Type something and hit enter

author photo
Posted by On
Dion tak berkutik dengan Zara. Apa yang terjadi? Simak kisahnya berikut ini.
▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Seorang pria berkemeja rapi nan bersih sedang menatap nanar sebuah rumah sederhana yang dimana pekarangan rumah tersebut ada beberapa pohon mangga dan tanaman-tanaman lain yang menghiasinya. Pria itu melangkah dengan mantap dan pasti, disaat dia mau membuka pagar tiba-tiba dia berhenti.

 “Tunggu... nanti gue kasih salamnya kayak gimana ya? Apakah, ‘Selamat siang menantu idaman Ibuku,’ atau ‘Selamat siang matahariku,’ atau...”

Pria itu terus bergumam didepan pagar dan mengelus-elus dagu. Sekilas dari jauh orang itu tampak seperti peneliti pagar rumah karena dia bergumam didepan pagar, akan tetapi kalau dari dekat dia seperti orang idiot karena seperti sedang berbicara dengan pagar.

“Ah! Yang biasa saja, gak perlu terlalu lebay! Emangnya gue Felix.”

Setelah puas bergumam dia kembali mau membuka pagar, akan tetapi lagi-lagi dia berhenti dengan senyuman aneh yang dibuatnya.

“Hehehe kira-kira dia mau gak ya gue ajak jalan-jalan?... Kalau mau... ciahahahahahahahahahahaha!!”

Pria itu terlihat gembira dengan dengan pemikirannya sampai-sampai dia menendang dinding pagar. Dinding pagar yang terbuat dari semen itu sedikit rapuh dan sekarang berkat tendangan nya itu dinding tersebut pun  jebol.

“Wadooooh!!!”

Panik tingkat provinsi, pria tersebut buru-buru memungut pecahan dinding dan berusaha membetulkannya. Selagi membetulkan seadanya tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara didekatnya, suara yang begitu familiar, pria itu pun segera menoleh dan dilihatnya seorang anak kecil melihat dirinya dan asyik mengunyah-ngunyah buah jambu.

Suasana sedikit hening.

“Dek.”

“Ya?” respon anak kecil itu cuek.

“Adek... melihat hal yang tadi?”

“Ngeliat apa?”

“Ini?” pria itu menunjuk dinding yang jebol.

“Enggak,” anak kecil itu menggeleng-geleng.

“Oh syukurlah,” pria itu bernafas lega.

“Tapi aku liat Abang ngerusak dinding itu tadi, ditendang-tendang.”

Sang pria bertambah panik.

“Pemiliknya rumah itu garang loh,” anak kecil itu melanjutkan, dengan nada menakut-nakuti.

Pria itu diam, sedangkan sang anak kecil tampak sudah selesai memakan buah jambunya. Setelah semenit saling memandang seperti Pedhopil yang mau memangsa bocah kecil, pria itu akhirnya berbicara.

“Dek.”

“Apa?”

“Kalau dibelikan permen... apa lo bisa melupakan hal yang tadi?”

“Wahh, buat tutup mulut ya Bang?”

“Anggap saja begitu.”

“Hmm kalau permen gue gak mau Bang.”

Keringat dingin sang pria mengucur, “Terus maunya apa?”

“Ikut gue Bang,” anak kecil itu memain-mainkan jari telunjuknya untuk mengikutinya.

Sang pria itu pun mengikuti anak kecil tersebut menyebrang jalan yang dimana ada warung kecil berdiri disitu.

“Pake snack sama coklat gue mau Bang,” serunya dengan jempol tangan menunjuk warung.

Pria itu pasrah, “Yaudah, cepat ambil makanan yang lo mau.”

Setelah membelikan apa yang dimau anak kecil tersebut, pria itu kembali berbicara dengannya.

“Tuh udah dibeliin, dan ingat! Lupakan hal tadi, oke?”

“Oke,”anak kecil itu mengangguk sambil menggigit batangan coklat.

Bocah itu kembali menyebrang jalan meninggalkan sang pria, setelah menyebrang anak kecil itu menoleh.

“GUE  BAKAL LUPAIN KEJADIAN ABANG NENDANG-NENDANG DINDING PAGAR RUMAH ORANG SAMPAI JEBOL!” teriaknya.

Sehabis itu bocah tersebut langsung berlari dan sosoknya menghilang saat memasuki gang kecil. Sedangkan sang pria mendumel-dumel didepan pintu warung.

“Gue bilang lupain! Masih aje lu ungkit, bocah sialan!” geramnya sambil menghentak-hentakkan kaki.

Setelah puas, dia kembali merapikan kemeja dan berkaca sebentar dikaca warung untuk membetulkan rambut.

“Oke! Sempurna,” dengusnya bangga.

Pria itu kembali menyebrang jalan tanpa dia sadari sang kasir alias pemilik warung melihatnya saat dia becermin, ekspresi wajah kasir sengak abis pas melihat itu.

Tok! Tok! Tok!

Setelah mengetok pintu rumah, sang pria menunggu tak sabar untuk melihat pintu dibuka. Dia lalu melihat bel rumah, biar afdol dia juga memencet bel tersebut.

Ting! Tong!

Pria itu mendengus puas sehabis memencet bel. Tak beberapa lama kemudian pintu terbuka dan terlihatlah seorang gadis membukakan pintu.

“Siang hehe,” sang pria menyapa duluan.

Sang gadis tertawa, “Chaplin? kok kamu kesini?”

“Bukan, aku bukan Chaplin. Kalau Chaplin udah mati ketabrak truk kemarin, mayatnya juga dibuang kelautan atlantik.”

“Bercanda kok Kak Kevin hehe, yuk masuk dulu.”

“Masuk kemana dulu nih? Kedalam rumah atau...”

“Atau?” sang gadis melipat tangan, tersenyum dan menyeringitkan dahi.

“Hati kamu, ciahahahahahahaha,” Kevin kemudian berpura-pura membenturkan kepalanya kedinding sambil tertawa-tawa.

“Hmmm pake ngegombal segala,” sang gadis tertawa-tawa.

“Biasalah, pemanasan dulu hehe.”

“Hihi ngomong-ngomong ada apa nih? oh iya masuk dulu yuk. Daritadi juga ditawarin,” sang gadis membuka pintu lebar-lebar.

“Ah disini saja, Fries,” Kevin tersenyum dan menyender didinding didekat pintu rumahnya Frieska.

“Bener?”

“Iya.” Kevin tersenyum dan mengangguk-angguk.

Frieska tersenyum dan berbicara.

“Yaudah.”

Brak! Pintu tertutup.

Kevin bengong didepan pintu dan suasana seketika hening.

Tok! Tok! Tok!

“Mpris, Mpris. Kok ditutup Mpris? Mpris,” panggilnya sambil mengetuk pintu.

“Katanya mau disitu aja hihi,” suara Frieska terdengar dari dalam rumah.

“Errr,” Kevin kehabisan kata-kata.

Pintu kembali terbuka dan Frieska sudah tertawa terbahak-bahak.

“Makanya. Yaudah, yuk masuk.”

Kali ini Kevin dengan mantap memasuki rumah Frieska. Seperti anak bebek yang mengikuti induknya, Kevin terus mengikuti Frieska sampai keruang tamu. Setelah duduk Frieska mulai membuka suaranya.

“Jadi ada apa nih? Jangan bilang cuma mau ngegombal aja kesini?” tanya Frieska dengan senyuman manis.

“Gak juga sih...” Kevin menggaruk-garuk kepalanya, “Jalan yuk Mpris,” pinta Kevin dengan senyum mengembang dan alis naik turun.

“Jalan? Jalan kemana?”

“Emm gimana kalau ke KUA? Ciahahahahahahaha,” Kevin lalu mengambil bantal dan menggebuk-gebukan bantal tersebut kemukanya sendiri.

Frieska yang melihat tingkahnya juga tertawa, dia lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Ahahaha bentar ya, jangan kemana-mana.”

“Iya hehehe.”

Frieska pun masuk kedalam rumah, sedangkan Kevin sudah berbunga-bunga hatinya karena mengira Frieska akan berganti pakaian untuk jalan-jalan bersamanya. Semenit kemudian Frieska kembali dengan pakaian yang sama akan tetapi dia membawa 2 orang ikut bersamanya, seorang pria berumur 40 tahunan begitu juga seorang ibu yang umurnya tak jauh berbeda.

“Nih Yah, Ma. Aku mau diajaknya ke KUA. Selamat ya Ma, Yah, kalian dapat menantu baru lagi,” ujar Frieska kepada orang tuanya sambil tertawa.

“Hah!” Kevin kaget dan gegalapan mendengar Frieska se-frontal itu memberitahukan hal tersebut kepada orang tuanya.

Kedua orang tua Frieska memandang Kevin, Kevin salah tingkah. Ibunya Frieska tertawa sedangkan Ayah Frieska yaitu Pak Ridwan menghampiri Kevin dan duduk.

“Kamu ngapain ngajakin anak saya ke KUA?”

“A-anu itu Pak, Anu... itu Anu...” Kevin benar-benar panik.

“Anu nya siapa?”

“Anunya saya Pak.. eh anu nya saya...” Kevin mengipas-ngipas selangkangannya sendiri dengan tangan, “ Maksud saya tadi itu... anu cuma bercanda Pak... go-gombal remaja biasa...”

“Oh... gombal toh,” Pak Ridwan memanggut-manggut.

“Yaaah, Ayah...Mama.... kalian gak jadi dapat menantu deh huhuhuhu,” Frieska lalu memeluk ibunya dan menangis.

Kevin cengok melihat Frieska menangis dan dielus-elus kepalanya oleh ibunya.

“Berani-beraninya ya kamu bikin anak saya nangis!” Pak Ridwan terlihat marah, matanya melotot, seperti singa yang siap menerkam mangsa.

“Aduh! Bukan gitu Pak, kok jadi gini sih, anu itu anu,” Kevin benar-benar gegalapan.

“Anunya siapa?!” hardiknya kepada Kevin.

“Anunya saya Pak, E-e-eh! Anu saya lagi,” Kevin kembali mengibas selangkangannya dengan tangan.

Melihat Kevin yang gegalapan dan panik luar biasa tersebut membuat Ibu Frieska tertawa.

“Udah deh Yah, Mpris. Tuh sampai panik gitu mukanya,” Ibu Frieska menunjuk Kevin.

