Type something and hit enter

author photo
Posted by On
Menceritakan tentang seorang guru baru di SMA Jakarta 67. Simak kisahnya berikut ini.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Hidup itu berat.
Itulah yang sekarang dirasakan oleh seorang pria dengan penampilan rambut gondrong acak-acakan dan juga jenggot tipis menghiasi dagunya. Ia berbaring dikasur dengan mata yang malas memandang langit-langit kamar hingga matanya turun melihat sebuah mahluk putih anteng-anteng tiduran diperutnya.
“Ck! Loe lagi-loe lagi.”
Dengan dorongan tangan kanannya maka mahluk putih itu terhenyak dan terjerembab kesamping, seekor kucing anggora jantan gemuk berwarna putih polos memandangnya kesal gara-gara tidurnya terganggu ala kucing liar.
“Nape loe?” sang pria menyeringitkan dahi.
Tiba-tiba saja kucing gemuk itu menerjang dirinya, sang pria kaget dan hendak melindungi. Terjangan ganas dari sang kucing hampir mencakar dirinya, namun nasibnya begitu mujur dikarenakan bantal lusuh yang ia pakai bisa ia gunakan sebagai tameng untuk mekanisme pertahanan diri.
Tok! Tok! Tok!, bunyi ketukan pintu terdengar namun tak diindahkannya. Pintu terbuka dan terlihat seorang pria dengan mata ngantuk, rambut pendek acak-acakan, lintingan rokok yang belum dihidupkan dimulutnya dan melihat dengan apa yang terjadi dikamar.
“Ngapain?” tanyanya sambil menyalakan rokok.
“Pake nanya lagi!!” seru pria yang masih bertahan dari serangan cakaran.
Pria didepan pintu menghembuskan asap rokok dan memandang sang kucing, “Ayo-ayo chk chk chk, majikan loe nyari itu.”
Dipanggil seperti itu membuat serangan sang kucing berhenti, ia meloncat dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar.
“Beliin tuh kandang buat peliharaan elo! Masa tiap hari tidur dikamar gue?!”
“Mau gimana lagi, ini emang kamar dia dulu.”
“Kucing sebesar apa kamarnya malah sebesar apa. Sok kaya loe!”
“Bodo, lagian banyak kamar nape juga loe milih kamar yang ini? Buruan bangun, bantuin panasin mobil gue.”
“Suruh kucing loe tuh diet! Olahraga kek, apa kek!”
“Buruan,” suruhnya sambil menguap karena tak perduli keluhan.
“Lagian namanya kok Hidup?” keluhnya lagi.
“Otak gue ama bini gue lagi mampet waktu itu,” ujarnya cuek dan meninggalkan kamar.
Pria didalam kamar menggerutu dan melingkarkan handuk dilehernya, setelah itu dia keluar kamar dan menutup pintu. Jadi dengan percakapan tadi maka makna ‘HIDUP-ITU-BERAT’ sudah terkuak dalam prolog tak berprolog ini. Hidup adalah nama kucing anggora tadi dan gendutnya bukan main! Apalagi dia sering tidur diperut pria penghuni kamar ini.
Makanya berat.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Sekarang pria gondrong berambut acak-acakan sudah berpenampilan rapi, maksudnya ‘Rapi’ adalah penampilan pakaian yang ia pakai, rambutnya masih acak-acakan dan agak basah karena 8 menit sebelumnya ia baru selesai mandi.
“Siapa yang masak?” tanyanya kepada seorang wanita cantik yang sedang menaruh persiapan sarapan dimeja.
“Kakakmu,” jawabnya singkat.
Pria berambut gondrong acak-acakan melihat kakaknya dikejauhan, yaitu pria berambut pendek acak-acakan yang mampir kekamarnya tadi. Terlihat kakaknya itu sedang menyalin nasi goreng masakannya dari kuali ke sebuah nampan untuk nasi.
“Tumben loe masak?” tanyanya saat kakaknya itu menghampiri.
“Katanya buat kamu,” ujar sang wanita dan tersenyum memandang masakan pria berambut pendek.
“Dalam rangka?” pria berambut gondrong menyeringitkan dahi.
“Loe habis ini kemana?” tanya kakaknya.
“Kerja.”
“Ya itu, dalam rangka loe udah dapat kerja setelah nganggur 2 tahun,” lanjutnya cuek.
“Wih!” pria gondrong cengengesan, “Tumben baik?”
“Asal duit kos jangan lupa.”
“Gue tarik kalimat tadi,” pria gondrong memiringkan bibir.
Sang wanita hanya bisa cengengesan mendengar percakapan 2 pria yang ada didekatnya. Tak lama kemudian datang lagi seorang pria dengan wajah malas, alisnya tebal, matanya stun dan memiliki rambut yang gondrong walau kepalanya itu sedikit tertutup oleh topi hitam yang dipakainya.
“Gak kuliah?” tanya sang wanita sambil menaruh nasi goreng diatas piring pria berambut pendek.
“Nanti siang,” pria bertopi ini menguap dan duduk, ia menoleh kesamping dan menepuk-nepuk bahu sang pria gondrong, “Kerja juga loe akhirnya.”
“Mulut loe, bau,” keluh sang pria gondrong.
“Namanya juga belum mandi,” jawabnya malas, “Wih, nasi goreng! Tumben masak nasi goreng, mbak?” tanyanya kepada sang wanita.
“Bukan mbak, tapi kakakmu,” sang wanita tersenyum dan menadahkan kepalanya kearah pria berambut pendek.
Pria bertopi menyeringitkan dahi, “Loe bisa masak?”
“Enteng,” pria berambut pendek mendengus puas.
“Sejak kapan?” tanya pria berambut gondrong, dia juga penasaran sebenarnya.
“1 jam yang lalu,” pria berambut pendek kemudian menunjukan handphone-nya, “Dari Google.”
“Enak gak nih kira-kira?” pria bertopi dan gondrong menyeringitkan dahi memandang nampan khusus nasi yang berisi nasi goreng.
Chef Juna pun bakalan bertekuk lutut!” pria berambut pendek mendengus sombong.
“Ck, yaudah deh.”
Sang wanita lagi-lagi cekikikan dan membantu mereka semua menaruh nasi goreng diatas piring masing-masing.  Agar lebih enak dan mengenal siapa-siapa saja orang-orang yang ada dicerita ini, maka tampaknya perlu ada yang namanya P-E-R-K-E-N-A-L-A-N dan perkenalannya adalah sebagai berikut:
Pria berambut pendek acak-acakan namanya Dion. Nama panjangnya Dion, bisa dibilang nama asli dia hanya terdiri dari 1 suku kata jadi sebenarnya tak ada nama panjangnya. Dia bekerja disalah satu perusahaan swasta dan memiliki bisnis selingan yang berhubungan dengan sewa tanah. Dia sudah menikah dan tinggal bersama Istrinya dirumah dan disamping rumahnya itu ia membangun sebuah kos untuk pria. 2 penghuni kos itu diantaranya adalah keluarganya sendiri yaitu adik kandungnya sendiri dan adik sepupunya. Moto hidup Dion adalah ‘PELIT-PANGKAL-KAYA.
Wanita cantik yang duduk disamping Dion adalah Mumu, istrinya. Dion dan Mumu sudah menikah 2 tahun yang lalu dan belum dikaruniani anak karena kesibukan mereka. Mumu bekerja disalah satu perusahaan swasta yang bersebelahan dengan kantor suaminya. Rambutnya yang pendek sebahu, wajahnya yang cantik dan sering  tersenyum dengan senyuman yang manis bisa menipu semua orang apabila belum mengenalnya dengan baik. Karena Mumu ini galaknya bukan main. Mumu tidak mempunyai moto hidup, tapi dia mempunyai samsak hidup, yaitu suaminya sendiri. Apalagi pas PMS, maka dia menjadikan Dion sebagai samsak tinjuannya.
Lalu pria gondrong dengan topi hitam adalah adik kandung Dion, namanya Leffy. Matanya yang stun itu sering disangka sebagai pengguna narkoba oleh orang-orang yang baru pertama kali melihatnya. Dan ia selalu mendapat pertanyaan yang sama apabila orang ingin mengenalnya seperti, “Udah berapa kali rehabilitasi?”. Lain orang lain juga sifatnya, Leffy sangat berbanding terbalik dengan kakaknya yang tenang. Karena Leffy ini bisa dibilang pecicilan, tak pandai diam sama sekali. Semua orang yang ia lihat dijalan kalau bisa dikatain maka ia akan mengatainya. Ia bercita-cita menjadi sutradara profesional dan inspirasi dia untuk menjadi sutradara gara-gara film Bokep yang ia tonton. Menurutnya sutradara yang menyutradari film bokep itu tidak profesional karena itu ia ingin menjadi sutradara profesional.
Kayaknya dia tidak menyadari kalau untuk film bokep orang tidak bakalan perduli sutradaranya profesional atau kagak.
Dan pria berambut gondrong acak-acakan diawal cerita ini bernama Bumi, nama lengkapnya Bumi Langit Angkasa. Bumi adalah adik sepupunya Dion dan lebih tua 3 tahun dari Leffy.  Dia sampai sekarang bingung kenapa dia diberi nama Bumi dari kedua orang tuanya, bahkan dari kecil apabila terjadi gempa Bumi yang merenggut begitu nyawa orang maka dia akan menangis dipojokan, “Bukan aku! Bukan aku! Aku adalah pengendali api!” (Waktu kecil dia terinspirasi dengan cara hidup dari kartun Avatar of Aang). Bumi berjuang mencari pekerjaan di Jakarta setelah tak mendapatkan hasil dikota asalnya yaitu Bandung, dan di Jakarta ia tinggal di Kos miliknya Dion, begitu juga Leffy yang tinggal di kos kakak kandungnya tersebut. Sekarang Bumi sudah mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru disalah satu SMA Negeri di Jakarta, dan lagi-lagi dia bingung. Dia ini bisa dibilang Sarjana Perikanan, tapi malah menjadi Guru Sejarah.
