31 January 2018

Numeriq | File X : Murder of the Murderer

REDRUM bermasalah dengan kelompok pembunuh bayaran BLACK SNAKE. Simak kisahnya berikut ini.

۩ N U M E R I Q ۩
Desiran suara hujan yang deras terus membasahi hutan belantara yang gelap dan dingin. Seorang anak kecil terus merangkak dari tempatnya berada, tak perduli dengan terpaan air hujan dan tanah yang mengotori badannya. Ia tertatih-tatih, tangan kanannya yang mungil itu terus memegang bagian mata kanannya yang mengalirkan darah. Ia terus menyeret tubuhnya, tanpa memperdulikan luka yang terdapat diseluruh tubuhnya. Dan suara tangis terus ia keluarkan.
“... Kalian dimana.... tolong aku... kalian dimana...”
Bunyi petir yang memekakan telinga mengagetkan anak itu, berkat cahaya seadanya dari petir tersebut ia bisa melihat sebuah gua tak jauh dari tempatnya berada. Ia kembali merangkak dan terus merangkak dengan tubuhnya yang kecil itu. Gua itu pun menjadi tempat berlindungnya sementara, ia duduk dan bersandar didinding gua.
“Sakit.... sakit....”
Ia menangis dan terus mengeluh, kedua tangannya itu sekarang memegang bagian mata kanannya. Suara petir lagi-lagi mengagetkannya dan ia meringkuk ketakutan. Dengan perlahan ia menoleh kearah luar gua dan lagi-lagi suara petir mengagetkan dirinya.
Dan berkat cahaya petir itu sekilas memperlihatkan kondisi wajah anak kecil itu.
Wajahnya terus merengut, mata kirinya sedari tadi mengeluarkan air mata, sedangkan mata kanannya tertutup dan tertoreh luka goresan baru sehingga darah terus mengalir dari lukanya tersebut. Dengan isak tangisnya itu dia terus berbicara.
“.... Kalian dimana.... aku sendirian.... tolong aku....... tolong....”
Anak sekecil itu terus melolong dan menangis didalam gua. Gelap, suram dan hujan yang memekakan telinga. Ia terus menangis dengan mata kanannya yang terus berdarah karena lukanya.

Perlahan demi perlahan kedua pasang mata terbuka yang dimana ada luka sabetan dimata kanannya. Seorang pria berambut putih kehitam-hitaman memandang langit-langit ruangannya dan termangu mendengar bunyi petir yang memekakan telinga yang ada diluar ruangan.
“...Cih,” gumamnya.
Pria ini adalah Bing, ia sedang terbaring diatas sofa usang dan memandang kipas angin yang ada dilangit-langit ruangannya. Ia beranjak dari dan duduk disitu, terpaan air hujan yang menerpa jendela menjadi pusat perhatiannya sekarang. Ia terus memandang jendela dengan raut wajahnya yang kosong. Tangan kanannya itu kemudian memegang bagian mata kanannya.
Bunyi ketukan pintu tak menarik perhatian Bing, tak ada respon yang ia berikan sampai akhirnya pintu itu terbuka dan terlihat seorang pria dengan jenggot tipis memandang tempat Bing duduk.
“Apa?” tanya Bing tanpa mengubah posisinya.
“Mikro sudah melakukannya,” ujar pria jenggot tipis tersebut.
Bing tak mengeluarkan suaranya, ia hanya mengibas pelan tangan kirinya itu untuk memberi tanda ‘Keluar’. Mengerti maksudnya maka pria berjenggot tipis itu berkata.
“Kutaruh payung disini,” katanya, dan menaruh payung didepan pintu ruangan Bing.
Pria berjenggot tipis itu pergi dan membiarkan pintu terbuka. Bing kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan. Ia menutup pintu dan meraih payung yang ditinggalkan pria sebelumnya. Ia melanjutkan perjalanannya dengan payung yang diterus diketuk-ketukan dipundak. Langkah kakinya terus menginjak tangga usang yang menjadi tujuannya kebawah, sebuah bangunan tua yang tak sedap dipandang.
Bing keluar dari pintu belakang yang dimana gang sempit menjadi jalannya. Ia membuka payung dan berjalan ditengah hujan dengan penerang jalan yang redup. Ia terus berjalan dan langkahnya berhenti saat melihat pria bertubuh besar menendang seorang anak kecil yang terus mendekap bungkusan roti didekapannya.
BERANI-BERANINYA KAU MENIPUKU! AKU BILANG SERAHKAN SEMUA PENGHASILAN YANG KAU DAPAT HARI INI! AKU TIDAK MENYURUHMU MENCURI UANG UNTUK MAKANAN SIALAN KAU ITU!” teriak sang pria besar itu dengan bahasa penduduk setempat.
MAAFKAN AKU! AKU INGIN MEMBERIKAN INI UNTUK ADIK DAN IBUKU!! MEREKA BELUM MAKAN DARI KEMARIN! MAAFKAN AKU!!” teriak anak itu yang menangis karena rasa sakit yang ia terima.
KAU PIKIR AKU PERDULI HAH?!
Tanpa ampun pria itu menendang tubuh anak kecil itu, anak kecil itu terus meraung kesakitan dan mempertahankan bungkusan roti yang ada didekapannya. Bing tampak tak perduli karena daerah tempat ia berada ini bukanlah suatu yang mengherankan lagi, negara Meksiko memang memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi. Dan daerah tempat Bing berada juga salah satunya.
Bing melanjutkan perjalanannya dan melewati aktifitas yang ada disitu. Pria itu melihat Bing dan memandangnya bengis.
Jangan ikut campur!” serunya.
Tapi Bing memang tidak perduli, ia terus berjalan melewati pria besar itu dengan payung yang ia gunakan. Pria itu menyeringai dan menendang genangan air kearah Bing. Setelah itu ia kembali memandang anak kecil dekil yang tak berdaya.
Kau lihat! Akulah penguasa daerah ini!” seringainya.
Pria besar itu kembali menganiaya anak kecil tersebut tanpa ia ketahui kalau Bing sudah tidak melanjutkan perjalanannya. Bing berhenti dan melihat celananya yang menjadi basah gara-gara tendangan genangan air dari pria besar itu sebelumnya.
“Haaaaah,” Bing menghela nafas sejenak.
Ia menutup payungnya dan membiarkan hujan menerpa dirinya, ia mengikat payung itu dengan pengikat yang ada setelah itu ia berbalik badan dan menghampiri pria besar tadi.
Saat pria itu mau menendang sang anak kecil dengan cepat Bing melingkarkan gagang payung yang melengkung itu dikaki satunya, ia menarik payung itu dengan hentakan yang sangat kuat dan betapa kagetnya pria besar itu saat tubuhnya terpleset kedepan dan wajahnya membentur dinding.
AARGGGGHHH!!!” lolongnya kesakitan dan hidungnya merembeskan darah.
Mau kau cuci celanaku ini? Aku butuh 1 jawaban, ya atau tidak?” balas Bing dengan bahasa yang sama.
Bing berjalan kearah dirinya dan pria besar itu berbalik badan dan memandang dirinya.
KAU!” pria itu hendak berdiri.
Akan tetapi Bing dengan cepat menginjak selangkangan pria itu. Pria besar itu berteriak dan terperusuk membentur dinding. Dengan gagang payung maka digunakan Bing untuk menghantam wajah orang itu bertubi-tubi. Anak kecil yang ada didekat pria itu terperangan melihat Bing menganiaya pria besar yang menganiayanya tadi.
ORRGGGGHHHH!” pria besar itu pun memuntahkan darah, wajahnya babak belur akibat hantaman gagang payung Bing.
Bing memutar arah payungnya dan melihat ujung payung berbentu lancip tumpul tersebut. Ia melirik pria besar tersebut dan menyeringai.
Menguasai daerah? Heh! Kau bahkan tak bisa menguasai rasa sakitmu! Dan tadi sudah kubilang.... aku hanya butuh 1 jawaban.
Tanpa basa-basi dengan ujung payung itu maka Bing menusuk mata kiri orang itu dengan. Orang itu berteriak akan tetapi Bing menendang kerongkongannya dengan keras. Bing menarik payungnya dan menusuk mata kanan pria itu dengan ujung payung. Pria itu kembali hendak berteriak akan tetapi tertahan gara-gara Bing kembali menendang kerongkongannya.
Dicabutnya payung itu dan Bing menendang pria itu hingaa tersungkur kesamping, dan tanpa ampun sama sekali Bing menginjak-injak leher orang itu hingga Bing merasakan kalau leher orang itu patah. Bing menyeringai melihat pria besar yang barusan dia bunuh, ia kembali mengetuk-ngetuk payung itu dipundaknya dan menoleh kearah anak kecil yang terperangah melihat pembunuhan didepan matanya.
Bing berjalan kearahnya dan berkata, “Dan kau...
Ugh!!!!
Anak kecil itu merintih saat Bing menginjak kepalanya hingga wajahnya bertemu dengan tanah, Bing menyeringai dan melanjutkan ucapannya, “Aku tak suka orang lemah, biarpun kau anak kecil sekali pun!
Anak kecil itu merintih dan ketakutan, ia bingung kenapa orang yang menyelamatkannya ini justru ikut menganiayanya. Bing melepaskan injakannya dan berjongkok. Bing mencoba mengambil bungkus roti yang didekap anak tersebut.
J-Jangan!!! Kumohon!” anak kecil itu berusaha mempertahankan rotinya.
Menangislah, kau akan sadar itu tidak akan membantumu.
Kumohon jangan! Ini untuk ibu dan adikku! Aku mohon!” tangis anak tersebut.
Bing tak perduli, ia berhasil merebut roti tersebut dan menampar wajah anak itu dengan bungkus roti.
Kau pikir aku sukarela menolongmu? Kau harus membayarnya dan roti ini kurasa cukup.
Tanpa memperdulikan tangisan anak kecil, Bing membuka bungkus roti dan memakan roti tersebut tepat dihadapannya. Anak kecil itu benar-benar ketakutan dan sedih karena apa yang sudah dipertahankannya itu sia-sia. Bing malah tidak melahap semua roti itu dan membuangnya ketempat yang jauh, anak kecil itu menangis melihat roti yang sudah kotor karena genangan air hujan.
Kalau kau mampu melakukan sesuatu dengan baik jangan melakukannya secara gratis, itu cara bertahan hidup didunia ini! Bocah!” seru Bing.
A-aaaaa....” anak kecil itu terus menangis melihat rotinya.
Dan,” Bing memegang kepala anak itu dan mengarahkannya kearah mayat pria yang barusannya dibunuh, “Kesempatan juga merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup.
Bing melepaskan pegangan tangannya dan anak kecil itu terpaku, ditengah isakan tangisnya itu ia merasa perkataan Bing ada benarnya. Apalagi pembunuhan sudah bukan hal yang mengherankan lagi didaerahnya ini. Bing berdiri dan hendak melanjutkan perjalanannya.
Setelah Bing menghilang dari pandangannya maka dengan cepat-cepat anak kecil  menghampiri mayat pria besar tersebut, ia memeriksa semua kantong celana dan tak menyangka kalau pria ini begitu banyak menyimpan uang disetiap kantong celana yang dimilikinya.
I...I-Ini lebih dari cukup untuk membeli 10 buah roti,” senyum anak kecil itu merekah dan menoleh kearah tempat Bing pergi tadi.
Bing terus berjalan hingga memasuki tempat hiburan yang ada disitu. Ia terus melewati orang-orang bahkan wanita-wanita yang bertelanjang dada. Suara hingar bingar tempat itu meredup saat ia memasuki suatu ruangan yang bersambung keruangan lainnya. Dan ruangan itu terdapat 3 orang yang sudah ada disitu.
“Perasaanku Ringgo mengantar payung ketempat kau tadi,” Milo menyeringai dengan wajahnya yang sedikit membengkak.
“Bagaimana?” Bing tak perduli dan melempar payung itu kesembarang tempat, ia duduk disalah satu kursi.
“Kau darimana?” tanya orang yang duduk dihadapan laptop.
“Tak penting,” Bing menatapnya dan melihat handphone berbentuk unik yang tersambung dengan laptop.
“Mikro berhasil memecahkan kata sandinya,” jawab Milo dan duduk diatas meja sambil merokok.
“Lalu?” Bing menatap Mikro, pria yang duduk dihadapan laptop.
“Organisasi itu sangat berhati-hati, struktur benda ini begitu rumit, kurasa bukan orang sembarangan yang menciptakan handphone seperti ini. Bahkan ada sistem sidik jari yang terhubung dengan aliran listrik statis yang cukup kuat.”
“Aku tak menanyakan itu, jadi apa yang bisa dilakukan dengan benda ini?” tanya Bing.
“Kau tak sabar sekali,” Mikro terkekeh.
“Lebih baik kau cepat mengatakannya, kau kira aku terima wajahku ini dihajar pria sialan itu?! Akan kucari seluk beluk dia nanti, entah dia Redrum atau bukan!” kata Milo geram, dan yang dimaksud dia tentu saja Bayu yang membuatnya babak belur seperti itu.
“.... Dan siapa orang itu?” Bing melirik seorang pria yang terduduk dengan kondisi babak belur.
Sebuah tembakan menembus kepala orang tersebut, Milo kemudian meniup ujung pistolnya dan berkata, “Hanya orang yang merasa dirinya hebat diatas sana.”
“Aku tidak mau mengurus mayatnya,” kata Mikro cuek.
“Jadi apa?” Bing kembali bertanya kepada Mikro.
Mikro melepaskan kabel-kabel yang terpasang di-handphone khusus anggota Redrum dan berbicara.
“Aku sudah memecahkan kata sandinya dan sepertinya handphone ini bisa digunakan untuk menembus database mereka.”
“Semua database mereka?”
“Ya,” Mikro melempar handphone itu kearah Bing.
Bing menangkap handphone itu dan menatapnya, “.... Kenapa mereka memblokir handphone ini dengan kata sandi.... seharusnya mereka berpikir kalau pasti ada orang yang mencoba menjebol kata sandinya.”
“Itu juga yang menjadi pikiranku,” sambung Milo.
“Yang pasti aku sudah menyelesaikan tugasku, dan kau saja yang mencoba masuk ke database mereka.”
“Apa ada indikasi handphone ini akan terlacak saat memasuki database mereka?” tanya Bing.
“Kurasa tidak, kau sudah membongkar seadanya dan membuang pelacaknya bukan ditengah laut didalam perjalan kalian kesini?”
“Hmm,” Bing kembali menatap handphone.
“Gunakan ini,” Mikro melempar sarung tangan yang dimana tiap-tiap jarinya terpasang potongan kulit sidik jari milik Doni, anggota Redrum yang tewas dibunuh Bing.
Bing memakai sarung tangan itu karena butuh sidik jari Doni agar handphone itu bisa digunakan dan Mikro tidak mengetahui cara meng-nonaktifkan pengaman handphone itu yang akan mengalirkan listrik dengan sidik jari orang lain.
“Apa password-nya?” tanya Bing.
“4424,” jawab Mikro.
Kata sandi itu ditekan Bing dan terbukalah isi yang ada didalamnya, Bing menekan icon yang sepertinya bisa digunakan untuk menembus database milik Redrum.
“Hmm,” Bing menyeringitkan dahi.
“Ada apa?” tanya Milo mewakili Mikro.
Bing tidak menjawab, ia menunjukan layar handphone yang terjadi glitch dimana-mana.
“Kau menekan apa?” tanya Mikro.
“Aku memasuki database mereka dan tiba-tiba glitch.”
“Hmmm kurasa itu keamanan keduanya,” ujar Mikro.
“... Mungkin...” Milo menoleh kearah Bing, “...Itu digunakan organisasi sana, apabila kita berhasil memecahkan kata sandi dan menembus database mereka... dan itu berarti mereka tahu kalau kita mencoba memasuki database mereka.”
“Kurasa kau benar,” sambung Mikro.
“Hmm,” Bing tersenyum memandang handphone dan kembali memandang Milo dan Mikro, “Organisasi yang menarik.”
“Ya dan... “Mikro menyeringitkan dahi, “Hei, kenapa dengan handphone-nya itu?”
“Ng?” Bing menoleh dan melihat handphone yang dipegangnya itu mengeluarkan aliran-aliran listrik kecil yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
“Kenapa itu?” Milo menyeringitkan dahi.
“Jangan-jangan!” Mikro membelalakan matanya.
“Ck!” Bing berdiri dan berkata, “Awas!”
Milo dan Mikro menyingkir, Bing melempar handphone itu menjauh hingga mengenai mayat pria yang dibunuh Milo barusan. Handphone itu merosot kebawah dan berhenti tepat dibagian selangkangan mayat tersebut. Tiba-tiba saja handphone itu meledak dan menghancurkan selangkangan pria itu sehingga darah dan daging berceceran disitu.
Milo, Mikro dan Bing terdiam melihat hal tersebut dari tempat mereka berdiri.
“Sudah kuduga,” gumam Mikro.
“Wah-wah-wah,” Milo menyeringai, “Mereka benar-benar memikirkan hal ini.”
Mereka bertiga berjalan kearah mayat yang dimana kondisinya benar-benar hancur dibagian kemaluan, darah terus merembes dan kobaran api dari ledakan tadi membakar sedikit demi sedikit kain celana yang dipakainya.
“Haaah,” Milo menghela nafas dan mengingjak-injak selangkangan mayat yang sudah hancur itu untuk memadamkan api, “Dengan ini kita tidak bisa mendapatkan apapun jadinya.”
“Jadi bagaimana Bing?” tanya Mikro.
Bing masih diam sampai akhirnya pintu ruangan terbuka dan masuklah pria berjenggot tipis yang tadi mengantarkan payung untuk Bing. Pria ini menaruh kantong plastik berisi makanan diatas meja dan melihat kondisi mayat.
“Tembakan kepala sudah cukup membunuhnya, apa kalian menyiksanya dulu hingga penisnya itu hancur kalian buat?”
“Kau kira kami pengangguran? Untuk apa juga repot-repot melakukannya,” Milo berkata sinis dan duduk diatas kursi.
“Lalu?”
“Kau beli apa, bajingan sialan?” tanya Milo mengubek-ubek isi kantong.
“Aku punya nama,” pria berjenggot tipis menguap sebentar.
“Oke Ringgo sialan. Pertanyaanku masih sama.”
Pria berjenggot tipis yang bernama Ringgo ini kemudian duduk tanpa menjawab pertanyaan Milo karena Milo sudah tahu sendiri jawabannya saat mengeluarkan bungkusan roti isi dari dalam kantong plastik.
Handphone itu meledak, sepertinya itulah sistem keamanan yang sebenarnya,” Mikro juga duduk dikursi.
“Lalu?”
“Ya... jadi tidak ada yang bisa kita dapatkan.”
“Jadi bagaimana, Bing?” tanya Ringgo kepada Bing.
Bing yang sedari tadi diam kemudian berbicara.
“Apa Birwan masih di-Indonesia?”
“Kau mau menghubunginya?” Milo bertanya balik.
Bing berbalik badan dan ikut duduk bersama mereka.
“Jadi apa rencanamu?” tanya Mikro.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain, salah satu dari kita harus kesana untuk mengumpulkan semua informasi. Dan gunakan Birwan untuk membantu rencana ini.”
“Heeh, lalu kau mau aku kesana lagi?” Milo bertanya sinis.
“Tentu saja yang tidak diketahui mereka. Kau sudah pasti menjadi buronan disana, dan ciri-ciriku juga pasti sudah didapatkan karena aku membiarkan 2 orang itu hidup.”
“Hmm jadi...” gumam Mikro.
“Ya,” Bing memandang Ringgo karena Ringgo satu-satunya anggota Bing yang tidak diketahui.
Ringgo yang mengetahui maksudnya kemudian berbicara, “Jadi kapan?”
“Yang pasti tidak dalam waktu dekat ini. Kita selesaikan urusan kita yang lain baru fokus kearah sana.”
“Dan kau seharusnya berpikir kalau Birwan juga pasti dicari-cari,” kata Milo sambil menggigit roti.
“Dia hanya cadangan, yang pasti... kau tahu maksudku bukan?” Bing menatap tajam Ringgo.
“Haaaah,” Ringgo menghela nafas, “Itu hal mudah.”
“Kau jangan meremehkan mereka, dan berhati-hatilah terhadap orang yang berhasil memprediksi langkahku. Aku memberi saran ini gratis,” Milo menyeringai.
“Bersiaplah kalau sudah waktunya,” Bing kemudian berdiri dan hendak keluar ruangan.
“Kau tak makan, Bing?” tanya Mikro dan mengeluarkan bungkusan roti isi dari kantong.
“Makan didekat mayat yang selangkangannya hancur? Seleraku hilang,” Bing keluar dan menutup pintu.
“Heh,” Milo mendesis, “Alasan saja, bukankah dia pernah makan diatas tumpukan mayat yang membusuk.”
“Sudahlah, yang pasti aku tak mau mengurus mayat itu,” Ringgo menadahkan kepalanya kearah mayat.
“Apalagi aku,” sambung Mikro.
“Ya aku tau-aku tau,” Kata Milo cuek.
Milo, Mikro dan Ringgo terus bercakap-cakap. Sementara itu Bing sudah keluar dari tempat hiburan itu dan berjalan ditengah hujan.
Tuan!!
Bing berhenti dan menoleh kebelakang, dan ia melihat anak kecil yang dianiaya tadi berlari menghampirinya.
..... Mau apa kau?” tanya Bing dingin.
Ini!” anak kecil itu memberikan bungkusan roti yang berisi daging ham.
Apa?” Bing menyeringitkan dahi.
Untuk tuan!” tanpa permisi anak kecil itu menaruh bungkusan roti itu ditelapak tangan Bing.
Untuk apa kau memberiku...
Terima kasih!” potong anak kecil tersebut.
Apa?
Tapi tak ada balasan yang diterima Bing, anak kecil itu kemudian pamit dan menenteng begitu kantong yang berisi bungkusan roti daging. Bing hanya terdiam dan melihat bungkusan roti daging ditangannya.
Melihat roti daging itu dia teringat sesuatu.
Disebuah dapur terdapat 2 orang anak kecil yang berlari-larian, anak yang lebih pendek terus mengejar anak kecil yang jauh lebih tinggi didepannya.
“Itu rotiku!” seru anak yang pendek kesal.
“Minta sedikit! Pelit amat!!” anak yang lebih tinggi darinya memberikan alasan.
“Kau curang! Kau kan sudah pernah mencicipi roti itu sebelum aku lahir!”
“Aku tidak curang, salah kau sendiri kenapa kau pendek haha!”
“Kembalikan!”
“Ambil sendiri kalau bisa hahaha!” anak yang lebih tinggi mengangkat rotinya keatas dan anak yang pendek ini meloncat-loncat untuk meraih rotinya.

