Type something and hit enter

author photo
Posted by On
Bagi yang belum cukup umur dilarang keras membacanya. Karna cerita ini mengandung kekarasan, pembunuhan, kata-kata kasar, dan perbuatan-perbuatan dewasa.
Cerita ini hanya cerita karangan dan bukan berdasarkan cerita asli. Buat para pembaca tidak diperbolehkan meniru semua perilaku dalam cerita ini.
HAPPY READING...

~~~~*~~~~*~~~~
"Masih kuat".
"Uhuk, uhuk ?".
"Kayanya batuk barusan pertanda 'Iya' ?".
Semakin besar badanmu maka semakin kuat pula tenagamu. Apalagi bila kau bisa menguasai salah satu ilmu bela diri.
"Kyaaa !!".
Bugh
"Akkhh !".
"Cuma segitu ? Dasar lemah, masa kalah sama yang badannya kecil" Ledekku.
"Anjing lo !" Dia berlari sambil membawa pisau.
Dari mana dia mendapatkannya. Hahaha, menarik sekali orang ini. Dia bisa menyimpan benda tanpa sepengetahuanku.
"Mati lo !" Ucapnya mengarahkan pisaunya ke leherku.
"Eit ?? Ga kena" Hahaha ? Ini sangat mengiburku.
"Mungkin lo gatau kalo polisi udah dateng kesini buat nangkep lo ? Dan pas polisi nangkep lo gue pengen liat muka dibalik topeng lo itu ! Hahaha".
"Hahaha lo bener-bener udah ngibur gue ya".
Polisi akan datang kesini. Buatku itu tak masalah karna aku akan segera menyelesaikannya sekarang.
"Gue tau lo udah panik ? Hahah gue ngulur waktu aja dari tadi, dan lo udah ga bak..".
DOR ! DOR ! DOR
"Ahk !".
Brukk
Sudah aku katakan bukan. Aku akan segera menyelesaikannya. Hvft..., padahal aku masih ingin bersenang-senang dengan babi ini. Sebaiknya aku segera pergi.
"Ahh membosankan" Keluhku.
Telpon Lidya ahh, ngajak dia kencan. Semoga dia tidak sibuk. Kuambil smartphone di kantung saku celanaku. Dan mencari kontak Lidya.
"Halo".
"Ya, halo Lid, kamu lagi sibuk ga" Jangan sibuk kumohon.
"Euumm.. Maunya heheh".
Dia malah bercanda.
"Aku serius sayang".
"Apaan sih to make sayang-sayang segala".
"Hahah lagian kamu bercanda".
"Aku ga sibuk kok ? Kenapa emang" Yes ga sibuk.
"Aku mau ngajak jalan Lid".
"Ketauan banget jomblonya hahaha" Lidya meledekku.
Ck, padahal sendirinya jomblo juga. Sesama jomblo harusnya saling melengkapi ? Ya kan, ya kan.
"Hadeuh, ya udah ga jadi".
"Gitu aja ngambek".
"Lagian aku serius kamu malah bercanda" Kini suaraku aku buat sok imut gitu, biar Lidya gemes.
"Ishh ! Gausah di imut-imutin gitu, geli tau".
Harapan tak sesuai fakta, huhuhu.
"Yaudah besok aku jemput".
"Lahh ? Kirain sekarang jalannya".
Maunya sih sekarang ketemu Lidya tapi aku lelah sekali dan juga sudah terlalu malam.
"Ini udah malem Lidya kalo sekarang" Ucapku meskipun nyesel sedikit.
"Huhh, untung aja besok aku masih ga sibuk".
"Nah pas berarti".
"Iya-iya, yaudah aku mau lanjut baca novel dulu".
"Bukannya tidur malah baca novel".
"Heheh tanggung sayang".
Apa ! Sayang ? Aku tak salah dengarkan. Wow keajaiban macam apa ini. Sejak mengenal Lidya selama 6 bulan baru kali ini Lidya mengatakan 'sayang'.
