Roulette, Part 1

Roulette, Part 1 

Senior High School 48.
Sebuah sekolah elite yang dikhususkan untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan ekonomi. Mereka menyediakan fasilitas yang bagus untuk para muridnya. Dimulai dari ruang kelas yang luas, sampai ke rumah pribadi yang disediakan khusus untuk para murid 48 SHS.
Setiap rumah memiliki luas yang hampir sama dengan rumah sederhana pada umumnya. Di dalamnya juga telah disediakan beberapa barang utama, seperti kasur, lemari, dapur dengan beberapa peralatan masak, dan yang terakhir adalah sofa diruang tamu. Di setiap rumah juga telah disediakan kamar mandi dan juga toilet yang terpisah. Kamar mandinya terbilang cukup mewah, karena memiliki fasilitas bath-tub, shower, dan lain-lain.
Selain rumah, mereka juga dibekali uang bulanan sebanyak 300 ribu rupiah. Uang tersebut dapat diambil sebagai cash, atau juga dapat disimpan sebagai saldo di dalam handphone khusus yang diberikan oleh pihak sekolah. Handphone tersebut dapat menyimpan uang layaknya kartu ATM., dan pastinya juga dapat mentrasnfer uang ke perangkat handphone yang sama. Mereka juga dapat mengambil saldo tersebut ke dalam bentuk cash, dengan menggunakan mesin yang sudah disediakan di setiap sudut sekolahan.
Namun sayangnya, keluarga mereka tidak dapat merasakan kebahagian yang mereka dapatkan di lingkungan 48 SHS. Mereka tidak di izinkan untuk membawa keluarga mereka ke dalam area sekolahan.
Maka dari itu, kehidupan mereka sebagai warga 48 SHS pun telah dimulai...
            ~oOo~
“Yupi!”
Gadis berambut pendek itu memanggil temannya yang tengah duduk di kursi taman dekat pohon rindang itu.
Lalu, gadis bernama Yupi itu berdiri untuk menyambut temannya yang datang menghampirinya.
“Beby, kenapa kamu lari-lari begitu?” ucap Yupi saat Beby sampai di tempatnya
Phew! Kamu tau, aku sudah mencarimu ke mana-mana tadi, ternyata kamu ada disini,” ucap Beby dengan keringat yang bercucuran dari kepalanya
“Ayo duduk,” ucap Yupi
Mereka kemudian duduk dikursi itu.
“Jadi ada apa?” tanya Yupi kembali
“Pelajaran ketiga nanti, kita akan belajar di lab.komputer,” kata Beby
“Oh.. Pelajaran ke tiga itu TIK ya?”
“Iya,” balas Beby
Yupi menghela nafasnya, ia bersandar dikursinya sambil melihat langit.
“Akhirnya kita mulai belajar di ruangan tertentu. Aku sudah menantikan ini sejak lama,” ungkap Yupi
“Kamu...gak suka belajar di kelas ya?” ucap Beby
“Bukan gak suka sih...,” timbal Yupi
Ia kini sedikit bangun kemudian duduk menghadap ke arah Beby.
“Aku hanya sedikit bosan, setiap hari yang kita pelajari hanyalah teori dan teori. Bahkan pelajaran Olahraga yang mewajibkan praktikum pun, kita sama sekali tidak pernah belajar di lapangan,” ungkap Yupi
“Ahaha.. Mungkin karena sekolah ini elite, jadi mereka lebih mengutamakan teori ketimbang praktik,” timbal Beby
Yupi tertawa saat mendengar pernyataan dari Beby. “Beby, sekolah mana yang pelajaran Olahraganya lebih mementingkan teori ketimbang praktikum? Cuma disini doang toh...,” balas Yupi
“Iya-iya aku tau, tapi karena sekarang mereka sudah mulai melakukan praktikum dibeberapa mata pelajaran, mungkin saat pelajaran Olahraga nanti, kita akan mulai belajar dilapangan,” ucap Beby
“Huft, mungkin...,” ucap Yupi, sembari menekan kedua pipinya dengan tangannya
Mereka berdua terdiam sesaat.
“Ngomong-ngomong Yup, kamu lagi ngapain disini? Atau mungkin kamu memang sudah sering ke tempat ini?” tanya Beby berulang-ulang
“Ah? Aku memang sering ke tempat ini. Biasanya sih aku datang ke tempat ini pas pulang sekolah, tapi karena sekarang jam istirahatnya 15 menit lebih awal, jadi aku datang kemari,” Jawab Yupi
Yupi kembali bersandar sambil melihat ke langit.
“Kamu tau Beb, ada beberapa hal yang membingungkan dari sekolah ini. Sejujurnya, aku juga sudah memikirkan tentang hal ini sejak lama,” ucap Yupi kembali
Beby tampak sedikit mengkerutkan dahinya.