Mengingat hal itu tiba-tiba Bing mengatup geram giginya, ia meremas bungkusan roti itu dan membantingnya. Ia menginjak-injak roti pemberian anak tadi dengan kekesalan yang ia miliki. Nafasnya terengah-engah melihat bentuk roti yang sudah hancur, ia memandang lurus kedepan dan menyeringai.
“Anjing!” umpatnya.
Bing melanjutkan perjalanannya dan belum jauh dia berjalan ia berhenti, ia menoleh kebelakang dan melihat bentuk roti yang sudah hancur tersebut. Ia kembali menghampiri tempat roti itu berada dan berjongkok.
“Lumayan,” gumamnya.
Tanpa perasaan jijik sama sekali Bing mengambil daging yang hancur nan kotor itu dan memakannya. Ia begitu nikmat memakannya, dan sebagai minumannya ia hanya cukup menadahkan kepalanya keatas. Membiarkan bulir-bulir hujan memasuki mulutnya.
۩ N U M E R I Q ۩
۩ N U M E R I Q ۩
Sementara itu dimarkas Redrum terjadi kasak-kusuk karena tadi alarm markas berbunyi dimana-mana hingga memekakan telinga mereka.
“Apa itu tadi...” tanya pak Hengky.
“Ya....” Boby yang berada didepan monitor besar kemudian berputar kebelakang menggunakan kursinya, “Mereka tadi mencoba masuk kedalam database.”
“Jadi mereka benar-benar melakukannya,” gumam Vienny.
Direktur yang baru datang langsung bertanya, “Apa mereka sempat mengambil sesuatu dari database?”
“Tidak pak, mereka pasti tidak akan sempat. Seperti yang kita uji cobakan kemarin,” jawab Adis.
“Dengan ini kita berhasil mencegah mereka mengambil informasi dari kita kan?” tanya Ozy.
“Sepertinya begitu,” Ega menghidupkan rokok.
“Tidak juga,” kata pak Hengky.
“Maksudnya?” Manda bertanya mewakili yang lain.
“Ini soal yang dikatakan Shani saat tahu keamanan handphone itu,” Niken menjawab mewakili pak Hengky, “Dan masih belum aman 100%”
“Bisa kau jelaskan kepada kami?” pinta Enu.
“Shani mengatakan apabila hal ini sudah terjadi maka memang benar Milo dan komplotannya tidak bisa mendapatkan informasi, tapi ada kemungkinan besar mereka akan mengirimkan beberapa anggota mereka kesini.”
“Benarkah?” Ozy dan anggota Redrum terperangah.
“Ya,” pak Hengky mengangguk, “Praduganya sangat logis, bisa jadi mereka nanti akan mengirimkan anggota mereka kesini untuk mencari informasi atau pun yang lain. Dan sudah pasti orang yang dikirim mereka bukanlah yang kita kenali, karena kita hanya tahu Milo dan pria beramput putih kehitaman itu yang disebut Bing.”
“...Berarti kita belum aman 100%...” gumam Ega.
“Dan kita juga sudah menemukan solusinya, solusinya adalah orang yang kemarin bekerjasama dengan Milo. Yaitu Birwan, jadi dia kunci utama dalam masalah ini sekarang,” ujar Niken.
“Begitu, sangat masuk diakal,” ujar Vienny.
“Ya waspadalah,” kata pak Hengky.
“Jadi Birwan target utama untuk masalah ini.... tapi bagaimana mencarinya, dia sudah melarikan diri bukan?” tanya Ozy.
“Kita akan terus mencarinya,” jawab pak Direktur dan berjalan kearah ruangannya, tapi dia berhenti sejenak, “Dan berhati-hatilah.”
Direktur melanjutkan perjalanannya, begitu juga pak Hengky. Sementara itu anggota Redrum lainnya berbicara.
“Kecurigaan yang paling besar membantu Birwan melarikan diri adalah kelompok itu bukan?” tanya Reno.
“Ya... kita tidak bisa apa-apa karena perjanjian itu, yang bisa melakukannya hanyalah pihak kepolisian, itu pun harus ada perintah resmi dan mencari keberadaan mereka berada,” jawab Enu.
“Kelompok itu?” Farin kebingungan.
“Ada suatu wilayah yang menjadi perjanjian dimana anggota Redrum dilarang melakukan aktifitas ataupun pekerjaan kita diwilayah tersebut karena itu wilayah kelompok mereka,” kata Vienny pelan.
“Emang kelompok apa?” tanya Farin.
“Black Snake, kelompok pembunuh bayaran.”
“... Dan apa yang terjadi semisalnya anggota kita memasuki wilayah mereka?”
“Yang pasti ada konsenkuensi, dibunuh bisa jadi dan....”
“Bisa berakibat perang antara kita dan mereka,” jawab Ega yang mendengar pembicaraan Vienny dan Farin.
“Yah, begitulah,” Vienny membenarkan.
“Begitu,” Farin mengangguk-angguk.
“Memangnya kau tidak diberitahu hal itu?” tanya Ega.
“Tidak.... waktu aku bergabung kan dimasa-masa aku lagi ditanyain soal mucikari itu,” jawab Farin.
“Mungkin Direktur lupa waktu itu,” tambah Vienny.
“Tapi... bukankah kalau begitu mereka kelompok kriminal, kenapa dibiarkan?” tanya Farin.
“Sebelum perjanjian dibuat tentu saja pihak Redrum berseteru dengan mereka, banyak korban jiwa yang didapat baik pihak kita mau pun pihak mereka. Karena itu ada sedikit pengecualian khusus.... lagian kebanyakan target mereka juga para politisi busuk meskipun mereka disewa politisi busuk lainnya.”
“Benarkah?”
“Kau bisa tanyakan kepadanya,” Ega menadahkan kepalanya kearah Manda, “Dia ada disana waktu perseteruan itu.”
“Akan kupaksa kalian berciuman kalau masih membicarakan hal ini,” kata Manda sinis kepada Farin dan Ega.
“Boleh!” senyum Ega merekah.
“Gak mau!” Farin menutup mulutnya dengan kedua tangan dan bersembunyi dibelakang tubuh Sistim.
Ega memiringkan bibir dan ditertawai anggota Redrum lain yang ada disitu.
“Dan soal polisi...” Manda mendelikan matanya kearah Ozy, “Perasaan ada orang disini yang dekat dengan seorang polisi.”
“Kenapa kau malah memandangku?” respon Ozy malas.
“Oh tidak,” Manda melipat tangan dan menoleh kearah lain.
“Aku tidak dekat dengannya,” Ozy menghembuskan asap rokok, angkuh.
“Oh, lalu kenapa dia khawatir kemarin? Saat melihat wajah kau babak belur sewaktu kita mengantar Dion lagi kerumah sakit,” Ega terkekeh.
“Mana kutau!” seru Ozy menahan malu.
“Mungkin kau bisa memanfaatkan wanita itu,” kata Manda.
“Memanfaatkan bagaimana?”
“Ya suruh dia menyelidiki tempat Black Snake, kau beritahu wilayahnya dan biarkan dia bekerja. Suruh dia tangkap siapaun anggota itu dan menginterogasinya, siapa tahu ada informasi tentang Birwan yang bisa didapat kalau benar Black Snake membantu Birwan melarikan diri.”
“Aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu!” kata Ozy, tegas.
“Oh, khawatir pak?” Ega cengengesan dan anggota Redrum lain juga cengengesan memandang Ozy yang kelabakan.
“Ngomong-ngomong dimana wanita yang memberi asumsi itu?” tanya Sistim.
“Shani? Dia pergi kerumah sakit, kenapa?” jawab Vienny.
“Wanita itu sangat pintar, tak ada yang seperti itu di Bogor,” Boby terkekeh.
“Ya, untung saja Dion berhasil merekrutnya,” sambung Ozy.
“Heh,” Ega menyeringai, “Tak pernah jauh dari Dion, lo gak ikutan Yon?”
Tapi tak ada tanggapan suara dari orang yang dimaksud, Ega pun celingak-celingukan.
“Dimana Yona?”
“Dia juga pergi kerumah sakit,”  jawab Farin.
“Ngapain juga mereka berdua kerumah sakit?” Ega menyeringitkan dahi.
“Kau ingat bukan siapa yang kau kirim kerumah sakit bersama Ozy, Manda?” Enu terkekeh.
“Hoo,” Ega juga terkekeh.
“Salah dia sendiri, dan gara-gara kau sialan!” Ozy menunjuk Enu, “Aku gagal kencan waktu itu! Sudah kubilang jangan meninju wajahku!” umpat Ozy geram kepada Enu.
“Oh kencan? Dengan wanita polisi wanita itu?” Adis terkekeh.
“Eh? I-Itu, b-bukan...” Ozy kebingungan mencari alasan.
“OZY PUNYA TEMAN KENCAN SEORANG POLISI WANITA!!” Ega tiba-tiba berteriak.
“Brengksek!!!” dan dengan beringas Ozy menendang Ega hingga tersungkur.
Sekarang terjadi keributan disitu, anggota Redrum terhibur dengan suasana ini yang dimana Ozy berseteru dengan Ega. Apalagi Ozy memang terkenal tidak memiliki hubungan dengan wanita manapun selama ini.
Sedangkan Manda berjalan seorang diri ketempat latihan, ia terus berjalan sambil melipat tangan tapi wajahnya sendu melihat lantai yang menjadi jalur perjalanannya.
“Black Snake...” gumamnya pelan dengan senyum tipis.
۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
Sementara itu disuatu rumah yang gelap terlihat seorang pria tua yang tergantung kedua kaki dan tangannya ke 4 penjuru. Pria tua itu bertelanjang dada dan yang pasti ada 2 orang lain disitu, 2 orang perempuan. Mereka berdua memandang pria tua yang tergantung itu sedemikian rupa ditengah ruangan.
“Siapa yang mau melakukannya?” tanya wania berambut sebahu.
“Biar aku saja,” wanita berambut panjang mengajukan diri.
Wanita berambut panjang itu mengambil parang tajam dan berjalan. Ia kemudian berhenti, tepat dibawah pria itu tergantung.
“Kasian,” wanita ini memelaskan matanya dan tersenyum, tapi itu sebentar saja karena sehabis itu ia menyeringai.
“Mmmmmmhh!!!” pria tua yang disumpal mulutnya itu terlihat panik.
“Mungkin ada yang mau dia bicarakan,” kata wanita berambut sebahu.
“Kata-kata terakhir ya? Boleh.”
Wanita berambut panjang kemudian menggeser bekapan kain dimulut pria tua itu dengan parang.
“K-Kalian siapa?! Kenapa kalian melakukan ini terhadapku?!”
“Aku?” wanita ini menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum, “Aku Shania, dia Ghaida.”
“Kenapa malah perkenalan itu?” wanita yang bernama Ghaida memiringkan bibir.
“Loh, tadi dia sendiri yang mau tahu kita siapa,” Shania dengan santainya menunjuk pria yang tergantung tersebut dengan parang.
“Kecilkan suaramu, ada yang menelpon,” Ghaida berusaha meraih handphone yang ia simpan disaku celananya.
“Hei! Kalian ini siapa?! Kenapa kalian ingin membunuhku?! Hah?! Apa salahku?! Aku bahkan tak pernah kenal dengan kalian!!” teriak sang pria tua.
“Oh, kami mau membunuhmu karena permintaan klien kami, sederhana,” jawab Shania santai.
“Apa?!” pria tua itu terkejut, “S-Siapa? Dan kalian ini siapa sebenarnya?” pria tua itu panik dan berkeringat.
“Rahasia, tapi kami bersedia menyebutkan siapa kami,” Shania tersenyum, “Kami Black Snake.”
“B-Black Snake?” pria tua menyeringitkan dahi.
“Ya dan...”
“Lakukan. Kita diminta datang kemarkas,” potong Ghaida setelah memutuskan hubungan telepon.
“Oh, oke,” Shania tersenyum dan memandang pria tua, “Sepertinya sudah waktunya.”
“T-Tunggu! Aku akan membayar kalian! Kumohong jangan lakukan ini!”
“Maaf, tapi kami bekerja sesuai aturan... lagipula...” Shania menyeringai, “Kami sudah mengambil semua uangmu yang ada dirumah ini.”
“T-Tunggu!!!”
Dan tanpa basa-basi Shania menusuk perut pria tua tersebut dari bawah, pria tua itu melotot, Shania mencabut parangnya dan menyucurlah darah dari perut sang pria tua.
“OOORRGGGGHHHH!!!” pria tua melotot dan keluar darah dari mulutnya.
“Klien meminta kematianmu secara tragis... hmmm ini kurang,” gumam Shania.
Dan Shania menyabet-nyabet perut pria tua itu hingga pria tua itu melolong kesakitan bukan main. Perut pria tua yang disabet-sabetnya dengan parang itu lama kelamaan terkoyak dan tak butuh waktu beberapa lama isi perut pria itu pun berkeluaran. Usus-usus merah melekat erat lantai dibawahnya, bahkan masih ada usus yang menyangkut diperutnya.
“OOOOOOOOOOORGGGGHHHH!!!” rintih pria tersebut.
“Waaah,” Shania tampak tertegun dan tersenyum, “Masih hidup hahahaha.”
Pria tua itu dengan tenaga yang ada mendelikan matanya kearah Shania tapi Shania dengan cepat membacok lehernya. Leher pria itu terus dibacoknya secara beringas dan bertubi-tubi hingga terpisah dari badannya.
“Oke, sudah selesai,” gumam Shania dan menyeka wajahnya yang kecipratan darah.
“Bersihkan wajahmu itu,” Ghaida melempar handuk kearah Shania.
Shania yang menyeka wajahnya kemudian berbicara, “Emang kenapa kita disuruh kemarksas?”
“Kita dapat informasi kalau pihak kepolisian mencari keberadaan Birwan, mafia itu. Dan ada kemungkinan besar kelompok kita dicurigai membantu pelariannya,” jawab Ghaida cuek.
“Oh,” Shania kemudian mengelap pergelangan tangannya, “Hanya polisi?”
“Ada kemungkinan besar kelompok itu juga, tapi karena perjanjian mungkin mereka tidak bisa bergerak banyak.”
“Hmm,” Shania tersenyum tipis, “Kelompok ‘Anjing Besi’... aku penasaran seperti apa mereka.”
“Lebih baik kita lekas kemarkas, dan ganti bajumu nanti,” saran Ghaida kepada Shania.
“Kau benar, aku ada janji dengan Arya nanti,” gumam Shania.
“Aku penasaran, bagaimana reaksi pacarmu itu kalau tahu pacarnya ini adalah pembunuh bayaran,” Ghaida menyalakan rokok dan menghisapnya.
“Entahlah,” Shania tersenyum dan melempar handuk kearah isi perut mayat, “Lebih baik kita cepat pergi. Aku benci bau amis darah ini,” Shania menatap mayat pria tua yang kondisinya sangat tragis.
“Heh, aku justru berharap kelompok itu datang untuk menanyakan hal itu. Sudah lama aku tak melihat pengkhianat itu,” ujar Ghaida.
“Pengkhianat?” alis Shania naik sebelah.
“Kau belum bergabung waktu itu.”
“Dan siapa yang kau maksud?” tanya Shania sambil melepaskan sarung tangan.
“Ada anggota Black Snake yang keluar dan memilih bergabung dengan kelompok ‘Anjing besi’, dia keluar tanpa alasan yang jelas,” sambung Ghaida.
“Siapa?” Shania penasaran.
“Manda,” Ghaida menghembuskan asap rokok terlebih dahulu dan melanjutkan penjelasannya, “Anggota terbaik dan kekasihnya Bian dulu.”
“Bian? Bukankah dia sudah mati?” Shania memandang Ghaida.
“Ya, dan kurasa Manda lah yang membunuhnya. Bian mati dirumahnya, penyebabnya racun penenang, yang melakukannya pasti dia,” kata Ghaida, “Yah, sebagai mantan kekasih hanya Manda yang bisa melakukannya. Dia tak mungkin tega membunuh kekasihnya tersebut dengan senjata.”
“Hmmm,” Shania memiringkan bibir.
“Ya sudahlah, yuk,” ajak Ghaida.
Mereka berdua kemudian keluar rumah meninggalkan target mereka tergantung tak bernyawa, terlebih lagi kepalanya terpisah dari badan dan juga isi-isi perut yang keluar dari perut. Dan mereka berdua adalah anggota dari kelompok pembunuh bayaran bernama Black Snake.
۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
5 hari pun berlalu. Pihak kepolisian akhirnya membentuk tim khusus untuk mencari keberadaan Birwan karena pihak polisi sudah menggeledah aset-aset yang diperkirakan milik Birwan akan tetapi hasilnya nihil dan tak ada petunjuk yang bisa didapat. Dan tak hanya di Jakarta saja, bahkan diseluruh Indonesia sudah menyebarkan foto Birwan.
Naomi mengajukan diri untuk masuk kedalam tim tersebut dan diterima, hanya saja berbeda nasibnya dengan Bayu. Bayu ditegur keras atas aksinya sewaktu melakukan pengejaran, karena Bayu melanggar perintah waktu itu. Izin kepemilikan senjata dicabut dan Bayu dibebas tugaskan selama 2 minggu ini.
Mereka berdua pun berbicara didepan markas kepolisian.
“Haaah,” Bayu menghembuskan asap rokok dan melihat lencana kepolisiannya, “Apa yang bisa kulakukan dengan benda ini?”
“Salahmu sendiri bukan?” Naomi melipat tangan dan bersandar ditiang.
“Aku tadi mencuri dengar dengan hasil penyelidikan, katanya Black Snake diduga membantunya, apa itu benar?”
“Hanya dugaan, dan sulit untuk mengetahuinya.”
“Apa susahnya mencari 1 orang?”
“Orang?” Naomi mendesir, “Black Snake bukan nama atau pun julukan seseorang, tapi nama kelompok.”
“Apa?” Bayu tertegun, “Apa kau yakin?”
“Ya, aku tadi mencoba memastikannya dengan bertanya kepada kapten dan itu benar, Black Snake merupakan kelompok pembunuh bayaran yang tersebar diseluruh Indonesia. Tapi lebih banyak beraksi di Bali, tak heran bukan Bali banyak pembunuh bayarannya?”
“Begitu..... Tapi tadi kau bilang memastikan.... sebelumnya kau tahu hal itu darimana?”
“..... Redrum....” jawab Naomi segan.
“Oh teman kencanmu itu?” Bayu memiringkan bibir dan menghisap rokok, “Tunggu.... kalau Black Snake adalah kelompok pembunuh bayaran, kenapa mereka membiarkannya? Tindakan Black Snake termasuk kriminal bukan?”
“Aku tidak tahu, yang kutahu mereka melakukan perjanjian dengan Black Snake agar... tidak terjadi kericuhan.”
“Kau banyak tahu juga ya, apa yang kau berikan kepada teman kencam Redrum mu itu hingga bisa berkata banyak?” Bayu terkekeh pelan dan menghisap rokok.
“Bisakah kau berhenti menyebutkan dia sebagai teman kencanku?” Naomi memiringkan bibir dan memalaskan matanya memandang Bayu.
“Oh, bukankah kau sendiri khawatir dengannya? Sewaktu dirumah sakit kau kulihat begitu cemas dengan dia, gara-gara wajahnya bonyok.”
“Aku tidak cemas bodoh! Aku hanya penasaran!” seru Naomi, berkilah.
“Benarkah?”
“Kenapa nada bicaramu curiga begitu?”
“Soalnya aku mendengar kau dan dia mengungkit-ngungkit masalah nonton bioskop,” Bayu terkekeh.
“Kau salah dengar,” kilah Naomi.
“Ya-ya-ya. Tapi yang aku herankan kenapa orang yang ikut bersamaku mengejar Milo kembali masuk kerumah sakit, aku dengar dia kabur dari rumah sakit tapi malah kembali lagi, dan babak belur. Bahkan teman kencanmu dan 2 orang lainnya juga babak belur.”
“Bukan urusanku juga,” Naomi menolak punggungnya dari tiang, “Dan berhentilah memanggil dia teman kencanku!”
“Lalu apa? Pacar? Kekasih?” Bayu terkekeh.
“Lebih baik kau mencari kesibukan.”
“Kesibukan apa? Kau tahu sendiri aku dibebas tugaskan.”
“Membantu nenek-nenek menyebrang jalan juga sudah cukup,” Naomi melangkah pergi.
“Haaah, mending aku kemakamnya Andela,” Bayu turun dari kap mobilnya.
Bayu pun pergi menggunakan mobil, sementara itu Naomi mendapatkan sebuah telepon. Ia kembali keluar untuk berbicara.
“Mau apa kau menelponku?”
Sinis sekali,” terdengar suara Ozy dibalik telepon, “Aku hanya mau tahu perkembangan penyelidikan soal Birwan.
“Kenapa malah bertanya kepadaku?”
Aku tadi melihat profilmu dimarkas kepolisian, katanya kemarin sore kau menjadi tim penyelidik atas kasus itu. Jadi ada alasan aku bertanya kepadamu bukan?
“Melihat profilku?” Naomi menyeringitkan dahi.
Ya.
“Hmm,” Naomi tersenyum tipis, “Bukan orang sembarangan yang bisa membuka database kepolisian.”
Itu hal yang mudah bagiku, heh,” Ozy mendesis sombong, padahal bisa dibilang Adis yang melakukannya atas permintaan Ozy.
“Oh begitu, jadi kau repot-repot meretas database kepolisian hanya untuk melihat profilku saja?”
Emang salah? Kan tidak mungkin laporan penyelidikan ditaruh disitu.
“Emang tidak salah dan memang benar laporan kasus yang belum terkuak tidak akan ditaruh didalam database, tapi kenapa repot-repot melihat profil diriku?” Naomi tersenyum.
Ya kan....” Ozy tiba-tiba terdiam.
“Kau memata-mataiku?” tanya Naomi dengan nada curiga.
Eh?” Ozy tertegun, “I-Itu itu....
“Apa?”
..... Itu perasaan kau saja....
“Oh gitu,” Naomi memanggut-manggut, “Perasaanku saja ya?”
Errr ya itu pokoknya perasaan kau saja! Tak usah dibahas lagi!
“Yaudah,” Naomi menahan tawanya.
Jadi bagaimana perkembangan kasus itu?
“Apa yang kudapatkan kalau memberitahu tentang perkembangan kasus ini?”
Perhitungan sekali, apa susahnya ngasih tau?
“Tidak, aku hanya teringat kalau dulu ada orang yang melakukan hal serupa saat aku mau tahu perkembangan kasus ditempat orang itu bekerja. Pake acara kencanlah, inilah, itulah, bahkan sampai berpura-pura menjadi pacarku sewaktu kerumah.”
..... Jadi apa maumu?” Ozy mati kutu.
“Aku tidak mau apa-apa darimu.”
Loh, lalu?
“Ya, aku tidak mau apa-apa darimu, gara-gara orang itu.”
Orang itu?
“Ya orang itu.”
Siapa?
“Kenapa emangnya?”
Hei gara-gara orang itu kau tak mau apa-apa dariku bukan? Bagaimana aku bisa menerimanya kalau begitu!
“Hmm,” Naomi tersenyum tipis, “Mungkin benar.”
Bukan ‘Mungkin’ lagi, siapa dia? Dan kusarankan kau tidak berurusan dengannya lagi. Enak saja dia yang berbuat aku yang kena imbasnya.
“Kau benar....”
Bagus! Jangan berurusan lagi dengannya!” seru Ozy.
“Ya, aku tidak mau berurusan lagi dengannya! Dengan orang yang obral janji!  Orang yang berjanji mengajakku menonton film tapi tidak jadi! Orang yang kutawarkan untuk mengobati bengkak diwajahnya tapi aku diacuhkan! Ya, aku tidak mau apa-apa dari orang seperti itu!” seru Naomi menggebu-gebu.
Sedikit keheningan selama 15 detik.
Bukankah orang itu aku?!” Ozy sewot setengah mati.
“Oh, benarkah?” Naomi menahan tawanya, “Waah ternyata itu kamu ya? ckckckc.”
Jangan berpura-pura! Tapi tunggu....
“Apa?”
Sedikit jeda hingga Ozy melanjutkan perkataannya.
.... Kenapa tingkahmu seperti wanita yang ngambek dengan seorang pria?
“Perasaanmu saja,” balas Naomi enteng dan mulai menggodanya, “Dan tadi kenapa  nada bicaramu seperti tidak rela aku diperlakukan yang aneh-aneh sama orang lain?”
...Perasaanmu saja,” balas Ozy datar.
“Oh gitu,” Naomi tak kuat menahan tawanya sedari tadi.
Jadi kau mau aku menebusnya?
“Hmm mau menebus obral janjimu? Boleh aja.”
Errr oke kalau itu maumu. Nanti malam datang kerumah makan biasa, aku akan mentraktirmu..
“Makan saja? Terus nontonnnya gak jadi?”
Apa juga yang mau ditonton? Filmnya udah turun layar.
“Yang penting nonton, aku butuh hiburan, kau pikir aku tak stres gara-gara pekerjaan ini?”
Yasudah-yasudah! Nanti kau datang saja ke....
“Tunggu!” potong Naomi.
Apa?
“Aku yang datang? Kenapa harus aku yang repot-repot? Kamu yang punya urusan denganku kenapa harus aku yang repot?”
Jadi aku harus menjemputmu gitu?
“Bukankah itu adabnya?”
Tapi bukankah kau tidak mau orang tuamu mengira aku ini benar-benar kekasihmu?
“Emang iya, tapi aku tidak mau repot. Lagipula salah kamu sendiri, kemarin ibu ku malah bertanya tentang dirimu. Makanya lain kali jangan ngaku-ngaku jadi pacar ya pak,” Naomi menahan tawanya.
...Tidak ada opsi lain? ...” keluh Ozy.
“Terserah kamu, sudah ya, aku masih mau bekerja,” pamit Naomi.
Errrr,” dan hanya itu jawaban Ozy.
Naomi memutuskan hubungan telepon dan tersenyum manis memandang handphone-nya, ia pun masuk kedalam setelah sedari tadi berada diluar markas kepolisian.
Sementara itu ditempat latihan sekaligus ruangan tes senjata terlihat Manda, Ozy, Sistim, Yona, Shani, Damar dan Reno sedang melakukan aktifitasnya masing-masing.
“Ck sial,” desis Ozy.
“Kenapa?” tanya Damar yang duduk diatas meja, peluh keringat membasahi tubuhnya karena sebelumnya dia melakukan latih tanding dengan Manda.
“Aku perlu bantuan,” Ozy menoleh kearah Damar, “Apa kau ada pengalaman berbicara dengan orang tua?”
“Orang tua?” alis Damar naik sebelah.
“Ya.”
“Setua apa?”
“Pokoknya orang tua!” Ozy sewot.
“Lah, itu Direktur, pak Hengky, lalu petinggi-petinggi Redrum lainnya. Kau pikir mereka remaja?”
“Bukan kumpulan orang tua menyebalkan itu! Tapi ya.... yang menyerempet sedikit kearah mertua... ngerti gak-ngerti gak?”
“Mertua? Lu mau kawin?” Damar menyeringitkan dahi.
“Bukan tapi...”
Belum selesai Ozy berbicara tiba-tiba bunyi suara tembakan Shotgun menarik perhatian mereka.
“KAU INI APA-APAAN SIH?!” teriak Yona.
“Loh,” Shani memandang Yona dengan lugunya, “Kan tadi udah kubilang aku mau belajar menembak.”
“KENAPA HARUS DEKAT-DEKAT DENGANKU?! SAKIT TELINGAKU TAU GAK?!” bentak Yona, kedua tangannya mengusap-usap kedua telinganya.
“Oh,” Shani memeluk shotgun, menempelkan pipinya kebadan Shotgun yang dipeluknya, tersenyum manis kearah Yona dan mengedip-ngedipkan manja matanya, “Kan aku pemula.”
“TAPI GAK DEKET-DEKET TELINGAKU JUGA! AKU KAN BELUM MEMASANG PENUTUP TELINGA!!”
“Salah sendiri,” Shani memeletkan lidah.
“Shani, bukankah tadi kau bilang mau belajar menembak pake ini? Itu punyaku, kau belajar senjata yang kecil dulu,” Reno menunjukan pistol ditangannya.
“Oh iya, nih,” Shani dan Reno bertukaran senjata masing-masing.
“JADI KAU SENGAJA KAN?!” bentak Yona sekali lagi.
“Kabuuur!!!” dan Shani lari terbirit-birit menjauhi Yona.
“JANGAN LARI KAU!”
“Sudahlah sudah!” Reno menahan Yona yang bernafsu mengejar Shani.
Melihat tingkah Shani dan Yona membuat Ozy memiringkan bibir dan berkomentar sedikit.
“Disini saja kayak anjing dan kucing, nanti ada Dion kayak tikus dan kucing tuh.”
“Apa bedanya?” Damar memiringkan bibir.
“Ah sudahlah,” Ozy menoleh kearah Damar, “Jadi bagaimana?”
“Hmm menurut gue sih itu urusan mereka, bukan urusan kita juga bukan? Dulu Enu juga sering dilirik sekretaris dan beberapa pengawas wanita disini, tetap tetap Vienny yang jadi pilihannya. Ya meskipun gue kaget saat tahu kalau Dion sama Vienny ternyata dulu pernah pacaran diam-diam. Tapi itu urusan Dion, dia mau milih siapa nanti bukan urusan kita. Betul gak?”
“Eh Tinta Pilkada! Lo ini ngomong apaaan?” Ozy sewot setengah mati.
“Lah, Yona sama Shani kan?” Damar bertanya balik dengan polosnya.
“Ya Tuhan,” Ozy menepuk kepalanya.
“Tumben lu inget Tuhan?” Damar melongo.
“Diem lu! Jadi apa, lo ada tips berbicara dengan orang tua yang menganggap lo itu menantunya?”
Damar diem.
“Eh jawab!” bentak Ozy.
“Lah tadi lu nyuruh gue diem? Yang bener yang mana?!” Damar tak kalah sewot.
“Sekarang lo ngomong dan jawab pertanyaan tadi.”
“Emang kenapa?”
“Jangan banyak tanya, jawab saja.”
“Tips apaan? Ngomong biasa saja, bukan hal yang sulit.”
“Itu dia masalahnya, dulu sih santai saja, tapi gara-gara dicariin ibunya malah jadi ribet gini. Berarti dianggap calon menantu kan? Tiba-tiba blank ini kepala!”
“Kita ini ngomongin siapa sih?” Damar menyeringitkan dahi.
“Jawab saja!” seru Ozy.
“Ya mana gue tau! Lo pikir gue udah kawin?”
“Ah! Ribet urusannya kalau begini, mau minta bantuan siapa lagi ini,” Ozy terlihat kebingungan.
“Lo ini ckck,” Damar memiringkan bibir, “Ya sudahlah, udah terlanjur tahu. Gue  bakalan bantu,” Damar kemudian menepuk-nepuk pundak Ozy.
“Emang lo mau bantu apa? Bukankah tadi lo bilang lo tak ada pengalaman?”
“Bantuan itu bisa dimana saja, sebentar,” Damar kemudian menoleh kearah lain dan berteriak, “WOI! SIAPA YANG PUNYA PENGALAMAN NGOMONG SAMA ORANG TUA MENYEREMPET KE MERTUA ANGKAT TANGAN! OZY PERLU TIPS KATANYA!”
“Hah?” semua anggota Redrum menyeringitkan dahi memandang tempat Damar dan Ozy.
“Babi!” Ozy mendorong Damar hingga terjungkang kebelakang, soalnya Damar duduk diatas meja.
“Apa tadi?” tanya Yona mewakili yang lain.
“ENGGAK ADA APA-APA!! KALIAN LANJUTKAN SAJA!” teriak Ozy.
“Oh...” Yona hendak menoleh kedepan dan hendak memasang penutup telinganya lagi, tapi sebelum melakukannya ia terkejut saat mendengar bunyi letusan senjata api didekat telinga kanan nya.
“Kabuuurrr!!!” dan Shani lagi-lagi lari terbirit-birit menjauhi Yona.
“SINI KAU!!!” akhirnya Yona mengejar Shani, sambil menutup telinga kanannya yang menerima mentah-mentah suara senjata api yang ditembakan Shani.
Sementara itu Damar berusaha berdiri dengan menumpu tubuhnya dengan meja.
“Taik lo! Sakit brengsek!” umpat Damar.
“Lu yang brengsek! Kenapa tak pake pengeras suara sekalian biar semua orang dimarkas ini tau?!” Ozy sewot.
“Kan lo bilang tadi butuh bantuan?!”
“Tapi tak semua orang harus tau, sialan!”
“Memangnya dari tadi kita ngomongin siapa sih?” Damar menyeringitkan dahi.
“Netizen yang maha benar!” jawab Ozy ketus.
“Heleeeh,” Damar kemudian tengkurap diatas meja, “Lagian kalau mau nanyain itu, ya tanyain sama Anggra, Vicky, Enu atau Dion kek.”
“Kenapa harus mereka berempat?” alis Ozy naik sebelah.
“Heh tolol, mereka semua sudah menikah, meskipun 1 nya duda. Yang pasti mereka ada pengalaman lah ngobrol sama mertua mereka.”
Mendengar hal itu membuat Ozy membelalakan matanya, senyumnya merekah.
“Betul juga, Enu dimana sekarang?”
“Nganter Direktur, entah kemana.”
“Ck, lama?”
“Mana kutau,” Damar memiringkan bibir.
“Anggra, Vicky?”
“Anggra izin ke Bandung, Vicky dijalan, udah tau kerjaan dia dibagian informasi.”
“Kalau gitu Dion saja, dimana dia?”
“Bukannya dia dirumah? Lukanya masih belum sembuh total gara-gara dikeroyok kalian bertiga.”
“Kalau begitu aku kerumahnya dulu.”
“Eh bentar,” cegah Damar.
“Apa?”
“Kita ini daritadi ngomongin masalah siapa sih?” tanya Damar dengan raut wajah tak mengerti.
“Bego dipelihara!” dengan beringas Ozy mendorong Damar hingga anggota Elit yang 1 itu lagi-lagi terjatuh dari atas meja.
Setelah kepergian Ozy maka  aktifitas diruangan tes senjata yang bersamaan dengan ruangan latihan masih berlanjut. Damar berbaring dilantai saking lelahnya, Manda yang masih melatih seni bela diri dengan samsak yang ada disitu, Reno yang sedari tadi menahan Yona untuk mengejar Shani dan Shani mengejek Yona dikejauhan. Sistim sudah selesai melakukan latihannya, tubuhnya itu pun sudah dibasahi oleh bulir-bulir keringat.
“Dari kemarin aku melihat kau latihan terus,” komentar Sistim kepada Manda.
“Bukan urusanmu,” jawab Manda sambil menendang samsak.
“Hanya penasaran saja, dari kemarin kau juga mengajak anggota lain latih tanding.”
“Terus?” Manda menyikut samsak dengan sikut tangannya.
“Heh,” Sistim mendesir, “Kau kesal karena masih bisa kalah bukan?”
Manda berhenti bergerak saat selesai meninju samsak, dengan tangan yang masih menempel disitu maka Manda berbicara, “Maksudmu?”
“Aku melihat profilmu, ban hitam untuk 2 seni bela diri.”
“Lalu?”
“Dan kau kalah dengan Dion, orang yang tak punya prestasi apapun dalam seni bela diri, padahal orang itu terluka heh,” Sistim menyeringai.
Manda melotot memandang Sistim.
“Kau pikir aku bersungguh-sungguh kemarin?”
“Lantas kenapa kau masih bisa kalah? Kau berhasil menghentikan gerakannya, tapi dia berhasil lepas karena kau lengah bukan? Dia berhasil menyengkang kakimu, selain itu dia juga melakukan kesempatan untuk menyerangmu. Jadi mau sungguh-sungguh atau pun tidak, seharusnya kau tidak lengah.”
“Apa urusanmu?” Manda tampak sinis dengan Sistim.
“Mauku adalah kau berhenti memaksakan dirimu, kau itu hanya sering lengah saja. Itu yang kuperhatikan melihat kau latih tanding sedari kemarin.”
“Hooo perhatian sekali.”
“Tidak juga, tempat kau berdiri sekarang itu adalah tempat favoritku.”
“Jadi kau tak senang?”
“Ya,” Sistim menyeringai.
“Heh, rebutlah kalau bisa.”
“Jadi kau menantangku?”
“Dan kau takut? Dengan orang yang kau bilang LENGAH SEDARI TADI?!” Manda melotot dan mengatup giginya geram.
“Hoo tampaknya kau tidak mau mengakuinya.”
“Lalu apa jawabanmu tuan sok tahu?”
Sistim tersenyum sinis dan berkata, “Baiklah, tapi besok. Bagaimana?”
“Kenapa harus besok?”
“Kau sudah terlalu lelah bukan? Begitu juga aku, dan besok akan kita lakukan dengan kondisi yang prima.”
“Heh, terserah kau saja.”
“Dan akan kita lakukan dengan 3 babak.”
“3 babak?” Manda menyeringitkan dahi.
“Ya, babak pertama tangan kosong, babak kedua dengan senjata dan babak ketiga penentu semuanya. Dan akan kubuktikan kalau perkataanku tadi benar adanya.”
“Senjata?”
“Kau ahli bela diri, dan setiap bela diri juga ada keahlian menggunakan senjata. Kurasa tongkat dan 2 pisau keahlianmu bukan?”
“Hmm,” Manda tersenyum sinis, “Boleh saja. Dan apa senjata keahlianmu?”
“Kau akan tahu besok,” Sistim menyeringai.
Sistim kemudian berjalan untuk keluar ruangan dan Manda hanya bisa melihatnya dari tempat ia berdiri sampai akhirnya sosok Sistim menghilang dibalik pintu. Ia pun berpikir kalau perkataan Sistim ada benarnya karena sewaktu melawan Dion sebenarnya dia bersungguh-sungguh, tapi dia benar-benar kalah padahal Dion dalam kondisi terluka. Itu bisa membuktikan kalau kelemahannya itu mutlak yakni lengah.
“Heh!” Manda mendesir sombong dan tak mau mengakui hal itu.
Wanita ini berjalan menuju kursi peristirahatannya dan ia teringat tidak mengetahui apapun tentang Sistim, ia meraih handphone khusus Redrum dicelana gantinya dan memeriksa profil Sistim.
Nama aslinya Sistim... apa yang ada dipikiran orang tuanya?” batin Manda bertanya saat melihat profil Sistim yang dimana SIM, STNK dan KTP-nya juga menggunakan nama Sistim.
Manda terus membaca profil Sistim yang dimana sudah menjadi anggota Elit dalam waktu setengah tahun dimarkas Redrum bagian Bogor, dari 2276 misi membunuh dia berhasil menyelesaikan semuanya, tidak punya ibu sedari kecil dan ditinggal mati oleh ayahnya sewaktu berumur 6 tahun, dan dia memiliki 3 prestasi dalam 4 ilmu seni bela diri yang jauh lebih banyak dari Manda.
“Cih, jadi karena itu dia percaya diri. 4 seni bela diri? Akan kubuat dia tidak bisa mengeluarkan 1 pun seni bela diri yang dia punya!” geramnya marah.
۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
Masih diwaktu yang sama, kali ini menuju tempat kediaman Dion berada. Pria ini sudah 5 hari tidak masuk kerja karena kondisinya yang belum pulih akibat dikeroyok Ozy, Ega dan Manda diparkiran. Meski begitu dia tidak mau dimanjakan oleh kondisinya, sekarang saja dia sedang berolahraga dihalaman belakang rumahnya.
“Hah... hah.... hah....”
Terlihat Dion sedang bergelantungan dipalang besi yang ada disitu, bulir-bulir keringat membasahi wajah dan rambutnya, dia sudah naik turun dari palang besi itu lebih dari 50 kali.
Lalu disebelah rumahnya terlihat Frieska keluar dari pintu belakang sambil membawa baskom kecil berisi pakaian. Ia menjemur pakaian yang baru dicucinya dijemuran yang ada dibelakang rumahnya dan ia menoleh saat mendengar suara seseorang, yaitu suara Dion yang sedang berolah raga membelakangi tempat ia berada.
“Katanya sakit, kok malah olahraga,” komentarnya dengan suara pelan.
Gerakan tangan Frieska malah berhenti karena dia malah keasyikan melihat tetangganya itu berolahraga, tubuh Dion yang tegap dari belakang berhasil menarik perhatiannya sebagai seorang wanita.
Dion turun dari palang besi dan meregangkan otot-otot tangannya, membunyikan tulang leher dan sedikit berkeluh kesah sambil memandang langit.
“Panasnya...”
Yaiyalah panas! Olahraga kok pake jaket setebal itu, mana warna hitam lagi,” komentar Frieska dalam hati.
Merasa gerah maka Dion melepaskan jaket tebalnya itu, dan didalamnya ternyata dia masih memakai kaos hitam lengan panjang yang kondisinya sudah basah kuyup oleh keringat, Frieska tertegun dibuatnya. Sampai akhirnya Dion membuka seluruh pakaian dari tubuhnya hingga tertampang jelas kondisi tubuhnya itu dimata Frieska.
“Astaga!” seru Frieska tiba-tiba saat melihat begitu banyak bekas luka ditubuh Dion.
“Ng?” Dion menoleh kebelakang dan sedikit terkejut karena dia baru menyadari ada Frieska disitu, “Kau...”
“Apa?! Aku sedang menjemur pakaian!” Frieska buru-buru melanjutkan aktifitasnya tadi.
“Oh...”
Setelah berkata seperti itu maka Dion masuk kedalam rumahnya, Frieska sedikit kecewa karena bagaimanapun ia wanita biasa yang kesengsem melihat pria bertelanjang dada, terlebih lagi tubuh Dion sangat proposional bagi matanya tadi. Tapi kekecewaannya itu segera sirna karena Dion kembali keluar sambil membawa rantang.
“Aku mau mengembalikan ini,” kata Dion sambil mengangkat rantang.
“T-Taruh saja disitu!” seru Frieska yang malu-malu memandang Dion bertelanjang dada.
Dion celingak-celingukan dan memandang Frieska, “Ditaruh dimana?”
“Pagar kek!”
“Kan pagarnya tipis,” balas Dion karena memang pagar pembatas rumah mereka hanya terbuat dari semen tipis.
“D-Dibawah.”
“Ya kotor, percuma kucuci kalau begitu,” Dion memiringkan bibir, “Ya sudah, aku tunggu kau selesai menjemur.”
Frieska malah grogi karena ditungguin seperti itu tapi karena sudah jago bersikap cuek maka dia terlihat biasa saja. Setelah selesai menjemur maka ia menoleh kearah Dion yang melongo melihat jemuran Frieska.
“Mana?” pinta Frieska.
“Oh,” Dion menoleh dan menyerahkan rantangnya, “Terima kasih.”
“... Kau melihat apa?” Frieska penasaran apa yang dilihat Dion dijemurannya.
“Oh tidak... aku melihat pelangi.”
“Pelangi?”
“Ya, tuh,” Dion menunjuk, “Warna celana dalamnya warna-warni, ada merah, kuning, hijau, udah kayak pelangi”
Frieska memiringkan bibir dan dengan kasarnya mengambil rantang dari tangan Dion.
“Maaf, kukira kau bakalan tertawa.”
“Ha-ha-ha, puas?” Frieska melotot.
“Iye maaf,” Dion memiringkan bibir.
Frieska kecut wajahnya tapi dia kembali tersipu melihat tubuh Dion meski begitu banyak luka yang tertoreh ditubuh pria itu, ada yang luka yang belum sembuh dan ada luka lama seperti tusukan pisau dan sabetan-sabetan benda tajam.
“Apa kau penasaran kenapa banyak luka ditubuhku tapi tidak diwajahku?”
“Heh?” Frieska tersadar dan memandang Dion.
“Kau sedari tadi memandang tubuhku,” Dion tertawa kecil.
“Sok tahu!” kilah Frieska namun dia penasaran, “Luka apa itu?”
“Kau tahu pekerjaanku bukan?”
“Hmm,” Frieska memiringkan bibir.
“Karena itu aku selalu memakai lengan panjang, baik kaos atau pun kemeja. Kalau pun memakai kaos lengan pendek aku menutupinya dengan kemeja, jas atau pun jaket.”
“Siapa yang nanya?!” Frieska sewot.
“Kirain mau tau,” Dion cengengesan.
“Cih,” Frieska memasamkan wajahnya, tapi dia kembali memperhatikan luka-luka yang ada ditubuh Dion sampai akhirnya dia berbicara, “.... Kudengar kau yang melakukannya....”
“Ng?” Dion yang baru menyalakan rokok kemudian menoleh kearah Frieska, “Melakukan apa?”
“Pengejaran pelaku bom itu....”
“Oh,” Dion tersenyum tipis.
“Kenapa mereka bisa lolos?”
“Itu benar-benar diluar dugaan, dan yah... tidak semulus yang diharapkan. Bahkan kedua pahaku tertembak gara-gara itu.”
“Apa separah itu...,” Frieska kembali melihat tubuh Dion yang tertoreh luka yang belum lama ini dia dapatkan, “Bahkan sampai sekarang kulihat luka itu...”
“Oh, ini gara-gara hal lain.... ya bisa dibilang kesalahanku sendiri,” kata Dion yang malas menjelaskan kalau luka itu akibat dikeroyok Ozy, Ega dan Manda diparkiran.
“.... Kenapa kau begitu bodoh?”
“Karena aku tidak pintar,” Dion cengengesan.
“Dih!” Frieska mendengus kesal.
“Hahahaha.”
“Kenapa tertawa?” Frieska menyeringitkan dahi.
“Tak tau kenapa aku suka melihatmu sewot denganku.”
“Aneh,” Frieska berbalik badan dan hendak masuk kedalam rumahnya.
“Hei, boleh aku bertanya?”
Frieska berhenti dan menoleh kebelakang dengan wajah malas, “Apa?”
“Bagaimana cara kau melompat dari pagar tipis ini? Kau dulu pernah kerumahku lewat belakang bukan dan kau bilang kau melompati pagar.”
“Apa itu penting?” Frieska memiringkan bibir.
“Hanya penasaran.”
“Haaah,” Frieska menghela nafas tapi dia bersedia memberitahu, “Kutumpu tanganku dipagar dan langsung meloncat.”
“Benarkah?”
“Bukan hal yang sulit.”
“Boleh kucoba?”
“Terserah.”
Dan tanpa basa-basi Dion melakukannya, ia menumpu satu tangannya itu dan langsung meloncat dengan sekali loncatan. Kakinya mendarat mulus direrumputan halaman belakang rumahnya Frieska.
“Oh begitu,” Dion tersenyum, “Berarti benar apa yang dikatakan Veranda dulu kalau sewaktu SMP kau ikut senam.”
“Bukan urusanmu, balik sana,” usir Frieska ketus dan berbalik badan untuk memasuki rumah.
“Iye-iye,” Dion memiringkan bibir.
Saat Dion hendak melompat ia menyeringitkan dahi, ia melihat sebuah handphone tergeletak ditempat dimana Frieska berdiri sebelumnya. Dia berjongkok dan memungutnya.
“Frieska! HP mu ja...”
Dion tidak melanjutkan ucapannya, ia menyeringitkan dahi memandang layar handphone karena layarnya sedari tadi menyala dalam kondisi media player yang di-pause oleh Frieska.
“Kayaknya gak asing,” gumam Dion.
Dion menekan tombol play dan video itu pun kembali terputar. Dan Dion terdiam karena itu adalah video dirinya yang melakukan pemanasan tubuh dibalkon rumahnya ditingkat 2. Terlebih lagi posisi rekaman itu sepertinya diambil dari sudut kamar Frieska karena Dion mengenal bentuk jendela rumah tetangganya ini yang berada ditingkat 2. Dion mengulang video ini dari awal yang dimana ia terantuk pot tanaman yang tergantung dibalkon rumahnya itu bahkan ada suara Frieska yang mengomentari kesialannya itu yang sering ia dapat saat melakukan pemanasan dibalkon rumahnya pada pagi hari.
- “Hihihi kau lucu!
Wajah Dion mendadak datar. Sementara itu Frieska tergopoh-gopoh keluar dan tampak panik dengan tangan meraba-raba kantong celananya. Dan betapa terkejutnya ia melihat Dion sedang memegang handphone-nya.
“Itu HP ku!” seru Frieska.
Dion menoleh kebelakang dan menge-pause video-nya, dia berdiri dan menyerahkan handphone karena Frieska menghampirinya. Frieska yang menghampiri juga terdiam karena ia melihat layar handphone-nya yang masih dalam mode seperti itu. Matanya terbelalak dan datar wajahnya memandang Dion, begitu juga raut wajah Dion kepadanya.
“.... Kau...... merekamku?”
Luar biasa rasa malu yang didapat oleh Frieska, wajahnya memerah bukan main. Ia merebut handphone-nya itu dari tangan Dion dan buru-buru memasuki rumah dan membanting pintu. Frieska tergopoh-gopoh memasuki kamar dan meloncat keatas tempat tidur. Nafasnya pun terengah-engah.
“Aaaa! Ketahuan!!!” serunya dengan wajah memerah, ia pun membenamkan wajahnya kebantal.
Frieska panik bukan main, ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan kesana kemari sambil menggigit kuku jempol tangannya.
“Bagaimana ini? Bagaimana ini?! Iiih kenapa sih aku ceroboh!!” Frieska berjongkok dan memukul-mukul kepalanya dengan tangannya. Ia begitu menyalahkan dirinya sendiri yang tak sadar handphone-nya terjatuh direrumputan halaman belakang rumahnya tadi.
Asyik-asyik berpanik ria tiba-tiba ada bunyi notifikasi chat masuk, dengan posisi berjongkok ia menghentikan aktifitas memukul kepala, ia melihat siapa yang mengirim chat dan terbelalak lah matanya.
Dion : Sekarang kita berdua memiliki rahasia manis, antara kau dan aku ;)

