31 January 2018

Hantu Narsis

Hantu Narsis

K
emarin kamu mengajak aku ke suatu tempat. Kamu bilang kalau tempat itu adalah tempat yang ramai, banyak orang datang untuk menikmati berbagai macam wahana dengan gemerlap lampu kelap-kelip di malam hari. Bahkan kamu mengajak aku membeli souvenir, pakaian, atau makanan yang ada di sana. Kamu sangat bersikeras dan bersemangat saat mengajakku ke sana. Lihat bagaimana senyummu tertarik sangat lebar dengan barisan gigi putih yang rajin kamu rawat, ditambah paras cantikmu yang tiada duanya, seperti malaikat yang dijatuhkan Tuhan ke bumi. Kamu membuatku tidak bisa untuk menolak ajakanmu pergi. Alhasil, tanganmu aku gandeng, kita pun melangkah beriringan menuju tempat itu.
            Kamu sangat senang saat kita sampai di tempat itu, tak henti-hentinya kamu memasang senyum. Kamu riang seperti anak kecil yang diberi permen kapas oleh ibunya saat kamu melihat satu wahana perahu yang diayun-ayunkan ke depan dan ke belakang dengan kencang. Sorot matamu berbinar, memohon padaku agar kamu bisa menaikinya. Kamu menggerutu, wajahmu mendadak lesu, karena kamu tahu kalau aku melarangmu naik wahana itu. Kamu bersikeras, terus memohon padaku, wajahmu bahkan memelas seperti gadis kecil yang minta dibelikan boneka. Lagi, kamu berhasil membuatku luluh.
            Kamu menarik lenganku menuju wahana itu. Alismu mengkerut, mendadak wajahmu berseri tegang. Wahana itu menyeramkan. Tapi kamu rasakan genggaman tanganku, mengusapnya lembut bak kain tenun yang sudah dipintal. Kamu memang merasa takut dengan wahana seperti ini, tapi kamu mengeratkan peganganmu pada tanganku. Berseru kalau kamu sendiri berani. Kamu melihat padaku yang sedang merekahkan senyum. Kita pun naik wahana menyeramkan itu dengan keberanian.
            Berkali-kali kamu cemas sesaat wahana perahu bergerak maju mundur secara perlahan. Berkali-kali tanganku kamu genggam, tak ingin lepas, saat dorongan perahu sedikit demi sedikit bergerak cepat. Berkali-kali kamu berseru panik, memanggil-manggil namaku, saat wahana perahu semakin bergerak sangat cepat. Namun, tak lama kamu berseru senang, tertawa tanpa beban ketakutan yang sempat mendera dirimu. Kamu mulai menikmati betapa asyiknya wahana menakutkan ini. Aku tersenyum senang.
            Sekarang, setelah kamu gembira naik wahana perahu itu, kamu mengajakku menaiki wahana lain. Kamu bilang padaku dengan intonasi suara yang sangat khas, “Aku mau menikmati semua wahana yang ada di sini. Dengan adanya kamu, aku jadi merasa senang sebelum waktu itu tiba datang padaku.”
Kamu terlihat senang sekali malam ini, tapi aku tersenyum kecut mendengar ucapanmu tadi. Kamu mungkin sedang melihatku yang berusaha menyembunyikan senyum kecut itu bahkan disertai wajam muram, sedih. Tapi mungkin kamu tahu kalau semua yang aku lakukan kepadamu selama ini adalah demi kebaikanmu. Tanganku kamu genggam erat, membawanya ke pipimu yang sekarang mulai mengembung seperti bakpao—sebelumnya pipimu masih tirus, tapi perlahan kembug, kebanyakan makan. Kamu mengelus punggung tanganku dengan pipimu itu. Bibirmu merekahkan senyum.
            “Ayo, mumpung aku masih di sini, ajak aku bersenang-senang,” ajakmu, melepaskan pegangan tangan, masih tersenyum.
            Kamu memang wanita yang membuat perasaanku luluh lantah. Kamu cantik, kamu humoris, kamu baik dan suka menolong pada sesama. Kecantikan luar dalam ada pada dirimu. Pria mana yang tidak akan jatuh hati denganmu. Jika tidak ada, maka dia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan lebih jauh denganmu. Kurasa kamu bukanlah manusia, melainkan malaikat yang dititipkan Tuhan kepada hamba-Nya.