“Um...Apa?” timbal Beby
“Pertama, kenapa kuota yang disediakan untuk murid yang akan mendaftar ke sekolah ini, hanyalah 100?” ucap Yupi
“Eh..,” Beby terlihat kebingungan menjawabnya. “Mungkin karena pihak sekolah hanya menyediakan 100 rumah untuk calon murid barunya?” Jawabnya dengan seadanya
“Mungkin jawaban kamu ada benarnya, tapi aku rasa jawabanmu itu kurang berbobot,” ucap Yupi
“Ah.. Hehe, aku tidak tau harus menjawab apa,” timbal Beby
“Oke, lupakan soal pertanyaan yang tadi. Sekarang pertanyaan yang kedua adalah, kenapa jumlah murid kelas XI hanya 40 orang, dan kenapa jumlah murid kelas XII hanya ada 21 orang?” ucap Yupi lagi
“Dari 100 orang siswa, ada sekitar 69% yang keluar, atau mungkin dikeluarkan dari sekolah. Tapi apa penyebabnya? Kenapa murid yang keluar bisa sampai sebanyak itu?” lanjut Yupi
“Eh..,” Beby menggaruk kepalanya, ia tampak tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.
“Yupi.. A-Anu...sebenarnya kamu tau darimana kalau jumlah murid kelas XI dan XII yang sekarang sebanyak itu?” tanya Beby balik
“Aku bertanya pada guru, lebih tepatnya sih walikelas kita,” Jawabnya
“Maksud kamu...pak Amir?”
“Iya,” balas Yupi kembali
“Ahaha.. Hal seperti itu pun kamu tanyakan ke guru. Aku pikir tidak ada hal yang lebih menarik dari Matematika dimata kamu,” celetuk Beby
“Kamu pikir aku ini kalkulator apa? Hmph!” Yupi tampak acuh
“Lagipula awalnya aku cuma iseng nanya, karena selama ini aku lihat kakak kelas kita benar-benar sangat sedikit, sedangkan jumlah yang seharusnya adalah 100 orang,” Jelasnya kembali
“Hah! Sudahlah...mungkin aja mereka itu dikeluarkan karena bermasalah. Karena sekolah ini adalah sekolah yang elite, jadi semua peraturannya benar-benar sangat ditegaskan,” ucap Beby
“Oke, mungkin kamu benar soal peraturan yang sangat ditegaskan disekolah ini. Tapi pertanyaan yang ketiga...,” ucap Yupi menggantung
Beby pun kembali menyimak.
“Pertanyaan yang ketiga adalah, apa fungsi dari tes ujian masuk bulan lalu?” ucap Yupi
“M.. Maksud kamu tes masuk 500 soal itu ya?” ucap Beby
“Iya, dari 500 soal itu, hanya 58 soal yang kujawab dengan benar. Aku juga mendengar rumor bahwa angkatan kita tidak ada yang mendapatkan point lebih dari 100. Tapi, kenapa kita masih diterima disekolah ini meskipun kenyataannya kita hanya mendapat point kurang dari 100? Jadi apa fungsi dari tes masuk itu?” tanya Yupi berulang-ulang
“Rumor?” ucap Beby
“Tidak ada rumor yang seperti itu disekolah ini Yup. Bahkan aku sendiri dapat point 278 dari tes itu,” lanjutnya
“EH?!” Yupi terlihat shock, raut wajahnya tiba-tiba berubah saat mendengar penjelasan dari Beby
“Tapi...kamu dengar dari mana, soal rumor yang mengatakan tentang angkatan kita tidak ada yang mendapatkan point lebih dari 100?” tanya Beby
“D.. Dari kakak kelas, namanya kak Ilham,” Jawabnya
“Oh.. Kak Ilham ya,” balas Beby sembari manggut-manggut
“Jadi, hanya aku yang mendapatkan point kurang dari 100...,” Yupi terlihat murung
Beby tampak memandangi wajah Yupi yang murung itu.
“Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Lagipula tesnya sudah lewat,” lanjutnya
Beby tersenyum menanggapinya.
“Beby, kamu kenal sama kak Ilham ya?” tanya Yupi
“Bukan kenal, tapi tau. Dia itu kan ketua OSIS disekolah ini,” Jelas Beby
“Woah! Jadi dia itu ketua OSIS ya,” Yupi tampak tercengang. “Kalau dia itu ketua OSIS, kenapa dia sampai berkata seperti itu padaku. Apa mungkin dia hanya berniat untuk menghiburku?” pikirnya
“Eh.. Yupi, apa aku boleh tau berapa sisa saldomu sekarang?” tanya Beby secara tiba-tiba
“Saldo? Hmmm...,” Yupi pun mengeluarkan Handphonenya dari saku seragamnya
Kemudian ia mulai melihat sisa saldo di handphone itu.
“Sisa saldoku masih 140 Ribu,” ucapnya
“140 ribu ya...apa aku boleh lihat?” ucap Beby kembali
Lantas Yupi pun menunjukan layar handphonenya pada Beby.
Di layar handphone itu tertulis angka 140.000.
