10 February 2018

A P R I L O G Y

Menceritakan sedikit tentang pengalaman hidup saya dan beberapa pengalaman saya saat membuat Fanfic. Dan ini adalah cerita terakhir saya sebagai penulis fanfic dan juga owner Melodion.
[ A P R I L O G Y ]
I. HITAM KUSAM
Saya tidak pernah peduli apa yang menimpa hidupku. Apa yang saya cintai maupun benci. Karena sesungguhnya saya tidak tahu apakah yang saya cintai atau yang saya benci itu baik untuk saya atau tidak.”- Umar bin Khatab -
Kalimat itu sedikit mencerminkan tingkahku yang dulu, walau berbeda aku menafsirkannya seperti yang disebutkan dalam kalimat itu. Aku dulu bagaikan buih putih yang senantiasa mengikuti kemanapun ombak saat menerjang bibir pantai.
Hanya mengikuti.
Dan terus menjadi buih.
Aku tak pernah memikirkan apa yang kulakukan itu baik untukku, apa itu buruk untukku.  Aku tak pernah memikirkannya, yang kulakukan tak sekedar dari individu manusia yang bebas tanpa jati diri.
Tanpa berpikir, seperti binatang tak berakal yang terus berjalan.
Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Sewaktu aku berumur 4 tahun kedua orang tuaku bercerai, abangku ikut dengan ayahku sedangkan aku dibawa oleh ibuku. Tak selang begitu lama, ibuku menikah lagi dan melahirkan seorang adik laki-laki untukku, hanya berbeda 3 tahun dari umurku.
Aku kira ayah tiriku adalah ayah kandungku, sampai akhirnya aku mengetahui semuanya semenjak aku berumur 10 tahun. Ayah kandungku juga sudah menikah lagi, hubungan ayah dan ibuku kandungku masih terjalin dengan baik, bahkan tidak ada masalah.
Hanya saja... aku lah yang bermasalah.
Aku tak tahu apa yang menyebabkan mereka bercerai, tapi kenapa mereka harus bercerai kalau mereka masih menjaga silahturahmi dengan baik.  Aku dulu menganggap ayah kandungku itu teman dari ayah tiri atau pun ibuku, dan aku dipaksa untuk mengakui orang yang sudah kuanggap ‘Om’ menjadi ayahku.
Semenjak itu aku menjadi pribadi yang pendiam.
Semenjak itu aku selalu menyimpan semuanya didalam hati.
Karena aku tidak berani, hanya sebuah insan kecil yang dipaksa ‘Memaklumi’ permainan dunia.
Aku tak bisa marah kepada orang tuaku, bahkan kepada orang tua tiriku.
Diusia itu aku masih terlalu takut.
Semuanya kupendam, tanpa bingkisan dendam.
Aku terus menjadi sosok itu hingga aku memasuki jenjang pendidikan Sekolah menengah Pertama (SMP), disitulah aku berkenalan dengan yang namanya ‘Kebebasan.’ Bahkan gara-gara ‘Kebebasan’ itu aku tertinggal 1 tahun (Ya aku tidak naik kelas)
Dan ‘Kebebasan’ menjadi pelarianku satu-satunya.  Aku selalu ingin melakukan apa yang ingin kulakukan. Bara jiwa muda yang sangat membara dengan picu jerami kering yang tersebar dimana-mana, kubakar dan terus kubakar.
Sudah kenyang aku mencicipi apa yang namanya kekerasan.
Sudah mual aku mencicipi apa yang namanya zat-zat kimia.
Sudah muntah aku mencicipi apa yang namanya minuman keras.
Kerikil demi kerikil sudah dirasakan telapak kaki hina ini disegala penjuru jalan yang berliku, berdarah pun aku tak menghiraukan. Aku terus membakar, dan membakar, jerami kering yang elok dalam kehidupan fana ini.
Kekerasan menjadi pedangku.
Kebohongan menjadi tamengku.
Kesombongan dan keegoisan menjadi baju zirahku.
Sumpah serapah menjadi komando perangku.
Akulah jalang duniaku yang sempurna waktu itu.
Bahkan aku tak mengenal lagi siapa diriku ini, hati hitam kusam merogot tubuh seperti aliran darah. Fase-fase kenikmatan dunia menyilaukan mataku, dan membutakan sanubariku.
Kuseru siapapun yang membuatku resah.
Kucibir siapapun yang kuanggap hina.
Kuludah siapapun yang kuanggap penjilat.
Kuhantam siapapun yang membuatku berang.
Emosi menjadi peliharaanku, kubelai dia, kumanja dia, sebagai ganti rasa nikmat semu dari semua yang kulakukan. Apabila 1 dari ke-4 hal itu tak sanggup kulakukan, maka yang tersisa hanyalah dendam.
Bait-bait kalimat bijak sudah pernah menjajah telingaku, tapi sayang itu tak begitu meresap didalam kepalaku, hatiku dan sanubariku. Pesimis adalah optimisku, aku tak pernah percaya apapun kata-kata orang yang bernada bijak.
Omong kosong!
Aku tak pernah percaya kalimat dari seseorang yang hanya mengutip kalimat itu dari kalimat orang lain tanpa mengalaminya sendiri. Karena bagiku, orang yang begitu banyak bicara, begitu juga banyak kesalahannya.
Aku… budak nyata dari pesimis.
Masa SMP hingga SMA adalah masa terpurukku, masa dimana aku bisa mengharamkan yang halal, dan menghalalkan yang haram. Aku benar-benar merasa bebas, bebas dari semuanya. Pikiran bodoh sesaat yang membuaiku seperti itu,  disaat aku menulis kalimat ini pun aku sudah lama menyadarinya. Kalau aku berdiri bebas diatas kekebebasan orang lain.
Aku benar-benar sampah diwaktu itu.
Aku benar-benar hina dihari itu.
Aku benar-benar munafik ditahun itu.
[ A P R I L O G Y ]
II. ALUR KEHIDUPAN JAMAN ITU
Masa SMA aku tidak berubah sama sekali.  Meski sifatku begitu aku bukanlah pribadi yang suka mencari onar, tapi bukan berarti aku tidak bisa berbuat onar.
Aku layaknya bensin, yang siap diberi api.
Aku adalah sebuah reaksi, dari sebuah aksi.
Begitulah keadaanku dulu.
Aku memiliki beberapa teman yang cukup dekat denganku semenjak kelas 1 SMA, rata-rata adalah temanku sewaktu aku SMP dan beberapa anak SMP dari sekolah lain saat aku sering keluyuran malam.
Ada Arya, siswa paling tampan dikelasku dan selalu membanggakan giginya yang putih bersih, ada kelebihan ada kekurangan, walau tampan dia tidak pandai berbicara dengan wanita. Gagu maksimal.
Lalu ada Ega sepupunya Arya, orang yang tak pandai diam dan selalu mengomentari apapun yang dilihatnya.  Orang yang mengenalkanku dengan dunia maya dan bisnis-bisnis didalamnya, baik haram mau pun halal. Orang yang paling sinis dengan orang yang sok tahu, sok pintar, sok kenal dan sok dekat dengannya, pribadi yang suka memusuhi orang dengan 4 kriteria tersebut. Sampai sekarang.
Ada juga Adis, bisa dibilang dia ini partner crime-nya Ega semenjak SMP.  Ketertarikannya dengan Internet melebihi orang-orang disekolahku.  Ia bahkan pernah membeli sesuatu dari rekening orang lain, dan tentu saja dijualnya lagi.  Tak susah mencari dia, karena dia pasti ada disalah satu Warnet didekat rumahnya. Lebih tepatnya warnet kakak sepupunya.
Lalu Niken, wanita ini sangat cerewet kalau soal kerapian. Dia dijuluki ‘Ibu Kelas’, karena semisalnya baju seragamku dan anak-anak kelasku yang lain keluar maka dia yang getol memasukkannya. Selain itu dia juga ketua arisan dikelas, yang pasti arisannya itu sudah menyamai arisan para ibu-ibu.
Keisha, dia ini siswi yang paling cantik dikelasku. Wajahnya lembut, tutur katanya halus. Mungkin dia bisa dibilang 11/12 dengan Jessica Veranda yang dimana fans-nya mengira Veranda juga seperti itu. Tapi itu akan berubah saat dia marah apabila lupa membawa sesuatu atau pun kejadian-kejadian yang membuatnya marah, karena dia tak segan-segan mengucapkan kata “BANGSAT/BRENGSEK/SIAL” dengan lantang.
Lalu Erik dan Ijonk, 2 orang yang pernah mencari ribut denganku.  Mereka dulu menilaiku sombong karena aku tak pernah menegur. Karena aku dulu memang tak pernah menegur siapa pun kalau tidak ditegur duluan. Gara-gara itu aku berselisih dengan mereka berdua, hingga akhirnya kami berdamai dan berteman sampai sekarang.
Kemudian ada Dharta, temanku yang ajaib. Dia berpacaran dengan anak kelas sebelah, dan lucunya adalah mereka tidak tahu kalau mereka berdua adalah saudara sepupu, sampai akhirnya mereka saling mengetahui dan memilih putus. 
Ada Damar yang polosnya minta ampun. Baik guru mau pun teman sekelas sering menjadikannya bulan-bulanan, Damar ini seperti ‘Orang kampung yang masuk kota’ meskipun dia ini sebenarnya anak kota. Yah... pokoknya dia benar-benar polos. Bahkan ada wanita memberinya senyuman dikiranya wanita itu naksir dengannya hingga dia Ge’er sendiri.
Made, dia ini seperti diriku hanya saja keunikannya yang membuat itu berbeda.  Wajahnya Jawa, namanya Bali tapi gaya ngomongnya tak pernah lepas dari logat Arab-Indo yang ‘Ane-Ente’.  Yang kumaksud seperti diriku adalah tidak akan berbicara kalau tidak diajak berbicara duluan. 
Yunike dan Shani (bukan Shani JKT48), 2 wanita yang duduk didepan bangkuku ini adalah korban ‘Hilangnya pen disekolah’, pelakunya tentu saja aku dan teman-temanku yang lain. Meski begitu aku dan teman-temanku juga menjadi korban mereka karena mereka ini suka bernyanyi. Suaranya? Sanggup memusnahkan populasi nyamuk disekolah.
Meike, cewek tomboy dikelasku. Anaknya supel, asyik, seperti tak habis baterai dalam hidupnya. Suka mengajak temannya senang bersama-sama dan susah bersama-sama. Susah bersama-sama yang dimaksud adalah saat guru masuk dengan lantang dia bilang, “Pak ada tugas!”, dan 80% siswa/i dikelas tidak mengerjakan tugas, lucunya adalah..... dia juga salah satu dari 80% itu. Tipikal suka menggali kuburan sendiri, tapi teman sekelas diajaknya. Yah, yang pasti dia benar-benar membawa keceriaan didalam kelas.
Dan Indra adalah temanku yang paling menyebalkan dikelas. Dia ini sering ‘Ke-Jepang-Jepangan’, tahu tokoh kartun Jepang yang selalu menyendiri dan tidak mau bergaul? Itulah Indra dengan segala ke-Emo-an-nya. Dia bahkan pernah berkata dengan sendirinya kalau, “Aku tak butuh teman, temanku adalah kesendirian.”. Tapi saat ulangan pasti dia akan meminta  keteman-teman, “Eh-Eh, minta jawaban nomor 2.” Yang terakhir kulihat dia mengikuti gaya duduk L (Death Note), dia jongkok diatas kursi saat pelajaran sampai akhirnya ia dihukum oleh guru untuk duduk jongkok diatas kursi, dihalaman sekolah. Well, disegala keanehannya dia tetap loyal sebagai teman.
Masih ada teman-teman sekelas yang lain, tapi kurasa segitu saja cukup.
Aku juga mempunyai teman dari kelas lain, sebut saja Enu, Bayu, Ozy, Pris, Eno, Felix, Kevin, Bisma (sering dipanggil Beng-Beng) dan teman-temanku yang lain dan yang kusebutkan namanya dengan huruf tebal diparagraf ini bernasib sama denganku, yakni tidak naik kelas setahun waktu SMP dan merekalah anak SMP lain yang sering keluyuran bersamaku sewaktu SMP.  Kami kembali menjadi teman karena sebuah ‘Kesatuan’ yang sering kami lakukan selama disekolah.
Yaitu merokok dibelakang kantin.
‘Kenakalan’ biasa ini mempertemukan kami semua.  Terlebih lagi ada beberapa ‘Sifat’ kami yang sama. Yang namanya ribut dengan ‘Geng sekolah’ sudah menjadi santapan kami, disetiap sekolah pasti ada yang seperti itu. Entah kalau dijaman sekarang.
Selama dikeributan itu aku tak pernah menjadi ‘Pelopor’, hingga akhirnya itu terjadi saat aku berselisih dengan kakak kelas 2 bernama Beny. Penyebabnya sederhana, aku tak sengaja menyengol motor dia yang terparkir hingga jatuh.  Aku mau mendirikannya tapi tiba-tiba kepalaku digeplak olehnya dari belakang dan mengataiku “Hati-hati” dengan gaya angkuh dirinya sebagai ‘Kakak-kelas’. Aku tak pernah segan dengan kakak kelas 2 karena bisa dibilang aku ini sepantaran dengan mereka.
Aku tadi sudah menyebutkan kalau aku ini ibarat bensin yang tinggal dikasih api bukan? Ya, disitulah aku membalasnya hingga terjadi keributan dan berakhir dengan mendekamnya kami diruang BP.
Kata “Maaf” memang terlontar dari mulut kami, tapi tidak setelah kedua tapak kaki kami keluar dari ruang BP.
Kami sering bersilisih.
Baik sindir-sindiran, hingga berujung keranah fisik.
Bahkan kelas 2 (Teman-teman Beny) berselisih dengan anak kelas 1 (Aku dan teman-temanku) hingga berujung pihak sekolah menyuruh orang-orang tua kami untuk datang menemui wali kelas kami masing-masing. Gara-gara Ega dan Ozy dibentar WOY oleh anak kelas 2.
Aku hanya memberitahu ayah kandungku, tidak ibu kandung dan ayah tiriku untuk datang kesekolah. Karena kalau dalam masalah ini aku memilih ayah kandungku untuk datang karena aku tahu dia tidak akan memarahiku, hanya sedikit nasihat yang sekedarnya.
Itulah kenapa aku merasa ‘Bebas’.
Berkat perlindungan dari ayah kandungku lah aku merasa selamat dari tingkahku selama ini yang tidak diketahui Ibu kandungku, karena kalau beliau (Ibuku) tahu, aku akan merasa bising mendengar ceramahnya yang tak menentu.
Aku masih menjadi sosok ‘Gelap’ diantara keluargaku.
[ A P R I L O G Y ]
III. ROMAN PICISAN
Hubungan antara anak kelas 1 dan kelas 2 sedikit membaik, kami juga sering merokok bersama dibelakang kantin, merasakan keseruan bersama-sama menghilangkan bukti saat melihat guru datang.
Hanya aku dan Beny yang masih segan untuk bertegur sapa. Gengsi telah mempermainkan kami sebagai pion caturnya.
Meski sikapku seperti ini, aku tetaplah siswa biasa pada waktu itu. Aku juga ingin merasakan yang namanya pacaran setelah banyak dari teman-temanku sudah mempunyai pacar.
Pacar pertamaku adalah teman sekelasnya Bayu, sebut saja Mawar (Bukan nama sebenarnya), sengaja aku mengganti namanya karena saat itu aku telah menjadi selingkuhannya (Aku tidak mau merusak namanya disini).  Dan ini gara-gara aku juga sebenarnya sehingga dia berselingkuh, aku cukup percaya diri karena teman-temanku (Baik pria dan wanita) menyebut tampangku ini lumayan.
Ya, aku masih berpikiran dangkal kalau wanita bisa luluh gara-gara tampang walau kenyataannya Mawar memang mau denganku karena hal itu. (Aku mengetahui dari teman-temannya saat kami putus.)
Aku merasa bosan dan capek menjalani hubungan ini, seperti orang bodoh. Saat dia mendapat telepon dari ‘Pacar aslinya’ dia selalu berbohong ini itu, tanpa aku sadari aku lah yang membuatnya seperti itu hingga ia terpaksa berbohong. Aku pun memutuskannya, padahal aku yang mengajaknya berselingkuh. Parahnya dia memohon untuk balikan dan ia mau agar aku terus menjadi selingkuhannya.
Gila bukan? Tentu saja aku mengabaikannya.
Lalu yang kedua adalah Bunga (Bukan nama sebenarnya), dia anak sekolah lain. Dia ini seperti wanita yang tidak pernah berpacaran sebelumnya.  Ini karena dia sering mengirim SMS dengan nada yang sama sebagai topik pembicaraan, yaitu ‘Lagi apa?’
Untuk hari pertama pacaran ya wajar-wajar saja, tapi untuk kehari-hari kedepannya itu terus dilakukan. Bahkan aku sendiri tak sempat melakukan balasan ‘Lagi apa?’ untuknya.  Terlebih lagi, ‘Lagi apa?’nya itu sering dilakukan saat kami selesai bercakap lewat SMS. Seperti dibawah ini.
Dia : Lagi apa?
Aku : Lagi ini itu bla bla bla bla (Pokoknya hingga terjadi percakapan.)
Percakapan kami selesai, 5 menit kemudian dia akan mengirim SMS lagi.
Dia : Lagi apa?
Aku pernah kesal karena hal ini, bahkan aku pernah membalasnya dengan balasan, “LAGI BERAK!”

Dan dia ini Visioner, setiap aku datang ngapel kerumahnya, perbincangan yang ia berikan tak jauh dari, “Nanti rumah kita pasti ada ini itu pas nikah, lalu anak kita ini itu, lalu aku kerja ini itu dan kamu kerja ini itu dan sebagainya.”
Aku hanya bisa mengiya-iyakan khayalan dia yang merasa hubungan kami akan  sampai ke jenjang pernikahan.  Tapi aku dengan sifatku yang seperti yang kubilang sebelumnya? Tentu saja muak.
Aku pun putus dengannya dan gara-gara itu aku sering diteror olehnya lewat SMS berikut sumpah serapahnya ditiap teks (Cowok anjinglah, cowok itulah dll).  Isi makian itu seolah-olah aku ini sudah mengambil keperawanan dia.  Boro-boro perawan, ciuman saja tak pernah.
Gara-gara itu aku mengganti nomor HP-ku.
-----
Selama berpacaran dengan ke-2 mantanku itu, aku sering bercerita dengan seseorang di-dunia maya lewat Yahoo Messenger. Nama akunnya PlainVanilla, aku berkenalan dengannya sewaktu iseng bermain MiRC selagi menunggu Adis dan Ega melakukan ‘aksi kriminal’ mereka didunia maya, dan dari MiRC berlanjut ke Email, kemudian berlanjut lagi ke-Yahoo Messenger.
Anaknya asik, supel, dan dari info yang masing-masing kami berikan ternyata dia kelas 1 SMA sama sepertiku.  Mungkin bisa dibilang dia ‘Sepemikiran’ denganku, disaat orang lain membicarakan khayalan maka kami membicarakan hal-hal yang realistis. Ia juga terkadang puitis, bagi dia yang bisa menyenangkannya adalah membuat puisi.
Sedangkan aku? Yang bisa menyenangkanku pada waktu itu adalah Ganja.
Ganja menjadi ‘temanku’ selama di-Warnet nya Adis pada malam hari tepatnya sehabis keluyuran malam-malam, kadang aku bersama temanku (Ditambah anak kelas 2) melakukan ini bersama-sama dilantai 2.  Kami juga tahu kode 420 hanya saja kami menggantinya dengan kata ‘Biasalah’. Karena itu aku tergelitik untuk menertawai orang yang ada di-Sosmed jaman sekarang yang membuat status ‘420 time’.  Seolah ingin diakui sebagai orang yang mengkonsumsi ganja apalagi ditambah gayanya yang berlagak teler dengan senyum fly dibuat-buat gara-gara ganja.
Agak gimana gitu...
Dan kembali ke-PlainVanilla, aku dan dia sama-sama tidak tahu bentuk fisik lawan bicara kami seperti apa. Kami juga pernah melakukan Voice call lewat YM, tapi karena jaringan yang lelet, suara kami tersendat-sendat dan terkadang tak nyambung seperti ini.
Dia : Halo Dis, Dis, kedengaran gak? (Dia memanggilku Dis, karena username YM ku bernama Distorsicks)
Aku : Hah? Apa?
Dia : Suaraku kedengaran gak?
Aku : Gagak? Kamu melihara gagak?

Dulu jaringan internet benar-benar lelet, hal itu kami maklumi tapi yang pasti kami berhasil memberi info yang jelas kalau aku ini benar-benar pria dan dia itu wanita.
Aku terkadang penasaran seperti apa rupanya, tapi dia pernah berkata kalau ini benar-benar unik, 2 orang yang hanya mengenal dari sini (dunia maya) tapi sudah seperti kenalan lama, bahkan ia berkata tidak apa-apakan selalu berbicara disini (didunia maya) dan tidak memasang avatar dengan foto-nya
Aku mengiyakan saja walau sebenarnya aku penasaran setengah mati.
Tapi... ya, aku memang merasa nyaman. Mempunyai teman lain selain didunia kenyataan. Aku merasa itu tidak masalah buatku dan aku memang lebih suka mengobrol saja dengannya.
Hingga pada akhirnya saat semua SMA hendak melakukan ujian kenaikan kelas yang akan diadakan seminggu lagi.  Aku waktu itu sedang melihat adikku sedang bermain Game di konsol Dreamcast dengan gayanya yang tengil (Mulut dan badannya tidak bisa diam). Aku mendapatkan chat dari Plain, dan aku heran, karena dia mengirim sebuah foto. Foto seorang wanita manis bertekstur oriental (11/12 dengan Shani JKT48)
Aku tentu saja merasa penasaran, dan bertanya itu siapa, dan dia bilang itu adalah potret dirinya.
Aku tentu saja merasa heran, dan bertanya kenapa mengirimkannya. Dia bilang kalau dia merasa kalau aku dan dia cocok,  dia berkata kalau dia mengirim fotonya sendiri untuk menunjukan keseriusannya.
Aku tentu saja merasa bingung, dan bertanya serius dan cocok dalam hal apa? Dan dia berkata dia ingin menjalin hubungan serius denganku.
Disaat itulah aku tidak merasakan apa-apa.
Dalam urusan ini aku tentu saja bertanya lebih detail, kenapa dia bisa menyukaiku. Dari aku, seorang sosok dunia maya yang tak jelas yang bisa menarik perhatiannya. Dia bersedia menjelaskan, semua penilaian yang ia berikan selama aku menemaninya mengobrol di-Chat.
Dan itu adalah kebalikan dari sifatku didunia kenyataan.
Aku lantas bertanya apa dia benar-benar serius, dia bilang iya.
Aku lantas membujuknya apa dia tidak mau hubungan kami hanya sekedar teman saja, dia bilang tidak.
Dan dia memberiku cara kalau aku mau menerimanya, dia meminta aku mengirim fotoku, dia tak perduli aku jelek atau tidak asalkan dia tahu rupaku, dia juga ingin tahu lebih banyak tentangku bahkan sekolahku.
Aku benar-benar bingung, aku tak masalah dengan itu semua. (Mengirim foto walau pun aku tak suka berfoto.)
Semua penilaian dia dari diriku itu salah besar.
Dia mengagumi alter ego-ku.
Aku memandang fotonya lagi, cantik, manis, semua pria pasti juga akan tergila-gila dengannya. Tapi kenapa dia bisa menyukaiku?
Menyukaiku yang dari dunia maya.
Menyukaiku yang hidupnya seperti sampah.
Menyukaiku yang mengikuti alur kemauan dan dorongan ego.
Tapi aku tak bisa melakukan ini kepadanya, dia akan kecewa dengan sifatku yang sesungguhnya, aku telah memberinya harapan semu kepadanya dengan sosokku didunia maya. Aku tak bermaksud seperti ini, tapi kenapa akhirnya harus seperti ini?
Aku terjebak dalam dua sisi.
Disatu sisi aku bisa saja menerimanya dan tak perduli dengannya seperti pengalamanku yang sudah-sudah.
Tapi disatu sisi aku tidak bisa membiarkan dia menerima sifatku, mungkin aku sama dengannya yang menilai, aku merasa dia gadis yang baik-baik. Dan aku merasa dia tidak pantas menerima kelakuanku nanti.
Aku memikirkan ini matang-matang.
Hingga akhirnya aku membuat keputusan.
Aku meminta adikku memotretku meskipun adikku geli melakukannya, mengira aku narsis minta difoto. Aku melihat hasilnya, agak gelap karena pixel kamera HP jaman itu tidak secanggih jaman sekarang tapi yang pasti rupaku terlihat jelas.
Aku mengirimnya kepada Plain dan ia memuji tampangku (Padahal kalau kuingat-ingat fotoku waktu itu seperti Keanu Reeves kejepit risleting celana kemudian ditabrak becak dan bus bersamaan), tapi sebelum ia salah paham maka aku duluan yang berbicara dengannya lewat chat.
Aku mengatakan kalau aku tidak bisa menerimanya.
Dia bertanya kenapa.
Aku mengatakan kalau aku tak pantas untuknya.
Dia bertanya mengapa.
Aku mengatakan semuanya, semua sifat-sifatku yang asli dan memberi kebenaran tentang alasan aku putus dengan 2 mantanku.
Dia berkata akan menerimaku apa adanya.
Aku meyakinkannya kalau ia tak akan sanggup, bahkan aku sendiri tak sanggup mengontrol diriku sendiri.
Dia bertanya lantas kenapa mengirim fotoku.
Aku berkata supaya dia bisa melihat rupaku untuk memberi kesan ‘Pria inilah yang melakukan ini kepadamu. Seorang pria bangsat yang telah menipumu sehingga memberimu harapan semu’.
Percakapan berhenti disitu, aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Sampai akhirnya ia kembali berbicara dan berkata ingin menemuiku sekali saja.
Aku bilang jangan seperti ini, dia masih ngotot dan ia mengatakan ia berada disalah satu daerah yang agak jauh dari daerahku. Dan ia terus memaksaku untuk menyebutkan di daerah mana aku berada, terus menerus.
Aku mencoba membujuknya untuk berinteraksi lewat web-cam, setidaknya dia bisa melihatku langsung dari itu. Tapi dia tidak mau dan benar-benar ngotot untuk menemuiku.
Disinilah aku benar-benar sadar, aku benar-benar merasa bersalah telah membuatnya seperti ini. Aku sekali lagi membujuknya agar dia mengurungkan niatnya, yang kudapatkan sebagai balasan adalah beribu-ribu kata ‘Jahat’ diselingi emoticon menangis.
Setiap aku menulis kalimat pasti dibalasnya dengan emoticon itu. Ini terjadi hingga seluruh SMA sedang melaksanakan hari-hari ujian. Aku benar-benar baru pertama kalinya merasakan rasa bersalah seperti ini.
Lalu aku menerima chat-nya lagi, ia mengirim sebuah puisi yang menceritakan bagaimana jadinya kalau kami bersama.
Aku menjadi milikmu, untuk sekarang dan selamanya. Aku menggenggam tanganmu, untuk sekarang dan selamanya.
Bait-bait puisi darinya membuatku terdiam, karena itu adalah harapan dia yang diinginkannya apabila kami bersama.  Aku akhirnya membuat keputusan bulat, aku mengirim kata “Jangan terlalu beharap denganku, hanya kekecewaan yang kau dapat.”
Ia kemudian membalas, “Berani berharap, berani kecewa.” Sebuah kalimat yang menandakan ia berani mengambil resiko untuk ini.
Aku tidak bisa berkata-kata apalagi, aku pun memutuskan untuk menulis kalimat terakhir untuknya. Hanya sebuah kalimat, “Maaf. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang kau harapkan.”
Aku kemudian menggangti password Yahoo Messenger-ku dengan password asal-asalan dengan kata yang aku sendiri tak mampu mengingatnya.
Dan disitulah aku terakhir kalinya berbincang dengan Plain Vanilla.
Ya itulah aku, memutuskan suatu hal secara sepihak.
Hanya memikirkan nasibku.
Meski orang harus tersakiti dengan perbuatanku.
Dan itu menjadi salah satu pengalamanku yang paling unik didunia maya.
[ A P R I L O G Y ]
IV. TITIK BALIK PERILAKU SELAMA INI
Liburan kenaikan kelas seharusnya menjadi hari kebebasan bagi anak-anak sekolah.  Akan tetapi tidak denganku. Ada suatu masalah yang malas kuberitahu permasalahnya, yang jelas masalah itu begitu serius hingga aku dan teman-temanku harus berurusan dengan pihak yang berwajib.
Yang jelas dari pemeriksaan maka ditetapkan aku bersama Bayu harus mendekam dipenjara selama 15 hari (Tertolong karena perkara kasus karena ‘Membela diri’ dan juga umur kami yang masih dibawah umur) , karena kami berdua melakukan hal yang bisa dibilang ‘Parah’. Disaat itulah aku merasakan ‘Kasih sayang’ keluarga disaat mereka menjengukku.
Aku dihajar abangku.
Dan dihajar juga oleh ayah kandungku.
Ya, itu dia kasih sayangnya.
Apa yang kulakukan ini benar-benar memalukan keluarga.
Aku menerima itu semua, tapi hanya 1 yang sulit untuk kuterima.
Yaitu tangisan ibu kandungku.
Tangisan dari seorang wanita yang mempertaruhkan nyawanya saat melahirkanku.
Ia menangis untukku.
Untuk anaknya, yang telah mengecewakan dirinya.
Untuk anaknya, yang telah menjadi ‘Belatung ditumpukan sampah’.
Aku benar-benar tak tega mendengar suara tangisnya.  Tapi kenapa aku tidak bisa menangis... kenapa aku tidak membalas pelukannya.... aku ingin bersujud dan mencium kakinya sebagai bentuk penyesalanku...
Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Aku bahkan tak mengenal diriku ini.
Apa aku sudah dikendalikan sepenuhnya oleh hitam... hingga tak secuil putih yang tersisa.
Aku masih budak dari yang namanya kebodohan.
Aku masih menjadi ‘Pelacur’ dari yang namanya ‘Nafsu’.
Aku benar-benar bodoh... sangat-sangat bodoh.
Mungkin ini karena aku aku sudah ‘Terlena’ hingga menjadi ‘Kebiasaan’.
Aku sosok manusia yang terlena dengan yang namanya dunia, kenakalan yang kulakukan pun bukan dalam tingkat remaja. Aku benar-benar terbuai dengan yang namanya kehidupan fana.
Tanpa henti.
Lanjut.
Dan terus berlanjut.
Aku begitu larut dan lebur dengan yang namanya kenikmatan dunia. Hatiku benar-benar tertutup untuk sesuatu yang menyedihkan bagi orang lain, aku tak pernah menyesal dengan apa yang kulakukan, aku selalu melakukan apa yang ingin kulakukan. Kebodohan ini terus berlanjut dan berlanjut.
Aku sudah tenggelam dalam kebodohan yang hakiki, jikalau ada mesin waktu tercipta didunia ini, ingin kubunuh diriku sendiri dimasa itu, kan kuhantam dengan batu nisan yang kuukir dengan namaku sendiri. Aku benar-benar malu dengan diriku sendiri waktu itu… aku benar-benar malu.
Setengah bulan menjadikanku waktu tuk merenung, dibalik dinginnya jeruji besi. Menjadi titik kesadaranku yang mulai terisi.
Aku berpikir apa yang sebenarnya yang kulakukan selama ini?
Aku merasa bebas selama ini.
Tapi aku bingung..... Aku ini bebas dari apa sebenarnya?
Aku merasa lagi-lagi dipermainkan oleh kehidupan, akan tetapi alur permainannya yang kupilih sendiri. Inilah yang menjadikanku sosok yang hina selama ini.
Menjadi sosok yang sebenarnya kubenci.
Bahkan kalau kupikirkan sekarang betapa gobloknya aku dahulu. Aku memang bebas, tapi aku berdiri bebas dari kebebasan orang lain yang kurenggut.
Dan disaat hari kebebasanku dipenjara...
Aku bertekad... Untuk Mengubah... Alur hidupku.
[ A P R I L O G Y ]
V. KELUARGA
Aku dan Bayu bisa dibilang siswa yang paling terlambat memasuki semester baru dikelas 2, kasus yang kami perbuat tidak melibatkan sekolah karena itu pihak sekolah tidak memberi kami sanksi atau pun mengeluarkan kami dari sekolah, dan aku berdua Bayu menjadi sosok yang ‘Terkenal’ gara-gara itu.
Terkenal gara-gara kasus itu? Hanya orang TOLOL yang membanggakannya.
Aku menjalani kehidupan ‘Normal’ ku disekolah, meski sekarang aku mencoba membatasi diri.
Dulu aku sering berkumpul bersama yang lain untuk minum-minum, dan sekarang aku hanya ikut membeli saja tapi jarang ikut minum.
Malam hari biasanya aku sering keluyuran, dan sekarang aku mencoba untuk mendekam selama dirumah walau tidak setiap hari. Dirumah saja aku kaget melihat tingkah adikku yang tengilnya bertambah 10 kali lipat bukan main. Lihat? Bahkan aku tidak mengenal keluargaku sendiri padahal sudah bertahun-tahun aku menjadi abangnya. Walau kebiasaan dia seperti diriku, selalu memakai topi berwarna hitam.
Aku mulai membiasakan diri dengan kebersamaan keluarga disaat ada acara.
Aku mulai belajar berbicara yang baik, karena mulutku ini benar-benar kotor dulunya, segala isi kebun binatang dan sumpah serapah sudah menjadi bahasa formal-ku dahulu.
Aku mulai belajar tata krama dan sopan santun.
Padahal aku waktu itu sudah SMA, tapi seperti bocah yang harus dituntun terlebih dahulu.
Dan yang paling sulit kulakukan adalah mengakrabkan diriku dengan ibu tiriku yang dinikahi ayah kandungku. Dia baik, hanya saja dulu aku selalu bersikap ‘Kasar’ kepadanya.  Ayahku juga sering menasehatiku jangan seperti itu, tapi dulu aku menganggapnya sebagai pengadu hingga aku terus membencinya.
Dan akhirnya aku sadar aku salah besar.
Ibuku (Ibu kandung) pernah berkata kepadaku kalau ibu tiriku pernah menelponnya,
Ia ingin tahu apa kesukaanku,
Apa yang kusenangi
Dan apa yang kusukai. 
Ibu tiriku itu (maaf) tidak bisa mempunyai anak (M), karena itu ia mau menganggap anak dari ayah kandungku itu sebagai anaknya, begitulah penuturan yang kudapatkan dari ibu kandungku.
Jadi selama itu setiap aku datang kerumah ayah kandungku, aku membiarkan ia memperlakukanku seperti yang ia mau. Tidak ada ekspresi sinis yang kuberikan kepadanya seperti yang dulu-dulu, hanya sebuah lontaran maaf atas sikapku selama ini. Dan aku lagi-lagi merasa menjadi orang yang paling bersalah dimuka Bumi ini.
Ibu tiriku menangis, memelukku dan juga meminta maaf kepadaku... aku tak tahu apa kesalahan dia, dia tidak salah, yang salah adalah aku, karena aku sembarangan menilainya selama beberapa tahun ini.
Aku juga berpikir, ayah tiriku juga baik kepadaku, bahkan kepada abangku dan dengan semua keluargaku.
Lalu kenapa aku seperti ini?
Aku akhirnya menyadari kalau aku beruntung masih memiliki keluarga yang perduli kepadaku meskipun beberapanya adalah keluarga tiri.
Kemana saja aku selama ini untuk menyadarinya?
Aku masih beruntung!
Sangat beruntung!
Aku masih memiliki ayah dan ibu, bahkan 2 ayah dan 2 ibu yang perduli denganku. Entah bagaimana jadinya kalau aku terlahir yatim, diluar sana masih ada orang yang seusiaku yang rindu akan keberadaan orang tuanya yang sudah tiada.
Ada orang yang seusiaku ingin memiliki keluarga yang mereka idam-idamkan.
Aku benar-benar sadar akan kebodohanku.
Kebodohanku adalah terlalu larut dalam masalah masa lalu.
Ada suatu kesempatan aku menghampiri ibu kandungku, aku bertekuk lutut, aku mencium kakinya, aku menangis dan aku terus menerus mengeluarkan kata maaf atas tingkahku selama ini.
Dan betapa mulianya ibuku, ia masih mau memaafkanku, masih mau menerimaku. Dan kalimat ini selalu membekas dikepalaku sampai sekarang disaat menenangkanku.
“Tidak ada yang namanya mantan keluarga, mantan ibu atau pun mantan ayah. Kamu anak ibu, apapun yang kamu lakukan diluar sana, kamu tetap anak ibu, ibu tidak akan membuangmu gara-gara itu. Kamu anak ibu, kesayangan ibu, baik abang kamu, kamu dan adik kamu.”