Ekspresi cengok dan begonya Kevin langsung dilakukan saat mendengar ucapan Ibunya Frieska barusan. Tak lama kemudan Frieska melepaskan dirinya dari pelukan sang Bunda dan tertawa terbahak-bahak.

“Ciee panik nih ye ahahaha.”

Kevin masih melongo.

“Hahaha bercanda, jangan terlalu dibawa serius,” Pak Ridwan juga tertawa dan menepuk-nepuk pundak Kevin.

“Oh... hehehe kirain beneran hehehe,” Kevin tersipu-sipu dan salah tingkah.

Frieska dan Ibunya kemudian bergabung untuk duduk diruang tamu, sedangkan Kevin mulai canggung.

“Nama kamu siapa?” tanya Ibu Frieska dengan ramah.

“K-Kevin tante hehe.”

“Sekolah di 23 juga?” tanya pak Ridwan.

“Bukan, saya di...”

“Ini temennya Kak Dion, Yah, Ma. Di SMA Jakarta 1. Iya kan Kak?” potong Frieska untuk memberi penjelasan.

“I-iya Tante, Om hehe.”

“Oh pantesan gak pernah liat gitu mukanya disekolah,” pak Ridwan memanggut-manggut, “Terus kamu ini pacar Frieska atau apa?”

“B-Bukan Om,” Kevin buru-buru membantah.

“Haha kalau bukan kenapa ngegombalin ngajakin Mpris ke KUA tadi?” tanya Ibunya Frieska.

“Biasalah, Ma. Kayak gak tau aja,” ujar Frieska tersenyum dan memainkan alis ke Ibunya sendiri.

“Hahaha apa itu... PDKT ya?” pak Ridwan bertanya kepada Frieska.

Frieska pun mengiyakan sehingga dia bersama kedua orang tuanya tertawa, sedangkan muka Kevin sudah seperti kepiting yang dicelupkan kedalam air mendidih, merah-merah menahan malu.

“Gombal-gombal segala, mirip Dion saja kamu. Itu kakaknya Frieska sering banget digombalin sama Dion sampai sakit rahangnya gara-gara tertawa terus,” ujar pak Ridwan menepuk-nepuk pundak Kevin lagi.

“Maaf Om... namanya  juga anak muda...” Kevin mulai beralasan.

“Udah mau kuliah kok ngaku masih jadi anak muda,” komentar Frieska tertawa kecil.

“Haha yaudah, kalau begitu kami tinggal dulu. Kirain ada apa tadi Frieska manggil-manggil,” pamit Pak Ridwan beranjak dari kursi begitu juga Istrinya.

“Oh iya,” Pak Ridwan kemudian berhenti dan menoleh kearah Kevin.

“Iya Om?”

“Kalau mau pacaran sama Frieska, jangan lupa izin dulu sama kami ya hahaha.”

Setelah berkata begitu Pak Ridwan dan Istrinya kembali masuk kedalam rumah. Kevin masih malu-malu sedangkan Frieska masih tertawa.

“Kenapa? kaget ya? Hihi.”

“Eh...I-iya, itu... Ayah sama Mama kamu ya?”

“Iya, kan daritadi aku manggilnya Yah, Ma. Masa gak sadar-sadar sih? Hihi.”

“Oh hehe biasalah...”

“Apa?”

“Malu-malu kucing ciahahahahaha,” Kevin kemudian berpura-pura menjedotkan kepalanya kepegangan kursi sehingga Frieska kembali tertawa.

“Haha ngomong-ngomong mau ngajakin aku jalan kemana?”

Kevin terdiam dan menggaruk kepala, “Iya ya... jalan-jalan kemana ya?”

“Wuuu dia yang ngajak dia yang gak tau,” Frieska tertawa lepas dan melanjutkan ucapannya, “Disini aja dulu. Jalan sekarang diluar masih panas, lagian bentar lagi Kak Dion juga kesini.”

“Loh, ngapain Dion kesini?”

“Yeee Kak Dion kan suaminya kakak aku, temen sendiri masa lupa? Wajar dong dia kesini.”

“Oh iya lupa hehehe.”

“Kalau gitu tunggu bentar ya, aku buatin minum dulu,” Frieska lalu beranjak dari tempat duduk.

“Kalau bisa jangan yang manis-manis.”

“Kenapa?”

“Kan kamunya udah manis, nanti kemanisan pas minum ciahahahahahaha,” Kevin lalu meninju-ninju pelan meja tamu.

Frieska tertawa dan menggeleng-geleng kepala karena telah digombali kesekian kalinya. Dia pun masuk kedalam rumah untuk membuat minum sedangkan Kevin mulai leha-leha duduk dikursi. Tak lama kemudian terdengar bunyi deru motor memasuki pekarangan rumah, bunyi motor berhenti, lalu masuklah Melody bersama Dion yang menenteng kantong belanjaan.

Dion menoleh kearah ruang tamu dan terkejut, “Wih! Kev, kok lo ada disini?”

“Pasti mau ketemu Mpris ya?” tanya Melody tersenyum sambil membuka sepatu.

“Hehe tuh udah dijawab,” Kevin senyam-senyum, “Hahaha,” dan Dion hanya tertawa.

Dion lalu menyerahkan kantong belanjaan yang dipegangnya kepada Melody, Melody lalu masuk kedalam rumah setelah berbicara sebentar dengan Dion dan Kevin. Setelah itu Dion menghampiri temannya tersebut untuk menemaninya mengobrol.

“Makin deket aje lo berdua hehe, padahal baru kenal 2 minggu sejak tanding bola kemarin.”

“Beeeh, gue gitu,” Kevin mendengus bangga dan mengibas kerah kemejanya, “Tadi lo sama bini lo kemana?”

“Nyari makan buat orang rumah. Ngomong-ngomong udah sampai ketahap mana nih?”

“Yaa gini-gini aje, santai... butuh proses,” ujar Kevin memain-mainkan alis.

“Kalau jadian berarti gue jadi calon abang Ipar lu dong?”

“Terus?”

Dion mengarahkan permukaan tangannya kearah Kevin, “Nih anggap aje latian, misalnya lu jadian berarti lu kudu nyium tangan gue tiap ngapel kesini.”

“Buset! Segitu amat lu,” Kevin pun sewot sedangkan Dion tertawa terbahak-bahak.

Asyik-asyik menertawain Kevin tiba-tiba perhatian mereka langsung tertuju kearah luar rumah karena mereka mendengar suara mobil berhenti tepat didepan rumahnya Melody.

“Siapa tuh?” Dion mencoba menerka-nerka lewat jendela ruang tamu.

“Bukannya itu sepupu lo? Ceweknya Bayu.”

“Oh iya,” Dion memanggut-manggut.

Terlihat dari dalam Andela keluar dari mobilnya dan berjalan sambil membuka pintu belakang.

“Nah, kalau itu siapa Yon?”

“Mana?” Dion berusaha menajamkan matanya karena badan Andela menghalangi pandangan.

“Itu, cewek. Noh baru keluar dari mobil.”

Dion memperhatikan dengan seksama dan pupil matanya tiba-tiba membulat ketika tahu siapa yang sedang bersama Andela.

“Waduh!”

“Apanya yang waduh?” tanya Kevin.

“Itu! Bahaya ini!” Dion terlihat panik.

Kevin kembali melihat kearah luar untuk melihat Andela sedang berjalan memasuki pekarangan rumah dengan seorang gadis.

“Emangnya apa yang bahaya, Yon?”

Tak ada jawaban dari Dion yang membuat Kevin bingung, Kevin lalu menoleh dan tidak melihat sosok temannya tersebut, padahal tadi Dion itu duduk tepat berada didekatnya, “Loh? Yon? Yon?” Kevin celingak-celingukan.

Andela pun mengetuk pintu, karena capek mencari sosok Dion akhirnya Kevin yang menjawab.

“Masuk saja.”

Andela memasuki rumah dengan seorang gadis dan bertepatan juga dengan Frieska yang mengantarkan minuman keruang.

“Eh Andela, Zara. Kapan datang?”

Andela dan Zara tersenyum, “Barusan hehe, Imel ada dirumah?” Andela bertanya.

“Iya ada, masuk aja. Ciee Zara nyari mamah ya? Hihi.”

“Hehe iya.”

“Hahaha tuh mamah Zara lagi nyiapin makanan didapur, susul aja kedalam,” ucap Frieska sambil meletakan nampan berisi minuman kemeja tamu.

Zara dengan semangat memasuki rumah untuk menemui ‘Mama’ nya, sedangkan Andela masih berdiri dan tersenyum melihat tingkah keponakannya tersebut. Andela lalu melihat pria yang ada diruang tamu.

“Loh, kamu ini temennya Bayu kan?”

“Iya hehe.”

“Wahh,” Andela kemudian melihat Kevin dan Frieska bergantian, “Kayaknya ada yang...” Andela tidak melanjutkan ucapannya tapi dia tersenyum dan memain-mainkan alis kearah Frieska.

“Ahahaha apaan sih Ndel, udah sana masuk hus-hus,” usir Frieska dengan nada bercanda.

“Ye ngusir nih ye hihi, yaudah aku masuk dulu, jangan lama-lama ya PDKT nya hahaha,” ujar Andela tanpa dosa, tak lama kemudian dia pun masuk kedalam rumah.

“Masa dibilang lagi PDKT hehe,” Kevin berpura malu-malu.

“Haha malu-malu lagi, bilang aja iya,” Frieska tertawa dan duduk diruang tamu.

“Ah, jangan dibilang dong. Kan malu ciahahahahahaha,” Kevin lalu berpura-pura menendang meja.

Dan saat dia menendang meja atau lebih tepatnya dibawah meja kakinya merasakan sesuatu yang janggal. Kevin menyeringitkan dahi, ditekan-tekannya sesuatu dibawah meja dengan kakinya.

“Ini apaan Fries dibawah meja?”

“Apanya?” Frieska menunduk.

“Nih,” Kevin lalu mencubit hal tersebut dengan jari-jari kakinya.

“Wadaaw!” terdengar suara teriakan Dion dibawah meja.

“Hah?” Frieska dan Kevin kaget, Frieska lalu membuka taplak meja tamu dan melihat sosok Kakak Iparnya tersebut berada disitu sambil meringkuk.

“Kak Dion? Ngapain kakak disitu?”

“Iya Yon, kurang kerjaan banget lu,” sambung Kevin.

“Ssssst!!!” Dion memberi isyarat diam dengan telunjuk jarinya, “Jangan keras-keras!”

“Emang kenapa?” Frieska menyeringitkan dahi.