“Wah, kamu ini orangnya hemat ya? Maaf ya, aku sampai bertanya hal ini padamu. Karena kita ini teman, tadinya aku berniat untuk bekerja sama denganmu,”
“Bekerja sama soal apa?” tanya Yupi
“Ya.. Karena sekarang sudah masuk ke akhir bulan, atau sebut tanggal tua deh, jadi kalau sisa saldo uang kita sudah hampir habis, bukannya bagus kalau kita saling berbagi. Tapi ternyata saldo di handphonemu masih banyak. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi,” Jelasnya
“Coba lihat punyaku...,” Beby juga menunjukan sisa saldonya pada Yupi dengan menunjukan layar handphonenya
“Um...80 Ribu...,” ucap Yupi saat melihat angka di layar handphone Beby
“Aku ini orang yang boros ya? Hahaha...,” Beby tertawa
“E.. Eh, aku tidak berpikir begitu kok. Lagipula sekarang ini kan sudah masuk tanggal tua, jadi wajar saja kalau sisa saldomu hanya segitu. Tapi 80 ribu itu kan cukup banyak,” ucap Yupi
“Yah, sepertinya aku tidak perlu khawatir padamu. Ternyata kamu ini benar-benar orang yang hemat,” ucap Beby memuji
Beby kembali menyimpan handphonenya, begitu juga dengan Yupi.
“Kamu setiap hari cuma makan telur ya? Karena aku lihat pengeluaran kamu selama satu bulan benar-benar sangat sedikit,” celetuk Beby
“Eh?! A.. Aku ini alergi telur,” ungkapnya pada Beby
“Alergi telur?” Beby mengernyitkan dahinya
“Iya. Sebenarnya aku bisa makan telur, tapi batasnya hanya 1x selama 1 minggu. Jadi kalau aku makan telur berlebihan, kulitku bisa tumbuh bercak-bercak merah,” Jelas Yupi
“Oh.. Begitu ternyata. Terus kamu makan apa selama 25 hari kemarin? Maksudku...setiap bulan kita harus membayar listrik seharga 50 Ribu, dan juga membayar petugas pembersih seharga 20 Ribu. Itu berarti uang yang sudah pasti kita keluarkan perbulannya adalah 70 ribu kan?”
“Y-yah...sebenarnya terkadang keluargaku juga sering membekaliku makanan dari rumah. Jadi pengeluaran utamaku selama 25 hari ini hanyalah sabun mandi, kemudian sikat gigi dengan pasta giginya, dan yang terakhir sayuran,” Jelas Yupi lagi
“Eh?! K.. Kamu dibekali makanan oleh kerluargamu?! Memangnya hal seperti itu diperbolehkan oleh pihak sekolah?!” ucap Beby
“Entahlah, tapi di peraturan tidak tertulis apapun tentang larangan untuk tidak membekali makanan kepada siswa 48 SHS kan? Yang aku tau, peraturan yang terpampang di mading itu hanya tertulis tidak diperbolehkan untuk membawa orang luar masuk ke area 48 SHS,” Jawabnya
“A.. Ah, Um...,” Beby terlihat kebingungan, ia tampaknya baru menyadari akan hal itu
“Jadi...kamu bisa masak sendiri ya. Dan kamu tau bahwa sayuran itu adalah olahan makanan yang bahan-bahannya sangat murah,” ucap Beby
“Hehe, iya. Aku ini memang suka memasak, tapi karena uangku terbatas, jadi aku hanya memasak makanan yang bahannya terbilang murah,” ucap Yupi
“E.. Eh, jam istirahat sudah hampir habis...,” Beby tiba-tiba menjadi kikuk
“Aku ke kelas duluan ya,” ucap Beby kembali, kemudian ia beranjak dari kursi
“Ya. Aku masih betah diem disini,” ucap Yupi tetap duduk dikursi
Setelah itu, Beby pun pergi.
            ~oOo~
Usai pelajaran TIK, seluruh kelas tiba-tiba dibubarkan. Yupi dan Beby tampak baru keluar dari ruangan itu, sementara teman-temannya sudah kembali ke ruangan kelas.
“Huh? Ada apa ini?” ucap Yupi melihat murid-murid yang berhamburan keluar dari kelas
“Ini belum jam pulang kan? Masih jam 12 siang loh,” ucap Yupi kembali
“Aku ke kelas duluan ya, bye-bye!” Beby tiba-tiba meninggalkan Yupi
“Eh! Beby! Jangan tinggalin aku!” teriak Yupi
Saat Yupi hendak menyusulnya, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang. Mereka berdua pun jatuh ke lantai bersamaan.
*DUG!
“Aaahhh! S.. Sakit...sshhh...,” Yupi merintih kesakitan sambil memegang lututnya
“Aduh...m-maaf ya dek,” ucap laki-laki itu
“Loh, kak Ilham?!” ucap Yupi saat melihat wajah laki-laki yang menabraknya
Laki-laki itu mengenakan kacamata bulat dan juga rompi.
