Type something and hit enter

author photo
Posted by On
Naomi akan melakukan perjalanan yang berhubungan dengan takdirnya sebagai 'Keturunan' sentry api

Beautifull Aurora IV
Kabar meninggalnya Raja Stor dengan cepat menyebar diseluruh negara-negara lain.  Kebanyakan orang-orang tak percaya Raja dari salah satu dari 5 kerajaan besar ini tewas dalam pertempuran ‘Keturunan’ Sentry yang terjadi di-Kerajaan Laks, kota Melodia di-negara Melodion.  Bagaimana tidak? Mereka mendengar Raja ‘Keturunan’ Sentry api ini dibunuh oleh satu-satunya ‘Keturunan’ yang kehadirannya tak pernah ada selama ini didalam sejarah planet Ribu, yaitu ‘Keturunan’ Sentry yang memiliki lebih dari 1 kekuatan ‘Keturunan’ bernama Dion.
Pemakaman Raja Stor dilaksanakan dikerajaannya di-ibu kota Numeriq, negara Andonia.  Suasana pemakamam diwarnai dengan suara tangis dan juga kesedihan yang mendalam dari pihak keluarga kerajaan.  Begitu juga terhadap rakyat-rakyat Andonia, mereka merasa kehilangan sosok Raja yang terkenal ramah dan santun terhadap rakyatnya sendiri.  Terlebih lagi dimasa pemerintahan Raja Stor ke-245 bernama Bellamy ini berhasil membawa negara Andonia makmur dengan sistem pemerintahannya.
4 Raja dari kerajaan 4 besar lainnya juga menghadiri pemakamam ini, termasuk Noid yang sekarang menjadi anggota keluarga kerajaan Laks karena sudah menjadi suami bagi putri kerajaan bernama Melody, yang juga merupakan ‘Keturunan’ sentry air.  Pemakaman ‘Raja Api’ ini berlangsung lancar, tanpa halangan sama sekali.
“Kakeeeek!!” Sinka tak kuasa memendung kesedihannya, ia memeluk gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir kakeknya itu.
Tak hanya Sinka, akan tetapi juga ibu beserta keluarganya yang lain. Terlebih lagi ibunya, terlihat ibu paruh baya ini begitu pilu menangis memandang makam ayahnya.  Setelah pemakamam selesai maka pemimpin doa memanjatkan doa bersama dan diikuti para pelayat lainnya.  Setelah itu tangisan keluarga kembali terdengar karena mereka tak kuasa menahan rasa kehilangan anggota mereka, terlebih lagi anggota keluarga mereka dibunuh.
“Baginda,” panggil salah satu penasehat kerajaan.
“... Apa...” balas Ibunya Sinka tanpa mengubah pandangannya.
“Maaf kalau ini dirasa kurang tepat, tapi saya diingatkan oleh para tetua kerajaan kalau nanti sore baginda harus bersiap-siap...”
“Bersiap-siap?” tanya Ibunya Sinka dengan alis mengkerut.
“... Bersiap-siap untuk pelantikan baginda sebagai Ratu kerajaan Stor...” ungkap penasehat segan.
Tak ada suara yang dikeluarkan dari mulut ibunya Sinka, dan hal ini memang sangat wajar apabila dia ditunjuk untuk menjadi Ratu kerajaan ini karena hanya dia satu-satunya anak kandung dari Raja Bellamy. 
“Apa tidak bisa dilakukan setelah hari-hari duka?” tanyanya.
“Maaf baginda, itu juga sudah hamba tanyakan.  Akan tetapi para tetua bilang ini hanya pelantikan non formal agar posisi tertinggi kerajaan ini segera diisi. Dan pelantikan formal akan dilakukan 3 hari nanti.”
“... Apa sudah disetujui yang lain?” tanyanya lagi.
“Selama anak kandung Raja masih hidup, maka itu tidak bisa diganggu gugat. Maaf, baginda.”
Ibu Sinka mengangguk yang bermaksud kalau dia mengerti akan hal ini, setelah itu ia dan anggota keluarganya kembali dalam suasana duka.  Sementara itu Frieska menghampiri tempat Melody dan Noid berdiri.
“... Michelle sudah siuman, dia baik-baik saja. Paman barusan memberitahukan hal ini lewat Cell,” jelas Frieska dengan tangan yang masih memegang Cell untuk komunikasi tadi.
“Begitu, syukurlah...” ungkap Melody dengan lega.
Frieska kemudian bergabung dibarisan Noid bersama yang lain, melihat suasana duka yang dialami pihak kerajaan Stor membuat Frieska bersimpati, terlebih lagi ia kasihan melihat Sinka begitu sedihnya menangis ditinggal kakek yang ia sayangi.
“... Noid...” panggil Melody pelan.
“... Ya...” respon Noid tanpa mengubah pandangannya.
“Nanti siang akan diadakan rapat 5 kerajaan disini... dan kamu wajib mengikuti hal itu... karena hanya kamu satu-satunya yang dianggap orang yang mengenal orang itu...” jelas Melody.
“... Begitu...” Noid sedikit menundukan kepalanya.
“Beritahu hal-hal yang penting tentang orang itu... atau kalau kamu mau kita bisa mendiskusikannya nanti sebelum rapat dimulai, kamu masih tidak mau orang lain tahu soal masa lalumu?”
Noid menoleh kearah Melody dan tersenyum tipis, “... Terima kasih...”
Melody membalas senyuman Noid seadaanya dan ia kembali menoleh kearah pemakaman.
“Dimana Naomi?” Frieska celingak-celingukan mencari sosok putri kerajaan Stor tersebut.
“Dia tidak bisa kesini,” balas Noid pelan.
“Kenapa?” Frieska menyeringitkan dahi memandang Noid.
“... Dia masih belum bisa mengendalikan apinya...”
“... Begitu...” Frieska memanggut pelan.
Melody menghela nafas dan berbicara, “Pasti dia merasa tertekan dan sedih dengan hal ini, aku tahu dia pasti ingin kesini... tapi karena itu...”
“Ya... dia juga bukan anak kecil, dia pasti mengerti alasannya...” sambung Noid.
Acara pemakamam dilanjutkan dengan penaburan bunga disekitara makam.  Sementara itu ditaman kerajaan Stor yang begitu jauh terlihat sosok Naomi sedang meringkuk didepan danau, busana hitam yang ia pakai sedikit kotor karena debu rerumputan. Wanita ini menangis dan terus menangis dengan 2 alasan, alasan pertama tentu saja karena ia sedih ditinggal oleh kakeknya.
“KAKEEEEEEK!!!” teriaknya dengan tangisan.
Dan teriakan itu juga berbarengan dengan keluarnya api merah yang membara dari sekujur tubuhnya, panas apinya itu telah membuat rerumputan disekitarnya terbakar karenanya. Itulah yang membuat ia tidak bisa menghadiri pemakaman kakeknya sendiri. Dia masih belum bisa mengendalikan apinya dan apinya itu sering muncul mengikuti perasaannya yang sedang dilanda kesedihan. Itulah alasan kedua kenapa ia tidak bisa bersama anggota keluarga kerajaan lainnya karena ditakutkan apinya itu akan membahayakan orang lain.
Salah satu anggota Venom yang bertugas mengawasin Naomi kemudian berbicara, “... Aku tak menyangka kalau putri Naomi adalah penerus raja Stor... maksudku kekuatannya itu...”
Beny yang diajak berbicara kemudian menjawab.
“Aku juga tak menyangka, tapi itu bukan hal yang mengherankan. Seperti yang raja bilang kalau para ‘Keturunan’ itu jumlahnya banyak, termasuk ‘Keturunan’ sentry api.”
“Tapi kata raja hanya 1 orang saja yang memiliki satu garis ‘Keturunan’,” sambung anggota Venom lainnya.
“Ya, ‘Keturunan’ Sentry petir, suami dari putri air itu,” kata Beny menyebutkan status Noid sekarang.
“Tapi kenapa aku mendengar kalau ada 2 ‘Keturunan’ sentry petir? Aku mendengarnya dari Bayu.”
“Aku sendiri tidak tahu... tapi yang jelas orang itu tidak hanya memiliki 1 kekuatan, dia bisa menggunakan petir, air, dan angin sesuka hati dia... ditambah api yang ia ambil dari Raja...”
“... Apa ini tandanya ia satu-satunya ‘Keturunan’ sentry yang memiliki kekuatan sentry lainnya?”
“Entahlah, aku akan menyelidikinya nanti diperpustakaan. Pasti ada catatan kuno tentang para ‘Keturunan’ sentry.”
“... Orang itu benar-benar sebuah ancaman.”
“Ya,” jawab Beny seadanya.
Beny dan 2 anggota Venom kembali mengawasi Naomi dikejauhan.  Masih terlihat kobaran api menyelimuti tubuh sang putri yang terus-menerus menangis, bahkan air danau yang ada ditepian tampak mendidih maka sudah bisa dipastikan seberapa panas api yang Naomi keluarkan dari tubuhnya itu.
“... Kakek... Kakeeek...” lirih Naomi dengan kedua tangan mengusap kedua matanya.
Beautifull Aurora IV
Pada siang harinya maka rapat 5 kerajaan dilakukan diaula kerajaan Stor.  Rapat ini diikuti 4 Raja lain beserta para pihak militer dan kerajaan masing-masing, sedangkan dari pihak kerajaan Stor diikuti oleh Ibu Naomi dan para penasehat.  Suasana diaula begitu ramai karena masing-masing 4 kerajaan juga menghadiri rapat ini karena ini menyangkut keamanan kerajaan mereka masing-masing.
“... Maafkan kami ya, Naomi...” bibi Naomi mengelus kepala keponakannya tersebut.
Itu dikarenakan jarak duduk Naomi sangat jauh dari anggota keluarganya untuk mengantisipasi apabila Naomi tanpa sengaja mengeluarkan apinya lagi.  Tapi Naomi tidak sendirian, disebelahnya ada Melody setelah menaruh kursinya disitu.
“... Kenapa kau kesini...?” tanya Naomi lemah.
“Hanya aku satu-satunya yang bisa memadamkan apimu dengan airku, untuk jaga-jaga saja dan anggap saja aku tidak ingin membiarkanmu duduk disini sendirian...”
“... Hmm,” Naomi tersenyum tipis, “... Api yang menyebalkan, gara-gara ini aku harus diperhatikan olehmu.”
“Itu takdirmu, dan ini atas kesepakatan kami berdua,” balas Melody cuek.
“Kami?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Suamiku,” jawab Melody sambil menopang kepalanya dengan tangan.
“Heh,” Naomi mendesih, “Aku merasa menjadi anak kalian saja dikhawatirkan seperti ini.”
“Kalau kau tidak mau maka kau harus belajar mengendalikannya, apa kau mau aku terus-terusan berada disini untuk memadamkan apimu itu?”
“Berada 1 tempat denganmu seperti penyiksaan bagiku.”
“Hmm begitu juga yang kurasakan,” Melody tersenyum tipis.
Percakapan mereka berhenti sejenak karena ada beberapa orang berjalan melewati mereka dan mencari tempat duduk, dan beberapa peserta rapat mulai berdatangan walau tidak semuanya.
“... Kenapa kakekku memberikan kekuatannya ini padaku...” Naomi menatap kedua tangannya dengan pandangan sayu.
“Kurasa dia tidak memberikannya.”
Naomi menyeringitkan dahi dan memandang Melody, “Maksudmu?”
“Aku dan suamiku merasakannya...”
“Merasakan apa?”
“... Sewaktu kakekmu bertingkah seolah ingin memberikan kekuatannya... kami merasakan tubuhmu mengeluarkan energi api...,” Melody kemudian memandang Naomi, “Jadi aku rasa... kau sudah lama menjadi ‘Keturunan’ Sentry api, dari kau lahir.”
“Apa?!” Naomi tertegun, matanya membulat karena tak menyangka, “Tapi dari kecil aku tak pernah seperti kakek! M-maksudku mengeluarkan api seperti ini!”
“Itu berarti kakekmu menyimpan kekuatanmu dari kecil, itu bukan hal yang sulit apalagi kalian sesama ‘Keturunan’ sentry api.  Aku pernah membaca catatan kuno diperpustakaan kerajaanku kalau ada ‘Keturunan’ Sentry yang bisa menyimpan kekuatan ‘Kekuatan’ Sentry lainnya, asalkan kekuatannya itu sama.”
“... Apa benar?” Naomi mencoba memastikan.
“Ya,” Melody mengangguk, “Walau dicatatan itu kasusnya untuk ‘Keturunan’ Sentry air.”
“... Kalau itu benar... kenapa kakekku menyimpannya...”
“Kurasa ingin melindungimu atau semacamnya, yah mungkin untuk melindungimu.  Terlebih lagi ‘Keturunan’ sentry seperti kita berdua ini dulunya dianggap legenda, bahkan dijaman dulu pernah diburu karena dianggap penyihir.”
Naomi terdiam dan terus menatap kedua telapak tangannya.  Senyum tipisnya tercipta dan sudah merindukan sosok kakeknya tersebut. Tapi Naomi terkejut melihat bayangan air yang berada didepan matanya.
“Aku merasakan energi api menguat dibadanmu,” Melody memiringkan bibir, “Tenangkan pikiran dan hatimu.”
Naomi hanya bisa diam menatap bulatan air dihadapannya tersebut, ia mendelikan matanya kekiri dan melihat Melody cuek menatap kedepan dengan kepalanya yang ditopang. Tingkah Melody itu seperti ingin mengatakan kalau mengendalikan gumpalan air ini tidaklah begitu sulit baginya.
“Hmm, energi api mu menurun, baguslah,” kata Melody.
Gumpalan air itu kemudian memasuki botol-botol air yang berada disamping kursi tempat Melody berada, dan wanita ini memang benar-benar mengantisipasi hal ini apabila Naomi hendak mengeluarkan api ditubuhnya lagi.
“... Sejak kapan kau tahu kalau kau ini adalah ‘Keturunan’ sentry air?” tanya Naomi.
“Saat aku berumur 8 tahun,” Melody lalu duduk bersandar, “Dipulau pribadi milik kerajaanku.”
“Bagaimana?”
“Kau tahu aku tak pandai berenang, aku waktu itu nekat memakai perahu untuk menyusuri pantai untuk sekedar hiburan... hanya saja aku tak sadar aku berada jauh dari pantai dan sudah berada jauh ditengah-tengah lautan. Aku panik karena tidak ada satupun pihak kerajaan tahu aku ada disitu. Aku mencoba mendayung tapi aku juga tak sadar kalau dayungku itu sudah hanyut sedari tadi...”
“Terus?”
“Ya aku nangis, seperti hal nya anak kecil yang kalut karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku menangis dan berusaha mendayung dengan kedua tanganku... tapi ada gelombang besar yang melahapku sehingga aku dan perahuku terbalik. Yah, aku tenggelam,” Melody menaikan kedua bahunya.
“Lalu?” Naomi meminta Melody melanjutkan.
“Ya begitu, aku tenggelam, aku berusaha melakukan gaya renang yang kutahu tapi rasanya nihil karena aku memang tidak pandai berenang. Ditengah kekalutan itu tiba-tiba aku menyadari sesuatu, itu kusadari disaat aku sudah berada didasar lautan,” Melody tersenyum tipis.
“Apa?”
“... Aku bisa bernafas, seperti halnya bernafas didaratan.  Aku benar-benar bingung waktu itu, lalu aku berjalan didasar lautan itu dan terus berjalan sampai akhirnya aku berjalan sampai ditepi pantai kembali.”
“Begitu...” Naomi menundukan sedikit kepalanya.
“Ya pokoknya semenjak itu aku berusaha mencari penyebabnya dan aku tidak mungkin memberitahu ayahku mau pun pihak kerajaan lain karena kalau tidak, aku tidak akan diperbolehkan lagi keluar dari kerajaan.  Aku waktu itu belum tahu betul kalau aku ini ‘Keturunan’ sentry air.”
“Lalu bagaimana ceritanya kalau kau tahu kalau kau ‘Keturunan’ Sentry air?”
“Ini sewaktu aku berjalan-jalan ditengah kota, ada seorang kakek yang selalu bercerita mengenai cerita-cerita jaman dulu kepada anak-anak disitu. Dan yang diceritakannya adalah tentang ‘Keturunan’ sentry air.  Kakek itu pandai sekali bercerita dan benar-benar menghibur, dan setiap dia selesai bercerita selalu ada sesi tanya jawab dan aku pun bertanya kepadanya mengenai apakah ‘Keturunan’ sentry air bisa bernafas didalam air.”
“Terus jawabannya?”
“Dia bilang ya. Aku lantas kaget dan aku terus bertanya detail-detail tentang keturunan sentry air seperti apa-apa saja ciri-cirinya.  Tapi sepertinya wawasan dia terbatas tentang ‘Keturunan’ sentry air, jadi dia tidak bisa menjawab pertanyaanku, aku pun berusaha mencarinya sendiri lewat catatan kuno diperpustakaan kerajaanku.”
“Lalu apa yang kau temukan?”
“Banyak, salah satunya cara mengendalikannya. Untuk mengendalikan air harus diselaraskan dengan pikiran dan perasaan, seperti ini.”
Melody kemudian mengangkat 1 jarinya dan air didalam botol keluar membentuk batangan air kecil.
“... Kenapa harus pikiran dan perasaan?”
“Karena 2 hal itu adalah gabungan yang sesuai dengan energi air yang sifatnya penurut, aku bahkan bisa mengubah air ini menjadi bentuk yang sesuai dengan yang aku pikirkan,” Melody menatap batangan airnya dan tiba-tiba saja air itu beriak-riak dan mengubah dirinya menjadi setangkai bunga berbentuk air.
“... Begitu...” Naomi tampak takjub melihat bunga air yang dibuat Melody.
“Yah begitulah,” air itu kemudian masuk lagi kedalam botol air.
“Jadi sedari kecil kau sudah melatihnya?”
“Ya, dikamarku dan dipergoki pengawalku sendiri, yaitu Saktia. Jadi hanya dia satu-satunya yang tahu kalau aku adalah ‘Keturunan’ sentry air pada waktu itu.”
“Lalu soal level 2 mu itu?”
“Itu terjadi begitu saja... aku kepantai pribadi itu lagi dan aku ingin mencoba mengendalikan air dengan skala besar, jadi aku terus berlatih disitu sampai akhirnya aku bisa mengendalikan air dalam jumlah banyak, bahkan bisa membuat kendaraan air untukku sendiri.  Tapi gara-gara aku juga pantai dipulau itu terkikis.”