Takdir memang unik cara mainnya.
Lalu dibawah meja makan ada Hidup, seekor kucing Anggora jantan putih peliharaan Mumu dan Dion. Badannya yang gendut bukan main itu membuat kerjaan ia setiap hari adalah: makan – tidur – makan – tidur – makan – pup – Ngegodain kucing kampung betina yang lewat didepan rumah – ditolak – tidur lagi.
Ya, itu saja kerjaannya setiap hari.
Setidaknya perkenalan awal dari cerita ini tidak membingungkan bagi orang-orang yang membaca. Dan sekarang mari lanjut kecerita.
“Jangan lupa berdoa sebelum makan,” Mumu mengingatkan mereka bertiga.
“Iya-iya, menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa, dimulai,” komando Dion.
“Agama kita kan sama semua?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Tuh sebelah loe lain sendiri,” Dion menadahkan kepalanya kedepan.
Bumi menoleh kesamping dan melihat Leffy membaca doa sambil melihat makan dan handphone secara bergantian, Bumi lantas bertanya, “Loe ngapain, Lef?”
“Bacain ayat kursi, biar setan gak ngejamah makanan gue,” ulasnya.
Bumi hanya memalaskan wajahnya dan melakukan doa sebelum makan sewajarnya. Setelah selesai berdoa maka mereka bersiap untuk menyantap sarapan mereka.
“Kalian bakalan ketagihan sama masakan gue!” seru Dion untuk membanggakan diri.
“Gayanya, awas aja kalo gak enak ya?” kata Mumu, matanya memincing.
Mereka berempat serempak meraup nasi goreng dengan sendok masing-masing, ditiup sebentar dan nasi goreng itu meluncur masuk kemulut mereka. Tidak ada keanehan apa-apa saat nasi goreng itu masuk kedalam mulut, tapi itu berubah saat mulut mereka sudah mulai mengunyah.
Kunyahan pertama, wajah mereka mendadak datar.
Kunyahan kedua, alis mereka mengkerut.
Kunyahan ketiga, muka mereka jadi kecut.
Kunyahan keempat, mata mereka melotot.
Kunyahan kelima, keenam, ketujuh  dan seterusnya membuat mereka semua berebutan berlari ke Wastafel dan memuntahkan semua yang ada didalam mulut mereka.
“Yon! Itu nasi goreng apaan?!” hardik Bumi dengan lidah menjulur saking kelatnya.
Dion tidak menjawab, ia menoleh kearah Mumu dan bertanya, “Dek, coklat bisa nggak jadi bumbu nasi goreng?”
“Ya enggaklah!” seru Mumu sambil menuangkan air minum.
“Oh... lalu tempat bumbu yang tutupnya warna merah itu apa?”
“Lada hitam!” seru Mumu sekali lagi dan segera minum.
“Oh...” Dion mengangguk polos dengan wajah bego.
“Emang loe masukin apa aje?!” Leffy sewot bukan main.
“.... Semuanya,” Dion menunjuk semua bumbu-bumbu dapur yang ada disitu.
“Loe mau ngeracunin kami semua?!” Bumi bukan main jengkelnya.
Ya, Dion telah membuat makanan yang cocok disajikan untuk penghuni neraka ke-7. Dan sial bagi Leffy, karena nasi goreng bagian dia yang mendapatkan bagian sahang, bubuk jahe dan lada hitam yang paling banyak.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Remaja hilir mudik, seragam putih abu-abu, dan memenuhi sebuah sekolah. Itulah gambaran sebuah tempat yang menjadi tujuan Bumi sebagai tenaga pengajar, sebuah SMA Negeri yang bernama SMA Jakarta 67. Selama perjalannya memasuki gedung sekolah dijadikan Bumi untuk melihat-lihat perangai murid-murid di SMA itu.
Hmm normal juga, kirain anak-anak Jakarta sekolahnya rebel gitu, bawa-bawa arit, rantai, knalpot bekas, mukanya codet-codet penuh luka...” gumamnya dalam hati.
Entah anak SMA model apa yang diimajinasikannya.
Ia berpapasan dengan seorang pria tua berkacamata, dan pria tua ini buru-buru menghampiri Bumi.
“Datang juga akhirnya!”
“Nungguin saya, Pak?”
“Oh jelas! Anda itu guru-guru yang saya butuhkan disekolah ini! Ha ha ha!”
“Bukannya gara-gara....”
“Ssst!!” pria tua itu menaruh telunjuknya dibibir Bumi, “Itu tetap menjadi rahasia kita! Kan balasannya saya sudah memperkejakan anda sebagai guru disini! Guru tetap! Gak pakai honorer! Kurang baik apalagi saya coba?”
“Kurang bersih aje! Tangan bapak bau asam!” Bumi mengibas tangan pria tua itu dari bibirnya.
“Saya habis ngupil sih tadi.”
“Hah?!” Bumi membelalakan matanya.
“Bukan tangan yang ini, yang satunya, tenang saja ha ha ha!” ujarnya, dan tangan satunya yang dimaksud sedari tadi asyik mencolet-colet seragam kerja Bumi, sekedar untuk ‘Membersihkan Jari’.
Bumi sewot sedangkan sang pria tua tak perduli dan terus mengajaknya berbicara diperjalanan mereka.  Dan pria tua ini adalah Kepala Sekolah SMA Jakarta 67, namanya Bambang, namanya panjangnya Endang Imbang Subambang. Umurnya berkisar 40 tahunan. Mereka berdua memiliki rahasia yang amat sangat sakral sehingga Pak Bambang menawarkan pekerjaan kepada Bumi sebagai guru. Bumi waktu itu main mengiya-iyakan saja karena ia memang sedang mencari pekerjaan. Hanya saja Pak Bambang tak menanyakan profile-nya Bumi hingga dia seenaknya saja mengangkat Bumi untuk menjadi Guru Sejarah disekolahnya.
Perjalannya mereka terhenti saat mereka memasuki ruang guru yang dimana sudah ada guru-guru yang datang sedang duduk dimeja mereka masing-masing, ada yang sedang mengatur jadwal ada juga yang sedang memeriksa tugas para murid-murid.
“Perhatian semuanya,” kata Pak Bambang.
Semua guru menoleh kearahnya dan melihat Kepala Sekolah mereka berdiri disamping seseorang yang asing bagi mereka.
“Perkenalkan,” Pak Bambang menepuk dada Bumi dan melanjutkan perkataannya, “Dia adalah guru baru disini yang akan mengajar anak-anak kelas sepuluh.”
“Eee... salam kenal,” kata Bumi, canggung dan menundukan sedikit kepalanya.
“Nama?” tanya salah satu guru pria.
“Bambang! Anda lupa nama saya?” hardik pak Bambang kepada guru tersebut.
“Maksudnya nama dia, Pak!” guru laki-laki tersebut sewot dan menunjuk Bumi.
“Oh,” Pak Bambang tertegun dengan wajah bego, “Hahaha saya tadi bercanda,” tawanya lepas membuang malu, setelah itu ia menoleh kearah Bumi, “Perkenalkan diri anda.”
“Aaa ya,” Bumi mengangguk, “Nama saya Bumi, Bumi Langit Angkasa. Saya akan mengajar Sejarah disekolah ini. Mohon bantuannya,” jelasnya dengan kepala sedikit menunduk.
“Oke! Cukup perkenalannya,” Pak Bambang menepuk tangan sekali, “Sekarang carilah meja anda, sudah saya persiapkan jadwal disitu.”
“Meja saya dimana?”
“Disebelah meja Bu Finny?”
“Mejanya yang mana?”
“Cari saja pokoknya, ada papan namanya disitu,” jelas Pak Bambang.
“Nih, yang ini,” guru pria tadi menunjuk meja yang dimaksud.
“Nah! Itu sudah ada yang ngasih tau, kalau begitu saya permisi,” setelah berkata seperti itu maka Pak Bambang langsung nyelonong pergi keluar.
Sedikit suasana canggung saat Bumi berjalan menuju bangkunya, dengan lagak sopan ia menundukan punggungnya untuk guru-guru yang dianggap lebih tua usianya dengan basa-basi kecil yaitu, “Permisi.”
Salah satu guru wanita yang bisa dibilang ibu-ibu mulai berbisik-bisik saat Bumi melewati mereka, “Kok rambutnya gak rapi gitu? Pak Bambang nemu guru itu dimana ya?”
“Enggak tau juga saya, kayak berandalan gitu.”
Walau jaraknya sudah jauh akan tetapi Bumi bisa mendengar suara bisikan itu, dia menghembuskan nafas dan memilin rambutnya yang gondrong acak-acakan itu dan ia memang lupa merapikannya.
“Disini.”
Bumi melihat guru pria tadi menunjuk lagi meja yang dimaksud, tepat diseberang meja guru pria itu yang hanya berbataskan penyangga triplek kecil. Bumi kemudian duduk dan menaruh tasnya diatas meja.
“Nambah lagi guru muda disekolah ini,” guru pria itu cengengesan.
“Oh... ya, begitulah ha ha,” jawab Bumi dan tertawa kecil untuk memperingan basa-basi.
“Sudah ada pengalaman menjadi guru?” tanyanya lagi.
“Aaa ya,” Bumi mengangguk, “Sering.”
“Wow,” kata guru pria itu yang dari tingkahnya bisa diketahui kalau ia berpura-pura antusias, “Ngomong-ngomong anda sudah punya kekasih?”
“Eeee,” Bumi melirikan matanya kekanan dan kekiri, “Kenapa menanyakan hal itu?”
“Jawab saja!” seru guru tersebut.
“B-Belum!”
“Akhirnya ha ha ha! Saya punya temen juga akhirnya!”