Menerima kata-kata ibu bagaikan seribu cambuk menghantam diriku.
Dan hati hitamku.
Perlahan terkikis.
[ A P R I L O G Y ]
VI. KEHIDUPAN NORMAL SMA
Disekolah aku mencoba mengubah alur pergaulanku selama ini. Aku yang dulu menyapa saat disapa duluan, maka terkadang akulah yang memulai menyapa. Proses perubahanku tidak terlalu drastis, jadi tidak menimbulkan keheranan bagi teman-temanku yang lain.
Yang pasti aku harus menahan emosiku dan menjaga etikaku.
Dulu ada orang yang ‘Sok jago’ atau petantang petenteng jalannya menjadi incaranku dan teman-temanku. Tapi itu tidak lagi kami lakukan, bahkan salah satu temanku menyuruh jangan melakukan hal yang tak penting seperti itu lagi.
Tapi sebagai gantinya kami ngata-ngatain orang-orang yang seperti itu. Sebagai bahan ledekan dan obrolan kami semua. Yah... ujung-ujungnya kami juga melakukan hal yang tak penting.
Masih sulit bagiku untuk berubah.
Terkadang aku masih menyicip-nyicip minuman keras.
Terkadang aku masih melinting ganja ditempat yang sama.
Terkadang aku masih melakukan ‘Kenakalan’ biasa dalam ‘Menyicipi’ dunia malam.
Kebiasan yang sudah menjadi ‘Kebiasaan’, memang sulit untuk dihapus.
Aku juga mulai berusaha mandiri seperti Adis, walau caraku agak sedikit yah... terkadang haram mau pun halal dalam dunia Internet. Kalau halalnya sih ya, jasa leveling, jual barang/item salah satu game, bikin blog/akun sosmed untuk orang yang gaptek... Dan kalau haramnya... hmmm  yang pasti baju/sepatu impor bukan hal yang ‘Waaah’ bagiku, begitu juga Ega dan Adis karena mereka sudah melakukannya lebih dulu. Apalagi bisnis clothing lagi segar-segarnya pas jaman itu. (Baju band luar ini itu dan lain-lain.)
Tapi dari segala proses diriku ini untuk berubah, hanya 1 yang ingin kembali kulakukan, yaitu pacaran.
Aku tak tahu kenapa, padahal aku sudah memiliki 3 pengalaman yang berhubungan dengan ‘Asmara’ dan dalam hal ini entah kenapa aku tidak ada kapok-kapoknya.
Mungkin karena ‘Kalah saing’.
Itu karena Damar dan Ijonk telah mempunyai pacar. Hal yang menurutku ‘Mustahil’ tapi ternyata benar-benar terjadi didepanku, apalagi pacarnya Damar, namanya Fabella, anggota OSIS, tinggi, cantik, putih, pinter dan kok bisa pacaran sama Damar? Bahkan Arya pernah berkomentar.
Arya : Kok bisa ya? padahal gue lebih ganteng.
Aku tak menggubrisnya.
Dan mungkin ini sedikit membuka mataku, wanita tak selamanya memandang fisik. Mereka adalah mahluk yang memakai perasaan, dan menurut Damar dengan polosnya berkata kalau dia sendiri tidak tahu, dia nembak eh diterima. Dia bilang udah lama sering ketemu Fabella karena rumah mereka berdekatan. Tidak ada info akurat yang didapat dari Damar, akhirnya dari Niken lah kami mendapatkan jawabannya karena Niken teman dekat Fabella dari SMP. Niken bilang kalau Fabella merasa nyaman dengan Damar.
“Nyaman?” tanyaku.
“Ya,” Niken mengangguk.
Damar pun menyombongkan diri gara-gara itu karena berhasil membuat Fabella nyaman dengannya.  Kami juga ingin membuktikan ‘Nyaman’ yang dimaksud, kami menduduki Damar rame-rame layaknya ‘Nyaman seperti duduk disofa’ hingga ia menjerit-jerit tak karuan. Sebenarnya kami tahu ‘Nyaman’ yang dimaksud, kami mendudukinya gara-gara wajah polos angkuhnya tadi.
Menyebalkan.
Tapi semenjak saat itu aku mulai berpikir, “Ada tidak ya wanita yang nyaman denganku?”
Dari 3 pengalaman yang kualami aku tak bisa mengetahui apa mereka nyaman denganku atau tidak. Justru aku yang merasa nyaman, tapi pas awalnya saja, apalagi pas pacaran rasa nyaman tidak berlangsung lama. (Untuk kasus Plain berbeda, hilangnya rasa nyaman saat dia mau memiliki hubungan denganku.)
Aku kemudian mencoba mendekati seorang gadis yang menarik perhatianku selama aku masuk sekolah.  Ia murah senyum, lugunya minta ampun. Dan dia adalah adik kelasku sendiri.
Mungkin cupu kali ya, tapi aku merasa tidak punya harapan untuk mencari gadis seangkatanku bahkan kakak-kakak kelasku. Ini diakibatkan dari mulut seorang mantan bernama Mawar yang begitu sakit hati tidak mau aku balikan lagi dengannya untuk menjadi selingkuhannya.
Dari mulut seorang wanita dan dari mulut ke mulut yang lain akhirnya mulai tercipta suatu predikat yang melekat pada diriku bagi orang-orang yang mengenalku disekolah, yaitu P-L-A-Y-B-O-Y.
Ya, aku di-cap ‘PLAYBOY!’
Aku tak tahu PLAYBOY dari mananya diriku ini.
Pernah aku sedang berbicara dengan anak kelas sebelah, namanya Ariya, hanya untuk memberikan surat izin (palsu) buatan Ozy yang hendak membolos karena Ariya ketua kelas. Ada beberapa teman Mawar melihatku dan berkata dengan lantang.
“HATI-HATI ARIYA! DION PLAYBOY! ATI-ATI KEMAKAN!”
Mereka lalu tertawa seolah ini candaan yang menyenangkan bagi mereka.
Aku bahkan pernah menyukai (Like) status teman Facebook (cewek) kala itu karena kata-kata distatusnya memang bagus, tapi aku tak tahu kalau ia berteman dengan Mawar dan juga teman-teman Mawar yang lain. Mereka mengomentari status itu.
“Cieee nge-Like status! Ini umpan ala playboy pasti nih!”
“Wih-wih! Di-Facebook pun ngincer anak orang?”
“Ayo Dion! Tambah koleksi mantanmu! Kamu pasti bisa! (y)”
Aku diam dan berteriak dalam hati pas itu, “NGE-LIKE DOANG DIBILANG PLAYBOY?!!”
Tidak hanya seangkatanku, tapi juga kakak kelasku (Yang mengenaliku baik seangkatan mau pun kakak kelas). Setiap menyapaku mereka selalu memanggilku Diboy, alias Dion Playboy. Walau tidak semua menganggapku playboy dan menganggap panggilan itu candaan belaka, tapi nama panggilan itu benar-benar merusak sedikit jati diriku.
“Mantan pacar baru 2 darimana kesan Playboy-nya?! Temanku Felix yang punya mantan seperti kesebelasan sepakbola (14 mantan) kok tidak dibilang Playboy??!”
Yah... nasib jadi bahan candaan.
Dan kuharap adik kelas yang kuincar ini tidak tahu akan desas-desus nyeleneh itu.  Aku pertama kali berinteraksi dengannya dikantin, disaat aku mau menyusul teman-temanku dibelakang kantin. Ia sedang menunggu antrian yang penuh didepan dan aku pun menghampirinya.
“Hai.”
Dia menoleh bersama temannya dan berkata, “Ya?”
“Mau beli makanan?” pertanyaan basa-basi biasa dan kategori bodoh, karena stand yang ia kunjungi ini memang khusus menjual makanan.
“Iya,” dia mengangguk dan disambung temannya, “Emm siapa? Kakak kelas kan?”
“Iya, oh iya namaku Dion.”
“Dion?” mereka berdua serempak memastikan, aku berkata iya dengan anggukan kepala.
Mereka saling melihat dan menoleh kearahku lagi, ia pun berkata dengan wajah lugu nan polosnya, “Dion yang Playboy bukan?”
Aku gondok setengah mati.
“Bukan! Bukan!” aku buru-buru membantah.
“Oh soalnya kenalan kami kakak kelas 3 bilang ada yang namanya Dion, dan dia bilang Dion itu Playboy hehehe,” temannya menjelaskan.
“Oh bukan, itu bukan aku. Itu Dion yang lain.”
Padahal yang nama panggilannya Dion disekolah itu hanya aku seorang.
“Oh gitu hehe, maaf.”
“Gakpapa,” aku mencoba santai dan teringat tujuanku semula, “Namanya siapa?”
“Aku Arvie,” jawabnya dengan senyum.
“Aku Ine,” jawab temannya dan aku tak perduli, kan bukan dia yang kuincar.
Dan akhirnya aku mengetahui nama panggilannya, di-tag name-nya itu ada inisial “A.” yang membuatku penasaran siapa nama panggilannya dan aku merasa nama belakangnya itu bukan nama panggilannya, dan itu benar. Aku dan dia kemudian berbincang-bincang dan rasanya ingin kulempar temannya itu hingga keluar kantin karena ikut nimbrung pembicaraan padahal bukan dia yang kuinginkan. Sampai akhirnya ada sebuah kejadian laknat menimpaku saat itu.
“Hoi Playboy, tumben lu mesen makanan?”
Itu adalah temanku anak kelas 3 yang menepuk pundakku dari belakang, dan disambung dengan 2 lainnya yang juga memanggilku dengan panggilan ‘Playboy
“Katanya Dion yang 1 lagi yang Playboy,” kata Ine.
“Apaan, mana ada lagi Dion disekolah ini, ya ini dia orangnya, Playboy! hahaha,” teman-temanku yang anak kelas 3 ini tertawa semua.
Dan sekarang.... mereka bertiga yang ingin kulempar hingga keluar kantin.
[ A P R I L O G Y ]
VII. LAWAN MENJADI KAWAN
Akan tetapi itu tidak menghambat pergerakanku. Kami bertukaran nomor HP dan menjelaskan kenapa aku bisa sampai mendapat panggilan itu.  Semenjak itu kami berdua sepakat untuk sementara waktu tidak saling berbicara disekolah, mencegah hal-hal  yang tak diinginkan terjadi.
Seperti aku yang dibilang, Playboy mencari mangsa.
Dan Arvie yang dibilang, Korban Playboy.
Meski kami jarang berbicara dilingkungan sekolah, tapi diluar lingkungan sekolah kami berbicara, bahkan sudah menemukan tempat nongkrong bagi kami berdua. Ada 2 Minggu lamanya kami bersikap seperti ini sampai akhirnya aku ingin mengajaknya berpacaran.
Aku menunggu dia pulang les dari tempat lesnya pada sore hari, dan aku menembaknya ditempat nongrong kami. Dan yah, seperti biasa, diterima hehe.  Seminggu kami berpacaran dia benar-benar membuatku nyaman.
Yah, mungkin ini rasa nyaman yang dimaksud oleh Fabella. Karena baru sekarang aku merasa nyaman berpacaran dengan seorang wanita, Arvie bukan tipe wanita yang suka menuntut apapun.
Itulah yang membuatku nyaman.
Lalu ada hari dimana ia ingin aku datang kerumahnya, terlebih lagi itu malam Minggu. Dan karena ingin membuatnya kejutan, aku datang pada sore hari.  Aku berpakaian rapi dan sempat diejek adik dan ayah tiriku karena aku terang-terangan berkata mau mengapel pacar. Ibuku juga berkata lain kali ajak pacarku kesini, aku mengiyakan saja.
Aku begitu bersemangat menuju rumahnya dan berdebar-debar saat sampai didepan rumahnya.  Dengan lagak seorang ‘Romeo’ menjemput ‘Juliet’ aku memasuki pekarangan rumahnya. Langkah kakiku begitu mantap menginjak jalanan semen ditengah rerumputan kecil yang ada dihalaman rumahnya.
Aku percaya diri.
Aku melangkah pasti.
Hingga akhirnya...
Suara gong-gongan anjing mengubah segalanya.
Seekor anjing Herder besar berwarna coklat nongol dari samping rumah, tanpa memberi kesempatan untuk kaget dia malah mengejarku.
Rasa percaya diriku lenyap, digantikan dengan rasa panik.
Langkah jalanku lenyap, digantikan dengan langkah berlari.
Aku ini dari kecil tak bisa memanjat pohon, bahkan tak pernah memanjat pohon. Dan dihari itulah aku bisa melakukannya, dengan kekuatan ‘Takut-Kena-Rabies” aku mendapatkan petunjuk dari langit untuk memanjat pohon jambu yang ada dihalaman rumah Arvie.
Yang penting aku selamat dari jangkauan hewan ini. Badannya? Besar bukan main!
Suara gong-gongan anjing ini sepertinya menarik perhatian tuan rumah, aku melihat pria dan wanita paruh baya keluar dan diikuti oleh seseorang yang kukenal, yaitu Arvie.
“Dion!” seru Arvie dari teras rumah.
“Vie! Vie, tolong anjingmu ini!” seruku yang tak kalah seru.
“Ya ampun, bentar ya. Kak Beny!” teriaknya lantang kedalam rumah.
Aku tertegun dan menyeringitkan dahi, rasanya aku pernah mendengar nama seseorang yang dipanggil dengan nama Beny. Sebuah nama laknat yang sangat menyebalkan bagi telingaku dan entah kenapa bawaannya kesal melulu dibuatnya saat mendengar nama itu.
Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya.
“Nape?” keluar seseorang dari dalam rumah.
“Itu Bogi urusin!” tunjuk Arvie kepadaku.
Orang itu memandangku, dan aku memandangnya. Kami sama-sama melotot saking tak percayanya dengan apa yang kami lihat.
“Ngapain loe disini?!” seru Beny kepadaku.
“Loe yang ngapain disini?” kutanya balik dari atas pohon.
“Elu yang gue tanya! Loe ngapain disini?” tanyanya lagi.
“Beny! Yang sopan!” tegur ibunya Arvie, ayahnya tertawa melihatku bergelantungan.
“Eh, kak Beny udah kenal dengan Dion?” tanya Arvie.
Beny menoleh kearah Arvie dan menunjukku, “Kamu yang ngundang dia kesini?”
“Iya, ini loh pacar yang aku bilang tadi.”
“Hah?!” Beny kaget memandangku.
“.... Beny siapanya kamu, Vi?” kutanya untuk kepastian, kuharap Beny adalah pembantu rumah tangga mereka dan kuharap dia sering disiksa.
“Dia kakak aku,” jawab Arvie lugu.
“Hah?!” dan gantian aku yang kaget.
“Kenapa?” Arvie dan kedua orangtuanya heran memandangku dan Beny bergantian.
Yah....... Udah dikejar anjing, eh Beny malah jadi kakak dari pacarku sendiri. Entah ini sial atau apa, aku benar-benar tak mengerti alur cerita kehidupan romansa  SMA-ku waktu itu.
[ A P R I L O G Y ]
VIII. ARAH TUJUAN
Semenjak itu aku mulai sering berinteraksi dengan Beny, kakak kelasku itu. Menurutku dia ini adalah orang yang memiliki krisis panggilan. Nama aslinya Ruben, keluarga dan teman terdekat memanggilnya Beny, tapi ada juga teman-temannya yang memanggilnya Eben. Tak jauh berbeda dengan temanku Made, hanya saja Made ini krisis identitas, muka Jawa, nama Bali, gaya omongan logat Arab.
Dan dari 3 nama tersebut ia memintaku memanggilnya dengan panggilan KAK Beny. Ya, pake ‘KAK’ didepannya. Karena kalau tidak dia tidak akan membukakan pintu rumah sewaktu aku mampir kerumahnya untuk bertemu Arvie. Itu pernah dilakukannya sekali.
Menyebalkan!
Saat mengetahui hubunganku dengan adiknya, ia selalu membiarkan Bogi, Anjing Herdernya itu untuk bebas berkeliaran dipekarangan rumah. Jadi setiap aku ngapel aku harus menelpon Arvie terlebih dahulu dari luar pagar.
Menyebalkan!!
Setiap aku kerumah Arvie, ia meminjam motorku. Katanya sebentar mau kewarung, tapi “Sebentar” versi dia itu adalah 3 jam, entah warung mana yang disambanginya waktu itu.
Menyebalkan!!!
Minta rokok, kukasih sebatang, eh dia malah mengambil bungkus rokokku dan nyelonor masuk kekamar.
Menyebalkan!!!!
Memaksaku mencium tangannya (Saat ngapelin Arvie). Ini itu dan lain-lain.
Yah.... M-E-N-Y-E-B-A-L-K-A-N-!!!!!!!!
Pernah suatu hari aku bersama Bayu, Pris dan Enu bersama-sama pergi kerumah Arvie.  Kami berencana menonton film dibioskop dan aku hendak menjemput pacarku terlebih dahulu.  Sesampainya disitu aku meminta mereka bertiga masuk duluan dan aku berpura-pura mengikat sepatu diluar pagar. Hmm yah, tadi sudah kubilang bukan kalau Beny membiarkan Anjing Herder-nya berkeliaran dipekarangan rumahnya?  Aku sedikit ‘Membagi’ pengalamanku kepada mereka bertiga yang kalang kabut dikejar anjing berbadan besar itu.
Hmm yah, menyenangkan ~
Hubunganku dengan Arvie sudah memasuki bulan ke-4, jujur saja aku bahkan tak ingat tanggal berapa kami jadian tapi dia mengingatnya. Bahkan sebulan sekali ia melakukan ‘Anniversary’ tepat ditanggal kami jadian.
Ya, meski kalem dia juga alay. Anniversary kok sebulan sekali?
Tapi memang ada resiko berpacaran dengan gadis yang belum stabil-stabil amat. Ada saja pertengkaran kecil yang diributin. Seperti dibawah ini.
“Siapa cewek yang tadi ngomong sama kamu didekat lab?”
“Oh, temannya teman sekelasku. Dia minta tolong balikin buku paket, nitip dengan aku tadi.”
“Bohong!”
“Hah... apanya yang bohong?”
“Dia tadi senyumin kamu!”
“Lah... kan wajar, aku nolongin dia... habis senyum, bilang terima kasih, dia langsung pergi.”
“Tapi senyumnya itu pasti ada arti!”
“Apa artinya?”
“Kamu pasti mau cari cewek lain kan?!”
“Hah?”
“Dia senyum sama kamu!”
“I-Ini apaan?! Dia yang ngasih senyum kenapa malah aku yang dibilang pengen nyari cewek lain?!”
“Bohong!”
“Apanya?!!!”
“Kamu mau selingkuh kan dengan senyuman dia! Iya kan?! Itu kode kalian kan?!”
“Anj..” aku hampir saja mengumpat kata ‘Anjing’ saking kagetnya, dan langsung kuganti, “Anjrot!”
Sama saja...
“NGOMONG KASAR?! UDAH BERANI YA SAMA AKU?!”

Ya itu dia, setidaknya aku sudah mendapatkan pengalaman menghadapi pacar sewaktu PMS (Dia lagi PMS waktu itu), dan masih banyak yang lain-lain.  Seperti yang curiga kenapa HP-ku di-lock, yang curiga kenapa aku lama ngangkat telpon padahal aku lagi ngorok, ini-itu dan lain-lain.
Jadi apa yang menjadi kebiasaan-kebiasan wanita ABG sudah pernah aku rasakan dari sosok Arvie. Tapi dari ‘Ketidak-stabilan’nya itu terkadang dia bersikap dewasa dan lembut. Yah benar-benar menyenangkan.
Hingga pada bulan ke-6 kami akhirnya memilih putus baik-baik, alasannya cukup aku dan dia yang tahu.  Setidaknya itu pengalaman pertamaku yang bisa putus dengan cara baik-baik. (Walau sehabis putus aku sedikit merasa galau, mungkin 3 hari. Tapi porsi galau dia melebihi hari-hariku)
Dan dari putusnya hubungan kami, hanya Beny yang tak rela dan menyuruhku berhubungan lagi dengan adiknya.  Dia sebenarnya tidak khawatir dengan hubungan kami, tapi dia khawatir karena dia sudah tidak punya orang yang bisa DIPALAKINNYA lagi.
Yeah, Fucking menyebalkan.
Mungkin ada sebulan aku dan Arvie (Sejak putus) tidak pernah berbicara lagi (Kan sudah kubilang tadi porsi galau dia lebih dariku) sampai akhirnya kami berbicara dan memutuskan untuk tidak menutup tali silahturahmi kami masing-masing. Kami memilih berteman dan aku senang, setidaknya Arvie benar-benar tenang dan bersikap dewasa dalam menghadapi masalahnya.
Yah setidaknya aku dan Beny tidak pernah canggung lagi semenjak aku berpacaran bahkan putus dengan Arvie.
Semenjak ada Playstation dirumahku maka teman-temanku sering datang kerumah untuk bermain bola. Karena seringnya teman-temanku datang kerumah membuat ibu dan ayah tiriku senang (Suasana rumah ramai setiap harinya.) Selain senang karena suasana rumah ramai, ibuku juga senang karena ada jasa pengantar katering gratis dari teman-temanku. Ya ibuku membuka usaha katering bersama adik sepupunya ayah tiriku.
Yang sering menginap dirumahku adalah Enu, Bayu, dan Pris. Terkadang kami juga menginap dirumah Ega karena rumahku dan Ega hanya berbeda komplek.
Setidaknya alur hidupku memang berubah.
Aku senang keluargaku menerima teman-temanku.
Aku juga senang dengan teman-temanku juga akrab dengan keluargaku.
Hingga kenaikan kelas 3 kami mulai berbicara serius, yaitu memilih universitas mana nanti pas lulus sekolah.  Banyak kampus yang kami pikirkan waktu itu meski ada beberapa temanku memilih kuliah diluar kota. Hingga akhirnya (Kami yang berencana dikampus yang sama) memilih kuliah dikampus yang sama dengan Beny dan beberapa alumni anak kelas 3 dulu.
Setidaknya... aku bisa menentukan tujuan kedepanku.
[ A P R I L O G Y ]
IX. HOBI PENGHILANG PENAT
Naik kekelas 3 SMA (atau bisa dibilang kelas 12) membuat hari-hariku bertambah sibuk. Pihak sekolah mewajibkan les sepulang sekolah saat semester 2 dan diluar sekolah aku dipaksa les oleh ayah kandungku. (Nilaiku tak merata) Tempat les nya juga resek, 1 hari tidak masuk mereka menelpon kerumah. Ketahuan bolos jadinya.
Karena aku cukup ‘Keras’ ya aku terus membolos (les diluar), ayahku kemudian bertanya apa mauku dan kuberitahu mauku. Otakku tak mampu mengikuti les diluar (disekolah aku bisa 9 jam berada disitu gara-gara les sepulang sekolah). Untung saja ada abangku yang membelaku, jadi ya aku berhenti les diluar.
Kelas 3 ini aku ingin sekali saja melakukan sesuatu untuk hobi. Tentu saja selain hobi bermain Game Online atau pun menertawakan kelakuan orang-orang yang menggombali foto wanita di-Facebook dengan kata-kata yang menurutku ‘Menjijikan’. (Sampai sekarang masih ada loh orang kayak gitu)
Dan aku ingin sekali saja nge-Band.
Dijaman itu band-band Indie lagi merajalela. Aku pun membicarakan hal ini kepada teman-temanku. Lalu dengan insting ‘Merekrut’ aku mulai menunjuk siapa-siapa yang harus bergabung dengan band ku ini.
Orang yang pertama adalah Bayu, bermain gitar sama sepertiku.
Orang yang kedua adalah Enu, bermain bass.
Dan yang terakhir adalah Beny, bermain drum.
Kami sepakat untuk latihan band di-studio yang ada didepan rumah Ega (Murah soalnya) kami berencana membawa lagu Nirvana.
Kami mulai berada diposisi kami masing-masing.
Kami semua semangat.
Sampai akhirnya Bayu berkata, “Gue gak pandai main gitar.”
Gedubrak.
Aku tak masalah kalau Bayu tak pandai main gitar, tapi kenapa pas baru mau latihan dia baru memberitahukan hal ini? Dan kenapa dia ngeiya-iyain saja pas aku mengajaknya membuat band? Dan jawabannya ingin membuatku menabok wajahnya dengan gitar.
Karena jawaban dia, “Hehehehehe.” Ya, dia malah cengengesan.
Alasan aku merekrut dia pada awalnya karena dia ini sering membawa gitar klasiknya kesekolah, dan gitarnya itu sering dipinjam olehku dan teman-temanku yang lain. Gara-gara itu kukira dia bisa bermain gitar.
Gara-gara tak jadi latihan maka kami memilih bersantai dirumah Ega. Ega yang mengetahui hal itu menawarkan diri. Menurut pengakuannya dia bisa bermain semua alat instrument, mungkin itu memang benar karena diruang keluarga dia ada kibor, gitar klasik. (Ibunya suka main kibor)
Aku, Beny dan Enu mengiyakan. Dan dia meminta bagian menjadi pemain bass, tapi Enu tidak terima karena itu sudah bagian dia.
Jadi mereka berebutan siapa yang pantas menjadi pemain bass.
Akhirnya Enu mengalah dan kami kembali ke studio bersama Bayu yang sekarang lebih suka menjadi penonton.
Kami sudah berada diposisi masing-masing.
Kami sudah semangat.
Ega kesetrum sound system sejenak.
Dan saat kami mulai memainkan lagu Nirvana tiba-tiba Beny berbicara, “Yang nyanyi siapa?”
Sedikit terjadinya adu pandang antara kami. Akhirnya aku baru sadar kalau band ini tidak ada vokalisnya. Aku menawarkan Bayu untuk menjadi penyanyi tapi dia menolak dengan alasan ‘Suara kentutnya saja fals’
Akhirnya mereka semua menunjukku menjadi vokalis karena aku yang punya ide untuk membentuk band ini. Jadi porsiku sekarang ada 2, bernyanyi sambil bermain gitar. Setelah urusan semua ini selesai maka kami siap bermain, lagu Nirvana berjudul You Know You’re Right menjadi pilihan kami. Bagi pembaca yang tidak tahu lagunya bisa klik play dibawah ini.
Setelah menyelesaikan lagu aku meminta pendapat mereka tentang suaraku.
“Bagaimana?”
“Gendang telinga gue mau pecah,” jawab Enu mewakili yang lain.
Ya, suaraku jelek.
Ulang tahun sekolah menjadi debut band kami, kebetulan Arvie menjadi panitianya. Ada masa sebelum hari itu (Ulang tahun sekolah) Arvie datang kekelasku bersama 2 panitia lainnya untuk menanyakan sesuatu.
“Nama Band-nya apa? Biar enak dicatet,” ulasnya.
Gara-gara itu aku, Ega dan Bayu kembali berpandangan.
“Eh iya, nama band-nya apa?” kata Ega
Kacau, kami pun mulai melakukan forum dadakan. Begitu banyak nama yang diusulkan tapi menurut kami itu tidaklah manusiawi.
Ega menyarankan nama band kami The Rape’s, dengan alasan kita (band kami) adalah pemerkosa musik, semua musik kami perkosa (Dalam arti bisa memainkan semua genre-nya). Iya kalau bagi kami, bagi orang lain? Mungkin kami dianggap band yang hobi memperkosa penonton sambil manggung.
Enu menyarangkan nama band kami Senar Putus, karena setelah beberapa kali latihan aku dan Enu berlangganan memutuskan senar.
“Kurang garang” kata Ega, kami mencoba mencari nama lain.
Aku menyarankan Parang Berdarah, Enu pun protes, “Garang dengan sok-sok psikopat beda tipis Yon.” Aku berpikir benar juga, kesannya kami sebelum manggung harus melakukan ritual penyembelihan manusia terlebih dahulu dengan parang.
Teman-temanku yang lain juga ikut nimbrung dengan masalah ini. Kami berencana menggunakan nama band dengan bahasa Inggris, biar kerenan dikit.
The Boyband, saran Arya. Aku tak tahu darimana inspirasi dia mendapatkan nama ini, kesannya kami adalah band yang hobi menari diatas panggung dengan baju ketat untuk menunjukan keseksian tubuh kami.
The Biji’s, saran Erik. Mentang-mentang semua personilnya punya ‘Biji’.
The The The, saran Damar. Dia lagi malas mikir.
On the Monday, saran Adis. Emang keren, tapi kalau dibaca dengan lidah Indonesia maka berbunyi ONDE MANDE.
The Tanpa Nama, saran Enu. Kesannya seperti Band yang personilnya Amnesia semua.
Entah kenapa setiap nama yang diberikan harus ada kata ‘The’ didepannya, bahkan namanya tidak ada sedikitpun yang ‘Manusiawi’ menurutku. Aku teringat kalau Beny adalah anggota band, maka dia harus ikut dalam ke-stres-an ini. Aku menelponnya dan memberitahukan hal ini.
“Oh itu, gitu aje pake susah mikir,” katanya angkuh dibalik telepon.
“Apa?” pintaku semangat.
Kudengar suara dia mengambil nafas dan tiba-tiba berseru dengan lantangnya, “Beny and the Babu!”
Ingin kutabok Beny pake HP, untung saja jarak telah menyelamatkannya.
Rapat dadakan yang disaksikan Arvie bersama ke-2 panitia ini membuat mereka menyeletuk, “Nyari nama band aja ampe panik begini.”
“Susah, neng,” keluh Arya mewakiliku dan yang lain.
Entah kenapa terlintas dipikiranku untuk mengingat sesuatu saat mendengar kata ‘Panik’, aku jadi teringat saat aku berjalan ke Ragunan tak lama sebelumnya, keponakanku dari Bandung menangis karena diganggu adikku. Adikku panik dan bertingkah seperti monyet untuk menghiburnya. Monyet dan panik, aha! Aku pun mendapatkan pencerahan yang langsung kusampaikan.
“Monyet panik!” seruku.
“Hah?” semua kaget, kecuali Bayu dan Ijonk. Mereka tidur didalam kelas.
“Tapi biar keren, coba di-Inggriskan, Nu,” pintaku kepada Enu.
“Eeee Monkey Panic... Panic Monkey...” jawabnya ragu-ragu sambil menggaruk kepala dengan ujung jari.
“Ah Panic Monkey! Udah itu saja,” aku kemudian memandang Arvie, “Dah, Panic Monkey aje, Vi.”
“Oh,” Arvie tertawa kecil sambil mencatat.
Arvie dan ke-2 panitia itu pergi. Aku pun meminta pendapat teman-temanku soal nama Band dari ide cemerlangku barusan.
“Gimana?”
“Yang pasti, Yon,” Damar berdiri dan melanjutkan pembicaraannya, “Semisalnya gue udah kawin dan punya anak, gue gak mau minta saran nama dari loe.”
Yah..... aku juga berpikiran seperti itu. Tapi setidaknya aku masih lumayan, daripada Erik yang menyarankan nama The Biji’s yang sesuai kenyataan? Tak terbayang jadinya apabila Erik punya anak dan menamai nama anaknya nanti.
Anak Erik : Ayah-ayah, kenapa sih namaku seperti ini?
Erik : Oh sini-sini Ketuban Pecah, akan ayah ceritakan asal-usul namamu.