Frieska mematung ditempatnya berada, matanya terbelalak, mulutnya bergetar-getar sampai pada akhirnya.
“AAAAAAAA!!!!” Frieska berteriak saking malunya.
Frieska benar-benar bingung dan resah karena ini semua, terlebih lagi nada chat Dion tadi seperti hendak menggodanya, itu bisa terbukti dengan emoticon ;) sebagai penutup chat barusan.
“Mpris! Kamu kenapa sih teriak-teriak?!” bentak ibunya dari depan kamar.
“AAAAAAAA!!!” Frieska terus berteriak, ia menunjuk handphone dan melihat ibunya.
Ia melihat handphone-nya lagi
Lalu kembali melihat ibunya.
“AAAAAA!!!” dan lagi-lagi berteriak.
“Kamu kenapa? Kenapa dengan HP-mu?” ibunya penasaran dan hendak melihat apa yang ada di-handphone anaknya tersebut.
“AAAAAAA!!” Frieska berdiri, mendorong punggung ibunya agar keluar dan langsung menutup pintu kemudian menguncinya.
Wajah adik kandungnya Melody ini memerah bukan main.
“Ish! Bising! Itu Mpris kenapa sih?” Citra sewot, dia keatas sambil menutup kuping dengan kedua tangannya.
“Gak tau ini adikmu, Mpris-Mpris?” ibunya mengetuk pintu kamar.
“AAAAAA!” dan teriakan Frieska menjadi jawabannya.
Sementara itu Dion terlihat terkekeh didapurnya, ia bisa mendengar jelas teriakan Frieska dari tempatnya berada dan tahu pasti adiknya Melody itu malu setengah mati gara-gara ketahuan merekam dirinya diam-diam terlebih lagi ia sengaja mengirim chat dengan kata-kata yang dibuat-buat manis untuk Frieska.
“Ada-ada saja,” komentarnya sambil menyeruput kopi kalengan yang ia ambil dari kulkas sebelumnya.
Setelah meneguk minumannya, Dion tiba-tiba terdiam, wajahnya terlihat murung. Itu dikarenakan tadi ia hendak memberitahu Frieska tentang kebenaran kematiannya Veranda. Ia hendak memberitahukan ini kepada Frieska tadi saat menjemur pakaiannya tapi ia merasa tidak bisa melakukannya. Dia takut kalau hal itu akan menjadi beban pikiran bagi Frieska.
“Maafkan aku...” gumam Dion.
Dion hendak kekamarnya dan mandi, tapi baru 1 kaki menyentuh tangga ia mendengar bunyi bel rumahnya. Ia berjalan kepintu depan dan membuka pintu.
Hello, sobat-ku!” salam Ozy dengan senyum sumringah.
Dion langsung membanting pintu dan membiarkan Ozy mematung didepan rumahnya tersebut.
۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
Tepat jam 6.19 malam Melody sudah sampai dirumahnya setelah disibukkan dengan sedikit pekerjaannya sebagai manajer hotel. Sehabis memarkirkan mobil ia segera turun dengan perasaan tak sabar, ia membawa bungkusan makanan yang ia beli sebelumnya untuk Dion. Tapi baru selangkah ia berjalan ia melihat Dion hendak memasuki mobil yang sudah Dion keluarkan sebelumnya diluar pagar rumahnya.
“Dion! Dion!” panggil Melody.
“Ng?” Dion menoleh dan melihat Melody berlari pelan menghampirinya.
Dion menutup pintu mobilnya dan menunggu Melody.
“Mau kemana?”
“Mau pergi sebentar, ada urusan dengan rekan kerjaku. Ada apa?”
“Lama?”
“Mungkin.”
“Tapi kan kamu belum sembuh bener.”
“Tidak juga,” Dion tersenyum tipis, “Ada apa?”
“Emmmm,” Melody memanyunkan bibir dan menatap bungkusan makanan yang ia pegang.
“Oh,” Dion yang mengerti maksudnya hanya tertawa, “Ya sudah, yuk?”
“Ng? Kemana?”
“Ya makan.”
Dion membuka pagarnya dan mempersilahkan Melody masuk, tapi mereka tidak masuk kedalam rumah melainkan duduk dikursi pekarangan halaman rumahnya Dion.
“Makan disini?” tanya Melody, ia duduk disebelah Dion dan menaruh bungkusan makanannya ditengah.
“Ya, kalau boleh tahu kau membeli apa?”
“Ayam geprek sih.”
“Pedas? Sambalnya dipisah?”
“Ya,” Melody mengangguk.
“Kalau begitu, tunggu sebentar.”
“Mau kemana?”
“Mau ambil penawarnya dulu. Tunggu saja disitu.”
Dion memasuki rumahnya sedangkan Melody mengeluarkan 2 kotak makanan didalam bungkusan itu, ia menyusun kotak itu dan menunggu Dion keluar dari rumahnya. Tak butuh waktu yang lama, Dion keluar dan kembali duduk ditempat sebelumnya.
“Nah ini penawarnya,” Dion tertawa pelan menggoyangkan 2 kaleng susu dingin dihadapan Melody.
“Oh,” Melody tertawa ringan dan menyambut 2 kaleng susu dingin tersebut.
Mereka membuka kotak makanannya masing-masing dan siap menyantapnya dikarenakan sudah tersedia sendok plastik kecil disitu.
“Maaf, bukannya aku tidak mau menerimamu masuk kedalam rumah. Tak enak dengan orang tuamu dan tetangga-tetangga lain disini. Lagipula kalau orang tua mu keluar rumah dan melihat mobilmu, mereka pasti mencari-cari bukan?”
“Iya ngerti kok, tapi kalau kita makan disini bukannya menarik perhatian?”
“Di jam segini jarang ada yang keluar rumah kan?” Dion tertawa dan menelan nasi dengan potongan ayamnya.
“Bener juga,” Melody tersenyum, “Emangnya kamu mau kemana?”
“Temanku, dia minta tolong... yah permintaan konyol sebenarnya.”
“Konyol gimana?” tanya Melody sambil mengunyah-ngunyah.
“Gimana ya ngejelasinnya... yang pasti dia minta aku menemaninya untuk ngobrol dengan orang tua wanita yang mau dikunjunginya.”
“Pacar temen kamu?”
“Aku tidak tahu, dan tumben pulang jam segini?”
“Iya, tadi sibuk banget. Tau gak...”
“Gak tau,” potong Dion.
“Iii dengerin dulu,” Melody memanyunkan bibir.
“Haha iya-iya, teruskan.”
Melody kemudian menceritakan kesibukannya tadi dihotel dan Dion meresponnya dengan rasa penasaran yang ada karena dia tidak tahu sistem kerja hotel seperti apa. Banyak yang mereka bicarakan sampai makanan yang mereka makan ludes tak tersisa, lebih tepatnya Melody tidak menghabiskan ayamnya maka Dion yang menghabiskannya.
“Jadi kamu tidak ada rencana untuk cari tahu masa kecil kamu?”
Dion menggeleng setelah menenggak minuman, “Semua akte dirumah yatim piatu itu terbakar, jadi aku tidak tahu siapa yang dulunya menemukanku dan membawaku kerumah yatim itu. Aku sudah meminta bantuan temanku untuk mencari tahu hal itu.”
“Siapa?”
“Enu, dia juga sama denganku, besar dipanti asuhan itu.”
“Oh yang dulu datang kerumah Ody bukan? yang sama istrinya? Temen Frieska?”
“Ya.”
“Dan hasilnya?”
Dion kembali menggeleng, “Sia-sia, Enu sudah mendapatkan nama dan alamat orang yang mengirimku ke panti asuhan... tapi orang itu sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit. Jadi petunjuk tentang diriku ikut terkubur bersamanya.”
“Sudah tanya keluarganya?”
“Dia duda, dan tak ada keluarga disini,” Dion tersenyum.
“Begitu...” Melody menunduk.
“Seharusnya aku yang murung bukan?” Dion tertawa melihat Melody.
Melody memandang Dion dan tersenyum, “Tapi dengan itu kamu gak tau apa yang terjadi sama kamu dulu kan? Terlebih lagi orang yang kamu ceritakan itu memanggilmu Kak.”
“Tidak masalah bagiku, dan aku juga tidak perduli... karena bagaimana pun orang itu sudah membunuh banyak orang bersama komplotannya.”
“Dan kalau dia adalah adik kandungmu?”
“Tetap, dia harus dihukum sesuai hukum yang berlaku.”
“Hmm,” Melody tersenyum, “Yang pasti kamu harus siap menghadapi semua kenyataan nanti.”
“Ya,” Dion tersenyum.
Suara handphone Dion berbunyi dan segera dia angkat, setelah berbincang sebentar maka hubungan telepon terputus.
“Sepertinya aku sudah harus pergi.”
“Iya,” Melody membereskan kotak makanan mereka berdua untuk dibuang ketong sampah.
“Dan...”
“Ya?” Melody memandang Dion.
“Kau tidak keberatan bukan?”
Melody tersenyum dan mengangguk, “Aku mengerti... aku juga tidak menuntut kamu untuk selalu menemuiku diluar sana, dan aku tahu maksud kamu meminta hal itu karena bagaimanapun orang itu masih berkeliaran dan takutnya aku yang akan diincar karena dekat denganmu...”
“Terima kasih,” Dion tersenyum.
“Seharusnya Ody yang berterima kasih, kamu melakukan ini untuk Ody kan?”
“Mungkin,” Dion tertawa.
“Ishhh!” Melody ngambek.
“Hmmm,” Dion memiringkan bibir.
“Udah tau hanya disini saja kita bisa ketemu!” Melody melipat tangan, wajahnya kecut bukan main dengan pandangan lurus kedepan.
Melihat tingkah wanita disampingnya ini membuat Dion menahan tawanya, ia melihat sekeliling dulu untuk memastikan tidak ada orang. Setelah itu ia tersenyum dan memandang Melody.
“Hei.”
“Hmm,” Melody mendelikan matanya kearah Dion.
“Tidak ada orang.”
Alis Melody naik sebelah dan menoleh, “Terus?”
“Hmm,” Dion tersenyum dan memajukan kepalanya.
Melody yang tahu maksudnya juga tersenyum, ia kemudian menutup mata dan bersiap menyambut apa yang hendak dilakukan Dion.Yang dilakukan Dion hanya mengusap-usap kepala Melody, ya, hanya itu saja. Akan tetapi Melody menerimanya dan menahan tawanya tersebut dengan senyuman.
“Masih kesal?” tanya Dion.
“Sedikit,” Melody tersenyum dan memberi tanda ‘Sedikit’ dengan jari jempol dan telunjuk tangannya, “Dan Ody harap ini semua benar-benar berakhir, jadi Ody bisa menemuimu kapanpun Ody mau diluar sana.”
“Bukankah dari dulu kita selalu bertemu disini?” Dion tertawa ringan.
“Perumpamaannya,” Melody memeletkan lidah.
“Haha kalau begitu aku pergi dulu,” Dion mengacak-acak rambut Melody dan beranjak dari tempat duduknya.
Mereka berdua keluar dari pekarangan rumah. Dion kembali berpamitan dan masuk kedalam mobilnya. Saat mobil menyala tiba-tiba Melody mengetuk kaca jendela mobilnya.
“Ada apa?” tanya Dion setelah menurunkan kaca mobil.
Melody menunduk dan tersenyum, “Mungkin keselnya akan benar-benar hilang kalau... Hmmm.”
“Hmmm,” Dion tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya sudah sini. Mumpung tak ada orang.”
Melody tertawa ringan dan memasukan separuh badannya lewat kaca jendela mobil. Dan didalam mobil itulah Dion menyentil pelan kening Melody, begitu juga yang Melody lakukan.
“Hati-hati dijalan ya?”
“Ya,” Dion tersenyum.
Melody menyentil pipinya Dion dan menarik mundur tubuhnya. Setelah berpamitan sekedarnya maka mobil segera melaju dengan cepat. Melody hanya tersenyum melihat mobil itu dari belakang dan hendak pulang kerumahnya. Setelah membuang sampah kedalam tong sampah maka ia masuk kedalam rumah.
“Tumben jam segini pulangnya, Mel?” tanya Citra, kakaknya Melody yang asyik menonton TV.
“Namanya juga kerja, ayah sama mama mana?” tanya Melody sambil melepas sepatu.
“Didapur, eh tuh Frieska kenapa sih?”
“Kenapa?”
“Gak tau, coba kamu bilang ‘Hp’ didepannya. Pasti dia teriak.”
“Loh? Kenapa?” Melody menyeringitkan dahi.
“Mana kakak tau, coba aja buktikan sendiri,” Citra menadahkan kepalanya kelantai 2.
Karena rasa penasarannya maka Melody naik kelantai 2 dan mengetuk pintu kamar adiknya.
“Mpris.”
“Apa?”
Melody membuka pintu dan melihat Frieska berbaring diatas kasur sambil membaca majalah dan mengunyah kripik kentang favoritnya.
“Ada apa?” tanya Frieska kembali.
Melody terdiam karena merasa tak ada yang aneh dari adik kandungnya tersebut, tapi rasa penasarannya muncul kembal sampai akhirnya ia berbicara, “.... HP....”
“AAAAAA!!!!” dan benar seperti yang dikatakan Citra, Frieska tiba-tiba berteriak, ia turun dari kasur dan menutup pintu kamarnya.
“Kenapa sih?” Melody kebingungan menatap pintu kamar adiknya sambil menggaruk bagian kepalanya yang gatal.
“Citra! Jangan ngomongin kata sakral itu!” tegur ibunya dari lantai bawah.
“Bukan aku! Imel!” bantah Citra.
Sepertinya keluarga Melody mempunyai keunikan baru dalam kehidupan keluarga mereka.
Lalu Dion yang baru saja mau keluar dari gerbang komplek perumahannya tiba-tiba berhenti karena ia melihat seseorang yang ia kenal turun dari taksi. Orang itu juga melihat Dion dan buru-buru menghampiri setelah membayar taksi.
“Dion, kamu mau kemana?” tanyanya setelah Dion menurunkan kaca mobil, orang itu adalah Shani.
“Mau pergi, kau mau kerumahku?”
“Iya,” Shani mengangguk, “Emangnya kamu mau pergi kemana?”
“Masuklah,” Dion menadahkan kepalanya kesamping.
Shani memasuki mobil dengan bungkusan kecil yang menarik perhatian Dion, setelah Shani menutup pintu maka mobil berjalan. Setibanya dijalan besar Dion kemudian bertanya.
“Mau apa kerumahku?”
“Melihat keadaanmu dan membawakanmu ini,” Shani memandang Dion dan kedua lubang hidungnya bergerak-gerak, “Tapi...”
“Apa?”
“Aku mencium aroma bumbu dimulutmu.”
“Astaga,” Dion tertawa kecil, “Hidung kau ini udah seperti anjing pelacak.”
“Ish!” Shani sebal dan menggeplak lengan tangan kiri Dion, “Jadi kamu udah makan?”
“Ya,” Dion mengangguk.
“Ck, dengan tetanggamu itu kan?” tanyanya sebal.
“Tau darimana?”
“Ya iyalah! Aku juga mencium sedikit bau parfum wanita ditubuhmu!” Shani melipat tangan dan masam wajahnya memandang kedepan.
“Oh,” Dion tertawa dan melirik bungkusan makanan, “Emang apa yang kau bawa?”
“Entah,” Shani membuang muka kesamping.
“Heleeh,” Dion memiringkan bibir dan membuka bungkusan itu dengan tangan kirinya, didalamnya terdapat kotak bekal makanan dan Dion langsung saja membukanya, “Wow Sotong goreng!”
Shani mendelikan matanya.
“Favoritku,” sambung Dion.
Shani menoleh dan melihat Dion lahap satu per satu sotong goreng dari kotak bekal makanannya, Shani kemudian bertanya, “Benarkah?”
“Apanya?” Dion bertanya balik sambil mengunyah.
“Kalau itu makanan favoritmu?”
“Ya, kenapa?”
Shani mengubah posisinya memandang Dion, senyumnya merekah, “Benarkah? Kamu gak bohong?”
Dion memiringkan kepalanya kekanan dan menepuk lehernya, “Kau bisa cek sendiri aku bohong atau tidak,” katanya seolah meminta Shani mengetahui bohong tidaknya dari denyut nadinya.
Shani tidak melakukannya, ia terus memandang Dion dengan senyum manisnya dan ia merasa tidak perlu melakukannya karena ia melihat Dion begitu semangat memakan sotong goreng tersebut.
“Enak?”
“Ya, pas, tepung pedas. Kau beli dimana?” Dion menoleh kearah Shani saat mobilnya berhenti dilampu merah.
Senyum Shani semakin menjadi hingga matanya menyipit, “Aku masak sendiri.”
“Benarkah?”
“Diajari ibuku tadi.”
“Begitu,” Dion tersenyum tipis dan kembali mencomot sotong gorengnya.
Shani mengambil kotak bekalnya itu dan dipangkunya diatas paha dia sendiri, ia mengambil 1 sotong gorengnya dan diarahkannya kemulut Dion.
“Aaaa,” Shani meminta Dion membuka mulutnya.
“Errrr,” Dion memundurkan kepalanya dan tangannya berusah mengambil sendiri sotong goreng dari kotak bekal yang dipangku Shani, “Aku bisa ambil sendiri.”
“Iiiih!” Shani sebal dan menjauhkan kotak bekalnya, “Aaaa!” pintanya lagi.
“Errrr!”
“AAA!” Shani melotot.
Dengan terpaksa Dion membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangannya Shani.
“Nah gitu! Harus mau kalau aku suapin!” Shani mendengus bangga.
“Ada gitu maksa?” Dion memalaskan matanya memandang Shani, mulutnya asyik mengunyah.
“Kamu emang harus dipaksa, sini, Aaaaa,” pinta Shani sekali lagi.
“Heleeeh,” Dion menerima suapan itu lagi.
Mobil kembali berjalan dan Shani menaruh kotak bekalnya diatas dashboard mobil. Dion hendak mengambil sotong goreng tapi tangannya digeplak oleh Shani. Shani mengambil 1 sotong gorengnya dan ditaruh diantara gigitan giginya pelan.
“Hnnggg,” panggil Shani.
“Apa?” Dion menyeringitkan dahi memandang Shani.
“Hnnnggg,” Shani menurunkan pupil matanya kebawah seolah menunjuk sotong goreng yang ada dimulutnya.
“Oh,” Dion mencomot sotong goreng dimulut Shani dengan tangan dan langsung mengunyahnya.
“Ish!” Shani sebal dan memukul lengan Dion.
“Apa?” Dion menyeringitkan dahi memandang Shani.
“Bukan pake tangan!”
“Terus?”
“Pake mulut kamu!”
“Yaelah! Gak-gak! Apaan coba,” Dion memiringkan bibir dan kembali memandang kedepan.
Shani geram, saking geramnya dia mengambil lagi  1 sotong dari kotak bekal, membuka seat belt, menaruh lagi sotong itu dimulutnya dan sekarang ia sendiri yang mengarahkan sotong itu kearah Dion.
“Eh?! Eh?! Kau ini apa-apaan?!” Dion kelabakan setengah mati saat Shani hendak memberikan langsung sotong itu dari bibirnya kearah bibir Dion.
“Hnnnggg!” Shani melotot.
Alhasil dijalanan itu hanya mobil Dion yang oleng sendiri sehingga diklakson mobil pengendara lain. Dion menepikan mobilnya ketepi dan mendorong Shani pelan dengan sotong yang masih menempel dibibirnya.
“KAU INI KENAPA? HAH?!” bentak Dion yang marah.
Shani tertegun karena sudah lama dia tak melihat Dion semarah ini semenjak pria yang ada disebelahnya ini berusaha merekrutnya dulu. Dulu Dion marah dengannya karena Shani beberapa kali hampir berhasil membunuhnya.
Dion meraup sotong didalam kotak bekal dan sembarangan memasukannya kedalam mulut, sambil mengunyah maka dia berteriak, “MAKAN SAJA HARUS RIBET SEPERTI INI! KALAU TERJADI APA-APA TADI GIMANA?! HAH?!” Dion membanting sisa sotong yang ada ditangan kebawah.
Shani tersentak kaget, matanya memandang sotong goreng buatannya yang dilempar Dion berada dibawah kakinya. Dion mematikan mesin mobil dan menelungkupkan kepalanya kesetir mobil, ia mencoba mengstabilkan emosinya dahulu untuk sampai ketahap dimana ia bisa membunuh emosinya itu secara total karena itu hal yang mudah baginya.
Setelah emosinya itu reda ia mengangkat kepalanya lagi dan hendak berbicara dengan Shani atas tindakan gadis ini barusan karena itu sangat berbahaya, tapi belum sempat menoleh ia mendengar suara isak disebelahnya.
Dion menoleh dan melihat alis Shani mengkerut memandang sotong goreng yang dibuang Dion sebelumnya, bola mata gadis ini berair dan Dion terdiam dibuatnya. Yang dilakukan Shani tadi hanya ungkapan kegembiraannya karena berhasil membuat makanan favorit pria yang disukainya ini, saking bahagianya dia tidak sadar kalau sikap dia tadi terlalu agresif. Dan sekarang dia sedih telah membuat pria yang disukainya itu marah kepadanya.
Dion menghela nafas, ia kemudian menunduk dan memungut sotong-sotong goreng itu dibawah dan menaruhnya lagi kedalam kotak bekal. Dion melihat Shani dan melihat gadis ini menunduk dengan sotong goreng yang masih bersarang dimulutnya.
“Hei,” panggil Dion lembut.
Shani menoleh dan bisa terlihat raut wajahnya yang begitu sedih, tapi Dion hampir tertawa karena Shani begitu lucu melakukan ekspresi itu dengan sotong goreng dimulutnya.
Dion memegang kepala Shani dan berkata, “Maafkan aku...”
Tak ada jawaban dari Shani, ia kembali menunduk dan murung, suara isak dari hidungnya itu terus dikeluarkannya seolah ia menahan perasaan sedih yang ia rasakan. Dion tersenyum tipis, diarahkannya lagi kepala Shani untuk menatap dirinya dengan tangan dan ditariknya pelan kepala Shani, begitu juga Dion lakukan.
“Hmm,” Dion mengambil sotong goreng itu dengan mulutnya dan mengunyah dengan senyuman dihadapan Shani langsung.
Shani hanya terdiam melihat pria dihadapannya ini mengunyah sotong yang diambil dari mulutnya, alisnya masih mengerut sampai akhirnya Dion menelan makanan yang sudah dikunyahnya.
“.... Hanya aku yang boleh agresif...” kata Dion tiba-tiba.
“Ng?” respon Shani kebingungan.
Tiba-tiba saja Dion menarik kepala Shani menuju arahnya, dan tak hanya itu saja, Dion mempertemukan bibirnya dengan bibir Shani. Mata Shani terbelalak menerima ‘Serangan’ ini tiba-tiba.
Dion melepaskan ciuman itu sejenak, dia tersenyum dan mengelus kepala Shani dengan lembut. Setiap elusan yang diterima Shani dari Dion entah kenapa membuat gadis ini teringat akan kebersamaannya dengan Veranda dulu. Ia merasa tenang diperlakukan seperti. Ia menundukan sedikit kepalanya.
“...... Maaf...” lirih Shani pelan.
“Aku juga minta maaf.”
Shani sedikit tersenyum ditengah isakannya mendengar balasan itu.
“Jangan begitu lagi, oke?”
Shani mengangguk dan menatap Dion.
“.... Maksud kamu tadi apa.... hanya kamu yang boleh agresif...”
“Yang barusan kulakukan, dan....” Dion menepuk-nepuk kepala Shani pelan dan tersenyum, “Aku tidak mau kau nya yang agresif. Biar aku saja.”
Shani tersenyum dan berkata, “Tapi kamu kan gak pernah begitu....”
“Bukan berarti kalau aku tak pernah begitu malah kau yang melakukannya, kau tau tadi sangat berbahaya kan?”
“... Maaf...” Shani menundukan kepalanya kembali.
“Aku juga minta maaf.”
Dion terus mengelus kepala Shani hingga akhirnya Shani benar-benar tenang dan tak ada lagi suara isak yang ia keluarkan, ia tersenyum dan memegang tangan Dion yang mengelus kepalanya.
“Aku kangen....”
“Ng?” Dion tertegun.
Shani menatap Dion dan berkata, “... Kangen...”
“Kenapa?” Dion tersenyum.
“.... Sepi... gak ada kamu disana.... 5 hari ini kerjaan aku ngegangguin Yona melulu....”
“Oh....” Dion terkekeh pelan.
“Dari kemarin aku pulang malam terus, paginya aku kuliah, pulangnya kemarkas... lalu kemarin aku mau kesini portal dikomplek rumahmu selalu tertutup karena aku pulang terlalu malam....” alis Shani merengut dan sedikit cemberut, “Aku kangen...”
“Kenapa tidak menelpon saja?”
Shani menggelengkan kepala, “Aku lebih suka ketemu langsung...”
“Begitu,” Dion mengangguk.
“Jadi karena aku bisa pulang lebih awal makanya aku... Hmmb!” Shani tiba-tiba melotot.
Shani tidak bisa meneruskan kalimatnya karena tiba-tiba saja Dion mencium dirinya, pria ini terus mencium Shani dengan lembut. Menerima ciuman yang lembut itu membuat Shani senang bukan main, ia menutup mata dan memegang tangan Dion yang memegang kepalanya. Gadis ini pun membalas ciuman pria itu dengan lembut.
2 menit mereka berciuman maka Dion menyudahi hal tersebut, Shani tersenyum dan Dion kembali mengelus kepalanya.
“Sudah kubilang tadi kan? Kalau hanya aku saja yang boleh agresif,” Dion terkekeh pelan.
Shani tertawa ringan dan mengelus wajah Dion, “Jahat... kamu boleh masa aku gak boleh....”
“Akan terlihat jauh lebih manis kalau wanita tidak seagresif itu.”
“Benarkah?”
“Ya, kau ini wanita seharusnya kau tahu akan hal itu,” Dion tertawa pelan.
“Soalnya aku tak pernah jatuh cinta, bodoh!”
“Apa tadi? Cinta?” Dion terkekeh.
“Issh!” Shani sebal dan menjewer telinga Dion.
“Hahaha,” Dion hanya tertawa, begitu juga Shani.
Mereka kembali berciuman sejenak dan Shani benar-benar merasa rasa kangennya terobati gara-gara ini. Ciuman terlepas dan Dion menyalakan mobilnya karena teringat akan keperluannya. Mobil berjalan dan Dion kembali menyomot sotong goreng dari kotak bekal yang Shani taruh diatas dashboard.
“Kan kotor,” kata Shani mengingatkan.
“Sotong gorengnya siapa yang masak?” tanya Dion.
“Aku.”
“Lalu buat siapa masakannya?”
“Kamu.”
“Jadi terserah aku makanannya mau aku apain,” Dion terkekeh.
Shani lagi-lagi tersenyum, ia mengambil kotak bekal itu dan hendak menyuapi Dion akan tetapi Dion lagi-lagi memundurkan kepalanya.
“Yang masak aku, jadi terserah aku kan makanannya mau kuapain?” balas Shani.
“Heh,” Dion cengengesan.
Dion akhirnya menerima suapan dari Shani, dan tak seperti tadi. Shani begitu lembut menyuapkan makanan tersebut kepada Dion dan yang pasti sikap wanita ini sekarang begitu tenang. Dan didalam mobil itu benar-benar sangat menyenangkan bagi Shani.
۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
Urusan Dion dengan Ozy beres. Dion diminta Ozy berpura-pura menjadi saudaranya dan karena ada Shani maka mau tak mau Ozy juga meminta Shani berpura-pura menjadi adiknya untuk bertemu dengan orang tua Naomi.
“Jadi sudah tidak ada lagi kan?” tanya Dion saat diluar rumah kepada Ozy.
“Ya, dan lebih baik kau ikut denganku.”
“Ngapain juga kami ikut? Kan ini acara kencan kalian,” balas Shani.
“Bukan kencan,” Ozy memiringkan bibir, “Hanya bayaran informasi penyelidikan kepolisian tentang Black Snake.”
“Benarkah?” tanya Shani.
“Ya.”
“Boleh saja, asal kau yang membayar,” kata Dion sambil menyalakan rokok.
“Ya-ya,” Ozy memiringkan bibir.
Tak lama kemudian Naomi keluar dari rumahnya dan penampilannya itu sangat mempesona bagi Ozy hingga tak berkedip matanya. Padahal Naomi hanya memakai pakaian kasual santai.
“Kenapa kamu?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Oh,” Ozy tersadar, “Tidak, kalau begitu langsung saja kerumah makan.”
“Nontonnya?”
“Bagaimana kalau besok?”
“Hmm,” Naomi memiringkan bibir.
“Besok ada film baru, kurasa seru. Daripada film yang ada sekarang dibioskop.”
“Yaudah deh....” Naomi menoleh kearah Shani dan Dion.
“Anggap saja kami obat nyamuk nanti,” kata Dion cuek saat Naomi memandang dirinya.
“Obat nyamuk.... kalian juga ikut?”
“Ya,” jawab Ozy.
“Tenang saja, kami akan menjauh,” sambung Shani.
Setelah cukup berbasa-basi maka mereka segera meluncur dengan kendaraan masing-masing. Butuh waktu 20 menit bagi mereka untuk sampai ketempat tujuan yaitu rumah makan yang sering digunakan Ozy dan Naomi untuk bertemu. Ozy dan Naomi keluar dari mobil disusul Dion dan Shani dibelakang mereka.
Mereka berjalan menuju rumah makan yang dimaksud, Naomi dan Ozy masuk duluan sedangkan Dion dan Shani berhenti saat berpapasan dengan seseorang yang hendak keluar dari rumah makan.
“Arya!” seru Dion dan disambung Shani, “Kak Arya!”
“Ng?” Dion dan Shani saling berpandangan, dan orang yang dipanggil mereka berdua dengan nama Arya menoleh dan terkejut.
“Wih! Dion!” serunya dan memandang Shani, “Loh... Shani kan?!”
“Astaga!” senyum Dion merekah, “Apa kabar, Yak?! Lama tidak ketemu!”
“Gila! Kok lo bisa disini? Hahaha!” sambut Arya dengan suka cita.
Dion dan Arya berpelukan seadanya sebagai 2 orang yang lama tidak bertemu. Arya adalah rekan kerja mendiang Istrinya Dion dahulu yaitu Veranda saat Veranda masih bekerja ditempat kerjanya. Arya kemudian memandang Shani dan senyumnya merekah.
“Shani kan? Ya Tuhan! Lama gak ketemu, Shan!”
“Iya,” Shani tersenyum dan menyambut salam tangan dari Arya, “Kok kakak ada disini?”
“Entar dulu,” Arya memandang Dion dan Shani bergantian, “Kalian udah saling kenal?” tanyanya sambil menunjuk Dion dan Shani bergantian.
“Udah lama, lo kenal dimana?” Dion menadahkan kepalanya kesamping untuk menunjuk Shani.
“Wih-wih hahahaha gak nyangka gue, ya kenalah. Dulu pernah ketemu dia di-Jepang,” kata Arya menunjuk Shani.
“Oh! Ya, ya. Inget-inget,” Dion teringat saat mendengar Shani yang kabur ke Jepang dan mengatakan bertemu Veranda disana, dan disana Veranda tidak sendirian karena ditemani 2 rekan kerjanya, salah satunya adalah Arya.
“Apa kabar kak?” tanya Shani.
“Baek-baek? Kamu? Oh iya, berarti udah tahu ya kabar tentang Veranda?”
“Iya...” Shani mengangguk pelan.
Arya tersenyum dan berkata, “Veranda nangis loh waktu kamu pulang itu, dan dia menyesal lupa menanyakan alamat rumahmu dan juga menyesal karena lupa memberitahukan nomor HP-nya.”
“Benarkah?”
“Ya,” Arya tersenyum dan mengangguk.
“Begitu,” Shani memandang kebawah, senyumnya begitu sendu karena tak menyangka Veranda bisa seperti itu untuknya, dan Shani juga merasakan penyesalan yang sama. Dan ia benar-benar merindukan sosok Veranda yang merupakan ‘Kakak’ bagi dirinya tersebut.
“Sama siapa lu, Yak?” tanya Dion.
“Sama pacar gue hehe, dia lagi didalam mau ngobrol sebentar dengan temannya. Gue mau ambil mobil dulu. Lalu... lo sama Shani apa nih? Hehe.”
“Teman biasa,” Dion tersenyum.
“Oh kirain nyari penggantinya Veranda,” Arya cengengesan.
“Doakan saja,” Shani tersenyum.
“Ng? Doakan?” Arya menyeringitkan dahi.
“Doakan dia lulus S1 hahahahahahaha!” jawab Dion dan Shani terlihat sebal mendengar jawabannya.
“Ngomong-ngomong kak Kinal dimana sekarang?” tanya Shani.
“Oh Kinal? Gak tau sekarang dia dimana. Dia udah lama berhenti, lost contact gitu. Tapi terakhir denger sih dia di Bandung, entah kerja apa disana,” jawab Arya.
“Hmm gitu,” Shani memanggut-manggut.
“Lo masih kerja disitu?” tanya Dion berbasa-basi.
“Masih,” Arya cengengesan.
Mereka masih berbincang-bincang sampai akhirnya ada seorang wanita berambut panjang keluar dari rumah makan.
“Arya, kok masih disini?”
“Oh,” Arya menoleh kebelakang dan tersenyum, “Nah ini dia.”
“Ng?”
Arya kemudian menoleh kearah Shani dan Dion, “Nah ini dia pacarku. Shania kenalan dulu gih, ini teman-temanku.”
Shania melihat Dion dan Shani bergantian, gadis manis ini kemudian tersenyum dan menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan.
“Shania.”
“Dion,” Dion tersenyum dan sedikit menundukan kepalanya.
Setelah Dion maka Shani selanjutnya.
“Shania.”
“Shani,” Shani juga tersenyum.
“Wah, kurang A aja nih dibelakangnya,” Shania tertawa lepas.
“Hehe iya,” Shani ikutan tertawa dalam basa-basi ini.
“Ini suaminya Veranda dulu, tau kan Veranda?” Arya menunjuk Dion.
“Oh,” Shania tertegun, “Iya-iya tau, emm turut berduka cita ya... aku benar-benar gak nyangka dia secepat itu....”
“Iya, terima kasih. Pernah ketemu Veranda?”
“Iya,” Shania tersenyum, “Di tempat kerjanya Arya dulu, dia benar-benar cantik dan anggun.”
“Tak apa, penggantinya juga tak kalah cantik,” Arya cengengesan menunjuk Shani untuk menggoda Shani dan Dion.
“Eh? Kalian pacaran?” tanya Shania.
“Tidak,” jawab Dion.
“Doakan saja,” Shani tersenyum.
“Doakan?” Shania menyeringitkan dahi.
“Doakan dia cepat mancung hahahahahaha,” jawab Dion lagi dan Shani lagi-lagi kesal mendengar jawabannya.
“Oh gitu,” Shania juga tertawa.
Suara Handphone menyita perhatian mereka dan Shania mengatakan kalau ibunya sudah menelpon. Arya dan Shania pun berpamitan karena Arya ingin mengantar Shania pulang. Setelah kepergian Shania dan Arya maka Shani berbicara.
“Kira-kira pacarnya itu kerja apa ya?”
“Ng? Kenapa?” tanya Dion.
“Tangannya kasar sewaktu kami bersalaman, dan ada kapalan gitu. Seperti tanganmu itu. Ya kayak udah sering megang benda-benda tumpul.”
“Benarkah?”
“Ya,” Shani mengangguk.
“Hmm,” gumam Dion, “Mungkin karena sering berberes-beres rumah.”
“Mungkin...” Shani kemudian memincingkan matanya kearah Dion, “Dan apa maksudnya tadi? Lulus S1 lalu hidung mancung?”
“Karena kau memang mengejar s1 dan hidungmu pesek, yuk masuk,” jawab Dion dengan cueknya.
“Ish!” Shani menendang pelan kaki Dion.
Mereka berdua masuk kedalam dan Shani melihat Ozy bersama Naomi sudah duduk disalah satu meja, dia juga melihat meja-meja lain yang sudah terisi sampai meja yang ada dibelakang meja Ozy dan Naomi meski dibatasi oleh pembatas seperti pagar yang dihiasi tanaman plastik diatasnya. Karena rumah makan ini bisa memesan atau mengambil sendiri makanannya maka Dion mengajak Shani untuk mengambil makanan terlebih dahulu baru mencari tempat duduk. Sementara itu Ozy dan Naomi sedang berbincang-bincang.
“Kalau begini sia-sia jadinya kalau tempat kau sendiri belum menyelidiki kelompok itu,” Ozy memiringkan bibir.
“Aku gak bilang kalau tempatku sudah berhasil menyelidikinya kelompok itu kan?” balas Naomi enteng.
“Heleeh,” Ozy memiringkan bibir.
“Ngomong-ngomong mereka berdua kemana? Kok gak ada daritadi?” Naomi celingak-celingukan.
“Tuh, lagi ngambil makanan,” Ozy menadahkan kepalanya menunjuk Shani dan Dion yang mengambil makanan sendiri.
“Oh,” setelah memandang mereka berdua maka Naomi kembali memandang Ozy, “Apa itu Dion yang ditanyain temanku sama kamu dulu?”
“Temanmu yang mana?”
“Manajer hotel,” Naomi memiringkan bibir.
“Oh, ya itu dia,” jawab Ozy sambil menghembuskan asap rokok.
“Lalu... kenapa dia bersama wanita itu?”
“Oh Shani? Emang kemana-mana sering berdua, yang itu eksekutor, yang cewek pengawas.”
“Eksekutor? Pengawas?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Akan sulit dijelaskan, yang pasti eksekutor itu seperti aku.”
“Oh gitu,” Naomi memanggut-manggut, “Lalu Vienny?”
“Vienny hanya sekretaris, dia tidak pernah turun kelapangan.”
“Hmm,” Naomi kembali memandang Dion dan Shani dikejauhan habis itu dia memandang Ozy, “Apa benar dia pintar?”
“Pintar?” Ozy terkekeh, “Pintar darimana? Dia bahkan tidak ingat nomor anggotanya sendiri. Bahkan dulu sewaktu bertugas bersamanya dia pernah lupa melepas pengaman pistol yang dia pegang waktu menembak.”
“Loh, katamu dulu dia pintar?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Hah? Kapan?”
“Dulu, kamu bilang Shani itu pintar,” Naomi memiringkan bibir.
“Oh...” wajah Ozy mendadak datar, “... Kirain...”
“Kamu pikir aku nanyain Dion?” Naomi memalaskan mata.
“Eeeerrr... itu... ah ya Shani memang pintar dan ya.... cerdas,” Ozy buru-buru mengalihkan jawaban.
“Seberapa cerdas?”
“Mau tau?”
“Gimana?”
“Tuh dia kesini,” Ozy menadahkan kepalanya.
Terlihat Shani datang sendirian dan duduk disebelah meja Ozy dan Naomi, porsi makanan yang diambil Shani dibilang sedikit dan bebas kolesterol. Shani menoleh sebentar arah belakang dimana Ozy duduk. Setelah itu duduk dan berkata.
“Meja lain penuh, anggap saja mejaku ini tembok jadi kalian bisa tenang kencan disitu.”
“Kencan apaan?!” Ozy sewot, “Dion mana?”
“Tuh, masih milih-milih,” Shani menunjuk Dion dikejauhan.
“Hmm. Oh iya, Shan.”
“Apa?” respon Shani sambil mengaduk makanannya dengan sendok.
“Tebak-tebakan lagi.”
“Tebak-tebakan apanya?” Shani menyeringitkan dahi.
“Nih,” Ozy menunjuk Naomi, “Coba lu tebak dia ini dirumah ngapain sebelumnya.”
“Untuk apa juga?” Shani memiringkan bibir.
“Dia mau tau.”
“Benarkah?” Shani memandang Naomi.
“Ya... kalau kamu tidak keberatan,” jawab Naomi.
“Hmm,” gumam Shani.
Shani memperhatikan Naomi secara seksama dari atas sampai bawah, bahkan ia berdiri sebentar untuk melihat sisi Naomi yang tak terlihat dari tempat duduknya. Setelah itu Shani kembali duduk dan siap menyantap makanannya.
“Jadi apa?”
Shani mengunyah terlebih dahulu dan menoleh, “Akan kujawab, tapi kau pergi dulu sana.”
“Lah, kenapa aku diusir?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Karena aku tidak mau tahu kau mengetahuinya, sudah jelas?” kata Shani cuek sambil mengeluarkan handphone khusus Redrum dari dalam tas-nya.
“Ck, yaudah. Kebetulan mau ke toilet.”
Ozy pun pergi menuju sebuah toilet, setelah itu Naomi memandang Shani dan berkata.
“Kenapa menyuruhnya pergi?”
“Karena kurasa kau tak ingin dia mengetahuinya bukan?” Shani balik bertanya sambil mengetik pesan di-handphone khusus Redrum nya.
“Apa?” Naomi menyeringitkan dahi.
Shani menoleh dan tersenyum, “Kamu udah melakukan persiapan sebelumnya bukan untuk kencan ini?”
“Eh?” Naomi tertegun.
Lipstick-mu, dan dari warnanya yang mulai memudar sedikit. Blash on minimalis yang juga terdapat dipipimu. Itu tandanya kau sudah mempersiapkan dirimu untuk hal ini sebelum kedatangan dia, tapi kau tak menyangka akan kedatangan 2 orang lain, yaitu aku dan pria yang bersamaku tadi.”
Naomi terkejut bukan main.
“Dan pakaianmu... aku tahu kau buru-buru menggantinya. Kemejamu rapi tapi hanya bagian lengannya yang kusut, itu berarti kau buru-buru memakainya saat berganti pakaian. Begitu juga celana jeansmu, kau lupa memakai ikat pinggang. Dan aku rasa tadi kau memakai dress sebelumnya sebelum kau berganti pakaian kasual seperti ini.”
“I-Itu...” Naomi gegalapan.
“Intinya kau memang mengharapkan hal ini, maka kau berdandan seperlunya karena kau sadar kau cantik. Dan terpaksa mengganti pakaian karena pakaian sebelumnya kau ingin membuat dia terpesona denganmu, tapi melihat kedatangan kami maka aku berpikir seperti dirimu ‘Pasti Ozy bakalan membawa 2 temannya’. Kau sudah tahu kalau kami pasti dimintai ikut oleh Ozy.”
“T-Tau darimana?”
“Ozy tadi bilang kalau kau ingin memberitahukan soal penyelidikan itu. Jadi kau sudah berpikir pasti Ozy akan mengajak kami untuk sama-sama mendengar hasil penyelidikan itu, makanya kau berpakaian kasual, sama sepertiku.”
Naomi terdiam.
“Karena itulah aku menyuruh dia pergi, aku rasa nanti dia besar kepala kalau tahu kau memang mengharapkan hal ini, yaitu berduaan dengannya,” Shani tersenyum dan terus mengetik pesan di-Handphone khusus Redrum nya.
L-Luar biasa....” puji Naomi dalam hati karena apa yang dikatakan Shani tadi benar adanya.
“Aku juga memperhatikan kalian dari sana, sepertinya tempat kerjamu belum melakukan penyelidikan itu kan?”
“Bagaimana...”
“Raut wajah Ozy,” potong Shani, “Itu yang menambah kesimpulanku, kau memang sengaja meminta Ozy mengajakmu pergi walau belum ada hasil dari penyelidikan, karena itu bisa dijadikan alasan untukmu agar dia mengajakmu pergi karena dia penasaran dengan hasil penyelidikan bukan?”
“Emm...” Naomi bingung harus berkata apa karena kesimpulan Shani tadi benar adanya.
“Emang apa yang kau sukai dari dia?” tanya Shani.
“I-itu, aku sama sekali...”
Shani tersenyum, “Oh pasti kau bukan menyukai dalam arti perasaan, tapi kau menyukainya karena tingkahnya yang polos itu tapi berpura-pura tidak polos bukan?”
Naomi lagi-lagi terkejut dibuatnya, karena ia memang suka melihat sikap Ozy yang mati kutu dibuat olehnya tersebut.
“Kau... tau darimana?”
“Aku tahu dia seperti apa, dan kau suka saja menggodanya karena kau tahu sifat pria seperti apa,” Shani tersenyum, “Kan tadi sudah kubilang kau sadar dirimu cantik, dan kau pasti sudah mempunyai banyak pengalaman dengan pria yang mencoba mendekatimu selama ini. Dan kau menyukai tingkah Ozy karena tingkahnya itu mudah ditebak dan kau suka menggodanya karena benar-benar membuatmu merasa nyaman dan terhibur.”
“Itu...” Naomi kehabisan kata-kata.
“Tenang, aku tidak akan memberitahukannya,” kata Shani sambil meraup nasi dan tangan kirinya terus mengetik pesan di-Handphone khusus Redrum nya.
Naomi benar-benar terdiam dibuatnya, ia memandang Shani dan tak menyangka Shani bisa begitu tepat menarik kesimpulan dari penampilan saja. Jangankan penampilan, Shani bahkan tahu maksud dan tujuan dari penampilannya tersebut. Terbesit rasa kagum Naomi dengan kemampuan Shani dan menyayangkan kalau Shani tidak bergabung dengan kepolisian, karena dengan kemampuan Shani tentunya sangat berguna bagi kepolisian.
“Sudah?”
Naomi kaget dan melihat Ozy sudah kembali duduk dan menaruh handphone khusus Redrum-nya diatas meja..
“Emm ya,” Naomi mengangguk pelan.
“Dan?”
“...Kau benar...,” Naomi memandang Shani yang sekarang sudah asyik fokus dengan makanannya.
“Sudah kubilang,” Ozy terkekeh, “Emang apa yang disimpulkannya?”
“Mau tau saja kau!” sindir Shani dengan pandangan lurus kedepan.
“Katanya ini tembok! Tembok!” Ozy sebal.
“Bodo,” balas Shani cuek dan merasa heran, ia pun menoleh ketempat ia mengambil makanan, “Dion kok lama sih?”
Tapi baru menoleh mata Shani terbelalak, begitu juga mata Ozy dan Naomi. Terlihat Dion membawa 2 piring, 1 piring berisi nasi yang menggunung, dan piring 1 nya berisi begitu banyak lauk pauk yang sangat banyak.
“Akhirnya makan juga,” kata Dion enteng sambil duduk didepan Shani.
“Ya Tuhan.... banyak amat,” komentar Naomi pelan.
“Kamu makan atau bunuh diri sih?!” Shani yang melihat porsinya saja bisa sewot dibuatnya.
“Ng? Biasa saja,” jawab Dion dengan wajah santai.
“Biasa gigi elu! Itu porsi bisa untuk 3 orang!”
“Kan kalian dulu yang ngasih gue julukan ‘Perut setan’, ya emang ini alasannya, kenapa juga harus protes?”
“Ya proteslah! Sekarang gue tanya siapa nanti tuh yang bayar?”
“Elu kan? Tadi lu udah janji,” kata Dion enteng.
“Nah itu dia!” Ozy sewot setengah mati dan merasakan isi dompetnya terancam karena lauk pauk yang diambil Dion bisa dibilang mahal.
“Mau?” tawar Dion kepada Shani.
“Mau kalau perut aku bisa sama kayak kamu!” Shani mendume-dumel.
“Kasian,” Dion cengengesan dan memandang porsi makan Shani, “Diet bu? Sedikit amat Ckckckck.”
“Ish!” Shani sebal dan menendang kaki Dion dibawah meja, karena ia sebenarnya memang ingin makan sebanyak yang ia mau tapi takut gendut. Sedangkan pria didepannya ini dari dulu tak bisa gemuk, makanya Dion bisa semau hati dia makan dengan porsi apapun.
Dion mulai melahap makanannya dan sengaja menggoda Shani dengan bertingkah menikmati makanannya sehingga Shani sebal. Melihat hal itu Naomi kemudian memandang Ozy.
“... Perut setan?” tanya Naomi pelan, ia menyeringitkan dahi.
“Ya, liat badannya?” Ozy menadahkan kepalanya kesamping untuk menunjuk Dion.
“Ya,” Naomi mengangguk melihat tubuh Dion yang tidak kurus dan tidak juga gemuk.
“Ya itu, mau sebanyak apapun makanan yang dia makan badannya tak bisa gemuk, ngasih makan setan diperutnya, makanya disebut perut setan,” jelas Ozy dengan suara malas dan pelan.
“Oh...” Naomi mengangguk.
“Dan kau jangan takut gemuk, kau lebih cocok kalau berisi.”
“Kau memujiku?” alis Naomi naik sebelah.
“.... Perasaanmu saja,” dan Ozy membuang muka sambil bersiul-siul.
“Oh,” dan Naomi mencoba menahan tawa dengan senyuman.
Selagi makan maka mereka bercakap-cakap. Dion juga menanyakan perkembangan kasus pencarian Birwan oleh pihak kepolisian dan yang lebih utama adalah tentang Black Snake yang diduga membantu Birwan.
“Begitu...” Shani memanggut-manggut.
“Ya, itu yang kamu usahakan terlebih dahulu. Mencari keberadaan mereka.”
“Hmm,” gumam Dion sambil menggigit rendang, “Dan kalau sudah menemukan keberadaan mereka?”
“Kami akan menurunkan beberapa anggota untuk menyelidikinya. Dan mencari 1 orang saja untuk ditanyai.”
“Itu hal yang sulit, anggota mereka juga banyak, meski lebih banyak jumlah kami,” sambung Ozy.
“Bagaimana kalau kita beritahu?” tanya Shani kepada Dion dan Ozy.
“Kenapa?” tanya Dion.
“Ya, kenapa?” sambung Ozy.
“Kalian denger kan dia ini bagian dari tim tersebut? Tinggal beritahu saja daerahnya dan biarkan tim dia melakukan tugasnya, bukannya hal ini akan menjadi lebih mudah?”
“... Hmm,” gumam Dion dan memandang Naomi.
“Kalian tahu daerah mereka?” tanya Naomi.
“Tentu saja,” Ozy terkekeh dan menyalakan rokok, “Bahkan sedari tadi kita berada diwilayah netral.”
“Wilayah netral?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Wilayah yang menjadi perbatasan wilayah Black Snake dan kami. Dan ini adalah wilayah netral yang dimana anggota Black Snake dan Redrum dipinta untuk tidak membawa senjata apapun,” jawab Ozy.
“Benarkah?” mata Naomi terbelalak.
“Ya,” Dion mengangguk, “Dirumah makan ini bisa saja ada anggota mereka, tapi mereka biasanya bermain aman dan lebih memilih berada ditempat wilayah mereka.”
“Begitu...” gumam Naomi, “Kalau begitu bisakah kalian memberitahuku?”
“Kau tahu dari arah mana kita datang kesini kan?” tanya Ozy.
“Ya,” Naomi mengangguk.
“Maka arah sebaliknya itulah arah menuju wilayah mereka,” jawab Ozy.
“Sana?” Naomi menunjuk arah barat yang dimana tadi mereka datang dari arah Timur.
“Ya, itulah wilayah mereka.”
“Kalau begitu aku harus cepat-cepat memberitahu tim penyelidik besok.”
“Ya, itu sangat diperlukan hanya saja lebih baik kau tak usah ikut turun untuk menyelidiki. Serahkan kepada tim-mu yang ahli.”
“Kenapa?”
“Mereka itu tak segan-segan membunuh,” Dion tersenyum.
“Ya, karena itu lebih baik kau tak usah ikut turun. Biarkan tim mu yang profesional yang melakukannya,” sambung Ozy.
Naomi terdiam mendengar kata-kata itu karena bisa dibilang Redrum yang lebih mengenal Black Snake itu seperti apa dan tentu saja Dion dan Ozy tidak main-main memberikan peringatan itu.
“Sekarang lebih baik mencari alasan, kau pasti ditanya oleh tim mu yang mengetahui informasi ini. Kecuali semua tim mu itu tahu tentang kami,” ujar Ozy.
“Gampang, bilang saja kalau dia mendapatkan informasi dari seseorang yang pernah mendengar desas-desus Black Snake diwilayah itu. Dan mereka pasti akan melakukan penyelidikan untuk kebenaran desas-desus itu bukan?” Shani memberi saran.
“Kau benar,” kata Dion dan menoleh kearah Naomi, “Pakai saja alasan itu.”
“Iya...” Naomi mengangguk, “Dan kalau boleh tahu.... kenapa kalian membiarkan kelompok itu masih ada?”
“Karena kondisi waktu itu, anggota Redrum belum sebanyak ini dan peralatan kami setara dengan persenjataan mereka dahulu. Daripada kami terus berperang akhirnya kami melakukan perjanjian. Dan sebagian besar perjanjian itu menguntungkan kami, wilayah mereka itu tidak terlalu luas. Lalu anggota mereka juga bisa kami incar jika masuk ranah hukum, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa kalau anggotanya itu bersembunyi diwilayah mereka karena perjanjian,” jawab Ozy.
“Begitu...”
“Dan tenang saja, semisalnya kau kenapa-napa pasti dia tidak tinggal diam,” Shani menadahkan kepalanya kearah Ozy.
“Apa?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Loh, kamu tak sadar? Tadi dia itu mengkhawatirkanmu, makanya dia memintamu jangan ikut turun kelapangan untuk penyelidikan,” Shani tertawa.
“A-Apa? I-itu tidak benar!” bantah Ozy, Naomi memiringkan bibir.
“Kalau begitu kau ikut saja turun kelapangan untuk menyelidikinya nanti,” kata Dion kepada Naomi.
“Ya mungkin akan kulakukan,” Naomi mengangguk.
“Hei! Kenapa kau mau saja disuruhnya?! Pikirkan baik-baik! Ayah ibu dan adikmu! Kau harus pikirkan perasaan mereka kalau terjadi apa-apa terhadap dirimu, seharusnya kau tahu hal itu!” seru Ozy kepada Naomi.
“Oh,” Naomi tersenyum, “Kau khawatir?”
“Errrr a-aku hanya mengingatkan....”
“Oh jadi sebenarnya kau tidak perduli kan?”
“Ya, bisa dibilang begitu,” Ozy bersiul-siul cuek.
“Kalau begitu aku juga akan ikut turun kelapangan.”
“Bodoh! Jangan!” seru Ozy menggebu-gebu.
“Ooooh,” Naomi tersenyum dan memangku kepalanya dengan kedua tangannya, “Jadi benar kan itu khawatir?”
“A-Apaan? Sok tahu! Itu hanya...”
“Perasaanku?” potong Naomi dengan senyum manisnya.
“Errr ya, p-pokoknya itu...”
Naomi benar-benar suka melihat Ozy kelabakan seperti ini dan benar yang dikatakan Shani sebelumnya kalau dia memang merasa nyaman dan terhibur dengan tingkah pria didepannya ini yang mudah ditebak tapi keras kepala untuk mengakuinya. Naomi terus berbicara untuk menggoda Ozy sehingga pria itu kelabakan dibuatnya.  Sementara itu Dion berbicara dengan Shani.
“Sepertinya kita benar-benar obat nyamuk disini.”
“Kamu sengaja tadikan menyuruh wanita itu juga ikut turun?” Shani tersenyum.
“Biar dia kelabakan,” Dion tersenyum dan mengangkat piringnya.
“Mau kemana kamu?” Shani menyeringitkan dahi.
“Nambah,” jawab Dion cuek.
“Ya ampun! Enggak boleh! Kamu ini mau bunuh diri apa?! Tadi kan udah banyak!” Shani menarik-narik tangan Dion.
“Mumpung masih lama,” jawab Dion.
“Dion! Udah!!!” Shani berusaha menahan Dion akan tetapi dia malah terseret karena kalah tenaga.
Sekarang Ozy begitu pusing meladeni perkataan-perkataan Naomi dengan pertanyaan jebakannya, sementara itu Shani sewot setengah mati menahan Dion agar tidak makan lagi. Tanpa disadari mereka kalau terdapat 2 orang yang sedari tadi duduk dibelakang Ozy karena pembatas. 2 orang itu merupakan 2 orang wanita, dan 2 wanita ini pun beranjak dari tempat duduknya dan membayar makanan mereka. Setelah itu mereka keluar dari rumah makan dan berbicara.
“Sepertinya tadi kita mendengarkan pembicaraan yang menarik,” kata wanita berambut sebahu sambil menyalakan rokok.
“Ya, dan bagaimana menurutmu Ghaida?” tanya wanita berambut panjang.
Ghaida yang merupakan anggota Black Snake ini tersenyum setelah menghembuskan asap rokok.
“Aku benar-benar tak menyangka ada ‘Anjing besi’ disini, dan mereka pasti juga tak menyangka kalau kita juga ada disini.”
“Ya, wilayah netral. Sekarang apa yang harus kita lakukan?”
Ghaida terdiam untuk sementara dan melihat Ozy, Naomi, Shani dan Dion dari kejauhan.
“Sepertinya sedikit memberi ‘Pelajaran’ sudah cukup dan Saktia,” panggil Ghaida kepada wanita bernama Saktia.
“Ya?”
“Hubungi markas, beritahukan informasi ini kepada mereka. Dan kalau itu benar maka dalam beberapa hari ini mungkin ada ‘Wajah asing’ yang masuk kewilayah untuk menyelidiki kita.”
“Oke,” Saktia hendak mengeluarkan handphone-nya.
“Oh mungkin kita akan mengikuti mereka dahulu.”
“Mereka?”
“Ya, wanita berambut panjang itu. Dari percakapan katanya dia adalah bagian dari tim polisi itu, informasi tentang kita tentu saja berasal darinya...”
“Begitu.”
“Dan wanita itu,” Ghaida memandang Shani dari kejauhan, “Dia benar-benar berbahaya.”
“Berbahaya?” Saktia menyeringitkan dahi.
“Ya, kau tidak dengar percakapan dia dengan wanita itu sebelumnya? Wanita itu tidak membantah jadi bisa dibilang itu benar adanya.”
“Hei, hanya menyimpulkan masalah kencan aku rasa...”
“Tapi itu semua dilakukannya dalam sekejap bukan?” potong Ghaida.
Saktia terdiam dan berkata, “.... Kau benar.”
“Ya, The Science of Deduction... kemampuan itu benar-benar mengerikan, dan akan semakin mengerikan kalau dia adalah anggota ‘Anjing besi’ itu,” Ghaida menyeringai.
“Jadi apa yang kita lakukan?”
“Hubungi Hakim dan suruh dia kesini, kita akan membuntuti 2 wanita itu dan tempat tinggal mereka,” pinta Ghaida kepada Saktia untuk memanggil anggota lain bernama Hakim.
“Baiklah.”
“Lebih baik kita menunggu didalam mobil,” ajak Ghaida.
Dan malam itu benar-benar menjadi malam yang rumit. Dion, Ozy, Shani dan Naomi ternyata berada ditempat yang sama dengan 2 anggota Black Snake, terlebih lagi 2 anggota itu mendengar percakapan mereka. Dan mungkin lebih tak menyangka bagi Shani dan Dion karena pacarnya Arya merupakan bagian dari kelompok pembunuh bayaran bernama Black Snake.
Yaitu Shania.
Setelah urusan didalam rumah makan maka Ozy, Shani, Naomi dan Ozy hendak bertolak pulang. Dion sudah langsung pergi dengan mobilnya untuk mengantar Shani begitu juga Ozy yang baru menyalakan mesin mobil.
“Hei,” panggil Ozy.
“Apa?” respon Naomi saat masuk dan menutup pintu.
Ozy memandang Naomi dan berkata.
“Aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Membicarakan apa?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Sesuatu yang pribadi untukmu.”
“Hah?”
Ozy kemudian mengendarai mobilnya dan berbicara dengan Naomi didalam perjalanan mereka. Sementara itu sudah ada mobil yang mengikuti mobil Ozy dari belakang, dan tak hanya mobil Ozy. Akan tetapi juga mobil Dion.
“Jaga jarak, jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita,” kata Ghaida memberi komando lewat handphone.
- “Ya,” balas seseorang dibalik telepon.
Ghaida mematikan handphone dan terus mengikuti mobil Ozy dari belakang, Saktia yang menemaninya kemudian berbicara dengan Ghaida.
“Pria itu ‘Anjing besi’ ya?” Saktia tersenyum.
“Ya,” Ghaida menyeringai.
Dan malam pun semakin larut.
(p.s : Perkenalan Shani dan Arya berada didalam cerita Redrum Escape, link : http://www.melodion.xyz/2017/12/escape.html )