“Maksudnya?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Begini,” guru pria itu mencondongkan tubuhnya kedepan dan berbicara pelan, “Murid-murid wanita disini cakep-cakep! Jadi bisa dibilang ini kesempatan kita untuk tebar pesona, terlebih lagi kita ini masih muda! Kita bikin mereka semua klepek-klepek! Gimana? Gimana?”
“Oh... ha ha ha ha...” Bumi tertawa, dibuat-buat.
“Saya yakin akan pesona saya,” guru pria itu mengibas jambulnya dan duduk bersandar, “Oh iya, apa benar tadi nama anda Bumi?”
“Ya.”
“Bumi Langit Angkasa?”
“Begitulah.”
“Unik juga, tapi saya memiliki nama yang jauh lebih unik! Ha ha ha!” tawanya menyombongkan diri.
“Oh gitu... Ngomong-ngomong nama bapak siapa?”
“Ega,” guru pria yang bernama Ega itu tersenyum, “Unik kan? Ha ha ha ha!”
“Oh iya-iya, unik ha ha ha ha!” Bumi juga tertawa dan membatin, “Ega? Uniknya dimananya ya?
Ya, hanya Ega saja yang berpikiran kalau namanya itu unik.
“Jadi benar anda itu guru Sejarah?”
“Hmm yah, begitulah.”
“Boleh saya tes?”
Bumi sedikit gegalapan karena ia bisa dibilang tak mengerti sejarah, tapi demi gengsi kualitas dirinya sebagai seorang guru maka dengan terpaksa ia menyiyakan, “Boleh saja.”
“Kalau begitu,” Ega mencondongkan tubuhnya kedepan, “Siapa nama pacar pertama saya?”
Bumi diam seketika.
“Anda tahu?” Ega tersenyum dan memain-mainkan alis.
“Errr apa hubungannya dengan sejarah?”
“Karena itulah sejarah hidup saya! Itu termasuk sejarah bukan? Ha ha ha ha!” Ega tertawa puas.
“Ha ha ha ha ha!” Bumi juga tertawa dan membatin, “Pernah kena tabok guru baru gak?
“Permisi.”
Suara salam itu menarik perhatian Bumi dan juga Ega, Bumi menoleh dan melihat seorang wanita cantik dan manis sedang menatap dirinya, rambutnya sebahu, tubuhnya agak langsing dan tinggi. Dan dari raut wajah wanita ini sepertinya tipikal wanita yang cuek, umurnya juga kalau diperhatikan dari wajahnya tak jauh berbeda dari umur Bumi.
“Ya?” tanya Bumi.
“Maaf, itu bangku saya,” ulas wanita tersebut.
“Loh, katanya tadi...” Bumi menoleh kearah Ega.
“Yang saya tunjuk tadi mejanya Bu Finny, kan tadi Pak Bambang bilang disebelah meja Bu Finny. Jadi saya tunjuk mejanya Bu Finny, berarti meja anda disebelahnya,” ulas Ega santai.
Bumi diam sejenak dan membatin, “Kenapa gak langsung nunjuk meja gue! Kan gue yang kena malunya! Sialan amat loe jadi orang!
Dengan perasaan tak enak maka Bumi buru-buru beranjak, “Maaf-maaf, saya tidak tahu.”
Tapi tak ada jawaban dari guru wanita yang dipanggil dengan nama Finny ini. Dia duduk dan mengeluarkan beberapa buku yang ia taruh diatas meja, Bumi yang merasa dicuekin kemudian duduk dibangku dia yang sebagaimana semestinya.
“Bu Finny,” panggil Ega dan menunjuk Bumi, “Dia guru baru disini.”
“Oh,” balas Finny yang sepertinya tidak tertarik dan terus membereskan mejanya.
“Emm... nama saya Bumi, salam kenal Bu,” lanjut Bumi.
Finny menoleh dan memandang Bumi dengan raut wajah cueknya, setelah itu dia berkata, “Ya.”
Setelah itu Finny beranjak dari kursinya dan berlalu meninggalkan ruangan guru. Bumi hanya bisa melongo melihat sikap wanita yang begitu dingin terhadapnya.
“Santai saja, Bu Finny memang begitu,” ujar Ega sambil menyalakan rokok.
“Apa dia selalu begitu?” tanya Bumi.
“Ya, dari dulu,” Ega tersenyum dan berkata, “Dan dia itu mantan saya.”
“Oh,” Bumi mengangguk-angguk, dan ia berpikir mungkin sifat Finny dingin seperti itu gara-gara putus dengan Ega, agar lebih pasti maka Bumi bertanya, “Sudah  berapa lama putusnya?”
“Sudah lama,” Ega menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Andai saja dia mau sama saya, pasti sikapnya berubah.”
“Loh?” Bumi menyeringitkan dahi, “Katanya tadi mantan anda.”
Ega menadahkan kepalanya memandang Bumi, “Iya, mantan,” jelasnya sambil mengangguk-angguk.
“Terus, kenapa tadi anda bilang...”
“Maksud saya tadi mantan gebeten he he he,” potong Ega, cengengesan, “Lihat aje sikapnya itu, dari dulu mau saya deketin dia malah menjauh. Belum tahu dia akan pesona saya!” ungkapnya angkuh.
PERNAH DITABOK PESONANYA KNALPOT BEKAS?!” batin Bumi untuk kesekian kalinya. Tapi biarpun begitu, Bumi sudah mendapatkan teman ngobrol sesama guru dihari pertama ia mengajar.
Walau teman ngobrolnya itu bisa membuat tensi darah tinggi orang yang rendah bisa mendadak naik.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Hari pertama mengajar membuat Bumi bersyukur karena memasuki kelas X (sepuluh) E yang dimana murid-muridnya itu malas bertanya kecuali bertanya tentang dirinya yang memang membuat murid-murid penasaran akan guru baru tersebut.
Seperti:
“Pak, kok rambutnya gondrong?”
“Bener nama bapak itu Bumi Langit Angkasa?”
“Udah berapa kali bikin gempa bumi, Pak?”
“Bapak itu bulat atau datar?”
Semua pertanyaan itu dijawab Bumi dengan nada candaan biasa. Antusias murid terhadap guru baru memang tak bisa dielakan lagi pada saat itu. Seperti para Netizen di-Internet yang hobi mencari tahu masalah orang lain daripada menggunakan Internet untuk mencari ilmu. Karena saat Bumi bertanya tentang pelajaran seperti ini, “Ada yang mau bertanya?”
Tak ada satu pun yang mau bertanya.
Akan tetapi Bumi justru lega, karena kalau murid-muridnya bertanya tentu saja ia akan kelabakan bahkan saat menjelaskan pelajaran saja ia terus mencontek kalimat-kalimat buku sejarah yang ia bawa untuk pelajaran.
Setelah bagian jam pelajarannya habis maka Bumi berpamitan dan segera keluar kelas. Diluar kelas ia berpapasan dengan Finny yang juga baru selesai mengajar dikelas sebelah.
“Pagi, Bu,” salam Bumi untuk beramah tamah.
Finny hanya menjelingkan mata memandang Bumi dan berbalik badan, ia terus berjalan seolah-olah tak mendengarkan salam yang Bumi berikan. Bumi hanya bisa menyiyakan saja sikap wanita seperti itu karena sebenarnya ia sudah pernah melihat tipikal-tipikal wanita yang dingin hanya saja baru kali ini ia berinteraksi dengan wanita tipikal seperti itu.
“Ck, mending ke kantin,” gumamnya.
Teringat kalau perutnya belum terisi gara-gara sarapan laknat dari kakak sepupunya maka Bumi hendak mencari makanan seadanya dikantin. Tak sengaja juga ia berpapasan dengan Kepala Sekolah yaitu Pak Bambang yang baru keluar dari toilet guru.
“Bagaimana dengan hari pertama anda?” tanya Pak Bambang.
“Lumayan, ngomong-ngomong kantin dimana ya Pak kalau dari sini?”
“Lurus, belok kanan, mentok kiri, nah disitu. Memang kenapa?”
“Oh, saya mau buang air kecil disitu.”
“Yang bener?” mata Pak Bambang terbelalak.
“Ya makan, Pak!” Bumi memiringkan bibir.
“Anda ini jangan mempermainkan orang tua, hampir saja saya percaya tadi.”
“Orang tua tapi sikapnya kayak anak muda.”
“Maksud anda?”
“Ya... sewaktu saya berjalan-jalan di Jalan Alianyang dan...”
“Oke!” potong Pak Bambang dan mengeluarkan dompetnya, “Itu Rahasia! Oke?!”
“... Ini kenapa ngasih saya duit?” tanya Bumi saat Pak Bambang menyodorkan uang pecahan 50 ribuan kepadanya.
“Untuk makan dikantin, katanya tadi mau makan dikantin?! Ha ha ha!”
“Oh... tambahan untuk tutup mulut ya?” Bumi tersenyum licik dan memain-mainkan alis.
“Sudah! Sudah! Ini!” Pak Bambang memasukan uang tersebut kesaku kemeja Bumi, “Saya sibuk!”
Pak Bambang pergi dan Bumi cengengesan, “Hemat duit hari ini.”
Dengan arahan dari Pak Bambang sebelumnya maka Bumi melanjutkan perjalanannya ke kantin. Dikantin ia melihat berbagai menu makanan yang bisa dipesan seperti Batagor, Bakso, empek-empek, nasi goreng, mie goreng dan Cahkwe. Rindu akan kampung halamannya maka ia memilih untuk membeli batagor.
“Walaah... duduk dimana ini?” keluhnya.
Itu dikarenakan suasana kantin yang ramainya bukan main, Bumi celingak-celingukan mencari tempat duduk sambil membawa piring batagor.
“Pak Bumi!”
Seruan itu menarik perhatian Bumi, ia menoleh dan melihat Ega memanggilnya dikejauhan. Merasa dipanggil ia segera menghampiri dan ia begitu lega karena masih ada tempat duduk ditempat Ega yang duduk bersama seorang guru pria disebelahnya.