"Baru digituin udah baper ? Wooo.." Goda Lidya.
"A-apaan dah ? Ga baper sih" Duh jadi gugup.
Wuing! Wuing! Wuing!
Sial ! Aku keasikan menelpon Lidya sampai lupa aku disini.
"Lid gue pulang dulu ya ? Lagi diluar soalnya".
"Ehh itu ada bunyi sirine polisi ? Kamu lagi dimana".
TUTT TUTT TUTT
Bodohnya diriku ini. Aku berlari menuju pintu belakang tempat dimana aku masuk kerumah ini juga.
"Lahh,, perasaan gue doang apa emang tembok belakang rumah ini nambah tinggi".
Seingatku tadi saat masuk kesini temboknya tidak setinggi ini. Haahh, ya sudahlah ngapain mikirin tinggi tembok. Yang terpenting keluar dulu.
"Rrr.." Sial susah juga.
"Hah, hah, hah" Aku sudah diatas tembok.
"Periksa halaman belakang" Ucap seseorang dari dalam rumah si babi.
"Fakk !".
Aku buru-buru melompat. Cepet sekali para polisi itu sudah sampai dalam rumah.
••• KILLER CLOWN •••
Aku masih memikirkan Vinny. Ya, Vinny, dia belum pulang juga. Apa yang terjadi padanya sekarang aku tak tau.
"Yan, bengong aja lo ?".
"Hah ? Kenapa" Ck ! Bikin kaget aja.
"Tuh kan kaga konsen hahah" Ledeknya.
"Bawel lo Vin" Ucapku.
"Kenapa ? Cerita aja kali ".
"Kaga ada apa-apaan" Ucapku berbohong.
"Abis diputusin".
"Putusin apaan ?" Aku mengeritkan dahi.
"Pacarlah masa diputusin ama mantan ? Bego emang".
"Mana ada ! Kaga punya pacar gue" Err..., bisa-bisanya dia berfikiran kaya gitu.
"Terus ngapa lo keliatan galau gitu ?" Masih aja mau tau temanku ini, ck.
"Temen gue diculik".
"Ohh gitu".
Bingung ? Ya, sangat. Reaksinya cuma biasa aja. Tak pernah mengalaminya dia sepertinya.
"Santai amat lo nanggepinnya".
"Kalo temen lo diculik sih gampang caranya".
Hah ! Gampang bagaimana. Sudah dua hari aku mencari Vinny namun tak kunjung aku temukan.
"Gampang gimana ?" Tanyaku.
"Caranya ya lo carilah" Jawabnya enteng.
Plakk
"Auw sakit tolol !".
"Kalo itu dari kemaren udah gue lakuin" Bercanda sih boleh-boleh aja, tapi pada waktu yang tepat.
"Heheh, bego emang" Ucapnya cengengesan.
"Elo yang bego !"
Lebih baik aku melanjutkan mencari Vinny hari ini, dari pada semua teman kerjaku datang menanyakan hal konyol seperti Kevin. Aku berjalan menuju lift, lalu menekan tombol lift. Dan menunggunya sebentar.
Pintu lift terbuka kemudian aku masuk dan menekan kembali tombol lantai satu.
"Hey tunggu ! Jangan ditutup dulu" Teriak seorang wanita kearahku.
Aku menekan kembali tombolnya supaya pintu kembali terbuka.
"Hah, hah ! Makasih ya" Ucapnya di sampingku terengah-engah.
"Ya sama-sama".
Didalam lift tak ada pembicaraan. Aku memang tidak mau bicara untuk saat ini. Aku mau fokus mencari Vinny terlebih dahulu.
"Mau kemana ?".
Aku nenegok kearahnya, dia cuma tersenyum ke arahku.
"Mau nyari temen gue".
"Loh ? Emang temennya kemana ? Ga ada dirumah emang" Tanyanya.
"gak ada" Jawabku singkat.
" Gara-gara kabur dari rumah, diusir, ilang atau diculik".
Hvft..., tak bisakah dia diam.