۩ N U M E R I Q ۩

۩ N U M E R I Q ۩
Keesokan harinya terlihat mobil sedan putih terus menyusuri jalanan yang menjadi lintasannya dan didalam mobil terdapa Arya yang sedang menyetir mobil dan Shania disebelahnya.
“Emang kamu berapa hari ke-Surabaya?” tanya Shania.
“Mungkin 3 hari atau mungkin 2 hari.”
“Hmm gitu,” Shania memanggut-manggut.
“Tenang, ada oleh-oleh,” Arya cengengesan.
“Yang mahal ya, biar kamu bokek dan gak bisa pulang nantinya,” Shania tertawa pelan sambil mengetik SMS.
“Heleeh, gayanya. Nanti nelpon lagi kayak dulu, rindu-rindu, beeeh.”
“Bercanda bodoh,” Shania menyentil pipi Arya walau matanya masih fokus ke-Handphone.
Perjalanan mereka terus berlanjut sampai akhirnya Arya menepi ditepi jalan yang dimana sudah banyak begitu aktifitas pedagang dan para pengais rezeki berkeliaran.
“Kalau mau kutitipkan mobil ini dirumahmu, jadi biar bisa kamu bawa,” tawar Arya.
“Dih udah tau aku belum bikin SIM, lagian kan ada temen-temen aku,” Shania bersiap-siap turun, “Dan jangan lupa nanti malam telfon kalau udah sampai disana.”
“Iya-iya,” Arya tersenyum.
Shania tersenyum dan mengecup pipi Arya, “Jaga kesehatan kamu disana ya?”
“Iya,” Arya membalas kecupan itu dipipi Shania.
Setelah itu Shania turun dari mobil, ia melihat pacarnya itu terlebih dahulu dan melambaikan tangan. Arya membalas lambaian itu terlebih dahulu baru sehabis itu dia melanjutkan perjalanannya.
Shania berbalik badan dan menghela nafasnya, senyuman manis yang ada dimulutnya tadi menghilang dan raut wajahnya mendadak dingin memandang apa yang dilihatnya. Kaki jenjangnya itu pun mulai melangkah menuju tujuannya. Selama perjalanannya itu orang-orang yang mengetahui dirinya lebih memilih menjauh karena anggota Black Snake memiliki ‘Tanda pengenal’ yakni gelang berwarna hitam dan hijau yang berada ditangan kiri.
“Hai manis, lewat aje nih...”
Seorang pria teler terkekeh memandang Shania saat melewati gang sempit, Shania mendelik sebentar dan melihat pria itu benar-benar teler karena minuman keras yang ia konsumsi, itu bisa dilihat dari kantong minuman keras yang dipegangnya.
“... Kau orang baru disini?”
“Apa? Kau ingin tahu namaku manis? Hahahaha!”
Shania memiringkan bibirnya dan merasa sia-sia bertanya dengan orang semabuk ini. Wanita ini melanjutkan perjalannya sementara sang pria buru-buru menghampiri.
“Jangan sok jual mahal!” seru pria itu dengan tangan menepuk bokong Shania.
Shania berhenti melangkah, ia menoleh dan melihat pria itu menyeringai mesum kepadanya. Ia melihat pria ini dari atas sampai bawah sampai akhirnya ia melihat sekeliling tempat ia berada. Orang-orang yang tahu siapa Shania lebih memilih diam dan tak mau ikut campur.
“Hmm.”
Wanita ini melanjutkan perjalanannya tanpa perduli dengan pelecehan yang barusan ia dapatkan, pria itu kemudian terkekeh dan menenggak minuman dari kantong yang ia pegang.
“... Kau mencari mati,” celetuk salah satu orang yang ada disitu.
“Hah? Kau bilang apa? Kau mau mati?” pemuda itu menyeringai terhadap orang tersebut.
Orang itu tak perduli dan melanjutkan perjalanannya, sementara itu sang pria pemabuk tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya ia mendengar suara panggilan.
“Hei.”
Pria pemabuk itu menoleh kekanan dan terhenyak melihat sebuah balok kayu terayun cepat kearah wajahnya.
“UAAAARRGGGHHH!!!”
Pria itu terpelanting kebelakang dan beberapa gigi depannya hancur begitu juga bibirnya yang sedikit sobek gara-gara hantaman tadi. Yang melakukan hantaman tadi adalah Shania, dengan menggunakan balok kayu yang ia ambil dari para tukang yang sedang membangun rumah digang itu.
“...K...KAU!!” rintih sang pria.
“Apa?” tanya Shania dengan raut wajah dingin.
Dan tanpa ampun Shania menghantamkan balok kayu itu kepundak sang pria, pria itu melengking kesakitan dan Shania masih belum puas, ia terus menghantamkan balok kayu itu keseluruh tubuh sang pria hingga suara pekikannya itu begitu memilukan. Orang-orang yang ada disitu pun tak berani untuk ikut campur dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang mereka lihat.
“ORRGGGGHHH!!!” pria pemabuk ini terkapar dengan luka lebam dan darah dimana-mana.
“Tangan ini tadi kan?”
Shania menarik tangan kiri pria itu kedepan yang dimana tangan itu tadi digunakan untuk menepuk bokong Shania. Pria itu hendak menarik tangannya tapi Shania langsung menghantam lengan tangannya itu dengan balok kayu, setelah itu Shania menginjak sikut tangannya tanpa memperdulikan teriakan pria tersebut.
“UAAAAAAAARGGGGGGGGGGGGHHHHH!!!”
Pria ini melengking bukan main saat Shania begitu beringas menghantamkan ujung balok kayu yang besar itu kejari-jari tangannya terlebih lagi Shania terus menghantamkan ujung baloknya tersebut hingga jari-jari tangan orang itu patah semuanya bahkan sampai membiru.
“Huh!” Shania mendesis sinis dan membuang balok kayu tersebut kesembarangan tempat, setelah itu ia melihat seseorang yang melintas dan takut melihat dirinya, “Hei!” panggilnya.
“I-Iya...” balas orang itu dengan rasa takut.
“Kenapa bisa sampai ada orang baru disini? Dimana orang yang memegang daerah ini?”
“I-Itu... a-aku tak tahu...”
“Suruh dia kesini dan bereskan orang ini,” Shania memberi perintah.
“B-Baik...”
Shania berbalik badan dan melihat pria pemabuk tadi masih berteriak dengan rasa sakit yang ia terima, dan tanpa ampun sama sekali tenggorokannya itu diinjak Shania dengan tumit kakinya hingga pria itu melotot.
“Sekali lagi aku melihat kau ada disini, heh! Lihat saja!” Shania melotot dan mengatup giginya geram.
Shania melanjutkan perjalanannya dan orang yang disuruh Shania tadi buru-buru ketempat penguasa daerah yang ada disitu. Sementara itu orang-orang yang berlalu lalang hanya bisa melihat kesengsaraan pria pemabuk tadi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kau benar-benar bodoh!”
“Kalau kau sayang nyawa mending kau pergi dari sini!”
Banyak seruan yang dilontarkan orang-orang yang lewat digang itu tanpa memperdulikan nasib pria pemabuk tersebut bahkan mereka sama sekali tidak ada niat untuk menolongnya.
Sementara Shania yang telah melewati beberapa belokan sana-sini akhirnya sampai ditempat tujuan, yaitu sebuah pabrik daging bakso kalengan. Ia memasuki tempat itu dan terus berjalan tanpa memperdulikan karyawan-karyawan yang bekerja disitu. Ia terus berjalan hingga menaiki tangga dan memasuki sebuah ruangan.
“Tumben kau datang sepagi ini, tidak kuliah?”
Shania menoleh dan melihat Saktia berbicara dengannya dari balik meja. Shania melempar tas diatas sofa dan duduk diatasnya.
“Dimana yang lain?”
“Aku yang pertama bertanya,” balas Saktia cuek sambil mengikir kuku tangannya.
“Kalau sepagi ini aku disini berarti kau sudah tahu jawabannya kan?” kata Shania sinis.
“Dan kalau hanya aku saja sendiri yang disini maka kau sudah tahu jawabannya bukan?” balas Saktia enteng.
“Ck,” Shania mengeluarkan handphone dan berkata, “Kemana mereka?”
“Mencari pos.”
“Pos?”
“Ya,” Saktia meletakan pengikir kuku dan memandang Shania, “Mungkin tak lama lagi ‘Wajah-wajah asing’ akan berkeliaran diwilayah ini.”
“Maksudmu? Polisi?”
“Hmm,” Saktia tersenyum dan mempertemukan punggungnya dengan badan kursi.
“Darimana mereka mengetahui wilayah kita?”
“Dari sebuah ketidak sengajaan, sayang kemarin kau pulang terlebih dahulu dengan pacarmu yang tampan itu.”
“Maksudmu?” alis Shania naik sebelah.
“Dirumah makan kemarin ada ‘Anjing besi’, kau tau?!” Saktia tersenyum dan memain-mainkan alis.
Shania terhenyak dan membelalakan matanya, “Benarkah?”
“Ya, itu benar-benar diluar dugaan. Kami akan bertemu mereka diwilayah netral, dan ‘Anjing besi’ lah yang memberi tahu lokasi kita, karena disitu juga ada seseorang yang kami anggap bagian dari tim yang menyelidiki tentang kita.”
“Siapa mereka?”
“2 orang pria, dan 2 orang wanita. Yang wanita 1 nya polisi, dan 3 nya... hmm yah, kurasa ‘Anjing besi’.”
“Kau yakin?”
“Aku dan Ghaida menguping pembicaraan mereka. Ya, kurasa itu benar.”
“2 orang wanita... 2 pria....” gumam Shania, setelah itu ia memandang Saktia, “Apa ada...”
“Foto?” potong Saktia yang berusaha menebak.
“Ya... semacam itulah,” Shania memiringkan bibir.
“Ya ada, semalam sewaktu mereka pulang aku, Ghaida, Hakim mengikuti mereka diam-diam dan memotret mereka dikejauhan. Tapi yang paling utama yang kami potret, 2 wanita itu.”
“Mana fotonya?” pinta Shania.
“Lihat saja sendiri,” Saktia memonyongkan bibir untuk menunjuk sesuatu dimeja.
Shania beranjak dari sofa dan berjalan ketempat Saktia berada. Terlihat 5 lembar foto tergeletak indah diatas meja, Shania mengambil 2 lembar dan melihat potret Naomi yang keluar dari mobil Ozy.
“Dia ‘Anjing besi’nya?” Shania memperlihatkan foto Naomi kepada Saktia.
“Bukan, dia polisinya. Yang 1 nya lagi,” jawab Saktia sambil menopang kepalanya diatas meja.
Shania mengambil foto yang dimaksud, dan saat ia melihat potret wanita yang diduga anggota Redrum membuat mata wanita ini melotot.
B-B-Bukankah ini wanita yang kemarin?!” pikir Shania.
“Ng? Kenapa wajahmu itu?” tanya Saktia malas.
Shania mengambil kursi dan duduk dihadapan Saktia, ia menunjuk foto Shani dan berkata, “Kau benar-benar yakin dia ini ‘Anjing besi’?”
“Pembicaraan yang mereka lakukan sudah membuktikannya,” Saktia memiringkan bibir.
“Dan 2 pria....”
“Sama, mereka juga ‘Anjing-besi’.”
Mendengar hal itu membuat Shania terdiam, ia masih tak percaya 2 orang kenalan pacarnya itu adalah anggota Redrum. Ia benar-benar tak menyangka.
“Dan sekarang yang lain mencari pos untuk berjaga-jaga dari ‘Wajah asing’ saat memasuki wilayah kita ini?” tanya Shania.
“Ya, hanya untuk melihat pergerakan mereka. Kita tidak bisa membunuh mereka karena itu semakin menguatkan kalau kelompok kita memang berada diwilayah ini.”
“Lalu 2 orang ini?” Shania menunjukan foto Naomi dan Shani.
“Mungkin sedikit memberi pelajaran,” Saktia menunjuk foto Shani, “Wanita ini  adalah anggota ‘Anjing besi’ yang memberitahu lokasi wilayah kita,” setelah itu Saktia menunjuk Naomi, “Dan wanita ini lah penyampai info yang ia dapatkan dari wanita itu sebelumnya kepada anggota tim khususnya.”
“Dan kenapa harus menargetkan wanita ini?” Shania menunjukan foto Shani.
“Ada 2, yang pertama karena dia wanita. Bisa dibilang karena itu kita bisa menganggap dia lemah, tapi yang alasan keduanya ini yang membuat dia menjadi sosok yang sangat berbahaya bagi kelompok kita.”
“Maksudnya?”
“Dia sangat pintar.”
“Hah?” Shania menyeringitkan dahi.
“Ya,” Saktia menyeringai dan mendekatkan dirinya kearah Shania yang duduk bersebarangan dengan dirinya, “Sangat-sangat-sangat-sangaaaat pintar!”
“Apa? Bagaimana kalian bisa...”
“Kau tahu The Science of Deduction?” potong Saktia.
“Ya, kenapa?”
“Dan itulah yang dia lakukan kemarin kepada wanita yang satunya, wanita itu tidak membantah bahkan terdiam. Kurasa dia kaget karena tebakan wanita ini benar,” Saktia menunjuk foto Shani.
Alis Shania naik sebelah dan sedikit terkekeh.
“Benarkah? Kurasa itu hanya untung-untungan saja, siapa tahu dia sudah melihat aktifitas wanita ini sebelumnya dan ia berlagak seperti orang yang ahli dalam kemampuan itu.”
“Mungkin,” Saktia tersenyum dan kembali mempertemukan punggungnya dengan kursi, “Meskipun begitu ia bisa menjadi target yang empuk, karena alasan nomor 1 tadi.”
“Kita mau membunuh mereka?”
“Kurasa tidak, Ghaida memberitahu ketua tentang masalah ini dan beliau berkata kalau 2 orang ini bisa menjadi nilai yang besar untuk ditebus.”
“Hoo tebusan?” Shania memiringkan bibir.
“Seperti itulah, lagian kelompok ini dulu dibentuk memang bertujuan untuk itu. Karena itulah kelompok kita ini netral.”
“Haaah,” Shania juga mempertemukan punggungnya dengan kursi, “Tadi aku bertemu orang digang sempit itu, sepertinya orang baru, jangan-jangan dia polisi yang mengintai?”
“Oh orang yang mabuk itu? Dia orang biasa, aku mencuri dompetnya saat dia muntah karena mabuk dan memeriksa tanda pengenalnya disini,” Saktia mengeluarkan dompet dari laci dan melemparnya keatas meja.
“Begitu, kalau begitu aku tak merasa sia-sia menghancurkan tangannya,” kata Shania sambil menguap.
“Menghancurkan tangan?” Saktia menyeringitkan dahi.
“Ya,” Shania memiringkan bibir dan memalaskan mata, “Menggodaku dengan cara kampungan dan tangannya menepuk bokongku.”
“Apa?” Saktia terhenyak.
“Dan tangannya itu sudah kuhancurkan.”
“Bukan yang itu, aku sama sekali tak perduli mau kau hancurkan tangannya kek, kau tebas lehernya kek, tapi apa benar kau digodanya?”
“Ya, kenapa?” Shania menyeringitkan dahi.
“Sialan!” Saktia menggebrak meja dan tampak kesal.
“Kau kenapa?”
“Kenapa kau digodanya sedangkan aku tidak?! Bahkan dia muntah saat melihatku! Bukankah itu kurang ajar?!” seru Saktia sebal.
“Oh,” Shania memiringkan bibir.
“Apa aku kurang cantik?”
“Otakmu bergeser? Kenapa kau malah ingin digoda orang mabuk seperti itu?”
“Karena dia pria! Aku wanita! Aku mau dong digoda pria meskipun akan kucemoh pria itu karena dia mabuk!”
“Hmmm,” Shania lagi-lagi memiringkan bibirnya.
“Sialan!” Saktia melipat tangannya, “Pokoknya selama aku masih hidup aku harus digodain pria! 1 saja sudah cukup!”
“Pakai baju seksi dan berjalan-jalanlah dikeramaian, kuyakin kau pasti akan digoda pria-pria hidung belang,” kata Shania sambil menguap.
“Aku tak mau serendah itu!” seru Saktia.
“Terserah,” ujar Shania, enteng.
Malas meladeni Saktia yang kesal karena tidak digodain pria maka Shania beranjak dan tiduran disofa, ia melihat foto Shani yang diambil jauh-jauh oleh Ghaida dari dalam mobilnya.
“....Apa benar kau ini ‘Anjing besi’...” pikir Shania.
۩ N U M E R I Q ۩
۩ N U M E R I Q ۩
Suasana pagi dimarkas Redrum berjalan seperti biasa, terlebih lagi Dion sudah masuk hari ini bahkan iabersantai diruang tengah menyaksikan berita di televisi sambil menghisap rokok.
“Oh kau sudah datang rupanya!”
Dion melirikan matanya sebentar dan melihat kedatangan Reno, ia kembali menonton televisi sehabis itu.
“Kau sudah sembuh?” tanya Reno saat duduk didekat Dion.
“Bisakah kau hentikan memberi pertanyaan dalam bentuk perhatian seperti itu? Apa kau ini Gay?!” seru Dion sinis.
“Ya enggaklah,” Reno memiringkan bibir.
“Kau masih mau menjadikanku panutan kau, bahkan setelah kupatahkan hidung kau itu?”
“Oh tentu saja! Hidung patah ini bukan apa-apa bagiku!” seru Reno puas, sambil melipat tangan.
Dion memandang Reno dengan malas, “Heh tolol, kenapa kau menjadikanku panutan kalau kau bisa menjadi lebih baik dariku?”
“Maksudnya?”
“Kau terlalu menganggapku terlalu tinggi. Aku dan anggota elite lain yang kau kagumi itu tidak memiliki pola pikir, sifat, karakter, cara bertarung, cara bertindak dan kondisi yang sama. Kami memiliki perbedaan masing-masing, bahkan Ozy itu lebih baik dariku dalam masalah strategi, Enu lebih baik dariku dalam urusan cara bertarung.”
“Ya... soalnya...”
“Kau menilaiku tinggi karena jumlah target yang kuhabisi dan karena kau tak pernah bertemu denganku sebelumnya karena itulah kau berpikir aku ini paling hebat. Tolol sekali, aku tak jauh berbeda dengan kau, tak ada dari diriku ini yang pantas dianggap sebagai panutan.”
Reno terdiam.
“Kau tempa diri kau sendiri dan untuk diri kau sendiri, jangan meniru diriku atau pun orang lain. Nanti kau akan sadar sendiri kalau kau memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang lain dan itulah yang menjadi karakteristik kau sendiri.”
“Begitu...” Reno mengangguk-angguk.
“Dan berhentilah bertingkah kalau kau ini adalah anak buahku. Aku tak pernah merasa mempunyai anak buah dan bangga memiliki hal itu. Karena aku tak menganggap kau anak buah.”
“Lalu kau menyuruhku ini itu...”
“Kau tahu arti dari kata Iseng. Itu yang kulakukan untuk hiburan, dan aku menganggap kau itu hanya rekan kerja biasa, tak kurang, tak lebih. Sekali lagi kau bertingkah seperti anak buahku dengan senang hati kupatahkan semua sendi-sendi ditulang kau itu.”
Dion melanjutkan menonton televisi sementara itu Reno terdiam, dan bisa dibilang kata-kata Dion itu ada sedikit benarnya. Kemampuan ia membunuh tak jauh berbeda dengan Dion hanya saja Dion sudah lama bergabung dengan Redrum karena itu jumlah targetnya lebih banyak dari dirinya.
“Kau benar,” Reno memanggut-manggut.
“Baguslah,” Dion menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Dan kalau kupikir-pikir... aku sebenarnya tidak ingin menjadikan kau panutanku... hanya saja aku ingin mengejar rekor membunuhmu.”
“Tolol,” cemoh Dion.
“Heh,” Reno terkekeh, “Ya.”
Reno kemudian ikut menonton berita bersama Dion yang dimana berita itu menampilkan cuplikan kasus pembunuhan yang terjadi beberapa hari yang silam dan tak terkuak sampai sekarang. Kasus pembunuhan itu adalah yang dilakukan Shania bersama Ghaida dahulu, yang membunuh pria tua yang tergantung dirumahnya.
“Yang melakukannya bukan organisasi kita, orang itu tak pernah ada didalam target.”
Reno dan Dion menoleh kebelakang dan melihat Ega santai merokok diatas meja, tepat dibelakang Dion dan Reno.
“Siapa?” tanya Dion sambil membetulkan posisi kepalanya kembali.
“Akan kukirim kau kerumah sakit lagi kalau kau berkata ‘Yang nanya’ setelah aku menjawab,” kata Ega ketus.
“Coba saja,” Dion terkekeh.
“Benarkah kalau bukan organisasi kita yang melakukannya?” tanya Reno kepada Ega.
“Kau bisa cek daftar target para eksekutor disini, tak ada target yang menuju kearahnya walau dia memang dicurigai sebagai politikus busuk.”
“Kalau begitu dia dibunuh oleh lawan politikusnya, atau bisa jadi dia dibungkam atau pun dijadikan pengalihan isu,” komentar Dion.
“Kurasa begitu,” Ega menghisap rokoknya.
“Kalau bukan kita, siapa?” tanya Reno.
“Orang-orang suruhan pembunuh utamanya bisa jadi.”
“Dan bisa jadi itu Black Snake,” kata Dion sambil menguap.
“Dion!”
Dion, Ega dan Reno menoleh. Mereka melihat kedatangan Yona dan Farin, senyum Yona merekah dan segera berlari pelan menghampiri pria satu ini. Ega dan Reno kemudian menjauh karena mereka tahu dan malas mendengar percakapan Dion dan Yona yang jemu bagi mereka.
“Kau sudah sembuh?” tanya Yona saat duduk disamping Dion.
“Pertanyaan bodoh,” Dion cengengesan dan menyentil kening Yona.
Senyum Yona menghilang dan kecut memandang Dion, “Apa benar kau, Ozy, terus bocah itu kerumah makan...”
“Ya,” potong Dion sambil mengangguk.
“Kenapa kau bisa bersama dia?”
“Dia kerumahku.”
“Kalau begitu hari ini kau harus kesana denganku!”
“Ada gitu pake iri?” Dion terkekeh.
“Ish! Pokoknya harus mau! Kau pikir sudah berapa hari aku tidak bertemu denganmu? Dan apa kau tahu dihari-hari itu bocah sialan itu selalu...”
“Aku tau,” Dion lagi-lagi terkekeh karena dia ingat kalau Shani berkata selama 5 hari ini Shani selalu mengganggu Yona.
Yona menoyor paha Dion dengan raut wajah kesal. Dion melihat Yona dan tersenyum tipis.
“Baiklah,” Dion menyanggupi sambil mengacak-acak rambut Yona.
Yona tersenyum menerima perlakuan itu akan tetapi dengan cepat senyumnya itu memudar.
“Dan apa benar kalau...”
“Ya,” potong Dion, raut wajahnya juga berubah, “Mungkin saja itu akan terjadi.”
“... Aku tak menyangka...”
“Jangan dipikirkan untuk sekarang,” balas Dion.
“Hmm...” Yona kemudian ikutan menonton berita di televisi.
Beberapa menit kemudian suasana dimarkas mulai ramai dengan beberapa anggota. Dion yang mendapat tugas mengeksekusi pelaku pedhopillia lalu pergi memasuki ruangan senjata untuk mengambil senjata yang diperlukan dan didalam ruangan itu sudah dihadiri juga oleh Ozy dan Enu.
“Bagaimana?” tanya Dion kepada Ozy.
“Begitulah,” jawab Ozy sambil mengisi peluru didalam magazine senjata api.
“Aku mendengar dari Direktur kalau kepolisian sudah melakukan pergerakan kewilayah B.S (Black Snake),” ujar Enu.
“Berarti pacarnya sudah memberi tahu,” Dion menunjuk Ozy disampingnya.
“Hoo intim sekali, apa selain info kau juga memberitahu apa yang kau suka dan apa yang tidak terhadapnya?” Enu terkekeh.
“Ya, aku memberitahu dia agar hati-hati menjaga celana dalamnya dijemuran karena tetangganya bernama Enu suka mencuri dan mengoleksi celana dalam wanita,” jawab Ozy enteng.
“Sialan kau,” gerutu Enu.
“Ngomong-ngomong soal sialan,” Dion mengokang senjata dan melihat arah pintu, “Suara ribut sialan apa itu diluar?”
“Entahlah, dan apa kau butuh pengawas? Shani setiap pagi selalu disibukan dengan jadwal kuliahnya beberapa hari ini.”
“Pengawas? Asal kau tahu saja dia itu memonopoli bagianku.”
“Memonopoli?”
“Terkadang dia ikut membunuh, bahkan dia yang menghabisinya,” jawab Dion sambil menyalakan rokok.
“Shani membunuh?” Ozy terkekeh.
“Kau lupa kejadian dikantor polisi itu?”
“Siapa tau dia terdesak.”
“Kau tanya saja Enu, dia saksi pertama,” balas Dion cuek.
“Ya,” Enu terkekeh.
“Apa benar dia membunuh?” tanya Ozy kepada Enu.
“Ya, dengan metode ‘Kecelakaan-mentri-sunat’.”
“Maksudnya?”
“Targetnya dikebiri sampai habis,” jawab Dion.
“Yang bener lu?!” Ozy terbelalak matanya.
“Malas membahasnya, lebih baik aku mau tahu dengan apa yang terjadi diluar.”
Ozy dan Enu juga penasaran, setelah mereka selesai mempersiapkan senjata maka mereka berdua menyusul Dion keluar. Diluar pun mereka terheran-heran melihat orang-orang berebutan masuk kedalam ruangan tes senjata.
“Mar, ada apa?” tanya Dion kepada Damar mewakili rasa penasaran Enu dan Ozy.
“Oh itu,” Damar cengengesan, “Manda dan Sistim mau melakukan duel!”
“Duel?” Ozy, Dion dan Enu serempak menyeringitkan dahi.
“Ya! Sekarang mereka berdua lagi didalam, kalian mau ikut nonton? Lumayan hiburan.”
“Kenapa juga Manda mau-mau saja melakukan duel?” tanya Enu.
“Entahlah, apalagi mereka juga akan memakai senjata.”
“Aku tak tertarik,” Dion melongos pergi.
“Begitu juga aku,” Ozy juga pergi.
“Lalu kau, Nu?” tanya Damar kepada Enu.
Senyum Enu merekah dan berseru dengan lantang, “Duel kan?!”
“Yoi,” jawab Damar.
“Pakai senjata?!”
“Yoi, braay!” senyum Damar merekah dan menunjuk Enu dengan kedua telunjuk tangannya.
“Anggota Elit Jakarta melawan Anggota elit Bogor?!”
“Iya! Iya! Iya!” Damar mengangguk-angguk semangat.
“Waaaah!!!” tiba-tiba raut wajah Enu datar dan malas bukan main, “Aku tak tertarik,” dan melongos pergi.
“Sialan lu!” umpat Damar.
Meski mereka bertiga tidak tertarik masih banyak orang-orang lain yang tertarik karena ini baru pertama kalinya mereka mendengar Manda, anggota Elit termuda pertama yang ada dimarkas pusat ini melakukan duel dengan sesama anggota Redrum. Dan kalau sudah begini berarti sudah menandakan betapa seriusnya Manda.
Didalam ruangan tes senjata yang 1 tempat dengan ruangan latihan fisik sudah dipenuhi beberapa anggota Redrum, Yona duduk disamping Farin dan Vienny.
“Kenapa sih mereka mau duel?” tanya Vienny.
“Gak tau, katanya gara-gara Sistim mengapi-ngapinya,” jawab Farin.
“Tumben Manda bisa dihasut,” Yona menyeringitkan dahi.
“Sistim memancing dia dengan menyebutkan kelemahannya,” kata suara pria tiba-tiba.
Yona, Farin, dan Vienny menoleh. Mereka melihat Boby sudah anteng-antengnya duduk disamping Yona, wanita pujaannya dari dulu.
“Sana!” usir Yona ketus.
“Yaudah yuk kesana sama-sama hehehe,” Boby menggenggam pergelangan tangan Yona dan hendak menariknya.
Tapi dengan tangkas Yona menepisnya.
“Kau ini,” gerutu Boby dan kembali duduk disamping Yona.
“Apa?!” seru Yona sambil melotot.
“Aku kan calon suamimu.”
“Dih!” Yona melipat tangan dan menjauhi jarak duduknya dari Boby.
“Ini pasti gara-gara Dion kan! Aku dengar-dengar dulu kau tinggal bersamanya!”
“Lalu apa urusanmu?” Yona melotot.
“Hah!” Boby mendengus sombong, “Emang apa hebatnya dia? Apa kau yakin dia bisa menjadi penjagamu?”
“Ngapain juga aku meminta dia menjagaku?!”
“Itulah tugas pria! Karena itu Yona, jangan berpikir lagi, pilihlah aku,” Boby kemudian tersenyum manis dan memegang dagu Yona, “Dan aku akan menjagamu.”
Sebuah hantaman telak diterima Boby diwajahnya, pria ini pun teler dengan kepala terdongkak kebelakang gara-gara menerima hantaman itu mentah-mentah dari kepalan tangan Yona.
“Kau saja tidak bisa menjaga dirimu apalagi orang lain!” seru Yona kesal.
Melihat tingkah Yona dan Boby membuat Farin bersama Vienny sedari tadi menahan tawanya. Apalagi orang-orang dibelakang mereka terlihat keheranan melihat posisi Boby yang bisa dibilang sudah pingsan akibat serangan tadi.
Sementara itu ditengah tempat duel terlihat Sistim sedang melakukan pemanasan seadanya sambil melihat sekeliling.
“Kenapa orang-orang pada kesini, kau yang memberitahu mereka?”
“Apa aku ini seperti orang yang haus perhatian?” balas Manda sinis.
 “Lantas siapa?” Sistim menyeringitkan dahi.
Dan jawabannya bisa diketahui saat mereka berdua mendengar suara yang keras dari seorang yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.
HADIRIN SEMUA! SEBENTAR LAGI KALIAN AKAN MENYAKSIKAN PERTARUNGAN ANTARA ANGGOTA ELIT! KUBU JAKARTA DAN KUBU BOGOR! PRIA DAN WANITA! APA KALIAN TAK SABAR UNTUK MELIHATNYA?!!
“YA!” seru orang-orang.
APA KALIAN SUDAH SIAP DENGAN TARUHAN UANG KALIAN?!
“SIAP!!” anggota-anggota Redrum mengangkat uang mereka masing-masing.
KALIAN SUDAH SIAP MELIHAT KEDUA ANGGOTA INI SALING MEMBUNUH?! MEMUNCRATKAN ISI-ISI OTAK! MENGHAMBUR-HAMBURKAN USUS DIDALAM PERUT?! DAN MENCONGKEL LAWAN MEREKA MASING-MASING?!!
“SIAP!!”
BAGUS-BAGUS!!
Terlihat Desy begitu semangat tertawa sambil berkacak pinggang saat menyampaikan pengumuman tadi dengan microphone yang ia pegang. Terlebih lagi dikejauhan Adis sudah memulai tugasnya sebagai bandar judi atas suruhan Desy. Sebenarnya Adis tidak mau melakukan ini tapi Desy menyandera laptopnya dan disembunyikan ditempat yang hanya Desy seorang yang tahu meletakkannya dimana, karena itu Adis terpaksa mengiyakan.
“Ternyata dia,” Sistim memiringkan bibir dan kembali melanjutkan pemanasan.
Manda tidak perduli dan lebih memilih untuk memejamkan mata dan melipat tangan diposisinya berdiri.
“Mand!”
Manda membuka sebelah matanya dan melihat Desy melemparkan sebuah tongkat. Manda menyambut tongkat itu dan melihat-lihatnya.
“Kedua lapisan masing-masing tongkat itu sudah terlapisi besi padat, dan kalau kau mau kau bisa membelahnya menjadi 2 dengan switch yang ada ditengah-tengah tongkat. Aku sudah membuat senjata andalanmu khusus untuk hari ini!” seru Desy puas.
“Hooo,” gumam Manda.
Manda kemudian mencoba tongkat senjata buatan Desy tersebut dengan keahliannya bermain tongkat, lalu Desy menghentakan kaki kanannya kedepan dan menunjuk semua penonton.
LIHATLAH PARA HADIRIN SEKALIAN! TONGKAT ITU AKAN DIGUNAKAN MANDA UNTUK MEMBUNUH SISTIM DENGAN CARA YANG SADIS! MANDA AKAN MENYODOKAN TONGKAT ITU DARI LUBANG PANTAT DAN TEMBUS SAMPAI MULUT!!!
Suara penonton bergemuruh dan Desy terlihat puas sambil berkacak pinggang.
“Apa dia selalu mengkhayal?” tanya Sistim saat mendengar perkataan Desy yang sok-sok-an psikopat.
“Kau bertanya kepadaku?” balas Manda cuek.
“Lebih baik kita mulai sekarang,” kata Sistim setelah selesai melakukan pemanasan.
Desy yang mendengar itu kemudian berkata, “Oh iya senjatamu...”
“Tak perlu,” cegah Sistim.
“Beeeh!” Desy memiringkan bibir, “Dan ingat! Jangan gunakan yang kubuat atas pesananmu itu! Kau tentu tidak mau membunuh sesama anggotamu bukan?”
“Bukankah kau sedari tadi berteriak dan mendukung duel ini menjadi ajang  pembunuhan?” cibir Sistim kepada Desy.
SEPERTINYA DUEL INI AKAN SEGERA DIMULAI PARA HADIRIN SEKALIAN! SISTIM TAK SABAR LAGI UNTUK MANDI MENGGUNAKAN DARAH MANDA YANG AKAN DIBUNUHNYA! TERLEBIH LAGI DIA BELUM MANDI DARI PAGI! DIA AKAN MERASA SEGAR KALAU TUBUHNYA BERMANDIKAN DARAH!
DASAR BEJAT!
BIADAB!
GAK ADA AHLAK!
TAK BERPERI KEMANUSIAAN!
TURUNKAN GAJI DIA WAHAI DIREKTUR!!
Suara gemuruh penonton semakin riuh, Desy tertawa puas sambil berkacak pinggang sedangkan Sistim merasa kalau Desy lah yang cocok untuk menjadi korban senjatanya yang dimaksud tersebut, karena Sistim kesal mendengar ocehan Desy yang tak tenturudu.
Manda menaruh tongkatnya ditepi, setelah itu ia kembali ketengah karena sesuai permintaan Sistim kalau babak pertama adalah pertarungan dengan tangan kosong. Sistim dan Manda berdiri ditengah, sementara itu Desy memberi aba-aba.
“Babak pertama berlangsung selama 3 menit.... DAN DALAM HITUNGAN KE-3!” teriak Desy tiba-tiba.
“JANGAN BERTERIAK!” teriak Manda dan Sistim bersamaan karena Desy berteriak tepat didekat mereka.
Desy menggerutu dan berjalan mundur untuk memberi jarak, setelah itu ia memberi komando.
“Siap-siap!”
Sistim dan Manda saling berhadapan, tangan mereka berdua pun sudah bersiaga untuk melakukan serangan.
“1!”
Sistim membunyikan tulang-tulang dijemari tangannya.
“2!”
Manda membunyikan tulang-tulang lehernya.
1 ditambah 2 sama dengan?!!!
“TIGA!!” teriak penonton menjawab pertanyaan Desy yang dilontarkan dengan Microphone.
Dan saat angka 3 dikumandangkan maka Manda dan Sistim langsung bergerak cepat, Manda hendak melakukan serangan dengan tangan kanan akan tetapi.
PLAK! Bunyi tamparan keras terjadi dipipi kiri wanita tersebut.
Wajah Manda berpindah posisi kesamping, matanya melotot, dan suasana benar-benar hening.
“Kau menyadarinya kan?” Sistim tersenyum sinis dan menunjukan telapak tangannya.
“A-Apa?!” Manda melotot dan menoleh kearah Sistim.
“Sudah kubilang kau ini lengah! Mau ditampar saja kau tidak menyadarinya.”
“KAU?!!” Manda mengeram marah.
Dan lagi-lagi Manda ditampar Sistim, kali ini dipipinya yang lain.
“Heh!” Sistim menyeringai, “Aku saja kekalahanmu!”
“SIALAN KAU!” teriak Manda.
Manda menundukan badannya dan melancarkan serangan dengan kakinya, Sistim segera meloncat untuk menghindari itu dan Manda menggunakan kesempatan ini untuk berdiri, namun...
PLAAK!!!!
Sistim yang dalam posisi menjatuhkan diri masih bisa sempat melakukan serangan dan itu lagi-lagi sebuah tamparan hingga Manda terperusuk kesamping. Sistim terjatuh dan berusaha berdiri sedangkan Manda memegang pipinya kirinya dan terengah-engah dengan mata melotot memandang Sistim disisi lain ia terjatuh.
“Kenapa? Baru kali ini ditampar pria?” Sistim terkekeh.
“K-KAU!!!”
Manda berdiri dan langsung menerjang Sistim.
“BRENGSEK!!” umpat Manda.
“Heh!” Sistim menyeringai.
Manda mulai menyerang dengan tangan kirinya, Sistim cukup memutar badan untuk menghindari dan disaat berputar itu ia kembali menampar Manda dengan cepat.
“Uggh!!” Manda merintih dan semakin kesal.
“Akan kudandani pipi kau itu agar memerah.”
Sistim menyengkang kaki Manda sehingga wanita hampir terjatuh kedepan, tapi ia menahan tubuhnya dengan telapak tangan dan hendak menendang perut Sistim. Akan tetapi kakinya itu ditahan dan Sistim menarik kakinya itu hingga jarak Manda mendekat kearahnya.
Tak ayal lagi sebuah tamparan bolak-balik diterima mentah-mentah oleh Manda. Ditengah rintihannya itu Manda begitu geram dan menyengkang kaki Sistim hingga Sistim terjatuh kedepan, Manda pun menyiapkan lutut kakinya yang ditekuk keatas sebagai tempat pendaratan Sistim.
Sistim menahan lutut Manda dengan telapak tangannya dan mencoba mendorong tubuhnya agar menimpa Manda, namun Manda menahan pergelangan tangan Sistim. Wanita ini memutar badannya dan mengunci tangan pria itu. Sekarang Sistim meringis dengan kondisi badan terpelungkup.
“Kau pasti belum pernah merasakan tangan kau patah bukan?” Manda menyeringai.
“Dan kau tak pernah ditendang orang dari belakang dalam posisi ini bukan?”
“A-Apa?”
Dari posisinya itu Sistim melakukan tendangan dari arah berlawan dan tepat mengenai punggung Manda, kuncian tangan yang dilakukan Manda ketangan Sistim sedikit melonggar dan tanpa basa-basi Sistim memutar arah kesamping, sekarang dengan posisinya yang terbaring ia kembali menyerang punggung Manda dengan sikut kakinya.
“Ugggghhh!!!”
Manda berguling kedepan untuk memudahkan respon tubuh yang dihantam dari belakang tadi. Disaat ia berhenti dan hendak berdiri, ia melihat sepatu melayang tepat kearah wajahnya. Dan itu adalah sepatu Sistim yang sengaja dilonggarkannya tadi saat tangannya dikunci Manda, Sistim cukup melakukan tendangan biasa untuk melempar sepatu tersebut.
Sementara itu dibangku penonton terlihat anggota-anggota Redrum kasak-kusuk melihat pertarungan ini.
“... Kok agak konyol ya...” komentar Farin.
“Ya... tapi...” Vienny menyetujui.
“Tapi apa?”
“... Baru kali ini aku melihat Manda kewalahan...”
“Benarkah?”
“Ya,” Vienny mengangguk.
“Meski konyol, tapi serangan Sistim itu begitu teratur. Tidak mudah menampar seperti itu untuk menghajar musuh,” komentar Yona sambil menopang dagu dengan tangan kiri.
“Kau dan dia dari Bogor kan? Apa yang kau ketahui dari gaya bertarungnya?” tanya Vienny.
“Entahlah, aku memang sering melihat dia dimarkas sewaktu aku masih bekerja disana tapi aku tak pernah bekerja sama dengannya bahkan aku tak pernah berinteraksi dengan dirinya.”
“Begitu...”
“Ugggh!!” Boby mulai sadar dari pingsannya dan mengurut wajahnya, “Apa yang... UGGGH!!!”
Dan Yona menghantam wajah pria itu lagi dengan tangan kanan dari posisinya yang tak berubah, Boby lagi-lagi pingsan.
Lalu ditempat Sistim dan Manda melakukan duel terlihat Sistim sudah beberapa kali melakukan tamparan disaat Manda meluncurkan serangan. Manda merasakan perih bukan main dikedua pipinya, bahkan kedua pipinya itu benar-benar memerah gara-gara tamparan yang Sistim berikan.
Ada juga waktunya Manda berhasil membalas serangannya tepat dibagian pipi kiri Sistim dengan kepalan tangan kirinya. Tapi itu hanya sekali, karena Sistim sudah menyerangnya berkali-kali dengan tamparan biasa. Manda benar-benar marah dan segera menerjang Sistim dengan begitu beringas.
“WAKTU HABIS!” teriak Desy.
Akan tetapi Manda tidak mendengarkan dan terus berlari kearah Sistim.
“Heh!” Sistim terkekeh.
Sistim pun bergeser kesamping dan menyengkang kaki Manda hingga wanita ini terperusuk jatuh kedepan. Manda hendak berdiri tapi punggungnya diinjak oleh Sistim hingga Manda tertindih.
“Apa kau tak mendengar? Waktunya habis,” kata Sistim.
Suara kasak-kusuk kembali terdengar diarah bangku penonton, mereka tak menyangka Manda bisa dipermainkan begitu mudah hanya dengan tangan kosong. Manda sendiri pun tidak menyangka dan begitu geram saat berdiri.
“Oh, apa kau malu-malu denganku? Kedua pipimu merona merah sekarang,” Sistim menyeringai.
“Diam kau!” seru Manda menahan kesal.
“Dan sekarang babak kedua, senjata.”
Manda tak perduli karena ia sudah mengetahui hal itu, ia berjalan ketempat ia menaruh tongkatnya dan kembali lagi ketempat semula. Sementara itu Sistim mengambil sebuah tas yang sebelumnya ia ambil dari Desy. Tas itu dipangkunya dan berjongkok untuk membuka tas tersebut.
“Untuk duel ini kurasa level 1 sudah cukup.”
Level?” alis Manda naik sebelah.
“Hmm,” Sistim tersenyum sinis.
Dan saat sebagian tas itu terbuka dari atas maka Sistim mengeluarkan senjata andalannya, dan itu hanyalah tongkat baseball biasa yang terbuat dari kayu.
Level 1, tapi jangan anggap remeh kayu,” Sistim menyeringai.
Level? Menggelikan! Kenapa tidak kau keluarkan senjata kau yang paling kuat!”
“Akan kupakai kalau aku berniat membunuhmu,” kata Sistim sambil mengetuk-ngetuk bahunya dengan tongkat baseball.
“Sayang sekali kalau begitu.”
Manda menekan tombol switch lain yang ada berada diarah berlawan dari tombol switch untuk membuat tongkat itu terbelah 2. Satu per satu lapisan kayu yang ada ditongkat itu terlepas dan bisa dilihat kalau itu adalah tongkat besi seutuhnya.
“M-Mand, kau bilang tidak akan menggunakannya,” kata Desy.
“Apa bedanya bodoh? Lapisan kayu ini hanya aksesoris belaka bukan?” kata Manda sinis.
“Iya sih...” Desy menggaruk pelipis telinganya dengan ujung jari.
“Dan kau,” Manda memandang Sistim dengan tatapan yang tajam, “Kau pikir senjatamu itu akan bertahan melawan tongkatku ini?”
“.... Apa itu besi seutuhnya?”
Manda menghentakan ujung tongkatnya kelantai dan tongkatnya itu sedikit terbenam dan menimbulkan keretakan kecil disekitarnya. Padahal Manda hanya melakukan hentakan biasa tapi dari itu sudah jelas kalau tongkat itu adalah besi seutuhnya. Sistim terdiam karena bagaimanapun tongkat itu bisa dibilang padat dan berat, tapi tadi Manda sempat mencoba senjata itu sebelumnya dan Manda terlihat terbiasa dengan senjata ini.
“Kau benar, sepertinya kayu ini akan penyok saat menerima serangan tongkatmu,” kata Sistim sambil mengetuk tongkat baseball kayunya kelantai.
“Apa yang membuat kau berpikir aku mau menyerang tongkat baseball mu itu?”
“Mungkin karena...” Sistim berjalan kedepan dan tiba-tiba berlari sambil menyeringai, “Ini!”
Manda kaget dengan serangan yang hendak dilancarkan Sistim, tongkat baseball itu mengayun kearah pinggangnya dan dengan cepat Manda melakukan pertahanan dengan tongkat besinya itu untuk melindungi diri.
“Heh!” Sistim menyeringai, begitu juga Manda.
“Hei! Aku belum bilang mulai bukan?!” seru Desy yang protes.
Akan tetapi suara protes itu tak diindahkan Sistim dan Manda. Sistim menarik tongkat baseball nya dan hendak menghantam Manda dari atas. Manda lagi-lagi menahan serangan itu dengan tongkatnya dan tak hanya itu, kakinya juga digunakan untuk menendang Sistim hingga tertolak kebelakang.
“Lebih baik kau ganti senjatamu,” ujar Manda.
Dengan tombol switch lain dibagian tengah tongkat maka sekarang tongkat panjang itu terbagi 2. Dan dari cara Manda memutar kedua tongkat itu hingga berada digenggamannya sudah bisa dipastikan ia sudah sangat terbiasa dengan senjatanya tersebut.
“Oooh... ini pasti akan merepotkan,” Sistim menyeringai dan melakukan kuda-kuda dengan tongkat Baseball-nya.
“Tenang saja,” Manda berjalan kedepan dengan tongkat kiri ditepuk-tepuk dipundak kirinya, sementara tongkat kanannya diseret, “Akan kubuat kau sangat kerepotan!”