“Untung masih ada tempat,” ujar Bumi saat duduk dibangku.
“Istirahat pertama emang rame, kedua baru sepi. Tapi pilihan makanan juga ikutan sepi,” ulas Ega.
“Oh begitu,” Bumi mengangguk seadannya dan siap menyantap batagor.
“Jadi anda guru barunya?”
Bumi menoleh dan melihat guru lain yang duduk disebelah Ega.
“Oh iya,” Bumi mengangguk, “Nama saya...”
“Saya sudah tahu,” guru itu tersenyum, “Dan saya bingung kenapa orang tua anda tega memberi nama seperti itu?”
“Maksudnya?”
“Kerak.”
“Hah?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Kata Pak Ega nama anda Pak Kerak Bumi, apa itu betul?”
“Nggak pakai Kerak,” Bumi memiringkan bibir, “Nama saya Bumi Langit Angkasa.”
“Oh... saya kirain...” guru itu memandang Ega.
“Saya hanya bercanda saja tadi,” Ega cengengesan dan melahap bakso.
“Maaf Pak, saya kira tadi beneran,” tutur guru tersebut kepada Bumi.
“Tak apa, Pak,” Bumi tersenyum.
“Tapi lebih bagus emang Kerak, bagaimana kalau saya memanggil anda Pak Kerak?”
“E e e....”
“Ha ha ha ha, saya hanya bercanda. Oh iya, nama saya Adis. Guru T.I.K, maaf saya tidak ada saat kedatangan anda diruang guru, saya terlambat tadi,” guru yang memperkenalkan diri dengan nama Adis itu tersenyum.
“Tidak apa, Pak. Santai saja,” ujar Bumi.
Mereka bertiga menikmati makanan mereka masing-masing dan betapa bahagianya Bumi saat gurihnya batagor dipadu saus kacang melewati tenggorokannya dan membuatnya benar-benar akan rindu akan kampung halamannya, yaitu Bandung.   Kalau dia gampang ‘Baper’ mungkin dia sudah menangis terharu sambil makan.
“Oh iya, Pak Kerak,” panggil Adis.
“Bumi,” Bumi meralat.
“Itu maksud saya,” Adis cengengesan, “Ngomong-ngomong anda sudah tahu tradisi guru baru disini?”
“Tradisi?” tanya Bumi sambil mengunyah.
“Ya, ada tradisi bagi guru baru. Istilahnya penyambutan gitu, saya harap bapak tidak keberatan.”
“Seperti jaman saya sekolah saja, ada sepatu baru lalu diinjek-injek,” Bumi terkekeh.
“Ha ha ha, kira-kira seperti itulah,” sambung Ega.
“Lalu tradisinya seperti apa?”
“Oh itu sudah anda lakukan kok,” Adis tersenyum.
“Hah?” Bumi menyeringitkan dahi, “Kapan?”
“Nanti juga anda akan tahu he he he,” Adis memandang jam tangan, “Kalau begitu saya duluan ya? Ada persiapan yang mau saya lakukan nanti di jam berikutnya.”
“Oh iya-iya,” Bumi mengangguk.
“Saya juga kalau begitu. Maaf pak, nggak bisa nemenin hehe. Saya ada urusan penting. Coba tanya urusan apa?”
“.... Urusan apa?” tanya Bumi, terpaksa.
“B.A.B he he he, kalau begitu saya permisi dulu.”
Gak perlu dibilang juga kali!” batin Bumi yang kesal.
Setelah kepergian Adis dan Ega maka Bumi melanjutkan aktifitasnya memakan batagor walau dia sangat penasaran dengan ‘Tradisi’ yang disebutkan Adis sebelumnya.
“Haaah, kenyang juga,” ungkapnya puas sambil menepuk perutnya.
Bumi hendak beranjak dan kembali keruang guru, tapi belum selangkah pergi tiba-tiba ia dipanggil mamang yang menghampirinya.
“Pak Bumi bukan?” tanyanya.
“Ya,” Bumi mengangguk.
“Oh,” senyum mamang mengembang, “Kalau begitu semua 45 ribu, Pak.”
“Hah?” Bumi menyeringitkan dahi, “Apanya?”
“Loh, kata Pak Adis sama Pak Ega, Pak Bumi yang bayarin makanan sama minuman mereka.”
“Mereka bilang begitu?”
“Iya,” mamang mengangguk dan menyerahkan bon-nya kepada Bumi, “Jadi semuanya 45 ribu pak he he he, apalagi mereka berdua tadi nambah 2 kali.”
Bumi terdiam.
Terdiam.
Terdiam
Dan terdiam.
Sampai akhirnya ia membatin, “KERAK LOE BERDUA!!!!!
Sepertinya.... Bumi mengerti maksud dari ‘Tradisi’ yang Adis ucapkan. Sebenarnya tradisi itu tidak ada di sekolah ini. Itu hanya akal-akalan Ega saja dan disetujui oleh Adis.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Dan dijam-jam berikutnya tak ada perubahan signifikan yang terjadi selama Bumi mengajar disekolah. Walau ia merasa disenyum-senyumin oleh salah satu siswi disalah satu kelas yang ia masuki sebelumnya. Karena bisa dibilang Bumi ini memang enak dilihat wajahnya meskipun dia ini bukan orang tampan, jelek pun tidak. Bumi terus berjalan sampai keruangan guru.
“Mau kemana, Pak?” tanya Bumi saat melihat Ega memanggul tas dan beranjak dari kursi.
“Ya pulang, saya tidak ada jam lagi sehabis ini.”
“Boleh pulang?”
“Sebenarnya tidak, tapi daripada tak ada kerjaan selain nunggu bel jam pulang. Mending saya pulang duluan, lagian tak ada rapat atau apa pun hari ini.”
“Oh begitu,” Bumi memanggut-manggut.
“Kalau begitu saya permisi. Mau mampir kerumah teman saya dulu hehe.”
“Baiklah.”
“Coba tanya, ngapain kerumah teman saya?” pinta Ega.
“.... Ngapain, Pak?” Bumi terpaksa saja melakukannya.
“Numpang makan he he he, kalau begitu saya permisi dulu.”
Ega pergi dan bibir Bumi miring. Bumi kemudian duduk dan melihat jadwal mengajar dia hari ini hingga akhirnya perhatiannya itu teralih saat mendengar suara disampingnya dan itu adalah Finny yang baru duduk dikursi.
“Siang, Bu,” salam Bumi yang mencoba beramah tamah.
Tak ada jawaban dari Finny karena ia sibuk membereskan mejanya, Bumi juga cuek dan melanjutkan aktifitasnya hingga akhirnya ia melihat Finny beranjak sambil memanggul tas.
“Mau pulang, Bu?”
Pertanyaan itu membuat Finny menghentikan langkahnya, ia berbalik badan dan wajahnya yang manis tak pernah tersenyum itu dilihat jelas oleh Bumi.
“Memangnya ada urusannya dengan anda?” tanya Finny.
“Eh?” Bumi tertegun, “T-Tidak, saya hanya...”
“Saya bertanya maka yang muncul seharusnya jawaban, bukannya alasan!” Finny melotot.
Bumi terdiam dan menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak ada urusannya dengan saya.”
Mendengar jawaban Bumi maka Finny kembali memutar arah dan berjalan keluar ruangan guru, sedangkan Bumi benar-benar bingung apa sikap Finny benar-benar seperti itu? Bahkan tak segan-segan menunjukannya kepada ia yang bisa dibilang guru baru.
Apa karena dia dulu pernah jadi korban tradisi tuh 2 Kerak ya?” batin Bumi, dan 2 Kerak yang dimaksud tentu saja Adis dan Ega.
Bumi tak memikirkan hal itu dan dia lebih fokus memandang jadwal ia mengajar. Tak ada jadwal mengajar lagi yang bisa ia lakukan namun dia merasa tak enak main pulang saja terlebih lagi ia guru baru. Karena itu ia terpaksa menunggu hingga jam bel pulang dan memilih untuk berselancar Internet menggunakan Handphone-nya.
“Permisi.”
Bumi menoleh dan melihat seorang siswi masuk kedalam kelas, dan itu adalah siswi yang sebelumnya ia lihat terus tersenyum kepadanya saat Bumi mengajar dikelasnya.
“Ya?”
“Ini, saya mau naruh dimejanya Bu Finny,” jelasnya dan menunjukan tumpukan buku yang ia angkat dengan kedua tangannya.
“Oh, ya taruh saja, nih mejanya,” Bumi menunjuk meja Finny.
Siswi itu mengangguk dan melakukan tugasnya, begitu juga Bumi yang hendak melanjutkan tugasnya yaitu ber-Internet. Namun Bumi merasakan kejanggalan, ia melirik kesamping dan melihat siswi itu masih berdiri ditempatnya.
“Kenapa?”
“Oh enggak,” Siswi itu menggeleng dan tersenyum, “Main apa, Pak?”
“Nyari artikel saja... kenapa gak masuk?”
“Kelas gak ada guru.”
“Oh...”
“Emmm bapak bintangnya apa?”
“Bintang?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Iya,” siswi itu mengangguk, “Horoskopnya gitu.”
“Oh... horoskop?”
“Iya,” siswi itu dengan semangat mengangguk-angguk.
Bumi mendelikan matanya keatas untuk mengingat-ingat, “Libra kalau gak salah...”
“Libra?”
“Kalau gak salah... emang kena...”
“Asik!” siswi itu tiba-tiba berjingkrak-jingkrak sehingga membuat Bumi keheranan.
“Kenapa?”
“Jodoh! Jodoh! Jodoh!” seru siswi tersebut sambil menepuk-nepuk tangannya dan berjingkrak memutar-mutar.