“E.. Eh Yupi, maaf ya kakak gak sengaja,” Ilham pun membantu Yupi untuk berdiri. Namun setelah itu...
“Maaf kakak lagi buru-buru,” Ilham langsung pergi setelah membantu Yupi berdiri
Sementara Yupi, ia kini memegangi lututnya itu dan sedikit memijatnya.
“Aduuuuh...kenapa semua orang pada rusuh gini sih! Mentang-mentang pulang lebih awal, mereka jadi buru-buru pengen pulang,” gerutunya
Yupi pun berjalan dengan kaki yang pincang karena rasa sakit di kaki kanannya masih sangat terasa. Ia merintih menahan rasa sakit itu, dan berjalan menyusuri koridor sekolahan. Jarak antara lab.komputer dengan ruang kelasnya terbilang cukup jauh. Maka dari itu, mau tidak mau Yupi harus berjuang untuk menahan rasa sakit di kakinya sampai ke ruang kelasnya.
Namun, ketika ia sampai di depan ruang perpustakaan, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Huh?” Yupi berdiam diri dibalik tembok perpustakaan itu, karena ia mendengar suara seseorang yang tidak asing lagi baginya.
“Suara Beby?!” pikir Yupi
Percakapan yang mereka lakukan dibalik pintu perpustakaan terdengar oleh Yupi. Meskipun samar, Yupi tau bahwa suara tersebut berasal dari Beby. Dan suara orang yang satunya adalah...
“Kak Ilham?!” pikirnya lagi
“Mereka berdua lagi ngomongin apa ya?” Yupi yang penasaran pun berniat untuk menguping pembicaraan mereka. Namun karena keberaniannya yang masih kurang, Yupi pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk berdiam diri dibalik tembok itu.
Setelah beberapa saat, dua orang murid keluar dari ruang perpustakaan. Ternyata benar dugaan Yupi bahwa kedua orang itu adalah Beby dan Ilham.
“Ternyata dia juga kenal kak Ilham. Aku pikir dia cuma sekedar tau doang,” gumamnya
“E.. EH! Apa mungkin mereka pacaran!” lanjutnya
Yupi kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
­-SKIP-
*
Saat ia sampai di kelas, keadaan dikelasnya benar-benar sudah sepi. Mungkin karena murid-murid dikelasnya sudah pulang lebih dulu, sementara dirinya baru sampai di ruang kelas.
Yupi mengambil tasnya kemudian pergi.
Awalnya ia berniat untuk langsung pulang ke rumah, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke ruang UKS terlebih dahulu. Dan lagi-lagi, ia harus berjuang menahan rasa sakit di kaki kanannya itu, sampai ke ruangan UKS.
Akan tetapi, saat ia menuruni tangga itu, seseorang tiba-tiba merangkulnya untuk membantunya turun dari tangga. Postur tubuh orang itu lebih tinggi dari Yupi, maka dari itu pertolongan darinya benar-benar sangat membantu bagi Yupi.
Ia mengantar Yupi sampai ke ruang UKS, namun Yupi masih belum tau siapa orang yang membantunya itu. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di ruang UKS. Orang itu juga membantu Yupi untuk naik ke ranjang.
“A.. Anu, terimakasih ya kak,” ucap Yupi
Gadis itu tersenyum pada Yupi.
“Cepat buka kaos kaki kamu,” ucap gadis itu
“Eh? M.. Memangnya kenapa kak?” tanya Yupi
“Sudah cepat buka, jangan banyak tanya,” ucap gadis itu kembali
Yupi pun menuruti perkataannya. Ia mulai sedikit menaikan roknya, namun saat ia hendak membuka kaos kakinya...
“EH?! B.. Berdarah!” Yupi kaget bukan kepalang saat melihat kakinya yang berlumuran darah
Lantas ia pun buru-buru membuka kaos kakinya, dan juga sepatunya.
“Kamu tunggu disini ya, aku mau bawa air dulu,” ucap gadis itu
Sementara gadis itu pergi mengambil air, Yupi masih membuka kaos kakinya perlahan-lahan.
“Ya ampun...kenapa bisa sampai berdarah ya, padahal tadi gak kerasa apa-apa,” ucapnya
Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dengan ember yang berisikan air.
“K.. Kakak mau ngapain?!” tanya Yupi
“Angkat kaki kamu,” ucap gadis itu
Yupi tidak berkomentar, ia langsung mengangkat kakinya. Lalu, gadis itu pun mulai membersihkan darah dikaki Yupi, dan juga membersihkan darah disekitar lukanya.
Yupi merintih saat gadis itu membersihkan lukanya dengan lap.
Akan tetapi proses pembersihan itu tidak berlangsung lama, dan kini kaki Yupi telah sepenuhnya bersih.
“M.. Maaf kak..,” ucap Yupi
Gadis itu tidak menyautnya, melainkan ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mulai meneteskan betadine pada luka di lutut Yupi, setelah itu ia langsung membalutnya dengan perban.
“KAK!” Tiba-tiba Yupi berteriak memanggil gadis itu
Lantas gadis itu pun melirik Yupi.