“Kenapa?”
“... Aku mendorong air pantai itu sehingga air pantai surut secara drastis... aku melepaskan kekuatanku sejenak untuk beristirahat dan tiba-tiba saja air itu kembali dengan cepat... bisa dibilang aku menyebabkan tsunami kecil dipulau itu...”
“Hmm,” Naomi memiringkan bibir, “Perusak alam.”
“Yang penting gak ada korban jiwa,” Melody juga memiringkan bibir.
“Lalu...” Naomi kembali memandang kedua telapak tangannya, “... Bagaimana cara mengendalikan api ini...”
“Yang pertama adalah kau harus menerima takdirmu itu.”
“Maksudnya?”
“Kau harus mengakui dirimu sendiri kalau kau adalah ‘Keturunan’ sentry api, dan sekarang kutanya apa kau menerima takdirmu sekarang ini?”
Naomi terdiam mendapat pertanyaan itu, ia pun menunduk lesu dan menjawab, “...Aku tak tahu....”
“Sulit menerimanya bukan, apalagi kau mendadak menerima kekuatan itu meskipun sudah lama kau memilikiknya. Bisa dibilang ini salah kakekmu juga karena seharusnya dari dulu kau diberitahu dan diajari cara untuk mengendalikannya.”
“Jangan salahkan kakekku!” Naomi melotot.
Tiba-tiba gumpalan air dikeluarkan Melody dan berhenti didepan Naomi karena Melody merasakan energi api ditubuh Naomi sedikit meningkat.
“Itu salah satu alasan kau tidak bisa mengendalikannya, emosi berpengaruh dalam pengendalian level 1.”
“... Emosi...” gumam Naomi, matanya terus memandang gumpalan air.
“Ya, disetiap pengendalian emosi itu berpengaruh... apa kau lupa kalau aku pernah bernafsu untuk membunuh suamiku sendiri, dan aku mendengar dari mahluk kakekmu itu kalau aku tidak akan bisa mencapai level 3 kalau menuruti emosiku. Jadi kurasa emosi itu berpengaruh.”
“... Jadi begitu...” Naomi kembali menunduk.
“... Itu juga terjadi pada Noid.”
“Noid?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Ya, dia termakan emosinya ditambah nafsu membunuhnya... petirnya berubah menjadi warna merah dan itu adalah level terlarang, begitulah menurut mahluk itu.”
“Benarkah?”
“Ya, kurasa untuk mencapai level 3 sangat sulit.”
“Tidak bukan itu, benarkah ada level terlarang dalam kekuatan ini?”
“Kurasa iya, bukankah Sinka dulu pernah bilang kalau ia melihat petir merah dari Noid, aku juga melihatnya.  Noid benar-benar dimakan emosi dan nafsu membunuhnya. Bahkan kata mahluk itu kakekmu juga pernah mengalaminya saat hendak mencapai level 3, kurasa untuk mencapai level 3 ada ujian tersendiri.”
Setelah berkata seperti itu maka Melody memasukan gumpalan air itu kedalam botol, Naomi terdiam menerima sedikit fakta para ‘Keturunan’ yang didengarnya. Ia kemudian bertanya.
“Apa yang paling utama untuk mengendalikan kekuatan ini?”
“Energi,” jawab Melody, “Itu yang paling utama.”
“Apa energi bisa habis?”
“Tentu saja bisa, dan harus mengumpulkannya terlebih dahulu.  Untuk kekuatanku aku cukup membasahi diriku dengan air, karena itu energiku tak pernah habis. Karena aku rajin mandi.”
“Selain itu?”
“Batu Sentry, itu yang paling utama.”
“... Dan seberapa banyak energi yang dikeluarkan sewaktu mengendalikan kekuatan?”
“Tergantung kekuatannya dikeluarkan sebanyak apa... dan bukan energi yang sedikit untuk mengeluarkan kekuatan di-level 2, apalagi level 3 dan seterusnya...”
“Lalu energi orang yang membunuh kakekku itu bagaimana? Bukankah kekuatan dia bermacam-macam?” tanya Naomi.
“Itulah yang menjadi misteri sampai sekarang... itu sangat mustahil membagi energi untuk bermacam-macam kekuatan. Kalau pun itu tidak mustahil, ruang energi dia berarti sangat besar... dan kurasa itu memang sudah dikuasainya terlebih lagi, umurnya 900 tahun lebih, dia pasti sudah mencari cara melakukannya selama ini.”
“900 tahun?!” Naomi terbelalak matanya.
“Ya, kata mahluk kakekmu tersebut,” Melody melipat tangan dan mengangguk.
“S-Selama itu... Huma macam apa yang memiliki umur sepanjang itu... siapa dia?”
“Kurasa sebentar lagi kita akan mengetahuinya,” Melody menadahkan kepalanya kedepan.
Naomi menoleh kedepan dan melihat semua peserta rapat sudah menduduki tempat duduk mereka masing-masing.  Terlebih lagi Noid berdiri ditengah-tengahnya, Noid kemudian disuruh duduk dan Noid merasa seperti sedang disidang. Karena meja rapat ini bentuknya bundar dengan bagian tengah kosong yang ia tempati.
“HAAAUUUNNNGGG!!!”
Semua orang terkejut terkejut melihat serigala besar turun dari atas, akan tetapi bentuk tubuh serigala itu kemudian mengecil dengan sendirinya dan mendarat tepat dikepala Noid.
“Sepertinya dia ingin menemaniku,” kata Noid sambil menepuk kepala Remo yang hinggap dikepalanya, anak serigala itu pun tampak senang dengan lidah yang terus menjulur.
“O-oh... baiklah, kalau begitu kita mulai saja rapatnya,” ulas penasehat kerajaan Stor yang berdiri disamping ibu Sinka dimeja rapat.
Dalam rapat itu diawali dengan tradisi sumpah kerajaan masing-masing, ibarat seperti doa sebelum melakukan sesuatu. Setelah tradisi itu selesai maka rapat dimulai, diawali oleh pihak kerajaan Laks.
“Seperti yang kita tahu semua kalau rapat ini diadakan untuk menghadapi ancaman yang sangat berbahaya. Tidak hanya melibatkan 5 kerajaan, tapi juga seluruh planet Ribu.  Sebuah ancaman yang dilontarkan oleh orang yang membunuh Raja Stor, orang yang hendak membangkitkan mahluk yang bersemayam diplanet kita ini.”
Mendengar itu saja sudah membuat orang-orang yang ada disitu kasak-kusuk.  Seperti halnya ‘Keturunan’ sentry, Blighter juga dianggap legenda. Tapi karena keberadaan ‘Keturunan’ sentry sudah terkuak maka Blighter bisa dibilang bukanlah sebuah omong kosong belaka.
“Tapi bukankah Blighter menurut kitab akan keluar disaat kiamat nanti?” sebuah pertanyaan dari pihak kerajaan Enila.
“Ya, dan apa pria itu mampu mengeluarkan mahluk tersebut? Meskipun kita semua sudah mengetahui kalau pria itu memiliki lebih dari 1 kekuatan ‘Keturunan’ sentry, mungkin saja itu ancaman kosong belaka,” sambung pihak kerajaan Bira.
“Mampu atau tidak mampu yang jelas pria itu benar-benar ancaman berat. Tidak ada dalam sejarah manapun kalau ‘Keturunan’ sentry memiliki kekuatan sentry lainnya. Ini kasus pertama dalam sejarah, ini sudah diselidiki tetua dikerajaan saya. Benar-benar tidak ada ‘Keturunan’ sentry seperti itu selama ini,” sambung Raja Laks.
“Dan sebagai pengingat, itu pun kalau kalian mempercayai kitab. Kalian tentu tahu apa maksud batu Sentry itu berada diplanet ini bukan?” tanya pihak kerajaan Siva.
“Ya, sebagai segel untuk Blighter didalam inti planet,” jawab pihak kerajaan Bira.
“Lalu kenapa?” tanya pihak kerajaan Enila.
“Saya hanya berpikir, kenapa orang itu memburu para ‘Keturunan’ lain... emm yang saya dengan mencapai level 4.  Dan pikirkan apabila dia menguasai semuanya, menguasai 6 kekuatan di-level yang maksimal, dan ini hanya asumsi pihak kerajaan kami saja...”
“Apa?” sambung dari pihak kerajaan Laks.
“Kita semua tahu kalau batu sentry itu sangat berat dan keras bukan main, tidak bisa dihancurkan bahkan oleh senjata canggih apapun dan tidak bisa digeser, karena itulah batu itu dihargai sangat mahal oleh pasar gelap.  Kami beramsumsi kalau batu itu mungkin hanya bisa dihancurkan dengan kekuatan ‘Keturunan’ sentry dan...”
“Itu bukan asumsi!”
Semua orang-orang menoleh kearah suara dan melihat Melody mengangkat tangannya.
“Kenapa, Mel?” tanya Raja Laks, yaitu ayahnya Melody.
“Ayah ingat kenapa ayah memperketat keamanan batu itu bukan. Sampai memagarinya dengan pagar listrik?”
Mendengar pertanyaan putrinya itu membuat mata raja Laks terbelalak, “Oh iya! Posisinya bergeser sedikit!”
“Itu aku yang tak sengaja melakukannya dengan air ku,” kata Melody.
“Benarkah itu?”
“Ya dan juga dari jarak yang jauh. Dan aku tak menyangka kekuatanku bisa membuat batu itu bergeming dari tempatnya, dan aku menggunakan kekuatan level 2 ku.  Jadi kalau level 2 saja sudah bisa membuatnya bergeser, bagaimana dengan level berikutnya bukan?”
Mendengar penjelasan Melody barusan membuat suasana rapat kembali menjadi hiruk pikuk.  Tak lama kemudian pihak kerajaan Siva mulai melanjutkan hipotesa pihak kerajaannya.
“Jadi itulah yang ditakutkan.  Mungkin orang itu mengumpulkan semua kekuatan untuk menghancurkan batu tersebut, dan apabila batu itu semuanya hancur maka kita semua sudah tahu kalau segel untuk Bligther melemah. Dan kalau mahluk itu keluar maka... kiamat yang disebutkan dalam kitab mungkin akan terjadi, atau bisa dibilang itulah kiamat untuk planet ini.”
Semua kembali kasak-kusuk, karena penjelasan pihak kerajaan Siva itu ada benarnya. Menurut kitab, batu itu diisi energinya oleh para Sentry atas perintah The Supreme Being agar menjadi kekuatan penyegel untuk menyegel Blighter didalam planet Ribu.  Dan bangkitnya Blighter merupakan tanda kiamat untuk planet yang mereka tempati.
 “Jadi karena itu Raja Stor meminta kita untuk mengumpulkan para ‘Keturunan’ sentry, mungkin untuk menjaga batu-batu tersebut lebih ketat atau pun untuk mencegah orang tersebut melakukan apa yang diinginkannya,” kata pihak kerajaan Stor.
“Dan orang itu hendak melakukan apa yang diramalkan dikitab dengan membangkitkan Blighter... ini bisa menjadi ancaman serius,” sambung pihak kerajaan Laks.
“Ya jadi dengan ini prioritas utama kita adalah mencari ‘Keturunan’ sentry yang bersedia melindungi batu-batu tersebut. Itu menjadi agenda pertama kita dalam rapat ini,” ujar pihak kerajaan Siva.
Semua perwakilan rapat mulai mencatat apa yang harus pertama mereka lakukan yaitu mencari para ‘Keturunan’ sentry.
“Sepertinya kami harus mencari lagi keberadaan ‘Keturunan’ sentry air,” gumam Raja Laks.
“Kenapa?” tanya pihak kerajaan Bira mewakili yang lain.
“Putri saya ingin melakukan perjalanan dengan suaminya, untuk mencari cara meningkatkan kekuatan mereka.”
“Benarkah itu?” tanya Noami.
“... Ya...” Melody mengangguk.
“Kurasa pihak kerajaan kami tidak perlu mencarinya lagi, seperti yang sudah diketahui kalau tuan putri Naomi sekarang adalah ‘Keturunan’ sentry api, dan tuan putri tentu saja bersedia bukan?” tanya pihak kerajaan Stor terhadap putri kerajaannya.
Naomi tidak menjawab karena dirinya tidak yakin, apalagi ia belum bisa mengendalikan kekuatan apinya.  Dan diamnya Naomi itu malah dianggap ‘Iya’ bagi pihak kerajaan Stor, maka mereka melanjutkan rapatnya.
“Oke agenda pertama sudah kita dapatkan, sekarang yang kedua,” pihak kerajaan Siva kemudian memandang Noid dan memanggilnya, “Tuan Noid.”
“Noid saja, jangan pake tuan segala,” sanggah Noid.
“Tidak bisa, karena bagaimanapun juga anda adalah suami dari tuan putri kerajaan Laks.”
“Errr begitu ya,” Noid pasrah dan Remo terkekeh ala anak serigala dikepalanya.
“Tuan Noid, kami mendengar dari tuan putri Melody kalau pria itu dulunya adalah ‘Keturunan’ sentry petir... dan kenapa kau bisa menjadi ‘Keturunan’ sentry petir?  Karena menurut catatan kuno dikerajaan kami menyebutkan ‘Keturunan’ sentry petir akan ada apabila ‘Keturunan’ sentry petir sebelumnya meninggal.  Akan tetapi pria itu masih hidup dan tentu saja tidak akan ada penerusnya karena ‘Keturunan’ sentry petir itu jumlahnya hanya 1 saja dalam masa periodenya,” kata pihak kerajaan Siva.
“Terlebih lagi anda mengenal dia bukan? Sewaktu penyerangan dikerajaan Laks, saya juga ada disitu,” sambung Raja Bira.
“... Ya aku mengenalnya...” Noid mengangguk.
“Dan apa benar umurnya itu 900 tahun?” sambung Raja Laks.
“... Aku tidak mengetahui hal tersebut, tapi mungkin bisa jadi... dia pernah mendengar cerita kalau dia meminum air abadi... air yang sangat-sangat langka yang bisa diciptakan oleh ‘Keturunan’ sentry air...”
“Lalu bagaimana anda bisa mengenalnya? Dan ceritakan kepada kami bagaimana anda bisa menjadi ‘Keturunan’ sentry petir selama pendahulunya saja masih hidup seperti itu.”
Noid terdiam menerima pertanyaan itu, dia hanya bisa termenung dan menutup matanya.  Sementara itu Melody terlihat cemas karena dia tahu Noid pasti kebingungan untuk menceritakan masa lalunya yang tidak ingin diketahui orang lain.
“Boleh saya duduk?” pinta Noid.
“Tolong ambilkan kursi,” suruh penasihat kerajaan Stor kepada pengawal kerajaan mereka.
Kursi pun disediakan, akan tetapi Noid masih berdiri.  Tak lama kemudian rombongang pasukan Venom memasuki ruangan karena mereka juga ingin tahu ancaman yang ada dari orang yang membunuh Raja mereka.
“Kenapa si Brengksek itu diam saja?” Beny tampak kesal melihat Noid dikejauhan.
“Apa kita harus memberitahu mereka dulu?” tanya Bayu.
“Jangan, lebih baik menunggu rapat ini selesai,” cegah Beny.
Entah apa yang mau disampaikan oleh Bayu kepada orang-orang akan tetapi ia menurut saja dengan perintah komandannya.  Sementara itu Naomi juga berbicara dengan Melody.
“Apa kau tahu masa lalunya?”
“Tidak semuanya... hanya saja... aku tahu alasannya kenapa dia begitu ingin membunuh orang itu...”
“Apa alasannya?”
“Biarkan dia sendiri yang menjawab...”
Naomi kembali memandang Noid yang masih berdiam diri  dengan mata tertutup sampai akhirnya pihak kerajaan Enila berbicara.
“Tuan Noid, jangan membuang-buang wak...”
Belum selesai pihak kerajaan berbicara tiba-tiba tubuh Noid mengeluarkan percikan listrik biru disekujur tubuhnya, itu adalah level 2 kekuatannya bisa terlihat dari rambutnya yang berwarna perak seutuhnya.
“Oh...” Noid membuka mata, “Maaf, sepertinya ini tak sengaja kulakukan...”
Setelah berkata seperti itu maka aliran listrik itu menghilang dari tubuhnya, ia kemudian duduk dengan Remo yang masih hinggap dikepalanya. Noid meraih Remo dan membaringkan anak serigala itu dipangkuannya, ia pun menggelitiki perut Remo sehingga Remo kegelian dan terkekeh ala anak serigala. Noid tersenyum tipis melihat tingkah anak serigala yang kegelian dipangkuannya tersebut.
“... Kamu kenapa?” Naomi menyeringitkan dahi memandang Melody yang melotot.
“... Kurasa tadi dia marah besar... ia langsung mengeluarkan level 2 nya tanpa melalui fase level 1... sepertinya tadi dia mengingat apa yang membuat ia marah terhadap orang itu....”
“Benarkah?”
“Ya,” Melody mengangguk.
Mereka berdua kembali memandang Noid yang asyik menggelitiki Remo, sampai akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
“Sebelum saya berbicara, saya ingin memberitahukan sesuatu...” kata Noid sambil melihat rombongan keluarga Siva dan tersenyum.
“Apa?” tanya pihak kerajaan Siva mewakili orang-orang peserta rapat.
Noid menunjuk seseorang dari pihak kerajaan Siva dan berkata, “Dia ‘Keturunan’ sentry angin.”
Semua orang lantas terkejut dan menoleh kearah orang yang ditunjuk.  Orang yang ditunjuk Noid adalah seorang pemuda yang datar wajahnya karena dilihat orang sebanyak ini. Noid menurunkan tangannya dan melanjutkan menggelitiki badan Remo.
“Kalau tidak percaya,” Noid kemudian menoleh kearah istrinya, “Melody, gunakan level 2 mu untuk melacak auranya.”
Melody yang mendapat permintaan tersebut tertegun, Naomi yang penasaran kemudian bertanya.
“Kenapa harus level 2?”
“... Untuk mendeteksi aura hanya bisa dilakukan kalau sudah bisa mencapai level 2,” kata Melody seadanya.
Melody kemudian berdiri dan memusatkan energi untuk mencapai level 2. Dan disaat ia mencapat level 2 ia merasakan aura yang diselingi sedikit tiupan angin, ia mencari sumbernya dan menoleh kearah pemuda yang ditunjuk Noid sebelumnya.