“Jodoh? Apanya yang jodoh?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Oh iya!” siswi itu meraih tangan Bumi seakan-akan mengajaknya salaman, hanya saja terlalu kencang hingga tangan mereka berdua dengan cepat naik turun, “Nama saya Nuri Gia Admajaya! Panggil aja saya Nugie, Pak!”
“I-I-Iya!” Bumi gegalapan menjawab karena jabat tangan seperti ini.
Nugie adalah salah satu siswi yang ‘Bersarang’ dikelas 10 B. Rambutnya sedikit berwarna kecoklatan, rambutnya panjang, wajahnya manis dan cantik diusianya. Selain itu dia juga menjabat sebagai Ketua Kelas dikelasnya tersebut.
Setelah membabi-buta melakukan salaman maka Nugie melepaskan salamannya, “Kalau begitu saya permisi ya, Pak?!”
“I-Iya,” kata Bumi sambil mengurut pergelangan tangan kanannya.
Nugi berbalik badan, memegang kedua pipinya dan berlari keluar sambil berseru, “Aaaaa! Jodoh! Jodoh! Jodoh!”
Bumi hanya bisa cengok memandang pintu ruang guru yang hampa, sampai akhirnya ia berpikir, “Jangan-jangan.... suka sama gue kali ya?!!”
Bumi kemudian mesem-mesem sendiri, ia melipat tangan dan mengangguk-angguk angkuh. Ia melihat bangku Ega yang kosong dan tanpa basa-basi menunjuk-nunjuk angkuh bangku Ega, “Lihat! Baru hari pertama aje udah ada yang kejaring sama pesona gue! Pesona loe kalah! Loe mamam tuh kerak! Huahahahahahaha!!!”
Tanpa sadar kalau masih ada guru-guru yang ada disitu, ibu-ibu pula.
“Udah rambutnya berantakan! Tingkahnya pun berantakan!” komentar guru tua itu sinis.
“Iya ya! Ck ck ck! Zaman emang edan!” sambung lawan bicaranya, ibu-ibu juga.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya bel sekolah berbunyi. Dengan perasaan bahagia  telah membuat seorang murid cantik naksir dengannya maka dia begitu menggebu-gebu untuk pulang dan ingin menyombongkan hal itu kepada anggota keluarganya. Ada memakan waktu 15 menit baginya untuk sampai ketujuan sampai akhirnya motornya itu mendadak berhenti ditengah jalan karena ia melihat sesuatu, yaitu Finny yang sedang mendorong motornya. Merasa rekan kerjanya itu butuh pertolongan maka Bumi menghampirinya.
“Kenapa, Bu?”
Finny menoleh dan menyeringitkan dahi, ia tidak memperdulikan Bumi dan terus mendorong motornya. Bumi hanya bisa menghela nafas menerima perlakuan itu akan tetapi ia juga merasa tak tega melihat Finny berpeluh keringat seperti itu. Bumi memperhatikan motor Finny, sebuah motor matic besar yang kedua ban-nya tidak kempes. Bumi juga tahu merek motor ini dan produsen yang memproduksinya, dengan analisa yang ia ketahui sedikit dari itu maka ia berbicara.
“Habis bensin?” itulah pertanyaan dari hasil analisanya, karena motor matic yang didorong Finny itu memang terkenal boros bensin.
“Bukan urusan anda,” balas Finny, ketus.
“Yuk saya dorong, Bu,” tawar Bumi yang tak perduli dengan perkataan Finny.
“Jangan perdulikan saya!” kata Finny sedikit geram.
Bumi benar-benar tidak perduli, ia bahkan sudah menaruh telapak kaki kirinyanya dipijakan kaki belakang motornya Finny, “Oke, naik saja, Bu. Biar saya dorong, pom bensin lumayan jauh loh dari sini.”
Finny berhenti mendorong dan menoleh dengan raut wajah yang kesal.
“Apa anda tidak mendengar perkataan saya? Saya bilang jangan perdulikan saya!” serunya mantap.
“Wih, ada yang berantem cok,” bisik pengguna jalan disekitar mereka kepada temannya.
“Biasalah,” temannya terkekeh.
Bumi dan Finny tidak memperdulikan ocehan 2 pengguna jalanan barusan. Finny terus memandang Bumi dengan tatapan yang dingin dan Bumi hanya bisa berdiam diri saja.
“Hmm,” Bumi tiba-tiba tersenyum.
Setelah itu tanpa berpamitan maka Bumi menyalakan motor dan mengendarai motornya. Finny hanya bisa melihat punggung Bumi yang menjauh dan hendak melanjutkan mendorong motornya lagi. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Bumi, Finny sedari tadi tidak menemukan tempat yang menjual bensin dan ia juga mengetahui jarak menuju pom bensin begitu jauh. Finny terlihat lelah dan itu bisa dilihat dari peluh keringat dikeningnya.
“Oh! Syukurlah masih ada.”
“Ng?” Finny menoleh kedepan.
Finny tertegun karena ia melihat Bumi kembali akan tetapi Bumi tidak sendirian, ia membonceng seorang pemuda yang membawa ken bensin dan juga corong. Mereka berdua turun dan mereka berdua pun menghampiri Finny.
“Tuh,” Bumi menoleh kearah pemuda dan menunjuk motor Finny.
“Oke,” pemuda itu kemudian menghampiri Finny dan tersenyum, “Buka jok nya, Mbak.”
“Siapa?” Finny menyeringitkan dahi.
“Anaknya tukang bensin eceran disana, sebelum pom bensin,” Bumi menjelaskan sambil menunjuk arah yang dimaksud.
“Iya, Mbak. Buka aja jok nya, biar saya isiin bensinnya,” pinta pemuda itu sekali lagi.
“Kau!” Finny melotot memandang Bumi, “Bukankah tadi sudah kubilang, jangan...”
“Berisik!” potong Bumi dan menghampiri Finny.
Finny tertegun saat Bumi berdiri tepat dihadapannya, dan Bumi celingak-celingukan melihat kedua tangannya dan bertanya, “Mana kunci motornya?”
“Itu masih nyantel,” kata pemuda, dan kunci motor Finny memang masih nyantel dilubang kunci starter.
Tanpa basa-basi maka Bumi mengambil kunci motor itu dan digunakannya untuk membuka jok motor Finny. Finny yang melihat itu berusaha mencegah.
“Kau mau apa?!”
“Dilihat juga sudah tahukan?” balas Bumi enteng.
“Saya bilang jangan...”
“Udeh! Hei cepat isi! Mumpung gue tahan nih orangnya!” suruh Bumi kepada pemuda itu dan Bumi memang mencoba menghalangi Finny yang berniat menghentikan pemuda mengisi bensin di motornya.
Pemuda terkekeh dan dengan cepat-cepat menuangkan isi bensin kedalam tangki bensin motor Finny. Sedangkan Finny masih berusaha menghalangi hal itu namun dihalang-halangi oleh Bumi.
“Oke!” kata pemuda setelah selesai mengisi bensin, ia pun menutup jok motor Finny.
“Tuh udah,” kata Bumi kepada Finny.
Akan tetapi dilihatnya kibasan tangan kiri Finny hendak memukulnya dan dengan cepat Bumi mengelak, Bumi memundurkan jaraknya dan terkekeh.
“Baru kali ini saya melihat ada yang marah gara-gara ditolongin.”
“Apa maksudmu? Hah?!” bentak Finny.
“Tidak ada, hanya menolong rekan kerja. Tidak masalahkan?”
“Kau ini!” Finny mengatup giginya rapat-rapat.
Bumi dengan santainya menyalakan rokok, setelah itu ia memandang Finny dan menundukan kepalanya.
“Maafkan saya.”
Melihat sikap Bumi membuat Finny terdiam, alisnya mulai tak sinkron.  Satunya terbang ke utara dan satunya terbang keselatan.... oh maaf, bercanda, maksudnya ya biasalah, alisnya naik sebelah gitu.
“.... Apa maksudmu itu?”
Bumi menadahkan kepalanya dan berkata, “Maaf kalau saya tidak bisa menuruti permintaan anda, tapi mau bagaimanapun juga saya tidak bisa diam saja kalau melihat orang yang tampaknya benar-benar membutuhkan bantuan, terlebih lagi anda adalah rekan kerja saya disekolah.”
Finny tertegun dan memilih diam.
“Jadi saya minta maaf sebelumnya,” Bumi melanjutkan.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Finny, ia dan Bumi masih terus memandang sampai akhirnya Finny menoleh kearah pemuda yang berdiri dibelakang Bumi.
“Jadi berapa semuanya?”
“20 ribu, mbak,” sang pemuda cengengesan.
Finny mengeluarkan 2 lembar uang pecahan 10.000 dan diberikannya kepada pemuda itu, setelah itu ia kembali memandang Bumi yang cengengesan memandangnya.
“Kenapa tertawa?!” hardik Finny.
“Dengan ini anda tidak merasa berutang budi bukan? Padahal tadi saya mau membayar bensin anda.”
Dan... Finny lagi-lagi terdiam dibuatnya. Karena memang benar apabila Bumi membayar bensinnya maka Finny akan merasa berhutang budi dengan Bumi, terlebih lagi Bumi sudah sedikit menolongnya dengan membawa orang dari penjual bensin eceran.
“Bang Bum-Bum, kalau gitu anter lagi gue pulang,” pinta pemuda itu sambil menarik-narik kemeja Bumi.
“Bum-Bum! Bum-Bum!” Bumi terlihat kesal, “Udah gue bilang jangan panggil gue dengan panggilan itu! Geli!”
“Lah, abang yang punya nama kayak gitu, mau gimana lagi?” pemuda cengengesan.
“Ck, bawa tuh motor, tungguin gue disitu.”
“Jangan di spik-spik, Bang. Inget tuh anak orang,” pemuda cengengesan dan berjalan menuju motor Bumi.
Bumi mendumel-dumel sedangkan Finny menyeringitkan dahi karena Bumi masih berdiri dihadapannya.
