut-ikut!” pinta Frieska dan Vienny tertawa.
“Inyi! Aku boleh gak pinjem buku ini dulu? Dari dulu pengen baca!” pinta Veranda.
“Boleh,” Vienny tersenyum.
Vienny kemudian menjauh dari kerumuman untuk melakukan Video Call dan diikuti Frieska yang rindu akan sosok temannya tersebut. Sedangkan Veranda memilih duduk dibangku kosong yang ada didekat situ untuk membaca.
“Lo gakpapa?” Jerry mencoba membantu Leffy berdiri.
“Apa kabar Kim disana?” tanya Leffy sambil mengusap-usap kepalanya.
“Baik, dia kirim salam sama kalian semua katanya.”
“Kok Kim ngebeliin cewek gue buku?”
“Oh bukan, kata Kim cewek lo yang nitip. Duitnya dari cewek lo yang dikirim ke dia.”
“Hoo gitu, jadi Kim sama cewek gue sering ngobrol ya?”
“Katanya sih sering,” ulas Jerry.
“Waah ini baru mantap, mantan akur sama...”
“MANTAN? EMANG KAPAN LO JADIAN SAMA KIM?!” malah Viddy, Egi, Hugo dan Diaz yang membantah.
“Iri aje lu jadi orang,” ujar Leffy sinis.
“Oh iya... gue denger dari Kim kalau lo bikin klub film ya?”
“Nape emangnya?”
“Boleh gue liat?”
“Liat apaan?” tanya Hugo.
“Ya... film yang kalian buat.”
“Liat aje di-Youtube, cari ‘PanicMonkey’ di-kolom search,” ujar Viddy.
“HP gue ketinggalan...”
“Emang nape nanyain itu?” tanya Izi.
“Susah juga nyebutinnya... karena itu gue mau lihat dulu...”
“Haaah,” Leffy menghela nafas dan mengeluarkan script dari tasnya, “Nih, film yang lagi kami kerjakan.”
Jerry menerima Script itu dan membacanya dari awal, tak jarang ia berkomentar sambil membaca.
“... Ini gak ada tokoh utamanya ya... gak ada satu pun fokus ketokoh tertentu...”
“Emang gak ada, bisa dibilang semua tokoh yang ada dicerita itulah tokoh utamanya,” kata Yogi menjelaskan.
“Hmm gitu,” Jerry memanggut-manggut.
Jerry terus membaca dan membaca, ia tampak kaget melihat salah satu adegan cerita dan kembali kehalaman sebelumnya. Ia melanjutkan lagi dan kembali membaca halaman sebelumnya.
“Gila! Jadi semua petunjuknya itu disegala percakapan mereka ya... padahal ceritanya simple begini... tapi diem-diem bikin orang memeras otak dibuatnya.”
“Kaget dia!” Leffy melipat tangan dan mendengus sombong.
“Itu pujian buat kakak gue, kenapa malah elo yang merasa?” Viddy singit setengah mati.
“Kan gue lakinya,” kata Leffy, santai.
Jerry menutup script dan terperangah memandangnya.
“Ceritanya benar-benar menarik!”
“Oh jelas!” Viddy mendengus bangga dan melipat tangan.
“Kan kakak lo yang dipuji,” balas Leffy.
“Kan gue adiknya,” jawab Viddy jauh lebih santai.
Jerry memandang Leffy dan yang lain, “Sudah berapa % proses yang kalian buat?”
“Kenapa?” alis Leffy naik sebelah.
Jerry menepuk script itu dan senyumnya merekah, “Gue sangat tertarik!!”
“Tertarik?” tanya Leffy mewakili yang lain.
“Bagaimana kalau kita bicarakan ini dirumah gue?!” pinta Jerry antusias.
Leffy hanya bisa menyeringitkan dahi karena tak mengerti, begitu juga yang lain. Dan misteri ini akan terkuak di-chapter selanjutnya!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bercanda, maksudnya dibagian berikutnya dalam chapter ini. Dan sebagai penutup bagian ini maka penulis akan memberikan dengan kata-kata Indah. Dan mari kita baca sama-sama kalimat indah dibawah ini sebagai penutup.
.
.
.
.
.
.
.
Indah.
#TerimaKasih #MaafSudahMerepotkan #BenarBenarIndah
B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
Dirumah Jerry pun sudah kedatangan tamu yang diajaknya bertamu... jadi ada tamu, tapi disuruh bertamu... ah pokoknya pembaca pasti ngerti deh. Dan tamunya itu adalah Leffy, Viddy, Egi, Yogi, Izi, Yupi, Vienny, Diaz, Frieska dan Hugo.
“Gila... gede bener nih rumah, rumah lu kalah Yog,” kata Izi kepada Yogi.
“Norak lu!” sindir Hugo.
“Ngatain gue norak, trus lu ngapain gue tanya?” Izi memiringkan bibir.
“Hehehe sofanya empuk,” Hugo cengengesan, tubuhnya turun naik diatas sebuah sofa yang ada diruang tamu.
“Ini belum seberapa,” kata Viddy tiba-tiba.
“Iya belum seberapa,” dan dibenarkan oleh Egi.
“Kenapa?” tanya Frieska mewakili Vienny, Yogi, Yupi dan Izi.
“Kalian pasti belum pernah kerumahnya bang Bayu, temennya abang gue...” kata Hugo.
“Emang kenapa?” tanya Yupi.
“Uuuuh... gue ngingetnya aje sedih,” Leffy, Viddy, Diaz, Hugo dan Egi menundukan kepala, raut wajah mereka frustasi bukan main.
“Nape lu?” tanya Izi.
“Ruang tamunya aje seluas 1 rumah gue!” seru Egi, wajah mereka berlima bertambah frustasi.
“Itu bokapnya bang Bayu korupsi apaan sih?!” tanya Viddy dengan raut wajah sedih.
Frieska, Vienny, Izi dan Frieska hanya datar saja ekspresinya melihat tingkah mereka berlima walau mereka penasaran sebesar apa rumah orang yang bernama Bayu sehingga membuat Leffy, Viddy, Egi, Diaz dan Hugo sefrustasi ini.
“Maaf lama.”
Mereka semua menoleh dan melihat kedatangan Jerry, setelah sang tuan rumah duduk maka Leffy mulai berbicara.