"Diculik".
"Ehh ! Duh, kasian ya".
Dan seperti inilah yang aku benci. Sok-sok prihatin tidak ada inisiatif membantuku. Atau setidaknya memberi saran untukku harus bagaimana.
"Hmm".
Pintu lift terbuka aku melangkah keluar lift mengarah tempat sepeda motorku yang tengah terparkir didepan markas. Dia masih disampingku berjalan.
"Mau aku bantu nyari ?".
"Ng..., nyari ?" Apa aku tak salah dengar.
"Iya nyari, katanya temennya diculik".
"Err..., gak papa gue bis...".
"Gak baik lohh nolak tawaran orang yang mau ngebantu kamu" Potongnya cepat.
"Kok lo malah maksa" Aneh wanita ini.
"Ya aku perhatiin kamu bengong mulu selama dua hari ini, tidak seperti biasanya".
Aku menaikan sebelah alisku. Dia memperhatikanku, apa anggota lainnya juga sama seperti wanita ini. Sekarang ada dua orang yang memperhatikanku, wanita ini dan Kevin.
"Hvft..., yaudahlah kalo mau bantu" Skakmat, tidak ada pilihan.
"Hihihi".
"Makasih, eeuumm...," Sial aku lupa nama wanita ini.
"Hanna".
"Ahh iya Hanna" Ya, Hanna nama wanita ini.
Dia anggota 'OMA' sama sepertiku namun dia tidak berkerja sepertiku. Hanna sama seperti Shani, tugasnya cuma mengumpulkan informasi.
"Mau nyari kapan" Tanya Hanna.
"Sekarang" Jawabku sudah duduk di jok motorku.
"Yaudah kalo sekarang aku sama kamu aja naik motor" Pintanya.
"Yaudah ayo".
"Kalo aku bawa kendaraan sendiri kan jadi rib..".
"Lo mau bantu atau cuma mau ngajakin ngobrol sih" Sekarang aku yang memotong ucapannya.
"Ehh ?? Iya-iya maaf".
Haaah, dasar betina.
~~~~*~~~~*~~~~
"Ada yang liat kaga ?" Tanyaku ke Hanna.
Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hvft..., kemana lagi ya" Pasrah, ya aku pasrah.
"Yukk cari lagi" Ajak Hanna padaku.
"Bentar istirahat dulu".
Ya, istirahat memang pantas sekarang. Sudah hampir dua jam aku dan Hanna mencari. Tapi belum ada petunjuk tentang Vinny.
"Hmm yaudah deh istirahat dulu".
Hampir seluruh kota ini aku telusuri untuk mencari Vinny. Hasilnya nihil tak ada seorang pun yang melihat Vinny.
~~~~*~~~~*~~~~
"Makasih ya udah mau nganter pulang".
"Gak, gak ? Aturan gue yang ngomong makasih sama lo".
"Heheh, kalo gitu sama-sama" Ucapnya sambil tersenyum.
"Yaudah gue balik dulu" Pamitku.
"Ya hati-hati".
Aku menjalankan mesin motorku menjauhi rumah Hanna. Hari ini seperti kemarin aku gagal menemukan Vinny. Tapi aku tidak akan menyerah sampai Vinny berhasil aku temukan.
~~~~*~~~~*~~~~
Kini aku sudah berada dirumah, duduk diruang tengah dan mengingat-ingat terakhir kali Vinny menelponku.
"Bangsat !!".
Aku selalu kesal kalau mengingat-ingatnya. Aku menyalahkan diriku ini sebab aku terlalu cuek dengan Vinny. Seharusnya aku angkat saja saat pertama kali nomor itu menelponku. Brengsek ! Tolol ! Bego ! Idiot aku ini.
TENG NONG TENG NONG
TENG NONG TENG NONG
Haah, bunyi bel rumahku. Ada yang datang dan memencet belnya hanya dua kali. Vinny, Apa itu dia.