“... Suamiku benar... dia ‘Keturunan’ sentry angin...” ulas Melody.
Semua orang kembali memandang pemuda tersebut yang sudah gegalapan, dan pemuda itu hanyalah pelayan biasa untuk kerajaan Siva. Pihak kerajaan Siva pun memanggilnya untuk menghampiri meja rapat.
“Siapa namamu?” tanya Raja Siva.
“A-Aku... Namaku, namaku...” pemuda berumur 20 tahunan ini tampak canggung sambil menggaruk-garuk kepala.
“Jangan takut, kami tidak akan menghukummu bukan?”
“M-Maaf baginda, hamba merasa canggung... nama hamba D-Dimas...”
“Dimas?”
“I-Iya yang mulia,” Dimas mengangguk malu.
“Begitu, dan apa benar kau ini ‘Keturunan’ sentry angin?”
“I-Itu...” Dimas tampak ragu-ragu mengakuinya.
“Hei!” seru Noid tiba-tiba
Semua orang menoleh dan melihat Noid tanpa ampun sama sekali melempar Remo kearah Raja Siva. Anak serigala itu pucat dan kelabakan bukan main dilempar tiba-tiba oleh Noid.  Akan tetapi sebelum Remo mengenai Raja Siva tiba-tiba saja Remo berhenti dan melayang diudara.
“Nah,” Noid tersenyum dan duduk kembali, “Perlu dipancing dulu rupanya.”
Semua orang menoleh kearah Dimas yang merentangkan tangan kanannya, dan Raja Siva merasakan angin yang berhembus kearah Remo seolah-olah anak serigala itu melayang berkat angin yang dikendalikannya.
“Waah,” Raja Siva tersenyum, “Jadi benar kau ini ‘Keturunan’ Sentry angin?”
“M-Maafkan aku yang mulia,” kata Dimas sambil menundukan kepalanya.
“Aku juga minta maaf dengan perbuatanku tadi,” Noid menundukan kepala kepada Raja Siva, habis itu ia duduk kembali, “Dan kalau bisa tolong lempar anak serigala itu kemari,” pinta Noid.
“I-Iya,” Dimas menyanggupi.
Dengan kekuatan anginnya maka Dimas melempar Remo kearah Noid yang sudah menyambutnya dengan tangan melentang penuh suka cita.
“Halo Remo!” seru Noid dengan senyum mengembang.
“GROAAAAR!!!” dan Remo tiba-tiba berubah menjadi serigala besar.
Noid pun ditubruk Remo dalam mode serigala dewasanya, digigitnya baju Noid dan dilemparkannya keudara. Disaat Noid hendak mendarat tiba-tiba Remo melompat dan menggigit bajunya lagi habis itu dilemparkannya lagi keudara. Seolah-olah Remo hendak membalas dendam atas perbuatan Noid sebelumnya. Dan Remo bisa berubah menjadi serigala dewasa karena tadi Noid tak sengaja menyebutkan namanya.
“WUAAAAA!!!!!!” Suara teriakan Noid yang kalap akibat dilempar-lempar Remo sedikit menjadi hiburan bagi rapat yang suasananya serius tadi.
“Hadeeeeh!” Melody menutup wajah dengan tangan melihat tingkah konyol suaminya tersebut.
“Untung saja dia menjadi suamimu, bukan suamiku,” kata Naomi cuek sambil menopang kepala dengan tangan.
Setelah puas membuat Noid compang-camping dan mabuk udara maka Remo lebih memilih menghampiri Sinka dengan mode anak serigalanya dan meninggalkan Noid yang terpelungkup dikursi. Raja Siva kemudian berbicara kepada Dimas.
“Kenapa kau tidak memberitahu kami? Kau sudah tahu bukan kalau kerajaan kita mencari orang sepertimu?”
“Maaf baginda, bukannya tidak mau... tapi kekuatan hamba ini lemah... bisa dibilang hamba ini masih berada di-level 1.”
“Benarkah?”
“Ya, dia masih di-level 1. Bisa dirasakan dari aura-nya,” tambah Melody.
“Karena itu hamba merasa hamba ini tidak berguna, jadi hamba memilih diam saja...” kata Dimas sambil menundukan kepalanya kearah Raja Siva.
“Apa selain kamu, ada ‘Keturunan’ sentry lain dikerajaan kita?” tanya penasehat kerajaan Siva.
“Kalau itu... sebenarnya ada. Tapi dia tidak berada dilingkungan kerajaan, dia ada dikota Merro dinegara kita.”
“Siapa dia?”
“Namanya Pris, terlebih lagi ia juga ‘Keturunan’ sentry angin dan dia... sudah mencapai level 3.”
“Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini?”
“Maafkan aku... tapi Pris orang yang susah ditemui. Dia suka berpindah-pindah kota dengan kekuatan anginnya, terlebih lagi dia orangnya temperamental... saya takutnya dia akan menyebabkan masalah apabila dipanggil kerajaan...”
“Begitu... setemperamental apa dia?”
“Baginda pasti masih ingat badai angin topan yang menghanyutkan dan meluluh lantahkan kapal nelayan pencuri dinegara kita?”
“Jadi itu perbuatan dia?” Raja Siva terkejut.
“Ya,” Dimas mengangguk, “Tapi hamba mohon jangan beritahu dia kalau hamba yang memberitahu... hamba takut dihajar dia nanti!”
“Sepertinya kerajaan anda harus menambahkan agenda baru dalam kerajaan anda...” Noid berdiri dan duduk kembali dengan pakaian compang-camping, “Orang yang bernama Pris itu pasti akan membantu, dan kuharap dia mau ikut denganku untuk mencapai kekuatan level 4.”
“Kau berencana mengajaknya juga?” tanya Raja Laks.
“Ya,” Noid mengangguk, “Terlebih lagi katanya ia sudah berada di-level 3, tentu sangat membantu. Sekaligus mencari keberadaan ‘Keturunan’ sialan itu.”
“Sepertinya negara kerajaan Siva tujuan pertama kami nanti,” gumam Melody sambil melipat tangan.
Mendengar itu membuat Naomi terdiam, ia kembali memandang suasana rapat begitu juga yang lainnya.
“Bisa kita bicarakan nanti, kembalilah ketempat dudukmu,” perintah raja Siva.
“Baik,” Dimas mengangguk dan kembali ketempat duduknya.
Setelah itu semua hadirin kembali memandang Noid karena Noid masih belum menceritakan tentang Dion yang ia kenal.
“Kembali ke pokok pembicaraan, jadi saya ulangi bagaimana anda menjadi ‘Keturunan’ sentry petir dan bagaimana anda mengenal orang itu?” tanya pihak kerajaan Bira.
Noid lagi-lagi terdiam dan matanya tertuju kearah lantai, ia memajukan bagian pinggangnya kedepan dan menadahkan kepalanya keatas dengan kepala bagian belakang tertahan badan kursi.
“... Pria itu bernama Dion dan dia itu... dulunya adalah anak angkat kerajaan ditempatku berada...”
“Dion?”
“Ya,” Noid mengangguk pelan.
“Kerajaan mana?”
Noid menggelengkan kepalanya, “Kalian tidak akan mau tahu hal itu, yang pasti dia adalah anak angkat kerajaan ditempatku...”
“Dan anda siapa dikerajaan tersebut?” tanya pihak kerajaan Enila.
“... Aku...” Noid terdiam sejenak sampai akhirnya ia kembali berbicara, “Aku adalah anak haram dari Raja kerajaan tersebut...”
Mendengar hal itu membuat seluruh orang-orang kaget, terlebih lagi Naomi, ia pun menoleh kearah Melody.
“Benarkah itu?”
“Ya dia juga mengaku kepadaku tadi sebelumnya,” Melody tersenyum dan matanya terpancar rasa sedih memandang suaminya itu.
“Terus dia dari kerajaan mana?” lanjut Naomi.
Melody menggelengkan kepalanya, “Ia juga tidak mau memberitahukan hal itu kepadaku...”
Sementara itu pihak rapat masih melanjutkan pembicaraan mereka dengan Noid.
“Benarkah itu...”
“Ya...” Noid menoleh kearah Raja Laks, “Maaf anda mendapatkan menantu seorang anak haram, saya tahu itu pasti memalukan bagi kerajaan anda.”
“.... Kau kerajaan darimana? Tolong beritahu kami,” pinta Raja Laks.
Noid tersenyum dan kembali menoleh keatas, “Percuma kuberitahu... lagipula kerajaan itu sudah musnah, baik raja maupun seluruh penduduknya...”
“Maaf, kerajaan apa itu? Sepengetahuan kami tidak ada berita kerajaan seperti yang anda bilang.  Kerajaan kami bisa dibilang mengetahui kabar kerajaan-kerajaan lain diplanet ini... dan tidak ada satupun kerajaan yang musnah seperti yang anda bilang,” kata pihak kerajaan Bira.
“Apa anda mencoba berbohong?” tanya pihak kerajaan Enila.
“Tidak, aku tidak berbohong... Dan sudah kubilang kalian pasti tidak akan mau mengetahui hal ini karena ini diluar nalar logika kalian... dan tentu saja kabar kerajaan yang musnah itu tak terdengar karena kejadiannya bukan baru-baru ini atau pun puluhan tahun yang lalu...”
“Apa maksud anda? Mohon diperjelas karena rapat ini sangat penting untuk semuanya!” seru pihak kerajaan Bira.
“Ya, beritahukan kepada kami. Apa itu sangat memalukan bagi anda?” lanjut pihak kerajaan Enila.
“Memberitahu kalau aku ini adalah anak haram sudah menjadi hal yang memalukan bagiku,” Noid tersenyum.
“Noid,” panggil Raja Laks.
“Ya?” Noid menoleh.
“Tolong beritahu kami... setidaknya kau sudah menjadi anggota keluarga kami dan kami tentu saja harus tahu asal-usulmu... soal anak haram itu kami tidak memikirkannya, karena meskipun kau anak haram kau adalah adalah pewaris dari kerajaan itu karena kau adalah anak Raja...”
“Hmmm,” Noid menunduk, ia kemudian menoleh kearah kiri untuk melihat Melody, “... Apa kau juga mau mengetahuinya?”
Mendengar pertanyaan itu membuat Melody mengangguk dan tersenyum, karena ini bisa dibilang kesempatan untuk mengetahui masa lalu suaminya tersebut.
“Tapi aku tetap tidak akan memberitahu nama asliku,” Noid kemudian menoleh kearah lain, “Bagaimana?”
“Jadi Noid bukan nama aslimu?” tanya Raja Bira.
“Bukan. Noid itu adalah kebalikan dari nama pria itu, aku sengaja memakai namanya dan membalikan namanya untuk identitasku sekarang, identitasku yang baru dan sebagai pengingat apa tujuanku kembali kedunia ini...”
Semua orang menyeringitkan dahi mendengar penuturan Noid barusan, apalagi dibagian ‘Kembali kedunia ini’, pihak kerajaan Enila kemudian berbicara mewakili orang-orang lain.
“Apa maksudmu?”
“Kerajaan itu...” Noid duduk seperti semula dan melanjutkan pembicaraannya, “... Bernama kerajaan Bliss.”
“Bliss?”
“Ya,” Noid mengangguk.
“Bliss... T-Tunggu-tunggu,” pihak kerajaan Siva kemudian mengeluarkan Bayt, sebuah komputer berbentuk tipis seperti tablet yang ada di-Bumi. Ia mencari informasi tentang kerajaan Bliss dipencarian sampai akhirnya mata ia terbelalak dan memandang Noid.
“B-Benarkah kau dari kerajaan Bliss?” tanyanya ragu-ragu.
“Ya,” Noid mengangguk.
“T-Tapi... ini tidak mungkin...”
“Kerajaan itu sudah musnah bukan?” tanya Noid.
“Iya... tapi...”
“Tapi apa?” tanya Raja Laks.
Semua orang begitu penasaran melihat pihak kerajaan Siva tersebut, sampai akhirnya ia bertanya kepada Noid.
“...Berapa umurmu?”
“Hmm,” Noid tersenyum dan kembali duduk bersandar, “Sudah kubilang, akan sulit diterima kalian bukan?”
“Apa maksudnya?” tanya pihak kerajaan Stor mewakili yang lain.
Semua orang kembali memandang pihak kerajaan Siva tersebut, semua orang pun menanyakan maksud pertanyaan tadi yang membawa rasa penasaran bagi mereka. Terutama Melody, Naomi, Sinka dan juga Frieska.
“... Kenapa dia menanyakan umur ya?” tanya Frieska kepada ibunya.
“Entahlah,” ibunya menggelengkan kepala.
“Paman, kerajaaan Bliss itu dimana?” tanya Sinka kepada pamannya.
“Paman juga tidak tahu.”
Ditempat Naomi dan Melody juga melakukan perbincangan yang sama.
“Apa kau tahu tentang kerajaan Bliss?” tanya Naomi.
“Aku juga baru pertama kali ini mendengarnya...” Melody kebingungan setengah mati dan tak mengerti kenapa pihak kerajaan Siva menanyakan umur Noid padahal dari wajahnya sudah jelas kalau pria ini berumur 25 tahun atau lebih.
Pihak kerajaan Siva masih tak percaya dan membaca sejarah kerajaan yang disebutkan Noid barusan, bahkan Raja Siva sendiri kaget melihat info yang diberikan menteri kerajaannya itu dengan Bayt-nya.
“Hei cepat jelaskan?!” Raja Bira tampak tak sabar.
Raja Siva kemudian memandang Noid dengan mata terbelalak, tak lama ia pun berbicara, “U-Umurmu.... lebih dari 300 tahun?”
“APA?!!”
Betapa terkejutnya orang-orang yang ada disitu, terlebih lagi Melody. Ia membelalakan matanya memandang suaminya tersebut.
“A-Apa? Apa maksudnya?” tanya Raja Laks kepada Raja Siva.
Menteri kerajaan Siva pun menggantikan sang Raja untuk menjawab pertanyaannya.
“Kerajaan Bliss... sudah musnah 320 tahun yang lalu...”
Rasa terkejut lagi-lagi menyerang orang-orang yang ada disitu, mereka tentu saja tidak percaya mendengar hal itu karena dirasa Noid tidak memiliki keperawakan pria berumur 300 tahun lebih, bahkan tubuhnya itu seperti tubuh pemuda biasa, tidak tua.
“Noid... apa benar kau dari kerajaan itu?”
“Ya,” Noid mengangguk, “Dan yang kulihat sekarang kerajaan itu sekarang digantikan kerajaan kecil lainnya.”
“Ya... Kerajaan Akser... jadi kerajaan Akser itu dulunya kerajaan Bliss?”
“Tidak, mungkin ada orang yang datang kepulau itu dan menjadikannya kerajaan,” Noid menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tunggu? Apa benar kau ini berumur 300 tahun lebih?” tanya pihak kerajaan Stor.
“Ya,” Noid mengangguk, “Secara teknisnya begitu, hanya saja yah... seperti yang kalian lihat. Dan seharusnya kalian tidak kaget dengan hal itu, karena ada orang yang berumur 900 tahun yang menjadi ancaman bukan?”
“Tapi dari penjelasanmu tadi orang itu meminum air abadi yang sangat langka diciptakan ‘Keturunan’ sentry air, itu masih kami maklumi.  Tapi bagaimana dengan dirimu? Apa kau juga meminum air abadi?”
“Tidak,” Noid menggeleng, “Aku tumbuh layaknya Huma biasa hanya saja aku berada didunia lain waktu itu...”
“Dunia lain?”
“Ya,” Noid mengangguk, “Lebih tepatnya dimensi lain, dimensi 2, sebuah dimensi yang diciptakan oleh The Supreme Being... sebuah tempat yang sama seperti dunia ini hanya saja berada didimensi lain...”
“D-Dunia seperti apa itu?”
“Dunia orang mati,” jawab Noid datar.
“Dunia orang mati?” Raja Bira menyeringitkan dahi.
“Ya, apa anda kira orang mati didunia ini benar-benar mati? Mereka ada didunia lain, dan aku berada didunia itu... sejak kemusnahan kerajaan ayahku... aku dilontarkan disana oleh ayahku yang lain... yaitu Sentry Petir atas izin The Supreme Being...”
“Jadi ada dunia khusus orang mati?”
“Tentu saja ada, dan aku tidak bisa memberitahu banyak soal itu karena aku dilarang memberitahukan kondisi yang ada didunia itu oleh Sentry Petir.  Tapi yang jelas aku masuk didunia itu saat berumur 13 tahun, umurku terus bertambah seiring bertambahnya tahun didunia itu hingga mencapai umur 25 tahun. Aku kemudian keluar dari dunia itu dan kembali kedunia ini... hanya saja dunia ini sudah memiliki kemajuan pesat... aku benar-benar kaget melihat perubahan diplanet ini...”
Semua lagi-lagi terdiam mendengar penuturan Noid, antara percaya dan tidak percaya akan tetapi Noid ini adalah ‘Keturunan’ sentry yang bisa dibilang kalau sentry-nya itu juga berasal dari dunia Gaib. Hal ini tentu saja membuat mereka yakin walau masih ada rasa penasaran dibenak mereka.
“... Kalau begitu bisa jelaskan kepada kami apa yang menyebabkan kerajaan itu musnah beserta penduduknya, lalu kau yang memasuki dunia orang mati selama 300 tahun ini, lalu cerita tentang Dion dan juga ceritamu yang bisa menjadi ‘Keturunan’ sentry petir.”
“... Bagaimana kalau anda mempertanyakannya satu per satu, jadi aku dengan mudah menjawabnya,” pinta Noid.
Terjadi kasak-kusuk diantara dewan rapat, dan mereka memutuskan pihak kerajaan Siva bertanya untuk mewakili yang lain.
“Jadi kau adalah anak haram dari Raja kerajaan Bliss yang sudah musnah?”
“Ya,” Noid mengangguk.
“Dan pria bernama Dion itu adalah anak angkat dari ayahmu itu?”
“Ya...” Noid mengangguk.
“Dan apa yang membuat kerajaan kalian musnah? Apakah ini ada hubungannya dengan Dion?”
“Ya,” Noid mengangguk, “Semua orang yang ada dipulau kerajaan ayahku itu musnah olehnya...”
“Karena apa? Apa dia membunuh mereka semua dengan kekuatan ‘Keturunan’ sentry nya?”