“Ada urusan apalagi?!” hardik Finny.
Bumi menoleh kearah Finny dan mulut menghembuskan asap rokok, “Oh, enggak ada. Hanya mau berpamitan.”
“Jangan sok sopan didepan saya!”
“Hehehe,” Bumi malah cengengesan yang membuat alis Finny semakin mengkerut, “Saya denger-denger dari pak Ega kalau sikap anda ini sudah begini dari dulu.”
“Lalu apa urusannya dengan anda?!” Finny melotot.
“Tidak ada,” Bumi menghisap rokok dan menghembuskan asap rokoknya, “Hanya saja sikap anda itu tidak ada artinya dihadapan saya.”
“Apa?!” Finny menyeringitkan dahi.
“Sikap anda begitu dingin, dan orang yang ada dihadapan anda ini adalah orang yang ‘Panas’!”
Setelah berkata seperti itu maka Bumi memutar arah dan hendak menyusul pemuda, akan tetapi tiba-tiba Finny berseru, “Apa maksudmu?!”
Bumi menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang dan berkata.
“Anda tahu sifat alami bukan? Es akan mencair apabila terkena panas, jadi sikap dingin anda itu tak berarti apa-apa dihadapan saya.”
“Apa?!” Finny lagi-lagi menyeringitkan dahi.
“Tapi mungkin dilingkungan sekolah saja saya akan menuruti sikap dingin anda,” Bumi tersenyum.
Finny terdiam mendengar perkataan itu dari Bumi, dia memang tahu kalau sikapnya itu dingin akan tetapi dia tak mengerti ‘Panas’ apa yang dimaksud Bumi untuk dirinya itu.
“Bang Bum-Bum! Cepetan! Gue dicariin bokap gue nanti!”
“Bum-Bum gigi elu!” Bumi sewot setengah mati, ia bergidik mendengar nama panggilan tersebut yang kesannya ‘SOK-IMUT’.
Sang pemuda cengengesan menyambut Bumi yang menghampirinya, Bumi menoyor kepalanya sebentar. Ia menaiki motor dan langsung saja meluncur meninggalkan Finny untuk kedua kalinya. Sementara itu Finny masih terdiam melihat arah Bumi dan pemuda tadi pergi.
“.... Bum-Bum...” gumam Finny dengan wajah lugu.
Sementara itu Bumi sudah mengantar pemuda tadi ketempat penjual bensin eceran dan tak lupa pemilik bensin eceran itu mengingatkan Bumi agar mengirim pesan kepada Leffy, adik sepupu Bumi agar segera membayar hutang bensinnya. Jadi bisa dibilang Bumi sudah mengenal betul pemilik penjual bensin eceran tersebut dan sudah menjadi langganan dia bersama Leffy.
Bumi melanjutkan perjalanannya menuju tempat tinggalnya dan 9 menit kemudian akhirnya ia sampai. Ia memarkirkan motornya didepan garasi rumah Dion dan Mumu, ia juga melihat 2 buah motor disitu dan merasa itu adalah tamunya Dion. Merasa haus maka dengan cepat ia memasuki rumah untuk menikmati minuman dingin.
“Gak kuliah loe?” tanya Bumi saat melihat Leffy asyik berbaring disofa ruang tamu.
“Ini aje nungguin Diaz,” balas Leffy cuek karena keasyikan bermain game di handphone.
“Oh, Bang Tigor kirim salam tuh, katanya suruh cepet bayar utang bensin,” ulas Bumi sambil mengendorkan kancing kemeja atasnya.
“Bah! Kan KTP gue udah jadi jaminan! Masih kurang apa?” Leffy sewot.
“KTP dengan harga diri loe gak ada harganya,” Bumi cengengesan, Leffy keki.
“Oh udah pulang.”
Bumi menoleh dan melihat kakak iparnya yaitu Mumu membawa majalah dan menaruhnya dirak majalah yang memang khusus ditaruh diruang tamu.
“Gimana hari pertama?” tanya Mumu sambil mengatur-atur majalah.
“Lumayan, muridnya cakep-cakep,” Bumi terkekeh.
“Pedhopil,” ejek Leffy.
“Bodo, oh iya, ada tamu ya mbak?” tanya Bumi.
“Iya, temen-temennya Dion. Mereka lagi makan didalam,” setelah itu Mumu memandang Leffy, “Gak kuliah, Lef?”
“Nungguin Egi,” balas Leffy cuek yang sedari tadi fokus sama handphone-nya.
“Lah? Tadi loe bilang Diaz,” Bumi menyeringitkan dahi.
“Sama ajelah, mau Diaz kek, Egi kek, yang penting ada yang jemput gue.”
“Udah ada motor masih aje minta jemput.”
“Irit bensin.”
“Utang bensin loe bayar.”
“KTP gue disana,” Leffy menguap.
Mumu hanya cekikikan mendengar percakapan mereka berdua, sedangkan Bumi teringat kalau ia sudah haus sedari tadi. Bersama Mumu maka ia pun masuk kedalam rumah, Mumu menuju kamarnya sedangkan Bumi menuju dapur.
“Ha ha ha coba aje nanti loe berdua tanyain ke Enu.”
Bumi mendengar suara Dion yang sepertinya sedang melakukan dialog dengan tamunya, Bumi cuek dan melewati dapur karena kuskas ada diluar tepat didinding dapur.
“Oh udah pulang loe,” panggil Dion dari dalam dapur.
“Yoi,” balas Bumi cuek sambil membuka kulkas.
“Siapa, Yon?” tanya seseorang didalam.
“Adik sepupu gue. Earth, sinilah, kenalan sama kawan-kawan abang,” panggil Dion, dan Earth adalah panggilan asal jeplak dari Dion teruntuk Bumi. (Earth adalah bahasa Inggris  yang artinya Bumi.)
“Iye-iye,” balas Bumi seadanya.
Setelah mengambil botol minuman dan menuangkannya kegelas maka Bumi hendak memasuki dapur yang dimana ia melihat 2 orang yang menjadi tamu Dion duduk membelakangi dirinya.
“Nah, itu adik sepupu gue,” Dion menadahkan kepalanya untuk menunjuk Bumi.
2 orang itu meneguk minuman mereka sambil menoleh kebelakang, begitu juga Bumi yang meneguk minumannya dengan wajah malas. Dan saat mereka beradu pandang tiba-tiba saja mata mereka melotot.
“BRRUUUUUUUH!!!” dan kompak memuncratkan air minum dari mulut mereka masing-masing.
“Nape kalian?” Dion menyeringitkan dahi melihat tingkah Bumi dan ke-2 temannya.
Ketiganya tidak menjawab pertanyaan Dion, mata mereka masih terbelalak dan menganga mulutnya, hingga akhirnya mereka serempak bertanya.
“Loe ngapain disini, Kerak?!”
Dan kalau bingung kenapa mereka bertiga seperti itu, itu dikarenakan.... 2 teman Dion itu adalah Ega dan Adis.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Setelah kejadian kemarin akhirnya Bumi mengetahui kalau Ega dan Adis adalah temannya Dion sejak SMP, dan umur mereka Bumi dengan mereka berjarak 3 tahun. Akan tetapi dengan sifat Ega maka dia tidak mau mengakui kalau dirinya itu tua dan menganggap dirinya itu masih muda. Tapi tidak dengan Adis, dia menerima dirinya tua akan tetapi ia mau mempunyai jodoh seorang wanita muda, karena itulah ia mau berprofesi sebagai guru dan mengincar murid-murid SMA untuk menjadi jodohnya.
“Gue ingetin ke elo! Awas aje loe ngasih tau umur asli gue disini!” kata Ega sinis kepada Bumi yang duduk diseberangnya, mereka lagi diruangan guru.
“Gue bakalan inget kalau loe berdua ganti tuh duit gue!” Bumi juga sinis memandang Ega.
“Duit apaan?” Ega menyeringitkan dahi.
“Tradisi kemaren!” Bumi sewot.
“Salah sendiri, ngapain juga loe jadi guru baru disini?!”
“Mana gue tau! Tanyain aje tuh Kepala Sekolah!”
“Kata Dion loe ini sarjana Perikanan, kenapa loe bisa jadi guru sejarah?” tanya Adis yang duduk disebelah Ega.
“Panjang ceritanya.”
“Ya disingkat aje,” kata Ega ketus.
Je-de be-ge-en-i ce-te-a-nya, de-l-u gu-we kan je-el-en- je-el-en...(Jd bgni crtnya, dlu gue kan jln-jln).” (Bumi menyingkat suku katanya, seperti teks percakapan di chat/sms)
“Gak gitu juga! Kerak!” Ega dan Adis sewot.
“Loe berdua tuh yang kerak!” Bumi juga tak mau kalah sewot.
Selagi mereka bertiga ribut sendiri, tiba-tiba datang Finny dan duduk dikursinya yang tepat berada disamping meja Bumi.
“Pagi, Bu,” Ega cengengesan memberi salam.
“Pagi, Bu Finny,” lanjut Adis.
“Pagi,” balas Finny cuek dan membereskan mejanya dari tumpukan buku.
“Hui! Kasih salam! Junior harus sopan dengan Senior!” bisik Ega dengan wajah singit ke Bumi.
“Heleeeh,” Bumi memiringkan bibir dan menoleh kesamping, “Pagi, Bu.”
Tidak ada jawaban dari Finny yang bertingkah seolah-olah dia tidak mendengarkan salam dari rekan kerjanya tersebut.
“Kena dia,” bisik Adis kepada Ega, mereka berdua pun terkekeh.
“Pagi, Bu,” salam Bumi sekali lagi.
Tapi Finny masih pura-pura tak mendengar dan terus membereskan mejanya.
“Cara salam engkau masih belum diakui wahai anak muda, bertapa gih sana di Gunung Kidul,” kata Ega angkuh sambil melipat tangan.