Aku bergegas berlari kearah pintu masuk rumahku lalu membuka pintu kemudian berlari kearah gerbang dan membukanya, yang kulihat...
"Hey kak".
Hadeuh, Shani ngapain malam-malam gini kesini.
"Lo ngapain Shan kemari ?" Tanyaku.
"Aku khawatir sama kakak" Jawabnya menunduk.
"Khawatir ngapa ? Gue kaga kenapa-napa lagi".
"Semenjak temen kakak itu hilang, kakak jadi sering bengong".
Hmm..., iya aku mengakuinya semenjak Vinny hilang aku memang sering melamun. Aku melamun juga karna memikirkan Vinny. Bukan memikirkan hal lain.
Tiga orang sudah yang memperhatikanku. Shani, Hanna, dan Kevin. Selanjutnya siapa lagi.
"Gue masih kepikiran tentang temen gue itu".
"Kakak udah nyari emang ?" Tanya Shani.
"Selama dua hari gue bengong juga gue nyari Shan" Jawabku.
"Kakak udah tanya orang tuanya dia pergi kemana".
"Udah, tapi mereka gatau ? Vinny juga bilangnya mau jalan-jalan doang".
"Hmm..., susah juga kalo gak ada petunjuk".
"Haaahh ! Gue juga bingung soal itu Shan" Ck, otakku sama sekali tak berjalan.
"Sabar aja ya kak" Ucap Shani sambil menepuk pundakku.
Aku diam tanpa kata. Isi kepalaku cuma ada Vinny, Vinny, dan Vinny. Apa dia baik-baik saja, kuharap dia baik-baik saja. Apalagi Vinny perempuan...
Ehh ! Tunggu perempuan. Ya itu dia kata kuncinya. Perempuan, ya perempuan.
"Shan biasanya perempuan kalo jalan-jalan kemana ?" Tanyaku.
"Lohh kak ? Kok nanya kaya gitu".
Jelas Shani bingung kenapa tiba-tiba aku menanyakan hal yang kurang masuk akal.
"Udah jawab aja".
"Kalo aku sih biasanya pergi makan sama ketempat toko buku".
"Hmm...." Cukuplah bisa dijadikan petunjuk.
Vinny mungkin sama seperti Shani. Pergi makan dan pasti ke toko buku, karna Vinny suka baca novel.
"Kak jawab pertanyaan aku dulu".
Shani membuyarkan lamunanku.
"Hvft..., jadi gini Shani tadi gue nanya tempat biasa perempuan jalan-jalan itu gue mau ketempat yang lo sebutin, siapa tau Vinny kaya lo" Ucapku.
"Ya semoga aja gue nemuin orang yang liat Vinny" Tambahku.
"Ohh gitu..." Shani mengangguk mengerti.
"Nah besok gue tinggal tanya orang tuanya Vinny".
"Nanya apa kak".
"Di mall mana yang paling Vinny sering datengin".
"Ohh iya-iya bener kak, kan siapa tau aja ada yang ngeliat temen kakak itu" Timpal Shani kepadaku dengan semangat.
"Iya Shan" Aku tersenyum kearahnya.
"Ehh kak, ini aku bawa nasi goreng ? Tadi beli dulu di deket rumah sebelum kesini".
Shani pengertian sekali ya. Heheh, tau saja kalau aku sedang lapar.
"Kebetulan gue lagi laper nih".
"Nahh yaudah dimakan kak".
"Makasih ya Shan, udah repot-repot bawa makanan kesini".
"Iya kak sama-sama" Ucapnya diiringi cubitan di pipiku.
"Err..., emang harus banget nyubit pipi ya" Aku memasang wajah datar.
"Heheh gapapa abisnya gemesin" Shani tersenyum ke arahku.
Ck, yaudahlah biarkan dia senang.
~~~~*~~~~*~~~~
Pagi ini jam menunjuk 10:05. Aku sudah berada didepan rumah kediaman keluarga Vinny. Aku berniat menanyakan mall mana yang biasa Vinny datangi.
TENG NONG TENG NONG
Ayolah cepat.