“A.. Anu, setidaknya biarkan saya tau nama kakak siapa. Karena kakak sudah membantu membersihkan luka saya,” ucap Yupi sedikit lebih tegas
Gadis itu pun bangun dan tersenyum pada Yupi.
“Namaku Jessica Veranda, panggil saja Ve,” ucapnya sembari mengulurkan tangan
“A.. Ah, eh...,” Yupi menjabat tangannya. “Saya Cindy Yuvia, biasa dipanggil Yupi,” balas Yupi
Ve melepas tangannya dari Yupi. “Gimana lukanya? Masih sakit?” tanya Ve
“Udah enggak kok. Um...kak Ve ini bukan kelas X kan?” tanya Yupi
“Kakak kelas XI-4. Kamu sendiri?” tanya Ve balik
“S.. Saya kelas X-1,” balas Yupi
Usai berkenalan, Ve pun berdiri lalu ia melihat ke arah jam dinding disana.
“Aku tinggal gak apa-apa kan?” ucap Ve
“Iya gak apa-apa kok. Sekali lagi terimakasih ya kak,” ucap Yupi kembali
Setelah itu, Ve pun pergi dari ruang UKS.
Sedangkan Yupi, ia masih duduk diranjang itu. Ia sedikit memukul-mukul lukanya yang telah diperban, untuk memastikan bahwa lukanya itu sudah tidak terasa sakit lagi.
“Kelihatannya lukaku juga sudah aman,” ucap Yupi
Yupi beranjak dari ranjang itu dan membawa tasnya.
“Jessica Veranda, rasa-rasanya nama itu sudah tidak asing lagi di kepalaku,” pikirnya
Ia mulai berjalan keluar dari ruang UKS dengan kaki yang pincang, namun saat ia menutup pintu itu, tiba-tiba...
“YUPI!”
Seseorang tiba-tiba datang menghampiri Yupi dengan berteriak, ia juga menepuk pundak Yupi dari belakang. Srontak Yupi terkejut karena ulah orang dibelakangnya itu. Ia pun berbalik dan melihat siapa orang yang mengejutkannya tadi.
“S.. SHANI!” ucap Yupi dengan nada bicara yang tinggi, ia terlihat marah pada gadis yang bernama Shani itu
“Syukurlah!” Shani tiba-tiba memeluk Yupi
“Eh! Sh.. Shani?! K.. Kenapa kamu malah...,” ucap Yupi, ia tidak melanjutkan kata-katanya dan meredam amarahnya itu karena Shani menangis dipelukannya
Setelah beberapa saat, Shani pun berhenti memeluk Yupi.
“Tadi.. saat dikoridor, aku melihatmu turun dari tangga dengan kaki yang pincang. Dan saat aku tau kakimu itu sedang terluka, aku buru-buru datang kemari,” ucap Shani yang tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Yupi
“Huft, sudahlah...aku gak apa-apa kok,” ucap Yupi sambil mengusap kepala Shani
“Kamu ini pake nangis segala, kamu itu kan ketua kelas,” ucap Yupi kembali sembari mengelap air mata di pipi Shani
“Memangnya kenapa kalau aku ini ketua kelas! Semua orang juga bisa menangis tau!” balas Shani
“Ahaha.. Yasudah. Sekarang kita pulang yuk,” ucap Yupi
Shani tersenyum, ia kemudian mengangguk.
Pada akhirnya mereka berdua pulang bersama.
-SKIP-
*
Saat diperjalanan, mereka selalu saja memiliki bahan pembicaraan yang menarik. Oleh karena itu, sampai saat ini mereka masih mengobrol meskipun kini mereka berhenti disebuah taman bermain. Yupi tiba-tiba masuk ke taman bermain itu dan duduk disalah satu ayunan.
Lantas Shani pun juga ikut duduk di ayunan disamping Yupi.
“Maaf ya Shan, kamu sampai repot-repot mau mengantarku ke rumah. Sebenarnya aku ini sudah sering pulang ke rumah sendirian,” ucap Yupi kembali membuka pembicaraan
“Tidak masalah!” ucap Shani degan wajah yang penuh semangat. “Ini sudah menjadi tugasku sebagai ketua kelas!” lanjutnya
“Gak gitu juga kali...,” ucap Yupi menanggapinya dengan wajah datar
“Tapi Yup, kenapa lutut kamu bisa sampai luka begitu?” tanya Shani
“Ah-haha...,” Tawa Yupi sangat jelas terlihat dipaksakan. “Aku cuma jatuh dari tangga kok,” ucap Yupi berusaha untuk tidak membuat Shani menjadi khawatir padanya
“Mm...begitu ya,” Shani terlihat masih mengkhwatirkan Yupi.
Phew... Shani! Aku sudah bilang berkali-kali, kamu harus bisa mengontrol sifat Altruisme mu itu!” ucap Yupi seperti menegurnya
“E.. Eh, tapi aku ini kan ketua kelas!” ucap Shani
“Hemm...iya-iya deh, makasih ya karena udah menghkhawatirkan aku,” balas Yupi
Shani mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Shani mendorong ayunannya itu dan mulai memainkannya.