“Ya... ‘Kekuatan’ sentry... tapi bukan kekuatan sentry dia...”
“Lalu?”
Noid menunduk dengan tatapan kosong, “... Tapi kekuatanku...”
“APA?!” lagi-lagi semua orang kaget mendengar penuturan Noid.
“Ya... akulah yang membunuh ayahku... membunuh ibu tiriku... membunuh ibu kandungku... saudara-saudara tiriku... penduduk... aku membunuh mereka semua, bahkan sampai hewan dan anak kecil sekalipun... akulah yang membunuh semua kehidupan yang ada dikerajaan itu...”
Semua terdiam mendengar penuturan Noid, dan bisa terdengar kalau Noid bersusah payah mengeluarkan suaranya. Noid kemudian menadahkan kepalanya dan terlihat darah mengalir dari kedua matanya tersebut.
“... Bahkan tidak ada air mata yang tersisa untuk penyesalanku itu sampai sekarang...” ujar Noid.
Orang-orang hanya bisa termenung melihat Noid berbicara seperti orang menangis akan tetapi bukan air mata yang dikeluarkannya, akan tetapi darah.  Melody yang melihat Noid menjadi cemas setengah mati.
“... Kenapa kau membunuh mereka...? Apa kau dibenci mereka bahkan sampai kependuduk-penduduk?”
Noid menunduk dan tersenyum, “Ya... aku sangat dibenci mereka semua... anda tahu itulah resiko menjadi anak haram pada masa itu... yang menyayangiku hanyalah ibuku dan selalu menangis melihatku pulang dengan kondisi tubuhku yang memar...”
“Apa... penganiayaan?”
“... Itu sering terjadi... setiap hari... aku hanya ingin mencari teman sebaya... tapi aku selalu dilempari batu... aku bahkan mencoba mengakrabkan diri dengan saudara tiriku dikerajaan... tapi aku juga mendapat perlakuan yang sama...”
“Dan itu alasanmu membunuh mereka?”
Noid menggeleng, “Biarpun aku diperlakukan seperti itu tapi aku tidak marah, aku bahkan terus berusaha agar dianggap oleh mereka. Meski ibu ku mengunciku dikamar tapi aku mempunyai celah untuk keluar, aku hanya ingin punya teman, 1 saja... dan akhirnya kutemukan... meskipun ia hewan...”
“Apa itu...”
“Ya,” Noid mengangguk dan menunjuk Remo, “Anak serigala yang itulah temanku masa itu...”
Sinka terkejut melihat Remo yang tertidur dipangkuannya, sehabis itu ia memandang Noid, “J-Jadi umur Remo...”
“Begitulah,” Noid mengangguk.
“Terus, bagaimana dengan Dion?”
“Aku mendengar kalau ayahku mengangkat seorang anak karena orang itu menyelamatkannya sewaktu ayahku dan rombongannya terjebak didalam lautan. Aku tak tahu kenapa ayahku mengangkatnya menjadi anak akan tetapi semua anggota kerajaan menerimanya...”
“Dan apa kau pernah bertemu dengannya?”
“Ya... aku pertama kali bertemu dengannya sewaktu dia menolongku... dari penganiayaan anak-anak desa yang memukulku...”
“Lalu bagaimana?”
“Dia membawaku ketengah hutan dan mengobatiku dengan kekuatan Sentry air-nya.  Jadi selain anak serigala itu, dialah Huma pertama yang menjadi orang yang dekat denganku...”
“Apa kau dulu curiga dengannya?”
“Sama sekali tidak.  Dia begitu baik, sangat baik terhadap semua orang. Bahkan orang sepertiku, dia juga yang membantuku cara berinteraksi dengan baik dan benar... dia juga yang mengajariku membaca, menghitung... dia benar-benar sosok kakak bagiku...”
“Lalu pendudukmu itu?” sekarang Naomi yang ikut bertanya karena penasaran.
“... Mereka masih membenciku, menganggapku hama... masih tak ada anak-anak yang mau berteman denganku... bahkan yang tua saja meludahiku... tapi aku tetap tak bisa marah walau pun pulangnya aku menangis karena sedari tadi menahan sakit dari kekerasan yang kuterima...”
“Kenapa kau tidak menangis dihadapan mereka?” pihak kerajaan Siva kembali bertanya.
“Kerena aku ingin menunjukan kepada ayahku, kalau aku ini anak yang kuat... aku ingin membuatnya bangga... dan aku berharap para penduduk memberitahukannya kepada ayahku agar bisa lebih perduli denganku...”
“Dan selama itu temanmu satu-satunya adalah Dion dan juga anak serigala itu?”
“Ya,” Noid mengangguk.
“Dan bagaimana ceritanya kau bisa membunuh mereka? Maksud kami para penduduk kerajaanmu?”
“... Yang pasti 2 hari sewaktu aku mengeluarkan kekuatan petirku... diumurku yang ke-13.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Sewaktu mengeluarkan petir dari tubuhku... Aku tentu saja kaget, karena petir itu tiba-tiba muncul dari tanganku... aku memberitahukan hal ini kepada Dion... dan dia juga tampaknya terkejut... tapi aku ingat apa yang ia katakan sesudah aku menunjukan petirku, dia mengatakan hal ini sambil memandang langit, ‘Jadi kau sudah menganggapku mati ya?’... sepertinya dia berbicara dengan ‘Ayah’ku itu, maksudku sentry petir...”
“Lalu?”
“Tak ada lagi yang ia bicarakan, ia kemudian berkata kalau ia juga ‘Keturunan’ sentry petir dan kekuatannya sudah mencapai level 4.  Aku tentu saja tidak percaya karena aku hanya melihat kekuatan sentry airnya, dan yang kutahu tidak ada ‘Keturunan’ sentry memiliki 2 kekuatan ‘Sentry’... jadi kuanggap itu hanya candaan belaka... tapi setelah mengatakan itu ia kembali ke kerajaan dan tak pernah menemuiku lagi selama 2 hari...”
“Dan dihari ke-2 itu kau membunuh penduduk?”
“Ya...” Noid mengangguk.
“Bagaimana ceritanya?”
“... Saat itu tengah malam... aku tiba-tiba dibangunkan dengan ketukan dijendela kamarku... aku membuka jendela dan melihat Dion tampak panik. Ia kemudian menceritakan kalau kerajaan diserang oleh monster yang tiba-tiba muncul dari lautan, aku yang masih kecil waktu itu tentu saja langsung percaya... Dan aku hendak menuju kamar ibuku untuk memberitahukan hal ini... akan tetapi Dion mencegahku, dia bilang kalau ibuku sudah melarikan diri ke kerajaan...”
“Lalu?”
“Aku kemudian keluar rumah bersama Dion, menelusuri hutan gelap dengan cahaya bulan seadanya. Ditengah pelarian itu aku baru sadar kalau aku kehilangan sosok Dion didepanku... aku berusaha mencarinya akan tetapi nihil... aku kemudian melihat cahaya lampu dipemukiman penduduk dan mendengar suara eraman-eraman yang menakutkan... aku yang takut kemudian bersembunyi... aku melihat sekilas banyak sekali monster yang ada disitu... begitu banyak monster... aku benar-benar ketakutan dan tak bisa bergerak... sampai akhirnya....” Noid terlihat segan melanjutkan ceritanya.
“... Apa?”
“.... Aku melihat 2 monster... mengangkat ibuku... dan dari tempatku itu aku bisa melihat kalau ibuku tewas... lehernya bersimbah darah... disaat itulah...” Noid menundukan kepalanya.
“Apa?” tanya Raja Laks.
“... Aku pertama kalinya mengeluarkan kekuatan petirku yang mencapai level 2... akibat rasa marah dan kesedihanku...”
Melody tertegun mendengar hal tersebut, ia teringat percakapannya dengan Noid sewaktu mereka berdua bertempur. Dan Noid mengatakan kalau dia pernah mencapai level 2 diumurnya yang ke-13.
“Setelah itu bagaimana?”
“Dengan kekuatan dan kecepatan level 2 tentu saja aku menghabisi monster itu, mendengar keributan yang kubuat lagi-lagi aku kaget ternyata masih banyak monster dan berkeluaran dari rumah-rumah penduduk... Aku pun membunuh mereka semua dan dengan kecepatanku waktu itu bukan hal yang sulit bagiku... aku bahkan membunuh semua monster yang ada dipulau itu tanpa tersisa... dan aku kembali ketempat ibuku... dan benar, dia sepertinya sudah tewas... lehernya itu seperti ditebas oleh sesuatu... aku menangis dan menangis saat memeluknya, disaat aku memejamkan mata aku mendengar suara rintihan... aku membuka mata dan melihat ibu yang kupeluk ternyata monster yang seperti tadi... dengan perasaan kacau aku pun membunuhnya... dan disitulah aku bertemu Dion kembali...”
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia hanya memberitahuku, kalau dikerajaan juga diserang monster seperti tadi, dia menyuruhku menunggu selagi ia mencari perahu untuk kabur... tapi aku tak bisa diam... aku khawatir dengan ayah dan saudara tiriku, apalagi dengan kekuatanku maka aku segera meluncur kesana dan benar apa yang dikatakan Dion kalau kerajaan dipenuhi oleh-oleh monster-monster itu...”
“Dan kau membunuh mereka semua?”
“Ya,” Noid mengangguk.
“Terus?”
“Aku membunuh mereka sampai tak tersisa... aku benar-benar yakin karena sudah memeriksa semuanya inci kerajaan...”
“Tapi... dimana ayahmu dan penduduk-penduduk lain? Apa mereka bersembunyi?”
“... Mereka tidak pernah bersembunyi...”
“Apa maksudmu?” semua orang menyeringitkan dahi.
Noid menadahkan kepalanya dan berkata.
“Monster-monster itulah ayah dan para penduduk...”
“Apa?! B-bagaimana?” tanya Raja Laks.
“Jangan-jangan...” Melody sudah mulai menduga.
“... Ya... itu perbuatan Dion... dia sepertinya melakukan sesuatu terhadap mataku... ia mengubah pandanganku kepada orang-orang yang kutemui sebagai monster, begitu juga suara mereka... aku benar-benar terjebak dan itu kuketahui sewaktu Dion juga memapah mayat ibuku... ibuku yang kukira mati ternyata masih hidup tapi kubunuh lagi dengan tanganku...”
“...Hipnotis...” ujar Melody.
“Ya...” Noid mengangguk, “Sejak itulah aku tahu... ternyata monster dipemukiman itu adalah penduduk yang hendak menolong ibuku... tapi karena rupa mereka aku menganggap mereka sebagai orangmembunuh ibuku... dan leher ibuku itu akibat tebasan air dari Dion...”
“... Lalu apa yang terjadi dengan mayat-mayat dikerajaan itu? Kerajaan itu musnah karena tidak ditemukannya kehidupan... bahkan tidak ada tulang benulang”
“Dion mengeluarkan asam dari perut planet ini dan menyiram mereka semua hingga melelehkan daging dan juga tulang-tulang mereka... aku hanya bisa bertekuk lutut dan menangis... aku benar-benar tak menyangka akan hal itu... aku membunuh mereka semua karena jebakan olehnya... itulah yang membuatku sangat dendam kepadanya... aku benar-benar menyesal melakukan itu... aku... bahkan belum sempat mempunyai teman seusiaku... membunuh ibuku sendiri yang selama ini melindungi dan menyayangiku... kalian bisa bayangkan sendiri ibu kalian meleleh karena cairan asam dihadapan kalian...”
“Dan hanya kau yang disisakan olehnya?”
“Tidak, dia juga berniat membunuhku... dia bilang hanya dia yang boleh satu-satunya menjadi ‘Keturunan’ sentry petir... dan saat dia hendak membunuhku dengan kekuatan airnya tiba-tiba saja ada petir besar menembus kerajaan dan menyambar tubuhku...”
“Dan petir apa itu?”
“Itu petir dari sentry petir... dan saat aku terbangun... yah, aku sudah berada didunia itu... yang kumaksud dunia orang mati....”
“Apa yang kau lakukan didunia itu?”
“Hidup seperti Huma biasa, kehidupan didunia itu tak jauh berbeda dengan dunia ini... hanya saja ada perbedaan... mereka tidak bisa merasakan lapar, tapi aku bisa merasakan lapar... aku sering memakan makanan aneh disana tapi rasanya sangat lezat...”
“Dan apa kau tahu kalau itu adalah dunia lain?”
“Awalnya aku tidak tahu... tapi aku mengetahuinya saat aku melihat saudara tiri, penduduk dan juga ayahku... aku benar-benar terkejut... aku ingat kalau aku yang membunuh mereka... disaat itulah aku tahu kalau aku berada didunia orang mati...”
“Apa alasan Sentry petir membawamu kesitu?”
“Aku tidak tahu... hanya saja itu kujadikan kesempatan bagiku untuk menebus kesalahanku... aku terus bersujud meminta maaf kepada mereka karena telah membunuh mereka... aku terus menangis dan menangis hingga air mataku berganti dengan darah... hanya untuk sebuah pengampunan dari mereka...”
“Lalu apa mereka mengampunimu?”
“Ya... berkat ingatanku yang dikeluarkan oleh mahluk berjubah putih... dia menarik ingatan dari kepalaku dan menunjukannya kepada orang-orang yang kubunuh... dan dari ingatan yang ditampilkan maka mereka tahu kenapa aku melakukannya dan kenapa aku begitu kehilangan mereka... semenjak itulah mereka tahu dan mengampuniku... dan mereka juga meminta maaf kepadaku karena telah memperlakukanku seperti itu... aku senang, walau pun sekarang orang yang ingin menganggap aku ini ada telah tiada...”
“Dan sampai berumur 20 tahun lebih kau tinggal didunia itu?”
Noid mengangguk dan tersenyum, “Karena apa yang kuinginkan selama mereka hidup terjadi didunia itu... aku mulai akrab dengan para penduduk, saudara tiriku dan juga ibu tiriku... didunia itu aku tinggal dipemukikan yang sama dengan mereka... terkadang aku juga melatih kekuatan petirku disana hingga benar-benar sempurna walau hanya mentok di-level 2. Tapi dari semua orang yang ada didunia mati itu... aku masih berusaha mencari ibuku... karena aku sama sekali tidak bertemu dengan beliau... aku terus mencari dan mencari tapi usahaku nihil...”
“... Lalu apa kau bertemu dengannya”
“...Ya...” Noid tersenyum tipis, “Aku bertemu dengannya digerbang menuju dunia ini disaat aku diminta kembali kedunia karena tugasku sebagai ‘Keturunan’ sentry petir.  Aku tak menyangka akan bertemu beliau disitu dan terasa menyakitkan karena aku bertemu dia disaat perpisahan... tapi setidaknya ayah, ibu, saudara-saudara tiriku juga mengantar kepergianku... jadi tidak sedih-sedih amat... dan aku juga meminta izin untuk membawa Remo menuju dunia ini...”
“Jadi Remo ini sebenarnya sudah mati?” Sinka terbelalak matanya.
“Ya... kan tadi kubilang aku membunuh semua kehidupan yang ada di pulau ini, bahkan Remo... didunia sana wujud dia sudah menjadi serigala dewasa yang memiliki tubuh yang besar dan bisa berbicara layaknya Huma, hanya saja pas masuk kedunia ini tubuhnya kembali mengecil dan tak bisa berbicara... mungkin disesuaikan dengan kondisi dia sewaktu mati didunia ini... dan beruntung bagiku mendapat izin untuk mengajaknya... setidaknya aku memiliki teman yang kukenal selama didunia ini... sesampainya didunia ini aku benar-benar kaget bersama dia... kaget hanya karena melihat mobil melintas didepan kami...”
“... Jadi karena itu hanya kau yang bisa memerintahkan ia untuk membesar...” ujar Naomi.
“Begitulah...”
“Apa didunia sana kau bertemu ‘Keturunan-Keturunan’ sebelumnya?”
“Tidak,” Noid menggeleng, “Mereka ada di dimensi lain, dimensi mereka berbeda lagi dengan dimensi orang mati.  Meskipun mereka sendiri sudah mati.”
“Begitu... jadi apa kau sudah mengetahui kenapa ada 2 ‘Keturunan’ sentry petir didunia ini?”
“Ya, Dion itu sudah dianggap mati oleh Sentry petir karena dia telah menyalahi takdirnya dengan menjadi ‘Keturunan’ sentry yang lain... itu benar-benar menyalahi takdir dan dianggap tidak pantas, dan sebutan untuk dia adalah Bastard (Anak Haram). Sama sepertiku, anak haram... hanya saja dia disebut anak haram karena menyalahi garis ‘Keturunan’ sentry... Dan aku lah yang bertugas menjadi pengganti dirinya... dan harus membunuhnya... karena dia seharusnya sudah mati akan tetapi dia lagi-lagi melanggar takdir dengan meminum air abadi yang terlarang bagi Huma...”
“Bagaimana dia mendapatkan air itu?”
“Menurut cerita yang kudengar dari orang yang pernah hidup dimasa dia didunia orang mati, ia mendapatkan air itu dari kekasihnya... ‘Keturunan’ Sentry air pas dijaman dia, namanya Veranda... aku tak tau orangnya seperti apa tapi dia katanya adalah ‘Keturunan’ Sentry air yang paling hebat didunia ini karena bisa menciptakan air abadi...”
“Air itu dipinum Dion dan ia mengambil kekuatan kekasihnya tersebut?”
“Kira-kira seperti itulah yang kudengar...”
“Begitu...”
Semua pihak kerajaan mulai merangkum hasil rapat tersebut hingga sore hari dimana akan dilakukan penobatan non formal terhadap Ibu Sinka dan Naomi untuk menjadi Ratu Kerajaan Stor. 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Noid yang lelah karena rapat tadi kemudian beristirahat dikamar yang disediakan dan saat Noid hendak terlelap tiba-tiba Melody memasuki kamar mereka berdua.
“... Sepertinya kau kaget...” kata Noid.
Melody terdiam dan menjawab, “... Apa itu semua benar?”
“Ya...” Noid kemudian duduk dikasur dan terkekeh, “Apa kau menyesal? Alasanku tidak mau menikah karena aku sadar diri... aku ini Huma masa lalu, karena secara teknis didunia ini aku berumur lebih dari 300 tahun... bisa dibilang kau telah menikah dengan kakek-kakek yang mempunyai bentuk fisik seperti pemuda berumur 20 tahunan.”
Melody masih diam dan tersenyum, “Dan juga anak haram.”