Jadi Berry...”
“Jerry!” potong yang lain.
“Sengaja biar diralat,” Leffy memiringkan bibir, “Jadi, Jerry, apa yang mau lu suguhkan buat tamu penting kayak kita ini?”
“Hmm!!” Vienny melotot dan mencubit paha Leffy.
“M-Maksudnya apa yang mau lo omongin?” Leffy merubah pertanyaannya.
“Oh iya, sebelumnya gue minta maaf ini sama ulah gue dulu. Gue harap kita gak ada masalah lagi setelah kejadian itu, gue benar-benar minta maaf,” kata Jerry dengan nada penyesalan.
“Gakpapa, santai saja,” kata Yogi.
“Kenapa malah elo! Elo gak dikirim kerumah sakit kan?” Hugo sewot.
“Yee daripada ngelamain,” Yogi memiringkan bibir.
“Heleeeh, tapi bener juga. Santai saja, tapi ya tergantung,” kata Leffy.
“Tergantung apa?” tanya Jerry.
“Tergantung apa yang mau disuguhin buat tamu penting kayak kami, kalau enak kami bisa cepat memaafkan.”
“HNGGG!!!” Vienny melotot dan geram mencubit pinggang Leffy.
“Errr pokoknya gak usah dipikirin,” ulas Leffy meringis menahan sakit.
“Tapi jadi kepikiran, Lef. Gue laper nih,” Egi mengelus-elus perutnya.
“Iya gue juga,” sambung Hugo dan Diaz.
“Kalau gue sih haus,” Viddy mengelus tenggorokannya.
“Oh itu,” Jerry tertawa sebentar, “Tenang saja, lagi dibawain. Tapi dengan ini kita tidak ada masalah lagi bukan?”
“Yee santai aje, jadi apa yang mau diomongin nih?”
“Begini, tadi dikamar gue sempetin nonton film pendek kalian di-Youtube. Seperti halnya gue sewaktu membaca script film pendek yang kalian buat tadi. Ceritanya benar-benar asik, cara kalian mengedit film-nya juga apik! Dari Cinematography, anamorphic, dan grading color-nya benar-benar memanjakan mata penonton. Dan kekuatan cerita yang membuat film pendek kalian tadi semakin menjadi-jadi! Itu sangat keren!”
“Oh ngerti juga lo tentang gituan,” Leffy tersenyum tipis dan mengangguk-angguk.
“Biasa saja,” Yogi memainkan rambut karena sebagain besar grading color dia yang melakukannya.
“Itu cerita yang bikin kakak gue,” ulas Viddy menunjuk Vienny.
“Oh kamu?”
“Ya,” Vienny mengangguk.
“Kakak adik?” Jerry menunjuk Vienny dan Viddy bergantian.
“Yo’i,” balas Viddy.
“Coba lu tunjuk gue,” pinta Leffy.
“Hah?”
“Tunjuk aje.”
“O-Ooh,” dengan segan Jerry menunjuk Leffy.
“Ini calon istri gue,” Vienny merangkul pundak Vienny dan menunjuk Viddy, “Itu calon adik ipar gue!” serunya bangga.
“Lu ngapain ngerangkul kakak gue?!” Viddy memiting tangan Leffy.
“Alalalalala!” rintih Leffy kesakitan.
Tingkah Leffy dan Viddy diruang tamu sedikit menjadi hiburan orang-orang yang ada disitu. Setalah suasana cukup mencekam... maaf, setelah suasananya cukup kondusif maka Jerry melanjutkan pembicaraannya.
“Jadi begini, gue ini bisa dibilang tertarik dengan Film. Bahkan gue mencoba belajar bagaimana cara membuat film dari dulu, saking tekunnya gue gak mau diganggu siapapun bahkan pacar gue waktu itu, yaitu Kim... dan ya alasan gue mutusin dia bukan gara-gara itu sebenarnya... tapi gara-gara gue merasa Kim ngeganggu aktifitas gue, gue kesal dan malah melontarkan kata-kata itu... gue gak ada maksud ngerendahin dia...” Jerry menunduk menyesal.
“Emang putus gara-gara apa?” tanya Yupi penasaran.
“Gara-gara Kim gak ngasih dia ciuman,” kata Frieska.
“Waduh! Dangkal amat gara-gara itu...” Izi terperangah.
“Ya... tapi bukan itu alasan sebenarnya... gue sengaja ngomong gitu biar Kim gak ngegangguin gue lagi... dan gue baru nyeselnya sekarang, pas gue benar-benar nyerah tentang film dan gue tahu gue benar-benar nyakitin dia dengan kata-kata gue...”
“Makanya jangan terlalu gitu, prioritaskan yang utama, hobi itu bisa diselingin lain waktu. Ilmu tentang film kan gak bakalan hilang! Seharusnya lo bilang kalau lo lagi nekunin hobi lo sama Kim, biar bagaimanapun juga Kim butuh perhatian! Bukan pelampiasan kekesalan lo gara-gara hobi lo itu!” Frieska tiba-tiba memberi semangat.
“Iya... gue tau,” Jerry tersenyum tipis.
“Kok jadi acara curhat gini ya?” bisik Hugo ke Diaz.
“Iya nih, kok jadi acara curhat?” bisik Diaz kepada Leffy, Viddy dan Egi.
“Eh kenapa malah curhat masalah asmara elu? Jangan bilang lu nyuruh kami kesini buat dengerin curhat elo itu?” dan Leffy lah yang tanpa basa-basi mengatakan hal itu.
“Oh iya!” Jerry menepuk kepalanya, “Maaf-maaf jadi keinget masalah itu jadinya.”
“Heleeh,” Leffy memiringkan bibir, “Jadi apa cemilannya nih?”
Plaaak! Bunyi tamparan pelan dari pipi Leffy berkat tamparan ringan Vienny.
“Jadi apa yang mau diomongin nih?” tanya Leffy sekali lagi dengan wajah datar.
“Ah gini... bisa dibilang gue nyerah karena gue... ya gue gak bisa mewujudkan membuat film yang gue inginkan. Gue benar-benar nyerah waktu itu, dan hal ini gue bicarakan juga sama Kim sewaktu gue ke London nemuin dia...”
“Hmm terus?”