Merasa panas karena hanya salam dia yang diabaikan maka Bumi melototkan matanya.
“Selamat pagi Bu Finny yang budeknya minta ampun!” seru Bumi tiba-tiba.
Ega dan Adis kaget, begitu juga Finny. Finny menoleh dan matanya melotot memandang Bumi.
“Apa?!” hardik Finny.
“Daritadi juga,” bibir Bumi singit.
“Anda ini gak sopan sekali ya?!” seru Finny.
“Oh begitu, jadi tadi kurang sopan?”
“Anda tak punya otak untuk berpikir sendiri?” hardik Finny yang memandangnya geram.
“Oke!” Bumi berdiri.
Ega dan Adis menyeringitkan dahi, apalagi Finny. Bumi kemudian bersimpuh, senyumnya melebar dan kedua tangannya direntangkan.
“Selamat pagi Ibu Finny yang cantik dan manis.”
Mendadak hening.
Ega dan Adis memasang wajah sengak untuk memandang Bumi, sedangkan Finny tertegun dan matanya melotot.
“A-A-Apaan sih?!” tanya Finny tergagap-gagap.
“Kan sopan, ditambah pujian,” Bumi cengengesan.
Finny terdiam, tak lama ia menoleh kembali kearah mejanya dan  buru-buru mengambil buku, setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya dan segera keluar dari ruang guru. Melihat wanita itu pergi maka Bumi kembali duduk ditempat duduknya.
“Baru segitu aje udah lari, dasar cewek,” Bumi mendengus sombong.
“Gimana gak lari?! Loe itu apa-apaan tadi? Bersimpuh-simpuh segala,” Ega sewot mewakili Adis.
“Biar dia kaget, cewek kalau digituin tiba-tiba sama orang gak dikenalnya pasti kagetlah” kata Bumi cuek dan menoleh kearah Ega dan Adis, “Lagian gue juga ganteng.”
Dan suasana hening kembali, Ega dan Adis beranjak dari tempat duduk dan hendak keluar dari ruang guru.
“Mau kemana kalian?” tanya Bumi.
Ega berhenti berjalan dan menoleh, “WC, dan tolong coba tanyakan maksud kami berdua mau ke WC.”
“..... Ngapain?” tanya Bumi, terpaksa.
“Mau muntah!” seru Ega dan Adis bersamaan.
Bumi mendumel-dumel sedangkan Ega bersama Adis segera pergi keluar ruang guru, mereka tidak ke WC, tapi mereka menikmati siswi-siswi cakep yang hilir mudik kesana kemari untuk pengalihan rasa mual gara-gara mendengar pengakuan Bumi yang menganggap dirinya ganteng.
Sementara itu Finny berada diatap sekolah, ia bersender dibalik pintu sambil memeluk erat buku dengan kedua tangannya. Matanya melotot dan nafasnya terengah-engah.
“A-A-Aku manis?” gumamnya tak percaya dengan wajah memerah.
Gula kali.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Sekarang Bumi sedang mengajar di kelas X (sepuluh) B. Sebuah kelas yang dimana ada siswi yang diduga naksir dengannya, yaitu Nugie. Dan memang selama Bumi menerangkan pelajaran hanya Nugie sendiri yang senyum-senyum memandang Bumi, akan tetapi Bumi pura-pura tidak tahu dan dia berpikir kalau sikapnya ini akan begitu keren dihadapan Nugie dan berpikir mungkin Nugie akan semakin naksir dengannya dengan sikap sok-sok cuek yang ia buat.
“Pak!” salah satu murid mengangkat tangan.
“Ya?”
“Saya mau bertanya, Pak.”
“Silahkan,” Bumi menaruh buku diatas meja, 2 tangannya dimasukan kedalam saku celana dan dia duduk bersandar dimeja gurunya.
Biasalah, masih bersikap sok keren.
“Jadi begini, Pak. Kan tadi Bapak menjelaskan kalau Amerika menyerang Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom.”
“Hmm, ya,” Bumi mengangguk, “Terus?”
“Tapi apa yang menjadi penyebab utamanya? Tadi bapak bilang Amerika melakukan itu karena serangan Jepang sebelumnya. Jadi itu pertanyaan saya, Pak.”
“Hmm pertanyaan yang bagus,” Bumi tersenyum dan membatin untuk dirinya sendiri, “GAWAT! MANA GUE TAU!!!
Lama menunggu jawaban membuat siswa itu menyeringitkan dahi.
“Pak?”
Bumi tertegun dan tiba-tiba saja otaknya itu menjadi encer.
“Oh iya, maaf-maaf. Tapi sebelum saya menjawabnya.... saya mau bertanya, apakah kamu tahu siapa penemu buku?”
“Enggak tahu, pak,” siswa itu menggeleng.
“Hmm, sekarang tahun berapa?”
“2018...” siswa itu menyeringitkan dahi.
“Dan di Era ini kita sudah tahu bukan, kalau sumber informasi ada dimana-mana? Baik yang lisan mau pun tulisan, dan....” Bumi tersenyum kepada siswa tersebut, “Menurutmu, sumber informasi apa yang mencakup banyak tulisan dan bisa dicari dengan mudah di era sekarang ini?”
Siswa itu celingak-celingukan mencari jawabannya, ia bahkan bertanya kepada teman-temannya.
“Saya kasih clue, internet,” ujar Bumi.
Mendapat petunjuk yang sedikit tersebut membuat siswa itu segera mengetahui jawabannya, begitu juga murid-murid yang lain.
“Google, Pak!”
“Wow!” Bumi terperangah, tentu saja itu dibuat-buat, “Kalian pintar sekali, saya yakin kalian akan terus naik kelas dengan nilai memuaskan.”
“Hehehehe,” semua murid-murid cengengesan dipuji oleh guru baru mereka, tapi siswa tadi mulai menyeringitkan dahi, “Terus apa hubungannya pak dengan pertanyaan saya?”
“Hmm,” senyum Bumi penuh dengan kemenangan, “Jadi seperti yang tadi saya bilang, informasi dizaman sekarang sangat mudah didapat. Dan menurutmu pertanyaan tadi ada tidak jawabannya di Google?”
“Kayaknya ada.... tapi kan saya bertanya sama bapak...”
“Kamu ini ck ck ck,” Bumi menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu tahu tidak, sudah berapa orang yang meneruskan informasi ini dari generasi ke generasi, dari bentuk tulisan diatas kertas, hingga bentuk tulisan diatas kode binari. Jadi apakah kamu ingin menyia-nyiakan kerja keras mereka yang ingin membuat kalian menjadi cerdas?”
“Enggak, pak!” jawab murid-muridnya serempak.
“Jadi, apa kalian ingin menghormati kerja keras mereka?” tanya Bumi sekali lagi.
“Ya!”
“Bagus, sekarang kalian hormati kerja keras mereka, saya izinkan buka Google untuk mencari tahu jawaban yang ingin kalian tanyakan.”
“Eh? Boleh, Pak?”
“Kenapa?”
“Ya... biasanya guru-guru lain melarang kami menggunakan Internet...” ulas salah satu murid.
“Tidak hanya zaman yang harus berevolusi, cara mengajar juga harus berevolusi. Saya izinkan kalian menggunakan Internet,” Bumi tersenyum.
Tak ayal lagi semua murid-murid pun mengeluarkan handphone mereka dan tak sedikit dari mereka senang mempunyai guru yang sadar akan teknologi apabila teknologi bisa dimanfaatkan mencari ilmu.
“Sumpah! Gue mau Pak Bumi jadi wali kelas kita!” bisik salah satu siswi keteman sebangkunya.
“Iya!”
Dan tak hanya siswi tersebut yang bisik-bisik seperti itu, akan tetapi murid-murid yang lain. Dengan posisinya yang tak berubah, maka Bumi menoleh kearah luar kelas dan senyumnya terus terpancar.
SELAMAT! SELAMAT! TERIMA KASIH GOOGLE!” serunya dalam hati.
Pesan moral yang didapatkan disini adalah.... untuk siapapun Kepala Sekolah yang membaca cerita ini, pecat aje guru kayak begini.
“Uaaaaaaaah!!!” sedangkan senyum Nugie mengembang melihat gaya Bumi yang keren abis dimatanya, “Pak Bumi!” panggilanya tiba-tiba.
Bumi terkejut dan menoleh kearah Nugie.
“Ya?”
“Boleh sekalian cari lagu di Internet gak?” pintanya.
“Err... ya boleh-boleh,” Bumi terpaksa mengiyakan agar kesan ‘Guru-Keren’ nya tidak berkurang.
“He he he, ngomong-ngomong lagu Anang sama Ashanti yang terkenal itu apa ya nama judulnya, Pak?”
“Cari saja di Google,” suruh Bumi.
“Tapi saya maunya bapak yang jawab,” Nugie memasang wajah sedih.
“Itu...” Bumi menggaruk kepala dan bertanya kepada siswi yang paling depan, “Tau judulnya?”
“Judulnya ‘Jodohku’, pak,” jawab Siswi tersebut.
“Oh,” Bumi mengangguk dan memandang Nugie, “Jodohku?”
“Aaaaa Jodoh!!!” Nugie tiba-tiba berseru dan memegang kedua pipinya.
“Yeeee mulai! Mulai!” seru teman-teman sekelasnya.
“Biarin,” Nugie memeletkan lidahnya keteman-temannya.
“Jangan diperduliin, Pak. Nugie emang gitu orangnya,” kata seorang siswa kepada Bumi.
“Oh ha ha ha ha ha,” Bumi hanya tertawa dan membatin, “Gue emang keren abis!
Sementara itu dipojokan kelas, terlihat seorang siswa yang berkacamata dan menyeringitkan dahi melihat tingkah Nugie. Siswa berkacamata itu kemudian memandang Bumi sambil membetulkan posisi kacamatanya.