“Kalau mau mengharapkan cerai tidak apa kok, aku menerimanya dan tidak akan mempermasalahkannya,” Noid tersenyum dan berbaring.
“Apakah sifat orang jaman dulu itu suka sok tahu?”
“Tidak juga, kenapa?” tanya Noid sambil memejamkan mata.
Melody tersenyum manis, ia berjalan menghampiri tempat Noid berbaring, ia berbaring disamping Noid dan memeluk suaminya tersebut.
“Eh?! Kau ini kenapa? Kerasukan?!” Noid kaget dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Melody.
“Kerasukan apa coba? Emangnya salah kalau seorang istri memeluk suaminya sendiri?” Melody sewot.
“Eh? Kau tidak menyesal?”
“Makanya tadi aku bertanya apa orang jaman dulu itu sok tahu? Aku gak menyesal menikah denganmu!” Melody melotot.
Noid tertegun memandang istrinya tersebut.
“... Kenapa...?”
“Gak ada alasannya,” Melody cemberut dan mempererat pelukannya karena Noid masih meronta-ronta.
“Kalau begitu ini kenapa meluk-meluk? Bisa kau lepaskan? Aku tak terbiasa!”
“Karena itu biasain! Lagipula waktu itu kamu dipeluk Naomi kenapa tidak meronta seperti ini?”
“Errr itu kan karena pas itu dia masih dibawah pengaruh air itu... kalau dia tidak memeluk sebentar saja maka ia akan merengek terus... karena itu aku ngeiya-iyain saja....”
“Oh jadi begitu?! Maunya aku merengek-rengek dulu baru kamu ihklas dipeluk?”
“... Gak gitu juga sih...” Noid memiringkan bibir.
“Makanya diem! Uh!” Melody semakin erat memeluk Noid dan tidak mau suaminya itu lepas dari pelukannya.
“Hadeeeehh,” Noid akhirnya mengalah.
Noid kembali berbaring dan membiarkan Melody memeluknya seperti itu.  Sementara itu Melody sudah kembali tersenyum, tangan Noid yang direntangkan pun jadi bantalan untuk kepalanya, ia terus memeluk Noid dan Noid benar-benar salah tingkah dibuatnya.
“... Apa kondisimu sewaktu didunia mati itu memiliki kondisi fisik utuh seperti ini? Maksudku dalam bentuk fisik, bukan roh,” tanya Melody.
“... Ya... dalam bentuk fisik, hanya aku satu-satunya yang bisa berdarah didunia itu...” Noid mengangguk.
“Dan didunia sana kamu berumur 25 tahun... apa disana juga ada pergantian tahun?”
“Aku tak tahu... terakhir aku mengetahui aku berumur 20 tahun dari ibuku... aku pulang kembali kedunia ini bertepatan juga dengan hari kelahiranku...”
“Tapi disini kamu sudah melewati 3 abad,” Melody tertawa ringan, “Kau benar-benar sukses membuatku terkejut hari ini... anak haram... dan pria berumur 300 tahun...”
“... Haaah mudah-mudahan tidak ada orang yang bersimpati terhadap ceritaku tadi... sekarang kau sudah tahukan kalau masa laluku itu begitu kelam...”
“Ya,” Melody memejamkan mata dan tersenyum, “Dan aku bersedia menjadi temanmu apabila kau membutuhkannya, aku akan selalu ada untukmu...”
“... Jadi mau cerai agar kita tidak jadi suami istri lalu berteman habis itu ya?”
“Bukan itu maksudku!” Melody cemberut dan mencubit pelan perut Noid.
“O-oh... hanya saja janggal rasanya menerima perhatian seperti ini...”
“Dibiasaiiin,” kata Melody dengan lirih manja, “Dan dari ceritamu itu aku benar-benar tidak ingin tahu nama aslimu...”
“... Kenapa?”
“Nama aslimu itu hanya untuk dirimu dimasa lalu. Dan nama aslimu sekarang untuk identitas barumu ini, aku tidak keberatan dengan namamu yang sekarang.”
“... Apa kau tidak merasa aneh dengan namaku ini? Noid? Selama ini aku merasa lidahku aneh menyebutkan nama ini...”
“Hihi salah sendiri,” Melody cekikikan, “Lagipula unik, tidak ada satupun orang didunia ini memakai nama seperti itu.”
“O-oh... yaudah deh...”
“Dan kau suami teraneh yang pernah kumiliki, berumur 300 tahun lebih tapi memiliki paras muda, jago nyetrumin orang dan memiliki nama yang aneh,” Melody tertawa ringan.
“Apa itu artinya cerai?”
“Kenapa cerai diungkit melulu sih?!” Melody terlihat sebal, air yang ada dipot bunga dan teko air minum berkeluaran semua dan membentuk sesuatu yang tajam kearah ‘Meriam’ Noid.
Noid menelan ludah, keringat dingin keluar melihat air-air yang tajam itu bersiap-siap menembus ‘Kejantanan’ nya tersebut.
“Masih mau ngomongin cerai?” Melody melotot.
“Gak-gak-gak-gak!” Noid menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Huh!”
Air itu kembali ketempat semula, dan Noid bernafas lega.
“Bercanda kok,” Melody tertawa lagi.
“Tolong jangan lakukan itu lagi...” pinta Noid dengan keringat dingin.
“Enggak,” Melody tersenyum, “Tapi akan kulakukan apabila kau bermain dengan wanita lain.”
“Oh...” Noid menelan ludah.
“Yaudah, yuk tidur,” Melody tersenyum.
“... Aku tak bisa tidur...”
“Kenapa?”
“... Aku tak biasa tidur dipeluk seperti ini...”
Melody geram, ia kemudian naik keatas tubuh Noid dan kembali memeluknya sehingga posisi memeluknya berada diatas Noid.
“Dibilang dibiasain!” seru Melody.
“... Ini sih makin gak bisa tidur...” kata Noid dengan wajah memerah.
“Di-bi-a-sa-in!” Melody menggigit dagu Noid dan kembali beraring didada suaminya tersebut.
“... Nasib...” kata Noid, pasrah.
“Hmmmm!!!!” dan dengan geram Melody mempererat pelukannnya.
Noid akhirnya pasrah dan mencoba tidur dengan posisi itu. Sedangkan Melody tersenyum dan juga mencoba tidur diposisinya itu.  Dihari itu mereka mulai membiasakan diri mereka dalam hubungan suami istri.
Beautifull Aurora IV
Waktu pelantikan Ibunya Naomi sudah dilakukan pada sore hari tepat dijam 4, dan sejak hari itu maka kerajaan Stor memiliki pemimpin baru yang dipimpin oleh seorang Ratu. Dan pelantikan secara formal akan dilakukan 3 hari setelahnya karena para tetua pun mengerti suasan duka yang dialami pihak kerajaan.
Dan pada malam hari dijadikan Noid dan Melody berjalan-jalan mengitari istana kerajaan Stor.
“Kerajaan ini benar-benar memiliki hamparan rumput yang luas sekali,” komentar Melody, celingak-celingukan.
“Tamannya juga indah, tapi sayang...”
“Apa?”
“Errrr rusak gara-gara pengawal pribadi Naomi.”
“Loh kenapa?”
“Entahlah, dia mengamuk tak jelas dan menghancurkan taman. Mungkin dia mabuk.”
Kata-kata Noid tadi seolah-olah menyalahkan penghancuran taman itu terhadap Beny seorang, padahal dia ini juga salah satu pelakunya sewaktu dia dan Beny bertempur ditaman tersebut.
“Itu Sinka bukan?” Melody menunjuk.
Noid menoleh dan melihat Sinka sedang duduk dikursi taman ditemani Frieska, pandangannya kosong menatap bulan dilangit.  Frieska sedari tadi mencoba menghibur Frieska yang masih larut dalam kesedihan. Tiba-tiba muncul Remo dihadapan Sinka dan berbaring dipangkuannya. Sinka dan Frieska menoleh kearah munculnya Remo dan melihat Noid melambaikan tangannya setelah itu ia melanjutkan perjalannya bersama Melody.
“...Kakakmu cocok sekali dengan kak Noid...” komentar Sinka.
“Kurasa juga begitu...,” kata Frieska sambil mengelus bulu-bulu tubuh Remo yang tiduran dipangkuan Sinka.
Sinka tersenyum tipis dengan matanya yang sayu, “... Kuharap kakakku baik-baik saja... pasti ia yang jauh lebih terpukul dengan meninggalnya kakek...”
“Mudah-mudahan, tapi kurasa kakakmu itu tipe wanita yang tegar. Seperti hal nya kak Imel.”
“Ya... mudah-mudahan,” Sinka ikutan mengelus bulu-bulu Remo yang lembut.
Sementara itu Melody dan Noid tak sengaja bertemu dengan Dimas yang tampak ling-lung celingukan dikoridor taman.
“Kau kenapa?” tanya Dion.
“Eh?” Dimas menoleh, “Anu... sepertinya aku tersesat... aku lupa jalan kembali menuju istana... aku tadi berjalan-jalan sejenak ditaman kerajaan ini...”
“Oh, lurus, belok kiri, nanti kau akan lihat putaran disitu, beloklah kekanan,” kata Melody memberitahu.
“Oh begitu... k-kalau begitu terima kasih tuan putri,” Dimas menundukan kepalanya dan hendak pergi.
“Sebentar,” cegah Noid, “Aku ingin berbicara denganmu.”
Dimas berhenti dan menoleh kebelakang, “Membicarakan apa?”
“Ikut saja kami, kami juga lagi jalan-jalan,” ajak Noid.
“Tapi...”
“Udah santai saja.”
“B-Baiklah...”
Dimas kemudian berjalan bersama Noid dan Melody, selama perjalanan itu maka Noid membuka suaranya.
“Boleh aku melihat kekuatan anginmu?”
“Untuk apa?”
“Aku penasaran, apakah kau bisa membuat puting beliung kecil dengan kekuatanmu?”
“Emm kalau itu aku bisa.”
“Lakukanlah.”
Noid dan Melody kemudian berhenti, begitu juga Dimas. Dimas kemudian merentangkan tangannya kedepan dan memutar-mutar jari telunjuknya kedepan. Tiba-tiba saja dedaunan dan rerumputan disekitar mereka tertiup kearah satu titik dan munculah angin puting beliung kecil dihadapan mereka.
“Luar biasa,” Melody tersenyum.
“Kau bisa mempertahankan bentuknya?” tanya Noid.
“Ya,” Dimas mengangguk.
“Kalau begitu buat angin itu tetap seperti itu,” pinta Noid.
“Untuk apa?”
“Hanya uji coba.”
Noid kemudian melontarkan listrik kuning kearah puting beliung kecil tersebut dan terciptalah puting beliung yang berputar-putar dengan aliran listrik kuning.  Seperti badai petir yang meliuk-liuk dalam bentuk kecil.
“Hmm,” Noid tersenyum penuh arti.
“Jadi benar, kekuatan alam bisa digabungkan...” Melody terkesima melihat badai petir kecil tersebut.
“Ya, tapi mungkin kekuatan yang saling membutuhkan. Kalau air dan api rasanya tidak berhubungan,” Noid cengengesan.
“Maksud saling berhubungan?” tanya Dimas.
“Ya seperti itu, angin ditambah petir bisa menjadi badai petir seperti itu. Terus air dan petir, air bisa menjadi penghantar listrik yang baik dan cepat,” ulas Noid seadanya.
“Begitu.”
Melody kemudian meminta Dimas menghilangkan kekuatannya karena tempat puting beliung badai petir kecil itu sedikit merusak rerumputan. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya.
“Dan tadi kau bilang Pris itu sudah mencapai level 3, apa-apa saja yang dilakukannya?”
“Dia itu... seperti melindungi negara, tapi dilakukannya secara diam-diam. Apapun ancaman dari luar maka dia segera bertindak dan tentu saja tanpa diketahui oleh siapapun... Dan yang terakhir kuketahui dia menenggelamkan kapal nelayan pencuri yang mencuri ikan dinegara kami...”
“Begitu,” Noid memanggut-manggut.
“Apa kekuatannya hanya membuat badai saja?” tanya Melody.
Dimas menggeleng, “Ia pernah membuat angin yang sejuk disaat cuaca sangat panas... aku pernah merasakan kekuatannya itu saat ia sedang beristirahat, sekedar mengademkan diri... dan dia bilang kalau itu hanya bisa dilakukan kalau sudah mencapai level 3.”
“Hmm berguna juga,” Noid mengurut-urut dagunya.
“Apa kau sudah lama mengenalnya? Dan apa hanya kau saja yang mengetahui kalau dia ‘Keturunan’ sentry angin?”
“Aku belum lama mengenalnya, mungkin baru 3 tahun ini.  Dan tidak hanya aku, akan tetapi ada 3 orang lainnya. Mereka Huma biasa, tapi dia menganggap 3 orang itu sebagai adiknya.”
“Begitu... dan temperament itu?”
“Ya... bisa dibilang dia iut juga preman... dia sering memalak orang dan sering memenangkan perkelahian dipasar... tentu saja dia menang karena dia melapisi tangannya itu dengan angin saat meninju... bekas hantaman tinju ditubuh orang itu pasti meninggalkan jejak sesuatu yang seperti lingkaran meliuk-liuk...”
“Hmm dia sudah bisa memanfaatkan anginnya itu, pasti dia memakai tekanan angin...” kata Noid menduga-duga.
“Dan kau kenapa tidak melakukan sesuatu untuk kekuatanmu? Apa untuk mencapai level 2 begitu sulit?”
“Ya,” Dimas mengangguk, “Cara untuk mencapai level 2 adalah menghentikan angin ditempat yang banyak angin.”
“Emangnya ada tempat seperti itu?” Noid memandang Melody.
“Pantai,” Melody memiringkan bibir dan memandang Dimas, “Apakah pantai?”
“Ya, pantai lah tempat yang sesuai untuk latihan mencapai level 2,” Dimas mengangguk.
“Apa Pris yang memberitahumu?”
“Ya, dan dia bilang sangat sulit membuat angin tidak berhembus dipantai. Butuh konsentrasi dan energi yang besar, ia bahkan perlu waktu 2 tahun untuk melakukannya.”
“Wow lama sekali,” komentar Melody.
“Tidak selama ia melakukan pencapaian level 3. Dia memerlukan waktu selama 5 tahun untuk menguasainya.”
“Lama amat!” Noid membelalakan matanya.
“Katanya untuk mencapai level 3 sangat berat, sangat-sangat berat. Untuk mencapai level 3 maka pengalaman level 1 dan 2 harus digabungkan. Itu sangat menguras energi dan harus melakukan pembuatan ruang energi yang cukup besar. Terlebih lagi ujian level 3 juga sangat berat, karena emosi bermain dalam proses itu dan apabila kalah dengan emosi maka akan dimakan oleh level terlarang ‘Keturunan’ angin.”
“Begitu...” Noid mengangguk-angguk.
“Ternyata benar, emosi lah kuncinya...” Melody juga mengangguk-angguk.
“Ya, disaat proses dimakan oleh level terlarang itu maka ia harus buru-buru melenyapkan kekuatannya agar proses itu menghilang. Itu sangat sulit dilakukannya karena dia temperament, sulit mengatur emosinya.”
“Tapi tidak dengan kasusku, harus ada orang lain yang harus menghentikanku,” kata Noid.
“Eh? Maksudnya?”
“Suamiku juga pernah hampir dimakan oleh level terlarang, seluruh petirnya berwarna merah.  Rambutnya juga perlahan-lahan berubah menjadi berwarna merah,” kata Melody.
“Eh, ada perubahan pada warna rambut?” Dimas tertegun dan mengingat perubahan Noid sewaktu rapat, “Saya pikir saya salah lihat waktu itu... rambut anda memang berubah warna kalau tak salah...”
“Ya aku sendiri tak tahu kenapa warna rambutku berubah, mungkin karena itulah ‘Keturunan’ sentry petir disebut keturunan langka.”
“Lalu siapa yang menghentikan anda waktu proses level terlarang itu?”
“Orang yang dicari-cari seluruh dunia itu,” jawab Noid dengan nada sinis.
“Maksud anda Dion? Apa benar dia memiliki kekuatan ‘Keturuan’ sentry yang lain?”
“Kalau dia sudah menjadi ancaman maka tentu saja itu benar.”
“Aku benar-benar terkejut mendengar hal itu... tapi seberapa besar ruang energi yang ia miliki? Untuk memiliki ruang energi untuk kekuatan lain berarti energinya sangat besar... kata Pris untuk membuat ruang energi untuk level 3 saja butuh waktu yang sangat lama...”
“Entahlah, itu masih menjadi misteri sekarang,” sambung Melody.
Mereka terus melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mereka terkejut melihat cahaya api muncul tak jauh dihadapan mereka.
“A-Apa itu?” Dimas tercengang.
“Hmm,” gumam Melody dan Noid bersamaan.
Ditempat sumber api tersebut terlihat Naomi sedang mencoba mengendalikan kekuatan apinya, ia terus melontar-lontarkan apinya dengan kepalan tangan seolah-olah ingin memberi tinju api akan tetapi apinya malah berkibar keatas.
“Bagaimana sih mengendalikannya?!” Naomi terlihat jengkel sambil melihat kedua telapak tangannya.
“P-Putri... lebih baik padamkan dulu api anda... hawa panasnya sudah sampai disini,” ujar Bayu dikejauhan.
“Baiklah!” Naomi memejamkan mata untuk memadamkan api yang keluar dari tubuhnya, tapi api itu tak kunjung padam.
“P-PUTRI!” Bayu yang kepanasan mencoba menjauh.
“Ini gimana sih matiinnya?” Naomi bingung setengah mati.
“C-CEBURIN DIRI KEDANAU ITU COBA!” Bayu memberi saran sambil menunjuk danau kerajaan yang ada dibelakang Naomi.
“AKU KAN GAK BISA BERENANG!” seru Naomi yang sewot.
Tiba-tiba saja air didanau itu melonjak naik, Naomi dan Bayu kaget dengan hal itu dan tiba-tiba saja air danau yang banyak itu menghantam Naomi dan padamlah air disekujur tubuhnya.
“A-a-a-a-a-a-a-a-a!!!!” Naomi tidak bisa bergerak karena basah tiba-tiba seperti itu.
“Tuan putri!” rasa panas yang hilang segera membuat Bayu dengan cepat menghampirinya.