“Kim kemudian bilang kalau lo bikin klub Film... walau harapan gue tipis tapi gue mau mencoba melihat hasilnya, dan barusan terjadi. Gue benar-benar gak menyangka ada film pendek sebagus ini...”
“Hoo gue ngerti nih,” Viddy tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Gue juga ngerti,” disambung Hugo.
“Emang apa, Go?” tanya Leffy.
“Biar Viddy ngewakilin gue,” Hugo membuang muka, yang lain memiringkan bibir.
“Jadi kamu mau bergabung keklub film-nya Leffy?” Vienny menggantikan Hugo.
“Hmm yah, mungkin seperti itu... tapi kayaknya gak bisa. Gue kan gak kuliah disitu, jadi tentu saja itu penghalangnya.”
“Hmm gitu, emang kemampuan lo apa?” tanya Izi.
“Gak ada sih,” Jerry menggaruk-garuk kepalanya, “Tapi bukan berarti ada penghalang bakalan mengurung niat gue.”
“Lalu apa?”
“Jadi begini... kalau kalian mengizinkan... mau tidak kalian menerima gue sebagai produser kalian?”
“Produser?” Leffy dan yang lainnya terperanjat.
“Ya begitulah kira-kira, executive produser juga boleh.. yah pokoknya yang memberi dana untuk film kalian gitu...”
“Lu yakin?” tanya Egi.
“Ya,” jawab Jerry, mantap.
Sedikit keheningan terjadi dalam percakapan ini sampai akhirnya Leffy membuka auratnya... oh maaf, maksudnya membuka suara.
“Kenapa lo mau melakukan ini?”
“Setidaknya gue bisa melakukan apa yang gue impikan dari dulu, meski gue gak bisa membuat film... tapi dari film yang kalian buat benar-benar membangkitkan semangat gue untuk membuat film... tapi gue sadar diri kalau gue gak bisa apa-apa, jadi yang gue pikirkan gue hanya bisa memberikan dana untuk kalian membuat film...”
“Tapi ini akan merepotkan elu, karena ini sudah berhubungan dengan materi,” ulas Viddy.
“Gue tau... tapi oh! Gue melihat pencahayaan dalam film kalian, apa kalian menggunakan lightning DIY?”
“Ya... begitulah,” Leffy mengangguk.
“Gue bisa mempersiapkan lighting yang mumpuni, bahkan untuk film pendek, dan bukannya ingin meremehkan kalian. Tapi gue rasa dengan lightning ini akan membuat film kalian semakin bagus, dalam pencahayaan. Setidaknya gue bisa berkontribusi dalam film yang kalian buat... dan demi impian gue, yang ingin menjadi bagian dalam suatu produksi film dari dulu...”
“Begitu...”
“Karena itu gue mohon, gue tahu apa yang kalian miliki saat membuat film sudah mumpuni... tapi tentu saja masih ada kekurangan yang kalian rasakan saat membuatnya dan biarkan gue membantu kalian... gue benar-benar ingin mewujudkan impian gue!”
Jerry kemudian menunduk dihadapan mereka semua, Leffy dan yang lain hanya bisa terdiam melihat kesungguhan Jerry.
“Yah kalau bisa dibilang gue butuh aplikasi untuk membuat scoring, dan gue hanya tinggal butuh uang 250 ribu biar hasil scoringnya lebih baik dari sebelumnya,” kata Egi tiba-tiba.
“Dan lightning... yah gue rasa kita gak perlu lagi repot-repot bikin lightning dengan buatan tangan,” sambung Izi.
Jerry menadahkan kepalanya, “Jadi...”
“Tapi ya...” Egi menoleh kearah Leffy.
Dan tak hanya Egi, semua yang ada disitu memandang Leffy karena Leffy lah yang memiliki kuasa penuh atas klub film-nya.
“Hmm,” Leffy tersenyum, “Sebenarnya sih tadi gue mau nanyain sebesar apa kecintaan lo sama Film.”
“Terus?” Viddy meminta Leffy melanjutkan.
“Tapi tadi dia curhat kan soal putus sama Kim gara-gara Film? Ya itu sih sudah bisa menjadi bukti. Dan apa benar gara-gara itu?”
“... Ya...” Jerry mengangguk lemah.
“Ada untungnya juga lu curhat tadi,” Leffy cengengesan.
“Begitu...” Jerry tersenyum tipis dan menunduk.
“Lo harus tahu juga kalau gue gak main-main dalam urusan film, kalau hanya niat setengah-setengah mending gak usah. Jangankan gue, yang ada disini semua juga seperti itu. Dan gue harus tekankan kata ini sama lo sekarang juga!” Leffy menunjuk Jerry.
“Ya... gue mengerti...”
“Bagus, dan mulai sekarang lo jangan pernah katakan ‘Memberi kami dana untuk membuat film’ tapi ‘Memberi dana untuk bersama-sama membuat film!”
Jerry tertegun dan menatap Leffy, “... Jadi?”
“Pokoknya selain dana lo juga harus nguras tenaga lo, kita bisa patungan dalam dana. Dan kau harus bekerja keras kalau kau memang menyukai film seperti kami, dan seperti yang tadi gue bilang. Kami gak setengah-setengah melakukannya biarpun film pendek!” Leffy nyenyir kuda dan memain-mainkan alis.
“J-Jadi...” senyum Jerry hampir merekah.
“Ya semisalkan uang patungan kita gak cukup lo wajib nambahin karena itu keinginan lo menjadi produser. Tapi ya bukan berarti santai aje, lo juga harus turun tangan membantu saat proses syuting. Jarang kan ada produser ikut membantu proses syuting?”
Mengerti maksudnya membuat senyum Jerry benar-benar merekah, ia pun menundukan kepala dan berkata.
“Terima kasih!”
“Udeh, nanti hari Minggu lo udah bisa ikut kita syuting,” ujar Egi.
“Terima kasih!”
“Lo masih ngarep balikan sama Kim?” tanya Leffy sekali lagi.
“... Kenapa nanyain hal itu?” Jerry menyeringitkan dahi.
“Ya...” Leffy menggaruk-garuk kepalanya, “Jangan lo ulangin aje kesalahan lo dulu, demi film ngacuhin yang lain. Betul kata Frieska lo harus ada prioritas utama, tentu saja selain membuat film yang bagus dan juga...” Leffy memandang Vienny dan tersenyum.