Manda menerjang, begitu juga Sistim. Manda melancarkan serangan dengan tongkat kanannya dan ditahan dengan tongkat baseball-nya Sistim. Tapi tangan kiri Manda juga melakukan serangan, Sistim menolak tangan kanan Manda terlebih dahulu dan memutar arah tongkat baseball nya untuk menahan tongkat kiri Manda. Bagian tengah mereka yang lenggang maka mereka sama-sama melakukan serangan dengan lutut kaki mereka masing-masing hingga lutut mereka berdua bertemu.
“Sepertinya gaya bertarung tangan kosongmu yang benar-benar payah,” Sistim menyeringai karena dilihat gaya bertarung Manda menggunakan senjata jauh lebih baik daripada gaya bertarung Manda menggunakan tangan kosong.
“Kau pikir untuk apa aku berlatih sedari kemarin?!” Manda juga menyeringai.
Tiba-tiba saja suara lagu memekakan seluruh ruangan. Itu adalah perbuatan Desy yang menyuruh Adis memutar lagu ditengah-tengah duel Manda dan Sistim dengan pengeras suara yang ada diruangan besar itu. Lagu Linkin Park berjudul Rebellion ini pun menyemarakan duel yang berlangsung.
Pertarungan Sistim dan Manda terus berlanjut dan sudah beberapa kali mereka saling menyerang dan juga bertahan dengan senjata mereka masing-masing. Melihat pertarungan ini membuat penonton kembali riuh karena duel ini sangat menarik untuk ditonton.
“Mereka berdua hebat sekali...” komentar Farin dengan decak kagum.
“Ya. Manda memang ahli bertarung menggunakan senjata, dan gaya bertarung dia dengan 2 tongkat itu seperti gaya dia memainkan 2 pisau andalannya,” lanjut Vienny.
“Begitu,” Farin memanggut-manggut.
“Hmmm,” gumam Yona.
“Kenapa?” tanya Vienny.
“Tidak, aku hanya bingung melihat Sistim.”
“Bingung kenapa?” lanjut Farin.
“Semua kuda-kuda dan serangan yang ia lakukan dengan tongkat baseball itu seperti gaya permainan pedang, tapi terkadang ia melakukan serangan biasa namun melakukan serangan dengan gaya permainan pedang lagi. Ia begitu cepat mengganti gaya bertarungnya sesuai kondisi dia disitu.”
“Hmm...” Farin dan Vienny melihat ketempat duel.
Dan memang seperti yang dibilang Yona, Sistim melakukan serangan seperti jurus-jurus pedang dengan tongkat baseball nya itu tapi saat Manda menyerang dengan serangan tak terduga maka Sistim mengubah gaya bertarungnya untuk bertahan sekaligus menyerang.
“Manda juga membuatku bingung, dia menggunakan keahlian dia memainkan pisaunya untuk memainkan tongkat. Gaya dia menusukkan ujung tongkat juga sama saat dia menggunakan ke-2 pisaunya, entah dia menganggap ini benar-benar duel atau ajang pembunuhan,” komentar Yona dengan tawa kecil.
“Sepertinya gara-gara dipermalukan pada babak pertama maka babak ini dia berniat membalasnya sungguh-sungguh,” lanjut Vienny.
“Kau benar,” Yona tersenyum dan kembali menopang dagunya dengan tangan kiri.
“Menurut kalian siapa yang menang?” tanya Farin.
“Entahlah, kurasa seimbang,” duga Yona dan diiyakan Vienny.
“Adededeh...” Boby siuman dari pingsan nya, ia mengelus wajahnya dan memandang Yona, “Tadi ada a...UUUGGHHHH!!!”
Dan ia kembali pingsan berkat gebukan tangan Yona.
Lalu ditempat duel terlihat peluh keringat membasahi tubuh Sistim dan juga Manda, mereka juga meringis karena sempat terkena serangan masing-masing lawannya ditubuh mereka. Mereka saling menendang dan terdorong kebelakang.
“Hah... hahh...” Sistim terengah-engah dan memandang Manda.
“Heh,” Manda menyeringai dan berdiri, “Sekarang apa yang hendak kau handalkan dari senjatamu itu?”
Sistim mengangkat tongkat baseball nya yang terbuat dari kayu itu dan bentuknya sudah mulai tak karuan karena hantaman tongkat besi padat dari Manda sebelumnya. Bisa dibilang tongkat baseball itu banyak penyokan.
“Tidak masalah, aku masih bisa bertarung dengan ini,” Sistim memandang Manda dan menyeringai, “Bagaimana kalau kita langsung saja melakukan babak ke-3?”
Manda mempersatukan lagi 2 tongkat besinya hingga menjadi 1 tongkat besi utuh.
“Ayo sini,” Manda memainkan ujung jarinya agar Sistim melakukan serangan pertama.
Tanpa perlu disuruh pun Sistim sudah menerjang sambil mengayunkan tongkat baseball nya itu. Manda menahannya lagi dengan tongkat dan dengan cepat menekan tombol switch hingga tongkatnya lagi-lagi terbelah menjadi 2, Manda memutar badannya dan dengan 2 tongkat itu maka Manda melakukan serangannya.
“Errgggghh!!!” rintih Sistim saat 2 tongkat itu menghantam lengan tangan kanannya.
“Heh!” Manda menyeringai.
Tapi Sistim tidak tinggal diam, dengan kepalan tangan kirinya ia menghantam perut Manda hingga Manda meringis dan bergerak kesamping, dan itulah dijadikan Sistim kesempatan untuk menusuk perut Manda dengan ujung tongkat baseball yang tumpul.
“Ugghhh!!” rintih Manda.
Dan selama bergerak kesamping atas serangan tadi, Manda dengan cepat menggabungkan 2 tongkatnya lagi untuk menyerang Sistim. Sistim kaget dan segera menunduk untuk menghindari tongkat besi yang diayunkan tersebut, dan saat menunduk ia menyengkang kaki Manda. Manda terjatuh dan lagi-lagi dengan cepat ia mengubah tongkatnya menjadi 2 karena ia melihat Sistim hendak menggebukan tongkat baseball nya dari posisi ia jatuh.
2 senjata mereka pun beradu kuat.
“Tangan kosong? Heh?”
“Sudah kubilang kemarin kalau babak ke-3 adalah babak penentuan, aturan babak pertama dan kedua tentu saja disertakan bukan?” Sistem menyeringai.
“Bersiaplah untuk kalah!”
Manda mendorong tongkat baseball Sistim dengan 2 tongkat besinya, Manda berguling-guling kearah Sistim dan menendang pria tersebut, setelah itu Manda berdiri dan hendak menyerang Sistim, namun Sistim menghantam tongkat besi itu hingga Manda kehilangan keseimbangan dan Sistim pun membalas serangan tendangan tadi.
Pertarungan mereka kali ini benar-benar membuat orang-orang yang menontonnya berdecak kagum.
Sistim dengan tongkat baseball nya yang penyok sana-sini masih bisa melakukan serangan dan bertahan, ia juga terkadang memakai tangan kosong untuk melakukan serangan dan juga gaya bertarung pedang dengan tongkat baseball nya.
Manda juga tak kalah lihai dan ia benar-benar memaksimalkan gaya bertarungnya dengan senjata yang ia gunakan. Disaat jarak mendekat ia membelah tongkatnya itu menjadi 2, dan saat jarak mereka sedikit menjauh maka ia menggabungkan tongkatnya lagi untuk menyerang dari jarak jauh. Ia juga menggunakan serangan tangan kosong dengan tangan menggenggam tongkat.
“Mereka benar-benar hebat,” senyum Vienny mengembang melihat hal ini.
Tak hanya Vienny, bahkan para sekretaris dan pengawas yang tak terbiasa melihat pertarungan terlihat berdebar-debar melihat duel yang dilakukan 2 anggota elite Redrum tersebut.
“SISTIM! AYO SISTIM!!!”
“AYO MANDA! KALAHKAN DIA!!!”
Bahkan sorak sorai pendukung dari anggota Redrum lainnya menyemarakan duel ini, mereka semua begitu semangat melihat duel Manda dan Sistim yang benar-benar memanjakan mata.
“Kalian mendukung siapa?” tanya Farin kepada Vienny dan Yona.
“Manda,” Yona tersenyum.
“Sama,” Vienny tertawa ringan.
“Hmm kalau begitu aku Sistim deh hehe.”
“Nanti Ega cemburu loh kalau kamu mengatakan hal itu,” Vienny tertawa.
“Aku kan gak ada hubungan apa-apa dengan Ega,” Farin cemberut.
“Tapi Ega nya yang getol sama kamu,” sambung Yona.
“Uuuh,” Farin memanyunkan bibir.
Sementara itu Sistim dan Manda semakin beringas melakukan serangan mereka masing-masing. Bahkan mulut mereka berdua sudah mengeluarkan darah akibat serangan yang mereka terima. Sistim mengayunkan tongkat baseball nya dan Manda juga mengayunkan 2 tongkat besinya.
Akibat benturan itu akhirnya tongkat baseball Sistim pecah dan serpihan kayunya berhamburan kesamping.
“Heh!” Manda menyeringai.
“Apa yang kau ‘Heh!’ kan itu? ” Sistim juga menyeringai.
Patahan tongkat baseball kayu yang masih dipegang Sistim membentuk sebuah serpihan lancip dan ia menggunakan ujungnya itu untuk menusuk perut Manda. Manda terkejut dan otomatis meloncat kebelakang.
“Ugh!!!” rintih Manda saat tangan kanan Sistim memegang tangan kirinya.
“Bodoh, kau bergerak sesuai kemauanku,” Sistim menyeringai.
Ternyata tadi Sistim berpura-pura hendak menusuk perut Manda dan karena itulah Manda mundur kebelakang tapi memang itu yang diincar Sistim, Manda yang kehilangan keseimbangan dengan mudahnya ditarik Sistim dan membanting wanita itu hingga punggungnya bertemu lantai.
“Eeeeerrrggghhhh!!!” Manda merintih kesakitan.
Dengan cepat Sistim menarik 2 tongkat besi ditangan Manda dan membuangnya jauh-jauh. Sistim menghimpit pinggang Manda dengan sikut kakinya, ia juga menahan leher Manda dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengacungkan tongkat baseball nya  yang hancur itu kearah Manda, terlebih lagi ujung tongkat baseball nya berbentuk lancip gara-gara dihancurkan oleh 2 tongkat Manda.
“Kau mau mengakui kekalahanmu?”
“Kau pikir kau sudah menang?”
“Apa ini semua tidak bisa menjadi jawabannya? Dan sudah kubilang kau itu lengah, bahkan kau bisa saja ditipu oleh seranganku tadi.”
“Oh ya? Kau yakin?” Manda tersenyum.
“Apa maksud senyumanmu itu?” alis Sistim naik sebelah.
Manda tidak menjawab, ia melirikan matanya kebawah. Sistim melihat arah yang dimaksud dan melihat tangan kiri Manda sudah memegang patahan tongkat baseball Sistim sebelumnya yang berhamburan tadi, dan sama seperti Sistim, patahan tongkat itu berbentuk lancip dan mengarah kearah perutnya.
“Hmm,” Sistim tersenyum, “Pintar juga.”
“Heh!”
Manda menyikut tubuh Sistim dengan dengkul kakinya hingga Sistim meringis dan terbaring disamping, Manda juga berputar arah kearah Sistim, mengunci tangannya dan duduk diatas perutnya.
“Sekarang siapa yang lengah?” Manda menyeringai dan mengarahkan patahan tongkat baseball lancip ke leher Sistim.
“Heh,” Sistim terkekeh dan melepaskan pegangan tongkat baseball nya, setelah itu ia mengangkat tangannya dari posisi ia berbaring, “Aku kalah.”
Mendengar hal itu membuat Desy memberitahu penonton lainnya dengan memberitahukan hasil dari duel ini yang dimana Manda menjadi pemenangnya. Suara sorak sorai penonton kembali bergemuruh, namun meskipun kalah, suara dukungan untuk Sistim masih bergaung dimana-mana, begitu juga untuk Manda karena mereka berdua telah berhasil menyuguhkan pertarungan yang menarik bagi mereka semua.
“Kau hebat dengan senjata, tapi tidak dengan tangan  kosong,” kata Sistim terengah-engah dari posisinya berbaring.
“Sudah kubilang tadi, kau pikir untuk apa aku berlatih,” Manda juga terengah-engah saking capai nya.
“Tapi kau masih saja lengah tadi,” Sistim tersenyum tipis.
“Bukan urusanmu.”
“Ya kalau kau mau kau latih tanding saja denganku besok.”
“Kenapa?” Manda menyeringitkan dahi.
“Karena tempat kau berlatih itu masih menjadi tempat favoritku,” Sistim beranjak dan duduk sambil menguap.
“Heh... terserah...” kata Manda sambil menunduk dan terengah-engah, ia benar-benar capek melakukan duel ini.
Suara hingar bingar didalam ruangan tes senjata dan ruangan latihan itu masih memekakan telinga sampai akhirnya suara seseorang dari soundsystem menyita perhatian mereka semua.
-         Saya tadi penasaran kenapa saya tidak melihat anggota-anggota yang tergolong berusia muda tidak berada ditempat tugasnya masing-masing. Ternyata kalian sedang bersenang-senang ya diruangan itu?
Semua anggota terdiam karena mereka mengenal suara itu, yaitu Direktur Redrum. Dan tepat seperti yang dibilang Direktur karena rata-rata anggota yang ada disitu berumur 30 tahun kebawah.
-         Dan saya juga mau ikut bersenang-senang dengan kalian. Bagi siapa saja tidak kembali ketempat kerjanya masing-masing dalam waktu 2 menit, gaji semua anggota yang ada diruangan itu saya turunkan 4 juta.
Semua anggota Redrum menelan ludah.
-         Dan.... waktunya dimulai dari sekarang.
Suara Direktur terputus dan kehebohan mulai terjadi didalam ruangan itu. Semua anggota Redrum berebut untuk keluar ruangan akan tetapi mereka tidak bisa keluar karena pintu ruangannya terkunci.
“DESY! MANA KUNCINYA?!!” teriak salah satu anggota.
“Sebentar! Sebentar!” Desy kalap mencari kunci ruangan itu.
“KENAPA KAU MENGUNCINYA?!”
“BIAR DIREKTUR SIALAN DAN PETINGGI LAINNYA ITU TIDAK MASUK DAN MENGHENTIKAN DUEL INI!!” teriak Desy tak kalah nyaring.
Tapi kunci yang ada ditangan Desy terjatuh dan tak sengaja tertendang oleh kaki anggota Redrum lainnya. Sekarang mereka semua heboh sendiri untuk mencari kunci untuk membuka pintu ruangan yang tebalnya bukan main itu.
“Kau tidak ikut?” tanya Sistim.
“Aku sudah terbiasa gajiku diturunkan,” kata Manda cuek dan memilih berbaring untuk melepas rasa lelahnya.
“Heh,” Sistim mendesih sebentar dan ikutan berbaring karena ia juga benar-benar capek.
Sementara itu Yona, Farin dan Vienny memilih untuk duduk daripada ikutan kalap mencari kunci ruangan didalam kerumunan seramai itu.
“Kurasa gaji kita akan turun bulan ini,” kata Vienny sambil menguap.
“Iya,” Yona mengiyakan.
“Tapi kasian Boby,” Farin melihat Boby yang masih pingsan.
“Untuk apa juga kau kasian dengan orang ini?” tanya Yona sinis.
“Ya gimana ya... dia gak ikutan nonton gara-gara pingsan, eh gajinya diturunkan lagi...” ujar Farin polos.
“Heh,” Yona dan Vienny tertawa ringan, “Kau benar.”
Salah seorang anggota Redrum berhasil menemukan kunci itu, yaitu Adis. Tapi saat dia mengangkat kunci ruangan itu membuat semua anggota Redrum terdiam.
“KUNCINYA PATAH!!!!” teriaknya tiba-tiba.
Alhasil semua anggota Redrum pun panik dan mencoba menggedor-gedor pintu karena kunci cadangan berada diruangan komunikasi.
Sepertinya mereka harus pasrah gaji mereka diturunkan.
Karena sekarang sudah memasuki menit ke 1.42
Nasib.
۩ N U M E R I Q ۩
۩ N U M E R I Q ۩
2 hari sudah berlalu. Siang hari lebih tepatnya jam 1.29, Naomi hendak melepas lelah diluar gedung. Sesampainya diluar ia melihat salah satu orang yang sangat ia kenal, yaitu Bayu, yang asyik duduk diatas kap mobil sambil mengisi TTS dan menghisap rokok.
Naomi menghampirinya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku tidak dipecat dan aku dibebas tugaskan, jadi itu alasannya aku disini,” jawab Bayu cuek dengan mulut menghembuskan asap.
“Mending kau dirumah saja bukan?”
“Sejak kapan aku punya rumah?” Bayu terkekeh dan menjawab dulu TTS yang sudah ia ketahui jawabannya.
“Istilahnya saja.”
“Aku dengar tim penyelidik sudah turun kelapangan, menyelidiki wilayah Black Snake.”
“Ya.”
“Kau yakin dengan informasi dari pacarmu itu?”
“Sejak kapan aku punya pacar?” balas Naomi sambil menguap.
“Istilahnya saja,” Bayu terkekeh dan membaca TTS.
“Istilahmu terlalu jauh.”
“Sama seperti istilahmu tadi, dan apa itu benar?” Bayu menatap Naomi.
“Bukankah kau sudah bertanya?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Bukan itu, tapi... yah... kau tahu maksudku.”
Tahu akan maksud perkataan Bayu membuat Naomi menghela nafas.
“Ya...”
“Begitu....”
“Sudahlah, itu urusanku, awas, aku mau keluar,” usir Naomi karena Bayu duduk diatas kap mobilnya.
“Ya, ya,” Bayu turun dan Naomi memasuki mobil, tapi sebelumnya Bayu mengetuk kaca mobil.
“Apa?” tanya Naomi saat membuka kaca jendela mobil.
Bayu kemudian membisiki Naomi sesuatu, mata Naomi terbelalak dan memandang Bayu.
“Benarkah?” tanya Naomi.
“Ya... semuanya,” Bayu tersenyum tipis.
Naomi terdiam untuk sementara waktu dan hendak menutup kaca jendela mobil, tapi sebelumnya ia menoleh kearah Bayu.
“Mungkin kalau kau ikut itu bisa membantumu bertugas kembali.”
“Memang itu rencanaku,” Bayu cengengesan.
“Ya sudahlah.”
Naomi menutup kaca jendela mobil, mesin mobil dinyalakan dan ia pun segera keluar. Diperjalanan ia tampak termenung meski pikirannya masih bisa fokus memperhatikan jalanan.
“Haaah,” Naomi menghela nafas, “Mending aku mencari makan siang.”
Mobil yang ia kendarai terus melaju, tanpa dia sadari kalau ada 2 mobil hitam dan 1 motor sport hitam mengebut dari belakang mengejar mobilnya tersebut. Salah satu mobil hitam itu mendempet mobil Naomi dari sebelah kiri sementara yang satunya berada tepat dibelakang Naomi.
Bunyi ketukan kaca menarik perhatian Naomi, ia menoleh kekiri dan melihat pengendara mobil disebelah kirinya itu sudah mengetuk kaca mobilnya tersebut dan tersenyum. Naomi menyeringitkan dahi karena ia tak pernah melihat orang itu sebelumnya, tapi Naomi terkejut saat pengendara mobil itu memundurkan tubuhnya karena seseorang disamping pengendara itu mengarahkan senjata api kearah Naomi.
Naomi hendak mengerem namun ia merasakan getaran, ia menoleh kebelakang dan melihat mobil hitam lainnya menghalangi niatnya tersebut. Ia hendak membanting mobilnya kekanan namun pengendara motor sport hitam menghalangi dan mengetuk pintu mobilnya.
Tentu saja Naomi tidak mau membuka kaca jendela mobilnya karena merasa dirinya terancam. Pengendara motor itu mengambil sebuah kertas kecil dari jaketnya dan kertas itu ditepuknya dikaca jendela mobil Naomi, Naomi menoleh dan terbelalak matanya. Karena kertas itu terbubuh gambar kepala ular berwarna hitam dengan warna mata hijau digambar ular tersebut. Tanpa perlu menduga lebih banyak pun Naomi sudah tahu kalau mereka semua adalah Black Snake.
“Oh sial!” batin Naomi.
-----
Ditempat lain terlihat Dion baru keluar dari rumahnya, dia pulang terlebih dahulu untuk mengisi isi kulkas karena tadi ia sempat membeli 2 dus kopi kalengan dan minuman kalengan lainnya. Ia membawa 2 kaleng kopi susu untuk teman perjalanannya nanti dan saat ia keluar dari rumah tak sengaja ia berpapasan dengan Frieska yang baru pulang dari kampus.
Frieska salah tingkah saat hendak melewati rumah Dion terlebih lagi Dion memandangnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Bermain aman maka dia membuang muka kearah lain dan melanjutkan perjalanannya.
“Hei,” panggil Dion.
Frieska tidak memperdulikan dan terus berjalan.
“Hui,” panggil Dion sekali lagi.
Tapi Frieska pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan dengan posisi kepalanya yang masih miring kesamping. Dan barulah saat merasa didepan rumahnya ia menoleh kedepan dan kaget sekaget-kagetnya.
“Apa yang kau lakukan disini?!” seru Frieska yang sewot karena Dion berdiri tepat didepan pagar rumahnya.
“Aku dari tadi memanggilmu tapi tidak kau hiraukan, jadi aku menunggu saja disini,” kata Dion sambil menyeruput minuman kalengannya.
Frieska menjelingkan matanya kearah lain, wajahnya memerah dan mendadak gagu, “M-M-Mau apa... k-k-kau memanggilku?”
“Kenapa kau bertingkah seperti wanita pemalu seperti itu?” Dion terkekeh.
“B-Berisik!” seru Frieska dan masih tak bisa menatap lawan bicaranya.
“Kan kau bilang aku ini lucu di-Video itu, kupersilahkan kau untuk melihatku langsung dari depan,” Dion mencoba menggodanya.
“Diem!” Frieska mendendang kaki Dion walau matanya itu masih menjeling kearah lain.
“Hahahaha,” Dion tertawa lepas, “Ya sudahlah, aku hanya ingin menggodamu tadi, jangan diambil hati.”
“Berisik! Pergi sana!” usir Frieska.
“Ya-ya, dan ini.”
“Apa?”
“Coba lihat dulu kesini.”
“Gak!”
“Nanti kena kepalamu baru tahu.”
“Emang apa?”
“Makanya lihat dulu kesini.”
“Ish! Apaan sih!”
“Mau aku kesana dan berdiri lagi tepat dihadapanmu?” ancam Dion.
“Ck!” dengan sebal Frieska menoleh kearahnya.
Frieska kaget karena Dion melemparkan minuman kaleng kearahnya dan dengan reflek yang ada maka Frieska menangkapnya.
“Untukmu,” kata Dion singkat dan memutar badan untuk berjalan kearah mobilnya.
Dan tiba-tiba saja kepala Dion terkena lemparan minuman kaleng dari belakang, Dion mengusap kepalanya dan menoleh untuk melihat pelakunya, siapa lagi kalau bukan Frieska.
“Jangan sok keren!” seru Frieska sambil melotot.
“Siapa juga yang mau sok keren?!” Dion sewot bukan main.
“Bodo!”
Frieska membuka pagar rumahnya dan segera masuk kedalam rumah, didalam rumah ia terengah-engah dan wajahnya memerah bukan main. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan bergumam.
“Kenapa aku sekasar itu sih?!”
Suara mobil menderu terdengar ditelinga Frieska dan ia tahu kalau itu adalah suara mobilnya Dion yang telah pergi. Frieska membuka kedua tangannya dan alisnya mengkerut, ia keluar rumahnya dan menumpu dagunya diatas pagar.
“... Maaf...” katanya pelan dengan raut wajah yang sendu.
Frieska menghela nafas dan hendak masuk kerumahnya lagi, tapi langkahnya berhenti karena ia melihat kaleng minuman tadi sudah bertengger dipagar sebelahnya. Frieska mengambil kaleng minuman itu dan tersenyum memandang jalur dimana mobil Dion keluar yang sudah ia ketahui dari dulu.
“...Terima kasih...” gumamnya.
Lalu didalam mobil, Dion mendapatkan telepon dari Shani yang meminta dia untuk menjemput gadis tersebut dikampusnya. Setelah hubungan telepon terputus maka Dion segera meluncur kekampus Shani.
Ada 10 menit dijadikan Shani untuk menunggu Dion didepan kampusnya, namun dia tidak sendirian karena dia ditemani ke-2 temannya yakni Vanka dan juga Lidya.
“Kenapa kalian tidak pulang dulu?” tanya Shani kepada Vanka dan Lidya.
“Nanti dulu dong, kan aku kepengen liat siapa yang mau menjemput kamu,” Vanka tersenyum dan memain-mainkan alis.
“Dan kata anak-anak, yang menjemput kamu itu pasti orang yang sama, cowok lagi,” sambung Lidya.
“Oh itu,” Shani tersenyum tipis, “Kenapa emangnya?”
“Kenapa lagi ditanyanya,” Vanka memiringkan bibir, “Eh Shani! Coba ingat udah berapa cowok dikampus ini kamu tolak mentah-mentah? Dari yang pengen deket ampe yang nembak kamu? Lupa?!”
“Bener! Karena itu kami penasaran dan kepengen melihat cowok itu langsung dari mata kami! Ngerti?!” Lidya melotot dan menunjuk Shani.
“Kenapa kalian yang marah?” Shani tertawa pelan memandang Vanka dan Lidya.
“Kami bukan marah! Tapi kami khawatir! Kamu mau lihat dulu cowoknya gimana, siapa tau dia bukan pria baik-baik kan?” ujar Vanka.
“Ya! Khawatir dan penasaran,” campur Lidya.
Shani menghela nafas dan membetulkan posisi kacamatanya, “Dia baik kok.”
“Nah!” seru Vanka dan Lidya bersamaan.
“Kenapa?” Shani menyeringitkan dahi.
“Itu tadi! Kamu memuji seorang cowok?!” Vanka menunjuk Shani.
“Emang salah ya?”
“Ya salahlah! Gara-gara kamu sendiri! Kamu tak pernah sekalipun ngeluarin kata-kata buat muji cowok dan ini untuk pertama kalinya kamu bilang kalau ada seorang cowok itu baik!” Lidya begitu bernafsu menunjuk Shani, hidungnya saja sampai kembang-kempis.
“Apaan sih? Biasa aja kali,” Shani menyeringitkan dahi dan tertawa.
“Untuk kasus yang lain ini biasa, tapi kamu itu luar biasa!” seru Lidya sambil melotot dan berkacak pinggang, raut wajahnya bengis bukan main memandang Shani.
“Gak nge-gas gitu juga kali, Lid,” Vanka memiringkan bibir.
“Mantan pecandu, tolong maklumin,” Lidya memiringkan bibir.
Shani hanya bisa menahan tawa mendengar perbincangan Lidya dan Vanka sampai akhirnya ada seorang mahasiswa bersepeda motor berhenti tepat dihadapan mereka. Itu adalah rekan kerja Lidya ditempat Lidya bekerja sambilan. Lidya mengomel-ngomel karena dirasa ini bukan waktu yang tepat tapi mahasiswa itu lebih mengomel-ngomel karena Bos tempat mereka bekerja mencari-cari Lidya yang seharusnya berganti tugas dengan pegawai lainnya. Lidya pun terpaksa pergi bersama mahasiswa itu.
“Ngomong-ngomong kok lama sih yang ngejemput kamu?” tanya Vanka kepada Shani.
“Jarak dia lumayan dari rumahnya kesini, kalau kau mau pulang ya pulang saja dulu. Gakpapa kok.”
“Tapi nunggunya gak ditepi jalan gini juga kali,” Vanka memiringkan bibir.
“Digerbang panas sih, males,” Shani menoleh kegerbang kampus yang dimaksud.
“Aku ambil mobil dulu deh, biar bisa langsung pulang nanti.”
Vanka kemudian masuk kedalam untuk mengambil mobilnya yang ia parkirkan. Ada 5 menit ia mengambil mobilnya dan segera meluncur keluar gerbang kampus. Tapi ia sudah tidak melihat keberadaan Shani ditempat sebelumnya.
“Loh, dimana tuh anak?” Vanka celingak-celingukan.
Perhatian Vanka kemudian tertuju pada sebuah mobil hitam yang berhenti disitu. Pemilik mobil itu turun dan celingak-celingukan seperti hendak mencari seseorang. Vanka juga turun dari mobil dan hendak bertanya kepada mahasiswa dan mahasiswa untuk menanyakan keberadaan Shani.
“Maaf.”
Vanka menoleh dan melihat pria yang turun dari mobil hitam barusan.
“Ya?”
“Maaf mengganggu. Saya mau nanya, kenal Shani gak?”
“Emm ya,” Vanka mengangguk, “Siapa ya?”
“Itu... saya temannya, mau menjemput dia, biasanya sih dia nunggu disitu,” orang itu menunjuk tempat Shani berdiri sebelumnya.
“Oh ya-ya,” senyum Vanka merekah, “Namanya siapa?”
“Hah?”
“Namamu siapa?”
“.... Kenapa jadi nanyain nama saya?”
“Jawab aja!” seru Vanka.
“.... Dion...” jawab Dion segan.
Oh Dion namanya! Sip-sip, tenang aja Lidya! Gue udah dapet namanya! Buat bahan kita ngegodain Shani nanti!” batin Vanka puas.
“... Jadi Shani nya dimana ya?” tanya Dion kembali.
“Oh,” Vanka baru tersadar, “Tadi sih disitu, tapi sekarang gak tau kemana, ini aja aku mau nanyain sama yang lain,” Vanka menunjuk kerumunan mahasiswa yang lain.
“Kalau begitu... tolong, dan terima kasih,” Dion mengangguk.
“Entar ya, kutanyain.”
Dion mengikuti Vanka dari belakang untuk mengetahui jawabannya. Vanka langsung bertanya dan segera mendapat jawabannya dari salah satu mahasiswa.
“Shani? tadi sih gue liat dia dijemput gitu. Mobil warna putih, kirain ada apa-apa tadi.”
“Maksudnya?”
Mahasiswa lain pun menjawab, “Ya dikerubungi gitu sama cewek-cewek, kirain ada apa gitu kan haha.”
“Lalu Shani ikut kemobil itu?”
“Iya, keluarganya kali,” jawab mahasiswa tadi.
“Gitu,” Vanka mengangguk-angguk.
Vanka kemudian menoleh kebelakang dan heran, ia heran karena ia melihat Dion menyeringitkan dahi setelah mendengar jawaban itu.
“Ada apa?” tanya Vanka.
“Oh,” Dion tersadar dan memandang Vanka,”Gak... gak ada apa-apa...”
Setelah berkata seperti itu maka Dion berjalan ketempat dimana Shani berdiri dari petunjuk yang Vanka berikan sebelumnya. Ia memperhatikan jalan secara teliti dan menyeringitkan dahi. Dion berjongkok dan memungut sesuatu, sebuah kacamata.
“Loh, itukan kacamata Shani,” kata Vanka yang mengikuti Dion.
Dion tidak menjawab dan terus berdiam diri, ia mengeluarkan handphone dan mencoba menghubungi Shani dengan handphone umum-nya. Nada tunggu terdengar ditelinga Dion akan tetapi tiba-tiba terputus, Dion mencoba menelponnya lagi tapi pas nada tunggu terdengar lagi-lagi hubungan telepon terputus. Dion mencoba untuk terakhir kali dan kali ini ada suara pesan dari operator kalau jaringan berada diluar jangkauan.
Aneh...” batin Dion.
Dion berdiri dan melihat kacamata itu sekali lagi.
“Gak biasanya Shani seceroboh ini,” komentar Vanka melihat kacamata Shani.
“Oh... ya, dia kadang ceroboh,” Dion tersenyum.
“Benarkah? Sepertinya kamu sudah mengenal dia dengan baik ya?” tanya Vanka dengan pertanyaan ala wanita yang bernama ‘Mengeruk-informasi’
“Ya.... bisa dibilang begitu,” kata Dion sambil memasukan kacamata Shani kekantong jas nya, “Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih sebelumnya,” Dion tersenyum.
Hmm sopan juga, mungkin karena ini ya Shani suka sama dia,” gumam Vanka dalam hati.
“... Ada apa ya?” Dion bingung karena Vanka begitu serius memandangnya.
“Oh enggak-enggak,” kilah Vanka sebentar. “Udah lama ya kenal Shani?”
“Lumayan.”
“Deket banget?”
“Aaa...” Dion menadahkan kepalanya keatas dan memandang Vanka, “Ya, dekat,” jawabnya jujur karena Shani memang selalu dekat dengannya karena Shani adalah pengawasnya.
Senyum Vanka merekah, “Bener?”
“Iya.”
“Udah ketemu keluarganya?”
“Hampir setiap hari...” jawab Dion, karena itu sering dia lakukan saat mengantar Shani pulang agar orang tua pengawasnya tersebut tidak berpikiran macam-macam tentang aktifitas anaknya diluar rumah selain ngampus.
“Oh gitu!” Vanka begitu semangat menerima informasi ini.
Merasa aneh maka dengan sopan Dion berpamitan, “Kalau begitu saya permisi dulu, Shani sepertinya sudah dijemput keluarganya.”
“Iya-iya dan tolong maafin Shani ya? Seharusnya dia ngasih tau kalau ada keluarganya yang mau ngejemput. Masa pacarnya direpotin kayak gini?”
“Hah? Pacar?” alis Dion naik sebelah.
“Aduh keceplosan,” Vanka berpura-pura menepuk mulutnya padahal tadi dia memang sengaja melakukannya, “Yaudah sana-sana temuin Shani dirumahnya!”
“Eh? I-Iya,” Dion benar-benar bingung apalagi Vanka mendorong punggungnya menuju mobil.
Dion memasuki mobilnya dan segera meluncur, sementara itu Vanka segera menelpon Lidya untuk memberitahu informasi tentang pria yang hendak mejemput Shani. Dan seperti wanita pada umumnya, Vanka dan Lidya heboh sendiri gara-gara perbincangan itu via telepon.
Sementara itu Shani sudah berada didalam mobil yang dimana pengendaranya adalah Ghaida, lalu disebelah Ghaida adalah Saktia, kemudian Shani yang duduk dibelakang diapit oleh 2 wanita lainnya yaitu Shania dan juga seorang anggota kelompok Black Snake bernama Beby. Shani tidak bisa bergerak banyak karena kedua tangannya terikat dibelakang.
“Hmm,” Shani tersenyum tipis dan mendelikan matanya kearah kiri yang dimana Shania sudah mematikan handphone umum Shani, “Ternyata kau anggota itu ya?”
“Dan pria yang menelponmu ini orang yang kemarin bersamamu kan?” Shania kemudian memandang Shani dingin, “Apa benar kalian ini ‘Anjing Besi’?”
“Dilihat dari aku yang tidak memberontak dan dari percakapan ini sudah bisa menjadi jawabannya bukan?”
“Heh,” Shania melempar handphone umum Shani kebawah dan menatap jendela.
“Kau pembunuh?” tanya Shani.
“Entahlah,” jawab Shania tanpa menoleh sedikit pun.
“Kalau kau pembunuh maka keyakinanku benar akan telapak tanganmu yang kasar itu.”
“Keyakinan?” Shania mendesir, “Kau pikir agama?”
“1 kata bisa menjadi 1000 arti, dan kau salah menafsirkan ucapanku,” kata Shani enteng.
“Kenapa kau tidak menolak atau pun memberontak?” tanya Beby.
“Apa itu bisa membantu? Kalau pun aku berteriak tadi kalian pasti akan memaksaku masuk karena posisiku berada didekat pintu, dan sebelum kedatangan kalian tadi aku juga melihat plat mobil ini, kurasa plat mobil ini palsu. Lagipula dikerubungi oleh kalian tadi apa kalian pikir aku bisa melawan?”
“Hmm,” Shania akhirnya menoleh kearah Shani, “Jadi suami mendiang teman pacarku itu juga anggota ‘Anjing besi’?”
“Dan apa pacarmu itu tahu akan pekerjaanmu ini?”
“Heh!” Shania kembali memandang jendela.
“Kurasa tidak,” Shani tersenyum. “Dan aku mau tahu reaksi dia seperti apa kalau pacarnya ini adalah seorang pembunuh bayaran.”
“Bisa hentikan ocehanmu itu? Aku muak mendengarnya,” Beby menempelkan ujung pistol kearah kepala Shani.
“Lakukan saja dan keuntungan kalian karena membunuhku akan berkurang bukan?” kata Shani tenang.
“Maksudmu?” Beby menyeringitkan dahi.
“Untuk apa juga kalian repot-repot menculikku seperti ini? Kalau kalian ingin membunuhku seharusnya sudah kalian lakukan daritadi, tinggal membuka kaca mobil, menembakku, kemudian pergi. Lagian plat mobil ini palsu dan akan susah diselidiki polisi.”
“Kau!” Beby mengeram marah.
“Dan aku penasaran, keuntungan apa yang ingin kalian ambil dengan cara menculikku seperti ini. Yang pasti bukan perang yang kalian inginkan.... ah pasti uang.”
“Tutup mulutmu!” Beby menghantam pipi kanan Shani.
Shani terhenyak kesamping dan menyeringai, “Sepertinya aku benar.”
“Kau!” Beby melotot.
“Lakban mulutnya dan tutup wajahnya, beres,” kata Shania cuek memberi saran.
Beby mengambil sebuah lakban dan kain penutup berwarna hitam, setelah itu ia menarik Shani.
“Sebelum kau menutup mulutku aku ingin bilang,” Shani menyeringai memandang Beby, “Akan kubalas perbuatanmu tadi 5 kali lipat!”
Tanpa basa-basi lagi Beby langsung melakban mulut Shani setelah itu ia menutup kepala gadis itu dengan kain penutup berwarna hitam.
“... Dia benar-benar pintar...” gumam Saktia pelan kepada Ghaida.
“Sudah kubilang,” kata Ghaida cuek sambil menghembuskan asap rokok.
“Dan palu apa ini?” Saktia menyeringitkan dahi saat mengeluarkan sebuah palu dari dalam tas Shani.
“Entahlah.”
Saktia kembali mengubek-ubek isi tas Shani dan menyeringitkan dahi memandang handphone yang bentuknya unik. Ia menekan tombol-tombol dihandphone itu namun tidak ada reaksi, ia menekan layarnya juga tidak ada reaksi karena handphone khusus Redrum itu memang tidak diaktifkan Shani selama dia kuliah.
Handphone mainan?” pikir Saktia.
Saktia tidak memperdulikan handphone tersebut dan kembali menggeledah isi-isi tas Shani. Sementara itu ditempat pabrik bakso kalengan yang merupakan salah satu markas Black Snake, terlihat 4 pria berdiri didepan seorang wanita yang terikat dikursi dengan lakban memenuhi mulutnya.
Dan wanita itu adalah Naomi.
۩ N U M E R I Q ۩
۩ N U M E R I Q ۩
Kabar menghilangnya Shani tentu saja membawa dampak yang cukup besar dalam organisari Redrum. Meskipun belum lama bergabung akan tetapi Shani adalah aset yang sangat berharga bagi organisasi dengan kecerdasannya itu.
“Bagaimana Pak?” tanya salah satu anggota kepada Direktur.
“Yang pasti sekarang kita hanya perlu menunggu,” kata Direktur enteng dan duduk dikursi sambil menghisap cerutu.
“Heh,” Ega menyeringai dan menoleh kearah Dion, “Kau khawatir dengan pengawas kau itu?”
“Kurasa pertanyaan itu lebih cocok kau berikan kepada Yona.”
“Kenapa harus dia?”
“Kau tak lihat raut wajahnya itu,” Dion menadahkan kepalanya kebelakang.
Ega menoleh kebelakang dan melihat raut wajah Yona terlihat cemas meskipun ia sedang berbicara dengan Vienny.
“Kenapa dia bisa cemas begitu?”
“Mana kutau,” balas Dion.
“Mungkin...”
“Ng?” Ega menoleh dan melihat Farin, “Apa?”
“Entah aku boleh menceritakannya atau tidak, tapi kurasa Yona begitu karena yang dulu ia ceritakan padaku sewaktu diapartemen...”
“Apa?” tanya Dion.
“Yona bilang.... ia seperti mendapatkan sosok adik tirinya kembali dari sosok Shani...” kata Farin segan.
“Adik tiri?” Ega menyeringitkan dahi.
“Yang memicunya bergabung dengan organisasi ini,” kata Dion karena dia tahu apa yang telah terjadi dengan adik tirinya Yona tersebut.
“Kenapa bisa? Bukankah mereka dari dulu tak pernah akur.”
“Aku sendiri juga bingung dan aku tak berani bertanya... karena ia tiba-tiba sedih mengingat adik tirinya...”
“Emang apa yang terjadi dengan adik tirinya?”
“Kau bisa cari tahu sendiri di-database,” balas Dion.
Ega mengeluarkan handphone khusus Redrum nya untuk mencari info tentang Yona karena bisa dibilang Ega tak pernah mau tahu latar belakang semua anggota diorganisasi ini. Tak jauh dari tempat mereka terlihat Ozy menghentakan tubuhnya kekursi dan raut wajahnya kesal bukan main.
“Kenapa?” tanya Vienny mewakili rasa penasaran Yona.
“Naomi...” kata Enu yang malas melanjutkan.
“Benarkah?” mata Yona terbelalak.
“Ya,” Ozy memiringkan bibir dan menyalakan rokok.
“Dimana?”
“Entahlah, yang pasti mobilnya ditemukan ditepi jalan. Pihak kepolisian juga mencarinya,” jawab Enu.
Segala suara yang ada diruangan itu akhirnya teralih saat suara panggilan terdengar ditengah ruangan yang dimana Adis dan Boby sedari tadi sudah menyambungkan handphone Redrum milik direktur dengan alat-alat yang ada disitu.
“Pak?” Boby menoleh kebelakang.
Direktur mengangguk, pak Hengky dan petinggi Redrum lainnya memilih duduk didekatnya dan semua anggota Redrum pun memilih diam untuk mendengar percakapan ini. Yang dimana pemimpin Black Snake menghubungi Direktur Redrum dengan panggilan telepon yang nomornya diacak-acak.
-Sepertinya kita sudah tahu apa yang sudah terjadi.
“Ya,” jawab Direktur, “Berapa yang anda inginkan?”
-Itu bisa kita bicarakan nanti, yang ingin saya tanyakan adalah kenapa anggota anda memberitahu polisi tentang wilayah kami?
“Hanya untuk penyelidikan sebuah kasus.”
-Kasus?” pemimpin Black Snake terdengar tertawa sejenak, -Sejak kapan organisasi pembunuh kriminal itu menjadi organisasi detektif?
“Sejak kasus bom.”
-Hmm seharusnya anda membiarkan pihak berwenang yang melakukannya daripada anda harus kehilangan anggota gara-gara kasus itu. Apa karena permintaan Presiden?
“Mungkin.”
-Hmm organisasi anda tak jauh berbeda dengan Anjing-Anjing pemerintah lainnya.
“Kita membuang-buang waktu.”
-Ya dan kalau anda ingin anggota anda ini selamat maka anda harus mengikuti peraturan saya. Dan saya ingin tahu apa yang ingin kalian selidiki dari kami.
“Birwan, ada dugaan kaburnya orang itu berkat bantuan kelompok anda itu.”
-Birwan? ... Oh, mafia tua itu. Entahlah, mungkin iya mungkin tidak. Bukan saya yang mengurus penerimaan klien. Dan kalau pun iya tentu saja tidak gratis saya berikan bukan?
“Sebutkan saja nominalnya.”
-Info Birwan 200 juta, anggota anda 150 juta. Jangan bilang organisasi anda itu tidak mempunyainya.
“Hmm,” Direktur tersenyum tipis, “Tempat?”
- Wilayah netral, di Mall usang dan tak terpakai lagi. Sudah saya suruh anak buah menetralisir daerah itu jadi jangan khawatir dengan adanya orang luar. Dan tentu saja ada biaya tambahan dari itu, yaitu 25 juta.
“Baiklah, dan saya ingin anda ada disana karena saya juga akan kesana.”
- 300 juta, anda tahu saya tak sembarangan menunjukan wajah saya ini bukan?
“Baiklah.”
-Jam 7 malam. Dan apa Jendral Polisi masih orang yang sama?
“Ya.”
-Baiklah, sekarang giliran dia.
Percakapan pun berhenti dan suasana dimarkas kembali hiruk pikuk.
“Gila, main asal nyebut saja nominalnya...” komentar Reno.
“Kurasa itu hal yang wajar,” ujar Sistim.
“Wajar?” Damar menyeringitkan dahi.
“Rahasia itu mahal harganya, terlebih lagi pemimpin mereka itu bukan orang biasa,” sambung Manda.
Setelah lama berdiam diri maka Direktur pun berdiri dan berbicara dengan anggotanya.
“30 orang yang saya pilih ikut saya nanti dalam pertemuan itu, dan...” Direktur tersenyum tipis, “Lakukanlah.”
“Baik.”
Semua anggota Redrum pun berbenah diri dan beberapa anggota yang dipilih direktur mulai mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti malam yang akan terjadi.