PanicMonkey akhirnya manggung untuk pertama kalinya disekolah dan juga untuk terakhir kalinya, penonton yang menonton kami pun menangis, menangis lega karena kami sudah selesai dan lepaslah penderitaan mereka dari polusi suara yang kami berikan. 
Kami merasa akan terlalu berambisi nantinya dengan band ini, apalagi kami memiliki hobi lain yang memberi kami pendapatan. Maka dari itu kami memutuskan kalau kami nge-band murni untuk bersenang-senang saja.
Saking senang-senangnya kami sampai membuat lagu.
Saking senang-senangnya kami sampai rekaman secara live distudio didepan rumah Ega.
Dan lagu kami tidak pernah kami publis kepada siapapun kecuali orang-orang dekat kami. Kalau ada orang bertanya “Kenapa?” kami selalu menjawab, ‘Lagu-lagu kami, terserah kami mau kami apain.’
Kalau ditanya lagi ‘Kenapa?’, ya suka-suka kamilah.
[ A P R I L O G Y ]
X. PERTEMUAN PERTAMA
Kelulusan SMA menjadi tangga baru dalam perjalanan hidupku. Dan sedikit sedih juga saat kami melakukan perpisahan sekolah walau ada segelintir hal unik yang terjadi.
Aku dan teman-temanku mendapatkan undangan pernikahan dari teman kami yang bernama Yerwin. Hari perpisahan kami malah mendapat undangan, tentu saja kami penasaran. Ternyata yah... ada ‘Kecelakaan’, dan hebat juga karena pacarnya hamil 3 bulan tanpa dicurigai pihak sekolah. selama ujian kemarin berlangsung (Pacarnya disekolah lain, agak gemuk, mungkin karena itu tak ketahuan.)
Setidaknya Yerwin berani bertanggung jawab, salut.
Dan Yerwin lah inspirasiku untuk kedepannya nanti sewaktu membuat cerita Beautifull Aurora pertama (Yang menceritakan 2 anak SMA yang sudah menikah dimasa SMA), terima kasih buat Yerwin dan keluarga dimanapun kalian berada. (Mereka pindah, lost contact)
Setelah hari perpisahan sekolah aku lagi-lagi mendapat kabar lagi.
Yaitu Arvie mempunyai pacar baru.
Dan pacarnya itu sangat kukenali orangnya.
Yaitu Enu.
Hal ini tentu saja mengejutkanku karena aku tidak pernah melihat ‘Gelagat-gelagat’ Enu dan Arvie menjurus kearah pacaran sebelumnya. Meski pun mengejutkan, akan tetapi itu sudah menjadi pilihan mereka. Setidaknya Arvie berpacaran dengan orang yang kukenal baik, jadi aku tak perlu khawatir kalau dia akan kenapa-napa.
Apalah artinya aku... seonggok mantan yang terlupakan ~
Dan aku berharap pada waktu itu, agar Beny masih membiarkan Bogi berkeliaran dipekarangan rumahnya saat Enu datang ngapelin Arvie. Kalau bisa Beny ‘Memalaki’ Enu 2 kali lipat.... tidak! Tapi 5 kali lipat dariku seperti saat aku masih berpacaran dengan Arvie.
Yeah! Doa se-ekor mantan.
-----
Saat kelulusan aku memilih untuk menganggur setahun.
Ada beberapa temanku yang berpikiran sama sepertiku tapi ada juga yang sudah mendaftar kuliah duluan, tapi ada juga beberapa yang tidak keterima dan bergabung denganku dan teman-temanku yang memilih menganggur dulu setahun ini.
Nganggur selama setahun benar-benar enak.
Bahkan aku punya slogan “Everyday is my Holiday.”
Tapi yah bagaimanapun juga aku harus kuliah dan itu akan aku lakukan ditahun berikutnya. Lagipula aku sudah merencakan akan kuliah dikampus yang sama dengan teman-temanku.
-----
Ospek adalah sebuah kegiatan yang sudah menjadi tradisi turun-temurun yang diterima bagi mahasiswa/i baru diberbagai Universitas. Dan dikampusku ini tradisinya masih dijalankan.
Ada yang disuruh bawa inilah, itulah.
Ada yang disuruh memakai inilah, itulah.
Dan dihari pertama, ‘Inilah, itulah’ yang kusebutkan tadi sama sekali tidak kubawa. Aku benar-benar lupa akan hal ini (Keasyikan ‘Everyday is my holiday’). Aku sudah memberitahu panitia kalau adikku nanti akan membawakan atributnya, dengan harapan aku diberi keringanan karena kelalaian ini.
Panitia bilang tidak apa.
Aku bernafas lega.
Tapi aku wajib dihukum.
Aku sesak nafas.
Aku disetrap berdiri dengan 1 kaki ditengah aktifitas-aktifitas Maba (Mahasiswa baru) yang lain. Orang-orang yang mengenalku alias teman-temanku tak henti-hentinya menahan tawa melihat penderitaanku.
Karena selain berdiri dengan 1 kaki, leher dan tanganku juga dijadikan gantungan tas-tas kain Maba lainnya. Aku seperti manusia sawah yang siap diberakin burung-burung diudara.
Aku kira hanya aku yang dihukum, tapi takdir tahu apa yang kumau.
Ada 2 Maba yang terlambat datang dan juga disuruh berdiri disampingku. Yang 1 cewek, yang 1 cowok. Hanya itu yang kuketahui dari postur tubuh mereka.
Mereka hanya disuruh berdiri disampingku sampai aktifitas maba-maba yang lain selesai, sedangkan aku? Masih menjadi manusia sawah dengan 1 kaki terangkat.
Tak ada suara yang dihasilkan ditempat kami, dengan ini aku bisa memperkirakan kalau 2 orang yang ada disampingku ini tidak saling mengenal. Jadi bisa dibilang kami bertiga tidak saling mengenal satu sama lain. Merasa bosan aku mencoba mengobrol atau berbasa-basi dengan 2 orang disampingku. Aku menolehkan kepalaku kesamping untuk memulai obrolan.
Akan tetapi... lidahku keluh.
Yang berada disampingku ini adalah seorang wanita. Ia lurus memandang kedepan dengan ekspresinya yang cuek. Yang membuatku terdiam karena wanita ini... yah, cantik, imut-imut cuek. Bahkan wangi shampo dirambutnya bisa kuhirup dari jarak ku ini.
Aku bisa saja bersikap santai dan mengajaknya mengobrol, tapi otak ku memerintahkan diriku untuk, “Jangan sok asik! Jangan sok asik!”
Alhasil aku terdiam, terpana, dan terbata.
Aku benar-benar bingung... padahal aku sudah terbiasa dengan wanita, tapi aku tak berdaya... aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Dia menjelingkan matanya kearahku karena kurasa dia sadar kalau kulihatin sedari tadi. Aku panik dan tanpa basa-basi aku mengeluarkan suaraku yang kutujukan kepada orang yang ada disebelahnya sana (Posisi wanita ini ditengah)
Bro!
Orang yang disampingnya menoleh kearahku, “Ya?”
“Apa kabar?”
“Eee...” mukanya melongo bego gitu, “Baik...”
“Oh ya-ya-ya,” aku mengangguk-angguk.
“Eee siapa ya?”
“Mahasiswa baru, kena hukum hahaha.”
“Oh...”
“Hahahaha,” aku masih tertawa.
“... Ha... ha ha ha,” orang itu juga tertawa, tapi tertawa dibuat-buat.
Kemudian hening.
Tak ada interaksi lagi sehabis itu, wanita kembali memandang lurus kedepan dengan ekspresinya yang cuek dan orang disebelahnya itu sepertinya sedang berpikir seolah-olah aku ini orang yang dulu pernah dijumpainya. Mau sampai kiamat pun dia tidak akan menemukan jawabannya karena memang baru pertama kali itu aku berinteraksi dengannya.
Yang jelas pada hari itu... aku benar-benar berharap aku ini manusia sawah.
[ A P R I L O G Y ]
XI. YANG SANGAT MENAKUTKAN
Hari-hariku dikampus terasa sedikit normal, meski ada sedikit sifat lamaku yang masih menempel sampai sekarang. Khilaf masih menjadi keteledoran manusia, seperti hal nya aku, walau tidak separah dulu.
Aku masih melinting yang namanya ganja, walau kucampur tembakau.
Aku masih menyicip yang namanya alkohol, walau kucampur air putih.
Aku masih muak dengan orang yang mulutnya seperti perempuan, ngoceh tentang seseorang kepada orang lain.
Separuh gelapku masih bersarang, tak menghilang.
Disini aku juga menemukan teman baru, semua hal sudah pernah kami alami rasakan.
Langganan ketiduran dikelas.
Salah masuk kelas.
Patungan untuk membeli rokok dan kopi bergelas-gelas.
Menikmati kuis dadakan.
Begadang untuk tugas walau akhirnya tak dikerjakan.
Bahkan aku tergelitik dengan dosenku saat ia memberi julukan kepada temanku yang bernama Arya dan Aji, mereka diberi julukan sebagai ‘Mahasiswa Ghaib’.
Tanda tangan di-absen ada, tapi orangnya tak ada.
Adat istiadat menitip absen sudah deviasi yang tak mengherankan. Aku juga sering melakukannya dulu. Setidaknya aku pernah mencicipi hal ini untuk pengalamanku yang seperti kuceritakan ini.
Dan disinilah aku pernah mengalami kejadian laknat.
Sebuah kejadian yang tak bisa kulupakan sampai sekarang.
Sampai detik ini.
Aku tak tahu apa yang menjadikan hari itu hari yang laknat bagiku, aku sedang bersantai sendirian didekat lorong, lintingan rokok kuhisap menjadi temanku menunggu temanku yang lain keluar kelas karena kami berbeda jurusan.
Sebuah suara memanggil namaku, aku menoleh dan melihat seorang pria yang tersenyum kepadaku. Aku tentu saja heran dikenali namaku oleh orang ini karena aku tak pernah mengenal dirinya.
Aku merespon seadanya.
Dia kemudian mengajakku berbicara, hal yang tak penting mengenai jurusanku. Tapi aku heran melihat gayanya yang gemulai saat berbicara.
Dan inilah yang kumaksud kejadian laknat.
Aku terperangah.
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Aku shock.
Saat dia meminta diriku menjadi pacarnya.
Aku lantas bertanya mengenai hal itu, apakah dia serius? Dan dia berkata serius. Aku bertanya sekali lagi dan dia berkata ‘Aku serius.’
Aku masih tak mengerti dengan apa yang kualami sekarang, dengan kesadaran yang ada aku bertanya alasan kenapa dia ingin menjadikanku pacar. Dan sumpah ini pengalaman yang tak bisa kulupakan, aku benar-benar ketakutan melebihi ketakutanku terhadap anjing, lebih tepatnya dikejar-kejar anjing.
Saat mendengar jawabannya aku juga memberi jawabanku, yaitu sebuah bogem mentah diwajahnya. Alasannya sangat merugikanku, dia mengira aku ini adalah Gay yang sama seperti dirinya.
Aku sendiri bingung, bagian darimananya dari diriku ini hingga bisa disangka Gay?
Dan tentu saja aku memberinya pukulan karena aku masih belum cukup dewasa, terlebih lagi aku dinilai secara sepihak. Aku tak perduli yang namanya kemanusiaan yang sering diagung-agungkan kaum jaman Nabi Luth tersebut.
Tentu saja aku tak perduli, karena aku 2 kali mengalami hal tersebut. Walau yang keduanya terjadi beberapa tahun berikutnya.
Yang kedua adalah hari dimana saat aku menonton film dibioskop bersama teman-temanku, aku kebagian duduk dengan 2 orang yang tak kukenal, sampai akhirnya paha kananku digrepe-grepe, aku menoleh dan itu adalah seorang om-om tersenyum genit seakan merasa dirinya cantik.
Apa yang kulakukan?
Dengan sifatku yang seperti ini?
Seperti yang kubilang tadi. Aku belum cukup dewasa dengan hal itu, ditengah film yang dimana orang-orang masih menonton, aku ribut dengannya. Hal itu sampai membuat orang-orang berpikir untuk menyerahkan masalah ini kepada pihak yang berwenang, tapi akhirnya masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ya, tentu saja, aku membeberkan alasanku yang mengakibatkan aku ribut dengan dirinya.
Untuk para homoseksual  yang membaca ini, terutama yang Gay!
Aku sampai mati pun tidak akan pernah mendukung legalnya kalian.
Aku juga tidak perduli dengan penyakit yang kalian cari.
Dan jangan menilaiku dan menganggapku bagian dari kaum kalian hanya karena khayalan kekasih idaman. Ya aku sudah mendapat jawabannya dari orang yang kisruh denganku itu, aku dianggap tipikal dalam kategori mantap yang biasa dijadikan pacar oleh Gay.
Bedebah sekali menilai secara sepihak.
Aku tidak akan marah kalau tidak dinilai seperti itu.
Aku tidak akan berang kalau tidak diperlakukan gara-gara penilaian itu.
Temanku yang bermana Pris  juga mempunyai teman yang merupakan Gay, temannya itu juga tahu permasalahanku, dia berkata kalau itu Gay yang bodoh, dia saja tidak sampai segitunya menyangka orang lain sebagai kaum Gay seperti 2 orang sebelumnya.
Memakai tameng bernama Hak Mencintai, aku juga mempunyai HAK karena aku bukanlah Gay. Siapa suruh ngegrepe-grepe gara-gara penilaian itu?
Meski begitu, semisalnya didepan mataku kalian di-bully (Dihajar atau pun dianiaya tanpa sebab). Aku akan menolong kalian, aku masih manusia dan aku juga sudah mengerti yang namanya rasa kemanusiaan. Aku memiliki rasa kasihan.
Tapi soal pengakuan hingga meminta legalnya kaum kalian, maaf aku menolak.
Sampai mati pun, aku menolak.
Mau membenciku karena pikiran kolotku ini?
Silahkan.
[ A P R I L O G Y ]
XII. PERTEMUAN KEDUA
Untung saja tidak hanya aku rupanya yang pernah disangka Gay, akan tetapi juga temanku yang bernama Reno dan Aji. Meski mereka berdua tidak sampai keranah kekerasan seperti yang terakhir kualami. Tapi gara-gara itu mereka tidak berani lagi ketempat yang dimana mereka disangka Gay.
Dan gara-gara itu aku sering diejek.
Sebuah ejekan klise yang memaksaku untuk buru-buru mencari yang namanya seorang pacar.
Ejekan itu akan terjadi apabila kami melihat orang berpacaran lewat didepan kami, atau salah satu dari temanku sudah mempunyai kekasih.
Aku kerap diejek, dan diejek.
Apalagi ejeken Jomblo menjadi viral gara-gara Arif Muhammad (@Poconggg) dan juga Raditya Dika, sewaktu Twitter masih ramai-ramainya tahun 2009. Orang tertawa haha-hihi dengan candaan itu, tapi bagiku sama sekali tidak lucu dari dulu, garing menurutku, bukan karena aku memang ‘Jomblo’ pada waktu itu, ya emang garing saja.
Tapi meski begitu aku masih belum tertarik untuk mencari kekasih, aku masih sangat menikmati kehidupanku yang sekarang.  Tak perduli berapa ejekan yang dihantamkan kepadaku.
Aku masih menikmati jalan hidupku yang sekarang.
-----
Belum ada akhir bila tidak ada pertemuan.
Belum ada kisah bila tidak ada pertemuan.
Belum ada kau dan aku bila tidak ada pertemuan.
Aku masih tidak perduli dengan apa yang namanya kekasih, aku sudah terlalu nyaman dengan kehidupanku dan tak terlalu mementingkan hal itu. Akan tetapi perasaan manusia memang tak bisa dibohongi.
Aku merasakan sesuatu yang aneh saat melihat Arvie masih berpacaran dengan temanku, yaitu Enu.
Apakah ini cemburu?
Aku tidak tahu,  dan aku rasa bukan.
Padahal dulu aku tidak begini. Disetiap kesempatan aku meluangkan waktu untuk mencerna apa yang kurasakan. Ku-urai kata demi kata untuk mencari kata yang cocok dengan perasaan ini. Bukan cemburu, itu pasti.
Aku terus berpikir
Berpikir
Dan berpikir.
Akhirnya aku menyadarinya saat melihat teman-temanku yang sudah mempunyai pasangan, aku akhirnya mengetahui.
Kalau aku….... merasa kesepian.
Apakah ada sel didalam tubuh atau otakku ini yang membuatku merasakan hal ini? aku tidak tahu, tapi kata ‘Kesepian’ memang kata yang pas saat itu meski secara harfiah aku tak pernah sepi sendiri, aku selalu bersama teman-temanku.
Tapi aku masih belum ada niat untuk mencari kekasih.
Aku terus melanjutkan hidupku.
Dari detik jam yang tak berarti.
Sampai akhirnya kau dan aku bertemu, sebuah ikatan memicuku yang gamblang mengatakan kalau itu adalah takdir. Kau dan aku, akhirnya bertemu lagi.
Aku masih ingat pertemuan pertama kita.
Aku masih ingat apa yang membuatku terus mengingatmu.
Aku masih ingat dan akan terus kujaga ingatan ini.
Dia wanita yang tenang, kalem, tak banyak tingkah, galak, dan bonus-nya yang berupa paras cantik. Hanya saja ada satu sifatnya yang menjadi titik ingatanku.
Dia ceroboh.
Aku bertemu dengannya lagi sewaktu aku memarkirkan motor diparkiran, cuaca yang sedikit mendung waktu itu membuatku ingin merokok sejenak. Kutaruh helm, dan kunyalakan rokok.
Aku terus menghisap racun nikotin ini diatas motor, menikmati pagi yang cukup tenang dan juga menyapa beberapa mahasiswa yang melewati dan menyapaku. Aku begitu nyaman dengan suasana ini.
Sampai akhirnya dia datang.
Sebuah motor matic yang ia tunggangi begitu bersih dengan sekali lihat, aku tak terlalu memperhatikan kedatangannya itu karena aku masih dibuai asap racun yang kuhisap. Ia hendak memarkirkan motor diseberang parkiran yang ada ditempatku, aku tak begitu memperdulikannya sampai akhirnya kejadian inilah yang membuatku terus mengingatnya.
Dia terjatuh saat dia lupa menurunkan standart motornya.
Aku yang mendengar bunyi keras itu tentu saja menoleh dan melihat dia sudah terjerembab kesamping. Masih ada kesadaran dirasa kagetku itu dan berpikir
“Kok masih bisa ya jatuh diatas motor matic?”
Aku hendak turun dan menolongnya akan tetapi ia dengan cepat-cepat berdiri dan membetulkan posisi motornya. Aku terdiam karena sehabis membetulkan posisi motornya, ia lagi-lagi terjatuh karena kakinya tersenggol pijakan belakang kaki motornya sendiri.
Ia buru-buru berdiri dan hendak melepas helmnya, dan ini lagi-lagi membuatku benar-benar terdiam. Ia terlihat konyol saat hendak melepaskan helm tapi tali pengaitnya itu masih menempel dilehernya.
Bisa dibilang seperti orang yang mau mencekik lehernya sendiri.
Saat dia membuka helm, aku akhirnya bisa melihat wajahnya itu lagi. Dan sebagai pria normal, aku tentu saja terkesima melihatnya, ia begitu cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dan tentu saja aku tahu dia siapa.
‘Dia adalah wanita yang dulu pernah dihukum bersamaku sewaktu hari pertama ospek.’
Ia menoleh sana sini dan cemberut saat ada wanita lain yang menertawainya dari jauh. Kurasa itu adalah teman jurusannya dan karena itu aku bisa sedikit bisa mengetahui nama panggilannya. (Ya, aku dan dia beda jurusan, dan ada parkiran untuk semua jurusan)
“Mu-mu,” wanita itu tertawa dan menggelengkan kepala, “Pagi-pagi ada aja kelakuan loe. Sini,” urai wanita itu memanggilnya dikejauhan.
Mu? Nama panggilan yang jarang kudengar dari seorang wanita selama ini. Wanita ini berkata iya untuk panggilan temannya itu dan ia terlihat berberes-beres dulu saat kulihat ia memasukan beberapa benda kedalam jok motornya.
Setelah berberes akhirnya kontak mata kami bertemu.
Melihatku yang melihatnya diseberang parkiran.
Seorang wanita cantik yang benar-benar membuatku termenung sejenak, aku mencoba tersenyum tapi tampaknya ia tak sempat untuk melihat senyumku karena dia mendelikan matanya kebawah dan tampak sibuk melihat isi tas nya yang seharusnya sudah ia periksa sebelumnya.
Mungkin dia malu karena ada orang lain yang melihat kecerobohannya tadi. Dan mengalihkannya dengan cara itu.
Kumaklumi.
Setelah itu ia pergi, menghampiri temannya.
Dan sekarang aku hanya bisa memandang punggungnya.
Ia terus berjalan dan aku memandangnya.
Ia terus berbicara dengan temannya.
Dan kuharap ia menoleh kebelakang.
Untuk melihatku… yang tersenyum untuknya.
[ A P R I L O G Y ]
XIII. INTERAKSI
Hari demi hari sudah kulewati.
Aku tak pernah lagi memikirkan wanita itu karena itu hanya terjadi sesaat, apalagi tidak ada vocal interaksi antara kami berdua. Aku terus melanjutkan hidupku yang biasa dengan aktifitas yang biasa.
Tapi apa daya, akhirnya aku beberapa kali bertemu dia lagi.
Kami kembali bertemu saat aku kekantin dan ia sedang menunggu kembalian. Aku tepat berada dibelakangnya.
Kami kembali bertemu saat aku dan ia berpapasan ditangga.
Kami kembali bertemu diparkiran saat datang mau pun pulang.
Kami kembali bertemu.
Bertemu.
Dan bertemu.
Tapi tetap tidak ada interaksi yang kami lakukan, selain saling memandang tanpa sapaan dan senyuman. Entah kenapa aku mulai tertarik dengannya walau aku tak tertarik untuk berkenalan ataupun mencari tahu tentang dirinya.
Aneh, itulah kata yang cocok dengan apa yang kurasakan waktu itu.
Kami sering bertemu, saling menatap tapi tak pernah berbicara. Mungkin ada 2  minggu atau lebih kami seperti ini.
Aku bukan perencana yang baik.
Dan aku tak memiliki rencana apapun.
Aku akhirnya berinteraksi dengannya walau hanya sesaat, itu pun berkat bantuan temannya.
Waktu itu aku sedang menemani temanku yang bernama Pris sedang membaca pengumuman yang ada didinding, terlebih lagi kami berdua juga menunggu teman-temanku yang lain. Lintingan rokok yang menyala bertengger indah dimulutku, dengan wajah begoku memandang beberapa kertas yang ada dinding.
Perhatianku teralihkan saat mendengar suara langkah kaki, aku hanya menjelingkan mata dan melihat ia sedang berjalan bersama temannya. Ia juga melihatku akan tetapi dengan cepat matanya itu diluruskan kedepan.
“Dion kan?”
Aku tentu saja tertegun, begitu juga Pris yang menoleh kebelakang. Temannya itu tersenyum kepadaku apalagi mereka berhenti tepat didepanku.
“Iya,” aku mengangguk segan dan melepaskan lintingan rokok dari mulutku.
“Oh,” temannya itu tertawa dan memandang dirinya, “Mumu, tuh bener namanya Dion.”
“Apaan sih!” wanita ini kemudian memandangku, “Jangan dipikirin ya?”
“I-iya,” aku lagi-lagi mengangguk segan.
Mereka berdua meneruskan perjalana, temannya itu tak lepas dari omelan ia yang bisa kulihat dari kejauhan, dan akhirnya aku mengetahui nama lengkap panggilannya, yaitu Mumu. Pris lantas menghampiriku dan bertanya, “Siapa tuh?
Aku sendiri tidak tahu.
Yang aku tahu dia hanyalah wanita yang pernah dihukum bersamaku dan memang menarik perhatianku selama ini.
Dan itulah interaksi pertamaku dengan dirinya, singkat dan tak terlalu memakan banyak karakter huruf untuk vocal obrolan kami berdua. Dan gara-gara itu aku menjadi canggung dan malu, dari alur pembicaraan tadi seolah-olah Mumu memang ingin mengetahui namaku dari temannya atau mungkin temannya itu hanya iseng belaka untuk menggoda dirinya.
Tapi temannya itu tahu darimana tentang nama panggilanku?
Itu tentu saja menjadi pertanyaan buatku, hanya teman-teman dan keluargaku yang memanggilku dengan nama Dion, panggilanku sedari kecil yang merupakan gabungan dari nama depan dan tengahku.
Jawaban itu muncul sendiri keesokan harinya, tanpa perlu aku selidiki lebih jauh. Dan jawaban itu muncul dari temanku yang bernama Kevin saat kami bersantai dirumahku sehabis bermain futsal.
“Kemarin teman gue nanyain nama loe, Yon,” ungkapnya.
“Siapa?” tentu saja aku bertanya.
Kevin menceritakan semuanya, lalu aku bertanya apakah temannya itu yang selalu bersama Mumu dan ia mengiyakan. Dari percakapan itu aku hanya bisa mengetahui nama temannya Mumu tersebut, ia bernama Ghea dan juga tetangganya Kevin. Selebihnya aku tak tahu maksud Ghea menanyakan namaku.
Mungkin iseng belaka.
Keesokan paginya aku bertemu lagi dengannya, diparkiran. Aku yang sudah memarkirkan motor hendak masuk kedalam dan tentu saja harus melewati dirinya yang juga baru memarkirkan motornya.
Aku bingung.
Canggung.
Otakku benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Aku benar-benar tegang dan malu saat jarakku hampir melewatinya.
Ia kemudian melihatku dengan komuknya yang lugu.
“Pagi.”
Dan tak tahu kenapa aku malah memberi salam kepadanya.
“Pagi…” balasnya singkat.
Mendengar suara dia membuat langkah kakiku malah semakin cepat, aku benar-benar pangling dan bingung kenapa tadi aku tiba-tiba menyapa dirinya. Dan aku tidak mau dia berpikiran macam-macam tentangku.
Karena dari tingkahku tadi, aku seperti orang ‘Ke-Ge’er-an’ akibat percakapan temannya yang dulu menanyakan namaku yang ditujukan untuknya.
Jangan GR! Jangan GR! Jangan GR!” itulah sugesti yang selalu kutanamkan didalam otakku waktu itu.
Tapi karena gugup tadi, aku bisa berinteraksi dengannya untuk kedua kali.
-----
Interaksi ketiga terjadi 5 hari kemudian.
Aku masih mengingat jelas apa yang terjadi saat interaksi ketiga kami.
Sebuah kenangan yang sulit kulupakan dan juga dirinya hingga sekarang.
Ini terjadi saat aku sedang melakukan aktifitas buang air kecil didalam toilet, ketika aku mencuci tangan samar-samar aku mendengar suara Kevin diluar karena sebelumnya aku bersama dia dan Ozy hendak pergi kekantin.
“Mu, Dion kirim salam.”
Itulah kata-kata Kevin yang membuatku terkejut, terlebih aku juga mendengar suara tawa Ghea diluar. Aku hendak keluar untuk membantah hal itu, tanpa memperdulikan tanganku yang belum sempat kukeringkan.
Dan inilah kejadian yang kumaksud.
Aku benar-benar tidak tahu dia ada didekat pintu.
Dan aku menyalahkan arsitek yang merancang pintu toilet ini yang pintunya terbuka kearah luar.
Karena hal itu yang menyebabkan aku menjedukan kepalanya dengan pintu toilet. Walau tidak terlalu kuat karena aku tidak terlalu kencang saat membuka pintu akan tetapi rasa perih tentu saja bersarang dikepalanya itu.
“M-M-Maaf!” gagapku kepadanya.
Dia hanya memandangku kesal, tangan kirinya terus mengusap bagian kepalanya yang kejeduk tadi. Ia kemudian nyelonong pergi dan disusul Ghea.... tanpa mengucapkan sepatah kata pun..... dan tanpa permisi.
Aku terdiam.
Terpana.
Dan terbata.
Sikap wanita yang seperti itu membuatku merasa sangat bersalah, bahkan itu untuk pertama kalinya ada wanita... tunggu, bukan wanita lagi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku menjedukan kepala manusia dengan pintu toilet.
“Mampus loe, Yon. Ngerajuk tuh anak orang,” Ozy terkekeh mengejekku.
“Gak hati-hati sih, loe ngapain tadi buru-buru buka pintu?” tanya Kevin.
“Gara-gara loe!” kesalku kepadanya.
Kevin hanya terkekeh bersama Ozy untuk mengejek diriku, sedangkan pikiranku kalut memandang lorong yang menjadi perjalanan Mumu tadi.
“Apa yang telah kulakukan?!” batinku bergelora.
-----
Kepikiran masalah ini aku berniat meminta maaf diparkiran nanti, akan tetapi nasib. Aku tak menemukannya bahkan motornya sudah tak ada disitu, yang berarti dia sudah pulang duluan.
Aku berpikir, “Besok saja.”
Dan esok harinya aku sudah stay diparkiran, bahkan terlalu awal. Sudah berapa puntung rokok kujadikan temanku membunuh waktu.  Aku bahkan mengusir beberapa temanku secara halus karena mereka mau ikut nongkrong disitu. Aku tak menyukai gangguan dalam ruang lingkup pribadi yang hendak kulakukan.
Dan akhirnya ia datang dengan matic andalan.
Kami sempat berpandangan sampai akhirnya matanya kembali lurus kedepan.
Aku turun dari motor dan siap menghampirinya.
Hanya saja..... dia markirin motornya jauh amat!
Aku terpaksa berlari pelan untuk menghampiri.
Ia berhenti bertepatan juga dengan jarakku untuk menghampiri.
Dan... baru kali ini aku berdebar-debar, hanya untuk melakukan permintaan maaf. Dia turun dari motor dan sempat melirikku, alisnya sedikit mengkerut mungkin karena heran melihatku berdiri, ia melanjutkan aktifitasnya berberes-beres, mengeluarkan sesuatu dari jok motor dan dimasukan kedalam tas.
Dan entah kenapa.... lidahku membeku.
Aku tak bisa menyapanya.
Tak tau kenapa.
Ia selesai berberes, menutup jok motor dan berbalik badan tanpa memperdulikanku.
“AA!!!” entah kenapa aku tiba-tiba berteriak seperti itu. “A” ? kenapa harus A? kenapa tidak “Tunggu!” pikirku kalau mengingat hal ini.
Ia berhenti dan menoleh kebelakang, ekspresinya yang cuek tak pernah berubah, ia hanya melihat tanpa merespon ucapanku barusan seperti “Ya?” kek, apa kek. Dia hanya melihat tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Aku yang kepalang basah gegara mencegah dia maka pergi buru-buru berkata.
“Itu... mau ke Toilet?”
“Hah?” dia heran melihatku dengan alis mengkerut.
Rasanya ingin kuhantam diriku sendiri pada waktu itu, ya kenapa aku malah memberinya pertanyaan? Dan pertanyaan apa itu?!
Dengan rasa grogi yang ada aku mencoba mengstabilkan otak dan mulutku, “Itu, gue mau minta maaf kemarin, gue benar-benar gak sengaja, sumpah.”
“Minta maaf?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Minta maaf untuk apa?” tanyanya lagi.
Aku diam sejenak, apa gara-gara kejedot pintu toilet ia menderita Amnesia? Padahal kejadiannya baru kemarin dan ia pasti tahu jelas akulah pelaku utamanya.
“Itu...” aku melingkarkan ujung jari dikepalaku sendiri, “Yang ngejedotin kepala loe kemarin....”
“Oh,” dia mengangguk.
“Gue minta maaf, gue benar-benar gak sengaja.”
“Oh,” dia lagi-lagi mengangguk.
Aku lagi-lagi diem, nih cewek kenapa ya? Kok responnya “Oh” doang daritadi. Pikirku mungkin karena dia sadar kalau dirinya itu cantik dan bebas bersifat jutek kapanpun ia mau. Dan karena aku tipe orang yang malas memperpanjang urusan maka aku kembali berbicara.
“Jadi gue minta maaf sekali lagi, gue benar-benar gak sengaja.”
“Hmm,” gumamnya.
“.... Kalau begitu gue permisi,” pamitku.
Aku berjalan untuk melewatinya dan bola matanya bergerak mengikuti arahku berjalan saat berada disampingnya. Dan saat wujudnya tak tampak lagi dikedua bola mataku alias membelakanginya tiba-tiba dia berbicara.
“Aku belum bilang kan kalau aku mau maafin?”
Gara-gara itu aku berbalik badan dan menundukan kepalaku sedikit kearahnya, “Maaf-maaf, sumpah gak sengaja. Sumpah!”
Ya, grogi dicampur panik dicampur rasa bersalah, 3 campuran ‘Rasa’ itu pun ‘Jogres’ dan menghasilkan gaya spontan yang tadi kulakukan.
Tak ada suara yang dikeluarkan, yang ada malah suara 2 buah buku yang sebelumnya ia pegang terjatuh.... atau bisa dibilang ia sendiri yang sengaja menjatuhkannya.
Aku memandangnya.
Dan ia memandangku.
Belum kukeluarkan suara ia sudah ‘Berbicara’ duluan dengan bola matanya, bola mata coklat tuanya itu terus melirik kebawah dan memandangku lagi dengan ekspresi santainya. Seolah berkata “Pungutin buku ku.”
Daripada banyak tanya lagi aku melakukan apa yang dia inginkan,  aku berjongkok untuk memungut bukunya sebentar, tapi sebelum berdiri dia berkata, “Stop! Sampai disitu.”
“Heh?” alisku mengerut.
“Aku mau denger permintaan maaf kamu lagi,” pintanya.
“Eh? Kenapa?” tanyaku.
“Mau dapat maaf gak?”
“Tapi...” aku mencoba berdiri.
“E-e-e-e-et! Siapa suruh berdiri?”
“Loh?” aku terpaksa berjongkok kembali.
“Mau dimaafin gak?”
“Ya mau, tapi kenapa...”
“Mau gak?” potongnya.
Pasrah dan bingung, aku mengiyakan saja permintaannya dengan posisi seperti itu. “Gue minta maaf.”
“Perasaan tadi kalimatnya panjang deh waktu minta maaf,” ujarnya lagi.
Agak menyebalkan juga, tapi kuiyakan saja.
“..... Gue minta maaf, kemarin gue benar-benar gak sengaja. Sekali lagi gue minta maaf.”
“Oke, cepat berdiri, ada orang tuh,” suruhnya dan aku memang mendengar suara motor.
Aku berdiri dan melihat orang yang mengendari motor tadi melewati kami. Setelah itu aku menyerahkan ke-2 bukunya dan bertanya, “Jadi, udah dimaafin?”
“Ya,” dia mengambil bukunya.
“Tadi kenapa gue diminta...”
“Oh itu,” potongnya, “Kalau minta maaf bersimpuh gitu kan enak jadinya.”
“Heee?” aku membelalakan mata.
“Ya, posisimu seperti orang bersimpuh tadi.”
Aku terdiam sejenak.
“Jadi tadi....” aku menunjuk bukunya.
“Ya, makasih udah mau minta maaf dengan gaya yang kumau,” jelasnya, mantap.
“J-Jadi...”
“Sepadan bukan? Sakit loh kejeduk kemarin,” dia mengelus kepalanya yang kejeduk kemarin dengan bukunya.
Aku diam, dan itu untuk pertama kalinya aku bisa ‘Dikerjai’ oleh seorang wanita seperti ini. Emang hebat akalnya, sengaja menjatuhkan buku yang dimana aku memungutnya dalam posisi berjongkok, tentu saja dalam sudut pandangnya aku seperti bersimpuh terhadapnya.
Atau aku memang terlalu bodoh?
Ini sudah menyentil harga diri, tapi aku tak bisa marah waktu itu karena.... ya, aku memang memiliki kesalahan untuknya.
“... Oke,” kataku.
Tanpa permisi aku berbalik badan dan melanjutkan perjalananku. Dan selama perjalanan itu aku memikirkan pengalamanku yang barusan. Bisa-bisanya aku dikerjai sedemikian rupa olehnya tanpa aku sadari, mungkin aku terlalu bodoh... karena rasa tertarikku kepadanya dari dulu.
“Oh iya, coba tadi kenalan sekalian....” gumamku ditengah perjalanan.
Setelah berkata seperti itu mendadak aku mendapatkan jawabannya.
“Mumu.”
Langkah kakiku berhenti dan menoleh kebelakang, dan terlihat dia memandangku dengan ekspresinya yang tak berubah, cuek dan santai. Mataku terbelalak dan tak menyangka ternyata dia ada dibelakangku sedari tadi. Aku kira tadi mahasiswa atau mahasiswi lain.
“... Sejak kapan?” kutanya langsung.
“Daritadi.”
“.... Ngikutin gue?”
Bibirnya miring, “Kan hanya ini jalan satu-satunya kesitu,” ia menadahkan kepalanya ketangga koridor.
“Oh...” wajahku benar-benar datar.
Suasana hening, aku terdiam dengan mata terbelalak sementara dia cuek bebek  melihatku dengan raut wajah santainya. Lalu ia kembali berbicara.
“Mumu.”
“Apa?”
“Namaku Mumu. Tadi aku denger kamu pengen kenalan kan?”
“Oh...”
“Kenapa?” tanyanya santai.
“.... Gak...” aku menggeleng kepala.
“Terus?”
Aku tak bisa menjawab, aku kembali menghadap kedepan dan berjalan. Aku bisa mendengar suara langkah kaki dia dibelakangku, dan saat ada belokan aku langsung membelok dan berjalan secepat-cepatnya yang aku bisa.
Tengsin abis!
Tapi dihari itu adalah hari dimana vokal interaksi kami terjadi begitu lama. Setidaknya aku bisa mengetahui namanya dari dianya sendiri meski aku tak sempat menyebutkan namaku karena keburu malu gegara kejadian tadi.
[ A P R I L O G Y ]
XIV. TERIMA KASIH ‘SELERA’
Esok siang harinya aku pergi kekantin bersama Kevin dan Enu. Tidak ada makanan yang kami pesan selain kopi untuk teman kami merokok.  Sejenak aku lupa dengan kejadian kemarin karena aku menghabiskan waktu untuk mengobrol yang penting sampai ke hal yang tak penting kepada Enu dan Kevin.
Dari ngomongin, “Sistem pendidikan.” Sampai ke “Apa warna celana dalam yang dipake Cinta Laura hari ini.”
Ya kami mesum, namanya juga lelaki dan emang tak penting.
Asyik mengobrol tiba-tiba Ghea datang menepuk  pundak Kevin dari belakang, aku menoleh dan melihat Ghea berbicara sejenak dengan Kevin diselingi tawa sampai akhirnya Ghea memandangku yang duduk disamping Kevin.
“Dion,” panggilnya.
“Ya?”
“Mumu nanyain tuh, kemarin kok gak jadi kenalan?”
“Weeeh!” Kevin langsung memandangku sedangkan Enu bertanya hal yang lain, “Mumu siapa?”
“Wiss! Wis! Wis! Wis!” dengan cerianya Kevin merangkul leherku, “Udah main tarik aje nih, beneran Ge?” tanya Kevin ke Ghea.
“Iya,” Ghea tertawa.
“Errrr!” dan aku bingung mau berkata apa.
“Mumu siapa?” Enu masih penasaran.
“Eh aku duluan ya,” pamit Ghea kepada Kevin dan kembali memandangku, “Oh, Mumu nya lagi diperpus tuh, samperin aja kalau mau.” Jelasnya dengan tawa renyah.
Ghea pergi dan Kevin menjadi-jadi mengejekku.
“Etseeeh! Mumu, Yon? Etseh! Etseh! Hahaha!”
“Mumu siapa?” tanya Enu lagi, kasian waktu itu dia tak diperdulikan kami berdua.
“Tancap udeh! Tuh udah dikasih tau lagi diperpus anaknya!” Kevin cengengesan.
“Apaan!” sewotku.
“Weeei!! Mumu siapa?” Enu akhirnya kesal karena sedari tadi dikacangin.
“Oh, temennya temen gue tadi. Cakep hahaha,” Kevin memberi jawaban.
“Weeeh!” Enu akhirnya ikut-ikutan, “Mantap kawan satu ini nih hahaha, pengen pacaran lagi rupanya.”
“Gigi loe!” bantahku.
“Samperin Yon, udeh jangan malu-malu,” kata Kevin.
“Yoi Yon, sekalian gue mau ngeliat anaknya kayak gimana,” Enu terkekeh.
Aku tentu saja menolak, ya kali disamperin. Kepentingan tak ada apalagi aku masih malu gara-gara kejadian kemarin. Tempat kami kedatangan Bayu bersama Arya,  setidaknya kedatangan mereka bisa menjadi pengalihan pembicaraan ditempat kami.
Tapi itu percuma.
Kevin yang ember memberitahukan hal yang tadi, sekarang ada 4 orang yang memanas-manasiku untuk menemui Mumu diperpustakaan. Aku tentu saja menolak. Lalu datang 2 temanku yang lain. Lalu datang 1 lagi, datang lagi dan datang lagi.
Alhasil, aku jadi bahan ejekan mereka dan tentu saja aku tak bisa membalasnya.
Yah, tak ada aktifitas yang menarik.
Selain mengejek teman sendiri.
B-R-E-N-G-S-E-K , kata yang sesuai untuk mereka kalau diposisiku waktu itu.
Sepulang dari kampus aku bertolak menuju parkiran. Kupakai topi hitam andalanku yang kukeluarkan dari dalam tas. Kuhidupkan lintingan rokok. Dan terus berjalan dengan hembusan asap yang keluar dari mulutku.
Diparkiran aku kaget, aku melihat keberadaan Mumu yang sedang berberes dengan mengeluarkan benda dari dalam tas dan dimasukan kedalam jok motornya.
Aku terpaku disitu, sampai akhirnya ia menyadari keberadaanku dan melihatku.
Dengan gaya ‘Pura-pura tak melihat’ aku menoleh keatas sambil menghisap rokok, aku berbalik badan dan menunggu Mumu pergi dari balik pohon yang ada pondok kecil yang ada diparkiran.
Aku mendengar suara jok motor tertutup yang bertanda sebentar lagi dia akan pulang. Aku mengintip sebentar dan melihat ia menaiki motor. Aku menarik kepalaku lagi dan menunggu ia pergi.
Hanya saja.... aku tak mendengar bunyi mesin motornya hidup.
Merasa aneh aku mencoba mengintip.
Dan aku terdiam
Dengan tubuh yang kaku
Ia duduk diatas motor, menopang kepala dengan tangan, dan dengan santainya melihat tempatku mengintip dari tempatnya berada.
“Kenapa itu ngintip-ngintip?” tanyanya dengan gaya yang cuek.
“Gak-enggak,” aku menggeleng kepala.
Aku menarik kepalaku dan dengan ritme nafas ngos-ngosan dari tempatku bersandar, “Anjrit! Anjrit! Anjrit!” itulah isi hatiku dulu saat tertangkap basah mengintip dirinya tadi.
Aku pun mendengar suara motornya menyala dan suara deru motornya yang menjauh, aku mengintip sebentar dan sosoknya sudah tak ada lagi ditempatnya. Aku bernafas lega, tapi aku merasa sayang untuk merokok dijalan nanti maka aku hendak menghisapnya sampai habis terlebih dahulu.
Sesudah merokok aku mengambil motorku dan segera meluncur untuk pulang. Akan tetapi digerbang parkiran yang dimana terdapat pos disitu terlihat Mumu, Ghea dan 2 temannya yang sedang mengobrol disitu.
“Anjrit! Anjrit! Anjrit!”
Ya.... dengan bodohnya aku mengerem dan memutar arah motor untuk kembali ketempatku sebelumnya.
Aku benar-benar bingung.
Kenapa aku bisa jadi begini gara-gara 1 wanita? Padahal aku sudah memiliki banyak pengalaman dengan wanita-wanita sebelumnya, sebut saja teman-temanku yang wanita mau pun mantanku.
“Ngapain gue jadi begini? Ck, cuek ajelah,” pikirku saat itu.
Aku berhenti dan memutar arahku kembali, aku berusaha untuk bersikap biasa saat melewati pos yang dimana ada dia bersama ke-3 temannya. Dan saat jarak kami berdekatan tampaknya suara motorku menarik perhatian Mumu untuk menoleh kearahku.
“Anjrit! Anjrit! Anjrit!”
Ya.... lagi-lagi aku mengerem dan memutar arah.
Kebodohan yang hakiki.
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih, aku memutuskan kembali ketempatku berada hingga ia benar-benar pulang. Sesampainya disana aku kembali merokok dan memikirkan apa yang terjadi kepadaku.
Kenapa aku malu terhadapnya? Memang kalau dipikir-pikir kejadian sebelumnya membuatku malu... tapi kenapa sampai berlarut-larut seperti ini? Dulu aku dengan Arvie juga pernah mengalamai hal yang memalukan bagiku... tapi tidak seperti ini.
Malah aku berpikir.... tingkahku ini seperti pria polos.
Apakah ini karma?
Karena aku sering mengejek Damar yang polosnya minta ampun.
Ataukah ini konspirasi Illuminati?
Apakah benar 7 permen Milkita sama dengan segelas susu?
Yah, pikiranku benar-benar kacau waktu itu.
-----
4 hari kemudian aku datang agak telat dari biasanya. Bukan karena takut berpapasan dengan dia diparkiran akan tetapi begadang habis nonton bola dirumah ayah kandungku. Turun dari motor aku menelpon temanku untuk menanyakan tempat mereka berada.
Setelah mendapatkan info maka aku mulai berjalan, tak lupa topi hitam andalan kupakai sambil menghidupkan rokok dimulutku. Aku berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya aku melihat Mumu didepan sedang membaca sesuatu dipapan informasi.
Ini bukan suatu kebetulan, hari-hari sebelumnya aku sudah sering melihat dia disitu, bahkan aku tahu tujuan dia kemana habis ini. Biasanya dihari-hari sebelumnya aku santai saja melewati dia saat begini dari belakang, tapi entah kenapa agak berbeda pada waktu itu.
Aku terdiam dan menunggu dia selesai dengan aktifitasnya itu.
Sejenak aku berpikir, dan aku merasa ini tidak perlu dibiarkan berlarut-larut.
Aku kembali berjalan.
Untuk melewatinya.
Yang telah membuatku seperti ini.
Saat jarak kami hampir berdekatan ia menyudahi aktifitasnya dan berjalan kearah yang sama denganku. Jadi posisiku sekarang berada tepat dibelakangnya. Aku dan dia terus berjalan, dan aku mengagumi rambut indahnya dari belakang yang memiliki lekukan-lekukan unik.
Setidaknya, pas itu aku bisa mengaguminya dari jarak ini.
Dan dari itu akhirnya aku juga menyadari... ternyata dia pendek, mungkin sebatas daguku...tapi untuk ukuran wanita mungkin dia udah termasuk tinggi... entah kenapa hal tak penting ini malah kusadari diperjalan kami berdua.
Kami terus berjalan
Berjalan
Dan berjalan
Sampai akhirnya suara “Aduuh!” menghentikan itu semua.
Ya, dia terjatuh dengan keras tepat dihadapanku. Aku bahkan heran apa yang membuatnya terjatuh padahal tidak ada sesuatu yang membuatnya tersandung, bahkan lantai tidaklah licin. Tapi aku melihat ada bagian keramik yang ‘Nimbul’ gitu dijalur dia jatuh tadi, mungkin itu penyebabnya... lucu sih.
“Uuuuhhh.”
Dari suara ringisannya aku bisa mengetahui kalau ia benar-benar kesakitan, semua mahasiswa melihat tempat kami berada dan karena aku yang paling dekat.... yah, dengan itu aku harus menolongnya.
Ia tertegun melihatku yang membantunya untuk berdiri, kupungut buku note kecil kepunyaannya dan ia meringis sambil melihat pergelangan tangannya. Kusarankan ia untuk duduk dikursi yang tersedia dikoridor. Ia menurut, ia duduk dan membersihkan debu-debu yang menempel dikedua tangannya. Aku pun berjongkok didepan dia.
“Gakpapa?” tanyaku sambil menyerahkan buku nya.
Tak ada jawaban yang ia berikan karena sibuk membersihkan debu, tapi ia berbicara dengan perkataan yang tidak pas dengan pertanyaanku sebelumnya.
“Kamu ngikutin aku?”
Aku memiringkan bibir, “Gue mau kesana tadi, ketempat nongkrong kawan-kawan gue,” aku menunjuk arah yang kumaksud dan tidak mau ia bertanya lebih lanjut karena kesannya aku mengikuti dia.
“Kok bisa jatuh?” tanyaku untuk pengalihan.
“.... Gak tau,” jawabnya sebal sambil menepuk-nepuk debu dicelana panjangnya.
“Oh gitu... oh iya nih buku loe,” aku menyerahkan lagi.
“Makasih...” ia menerima buku itu dan ditaruh diatas pahanya karena ia masih mencoba melihat pergelangan tangannya.
“Sakit?”
“Pedih.... ya lumayan,” ia menggerakan kedua tangannya dan memandangku, “Makasih.”
“Em yah, sama-sama,” aku hendak berdiri tapi tertahan dengan pertanyaannya.
“Kamu kenapa hari itu bolak-balik diparkiran?”
“Oh itu...” aku bingung mau menjawabnya, “Hahahaha....” kurasa kalau tertawa membuat suasana ini menjadi netral.
Dia memandangku dan bertanya lagi, “Malu?”
“Itu...”
“Gara-gara aku dengerin kamu ngomong sendiri yang mau berkenalan itu?”
“.... Emm....”
“Hmm,” dia tersenyum tipis, “Polos juga ya,” ujarnya tanpa beban sambil melihat-lihat pergelangan tangannya.
“.... Bisa jangan mengungkitnya lagi?” pintaku.
“Bisa, tapi aku udah ngenalin diri aku, dan kamu belum bukan?”
“Kenapa juga harus tertarik dengan nama gue?”
“Adab,” dia menjelingkan matanya.
“Oh...”
“Jadi?”
“Eeee nama gue Dion.”
“Udah tau kok.”
Ya, itu memang sudah bukan rahasia lagi.
“Kalau udah tahu ngapain juga kan harus begini?”
“Adab, lagian kita memang tak pernah berkenalan kan sebelumnya? Hanya tahu saja. Aku tahu kamu pasti tahu namaku dari temanku dulu.”
“Iya juga sih,” aku tertawa ringan.
“Kamu itu yang dulu dihukum kan? Yang disuruh berdiri itu?”
“Oh, masih ingat rupanya,” aku lagi-lagi tertawa ringan, sekedar mencairkan suasana.
“Kan hanya kamu yang berdiri sambil nenteng tas dileher, ditangan.”
“Oh ahaha.”
Ditengah pembicaraan itu aku mendapatkan telepon dari temanku, aku mengangkatnya sebentar dan menanyakan aku berada dimana. Aku memberitahu kalau aku dalam perjalanan kesana dan hubungan telepon pun terputus.
“Itu Negative Creep kan?” tanyanya saat aku hendak memasukan HP kedalam tas-ku.
“Eh?”
 Ya, aku tertegun, karena ia mengetahui judul lagu yang kupakai untuk nada dering teleponku yaitu lagu Nirvana dengan judul Negative Creep.
“Nirvana?” tanyanya lagi.
“Iya,” aku mengangguk, “Kok tau?”
“Itu band kesukaan aku.”
“Masa?”
“Iya,” dia mengangguk.
“Yang bener?”
“Dih gak percaya,” dia terlihat sebal.
Tentu saja aku tak percaya, karena lagu-lagu wanita pas jaman itu tak jauh dari lagu Indonesia kemayu cinta-cintaan atau pun lagu-lagu RnB, paling banter lagu Korea atau pun J-Pop. Tapi dia malah berkata kalau dia fans dari Band Nirvana yang mayoritas disukai para kaum pria.
“Kalau gak percaya coba aja tanya semua hal tentang Nirvana,” katanya dengan nada menantang.
Dan disitulah aku dan dia mendapatkan waktu interaksi yang cukup lama. Ia benar-benar fans dari Band itu, setiap pertanyaan dan kusuruh menebak lagu dari HP ia bisa menjawab semua walau dia agak rada-rada lupa sedikit. Dari Nirvana kemudian membicarakan tentang band lain, ia mengaku suka lagu Efek Rumah Kaca, Muse dan beberapa musik yang juga menjadi lagu kesukaanku juga.
 “Kalau Muse aku suka Butterflies and Hurricanes, aku suka mereka bawain lagu itu saat live!” ungkapnya mantap.
 “Oh yang main gitar lalu habis main piano itu kan? Lalu main gitar lagi.”
“Iya! Matthew (Nama Vokalis/Gitaris/Pianis band Muse) emang benar-benar totalitas main musiknya dilagu itu!”
“Kalau gue suka yang lagu Micro Cuts, itu dia nyanyi pake suara falsetto.”
“Bener-bener, eh ngapain jongkok? Sini duduk,” ia menepuk sisa bangku disebelahnya.
Aku mengiyakan  saja dan pembicaraan kami pun berlanjut. Dan dipercakapan kali ini... untuk pertama kalinya aku melihat raut wajahnya begitu ceria, jauh dari kesan cuek dan santai yang selama ini kulihat.
Ia benar-benar manis, sangat manis.
Dan betapa menyenangkan berbicara dengan orang yang mempunyai selera yang sama.
Kalian pasti juga pernah merasakannya.
[ A P R I L O G Y ]
XV. PROSESNYA TAK SESINGKAT YANG DULU
Sejak hari itu, hari-hari kedepannya aku sering berbicara. Awalnya ada rasa segan karena aku belum mengenal dia seperti apa, ada beberapa yang membuatku penasaran dari dulu karena dulu aku tak pernah melihatnya diparkiran. Ia mengatakan dulu sering diantar ayahnya, semenjak dibelikan motor maka dia menggunakan tranportasi itu untuk kekampus.
Ya, begitu banyak cerita yang kudapat darinya.
Bahkan baru sebulan kemudian aku baru bisa sedikit mengenal dirinya, dan disitulah aku mengetahui kalau dia ini sangat ceroboh, bahkan kakinya dan tangannya itu lemah, entah apa nama istilah medisnya tapi masih bisa disembuhkan. Itulah jawaban kenapa ia bisa tiba-tiba terjatuh dahulu. Ia bahkan pernah berkata kalau membawa motor ia harus ekstra berhati-hati, takut kecerobohannya itu mengakibatkan ia mengalami suatu kecelakaan dijalan.
Dan itu benar-benar pernah terjadi.
Ia pernah tak sengaja menabrak motor yang memotong jalurnya,sebenarnya  kecelakaan bisa dihindari tapi dia benar-benar panik sehingga tidak ada pikirannya untuk menekan rem. Aku mendengar hal ini dari Ghea.
Aku yang tak pernah kerumahnya kemudian menelponnya, hanya untuk menanyakan kabarnya.
Ia berkata lengannya lecet tapi tidak membahayakan dirinya, hanya saja ia bilang motornya rusak. Aku menawarkan diri untuk menjemputnya tapi ia bilang tidak mau karena tidak mau merepotkanku.
Aku maklumi hal itu dan aku tidak mau memaksa.
Hari-hari berikutnya ia kembali diantar ayahnya, ia merasa aneh karena sudah kuliah masih diantar orang tua. Aku mencoba menawarinya lagi tapi dia menolak.
Yah, hari-hari kami lalui dengan biasa.
Tapi ada sesuatu yang aneh bagiku.
Dia ini sangat menarik perhatianku... sangat-sangat menarik perhatianku.
Bisa dibilang aku mengaguminya atau pun menyukainya.
Tapi...
Aku sama sekali tidak punya pemikiran untuk berpacaran dengannya.
Aku sama sekali tidak punya pemikiran untuk menjadikan ia milikku, dan aku miliknya.
Sama sekali tidak ada.
Aku sudah merasanya nyaman dengan kondisi kami seperti ini. Meskipun ada beberapa temanku dan temannya dia sering menggoda kami untuk jadian.
Tapi mau bagaimana lagi, aku memang tak punya pemikiran untuk itu.
Bahkan dia pernah berkata, “Emangnya cewek sama cowok sering berduaan harus pacaran ya?”
Ya, inilah salah satu alasan ia sangat menarik bagiku. Yaitu ‘Pemikiran’nya.
Aku pernah bertanya apakah dia pernah berpacaran sebelumnya, dia bilang pernah berpacaran sekali sewaktu SMA. Bahkan ia tak segan memberitahu alasan ia putus dengan pacarnya kala itu, yaitu Posesif.
Mantannya itu benar-benar posesif dengan dirinya. Yang selalu curiga dengan aktifitasnya dan pecemburu berat saat ia berbicara dengan cowok teman sekelasnya. Menurutnya kalau orang tidak percaya dengan pasangannya, ngapain juga ngajakin pacaran, itu hal yang sangat bodoh bagi dia. Bahkan dia ikhlas saat mantannya itu memutuskannya saking posesifnya, dan ia merasa jijik dengan mantannya karena ia pernah mendengar dari temannya kalau mantannya itu berharap dia menyesal karena diputusin.
Kurasa lagu Shaden - Dunia belum berakhir sangat cocok bagi mantan Mumu saat itu hahaha.
Aku pun bertanya kenapa mau menerimanya dulu, dan ia bilang awalnya saja yang baik tapi kemudian keluar sifat aslinya. Dan ia tak suka menerima tiap-tiap bait kalimat romantis yang dikirim mantannya dahulu lewat SMS.
“Kalau sehari sih ya gak masalah, tapi ini tiap hari! Dikiranya cewek pikirannya cinta-cintaan melulu apa?”
Aku masih ingat perkataannya itu yang membuatku tertawa.
Sejak saat itu ia berkomitmen pada dirinya sendiri untuk mengenali orang tak hanya dilihat dari sisi baiknya, tapi juga buruknya. Karena kalau terlalu hanyut dengan sisi baiknya tentunya akan kaget menerima sisi buruknya.
Aku menyetujui hal itu.
Dan dipercakapannya itu aku pertama kalinya membuat ia salah tingkah disaat aku berkata, “Gimana gak posesif, cantik gini, ya wajar dia khawatir kalau loe direbut orang.”
Dia terdiam dan aku cengengesan untuk menggodanya. Ia kemudian cemberut dan memukul-mukul otot tanganku, “Jangan gombal!” serunya.
Yah, meskipun ia terlihat cuek ternyata dia masih bisa malu kalau dipuji.
Selain ceritanya aku juga menceritakan pengalaman-pengalamanku kepadanya. Setidaknya dia benar-benar bisa menjadi pembicara sekaligus pendengar yang baik. Yah, meskipun tidak semua pengalaman yang kuceritakan.
Dan sudah 5 bulan berlangsung.
Kami terus seperti ini dan aku benar-benar mengenali dirinya. Meski aku tak tahu seperti apa kehidupannya selagi kami tidak bersama. (Aku tidak pernah kerumahnya, jalan-jalan keluar pun dia selalu bersama Ghea ketempat aku biasa nongkrong bersama teman-temanku)
Bahkan aku tertular dengan gaya omongannya.
Aku dulu sering menyebut diriku dengan panggilan “Gue” dan menyebut orang lain dengan panggilan “Loe”, dan entah kenapa saat mengobrol dengannya otomatis lidah dan otakku bekerjsama untuk menyebut diriku sendiri dengan sebutan “Aku” dan aku memanggil dia dengan sebutan “Kamu” Itu hanya terjadi saat aku dan Mumu sedang bercakap-cakap.
Ya, aku mendadak formal saat berbicara dengannya.
Ini kusadari saat Enu berbicara denganku disaat kami berdua sedang bersantai dikedai pada malam hari, ditempat aku dan teman-temanku biasa nongkrong diluar.
“Loe kenapa ngomong sama Mumu pake ‘Aku-Kamu’, Yon?” dia terkekeh.
Ya, disitulah aku baru menyadarinya. Padahal ‘Loe’ dan ‘Gue’ ini masih kupakai untuk berbicara dengan teman-temanku, bahkan teman wanita sekalipun.
KEMANA HILANGNYA ‘GUE’ DAN ‘LOE’! DIMANA KALIAN WAHAI GAYA BAHASAKU SEHARI-HARI?!!
- Jeritan hati seorang Dion yang mendadak formal dihadapan wanita bernama Mumu –