Vienny juga membalas senyuman Leffy karena tahu maksudnya. Selain prioritasnya yang hendak menjadi sutradara yang handal untuk membuat film yang bagus, prioritas yang paling Leffy utamakan adalah menikahi Vienny.
“Maaf ya lama nunggu.”
Jerry dan orang-orang yang ada diruang tamu menoleh dan melihat keberadaan ibu Jerry bersama pembantunya mengantar minuman dan juga cemilan untuk tamu anaknya.
“O-Oh iya, ini ibu gue,” Jerry memperkenalkan ibunya.
“Oh!” Leffy berdiri dan melakukan cium tangan, “Nama saya Leffy, tante.”
Dengan sopan yang lainnya pun berkenalan dengan ibunya Jerry, ibunya Jerry pun tersenyum melihat tamu-tamu anaknya yang begitu sopan. Akan tetapi senyumnya memudar saat ia mengingat sesuatu.
“Kenapa Tante?” tanya Hugo.
“Oh enggak,” Ibu Jerry tersenyum, “Hanya saja keinget kejadian lama... dulu ada orang-orang tak dikenal masuk kedalam rumah dan menghajar Jerry... benar-benar kasar dan tak ada sopan santun.”
“Wah! Kurang ajar banget tuh orang!” seru Leffy.
“Iya, jadi keinget, maaf ya.”
Itu abang elu,” batin Jerry dengan wajah datar, untuk Leffy.
“Gila! Main masuk aja tante? Tanpa permisi?” tanya Egi.
“Iya,” Ibu Jerry mengangguk.
“Biadab sekali orang itu!” seru Egi kesal.
Itu abang elu,” batin Jerry untuk Egi, tentu saja dengan wajah datar.
“Huh! Kalau ada orang kayak gitu disini, panggil saya saja tante! Biar saya hajar!” seru Hugo menggebu-gebu.
Itu abang elu juga,” bating Jerry untuk Hugo.
“Emang selain dihajar diapain lagi Jerry-nya?” tanya Diaz.
“Ya diancam gitu... bahkan waktu makan siang kami hancur dibuat mereka... semua yang ada dimeja makan dibanting mereka semua! Hahaha,” Ibu Jerry tertawa, sebuah tawa ketakutan mengingat hari itu.
“KURANG AJAR!” Leffy, Hugo, Egi, Diaz, Viddy, Izy dan Yogi kompat mengepalkan tangan karena tak terima mendengar perlakuan yang diterima keluarga Jerry.
POKOKNYA ITU ABANG LU SEMUA! ENTAH ITU ABANG SIAPA-SIAPA SAJA PAS KESINI!” teriak Jerry didalam hati, dan ia juga mengingat betul apa yang menyebabkan abang Leffy dan yang lain menginterogasinya dengan cara kekerasan.
“Yaudah, silahkan dimakan, Tante masuk kedalam dulu,” pamit ibunya Jerry.
“Ayo, silahkan. Cuma ada ini,” Jerry mempersilahkan.
“Akhirnya hehehe hauuus,” Frieska dengan segera meminum minuman yang disuguhkan.
“Makan, Zi!” Yogi cengengesan dan segera menyantap cemilan.
“Buset... cemilan mahal ini...” Izi terperangah melihat cemilan yang disediakan ibunya Jerry.
“Ng?” Vienny yang selesai menenggak minuman menoleh kearah Leffy, “Kenapa gak diminum?”
Terlihat kalau Leffy, Hugo, Viddy, Diaz dan Egi termenung melihat minuman dan cemilan yang disuguhkan, dan tepat seperti yang dikatakan Izi kalau itu adalah cemilan yang mahal harganya.
“Eh? Kenapa gak diminum? Ayo, maaf cuma ada ini,” Jerry mempersilahkan.
Mendengar kata itu membuat Leffy dan ke-4 temannya tersenyum tipis.
“... ‘Cuma’ katanya,” Leffy membuka suara.
“Iya... ‘Cuma’...” sambung Viddy, senyumannya mulai hilang seperti Leffy dan yang lain.
“Cuma...” sambung Hugo, wajahnya sedih.
“Brengsek!” kata Egi tiba-tiba, menunduk sedih begitu juga Leffy, Diaz, Viddy dan Hugo.
“Eh kenapa?” Jerry kebingungan, begitu juga Vienny, Frieska, Izi, Yupi dan Yogi.
“Kalian kenapa?” tanya Yupi.
“Ini ngingetin kami waktu bertamu kerumahnya bang Bayu...” kata Diaz.
“Terus?”
“Dia nyuguhin KFC buat tamunya... dan dia juga bilang ‘Cuma’!!” seru Leffy.
“Heleeh lebay, palingan pas hari itu doang.”
“Tiap hari bego! Lo tanya aje abang-abang kami yang lain! Pas datang kesana cemilan buat tamunya KFC!” seru Hugo.
“Eee buset!” Jerry, Izy dan Yogi terperangah. Sedangkan Vienny, Frieska dan Vienny bengong.
Entah seberapa kaya nya teman Dion yang bernama Bayu sehingga membuat Frieska, Vienny, Jerry, Izi dan Yogi ingin membuktikannya sendiri lewat mata kepala mereka. Akan tetapi melihat raut wajah frustasi yang ditunjukan Leffy dan kawan-kawan maka bisa dibilang hal itu jujur adanya.
“Kenapa kata ‘Cuma’ diciptakan?!” Egi menutup mata dan memukul-mukul meja tamu.
“Sialan emang orang kaya! Pande aje bikin orang miskin kayak kita iri!” begitu juga Diaz dengan raut wajah sedih, tapi mulutnya mengunyah-ngunyah cemilan mahal dari Jerry.
“Pokoknya gue harus sukses dan kaya raya! Biar bisa bilang ‘Cuma’ waktu nyuguhin steak buat tamu gue!” tambah Viddy, dan yah... sama aje, sambil ngunyah-ngunyah.
“Betul... mmm enak, emang sialan cara orang kaya buat pamer... mmmm enak,” disambung Leffy, antara memaki dan memuji cemilan yang dikunyahnya.