            Langkah kakimu sedikit cepat saat kita menyusuri jejeran stand yang menjual souvenir. Kamu membawaku ke salah satu stand yang menjual kalung-kalung. Kamu sangat suka kalung, yang berwarna perak dengan bandul huruf terpasang di tali kalungnya. Kamu kebingungan mencari kalung mana yang cocok kamu pakai. Kalung-kalung di sini menarik untuk dibeli. Kamu mencoba bertanya pada si penjualnya, tapi si penjual memandangmu dengan tatapan skeptis, ada setetes keringat keluar dari kerutan dahinya. Si penjual tak menjawab, malah mengalihkan pandangannya menjauh darimu. Kamu cemberut.
            “Aku pilihkan kalungnya, ya,” aku menyergah. Satu kalung yang terpajang di etalase kini sudah di tanganku. Kamu melihat kalungnya, wajahmu berseri senang. “Kamu suka sekali dengan bandulnya berbentuk huruf, kan. Jadi aku memilihkan bandul behuruf D, sesuai dengan namamu. Desy.”
            Kamu berseru senang melihat kalung yang baru saja kupilihkan. “Kupakaikan kalungnya padamu, ya.”
            Kamu mengangguk. Kalung berbandul huruf D kini sudah melingkar di lehermu. Tak hentinya kamu mengucapakan kata “terima kasih” padaku sambil sedikit memainkan kalungmu. Jika kamu terlihat senang seperti ini, aku pun merasakan hal yang sama.
            “Mas, berapa harga kalung ini?” Kutanyakan harga kalung ini kepada si penjual. Dia masih memalingkan wajahnya dari kami, tak berani menatap, terutama kepada gadisku.
            “I-tu gratis, Mas,” jawab si penjual, gugup.
            “Yang benar, Mas?”
            Si penjual mengangguk cepat. “A-ambil saja, Mas, itung-itung sebagai hadiah.”
            “Ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Mas.”
            Kugenggam tanganmu, mulai menjelajah kembali seluruh pasar malam ini. Tak henti-hentinya senyum terukir di bibirmu. Malam ini begitu cerah dengan cahaya bulan menerpa serta tak banyak awan menutupi langit. Itu merupakan pertanda bagus bahwa suasana hatimu sangat senang malam ini. Kamu sudah mulai sedikit melupakan waktu yang nanti akan segera tiba mendatangi dirimu. Sebentar lagi. Tidak, malam ini, tepat saat tengah malam.
            Tanganku ditarik olehmu, membawanya ke salah satu bangku panjang. Kita duduk berdua di sana, memandangi lalu lalang pengunjung pasar malam ke tiap stand maupun wahanan. Sudut bibirmu merekah ketika seorang gadis kecil merengek minta dibelikan permen kapas oleh ibunya. Kamu mengalihkan pandangan ke arah lain. Suara tawamu yang khas masuk ke indra pendengaranku. Kamu tertawa tiga remaja laki-laki sedang bermain permainan lempar bola ke tumpukan kaleng di salah satu stand permainan. Kamu tidak bisa menahan gelak tawamu semakin keras saat salah satu dari tiga remaja itu salah melempar, malah mengenai si penjaga stand itu. Kemudian kepalamu dialihkan ke arah lain, wajahmu berubah sendu, melihat sepasang muda-mudi sedang menikmati permen kapas sambil tertawa senang.
            Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu memikirkan tentang hubungan kita. Hubungan yang sudah cukup lama kita jalani, empat tahun lamanya. Kamu tidak pernah sampai sesedih ini jika sedang bersamaku, selalu saja ada gelak tawa gembira yang kita tunjukkan. Kamu merupakan primadona yang sulit aku lepaskan. Jika sampai itu terjadi, apa jadinya aku nanti. Tapi kamu tetap tegar, meski kesedihan kini kian mendatangi dirimu. Seperti kata kebanyakan orang, kalau ternyata perempuan lebih kuat dibanding laki-laki. Mungkin karena itulah aku semakin terpikat denganmu.