“Seperti itulah memadamkan api pemula sepertimu.”
Naomi dan Bayu menoleh dan melihat kedatangan Noid bersama Melody dan Dimas.
“Jadi ini ulahmu!” Naomi melotot.
“Seharusnya kau sudah tahu, siapa lagi yang bisa mengendalikan air seperti itu,” Melody tersenyum tipis.
“Keringkan air ini dari tubuhku!” pinta Naomi kesal.
“Ada adabnya loh,” Melody melipat tangan dan bersiul-siul.
“Isssh!!!” Naomi memasang wajah kusut.
“Terserah sih,” Melody kemudian mendelikan matanya kearah lain.
Naomi yang kusut wajah mulai mengeluarkan suaranya dengan nada yang segan, “T-Tolong... keringkan air ini ditubuhku...”
“Aku tidak mendengarnya.”
“Ish!” Naomi mendengus kesal.
“Sudahlah,” Noid memiringkan bibir memandang Melody.
“Iya-iya,” Melody cemberut dan memandang Naomi.
Dengan telunjuk jarinya maka ia mengendalikan air yang membasahi tubuh dan baju Naomi dan melemparkannya airnya kearah danau. Meski begitu kondisi Naomi masih basah karena ada beberapa air yang masih tersisa.
“Rambutku!” pinta Naomi.
“Adab-nya tolong,” Melody kembali melipat tangan, bersiul-siul dan mendelik kearah lain.
“Ish!” lagi-lagi Naomi menghentakan kakinya, kesal.
“B-Biar aku saja,” Dimas menawarkan diri.
Dimas merentangkan tangan kirinya kearah kepala Naomi, dan muncul angin lembut yang meniup-niup rambut Naomi padahal tidak ada angin yang kuat ditempat ia berada. Angin itu terus meniup dan meniup yang membuat rambut Naomi lama-lama menjadi kering.
“... Terima kasih,” kata Naomi untuk Dimas.
“Sama-sama tuan putri,” Dimas menundukan kepalanya.
“Seperti gadis di-iklan shampo yang kulihat di TV, rambut berkibar-kibar,” Noid terkekeh.
“Cih,” Naomi mendengus kesal, “Kenapa kalian kesini?”
“Seharusnya itu pertanyaan kami, apa yang kau lakukan disini?” Melody bertanya balik.
“Kau belajar mengendalikan kekuatanmu?” tambah Noid.
“... Bukan urusan kalian!”
Naomi melangkah pergi untuk meninggalkan mereka, akan tetapi Noid tiba-tiba berbicara.
“Kalau kau mau tahu caranya aku bisa memberi tahu.”
Langkah Naomi berhenti dan menoleh kebelakang, “... Apa itu benar?”
“Ya,” Noid duduk direrumputan dan diikuti Melody, setelah itu Noid memandang Naomi dibelakang, “Kalau kau mau.”
“... Bagaimana...?”
“Duduklah didepanku,” pinta Noid.
“Apa?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Duduk saja, mau kuberitahu tidak?” Noid memiringkan bibir.
Naomi tampak ragu akan tetapi ia melakukannya, ia menghampiri tempat Noid dan Melody dan duduk bersila seperti yang Noid lakukan.
“Terus?”
“Tapi sebelumnya aku mau bertanya, kau sudah menerima takdirmu sebagai ‘Keturunan’ Api?”
“... Ya...”
“Kenapa?”
“... Dari ceritamu tadi... aku rasa orang itu benar-benar suatu ancaman untuk kedepannya nanti, dan aku tidak akan tinggal diam...”
“Hmm,” Noid tersenyum, “Jangan bohong, kau dendam bukan?”
Naomi terdiam.
“Terbaca kok dari raut wajahmu itu,” sambung Melody yang menopang kepalanya dengan tangan.
“... Apa karena itu aku tidak bisa mengendalikan apiku?”
“Tidak juga, itu tidak berpengaruh terhadap pengendalian apimu. Dan itu bisa dibicarakan nanti yang pasti kau harus mengendalikan kekuatan level 1 mu itu.”
“Apa benar tidak berpengaruh?” tanya Melody.
“Tidak, dalam pengendalian api level 1 tidak berpengaruh dengan emosi. Tapi akan berpengaruh disaat ia mau belajar ke-level 2.”
“Bagaimana kau tahu hal itu?” tanya Naomi.
“Karena pada dasarnya sama, untuk semua ‘Keturunan’ sentry untuk mengendalikan inti kekuatannya, begitu juga api.”
“Hmm mungkin benar... sewaktu aku mengendalikan airku, tidak perduli lagi tenang atau emosi aku masih bisa mengendalikannya,” gumam Melody.
“Lalu bagaimana caranya?” tanya Naomi kepada Noid.
“Gampang,” Noid tersenyum, “Yaitu Meditasi.”
“Meditasi?” alis Naomi mengkerut.
“Ya,” Noid mengangguk dan memandang Dimas, “Mungkin kau mau mencobanya, kau akan bisa merasakan kekuatanmu meningkat kalau menggunakan cara ini.”
“Benarkah?”
“Ya, duduklah disampingku,” suruh Noid.
Dimas duduk disamping Noid setelah itu ia melanjutkan penjelasannya.
“Duduk bersila seperti ini, tegakkan punggung kalian, dan taruh kedua tangan kalian diatas lutut kalian dengan posisi terbuka.”
Naomi dan Dimas melakukan apa yang dipinta Noid, “Terus.”
“Tutup mata, dan tarik nafas kalian sedalam-dalam yang kalian bisa dan tahan nafas itu diperut. Tahan semampu kalian dan hembuskan secara perlahan lewat mulut. Lakukan hal itu secara terus menerus.
“Lalu?”
“Tidak ada, dan selama menahan nafas diperut kalian. Pikirkan ke 1 titik tertentu dalam pikiran kalian. Misalkan api, bayangkanlah ada api dihadapan kalian, fokuskan kearah itu dan berkonsentrasilah untuk tidak memikirkan hal yang lain.”
“Apa dengan itu aku bisa mengendalikannya?”
“Percaya saja padaku dan ingat 1 hal, khususmu Naomi!” kata Noid tegas.
“Apa?”
“Jangan membayangkan wajahku saat kau menahan nafas, kalau tidak kau istriku akan marah!” kata Noid sambil melotot.
Naomi memiringkan bibir, sedangkan Noid terkekeh, Melody dengan sebal menyentil telinga suaminya tersebut.
“Yasudah, coba kau lakukan. Dan kau kacamata,” Noid menunjuk Bayu.
“Apa?” alis Bayu naik sebelah.
“Mending kau ambil makanan, ini akan memakan waktu lama.”
“Beeeh,” Bayu memiringkan bibir.
Setelah kepergian Bayu maka Naomi dan Dimas mencoba meditasi yang dijelaskan oleh Noid sebelumnya. Mereka mengambil nafas sedalam-dalamnya dan menahan nafas itu didalam perut mereka. Mereka memusatkan pikiran mereka terhadap 1 objek yang mereka bayangkan supaya konsentrasi mereka tidak buyar kearah pikiran lain.
“Apa benar cara ini berhasil?” bisik Melody.
Noid balas berbisik, “Ya, lihat saja nanti akan banyak keringat yang keluar dari tubuh mereka. Dan kalau kau mau kau bisa melakukannya, meditasi ini cara yang baik untuk memperluas ruang energi pada tubuhmu sendiri.”
“Benarkah?”
“Ya,” Noid mengangguk, “Aku diajari ‘Ayah’ sialanku itu.”
“Yang mana? Kandung atau sentry petir?”
“Yang sering menyambarku,” Noid memiringkan bibir.
“Oh,” Melody menahan tawa, “Mungkin nanti, aku mau melihat mereka terlebih dahulu.”
“Ya dan diamlah, biarkan mereka berkonsentrasi.”
“Iya, awas. Aku mau berbaring,” Melody menyingkirkan tangan kanan Noid dan membaringkan kepalanya dipaha suaminya tersebut.
Tak lama kemudian Bayu datang sambil membawa 3 buah minuman dingin. Mereka bertiga pun menonton Naomi dan Dimas, sebisa mungkin mereka bertiga tidak membuat keributan. Dan benar apa yang dikatakan Noid. Selama 10 menit mereka bermeditasi tiba-tiba saja kucuran keringat keluar dari tubuh Naomi dan Dimas.
“Tuh kan,” bisik Noid kepada Melody yang berbaring dipahanya.
“Iya ya...” Melody takjub melihat pembuktian perkataan Noid.
“Ya, energi mereka mulai menyebar diseluruh tubuh... energi murni kekuatan mereka... coba kau aktifkan kekuatan level 2 mu, pasti kau akan merasakan aura mereka meningkat.”
“Hmm.”
Melody meng-aktifkan kekuatan level 2 nya dan ia lagi-lagi terkejut karena ia bisa merasakan aura Naomi dan Dimas meningkat dengan lembut.
“Eh! Iya ya,” Melody beranjak dari pembaringannya.
“Sssst!!” Noid dan Bayu menyuruh Melody mengecilkan suaranya.
“Eh iya maaf-maaf,” bisik Melody sambil menutup mulutnya.
Naomi dan Dimas terus melakukan meditasi 20 menit lamanya dan sudah berapa kucuran keringat keluar dari tubuh mereka.  Melody juga takjub karena ia merasakan aura kedua orang ini meningkat dengan aura yang lembut.
“Oke! Sekarang buka hentikan meditasi kalian!” Noid menepuk tangannya tiba-tiba.
“Kaget!!” Bayu sewot, begitu juga Dimas, Naomi dan Melody.
“Sudah?” tanya Naomi.
“Ya,” Noid mengangguk, “Belum sih sebenarnya tapi aku rasa sudah cukup.  Dan lap lah keringat ditubuh kalian itu, kepala leher dan tangan.”
“Eh? Kok berkeringat?” Dimas terkejut.
“Kulitmu mati rasa ya?” Bayu memiringkan bibir.
Dimas dan Naomi menyeka keringat mereka dengan pakaian yang mereka pakai setelah itu Naomi berbicara, “Terus?”
“Sebentar, dia dulu,” Noid menadahkan kepalanya kearah Dimas, “Coba kau kendalikan angin itu diseluruh tubuhmu.”
“Eh? Tapi itu tidak mungkin, aku...”
“Coba saja, dan lakukan seperti kau ingin membuat angin puting beliung tadi. Konsentrasilah seperti kau melakukan meditasi tadi.”
“Benarkah?”
“Coba dulu! Kulempar juga kau kedanau!” Noid melotot dengan bibir ketus.
“Eh! Eh! I-iya,” Dimas mengangguk-angguk.
Dimas melakukan apa yang Noid pinta, ia berkonsentrasi agar tubuhnya itu dikelilingi oleh angin. Naomi, Noid, Melody dan Bayu merasakan angin bertiup kearah Dimas sehingga membuat Noid tersenyum. Angin itu terus meniup dan meniup sampai akhirnya rambut dan baju yang Dimas pakai berkobar-kobar karena tiupan angin.
“I-Ini...” Dimas membelalakan matanya.
“Betulkan apa yang kubilang,” Noid terkekeh.
“I-Iya,” Dimas tampak senang melihat kekuatannya itu mengitari tubuhnya.
“Dan apa yang kau rasakan sekarang?”
“Aku merasakan energi ditubuhku melimpah... dan...” Dimas memandang Noid, Melody dan Naomi bergantian.
“Kenapa?”
“... Aku bisa merasakan hawa kekuatan kalian... api... petir dan air...”
“Hmm,” Melody tersenyum tipis begitu juga Noid, “Itu tandanya kau sebentar lagi bisa menguasai level 2.”
“Benarkah?”
“Ya, apa kau sudah lama melatih kekuatanmu?”
“Ya,” Dimas mengangguk.
“Dan kurasa tubuhmu itu sudah siap untuk menerima kekuatan level 2, melalui meditasi itu juga bisa memperbesar ruang energi. Dan tadi kau sudah memperkuat ruang energi level 1 mu, dan kau sudah bisa merasakan hawa kekuatan kami. Itu tandanya ruang energi level 1 mu hendak mencapai ruang energi level 2.”
“B-Benarkah?” Dimas tampak senang.
“Ya, apabila kau bisa merasakan aura kekuatan ‘Keturunan’ sentry lain, maka kau sudah memasuki tahap level 2. Dan kau bisa menguji coba kekuatanmu seperti yang dilakukan Pris, yaitu menghentinkan angin ditempat yang banyak angin.”
“Waaah,” Dimas terlihat riang melihat tubuhnya yang diiringi kekuatan anginnya.
“Dan sekarang kau,” Noid memandang Naomi.
“Aku harus bagaimana?”
“Seperti yang kau lakukan saat meditasi tadi, tapi supaya aman coba kau fokuskan tanganmu itu saja untuk mengeluarkan api. Kalau berhasil kau akan bisa mengendalikannya dengan pikiranmu itu.”
“Benarkah?”
“Coba saja dulu!” Noid melotot dan berbibir bengis.
Dengan segan Naomi mengangkat tangan kanannya, ia berkonsentrasi melihat telapak tangannya begitu rupa. Dan ia fokuskan pikiran dia agar api itu hanya muncul ditangannya.
“Hmm,” Noid dan Melody tiba-tiba tersenyum.
Naomi merasakan ada sesuatu yang aneh pada tangan kanannya, ia merasakan ada yang bergerak dan mengarah kearah telapak tangannya. Dan tiba-tiba saja telapak tangannya itu terbakar dan ia membebalakan matanya.
“Jangan panik! Ingat! Apimu itu tidak akan melukaimu!” seru Noid tiba-tiba.
“I-Iya,” Naomi mengangguk dengan takjub memandang tangan kanannya.
Ia mencoba fokus dengan tangan kanannya, dibarengi dengan pikirannya ia hendak melakukan perintah tanpa perlu mengeluarkan suaranya. Dan api itu perlahan-lahan melakukan apa yang diperintahkan oleh pikirannya itu, api itu meliuk-liuk lembut ditelapak tangannya.”
“Yah, begitulah caranya,” Noid tersenyum.
“Dan cobalah membuat apimu itu berbentuk bola,” kata Melody tiba-tiba.
“Jangan meminta yang aneh-aneh,” Noid memiringkan bibir memandang istrinya.
“Kan gak ada salah untuk mencoba,” Melody memeletkan lidahnya untuk mengejek Noid.
“Heleeeh,” Noid menoleh kearah Naomi, “Itu tidak mung...” dan matanya terbelalak tanpa melanjutkan kalimatnya.
Terlihat Naomi sudah membentuk bola api ditelapak tangannya dan ia begitu takjub bisa melakukan hal ini.
“Wow...” gumam Noid.
“Tuh bisa kan,” Melody menoyor kepala Noid dengan ujung jari.
“A-Aku bisa mengendalikannya...” kata Naomi.
“Hmm coba sekarang tangan kirimu,” pinta Noid.
Naomi merentangkan tangan kiri dan melakukan hal yang seperti yang ia lakukan terhadap tangan kanannya. Dan tak butuh waktu lama tangan kirinya mengobarkan api merah yang meliuk-liuk cantik ditangannya.
“A-Aku bisa,” senyum Naomi merekah.
“Belum,” Noid kemudian berdiri dan mengajak Melody, Bayu dan Dimas juga berdiri.
“Maksudmu belum?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Sekarang kau berdiri, dan kendalikan api itu diseluruh tubuhmu.”
Setelah berkata seperti itu maka Noid, Melody, Bayu dan Dimas mundur kebelakang.  Naomi berdiri dan mencoba mengeluarkan api disekujur tubuhnya.
“Energimu lebih dari cukup untuk mengeluarkannya, dan lakukan seperti kau melakukannya kepada kedua tanganmu. Dan kali ini lakukan dengan serileks mungkin, fokuskan pikiranmu dan bersikaplah santai,” suruh Noid.
“B-Baiklah,” kata Naomi, segan.
Naomi kemudian mencoba melakukan apa yang diminta Noid, sebisa mungkin ia menyampingkan rasa sedih akan duka meninggalnya sang kakek. Ia terus berusaha memikirkan kalau ia bisa mengendalikan kekuatan apinya dan terus berkonsentrasi dengan pikiran santai. Mendadak kakinya terbakar dan menjalar sampai keatas sehingga tubuhnya itu benar-benar terbalutkan api merah seutuhnya.
“Kendalikan mereka!” seru Melody yang merasakan hawa panas dari api yang dikeluarkan Naomi.
Naomi kembali mencoba melakukannya dengan pikiran santai dan ia memerintahkan pikirannya agar pikirannya itu bisa menuntun apinya melakukan apa yang ia inginkan. Dan memang tak butuh waktu berapa lama api merah itu tidak berkobar secara liar, tapi meliuk-liuk pelan diseluruh tubuhnya.
“Oke,” Noid terkekeh.
“Coba kau lontarkan apimu itu keudara,” suruh Melody.
“Dibilangin jangan memberi saran aneh-aneh,” Noid memiringkan bibir memandang Melody.
“Siapa tau dia bisa?”
“Heeh,” Noid menoleh kearah Naomi, “Itu tidak mung...” dan mata Noid lagi-lagi terbelalak.
Dilihat Naomi menyemburkan api dengan telapak tangan kirinya kearah danau, setelah itu ia mencoba melontarkan apinya keudara dengan kepalan tinju dengan tangan kanan. Api dari tangannya itu terlempar dari tangannya dan meluncur dengan tinggi diudara sampai akhirnya hilang.
“Aku bisa!” Naomi tampak senang bukan main.
“Waduuh,” Noid tertegun.
“Tuh kan bisa,” Melody tersenyum dan memeluk Noid dari belakang.
“... Dia benar-benar cepat belajar ya?” Noid menggaruk-garuk kepalanya.
“Putri Naomi IQ-nya tinggi,” Bayu memiringkan bibir.
“Oh,” Noid memiringkan bibir.
“Coba kau uapkan air dipakaianmu itu,” suruh Melody lagi, Naomi mencoba melakukannya dan benar, pakaiannya dengan cepat mengering karena panas yang ia fokuskan kearah pakaiannya.
“Coba suruh dia membakar pakaiannya juga,” bisik Noid kepada Melody.
“Hmm!!” Melody melotot dan menjewer telinga Noid.
“Adededeh!” Noid menarik kepalanya dan mendumel, “Bercanda.”
“Genit!” dengan posisi memeluknya itu maka ia mencubit-cubit perutnya Noid.