Yang penting sejak hari itu Jerry tidak akan memakai kata ‘Cuma’ saat menyuguhkan cemilan apabila Leffy dan yang lain datang kerumahnya. Karena sepertinya menimbulkan kenangan pahit nan enak bagi hati dan perut mereka. Begitu juga Yogi karena diantara mereka semua bisa dibilang hanya Yogi dan Jerry yang kaya raya.
Yah... baru kali ini ada orang frustasi hanya gara-gara kata ‘Cuma’.
B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
Malam harinya diadakan pesta ditoko roti dan kafe nya Yona dan Dion, hanya berupa pesta ulang tahun sederhana dari Feni dan ingin merayakannya disitu. Begitu banyak yang datang bahkan Diaz memanggil Zacky bersama teman-temannya untuk memarkirkan kendaraan diluar.
“Nah, kalau ini mabes-nya cewek gue. Dia tiap mau nulis cerita biasanya kesini sekarang, dulu sih dirumahnya,” ulas Leffy kepada Jerry.
“Oh gitu,” Jerry memanggut-manggut sambil melihat-lihat sekelilingnya.
Jerry sengaja diajak Leffy agar bisa berkenalan dengan kenalannya yang lain supaya tidak canggung untuk kedepannya. Ia sekarang duduk semeja dengan Leffy, Hugo, Diaz, Viddy, Egi, Coky, Irgi, Lutfi dan Danu.
“Selamat ya, Feni.”
“Kak Inyi!” seru Feni sambil memeluk Vienny.
“Kak Inyi, om Leffy mana?” tanya Zara.
“Oh, tuh, duduk dimeja luar,” Leffy menunjuk arah luar.
“Oh, bilangin kak, om Leffy diluar,” ujar Zara kepada Kyla.
“Iye, kak Yona, tuh om Leffy diluar katanya,” sambung Kyla padahal Yona tepat dibelakang mereka berdua.
“Iya-iya,” Yona tersenyum dan menoleh kearah belakang, “Saktia, tolong anterin minumannya. Cari aja yang pake topi, itu dia yang namanya Leffy.”
“I-Iya,” Saktia kemudian mengangkat nampas berisi banyak minuman dan membatin, “Leffy? Masa sih?
Saktia terus berjalan dan berjalan sampai keluar, dan benar dugaannya kalau Leffy yang dimaksud Yona adalah Leffy teman semasa SMA-nya.
“Waduh!” seru Saktia dengan mata terbelalak.
Tanpa sengaja salah satu gelas tumpah dan mengenai baju Jerry.
“Weeh hati-hati dong!” seru Diaz.
“M-Maaf,” Saktia menaruh nampan terlebih dahulu dimeja.
“Ke toilet aje, Jer. Ada pengering disitu, lagian gak basah amat, pasti cepat kering,” saran Leffy.
“Okelah,” Jerry kemudian beranjak.
“Maaf ya?” kata Saktia sambil menunduk.
“Gakpapa, toilet didalam kan?”
“I-Iya, mau dianter?”
“Ngapain dianter, mending lu disini aje dulu. Kok lu disini?” tanya Hugo.
Jerry berlalu masuk kedalam sedangkan Saktia menjawab pertanyaan Hugo, “Ya... gue kerja sambilan disini...”
“Heh? Yang bener lu?”
“Iya, kok kalian bisa ada disini?” Saktia bertanya balik.
“Ya iyalah, yang punya toko ini kan calon kakak iparnya Leffy,” ulas Viddy.
“Hah?!” Saktia terkejut.
“Nape lu kaget gitu? Kaget ya ngeliat gue tambah ganteng?” Leffy cengengesan.
“... Kayaknya aku juga mau ketoilet.”
“Ngapain?” tanya Egi.
“MAU MUNTAH!” seru Saktia.
Saktia buru-buru masuk kedalam, Leffy sewot sementara yang lain cengengesan. Dan didalam tak sengaja Jerry menubruk Ega bersama teman-temannya yang lain.
“M-Maaf!” kata Jerry buru-buru.
“Ng? Oh, gakpapa santai saja,” balas Ega.
Waduh! Ini kan abang-abang mereka!” batin Jerry yang panik.
“Eh kok gue kayaknya pernah ngeliat lo ya?” Beny menyeringitkan dahi.
“Iya, kayaknya gak asing gitu,” Dion dengan seksama memperhatikan Jerry.
“Iya juga ya,” disambung Arya.
“Kita pernah ketemu?” tanya Ega.
“Kayaknya pernah... tapi dimana ya...” Enu mengurut-urut dagunya.
“MAAFIN GUE BANG! MAAFIN GUE! GUE GAK BAKALAN GITU LAGI?!”
“Ng? O-Oh s-santai saja hahaha santai saja,” kata Arya yang mewakili yang lain karena Jerry begitu menggebu-gebu meminta maaf.
“Iya santai saja, masa nyenggol dikit gue harus marah, santai aje,” sambung Ega.
“K-Kalau begitu gue permisi bang! Mau ketoilet!”
Jerry buru-buru meninggalkan mereka. Sementara itu Dion, Enu, Ega, Beny dan Arya melirikan matanya keatas saat berusaha mengingat Jerry.
Siapa ya?” batin mereka secara bersamaan. Ya, mereka dengan cepat melupakan orang yang telah menjadi korban kekerasan mereka.
Kurang ajar emang.
Sementara itu diluar sudah kedatangan Shani dan Naomi, mereka datang dengan mobil yang dibawa Naomi saat menjemput Shani tadi.
“Yang lain dimana?” tanya Shani kepada Leffy.
“Didalam masuk aje.”
“Kami masuk dulu ya,” pamit Naomi dengan senyum manisnya.
“Iya kak,” Leffy dan yang lain cengengesan, terpesona melihat kekasihnya Beny.
“Eh entar kak,” Shani kemudian menghampiri tempat duduk Leffy dan menginjak-injak kakinya.
“Lu apa-apaan?” Leffy sewot.
“Heheh lupa nginjek kakimu tadi pas dikampus,” Shani kemudian masuk kedalam dengan Naomi.
“Mpris gak diajak, Zi?” tanya Egi.
“Katanya sih bentar lagi, dia baru pulang dari undangan keluarganya katanya,” ulas Izi.
“Lef, Galih mana?” tanya Manda dan kondisi setengah keluar dari pintu.
“Terakhir gue liat sih dia masih tidur, pandai aje nanti dia kesini pas bangun.”