Dan selama 6 bulan itu juga aku dan dia terkadang sering bertengkar gara-gara hal sepele, beda argumen ini itu dan lain-lain. Mungkin lucu, tapi aku dan dia pernah bertengkar kecil gara-gara ‘LEBIH-ENAKAN-MANA-MOTOR-MATIC-ATAU-MOTOR-BERGIGI’. Aku berada diteam MOTOR BERGIGI dan dia diteam MOTOR MATIC.
Ya, sangat-sangat lucu bagiku kalau diingat.
Masalah selera juga bisa dijadikan pertengkaran kecil, kalau soal musik kami bisa dibilang berada diselera yang sama. Tapi soal bacaan, cara berpakaian, film dan makanan, kami berada dijalur yang berbeda. Dan kami saling ‘Meracuni’ agar menyukai apa yang disukai kami masing-masing.
Meski begitu pertengkaran kami tak pernah berlarut-larut. Karena ada saatnya kami berpikiran dewasa dan berkata, “Kita ini ngeributin apa sih sebenarnya? Gak penting-penting amat.” Ada hikmah dibalik pertengkaran itu, kami semakin dekat karena sudah tahu kebiasaan satu sama lain.
Selain itu aku juga mengenal sifatnya yang lain.
Meski dia ini cuek, santai dan terkadang kalem.
Yang pasti dia ini sangat galak.
Sangat-sangat galak.
Tapi sifat dia yang ini belum sepenuhnya ditunjukan kepadaku.
Sesudah peristiwa itu.
Peristiwa yang kumaksud adalah aku kerap melihat seorang mahasiswa yang sering menemuinya dan selalu bersamanya dikampus. Aku sering melihat mereka bersama dan berpikir mungkin inilah alasannya aku jarang berbicara dengan Mumu dikampus selama 1 setengah minggu.
Teman-temanku mengapi-apiku, “Awas direbut-awas direbut.”
Bahkan Ghea juga pernah memberitahuku kalau mahasiswa itu mencoba mendekati Mumu, bahkan pernah bertamu kerumahnya yang dimana aku sama sekali tidak pernah melakukannya.
Tapi mau gimana?
Aku tak ada niat mau mengajak Mumu berpacaran dan aku merasa Mumu juga tidak mengharapkan itu.
Jadi bisa dibilang, itu bukanlah urusanku.
Biarlah itu menjadi urusan mereka.
Meski aku merasa ‘Kehilangan’ atau mungkin bisa dibilang.... aku cemburu.
-----
Hingga pada suatu hari aku yang sedang makan dikantin bersama Enu dan Bayu didatangi mahasiswa itu bersama ke-3 temannya. Tanpa permisi sama sekali ia duduk dan menatap Enu.
Aku tentu saja heran melihat Enu lagi makan dipandang dengan jarak sedekat ini. Begitu juga Bayu, tapi tentu saja yang lebih heran adalah Enu, karena dia yang dipandang.
“Bisa santai mandangnya, bos?” itulah Enu, kalau merasa ‘Ditantang’ maka dia balas menantang.
Mahasiswa itu menatap Enu sinis, “Loe kan yang namanya Dion.”
Dan.... hening seketika.
Yah mungkin karena ciri-ciri kami yang mirip membuat mereka tidak bisa membedakan mana aku mana Enu. Rambut kami berdua yang acak-acakan mungkin menjadi penyebabnya terlebih tinggi kami hampir sama dan gaya pakaian kami. Enu dan Bayu memandangku, aku mengangguk sekali dan dimengerti oleh Enu.
“Dia Dion, gue Enu,” Enu cuek menunjukku dengan jempol tangan karena aku disampingnya.
Mahasiswa itu kemudian bisik-bisik dengan temannya, sepertinya ia malu. Itu kuketahui karena bisikannya bisa sedikit kami dengar.
“Katanya tadi yang rambutnya acak-acakan.”
Dan sudah kuduga itu penyebabnya.
“Ada apa?” aku tentu saja bertanya karena sepertinya ia mempunyai urusan denganku.
Mahasiswa itu menatapku dan berkata.
“Dion?”
“Ya,” aku mengangguk.
“Gue denger dari Ghea katanya loe yang sering sama Mumu ya?”
“... Jadi ada apa?” kutanyakan langsung ke-intinya.
“Gara-gara loe! Taik!”
Mahasiswa itu menggebrak meja, tentu saja aku, Enu dan Bayu kaget. Dimaki lagi, tapi aku mencoba bersikap tenang. Aku tanyakan apa maksudnya dan ia mengatakan kalau akulah penyebab Mumu menolak dirinya, aku sedikit terkejut karena aku tak tahu kalau Mumu ditembak mahasiswa ini.
Ini benar-benar akward bagiku.
Aku sering mengejek alur-alur cerita sinetron yang sering ditonton ibuku.
Tapi kenapa sekarang aku mengalami alur seperti ini?
Kalian pernah melihat orang yang dilabrak gara-gara ditolak wanita?  Ya, itu pernah aku alami.
Ini... benar-benar membuatku jijik.
Harus mendapatkan ‘Drama’ seperti ini didalam hidupku, bahkan gara-gara ‘Cinta’ dan Wanita.
Ini benar-benar cara kampungan menurutku.
Sangat-sangat... M-E-N-J-I-J-I-K-A-N.
Aku berkata itu hanya asumsi dia belaka, karena aku dan Mumu bisa dibilang tak jauh dari hubungan teman, tak lebih. Tapi Mahasiswa itu masih ngotot, mungkin istilah jaman sekarang “Nge-Gas”, ya itulah yang dilakukan mahasiswa itu terhadapku.
Enu yang sedari tadi diam saja sudah membunyikan tulang lehernya
Bayu bahkan mengetuk-ngetuk meja pelan sedari tadi.
Aku tahu mereka berdua ‘Panas’ mendengar ini, sama sepertiku. Karena aku dan kedua temanku ini tau kalau aku bukanlah tipe seperti itu, yang dituduh-tuduhkan mahasiswa ini. Tapi aku mencoba terus mengajaknya berbicara baik-baik.
Namun yang namanya orang emosi suka tidak mikir apa yang diucapkannya. Sama seperti mahasiswa ini. Ia sepertinya kesal karena aku bersikap santai sedari tadi tanpa ia ketahui kalau sedari tadi aku menahan diri untuk tidak menancapkan pipinya itu dengan garpu.
Dan akhirnya ‘Pelatuk’ pun ditekan.
Disaat dia, membawa-bawa ibuku.
Bahkan belum resmi saja ia sudah mengaku Mumu itu miliknya.
Kata-kata itu adalah, “Loe diajarin ibu lo gak supaya gak ganggu cewek orang lain?!”
Lalu apa yang terjadi selanjutnya adalah keributan besar dikantin.
Setelah ia mengatakan hal itu aku menarik rambutnya dan menghantamkan kepalanya ke meja. Teman-temannya hendak menyerangku tetapi Enu dan Bayu akhirnya juga ‘Melepaskan’ apa yang dipendam mereka sedari tadi.
Aku benar-benar muak dengan orang seperti ini.
Menyeretku kedalam masalah percintaannya.
Menyeretku kedalam masalah yang tak bisa ia hadapi, melimpahkan kesalahan kepada orang lain.
Dan menyeret-nyeret ibuku.
Aku tak terima ibuku dibawa-bawa dalam masalah yang tidak beliau ketahui.
Aku merasa ibuku dilecehkan dengan masalah ini.
Dan aku merasa.... tidak ada salahnya untuk ‘Kembali seperti yang dulu’ pada waktu itu.
Keributan ini tentu saja menarik perhatian pihak kampus, bahkan aku mengejar dirinya yang mencoba melarikan diri dengan kondisinya seperti itu. Tapi aku tetapi dilerai oleh mahasiswa-mahasiswa lain.
Alhasil yang menjadi jalan tengah adalah dengan cara mediasi antar keluarga 2 belah pihak. Orang tuaku, Enu dan Bayu dipanggil gara-gara ini. Didalam ruangan itu aku kesal sekali melihat tingkahnya yang takut dan malu gegara masalah yang ia buat.
Menunduk.
Dan menunduk.
“MANA GAYA SOK JAGO KAU TADI?! ANJING!”
Itulah umpatan yang kutahan diruangan itu, dan selalu kuingat sampai hari ini.
Aku pun memberitahu alasanku. Bahkan saksinya banyak, yaitu beberapa mahasiswa yang berada didekat meja kami sebelumnya.
Aku puas melihat ia ditampar ayahnya sendiri.
Aku puas melihat ia menunduk malu gara-gara ini.
Aku sudah dikuasai hati bengisku pada waktu itu.
Dan gara-gara ini... aku merasa ingin melindungi Mumu... dari orang seperti ini.
Ya, dari orang seperti ini.
Hasil mediasi berakhir damai dari kedua belah pihak secara kekeluargaan, ayah Bayu juga mengatakan ia bersedia membiayai pengobatan terhadap mahasiswa itu dan teman yang 1 nya yang dihajar parah oleh Enu.
Keluar ruangan aku mengantar kedua orang tuaku, begitu juga yang dilakukan Enu, dan Bayu karena kami masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah dijam berikutnya. Setelah kepergian orang tua kami masing-masing begitu banyak mahasiswa dan teman-temanku mengeburungi kami gara-gara masalah tadi.
Hanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi sebelumnya.
Aku tidak menggubris mereka.
Dan disaat pulang, aku melihat Mumu menghampiriku diparkiran.
Aku bisa melihat ia ditahan Ghea tapi dia terus memberontak melepaskan diri untuk menghampiriku dan saat ia menghampiri. Sebuah tamparan pedas kuterima. Aku terdiam diatas motor. Ditampar tiba-tiba seperti itu dan dilihat oleh orang-orang lain.
Aku melihat Mumu, giginya mengatup geram, matanya berair dan ia berteriak.
“BODOH!!”
Aku tak bisa berkata apa-apa, dia terlihat kesal sekali denganku.
Ghea menyusul dan mencoba menenangkan Mumu, terlebih lagi aku dan Mumu menjadi tontonan beberapa mahasiswa yang ada diparkiran. Ghea berhasil membujuk Mumu waktu itu, ia pun mengajak Mumu pergi tapi sebelumnya Ghea menoleh kearahku dan memberikan kode “Telpon” dengan  tangan kanannya.
Setelah mereka pergi aku dilanda rasa malu karena diperhatikan oleh orang-orang disitu. Aku buru-buru pulang dan ditengah perjalanan aku mulai dilanda kebingungan.
Aku bingung.
Bingung karena kode ‘Telepon’ dari Ghea.
Aku tentu saja bingung.
Itu maksudnya aku harus menelpon Ghea atau Mumu?
Terkadang... kode dari wanita memang sulit untuk dipecahkan.
[ A P R I L O G Y ]
XVI. CURHAT NIH YE
Akhirnya aku mengetahui maksud Ghea, ternyata kode ‘Telepon’ itu ditujukan kepadanya. Awalnya aku berniat menelponnya untuk menanyakan maksudnya, apa tadi dia menyuruhku menelpon Mumu atau dia? Tapi jawabannya sudah kudapatkan saat teleponku diangkat.
“Nelpon juga loe akhirnya, kok lama amat sih?”
Yah... dari kalimat itu aku sudah mendapatkan jawabannya setelah 1,5 jam berpikir untuk memecahkan kode itu. Bisa dibilang.... ya, aku tau, bego.
Aku lantas bertanya kenapa memintaku menelponnya.
Ia bilang mau menjelaskan semuanya tapi dia mau tahu lebih dulu kronologi yang terjadi dikantin saat itu.
Aku menjelaskan seadanya, tapi yang namanya wanita... mereka mau tahu lebih detail. Berapa kecepatan tinjuku waktu itu. Berapa kecepatan angin yang melewati hantamanku. Berapa liter darah membeku yang tertoreh diwajah mahasiswa itu. Berapa harga 3 mangkok bakso yang kupesan bersama Bayu dan Enu. Dan berapa jumlah tahi lalat dileher Bayu.
Haha aku bercanda, yang pasti dia memang ingin tahu secara detail.
Setelah itu dia kemudian bertanya, “Perasaan loe sama Mumu apa?”
Mendengar pertanyaan itu aku terdiam dan bertanya.
“Maksudnya?”
“Perasaan loe itu sama Mumu itu gimana?!” tanyanya lagi.
“P-p-perasaan?” aku mendadak gagap.
“Iya perasaan.”
“K-Kenapa nanyain ini? Loe cemburu?”
“Enak aje! Gue hanya mau tau perasaan loe sama Mumu itu gimana! Bukan berarti gue cemburu! Gue kan udah punya pacar! Kalau gue suka sama loe pacar gue mau gue apain? Mau loe tanggung jawab? Hah?”
“Sabar bu, sabar....”
“Ck yaudah, jadi apa?”
“Apanya?”
“Ya Tuhan, Ya Rabbi! Perasaan loe! Perasaan loe sama gue gimana?”
“Kok elu?”
“Eh? Kan-kan! Ini gara-gara loe tadi!”
“....Oke”
“Jadi perasaan loe gimana?”
“O-oh... i-itu perasaan ya?”
“Iya! Perasaan loe sama Mumu itu gimana?”
“I-itu....”
“Apa?!”
“Errrr....”
“Apaaaaa?!” Ghea semakin beringas.
Ya... aku merasa malu membicarakan hal ini, terlebih lagi terhadap orang lain. Atau bisa dibilang.... AKU-GELI-MELAKUKAN-CURAHAN-HATI-TENTANG-MASALAH-ASMARA. Yang sama sekali tidak pernah kulakukan, bahkan terhadap teman dan ke-3 mantanku.
Aku pernah mengalami hal ini sewaktu SMA, yaitu saat Felix dengan nistanya curhat denganku sewaktu aku dan dia beristirahat sehabis pelajaran olah raga didalam kelas.
Felix : Yon.
Aku : Ha? (Berkipas-kipas dengan buku dan menoleh kearahnya)
Felix : (Muka sedih, tersenyum, menatap langit kelas) Kenapa ya... wanita susah dimengerti.
Aku : (Gerakan kipas buku berhenti, aku terdiam, alisku mengkerut) ..... Loe ngomongin apa anjir?! (Ngomongnya dalam hati)
Felix : Padahal gue udah banyak mantan... tapi kok gue masih susah ya ngertiin mereka... (Dia kemudian memandangku) menurut loe gue ini gimana?
Aku : Mati aje loe!  (Umpatku didalam hati)
Felix : Gue tau... gue mungkin emang tampan (Dia kembali menoleh kedepan)
Aku : Eh! Nyet! Gue aje belum ada ngomong apa-apa! Loe malah muji diri sendiri! Geli! (Masih ngomong didalam hati)
Felix : Haaaaah (Menghela nafas) pengen rasanya ada cewek ngertiin gue, dan gue ngertiin dia. (Tersenyum penuh harapan dengan pandangan lurus kedepan)
Aku : Bodo amat! Bebaskan gue dari ruang curhat sialan ini! (Pokoknya dari awal sampai akhir aku ngomongnya didalam hati)

Begitulah... entah kenapa rasanya janggal melakukan curhat asmara seperti ini. Seperti melihat satpam kekar berkumis tebal dan mendendangkan lagu Justin Bieber – Baby sambil bergoyang manis manja.
Untungnya aku bisa melakukan pertanyaan pengalihan daripada aku menjawab pertanyaan Ghea dengan tangis bombay, “Gue menyukai dia huhuhuhu. Tolong nikahin gue dengan dia huaaa huaaa huaaa ! Ngomong-ngomong harga ginjal berapa ya, Ghe? Gue mau jual adek gue dipasar gelap, lumayan duitnya buat Mas kawin Huhuhuhuhu!”
Agak gimana gitu.
“Kenapa menanyakan itu?” inilah pertanyaan pengalihanku, lugas dan provokatif.
Ghea menghela nafas, aku menunggu balasan yang kuinginkan.
“Loe.... tau gak alasan dia nolak orang itu?”
Akhirnya! Itulah balasan yang kuinginkan, sebisa mungkin aku membuat alur yang dimana bukan aku yang gamblang memberi jawaban tentang apa yang kurasakan. Langsung saja aku menjawabnya.
“Kagak, kenapa?”
“Ya ampun! Loe gak tau?!”
“Ya... mana gue tau kan... kan gue gak ada disitu pas dia nembak.”
“Ya ampun! Bego!”
“Loh kok bego?”
“Tolol loe!”
“Errrr jadi alasan Mumu nolak apa?”
“Bodoh! Bego! Tolol!”
Ini kenapa aku malah dimaki-makinya... aku sendiri bingung pada waktu itu.
“Dion! Denger ya!”
“Ini udah didengerin dari tadi...” bibirku sedikit miring dibuatnya.
“Oke dengerin!”
“Iya.”
“Jangan dijawab! Aku kan mau ngomong!” protesnya.
Aku bingung mau ngomong apa, ini salah, itu salah, yaudah deh.
“Dion...”
Aku diem.
“Dion?”
Masih diem.
“Yon? Yon? Halo? Halo?”
“Kenapa Ghe?”
“Kok loe gak jawab sih? Gue kirain sinyal hilang tadi!”
Aku tak tahu harus berkata apa, katanya tadi tak usah dijawab sekarang malah disuruh jawab. Ini Ghea diem-diem punya bakat terpendam kayaknya, memicu perang dunia ke-3 mungkin.
“Yaudeh, lanjutin aje. Gue dengerin.”
“Oke,” sedikit jeda, aku bingung kenapa kaum wanita mau ngomong serius saja pake waktu jeda segala sebelum dia melanjutkan kalimatnya, “.... Jadi Dion....”
“Ya?”
“Alasan Mumu nolak orang itu...”
“Hmm?”
“....Karena dia....”
“LANGSUNG AJE KENAPE SIH?!” batinku berteriak kala itu.
 Aku mendengar suara Ghea menghela nafas dan melanjutkan ucapannya, suaranya mendadak lembut, “.... Mumu itu... Prefer sama kamu...”
Sedikit keheningan selama 4 detik, alisku mengkerut.
Prefer?” tanyaku.
“Iya!”
“Oh...”
“Ya! Pokoknya itu!”
“Ghe...”
“Ha?”
“Gue mau nanya sesuatu... tapi loe jangan marah.”
“Loh? Emangnya gue pernah marah sama loe?”
“Loe lupa menit-menit sebelumnya tuh mulut ngerocos terus?”
“Oh, salah loe sih, udah tahu gue orangnya....”
Dan sekarang aku malah mendengar Ghea memperkenalkan sifat dan perilakunya, kalian pasti pernah melihat orang yang ingin memperkenalkan diri atau bisa dibilang ‘MENGAKUI’ dirinya sendiri dengan cara seperti ini, “Ya aku orangnya emang gini, gak suka ini-itu dan bla bla bla lainnya.” (Sampai sekarang masih ada kok orang-orang kayak gitu, kebanyakan di sosial media.)
Itulah yang dilakukan Ghea padahal..... AKU TAK BERTANYA DAN TAK MAU TAHU SAMA SEKALI!!
“Oke-oke, jadi gue udah boleh nanya?”
“Iya-iya.”
“Loe jangan marah ya?”
“Iya!”
“Janji?”
“Iya, ngapain juga gue marah-marah? Buang-buang energi.”
“Oke, 1 pertanyaan aje sih sebenarnya...”
“Apa?”
Ada jeda 2 detik sampai akhirnya aku bertanya waktu itu.
Prefer itu artinya apa?”
“Bego!” suaranya nyaring kembali, “Buka kamus sana! Issh tolol!” dan diumpatnya lagi.
Dengan cepat dia melupakan perbincangan dimenit sebelumnya  yang dimana aku meminta dia untuk tidak marah (ditambah ocehan dia yang memperkenalkan diri itu), padahal dia yang bikin bahasa malah aku yang disuruh repot ngartiinya. aku masih belum paham Bahasa Inggris waktu itu.
“Kenapa gak langsung saja?”
Tapi bukan jawaban yang kudapatkan tapi omelan-omelan dia dibalik telepon.  Tapi ada kalimat dari dia yang membuatku tersentak kala itu.
“Gue heran kenapa Mumu bisa suka sama elo!”
“Eh?” aku terkejut, “Apa tadi?”
“Apanya?” tanyanya sebal.
“Itu tadi... suka...”
“Iya! Mumu itu suka sama elo! Bego!”
“Hah?!”
“Hah-hoh-hah-hoh! Iya jadi itu alasannya!”
Aku terdiam mendengar hal itu, aku sendiri waktu itu kurang percaya apa benar Mumu menyukaiku? Sama seperti hal nya aku yang bisa dibilang sudah tertarik dan menyukainya dari dulu.
“Ghe, lu gak bohong kan?”
“Enggak! Karena itu gue nanyain perasaan lo sama dia gimana?”
“I-Itu...” aku malah mendapatkan pertanyaan itu lagi, apalagi aku belum bisa berpikir jernih gara-gara mengetahui kalau Mumu juga menyukaiku.
Ghea akhirnya menjelaskan semuanya. Dari awal Mumu tertarik denganku (Privasi, cukup aku, Ghea dan Mumu yang tahu) sampai ia penasaran denganku, rasa penasarannya ini muncul karena kami sering bertemu tapi tidak pernah saling menyapa. Ia bahkan meminta Ghea bertanya kepada Kevin hanya untuk sekedar mengetahui namaku.
Perasaanku saat mendengar penjelasan itu adalah:
1. Datang kerumahnya Kevin.
2. Mencium tangan kedua orang tuanya. Karena merekalah Kevin ada didunia.
3. Karena Kevin lah maka Ghea menanyakan namaku untuk Mumu.
4. Dan karena Kevin lah maka Ghea menyapaku dengan Mumu disampingnya sehingga aku juga bisa tahu nama Mumu pada waktu itu.
See? Takdir Tuhan memang bercabang kemana-mana.
Lalu Ghea juga mengatakan kalau Mumu tadi sangat cemas dan gelisah didalam kelas sewaktu mendengar kabar masalahku dengan mahasiswa tadi. Dan tadi dia itu menamparku karena lega aku tidak kenapa-napa. Dan ia bilang Mumu memang sulit mengungkapkan perasaannya.
Jadi Ghea menjelaskan maksud Mumu tadi itu adalah ungkapan kelegaan hatinya saat menamparku..... Jujur aku ngeri jadinya. Lega saja pake nampar, apalagi kalau senang?
Mungkin aku dibacok-bacoknya kali.
Ghea juga memberi saran agar membicarakan ini cepat-cepat, Mumu itu hanya ingin tahu saja perasaanku dengannya. Ia cukup ingin mengetahui itu semenjak kami sering bersama. Dan Ghea juga bertanya apa aku tidak merasa aneh melihat Mumu luwes berbicara denganku, karena Mumu itu sebenarnya pemalu. Dan akulah orang yang bisa membuatnya berbicara luwes seperti itu.
Entah kenapa..... aku jadi merasa keren. Hehehe.
“Oke! Besok harus lo omongin sama dia ya? Dikampus kalau bisa!” kata Ghea.
“Dikampus? Wah gak bisa dong.”
“Gak bisa gimana sih?!” Ghea sewot, “Dikampus tuh gede! Banyak tempat yang pas buat kalian ngobrol!”
“Iya, tapi mana bisa besok!”
“Gak bisa gimana?! Pokoknya besok lo ngomong sama dia dikampus! Titik.”
“Eh Ghe! Gue daritadi diem aje ini, tapi mau lo paksa kayak gimanapun tetap gak bisa kalau besok! Apalagi dikampus!”
“Emang apalagi masalahnya? Hah?!” serunya menantang.
“Besok Minggu, Ghe! Libur!” seruku tak kalah nyaring.
Terdiam deh tuh anak.
[ A P R I L O G Y ]
XVII. BERTAMU UNTUK PERTAMA KALI
Dari alamat rumah Mumu yang kudapatkan dari Ghea, maka esok atau lebih tepatnya pada malam hari aku berniat kerumahnya. Hanya saja... aku tak menyangka alamat rumah Mumu ini memiliki banyak jalan berliku-liku hingga otakku diare akut dibuatnya.
Alias mencret-mencret.
Aku bertanya kepada satpam dan menjelaskan maksud kedatanganku, namanya juga ‘Tamu wajib lapor’. Satpam menunjukan jalan yang harus kutempuh dan menyebutkan kalau atap rumahnya berwarna merah.
Oke aku segera kearah yang dimaksud.
Hanya saja... ada 4 rumah yang atapnya berwarna merah.
Tapi dengan sedikit petunjuk aku bisa memprediksi kalau barisan rumah sebelah kanan salah satunya pasti rumah Mumu, karena rumah Mumu barisan B, dan barisan sebelah kiri A. Dan dibarisan B masih ada teka-teki lainnya.
Yaitu ada 2 rumah berdekatan dengan atap merah diatasnya.
Aku melihat catatan alamat yang kucatat dan menyebutkan B 24. Tapi ditiap rumah dibagian B tidak membubuhkan nomor rumah didepannya, begitu juga bagian A.
Dan barisan rumah bagian B ini jumlahnya saja tidak sampai 20, 15 malah. 24 nya darimana?!!
Gambling
Ya, itulah yang menjadi jalanku satu-satunya waktu itu.
Aku tidak mau menelpon Mumu kalau aku hendak kerumahnya, aku ingin memberi dia kejutan sampai jantungan.... oke bercanda, pokoknya kejutan saja. Apalagi aku kehabisan pulsa saat itu untuk menanyakan kepada Ghea yang mana ciri-ciri rumah Mumu.
Oke. Gambling dimulai.
2 rumah yang didepanku ini hampir sama, tapi ada ayunan yang menjadi pembedanya. Aku mulai menganalisa, mungkin rumah yang ada ayunannya ini adalah rumah Mumu.
Aku menebak hal ini karena menyesuaikan dengan perilaku Mumu.
“Pasti ayunan ini sering dipake dia buat menyendiri! Berayun-ayun sendiri, termenung dan disiram air hujan biar kesan dramatisnya full maksimal.”
Ya... itulah hasil analisaku... sederhana dicampur sok tahu.
Aku memasuki rumah yang ada ayunan, kuketok pintunya, tak ada jawaban, kuketok lagi, tak ada respon, kuketok lagi, kuketok kuketok kuketok sampai akhirnya aku sadar.... Ada bel rumah disitu.
Kupencet bel dan ada lagunya, hmm lumayan untuk menghibur.
Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat ibu paruh baya berkacamata memandangku polos.
“Selamat malam.”
“Malam,” balasnya.
Biar afdol aku mencium tangannya, sopan santun dan tata krama harus tetap dijaga.
“Siapa ya?” tanyanya.
“Dion, tante hehe.”
“Dion?”
“Iya,” aku mengangguk.
“Nyari siapa ya?”
“Itu... Mumu nya ada gak tante?”
“Mumu?”
“Iya,” aku lagi-lagi mengangguk.
Ibu berkacamata ini melepas kacamatanya dan tertawa kecil.
“Oh iya-iya, Mumu? Ada kok, ada.”
“Hehe bolah saya ketemu sama Mumu gak, tante?” pintaku.
“Ngomong-ngomong siapanya Mumu ya?”
“Emm temannya tante.”
“Teman kampus?”
“Iya.”
“Ah masa sih cuma temen? Ada yang lebih kali nih,” katanya dengan nada untuk menggodaku.
“Temen kok tante, gak lebih hehehe,” aku pun tersipu malu, pake garuk-garuk tangan sendiri.
“Haha soalnya tante jarang ngeliat Mumu didatengin cowok, dulu sih iya.”
“Oh gitu ya tante hehehe.”
Gara-gara percakapan ini suasana menjadi hangat, tak kusangka Ibu Mumu enak juga diajak berbicara seperti ini. Setidaknya itu yang kupikirkan saat itu.
“Kalau gitu, boleh gak tante.... saya ketemu Mumu?” pintaku lagi.
“Oh boleh-boleh,” ibu tersenyum dan mengangguk kepala.
“Kalau gitu saya nunggu diteras saja ya, Tante?” aku menunjuk kursi duduk diteras rumahnya.
“Kok disini? Masa ngapel dirumah tetangganya?” ibu paruh baya itu tertawa.
Aku juga tertawa dan tertawa, tapi suara tawaku menghilang dan menyeringitkan dahi.
“Tetangga?”
“Iya,” ibu paruh baya itu mengangguk dan menunjuk rumah disebelahnya, “Rumahnya Mumu disebelah, tadi sebelum Adzan Isya tante ngeliat Mumu sama orang tuanya baru pulang dari luar. Mereka pasti ada dirumah.”
Aku terdiam sejenak.
“Ini bukan rumahnya Mumu?”
“Bukan,” ibu paruh baya itu tersenyum dan menggeleng kepala.
“Oh....” aku melongo.
“Emangnya Mumu gak ngasih tau alamat rumahnya? Alamat rumah daearah ini kan rumit,” sang ibu paruh baya tertawa ringan.
“Eeee... i-itu...”
Yah, seperti yang sudah diketahui dari percakapan diatas. Aku kalah dalam pertaruhan ini karena pada akhirnya aku SALAH RUMAH. Buru-buru aku meminta maaf dan ibu paruh baya itu tidak mempermasalahkannya, basa-basi sebentar supaya rasa maluku berkurang sehabis itu baru aku kerumahnya Mumu.
Sesampainya dirumah Mumu, aku langsung mencari keberadaan bel rumah daripada tanganku sakit buat menggetok-getok pintu.
Pintu terbuka, aku menoleh, dan aku kaget.
“Ya Tuhan! Kok ada badut?” pikirku saat itu.
“Loh Dion, kamu kok...”
“Mumu?”
“Iya,” dia mengangguk.
“Kenapa mukamu...” aku menunjuk wajahnya.
Kalau mau tau kenapa aku kaget karena penampilan Mumu yang membuatku kaget, menyambutku dengan rambut terikat kayak daun nanas dan wajah penuh masker yang dimana kedua mata, lubang hidung dan mulutnya yang selamat dari luluran benda itu.
Dia bertanya tahu darimana rumahku, bodoh, apa gunanya teman bukan?
Lalu dia bertanya kenapa aku kerumahnya, tentu saja aku ingin berbicara dengannya.
Aku diajak masuk dan disuruh menunggu diruang tamu, ia berkata ingin menghapus maskernya terlebih dahulu. Aku menolak, aku memilih menunggu diteras saja karena ada kursi disitu.
“Tapi banyak nyamuk loh,” nasehatnya.
“Gakpapa,” aku mencoba meyakinkan.
“Hmm yaudah, tunggu sebentar kalau begitu.”
Mumu masuk kedalam rumah dan aku menyesal.
Menyesal
Sangat-sangat menyesal.
Aku menyesal kenapa aku tidak terima saja tawarannya untuk masuk kerumah.
Diluar beneran banyak nyamuk, tanganku tak henti-hentinya berkung-fu melawan nyamuk-nyamuk biadab yang mencoba menghisap darahku. Mungkin karena waktu itu musim hujan hingga nyamuk memilih berkembang biak seperti ini, terlebih lagi halaman rumah Mumu rumput.
Mumu keluar melihat aktifitasku ini, dia menawarkan lagi untuk masuk kerumah dan aku mengiyakan. Sisi moral yang kudapat waktu itu adalah jangan pernah menolak penawaran tuan rumah.
Karena tuan rumah tahu keadaan rumahnya. (Namanya juga tuan rumah)
Masuk kedalam rumah aku hendak dituntunnya menuju ruang tamu, tapi aku bertanya terlebih dahulu apakah ayah dan ibunya ada dirumah, dia bilang ada dan aku berkata ingin menemui mereka terlebih dahulu.
Ini adalah ajaran dari Ibu kandungku, saat bertamu terhadap keluarga kenalan pastikan sudah kenal dengan sang tuan rumah, kalau pun belum harus kenalan terlebih dahulu. Karena itu orang tua Mumu menjadi targetku terlebih dahulu baru urusanku dengan Mumu.
Terlebih lagi aku tidak ingin orang tua Mumu curiga denganku yang notabene belum dikenal mereka.
Simple.
Perkenalanku dengan orang tuanya terjadi, orang tuanya ramah, aku bahkan baru tahu kalau Mumu punya kakak sepupunya yang tinggal disini karena kuliah tapi beda kampus dengan kami. Kakaknya juga ramah. Aku berbasa-basi sebentar dalam perkenalan diriku.
Dan sekarang urusanku dengan Mumu.
Hanya saja....
“Hahaha dia dari SMP suka jatuh, SMA yang lebih sering, makanya om khawatir waktu dia minta beliin motor,” ujar ayahnya.
“Dibilangin pake kacamata dia gak mau hahaha,” disambung ibunya menoyor paha Mumu.
“Kan masih bisa ngeliat!” jawab Mumu, tegas.
“Hahahaha,” dan aku tertawa saja menikmatinya.
Oke.... orang tuanya malah ikut nimbrung diruang tamu. Tau gini awalnya aku selesaikan dulu urusanku dengan Mumu, baru habis itu berkenalan dengan orang tuanya.
Ya sudahlah.
Bubur sudah tidak bisa menjadi nasi
Dan nasi sudah tidak bisa menjadi beras.
Beras juga tidak mungkin lagi menjadi padi.
Dan Padi adalah salah satu nama Band Indonesia.
Kami membicarakan banyak hal, dan yang pasti seputar tentang diriku pasti ditanyakan oleh kedua orang tuanya.
Dari pembicaraan diruang tamu, kemudian berlanjut dengan makan malam.
“Kok jadi sejauh ini....” pikirku saat itu.
Aku pernah mendengar dari Ghea dan beberapa teman Mumu yang lain sebelumnya kalau keluarga Mumu ini baik banget. Sangat-sangat baik!
Tapi ditawarin makan malam bersama terlebih lagi ini baru kunjungan pertama menjadi hal yang canggung menurutku. Aku menolak dengan halus tapi tetap dipaksa ibunya, bahkan Mumu nya sendiri berkonspirasi untuk masalah ini dan berkata.
“Malu-malu lagi,” katanya sambil tertawa.
Setelah itu disambung oleh tawa ayah dan ibunya, dan semakin beringas agar aku tak malu-malu dan terus-terusan menawariku.
Mau tak mau ya aku harus mau, ditawarin seperti itu. Yang pasti aku canggung setengah mati. Hari pertama saja udah diajak makan malam bersama dengan keluarganya dan ini sangat menyiksaku.
Ya...
Aku tersiksa....
Sangat-sangat menyiksaku.
Mumu dan keluarganya berhasil menyiksaku...
Ini semua karena....
Makanannya enak banget!
Kalau urat maluku udah tidak ada aku mau saja beringas membabi buta menghantam semua makanan yang tersedia diatas meja.
Tapi tak mungkin aku begitu dirumah orang kan?
Apalagi itu baru pertama kalinya aku datang kerumah mereka.
Aku tersiksa!
Aku ingin nambah!
Sialan kau ‘Jaga Image’!
“AKU INGIN NAMBAH!”
- Jeritan hati seorang Dion, seorang mahasiswa yang pengen nambah nasi dan lauk pauk tapi pura-pura udah kenyang.