“Nanti kalau Zara nyari, bilang gue gak ada. Ya? Ya?” pintanya kepada Frieska dan Kevin.

“Lah, emang kenap...”

“Bilang aja gitu! Ya? Ya?”

Setelah berkata begitu Dion membenarkan lagi taplak meja agar menutup dirinya yang sedang bersembunyi. Kevin bengong sedangkan Frieska berusaha menahan tawanya. Tak lama kemudian datang Zara berlari-lari kecil dan celingak-celingukan, dia lalu menghampiri Frieska.

“Om Dion mana?”

“Om Dion...” Frieska mendelikkan mata kearah Kevin dan disambung oleh Kevin, “Om Dionnya didalam mungkin.”

“Tapi tadi kata Mama Om Dion ada disini, itu motornya juga masih ada diluar.”

“Ke kamar mungkin.”

“Hmmmm,” Zara cemberut dan memangku tangannya dikursi tamu.

Tak lama kemudian kedua lobang hidung Zara bergerak-gerak seperti mengendus-endus sesuatu.

“Hmmm bau parfum Om Dion ini,” ucapnya sambil mengendus-endus.

Kevin dan Frieska tergelitik melihat tingkah Zara, sedangkan gadis kecil ini mulai berjalan mengikuti arah bau parfurm yang diciumnya. Zara terus berjalan dan berjalan sampai pada akhirnya dia berjongkok tepat didepan meja tamu.

“NAH! KETEMU!” Zara terlihat senang menemukan sosok Dion yang bersembunyi dibawah meja ruang tamu.

Dion terpaku dan menelan ludah.

“Ayooo!! Dipanggi Mama tadi,” Zara menarik Dion keluar dari bawah meja.

Dion terpaksa keluar, dan setelah keluar dia terlihat menyeringitkan dahi dan menggaruk-garuk kepala memandang Zara.

“Tuh ‘Papa’ nya udah ketemu, bawa kedalam gih,” suruh Frieska yang tertawa lepas.

Kevin masih bingung melihat sikap temannya itu dan kenapa Dion bisa terlihat begitu takut dengan Zara sampai harus sembunyi-sembunyi.

“Y-yaudah yuk...” Dion mengiyakan ajakan Zara sebelumnya.

“Et!,” Zara menghalangi jalannya, “Seperti biasa,” lanjutnya dengan mantap.

“Hadoooh, masa disini juga? Gak puas apa pas dirumah Om?” Dion terlihat jengkel.

Muka Zara tiba-tiba merengut seperti mau menangis, “MAMAAA!” tiba-tiba dia berteriak kencang.

Tahu dengan ‘Mama’ yang dimaksud membuat Dion kelabakan. Dion tiba-tiba membungkukan badannya didepan Zara.

“Yaudah, cepet.”

Zara yang masih mengucek-ngucek matanya dan merengut tiba-tiba tersenyum melihat posisi Dion, tanpa basa-basi lagi dia langsung naik kebadannya.

LET’S GO!” seru Zara mengangkat tangannya.

Dion sedikit menunduk, dia kemudian merangkak masuk kedalam rumah dengan Zara yang terlihat gembira menaiki punggungnya tersebut. Kevin yang melihat itu lagi-lagi cengok melihat Dion yang menjadi ‘Kuda-kuda’ an.

“Zara itu siapa?” Kevin terlihat penasaran.

“Ng? Oh, Zara itu keponakannya Andela, dari belah pihak ayahnya. Keponakan kak Dion juga.”

“Oh gitu,” Kevin memanggut-manggut, “Terus kenapa tuh anak manggil kakak kamu Mama?”

“Hmm seminggu yang lalu waktu belanja di Mall kak Imel ngebeliin dia es krim, dan sejak itu dia dipanggil Mama sama Zara hehe, itu kak Dion kadang dipanggilnya ‘Papa’ saat tau kak Imel udah punya suami.”

“Hoo gitu,” Kevin kembali memanggut-manggut, “Terus kenapa tuh anak malah kayak takut gitu ketemu Zara?”

“Haha gak liat tadi? Ya mereka begitu terus kalau ketemu, Zara males jalan dan kak Dion yang disuruhnya jadi kuda-kudaan. Kalau kak Dion gak mau Zara bakalan nangis itu sampai ngadu ke kak Imel. Dirumahnya saja kak Dion pernah hampir 2 jam jadi kuda-kudaannya.”

“Buset hahahahaha,” Kevin tertawa lepas.

Tak lama kemudian Melody datang keruang tamu.

“Mpris, beliin cream coklat bentar di warung depan, nih,” pinta Melody sambil menyerahkan uang.

“Dih, malas amat, emang buat apa sih?” Frieska cemberut.

“Buat kue, cepet, adonannya lagi kakak siapin itu,” pinta Melody sekali lagi tak lama kemudian dia menoleh kearah Kevin, “Oh iya Kevin, nanti ikut makan disini saja ya? Lagian kan ada Dion disini, jadi gak usah malu-malu.”

“Iya hehe,” Kevin malu-malu mengiyakan.

Melody tersenyum dan kembali mengingatkan adiknya, “Yaudah, cepet Mpris,” setelah itu Melody kembali masuk kedalam.

Frieska pasrah disuruh-suruh, dan Kevin yang ingin menunjukan ke-Gentleman-nya kepada Frieska kemudian berbicara.

“Yuk, kutemenin.”

“Yaudah, yuk,” Frieska mengiyakan.

Mereka berdua kemudian keluar rumah, selama perjalanan Kevin kembali berbicara.

“Baru kali ini ngeliat Dion gak berkutik, sama anak kecil pula hahahaha.”

“Hihi ditambah lagi Kak Dion gak berani sama Kak Imel. Kalau kamu?”

“Aku? Aku kenapa?”

“Kamu bisa gitu gak? Ngelawan permintaan anak kecil.”

“Ohohohoho,” Kevin tertawa sombong, “Gak ada sejarahnya itu aku bisa kayak begitu hahaha.”

Saat Kevin dan Frieska keluar dari pekarangan tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menunggu disitu.

“Halo Bang hehehehe.”

Tawa Kevin berhenti dan mendadak pucat, “Ngapain lo disini?”

“Masih laper bang, coklat sama Snack tadi gak cukup,” ujarnya sambil mengelus-elus perut.

“Yaelah, perut apa karet itu? Emangnya tadi kurang ba...”

“Din...” anak kecil itu memotong ucapan Kevin.

Kevin mendadak diem, 1 tetes keringat pun menetes dikepalanya.

“Din? Apanya yang ‘Din’, Roby?” tanya Frieska kepada anak kecil tersebut.

“Oh tadi temen kak Mpris ini ngancurin din...”

“Oke! Oke! Ayo beli, beli,” Kevin dengan sewotnya memotong ucapan Roby.

Roby mendengus puas.

“Hehe gitu dong, ayo semua! Kita ditraktir!” ucap Roby kearah gang kecil.

“Hah?” Kevin menyeringitkan dahi.

Segerombolan anak kecil keluar dari gang dan mengeburungi Kevin. Anak-anak terlihat senang, Kevin gegalapan, Frieska keheranan.

“Ayo semua! Kita borong!” komando Roby.

“Ayo!!!” yang lain tampak semangat.

Mereka pun kerasukan untuk mengambil snack-snack apa saja yang ada diwarung, sedangkan Frieska tersenyum melihat anak-anak kecil itu tampak bahagia.

“Hehe kamu baik juga ya sama anak kecil. Oh iya kamu udah kenal dengan Roby sebelumnya?”

Tak ada jawaban dari Kevin yang membuat Frieska menoleh kearahnya dan dilihatnya wajah pria itu cemberut memandang bocah-bocah tersebut.

BOCAH KAMPRET! HABIS DUIT GUE BUAT MODAL JALAN-JALAN NANTI SAMA FRIESKA!” batinnya berteriak untuk mengeluh.

Frieska lagi-lagi keheranan, sedangkan Kevin meneteskan sebutir air mata.

Ya, kalau Dion tidak berkutik dengan Zara karena suka mengadu ke Melody. Kevin lebih tidak berkutik lagi dengan Roby, malahan dia sampai dipalakin anak kecil tersebut.

Hidup ternyata... adil juga ya.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Pagi-pagi disekolah sudah tampak Viny, Hanna, Enu dan Ghaida bermain kartu cangkul dikelas ditemani juga oleh Bayu, Arya, Dion dan Melody.

“Kenapa punggungmu, Yon?” tanya Ghaida setelah meletakkan kartu.

Dion menoleh dengan malas, “Hasil kasih sayang keponakan sendiri,” habis berkata begitu dia kembali menidurkan diri dimeja, sedangkan Melody tertawa sambil mengurut punggung suaminya tersebut.

“Haha Nabilah atau Yansen?” tanya Enu cekikikan sambil berusaha mengintip kartunya Viny, Viny pun buru-buru menutupi kartunya.

“Bukan... Zara,” jawab Dion dengan malasnya.

“Zara? Yang mana tuh?” Viny bertanya dan menendang-nendang Enu untuk menjauhi jaraknya karena Enu lagi-lagi mau mengintip kartunya.

“Keponakan Andela, masih SMP,” jawab Bayu.

“Ckckck Yon, Yon. Dari Nabilah sampai Yansen, sekarang ditambah lagi dengan Zara,” Enu terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala.

Dion hanya menggerutu dengan suara tak jelas. Tak lama kemudian datang Damar sambil menenteng sebuah kantong berisi kotak kue.

“Vin, nih,” ucap Damar menyerahkan kantong tersebut kepada Viny.

Viny menyeringitkan dahi memandang kantong yang berisi kotak tersebut, “Ini apa?”

“Gak tau, katanya sih kue.”

Viny mengambil kantong tersebut dan melihat isinya, “Dari siapa?”

“Beng-Beng, tadi ketemu pas diparkiran. Dia nitip itu tadi.”

“Oh,” Viny langsung tersenyum memandang kantong tersebut.

“Apaan isinya Vin?” tanya Enu yang penasaran.

Viny lalu membuka kotak tersebut dan terlihatlah donat bermacam-macam rasa berjejer rapi disitu.

“Waaaah donat,” Viny terlihat senang melihat makanan manis kesukaannya.

“Ciee ehem-ehem,” Hanna mulai menggodanya, begitu juga Melody dan Ghaida.

Viny hanya tersenyum malu-malu.

“Banyak gak Vin?” tanya Dion.