“Oh gitu, yaudah deh,” Manda kembali masuk kedalam.
“Kalau dia kesini berarti dia lepas,” Leffy menguap.
“Maksudnya?” Egi dan yang lain menyeringitkan dahi.
Maksudnya bisa dilihat dengan jelas kondisi Galih yang tidur sekamar dengan Leffy.
“LEEFFFYYY!!” teriak Galih membara.
Bagaimana dia tidak berteriak, tubuhnya diikat berlapis-lapis dengan tali rapia yang begitu banyak. Dan tentu saja dia kesulitan melepaskan diri dari ikatan tali tersebut, dan tentu saja Leffy lah pelaku utamanya.
Kembali ketempat semula yang dimana Frieska sudah datang dan bergabung bersama Leffy dan yang lain. Sementara itu didalam diadakan hiburan kecil-kecil oleh Damar yang melakukan Stand Up Comedy.
“Sial Damar! Masa lalu gue dijadiin materi,” Ega terkekeh.
“Emang masa lalu kamu seperti apa?” tanya Farin polos.
“Penuh keringat dan air mata,” jawab Arya cuek.
“Widiih! Dramatis,” Naomi tertawa.
“Sialan lu!” Ega menoyor kepala Arya, Arya dan yang lain terkekeh.
Setelah selesai melakukan stand up Comedy maka MC acara mempersilahkan para hadirin yang ingin menghibur para tamu undangan lainnya. Karena disitu juga sudah dipersiapkan alat-alat band.
“Eh boleh nih, udah lama juga gak nge-Band,” ajak Enu.
“Lupa-lupa gue lagunya,” ujar Beny.
“Udeh santai aje, lagu band kita mah gampang, sekali didengar langsung diinget,” kata Ega.
“Tapi bawa lagu apa? Lagu band kita?” tanya Dion.
“Ya gakpapalah, sekalian ngenalin lagu band kita. Percuma aje direkam tapi gak pernah dipublikasikan sama sekali,” ulas Ega.
“Kita kan anti-popularitas.”
“Taik,” Dion cengengesan dan menoyor kepala Enu.
“Tapi lagu apa? Udah tahu lagu-lagunya kayak ngajak berantem 1 RT,” ulas Beny.
“Awas aja ya pake lagu yang judulnya jorok itu! Bising dengerinnya, dirumahlah, dijalanlah!” keluh Shani kepada Beny.
“Emang judul lagunya apa?” tanya Naomi penasaran mewakili Farin.
“Ihh males nyebutinnya,” Shani bergidik jijik.
“Mau tau, Mi?” tanya Dion.
“Apa?”
“Burit,” Ega terkekeh.
“Astaga! Itu judul lagu?!” Naomi dan Farin kaget.
“Yoi, nih yang punya kerjaan,” Ega menoyor kepala Dion.
“Yang lagu itu saja, yang slow itu,” saran Enu.
“Emang band kalian ada lagu slow?” tanya Shani.
“Ada, 1. Yuk, Yon, Ben, Gak,” ajak Enu dan berjalan duluan.
“Okelah, yuk,” dan disusul Dion setelahnya.
“Emang apa judulnya? Judul lagu band kalian gak ada yang waras!” sindir Shani.
“Plain Vanilla,” jawab Beny cuek.
Mendengar judul itu membuat mata Shani terbelalak, ia ingin bertanya akan tetapi kakak lelakinya itu sudah menyusul Dion dan Enu.
“Kak Ega...” panggil Shani.
“Ng?” Ega yang hendak menyusul mendadak berhenti, “Apa?”
“Itu... Plain Vanilla... itu...”
“Oh itu lagu Dion yang nyiptain.”
“Kak Dion?” mata Shani terbelalak.
“Nape?” Ega menyeringitkan dahi.
Shani masih terperangah, tapi dia masih ingin mengeruk lebih jauh, “... Kenapa judulnya Plain Vanilla...”
“Oh, itu lagu buat orang katanya.”
“Buat Yona?” Naomi menduga-duga.
“Bukan,” Ega cengengesan, “Kalau gak salah sih buat orang yang panggilannya Plain Vanilla.”
“Emang ada orang yang pake nama itu?” Farin menyeringitkan dahi.
“Ada, username YM hahaha, orang didunia maya,” Ega tertawa bejat.
“Yaelah,” Naomi memiringkan bibir.
“Tapi jangan kasih tau Yona, lagian itu udah lama kejadiannya. Sebelum Dion jadian dengan Yona malah.”
“... Emang username YM kak Dion apa...” tanya Shani.
“Oh namanya...”
“Ga! Buruan!” panggil Enu.
“Iye-iye!” kata Ega, dia hendak berjalan tapi dia berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan Shani, “Namanya Distorsicks.”
Setelah berkata seperti itu maka Ega melanjutkan perjalanannya, sementara itu Shani terbelalak matanya, nafasnya terengah-engah dan ia memandang Dion yang sedang menyetel gitar.
“...Kak... Dion... Kak Dion... D-Distorsicks...” batinnya tak percaya.
Dion dan yang lain melakukan check sound sebentar dan didengar oleh Leffy dan yang lain diluar.
“Eh! Mereka nge-band tuh!” seru Coky.
“Wah! Masuk-masuk yuk!” ajak Irgi kepada Leffy dan yang lain.
Mereka semua pun masuk karena sudah lama mereka tidak melihat penampilan band PanicMonkey. Sebuah Band yang sudah merekam lagu tapi tidak ingin dikenal, karena itu lagu mereka yang direkam tidak pernah dipublikasikan sampai sekarang, palingan hanya diberikan terhadap orang terdekat mereka.
Aneh? Mereka memang gitu orangnya.
“Halo... hehe malam...” sapa Dion dengan Mic.
“Lagu Burit, bang!” seru Coky, mantap.
“Gigi elu Burit!” Dion sewot dan orang-orang yang mendengarnya menahan tawa geli mendengar judul lagu seperti itu.
“Kami akan membawakan lagu judulnya Plain Vanilla, salah satu dari lagu yang dibilang masih... yah kategori slow,” ujar Ega angkuh.
“Siapa?” seru Arya.
“Ya kami,” senyum Ega mengembang.