Selesai acara makan malam dan berbicara ini-itu akhirnya ‘Waktu kami berdua’ pun tiba. Ditemani 2 minuman sirup leci diruang tamu maka aku menyebutkan kepentinganku kesini.
Awalnya tentu saja aku menjelaskan perihal masalah kemarin. Masalah aku dengan mahasiswa itu.
Ia memaklumi dan menceramahiku agar berpikir dahulu sebelum bertindak karena menurutnya meladeni orang seperti itu tidak penting. Iya sih ada benernya juga, tapi pas suasana seperti itu kayaknya sulit diwujudkan. Terlebih lagi tanpa aku memulai pun, antara Bayu dan Enu pasti yang akan memulai saat itu.
Hukum Barbar masih berlaku mau di-era manapun. Itu tak terbantahkan.
Mumu juga menceritakan perihal mahasiswa itu, ia bertemu mahasiswa itu saat ke Mall dan mahasiswa itu mengenalnya karena kami berada dikampus yang sama. Dan katanya sejak hari itu si mahasiswa sering ketempatnya untuk bertemu dirinya.
Aku hanya mendengarkan ceritanya terlebih dahulu. Dan dari ceritanya itu aku bisa berpendapat kalau mahasiswa itu lah yang getol terhadapnya.
Dia terus bercerita
Dan bercerita.
Sampai akhirnya aku bertanya hari dimana ia ditembak mahasiswa itu.
Mumu bersedia menjelaskan dengan alasan-alasannya dia, tapi aku teringat dengan percakapanku dengan Ghea. Yang kurasa itu ‘Hanya alasan’ saja.
Aku tidak ingin dia mengakuinya.
Dan tidak ingin memaksa dia mengakuinya.
Karena itu.... akulah yang mengakui diriku, dengan apa yang kurasakan terhadapnya.
Mengakui apa yang kurasakan dari dulu.
Mengakui semuanya.
Terhadap dirinya.
Aku memanggil namanya sejenak hingga ia berkata ‘Ya’ untuk responnya, kami saling melihat, saling beradu pandang, memandang dirinya dan aku berkata
“Aku menyukaimu.”
Sebuah kalimat sederhana yang mampu membuat dia terdiam.
Kami saling berpandangan dengan eksresi yang kosong.
Diam
Diam
Dan diam
Suara TV didalam tidak menganggu kami.
Suara jam dinding pun tidak merusak perhatian kami.
Seakan berada diruang kosong, hampa, yang hanya ditempati kami berdua.
Ya, kami benar-benar terdiam begitu lama.
Kalau disituasi seperti ini pada waktu itu, aku mau saja memutar lagu Jamrud – Pelangi dimatamu agar suasananya pas. Tapi kurasa itu tidak penting dan aku baru kepikiran sekarang saat mengingat kejadian ini, jadi dicerita ini saja kusajikan lagunya.
Setelah lama terdiam diposisi masing-masing akhirnya ia mengubah posisi dari tempat duduknya agar jarak kami sedikit mendekat, setelah itu ia bertanya, “Serius?”
“Aku sampai bertanya sama Ghea buat menanyakan alamat rumahmu ini, kau tau sendiri aku tak pernah menanyakan hal ini bukan? Dan sekarang aku disini, apa ini tidak cukup meyakinkan buatmu?”
Dan... kami kembali terdiam.
Ia melihat lantai tempat kakinya berpijak dan aku membiarkannya.
Aku biarkan ia mencerna semua kata-kataku barusan.
Dan yang kutunggu sekarang adalah pembuktian.
Bukti apakah benar yang dibilang Ghea kemarin.
Kalau pun Ghea berbohong, aku merasa tidak masalah, karena aku sudah memberitahukan perasaanku lebih dulu kepada Mumu. Disaat itu juga aku berpikir. Proses aku bersama Mumu ini sangat lama, lebih dari sebulan lebih malah hanya untuk mengenalinya.
Berbeda dengan aku sewaktu aku bersama 3 wanita yang sebelumnya pernah berlabuh sebentar didermagaku.
Aku sudah mengenal Mumu berbulan-bulan ini.
Aku sudah mengetahui baik buruknya dia berbulan-bulan ini.
Aku sudah mengetahui semua.
Bahkan aku pun mempersilahkan dia untuk mengenal 2 sisiku kepada dirinya, baik dan buruk.
Dan selama diam itu tiba-tiba aku kaki ku ditendangnya, terus ditendangnya meskipun pelan. Aku melihat dia yang masih menatap kakinya, tapi dia tersenyum.
Sebuah senyum yang kurindukan.
“Kamu kenapa lari waktu mahasiswa itu ngedeketin aku?” tanyanya tiba-tiba.
“Eh?” aku tentu saja tertegun waktu itu.
Dia masih menunduk, tersenyum dan terus menendang kakiku.
“Aku selalu melihatmu bodoh! Kamu selalu pergi waktu mahasiswa itu datang menemuiku.”
“Eee waktu itu... eeee” aku bingung untuk menjelaskannya.
“Bodoh!” dia tertawa dibalik senyumannya dan terus menendangku.
“Maksudnya mau aku kesitu waktu kalian berduaan?”
Dia berhenti menendang, akan tetapi telapak kakinya itu menginjak kakiku dan diulek-uleknya.
“Kamu kira aku gak sebel apa ngeliat kamu? Malah lari! Aku tuh maunya kamu datang dan ngajakin aku pergi, tepat dihadapan orang itu!”
“I-itu... aku...”
Aku benar-benar tak tahu dia mengharapkan hal itu. Tapi yang jelas... dari penuturannya itu bisa memberi bukti kalau informasi yang Ghea berikan itu benar adanya, Mumu memang tak secara gamblang menyebutkan ‘Aku juga menyukaimu’, tapi dari kalimat dia barusan sudah mewakilkan itu semua.
“Bodoh!” dia kembali menendang-nendang kakiku.
Aku tak tau harus berkata apa.
Aku hanya bisa menahan tawa dengan senyuman.
Aku pun berpura-pura mengaduh karena aku bingung apa yang mau kukatakan.
“Sakit, Mu...”
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” dia tak perduli.
Aku melihat sebentar kejalur ruang keluarga dan tak melihat ada siapa-siapa yang kemungkinan datang kesini, tanpa basa-basi lagi kakinya kutangkap dan yah... kugelitiki saja telapak kakinya.
Suara tawanya itu menarik perhatian ibunya untuk datang keruang tamu, tahu kalau kami sedang bercanda maka beliau juga ikut tertawa dan kembali masuk kedalam. Tak ada pembicaraan lagi habis itu, bahkan aku tidak kepikiran untuk membicarakan hubungan kami selanjutnya.
“Mu,” panggilku.
“Ya?”
“Besok kujemput, oke?”
“Gak.”
“Hmm,” aku memiringkan bibir.
“Gak nolak, bodoh,” dia pun tertawa.
Aku juga tertawa dan kami kembali berbincang dan berbincang, karena sudah kemalaman aku hendak berpamitan. Dan saat baru berdiri dari sofa maka dia berkata.
“Terus gimana?”
“Apanya?”
“Hmmm,” dia memiringkan bibirnya lagi.
Aku yang tahu maksudnya hanya tertawa, aku bilang nanti dibicarakan lewat telepon karena waktu sudah mepet, aku tentu saja tak enak bertamu sampai kemalaman seperti ini. Aku berpamitan kepada orang tuanya dan meminta izin untuk menjemput Mumu mulai besok karena sejak kecelakaan itu dia sering diantar ayahnya. Orang tuanya mengizinkan dan godaan demi godaan dari orang tua dan kakak sepupunya menerpa kepulanganku.
Setidaknya aku sudah tidak dianggap asing oleh keluarga Mumu.
Sepulangnya dari rumah Mumu maka aku menelponnya, seperti yang kujanjikan. Kami berbicara dari kapan kami saling tertarik hingga memiliki perasaan seperti ini. Ia juga bertanya kenapa tidak pernah mengatakannya kalau sudah begitu lama aku menyukainya.
Aku takut untuk memberi jawabannya. Tapi sepertinya ia tahu dan ia pun berkata.
“Percaya kan sama aku?”
Kata-kata itu sangat singkat, tapi memiliki makna yang lebih bagi diriku. Dan nada suaranya begitu lembut untuk meyakinkanku mengungkapkan kebenarannya.
Sedikit basa-basi kuberikan sampai akhirnya kuberitahu semuanya.
Aku berkata aku memang menyukainya.
Aku begitu tertarik dengannya.
Aku selalu ingin berada didekatnya.
Dan itu sudah sangat cukup bagiku.
Tanpa kata ‘Pacaran’ pun aku sudah nyaman merasa begini.
Aku takut dia akan marah gara-gara itu karena setelah aku mengatakan itu semua, dia tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku tentu saja panik sampai akhirnya aku mendengar suara tawanya.
Ya, dia tertawa.
Aku yang penasaran tentu saja bertanya, ia menyelesaikan tawanya terlebih dahulu dan berkata.
“Kok sama sih?”
“Eh?” aku tertegun.
Ia berkata kalau ia juga merasakan apa yang kurasakan.
Ia bahkan berkata tanpa pacaran pun dia sudah merasa nyaman denganku.
Ia juga mengatakan semisalkan aku mengajaknya pacaran pun dia mau saja menerima.
Tapi dia tidak menyangka kalau aku merasakan apa yang sama seperti yang dia rasakan.
Unik itu yang terjadi pada kami.
Kami membicarakan hal ini dan sepakat, kami memang memiliki ‘Hubungan’, tapi kami tidak mau menyebut hubungan kami ini sebagai P A C A R A N.
Tidak ada kata, “Maukah kau menjadi pacarku?”
Dan tidak ada jawaban dari dia, “Ya aku mau.”
Tidak ada.
Sama sekali tidak ada.
Yang ada hanyalah kata, “Awas aja ganjen sama cewek lain ya?! Kuinjek kamu!”
Aku tertawa dan aku mengiyakan saja.
Dan dari hari itu kami seperti orang berpacaran, tapi kami tidak mau menyebut hubungan kami ini dengan ‘Berpacaran’. Aku sulit mencari sebutan untuk hubungan kami ini.
Yang jelas.... Disaat itu aku merasa.... Kami berada di frekuensi yang sama.
[ A P R I L O G Y ]
XVI. PENCARIAN YANG KUNANTI
Sejak hari itu aku mulai sering menjemput Mumu, jadi bisa dibilang aku sudah sering bermain kerumahnya. Aku pun sudah mengenal baik keluarganya bahkan keluarga besarnya disaat ia menyuruhku datang kerumah keluarganya yang ada acara.
Dan sekarang dia dia suka memangilku dengan panggilan ‘Abang’ dan memanggil dirinya sendiri dengan panggilan ‘Adek’. Aku tak tahu dapat inspirasi darimana dia mendapatkan panggilan ini.
Sedangkan aku?
Aku masih memanggilnya ‘Mumu’ dan menyebut diriku sendiri sebagai ‘Aku’, ya terkadang ‘Abang’ juga.
Ketularan.
Dan dia juga sering datang kerumahku dan dari situlah dia mengetahui kalau aku mempunyai 2 orang ayah dan 2 orang ibu. Sejak mengetahui hal itu dia penasaran bagaimana sikapku sewaktu mengetahui hal itu.
Kuceritakan semuanya.
Perilakuku.
Dan kejadian yang membuatku masuk penjara.
Disitulah aku sering dimarah-marahi dia.
Ya, galak bukan main.
Yang mengetahui hubungan kami ini hanya keluarga dan teman-teman kami (Kalau kami tidak berpacaran), dan kalau ada orang ‘Luar’ bertanya ya kami bilang kami pacaran. Daripada harus ngejelasin ini itu, kan ribet.
Meskipun galak bukan main, tapi terkadang sisi lembutnya itu ‘Memanjakan’ku.
Sewaktu aku terluka kakiku saat bermain futsal, mulutnya tak berhenti mengoceh, tapi dialah yang mengobati lukaku itu, dengan lembut.
Apalagi kalau aku suka tidur sampai kesiangan pas hari libur, ada-ada saja kelakuannya untuk membangunkanku, terkadang ia melakukannya bersama adikku. Kalau aku kesal pandai dia tuh membujukku.
Ya, itulah. Takluk akutu ~
Kalau tidak percaya coba saja cari pacar yang galak. Dan rasakan sensasinya ~
Dan dari dialah aku benar-benar tekun belajar sholat.
Ini terjadi saat ia memintaku menjadi imam sholat maghrib dirumahku.
Aku tak bisa.
Sejak itulah dia tahu dari ibuku kalau aku ini tidak pernah sholat, bisa dibilang aku ini ‘Islam KTP’.
Ya... mau gimana lagi.
Dari kecil aku berada  dalam 2 lingkungan agama.
Aku sudah merasakan hidup dilingkungan pernikahan beda agama.
Ayah tiriku Islam, sedangkan Ibu kandungku Katolik. Ibuku menjadi muallaf saat aku berumur 7 tahun dan aku bersama adikku ikut menjadi beragama Islam.
Dan gara-gara ‘Hal’ dulu aku sempat tak percaya adanya Tuhan. Bukannya tak percaya... tapi aku bingung ‘Tuhan’ku itu berada dipihak (agama) mana.
Jadi tidak Atheis-Atheis amat.
Aku Sholat itu dalam sebulan bisa hanya 4 kali, malah kurang dan tak pernah sama sekali, dan itu untuk  Sholat Jum’at saja, itu pun diajak ayah tiri dan adikku. Dan dalam sholat itu aku hanya mengikuti gerakan orang-orang yang ada disekitarku. Dan suaraku lah yang paling nyaring saat mengatakan ‘AMIN’ berjamaah, karena hanya itu saja yang kutahu.
Sejak itulah Mumu begitu ‘Beringas’ mengajariku.
Cara ber-wudhu.
Gerakan sholat.
Bacaan sholat bahkan mengaji.
Gara-gara itu adikku punya ledekan baru untukku, biasanya dia memanggilku saat mau makan malam, “Hui Iqro 1, makan.”
Ya.... aku baru Iqro waktu itu, dan adikku akan memanggilku sesuai dengan peningkatan iqro yang kujalanin, jadi panggilanku itu ibarat ada level-nya bagi dia .
Semisalnya aku udah naik iqro 2, dia akan memanggil “Iqro 2, pinjam motor bentar.”
Begitu juga iqro 3 dan seterusnya, yah.... pengen lempar jumroh rasanya, tapi kearah adikku.
Ada 3 bulan aku mempelajari ini.
Supaya tidak terlalu merepotkan Mumu maka terkadang aku belajar sendiri, selain bacaan sholat aku juga membaca kisah-kisah para Nabi. Aku baru tau ada Nabi yang dimakan ikan paus hidup-hidup gara-gara ninggalin kaumnya. Aku baru tau kalau ada 4 Nabi yang dikabarkan masih hidup sampai sekarang.
Aku tergelitik membaca kisah Nabi Idris alaihissalam, yang dimana ia berhasil membuat Malaikat kalang kabut dibuatnya gara-gara dia tidak mau keluar dari surga. Dia hanya memakai alasan ingin mengambil alas kakinya yang tertinggal di Surga, malaikat menunggunya dan Malaikat itu dibuatnya menunggu begitu lama karena Nabi Idris tidak keluar-keluar dari surga.
Pintar akalnya hahaha.
Dan pada akhirnya ‘Pintu’ku terbuka setelah sekian lama belajar, memahami dan ‘Merasakan’ nya sendiri. Ini semua berkat temanku yang memperkenalkanku dengan ‘Beliau’ (Aku tidak mau menyebutkan namanya), beliau hanya seorang pria tua yang nyentrik dan nyeleneh, setiap perbuatannya pasti akan membuat orang-orang normal pada umumnya akan geleng-geleng kepala seperti mencoret-coret mobil/rumah orang lain dengan pilox. Tapi dari beliaulah aku sedikit demi sedikit mengetahui ilmu agama, orang yang membuatku terhenyak karena dia mengetahui rahasia tentang diriku yang dimana Mumu, teman bahkan keluargaku tidak mengetahuinya. Orang yang juga ‘menyembuhkan’ku dan juga memperkenalkanku dengan apa yang namanya alam ghaib. (Buat yang tahu siapa orangnya mending kita sama-sama tahu saja, buat yang tidak tahu mending abaikan tulisanku ini karena akan mengakibatkan pro dan kontra nantinya)
Ada suatu hal yang membuatku mendapatkan ‘Hidayah’, aku tidak bisa menceritakannya karena itu benar-benar pribadi dan menguras air mataku. Yang pasti aku waktu itu sangat menyesal kenapa aku baru menyadarinya selama ini.
Dihari-hari itulah aku ‘menemukan-Nya’.
Dihari-hari itulah aku bisa mengetahui kasih sayang-Nya.
Dihari itulah aku akhirnya mengakui, kalau diri-Nya berada di agamaku (Islam)
Aku menyadari kebodohanku.
Aku menyadari kesalahanku.
Dan dengan Imanku maka aku meyakini....
Kalau Tuhanku hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Disaat itulah aku mengucapkan 2 kalimat syahadat, tulus dari hatiku sendiri.
Dijaman sekarang orang-orang banyak memperdebatkan pertanyaan “Apa agamamu?” apakah pantas untuk dipertanyakan atau tidak.
Aku rasa biasa saja.
Dan kalau pun ada orang yang menanyakan hal itu kepadaku, maka aku akan dengan bangga menjawabnya, “Agamaku Islam.”
Aku bangga dengan agamaku, untuk apa kututupi?
Meski agamaku ini selalu mendapat citra negatif.
Aku tetap bangga dengan agamaku.
Bangga dengan Nabi ku, baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Bahkan bangga dengan Nabi-Nabi sebelum beliau.
Aku bangga kalau aku Islam.
Dan yang tak pernah berhenti membantuku hingga saat ini sehingga aku bisa menemukan ‘Kesadaranan’ku sendiri adalah dia.
Dia yang selalu ada.
Dia yang memicuku untuk mempelajari agama.
Dan karena itu, ada hari dimana bukan dia yang masuk kekamarku untuk mengajakku Sholat. Tapi aku yang menghampirinya disaat jam hendak memasuki Sholat Isya.
Dia sedang berbicara dengan ibuku didepan TV.
Aku menarik kerahnya pelan dari belakang dan tersenyum kepadanya.
“Isya-Isya.”
Dia tersenyum melihatku, begitu juga ibuku, meskipun ia sedikit mengejekku karena baru pertama kalinya aku mengajaknya sholat. Tapi itu tidak masalah.
Terima kasih sudah memberiku petunjuk-Mu.
Hingga aku benar-benar menekuni agama ciptaan-Mu ini.
Karena dihari itu baru pertama kalinya....
Dengan bacaan surah dan doa yang lancar....
Aku menjadi imam sholatnya, untuk dia, yaitu Mumu.
Dan aku bersyukur telah menemukan makna kalau Sholat ini bukan hanya kewajiban, tapi juga kebutuhan.
Terima kasihku kepada-Mu sudah memberi skenario untukku agar bisa mengenal dirimu sehingga aku merasa dikenal juga oleh-Mu. Dan terima kasihku kepadamu Allah karena telah mempertemukanku dengan ‘Beliau.’
Allah is a best director.
[ A P R I L O G Y ]
XVII. JKT48
Semenjak sarjana aku mempunyai waktu yang ideal dengan jam kerjaku.  Aku memiliki pekerjaan berkat bantuan ayahnya Bayu gara-gara dipinta oleh ayah tiriku yang tahu keinginanku untuk bekerja (Walau ngurus ini-itunya ribet bukan main buat syarat kerja, apalagi saat tes.)
 Setidaknya aku beruntung sudah memiliki pekerjaan walau belum pegawai tetap, begitu juga Mumu yang waktu itu membuat surat lamaran kerja untuk syarat karena dia sudah mendapatkan rekomendasi.
Dan tentu saja aku bekerja lebih awal karena aku sudah mempunyai rencana.
Selama kuliah kami pernah membahas ini untuk candaan belaka namun lama-kelamaan berselang berjalannya waktu, bahasan itu menjadi pembahasan yang serius.
Yaitu aku berencana menikahi Mumu, lebih tepatnya kami berencana mau menikah.
Tapi aku bukan orang naif.
Aku tidak mungkin menafkahi atau pun menghidupi keluargaku dengan ‘Cinta’ saja.
Mungkin jadinya seperti ini.
Mumu : Dion aku lapeeeer.
Aku : Terimalah cintaku ini sayang! (melakukan kiss-bye)
Mumu : Waaah! Aku kenyang!
Atau
Mumu : Dion, listrik belum dibayar, air, ini-itu dan juga Internet.
Aku : Kita bayar pake cinta kita sayang! (Membuat tanda ‘Love’ dengan kedua tangan)
Mumu : Waaah! Lunas!
Atau
Mumu : Dion, beliin tas kulit buaya itu! Beliin! Beliin!
Aku : Hmm itu kulit palsu, tak ada cinta disetiap rajutannya.
Mumu : Lalu yang asli kayak gimana?
Kami kemudian pergi keragunan.
Aku : Demi CintaaaaaaaaaH!!! Pake H!!! (Meloncat kekandang buaya, bawa parang, benang dan jarum)
Mumu : Waaaw! Kulit buaya asli! (terkagum-kagum)
Besoknya masuk berita,
“Mengira dirinya Tarzan, seorang pria idiot melompat kekandang Buaya dengan parang. Sekarang dia didalam perut buaya dan sedang dicerna perut buaya tersebut.”

Gak mungkin kan?
Ada yang bilang kepadaku, “Nikah aje dulu, biar susah senangnya bisa dinikmati bersama-sama.
Bisa saja kalau aku mau, tapi tidak.
Aku dan Mumu berencana membeli rumah dari hasil kami bekerja nanti. Jadi ya.... “Susah-senang’ nya sudah bisa kami nikmati dari awal hehe. Aku mempercayakan tabungan kami berdua kepada dia disaat dia sudah mendapatkan pekerjaan dari rekomendasi teman ibunya. Tabungan untuk masa depan kami.
Teman-temanku juga giat mencari kerja, yah... setidaknya kami semua sudah memikirkan masa depan.
-----
Tapi ada juga saat dimana ada rasa suntuk, lelah, capek menghantam tubuhku ini. Ada pada suatu hari aku yang lelah kemudian memilih kerumah Ega karena katanya ada beberapa temanku disana sedang bermain dirumahnya.
Dirumah Ega ada temanku yang bernama Dharta, aku yang lagi menunggu giliran bermain game bola mengajaknya berbicara sejenak untuk membunuh waktu. Tapi yang kulihat dia terkekeh melihat sesuatu di-handphone-nya.
Aku yang penasaran tentu saja bertanya, “Liat apaan, Dhar?”
“Oh,” dia melihatku, “Ini lagi baca cerita fanfic.”
Fanfic? Apaan tuh?”
“Cerita, buatan fans untuk hal-hal yang terkenal bagi kalangan umum gitu singkatnya.”
“Oh,” aku mengangguk saja.
“JKT48, Dhar?” sambung Ega yang sedari tadi bermain game di-PC.
“Yoi,” jawab Dharta.
“JKT48?” alisku mengekrut.
“Tuh, palingan baca cerita fanfic JKT48, dari dulu gue mau diracunnya melulu,” Ega menadahkan kepalanya menunjuk Dharta.
“Oh... tapi kayaknya pernah denger JKT48...” gumamku.
“Yang nyanyinya keroyokan itu, Yon,” jawab Adis, yang asyik bertanding bola dengan Beny.
Ya, aku ingat akhirnya. Aku pernah melihat di TV sebelumnya, yang dimana ada sekelompok cewek yang buuuaaaanyaknya minta ampun bernyanyi sambil menari, dan penontonnya juga tak kalah heboh waktu itu. Aku lupa acara apa yang pasti award-award gitu.
“Emang seru?” kutanya Dharta.
“Lucu sih, mau coba baca?” Dharta menawarkan.
“Boleh dah, gabut gini.”
Aku menyerahkan handphone-ku kepada Dharta dan ia menunjukan cerita Kos-Kosan Bidadari yang dikarang oleh Ghifari Guntur. Aku pun membacanya dan yah, seperti yang dibilang Dharta. Ceritanya lucu dan menarik. Bahkan selama membaca aku sering  bertanya kepada Dharta. Karena aku tak tahu bagaimana bentuknya Veranda, bagaimana bentuknya Melody yang ada dicerita itu.
Dharta ini bisa dibilang fans JKT48, mendengar pertanyaanku ia selalu menunjukan foto member-nya yang ia simpan didalam laptop. Yang aku tahu dari foto itu adalah Melody, Veranda dan Nabilah karena mereka bertiga yang memang menarik kulihat sewaktu kutonton di TV. Apalagi Nabilah waktu itu.
Aku menyerahkan handphone-ku kepada Dharta untuk meng-bookmark cerita-cerita yang lucu karena aku suka hal-hal yang berbau komedi. Dia merekomendasikan cerita Jomblo is You yang dikarang Anto Teo.
“Pokoknya semua yang lucu-lucu lo bookmark deh,” pintaku.
“Yee mana gue inget, gue bookmark aje nama situsnya, biar lu cari sendiri,” usulnya.
“Iya dah.”
“Weessseh, ketularan loe?” Ega terkekeh kepadaku.
“Iseng aje.”
“Kalau loe mau baca, coba loe baca cerita yang judulnya Sepeda untuk Shania, gue pernah dipaksa Dharta baca cerita itu dulu,” kata Ega sambil menyalakan rokok.
“Dimana bacanya?”
“Cari aje di-Google.”
“Nih Yon,” Dharta menyerahkan handphone-ku, “Nanti loe cari-cari aje sendiri.”
“Okelah.”
Disaat itu mulai giliranku untuk bermain game, jadi aku berhenti sejenak untuk membaca cerita fanfic tersebut. Hingga pada malam hari karena aku dan Mumu jalan-jalan sejenak untuk mencari makan. Didalam mobil maka aku berbicara (Ya aku punya mobil sejak kuliah semester 3, mobil lama ayah kandungku karena dia punya mobil baru)
“Mu.”
“Hm?” responnya sambil ngemil.
“Tau JKT48 gak?”
“Tau, kenapa?”
“Oh enggak, tadi aku kerumah Ega, ada Dharta juga disitu, ya ngomong-ngomongin itu jadinya.”
“Hooo,” dia memajukan badannya, senyumnya penuh arti dan memain-mainkan alis.
“Nape?” tentu saja aku heran.
“Mau ngapain? Mau jadi fans-nya juga?”
“Eh?”
“Lupa dengan ceritanya temen adek? Si Dira?”
Dira adalah temannya Mumu. Menurut cerita, Dira putus dengan pacarnya gara-gara pacarnya benar-benar tergila-gila dengan JKT48. Itu gara-gara pacarnya sendiri yang gak jago bohong, ia bilang ia sakit, tapi ketahuan kalau ia lagi nontonin JKT48 bersama teman-temannya sesama fans. Dan ada saudaranya Dira yang ada disitu.
Ketahuan jadinya. Sejak itu katanya Dira tak suka dengan yang namanya JKT48.
“Aku mana mungkin begitu,” aku memiringkan bibir karena aku tak pernah fanatik dengan apapun.
“Iya sih,” dia menarik tubuhnya kebelakang untuk bersandar, “Tapi semisalnya adek ngasih abang izin poligami, lalu istri ke-2 abang itu anggota JKT48, abang pilih siapa?”
“Beeeh ngapain ngapain nanyain itu? Poligami segala.”
“Kan semisalnya, jawab aja,” pintanya.
“Hmmm,” aku berpikir sejenak dan sedikit cengengesan.
“Jadi siapa?” tanyanya lagi.
“Melody deh,” jawabku, mantap.
“Oooh! Udah hapal ya? Hmm!!!”
Dan telingaku ditarik-tarik olehnya secara beringas, dan yah... aku berhasil dijebak olehnya.
Pesan moral buat pembaca cowok: hati-hati dengan pertanyaan muslihat wanita.
Tapi meski begitu ia berkata kalau aku mau jadi fans-nya mereka ya boleh saja, asalkan mengerti apa yang diprioritaskan bagiku. Aku mengerti maksudnya itu, ya karena prioritas utamaku adalah kehidupan kami berdua kedepannya.
Setelah mengantar Mumu maka aku bertolak kerumahku.
Dan disanalah aku melanjutkan membaca cerita karena aku benar-benar bosan dirumah. Komputerku dijajah adikku sedemikian rupa untuk meng-edit video dan aku malas bermain PS.
Jadi ya aku memilih membaca saja.
[ A P R I L O G Y ]
XVIII. HOBI BARU NIH
Ada 2 minggu aku membaca begitu banyak fanfic JKT48. Walau tanganku capek, karena biasanya aku membaca sambil membuka tab google untuk mencari member-member yang ada dicerita.
Dan member favoritku di JKT48 adalah Melody dan Ghaida. Walau aku tidak mau tahu aktifitas mereka.
Tapi selama membaca cerita aku kadang kesal juga “Kenapa ceritanya tidak dilanjutkan?”, “Kenapa pendek banget?”, dan dari itu semua aku merasa ada yang ‘Aneh’
Apakah yang ‘Aneh’ menurutku?
Dalam menulis cerita kita memang menuangkan imajinasi dan pemikiran kita didalamnya, begitu juga dengan fanfic. Tapi aku merasa ada yang aneh dan mungkin bisa aku jabarkan dibawah ini.
1. Ada anak SMA, setiap pergi kesekolah selalu membawa mobil sport mahal (Bahkan mereknya disebutin biar kesan ‘Kaya’ nya kelihatan, sebut saja Lamborghini). Tapi masalahnya adalah dia memberi penjelasan kalau Ayahnya PNS, lalu ibunya ibu rumah tangga, rumahnya sederhana.
Ada yang menemukan keanehannya?
Coba pikir... gini... berapa sih Gaji PNS Indonesia hingga bisa membeli mobil sport semahal itu untuk anaknya? Belum lagi pajak-pajaknya?
Kalau ada penjelasan kalau ia memenangkan hadiah lotre atau pun diam-diam ayahnya raja minyak sih tak masalah. Tapi penjelasannya sampai disitu saja. (Ayah PNS, ibunya ibu rumah tangga ngurusin rumah)
Ya.... begitulah.
Tapi aku berpikir positif, “Siapa tau itu adalah dunia paralel, yang dimana gaji PNS perbulannya sama dengan penghasilan Bill Gates setengah bulan.”

2. Aku sering melihat tokoh wanitanya itu ‘Lembut’ sekali, beneran. Mending kalau 1 saja tapi ini semua tokoh-tokoh wanitanya ‘Lembut’ semua, alias ‘Semua sifat tokoh-tokoh wanita didalam cerita sama semua’, apalagi ada suatu cerita yang dimana tokoh wanitanya itu kerjaannya mikirin cinta melulu saking ‘Lembut’nya.
Saking ‘lembut’nya kalau tertawa mulutnya ditutup pake tangan.
Saking ‘lembut’nya hanya butuh 2 detik bagi wanita ini menyukai pria, tanpa alasan apapun.
Saking ‘lembut’nya ia terlalu baik, di-bully pun ia memaafkan.
Saking ‘lembut’nya ia tidak pernah marah.
Saking ‘lembut’nya tidak pernah mengatakan hal-hal kasar meskipun kecil seperti nada agak membentak, “Hey!!”
Saking ‘lembut’nya dia baper kalau diajak bercanda. bahkan tidak pernah menegur orang yang berbuat salah kepadanya, dia memaafkannya.
Dan... saking ‘Lembut’nya ia tidak bisa hidup tanpa pria yang ia cintai, mungkin seperti dibawah ini.
Pria : Aku pergi.
Wanita : Tidak! Jangan pergi! Aku tak bisa hidup tanpamu!
Pria : Sayang... (Menoleh kebelakang, wajah sendu, latar senja)
Wanita : Tidak! (Nangis)
Pria : Sayang, please....
Wanita : Tidak! Jangan tinggalkan aku! (Merengek, tangan dan kaki menggebuk-gebuk lantai, berguling-guling)
Pria : Sayang! Aku ini cuma mau ke WC!!
Sedikit keheningan.
Pria : Uuuuh udah kebelet (sang pria pergi)
Wanita : Tidak! (Meringkuk, tangan kanan menadah kedepan, air mata mengalir terus)
Lalu wanita tiba-tiba mati, tanpa sebab yang pasti.
------
Kira-kira seperti itulah.
Aku berpikir positif, “Mungkin lingkungan tempat tinggalnya itu cowok semua, jadi dia tidak tahu wanita itu seperti apa. Maka dia menciptakan sosok wanita diseluruh dunia dengan imajinasinya”

3. Ada juga cerita yang awal narasinya memperkenalkan tokohnya itu pintar sekali, sangat-sangat pintar menurut penuturannya. Lebih dari kata ‘Jenius’ malah.
Tapi....
Selama cerita ia tidak menggunakan ‘Kepintaran’nya itu untuk konflik-konflik yang ada didalam cerita. Mungkin aku terpengaruh dengan tokoh Light Yagami dikomik Death Note. Light terkenal akan kepintarannya dan kepintarannya itu digunakan untuk aksi-aksi dia selama proses jalan cerita, bahkan ia beradu kepintaran dengan L, detektif yang ada dicerita Death Note.
Tapi dicerita yang aku maksud tadi sama sekali enggak. Padahal narasinya meyakinkan. Dia jago fisika, kimia, matematika, sastra dan lain-lain, beeuuuh! Einstein pun lewat dibuatnya. Tapi ‘Kepintarannya’ itu tidak diekspos kedalam konflik alur cerita.
Dan mau tahu kepintarannya untuk apa?
Menjawab soal dari guru dipapan tulis dan juga PR.
Udah itu aja.
Tak ada yang lain.
Aku pun berpikir positif, “Mungkin saking bodohnya tokoh-tokoh lain maka dia tidak perlu menunjukan ‘Kepintarannya’ itu. Oke sip”

4. Dan ini benar-benar merobek semua harga diri laki-laki didunia. Aku pernah membaca cerita yang dimana tokoh utama prianya Sempurna banget!
Kaya, saking kayanya, bagi dia Jakarta - Bali itu seperti Rumah ke warung. Duit berjuta-juta untuk beli tiket itu recehan baginya. Dia membanting handphone dan membeli handphone yang sama saking bingungnya duit mau diapakan.
Tampan, saking tampannya ia melirik saja cewek-cewek pada naksir. Kalau ada cewek yang ditamparnya, mungkin cewek itu akan memaafkannya saking tampannya. Semua wanita dibuat naksir karena tampang, bukan dari perasaan. Perasaan itu mitos bagi wanita didalam cerita ini.
Bisa segalanya. Ya, bisa segalanya, main bola bisa, basket bisa, bersalto-salto bisa, menyelamatkan cewek yang loncat dari tingkat 2 bisa, mungkin benerin satelit diluar angkasa juga bisa.
Kelewat pintar, saking pintarnya semua mata pelajaran yang sulit bagi dia itu hanya seperti menjawab pertanyaan “1 + 1 = 2”. Tapi ya tetep, seperti yang tadi saya sebutkan dikotak sebelumnya, kepintarannya hanya untuk menjawab soal guru dipapan tulis.
Cewek kutub U, dia kutub S. Semua wanita yang ada didalam cerita ini naksir dia semua, gak disisakan 1 pun buat laki-laki lain.
Semua perhatian tertuju kepadanya. Ya, semua perhatian tertuju kepadanya. Bahkan semisalnya ia jatuh dari tangga, yang khawatir adalah semua orang di-Indonesia. Kalau bisa PBB pun khawatir dengannya. Dan semua masalah dia itu entah kenapa juga menjadi masalah orang lain, orang-orang yang memikirkan pemecahan untuk masalahnya kalau perlu nyawa taruhannya.
Jadi ya.... sudahlah.
Dan saya berpikir positive, “Mungkin dia memakai alat Doraemon, kan ada tuh alat pengabul semua permintaan, tapi tokoh Doraemon disembunyikannya didalam cerita.”

5. Semua tokoh kakak perempuannya adalah Melody. Hampir semua fanfic yang saya baca pasti tokoh kakak perempuannya adalah Melody. Padahal banyak tokoh-tokoh lain yang bisa dijadikan sosok kakak yang umurnya hampir sepantaran dengan Melody.
Lagipula, Melody tidak cocok jadi sosok kakak menurut saya.
Ya, itu menurut saya.
Karena menurut saya Melody itu cocoknya jadi istri. #Plaaak
Dan saya berpikir positif, “Ini pasti konspirasi untuk memberi Melody predikat sebagai ‘Kakak sejuta umat Fanfic’. Oke sip.”

6. Banyak angka 48 dimana-mana.
Serius.
Saya pernah membaca sebuah cerita yang dimana TK-nya bernama TK 48, SD nya bernama SD 48, SMP 48, SMA/SMK 48 bahkan ada Universitas 48. Sebenarnya sih ini bukan aneh, unik malah. Terlebih saya ingat ada 1 cerita (tapi lupa judulnya dan bacanya dimana), yang dimana nomor handphone-nya itu seperti ini 0848-4848-4848.
Ya, saya pun berpikir, “Provider mana ini yang nomor depannya 0848?”
Bahkan saya malah berimajinasi untuk cerita itu yang dimana tokoh utamanya memberikan keterangan seperti ini
Ukuran bajunya 48
Ukuran celananya 48
Ukuran celana dalamnya 48
Ukuran sepatunya 48
Tinggi badannya 48 dan berat badannya 48.
Kan keren itu kalau semua ukurannya 48, iya gak? Iya gak? Gak terbayang gimana bentuknya manusia yang kayak gitu apabila semua ukuran tubuhnya berukuran 48.
Asalkan ukurannya jangan untuk wanita saja.
Ngeri jadinya, bayangkan ukuran dada wanitanya 48. BH-NYA SEGEDE APA ITU?!
Tapi tentu saja saya berpikir positif tentang hal ini, “Mungkin angka 48 adalah angka yang sakral, kalau tidak ada angka 48 berarti itu bukanlah fanfic JKT48. Oke sip.”