Akhirnya keluar juga. Dari aku melihat ibu dari Vinny membuka pintu rumahnya lalu berjalan menuju gerbang tempat dimana aku berdiri.
"Ehh nak Vian ada apa pagi-pagi begini datang kesini" Tanya ibu dari Vinny.
"Saya mau tanya sedikit tante, boleh ?" Jawabku sopan.
"Tentu boleh.., yaudah duduk dulu di dalam" Tawar ibu Vinny.
"Gausah tante, gausah ? Saya mau tanya tentang Vinny".
"Ohh... Vinny ya".
Tiba-tiba raut wajah ibu Vinny berubah menjadi sedih. Sial, aku jadi tidak enak.
"Eeuuumm.. Maaf tante kalo saya salah ngomong " Ya, minta maaf mungkin lebih baik.
"Tak apa nak Vian".
"Sekali lagi saya minta maaf".
"Iya-iya tak apa kan sudah saya bilang, mau tanya Vinny soal apa ?".
"Jadi gini tante, berhubung Vinny belum ditemukan saya berinisiatif mencarinya, jadi tante tau biasanya Vinny jalan-jalan kemana kalo sendiri " Ucapku menjelaskan.
"Ohh seperti itu ya ?".
"Iya tante".
"Biasanya sih Vinny pergi kerumah temennya nak Vian, atau pergi ke toko buku ? Tapi nak Vian tak perlu repot-repot untuk mencari Vinny karna saya sudah melaporkannya ke pihak yang berwajib".
Ck, kerumah temennya Vinny. Siapa ? Satupun aku tak mengenalnya.
"Hmm gapapa tante, saya iklas kok bantuin cari Vinny" Jujur aku memang sangat iklas, ahh bukan tapi aku sangat ingin membantu.
"Yasudah kalau nak Vian memaksa, saya sangat senang bila nak Vian mau membantu mencari anak saya Vinny".
"Sudah tugas saya sebagai tetangga membantu tante".
"Iya nak Vian, saya salut sama kamu, padahal waktu pertama kali saya melihat nak Vian, saya kira nak Vian itu over sosial ? Ehh ternyata jiwa sosialnya tinggi ya" Ucap ibu Vinny panjang lebar.
"Hehehe, gitu ya tante" Aku menggaruk-garukan kepala yang tentu saja tidak gatal.
"Saya pamit dulu deh tante kalo gitu" Pamitku takut pembicaraanku semakin panjang dengan ibu Vinny.
"Mau berangkat nyari Vinny ?".
"Pasti tante" Ucapku mantap.
"Kalo begitu semoga cepet menemukan Vinny ya".
"Iya doain aja tante semoga saya dapat menemukan Vinny".
Ibu Vinny tersenyum sambil mengangguk ke arahku.
Aku berjalan ke motorku kemudian menjalankan motorku pergi.
Tujuan pertamaku adalah kampus Vinny. Menanyakan salah satu dari mereka apakah melihat Vinny.
••• KILLER CLOWN •••
"Hey ? Kamu gamau pulang apa ? Sampai kapan mau disini".
"Hiks, hiks, hiks".
Sudah kuduga dia masih menangis. Aku sih tak masalah dengan tangisannya tapi yang aku permasalahkan adalah sampai kapan dia mau dirumahku.
"Hvft... Hey ini makan ? Kamu belom makan dari kemaren-maren kan" Aku menawarinya makanan yang sengaja aku beli untuknya.
Dia memandang wajahku sebentar lalu memandang makanan yang aku tawarkan.
"Ini bukan buat diliatin doang ? Tapi buat dimakan" Hadeuh, aku kira dia mau mengambilnya ternyata cuma liat. Emang makanan kalau cuma dilihat saja bakal kenyang.
Dia menggeleng pelan lalu ya..., menangis. Sepertinya trauma yang sedang dia alami ini sangat parah. Aku sih juga tidak tau kalau akan seperti ini.
