10 February 2018

Batas Cahaya

Batas Cahaya

Aku tidak mengerti mengapa kamu melakukan ini, padahal kekurangan dalam diriku bisa membuatmu repot?
            Kamu yang tiba-tiba datang, menyelamatkanku dari terjangan kuda besi di jalan raya. Kamu yang membawaku ke salah satu kafe pinggir jalan, membelikanku ice cappucino—untuk pertama kali aku mencicipinya. Kamu yang mengantarkanku pulang kembali ke rumah beratapkan seng dengan dinding triplek seadanya. Hingga kamu yang mengobati luka di kakiku saat aku hampir tersambar si kuda besi.
            Sekarang, mengapa kamu melakukan hal seperti ini lagi? Mengapa kamu begitu baik padaku?
            Kamu bahkan tak segan-segan untuk menggendong tubuh lusuh ini di punggungmu. Apa kamu tidak takut punggungmu nanti akan kotor terkena noda-noda tanah pada kaos lusuhku ini?
            Tapi kamu beralasan, “Jangankan noda tanah pada bajumu, lumpur-lumpur pekat pun tak akan membuatku gentar. Tak ada batasan untuk menolong orang lain, kan?”
            Kamu memang pandai beralasan. Yang kamu katakan memang benar adanya. Tapi, ini sudah keberapa kalinya kamu bersikap seperti ini?
            Kamu memilih diam sepanjang jalan. Aku menggerutu dalam hati tanpa tahu hendak dibawa kemana olehmu. Bukan hanya itu, aku merasakan seakan-akan orang-orang menatap skeptis kita sepanjang jalan yang dilalui. Tidak, lebih teptnya menatapku, kurasa. Tak kuhiraukan, dan memilih larut dalam gendonganmu.
            “Kita sudah sampai.”
            Kamu menurunkanku dengan hati-hati. Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Erat dan terasa hangat.
            “Kita ada dimana?” tanyaku, tapi kamu malah diam.
            Aku tidak tahu kamu membawaku ke mana. Di sini terasa sangat sunyi seperti tak ada kehidupan. Yang bisa kudengar hanyalah gemerisik dedaunan yang diterpa angin.
            “Coba kamu dengarkan baik-baik, Shani.”
            “Dengarkan apa?” tanyaku lagi. “Aku tidak bisa mendengar apa pun selain gemerisik dedaunan.”
            Benar apa katamu. Aku mendengar lantunan musik gamelan yang sangat merdu. Alunan musik gamelan itu membawakan lagu sunda yang sering aku lantunkan dengan seruling bambu di pinggir jalan.
            Suaranya yang merdu membuatku ingin mendekatinya. Aku melangkah hati-hati, kedua tanganku merentang ke depan berusaha mencapai asal suara musik gamelan itu. Tapi, tiba-tiba saja kedua tanganmu menyentuh bahuku. Aku berhenti, tanpa menoleh padamu.
            “Jangan memaksakan diri, nanti kamu terjatuh. Tongkatmu ‘kan tidak kamu bawa.”
            Aku lupa, tongkat yang biasa kupakai tidak kubawa serta. Tapi jangan salahkan aku, kamulah yang tiba-tiba datang ke rumah dan mengajakku ke tempat yang sama sekali tidak aku ketahui.
            “Aku menuntunmu dari belakang,” katamu lagi.
            Kamu mulai menuntunku menuju sumber suara. Musik gamelan itu semakin terdengar jelas. Bahkan bisa kudengar suara sinden yang menyanyikan lagu sunda seiring irama musik gamelan. Indah, benar-benar indah.
            Sayang sekali, aku hanya bisa mendengarnya saja, tanpa bisa melihatnya.
SELESAI
Ditulis oleh Martinus Aryo

Twitter, @martinus_aryo

No comments:

Post a Comment