“Naomi, coba sekarang kau padamkan apimu itu,” suruh Noid dengan suara rintihan.
“Baiklah.”
Naomi kembali berkonsentrasi dengan cara yang ia lakukan seperti saat mengeluarkan api, yaitu setenang mungkin. Dan api yang menjilat-jilat tubuhnya itu memudar sehingga apinya benar-benar lenyap dari tubuhnya.
“Aku bisa mengendalikannya!” Naomi terlihat senang bukan main.
“Baguslah!” Noid tersenyum, begitu juga Melody, Dimas dan Bayu.
“Hehehe,” Naomi menoleh kebelakang dan menyeringitkan dahi, “Kenapa kalian bermesraan seperti itu?”
“Terserah aku,” Melody memeletkan lidah untuk mengejek Naomi.
“Dih, norak, kayak gak ada tempat lain aja,” sindir Naomi dengan wajah sinis.
“Apa kau lupa?” tanya Noid tiba-tiba.
“Apa?”
“Kau ini juga seperti ini dulu sewaktu terpengaruh air sialan itu, kemana-mana selalu memelukku! Kau tanya saja anak buahmu ini,” Noid menyengakkan wajahnya dan memiringkan kepalanya menunjuk Bayu.
“I-Itu kan karena pengaruh air sialan itu?!” wajah Naomi memerah.
“Bahkan dimana saja kau selalu memelukku!” tambah Noid dengan wajah bengis.
“Sudah kubilang itu gara-gara air sialan itu!” seru Naomi.
“Awas kalau kau ingin merebut suamiku!” Melody melotot.
“Siapa juga yang sudi?!”
“Hahahaha,” Dimas tertawa ringan.
“SUDAH KUBILANG GARA-GARA AIR ITU!” teriak Naomi ke Dimas.
“Eh... h-hamba tidak ada ngomong apa-apa,” Dimas tertegun.
“Tapi barusan kau ngomong!”
“I—Iya sih... t-tapi tidak bermaksud mengejek...”
“Sudahlah Naomi,” kata Noid menengahi.
“Apa??”
Noid tersenyum dan berkata, “Yang penting kau sudah bisa mengendalikan apimu itu.”
Naomi terdiam.
“Selamat ya,” Melody juga tersenyum.
“Anda sudah berhasil melakukannya,” ditambah Bayu.
“S-Selamat, tuan putri...” dilanjut Dimas dengan suara pelan, takut dibentak lagi.
Naomi terdiam dan tersipu malu, ia kemudian menatap Noid.
“T-Terima kasih sudah mengajariku...”
“Tidak apa-apa, anggap saja balas budi sebagai ungkapan terima kasihku padamu.”
“Terima kasih dalam soal apa?” tanya Melody.
“Karena dia aku merasa beruntung menjadi seorang pria.”
“Maksudnya?” tanya Melody dan Naomi berbarengan dengan alis mengkerut.
“Berkat Naomi aku akhirnya merasakan bagaimana rasanya memegang dada wanita hahahahaha! Mantap!” seru Noid bahagia dengan polosnya, dan memberikan tanda jempol tangan.
Tak ayal lagi gara-gara itu Noid dihajar membabi buta oleh Melody dan juga Naomi. Melihat Noid merintih kesakitan dihajar oleh Melody dan Naomi membuat Bayu menghela nafas dan berbicara dengan Dimas.
“Kurasa cerita dia yang sering disakiti oleh para penduduk kerajaannya itu mungkin karena ulah mulutnya sendiri,” Bayu menduga-duga dengan bibir yang miring.
“Sepertinya begitu...” Dimas menyiyakan saja.
“Oh iya!” Bayu menepuk telapak tangannya, “Tuan putri dan putri Melody.”
“Apa?!” Melody dan Naomi menghentikan pembantaian yang mereka lakukan dan bengis memandang Bayu.
“Saya mau mengingatkan kalau besok kita akan ke desa Distorsia, seperti yang kami beritahukan saat rapat selesai kalau ada ‘Keturunan’ sentry api yang lain sedang menunggu tuan putri Naomi disana. Dan tuan Noid juga mengatakan kalau dia ingin ikut karena mau mengambil energi dari batu sentry api dan petir tersebut.”
“Ada lagi?” tanya Naomi.
“Tidak ada,” Bayu menggelengkan kepalanya.
“BAGUS! DAN JANGAN HENTIKAN AKU!” Naomi melanjutkan penganiayaannya terhadap Noid.
“MESUM!!” ditambah dengan Melody yang kesal setengah mati karena suaminya telah menyentuh dada wanita lain.
Bayu dan Dimas hanya melongo melihat Noid merintih-rintih kesakitan dianiaya Melody dan Naomi secara brutal.  Sepertinya suasana duka akan semakin bertambah kalau Noid mati gara-gara penganiayaan itu.  Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi karena orang seperti Noid matinya lama terlebih lagi ia pasti tak rela mati karena  dicap sebagai orang mesum sebelum mati.
Beautifull Aurora IV
Keesokan harinya Rombongan mobil kerajaan Stor sedari pagi sudah mengitari jalanan dalam perjalanan mereka menuju Desa Distorsia. Iring-iringan Braptor juga bertambah 2 kali lipat dari terakhir rombongan kerajaan ini pergi. Yang berada dalam rombongan ini adalah Ratu Stor, Naomi, Sinka, Noid, Melody, Raja Laks, Frieska, Remo, Beny beserta anggota Venom lainnya. Perjalanan yang memakan waktu 3 jam ini sudah menurun hingga 2,5 jam. Jadi setengah jam lagi mereka akan sampai.
“Jadi kamu sudah bisa mengendalikan kekuatan apimu?” tanya ibunya.
“Ya, lumayan,” Naomi mengangguk.
“Jangan ngomong aja kak, buktikan! Jangan seperti dipesawat nanti saat kita pulang, kakak hampir saja membakar pesawat. Untung saja ada kak Imel dipesawat waktu itu!” seru Sinka sambil memeluk Remo yang tertidur.
“Hmm,” Naomi memiringkan bibir dan menunjukan api yang menggeliat ditelapak tangan kanannya, “Mau bukti lagi?”
“Waah,” ibunya takjub begitu juga Sinka.
Naomi memadamkan apinya tersebut dan bertanya kepada ibunya, “Apa benar ada ‘Keturunan’ sentry api menungguku disana?”
“Ya, kata Beny seperti itu. Ia mendapatkan telepon dari penduduk Distorsia, sepertinya ‘Keturunan’ sentry itu datang dari negeri yang jauh. Wajahnya tampak asing bagi penduduk negara kita.”
“Begitu... dia ada keperluan apa denganku?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Tidak tahu, tapi sepertinya penting.”
“Hmm,” Naomi memanggut sebentar.
“Kalau begitu semisalkan gas dikompor gas kerajaan abis, kita pakai kekuatan kak Omi aja!” seru Sinka memberi saran.
“Ide yang bagus,” ibu mereka berdua tersenyum.
“Dih!” Naomi mendengus kesal karena disamakan dengan kompor gas kerajaaan.
Lain juga perbincangan dimobil rombongan kerajaan Laks, Raja Laks dan istrinya melongo memandang wajah Noid yang babak belur.
“... Kenapa kau dihajar sama Imel?”
“... Karena kejujuran... terkadang membawa malapetaka...” jawab Noid susah payah.
“Huh!” Melody mendengus kesal, melipat tangan dan menoleh kearah lain.
“Hihihihi!” dan Frieska sedari tadi cekikikan tertawa melihat wajah Noid yang benar-benar babak belur dihajar kakaknya.
Raja Laks dan istrinya hanya bisa menyeringitkan dahi memandang tingkah Noid dan Melody. Tak lama kemudian rombongan pun sampai di Desa Distorsia dan disambut penduduk dengan suka cita. Meskipun ada juga yang masih menyampaikan bela sungkawa dan sedih akan kepergian sang Raja yang telah membawa kesejahteraan bagi negara Andonia. Rombongan terus berjalan hingga mencapai kuil, tempat dimana Batu Sentry Api dan Petir berada. Keamaan desa pun diperketat dengan bantuan Venom karena mereka tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali saat kunjungan pihak kerajaan terakhir kali disini.
“Selamat datang Ratu... dan saya benar-benar berduka cita dengan kepergian paduka raja,” sambut sang pendeta kuil.
“Terima kasih... apa orang yang mencari Naomi berada didalam?”
“Ya, silahkan masuk. Dia sudah menunggu sedari kemarin-kemarin.”
Semua rombongan Stor dan Laks masuk kedalam kuil. Dan tertampang dengan megah batu Sentry api dan petir didalam kuil tersebut. Akan tetapi ada yang unik, karena dipuncak batu yang besar itu terdapat seorang pemuda yang sedang duduk santai diatasnya.
“Akhirnya kau datang juga,” ujar pemuda itu dengan senyuman.
Semua orang menoleh keatas, Ratu Stor pun berbicara dengan pendeta.
“Apa itu dia?”
“Ya,” pendeta tersenyum dan mengangguk.
“Negara kalian memang hebat, untung saja pendeta itu memberikan chip penerjemah. Karena saat aku datang kesini aku tidak tahu bahasa apa yang ia katakan,” pemuda itu terkekeh.
“... Kau siapa?” tanya Naomi.
“Oh maaf, aku lupa memperkenalkan diri.  Namaku Ozy, aku juga salah satu ‘Keturunan’ sentry api,” Ozy tersenyum.
“Ozy?” Noid menyeringitkan dahi.
“Ya, kenapa?” tanya Ozy dengan wajah polos.
“Tidak... kau siapanya Azy? Izy? Ezy dan Uzy?” Noid terkekeh dengan candaan recehnya, dan hanya dia sendiri yang terkekeh.
Alias leluconnya gagal.
“Hmmmm,” Ozy memalaskan mata dan memiringkan bibir, “Kalau tak salah kau ini ‘Keturunan’ sentry petir bukan?”
“Begitulah,” Noid memiringkan bibir gara-gara lelucon yang gagal tadi.
“Kenapa wajahmu babak belur seperti itu? Apa pertempuran dikerajaan Laks begitu berat?” Ozy menyeringitkan dahi.
“Err ya begitulah, pertempuran itu sangat berat hingga wajahku masih penuh luka seperti ini,” balas Noid, Melody dan Naomi memiringkan bibir sambil melipat tangan mendengar jawabannya.
“Wow... tapi entah kenapa aku merasakan nada kebohongan dari ucapanmu barusan,” Ozy mengetuk-ngetuk dagunya.
“Jangan pikirkan aku, pikirkan urusanmu disini,” Noid mencoba mengubah topik pembicaraan.
“Oh kau benar!” Ozy menepuk kepalanya, Noid bernafas lega, “Aku mempunyai urusanmu tuan putri.”
“Urusan apa?” tanya Naomi.
“Sebentar...”
Tiba-tiba saja api merah menyelimuti tubuh Ozy dan dari api merah itu berganti dengan api biru.  Noid dan Melody terkejut saat merasakan aura ‘Keturunan’ Sentry api yang dikeluarkan Ozy. Dengan api birunya itu maka dijadikan Ozy untuk melayang dan mendarat dibawah.
“... Level 2 mu kuat sekali...” komentar Noid.
“Oh, aku sudah mencapai level 3,” Ozy tersenyum sesudah memadamkan api disekujur tubuhnya.
“Begitu... pantas aku merasakan batas energi level 2 mu begitu tinggi...” ditambah Melody.
“Ya begitulah,” Ozy tersenyum dan memandang Naomi, ia kemudian membungkuk untuk menghormati Naomi, “Terima kasih sudah sudi datang menemui hamba disini tuan putri.”
“Tidak perlu membungkuk... aku hanya ingin tahu apa urusanmu denganku,” ujar Naomi dan memberi tanda untuk Ozy agar berdiri.
“Terima kasih,” Ozy berdiri dan memandang Naomi, “Kemunculan saya kesini atas permintaan Raja Stor sebelumnya, apabila terjadi sesuatu kepadanya dan ia sudah memerintahkan hal ini kepada saya untuk memberikannya kepada tuan putri.”
“Apa itu?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Mungkin lebih baik langsung kita lakukan, tolong putri sentuh batu Sentry-nya,” Ozy menyingkiri untuk memberi Naomi jalan.
“... Kenapa?” tanya Naomi.
“Sentuh saja, dan tuan putri akan tahu,” Ozy tersenyum.
Naomi dengan segan berjalan menuju batu Sentry, ia merentangkan tangan kanannya dan menyentuh batu tersebut. Batu Sentry tiba-tiba memancarkan sedikit cahaya seperti menyambut kedatangan ‘Keturunan’ sentry api.
“Terus?” tanya Naomi.
“Maaf, ini mungkin lancang. Tapi izinkan saya menyentuh punggung tuan putri.”
“Eh? Untuk apa?” tanya Naomi.
“Bukan sesuatu yang merugikan anda,” Ozy tersenyum.
Ozy meletakan telapak tangannnya kepunggung Naomi dan ia memejamkan mata seolah ingin memusatkan konsentrasinya. Tiba-tiba saja Cahaya batu Sentry memancar begitu kuat dan Naomi merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya.
“I-Ini...” Noid dan Melody terbelalak karena mereka bisa merasakan apa yang terjadi.
“A-Apa yang terjadi?” Frieska kesilauan dengan cahaya batu tersebut, begitu juga yang lain.
Tak lama kemudian cahaya itu memudar dan Ozy tersungkur kelantai dengan nafas terengah-engah, peluh keringat terus menetes.  Sedangkan Naomi terbelalak matanya, ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
“A-Apa ini?!”
Ozy merangkak dan menyentuh batu Sentry api tersebut, terlihat ia membutuhkan energi dari Batu sentry. Dengan senyuman maka ia berkata.
“Apa tuan putri bisa merasakan aura ‘Keturunan’ sentry lain?... coba fokuskan pikiran tuan putri....”
Naomi mencoba melakukan apa yang Ozy pinta, dan ia segera membelalakan matanya dan menoleh kebelakang.
“... A-Aku... aku bisa merasakan aura kalian...” ujarnya kepada Noid dan Melody.
“B-Bagaimana...” Melody terperangah dan kesulitan menerima kenyataan didepannya.
“... Bagaimana kau melakukannya?” tanya Noid kepada Ozy, dia juga terlihat tidak menyangka.
“Hal ini hanya bisa dilakukan oleh ‘Keturunan’ Sentry api,” Ozy tersenyum, “Seperti yang dilakukan Raja Stor terhadapku dulu.”
“Maksudnya?” Naomi menyeringitkan dahi.
“Tuan putri... dulu sewaktu kelahiran tuan putri... tuan putri sudah ditakdirkan menjadi ‘Keturunan’ sentry api... tapi karena beliau khawatir dengan anda maka ia menyimpan kekuatan anda didalam dirinya... anda tahu bukan kalau ‘Keturunan’ sentry dianggap tabu dijaman ini... apa yang dilakukan Raja Stor hanya untuk melindungi tuan putri...” jelas Ozy yang mulai sedikit engahan nafasnya, tampak ia sudah sedikit mengumpulkan energi api dari batu tersebut.
“L-Lalu apa yang tadi kau lakukan?” tanya Sinka.
“... Raja Stor mentransfer kekuatan putri Naomi kedalam tubuhku, dan memintaku mengembangkan kekuatan tuan putri didalam tubuhku... itulah perintah yang aku dapatkan darinya sebagai balas budi dengan apa yang dia lakukan untuk membantu hamba dan keluarga hamba...”
“Transfer?”
“Ya... itu kekuatan tuan putri yang mengikuti perkembangan kekuatan level ku... level tuan putri sudah kukembangkan ke level 3... dan semenjak meninggalnya Raja Stor, maka inilah tugasku... Raja memintaku untuk mengembalikan kekuatan putri...”
“Apa?!” Naomi kaget setengah mati, begitu juga dengan yang lain.
“Ya...” Ozy tersenyum, “Tuan putri sekarang sudah memiliki kekuatan api level 3...”
“T-Tapi ini kan kekuatanmu... usahamu... apa dengan ini kau kehilangan kekuatan apimu?” tanya Naomi.
“Tidak, aku masih memiliki kekuatan api dan level-ku masih level 3. Aku hanya memberikan kekuatanmu, milikmu seutuhnya yang kudapatkan dari Raja Stor... jadi jangan khawatirkan hal itu...”
“T-Tapi kenapa... aku... aku...”
“Itu karena Raja Stor perduli denganmu tuan putri...” kata Ozy dan berdiri karena ia sudah lebih dari cukup mengambil energi dari batu, “Dan seperti yang tuan putri rasakan, kekuatanku sama seperti putri, berada di-level 3...”
Naomi terdiam karena ia memang merasakan kekuatan Ozy setara dengan dirinya dan jauh lebih kuat dari Noid dan Melody karena mereka berdua masih berada di-level 2. Naomi kemudian memandang Ozy.
“Tapi kenapa kakek melakukan ini?”
“Untuk berjaga-jaga, karena ujian yang dihadapai ‘Keturunan’ sentry api menuju level 3 sangatlah berat. Dan beliau khawatir apabila tuan putri dimakan oleh level terlarang, karena level terlarang dari ‘Keturunan’ sentry api akan membuat tuan putri kehilangan akal... putri akan membunuh siapapun yang tuan putri lihat dan akan membunuh diri sendiri karena level terlarang benar-benar menguras energi api, bahkan energi kehidupan tuan putri...”
Naomi terdiam dan Ozy melanjutkan pembicaraannya.
“Itulah kasih sayang Raja terhadap tuan putri... ia bukannya tidak mempercayai tuan putri tidak akan bisa melewati fase itu... hanya saja dia tidak ingin tuan putri celaka gara-gara itu... kalau boleh jujur sewaktu aku dalam fase menuju level 3... aku hampir merenggut nyawaku sendiri... ujiannya benar-benar berat tuan putri, harus benar-benar mengendalikan hawa Nafsu dan emosi... itu sangat berat...”
“Begitu...” Naomi menundukan kepalanya.
“Ya, terimalah kekuatan itu. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan ini terlebih lagi kekuatanku juga tidak berkurang,” Ozy tersenyum, “Dan sekarang aku tinggal melanjutkan tugasku yang terakhir.”
“Tugas yang terakhir?”
“Ya,” Ozy mengangguk, “Mulai sekarang aku bersama keluargaku akan tinggal didesa ini, untuk menjaga batu ini. Jadi pihak kerajaan jangan khawatir lagi untuk mencari keberadaan ‘Keturunan’ sentry api untuk menjaga ini. Aku bersedia melakukannya.”