Itulah menurutku yang ‘Aneh’ dari beberapa cerita yang kubaca, tapi lucunya adalah ‘Aneh’ nya itu benar-benar menghiburku karena jalan ceritanya juga bisa dibilang menarik.
Tapi dari keanehan-anehan tersebut memotivasiku untuk melakukan hal yang serupa!
Yaitu aku ingin membuat cerita!
Dengan ke’Aneh’an versiku sendiri!
Aku harus membuat yang ‘Aneh’ dengan ceritaku nanti!
Aku tidak mau kalah aneh!
Aku harus jadi aneh!
Dan motivasi apa ini?! Ah bodo amat dah, yang penting aneh!
HIDUP ANEH! (Mengepalkan tangan kanan keudara)
Terima kasih untuk kalian para penulis-penulis fanfic JKT48 atau biar keren dikit pake Bahasa Inggris yaitu Author, kalianlah yang memicuku untuk membuat Fanfic. (Terutama penulis yang bikin cerita yang menurut saya ‘Aneh’ tadi)
Rencana ini kusampaikan kepada Dharta karena tempat kerja dia dekat dengan tempat tinggalku dan Ega, dan ia lebih memilih istirahat kerja dirumah Ega. Waktu itu disana ada Ega dan Dharta, dan aku memberitahukan hal ini kepada mereka berdua.
“Loe mau bikin cerita apa, Yon?” tanya Ega.
“Yang aman-aman aje deh, romance gitu.”
“Geli!!!” Ega begidik jijik dan melanjutkan aktifitasnya bekerja dengan komputer didepannya (Dia bekerja dirumah).
“Tapi romance-nya kayak gimana, Yon?” tanya Dharta.
Romance, tapi gak terlalu romance. Mau gue campur dengan hal-hal lain. Ini gue sebut Romance gado-gado. Genre baru!”
“Terserah loe dah,” cibir Ega dan berkutat lagi dengan keyboard.
Aku kemudian menceritakan ideku untuk sementara, yaitu tentang 2 orang yang sudah menikah saat kuliah dan beberapa intrik didalamnya, (Cerita ini nantinya menjadi cerita Beautifull Aurora V).
“Bukannya itu biasa ya? Kuliah udah nikah,” Ega berkomentar.
“Bener juga,” aku mengurut-urut dagu.
Aku jadikan waktuku untuk mencari ide baru, dan aku teringat dengan temanku semasa SMA yaitu Yerwin, yang menikah setelah lulus SMA. Gara-gara itu aku mendapatkan ide baru. Yaitu tentang 2 orang siswa SMA yang sudah menikah.
“Hah?” Dharta kaget waktu kuberitahu ide ini.
“Itu cerita romance atau cerita seks? Masa SMA udah nikah?” Ega terkekeh.
Aku pun menjelaskan lebih detail ceritaku itu, mengenai 2 orang yang sudah lama tidak bertemu, mereka bertemu lagi tapi sudah dijodohkan orang tuanya sejak lama, dan mereka diminta menikah pas mereka kelas 3 SMA.
“Unik juga tuh, Yon,” komentar Dharta.
“Tabu kan? Hehe, tapi gue mau bikin fanfic ini sedikit beda dari yang pernah ada!” ujarku mantap.
“Kayak gimana tuh?”
Fanfic yang kuinginkan mungkin bisa dijabarkan dibawah ini.
1. Aku mau membuat 1 bagian (part) nya panjang.
2. Aku tidak mau membuat ceritanya ‘Menggantung’/tidak dilanjutkan.
3. Aku ingin semua orang mengetahui nama-nama tokoh-tokoh yang ada diceritaku. Jadi tidak hanya tokoh utama saja yang menjadi pusat perhatian.
4. Membuat situasi yang kocak/lucu dari kondisi yang tidak dipaksakan.
5. Aku tidak mau menyebutkan nama-nama merek/barang mahal. Kalaupun ada mungkin terpaksa.
6. Semua tokoh-tokoh yang ada diceritaku mendapat bagiannya. Ada yang pintar, ada yang kaya, ada yang konyol, bisa dibilang dari semua karakteristik itu tidak terdapat pada 1 tokoh saja.
7. Membuat kondisi yang tidak real menjadi real apabila dibaca.
8. Aku tidak ingin tokoh utamanya memiliki saudara kandung seorang member JKT48. Kalau sepupu/ponakan/tetangga gakpapalah.
Dan yang terakhir.
9. aku ingin orang menganggap ceritaku ini bukan Fanfic meskipun ini emanglah fanfic.

Setelah memberitahukan hal itu maka komentar berdatangan dari Ega dan Dharta.
“Itu gimana ceritanya orang nganggep cerita loe bukan fanfic, kan udah jelas fanfic. Ambisius amat loe,” Ega terkekeh, ya aku tau itu aneh.
“Haha bener tuh, tapi biarkan nih anak berkreasi. Ngomong-ngomong siapa Yon tokoh-tokohnya? Kan kata loe tadi bukan hanya tokoh utamanya yang jadi pusat perhatian.”
“Ya kalian, siapa lagi?” balasku enteng.
“Weeeh! Gue?” tanya Ega.
“Ya pokoknya semua, Bayu, Enu, Pris, pokoknya semua,” jawabku mantap.
“Anjrit, jadi korban,” Ega terkekeh, “Tapi misalkan gue jadi tokoh cerita loe,  gue dengan yang member yang itu ya.... siapa tuh Dhar, yang cantik itu? Yang pipinya gempal.”
“Oh Veranda,” jawab Dharta.
“Nah itu, Yon, oke?” Ega cengengesan.
“Lalu tokoh utama ceweknya?” tanya Dharta kepadaku.
“Melody,” jawabku mantap.
“Kenapa dia?”
“Gue taunya dia doang,” ya hanya nama Melody yang terlintas dikepalaku.
Setelah itu aku meminta bantuan Dharta untuk menunjukan member-member yang mempunyai umur yang hampir sama dengan Melody karena aku ingin membuat mereka menjadi teman-temannya nanti.
“Tapi kalau cerita 2 orang yang udah lama ketemu kayaknya bakalan kurang, Yon. Ada sesuatu kek gitu biar asyik,” usul Dharta.
Dan disitu pun aku berpikir, aku memikirkan pengalaman-pengalamanku selama ini. Lalu dari situlah aku berpikir kalau cerita yang kubuat mungkin ada ‘Kekerasan’ didalamnya, soalnya ya.... begitulah.
“Kalau berantem sih bolehlah, lalu bagian romance-nya?” tanya Ega.
Aku pun berpikir lagi, cukup lama. Sampai akhirnya aku ingat pengalaman Dharta yang pernah berpacaran dengan sepupunya sendiri sewaktu SMA tapi akan  kukreasikan dan kuberitahukan hal ini.
“Jadi, nanti bakalan ada cinta segitiga gitulah. 2 cewek, 1 cowok.”
“Terus?” Dharta memintaku melanjutkan.
“Tapi yang ceweknya itu sepupunya sendiri hehehe.”
“Anjir,” Ega kaget dan terkekeh, “Ada Incest (Hubungan sedarah) segala.”
“Ye, tapi gak terlalu ekstrim. Biar unik malah.”
“Gak ada moralnya emang,” Ega kembali berkutat dengan komputernya.
“Terus gimana ceritanya tuh? Masa gak sadar itu sepupunya?” tanya Dharta.
“Ya kayak loe gitu, loe dulu waktu SMA baru tau kan kalau Melati (Bukan nama sebenarnya) sepupu elo.”
“Anjrit! Malah gue inspirasinya!” keluh Dharta.
“Ciahahahahaha!” dan Ega hanya bisa tertawa.
“Gak papalah hehehe,” aku menepuk-nepuk bahu Dharta.
Dharta memiringkan bibir, “Terus siapa sepupunya?”
“Nah itu gue belum tahu, ada rekomendasi gak?”
“Hmm ntar, loe cari-cari aje nih.”
Dharta menyerahkan laptopnya kepadaku yang dimana ada folder yang begitu banyak foto-foto member JKT48. Entah dimana dia mengambilnya yang penting aku mencari terus tokoh yang akan menjadi sepupu tokoh utama ceritaku nanti.
“Bingung gue, Dhar, banyak bener,” keluhku.
“Coba Shani, cakep soalnya gue lihat, jarang jadi tokoh yang disorot dalam fanfic malah,” kata Dharta.
“Shani? Shani temen SMA kita dulu?”
“Bukan!” Dharta memiringkan bibir, “Coba loe cari di-Google, gue gak ada ngambil foto Shani soalnya. Search Shani JKT48”
Aku membuka Google dan mengetik pencarian yang Dharta suruh, waktu mengetik nama Shani ada opsi dibawahnya yaitu ‘Shania JKT48’ aku klik saja itu karena kupikir Dharta mungkin lupa menyebutkan nama A dibelakangnya.
“Ini Dhar?”
Dharta menengok dan menggeleng, “Bukan ini, ini Shania. Shani pokoknya, gak pake A dibelakangnya.”
“Yee nyalahin gue, Google yang ngasih rekomendasi,” aku memiringkan bibir.
Dengan koreksi maka aku kembali mengetik, dan saat melihat hasilnya betapa terkejutnya aku melihat rupa Shani JKT48.
“Kok mirip Plain?” pikirku saat itu.
Ya, aku masih mengingat jelas rupa Plain sewaktu dia mengirim fotonya di-YM beberapa tahun yang lalu. Rupa mereka berdua hampir sama dan kurasa... ini bukan hal yang mengherankan, banyak yang memiliki rupa yang mirip dengan orang lain.
Hanya saja aku tak menyangka Shani benar-benar 11-12 dengan PlainVanilla.
Dan disaat itulah aku menetapkan kalau Shani JKT48 akan menjadi sepupu tokoh utama dalam ceritaku nanti.
Setelah itu aku membuat pokok utama cerita yang ingin kubuat.
Menceritakan tentang seorang siswa pindahan bernama Dion disekolah barunya, disekolah ini dia akan bertemu dengan Melody, sahabat semasa kecilnya waktu di-Bandung hanya saja mereka saling tidak mengingat. Mereka akan menjadi pasangan suami istri karena mereka sudah dijodohkan kedua orang tua mereka sedari kecil. Jadi mereka adalah suami-istri yang masih mengenyam pendidikan SMA.

Aku lalu membuat karakter untuk ceritaku ini dan aku memutuskan kalau tokoh utamanya adalah Dion, yang memiliki nama panggilan yang sama denganku. Aku membuat karakteristik tokoh ini dengan pemikiranku yang sederhana. Dan kalau diuraikan dengan kata-kata mungkin seperti ini.
Dion. Tokoh utama, namanya hanya terdiri dari 1 suku kata saja, rambut acak-acakan, tukang tidur, tidak pintar tapi tidak juga bodoh, tidak juga tampan tapi tidak juga jelek, mempunyai tenaga yang paling kuat dari tokoh-tokoh yang lain, tidak pandai seni bela diri, sering tersesat, kalau marah akan memiliki kondisi tertentu ditubuhnya dan dia seorang perokok.
Melody. Tokoh utama wanita, memiliki ciri fisik dengan Melody JKT48, jago bela diri karate, tidak pandai memasak, galak, pengertian, sedikit pecemburu, tidak pintar tapi juga tidak bodoh, menjadi pribadi yang tak tahan melihat sesuatu yang menggemaskan bagi dirinya, pemberani tapi takut hantu dan tidak segan-segan marah apabila ada sesuatu perbuatan yang salah didepan matanya.
Seperti inilah aku membentuk karakter untuk ke-2 tokoh utama ceritaku itu dulu.

Setelah itu cerita akan menarik apabila diberi alur ceritanya, dan ini menurutku bagian yang paling sulit. Aku pun memikirkan point-point apa yang ingin kuceritakan dalam part 1 yang disesuaikan dengan pokok ceritaku nanti.  Kalau diuraikan dengan kata-kata maka inilah point-point yang kubuat pada waktu itu.
1. Memperkenalkan tokoh Dion dan keluarganya. Dibuat sifatnya nyeleneh agar pembaca tidak bisa menebak kalau dia ini tokoh yang paling kuat didalam cerita.
2. Memperkenalkan tokoh Melody dan beberapa tokoh lainnya disekolah.
3.  Memperkenalkan tokoh Shani, yang merupakan sepupu Dion. Shani adalah tokoh pertama yang akan ditemui Dion nantinya.
4. Selain Shani, Dion akan bertemu tokoh minor akan tetapi ‘Klop’ karena tingkah mereka berdua. Tokoh itu bernama Bang Batak.
5. Dion akan memberikan kesan kepada Shani tanpa dia sadari. Dasar kesannya dari Shani yang tidak tahu kalau Dion adalah murid baru.
6. Akan ada alur cerita dimana Melody dan Dion bertemu. Mereka akan bertengkar karena sesuatu yang tidak disengaja dilakukan oleh Dion.
7. Akan dibuat sedikit ‘Clue (petunjuk)’ percakapan antara Dion dan Kepala sekolah mengenai cerita ini sewaktu diruangan guru.
8. Melody berada dikelas dan akan menceritakan pengalaman dia dengan Dion yang membuatnya kesal. Disini juga akan diperkenalkan tokoh-tokoh lain.
9. Dion akan masuk kekelas dengan alur ‘pindahan anak baru’ yang tak biasa.
10. Dion dan Melody lagi-lagi bertemu, mereka pun ribut dikelas dengan suasana konyol. Part 1 berakhir sampai disini.

Setelah membuat point-point yang kupikirkan maka aku pun membuat alur ceritanya (Dari point 1 sampai point 10) untuk part 1 ini.
Aku waktu itu meminjam laptop Dharta untuk membuat part 1 ini waktu itu, mumpung ingatanku masih segar. Dan sumpah, untuk membuat alur itu sangat sulit apalagi harus kusesuaikan dengan point yang kubuat.
Untung saja aku mempunyai pengalaman dan sedikit imajinasi yang kuracik dan kujadikan sebuah alur cerita.  Seperti pada point 6 aku menggunakan pengalamanku dengan Mumu yang dulu kepalanya tak sengaja kupentokin dengan pintu toilet, dan imajinasinya adalah tokoh Dion akan tak sengaja mencium tokoh Melody sehingga Tokoh Dion ditendang selangkangannya oleh Tokoh Melody.
Aku ingat untuk membuat part 1 saja membutuhkan waktu 3,5 jam, itu sangat menguras isi otakku terlebih lagi aku ingin membuat fanfic yang kuinginkan waktu itu. Akibatnya ya.... aku lelah.
Gara-gara ‘MENGGALI LIANG KUBUR SENDIRI’ (Aku membuat 1 part cerita tak pernah pendek)
Tapi aku merasa puas saat part 1 ini selesai. (Itu adalah Beautifull Aurora, Part 1 : Stay away. Hasil dari point-point tadi terbentuklah cerita ini -> : http://www.melodion.xyz/2016/04/part-i-stay-away.html)
Aku menunjukan ceritaku ini kepada Ega, Dharta, Enu dan Beny (Selama aku menulis Enu dan Beny datang kerumah Ega)
“Anjrit, menang banyak loe Yon. Udah cipokan aje,” Enu terkekeh membaca ceritaku.
“Nafsuan,” disambung Beny.
“Sengaja,” jawabku.
“Apanya yang sengaja?” tanya Enu.
“Misalnya gue bikin lanjutannya, apa yang loe tunggu?”
“Ya inilah, kan masalah belum kelar. Cewek mana juga yang rela dicium kayak gitu, dicerita aje pake nendang selangkangan segala.”
“Nah, itu dia,” aku terkekeh, “Biar semisalnya ada yang baca cerita gue itu penasaran dengan lanjutannya, lagian dengan itu pasti kesannya cerita gue itu cerita romance/komedi. Tapi nanti bakalan banyak genre yang mau gue buat disitu.”
“Lanjutannya kayak gimana?” tanya Beny.
No-spoiler,” aku terkekeh.
“Taik,” dengan kesal Beny menoyor kepalaku.
Tapi dengan datangnya Enu dan Beny aku malah membuat ide baru.
Rencananya nanti aku akan membuat tokoh Shani memiliki seorang kakak bernama Beny, dan Enu akan menjadi kekasih Shani kedepannya. Ya, disesuaikan dengan pengalamanku yang nyata meskipun Arvie (Adik Beny) bukanlah sepupuku. Aku bahkan ingin membuat alur dimana tokoh Dion dan Beny berkelahi, karena aku memang pernah berkelahi dengannya dulu sewaktu SMA.
“Kocak juga, Yon,” puji Ega, “Tapi jangan lupa yee tokoh gue sama si itu nanti hehe.”
“Iye-iye,” aku memiringkan bibir, dan aku memiliki akal bulus, Ega mungkin akan mendapatkan ‘Veranda’ tapi tokoh dia akan kubuat sial melulu nanti. (Alasannya? Belum apa-apa saja udah request)
“Kalau bisa disesuaikan dengan jaman sekarang, Yon,” ujar Dharta.
“Emang itu sih rencananya,” aku mengangguk.
“Kalau anak SMA... pacarannya pasti ada panggilan kesayangan, loe buat aje,” saran Dharta.
“Buset! Panggilan kesayangan!” aku dan yang lain tertawa mendengar hal itu.
“Gue serius ini,” Dharta memiringkan bibir biarpun tadi dia tertawa.
“Sayang aje, yank-yank gitu, beb-beb, atau yang lebih jijay, Darling,” Enu cengengesan dan aku menyetujuinya, biar pembaca geli-geli gimana gitu membacanya nanti.
“Oooo tayang-tayang, cayangku, manisku,” disambung Ega dan kami lagi-lagi tertawa.
“Menurut gue sih, loe buat panggilan untuk Melody, lalu Melody juga ada panggilan buat tokoh yang namanya sama dengan loe ini,” Dharta tak henti-hentinya memberi saran.
Aku pun berpikir mungkin bener juga. Karena ‘Panggilan kesayangan’ sering kulihat bagi anak-anak SMA yang berpacaran, meskipun aku geli harus membuat seperti itu tapi yang penting disesuaikan dengan kondisi yang ada.
“Panggilan Melody apa sama fans-nya?” kutanya Dharta.
“Melo, Imel, mbak Imel, teh Imel, kak Imel.”
“Buset! Imel semua! Mending dia kerja di Google aje ngatur Gmail,” Ega terkekeh karena panggilan Imel pikiran kami jadi tertuju kepada E-Mail.
“Perasaan tuh panggilan juga dipake buat fanfic yang gue baca,” ujarku.
“Iya juga sih,” Dharta mengangguk-angguk.
Aku berpikir sejenak, aku berpikir untuk mencari nama panggilan untuk Melody didalam ceritaku. Aku tidak ingin terlalu sama panggilannya dengan fanfic-fanfic yang sering kubaca. Dan tak butuh waktu lama mencarinya.
“Ody.”
“Hah?” semua memandangku.
“Ya itu, Ody, gue hapus bagian ‘Mel’ nya,” aku terkekeh.
“Enjeeee, Ody bahahahaha!” Enu tertawa ngakak dan disambung kami semua.
“Kalau tokoh loe, Yon?” tanya Beny.
“Ion,” aku tertawa ngakak karena asal-asalan membuat panggilan yang kubuat, mereka juga tertawa karena geli mendengar panggilanku menjadi seperti itu.
“Tapi tadi loe bilang ada adegan berantem Yon, loe bener mau nampilin kekerasan?” tanya Ega kepadaku.
“Jangankan berantem, gue juga mau masukin kata-kata kasar malahan.”
“Biar kenapa?” tanya Beny.
“Gak mau main aman aje.”
“Bahaya,” Enu terkekeh.
“Ya tinggal kasih peringatan aje nanti, kalau pun ditiru ya bego,” aku juga terkekeh.
“Yakin loe?” tanya Dharta.
“Yang baca pasti manusia, manusia punya akal, tahu mana yang baik mana yang buruk. Pasti pandai memilahnya. Dan sesuai yang gue bilang tadi, kalau ada yang menirunya ya tolol!”
“Sok bijak!” seru mereka semua kepadaku, aku hanya cengengesan.
Aku juga ditanya apa judul ceritaku ini dan lagi-lagi aku berpikir. Pas juga waktu itu Ega memutar salah satu rekaman lagu yang dulu pernah direkam band-ku berjudul Beautiful Aurora di komputernya.
“Beautiful Aurora.” Jawabku mantap.
Aku menaruh judul itu dan bertanya kepada Dharta bagaimana cara mengirim cerita ini ke blog-blog khusus fanfic. Ada KaryaOtakGue, Kedai Fanfict, fanfictionJKT48 (entah kenapa sekarang situsnya tidak bisa dibuka lagi), dan KreatifStoryJKT48.
Aku mengirim ceritaku itu ke-4 blog yang direkomendasikan Dharta hanya saja aku baru sadar kalau huruf L pada kata ‘Beautiful’ kelebihan 1, mungkin saking lelahnya aku tak menyadari itu dan kupikir... yasudahlah.
Setelah kukirim maka aku hendak pulang untuk mandi terlebih lagi Mumu mau datang kerumahku bersama adik sepupunya. Tapi sebelumnya pulang Enu bertanya kepadaku.
“Mumu tau gak loe bikin cerita ginian Yon?”
Hmm aku baru menyadari hal itu.
“Dia sempat kesal waktu gue ngungkit JKT48, gara-gara temennya itu,” kujawab sambil memasang sepatu, “Tapi dia bilang gak masalah asal gue ingat prioritas aje.”
“Lalu?”
“Mungkin nanti bakalan gue kasih tau dia. Asal loe semua jangan ember aje.”
Semua mengiyakan saja dan aku percaya mereka tidak seember itu mulutnya, dan kenyataannya.... Mumu memang tidak tahu sampai aku memberitahunya kalau aku menulis cerita seperti ini, mungkin jahat tapi aku tidak mau dia berpikiran macam-macam karena dia memang prioritas utamaku.
Makanya aku tidak perduli dengan sesuatu yang terjadi dengan JKT48.
Tapi aku menghormati kerja keras mereka.
-----
Ada 3 hari aku menunggu balasan dari 4 blog tersebut tapi tak kunjung-kunjung datang. Padahal aku sudah membuat cerita ini sampai part 4.
Ya sudahlah.
Aku berencana membuat blogku sendiri dan nama blog ini kunamai dengan nama  BeautifullAurora.Blogspot.com. Aku memposting ceritaku ini kemudian aku melakukan ‘Promosi’ kepada siapa saja yang berpotensi suka membaca fanfic JKT48.
Aku masih ingat hanya 3 orang yang menjadi pembaca ceritaku diblog ini kala itu yaitu  Ella Nuraeni, Unkown (Gak tau namanya) dan juga Mahmud. Aku berpikir seperti ini karena hanya mereka bertiga yang dulu berkomentar tentang ceritaku haha. Apalagi Ella itu fans berat Melody kalau kulihat-lihat dari akun Twitter-nya.
Aku melanjutkan ceritaku sampai part ke-6, dan disitulah aku baru menerima balasan Email dari Karya Otak Gue yang akan memposting ceritaku setiap hari Sabtu.
Aku senang
Sekaligus bingung.
Bingungnya karena di blog ini udah mau part 7, di K.O.G baru part 1.
Tapi ya sudahlah, yang penting akan bertambah orang yang terhibur dengan ceritaku. Itu yang kupikirkan saat itu.
Aku bahkan pernah mendapatkan ide dari foto Melody untuk membuat alur ceritanya. Fotonya itu ada di-part 7 yang dimana tokoh Dion dan tokoh Melody melakukan Video Call. Apalagi fotonya sangat pas dengan alur cerita, sejak itu aku berpikir untuk menggunakan media lain sebagai penyegar cerita. Yaitu memanfaatkan media yang ada (Foto, Youtube, Soundcloud)
Dan di-part 8 lah aku pernah ragu untuk mempostingnya. Karena part 8 cerita Beautifull Aurora akan menampilkan ‘Kekerasan’ didalam cerita yang sudah lama kurencanakan sebelumnya.
Aku pun mempostingnya dan berharap pembaca tidak menirunya (Bagian cerita yang ‘Kasar’).
Dan aku merasa nama blog ku kepanjangan, aku meminta bantuan Ega untuk membeli domain. Dan ada domain yang lagi diskon waktu itu yaitu .xyz (Ya, aku pelit) dan aku bingung untuk memberi nama blog baruku ini. Dan karena blogku ini dipenuhi cerita Beautifull Aurora yang dimana Dion dan Melody menjadi tokohnya maka aku pun membuat nama Melodion, gabungan dari nama Melody dan Dion maka jadilah Melodion.xyz seperti sekarang.
Ya aku tahu.... aku tak kreatif.
Selepas part 8 diposting aku mulai membuat ‘Pesan peringatan’ untuk memberitahu kalau ada adegan ‘Kasar’ dicerita yang kubuat. Setidaknya aku sudah memberikan warning karena bagaimanapun juga aku bertanggung jawab atas cerita yang kubuat.
Tak hanya Beautifull Aurora, aku pun mendapatkan ide untuk membuat cerita lain yang berhubungan dengan Shani. (Waktu itu aku selesai memposting cerita B.A part 17 yang dimana Dion dan Shani tahu kalau mereka saudara sepupu)
Karena ide cerita itu tidak bisa dipaksakan untuk cerita Beautifull Aurora part selanjutnya, maka aku realisasikan cerita itu kedalam bentuk cerita baru, yaitu Plain Vanilla.
Dan semenjak Plain Vanilla diposting, aku mendapatkan ide baru lagi. Ini gara-gara melihat tokoh utamanya yang sama yakni Dion.
Aku pun berpikir, “Mungkin akan menarik kalau aku membuat tema cerita dunia paralel/Multiverse”
Karena itulah aku membuat cerita lain seperti Beautifull Aurora II, Stockholm Syndrome, Secangkir kopi dihari Minggu, About a Girl, Line dan Redrum. Dengan tokoh utama yang sama yaitu Dion.
Aku berencana menciptakan 8 Dion yang berbeda dunia.
Dan butuh waktu yang lama bagiku untuk merealisasikan ambisiku yang 1 ini. Ya karena aku harus membuat dulu latar ‘Dion’ didunia lainnya.
Setelah cukup bersabar dengan waktu akhirnya hal ini terjadi dan kurealisasikan cerita ‘Paralel Universe’ ini kedalam cerita Beautifull Aurora part 39 dan juga Beautifull Aurora II part 6. Walau konsep ‘Paralel Universe’ versiku itu terjadi dialam mimpi.
  Tapi aku puas dengan hal itu.
Dan aku juga puas membaca keluhan beberapa pembaca yang puyeng membaca ceritaku itu. Aku puas membuat kalian ‘Menderita’ hahaha! (Muka jahat)
Dan cerita Beautifull Aurora V itu adalah ide dasar dari cerita Beautifull Aurora pertama yang tidak jadi kupakai. Aku membuatnya menjadi cerita pendek yang kepanjangan.
Karena kesibukanku maka aku meminta Ega meng-handle blog ku ini. Karena kerjaan dia berhubungan dengan Internet maka kupikir sekalian saja. Aku juga membuat Twitter dan Facebook Melodion agar memudahkan seseorang berkomunikasi dengan kami mengenai blog atau pun cerita yang ada disini. Ega (dan Adis) menjadi admin Twitter dan aku admin Facebook.
Yah.... selama menjadi admin di-sosial media banyak cerita unik tersendiri bagiku, dan mungkin juga bagi Ega (Adis belum lama menjadi admin). Semua ‘Cerita’ itu kuurai dibawah ini.
1. Ada yang curhat soal JKT48. Padahal kami (Aku dan Ega) tidak pernah bertanya. Gara-gara itu kami jadi tau ‘sistem’ JKT48 seperti apa tanpa perlu kami cari tahu, ya orang (Yang curhat) itu ngasih tau sendiri. Mungkin akun ini dikiranya akun fansbase JKT48
2. Ada Ega yang kesal melulu karena ada orang yang sering meminta pendapatnya soal cerita yang dikirim. Ega itu hanya ‘Penikmat’ alias tidak mau perduli dengan apa yang dinikmatinya.
3. Ada yang menanyakan bagaimana kabarnya Melody, dikiranya kami tinggal 1 rumah kali. Kenal aje kagak du du du du du ~
4. Ada yang meminta namanya dimasukin kedalam cerita saya dan meminta dipasangkan dengan salah satu member JKT48.
5. Ada yang baper dan marah tak jelas hanya gara-gara saya bilang ‘What the fuck’ untuk respon dari sarannya yang tak masuk diakal menurut saya.
6. Ada yang bertanya kenapa Shani selalu ada dicerita saya. Kenapa tidak tanya sekalian kenapa saya menulis cerita memakai bahasa Indonesia.
7. Ada yang mengaku-ngaku menjadi admin Melodion.
8. Ada yang marah karena skandal Vienny dan dilampiaskannya kepadaku karena Vienny jadi pemeran utama B.A III. Untung saja saya ini orangnya ramah, setelah dia selesai menyelesaikan uneg-unegnya tentang hal yang tak mau saya ketahui. Saya block akunnya habis itu.
9. Ada yang kepengen tahu kehidupan pribadi kami, bahkan meminta sesuatu yang privasi bagi kami. Itu sangat mengganggu, lagipula itu sangat menjijikan karena kesannya kami ini ‘Selebritis’. Hentikan hal itu. Lalu kenapa harus cowok yang nanyain itu? Gay banget! #merinding
10. Ada yang ngirim chat ‘Buahahahahahaha! Mantap sekali’ tiba-tiba, entah apa maksudnya itu tiba-tiba ketawa dan bilang mantap. Sampai sekarang itu menjadi misteri.
11. Ada yang bertanya apa melodion membuka lowongan kerja sebagai admin. Eee buset, dikira perusahaan kali.
12. Ada puluhan DM di-Twitter yang nanyain password ‘Cerita rahasia’ yang ada diblog ini. Padahal keamanan password untuk ‘Cerita’ itu bisa ditembus, lemah itu keamanannya.  Lagian banyak yang ‘Nembus’, dikiranya kami gak tahu kali hahaha.
13. Ada yang sok asik/sok akrab /sok kenal dan memanggil-manggil kami dengan panggilan ‘Anjing’. Awalnya tak masalah tapi menjadi masalah saat salah satunya berkata kalau terinspirasi dari cerita saya. Kacau, otomatis saya bertanggung jawab.
“Dramain aje,” saran Ega.
Hal itu pun kami dramakan didunia maya, untuk hiburan sekaligus memberi tahu mereka saja (para pelaku) kalau kami didunia nyata tidak pernah menganjing-anjingkan atau pun meng-kampret-kampret-kan orang lain untuk panggilan ataupun tanpa sebab, bahkan terhadap orang yang dikenal.
Cara bikin drama di-sosmed? Gampang kok, besarin saja masalah yang kecil/receh.
Selamat mencoba (y)
14. Ada yang bertanya apa gunanya pesan peringatan dari cerita saya. Tuh nomor 13 udah pernah kejadian.
15. Ada yang menanyakan cara melucu bagaimana. Hidup saja sudah lucu, beneran, carilah tafsirnya.
16. Ada yang bertanya hubungan dia kedepannya dengan salah member JKT48 karena ia pernah memimpikan member tersebut. Well... dikiranya akun tafsir mimpi kali.
17. Ada yang mengajak kami menjadi anggota kelompok penulis fanfic JKT48 dengan ambisi mengalahkan semua cerita fanfic JKT48 yang ada. Hadeeeh... Konyol, kami abaikan. Oh! Tidak kami abaikan, tidak-tidak. Tapi kami block ~
18. Ada yang bertanya ‘Penulis yang namanya Rifani cewek atau bukan?’ kalau cewek dia minta bukti konkrit.... Ya Tuhan. Kenapa tidak tanya langsung keorangnya. Kan melodion menyertakan link sosmed para penulis. Emang penulis wanita itu langka ya?
19. Ada yang meminta pendapat cantikan Veranda atau Stella. Dan jawaban kami juga merupakan sebuah pertanyaan. “Siapa Stella?” (Kami tak tau Stella itu siapa waktu itu)
20. Ada penulis yang memintaku melanjutkan cerita yang dia buat. Ibaratkan bikin anak, anaknya lahir, dan anaknya diserahin ketetangga, lalu berkata begini “Eh tolong beri dia makan, belikan dia popok, gue sibuk nih jadi gak sempat ngurus anak, pake duit dan waktu elu lah kan lu yang ngurus anak gue. Kalau udah gede kira-kira 15 tahun, tolong balikin anak gue kerumah ya? Aktenya jangan diubah, kan dia anak gue.
21. Ada yang request Naomi dan Kyla melulu sampai saya malah ‘Ilfil’ jadinya dengan Naomi dan Kyla gara-gara tingkah orang itu. Tapi saya sadar kalau ini bukan kesalahan Naomi dan Kyla, tapi gara-gara permintaan orang itu terus-menerus. Karena saya orang yang baik hati dan ramah maka saya block orang itu.
22. Ada yang meminta saya menulis cerita Veranda dan Kinal, saya kira cerita persahabat tapi ternyata cerita fanfic lesbian.  Orang tipikal seperti ini pasti sering berkoar-koar masalah moral, pasti.  Karena itu sebagai orang yang suka membantu nenek-nenek menyebrang jalan maka saya block akun dia.
23. Ada yang ngebanding-bandingin blog ini dengan blog K.O.G. Blog ini ‘dipuji-puji’ melulu sedangkan K.O.G ‘dicibirnya’. Ya, tipikal orang P-E-N-J-I-L-A-T. Karena saya orang yang bijaksana dan murah senyum maka saya block seluruh akun dia.
24. Ada yang mengancam saya apabila namanya tidak dimasukan kedalam cerita maka dia tidak mau membaca cerita saya lagi. Saya terenyuh, karena saya gemar berolahraga dan suka makan 4 sehat 5 sempurna maka saya block akun dia.
25. Ada yang minta tantangan dari saya, dia minta saya sebutkan cerita apa yang mau dia buat. Saya berikan ide cerita, dia mencret otak dan mengatakan saya jahat memberinya beban. Padahal dia yang minta tantangan....
26. Ada yang komplain kepada Ega dengan karakter member yang saya tuangkan dalam cerita. Menurutnya member itu haruslah bersikap manis, lugu, suka tersipu malu-malu dan lain-lain. Saya tak tega ngomentarin orang ini.
27. Ada yang meminta saya meng-update cerita saya setiap hari karena dia merasa punya HAK sebagai KONSUMEN alias pembaca yang menunggu update.  Yaelah, mau ngomongin HAK?   Begini, saya sebagai PRODUSEN (pembuat cerita) lebih punya HAK lebih dari cerita yang saya buat, saya bisa MENGHENTIKAN PRODUK saya kalau itu tidak mengungtungkan saya sebagai PRODUSEN. Terlepas itu dari keluhan/desakan KONSUMEN atau tidak. Meminta update setiap hari itu apa tidak merugikan saya? Saya rugi waktu, cerita yang saya buat ini tidak menghasilkan apa-apa buat saya. Keluhan KONSUMEN pasti ada, itu pasti. Tapi semua keputusan ya tetap berada dipihak PRODUSEN. KONSUMEN mau MENUNTUT? Kalau sudah MENUNTUT maka seperti yang tadi saya bilang, hal itu ‘Merugikan Produsen.’ PRODUSEN merasa rugi ya dia hentikan PRODUKSINYA atas dasar TUNTUTAN KONSUMEN ataupun keinginan PRODUSEN nya sendiri, dan KONSUMEN tidak bisa menuntut apa-apa lagi. Gaya amat bawa-bawa HAK segala.
28.  Ada yang meminta akun Twitter Melodion menjadi akun tubir khusus JKT48. Konyol.
-----
Kesimpulannya dari semua itu adalah... ada-ada saja.