“Iya, kenapa?”

“Bagi dong 1 hehehe,” Dion cengengesan.

“Heh!” Melody langsung saja menggeplak tangannya Dion yang menadah.

Viny dan yang lainnya tertawa melihat Dion dimarah-marahi oleh Melody, “Gak apa-apa kok, nih,” Viny memberikan kotak donat tersebut kepada Dion.

“Yeee boleh yeeee,” ejek Dion kepada Melody, Melody memasang wajah kecut dan mencubit pipi suaminya itu.

Dion mengambil salah satu donat dan mengembalikan kotaknya lagi kepada Viny.

“Masih ada gak Vin?” tanya Arya.

“Iya, nih kalau mau ambil saja,” Viny tersenyum-senyum.

Diberi peluang seperti itu langsung saja Enu, Arya, Bayu dan Damar mengambil satu per satu donat didalam kotak.

“Soal makan aja cepet, ey Nu, giliran kamu,” ujar Hanna kepada Enu.

“Hehe hory-hory,” ucap Enu yang mulutnya penuh dengan kunyahan donat.

Tak lama kemudian bunyi Handphone Viny berbunyi didalam tas nya, Viny pun memeriksa dan itu adalah telepon dari Beng-Beng.

“Arya, gantiin aku bentar. Mau ngangkat telepon dulu nih.”

“Ng? Oh oke,” Arya menyanggupi.

Setelah memberikan kartunya kepada Arya, Viny langsung berjalan kesudut ruangan kelas belakang untuk mengangkat telepon.

“Halo?”

“Halo, Viny? kamu udah disekolah belum?” tanya Beng-Beng dibalik telepon.

“Iya udah hehe.”

“Oh hehe, udah dikasih sama Damar belum kuenya? Tadi aku ada nitip sama dia.”

“Iya udah, makasih ya. Kok tau aku suka donat?”

“Temen kamu yang bilang dulu, siapa tuh... lupa namanya, pacarnya Ega kalau gak salah.”

“Oh si Ve. Kok kamu nanyain itu?”

“Iseng aje sih hehe, lagipula kemarin aku dapat bonus dari bos di tempat aku kerja sambilan. Lalu aku inget, ya aku beliin saja gitu.”

Viny kembali tersenyum-senyum, “Hihi ngerepotin jadinya, tapi makasih sekali lagi ya.”

“Gakpapa hehe, lagi apa nih?”

“Lagi main kartu aja tadi, kamu?”

Viny dan Beng-Beng terus berbicara sampai-sampai bunyi bel sekolah mengagetkan Viny.

“Emm bel sekolah aku udah bunyi nih...”

“Oh yaudah, cepat ya bel disana. Bel sekolah aku belum bunyi malahan haha.”

“Haha kan sekolahnya beda.”

“Hehe yaudah kalau gitu kapan-kapan lagi ya, itu pun kalau Viny mau.”

“Inyi.”

“Ng? Inyi?”

“Iya, Inyi, panggil aja aku dengan itu,” pinta Viny tersenyum manis.

“Oh... haha iya-iya, yaudah hehe. Selamat belajar ya, Inyi. Daah.”

“Iya, daah.”

Hubungan telepon pun terputus, Viny tersenyum memandang layar Handphone nya tersebut. Dia berbalik badan dan kembali menuju bangkunya.

“Loh? Kok habis,” Viny terkejut memandang kotak donatnya.

“Noooooh pelakunya,” ujar Ghaida menunjuk pelaku.

Viny lalu menoleh kearah yang ditunjuk Ghaida dan terlihatlah Dharta, Ega dan Ijonk yang baru datang dan menatapnya dengan mulut penuh donat, 2 donat malahan di masing-masing mulut mereka bertiga.

“Eh? Punya lo Vin? Gue kirain buat rame-rame tadi,” ujar Dharta memberi alasan setelah menelan donat.

Tensi darah Viny mendadak naik.

“Kalian ini ya! Aku aja belum ada makan satupun!” Viny mengepalkan tangan dan berjalan kearah mereka bertiga.

“Eh? Eh? Eh? Eh?” Ega, Dharta dan Ijonk kelabakan.

“Hehehe mampus lu pade,” ejek Arya dan yang lainnya kepada mereka bertiga.

Di pagi itu.... yah kayaknya damai-damai saja walau bunyi PLAK! PLAK! PLAK!  Dan suara rintihan Ega, Dharta dan Ijonk berbunyi indah didalam kelas.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Memasuki jam istirahat murid-murid pun berkeliaran disekolah, ada yang kekantin, perpustakaan, ataupun bermain-main dihalaman. Begitu juga para guru yang mengobrol dengan guru lainnya, berkeluh kesah, sibuk menyiapkan materi pelajaran berikutnya dan kesibukan-kesibukan lainnya.

Akan tetapi aktifitas umum disekolah tersebut tidak terjadi kepada 2 orang yang asyik berjalan-jalan disekitaran pasar yang cukup ramai. Yaitu Beng-Beng dan Kevin. Selama berjalan-jalan Beng-Beng mulai mengajak Kevin berbicara.

“Ngapain juga lo ngajakin gue ngebolos kalau gak ada tujuan begini?”

“Ya sekali-kali temenin gue lah, lagian Felix sama Made udah ketahan didalam sekolah. Untung aje gue ketemu lo dijalan tadi.”

“Heleeeh,” Beng-Beng mengeluh sambil melihat dagangan yang didagangkan ditempat dia berjalan.

“Ngomong-ngomong tadi lo darimana? Tumben-tumbenan lo lewat jalan tadi,” tanya Kevin yang penasaran.

“Dari sekolahnya Dion tadi.”

“Ngapain lo kesekolahnya Dion?”

“Kagak ngapa-ngapain, lewat aje,” jawab Beng-Beng yang berusaha menyembunyikan senyumannya.

“Wis! Wiss wisss, ngapain lo senyum-senyum?,” Kevin sedikit curiga, setelah sedikit menganalisa Kevin kembali berbicara, “Oh! Gue tau, gue tau hahahahaha.”

“Apaan?” Beng-Beng terkekeh.

“Alah bilang aje mau ketemu...siapa tuh, ngg,” Kevin mencoba mengingat-ingat, “Ah! Inyi, Inyi hahahaha.”

“Sok tau lu,” Beng-Beng hampir tertawa.

“Haah percuma lo mau bohong didepan gue, makin ngembang aje tuh mulut pas gue sebutin tuh nama.”

“Hehehehe,” Beng-Beng akhirnya terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Haah capek juga nih jalan, cari minum dulu dah.”

“Oke.”

Beng-Beng dan Kevin mulai mencari tempat yang menjual minuman, Kevin langsung mengeluarkan Handphone nya untuk meminta tolong kepada Felix untuk memberitahukan dirinya bilamana ada tugas disekolah. Sedangkan Beng-Beng sudah berhenti ditempat penjual minuman.

“Es coklat ya.”

“Dibungkus atau minum disini?” tanya pelayan.

“Minum disini aje.”

“Oke tunggu bentar ya.”

Kevin yang mendengar suara Beng-Beng memesan minuman juga menghentikan langkahnya dan menumpu tangannya dimeja tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Handphone.

“Es jeruk 1 ya, minum disini.”

“Gak ada,” suara pria langsung meresponnya.

Kevin masih berkonsentrasi menuliskan pesan di Handphone, “Yaudah, jus alpukat.”

“Gak ada,” pria itu kembali merespon.

“Yaudah apa aja deh yang dingin, cepet ya.”

“Haaah, terserah lo dah,” pria itu tampak cuek dengan ucapan Kevin.

Setelah selesai mengetik SMS, Kevin lalu menoleh kearah Beng-Beng.

“Sore nanti mau ikut gue gak?”

Beng-Beng menoleh, “Kemana?”

“Rumahnya Istri Dion,” jawab Kevin menaik-naikkan alis.

“Ngapain? Naksir lu sama bininya? Baek-baek hilang nyawa lo sama Dion.”

“Yeee bukan nyet, ngapelin adik bininya itu hehehehe.”

Beng-Beng yang mengetahui gadis yang dimaksud Kevin kemudian sedikit tertawa.

“Wiih, makin deket aje lo hahaha. Bukannya kemarin lo katanya mau pergi kerumah dia? Emangnya gak jadi?”

“Udah, tapi mendadak gak bisa ngajak jalan. Gila Beng, habis duit gue. Cuma cukup untuk buat beli bensin aje jadinya.”

“Kok bisa gitu?”

“Kena musibah gue, ampun dah,” keluh Kevin dan menyandar dimeja dan melihat jalan.

“Emang apa?” Beng-Beng penasaran.

“Jadi gini...”

Kevin pun menceritakaan kejadiaan na’as yang dia alami kemarin, yang dimana duit dia habis gara-gara dipalakin seorang anak kecil dan kesembilan teman-temannya. Beng-Beng yang mendengar itu tak kuasa menahan tawanya.

“Huahahahahahahahahahaha!!”

“Ketawa lagi lo nyet,” Kevin menyemberutkan bibirnya.

“Hahaha gimana gue gak ketawa, lagian lo cari perkara aje. Dinding rumah orang lah pake ditendang-tendang hahahaha.”

“Ini pesanannya,” sang pelayan memberikan minuman pesanan Beng-Beng.

“Oh, hehe makasih.”

“Tapi gue betah kayaknya nih sama Frieska, anaknya asik banget. Gak malu-malu gitu, orang-orang rumahnya pun asik. Malah yang namanya PDKT itu gak berarti buat dia, ikut arus aje dianya.”

“Ya baguslah kalau gitu, terus ngapain juga lo ngajakin gue kesana? Masa gue ngeliatin lo berdua.”

“Duit gue sekarat, jadi semisalnya gue butuh duit kan ada lo jadinya hehehe.”

“Taik hahaha, mau pacaran atau enggak ya modal lah dikit. Gue aje sampai sekarang belum pernah tuh ngajak Viny jalan-jalan, kerumahnya saja belum.”

“Wisss udah ngomongin cewek haha, ada perubahan juga lo Beng. Soalnya bosan telinga gue ngedenger cerita lo tentang bola.”

“Haha taik,” Beng-Beng terkekeh.

Melihat Beng-Beng yang asyik menyeruput minumannya membuat Kevin meneguk air ludahnya sendiri karena haus, dia lalu menoleh kebelakang dan melihat pria berkumis memandangnya sedari tadi dengan alis naik sebelah.

“Loh Bang? Air minum saya mana?”