*Flasback On*
"Hadeuh..., make ada yang ketinggalan lagi di markas" Keluhku.
Aku dalam perjalanan kembali ke markas. Markas organisasi yang kami sebut 'OMA' (Organization Masked Assassin). Tadi aku sudah arah pulang sampai didekat rumahku aku kelupaan data-data targetku. Makanya aku kembali ke markas untuk mengambilnya kembali.
"Perasaan gue doang atau emang ini jalan sepi banget" Gumamku bingung.
Sepi, suram, mistis menggambarkan tempat yang aku sedang lewati ini. Haduh ! Aku terserang HIV lagi, ya HIV (Hasrat Ingin Vivis).
"Gabisa diajak kerja sama nih" Aduh ! Sudah diujung.
Dengan cepat aku memberhentikan motorku dan yang seperti yang kalian tebak. Buang air kecil.
"Tolong, tolong !!".
Haah, suara apa itu suara orang seperti minta tolong. Dan suara ini suara wanita. Hantu kah ? Tidak ! Aku sama sekali tidak percaya akan adanya hantu.
Kemudian aku mencari dari mana sumber suara itu berasal. Dari arah depan jalan, tidak terlalu jauh juga sepertinya.
Berjalan berhati-hati aku menuju sumber suara ini. Motorku kutinggal tak lupa juga aku kunci stang.
Dari jauh aku sudah bisa melihat ada sebuah mobil terparkir di bahu jalan. Mengendap-endap bak pencuri sendal, ahh tidak bak pencuri yang mau mengambil pakaian dalam wanita.
Sudah jangkau terdekat tapi aman, ternyata mobil taxi berlambang burung dengan ciri khas berwarna biru langit yang dari jauh aku lihat tadi.
"Wow !".
Sang wanita tinggal memakai pakaian dalam saja. Supir taxi itu terlihat nafsu sekali, wanita tersebut meronta-ronta.
"tolong jangan".
"Masih aja nolak sih nona cantik".
Dia masih merayunya, bodoh sekali supir taxi itu. Sepertinya aku akan menonton sebentar adegan porno ini secara langsung.
"Anjing lo ye ! Berani beraninya nampar gue".
Hahaha, dia ditampar cukup keras oleh wanita itu.
"Aww".
Kejam juga supir taxi itu, nafsunya sudah level max kayanya.
"Udah ah dari pada lama-lama lagi mending langsung gue pake lo".
"Pala bawah gue udah tegang banget nih hahah".
Supir taxi itu mulai meraba-raba tubuh wanita itu dengan sangat liar.
"Ahh, ahh !! Tidak jangan saya mohon".
Aku semakin melongo melihat permainan sang supir taxi itu, dia malah semakin liar dari sebelumnya.
"Aku sudah ga tahan lagi".
Sang supir sudah membuka bagian celananya. Lalu mencoba membuka celana dalam si wanita.
"Tidak jangan, jangan !!".
"Udah dong ! Kaga usah ngelawan, ntar juga lo malah minta nambah kalo gue udah masukin".
Ehh emang apa ? Kalau udah dimasukin wanita itu akan ketagihan. Haduh, bodohnya aku ini kenapa jadi ikut-ikutan mesum.
"Engga !! Jangan !!".
Masih bersih keras juga si supir.
"Akhirnya kebuka juga segelnya, hahaha".
Supir itu berhasil membuka celana dalam wanita itu, dan menjadi akhir tontonanku ini. Aku harus membantu wanita itu. Aku berjalan mendekat lalu aku keluarkan pistol dari dalam tas gendongku. Ku keker pistolku kearah kepala supir itu.
DOR !
Yaps, tepat dikepalanya.
"Arrgghh !" Erang supir itu.
Masih belom kayanya kalau cuma satu peluru.
DOR ! DOR ! DOR !
Brukk
Mission complete, sudah mati supir itu. Aku berjalan ketempat wanita itu.
"Udah gapapa, udah aman kok".
"Hiks, hiks".
Haah, dia menangis.