“Ngomong-ngomong Shan, tadi kenapa sekolah tiba-tiba di bubarin?” tanya Yupi
“Ah? Soal itu,” Shani berhenti memainkan ayunannya
“Katanya sih guru-guru mau pada rapat sama anggota OSIS,” ucap Shani
“Rapat?” ucap Yupi kembali
“Mereka mau membicarakan tentang pencuri yang berkeliaran di 48 SHS,” Jawab Shani
“P.. Pencuri?! Seriusan?!” Yupi terlihat kaget saat mendengarnya
“Hmm...entahlah. Sebenarnya aku juga tau dari kakak aku sih, tapi kalau memang benar disekolah kita ada pencuri, mulai sekarang kita harus selalu waspada,” ujar Shani
Yupi terdiam sesaat.
“Kamu benar Shan...,” timbal Yupi, ia tampak mulai merenungkan.
Yupi kemudian beranjak dari ayunan itu.
“Mau pulang? Biar aku antar!” ucap Shani yang juga turun dari ayunan
“Ya. Aku harus pulang, jemuran dirumahku pasti sudah kering,” ucap Yupi
“Tapi sebelum itu, aku mau beli minuman dulu,” ucap Yupi kembali, ia kemudian mengeluarkan handphonenya
Phew...gak ada ATM lagi disini,” Yupi melihat-lihat kesekitarnya
“ATM? Kamu mau ngambil uang ya?” tanya Shani
“Iya,” balas Yupi singkat
“Memangnya mesin itu bisa disamakan dengan ATM?” tanya Shani kembali
Yupi menaikan kedua bahunya. “ATM itu kan singkatan dari Automatic Teller Machine? (CMIIW). Gak jauh beda dari mesin khusus yang dibuat sama sekolah kita kan?” ucap Yupi kembali
“Huft, iya deh. Jadi sekarang mau nyari kemana?” ucap Shani
“Ayo,” ajak Yupi, ia jalan lebih dulu
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Yupi berniat mencari mesin itu untuk mengambil uang dari saldo di handphonenya. Dan setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun menemukannya.
“Udah akhir bulan gini kamu masih punya sisa saldo, bahkan saldo uangku sekarang sudah hampir habis,” ucap Shani
“Hehe, biar aku traktir! Karena bentar lagi kan awal bulan,” ucap Yupi
“Wuih! Kayaknya saldo di handphone kamu masih banyak ya? Yah...mau gak mau aku terima deh traktirannya,” balas Shani
“EH?!” Raut wajah Yupi tiba-tiba berubah ketika melihat layar handphonenya. Pupil matanya juga membesar, ia tampaknya terkejut akan suatu hal.
“Y.. Yup?” ucap Shani sambil memegang pundak Yupi
“Kosong?!” ucap Yupi
“Eh? Apa yang kosong?” tanya Shani
“Kosong! S.. Saldoku sudah habis!!!” ucap Yupi lagi
“Saldo di handphone kamu?”
“Iya SHAN!” balasYupi sembari menekan kedua bahu Shani
“Eh..? Mungkin saldonya memang sudah habis kali,” timbal Shani
“Enggak Shan! Saldo di handphoneku seharusnya masih 140 Ribu! T.. Tapi kenapa sekarang...,” Jelas Yupi namun ia tidak melanjutkan kata-katanya
“Um...coba diingat-ingat lagi, siapa tau saldonya sudah kamu habiskan tadi,” ucap Shani kembali
Yupi terlihat lemas, ia duduk dibawah mesin itu.
“Tidak mungkin...saldonya tidak mungkin hilang kan! Lagipula aku tidak menggunakannnya saat disekolah tadi!” Jelas Yupi kembali
Shani kembali khawatir, ia pun duduk dan berniat untuk menenangkan Yupi.
Sementara Yupi, ia kini menyembunyikan wajahnya itu dibalik lututnya.
“Padahal aku sudah berusaha untuk menabungkan uang itu...,” ucap Yupi dengan suaranya yang tertahan karena tertutup oleh lututunya
“Eh.. Kalau uang yang kamu tabung sampai sebanyak itu, pasti kamu mau membeli sesuatu saat awal bulan nanti,” ucap Shani
Yupi mengangguk
“Aku berniat untuk membeli Oven saat awal bulan. Tapi ternyata...,” Yupi tidak sanggup melanjutkan kata-katanya
“Oven? Buat apa?” tanya Shani
“Sudah pasti buat masak! Aku ini suka masak Shan!” ucap Yupi dengan tegas
“U-Um...maaf,” ucap Shani
Yupi berusaha untuk tegar, ia mulai bangkit kembali.