Dan sekarang disinilah Redrum dan Black Snake bertemu. Terlihat yang ikut dengan Direktur adalan wajah-wajah baru di organisasi, salah satu contohnya adalah Farin yang ditemani 3 orang yang dikenalnya yaitu Ega, Reno dan Damar. Sisanya adalah anggota-anggota Redrum yang bisa dibilang veteran dari usia dan keperawakan mereka yang tua.
“D-Dia... bukan kah dia ini seniman...” kata Farin pelan saat melihat wajah pemimpin Black Snake yang sering muncul di layar kaca.
“Ya, karena itu harganya mahal hanya untuk menunjukan wajahnya,” sambung Ega.
“Aku tak menyangka...” Farin terperangah.
Selain Redrum, disitu juga ada Jendral polisi bersama personil pilihannya dan juga sudah mengetahui sepak terjang Redrum selama ini. Mereka juga membawa 30 anggota.
Akan tetapi Black Snake membawa 50 orang ditambah ketuanya yang umurnya berkisar 50 tahunan, bertato, rambutnya memutih karena uban dan duduk dengan tenang dihadapan para tamunya.
“Tempat dan Tatap muka,” kata pemimpin Black Snake tenang.
Perwakilan Redrum dan kepolisian kemudian maju sambil menenteng sebuah kopor besar. 2 perwakilan Black Snake juga maju untuk memeriksa kopor yang berisi uang tunai atas biaya tempat dan uang tatap muka seperti yang sudah disepakati sebelumnya. Tapi tentu saja nominal yang dipintanya berbeda sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 2 tempat tersebut.
Setelah masalah biaya beres maka 2 orang perwakilan Black Snake kembali ketempat semula sambil membawa kopor yang berisi uang tunai. Setelah itu pemimpin Black Snake kembali berbicara.
“Sudah lama juga, sejak pertikaian dulu, sepertinya anda sehat-sehat saja,” katanya kepada Direktur Redrum.
“Dan uban dikepala anda semakin banyak.”
“Ya, mengurus kelompok ini bukan hal yang mudah,” setelah itu pemimpin Black Snake memandang Jendral Polisi, “Senang bertemu denganmu Jendral, saya sedikit tersanjung melihat anda yang begitu cemas dengan keselamatan anggota kepolisian anda.”
“Tidak juga, saya lebih tertarik untuk menuntaskan kasus itu. Dan saya pikir ini celah yang sangat bagus.”
“Dan masih busuk otaknya seperti biasa,” pemimpin Black Snake terkekeh.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Jadi apa bisa dimulai?” tanya Direktur Redrum.
Pemimpin Black Snake menghela nafas, ia mempertemukan punggungnya dengan badan kursi, kaki kirinya itu pun nangkring diatas paha kaki kanannya. Dengan gayanya yang santai maka dia berbicara.
“Birwan memang meminta bantuan kelompok kami, itu yang saya lihat dari catatan penerimaan klien. Dia meminta bantuan dari salah satu tim khusus dikelompok kami untuk menyelundupkan dia keluar dari wilayah Jakarta.”
“Dan dimana dia sekarang?” tanya Jendral polisi.
“Entahlah,” pemimpin Black Snake santai memandang Jendral Polisi.
“Jadi pada intinya anda tetap tidak mau memberitahu?” tanya Direktur.
“Jangan salah paham, saya benar-benar tidak tahu dia dimana karena saya tidak mau tahu itu meskipun yang melakukannya adalah anak buah saya.”
“Dan?”
“Tapi saya bersedia memberitahu siapa-siapa saja nama anak buah saya itu,” pemimpin Black Snake membuka bungkus kacang dan dengan tenang memakannya, “Dan masing-masing 5 milyar dari kalian untuk mengetahuinya.”
“Apa?!” Jendral polisi dan yang lainnya tertegun, “Apa maksudnya ini?”
“Kita sedang berbisnis bukan?”
“Tapi harga yang anda pinta itu sungguh tidak masuk akal untuk sebuah informasi.”
“Bisnis kita bukan bisnis toko kelontong,” pemimpin Black Snake tersenyum, “Dan kalau membahas hal yang tidak masuk diakal, kita berada diruang lingkup yang sama.”
“Maksud anda?” tanya Direktur.
Pemimpin Black Snake terkekeh dan berkata, “Anda pikir saya orang bodoh?”
Selagi pertemuan antara Black Snake, Redrum dan kepolisian sedang terjadi. Disalah satu markas Black Snake juga terjadi perbincangan antara beberapa anggota Black Snake dengan 2 orang yang mereka culik, yaitu Shani dan Naomi. Kondisi mereka berdua terikat.
“Kalian benar, Birwan dibantu oleh 5 orang yang ada diruangan ini,” kata Ghaida yang duduk didepan Naomi dan Shani.
“Yang mana?” Shani memperhatikan semua anggota Black Snake yang berjumlah 14 orang diruangan itu.
“Untuk apa juga kau mau tahu?” tanya Shania dengan gayanya melipat tangan.
“Hanya penasaran saja, tidak boleh?” Shani tersenyum dan memandang Naomi yang menunduk dengan nafas terengah-engah, “Dan apa yang kalian lakukan padanya sebelum aku dibawa kesini?”
“Perhatian sekali,” kata Beby sinis.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Shani kepada Naomi tanpa memperdulikan kata Beby.
“Huh,” Naomi tersenyum dan mencoba menahan tawanya.
“Ternyata kau tidak jera ya?!”
Salah satu anggota menampar Naomi dengan keras, Naomi meringis kesakitan dan kembali terengah-engah.
“Oh sepertinya karena itu,” Shani tersenyum.
“Dan kau bisa menjadi yang selanjutnya, aku jijik melihat senyumanmu itu!” Beby melotot.
“Hmm,” Shani malah menantang dan terus tersenyum.
“Oh kau mau bermain-main denganku?”
Dengan geramnya Beby berjalan kearah Shani dan menghantam wajah kirinya, Shani terhenyak, tak cukup puas maka Beby menghantam wajahnya lagi hingga Shani terjatuh berikut kursinya karena tali yang mengikat tubuhnya juga terikat dengan kursi.
“Dirikan dia,” suruh Shania.
Beby menarik kursi Shani dan memposisikannya lagi seperti semula, tangannya itu kemudian menjambak rambut Shani dan diarahkan tepat didepan wajahnya.
“Sekali lagi kau tersenyum akan kusayat bibirmu itu!”
“Puuh!” Shani meludahi wajah Beby.
Tak ayal lagi Beby menghantam wajah Shani untuk kesekian kalinya, Shani terengah-engah dan merasa wajahnya mati rasa gara-gara pukulan Beby yang keras tadi.
“Sudah,” kata Ghaida.
Beby kembali ketempatnya, ia duduk bersandar tepat disamping Shania. Naomi melihat Shani yang tertatih menahan sakit, setelah itu ia menoleh kedepan.
“Tadi kau bilang 5 orang...”
“Akhirnya kau berbicara,” kata Saktia dari tempat ia duduk.
“5 orang membantu buronan melarikan diri, apa kalian tidak berpikir kalau anggota kalian itu sudah membuat catatan kriminal baru?”
“Kriminal?” Ghaida tersenyum tipis, “Kau pikir yang ada disini semua bukan kriminal? Kau pikir tempat kami ini taman kanak-kanak?”
“Tidak...” Naomi terengah-engah memandang Ghaida, “Hanya saja aku ingin berkata, 5 orang itu akan menjadi target utama dalam penyelidikan ini...”
“Kami tahu itu, dan sekarang mereka disini. Diwilayah kami, tentu saja kami akan melindungi mereka. Terlebih lagi dari dulu kelompok ini netral dan tidak perduli dengan latar klien kami,” jawab Ghaida.
“Tapi tetap saja kenyataannya begitu,” kata Shani tiba-tiba.
Semua anggota Black Snake memandang Shani dengan mata kiri menutup karena ia menahan sakit akibat hantaman Beby sebelumnya.
“Kalau kau tidak memberitahu siapa ke-5 orang itu, kalian semua yang menjadi target kami.”
“Kau mengancam?” tanya Shania.
“Aku hanya memberitahu kenyataannya, kalian semua tidak bodoh bukan? Karena identitas 5 orang ini masih abu-abu tentu saja kalian semua yang akan menjadi incaran, mungkin dengan interogasi atau pun hal lain.”
“Hmm,” Ghaida tersenyum tipis, “Itu memang benar, hanya saja siapa yang hendak menargetkan kami? ‘Anjing besi’...” Ghaida memandang Naomi, “...Atau polisi?”
“Kurasa keduanya akan menjadi menarik,” Shani tersenyum tipis.
“Heh, 1 anggota ‘Anjing besi’ membuat keributan diwilayah kami sama saja dengan melanggar perjanjian. Dan itu artinya perang ke-2 antara kelompok kita,” kata Ghaida sinis.
“Hmm, aku heran apa kalian ini beneran bodoh atau apa. Kurasa jumlah anggota kami lebih banyak dari anggota kalian, dan kalian dengan angkuhnya berkata ‘Perang’?”
“Perang akan dimenangkan tergantung strategi dan sumber daya, kau tau itu?”
“Itu memang benar, dan bagaimana mengatur strateginya apa bila perang itu terjadi mendadak?” Shani tersenyum.
“Improvisasi,” kata Shania dengan nada dingin.
“Begitu, apa bedanya dengan berjudi?” Shani tersenyum.
“Huh,” Naomi juga tersenyum dan menadahkan kepalanya keatas, “Kau benar-benar luar biasa.”
“Apanya?” tanya Saktia.
“Maksudku dia,” Naomi menadahkan kepalanya kesamping menunjuk Shani, “Dia benar-benar luar biasa.”
“Apa maksudmu?” Ghaida dan anggota Black Snake lainnya menyeringitkan dahi.
Tiba-tiba bunyi HT menarik perhatian mereka semua. Saktia yang bertugas sebagai sekretaris tentu saja menjawabnya.
“Ada apa?”
-Waspada, ada begitu banyak mobil polisi berkeliaran dimana-mana.
“Apa?!” Saktia dan anggota Black Snake terhenyak, “Sudah kau beritahukan kepada bos?”
-Sudah dan... beliau hanya menyuruh kita waspada.
Hubungan komunikasi terputus sehingga membuat rasa penasaran anggota Black Snake begitu melonjak, karena tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya diwilayah mereka.
“Kalian, berjaga diluar,” suruh Ghaida.
Beberapa anggota Black Snake keluar sehingga menyisakan Ghaida, Saktia, Shania, Beby dan seorang anggota Black Snake bernama Hakim.
“Kau terlihat cemas.”
Ghaida dan yang lainnya menoleh kearah Shani, gadis ini terus tersenyum begitu juga Naomi.
“Padahal kulihat kau bersama dia begitu tenang saat dirumah makan itu,” Shani mendelikan matanya kearah Saktia.
Ghaida dan Saktia terperanjat, begitu juga Shania yang langsung berbicara, “Apa maksudmu?”
“Hmmm, kau pikir kenapa dia tertawa terus sedari tadi?’ Shani menadahkan kepalanya kesamping untuk menunjuk Naomi.
Mereka semua melihat Naomi yang memang sedari tersenyum dan menahan tawanya, dan gara-gara itu Naomi beberapa kali mendapatkan hantaman kasar karena tingkahnya itu.
“Apa maksudnya?” tanya Saktia.
“Dia tertawa karena tak menyangka apa yang kalian lakukan ini sudah kami prediksikan sebelumnya,” Shani menyeringai.
“Apa?!” Ghaida terbelalak.
“Kau pikir aku tidak tahu kau akan merencanakan penculikan ini? Sejak dirumah makan itu?”
Saktia terbelalak matanya, “K-Kau... bagaimana...,”
“Aku sudah mengetahui kalian dari tempat itu. Dan sepertinya kalian juga tidak menyangka akan kedatangan kami, begitu juga kami. Kita benar-benar berjodoh. Kalian harus berterima kasih kepadanya karena itu sebenarnya acara kencan dia dengan salah satu anggotaku,” Shani kembali menadahkan kepalanya kesamping menunjuk Naomi.
“Hahahahaha,” Naomi akhirnya tertawa meskipun tawanya pelan.
“Bagaimana...” Hakim terperangah.
“Kau!” Beby menggeram marah dan mencengkram kerah kemeja Shani dan diangkatnya, “Beritahu apa yang kau lakukan?!”
“Oh dengan senang hati,” Shani tersenyum.
Untuk mengetahui hal ini maka kembali kemalam itu.
1. Sewaktu Shani masuk kedalam rumah makan ia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Ozy dan Naomi. Namun perhatiannya teralihkan dengan 2 orang yang duduk tepat dibelakang Ozy yaitu Ghaida dan Saktia.
2. Shani merasa aneh melihat gelagat mereka berdua yang terus berdiam diri seperti hendak menguping pembicaraan yang dilakukan oleh Ozy dan Naomi, ia juga melihat gelang yang dipakai Ghaida dan Saktia waktu itu karena bentuk dan warnanya sama.
3. Bahkan saat mengambil makanan dengan Dion, Shani memperhatikan Ghaida dan Saktia dari kejauhan.
4. Saat Shani menghampiri Ozy dan Naomi, ia bisa melihat gelagat Ghaida dan Saktia yang semakin mencurigakan. Curiganya itu karena ia melihat makanan mereka berdua sudah habis tapi mereka berdua tidak beranjak dari tempat duduknya, malah duduk berdiam diri.
5. Saat Ozy meminta Shani menebak apa yang dilakukan Naomi sebelumnya. Itu dijadikan Shani kesempatan untuk memberitahu Ozy dan Dion soal Ghaida dan Saktia dengan handphone Redrum. Ozy menuruti permintaan Shani waktu itu karena kalau ada anggota Redrum mengeluarkan handphone disituasi seperti itu maka akan ada pembicaraan penting yang ingin disampaikan.
6. Selama menebak, Shani juga mengirim chat group yang dadakan dibuat yang dimana hanya ada Shani, Ozy dan Dion yang berbicara disitu. Shani memberitahukan ciri-ciri orang yang menguping sedari tadi bahkan apa-apa saja yang mereka pakai.
7. Ozy dan Dion berkata kalau itu adalah anggota Black Snake saat Shani memberitahu bentuk gelang dan warna gelang yang Ghaida dan Saktia pakai. Mereka berdua sudah tahu ciri-ciri itu sejak dulu, bahkan anggota Redrum lainnya (Sebelum Shani dan Farin bergabung). Itu supaya bisa mengenali mana yang anggota Black Snake mana yang tidak untuk menghindari masalah karena Redrum dan Black Snake masih berada dalam ikatan perjanjian.
8. Mengetahui hal itu maka Shani mempunyai rencana. Rencananya adalah membiarkan Ghaida dan Saktia menguping pembicaraan mereka. Sementara itu Ozy meminta bantuan Enu dan Ega untuk datang ketempat mereka dan berjaga-jaga diluar.
9. Untuk mengulur waktu kedatangan Enu dan Ega maka Dion, Shani dan Ozy sepakat untuk terus berbicara dan sedikit mengungkit kasus itu agar Ghaida dan Saktia terus berada dalam posisinya.
10. Saat Ghaida dan Saktia keluar, maka Shani kembali mengirim pesan kepada Dion dan Ozy kalau kemungkinan besar dia dan Naomi diincar. Alasannya adalah Black Snake pasti mengincar yang lemah daripada berurusan dengan yang jauh lebih merepotkan, dan tentu saja ‘Wanita’ yang cocok untuk hal itu. Dan alasan kedua adalah dia dan Naomi merupakan 2 orang dari ‘Badan Pemerintah’ yang penting, lalu alasan yang ketiga adalah dari alasan yang kedua, Shani yakin dia dan Naomi pasti tidak akan dibunuh karena dia pasti berpikir kalau Black Snake juga berpikir panjang dan tidak sembarangan bertindak.
11. Sebelum keluar dari rumah makan, Dion membisiki Ozy dan menyarankan Ozy untuk memberitahukan hal ini kepada Naomi saat perjalanan pulang nanti agar Naomi tahu apa yang akan terjadi dengan dia kedepannya kalau kemungkinan 80% dia nanti akan diincar (diculik).
12. Selama perjalanan pulang, Shani, Dion, Ozy dan Naomi memang dibuntuti oleh orang-orang dari Black Snake, tapi tanpa mereka (Black Snake) sadari kalau ada 2 anggota Redrum juga membuntuti mereka dari belakang, yaitu Ega dan Enu.
Karena itulah semua anggota Redrum tidak terlalu kaget dengan peristiwa penculikan ini karena mereka semua juga sudah mengetahui hal ini dari perbincangan Shani dengan Direktur sebelumnya. Hal ini juga diberitahukan kepada pihak kepolisian kalau salah satu anggota mereka (Naomi) juga bisa menjadi sasaran empuk.