“Lah, ngapain juga gue ngebuatin lo minum?” pria itu semakin naik alisnya.

“Yaelah, kan tadi gue pesen air apa aje yang penting dingin,” Kevin mulai sewot.

“Beeeeh, lo kata gue jualan minuman?”

“Terus?”

“Lo liat kebawah, daritadi lo nyender masa lo gak sadar-sadar.”

Kevin menyeringitkan dahi dan memandang kebawah. Dan betapa kagetnya dia ternyata sedari tadi menyender dikotak kaca yang dimana didalamnya banyak sekali dijual kartu nomor-nomor Handphone dari beberapa provider dan juga Handphone bekas. Kevin memundurkan jaraknya untuk melihat toko tersebut.

“Buset, toko HP toh.”

“Ya iyalah, kalau lo butuh pulsa atau mau beli jual HP bekas baru lo minta sama gue,” ujar pria tersebut dengan nada yang sewot.

“Oh...” Kevin cengok dan langsung menghampiri Beng-Beng.

“Kampret lo Beng! Bilang kek daritadi gue ada didepan toko HP, gue kirain tadi diwarung yang sama dengan elo.”

“Huahahahahaahaha,” Beng-Beng kembali tertawa terpingkal-pingkal.

Jarak warung minuman dan toko penjual pulsa itu sangat dekat atau bisa dibilang 1 ruko. Karena itu Kevin tak menyadari hal itu.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Siang hari di jam 2.

Disalah satu Mall tampak seorang pria berbaju SMA dan seorang gadis muda berpakaian SMP sedang duduk dikursi sambil menikmati makanan yang mereka makan. Raut wajah pria itu tampak lelah, seperti pria yang kecapekan menunggu wanita sedang berbelanja.

“Om Dion kenapa?” tanya gadis disebelahnya.

“Capek, ini Imel sama Ndela lama amat didalam,” keluh Dion sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.

“Oh,” sang gadis memanggut-manggut.

Dion yang habis makanannya lalu membuang bungkusnya ke tong sampah yang ada ditempat mereka duduk.

“Om, Zara boleh minta sesuatu gak?”

“Minta apa? Duit? Duit om sama ‘Mama’ kamu itu.”

“Ish bukan itu.”

“Terus apa?”

“Gini,” Zara menyelesaikan kunyahannya dahulu baru dia kembali berbicara, “Nanti Om sama Mama jangan punya anak ya.”

Dion kaget, “Lah? Kok gitu?”

“Zara gak mau punya adek, nanti Mama lebih sayang sama adek daripada Zara,” ungkap Zara dengan ekspresi cemberut.

“Beeeh Masa gitu? lagian Zara kan bukan anak om sama Imel.”

“Ish! Pokoknya gak boleh!”

“Yeee gak mau,” ujar Dion memelet lidah untuk mengejek Zara.

“Papaa, jangan bikin dedek bayi sama Mamaa,” Zara mulai memasang wajah memelas dan menarik-narik lengan seragam Dion.

Sedangkan Dion berpura-pura cuek, bersiul-siul dan memandang kearah lain.

“Ish!” Zara dengan tangan kirinya langsung memukul-mukul Dion karena kesal keinginannya ditolak.

Akan tetapi Dion tertawa-tawa saja bahkan berpura-pura menguap karena tenaga Zara yang memuli dirinya tersebut gak ada rasa sakitnya sama sekali. Zara yang tahu usahanya sia-sia kembali cemberut dan melanjutkan makan. Tak lama kemudian dengan kedua bola matanya dia melihat Melody dan Andela berjalan menghampiri tempat dia bersama Dion berada.

“Om,” panggilnya menarik-narik lengan baju Dion.

Dion menoleh, “Apa?”

“Masih laper gak?”

“Lumayan sih,” Dion memanggut-manggut.

“Yaudah, nih buat Om,” Zara tersenyum dan menyerahkan bungkusan makanannya kepada Dion.

“Wih! Serius nih?” Dion terlihat senang.

Zara tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Asyik makasih hehe. Duh anak Papa baik sekali ciahahaahhaha,” ucap Dion sambil mengelus-elus rambut Zara.

Dion dengan semangat mulai memakan makanan yang diberikan Zara, sedangkan Zara kembali melihat kearah Melody dan Andela yang semakin dekat jaraknya. Dan disaat jaraknya semakin dekat Zara langsung memasang wajah cemberut.

“Mamaaaaaaaaaa!”

Dion terkejut, begitu juga Melody dan Andela yang sudah menghampiri. Melody berjongkok dan mengelus-elus kepalanya.

“Zara kenapa? Kok nangis?” tanyanya dengan nada yang cemas.

Air mata Zara sudah terurai, Dion cengok memandang keponakannya tersebut dengan mulut penuh makanan.

Hiksss makanan Zara diambil sama om Dion hiks hiks,” ucapnya sambil menunjuk Dion disampingnya.

“Abang!” Melody melotot.

“Eh? Eh? Eh?” Dion kelabakan, dia memandang makanan lalu memandang Zara, memandang makanan lagi lalu kembali memandang Zara.

Ada 10 kali dia melakukan hal itu sampai pada akhirnya tangan Melody hinggap ditelinganya.

“Udah gede makanan pun sampai harus ngerebut punya orang! Balikin gak tuh punya Zara, kamu ini ya!” Melody terlihat geram.

“Alalala i-ini tadi Z-Zara yang....”

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,” Zara semakin mengencangkan suara tangisnya.

Melody lalu melepaskan jewerannya dan kembali berjongkok dihadapan Zara. Sedangkan Dion bersungut-sungut sambil mengusap-usap telinganya sendiri.

“Yaudah, biar dibeliin yang baru ya. Cup cup cup,” Melody kembali mencoba menghibur Zara.

Zara mulai sedikit merendahkan isak tangisnya walau wajahnya masih cemberut, “Papa Dion jahat ngambilin makanan Zara.”

“Iya-iya, nanti Mama beliin yang baru ya. Zara jangan nangis lagi, biar nanti Papa Dion gak mama beliin.”

“Eh kok gitu?” Dion gak mau kalah.

“Heh!” Melody kembali melototkan matanya sehingga membuat Dion tak berkutik.

“Mau es krim...” pinta Zara dengan mulut manyun.

“Iya-iya, jangan nangis lagi ya. Sini-sini mama hapus dulu air mata kamu.”

Melody lalu mengeluarkan tisu untuk membersihkan air mata yang keluar dari matanya Zara, Zara terlihat senang dan bahagia Melody melakukan itu begitu juga dengan Melody. Andela juga tersenyum melihat keponakannya begitu dekat dengan Istri sepupunya tersebut, hanya Dion yang masih meringis kesakitan dan mengelus-elus telinganya sendiri.

“Yap! Udah hehe, kan enak dilihat gini kalo gak nangis. Jadi cantik lagi,” Melody tersenyum dan mengelus-elus pipi dan rambutnya Zara.

“Ah Mama,” Zara tersipu malu.

“Hihi yuk kita beli es krim.”

“Ayuuukk!” Zara terlihat semangat.

Melody lalu menggandeng tangan Zara untuk berjalan bersamanya sedangkan Dion mendapatkan tugas memegang kantong belanjaan Istrinya tersebut dan juga belanjaannya Andela sebagai hukuman.

Zara kemudian menoleh kebelakang untuk melihat Dion, Dion pun melihat Zara, lalu Zara memeletkan lidahnya untuk mengejek Dion, Dion keki dan bingung mau membalasnya gimana.

Di siang itu, didalam Mall.... ya begitulah.

Setelah puas berkeliling kesana kemari didalam Mall mereka berempat kemudian hendak keluar dari Mall untuk pulang, apalagi motor Dion  dan Mobil Andela terparkir diparkiran luar.

“Tumben hari ini ramai pengunjung gini ya,” ujar Melody sambil melihat kanan kiri.

“Iya, mungkin deket-deket libur kali ya.”

“Mungkin aja sih,” Melody memanggut-manggut.

Mereka lalu keluar Mall dan menuju mobilnya Andela, Dion dengan malasnya langsung menaruh belanjaan Istrinya dan Andela kedalam bagasi.

“Yaudah kalau gitu kita langsung pulang, entar sore kan kita les,” ucap Andela untuk memberitahu.

“Iya-iya,” Dion menggerutu, udah capek keliling-keliling, kena fitnah keponakan sendiri, sekarang dia tidak punya waktu untuk tidur disore hari.

Melody membuka pintu belakang dan merasakan kejanggalan, dia celinguk kesana kemari dan langsung menyeringitkan dahi.

“Loh? Zara mana?”

“Eh?” Andela juga kaget dan mencari keberadaan keponakannya tersebut yang menghilang, “Aduuhh, kemana itu anak. Dion, Dion,” panggil Andela kepada Dion yang berjalan menuju parkiran motor.

Untung saja Dion masih bisa mendengar, dan kembali malas berjalan menghampiri mereka lagi.

“Apa?”

“Zara mana?” tanya Melody, wajahnya sudah terlihat khawatir.

“Heh? Dion terkejut.

Sedangkan gadis yang dicari-cari tampak terpukau melihat aksi Magic Street yang ada didalam Mall. Setelah aksi sulap selesai Zara lalu menggenggam tangan orang disampingnya.

“Mama, keren ya sulapnya.”

“Kamu siapa?”

“Eh?”

Zara lalu menoleh dan kaget karena dia menggenggam orang yang salah. Setelah meminta maaf Zara celingak-celingkan mencari sosok Melody, Andela dan juga Dion.

“Mama... tante Ndela... Om Dion...” panggilnya kepada mereka bertiga.

Zara berkeliling-keliling untuk mencari mereka didalam Mall sebesar itu, sudah beberapa kali dia naik turun tangga dan masuk kedalam toko satu per satu akan tetapi hasilnya nihil.

Mungkin diluar,” batinnya.

Setelah bertanya kepada seseorang untuk menunjukan arah keluar menuju parkiran akhirnya Zara menuju ketempat yang dimaksud. Akan tetapi Zara menuju keparkiran mobil yang lain dan dia pun menyalahkan diri karena bertanya dengan spesifikasi parkiran tak jelas.

Zara pun duduk ditepi dinding Mall dan cemas.

“Kalian dimana...”

Lama termenung disitu membuat dia diperhatikan oleh seseorang, orang itu lalu  menghampiri Zara.

“Haloo ngapain disitu?”