“YANG NANYA?!” kata Arya lantang, suara tawa menggelegar didalam hingga Ega sewot dibuatnya.
“Hehe langsung saja ya?”
Dion memberi aba-aba ke Ega, Ega mengangguk dan memberi aba-aba ke Enu, Enu mengerti dan memberi aba-aba ke Beny, Beny mengerti dan memberi komando dengan ketukan stick drumnya. Kenapa Dion tidak langsung ngasih aba-aba ke Beny saja?
Kan udah dibilang mereka memang gitu orangnya.
Dengan aba-aba dari Beny maka lagu yang berjudul Plain Vanilla mulai mereka mainkan.
I Have a Plain Vanilla
She have me, She have me for now and tomorrow
I Have a Plain Vanilla
She hold my hand, She hold my hand for now and tomorrow
We smokin' our pieces Now and tomorrow,
Reff: Pure drugs of sorrow We smokin' our pieces
Lagu ini terus mengalun disetiap telinga-telinga orang yang ada disitu. Dan yang lebih serius mendengarkan lagu ini adalah Shani, bahkan dari liriknya tersebut seperti rencana seseorang yang ditujukan kepada seseorang yang ingin ditemuinya. Seperti hal nya yang diinginkan oleh Shani selama ini, dan diuraikan dengan kata oleh Dion.
Shani menutup mulutnya dengan tangan, “...J-Jadi... Distorsicks itu... kak Dion...”
Shani hanya bisa menatap Dion, alisnya mengkerut. Dan dia tertawa, tertawa karena tak menyangka orang yang selama ini ingin dia temui ternyata sudah lama dikenalnya bahkan keberadannya tepat berada didepan matanya.
Setelah selesai menyanyikan lagu maka Dion dan yang lain hendak kembali ketempatnya masing-masing. Shani yang sedari dulu menahan rindu dan ingin bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya lantas berdiri dan hendak mengampiri Dion.
Kenapa kau menghilang begitu saja... kenapa...” batin Shani yang sedih.
Langkah Shani yang hendak menghampiri Dion berhenti karena ia melihat Yona sudah menghampiri pria tersebut dan memberikannya minuman dingin. Shani terdiam, dia lupa kalau sekarang Dion sudah memiliki kekasih yaitu Yona.
“... Aku bodoh ya...” pikir Shani dengan senyuman.
Ditengah keramaian itu tak ada yang menyadari kalau air mata Shani sudah menetes dikedua pipinya karena semua perhatian terfokus pada hiburan yang sedang ditampilkan untuk memeriahkan acara pesta. Shani melihat Dion dan Yona yang tampak begitu bahagia dari cara mereka berbicara.  Shani pun harus menerima kenyataan yang ada didepan matanya kalau sosok yang ia rindukan itu sudah memiliki kekasih.
Entah sudah berapa rasa sedih dan kecewa yang menyerangnya pada malam ini, akan tetapi dia berusaha tegar dan siap menerima kenyataan walau pun dengan situasi ini ia ingin rapuh, serapuh-rapuhnya.
Dion dan Yona kemudian menuju meja kasir untuk mengobrol, Shani yang melihat itu segera mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasnya.
“Udah lama juga gak ngeliat kamu nge-Band,” Yona tertawa ringan.
“Ya gakpapalah sekali-kali.”
“Lagu tadi bagus,” Yona tersenyum.
“Makasih,” Dion membalas senyumannya.
“Tapi suara kamu jelek!” Yona memeletkan lidah dan cekikikan.
“Makasih lagi,” Dion terkekeh.
“Aku ngerapihin ini dulu.”
Yona berbalik badan untuk membereskan barang-barang yang ada disitu, Dion kemudian menoleh kebelakang sejenak untuk melihat hiburan apa yang sedang ditampilkan. Merasa tak menarik maka ia kembali menoleh kedepan.
“Ng?” alisnya mengkerut
Itu karena ia melihat secarik kertas dimeja, ia menoleh kearah Yona dan berpikir pasti bukan Yona yang melakukannya. Ia menoleh kearah sebaliknya ditempat yang menjadi titik buta pandangannya akan tetapi ia tidak bisa menemukan orang yang menaruh kertas tersebut.
“Hmmm.”
Dion meraih kertas dan membukanya, ada sebuah tinta hitam yang tertulis diatas kertas putih yang membuat Dion membelalakan matanya.
Aku sudah menemukanmu
Aku sudah melihatmu
Dan aku sudah berada dijangkauanmu.
Tapi takdir sudah memberikan kita jarak.
Takdir sudah memberikan kita kenyataan.
Dan Takdir yang sudah memberikan kehidupan kita masing-masing.
Selamat ya Dion, Yona akan menjadi PlainVanilla mu untuk selamanya.
Kuberikan nama ini kepadanya, sebagai pengganti diriku.
Dari kau yang menghilang, hingga aku dilalap rindu.
Dari aku, yang tak mampu memilikimu.
Dari aku, PlainVanilla... yang ada dimasa lalumu.
Terima kasih sudah pelabuhan rinduku.
Sekarang aku berjalan didermaga, meningalkan pelabuhan usangku
Untuk mencari pelabuhanku yang baru.
PlainVanilla :)
Dion tak kuasa menahan rasa kagetnya menerima puisi ini terlebih lagi puisi itu memang ditujukan kepadanya dan ia tahu siapa persis yang mengirimnya.
“P-P-Plain... k-kau disini...” gumamnya.
Dion menoleh kebelakang dan mencari-cari keberadaan seseorang yang dianggapnya ‘Plain Vanilla’ tapi dia tidak bisa menemukannya karena dia sendiri tidak pernah tahu seperti apa orangnya.
“Ng? Kamu kenapa? Kok serius gitu mukanya?”
Dion menoleh dan melihat Yona polos memandangnya, Dion kemudian tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gak.”
“Hmm,” Yona memanyunkan bibir dan melihat kertas yang dipegang Dion, “Itu kertas apa?”
“Oh ini... gak tau juga ini kertas apa hehe... aku kebelakang dulu ya, mau merokok sebentar,” pamit Dion.
“Sekalian buangin kantong sampah didapur ya?” pinta Yona.
“Iya.”
Dion kemudian berjalan menuju dapur setelah itu ia berjalan menuju pintu belakang, setelah membuang sampah maka ia kembali melihat kertas tersebut. Ia menyalakan rokok dan menadahkan kepalanya keatas.