Ghaida dan anggota Black Snake terdiam saat mendengar penjelasan Shani barusan. Dan mereka tak menyangka kalau Shani sendirilah yang menjebak mereka untuk melakukan hal ini, dan pihak kepolisian masih bisa menangkap mereka karena Black Snake dan kepolisian tidak terlibat perjanjian apapun.
“Beritahukan hal ini kepada pemimpin!” seru Shania kepada Saktia.
“Percuma, bukankah dia pergi kewilayah netral untuk masalah ini?”
“Jangan-jangan kau...” Beby melotot.
“Tentu saja!” Shani menyeringai karena itu juga salah satu dari hal yang sudah ia prediksikan, “Dan percuma saja membawaku berpindah-pindah kesana kemari, karena ada pelacak didekatku.”
“Apa?!” Ghaida menoleh dan melihat Saktia, “Apa kau sudah menggeledah semuanya?!”
“Tentu saja! Tas bahkan seluruh tubuhnya tadi, bukankah kau melihatnya?!” seru Saktia tak kalah nyaring.
Tapi mendadak mata Saktia terbelalak, ia kembali kemejanya dan mengeluarkan seluruh isi tas Shani. Dia mengambil handphone yang bentuknya unik dan menunjukkannya kepada Shani.
“Ini bukan mainan?!”
“Mainan? Untuk apa juga aku membawa hal tak penting?” Shani tersenyum dan alisnya naik sebelah.
“Kenapa kau tak memeriksanya!” bentak Beby.
“A-Aku kira ini mainan... a-aku...”
“Jangan terlalu menyalahkannya, secara teknis pelacak itu memang ada di-HP itu, namun aku melepaskannya dan menaruhnya ditempat lain,” kata Shani santai.
“Apa?” Shania dan yang lain membelalakan matanya memandang Shani.
Beby segera mengeluarkan handphone-nya dan digunakan untuk menghubungi Shania, tapi Shania tidak mengangkatnya karena ia tahu Beby hendak mencari dimana pelacak itu. Handphone terus diarahkan ke tas Shani dan hasilnya nihil, ia pun menghampiri Shani dan memeriksanya bagian tubuhnya satu per satu. Handphone yang terus melakukan panggilan dengan mode loudspeaker itu kemudian bergaung, tepat saat Beby mengarahkannya kearah kaki Shani.
“Heh,” Shani tertawa pelan, begitu juga Naomi.
Beby mengambil paksa sepatu kets yang dipakai Shani, diperiksanya satu per satu sampai akhirnya ia membuka telapak sepatu bagian kanan dan disitulah ternyata Shani menyimpan pelacaknya yang sedikit dilapisi kertas alumunium agar orang yang menelpon atau pun sedang ditelpon tidak mendengar suara gaung saat didekatnya. Terlebih lagi pelacak itu hanya dibuat untuk pelacakan saja.
“Anjing!!!”
Dengan beringas Beby menghantam wajah Shani, Shani lagi-lagi terjatuh kesamping, tak cukup puas maka Beby berjongkok dan terus menerus meninju pipi kiri Shani.
“Kubunuh kau!” teriak Beby, tangannya mencengkik leher Shani.
“Hah...” mulut Shani tertawa lebar, dengan suara yang serak maka dia berbicara,  “Lakukanlah... dan kau tahu ini akan semakin memperkeruh apa yang terjadi, membunuhku atau pun tidak... kalian tidak punya apapun untuk mengancam kelompok kami... kalian tidak punya apa-apa...”
“KAU!!!” Beby melotot dan semakin erat mencekik Shani.
“Errrghhh!!!” Shani merintih meskipun senyum lebarnya itu masih ada dibibirnya.
“Sudahlah!” Shania menarik tubuh Beby hingga cekikan itu terlepas.
Shani terbatuk-batuk dan wajahnya pun tertutup oleh rambutnya.
“Kuharap...”
Shania dan yang lainnya menoleh kearah Shani yang dimana wajahnya yang tertutup rambut itu masih terlihat mata Shani yang menatap Beby dengan tajam.
“Kuharap kau salah satu dari 5 orang itu! Akan kubalas semua dengan apa yang kau lakukan padaku! Akan kubuat kau merasakan siksa yang tak pernah dirasakan orang lain! Kau bagianku!” suara Shani terdengar berat dan parau, giginya pun mengatup dengan erat.
Naomi tertegun melihat Shani yang begitu marahnya dengan Beby, tapi itu tak berlangsung lama karena Naomi mendengar suara erangan dari luar. Tak hanya Naomi, akan tetapi juga Shani, Shania, Beby, Ghaida dan Saktia.
“Apa itu?” Saktia menyeringitkan dahi.
“Sudah jelas bukan...” kata Naomi tiba-tiba.
Ghaida dan yang lain menatap Naomi, Naomi pun melanjutkan kalimatnya dengan senyuman, “.... Kalau mereka sudah datang.”
“Sial!” umpat Ghaida.
Ghaida dan anggota Black Snake menendang dinding yang ada disitu dan tiba-tiba saja dinding itu terbalik dan muncullah senjata api yang berderet rapi. Mereka mengambil senjata itu dan bersiap siaga.
“Akan menjadi lebih mudah kalau kalian menyebutkan nama 5 orang itu,” kata Shani dengan suara berat.
“DIAM KAU!” teriak Beby.
“Kau yang seharusnya diam, karena kalau kau tenang kau bisa mendengar suara langkah kaki yang ada dijendela itu sedari tadi, semenjak aku menjelaskan kenapa aku tahu kalian akan menculik kami berdua.”
“Apa?” Shania membelalakan matanya.
Belum sempat mereka melihat jendela yang dimaksud tiba-tiba saja pinggiran jendela itu mengeluarkan ledakan, tidak cukup fatal karena jendela itu tidak bergeming. Shania, Beby, Ghaida, Hakim mengarahkan senjata mereka kearah Jendela sementara itu Saktia berlindung dibelakang mereka berempat karena bisa dibilang Saktia tidak lebih dari sekedar sekretaris.
“Aku memang bilang ada suara langkah kaki dijendela sebelumnya, tapi bukan berarti mereka masih disitu bukan?” Shani menyeringai.
Sebuah bunyi menarik perhatian anggota Black Snake dari atas, mereka pun menoleh keatas dan tiba-tiba saja rentetan tembakan senjata api mengagetkan mereka semua dan tembakan itu memberikan jarak antara anggota Black Snake dan Shani bersama Naomi.
“Sial!” Ghaida mencoba keluar dari pintu akan tetapi langkahnya berhenti saat membukanya.
“Mau kemana?” Bayu sudah mengarahkan senjata api kearah Ghaida bersama seorang polisi disampingnya.
Bayu dan polisi itu memerintahkan Ghaida untuk masuk. Beby, Shania, Saktia dan Hakim terperangah melihat kedatangan mereka yang sudah diambang pintu. Bayu kemudian masuk dan Naomi tersenyum memandangnya.
“Ternyata kau benar-benar datang.”
“Ya, bersama rekan-rekan kita yang lain,” balas Bayu dengan senyum tipis.
“Sial!”
Shania hendak menghampiri Shani dan menjadikan tawanannya akan tetapi lagi-lagi sebuah tembakan dari atas menghentikan langkahnya.
“Jangan coba-coba, kami bisa melihat jelas pergerakan kalian dari sini,” terdengar suara orang dari langit-langit ruangan.
“Itu....” Naomi menyeringitkan dahi karena ia bisa mengenal suara itu.
“Suara pacarmu,” Bayu terkekeh.
“Hmm,” Naomi memiringkan bibir dan kecut wajahnya memandang Bayu.
Bunyi tembakan lagi-lagi menerjang langit-langit ruangan hingga pada akhirnya ada 4 orang yang menerobos langit-langit itu dengan cara menginjak bagian yang ditembaknya. Dan terlihatah Yona, Reno, Ozy dan Ega. Yang dimana tangan kanan mereka memegang senjata api sementara tangan kiri mereka memegang alat pemindai panas manusia, itulah yang membuat mereka berempat bisa melihat pergerakan orang-orang dibawah.
“Siapa yang kau bilang pacarnya hah?” kata Ozy sinis kepada Bayu dan memasukan alat pemindai panas kedalam tas-nya.
“Entahlah,” jawab Bayu, ia meminta rekan kerjanya tetap berjaga didepan pintu sementara dia menghampiri Naomi untuk melepaskan ikatannya.
“Hai B.S, bisa kalian taruh senjata kalian dibawah?” Ega menyeringai kepada anggota Black Snake yang ada disitu.
“Kalian...” Ghaida menyeringitkan dahi.
Yona yang telah menaruh alat pemindai panas kemudian mengeluarkan sebuah granat, “Mau menaruh senjata kalian atau kutaruh benda ini tepat dibawah kalian?”
Terpojok seperti ini membuat anggota Black Snake mau tak mau menuruti permintaan mereka. Karena kalau pun melawan mereka masih tidak bisa mengetahui jumlah orang-orang diluar.
“Astaga, Shan! Kau tak apa-apa?” seru Reno.
Yona menoleh kebelakang dan terbelalak matanya melihat kondisi wajah Shani sebelah kiri yang memar. Posisi Shani kemudian dibetulkan Reno dan Reno mencoba melepas ikatan talinya.
“... Siapa yang melakukannya...?” tanya Yona.
Shani memandang Yona dan menyeringitkan dahi, “Apa urusanmu?”
“Siapa?!” bentak Yona sambil melotot.
“Kenapa kau ini?” Shani menyeringitkan dahi.
“Wanita itu, yang kurus berambut pendek,” jawab Naomi.
Yona menoleh kedepan dan melihat wanita yang dimaksud, Yona melotot dan mengatup giginya geram.
“BRENGSEK!”
“UGGGH!!!”
Sebuah hantaman dilayangkan Yona diperut Beby, Beby terhenyak. Dan dari posisi Beby seperti itu maka Yona menarik rambutnya secara tangkas dan mempertemukan wajah Beby dengan dengkul kakinya secara keras.
“UAAARGGGHHH!!!” teriak Beby.
Tak cukup puas maka Yona menarik kerah baju Beby dan membantingnya dilantai, sedikit muncratan darah keluar dari mulut Beby atas reaksi serangan ini dan tak hanya itu, dengan telapak kakinya yang terbaluk dengan sepatu maka Yona tanpa ampun sama sekali menginjak wajah Beby.
“AAARRGGGGHHHHH!!!” Beby lagi-lagi berteriak dan merasakan pedih bukan main diwajahnya.
Yona kemudian menginjak dada Beby dan menguleknya dengan keras, “TAK ADA YANG BOLEH MENGHAJAR DIA SELAIN AKU! BRENGSEK!” teriak Yona kepada Beby.
Shani hanya menyeringitkan dahi memandang Yona, Reno kemudian berbisik, “Dia khawatir denganmu.”
“Kenapa?” balas Shani.
“Mana kutau,” Reno menaikan kedua bahunya dan masih berusaha membuka ikatan tali.
“Hmm,” alis Shani naik sebelah memandang Yona yang berdiri membelakangi dirinya.
Sementara itu Ozy menghampiri Naomi yang masih terikat karena Bayu belum selesai melepaskan ikatannya dan melihat wajah Naomi juga mengalami memar.
“Siapa yang melakukannya?”
“Kenapa?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Jawab saja!” Ozy melotot dan nada suaranya begitu dingin.
“Hmm,” Naomi tersenyum tipis dan menadahkan kepalanya kedepan, “Tepat didepanku.”
Ozy menoleh kebelakang dan melihat orang yang dimaksud, yaitu Hakim. Dan tanpa basa basi Ozy langsung menembak bahu Hakim, kanan dan kiri.
“AAAAAAARGGGHHHH!!” Hakim terperusuk kebelakang dan melolong kesakitan dengan timah panas yang bersarang dikedua bahunya.
“Sekarang impas,” jawab Ozy santai.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Naomi.
“Kan dia pacarmu,” Bayu terkekeh.
“DIA BUKAN PACARKU!” seru Naomi dan Ozy bersamaan.
Ozy, Yona dan Ega kemudian meminta anggota Black Snake lainnya berpindah kesamping, tentu saja dengan senjata yang terus mengarah kearah mereka.
“Kalian menyerang kami? Berarti kalian sudah melanggar perjanjian bukan?” tanya Ghaida.
“Kalian menculik anggota kami, apa itu juga tidak melanggar?” Ega tersenyum tipis.
“Heh,” Shania tersenyum sinis dan memandang Shani, “Kalian mempunyai anggota yang mengerikan.”
Suara HT menarik perhatian mereka, Ozy mengambil HT itu dari atas meja dan melemparkannya kearah Ghaida.
“Jawablah,” suruh Ozy.
Dengan terpaksa Ghaida menekan HT itu dan terdengarlah suara yang ada dialat tersebut.
- Kuulangi sekali lagi. 5 orang yang membantu Birwan, yaitu Hakim, Beri, Kris, Ginan dan Arbi untuk tidak melawan. Serahkan diri kalian untuk sementara ini, jangan memperburuk keadaan, dan Saktia. Kau juga harus ikut. Kuingatkan sekali lagi! Kalian jangan melawan! Ini perintah langsung dari Bos! –
Suara pemberitahuan itu terus dilakukan berulang-ulang untuk semua anggota Black Snake yang ada diwilayah itu. Terlebih lagi Saktia karena namanya disebut.
“K-Kenapa aku?”
“Karena itu artinya kau terlibat, kau yang mencatat permintaan klien bukan dan bertemu langsung dengannya?” jawab Ghaida.
“Kami hanya memberi beberapa pertanyaan, jadi kau jangan khawatir,” kata Yona.
“Berarti 1 nama sudah ada disini, ada lagi?” tanya Ozy.
“Yang barusan kau tembak,” jawab Shania malas.
Ozy menoleh dan melihat Hakim yang masih terengah-engah karena tembakan dikedua bahunya.
“UAARGGGH!!!” Hakim lagi-lagi berteriak saat Ozy menembak betis kaki kanannya.
“Biar dia tidak bisa lari.”
“Tak perlu segitunya kan?!” Naomi sewot saat ikatan talinya sudah terlepas.
“Buat jaga-jaga saja,” balas Ozy, enteng.
“Sekarang kalian yang disebut namanya tadi ikut dengan kami, dan seperti yang tadi dibilang. Jangan melawan, diluar sana masih ada ratusan orang dari kami mengepung setiap sudut wilayah ini,” kata Ega.
Saktia pasrah, begitu juga rekan-rekannya. Apalagi menurut pemberitahuan tadi bos mereka yang memerintahkan hal itu, dan mereka penasaran apa yang sedang terjadi sebenarnya ditempat pertemuan diwilayah Netral.
Dan tak hanya mereka, orang-orang yang disebutkan namanya tadi juga menyerahkan diri dan rekan-rekan mereka sesama Black Snake juga tidak bisa membantu banyak karena benar kata Ega. Setiap anggota Redrum dan kepolisian berada dimana-mana.
Sementara itu diwilayah Netral masih terjadi perbincangan antara pemimpin Black Snake, Direktur Redrum dan Jendral polisi.
“Membuat anggotaku melakukan penculikan agar ada sedikit celah perjanjian dilanggar. Dan itu bisa dijadikan alasan anda untuk menyuruh anak buah anda memasuki wilayah kami. Anda sudah mempunyai anggota yang mengerikan,” kata pemimpin Black Snake dengan senyuman.
“Ya karena mau tak mau mereka melakukan penculikan diwilayah saya,” direktur tersenyum.
“Dan kenapa anda sengaja mengikuti alur rencana ini?” tanya Jendral Polisi.
“Lumayan untuk menghilangkan rasa bosan saya,” pemimpin Black Snake menadahkan kepalanya keatas dan menghembuskan asap rokok yang dihisapnya, “Lalu saya juga penasaran dengan apa yang kalian rencanakan dan hal ini juga bisa memberi sedikit pelajaran terhadap anak buah saya agar berpikir 2 kali sebelum bertindak, saya sudah bilang tadi kan rambut saya beruban karena mengurus kelompok ini tidak mudah”
“Begitu,” Direktur Redrum menghisap cerutunya dan berkata, “Bagaimana kalau anda dan anak-anak buah anda bergabung dengan organisasi saya?”
“Tawaran yang menarik, tapi saya tidak tertarik,” pemimpin Black Snake tersenyum.
“Sayang sekali,” Direktur Redrum juga tersenyum sambil menghisap cerutu.
“Pak.”
“Ya?”
Terlihat Dion menghampiri Direktur dan berkata, “4 orang yang dicari sudah menyerahkan diri, tapi 1 orang mencoba melarikan diri dan sekarang sedang dikejar oleh Manda dan Sistim, dan saya rasa dia sebentar lagi ditangkap.”
“Begitu,” Direktur mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi,” Dion pamit.
“Dion, boleh aku ikut?” pinta Farin.
“Terserah,” jawab Dion.
Dion kemudian pergi disusul Farin dibelakangnya, pemimpin Black Snake memandang Dion sejenak dan kembali memandang 2 lawan bicara didepannya.
“Sudah saya bilang, susah diatur bukan?” pemimpin Black Snake tertawa ringan.
“Dan soal 5 milyar itu?” tanya Jendral polisi.
“Itu hanya candaan biasa, saya sengaja memancing kalian untuk berkata ‘Tidak masuk akal’ agar ada bahan obrolan baru dan....” pemimpin Black Snake melihat sekeliling dan tersenyum, “... Bisakah kalian menyuruh anak buah kalian berhenti menodongkan senjata?”
“Akan kami lakukan kalau anda dulu yang menyuruh anak buah anda menurunkan senjatanya.”
Dan bisa terlihat kalau masing-masing anak buah mereka sudah mengarahkan senjata masing-masing kearah lawannya, begitu juga jumlah mereka yang semakin bertambah.
“Tak kusangka, saya kira anda akan benar-benar menuruti perjanjian diwilayah netral,” kata pemimpin Black Snake.
“Membawa senjata menjadi bawaan sehari-hari, sulit rasanya menghilangkan kebiasaan itu. Anda juga berpikir seperti itu bukan?”
“Heh,” pemimpin Black Snake terkekeh dan menyuruh anak buahnya menurunkan senjata, “Pada akhirnya kita berdua yang melanggar perjanjian diwilayah netral.”
“Dan anggap saja ini pelanggaran terakhir,” Direktur Redrum tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi dulu, dan anda tidak masalah bukan bagi saya dan anggota saya masuk kewilayah anda?” tanya Jendral Polisi.
“Silahkan saja, tapi hanya untuk hari ini,” pemimpin Black Snake tersenyum.
“Kalian juga pergilah,” suruh Direktur.
“Bagaimana dengan anda, Pak?” tanya Damar mewakili anggota Redrum yang datang.
“Saya bisa sendiri, kalau pun saya mati, kalian tahu siapa yang membunuh saya,” Direktur Redrum tersenyum.
“Kalian juga pergilah, atur yang lain diwilayah sana agar tidak membuat kericuhan,” kata pemimpin Black Snake kepada anak buahnya.
“Baik!”
Satu per satu orang-orang yang berada didalam tempat pertemuan itu membubarkan diri hingga hanya menyisakan Direktur Redrum dan juga Pemimpin Black Snake.
“Perlakukan 6 anak buah saya yang tadi itu dengan baik,” kata pemimpin Black Snake sambil menyalakan rokok.
“Tergantung, kalau mereka melawan, Hmm,” direktur Redrum tersenyum dan menghisap cerutunya, “Tapi yang jelas mereka tidak akan mati.”
“Baik hati sekali,” pemimpin Black Snake terkekeh, “Apa anak buah yang diculik oleh anggota saya itu begitu penting bagi anda?”
“Ya, dan tak hanya dia. Semua anggota saya akan saya perlakukan sama apabila terlibat dalam masalah ini.”
“Oh anda menganggap mereka semua anak anda?”
“Tidak juga, bagi yang berumur 30 tahun kebawah saja saya anggap anak sendiri. Tentu saja saya tidak mau punya anak angkat yang seumuran dengan saya bukan?” (FYI: Anggota Redrum ada yang umurnya tua)
“Begitu,” pemimpin Black Snake tersenyum, “Dan pemuda tadi...”
“Pemuda?”
Pemimpin Black Snake menghembuskan asap rokok terlebih dahulu baru berbicara dengan senyuman.
“Pemuda yang tadi memberitahukan ada 1 anak buah saya yang melarikan diri tadi... dia Dion bukan?”
“.... Ya...” Direktur tersenyum.
“Sejak kapan anda menyadarinya?”
“Sejak dia menikah dan ditinggal mati istrinya.... saya mengajak dia bergabung kembali.”
“Kejam juga, tapi kalau dia bersedia bergabung kembali itu berarti dia ada alasannya tersendiri.”
“Ya,” direktur Redrum tersenyum tipis.
“Dia benar-benar mirip orang itu sewaktu muda, mungkin wajahnya akan terus awet muda seperti orang itu meskipun usianya bertambah.”
“Haha sepertinya anda masih marah dengannya, sampai menyebutnya dengan ‘orang itu’.”
“Dan apa dia tahu?”
Direktur tersenyum dan menggelengkan kepala, “Dia amnesia sejak peristiwa itu.”
“Begitu, mungkin itu baik untuknnya. Dan...” pemimpin Black Snake lagi-lagi terkekeh, “... Astaga! Tak saya sangka rupa wajah dia benar-benar mirip orang itu.”
“Kalau sudah keturunan maka itu tidak mengherankan bukan?”
“Hmm,” pemimpin Black Snake tersenyum tipis, “Dan satunya?”
Direktur Redrum menggeleng, “Entahlah.”
“Ya sudahlah,” pemimpin Black Snake berdiri dan hendak keluar, namun dia berhenti sebentar sambil menghisap rokok, “Ngomong-ngomong, anak saya yang berumur 5 tahun selalu menanyakan kakak kandung dari ayahnya ini.”
“Hmm,” Direktur Redrum tersenyum, “Dan bilang saya kakak anda itu sudah lama mati. Dan... apa anda sudah punya anak lagi?”
“Ya, dan begitu lucu. Anak saya yang sudah besar juga menanyakan hal yang sama sewaktu dia kecil.”
“Begitu, Okta ya?” direktur Redrum tersenyum tipis.
“Sesekali datanglah kerumah saya, anda tak perlu memperkenalkan diri sebagai keluarga. Tak ada salahnya bagi anda untuk mengenal 2 keponakan sendiri bukan?”
“Kalau ada waktu.”
Pemimpin Black Snake tersenyum tipis, “Anda tak pernah berubah, Kak.”
“Kita semua berubah, bahkan antara 2 saudara kandung saja bicaranya formal begini bukan?”
“Haha kau benar.”
Pemimpin Black Snake kemudian keluar dan meninggalkan Direktur Redrum yang terus memandang sosok pemimpin Black Snake meninggalkan ruangan.
“Apa jadinya kalau anakmu itu tahu kalau ayahnya dan pamannya ini seorang pemimpin organisasi pembunuh bukan?” kata Direktur dengan senyuman.
Direktur Redrum juga beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi keluar ruangan. Dan dari percakapan yang tadi mereka lakukan maka sudah disimpulkan kalau Direktur Redrum adalah kakak kandung dari pemimpin Black Snake. Dan selain itu, sepertinya Direktur Redrum dan Pemimpin Black Snake tahu dengan masa lalunya Dion sebelum pria itu hilang ingatan sewaktu kecil.
-----
Lalu Dion dan Farin juga sudah sampai ditempat dimana Shani dan Naomi ditawan. Disitu juga sudah begitu banyak anggota polisi dan Redrum berlalu lalang. Dion dan Farin terus menyelusuri kerumunan sampai akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal.
“Yona!” seru Farin.
Yona dan yang lain menoleh dan melihat kedatangan Dion bersama Farin.
“Ya ampun Shani, kamu gakpapa?” Farin cemas melihat memar diwajah kiri Shani dan sedang dikompresnya dengan air hangat.
“Ya,” Shani tersenyum dan memandang Dion dari tempat ia duduk.
“Wow,” Dion terkekeh memandang Shani, “Tembem sebelah.”
“Ish!” Shani kesal dan menendang kaki Dion.
“Bagaimana dengan keadaan disana, Yon?” tanya Ega.
“Entahlah, tapi kurasa berjalan lancar,” Dion menghidupkan rokok dan berkata, “Ada berapa orang yang ditangkap disini?”
“2, 1-nya sekretaris mereka.”
“Begitu.”
Ega kemudian pergi untuk membantu anggota Redrum yang lainnya, lalu tak lama kemudian datang Enu dan juga menghampiri mereka.
“Dimana 2 anggota Black Snake yang ada disini? Aku mau membawa mereka kemarkas.”
“Kau tanya saja Ega,” Dion menunjuk tempat Ega berada.
“Dan katanya ada yang melarikan diri?”
“Sedang diurus Manda bersama Sistim.”
“Okelah kalau begitu.”
Enu kemudian pergi menghampiri Ega dan yang lain, sementara itu Shani memanggil Dion.
“Dion.”
“Hm?”
“Lebih baik kau temui dia,” Shani mengarahkan kepalanya kesamping.
“Dia?” Dion menyeringitkan dahi.
“Kau akan tahu nanti, dia anggota Black Snake.”
“Siapa...” gumam Dion.
Dion berjalan menuju arah yang ditunjuk Shani dan langkah kakinya berhenti saat ia melihat seseorang yang tak lama ini ia kenal berdiri santai didekat pintu pabrik.
“Kau...”
Shania memandang Dion dengan cueknya, “Hai, ketemu lagi.”
Dion tidak menjawab, ia melihat anggota Black Snake lainnya yaitu Ghaida yang berdiri tepat disamping Shania.
“... Jadi kau ‘Anjing besi’...” kata Shania.
Dion menoleh kearah Shania, “Dan kau B.S?”
“Ya, seperti yang terlihat.”
“Tapi kenapa waktu itu aku tak melihat....”
“Aku sering melepas gelang ini,” potong Shania, karena dulu sewaktu Shania bersalaman dengan Dion dan Shani, dia melepaskan gelangnya yang dimana gelangnya itu adalah tanda pengenal bagi kelompok Black Snake.
“Begitu.... dan Arya?”
“Dia tidak tahu, dan kurasa dia juga tidak tahu kalau kau adalah bagian dari organisasi itu.”
“Ya.”
“Dan aku mohon padamu...”
Dion menatap Shania dan berkata, “Apa?”
“Jangan sampai Arya tahu akan hal ini... aku tidak mau dia tahu akan pekerjaanku...”
“... Selama kau bisa menjaga rahasiaku akan kulakukan.”
“Terima kasih,” Shania kemudian melipat tangan, menunduk dan memejamkan mata dari posisi ia bersandar.
“Hei,” panggil Ghaida.
Dion menoleh dan tak membalas panggilan itu.
“Apa yang akan kalian lakukan terhadap anggota kami?”
“Yang pasti bertanya, dan kalau menolak bekerja sama maka akan ada sedikit kekerasan yang membuat mereka berbicara, dan tidak akan merenggut nyawa mereka.”
“Yang ikut dengan kalian nanti adalah anggota kami bernama Saktia, dan kupinta jangan perlakukan dia dengan buruk. Dia hanya sekretaris dan hanya mencatat permintaan klien kami.”
“Aku tidak tahu, dan berharap saja (perlakuan buruk) itu tidak akan terjadi.”
“Dan kau memiliki kekasih yang mengerikan,” kata Ghaida sambil melipat tangan dan membuang muka.
“.... Terima kasih,” Dion malas meladeni hal itu karena tahu yang dimaksud oleh Ghaida adalah Shani.
Sementara itu Ozy sedang melihat Naomi yang sedang dirawat wajahnya oleh anggota medis kepolisian.
“Seharusnya kau tak banyak bertingkah, kenapa juga kau tertawa-tawa? Bodoh,” kata Ozy sinis.
“Aku tak bisa menahannya bodoh! Dan sesuai perkataan anggota mu itu, mereka memang tidak berusaha membunuhku! Bagaimana aku bisa menahannya kalau apa yang dilakukan mereka sesuai dengan kata-kata wanita itu?” Naomi juga sewot.
“Bodoh,” Ozy terkekeh, “Dan apa yang dibicarakan temanmu itu?” Ozy melihat Bayu sedang berbicara dengan kepala kepolisian.
“Entahlah, mungkin ia dipanggil untuk bertugas kembali.”
“Begitu, dan bagaimana kau menjelaskan kepada orang tuamu perihal memar diwajahmu itu?”
“Entahlah...” jawab Naomi sedikit meringis saat ada bagian yang perih sedang diobati.
Tak lama kemudian Bayu datang menghampiri.
“Mi, kau pulang dengan yang lain saja. Aku masih ada keperluan disini.”
“Mobilku dimana?” tanya Naomi.
“Di Markas. Kunci disimpan dibagian resepsionis.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu aku pergi dulu,” Bayu kembali menghampiri Kepala Polisi.
“Hei,” panggil Naomi kepada Ozy.
“Apa?” Ozy bertanya balik sambil menghidupkan rokok.
“Mau mengantarku?”
“Kenapa harus aku?” alis Ozy naik sebelah.
“Sebagai bayaran membuatku masuk dalam rencana kalian,” Naomi tersenyum dan menunjuk bagian memar diwajahnya itu.
“Haaah,” Ozy menghela nafas dan menggaruk-garuk kepalanya yang gatal karena debu dilangit-langit ruangan sebelumnya, “Apa boleh buat.”
“Terima kasih,” Naomi tersenyum manis.
Lalu ditempat Ega terlihat Enu sedang memapah Hakim menuju mobilnya karena Enu yang bertugas membawa Hakim dan Saktia kemarkas. Ega yang dibelakang mereka memperhatikan Saktia sedari tadi karena wanita ini memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil kedinginan.
“Hei.”
“Ng?” Saktia berhenti dan menoleh kebelakang.
Terlihat Ega melepaskan jaketnya, ia berdiri dihadapan Saktia dan berkata.
“Pakai ini.”
“Eh?” Saktia tertegun.
“Pakai saja, kau kedinginan bukan?”
“Tapi...”
“Tak ada tapi-tapian.”
Ega memegang tangan kanan Saktia dan menuntunnya tangannya itu memasuki lengan jaketnya, dan tak hanya tangan kanan, tetapi juga dengan tangan kirinya sehingga Saktia memakai jaket itu. Setelah itu Ega menutup jaket itu rapat agar hawa dingin tidak menusuk kulit Saktia.
“Apa kau belum makan sebelumnya?” tanya Ega.
“Eh? Kau tau darimana?” Saktia lagi-lagi tertegun.
“Perutmu berbunyi.”
“Oh...” Saktia memiringkan bibir dan sedikit malu karena ia baru menyadari kalau perutnya itu keroncongan.
“Ya sudahlah, dimarkas kami ada mie instan. Nanti kubuatkan.”
“Eh?”
“Jangan ah-eh-ah-eh, aku juga lapar, lebih baik kita segera kesana,” Ega menarik tangan Saktia dan menyusul Enu yang sudah jauh sedari tadi.
“Eh? Eh? Eh?” Saktia gegalapan karena tangannya ditarik seperti itu.
Lalu dikejauhan bisa dilihat Yona, Shani, Reno dan Farin melihat perlakuan Ega tadi terhadap Saktia.
“Yang itu tak bisa ngeliat kesempatan sedikit kalau ngeliat wanita cakep,” Reno terkekeh.
“Ya,” Yona memiringkan bibir sambil melipat tangan.
Sementara itu Farin terlihat kecut wajahnya memandang Ega dikejauhan, Shani menahan tawanya melihat ekspresi Farin seperti itu karena bisa dibilang kalau dimarkas, Farin lah yang sering digodai Ega selama ini.
“Bagaimana denganmu?”
Shani dan lainnya menoleh dan melihat Dion berbicara dengan Shani.
“Apanya?’ tanya Shani.
“Bagaimana kau pulang dan menjelaskan perihal wajah kau itu,” Dion menunjuk luka memar diwajah Shani.
“Memar ini sehari bisa hilang, tapi untuk hari ini aku mau beralasan nginep dirumah temen,” kata Shani santai.
“Sudah kau beritahu?”
“Nanti saja, dan hmmmm,” Shani tersenyum penuh arti kepada Dion.
“Apa ‘Hmmm-hmmm’ mu itu?” Dion menyeringitkan dahi.
“Kan tadi aku udah bilang mau nginep dirumah temen, jadi aku nginep dirumahmu ya?” pinta Shani.
“Apa?! Tidak boleh!” seru Yona tiba-tiba.
“Kenapa sih?” Shani kecut wajahnya memandang Yona.
“Kenapa lagi kau bilang? Kalau kau menginap dirumah Duda seperti dia kau akan terkena masalah?! Kalau dia bernafsu ingin melakukan hubungan badan karena sudah lama ditinggal istrinya tentu saja kau yang diincarnya!”
“Hei... tidak sejauh itu kali...” Dion memiringkan bibir.
“Diem!” Yona melotot kearah Dion.
“Tak masalah bagiku,” kata Shani enteng.
“Gigimu tak masalah!” Yona sewot.
“Lalu aku harus nginep dimana? Hotel?!” Shani juga sewot.
“Di-apartemenku!”
“Apa? Kenapa aku harus menginap di-apartemen mu?!” Shani menyeringitkan dahi.
“Karena di-apartemenku ada obat untuk luka memarmu itu! Akan ku obati kau disana!”
“Kenapa kau perhatian denganku?! Ini menggelikan!”
“Terserah kau mau berkata apa, yang pasti kau harus menginap di-apartemenku! Akan kuobati kau disana dan biar aku puas menghajarmu saat kau sembuh nanti!”
“Kau ini berniat baik atau buruk sih?!” Shani lagi-lagi sewot.
“Sudahlah, lagian di-apartement-nya itu banyak Snack,” kata Dion.
“Iya banyak Snack loh,” sambung Farin.
“Kau pikir aku mau dirawat dan nginep di-apartementnya gara-gara Snack?” Shani memandang Dion dengan raut wajah yang kesal.
“Coklat juga banyak,” kata Dion cuek.
Shani mendadak diem, raut wajahnya berubah menjadi lugu.
“Benarkah?” tanyanya untuk kepastian.
“Ya,” Dion yang tahu kalau Shani doyan coklat kemudian tersenyum, “Kau bisa pingsan karena begitu banyak coklat di-apartementnya.”
“Mau!” seru Shani dengan senyuman yang mengembang, dan tingkahnya itu mendadak berubah seperti anak kecil.
“Ya sudah! Ayo!” seru Yona.
“Ish!” dan Shani lagi-lagi berubah tingkahnya.
Yona kemudian meminta Farin mengantar Shani ke mobilnya yang tak jauh ia parkirkan dari tempatnya berada. Setelah kepergian Shani maka Dion berkata.
“Aku juga penasaran, kenapa kau mendadak perhatian dengannya.”
Yona terdiam untuk sementara waktu, ia menunduk dan berkata, “.... Dia mirip adik tiriku...”
“Mirip?”
Yona tersenyum tipis, “.... Dulu aku juga sering cekcok mulut dengannya... seperti yang kau lihat selama ini apabila aku dan Shani bertemu...”
“Begitu,” Dion tersenyum.
“Yah pokoknya aku merasa sosok adikku terlahir kembali dari dirinya itu... mereka sama-sama menyebalkan...”
“Haha kukira...”
“Dan,” potong Yona dan menoleh kearah Dion, “Kalau kau mau ‘Itu’... aku bisa melakukannya untukmu...”
“Bukankah kau dulu pernah bilang kau tidak mau melakukannya lagi terkecuali aku mau menikah denganmu,” Dion terkekeh.
“Bener gak mau?” Yona tersenyum dan memain-mainkan alis.
“Sudahlah,” Dion mengacak-acak rambut Yona, “Lebih baik kau rawat ‘Adik baru’mu itu.”
“Huh!” Yona menonjok perut Dion dan pergi.
Setelah kepergian Yona maka hanya tinggal Reno dan Dion disitu.
“Itu yang dimaksud Yona tadi apa?”
“Mau tau saja kau,” kata Dion sinis. “Dan kenapa kau masih disini?”
“Aku disuruh menunggu 1 anggota yang sedang dikejar Manda dan Sistim.”
“Begitu, masih belum dapat juga?”
“Tak taulah, aku mau ketempat mereka berada dulu,” Reno melangkah pergi.
Setelah itu Dion menghampiri anggota Redrum lainnya yang menangani pencarian ini sedari tadi.
-----
Sementara itu Manda dan Sistim sedang mengejar seseorang dengan mobil yang mereka gunakan. Orang itu adalah salah satu dari 5 orang yang membantu pelarian Birwan dan berusaha melarikan diri karena tak rela ditangkap.
“Mau sampai kapan kau mengejarnya seperti ini?” tanya Manda.
“Membuatnya lelah, dan menginterogasinya langsung,” jawab Sistim sambil mengganti gigi.
“Apa?”
“Aku sudah mendapat izin dari Direktur, terlebih lagi orang itu mencoba melawan bukan?”
“Ini sungguh buang-buang waktu!” Manda melipat tangan dan melihat anggota Black Snake yang dikejar-kejar mobil Sistim.
“Aku hapal daerah ini, mau lari kejalan apapun aku tahu tujuannya, dan lihat sekarang staminanya benar-benar terkuras karena berlari sedari tadi.”
Dan benar, orang yang dikejar mereka berdua ini sudah terengah-engah bahkan bajunya basah oleh keringat. Mengetahui orang itu sudah diambang batasnya maka Sistim melajukan mobilnya, dan saat jaraknya hampir mendekati orang itu tiba-tiba saja Sistim membelok tajam dan orang itu terhantam badan mobil hingga terpental kedepan dan menubruk dinding.
“Biar aku yang menginterogasinya,” kata Sistim setelah membuat orang itu terpental .
Sistim merubah arah mobilnya dan kembali mengendarai mobilnya untuk menghampiri orang tersebut. Sementara orang yang dikejarnya masih berusaha melarikan diri.
“Anjing!!!!” umpat orang tersebut dan berusaha merangkak.
Mobil berhenti tepat disamping orang itu, Sistim dan Manda keluar dari mobil. Orang itu kemudian diangkat Sistim dan dibantingnya diatas kap mobil hingga orang itu sekarang berada dibagian kiri.
“Arrgghhh!!!” desah orang itu saat punggunya menghantam keras aspal saat ia terjatuh dari kap mobil.
“Siapa namanya?” tanya Sistim kepada Manda saat memutar arah.
“Ginan, dan apa yang kau...”
“Kau lihat saja nanti,” potong Sistim.
Sistim menarik Ginan dan menyandarkannya disamping mobil, Sistim membuka pintu mobil bagian depan dan mengangkat tangan Ginan. Dia mengarahkan jari-jari ginan ditepian pintu dan tanpa basa-basi Sistim menutup pintu dengan kuat.
“UAAARGGGGHHHHHH!!!!!”
Ginan melengkin bukan main saat jari-jari tangannya itu terjepit pintu mobil, apalagi Sistim mengunci pintu dan menendang pintu yang dimana menjadi bagian jari-jari tangan Ginan terjepit.
“Apa yang kau lakukan?” Manda terbelalak matanya melihat Ginan melolong kesakitan, seolah-olah jari tangannya itu mau putus.
“Sudah kubilang interogasi, dan salah dia sendiri mencoba kabur,” kata Sistim sambil membuka bagasi mobilnya.
Sistim kemudian mengeluarkan tas besar dan melemparkannya didekat Ginan berada. Mendengar bunyi besi berat membuat Manda menyeringitkan dahi.
“Apa ini?”
“Senjataku, level 2 dan level 3.”
“Senjata?” alis Manda naik sebelah.
“Kau sudah melihat level 1,” Sistim membuka tas itu dan mengeluarkan 2 tongkat baseball yang lain,”Hanya saja bahannya berbeda.”
Sistim melihat 2 tongkat baseball ditangan kanan dan tangan kirinya, setelah itu ia melempar tongkat baseball sebelah kiri kebelakang dan saat tongkat itu jatuh bisa terlihat aspal yang menjadi bantalannya hancur retak disekitara tongkat.
“A-Apa itu?” Manda membelalakan matanya.
“Itu level 3, keseluruhan bahannya adalah besi padat,” kata Sistim enteng, “Dan kurasa level 2 cukup, ini alumunium.”
Manda terdiam dan tak menyangka Sistim mempunyai senjata andalan yang sama sepertinya yang terbuat dari besi padat. Apalagi Sistim tak merasakan keberataan saat mengangkat tongkat Baseball itu, padahal dari retaknya aspal bisa dilihat betapa beratnya tongkat itu karena terbuat dari besi seutuhnya.
“Hei kau!”
“UGGHHH!!!”
Manda menoleh dan melihat Sistim menendang wajah Ginan kesamping. Sistim kemudian menunjuk Ginan dengan ujung tongkat Baseball alumuniumnya.
“Sekarang beritahu aku, kalian bawa kemana Birwan dan dengan cara apa kalian membantunya keluar dari wilayah ini?”
“Hah... hah....” Ginan terengah-engah dan memandang Sistim, “Kau pikir aku akan bicara? Hah?!”
“Oh, aku akan membuat kau bernyanyi!” Sistim menyeringai.
Sistim kemudian menghantam pundak Ginan sebanyak 3 kali.
“Kau mau lagu Pop?”
“UAARGGGHHH!!!” Ginan berteriak menerima rasa sakit itu.
“Atau...” Sistim sekarang menghantam wajah Ginan kearah kiri, “... Kau mau lagu Rock?” dan menyeringai.
“ARGGGHHH!!!” Ginan melengking apalagi ada bagian giginya copot akibat hantaman itu.
Sistim kemudian mengetuk-ngetuk kepala Ginan hingga bunyi alumunium tongkat baseball nya itu berbunyi. Raut wajah Sistim berubah drastis. Matanya melotot dan bibirnya begitu bengis.
“JANGAN SAMPAI KAU KUBUAT MENYANYIKAN LAGU METAL!” seru Sistim dengan suara berat.
Dan dimalam itulah, Manda menjadi saksi bisu dengan cara Sistim menginterogasi targetnya.
۩ N U M E R I Q ۩
۩ N U M E R I Q ۩
Dimarkas Redrum terlihat Saktia terus berdiam diri disalah satu kursi, matanya tertutup oleh suatu benda karena pihak Redrum tidak ingin orang luar tahu bagaimana caranya dia masuk kedalam markas.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Saktia merasakan kalau  ada orang yang duduk disampingnya, tiba-tiba saja benda yang menutup matanya itu terlepas dan Saktia kesilauan dengan cahaya yang ia terima.
“Hei.”
Saktia menoleh dan melihat Ega mengangkat pisau tajam ditangannya.
“Apa yang mau kau lakukan?!” Saktia terhenyak.
“Oh ini,” Ega tertawa memandang pisau, “Tenanglah, aku hanya mau membuka ikatan tanganmu.”
Saktia melihat tangannya yang memang terikat dengan Cable Ties. Dengan perlahan Ega memotongnya hingga terlepas, Saktia mengurut-urut pergelangan tangannya karena ikatan Cable Ties itu tadi cukup kencang.
“Ini.”
Saktia menoleh dan melihat Ega memberikannya cup mie instan yang sudah dimasak, Saktia menerimanya terlebih lagi ia memang lapar sedari tadi.
“... Berapa lama aku berada disini?” tanya Saktia.
“Sampai kami semua mendapatkan informasi yang kuat, salah satu temanmu sudah diruang interogasi bersama Jendral polisi dan orang-orang bagian interogasi dari organisasiku.”
“... Begitu...” Saktia kemudian memandang sekeliling, “Apa ini markas ‘Anjing Besi’?”
“Redrum,” kata Ega sambil mengunyah mie.
“Ng?”
“Nama organisasi kami adalah Redrum, ‘Anjing besi’ hanya panggilan dari kriminal yang tidak mengetahui nama organisasi kami, entah siapa pencetus nama ‘Anjing besi’ itu.”
“Redrum?” Saktia menyeringitkan dahi.
Murder yang dibaca terbalik, aku sendiri tidak tahu siapa pencetus nama ini, mungkin Direktur-ku.”
“Begitu... terus kenapa kau memberitahukannya kepadaku?”
“Tidak ada salahnya bukan? Dan makanlah, kau tentu saja sudah lapar sedari tadi,” Ega tersenyum sambil mengunyah-ngunyah.
“I-iya... terima kasih...” Saktia mengambil mie itu dengan garpu plastik dan meniup-niupnya.
“Dan kau bukan orang yang ember bukan?”
“Eh?” Saktia kembali menoleh.
“Kau tidak akan ember memberitahukan nama asli organisasi ini bukan?”
“Kurasa tidak... dan....”
“Ng?”
“... Kenapa kau bersikap baik kepadaku?”
“Tidak masalah bagiku, setidaknya kau bisa tenang untuk sementara ini.”
“Tenang?”
“Ya, karena orang yang akan meninterogasimu nanti adalah orang-orang kejam,” Ega terkekeh.
“Oh...”
“Jangan takut, asal kau menjawab semuanya dengan jujur kau tidak akan diapa-apakan.”
Dan tiba-tiba saja mereka berdua mendengar suara teriakan dari kejauhan, dan Saktia tahu betul kalau itu adalah suara rekan kerjanya yang bernama Hakim.
“Dan itulah jadinya apabila berbohong, kami memakai alat pendeteksi kebohongan.”
“Oh... B-B-Begitu...” Saktia terbelalak matanya.
“Jangan takut, yang jelas kau harus jujur saja saat ditanya. Kujamin kau tidak akan kenapa-napa,” Ega menepuk-nepuk kepala Saktia sambil tersenyum.
“I-Iya...” Saktia mengangguk.
“Tentu saja kau tidak ingin wajah cantikmu itu kenapa-napa kan?” kata Ega sambil menyeruput mie.
Saktia terdiam, ia menoleh dan menatap Ega.
“A-Aku cantik...?”
“Ng?” Ega menoleh dan berkata, “Ya, kau tidak menyadarinya?”
“B-Benarkah?”
Ega tersenyum dan menepuk kepala Saktia, “Ya, kau cantik. Sekarang lebih baik kau makan.”
Ega menuntun kepala Saktia untuk melihat cup mie instan yang wanita itu pegang setelah itu Ega kembali menikmati mie instan kepunyaannya.
A-Aku cantik? D-dia menggodaku ya?” batin Saktia dengan wajah memerah.
Hehe untung markas sepi, emang kesempatan ini ngegodain cewek cakep tanpa takut diejek yang lain,” batin Ega sambil terkekeh.
Sepertinya mereka berdua cocok.
-----
Lalu dijalanan terlihat mobil Ozy melintas disetiap perjalanan. Dan didalam mobilnya itu juga terdapat Naomi yang sedang berbincang-bincang dengan orang tuanya untuk memberikan alasan kalau dia lembur hari ini dan tak bisa pulang.
“Oke,” Naomi mematikan saluran telepon.
“Jadi kau menginap dimarkas kepolisian?” tanya Ozy sambil mengganti gigi mobil.
“Rencananya begitu... tapi aku tak terbiasa, apalagi tidur diatas bangku.”
“Terus?”
Naomi menoleh dan berkata, “Apa aku boleh menginap dirumahmu?”
Ozy kaget dan menoleh, “Kenapa harus dirumahku?”
“Karena kupikir besok kau bisa mengantarku pagi-pagi untuk kemarkas dan mengambil mobilku.”
“Kenapa tidak sekarang saja? Bukankah aku mengantarmu kesana.”
“Aku sudah terlalu ngantuk, lagipula gara-gara ikut rencana kalian kan aku jadi begini?” Naomi tersenyum dan menunjuk memar yang mulai menipis.
“Ck,” desir Ozy.
“Apa? Apa kau salah tingkah karena ada wanita menginap dirumahmu?”
“Errrr.”
“Jadi?”
“Asal kau tidak berbuat macam-macam denganku!” seru Ozy.
“Bukankah itu seharusnya kata-kataku?” Naomi tertawa.
“Ya... p—pokoknya itu! Ya pokoknya itu!”
“Gak jelas. Yaudah langsung aja, aku ngantuk.”
“Jangan memerintahku.”
“Kalau gitu...” Naomi kemudian menoleh kearah Ozy, “...Tolong dong, aku ngantuk,” kata Naomi dengan nada memelas dan memohon.
“.... Hentikan...” Ozy salah tingkah.
“Pffft!” dan Naomi menahan tawanya dengan senyuman.
Ozy terpaksa mengubah arah dan butuh waktu 20 menit hingga sampai kerumahnya. Rumah Ozy terlihat gelap karena ia tidak menyalakan lampunya, ia bahkan melihat waktu sudah menunjukan pukul 11.27 malam dari jam tangannya. Mobil diparkir dipekarangan rumahnya, Naomi dan Ozy keluar dari mobil dan Naomi menunggu terlebih dahulu karena Ozy menutup pagar rumahnya.
“”Hmm,” Naomi melihat sekeliling.
“Apa?” tanya Ozy saat mencari-cari kunci rumahnya dikocek celana.
“Bersih, kamu tinggal sendiri kan?”
“Ya,” Ozy membuka kunci pintu.
Pintu rumah terbuka dan Ozy masuk terlebih dahulu, ia menyalakan lampu luar dan lampu didalam rumahnya. Dan Naomi melihat sekeliling, rumah Ozy terlihat tidak begitu banyak perabotan dan hanya isi-isi rumah seadanya. Tapi kebersihan rumah itu sangat terjaga, bahkan Naomi tidak merasakan debu saat menginjak lantainya.
“Tutup pintunya,” suruh Ozy.
Naomi menutup pintu rumah dan menguncinya, ia kemudian masuk dan melihat Ozy membuka lemari makanannya.
“Makanlah,” Ozy melempar bungkusan roti.
Naomi menangkap roti itu dan melihat Ozy, “Tahu darimana aku belum makan?”
“Perutmu konser tadi,” jawab Ozy malas.
“Oh,” Naomi tersenyum, “Kalau 1 mana kenyang.”
“Ambil saja sebanyak yang kau mau,” Ozy menunjuk lemari makanannya.
Ozy kemudian membuka kulkas karena ia merasa haus, Naomi menghampiri lemari makanan dan terkejut melihat tumpukan roti yang menumpuk disitu.
“Banyak amat...”
“Apanya?” tanya Ozy sambil berjongkok didepan kulkas yang terbuka dan menyeruput minuman kalengan.
“Ini,” Naomi menunjuk tumpukan roti yang dimaksud yang dimana kalau lemari itu dibuka sepenuhnya maka bungkusan roti-roti itu akan berhamburan keluar.
“Kalau mau Mie, masak sendiri, dilemari itu,” Ozy menunjuk lemari gantung didapur.
Naomi membuka lemari itu dan lagi-lagi terkejut. Karena ia melihat begitu banyak kotak mie instan berjejer rapi, dan tak hanya itu tapi berbagai macam rasa ada disitu. Baik untuk mie instang goreng atau pun rebus.
“Tak ada yang lain?”
“Kalau mau rumah makan Padang, kau bisa kedepan komplek rumahku tadi. Mereka buka 24 jam.”
Naomi tertawa, “Sepertinya rumahmu ini penuh dengan yang instan-instan ya?”
“Biar tidak merepotkan,” jawab Ozy cuek dan menutup kulkas.
Naomi kemudian mengambil 2 roti lagi dengan hati-hati karena ia memang merasakan lapar yang amat sangat, terlebih lagi tadi dia diculik saat mau mencari makan. Mereka berdua makan sambil menonton berita malam yang dimana wartawan begitu penasaran dengan begitu banyaknya polisi dalam 1 wilayah, yang dimana wilayah itu adalah wilayah Black Snake. Dengan lihainya polisi membuat alasan kalau sedang ada penggerebekan rumah pengedar dan meminta wartawan keluar dari wilayah itu dengan paksaan.
“Untunglah tidak terjadi hal yang tak diinginkan,” komentar Naomi sambil melahap roti.
“Kurasa tidak, wajahmu memar begitu apanya yang tidak diinginkan?”
“Oh, itu keinginanmu?”
“Errr.”
“Pantas kau langsung menembak orang yang melakukan itu padaku ya?”
 Ozy mati kutu dan berkata, “.... Perasaanmu saja.”
“Oh gitu,” Naomi menahan tawanya sambil menggigit roti.
Mereka terus melanjutkan aktifitas mereka sampai akhirnya mereka berdua mendengar suara hujan diluar yang memekakan telinga. Setelah selesai makan maka Ozy menunjukan kamar tidur yang bisa digunakan oleh Naomi.
“Bersih juga ya,” Naomi melihat sekeliling.
“Dan disitu ada toilet,  jadi kau tak perlu capek-capek keluar kamar,” Ozy menunjuk toilet kamar yang dimaksud.
“Terus kau tidur dimana?”
“Dimana pun aku bisa.”
Setelah itu Ozy keluar kamar dan meninggalkan Naomi didalamnya. Ozy memilih tidur didepan TV dan ia sudah menarik sofa dari ruang tamu untuk tempat tidurnya disitu. Dan saat ia berbaring ia mendengar bunyi pintu terbuka dan melihat Naomi keluar.
“Apa lagi?”
“Itu,” Naomi menunjuk kamar, “Ada yang aneh ditempat tidurmu.”
“Apanya yang aneh?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Kalau aku tahu aku tak mungkin bertanya,” Naomi memanyunkan bibir.
“Haaah,” Ozy menghela nafas dan beranjak, “Ada-ada saja.”
“Gitu dong, kan aku tamu,” Naomi tersenyum.
“Ya-ya.”
Ozy memasuki kamar dan memeriksa tempat tidur itu secara seksama. Sementara itu Naomi tersenyum, tangannya itu menutup pintu kamar dengan pelan dan mengunci pintunya. Ia pun membuka jas hitam yang sedari tadi ia pakai sehingga menyisakan kemeja putih berlengan panjang. Ia kemudian berjinjit pelan untuk membelakangi Ozy.
“Tidak ada yang aneh.”
Ozy berdiri dan menoleh kearah Naomi berdiri sebelumnya, ia menyeringitkan dahi karena tidak ada sosok Naomi disitu sampai akhirnya ia melihat bayangan seseorang yang seperti membelakanginya.
“... Kau kena...”
Belum selesai Ozy berbicara tiba-tiba Naomi memeluk Ozy sehingga mereka berdua terjatuh diatas tempat tidur, Ozy gegalapan setengah mati gara-gara perlakuan ini.
“Hei apa yang kau...”
“Kau sudah tau,” potong Naomi, “Dan apa perlu diperjelas lagi?”
“Maksudmu?” Ozy menyeringitkan dahi.
Naomi tersenyum dan wajahnya begitu memelas, “... Aku menyukaimu...”
“Eh?”
Dan tanpa perlu menunggu lebih lama maka Naomi mencium Ozy. Mata Ozy terbelalak gara-gara ini, dia melihat Naomi dan melihat wanita ini memejamkan mata dan begitu lembut mencium bibirnya. Seperti hal nya kebanyakan pria maka Ozy tak bisa bergerak banyak sampai akhirnya Naomi melepaskan ciuman itu  dan tersenyum.
“I-Itu...” Ozy mendadak gagap.
“... Terima kasih.”
Naomi kemudian membaringkan dirinya diatas tubuh Ozy, wanita ini terus tersenyum dengan posisi pelukannya itu.
“.... Terima kasih untuk apa?”
“Menolongku selama ini... membantuku... dan menghiburku... dan juga untuk hari ini, aku tak menyangka kau benar-benar akan datang seperti yang kau janjikan waktu itu...”
Ozy terdiam, ia mengingat saat ia memberitahu Naomi soal kemungkinan Black Snake hendak menculiknya dan ia berjanji kepada wanita itu kalau ia akan turun untuk menyelamatkannya.
“... Sudah janji... mau bagaimana lagi...” balas Ozy.
“Hmm,” Naomi tersenyum dan memejamkan mata.
“Dan...”
“Apa?”
“... Apa benar kau tadi bilang menyukaiku?”
“Ya, dan itu bukan perasaanmu lagi. Aku benar-benar mengungkapkannya.”
“... Kenapa?”
“Karena kau juga menyukaiku bukan?”
“Errr itu...” Ozy mati kutu.
“Jangan berkilah, dan kau tahu?”
“Apa?”
“Dalam posisi ini wanita akan lebih senang kalau pria membalas pelukannya.”
“Benarkah?”
“Lakukan saja.”
Dengan segan Ozy menggerakan tangannya, dan saat ia memeluk Naomi entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“... Kau merasa tenang bukan?” Naomi tersenyum.
“.... Ya...”
“Begitu juga yang kurasakan.”
“Tapi... bukankah kau membenci pembunuh sepertiku? Dan bukankah selama ini...”
“Ideologi kita tentang keadilan memang berbeda,” potong Naomi, ia menaruh dagunya diatas dagu Ozy dan tersenyum, “Tapi setidaknya kita memiliki perasaan yang sama bukan?”
“.... Kau tidak keberatan?”
Naomi menggeleng, “Kau sudah membuatku seperti ini, dasar perjaka!” dan tertawa ringan.
“Errrr.”
“Kalau kau mau aku bisa terus datang kesini, untuk memasak atau pun membawa makanan untukmu. Gak baik untuk memakan yang instan melulu.”
“I-Ini kenapa jadinya seperti orang pacaran begini...”
“Bukankah kau sendiri yang mengaku-ngaku diriku ini pacarmu?”
“Itu kan beda cerita...”
“Tapi dengan akhir yang sama,” Naomi tertawa dan semakin erat memeluk Ozy.
 Mereka kembali terdiam dengan suara hujan deras yang ada diluar. Ozy kemudian mengelus-elus punggung Naomi dari posisi ia memeluk dan Naomi merasa tenang diperlakukan seperti itu.
“Aku ini keras kepala kau tau?”
“Sama, dan aku sudah terbiasa menghadapi pria sepertimu. Bahkan ada yang sampai meninggalkanku.”
“Oh mantanmu itu?” tanya Ozy karena Naomi pernah menceritakannya.
“Ya, dan kau jauh lebih keras kepala darinya.”
“Aneh,” Ozy sedikit terkekeh.
“Tidak seaneh dirimu,” Naomi tersenyum.
“Hmm,” Ozy tersenyum dan memandang Naomi yang masih dalam posisinya itu, “Entah bagaimana mengatakannya tapi kau tampak lucu bagiku.”
Naomi tertawa dan memang posisi ia berbicara dengan Ozy memang unik, yaitu dagunya ditumpu diatas dagu Ozy.
“Berarti emang lucu kan?” Naomi tersenyum.
“Dan yah.... cantik.”
“Aku tahu, kamu pikir telingaku ini baru pertama kali mendengarnya?”
“Jadi sudah banyak pria yang mengatakan itu ya?”
“Ya, tapi kau yang beruntung.”
“Beruntung?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Karena kau memiliku.”
“Eh?”
“Dan aku memilikimu,” Naomi tersenyum.
Tanpa perlu banyak bicara lagi maka Naomi kembali mencium Ozy. Ozy lagi-lagi terhenyak menerima serangan ini. Ozy menarik kepala Naomi dengan pelan agar ciuman itu terlepas.
“Kau ini...” kata Ozy dengan nafas terengah-engah.
“Habisnya kau diam saja,” Naomi memeletkan lidah untuk mengejek.
“Heh.”
Ozy kemudian berbalik badan sehingga sekarang Naomi yang berada dibawahnya, mereka berdua saling memandang dan Naomi terus tersenyum sambil mengelus wajah Ozy. Sekarang Ozy yang melakukannya terlebih dahulu hingga mereka berdua kembali berciuman. Lama mereka berciuman membuat aliran nafas dihidung mereka menderu-deru. Dalam posisi berciuman seperti itu maka Ozy membuka satu per satu kancing kemeja putih yang Naomi pakai sedangkan Naomi berusaha membuka ikat pinggang dari celana yang Ozy pakai.
Dan dimalam hujan yang deras itu, Naomi dan Ozy memiliki hubungan yang lebih dari sekedar hubungan kerjasama antara Kepolisian dan Redrum.
----
Hujan juga mengguyur tempat dimana Dion berada. Terlihat ia sudah berada dirumahnya dan sedang bersantai dibalkon rumahnya dilantai 2. Menghisap rokok dan menikmati guyuran hujan yang meluluh lantahkan malam Jakarta.
Ia mengeluarkan sebuah kartu, kartu yang bertuliskan “BING 1998”. Kartu itu ia dapatkan saat ia bersama anggota elit Redrum lainnya melakukan penyerangan terhadap Gangster. (Ada dicerita Numeriq | file V : Distorsick)
Dion kembali melihat guyuran hujan.
“Siapa kau sebenarnya, Bing?” gumamnya.
Dan guyuran hujan ini ternyata tidak terjadi di Jakarta saja, yang berada di negara Indonesia. Tapi hujan juga terjadi disalah satu daerah di negara Asia yang mengguyur seorang pria beramput putih kehitam-hitaman dengan luka sayat dimata kanannya.
“BING! KAMI SUDAH MENDAPATKANNYA!” teriak Ringgo dikejauhan.
Bing mendengar suara itu ditengah guyuran hujan, ia melangkah maju ditengah guyuran itu yang dimana tempat ia berada hancur lebur karena serangan yang ia lakukan bersama pasukannya. Ia terus berjalan menghampiri tempat dimana ada seorang berlutut dengan seorang wanita dan 2 anak kecil.
“Semuanya?” tanya Bing kepada Ringgo.
Bing kemudian melihat pria yang berlutut dan berjongkok dihadapannya.
“Kau seharusnya tidak berbohong kepadaku bukan tentang ini?” kata Bing dengan bahasa daerah negara itu. (Font dialog diubah karena Bing berbicara menggunakan bahasa asing)
Pria tua itu memandang Bing, wajah dan tubuhnya juga sudah basah kuyup akibat guyuran hujan, “Apa yang kau inginkan dengan itu? Rancangan yang kubuat itu sungguh berbahaya! Senjata pemusnah massal! Nuklir itu... Urgh!!”
“Dan kenapa kau masih menyimpannya?” potong Bing menyeringai, ia menarik rambut pria tua itu.
“Kumohon... apa pun yang kau inginkan, aku mohon.... jangan libatkan keluargaku... lepaskan mereka...” pinta pria tua itu dengan harap dengan Istri dan 2 anaknya yang terus-terusan menangis disampingnya.
“Kau tak lihat penduduk desa ini sudah mati, hanya karena kebohongan yang kau buat untukku?”
“Kumohon.... beri keluargaku belas kasihanmu... kumohon...” pria tua itu pun akhirnya terisak-isak.
“Aku mau saja,” Bing menyeringai, “ Namun aku telah lupa caranya berbelas kasihan.”
Dan tiba-tiba saja Milo datang dan menghantamkan palu penghancur jalan kearah kepala istri san pria tua. Pria tua itu terkejut bukan main melihat istrinya tewas seketika dengan kepala yang hancur. Tak hanya itu, Milo bahkan menendang kedua anaknya yang kecil itu hingga tersungkur.
“JAAANGGAAAN!!!!”
Akan tetapi teriakan pria tua itu tidak menghentikan niat Milo, dan sekarang ia menghantamkan palu penghancur jalan itu kearah kepala 2 anak yang tak berdosa hingga kepala mereka berdua hancur luluh lantah dengant tanah. Tak cukup puas, Milo terus menghantam tubuh 2 anak kecil itu bertubi-tubi hingga hancur lebur.
“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!” pria tua itu meraung-raung dan menangis melihat kedua anaknya yang masih kecil dibunuh dengan kejam oleh Milo.
“Apa yang kau tangiskan? Kau tau hal itu sia-sia dan tidak bisa merubah kenyataan yang ada, dunia sudah terlalu kejam dan kau tahu hal itu!” seru Bing dengan mata melotot.
Tangan Bing yang menarik rambut pria tua itu kemudian didorongnya, Pria tua itu meringkuk dan menangis melihat mayat Istri dan juga kedua anaknya telah tewas menggenaskan dengan luberan otak dan daging yang hancur.
“Dia?” Milo menadahkan kepalanya kearah pria tua.
“Aku sudah bilang jangan biarkan satu pun yang hidup, bahkan anjing sekalipun.”
“Heh!” Milo menyeringai.
Milo menghampiri pria tua itu dan mengeluarkan parang panjang dari pinggang belakangnya. Ia menarik kepala pria tua itu dari belakang dan tanpa basa-basi langsung membacok dan menggerek leher pria itu sampai putus. Setelah itu Milo melempar kepalanya kearah mayat 2 anaknya dan menarik tubuhnya itu menghimpit tubuh istrinya.
Bing dan puluhan anggotanya sudah berhasil menguasai desa itu dengan teror yang ia berikan. Tak ada satu pun yang selamat didesa itu bahkan anak bayi pun dibunuh. Ringgo membawa sebuah koper dan menghampiri Bing.
“Sudah semuanya,” kata Ringgo sambil menyerahkan koper itu.
Bing menerima koper itu dan berkata, “Belum semuanya, kita ambil semua rancangan dinegara lain.”
“Hmm,” Ringgu tersenyum tipis, “Kau berencana menghancurkan Indonesia?”
“Tidak juga, aku akan puas melihat mereka semua menderita.”
“Dan soal informasi?”
“Setelah ini semua selesai, kau baru kesana.”
“Berarti masih lama.”
“Ya.”
Ringgo kemudian pergi meninggalkan Bing. Dan pria berambut putih kehitam-hitaman dengan luka sayat dimata kanannya ini kemudian menadahkan kepalanya keatas, menerima bulir-bulir hujan yang menerpa wajahnya.
“Apa kau sudah mengingatku...” gumamnya.
[ B E R S A M B U N G ]
۩ N U M E R I Q ۩
[ C E L O T E H A N ]
1. Cerita Redrum/Numeriq terinspirasi dari kisah The Punisher dan Petrus (Penembak misterius).
2. Milo, Bing, Mikro, Ringgo (Bukan Ringgo Agus Rahman), Hakim, Cari, Beri, Kris, Ginan, Arbi, Birwan, Miko, Barta adalah nama-nama tokoh original buatan saya.
3. <-- Ini adalah nomor 3, dibaca Tiga. Jangan Tri, itu provider kartu HP.
4. Dan setelah nomor empat (4) akan ada nomor lima.
5. Jangan lupa sholat 5 waktu.
© Melodion 2016 – 2018 All Right Reserved