Yah, mungkin hanya itu saja yang bisa kujabarkan hahaha.
Dan tadi saya menyinggung hal-hal aneh dari cerita fanfic orang lain yang saya baca, ya itu memang aneh bagi saya tapi jangan tersinggung. Karena sesungguhnya cerita saya juga memiliki banyak keanehan kalau diperhatikan baik-baik hehehe.
Aneh adalah seni abstrak, karenanya orang pasti akan bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat seni seperti ini, itulah yang sering diucapkan para Comic/ atau tukang stand up Comedy, kalian pasti pernah mendengar mereka berkata seperti ini.
 “Kan aneh gitu. (Setelah dia mengungkapkan sesuatu yang aneh bagi dia)”
Pernah kan?
Seperti itulah permainan kreatifitas antara imajinasi dan realitas kehidupan.
Bahkan saya yakin pasti ada yang memikirkan hal ini setelah membaca pernyataan saya, “Aneh nih orang, masa Aneh dibilangnya seni abstrak.”. Karena kalau anda memikirkan hal itu, maka saya juga menganggap anda itu aneh. Karena saya akan berpikir, “Situ juga aneh, ampe mikirin bagian anehnya hingga kepikiran.”
Begitulah. Aneh telah mempertemukan adu pemikiran antar individu secara tidak langsung. Banyak keanehan yang sering kita jumpai dikehidupan ini, bahkan sudah menjadi hal yang biasa. Namun tidak semua orang bisa siap menerima keanehan (Makanya ampe kepikiran).
Itu bukan hal yang aneh, meskipun benar yang dianehkannya itu aneh.
Aneh benar-benar menjadi seni yang abstrak untuk bagian kehidupan.
Dan apabila ada orang yang berak didepanmu, lalu dia memakan kotorannya tersebut.
Itu bukan hal yang aneh.
Itu pun bukan orang yang aneh.
Ya, bukan orang yang aneh.
Benar-benar.... bukan orang yang aneh.
Percayalah, itu bukan orang yang aneh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TAPI ORANG GILA!
[ A P R I L O G Y ]
XIX. SOSOK YANG PENTING BAGIKU
Januari 2017 kemarin aku sudah ditetapkan sebagai pegawai tetap ditempatku bekerja. Tentu saja kesibukanku naik level, begitu juga gajiku hehehe.
2017 kemarin benar-benar tahun terberatku.
“Jangan rindu, berat. Biar aku saja,” – Dilan.
Bukan-bukan, bukan berat karena rindu.
Tapi berat pikiran.
Tahun 2016 kemarin sudah banyak teman-temanku bahkan teman-teman Mumu yang sudah menikah. Dan setiap keundangan maka aku dan Mumu selalu ditanya “Hey kalian berdua kapan? Gila masih saja betah begini hahahaha.”
Mungkin itu hanya kalimat biasa karena terbawa suasana.
Tapi aku kepikiran.
Dan Januari 2017 itu juga menjadi bulan dimana aku dan Mumu berbicara serius. Setelah membeli Junk Food aku menepikan mobilku didekat parkiran yang ada disitu, kami berdua menikmati makanan didalam mobil.
Selesai makan maka kuhidupkan rokok dan membiarkan hembusan angin menerpa asap rokokku keluar dari jendela.
“Mu.”
“Hmm,” respon dia seadanya karena sibuk mencari lagu.
“Udah 2017,” aku memandangnya.
“Hmm,” dia tersenyum tipis dan memandangku, “Mau ngomongin apa nih?”
“Tau aje hehe.”
“Emangnya adek baru kenal dengan abang?” dia tertawa dan kembali mencari lagu di-Hp nya.
Ya pokoknya aku mengajaknya berbasa-basi dahulu, aku juga kembali bercerita dimana akhirnya aku menjadi pegawai tetap ditempatku bekerja. Bahkan mengungkit tahun 2009, tahun dimana kami pertama kali bertemu. Sedikit pembicaraan Nostalgia terjadi mengingat masa-masa kami waktu kuliah dahulu.
Dan kami masih menjalani ‘Hubungan’ ini hingga tahun 2017.
Menurutku ini sudah waktunya.
Diumurku yang 27 tahun waktu itu tentu saja sudah menjadi umur yang jauh lebih dari matang untuk menikah dengan dia yang 2 tahun lebih muda dari umurku. Aku juga sudah menjadi pegawai tetap, jadi ini sudah tidak menjadi beban lain menurutku. Tapi tentu saja aku harus membicarakan ini dengan Mumu karena kami berkomitmen untuk membicarakan terlebih dahulu apabila pembahasannya penting bagi kami berdua.
Aku pun membicarakannya.
Dan Mumu juga merasa ini memang sudah waktunya.
Kami kembali kepembahasan dimana kami berniat membeli rumah lebih dahulu, Mumu mengecek tabungan kami dan merasa nominalnya mungkin sudah cukup, mungkin.
Tapi masalahnya kami belum sempat mencari rumah. Namun ini bisa dicari, online shop yang khusus menjual rumah bisa, tanya-tanya teman ataupun tanya-tanya keluarga juga bisa. Oke, clear, ini sudah teratasi.
Kami berbicara lagi, lagi dan lagi.
Akhirnya kami sepakat
Aku akan melamarnya bulan Oktober nanti.
Ini dikarenakan sebelum bulan Oktober ini akan ada begitu banyak acara, bulan Mei nanti ada keluarga Mumu yang mau menikah, bulan Juli ada juga keluargaku yang mau menikah. Jadi diacara itu kami bisa memberitahu acara lamaranku nanti kepada keluarga besar kami. Pokoknya sampai bulan Agustus kami nanti akan ada acara dan Oktober menjadi bulan yang ideal untuk itu.
Jadi sampai bulan Oktober nanti akan kami jadikan waktu untuk mencari rumah dan menabung lagi. Dan apabila sampai bulan Oktober atau pun pas menikah kami masih belum mendapatkan rumah maka aku akan tinggal sementara dirumah mertuaku atau pun ngontrak rumah.
Rencana ini akan kami beritahu ke orang tua kami masing-masing.
Setelah mengantar Mumu pulang dan memberitahukan rencana yang akan melamarnya bulan Oktober nanti pada orang tuanya, maka sehabis itu aku bertolak pulang kerumah dan memberitahukan ini kepada keluargaku.
“Abangmu udah dikasih tau belum?” tanya Ayah tiriku.
“Besok,” jawabku.
Keesokan harinya maka aku pergi kerumah ayah kandungku yang dimana ada ibu tiriku, abangku dan istrinya. Aku memberitahukan hal ini dan abangku mencoba membantuku mencarikanku rumah, aku tentu saja berterima kasih karena setidaknya itu bisa menolongku.
Setelah dari rumah ayah kandungku maka aku memiliki tujuan akhir.
Yaitu makam.
Yakni makam ayah kandungku.
Ayah kandungku meninggal pada tahun 2014 silam gara-gara diabetes, darah tinggi dan jantung. Meskipun ia sudah tiada, setidaknya aku ingin memberitahukan kalau anaknya ini berencana mau menikah. Dan beruntung ayah kandungku masih berkesempatan bertemu Mumu sewaktu dia masih hidup.
Setelah membersihkan sedikit debu dan daun kering dari makamnya maka aku mengeluarkan sebungkus rokok.
Bukan rokokku sehari-hari, tapi sebuah rokok Surya 16, yang dimana rokok itu adalah rokok favoritnya semasa dia hidup.
Aku buka bungkus rokok.
Kunyalakan dan aku duduk disamping makam bersandarkan nisannya.
Kuletakan bungkus rokok dan juga korek api disampingku, seolah aku malah ingin menawarinya rokok. Aku pun berbicara mengenai rencanaku dengan Mumu, walau aku tahu tidak akan ada yang menyahut pembicaraanku.
Setelah itu aku berdiam diri, dan terus merokok.
Aku berharap kalau Tuhan mengizinkan, aku ingin Tuhan menghidupkan ayahku kembali kedunia.... sehari pun sudah cukup, agar dirinya bisa melihat anak ke-2 ini menikah nanti.
Tapi aku tahu itu mustahil.
Aku mengeluarkan handphone-ku dan aku mencari-cari lagu kesukaan ayahku.
Aku ingat begitu banyak lagu kesukaannya dijamannya dia, sewaktu kecil aku sering mendengar dia memutar-mutar lagu-lagu lawas saat aku mau bermain dengan abangku dirumahnya. Dia selalu bekerja atau pun bersantai dengan alunan lagu yang berasal dari kaset tape tersebut.
Aku memilih 1 lagu.
Lagu ini mengingatkanku sewaktu aku kecil saat bersama dirinya, aku dipangkunya ditempat ia duduk dan memaksaku mendengar lagu John Lennon bersama-sama. Ditengah pangkuannya itu kami berdua mendengarkan sebuah lagu.
Lagu yang menjadi kenanganku saat aku dipangku olehnya.
Dan memelukku dengan kasih sayangnya sebagai seorang ayah.
Lagu itu berjudul Imagine, dari John Lennon. Ayahku penggemar The Beatles dari dulu dan John Lennon tak luput darinya.
Lagu itu kembali kuputar dengan handphone dan kutaruh disampingku. Sekedar menyemarakan suasana makam yang sepi sunyi.
Aku tersenyum tipis mengingat kenangan itu.
Setidaknya dalam posisiku duduk membelakangi makamnya ini.... aku merasa kembali dipeluk olehnya dari belakang, dimana seperti yang ia lakukan saat itu.
Aku terus mengingat apa yang kualami selama beliau masih hidup.
Dari semua ulahku dulu, dialah yang melindungiku. Agar tidak membuat ibuku khawatir denganku dengan segala ulahku. Dan selalu menasehatiku agar tidak membuat orang terdekatku khawatir.
Selain sebagai ayah, dia juga sosok teman bagiku.
Aku selalu bercanda dengannya begitu juga dengan dirinya.
Dan dari penuturan ibu kandungku, nama Dion lah yang dibuat oleh ayah kandungku untuk panggilanku dengan menggabungkan nama depan dan nama tengahku sewaktu aku berumur 6 bulan.
Ya, dia ayah yang baik. Dan tidak akan segan-segan memukulku kalau aku melakukan ulah yang cukup kelewatan. Dia dulu berkata pukulan itu adalah rasa amarahnya, sekaligus rasa kasih sayangnya. Aku dulu tak mengerti dan tak mau mengerti, sekarang aku mengerti maksudnya.
Selain keras dan bersahabat, ayahku juga lucu. Dulu almarhum adiknya pernah memberiku angpau Natal tahun 2001, ia bertanya dikasih berapa, dan saat kuberitahu nominalnya maka ia akan memberiku 2 kali lipat. Ya, bagi dia tidak ada yang boleh menyaingi dirinya dalam uang saku atau pun hadiah untuk anak-anaknya.
Itulah ayahku.
Dan sosoknya itu pun kutuangkan kedalam ceritaku, Beautifull Aurora pertama, itulah aku dan ayahku dulu dalam kehidupan sehari-hari saat aku bersamanya. Sewaktu aku menemuinya dengan Mumu pun kami berdua tak pernah luput dari candaannya. Bahkan dicerita itu aku membuat khayalan dimana ayahku masih ada saat aku sudah menikah.
Mungkin emang salah... tapi apa daya, aku hanya seorang anak yang rindu akan sosok ayahku itu. Membayangkan bagaimana dirinya nanti saat aku sudah menikah. Tak sulit bagiku karena aku sangat mengenal dirinya.
Benar-benar sosok Ayah, dan juga sosok seorang teman.
Orang yang dulu kukira teman ibuku dan ayah tiriku.
Orang yang selalu datang kerumah dan mengajakku bermain sewaktu aku kecil.
Orang yang mengajariku menendang bola dihalaman TK dekat rumahnya.
Orang yang mengajariku bermain kelereng agar bisa mengalahkan abangku.
Orang yang mengajariku membuat layangan dari sapu lidi dan kantong plastik.
Orang yang mengajariku menjadi sosok ayah untuk anaknya.
Kini berbaring dengan tenang,
Tepat dibelakangku
Mungkin disaat aku sudah menikah dan mempunyai anak, aku akan kesini lagi dan memperkenalkan ia kepada cucunya. Dan akan kuperkenalkan anakku nanti kepada kakeknya.
Aku kemudian mengambil HP dan berdiri, membiarkan rokok favoritnya yang kubeli tertinggal disitu.
Aku menatap makamnya, dan tersenyum.
Aku akan selalu ingat nasehatnya.
Aku tidak akan membuat orang terdekatku khawatir lagi dengan ulahku yang kekanakan seperti dulu.
Aku akan memprioritaskan keluarga menjadi nomor 1.
Dan berharap suatu saat nanti aku akan bisa menjadi seperti dirinya untuk anakku nanti.
Aku pun pergi dan pasti akan kembali.
Terima kasih... Beristirahatlah dengan tenang.
Bagiku kau tidak mati, karena kau selalu dihati.
[ A P R I L O G Y ]
XX. ALAMAT
Pernah mendengar kalimat ‘Raihlah ilmu sampai ke Negeri Cina’ ?
Pernah? Kalau pernah berarti bukan aku satu-satunya yang pernah mendengar kalimat itu. Dan tentu saja kalimat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang hendak aku ceritakan dibagian ini. Aku hanya kepengen tahu apa ada yang pernah dengar kalimat itu atau tidak, kalau pernah berarti sama, kalau tidak ya tidak masalah.
Oke, kembali kejalan cerita yang benar.
Jadi sebelum bulan Oktober aku beraktifitas seperti biasa, walau aku terkadang sedikit malas sewaktu membuka Twitter yang dimana DM-ku selalu ada pertanyaan ‘Kapan update?’, jangankan di Twitter-ku, Twitter Melodion dan fanpage Melodion juga ada pertanyaan yang serupa.
Dikiranya aku ini liburan setiap hari kali.
Atau mau aku seperti ini?
Aku : (Ngetik cerita)
Atasan : (Menghampiri meja kerjaku) Dion! Kamu ini ngerjain apa?
Aku : Oh ini pak, saya lagi nulis cerita. Soalnya ditanya kapan update melulu.
Atasan : Cerita apa?! Tak penting amat! Bagaimana laporan kemarin?
Aku : Belum dibuat pak, saya nyelesaikan cerita saya dulu biar gak ditanya kapan update melulu, pak! Padahal saya sudah bilang saya pasti update, tapi ada yang tidak perduli dan nanyain terus.
Atasan : CERITA APA? BAGAIMANA KALAU SAYA YANG BUAT CERITANYA? CERITANYA KAMU SAYA PECAT HARI INI?!! BAGAIMANA?!
Aku : Eh? J-Jangan dong pak! Bagaimana kalau bapak saya masukan kedalam cerita saya? Saya pasangkan dengan Jessica Veranda deh!
Atasan : Tidak! Mulai hari ini kamu saya pecat! SAYA PECAT!
Aku : (Nangis bombay, bersujud-sujud, meluk-meluk kaki atasan) Jangan pak! Saya butuh kerjaan! Bagaimana saya nyari biaya hidup saya pak! Saya bentar lagi mau melamar kekasih saya!
Atasan : Tidak! Lagipula saya mau dipasangkan dengan LIDYA JKT48! KENAPA HARUS JESSICA VERANDA?! Kemasin barang kamu! KELUAAARRR!!!
Aku : Tidaaaaaaaak!!!! (Diseret-seret satpam)
Dan saya berakhir menjadi gembel ditepi jalan yang ngecrek-ngecrek kaleng susu kosong karatan, “Om kasian om, mau nikah om, tak ada biaya, tolong om.”

Kira-kira begitulah ~
----
Ada suatu hari aku mencoba mencari rumah disitus https://rumah.trovit.co.id tapi tidak ada yang pas dihati (ceileeh di hati). Ada juga info yang kudapat dari teman kantorku yaitu Aldino tentang rumah yang mau dijual, rumahnya bagus, hanya saja sertifikatnya ‘Tak bagus’. Bermasalah pokoknya.
Pupus.
Ada juga info dari Made soal rumah, aku menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya dirumah yang dimaksud membuat aku terdiam. Aku mendengar dari Made kalau rumahnya gede, tapi aku tak menyangka kalau rumahnya itu bener-bener gede sekali!  Itu kalau aku memperkejakan 1 pembantu aku yakin besoknya dia minta berhenti, tulang-tulangnya pada keseleo gara-gara bersihin rumah segede itu.
Harganya sangat tidak manusiawi untuk dompetku. Lagian terlalu besar untuk ditinggali berdua.
Pupus season 2.
Lalu ada juga dari sepupuku bernama Galih, dia bilang ada rumah yang dijual, dia mengirim foto rumah yang dimaksud dan enak dilihat, harganya awalnya pun bersahabat menurutku, hanya saja rumahnya itu ada di Batam, kota tempat dia berkerja disana.
Pengen kutabok rasanya. JAUH AMAT!
Ngapain juga rumah ada di Batam tapi tempat kerjaku disini? Beda pulau! Enak kalau ada jet pribadi, beli bahan bakarnya saja aku tak mampu.
Pantesan saja adikku sering ribut dengan dia kalau ketemu haha.
Pupus season 3.
Ada juga Enu, aku bersama dia berpetualang mencari spek komputer gara-gara dirusakan adikku. Setelah dapat yang diinginkan dia berkata punya ide bagus kalau aku mau punya rumah. Aku tanya, “Bagaimana?”
Dia membawaku ke toko bangunan.
“Nah! Loe beli tuh, pasir, paku, semen, kayu, besi, habis itu lu bangun dah tuh rumah! Beres!” ungkapnya puas.
Ingin kugali tumpukan pasir ditoko bangunan itu dan kukubur Enu didalamnya.
Pupus season 4, 5, 6 dan seterusnya.
Melihat kegigihanku ini membuat Mumu berkata padaku jangan memaksakan diri dan berkata pasti ada rezekinya nanti.
Aku hanya bisa berkata, “Amin.”
Dan kalau ditanya kenapa aku begitu ngebet mencari rumah pada waktu itu, dikarenakan dana-nya sudah ada atau dibilang cukup. Tidak etis kubicarakan tapi yang jelas aku mendapatkan warisan dari ayah kandungku, yang menerima warisan itu adalah aku, abangku dan ibu tiriku. Dan warisan yang diberikannya kepadaku itu kumanfaatkan sebaik-baiknya (dengan petunjuk abangku) maka dana-nya cepat terkumpul. Aku tidak mau memberitahu apa warisannya tapi untuk memperjelas kenapa aku bisa mampu mengumpulkan uang untuk hal ini (Beli rumah).
-----
Hari-hari kembali kulalui. Dari urusan pekerjaan sampai hal “Kapan update Bwaaaang? Update dwoong Bwaaang!” yang terus terjadi. Ngomong-ngomong yang nanya ‘Update-update’ melulu kira-kira mau tidak ya membiayai biaya hidupku dan keluargaku? Hmm, ya syudahlaah  ~
Oke.
Apa yang ku ‘Amin’ kan dahulu akhirnya terwujud. Ini terjadi saat aku bertamu kerumah keluarganya Mumu karena Mumu menyuruhku kesana. Rumah keluarganya itu lagi ramai keluarga besarnya disebabkan oleh sepupunya Mumu mau menikah bulan Mei waktu itu.
Aku sudah akrab dengan keluarga besarnya, sepupunya, tantenya, pamannya, dan lain-lain.
Tapi...
Aku juga sering dipalakin keponakan dan sepupu-sepupunya yang masih kecil.
“Om Dion! Om Dion! Beliin es krim!”
“Om Dion! Om Dion! Ke Indom*ret yuk?!”
“Om Dion! Ini dong!”
“Om Dion! Itu dong!”
“Hahahahahaha,” dan aku hanya bisa tertawa.
Aduh-aduh keponakan dan sepupu Mumu ini, lucuu bukan main, masih kecil, lugu, polos, sangaaaat menggemaskan! Ngomong-ngomong ginjal anak kecil laku dijual gak ya di pasar gelap? Entar aku hitung dulu anak-anaknya, satu... dua...tiga... itu yang badannya gede ginjalnya pasti mahal, wajib diambil... lalu empat... lima...
Oke bercanda, aku memang suka membelikan mereka snack-snack gitu.
Dan orang yang membantuku ini adalah abang sepupunya Mumu yang kerja di Banjarmasin, karena adik sepupunya yang mau menikah maka dia pulang kesini. Aku juga sering bertemu dengannya sewaktu lebaran tiap tahunnya.
Dihari itu juga seluruh keluarga Mumu tahu kalau bulan Oktober nanti aku mau melamarnya. Dan abang sepupunya tahu kalau aku keteteran mencari rumah setelah mendapatkan ceritanya dari Mumu.
Nama abang sepupunya ini adalah Satrio, umurnya hanya beda 4 bulan dari umurku.
Dan.... dulu aku bingung mau memanggil dia ini dengan panggilan apa saat aku berkenalan dengannya pertama kali sewaktu lebaran 2010 dulu.
Mumu memanggil Satrio dengan panggilan “Bang.” Panggilan itu juga dilakukan sepupunya yang lain yang umurnya dibawah Satrio, dan.... ini sangat menyulitkanku untuk memanggilnya.
Mau tahu apa kesulitanku dulu?
Dia ini lebih tua dariku, 4 bulan, jadi otomatis aku juga memanggil dia ‘Bang’ sama seperti Mumu.
Dan aku terbiasa memanggil orang yang lebih tua dariku dengan namanya dan juga embel-embel ‘Bang’ atau ‘Kak’ nya.
Jadi kalau memakai panggilan Mumu dan kebiasanku.... terus aku gabungkan.... maka.... aku bakalan memanggil Satrio dengan panggilan ‘BANG SAT’. (‘Sat’ nya dari nama depannya yakni SATrio)
Ini kan sulit bagiku!
Coba bayangkan semisalnya aku bertemu Satrio ditengah jalan,
“Hei Bang Sat! Apa kabar?”
“Baek-baek hehehe, loe gimana?”
“Baek hehe, kok ada disini Bang Sat!?”
“Biasalah, etss makin oke aje loe, pantes Mumu betah hahaha.”
“Ah! Bisa aje loe Bang Sat! hahahaha.”
Nah, bayangkan kalau percakapan kami berdua didengar oleh orang-orang disekitar kami? Yang kena bagian jeleknya pasti aku, karena orang pasti berpikir.
“Ini orang gak ada sopan santun amat! Masa orang ngomong baik-baik malah di BANGSAT-BANGSATin!!”
Mending kalau aku dicibir, kalau aku dikeroyok gara-gara kesalah pahaman ini gimana?
Lalu aku dibawa kekantor polisi!
Lalu aku masuk penjara!
Lalu aku masuk koran dan headline beritanya seperti ini.
“Seorang pria kebelet menikah dihajar massa karena memaki orang BANGSAT tanpa sebab. Apakah ini pertanda etika dan sopan santun orang Indonesia sudah punah? Simak beritanya berikut ini.”

Kan sulit jadinya.
Untungnya Satrio memintaku memanggilnya dengan nama Rio saja karena dia sering dipanggil dengan nama itu. Untunglah, masuk penjara gara-gara BANG SAT kan gak lucu.
Rio mengatakan kalau orang tua temannya berencana menjual rumahnya karena mereka sudah pindah rumah. Rumahnya didaerah ini. Rumah itu sudah kosong dari 9 bulan yang lalu. Itu info yang dia dapatkan dari group WhatsApp.
“Beneran?” kutanya untuk kepastian.
“Entar, coba nelpon dia dulu soalnya udah lama, katanya sih orang tuanya berencana gitu.”
Aku menunggu tak sabar dengan hasilnya, Rio yang asyik menelpon diluar begitu membuatku berdebar-debar. Pandai sekali dia membuat pria sejati sepertiku berdebar-debar. Kurang ajar! Kan merinding jadinya!
Rio kemudian masuk dan memberitahukan hasilnya.
“Dia bilang dijual tuh, bagaimana?”
Mendengar hal itu membuat aku antusias. Aku dan Rio sepakat untuk kerumah itu esok hari, sebenarnya sih mau dihari itu juga tapi tak enak rasanya pergi selagi ramai orang-orang disitu. Aku dan Rio juga memberitahukan hal ini kepada Mumu.
Esok siang jam 1, aku, Mumu dan Rio pergi kerumah yang dimaksud. Rumahnya sederhana tapi enak dilihat, mungkin karena warna cat biru dan perpaduan warna lainnya maka rumah itu enak dilihat dari depan.
Kami menunggu teman Rio datang karena temannya itu yang mengurus jual beli rumah orang tuanya ini. Temannya datang dan kami diberi kesempatan untuk melihat dalamnya. Design dalam rumahnya benar-benar memanjakan mata, Mumu suka warna cat-nya tapi aku tak perduli karena memang porsi masing-masing ruangannya pas. Yang aku suka adalah tempat cahaya masuknya yang berasal dari jendela. Ada beberapa dinding yang cat-nya kusam dan ada yang sedikit retak tapi itu bisa diatasi.
Setelah menjelajah kesana kemari akhirnya aku merasa kalau rumah ini cocok denganku. Aku bertanya kepada Mumu dan ia sependapat denganku. Sebuah rumah sederhana yang kuinginkan, dan kalau ada rezeki mungkin aku akan membuat tingkat 2 untuk rumah ini, amin.
Merasa cocok maka kami keurusan utamanya. Sedikit basa-basi tentunya dengan membahas rumah ini sampai kecerita alasanku dan Mumu hendak mencari rumah, bahkan ceritaku yang mau melamar Mumu. Temannya Rio yang bernama Yuda mengatakan cicilannya bisa diatur asalkan aku dan Mumu pasti untuk membeli rumah ini. Apalagi sertifikat tidak ada masalah apapun.
Aku dan Mumu berdikusi sejenak dan dengan kesadaran yang ada aku mewakili Mumu untuk berbicara, “Ya, kami mau membeli rumah ini.”
Yuda berterima kasih karena keputusan kami dan dia memberitahu berapa harga DP (Down Payment) nya, dan dia memberi sedikit pengurangan harga DP sebagai bentuk terima kasih dan juga bentuk selamat karena aku dan Mumu merencakan pernikahan.
Aku pun berterima kasih kepadanya.
Kemudian kami membicarakan cicilannya dan Alhamdullilah, Yuda benar-benar membuktikan ucapannya kalau cicilannya itu bisa diatur. INI BARU NAMANYA COWOK! OMONGANNYA DIPEGANG! (Setelah ditelusuri nih orang (Yuda) anak orang kaya rupanya, pantas enteng banget ngomongin harga.)
Selesai mengatur harga cicilan yang disesuaikan dengan gajiku dan gaji Mumu yang kalau menurut perhitungan 3,5 tahun baru lunas (Kalau ada rezeki mungkin bisa lebih cepat) Aku mengatakan pada Yuda kalau tanggal 1 Juni aku akan datang kerumahnya untuk membayar DP, Yuda mengatakan atur saja dan memberikan alamat rumah dan kontak-nya.
Diluar rumah Rio dan Yuda sedang bercakap-cakap sebentar sebelum Yuda pulang dengan mobilnya, sementara aku dan Mumu kembali menikmati pemandangan rumah ini dari luar.
Sebuah rumah sederhana yang menjadi pilihan kami.
Sebuah rumah yang dibeli dari hasil kerja kami berdua.
Sebuah rumah yang akan aku dan Mumu tempati saat kami menikah nanti.
Mumu merangkul pinggangku dan memepet tubuhku, aku menoleh dan melihat ia tersenyum memandang rumah ini. Ia kemudian memandangku dan berkata.
“Asyik punya rumah hehe.”
Aku tertawa ringan, menyentil pelan keningnya dan berkata
“Ya.”
[ A P R I L O G Y ]
XXI. MENGAKHIRI SALAH SATU HOBI
Tanggal 6 Juni aku sudah bisa menempati rumah itu. Aku tentu saja harus berberes-beres dahulu. Aku meminta bantuan adikku dan beberapa temanku. Aku juga meminta teman SMP ku bernama Bisma atau biasa dipanggil Beng-Beng untuk datang karena alamat rumahku ini tak jauh dari alamat rumahnya.
Aku juga sudah berkenalan dengan RT setempat saat ia melihat aktifitasku bersama adik dan teman-temanku disini. Perbincangan terjadi cukup hangat dan pak RT mengingatkan untuk mengurus hal-hal yang diperlukan soal kepindahanku ini dan beberapa hal penting lainnya. Aku dan Yuda sudah mengurus hal itu (Sertifikat dll)
Butuh 6 hari yang dibutuhkan untuk membereskan rumah ini dari cat dan lain-lain. Setelah itu tentu saja isi-isinya. Dengan meminjam mobil pick-up tetangga (tetangga Ayah tiri dan ibuku) maka aku mengemas barang-barangku seadanya terlebih dahulu. Seperti baju, komputer, TV, kasur lipat dan barang-barang kecil lainnya. Kalau aku membawa semuanya akan repot nantinya terlebih lagi barang-barang Mumu belum ada disini. Orang tuaku dan orang tua Mumu juga datang untuk melihat-lihat rumah ini.
Ada suatu hari Mumu datang untuk melihat keadaan rumah kami ini, ia juga datang dengan segala daftar-daftar yang penting untuk rumah ini nanti. Seperti sapu, alat pel, kotak obat dan lain-lain. Tapi dari daftar itu hanya 1 yang kurasa tidak ada.
Yakni tempat tidur.
Mumu mengatakan kalau ibunya berniat membelikan kami tempat tidur. Aku tertegun karena aku dan Mumu sudah berencana membeli tempat tidur sendiri, Mumu juga sudah memberitahukan hal itu kepada Ibunya tapi Ibunya memaksa. Yasudahlah, daripada Ibunya sedih karena permintaannya ditolak lalu mengutuk Mumu jadi batu kan kacau jadinya hehehe.
Dan dihari itulah aku berniat memberi tahu Mumu. Kalau selama ini aku menulis sebuah cerita Fanfic tanpa diketahui olehnya. Aku membicarakan ini selagi kami bersantai yang dimana ia menonton TV sedangkan aku berbaring disampingnya.
Fanfic?” tanyanya saat aku memberitahukan hal itu.
“Ya.”
Fanfic itu apa?” tanyanya lagi sambil ngunyah cemilan.
Mumu memang asing dengan kata itu, karena yang dia tahu kalau ada barisan kata membentuk sebuah kalimat-kalimat berbentuk cerita maka tak jauh dari sebutan Novel atau pun Cerpen. Aku pun menjelaskan sesingkatnya sampai ia meminta untuk melihat ceritaku itu. Tentu saja yang aku tunjukan adalah cerita ‘Beautifull Aurora’.
“Kok kamu yang jadi pemerannya?”
Aku jelaskan seadanya lagi, meski nama tokohnya mirip dengan namaku yakni “Dion” tapi itu bukanlah aku. Aku tak pernah tersesat, aku lagi marah tak pernah keluar urat-urat ditubuhku walau aku bisa melakukannya tanpa kondisi itu dan aku tidaklah kuat seperti yang ada didalam cerita.
“Hmmm,” dia memincingkan matanya kepadaku, “Melody?” tanyanya saat melihat tokoh Melody muncul disitu.
Ya aku jelaskan lagi karena member JKT48 yang kuketahui waktu itu hanya Melody.
“Oh, ngarep dengan Melody lalu dituangkan lewat cerita ya?” tanyanya cuek.
“Gak gitu juga sih...” pembelaanku seadanya.
Dia terus membaca sampai akhirnya ia lagi-lagi berkomentar.
“Kepentok pintu toilet?” dia tertawa ringan dan memandangku, “Kayaknya gak asing.”
“Ya hehe.”
Aku pun membeberkan kalau kebanyakan pengalamanku kujadikan referensi untuk ceritaku yang kumodifikasi dengan imajinasi agar ceritanya menarik. Bahkan cerita keseharian Melody dan Dion dicerita itu adalah dari pengalamanku bersama Mumu. Walau tidak semua.
“Ini apaan? Belum apa-apa udah ciuman!”
 Dia mengomentari sinis bagian tokoh Dion dan Melody yang tak sengaja berciuman tapi menurutnya masuk akal kalau tokoh Melody marah gara-gara itu. Ya kalau aku membuat Melody jatuh cinta gara-gara ciuman itu apa bedanya dengan Drama Korea yang sudah-sudah.
Dia terus membaca sampai part 3 walau diganggu beberapa bunyi pesan singkat dari HP-nya, tak lama kemudian ia berhenti membaca dan melihatku.
“Sudah berapa lama bikin ginian?” tanyanya.
Aku jawab saja sejujurnya, ia kemudian bertanya akhir ceritaku ini seperti apa dan lagi-lagi aku menjawabnya, setelah itu ia tak lagi bertanya.
Ia diam.
Diam
Dan terus diam.
Aku yang memandangnya mulai takut dan bertanya, “Adek marah?”
Dia memandangku dan berkata, “Menurutmu?”
Dan aku tak tau harus menjawab apa.
Ia menaruh handphone dan berdiri, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun ia keluar rumah. Aku tentu saja mengikutinya sampai ia masuk kedalam mobil ayahnya yang ia bawa, aku mengetuk pintu kaca mobilnya. Ia menurunkan kaca mobilnya sejenak dan berkata.
“Mending kita gak usah nikah.”
Bagai disambar petir disiang bolong, aku tentu saja terkejut mendengar hal itu. Aku mencoba berbicara dengannya tapi dia sudah meluncur pulang dengan mobilnya. Aku panik dan kalap bukan main. Aku mau menyusulnya tapi mobilku dipinjam adikku tadi sebelum Mumu datang dan kunci motor juga dibawa adikku, aku lupa memintanya tadi.
Aku benar-benar khawatir gara-gara ini, aku hanya mau jujur kepadanya. Aku menelpon adikku untuk segera pulang dan selama menunggu telepon diangkat aku pun berpikir.
“Gara-gara fanfic batal nikah?! Gila!!”
Selama aku menjalani hubungan dengan Mumu hanya masalah ini yang benar-benar membuatku stres. Siapa bilang aku dan Mumu tak pernah ada masalah? Aku hanya tak mau menceritakannya disini karena itu merupakan privasi kami. Lalu kenapa aku menceritakan masalah ini? Karena biarpun ini masalah buatku tapi sebenarnya ini bukanlah ‘Masalah’.
Akan lebih jelas alasannya kalau kulanjutkan.
Jadi selama menunggu adikku pulang aku benar-benar stres, aku mencoba menelpon Mumu berkali-kali tapi tidak diangkat karena aku tahu dia tidak pernah menerima telepon kalau sedang mengendarai mobil.
Selama menunggu adikku aku berpikir apa dia marah gara-gara aku menulis fanfic JKT48? Marah karena tokoh yang bernama Dion seperti namaku itu berpasangan dengan Melody? Pokoknya begitu banyak macam pikiran sehingga aku merasa kalau aku memang salah.
Aku mendapatkan telepon dari adikku kalau mau menjemput ibuku dulu yang mau datang kerumahku. Kacau, tanpa pikir panjang aku memesan ojek Online.
Diperjalanan aku lagi-lagi mendapatkan telepon dan ini dari Mumu, aku segera mengangkatnya. Lontaran kata maaf tentu saja kutujukan kepadanya dan aku memohon untuk menarik kata-katanya itu. Aku bahkan tidak perduli kang Ojek mendengar perkataanku ini. Aku mengatakan kalau aku sedang dalam perjalanan kerumahnya tapi dia bilang percuma karena dia tak ada dirumah.
Telepon tiba-tiba dimatikan.
Pikiranku bertambah runyam, aku mencoba memastikannya. Aku meminta kang Ojek melewati rumah Mumu dan memang tak ada mobilnya disana karena aku tahu tempat dia dan keluarganya itu memarkirkan mobil.
Kacau.
Aku terus meminta kang Ojek mengantarkanku kerumah-rumah kenalannya yang aku ketahui tapi nihil, tidak tampak mobilnya sama sekali. Sekarang keadaanku seperti lagu-nya Ayu Ting-Ting berjudul Alamat Palsu.
“Kesana kemari mencari alamat Jreng-Jreng.”
Aku terus menelpon Mumu ditengah jalan, teleponnya memang diangkat tapi tak pernah ia membalas ucapanku. Sedangkan aku terus mengoceh dan melontarkan permintaan maaf begitu menggebu-gebu.
Telepon dimatikan lagi tanpa pemberitahuan.
Aku telepon lagi, bicara maaf ini itu.
Dimatikan lagi.
Aku telepon lagi
Dimatikan lagi.
Telepon lagi.
Dan dimatikan lagi.
Aku juga mengirim pesan untuk menyampaikan apa yang kurasakan, aku benar-benar meminta maaf kepadanya kalau dia sampai seperti ini.
Kang Ojek yang sedari tadi menjadi saksi bisu kemudian berbicara mengenai masalahku. Aku paling tidak suka dengan orang yang penasaran denganku apalagi masalahku, tapi kujawab saja.
“Salah paham, gara-gara orang ketiga.”
Kalimatku tadi menandakan seolah-olah aku ini lagi diperebutkan 2 orang wanita yang memberi kesan aku begitu diharapkan 2 wanita tersebut dalam hidupku.
Padahal ini semua gara-gara fanfic....
Kasian karena kang Ojek ini sedari tadi mengantarku ini maka aku memutuskan kembali kerumah saja yang dimana sudah ada adikku santai bermain Playstation. Dia memang kuberikan kunci cadangan.
“Ibu mana?” tanyaku saat masuk kerumah.
“Gak jadi, mbak Mumu disana makanya gak jadi kesini,” kata adikku enteng.
GEDUBRAK.
Jadi dari tadi Mumu ada dirumah orang tuaku?! Lalu ngapain aku berlalang buana kesana kemari.
“Emang mbak-mu ngapain kesana?” tanyaku.
“Mana gue tau, mau jalan-jalan kali sama ibu,” jawab adikku.
Sekarang pikiranku bercabang-cabang! Gara-gara perkataan Mumu sebelumnya membuat perasaan takutku semakin menjadi-jadi. Apa dia datang kerumah orang tuaku ingin mengatakan kalau dia tidak berniat menikah denganku?!
Aku malah membayangkan percakapan Mumu dan Ibuku seperti ini.
Mumu : Ma..., Mumu minta maaf.... Mumu gak bisa menikah sama Dion.
Ibuku : Kenapa? (Cemas)
Mumu : Dion... (Memandang ibuku dengan wajah sedih) Dion selingkuh sama Melody! Huhuhuhu!
Ibuku : (Kaget ala sinetron-sinteron) Melody? Melody yang mana? (Ibuku memeluk Mumu untuk menenangkannya)
Mumu : (Menangis meraung-raung) Melody JKT48! Dion sama Melody selingkuh di Fanfic!!
Ibuku : (Meradang marah) kurang ajar anak itu! Mumu! Ayo cepat antar Mama! Dimana letaknya Fanfic itu?! Biar Mama acak-acak tempat yang bernama fanfic itu!