Zara lalu menoleh dan menyeringitkan dahi. Karena orang yang menyapanya itu mempunyai brewok dimana-mana apalagi senyumannya itu terasa aneh baginya.

“L-lagi nungguin temen.”

“Hmm gitu, terus ngapain nunggu disini? Nungguin atau tersesat?” orang brewokan tersebut lalu duduk disamping Zara.

Merasa terganggu Zara menggeser posisi duduknya untuk menjauh, akan tetapi orang itu malah makin mendekatinya.

“Hehe jangan takut, gak nggigit kok.”

Zara yang semakin tak nyaman kemudian berdiri.

“Maaf, saya masuk dulu.”

“Ets!” pria brewokan itu lalu memegang tangan Zara.

“Lepasin!” Zara mulai meronta dan teriak-teriak meminta pertolongan.

“Eh! Malah teriak,” Pria itu langsung membekap mulut Zara.

Pria itu lalu celingak-celingukan untuk melihat situasi sambil menahan badan Zara. Dirasa tidak ada yang mendengar teriakannya barusan pria itu bernafas lega.

“Hehe mending temenin saya dulu yuk.”

Pria itu membawa Zara kesebuah bangungan yang belum jadi terletak dibelakang Mall, Zara tak henti-hentinya meronta untuk melepaskan diri. Tak jauh dari situ terlihat seorang pria yang tak sengaja melihat hal tersebut dan langsung mengejarnya.

“Ssst diem, jarang loh saya ditemenin gadis SMP hahaha.”

“HMMMPPPPPPHHHH,” Zara yang dibekap mulutnya hanya bisa menangis, apalagi dengan tenaganya dia tidak bisa melawan.

Disaat tujuan pria itu sudah hampir sampai tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari belakang.

“WOI!”

Pria itu menoleh dan sedikit gusar karena aksinya diketahui seseorang, sedangkan Zara yang melihat orang yang berteriak tersebut kembali meronta-ronta.

“Mau lu apain keponakan gue?” Dion terlihat berang sambil berjalan dan menunjuk pria tersebut.

Pria itu lalu memandang Zara dan kemudian Dion. Dia tersenyum dan melepaskan bekapannya. Akan tetapi tangan Zara masih dipegangnya dengan erat.

“Om Dion! Tolong!!!”

“Lepasin dia!” pinta Dion sekali lagi.

“Entar dulu, lo nyari dia kan?”

“Ya.”

“Haha gue tau nih anak pasti tersesat, soalnya daritadi gue liat dia kebingungan. Dan sekarang gue yang duluan nemuin keponakan lo ini, masa gue gak dapat imbalan?”

“Imbalan?”

“Pura-pura gak tau atau emang bego? Masa gitu saja gak tau.”

Dion menghela nafas karena mengerti maksud orang tersebut, dan dia semakin cemas melihat Zara yang tangannya digenggam dengan erat.

“Oke, tapi lepasin dulu itu keponakan gue.”

“Ets! Ada duit ada barang,” seru pria tersebut dan semakin kuat menggenggam tangan mungilnya Zara hingga gadis itu tertatih kesakitan dan semakin menangis.

“Oke, oke.”

Dion lalu merogoh-rogoh koceknya dan hasilnya nihil karena uang dia dititipkan sama Melody. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan langsung saja membuka sepatunya.

“40 ribu, cukup?” tanya Dion dengan uang yang disembunyikan didalam sepatu.

Pria itu menyeringitkan dahi dan membatin, “Astaga... duit aje sampai disimpan dalam sepatu. Pasti nih orang pelit.

“Lo kata setimpal 40 ribu dengan keponakan lo?”

“Gue gak ada duit lagi, mikir sedikit kenapa emangnya anak sekolah kayak gue punya banyak duit apa?”

“Haaaah,” pria itu menghela nafas, dia lalu memperhatikan sekujur tubuhnya Dion.

“Jam tangan sama sepatu lo boleh juga, ditambah 40ribu tadi.”

Dion menyeringitkan dahi, ada rasa tidak ihklas untuk memberikan barang yang dipinta orang tersebut karena jam tangan itu baru dibelikan Melody 3 minggu yang lalu apalagi sepatunya yang dibeli dengan tabungan dia sendiri.

“Pake mikir lagi lo! Mau lepas gak nih keponakan lo?!”

Dion melihat Zara, walau sikapnya tak jauh berbeda dengan Nabilah dan Yansen yang selalu usil dengannya akan tetapi Dion tak tega melihat keponakannya itu menangis dan tertatih kesakitan. Dion menghela nafas.

“Yaudah, tunggu bentar.”

Dion melepaskan jam tangan dan juga sepatunya, dan uang 40 ribu tadi pun kembali dimasukkan kedalam sepatu. Dia lalu menghampirinya.

“Nih.”

Pria itu mengambil sepatu dan jam tangan dengan sebelah tangannya. Dia tersenyum  puas dan langsung melepaskan Zara.

“Wihh keren juga kalau dilihat dari dekat nih sepatu,” ujarnya melihat-lihat sepatu Dion.

Dion tampak tak perduli dan tersenyum menyambut Zara. Dion lalu berjongkok dan mengelus kepala keponakannya tersebut.

“Zara gakpapa?”

Zara yang menangis lalu menatap Dion, “Sakit,” ucapnya menunjuk pergelangan tangan yang digenggam orang itu sedari tadi. Terlihat pergelangan tangan gadis mungil itu memerah karena orang itu memegangnya terlalu kencang.

Sedikit urat mulai muncul dikepalanya Dion, akan tetapi dia berusaha mengontrol emosinya dan kembali tersenyum.

“Yaudah, yuk pulang. Mama sama Ndela nyariin kamu pasti didalam.”

“I-iya,” Zara menjawab dengan isak tangisnya dan mengangguk.

Tanpa permisi Dion langsung saja menggandeng tangan Zara dan pergi dari situ. Zara yang melihat kaki Dion tak beralas jadi merasa tak enak membuat kekacauan seperti tadi. Sedangkan pria tadi langsung memakai sepatu dan juga jam tangannya Dion, dia pun terkekeh karena merasa keren memakai benda tersebut.

Dia lalu menoleh dan melihat Dion sudah berjalan menjauhi dirinya.

Thank you ya, padahal tadi mau gue pake tuh cewek,” ujarnya tertawa-tawa

Langkah kaki Dion berhenti, urat-urat ditiap ruas tangannya mulai muncul.

“Om...” Zara mulai heran melihat urat-urat ditangan Dion bermunculan.

Dion menoleh kebelakang.

“Apa tadi? Pake?”

“Perlu gue ucapkan 2 kali dengan keras? Hahahahaha.”

Tak ayal lagi kemarahan Dion sudah sampai dipuncak, urat merah kecil bermunculan dikedua bola matanya.

“Jangan kemana-mana kau!” teriak Dion yang kepada orang tersebut.

“Hooo, marah nih yee. Boleh saja,” pria itu lalu duduk ditepi jalan didepan bangungan yang belum jadi.

“Om,” Zara kembali memanggil karena melihat kondisi Dion yang aneh.

Dion yang mendengar suara Zara kembali sadar. Dia lalu menoleh dan melihat raut wajah Zara yang khawatir dan entah kenapa bayangan wajah Melody yang khawatir juga terlintas. Dion mengatur nafasnya dan mulai berjongkok lagi.

“Zara tunggu disini ya, Om ada urusan lagi sama orang itu,” pintanya sambil tersenyum  dan mengelus kepala keponakannya tersebut.

“Om mau ngapain?” tanya Zara dan terkejut melihat urat-urat dileher dan bola matanya Dion, walau urat-uratnya itu berangsur-angsur menghilang.

“Tunggu saja disitu, ya?” Dion menunjuk tempat yang ada didekat mereka.

“Om mau ninggalin Zara lagi?”

“Zara,” Dion lalu mengulurkan jari kelingkingnya, “Om sama Mama imel kalau mau berjanji selalu mengaitkan kelingking. Om janji gak ninggalin Zara setelah urusan om dengan orang itu udah beres. Zara mau kan berjanji kayak gini? Biar sama kayak Mama Imel.”

Zara termenung memandang Dion sambil menghabiskan isak tangisnya, “Bener Om gak ninggalin Zara disini?”

“Enggak, Om janji. Ya?” Dion kembali menyodorkan jari kelingkingnya.

Zara kembali termenung, tak lama kemudian dia mengaitkan jari kelingkingnya kejari kelingking om nya tersebut, “Janji ya...”

“Iya, Om janji,” Dion tersenyum dan mengelus kepalanya Zara.

Setelah itu Dion mengantarkan Zara ketempat dia menunggu, setelah itu dia kembali berjalan menuju orang yang tadi.

“Oh udah selesai lo ngebacot dengan keponakan lo?” orang itu lalu berdiri.

“Tadi lo bilang lo mau pake dia kan?”

“Kenapa? Gak senang?” Orang itu meninggikan nada suaranya.

Urat Dion kembali muncul dimana-mana, Dion mempercepat langkah kakinya. Dan saat sudah mendekat tanpa menunggu basa-basi lagi dia langsung menendang selangkangan orang tersebut dengan keras.

“UGGGHHH!!” orang itu pun meringkuk kebawah sambil memegang selangkangannya, matanya melotot.

Tak cukup sampai disitu, Dion menahan kepala orang itu dan langsung dipertemukannya dengan dengkul kakinya.

“UAAARRRGGGHHH,” orang itu terjatuh kebelakang dengan 1 gigi yang copot dan hidung bersimbah darah.

Dion menarik brewok orang itu untuk berdiri dan langsung meninjunya lagi dengan tangan kiri. Orang itu kembali berteriak apalagi brewoknya tercabut paksa gara-gara itu, akan tetapi pangkal lehernya langsung di injak Dion dengan keras agar teriakannya terhenti.

“KESINI KAU ANJING!”

Sehabis berkata begitu Dion mencengkram kerah baju orang tersebut dan menyeretnya masuk kedalam bangungan yang belum jadi. Orang itu sekarang meronta-ronta dan ketakutan, karena dia tak menyangka Dion bisa sekuat ini.

Zara yang melihat hal tadi sebelumnya tampak tercengang. Dia hampir tidak percaya melihat yang terjadi barusan didepan matanya. Dengan perasaan takut-takut dia berjalan mendekati bangunan yang belum jadi tersebut.

“AARRGGGGHHHHHH!!!” suara erangan dari pria tadi mengagetkan Zara.