“A.. Anu, aku minta maaf ya. Disaat seperti ini, aku malah tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Shani dengan wajah yang murung
“Tidak perlu meminta maaf, lagipula ini salahku. Mungkin benar kalau aku memang sudah memakai semua uangku tadi. Aku hanya tidak ingat kapan aku memakainya,” balas Yupi
Shani menundukan kepalanya.
“Huft, akhir-akhir ini banyak sekali musibah yang terjadi. Pertama lutut kamu terluka, lalu sekarang saldo di hp kamu tiba-tiba kosong. Dan yang masih hangat-hangatnya dibicarakan, yaitu pencuri yang berkeliaran di...,”
“SHANI!” ucap Yupi secara tiba-tiba, ia memotong perkataan Shani
“HE?! Kenapa tiba-tiba teriak begitu!” balas Shani yang terkejut itu
“Itu benar Shan! Kasus pencurian disekolah kita yang masih hangat-hangatnya dibicarakan oleh semua warga 48 SHS!” ucap Yupi
“Eh.. Apa mungkin kamu berfikir kalau saldo dihandphonemu itu hilang gara-gara ulah si pencuri itu?” timbal Shani
“A.. Aku masih belum yakin sih, tapi...,” ucap Yupi menggantung
“Sudah! Pokoknya sekarang kamu ikut ke rumahku!” lanjutnya
“Eh?! Tapi aku harus...,” Shani tidak sempat melanjutkan kata-katanya, alhasil ia pun hanya menuruti perkataan Yupi
            ~oOo~
Saat dikediaman Yupi, mereka langsung membicarakan kembali tentang kasus pencurian itu. Kini mereka berdua berada di ruangan tamu, dengan ditemani oleh beberapa cemilan dan juga teh hangat.
Mereka pun mulai membahas kembali tentang hilangnya saldo dihandphone Yupi.
“Jadi...gimana?” ucap Shani
“Eh.. Aku bingung mau mulai darimana,” ucap Yupi
“Tidak perlu memaksakan diri, aku pasti akan menyimaknya,” balas Shani
“Huh...,” Yupi mulai menarik nafas panjang.
“Oke. Mungkin ini sedikit egois, tapi aku yakin 99% uangku itu telah hilang karena ulah si pencuri itu,” ucap Yupi
“Aku tau kalau aku tidak memiliki bukti apapun, dan mungkin aku hanya akan membicarakan hal ini padamu saja. Karena aku tidak mau kalau argumenku ini malah menjadi sebuah tuduhan nantinya,”
Shani terus menyimak Yupi.
“Tapi aku benar-benar sangat yakin kalau saldo dihandphoneku ini benar-benar hilang karena ulah si pencuri itu. Saat di jalan tadi, aku terus memikirkan tentang hal ini, aku juga mengingat-ingat kembali kapan aku memakai semua uangku. Tapi pada akhirnya aku tetap yakin bahwa saat disekolah tadi aku benar-benar tidak mengeluarkan uang sama sekali. Bahkan saat istirahat aku mengecek kembali saldo dihandphoneku,”
“Kamu mengecek kembali saldo dihandphonemu saat siang tadi?” ucap Shani bertanya
“Iya! Dan saldonya masih ada kok! Aku ingat kalau tadi itu aku melihat angka 140 Ribu di layar handphoneku ini!” ucap Yupi sembari menunjukan layar hanpdhonenya
“umm...,” Shani menggigit kuku jempolnya, ia tampak sedang memikirkan sesuatu
“Ah.. Ngomong-ngomong Shan, apa kamu tau...apa yang dilakukan si pencuri itu saat melancarkan aksinya di lapangan? M.. Mungkin kamu tau sesuatu...?” tanya Yupi
Shani menggelengkan kepalanya.
“Yang aku tau, *Pencuri* itu benar-benar sangat cerdik. Bahkan selama 1 bulan ini belum ada orang yang bisa memecahkan triknya dalam mencuri. Aku tidak tau cara apa yang dilakukan oleh si pelaku saat dirinya hendak mencuri uang dari mangsanya,” Jelas Shani
“Dan juga...kakak ku pernah bilang, korban curiannya di sekolah ini sudah sampai 21 orang,” tambahnya
“21 orang?! Dalam satu bulan sudah sebanyak itu?! Apa saja yang dilakukan oleh orang-orang OSIS itu selama ini?!” ucap Yupi dengan nada bicara yang amat tinggi
“Entahlah. Bahkan anggota OSIS pun sampai kewalahan dalam mengatasi kasus ini,” ucap Shani
“Cih! Jadi begitu ya. Kalau begini terus, bisa-bisa semua murid disekolah akan menjadi korban,” ucap Yupi
“Tapi...kapan pencuri itu mengambilnya dariku?! Bahkan ia mengambilnya lewat ponsel ini, sungguh tidak masuk akal,” tambahnya
“Eh! Y.. Yupi, coba kamu ingat-ingat siapa saja orang yang kamu temui seharian ini!” ucap Shani
Yupi mendesis. Ia mulai mengingat-ingat kembali siapa saja orang yang ia temui seharian ini
“Hanya ada 4 orang yang kutemui hari ini,” ucap Yupi. “Pertama kak Ilham, lalu yang kedua Beby, terus kamu. Dan yang terakhir adalah kak Jessica Veranda,” sebutnya
“Eh.. lalu, apa ada dari mereka semua yang kamu curigai?” tanya Shani
“Mm...Beby tidak akan mungkin melakukan hal itu padaku. Karena dia adalah temanku sejak pertamakali aku masuk ke sekolah ini. Lalu kak Ilham, dia juga tidak akan mungkin melakukan hal itu. Karena kak Ilham yang ku tau adalah orang yang ramah dan karena jabatannya di OSIS, mungkin juga dirinya selalu mementingkan kepentingan murid-murid 48 SHS. Dan kamu juga, aku tidak mungkin mengatakan kalau pencurinya adalah kamu,” ucap Yupi pada Shani
“Karena aku yakin kalau kamu pasti tidak akan punya keberanian untuk melakukan hal itu. Dan yang kedua, jangan lupa kalau kamu juga memiliki sifat Altruisme. Jadi aku sangat yakin kalau pelakunya bukanlah dirimu,” ucap Yupi kembali
Shani mengangguk.