KA-CAU!!!
Tanpa basa-basi aku segera menelpon ibuku. Saat telepon diangkat maka aku segera bertanya apa benar Mumu disana, ibuku bilang ada dan katanya mau pergi sebentar lagi dengan Mumu. Aku bertanya mau pergi kemana, katanya mau pergi bersama Ibunya Mumu nanti tapi ibuku tidak memberitahukan tujuan mereka kemana.
Aku meminta ibuku untuk memberikan handphone-nya kepada Mumu karena aku mau berbicara dengannya
“Apa?” terdengar suara Mumu dibalik telepon.
Setelah itu aku kembali berbicara, aku benar-benar minta maaf dan ingin membicarakan ini. Aku bilang aku tak mau seperti ini, aku benar-benar minta maaf kepadanya.
“Hmm iya-iya, nanti adek beliin. 5 buah cukup kan? Oke-oke.”
Aku menyeringitkan dahi, ini Mumu ngomong apa? Kan aku ngomong ‘Ini’ kenapa balasannya ‘Itu’?, tapi akhirnya aku sadar. Dia pasti sedang mengklamufasekan pembicaraan kami berdua didepan ibuku seolah kami sedang tidak ada masalah.
Mumu memberikan handphone kepada ibuku, setelah bercakap sebentar maka hubungan telepon terputus.
Aku hanya bisa bengong sampai akhirnya sebuah pesan dari Mumu muncul di-Handphone-ku.
“Malam nanti jangan kemana-mana.” Begitu bunyi pesannya.
Membaca pesan itu aku segera menelpon Arya kalau nanti malam aku tidak bisa bermain futsal dan meminta Arya dijemput Enu saja. Ya, waktu itu aku berencana bermain futsal dan Arya memintaku menjemputnya nanti.
Hal ini tentu saja aku batalkan karena bagaimana pun juga...
Urusan masa depan lebih penting.
-----
Malam harinya aku begitu gelisah, bukan geli-geli basah, bukan.
Untuk menyambut Mumu, aku bahkan menyuruh adikku pergi keluar (Dia nginap dirumahku untuk 5 hari). Awalnya dia tak mau karena dirasa tidak ada yang bisa diperbuatnya diluar sana apalagi dia udah keasyikan main PS.
Tapi itu berubah saat kukeluarkan uang 100.000 dari dompet.
Dan bangsatnya, dia masih jual mahal.
“Kurang,” katanya.
Kukeluarkan 10 ribu.
“Masih kurang.”
Kukeluarkan 20 ribu.
“Kurang-kurang.”
Kukeluarkan rotan dan gagang pacul barulah dia berkata, “Oke.”
Adikku pun pergi menggunakan motorku dan aku sekarang menunggu kedatangan Mumu.
Rumah sudah kusapu bersih dan kupel agar telapak kakinya tidak kotor saat menginjak keramik.
Aku menyemprot pengharum ruangan agar hidungnya tidak menghirup bau tak sedap.
Aku juga merapikan barang-barang ketempatnya agar matanya itu tidak melihat sesuatu yang berantakan.
Namanya juga sayang ~
Jam 7.39 malam menjadi waktu dimana ia datang kerumah kami ini. Tau darimana aku kalau dia datang jam segitu? Aku sedari tadi mandangin jam menunggu dia datang.
Aku keluar rumah dan melihat ia menatapku cuek saat hendak meletakan helm-nya diatas spion motor. Aku menghampiri dirinya dan ingin mengatakan maaf langsung. Tapi dia yang duluan berkata.
“Udah makan?”
“Belum,” kujawab saja langsung dan ingin berkata, “Mu, aku...”
“Didalam saja,” potongnya lagi.
Ia menenteng kantong plastik hitam yang ia gantungkan digantungan motor matic-nya itu. Aku mengikutinya dan kami berdua pun masuk kedalam. Dia menyuruhku menunggu diruang keluarga dan ia menuju dapur. Dan ia kembali dengan 2 piring dan 1 sendok.
Isi kantong plastik itu adalah 2 nasi bungkus. Ia meletakan nasi bungkus dipiring masing-masing. Ia membuka isi nasi bungkus itu dan melihat isinya.
“Ini,” dia meletakan nasi bungkus itu dihadapanku.
Aku melihat isinya. Nasi putih, ikan tenggiri, lalapan sayur ubi, kuah sayur dan kuah rendang, lalu sambal hijau. Aku tersenyum tipis karena Mumu tahu kalau aku membeli nasi bungkus lauknya pasti ini. Tapi ini bukan prioritasku maka aku tidak mengindahkan makanan itu meskipun itu salah satu makanan favoritku.
Mulutku terus mengoceh dan melontarkan kalimat-kalimat yang sedari tadi ingin kukatakan, dan ia terlihat cuek sambil mengaduk nasi bungkusnya sendiri dengan sendok. Setelah aku selesai berbicara maka aku menunggu tanggapannya.
Ia terus melihat nasi bungkus miliknya dan tak henti-hentinya mengaduk, sampai akhirnya ia tersenyum dan tertawa geli.
Aku? Tentu saja kebingungan.
“Adek?” panggilku dengan heran.
Mumu mendelikan matanya dan lagi-lagi tertawa, ia melihat nasi bungkusnya lagi dan tertawa sambil mengaduk-aduk.
“Ya ampuun! Ahahahaha!” dia tertawa melihatku.
“Heee?” aku tertegun.
“Abang nganggep serius ya perkataan adek tadi?” tanyanya lagi dengan tawa yang renyah.
“Loh?”
“Adek tadi bercanda, abang. Ya ampuun ampe segininya hahahaha.”
“Bercanda?” aku menyeringitkan dahi dan Mumu semakin brutal untuk tertawa.
“Iya, bodoo! Hm!” dia mengapit hidungku dengan geram.
Aku terdiam
Aku tentu saja tidak menyangka kalau dia bercanda, kalau kalian diposisiku waktu itu tentu saja pasti kalian akan berpikir kalau itu serius ditambah lagi dengan sikapnya yang meyakinkan.
Mumu terus tertawa dan mengomentari tindakanku sedari tadi lewat telepon dari siang. Ia mengatakan saat aku berbicara ditelepon untuk meminta maaf sudah berapa kali dia menahan tawa karena berhasil membuatku merasa bersalah gara-gara sikapnya tadi.
“Ya enggaklah adek kayak gitu gara-gara cerita, konyol amat sih. Tapi bukan berarti adek gak sebal ya gara-gara itu,” katanya memincingkan mata.
“..... Lalu?”
“Gak kenapa-napa kok sebenarnya, lagian menurut adek udah cukup. Abang aja sampai segitunya minta maaf, makanya....” dia menarik-narik pipi kananku dengan beringas, “Jangan sembunyiin apapun! Udah setahun lebih kan berarti abang diam-diam bikin cerita kayak gitu?”
“I-Iya maaf-maaf,” aku kesusahan berbicara waktu itu.
“Baru setahun lebih, adek cuma butuh berapa jam aja bikin abang kayak gini,” dan dia lagi-lagi tertawa.
“Maaf...” kataku lagi.
Jadi itulah kenapa ini bisa dibilang bukan ‘Masalah’ karena bagi dia ini bukan masalah, hanya sekedar untuk memperingatkanku terlebih lagi aku dan dia pernah berkata jangan menyembunyikan apapun. Dia juga berkata kalau dia bersikap seperti itu hanya akting saja dan dia memang berencana pamit untuk menjemput ibuku.
Jadi katanya saat dia membaca ceritaku dia mendapatkan sms dari ibuku yang menanyakan dirinya dimana, Mumu berkata dia dirumah kami dan ibuku hendak kemari, merasa tak enak membuat ibuku repot-repot maka ia sendiri yang mau menjemputnya dan terlintas dipikiran dia untuk berpura-pura marah gegara ini.
Dia juga berkata kalau ia melanjutkan membaca ceritaku dirumah sampai part 14, dan tentu saja mulutnya itu tak henti-hentinya berkomentar tentang ceritaku yang baginya sedikit menjijikan karena tidak seperti diriku. Aku melakukan pembelaan karena awalnya sudah kubilang kalau ‘Dion’ dicerita itu bukanlah aku yang sesungguhnya, palingan sedikit sifatku yang kulengketkan disitu. Dia juga sedikit memujiku karena bisa meramu pengalaman kami berdua menjadi cerita seperti ini dan mengejekku dibeberapa bagian cerita yang menurut dia ‘Aneh dan menjijikan’, aku juga merasa seperti itu..
Aku akhirnya bisa makan dengan lega, dan selama makan aku pun menceritakan cerita-ceritaku itu dan memberitahu alasanku kenapa memakai member JKT48 untuk tokoh-tokoh ceritaku.
Dan buat pembaca juga, inilah alasanku kenapa aku memakai member JKT48 untuk ceritaku. Tak lain dan tak bukan hanya untuk menarik minat fans-fans JKT48 untuk membaca ceritaku.
Aku memang kagum dengan Melody dan Ghaida karena naluriku sebagai pria umumnya.
Tapi bukan berarti aku ini fans JKT48.
Ya, itu saja. Tak kurang-tak lebih.
Mohon maaf apabila ada pembaca yang tidak berkenan.
“Emang apa yang abang dapatkan dari cerita yang abang buat?” tanyanya kepadaku waktu itu.
“Gak ada, tapi ada kepuasan tersendiri saja bikin orang-orang terhibur. Meskipun ada juga yang bikin kesal.”
“Apanya?”
“Ditanyain melulu kapan lanjutannya hehe, kadang capek ngasih tau kalau pasti abang beri lanjutan ceritanya tapi ada yang tak sabar gitu, dikiranya penghasilan abang itu dari nulis cerita kali. Abang kan juga kerja, mending yang minta lanjutannya itu ngasih duit haha.”
“Berarti itu resikonya,” Mumu tertawa, “Lalu masih mau abang lanjutin nulis cerita semisalnya kita udah nikah?”
“Belum mikirin hal itu, menurut adek gimana?”
“Emang abang anggap nulis cerita ini apa? Kan gak dapat pendapatan apa-apa tadi kayak abang bilang.”
“Hobi sih.”
“Berarti itu keputusan abang, tapi adek hanya mau ngingetin. Nanti kalau kita udah nikah, abang bertanggung jawab loh sama kehidupan adek. Adek gak ngelarang hobi abang, tapi yang adek tekankan disini jangan lupa sama  tanggung jawab abang nanti. Abang bukan anak kecil lagi.”
Mendengar kata-kata Mumu barusan membuatku terdiam. Itu memang ada benarnya karena aku yang bertanggung jawab dengan hidup kami berdua saat menikah nanti. Dan menulis itu tidak semudah membalikan telapak tangan, aku selalu menyicil-nyicil tulisanku ditengah kesibukanku.
Aku belum memikirkan hal itu sepenuhnya.
Mungkin aku akan memikirkan hal itu nanti.
Tapi niat ‘Berhenti’ sudah terlintas dikepalaku. Itu pernah kusampaikan dicelotehan Numeriq File V : Distorsick
Namun aku masih bimbang waktu itu.
[ A P R I L O G Y ]
XXII. KEPUTUSAN
Memasuki bulan Oktober.
Tepat pada tanggal 15 Oktober aku bersama beberapa keluargaku datang kerumah Mumu untuk acara lamaran yang sudah kami rencanakan pada awal tahun 2017 ini. Akhirnya aku benar-benar melamar wanita yang menemaniku selama ini dengan suasana suka cita menyemarakan hari itu.
Kedua keluarga kami juga membicarakan hari pernikahan kami, setelah menimbang-nimbang ini itu dan lain-lain maka kami sepakat untuk melaksanakan hari pernikahan pada bulan April 2018 nanti.
Berbagai kata ucapan selamat kudapatkan dari teman-temanku, begitu juga Mumu dari teman-temannya. Yah... sulit kuurai dengan kata-kata betapa senangnya aku pada hari itu
Yang jelas pada 2018 nanti aku tidak akan lagi mendapatkan pertanyaan, “Kapan nyusul?
Tapi aku yang akan melontarkan pertanyaan itu kepada kenalan-kenalanku yang kuundang dan belum menikah.
Tunggu saja nanti! Ha-ha-ha-ha!
-----
Dibulan Oktober ini beberapa perabotan dan pernik-pernik sudah menghiasi rumah kami. Meski ada juga dibelikan oleh orang tua kami seperti tempat tidur yang dibelikan oleh ibunya Mumu, kursi dan meja tamu dari ayah tiriku lalu gorden dari ibu tiriku dan peralatan dapur dari ibu kandungku. Aku dan Mumu membeli lemari pakaian, karpet dan mesin cuci.
Yah sudah 60% kebutuhan dirumah itu sudah ada,
Tapi karena belum menikah maka aku sendiri saja yang menempati rumah itu, terkadang ditemani adikku bersama teman-temannya dan tak jarang kuminta mereka menjaga rumahku itu sedangkan aku tidur dirumah orang tuaku.
Ada suatu kesempatan aku dan Mumu membicarakan fanfic lagi.
Ceritaku yang ia sukai adalah Beautifull Aurora, Plain Vanilla, Secangkir kopi dihari Minggu, Idiotique 1, Idiotique 2 : receh-receh, Line, Stockholm Syndrome vol. 2  dan Beautifull Aurora V.
Terutama cerita Beautifull Aurora pertama dan Idiotique pertama.
Komentar dia tentang cerita Idiotique pertama adalah ceritaku itu berhasil membuat dia tertawa terbahak-bahak saat membaca ending ceritanya. Ya cerita itu memang absurd. Cerita Drama real-life tiba-tiba jadi fantasy, kiamat pula akhirnya.
Lalu komentar dia tentang cerita Beautifull Aurora pertama adalah cerita itu meskipun penuh konten yang ‘Kasar’ (percakapan dan adegan) tapi  benar-benar membawa orang larut dalam keseharian cerita yang ada disitu. Seperti cerita Lupus, dan memang aku akui kalau aku terinspirasi dari cerita Lupus saat membuat cerita itu.
Yang ia sayangkan dari ceritaku adalah banyak kata-kata dan adegan kasarnya, apalagi dicerita Redrum/Numeriq, dia bahkan tidak mau membaca cerita Redrum yang  lainnya bahkan Numeriq semenjak membaca cerita pendek Redrum pertama.  Aku memaklumi karena dia memang tak suka cerita yang sadis-sadis.
Aku sering mendapatkan komentar sejak Beautifull Aurora pertama tamat dari orang-orang, ada yang menyayangkan cerita itu kutamatkan, ada yang tak terima karena orang itu tidak dimasukan kedalam cerita (Hadeeh...), dan ada pula yang mau tahu apa kelanjutan cerita itu nantinya.
Lucunya, Mumu termasuk yang mau tahu apa yang terjadi selanjutnya saat tokoh Melody memberitahu dirinya hamil diakhir cerita.
Aku tersenyum.
Aku menoleh.
Aku merangkul pundak Mumu.
Dan aku menjawab.
“Aku sendiri tidak tahu.”
“Kok gak tau sih?” balasnya.
“Bagaimana bisa tahu? Punya anak aje kagak pernah, gimana mau merealisasikannya?
“Ya bayangin aja.”
“Bayangin bikin anak?”
Perutku dicubitnya, “Bayangin kalau udah punya anak!”
Aku mengaduh sebentar dan berpikir mungkin ada benarnya, tapi aku harus tahu apa yang mau kuceritakan nanti. Pikiranku malah kecerita ‘Paralel Universe’ buatanku, entah kenapa aku tiba-tiba memikirkan hal itu.
Sampai akhirnya ada suara yang mengagetkanku.
“Hambrede! Hahahaha!”
“Sial, curang lu!” umpat Egi, dia adiknya Arya.
“Beh! Beh! Beh! Hanya pecundang yang suka melemparkan kesalahan keorang lain. Hambrede-hambrede-hambrede.”
Itu adalah percakapan antara adikku dan teman-temannya yang 2 diantaranya adalah adik dari temanku sendiri, mereka lagi asyik bermain PS dirumahku. Dan sampai sekarang aku heran dan bingung.... ‘HAMBREDE’ itu artinya apa?!
Aku pernah bertanya kepada adikku dulu, apa itu hambrede?
Dan jawabannya adalah, “Hanya orang beriman yang tahu.”
Tanpa basa-basi kutoyor kepalanya dengan tangan orang tak beriman, yaitu aku.
Yah... sebagai abangnya.... aku merasa gagal.
Aku gagal...
Karena tak tahu hambrede itu apa.
#MengheningkanCipta
Tapi gara-gara itu aku teringat dengan ‘Parallel Universe’ yang kubuat, ya aku ingin membuat tema itu lagi meski tidak akan kuungkit kedalam cerita. Dan akan aku tuangkan kedalam lanjutan cerita Beautifull Aurora.
Aku ingat kalau adikku menjadi tokoh utama Beautifull Aurora III, tapi dirinya tidak ada didalam cerita Beautifull Aurora pertama. Maka dari itu aku memutuskan kalau adikku itu akan menjadi anak Dion dan Melody didalam cerita Beautifull Aurora pertama.
Walau janggal rasanya membuat adik sendiri menjadi anak.
Benar-benar.... janggal.
Aku membaca ulang cerita Beautifull Aurora pertama dan juga Beautifull Aurora III untuk menemukan referensinya. Maka aku membuat tokoh-tokoh B.A III (Adikku dan teman-temannya) masuk kedalam cerita B.A pertama.
Aku juga ingin menambahkan tokoh dengan nama beberapa keluargaku seperti Lina (Udah pernah di-mention di B.A part 60) dan Galih. Lalu aku juga harus mencari member-member JKT48 yang lain untuk cerita ini yang sesuai dengan umurnya.
Aku buka JKT48.com dan mencari-cari korban member yang ingin kumasukan.
Ada Eve, checklist.
Ada Vio, checklist.
Dan yang terakhir membuatku tertegun.
Citra, sepintas Citra mirip Shani, lalu aku teringat cerita Shani yang menyukai Dion didalam cerita itu. Aku pun akhirnya mendapatkan ide! Aku akan membuat Citra menjadi adik Shani, dan akan kubuat Citra sama seperti kakaknya dulu yaitu menyukai keluarganya sendiri. Jadi akan ada suasana Incest (Hubungan sedarah) lagi meski tidak parah seperti sebumnya.
Citra pun checklist.
#PrayForCitra #selamatkanCitra #ArakArakEga #KokJadiEga #SukaSukaSaya
Aku mulai berpikir lagi, apa yang hendak kuceritakan tentang anak Dion dan Melody didalam cerita ini. Setelah mendapatkan apa yang mau kuceritakan maka aku membagi tokoh-tokoh yang ada didalam cerita ini nanti.
Setelah semua beres maka aku membuat alur ceritanya dari point-point yang sudah kusiapkan.
Butuh 2 minggu bagiku membuat cerita itu (Offspring), kan sudah kubilang membuat cerita itu tidak semudah mengembalikan telapak tangan apalagi ditengah kesibukanku. Yang sering bilang Update dong Bwaaaaaanggggggg kalau bisa update setiap hari dwooong bwaaaaang! Apa sih susahnya nulis bwaaaang kan enak biar gak ditanya terus Bwaaaaang!” coba bikin cerita seperti yang kulakukan.
1. Buat cerita dengan ide orisinil/hasil dari pikiranmu sendiri, aku tak perduli kalau otakmu itu mencret-mencret tak karuan dan memerlukan perlindungan kak Seto. Dan jangan mengadaptasi cerita lain atau pun mem-plagiatnya.
2. Buat cerita itu dengan kategori cerita bersambung. Harus cerita bersambung dan harus 15 part lebih. Aku tak perduli apabila kau stres nantinya.
3. Lalu buat cerita yang dimana 1 bagian (1 part) nya terdiri dari 35 halaman atau lebih.  Aku tidak perduli jari-jarimu kram dan kondisi kesehatanmu tak stabil.
4. Dan yang paling penting,  Cerita itu harus UPDATE SETIAP HARI. Ya, aku tidak akan perduli dengan kehidupanmu, aku tak perduli dengan waktumu, pokoknya harus UPDATE SETIAP HARI.
Dan mari kita lihat, apa benar menulis cerita itu semudah yang dibayangkan biarpun plot nya sudah dipersiapkan? Dan tentu saja tidak ada bayaran, aku membuat cerita saja tidak dibayar siapa-siapa HA-HA-HA-HA-HA-HA (Ketawa jahat)
UPDATE DONG BWAAAAAAANG.
Hadeh.
Setengah cerita yang kubuat (Offspring) kutunjukan kepada Mumu, Mumu memberi saran untuk membuat percakapan antara anak dan 2 orang tuanya yang dimana anaknya itu tidak tahu hamil itu apa, bayi itu datang darimana, untuk menciptakan kesan nyata kehidupan sehari-hari. Ya, kupikir benar juga.
Waktu kecil kalian juga penasaran kan bayi itu terbuat dari apa?
Cerita itu akhirnya selesai dan Mumu lah pembaca pertama cerita itu, dia bilang lumayan dan aku tahu itu sebenarnya kurang. Tapi tak masalah bagiku.
Lalu aku juga membuat keputusan disaat itu  dan aku bicarakan kepada Mumu.
“Mu.”
“Hmm?” responnya sambil menjahit celana pendekku yang sedikit robek.
“Mau berhenti nulis cerita fanfic.”
“Kenapa?”
“Tidak ada, hanya saja udah waktunya abang berhenti. Tahun depan kita menikah dan abang tidak mau membagi waktu untuk hal-hal seperti ini.”
“Hmm,” dia tersenyum tipis, “Kalau kepengen menulis lagi?”
“Berarti selanjutnya bukan cerita fanfic lagi yang abang tulis.”
“Lalu cerita abang yang belum tamat?”
“Ya ditamatkan, lagian tadi yang yang nyebut B.A III dan B.A IV sebagai season 3 dan season 4. Berarti menantang, ya kukabulkan nanti. Udah dibilang abang tak suka season-season.”
“Haha siapa tau dia itu gak tau kan?”
“Yah pokoknya itu bisa jadi alasan, lagian emang mau ditamatkan nanti sebelum hari itu.”
“Hari itu?”
“Hari kita nikah nanti, rencananya mau ditamatkan sebelum bulan April.”
“Oh,” Mumu tertawa dan berkata, “Terserah abang, apapun keputusan abang yang baik menurut abang bakalan adek dukung.”
“Istri idaman,” aku terkekeh dan dia menusuk pelan telapak kakiku dengan jarum.
Aku memikirkan judul cerita yang kubuat itu dan Offspring (Penerus) menjadi pilihanku . Lalu aku mengirim pesan singkat kepada Ega untuk membuat banner-nya (Dengan bayaran tentunya, aku tidak gratis meminta sesuatu dari kemampuan orang)
2 hari kemudian aku tinggal menunggu Ega karena dia mau kerumahku sehabis berjalan-jalan dengan pacarnya. Apalagi waktu itu lagi malam Minggu. Dia berniat menginap dirumahku untuk melanjutkan pekerjaannya karena modem wifi dirumah dia gangguan.
Ega datang dan dia masuk dengan cara mengguling-gulingkan badannya untuk menghampiri tempatku bersama Mumu. Tidak berguling-guling sebenarnya, aku suka saja membuat perilaku-perilaku aneh yang tak wajar untuk Ega.
Tapi lucu juga membayangkan kalau ada tamu masuk kerumah dengan cara berguling-guling. Kalian bayangkan saja sendiri.
“Adik gue mana, Mu?” tanya Ega setelah menyalakan laptop.
“Pergi jalan-jalan tadi sama yang lain, eh iya tuh Ega nya udah datang,” kata Mumu kepadaku.
“Ada apaan?” Ega menoleh kearahku.
“Oh ini, cerita baru yang gue pinta buat banner-nya kemarin. Posting ya nanti.”
“Nape harus gue? Tuh laptop loe kan bisa, yaelah?”
“Gak serapi loe mosting, ayolah, anggap aje biaya nginep,” aku terkekeh waktu itu.
Ega memiringkan bibir, “Kirim aje nanti diemail, gue gak bawa flasdisk.”
Aku mengirimkan cerita itu sambil berbicara, “Nanti tahun depan lu urus blog ya, Ga?”
“Maksud loe?”
“Gue mau brenti nulis.”
“Wih,” Ega terkekeh, “Tobat laki lu, Mu.”
Mumu tertawa pelan dan berdiri, ia mau kedapur untuk mengambil piring dan air minum, soalnya Ega datang bawa-bawa martabak telur.
“Tapi pas juga ya, Yon.”
Aku menghidupkan rokok dan bertanya, “Apanya?”
“Itu loe berhenti,” Ega juga menghidupkan rokok.
“Terus? Apa pas nya?”
“Lah, loe gak tau?”
“Apanya?”
“Korban cerita loe juga berhenti.”
Aku menyeringitkan dahi, “Maksud loe?”
“Melody juga mau berhenti dari JKT48,” katanya kalem.
“Wow!” Aku benar-benar terkejut saat mendengar hal itu, “Serius lu?”
“Yoi, lu liat aje Twitter, kemarin gue liat heboh.”
“Mana? Mana?” kutarik laptopnya.
“Pake laptop lu lah!” dia sewot dan menarik laptopnya kembali.
“Ada apa?” tanya Mumu saat kembali dari dapur.
“Melody katanya berhenti,” jawabku.
“Beneran?”
“Iya, ini mau ngecek.”
Aku membuka Twitter yang jarang kuaktifkan, di-Timeline aku tidak mendapatkan hasil apa-apa karena aku memang tidak mem-follow apapun yang berbau JKT48. Aku mencari kolom Search dengan nama pencarian “Melody JKT48 Grad” dan tertampanglah tweet-tweet yang menyebutkan hal itu.
Dan benar, Melody memutuskan untuk berhenti dari JKT48. Lalu aku melihat link berita yang mengulas hal itu. Dan... entah kenapa Melody sukses membuatku terkejut pada hari itu karena dia akan merayakan kelulusannya dibulan Maret tepat dihari ulang tahunnya.
“Waduuh, kok bisa samaan gini,” gumamku.
“Iya ya,” sambung Mumu.
“Biasa aje kali,” cibir Ega.
“Kalau gue bilang gue juga mau brenti nulis sebelum bulan April,  biasa gak menurut lo? Sebelum bulan April kan Maret,” jelasku.
“Weeeh, serius lu?”
“Ngapain juga gue bohong, barusan gue ngomongin hal ini dengan Mumu. Gue berani sumpah malah pake Al-Quran.”
“Lebay lu,” Ega terkekeh dan mengetik pekerjaannya.
Aku kembali membaca ulasan berita ini dan tak menyangka, Melody yang selama ini menjadi korban-korban ceritaku juga berniat berhenti dan Bulan dimana ia berhenti juga menjadi Bulan dimana aku hendak berhenti menulis cerita Fanfic.
“Jodoh,” aku terkekeh memandang Mumu dan menunjuk foto Melody.
Hidungku disentil Mumu dengan geram dan melihat ulasan berita tentang Melody, “Kalau dia keluar ya bagus deh, udah memang seharusnya.”
“Sinis amat,” komentarku.
“Sok tau,” pahaku ditoyornya, “JKT48 gak boleh pacaran kan? Nih coba liat umur dia berapa?” Mumu menunjuk umur Melody yang tertampang dikolom berita.
“25, sama kayak adek,” aku terkekeh.
“Tahun depan 26,” balas Mumu cuek, “Masa dia mau selama-lamanya disitu? Adek yang umurnya sama dengan dia aja udah mau nikah begini.”
“Bener juga ya...”
“Makanya tadi adek bilang bagus, kalau selama-lamanya disitu yang ada aturan gak boleh pacaranlah, lalu diawasin lagi sama fans-fans nya lah gara-gara aturan itu, kan kasian dianya.”
“Siapa tau Melody sebenarnya udah punya (pasangan) kan? Cuma diam-diam aje, gak ketahuan.”
“Walau pun ada, tetap kasihan kan dia? Terkurung gara-gara aturan itu. Lagipula adek mikir kalau adek jadi dia, adek udah gak tak seharusnya lagi disitu, personilnya juga banyak, dan masih banyak yang lebih muda darinya. Dia pasti sadar umur, adek yakin.”
“Ada yang tak rela malah Melody keluar nih,” Ega terkekeh dan menunjukan Tweet seseorang yang tak terima keputusan Melody untuk keluar.
“Tuh, kasian kan?” Mumu menunjuk Tweet yang dimaksud.
“Tipe fans karbitan,” komentar Ega untuk Tweet tersebut.
Aku setuju dengan komentar Ega, fans sejati pasti akan mendukung keputusan orang yang dijadikan fans oleh mereka. Apalagi kalau keputusannya itu menyangkut kebaikannya sendiri. Fans tentu saja akan mendukungnya karena sudah berpikir panjang, toh misalnya Melody keluar dari JKT48 dia belum tentu dilupakan orang-orang dan fans nya tentu saja masih bisa memberinya dukungan.
Contoh kecil? Tuh Jessica Veranda, fans-nya solid kan?
“Tapi belum tentu dia keluar karena mau menikah kan?” aku terkekeh,  setidaknya ada bahan obrolan diruang ini.
“Yang pasti hal itu ada dipikirannya, abang lupa berapa kali adek sama abang ditanyain kapan mau menikah?”
Aku memikirkan kata-kata Mumu barusan dan mungkin benar adanya. Ibuku dulu juga sering bertanya kapan aku mau melamar Mumu karena Ibuku sudah menganggap Mumu seperti anaknya sendiri, dan bagi ibuku, Mumu itu  sudah sangat matang untuk menikah diumurnya waktu itu, hanya saja karena rencana mau beli rumah dulu maka sedikit tertunda.
Dan aku tidak menyarankan caraku ini ya? yang harus beli rumah dulu atau apapun walaupun pada akhirnya aku dan Mumu nanti bakalan menikah. Sekali lagi aku tegaskan aku tidak menyarankan hal ini. Bagi para pembaca yang sudah siap menikah dan kira-kira mampu, lebih baik tak usah ditunda-tunda lagi.
Serius.
Aku kemudian hendak menambahkan kebiasanku setiap menulis cerita, yaitu ‘Celotehan’. Walau tidak seberapa aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku kepada Melody kepada fans-fans Melody JKT48 yang membaca ceritaku (Offspring). Aku bilang ke Ega jangan diposting dulu karena aku mau menambahkan celotehan dicerita itu.
Aku menganggap ‘Celotehan’ sebagai ‘Obrolanku dengan pembaca’ (Apalagi aku jarang buka sosmed), jadi selain ingin mengungkapkan rasa terima kasihku, aku juga mau memberitahu rencanaku yang mau berhenti menulis dengan alasan yang tidak terlalu gamblang untuk kukatakan.
Tapi kurasa percuma.
Walaupun tanpa kukasih tau orang-orang udah pada tau sendiri alasanku mau  berhenti nulis karena mau menikah dikomentar-komentar blog.
Detektif emang hahaha
“Haaaah,” Ega tiba-tiba menghela nafas.
“Kenapa, Ga?” tanya Mumu mewakiliku.
“Cuma bingung aje.”
“Apanya?” tanyaku.
“Bingung... kira-kira pacar gue mau gak ya dipoligami? Pas Melody keluar pasti dia mau nikah sama gue.”
Dihari itu....
Selain ingin mengucapkan terima kasih kepada Melody dicelotehan...
Aku ingin me-Ruqyah Ega.
[ A P R I L O G Y ]
XXII. APRIL
[Lagu favoritku dan Mumu]
Sekarang sudah tahun 2018 dan tinggal 3 bulan lagi menuju bulan April. (Jika dihitung dari bulan Januari)
Aku pun bertambah sibuk dengan kerjaanku, sekedar nambah-nambah biaya nanti. Aku juga sibuk membereskan rumahku dan rumah orang tuaku karena bulan Maret nanti keluarga besarku akan datang dari seluruh penjuru Dunia.
Oke bercanda, penjuru daerah lebih tepatnya.
Dan seperti yang tadi kubilang. Bulan Januari 2018 ini aku benar-benar disibukan dengan pekerjaanku, tak hanya aku akan tetapi pegawai-pegawai yang diburu deadline. Tapi entah kenapa rasa capekku berkurang saat mendapatkan ucapan selamat dari rekan-rekan kerjaku yang mengetahui aku sebentar lagi mau menikah.
Senang, itu sudah pasti.
Dan aku berkesempatan bertemu dengan beberapa temanku yang sudah menikah duluan ditahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak perubahan yang terjadi disaat mereka menikah.
 Erik yang dulu rambutnya bisa bermacam-macam gaya sekarang botak plontos. Tingkahnya pun sekarang begitu tenang tak seperti dulu.
Aji yang dulu paling tak suka dengan anak kecil sekarang kemanapun pergi selalu menggendong anaknya, dan dari tingkahnya bisa terlihat ia begitu menyayangi anaknya tersebut.
Made yang pendiam sekarang lebih banyak tertawa dan sering berbicara, walau logat arabnya masih ada.
Niken yang dulunya kayak emak-emak nyerocos sekarang seperti tante muda berintelektual tinggi, murah senyum dan tenang saat berbicara.
Ya bisa dibilang banyak perubahan yang terjadi selama ini meski ada beberapa temanku yang tak berubah setelah mereka menikah, ada juga yang sepertiku yang mau menikah tahun ini bahkan ada yang mau cerai haha. Tapi yang jelas perubahan diri pada manusia pasti akan terjadi, hanya saja tidak tahu kapan waktunya. Kalau niatnya kuat.
Dan kuharap aku berubah menjadi individu yang lebih baik.
Untuk diriku sendiri.
Dan juga untuk istri dan anak-anakku nanti.
Ada suatu hari aku datang kerumahnya Mumu, untuk mengantarkan pesanan ibunya Mumu dari ibu tiriku. Kami berbicara, bicara dan bicara.
Dari A sampai Z.
Dari kutub Utara sampai kutub Selatan.
Dari pembicaraan itu kami sempat membahas ceritaku dan berniat menulis cerita tentang aku dan dirinya dulu. Sebagai penutup diriku yang mau berhenti menuliskan cerita fanfic.
Mumu berkata boleh saja asal tidak dilebih-lebihkan dan tidak diumbar-umbar masalah kami yang menurut kami privasi.
Dan ia bertanya kepadaku apa yang akan kubuat semisalnya aku berniat ingin menulis cerita lagi.
Aku menjawab dengan pasti kalau semisalnya aku hendak menulis cerita lagi, itu bukan didalam ranah fanfic lagi. Dan pemeran yang ada ditokoh itu adalah aku dan dia.
Ya, aku dan dia.
Yang akan mengikuti alur cerita dari Tuhan saat kami menikah nanti.
Aku dan dia
Yang akan akan menjadi suatu cerita.
Aku dan dia
Yang selama ini selalu bersama.
Aku dan dia
Yang akan mengikrarkan janji suci
Aku dan dia
Yang akan berlabuh didermaga April.
Aku dan dia
Yang akan menjadi suami istri, merajut kisah, dikehidupan kami nanti.
Aku yang akan melihatnya tiap pagi saat bangun tidur, sarapan dan pulang kerja.
Aku yang akan menjadi imam sholatnya saat sholat berjamaah dirumah.
Aku yang akan membuatkan minuman hangat saat dia sakit.
Aku yang akan menjadi samsak tinjuannya saat dia lagi PMS.
Aku yang akan membelikan apapun disaat dia mengidam nanti.
Dan akulah yang akan terus berada disampingnya hingga ujung waktu.
Cerita kehidupan kami yang baru.... akan dimulai, pada bulan April nanti.
Dion & Mumu
---------- T A M A T ----------
[ A P R I L O G Y ]
[C E L O T E H A N]
[1]. Terima kasih kepada para pembaca yang telah membaca cerita-cerita saya selama ini.  Dan inilah akhir keputusan saya, saya benar-benar berhenti menulis cerita fanfic.
Terima kasih sudah membaca fanfic-fanfic saya selama ini seperti : 


1. Beautifull Aurora [ Link ]
2. Beautifull Aurora II [ Link ]
3. Beautifull Aurora III [ Link ]
4. Beautifull Aurora IV early (Menjadi cerita B.A V) [ Link ]
5. Beautifull Aurora IV [ Link ]
6. Beautifull Aurora V [ Link ]
7. Beautifull Aurora : Berandal, bagian 1 [ Link ]
8. Beautifull Aurora : Berandal, bagian 2 [ Link ]
9. Beautifull Aurora : Offspring [ Link ]
10. Plain Vanilla [ Link ]
11. Secangkir Kopi dihari Minggu [ Link ]
12. Stockholm Syndrome [ Link ]
13. Stockholm Syndrome vol. 2 [ Link ]
14. About a Girl [ Link ]
15. Line [ Link ]
16. Back 2 Universe [ Link ]
17. I D I O T I Q U E [ Link ]
18. I D I O T I Q U E 2 : Receh-Receh [ Link ]
19. I D I O T I Q U E 3 : Storm [ Link ]
20. I D I O T I Q U E 4 [ Link ]
21. I D I O T I Q U E 5 [ Link ]
22. Redrum [ Link ]
23. Redrum : Supremacy [ Link ]
24. Redrum : Hesitate [ Link ]
25. Redrum : Vin [ Link ]
26. Redrum : Escape [ Link ]
27. Redrum : Redemption (Tidak jadi dilanjutkan) [ Link ]
28. N U M E R I Q [ Link ]
Dan yang terakhir adalah cerita ini (Yang dibaca kalian dari awal sampai disini) meskipun cerita ini bukan bukan fanfic. Sekali lagi saya ucapkan, terima kasih banyak :)
[2]. Blog Melodion masih berlanjut meskipun saya sudah berhenti untuk menulis. Jadi bagi penulis lepas yang mau menitipkan ceritanya bisa hubungi blog ini.
[3]. Melodion dengan ini saya wariskan (yaelah! ((Wariskan))) kepada Ega dan Adis. Merekalah sekarang pemilik penuh blog ini.
[4]. Saya akan meng-Non aktifkan beberapa akun media social saya (Baik Twitter/Path/Instagram), begitu juga social media istri saya Mumu (Setelah kami menikah, kami sudah sepakat melakukan hal ini). Jadi yang mau menghubungi saya untuk sesuatu yang penting lewat dunia maya bisa lewat Email : distorsick13@gmail.com | saya tidak akan membalas sesuatu yang sifatnya pribadi/privasi bagi saya.
[5]. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, apabila ada cerita saya yang menyinggung atau menyakiti perasaan pembaca, saya minta maaf. Itu hanyalah ketidaksengajaan yang saya sengajakan. Hehehehe.
[6]. Mudah-mudahan ada salah satu cerita dari cerita-cerita yang saya buat menjadi salah satu bacaan favorit pembaca sekalian.
[7].  Jangan lupa sholat 5 waktu.
----- Batas Celotehan -----
[Cerita tambahan]
Soal Plain Vanilla
4 tahun yang lalu aku pernah tak sengaja menemukan akun Facebook nya (Aku masih mengingat wajahnya). Foto profilnya dengan seorang pria, dan banyak foto-foto dia dengan pria tersebut.
Entah kenapa aku malah meng-add pria yang berfoto bersamanya (Ada tag akun pria itu difoto soalnya), pertemananku di-approve hanya sekedar memastikan saja dan ternyata benar pria itu adalah kekasih Plain.
Aku lega, setidaknya Plain wanita yang tegar (Aku dulu takut dia berbuat aneh-aneh waktu aku ‘Meninggalkannya’)
2 minggu setelah itu tiba-tiba aku mendapatkan chat yang belum dikonfirmasi, aku membukanya dan terkejut karena itu adalah chat darinya. Ia berkata kenapa aku tidak meng-add akunnya malah meng-add akun facebook cowoknya dan ia menuduhku stalking.
Aku bertanya tahu darimana akun Facebook-ku, dia mengatakan dari list pertemanan pacarnya tersebut dan ia masih mengingat jelas rupa wajahku (Yang seperti Keanu Reeves ditabrak becak dan bus bersamaan). Salahku, seharusnya aku menghapus pertemanan dengan pacarnya setelah selesai memastikan.
Dia berkata sekarang tinggal di-daerah yang sama denganku (Pindah).  Bahkan dia berkata pernah bertemu denganku secara tak sengaja saat aku sedang berjalan-jalan dengan Mumu.
Aku lantas bertanya kenapa tidak menyapaku.
Ia menjawab, “Aku sudah menemukanmu, sudah melihatmu, dan sekarang jalan kita sudah berbeda karena takdir sudah memberi kita jarak.”
Ya, dia masih puitis sampai sekarang.
Aku mengejeknya terlalu mendramatisir dan ia tertawa online yaitu ‘Wkwkwkwkwkwkw’. Yang pasti dia merasa tidak pas waktunya untuk menyapa dan merasa belum siap karena pada dasarnya kami dulu berkenalan hanya lewat dunia maya.
Banyak yang kami bicarakan sampai ia bertanya kenapa alasanku menghilang tiba-tiba, aku bertanya apa yang dilakukannya semenjak aku ‘menghilang’ waktu itu,  ini itu dan lain-lain. Akhirnya kami berdua tertawa karena kalau diingat-ingat kami benar-benar terlalu ‘Drama’ waktu itu, dan dia mengatakan menyukai orang gara-gara chat merupakan pengalaman yang unik baginya. (Namanya juga masih SMA)
Dan... pada suatu kesempatan akhirnya kami bertemu (Janjian dulu tentunya).  Aku memperkenalkan Mumu dan dia memperkenalkan pacarnya.  Sedikit akward pada waktu itu (Karena memang itu pertama kalinya aku dan Plain bertemu)
Untung saja pacarnya pandai berbicara hingga ada bahan obrolan. Bahkan mereka sudah berencana untuk menikah, aku dan Mumu memberinya selamat.
Yah pokoknya itulah pertemuanku kami berdua secara nyata.
Sebuah pertemuan yang dimana akhirnya kami mengetahui rupa dan nama asli kami masing-masing setelah bertahun-tahun lamanya.
Setidaknya dihari itu aku senang dia sudah bahagia dengan ‘Distorsicks’ yang lain.
Dan aku juga bahagia, dengan ‘PlainVanilla’ disampingku, yaitu Mumu.

© MELODION 2018 ALL RIGHT RESERVED

66 comments:

  1. Skrg trkuak knp cerita bg dion feel nya terasa, pengalaman pribadi rupany hahaha

    Semga lancar hari H nya nnt bg, smga bg dion dan kak mumu awetawet smpai maut memisahkan

    ReplyDelete
  2. Sekali lagi, terima kasih atas cerita elu bang yang sedikit banyaknya menginspirasi gue dalam hal apapun. Semoga lancar juga segala urusan sampai hari H nikahnya ye. Asekk umur 27 dah nikah aje. Tapi,ngomong ngomong bang ega kapan nikah? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu ya? hahaha kalau begitu sama-sama.
      Amin, terima kasih :)
      Ega ya, wah saya juga tidak tahu hahaha

      Delete
  3. Cerita Lo terlalu bagus bang sampe gue tak bisa berkata2 lagi untuk mengungkapkannya. Btw selamat dan semoga lancar persalinannya. Doakan gue cepet nyusul juga dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih terlalu bagus? bohong kali nih haha.
      Amin, terima kasih :)
      Ya saya doakan, sekali lagi terima kasih :)

      Delete
  4. Sekali lagi terima kasih bang atas fanfic-fanfic yang sudah menemani saya dalam waktu kosong saya. Cerita kehidupan bang dion dapat memotivasi orang-orang yang membaca (termasuk saya wkwk), karena bang dion dapat menaklukan semua kebiasaan buruk bang dion dulu dan menjadi pribadi yang baik.

    Sekali lagi terima kasih atas semua yang bang dion berikan dan selamat menempuh kehidupan baru bang. Semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah.

    Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullilah kalau benar-benar bisa memberikan motivasi (Padahal saya tidak berniat begitu) hahaha, tidak juga, butuh waktu :)

      Amin, terima kasih, amin-amin :)

      Delete
  5. Sukses deh bang dion
    Cerita2 lo nice deh pokok nya
    Blm pernah gw baca cerita kek punya situ bang
    Ya semoga besok2 kali pgn nulis lagi bang
    Gw tunggu karya berikut mya kalo misalkan nulis sesuatu lagi bang
    Oh iy sama selamat jg buat petnikahan nya bsk april

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah kalau ada niat, terima kasih :)

      Delete
  6. Selama ini cuma jadi silent reader , tapi sebelumnya makasih banyak bang udah membuat hiburan untuk saya.

    Satu lagi ,rencana nikahnya sama ya , sama sama bulan 4

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama :)
      Oh mau menikah juga ya? kalau begitu selamat ya :)

      Delete
  7. Tau cerita bang dion waktu membaca 'Secangkir kopi dihari minggu' diblog sebelah, jalan ceritanya simple, dan membuat pembaca terus membacanya sampai akhir karena penasaran apa2 saja yg diperbincangkan shani sama dion dicerita itu.
    Lalu gw menuju blog ini dan membaca cerita2 bang dion yg lain, sejak itulah gw suka sama cerita2 bg dion hahahahaha
    cerita bg dion itu sederhana, mudah diikuti, kocak dan romantisnya pas tdk berlebihan, itu menurut gw hehe.
    semua cerita bg dion bs dibilang favorit gw semua. tp sprti mbak mumu, idiotique dan b.a benar2 jd cerita favorit gw selain numeriq. apalagi cerita numeriq bikin gw ngakak wkwkwk

    selamat bg buat hari pernikahannya nnti sama mbak mumu, smoga pernikahan kalian menjadi keluarga yg sakinah, ameen. dan semoga abg ada niat menulis cerita lg mskipun bkn fanfic hahaha krn boleh jujur bg dion ini pintar meracik cerita, klo bahasanya bisa didaur lg akan jadi lebih menarik, setidaknya itu pendapat gw hehe

    terima kasih sudah menyuguhkan beberapa cerita2 yg menarik bg :)

    ReplyDelete