Dia tertegun dan bertambah penasaran apa yang dibuat oleh Dion kepada orang itu sampai-sampai berteriak seperti tadi. Zara semakin memberanikan diri untuk berjalan dan akhirnya dia mendengar suara gebukan-gebukan yang sangat keras yang bertepatan juga dengan suara teriakan orang yang tampaknya dihajar habis-habisan oleh Dion.

BRAAAKKK!!!!!

Sebuah bunyi benda berat mengagetkan Zara. Suara itu pun menghentikan langkah kaki Zara untuk berjalan. Suasana tiba-tiba hening setelah suara berat tersebut.

“Om Dion...” Zara berusaha memanggil Dion dari luar.

Tak ada jawaban yang membuat Zara semakin cemas.

“Om Dion!” teriaknya karena benar-benar khawatir.

“Iya-iya,” terdengar suara Dion dari dalam.

Tak lama kemudian Dion keluar sambil menenteng sepatunya yang tadi diberikan orang tersebut. Dion tersenyum dan langsung menghampiri Zara.

“Kan tadi Om bilang tunggu disitu, kenapa malah kesini?” tanya Dion meletakkan sepatunya ketanah dan memakai jam tangannya kembali.

“Om Dion, tadi itu... itu...”

“Oh itu... entar ya.”

Setelah memakai jam tangan, Dion lalu memaki sepatu seadanya dengan tumit yang menginjak sepatut tersebut. Dia kembali berjongkok didepan Zara.

“Zara, mau janji lagi gak sama Om?”

“Janji apa?”

“Tolong jangan bilang Mama Imel ya tentang yang tadi, kalau bisa jangan pernah sekali-kali Zara ungkit. Ya?”

“Emang kenapa?” Zara menyeringitkan dahi.

“Zara sayang sama Mama Imel kan?”

Zara kebingungan mendengar pertanyaan Dion, akan tetapi dia mengangguk karena dia memang menyanyangi Istri om nya tersebut.

“Hmm, Zara gak mau ngeliat Mama Imel sedih ataupun khawatir gitu kan?”

“Gak mau,” Zara menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau gitu, janji ya jangan kasih tau siapapun tentang hal ini?” Dion menyodorkan jari kelingkingnya kembali.

Zara terdiam sebentar, tak lama kemudian dia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dion.

“Iya, Zara janji.”

“Makasih.”

Zara yang melihat Dion tersenyum tulus kepadanya juga membalas senyuman Om nya tersebut, apalagi ditambah Dion mengelus-elus kepalanya.

“Hmm mumpung ada 40 ribu... gimana kalau om beliin Es Krim?”

Mendengar penawaran itu pupil mata Zara melebar dan senyumnya semakin mengambang.

“Mau!!”

“Yaudah yuk!”

“Aaaa jadi kuda-kudaan,” pinta Zara yang mendadak kumat.

“Masa disini heleeeh, gendong saja ya?”

“Oke!”

Dion lalu berjongkok didepan Zara dan Zara dengan senang hati naik kepunggung Om nya tersebut. Setelah itu Dion berdiri dan berjalan sambil menggendong Zara.

“Inget ya jangan kasih tau Mama Imel.”

“Iya, kan tadi Zara udah janji,” Zara memanyunkan bibirnya.

“Hehe biar gak lupa.”

“Tapi tadi untung banget om ada disini, coba kalau enggak. Zara udah takut banget tadi.”

“Iya... untung,” Dion juga bersyukur didalam hati.

Itu sebenarnya karena Dion tak sengaja lewat situ, apalagi kalau bukan dia tersesat pas mencari Zara.

“Mama sama Tante dimana?”

“Didalam, makanya kita balik lagi kedalam. Mereka berdua tadi cemas nyariin Zara.”

“Telpon aja, bilang kalau kita disini.”

“Nah itu dia masalahnya. HP om dipegang sama Mama Imel, lupa tadi om mau ambil. Zara bawa HP gak?”

“Gak ada, HP Zara di tas. Kan tas Zara didalam mobil.”

“Oh iya,” Dion memanggut-manggut.

“Yaudah kalau gitu cari Mama sama Tante didalam.”

“Yeee ini juga kita mau masuk kedalam buat nyari.”

“Tapi jangan lupa beli es krim dulu.”

“Iya-iya,” Dion terkekeh.

“Hihi,” Zara pun tertawa.

Dion dan Zara kembali masuk kedalam Mall, dan perhatian orang-orang tertuju kepada mereka. Akan tetapi orang-orang tidak ambil pusing karena orang-orang itu beranggapan kalau itu hanya keakraban biasa, seperti Kakak dan Adik.

Setelah membeli Es Krim mereka berdua kembali melanjutkan mencari Melody dan Andela didalam Mall, akan tetapi karena udah keenakan digendong sebelumnya maka Zara meminta Dion menggendongnya kembali. Dion pasrah mengiyakan permintaan keponakannya tersebut.

“Om?” panggil Zara sambil menjilat es krim.

“Apa?” begitu juga Dion yang menjilat-jilat es krim sambil menggendong Zara.

“Nanti anak Om sama Mama harus cowok ya? Ya? Biar nanti Zara ajak main terus,” pinta Zara

“Loh? Katanya tadi gak mau Mama Imel sama Om punya anak,” Dion terkekeh.

“Itu kan tadi, sekarang lain huuuh,” Zara mendengus kesal.

“Asyeeek hehe, tapi soal cewek cowoknya mana Om tau. Kan bukan Om yang nentuin jenis kelaminnya.”

“Gakpapa deh, cowok atau cewek gak masalah. Yang penting itu anaknya Om sama Mama. Ya Om, ya?”

Dion tertawa, “Iya-iya, kenapa gak kembar sekalian? Jadi biar Mama Imel gak perlu hamil 2 kali, terus kamu punya 2 mainan haha.”

“Ide bagus! Hihihi,” Zara terlihat senang dan menyetujui.

“Tos dulu dong,” Dion mengarahkan es krim nya kearah Zara.

Zara pun melakukan Tos dengan es krim yang mereka pegang masing-masing. Setelah melakukan itu mereka tertawa-tawa dan melanjutkan perjalanannya.

“Om,” Zara kembali memanggil.

“Ng?” respon Dion menoleh kebelakang dan mengulum Es krim.

“Kan tadi kita mau ke pintu depan buat nyariin Mama Imel sama Tante Ndela dilantai 1.”

“Iya, terus emangnya ada apa?”

“Lalu ngapain kita ke bioskop?”

“Eh?”

Dion menghentikan langkahnya dan melihat sekitar. Dan benar kata Zara sekarang dia bersama keponakannya tersebut berada didalam gedung bioskop dilantai 3. Yah, namanya juga Dion ya, jadi jangan heran dengan kekurangan dia yang satu ini yang hobi tersesat.

Tampaknya menyuruh orang yang hobi tersesat untuk mencari orang hilang adalah ide yang buruk.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Senja telah berganti dengan malam, jam sudah menunjukan jam 8 dikediamannya Dion. Dion yang terlampau capek habis pulang dari les langsung saja menuju kamarnya dan tengkurap dikasur untuk tidur.

“Ishhh ganti baju dulu, main tidur-tidur aja,” ujar Melody mencubit kaki suaminya tersebut lalu menuju meja untuk menaruh tas nya.

“Nanti aje,” jawab Dion dengan malasnya.

“Gak makan dulu?”

Dion mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tengkurap, Melody yang melihat hanya tertawa kecil sambil membuka jaket. Melihat Melody yang mau menggantung jaketnya mulai terbesit dibenaknya untuk iseng.

Dion beranjak dari tempat tidur dan mengendap-endap. Melody yang telah menggantung jaket seketika terkejut dipeluk Dion tiba-tiba dari belakang. Dion tertawa dan langsung mengangkat Melody ketempat tidurnya.

“Abang! ngagetin melulu,” Melody memanyunkan bibir dan mengapit hidung suaminya tersebut.

“Hehehe Abang pengen dimanjaa Adek,” pinta Dion dengan wajah memelas.

“Ihhh gak cocok ahahaha!”

Melody dan Dion tertawa, ya tentu saja tertawa karena Dion tak pernah memasang wajah memelas kepada Melody apalagi berbicara dengan nada manja barusan. Dion terus memeluk Melody, dan Melody mendekap erat tangan suaminya itu.

“Tumben tadi Zara bisa akrab sama kamu?”

“Gak tau... gara-gara es krim kali hehe.”

“Hihi tapi bagus deh, jadi misalnya Zara kesini lagi awas kamu ngumpet lagi ya?”

“Tergantung, kalau minta dijadikan kuda-kudaan lagi ya kabur.”

“Dasar sama keponakan sendiri masa gitu sih,” Melody terkekeh.

“Mau gimana lagi, 11 12 sama Nabilah dan Yansen gitu hehe. Ngomong-ngomong kamu kenapa setuju-setuju aja Zara manggil kamu dengan panggilan ‘Mama’ sih?”

“Emang kenapa?”

“Pengen tau aje hehe.”
Melody tersenyum dan memutar posisinya agar berhadapan dengan Dion, setelah itu dia memeluk Dion dan menjawab pertanyaannya.

“Buat latihan aja.”

“Latihan? Latihan punya anak gitu?”

Melody mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Hahaha kalau pas ngelahirin langsung segede Zara sih gak masalah, kan dimulai dari bayi dulu hehehe.”

“Ya semisalnya anak kita udah sekolah pas SMP gitu.”

“Bisa-bisa,” Dion tertawa-tawa.

“Hihi oh iya tadi pun Zara ada Chat, katanya dia mau kita punya anak kembar biar aku gak perlu repot-repot hamil 2 kali.”

“Hahaha gimana caranya bikin anak kembar coba? Ada-ada saja.”

“Berdoa aja siapa tau dikabulin hehe.”

“Masih sekolah, tunggu udah lulus baru ngomongin anak.”

“Iya,” Melody semakin mendekap Dion dengan erat sambil tersenyum.

Dion tiba-tiba teringat ‘Perselingkuhan’ dia dengan Shani, adik sepupunya tersebut dikamarnya ini, entah kenapa memikirkan hal itu Dion terus dihantui rasa bersalah walaupun dia dan Shani tidak akan pernah melakukan hal itu lagi. Itu bisa dia rasakan apalagi Melody sangat setia kepadanya.

“Adek.”

“Ng?” respon Melody tanpa mengubah posisinya.

“Abang mau minta maaf ya.”

“Minta maaf kenapa?”