“Dan yang terakhir adalah kak Ve. Aku juga tidak terlalu yakin kalau pelakunya adalah dia, karena dilihat darimanapun, dia itu memanglah orang yang baik. Dari sekian banyak orang yang kulewati saat sedang terluka tadi, hanya dia seorang yang menolongku. Bahkan saat aku berterimakasih padanya, dia hanya membalasnya dengan senyuman,” Jelas Yupi
“Jadi...bukan diantara mereka ya...,” ucap Shani, wajahnya kembali murung
Mereka kembali merenungkan hal itu. Lalu tiba-tiba Shani mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Benda yang dikeluarkannya itu adalah sebuah kertas.
“Apa itu Shan?” tanya Yupi
“Ini absen kelas. Sebenarnya hari ini aku mau mendata murid-murid yang sudah membayar uang kas,” Jelas Shani
“A.. Ah, maaf ya. Aku sampai melibatkanmu dalam masalahku sendiri,” ucap Yupi
“Tidak perlu meminta maaf. Aku ini kan ketua kelas, sudah pasti aku harus menolong seseorang yang sedang kesusahan, terlebih lagi orang itu adalah anak kelas  X-1,” ucap Shani
Yupi tersenyum setelah mendengarnya. “Makasih ya,” balasnya
Shani kemudian mulai mendata orang-orang yang sudah membayar uang kas. Ia mengambil pulpen dari dalam tasnya dan mencentang beberapa nama di kertas itu.
“Loh, murid dikelas kita cuma ada 24? Bukannya seharusnya ada 25 ya?” ucap Yupi
“Ada 25 kok. Soalnya nama Beby masih belum dicantumkan disini,” Jelas Shani
“Huh, salah dia sendiri sih. Waktu daftar ulang, dia kan yang paling telat ngumpulin data dirinya ke walikelas,” ucap Yupi kembali
“Oh.. Jadi itu ya penyebab kenapa nama dia masih belum dicantumkan disini,” ucap Shani
“Ya, begitulah...,” balas Yupi
Shani kembali mencentang beberapa nama. Beberapa saat kemudian, ia pun selesai melakukan tugasnya. Namun saat ia hendak memasukan kembali kertas itu, Yupi tiba-tiba ingin meminjam kertas absen itu.
“Aku pengen liat dong,” ucap Yupi
“Oh, boleh,” balas Shani, kemudian memberikan kertas itu pada Yupi
Yupi melihat-lihat semua hal yang ada di kertas itu, dari atas sampai ke bawah.
“Nih,” Yupi mengembalikan kertas itu pada Shani
“Udah?” tanya Shani
“Iya udah kok,” balas Yupi
Shani tampak membereskan barang-barangnya ke dalam tasnya.
“Mau pulang ya?” tanya Yupi
“Iya, maaf ya aku harus cepet pulang. Kakak ku juga pasti sudah pulang,” ucap Shani
“Yasudah. Kamu hati-hati dijalan, jangan sampai kamu jadi korban juga kayak aku,” ujar Yupi
“Yap! Aku pasti akan selalu waspada!” balas Shani dengan penuh semangat
Setelah berpamitan, Shani pun langsung pulang.
Tanpa mengantar Shani sampai ke depan rumah, Yupi lebih memilih untuk mengusut tuntas kasus yang sedang dialaminya sekarang.
“Huuuuuh...,” Yupi menghembuskan nafas panjang. “Aku harus mulai bergerak sekarang,” gumamnya


To Be Continue...

Roulette, Part 1 Roulette, Part 1 Reviewed by Melodion on Januari 03, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Beri dukungan kepada para penulis-penulis cerita yang ada di-Melodion cukup dengan memberi komentar (Pendapat, review atau pun kritik) dikolom komentar.

- Melodion team -

Diberdayakan oleh Blogger.