            “Aku ingin berfoto,” katamu tiba-tiba. Bibirmu merekah membentuk senyuman. Kembali, tanganku kamu genggam, memohon agar aku mengabulkan keinginanmu. Bagaimana aku bisa menolak wanita yang aku sayangi.
            Aku mengangguk takzim. Mengambil ponsel dari dalam saku celana, lantas mengaturnya ke dalam mode kamera. Kamu sudah siap berpose saat ponselku terangkat ke atas, memosisikan diri seperti sedang selfie. Jepretan kamera ponsel disertai cahaya kilat menerpa kita berdua. Tampilan hasil jepretan tampak di layar ponsel. Posisi kita saling berdekatan, saling mempertemukan pipi satu sama lain. Kamu begitu lucu saat menghadap kamera sambil menjulurkan lidah dan bola mata yang sengaja kamu buat juling. Kamu tertawa melihat tampilan gambar diriku pada layar ponsel hanya memasang gaya monoton, tanpa ekspresi, meski ada secuil senyum.
            “Kamu jelek banget kalau difoto,” ejekmu. Aku tidak marah. Bagiku, buat apa marah hanya karena ejekan kecil dari orang yang kusayangi.
            “Aku tidak pandai bergaya kalau difoto, Des.”
            “Tapi hasil fotonya bagus kok. Aku suka.” Kamu tersenyum. “Ayo, kita foto lagi.”
            Kita pun kembali berfoto. Hanya kamu yang paling antusias, bahkan kamu memintaku meminjamkan ponselku dan ber-selfie ria. Kamu sangat suka sekali berfoto seperti itu. Orang-orang tampak sedang memandang skeptis kita. Banyak dari mereka memasang wajah takut dan menghindar dari kita, seakan-akan keberadaan kita di sini mengganggu keasyikan orang-orang ini. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah terlanjur ikut hanyut dalam kesenangan yang kamu tunjukkan. Kamu seperti virus yang menyebarkan kesenangan ke orang lain.
            Kamu menyerahkan ponsel padaku, meminta agar kamu dipotret olehku. Kuturuti kemauannya seraya tersenyum. Kamu mulai berpose bak seorang model. Banyak gaya yang kamu perlihatkan dan aku mengabadikannya dengan jepretan ponsel. Kamu tampak senang, aku pun sama. Tawaku sedikit tergelak saat melihat hasil jepretanku yang terakhir. Kamu keheranan, lalu mencoba melihat hasil jepretanku.
(Ilustrasi hasil jepretan)
            Kamu belum siap berpose tapi aku terlalu buru-buru menjepretnya. Alhasil gagal berpose bak model profesional. Kamu menggerutu, sedikit mencubit lenganku melihat hasil jepretanku yang gagal. Tapi tak lama kamu tertawa, seakan itu adalah semacam hiburan untuk kita. Kita duduk lagi di bangku panjang, tak lagi berfoto. Kamu memandang langit malam yang tampak cerah dengan beberapa bintang gemerlap menghiasi. Kemudian, kamu mengalihkan pandanganmu padaku. Secercah bulir air tampak hendak menerobos keluar melalui sudut matamu. Tapi senyummu masih terus merekah seperti sebelumnya.
            “Malam ini aku merasa senang sekali,” kamu mulai berucap. Bulir air matamu terus merangsak keluar, tapi kamu berusaha menahannya. “Terima kasih ya sudah menemaniku. Sekarang sudah tiba waktunya, antarkan aku pulang.”
            Kamu sudah tidak bisa menahannya lagi. Air matamu kini sudah jatuh, tetes demi tetes, meski senyum malaikatmu masih kamu tunjukkan. Aku tahu kamu berusaha menyembunyikan hal itu, tapi bagaimana pun caranya aku tetap bisa mengetahuinya. Bagaimana pun kamu adalah orang yang aku sayangi, meski sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk pulang. Ya, pulang ke rumahmu yang sebenarnya. Kuantarkan kamu pulang hingga kamu terlelap di atas ranjang manismu. Meski aku tak bisa menampik getaran getir yang merangsak masuk ke dalam diriku.