“Minta maaf bikin adek kesal melulu selama ini dengan Abang.”

Melody tertawa, “Hihi lebay, gitupun harus minta maaf. Makanya jangan suka bikin kesel!” ujar Melody berpura-pura cemberut dan mencubit pelan punggung suaminya tersebut.

“Hehe, semisalnya abang selingkuh gimana?”

“Hmm bakalan adek patahin semua tulang-tulang Abang! Adek injek-injek, terus selingkuhan Abang juga bakalan adek gituin!” dengus Melody menggebut-gebu.

“Hahahahahaha,” Dion tertawa, bercampur keringat dingin.

“Tapi adek yakin hal itu gak akan terjadi,” Melody kembali tersenyum dam semakin erat memeluk Dion.

“Kenapa?”

“Karena adek percaya sama abang gak akan melakukan hal itu, walau abang selalu bikin ulah yang bikin adek kesel. Tapi itu tidak mengurangi sedikitpun rasa sayang adek sama abang, justru adek semakin sayang sama abang. Kalau abang bisa setia berarti adek juga bisa, itu karena adek benar-benar sayang sama abang.”

Mendengar ucapan Melody barusan membuat Dion benar-benar merasa bersalah. Dia kemudian mengelus kepala Melody yang asyik memejamkan mata dan memeluknya sedari tadi.

Maaf ya Imel... aku janji gak bakalah terulang lagi kejadian itu,” batin Dion untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Dion semakin bahagia memiliki Istri seperti Melody yang selalu percaya dan setia kepadanya. Dia pun bertekat tidak akan melakukan hal itu lagi semisalnya Shani mulai kumat muncul rasa sayangnya kembali kepada dia, akan tetapi dia yakin dia dan Shani tidak akan melakukan hal itu lagi karena mereka berdua sudah berjanji. Apalagi ucapan Shani benar-benar dibuktikannya, dia memberi perhatian kepada Dion sekedarnya antara adik sepupu kepada kakak sepupunya selama ini sejak kejadian itu.

“Ody.”

“Ng?”

Dion merenggangkan sedikit pelukan yang Melody berikan agar dirinya bisa bergerak, sehabis itu dia menyentuh pipi Melody dan diarahkan kepadanya.

“Aku sayang kamu,” ungkap Dion dengan senyum yang tulus.

Melody juga tersenyum dan memegang pipinya Dion.

“Ody juga sayang kamu, Ion.”

Mereka berdua tersenyum dibalik keharmonisan mereka. Tak lama kemudian Dion mencium Melody, begitu juga Melody yang menyambutnya dengan kasih sayang yang dia miliki terhadap suaminya tersebut. Selama berciuman Dion kembali berpikir dan meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan Melody, dan rahasia dia bersama Shani akan dikuburnya dalam-dalam.

1 menit lamanya mereka berciuman akhirnya mereka melepaskan pagutannya masing-masing. Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum.

“Sayang,” panggil Dion sambil mengelus kepala Melody.

“Iya?”

“Daritadi ngomongin anak... jadi pengen lagi ngelakuin prosesnya hehe,” Dion tertawa-tawa

“Hah? A-ha, ahahahahahaha” Melody juga tertawa dan mencubit pipi suaminya itu karena tahu maksud Dion tersebut.

“Mau? Kan udah lama hehe.”

Melody terus menahan tawa sambil mencubit pipinya Dion, "Iya deh, tapi habis itu temenin adek makan ya? Kan kita belum makan malam.”

“Asyiiik ahahaha.”

“Dasar! Soal itu cepet aja pikirannya,” komentar Melody sambil tertawa.

Dion dan Melody kembali berciuman sejenak. Sehabis itu Dion beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Setelah memastikan tidak ada yang datang kelantai 2, Dion menutup pintu kamar dan menguncinya.

Dimalam itu, mereka melanjutkan keharmonisan mereka sebagai suami istri.

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

Pagi hari dirumahnya Shani tampak Beny menguap-nguap diteras rumah melakukan olahraga ringan. Tak lama kemudian anjing peliharaannya, yaitu Bogi datang sambil mengigit koran.

Beny lalu mengambil koran dan kembali menguap-nguap sambil menggaruk-garuk kepala.

“Hmmm demo, bosan.” Komentar Beny membaca Headline koran tersebut.

Lalu dia memasuki rumah menuju meja makan yang dimana sudah ada Shani dan Ayahnya melakukan sarapan. Dia melanjutkan membaca koran disitu.

“Ayah, nanti hari Jum’at Enu mau ngajarin Shani belajar motor. Boleh gak Yah?”

“Ng? Boleh saja, kenapa adek mau belajar motor?” tanya Ayahnya sambil mengaduk-aduk Teh panasnya.

“Pengen belajar aja, siapa tau diperlukan,” ujar Shani memain-mainkan alis dan tersenyum kearah Ayahnya.

“Bilang aje minta dibeliin motor pas udah bisa ngendarainnya,” komentar Beny cuek sambil membaca koran.

“Iss!! Ember!” Shani kesal dan menekan perut Beny dengan ujung jari.

Beny hanya terkekeh dengan tingkah adiknya dan melanjutkan membaca koran.

“Haha ya kalau bisa nanti Ayah beliin kalau ada rezeki, tapi nanti habis belajar motor sama Enu kamu mau gak belajar mobil sama ayah? Kalau bawa mobil lebih bisa diperlukan loh.”

“Bener Yah?”

“Iya, nanti Ayah ajarin kamu bawa mobil. Lagian kalau mau bawa motor. Pake motor abangmu saja dulu,” ayahnya tertawa-tawa.

“Dihh, motor gede gitu. Kalau adek yang bawa kayak preman cewek jadinya,” Shani mendengus kesal.

Mendengar itu ayahnya tertawa terbahak-bahak, begitu juga Ibunya yang asyik mengelus kucing sambil menonton TV.

“Widihhh, ck ck ck ck. Kenapa gak mati saja sekalian,” komentar Beny dengan berita yang dibacanya di koran.

“Apanya Ben?” tanya Ayahnya.

“Iya nih, ngomong mati-mati segala,” sambung Shani.

“Ya ini, ditemukan seorang pria disalah satu bangungan di Mall... wah Mall dekat sini lagi, terus ditemukannya itu dengan kondisi 1 tulang rusuk patah, kedua dengkul kaki hancur, kedua siku tangan patah, dan jari-jari tangan dan kakinya juga patah.”

“Ihhh! Ngeri banget sih, coba liat, coba liat,” pinta Shani dengan ekspresi mulut yang nyeri.

“Noh,” Beny memberikan koran tersebut kepada adiknya dan mulai menuangkan teh panas kegelasnya.

“Perampokan Ben?”

“Gak kayaknya, uang didompetnya masih utuh akan tetapi identitas diri orangnya gak ada. Malahan tadi dibilang dikoran tuh orang sampai sekarang koma dirumah sakit jadi ya susah dimintai keterangannya.”

“Iya Yah, gak ada identitas dirinya didalam dompet seperti KTP gitu,” Shani memanggut-manggut sambil membaca berita yang dimaksud.

“Wohh dendam kali ya, bahaya juga orang-orang jaman sekarang,” komentar Ayahnya sambil menyeruput teh.

“Iya, makanya tadi Beny bilang mati saja sekalian. Tulang-tulangnya udah gak bakalan berfungsi lagi itu, setiap sendi tulangnya patah. Tangan, kaki Brrrrrr,” Beny berpura-pura bergidik.

“Wuuuh ngeri,” komentar Shani dengan gaya dibuat-buat.

“Sok berani,” ujar Beny tertawa dan mengganggu Shani membaca koran.

Shani sewot dan kembali menusuk-nusuk Beny dengan ujung jarinya sehingga membuat keluarga dia tertawa. Sedangkan dirumah Dion tampak Melody, Ayahnya dan Ibunya Dion sedang menikmati sarapan dimeja makan sambil berbincang-bincang.

Lalu dibelakang rumah terlihat Dion sedang berdiri didepan sampah yang dibakar.

“Ngapain den pagi-pagi gini ngebakar sampah?” tanya Bi Nisa.

“Ng? Lagi kepengen aje Bi hehe.”

“Hati-hati ya den apinya.”

“Iya-iya.”

Bi Nisa masuk kedalam rumah, sedangkan Dion merogoh sesuatu didalam koceknya yaitu berupa KTP, STNK dan SIM. Akan tetapi itu bukanlah miliknya tapi milik orang yang dihajarnya kemarin.

Tanpa perlu menunggu lama Dion langsung melempar KTP, STNK dan SIM itu kedalam kobaran api sehingga identitas orang tersebut hangus dilalap api. Dan Dion masuk kedalam rumah dengan santainya.

© Melodion 2016

▬▬▬▬۩ Beautifull ۞ Aurora ۩▬▬▬▬

 Celotehan Dion:

Terima kasih buat yang ngerekomendasikan Zara JKT48 kemarin :) (2 minggu yang lalu)

Nama pelaku sudah disamarkan, - Reportase sore melodion.
Kalau saran tokoh kayak begitu baru saya mau (Ada alasan kenapa dia direkomendasikan), tapi kalau mau kasih saran cuma meminta member ini buat jadi pacar. Hahaha BIG NO!

Ada hal yang unik juga saat saya mendapatkan rekomendasi tersebut, karena pas itu ada sebuah masalah dimana kalau saya mengetik situs apapun akan ada tulisan 'Tolong isi paket internet Anda,' atau bisa dibilang..... KUOTA INTERNET saya sekarat.

KUOTA SEKARAT!

SEKARAT!

SEKARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!!!

(Diulang-ulang biar dramatis.)

Karena tidak bisa mencari informasi tentang Zara di google akhirnya gue bertanya di Twitter.


Ada yang ngasih respon cepat sejak saya menanyakan itu, DARI YANG BENER sampai YANG GAK NYAMBUNG SAMA SEKALI. Berikut yang gue maksud.

Ini yang bener: 

Ini yang gak nyambung, oleh orang yang sama :


Kenapa gak sekalian semua member JKT48 diperkenalin satu per satu....
Pengen gue tombak rasanya, sumpah.
Yah, pokoknya gitu deh...(Muntah melihat foto terakhir)

Terima kasih yang sudah membaca. Jangan kapok ya Bahahahahahaha!!! (Masih muntah.)


Baca juga : Daftar cerbung lainnya.

4 comments

avatar

kok jadi pengen ngidol lagi sama jkt48 begitu liat zara

Click to comment