“Benarkah itu?” Raja Stor tertegun.
“Ya, aku sudah berjanji kepada Raja Stor. Dan pendeta juga tahu tentang kesepakatan ini...”
“Ya, itu semua benar. Bahkan Raja sudah menyiapkan tempat tinggal untuknya dan keluarganya di Desa ini,” pendeta tersenyum.
“... Kenapa kau mau repot-repot melakukan ini...? bahkan kau rela melewati fase itu... hanya untuk ini...”
“Aku hanya menjalankan perintah dan aku sangat berhutang budi kepada Raja Stor, ini bukan hal yang besar bagiku.  Terlebih lagi raja sudah membantuku dan keluargaku, bahkan disini saja aku sudah disiapkan tempat tinggal...” Ozy tersenyum.
“... Begitu...”
Noid kemudian berjalan kearah batu dan menyentuh batu tersebut hingga bersinar, sekedar mengambil energi petir yang terkandung didalam. Selama mengambil energi maka ia menoleh kebelakang.
“Jangan lupakan adab-mu, tuan putri,” Noid terkekeh.
Mendengar itu membuat Naomi tahu maksudnya, ia kemudian membungkuk dihadapan Ozy dan mengatakan, “Terima kasih!”
“Eh? T-tuan putri... jangan seperti itu...” Ozy pangling.
Akan tetapi tidak hanya Naomi yang melakukannya, Sinka dan anggota kerajaan Stor juga melakukan yang sama. Ozy benar-benar bingung dan salah tingkah dengan perbuatan anggota kerajaan ini sampai akhirnya Ratu Stor menghampiri dan menepuk pundaknya.
“Terima kasih, saya pastikan kalau ayahku senang mempercayai orang sepertimu.”
Ozy terdiam dan tak lama ia pun membalas dengan senyuman, “Sudah menjadi kewajibanku, paduka Ratu.”
“Enak juga ya main transfer-transfer begini... jadi apa perbedaan dengan kekuatan apinya?” tanya Noid setelah selesai mengambil energi.
“Transfer ini hanya bisa dilakukan oleh ‘Keturunan’ Sentry api dan air, itu yang kuketahui dari Raja lewat catatan kuno. Dan tuan putri...”
“Ya?”
Level 2 merupakan api biru, panasnya diatas api merah di level 1. Tapi kalau tuan putri sudah bisa mengendalikan api maka tuan putri bisa mendinginkan api tersebut, bahkan putri bisa memerintahkan api biru itu untuk terbang dan tentu saja kekuatan serangan dari level 2 jauh lebih kuat dari api level 1.”
“Aku tahu, aku pernah melihat kakek menggunakannya.”
“Baik, nanti tuan putri bisa asah sendiri dengan kemampuan yang diinginkan tuan putri. Dan level 3 merupakan api putih, api ini hampir tidak bisa dilihat akan tetapi memiliki panas yang jauh panas diatas api biru. Kekuatan api putih sangat dahsyat bahkan bisa menahan ledakan bom, dan aku ada sedikit hadiah untuk tuan putri.”
“Hadiah apa?”
“Sebentar.”
Ozy mengubek-ubek isi tasnya dan mengelukaran sebuah gagang pedang akan tetapi tidak ada pedangnya.
“Apa itu?” Noid menyeringitkan dahi.
“Ini adalah buatan temanku, yang merupakan ‘Keturunan’ sentry besi.  Dan ini adalah senjata yang cocok untuk para ‘Keturunan’ sentry.”
“Hanya gagang pedang?” Melody juga menyeringitkan dahi.
“Ini bukan gagang biasa,” Ozy tersenyum, “Sebentar, akan kupraktekkan.”
Ozy kemudian menjauh sedikit, tiba-tiba saja tubuhnya dilahap api merah akan tetapi api merah itu menjalar memasuki gagang pedang dan mendadak muncul pedang berupa api merah dari gagangnya tersebut.
“K-Keren!” Beny dan Bayu takjub melihat itu.
“B-Bagaimana bisa?” Noid, Naomi dan Melody terbelalak matanya.
“Ya, gagang ini hanya bisa berfungsi bagi ‘Keturunan’ sentry, dan ini juga bisa diubah sesuai keinginan. Semisalnya aku ingin mengubahnya menjadi senjata level 2 kekuatan api,” Ozy kembali berkonsentrasi dan tiba-tiba saja pedang api itu berubah warna menjadi biru, “Ya seperti ini.”
“Apa kekuatanku juga bisa?” tanya Noid.
“Ya, bisa. Tapi maaf, ini untuk tuan putri,” Ozy memadamkan api dan menyerahkan gagang pedang itu kepada Naomi.
“Apa selain pedang juga bisa?” tanya Melody.
“Dia bisa menciptakan pedang, pecut dan yang terakhir kulihat ia membuat pistol. Pelurunya tentu saja tanpa batas tergantung energi ‘Keturunan’ sentry-nya.”
“Apa kau bisa memperkenalkanku kepadanya?” pinta Noid menggebu-gebu.
“Dia ada dinegeri yang memiliki batu sentry besi, anda bisa kesana dan mencari orang yang bernama Ega, ia yang menciptakan senjata-senjata ini untuk para ‘Keturunan’ Sentry... tapi masalahnya ia suka berkelana dinegara itu, ia sudah berpindah-pindah tempat.”
“Negara batu besi ya... dinegara mana itu?” tanya Noid kepada Melody.
“Bira, apa mau kesana?” tanya Melody.
“Ya, tapi kita kenegara angin dulu untuk merekrut ‘Keturunan’ angin bernama Pris itu, baru kita bersama-sama ke Negara besi,” usul Noid.
“Terserah kamu saja, hanya bisa nurut sama suami,” Melody tersenyum dan melipat tangan.
“Eh? Suami?” pendeta terkejut.
“Kenapa?” tanya Raja Laks.
“Bukan... tapi terakhir kali kesini bukankah Noid dan putri Naomi meminum air keramat itu?”
“Oh kami sudah bebas dari kutukan itu, berkat wanita itu,” Noid menadahkan kepalanya kearah Melody.
“Wanita itu?” Melody melotot.
“Err maksudku, istriku...” kata Noid, berkeringat dingin.
“Hmm,” Melody kembali tersenyum.
“Oh begitu, kalau begitu maafkan saya. Saya tidak tahu kalau tuan putri menjadi istri Noid, saya kira tuan putri Naomi!” kata pendeta buru-buru meminta maaf.
“Tidak perlu meminta maaf,” Melody tersenyum.
“Ya tidak perlu, siapa juga yang sudi menjadi istri penyuka dada seperti dia!” Naomi melotot kearah Noid.
“Penyuka dada?” semua orang kompak memandang Noid kecuali Naomi dan Melody.
“... Dada ayam maksudnya... aku sangat suka dada ayam hingga lupa bernafas saat memakannya,” Noid memiringkan bibir.
“Jadi begitulah tuan putri, latihlah kekuatan anda, seluruh kekuatan anda. Dan kalau saya berhasil melalui level 4, aku akan memberitahukannya kepada tuan putri,” kata Ozy kepada Naomi.
“Tidak perlu, sudah cukup pengorbananmu,” Naomi tersenyum, “Biarkan aku mencari caranya sendiri, dan kalau aku berhasil aku yang akan memberitahumu.”
“Memang bagaimana kau mencarinya? Catatan kuno tidak lengkap, yang mengetahui caranya hanyalah kakekmu itu,” Noid memiringkan bibir.
“Aku sudah memikirkannya tadi malam.”
“Apa?”
Naomi memandang Noid dan berkata, “Aku akan ikut dengan perjalanan kalian.”
Semua orang yang ada disitu terkejut, kecuali Ozy dan pendeta karena tidak tahu maksudnya.
“Naomi?!” seru ibunya.
Naomi menoleh dan berbicara, “Maafkan aku, Bu. Tapi aku sudah membulatkan tekadku, aku tidak akan diam saja dan membiarkan orang yang membunuh kakek melakukan tindakan semena-mena. Terlebih lagi ancamannya yang hendak membangkitkan Bligther, hal itu sangat menyalahi ketentuan karena yang mengetahui kiamat kapan terjadi adalah Sang Maha Pencipta.  Dia ‘Keturunan’ busuk itu hendak mendahului ketentuan Sang Maha Pencipta. Aku tidak akan membiarkan hal itu!”
“Tapi itukan berbahaya!” seru ibunya sekali lagi.
“Ya ini berbahaya Naomi, kau tentu tidak terbiasa melakukan perjalanan panjang bukan? Terlebih lagi kalau kenapa-napa ditengah jalan belum tentu aku bisa melindungimu, karena aku juga mempunyai istri yang harus aku lindungi,” Noid mendahkan kepalanya menunjuk Melody.
“Siapa juga yang butuh perlindunganmu? Apa kau lupa kalau kekuatanku ini 1 tingkat diatasmu?” Naomi memiringkan bibir.
“Curang, pake transfer segala,” Noid mendesih dengki.
“Tapi Naomi...”
“Ibu!” potong Naomi, “Aku sudah besar dan aku bisa menjaga diri, tolong bu. Dion itu benar-benar ancaman nyata, dan aku harus meningkatkan kekuatanku dan mencari cara untuk mengalahkannya... kakek yang sudah berada di-level tertinggi saja bisa dikalahkannya dengan mudah... aku tidak ingin hal itu terjadi lagi bu...”
“Tapi...”
“Untuk sekali ini saja tolong jangan memperlakukanku seperti anak kecil, Bu! Percayalah kepadaku!” seru Naomi.
Ratu Stor terdiam melihat tekat anaknya tersebut, begitu juga orang-orang lain dan bisa terlihat kalau Naomi sungguh-sungguh ingin melakukan perjalanan dengan Noid dan Melody dipenjuru dunia untuk menjadi lebih kuat dengan pengalaman mereka kelak.
“... Apa kau yakin, nak...?” tanya Ratu Stor.
“Ya,” Naomi mengangguk.
“Hmm,” Sinka tersenyum, “Kau benar-benar wanita sejati kak.”
“Hmm,” Naomi pun membalas senyuman adiknya.
“Tapi tunggu,” Noid tiba-tiba angkat bicara.
“Apa?” tanya Naomi mewakili yang lain.
“Apa kau yakin mau ikut perjalananku bersama wanita air itu?”
“Wanita air?!” Melody melotot memandang Noid.
“...Maksudku, istriku,” Noid menelan ludah, Melody tersenyum puas.
“Kenapa?” Naomi menyeringitkan dahi.
“... Tidak, hanya saja kau jangan melakukan hal-hal yang aneh terhadapku.  Ternyata dia benar-benar pencemburu... kau tak melihat wajahku ini?”
“Dih! Siapa yang sudi mau menggodamu!” kata Naomi ketus.
“Dan kenapa kau khawatir dengan hal itu!” Melody melotot dan entah dari mana sudah ada riak-riak air tajam melayang tepat didepan ‘Kejantanan’ Noid.
“... A-Aku hanya bercanda...” Noid bergegar kedua lututnya dan keringat dinginnya mengucur.
“Itu tidak akan terjadi,” ujar Beny.
“Apa maksudmu?” tanya Noid
“Ratu, aku juga akan ikut menemani tuan putri,” Beny menawarkan diri.
“Aku juga,” Bayu mengangkat tangannya.
“Aku tidak meminta kalian untuk ikut,” kata Naomi.
“Mohon maaf tuan putri, tapi kami berdua sudah sangat terbiasa dengan alam bebas dan kami juga terlatih. Setidaknya menemani perjalanan tuan putri dari kami bisa meringankan kekhawatiran ibunda tuan putri,” ujar Beny.
“... Hmm Bayu dan Beny.... kalau mereka berdua rasanya memang tidak akan mengkhawatirkan,” ungkap Sinka karena prestasi Beny dan Bayu sebagai anggota Venom sudah tidak bisa diragukan lagi, terlebih lagi Beny yang terkenal dimana-mana.
“Benar juga,” Frieska menyetujui penawaran.
“Ya, setidaknya perjalanan ini tidak sepi-sepi amat,” komentar Melody.
“Apa kalian sungguh-sungguh dengan hal ini?” tanya Ratu Stor kepada Beny dan Bayu.
“Kami yakin, baginda Ratu. Terlebih lagi ancaman nyata terhadap tuan putri Naomi sudah berada didekatnya sedari tadi,” kata Beny.
“Siapa?” Noid menyeringitkan dahi.
“Ya kau! Memangnya siapa lagi?!” kata Beny ketus.
Noid mendumel-dumel dan ditertawai Sinka dan juga Frieska. Sedangkan Naomi memandang Bayu dan Beny, “Apa kalian yakin ingin menemaniku?”
“Ya tuan putri,” Bayu tersenyum.
“Percayakan kepada kami,” Beny membungkukan badannya.
Melihat hal itu maka Naomi menoleh kearah ibunya, “Jadi bagaimana?”
Ratu Stor menghela nafas dan menoleh kearah Beny dan Bayu, “Saya harap kalian menjaga Naomi. Saya percayakan tugas ini kepada kalian berdua, temani perjalanan mereka dan bantulah mereka tanpa perlu disuruh. Mengerti?”
“Terima kasih, baginda Ratu!” Beny dan Bayu membungkukan tubuh mereka kearah Ratu Stor.
“Kalau begitu sudah tidak masalah lagikan?” Naomi tersenyum.
“Dan ingat! Jangan membahayakan dirimu sendiri!” ibunya memberi nasihat.
“Justru itu yang kucari,” ujar Naomi dengan nada bercanda.
“Kalau begitu mari saya jamu kalian makan, keluarga saya sudah menghidangkan masakan yang lezat untuk semuanya,” ajak Ozy.
“Terima kasih,” ungkap Ratu Stor.
Satu per satu orang keluar dari kuil menyisakan Noid dan Melody didalamnya. Noid terus memandang Batu api dan petir sampai akhirnya Melody menghampiri untuk melihat batu yang sama.
“Sepertinya perjalanan kita nanti akan ramai,” ujar Melody.
“... Ya...” Noid menoleh dan melihat Melody, “Kenapa cemberut begitu?”
“Pikir saja sendiri,” balas Melody jutek dan melipat tangan.
“Heleeeh, ayo keluar. Diajak makan sama tukang transfer tadi,” ajak Noid.
“Kau saja kesana! Aku males!”
“... Ngambek ceritanya nih?” Noid memiringkan bibir.
“Siapa juga yang ngambek sama kakek-kakek berumur 300 tahun?!” Melody cemberut, bibirnya manyun.
“Hmm.”
Noid menghampiri Melody dan membuat istrinya berdiri dihadapan dirinya. Melody masih kecut wajahnya dan tangannya terus melipat.
“Jangan beritahukan hal ini kepada orang lain...”
“Ng?” alis Melody naik sebelah.
“Anggap saja Batu ini menjadi saksinya,” Noid menadahkan kepalanya kesamping untuk menunjuk batu sentry api dan petir.
“Maksudnya?” Melody menyeringitkan dahi.
Dan tanpa perlu banyak bicara lagi Noid menahan tubuh Melody dan tanpa basa-basi juga ia langsung mencium istrinya tersebut. Melody kaget setengah mati dicium tiba-tiba seperti ini, setelah itu Noid melepaskan ciumannya. Kedua pipi Melody merona merah sedangkan Noid canggung bukan main.
“Errr kau tak marah kan?”
Melody menunduk menahan malu. Mereka membisu satu sama lain, akan tetapi Melody yang teringat pertanyaan suaminya barusan kemudian tertawa kecil dan menarik-narik pakaian Noid.
“... Lagi...”
“Ng? Apanya?” Noid menyeringitkan dahi.
“Lagi...” Melody cemberut memandang Noid.
Tahu maksudnya lagi-lagi membuat Noid salah tingkah.
“Errr tapi habis ini kita makan ya?”
“He’em,” Melody mengangguk dan tersenyum.
“O-Oke...”
Dengan perasaan malu maka Noid kembali mencium istrinya tersebut, Melody juga menyambut ciuman tersebut dengan suka cita. Tak jarang mereka saling membalas pagutan bibir selayaknya suami istri, setelah 3 menit akhirnya mereka melepaskan pagutan dibibir mereka masing-masing.
“Nnggggg,” Melody tersenyum, memeluk Noid dan menubrukan kepalanya didada suaminya tersebut.
“Gak merajuk lagi kan?” Noid mengusap-usap bagian belakang kepala Melody.
Melody mengeleng-geleng sehingga Noid merasa kegelian karena Melody menggeleng-geleng didadanya itu.
“Oke, yuk?” ajak Noid.
“Iya,” Melody mengubah posisinya, ia memeluk pergelangan tangan Noid dan membaringkan kepalanya dilengan tangan suaminya tersebut karena Melody pendek.
Mereka kemudian berjalan untuk keluar, dan saat didepan kuil Melody menghentikan langkah kakinya.
“Kenapa?” tanya Noid.
Melody menadahkan kepalanya, tersenyum dan berkata, “Lagi...”
“Tak kenyang-kenyang bu?”
“Ihhh! Lagi!” pinta Melody dengan wajah cemberut.
“Hahahaha,” Noid tertawa.
Mereka kembali berciuman didepan kuil dan tak sedikit warga desa Distorsia menyaksikan keintiman mereka berdua. Setelah puas berciuman maka mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Ozy.  Dan rencana mereka untuk melakukan perjalanan setelah pelantikan formal ibunda Naomi dan Sinka sebagai Ratu Stor yang akan menjalankan pemerintahan baik untuk kerajaan dan juga negaranya. Dan perjalanan mereka nanti juga akan dilakukan bersama Beny, Naomi dan Bayu.
Dan cerita perjalanan mereka akan dimulai setelah hari itu.
[ B E R S A M B U N G ]
Beautifull Aurora IV
[ C E L O T E H A N ]
Hentikanlah meminta diri sendiri untuk dimasukan kedalam cerita saya... saya bingung motivasinya apa... malah nawar lagi perannya menjadi apa wkwkwwk. Jangan ya, nikmati saja ceritanya. Apalagi B.A IV ini benar-benar kelemahan saya karena saya kesulitan mengurai cerita fantasi.

© Melodion 2017 All Right Reserved

1 comments:

avatar

Motivasinya biar berasa gk jones kali wkwkwk

Click to comment