            Sesuai janji, kamu sudah berada di rumahmu, aku mengantarmu dengan selamat tanpa lecet sedikit pun. Kamu kini merekahkan senyum manis, aku terenyuh. Rasanya rasa getir dalam diriku sedikit mereda. Tanganku kamu genggam erat, seakan tak ingin lepas. Kubalas senyummu dengan senyum yang tak kalah manis, meski aku tidak manis.
            “Terima kasih, ya,” ucapmu, tanpa menghilangkan senyum.
            Kusunggingkan senyuman, membalas ucapan terima kasihnya. “Tidak perlu berterima kasih, karena aku merasa sangat senang. Sama sepertimu sekarang.”
            Tanganmu semakin erat dalam genggaman. Kamu maju mendekat padaku. Senyummu semakin merekah lebar. Jarak kita semakin dekat, hingga bisa kurasakan hembusan napasmu menggelitik leherku. Kamu berjinjit, lantas mendaratkan ciuman pada pipiku. Hangat dan terasa lembut, membuatku sedikit tenang. Sekarang sepasang mata kecokelatan milikmu beradu dengan sepasang mataku.
            Kamu berucap, “Semoga suatu saat nanti kita bisa dipertemukan kembali.”
            Kamu selalu saja merekahkan senyum malaikatmu padaku, meski kini tanganku sedang mengelus lembut wajahmu, membelai rambut sebahumu yang seperti mahkota. Kalung berbandul huruf D masih melekat di lehermu, aku menyentuh bagian bandulnya.
            “Kita pasti akan dipertemukan kembali jika di sana kamu tidak menghilangkan kalung ini,” kataku seraya menunjuk kalung berbandul huruf D miliknya.
            Kamu lagi lagi tersenyum. “Aku akan menjaga kalungnya dengan baik, karena kalung ini adalah pemberian dari orang yang paling aku sayangi.”
            Kubalas ia dengan senyum yang tak kalah manis. Lalu puncak kepalamu kuusap perlahan seperti sedang mengusap anak kecil. Kamu melangkah mundur, berdiri di atas gundukan tanah. Tanganmu melambai padaku tanpa melepaskan senyum. Sekali lagi kamu berkata,
            “Aku yakin kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal.”
            Tanganku ikut melambai melihat sedikit demi sedikit tubuhmu mulai memudar, seperti proyeksi cahaya yang meredup. Tubuhmu kini seperti proyeksi bayangan, namun sedetik kemudian timbul secercah cahaya dari bawahmu, menjalar ke atas tubuhmu, lantas mengikis habis tubuhmu sampai tak bersisa. Tapi sesaat sebelum tubuhmu terkikis, wajah cantikmu membuatku merasa tenang. Aku sudah menerima kepergianmu, dan mungkin suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi denganmu.
            Hembusan angin malam menerpa kulitku. Sepasang lututku beradu dengan tanah, kedua tanganku mengepal menghadap gundukan tanah yang baru saja kamu pijak sebelum kamu pergi. Kupanjatkan doa yang menyertai kepergianmu dari dunia, kembali ke sana, ke sisi-Nya. Kuhembuskan napas, tersenyum menatap nisan milikmu ini, yang bertuliskan namamu. Desy.
SELESAI
Oleh                : Martinus Aryo
Twitter           : @martinus_aryo
Instagram       : @dasar_ampas

####
Corat-coret:
Ini cerpen ketiga yang saya buat. Nggak tahu mau komentar apa. Nggak tahu juga kenapa saya ngasih judul Hantu Narsis, cuma terlintas di pikiran aja. Hehehe.
Terima kasih sudah membaca.

Bonus foto Desy ^^


CLICK THE PICTURE FOR MORE INFORMATION!

2 comments:

  1. kok cerita hantu narsisnya kurang mengena ya?agak janggal aja nih jalan ceritanya?

    ReplyDelete