"Rumah kamu dimana ?" Tanyaku.
Wanita yang kutanya masih menangis tidak memperdulikan pertanyaanku.
"Rumah kamu dimana ? Biar aku antar pulang" Tanyaku sekali lagi.
"Hiks, hiks" masih menangis dan kali ini sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu gamau pulang ?".
Wanita di depanku mengangguk.
"Lahh terus kamu mau kemana ?".
Wanita di depanku kembali menggeleng pertanda 'tidak tau'.
"Hvft..." Aku menarik nafas.
"Yaudah untuk sementara kamu dirumah aku aja mau" Tawarku.
Dia mengangguk.
Aku mengangkat sebelah alis, aneh wanita ini tak mau pulang. Padahalkan jika sudah pulang dia akan aman.
"Ya tapi sebelum kerumah aku, kamu harus benerin pakaian kamu dulu deh" Aku melepaskan jaket dan celana jeansku. Menyisakan kaos dan celana pendekku.
Wanita itu reflek langsung membalikan badannya. Hadeuh..., pasti dia mikir yang aneh-aneh lagi.
"Nih, kamu pake jaket sama celana jeans aku aja"
Dia menggeleng.
"Terus kamu mau kerumah aku dengan kondisi pakaian kaya gitu" Ucapku.
Dia diam.
"Lagian nanti aku juga malu diliat orang, belum kamu yang juga malu" Tambahku.
Dia masih diam.
"Nih udah pake" Tawarku lagi.
Dia kini mengambilnya lalu memakainya.
Aku menunggu sebentar. Dan setelah wanita itu selesai aku langsung mengajaknya pergi dari tempat itu.
*Flasback Off*
Huuuh, kukira dia akan mendingan jika di rumahku. Nyatanya malah makin menyusahkan.
"Ohh iya kamu belum tau nama aku kan ? Nama aku Juwanto panggil aja anto, kalo kamu".
Dia berhenti menangis lalu memperhatikanku.
"Yaudah kalo gamau jawab enggak apa-apa" Ucapku melangkah pergi.
"Vinny...., Ratu Vinny Fitrilya nama aku".
Aku berhenti melangkah dan berbalik.
"Ohh Vinny, nama yang bagus" Ucapku tersenyum dan lanjut melangkah pergi.
••• KILLER CLOWN •••
"Sialan kenapa gue malah terjebak disini" Gumamku yang tengah mencuci piring disalah satu restoran.
Kelalaianku lupa membawa dompet. Bukannya mencari Vinny aku malah mencuci piring disini. Ck, ck bego emang.
Drrrttt Drrrttt Drrrttt
Smartphoneku bergetar. Aku mengelap tanganku dan mengambil smartphone di kantung celana.
"Halo" Jawabku.
"Ya, halo Yan".
"Ada apaan nelpon gue to" Tanyaku ke Anto.
Juwanto atau bisa kalian panggil anto. Dia temanku di 'OMA' dia sama sepertiku seorang pembunuh. Cukup akrab denganku dan memiliki sifat aneh, sifatnya yang sok ganteng, sok cool, dan sok dewasa. Tapi ada yang aku herankan dari Anto, dia orang yang selalu pelupa.
"Ahh ini Yan lo lagi sibuk ga ?".
"Kaga kok kaga, emang kenap....".
"Kalo kerja yang bener ! Malah telponan !" Potong seseorang dari belakangku.
"Hahahah ya udah lo lanjut dah tuh kerja hahahah".
TUTT TUTT TUTT
Hubungan telponku terputus dengan Anto.
Lalu...
"Kerja yang bener ! Malah asik-asikan telponan !".
"Hmm..., maaf pak".
"Yaudah kamu lanjut lagi kerjanya saya mau keruangan saya dulu".
Aku hanya diam bercampur kesal mendengarkan ocehan pak tua tadi.
"Ketemu dijalan awas lo" Ucapku pelan kemudian melanjutkan mencuci piring ini.
BERSAMBUNG . . .



Click to comment