13 comments:

  1. sistim keren pas interogasi! milo benar2x sadis!!! mantap bang :D

    ReplyDelete
  2. wkwkw buset panjang bener yak bisa jadi 2 - 3 part ini mah ,thx lah bang buat cerita nya yang kelewat panjang ini ,gue sampe habis 3 jam bang buat baca part yang ini wkwk top lah anda ini bang. btw kasian si boby udah ngrasain bogem nya si yona ,gak sempet nonton duel eh pas bangun dapet kabar kalo gajinya diturunin wkwkwk ngakak dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau pndek bukan ciri khas bang dion namanya wkwkw

      Delete
  3. Mantav ajib gile nih part

    ReplyDelete
  4. Akhirnya apa yg gw tunggu2 diupdate jg hehehe,, yg gw suka dari part ini

    - cerita ttg bing, walau pendek tp memberi sedikit pembaca gambaran ttg dirinya
    - perkenalan black snake, syg tidak terlalu diperkenalkan sistem kerja mereka sebagai kelompok pembunuh bayaran. hanya sedikit saja seperti rahasia klien yg terjamin seperti shania sewaktu membunuh targetnya.
    - sedikit terkuaknya masa lalu manda yg dulu anggota black snake
    - ozy yg dicengin naomi melulu wkwkw
    - percakapan ozy sama damar, sumpah dari cerita B.A kalau ada tokoh yg ngobrol sama damar pasti bawaannya kocak, tokoh damar bisa menjadi penyegar
    - shani yg saking gabutnya gangguin yona melulu slama 5 hari
    - frieska akhirnya ketahuan sering merhatiin dion wkwk
    - sisi shani yg bisa sedih saat dimarahi dion, lalu yg cepat lunak waktu denger kata coklat wkwkw
    - duel antara sistim sama manda, disini diperkenalkan gaya bertarung mereka
    - boby yang sial wkwkwkwkwkw udah pingsan eh gajinya diturunin
    - desy yg benar" ahli senjata, dimana ada penjelasan klo senjata manda sama sistim dia yg mengaturnya atau mungkin dia yg membuatnya?
    - ini yg gw suka, kejeniusan shani dieksplor untuk keseluruhan cerita,, ternyata dari awal dia udah menebak bahkan menjebak black snake melakukan penculikan pas dirumah makan, padahal pas cerita dirumah makan ndk ada tanda" shani, dion, ozy tahu klo ada black snake disitu. mantap!
    - ternyata direktur redrum sama pemimpin black snake saudara kandung toh wkwkw, dan gw suka dibagian ini adalah ternyata 2 org ini tahu masa lalu dion sbnrnya, misteri utk tokoh utama jadi bertambah apalagi direktur tdk memberitahu dion ttg masa lalunya
    - cara sistim melakukan interogasi, gw jd ngilu bayangin jari2 tangan kejepit pintu kyk gimana wkwkw apalagi caranya yg pake kata mau lagu pop, rock, dan jgn sampai dia membuat yg diinterogasinya nyanyiin lagu metal. itu keren!
    - bing dan anggotanya musnahin semua penduduk desa, milo tetap sadis!

    dari keseluruhan yg gw suka adalah akhirnya semua tokoh2 cerita yg ada disini terekspos hingga membuat pembaca bisa mengenal watak masing" tokoh walau belum semua tokoh" cerita ini diekspos, ini yg gw suka dari cerita abang hehee

    meski begitu ada yg belum ngena dihati
    - yona yg menganggap shani sperti adik tirinya, klo ada cerita yona sama adik tirinya dulu mungkin pembaca bisa merasakan apa yg yona rasakan
    - kurangnya keadaan diluar selain ditempat shani dan naomi disekap, jd agak kurang terasa bagaimana paniknya black snake saat wilayahnya dipenuhi anggota redrum sama polisi
    - naomi dan ozy yg gituan terlalu cepet wkwkw, mungkin naomi gemes kali ya ngeliat ozy

    mungkin itu saja bang, konfliknya semakin asik, semangat bang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahahaha (Bingung mau ngomong apa)

      Delete
  5. Ntap, btw gue sempet punya bayangan gila untuk cerita ini

    Mmmm, tapi mungkin via dm aja kali ya gue ngasih tahunya?

    Kagak, gue nggak berniat nyetir cerita ini, soalnya gue belum bikin SIM

    Cuman, kayaknya agak greget aja untuk gue simpan sendiri 😅

    Mohon dipertimbangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha simpanlah ide itu untuk cerita anda nanti

      Delete
  6. Waduh, nama Karakter saya sama nama karakter ny bang dion ternyta sama
    Tpi nama lengkapnya sih "Ginanda Atmadjaya"
    Yah, jadi ga enak nih klo mau publish hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang nama panggilannya 'Dion' seperti nama saya, begitu juga yang namanya 'Ginan'
      :))

      Delete