“... Aku bahkan tak tahu siapa dirimu...” gumam Dion.
Hanya langit malam yang disinari rembulan yang bisa dilihat Dion. Lama ia memandang langit sampai akhirnya ia mendengar suara sesuatu, suara cegukan seperti orang menangis. Ia tentu saja penasaran karena dirasanya tidak ada orang lain selain dirinya disitu.
Perlahan demi perlahan pria ini berjalan mengikuti arah sumber suara, didekat belokan bercahayakan lampu yang terang itu dia menemukan jawabannya.
“Shani?!”
“Eh?!” Shani terkejut dan menoleh, bisa terlihat kalau wanita ini tidak tahu kalau ada Dion sedari tadi.
“Kau kenapa menangis?”
“T-Tidak... hanya...”
“Ya Tuhan,” potong Dion dan menghampiri Shani, “Yuk masuk, kamu...”
Tapi disaat Dion hendak mengampiri, Shani malah memundurkan jaraknya. Dion tertegun melihat Shani yang masih menangis dan berusaha menghentikan tangisannya. Shani terus-menerus menyeka air matanya sedangkan Dion menatap Shani dan memandang kertas yang ia pegang sedari tadi.
“Gakpapa kok, kak, nih udah berhenti,” Shani tersenyum kepada Dion.
Dion menoleh kedepan dan melihat Shani benar-benar berhenti menangis. Tapi tak ada suara yang dikeluarkan Dion, ia masih memandang Shani.
“Aku masuk dulu ya kak...” pamit Shani.
Shani kemudian hendak masuk kedalam lewat pintu belakang, pintu yang ia gunakan saat keluar tadi. Ia melewati Dion dan terus berjalan sampai akhirnya Dion mengeluarkan suaranya.
“Plain?”
Shani berhenti dan dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menangis lagi akan tetapi ditahannya.
Dion menolehkan sedikit kepalanya kebelakang, “Shani... kamu Plain kan?”
Shani menutup mulutnya dengan tangan dan sebisa mungkin menahan tangisnya yang ia bisa. Dion yang mengetahui itu tak banyak bicara dan tetap berada diposisinya.
Lama mereka terdiam dengan posisi saling membelakangi akhirnya Dion kembali membuka suaranya.
“Maaf...”
Shani dengan isak tangis yang tersisa kemudian menjawab, “... Tidak apa...”
“Maaf... hanya itu yang bisa kulakukan... luar biasa sekali kan?”
“Ya... kau benar-benar luar biasa... menghilang begitu saja... menghilang tanpa bekas,” Shani tersenyum.
“...... Kau boleh memukulku... menamparku... apapun itu yang bisa membuatmu lega....”
Shani menggelengkan kepalanya, “Kalau pun kulakukan itu tidak bisa mengubah kenyataankan?”
“.... Aku tak tahu apa yang harus kulakukan... hanya maaf....” Dion menundukan kepalanya.
“Yang harus kau lakukan adalah tidak melakukan apa yang kau lakukan dulu  kepadaku... jangan kau perlakukan kak Yona seperti itu...”
“.... Apa kau setegar itu?”
“Tidak juga... aku menangis bukan?” Shani tersenyum.
Dion tersenyum tipis mendengar hal itu, Shani berbalik badan dan perlahan berjalan menghampiri Dion. Ia menggengam erat pakaian Dion dan menutup wajahnya dengan punggung pria ini.
“.... Kau tahu apa yang kubenci bukan?” tanya Shani.
“Ya... merusak apa yang tak seharusnya dirusak... kau sering mengatakannya di-Chat.”
“Ya,” Shani tersenyum, “Dan salah satunya hubunganmu...”
“Tapi aku sudah jahat kepadamu, setidaknya berikan aku sesuatu untuk menebusnya...”
“Kalau begitu bahagiakan kak Yona, seperti yang selama ini kuharapkan darimu... bahagiakan dia, jangan kecewakan dia...”
“Lalu bagaimana dengan dirimu?”
“Aku hanya mengenang masa lalu bodoh!” Shani tertawa ringan, “Dan kalau ini penebusan yang kau mau... lakukan yang seperti kupinta tadi... jangan tinggalkan dia ya?”
“.... Dan kau?”
“Hmm,” Shani tersenyum, “Mungkin sudah saatnya aku membuka hatiku untuk yang lain.”
“... Membuatmu terbelenggu selama ini... aku benar-benar tak menyangka kau benar-benar berharap kepadaku...”
“Yah, setidaknya dengan hal ini kita berhasil membuktikan kata bijak yang kita buat bersama bukan?”
Dion terdiam, dan tak lama kemudian dia tersenyum, “... Ya...”
“Buktikan kalau kau masih mengingatnya...” pinta Shani.
Dion menoleh sedikit kebelakang dan berkata, “Berani berharap...”
“... Berani kecewa” Shani tersenyum, “Dan sekarang kata-kata yang kita buat itu sudah terbukti kan?”
“Hanya saja aku tak menyangka pengalaman kita yang membuktikannya.”
“Kalau secara teknis itu menjadi pengalamanku, bodoh...”
“Ya... aku hanya orang bodoh...”
“Bodoh,” Shani tersenyum.
“... Terima kasih...” Dion juga tersenyum.
“Sama-sama.”
Setelah 2 menit berada didalam posisi itu maka Shani melepaskan diri dan menyeka air matanya, ia kemudian masuk kedalam dan membiarkan Dion yang begitu tenang memandang langit malam,yang begitu tenang hari ini.
Setenang perasaan mereka berdua yang menyikapi semua.
[ B E R S A M B U N G ]
B E A U T I F U L L  A U R O R A ® III
[ C E L O T E H A N ]
Jangan lupakan Sholat 5 waktu (Buat pembaca muslim)

© Melodion 2017 All Right Reserved.

Beautifull Aurora III | Chapter 24 : For Now and Tomorrow Beautifull Aurora III | Chapter 24 : For Now and Tomorrow Reviewed by Melodion on Januari 05, 2018 Rating: 5

1 komentar:

  1. Anjir, gue cengeng banget pas baca puisi dari Plain buat Dist 😭😭😭😭

    BalasHapus

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.