“Hmmm,” gumamnya dengan mata yang memincing.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Dengan perasaan bangga maka dijam istirahat pertama membuat Bumi ingin memamerkan korban pesona dirinya terhadap 2 orang yang dianggapnya Kerak, yaitu Ega dan Adis. Mereka bertiga sekarang berada dikantin.
“Loe kenapa dari tadi senyum-senyum melulu?” alis Adis sebelah memandang Bumi dihadapannya.
“Oh,” Bumi yang sedang mengunyah bakso kemudian berbicara, “Kayaknya sih... ada murid disini yang suka sama gue?”
“Hah?” Ega menyeringitkan dahi memandang Bumi.
“Ya... naksir gitu sama gue,” Bumi cengengesan.
“Cih,” desih Ega dan Adis bersamaan.
“Ya-ya tau kok yang gagal bikin siswi klepek-klepek,” ujar Bumi cuek.
“Nggak fair, pake pelet,” ulas Ega cuek.
“Pelet apaan?!” Bumi sewot.
“Masih zaman pake pelet?” sambung Adis sinis kepada Bumi.
Bumi sewot, sedangkan Ega dan Adis masih bersungut-sungut sambil melahap makanan mereka. Sampai akhirnya ada suara yang menarik perhatian mereka berdua.
“Permisi bapak-bapak, boleh gabung gak?”
Bumi menoleh dan melihat seorang guru muda lainnya yang terlihat biasa saja tapi enak dipandang, apalagi kulitnya putih bersih. Bumi menyeringitkan dahi karena tak pernah melihat guru ini sebelumnya. Terlebih lagi guru muda ini tidak sendirian karena ada Finny disampingnya.
“Silahkan, Bu. Silahkan,” Adis mempersilahkan.
“Makasih,” guru wanita ini tersenyum manis.
Finny dan guru wanita itu kemudian duduk dibangku barusan yang sama dengan Bumi. Bumi hanya bisa terdiam dan kikuk karena duduk bersebelahan dengan wanita yang tak dikenalnya.
“Pak Bumi bukan?”
Bumi menoleh dan melihat guru wanita itu tersenyum kepadanya.
“I-Iya,” Bumi mengangguk.
“Nama saya Donna, ngajar Biologi dikelas IPA. Katanya kemarin ya baru masuk?” tanya guru wanita yang bernama Donna tersebut.
“Iya, Bu,” Bumi mengangguk.
“Oh... kenapa tegang begitu mukanya?” Donna tertawa dengan alis naik sebelah.
“Oh enggak he he he.”
“Ha ha, gimana kesannya mengajar disini?”
“Belum ada yang istimewa he he.”
“Oh gitu,” Donna tertawa dan mengaduk-aduk bakso yang sudah ia campurkan dengan kecap dan larutan cabai.
“Kapan pulang dari liburan, Bu?” tanya Ega.
“Kemarin sore, maaf ya gak bawa oleh-oleh,” Donna tersenyum.
“Gakpapa kok, Bu. Senyum ibu udah termasuk oleh-oleh yang berharga bagi saya,” Ega cengengesan dan memainkan-mainkan alisnya.
“Ha ha ha ha,” Donna tertawa dan tiba-tiba wajahnya serius memandang Ega, “Tolong jangan bikin saya mual dengan gombalan sampah itu ya?!”
“Bercanda keles,” Ega memiringkan bibir dan ditertawai semena-mena oleh Adis.
Bumi juga cengengesan dan tak menyangka dari wajah lembut Donna ternyata mulutnya lentis juga dan Bumi menganggap perkataan Donna kepada Ega tadi sudah menjadi perwakilan rasa kesal ia karena dituduh menggunakan pelet sebelumnya.
“Memangnya liburan kemana, Bu?” tanya Bumi, berbasa-basi.
“Kampung halaman saya, Bandung.”
“Eh? Beneran Bandung?”
“Iya, kenapa?” tanya Donna sambil menyeruput kuah bakso.
“Saya juga dari Bandung, Bu he he.”
“Oh.”
“Iya,” Bumi mengangguk.
“Waaah,” senyum Donna mengembang hingga matanya menyipit, “Padahal saya gak nanya.”
Tak ayal lagi sekarang giliran Bumi yang ditertawai oleh Adis dan Ega. Bumi memiringkan bibir dan berpikir kalau guru-guru muda disini tak ada yang ‘Sehat’ semua. Dari Finny yang super dingin, Ega dan Adis yang rada-rada... begitulah, dan terakhir Donna, guru yang punya senyum maut akan tetapi kata-katanya bisa bikin sakit hati sekampung.
“Oh iya, tadi saya udah denger ceritanya dari Bu Finny.”
“Ng?” Bumi menoleh kearah Donna, “Cerita apa?”
“Katanya tadi pagi kamu bilang dia...”
Braak!! Bunyi meja dipukul pelan dan bisa diketahui kalau Finny lah yang melakukannya, “Jangan pernah sekalipun membicarakan hal itu!” serunya.
“Iya-iya, ngambekan amat,” Donna tertawa dan menusuk-nusuk pipi Finny dengan ujung jari.
Sedangkan Bumi penasaran dengan apa yang Finny bicarakan dengan Donna sebelumnya tentang dirinya. Dan dari itu Bumi merasa kalau Donna dan Finny itu dekat.
“Ngomong-ngomong, siapa murid yang loe maksud tadi?” tanya Adis tiba-tiba.
“Murid apa?” tanya Donna.
“Nih,” Ega menadahkan kepalanya kearah Bumi, “Katanya tadi ada murid yang suka sama bapak satu ini.”
“Waaah,” senyum Donna lagi-lagi mengembang dan memandang Bumi, “Beneran?”
“Kayaknya sih,” Bumi cengengesan.
“Ha ha ha kok bisa mikir begitu?” tanya Donna penasaran.
Bumi dengan lagak sombong mulai menceritakan awal mula ia mengira Nugie memiliki tanda-tanda naksir dengan dirinya, dan selama penjelasan itu hanya Finny yang tidak tertarik dan masam wajahnya sambil mendelikan matanya kearah lain.
“Terus siapa namanya?”
“Kalau nggak salah sih... Nugie.”
“Nugie?!” Ega, Adis dan Donna bertanya serempak.
“Iya,” Bumi mengangguk.
“Ketua Kelas 10 B? Yang cantik itu?” tanya Donna sekali lagi.
“Iya, kenapa?” Bumi heran.
“Waaah,” senyum Donna lagi-lagi mengembang hingga matanya menyipit, “Kasian,” dan melanjutkan makan.
Bumi menyeringitkan dahi, apalagi ia melihat Ega dan Adis juga menahan-nahan tawanya.
“Jadi Nugie toh yang loe maksud tadi?” tanya Ega.
“Memangnya kenapa?”
“Oh enggak,” Ega cengengesan dan dilanjutkan oleh Adis, “Kalau begitu semoga beruntung.”
“Beruntung?”
“Ya, mudah-mudahan aje tuh anak beneran naksir cia ha ha ha ha!” Ega tiba-tiba tertawa brutal.
Bumi menyeringitkan dahi, begitu juga Finny. Karena mereka berdua tidak tahu kenapa Ega dan Adis malah bersikap seperti itu terlebih lagi Finny memang tidak tertarik dengan cerita-cerita murid-murid yang ada disekolah ini dari dulu.
“Permisi.”
Suara salam itu menarik perhatian mereka ber-lima. Mereka menoleh dan melihat Nugie tersenyum manis berdiri dibelakang Bumi.
“Oh, Nugie. Ada apa, Gie?” tanya Ega.
“Itu...” Nugie malu-malu memandang Bumi, “Boleh ngomong sebentar gak, Pak?” pintanya kepada Bumi.
“Saya?” Bumi memastikan.
“He’em,” Nugie tersenyum manis dan mengangguk-angguk.
“Ya ngomong saja,” ujar Bumi.
“.... Berdua aja, soalnya saya mau bertanya soal pelajaran tadi...”
“Oh...” Bumi merasa canggung.
“Udeh sana, bantuin murid dalam pelajaran itu wajib,” Adis terkekeh.
“Iye, dah sana, lagian udah selesai makan juga,” Ega menadahkan kepalanya kearah mangkok bakso Bumi yang sudah ludes.
“O-Oh... yaudah.”
Bumi beranjak dari bangku dan Nugie dengan semangat menarik-narik tangan Bumi agar mengikutinya. Finny yang melihat itu hanya bisa menyeringitkan dahi.
“Bukankah ada larangan murid dan guru tidak boleh berpacaran?” kata Finny tiba-tiba dengan nada ketus.
“Kalau emang jodoh kenapa juga harus dihalangin,” Ega terkekeh.
“Sebuah aturan dibuat tentu saja ada maksudnya, Pak!” Finny melotot.
“Iya sih, tapi....” Ega cengengesan, “Lagian gak mungkin.”
“Iya,” Adis terkekeh.
“Apanya yang nggak mungkin?” alis Finny naik sebelah.
“Kalau ada guru yang merasa ditaksir Nugie gara-gara tingkahnya, itu berarti tuh guru udah menjadi korban dia ke 3,” ulas Adis.
“Maksudnya?” Finny benar-benar tidak mengerti.
“2 korbannya itu dihadapan kita ini,” Donna tersenyum dan menoleh kearah Finny, “Lagian kenapa tiba-tiba membahas hal itu?”
“Kenapa memangnya?”
“Nggak, cembur-cembur ya sama si Itu?”
Tahu maksudnya membuat mata Finny terbelalak, “Enggak!” dan dengan cepat membantah.
“Apaan cembur-cembur?” Ega dan Adis menyeringitkan dahi.
“Mau tau aja, kok kepo sih jadi cowok? Cowok bukan?” Donna tersenyum manis dengan kalimat sadis.
“Beeeh,” Ega memiringkan bibir.
Mereka melanjutkan aktifitas mereka tapi Finny merasa ada sesuatu hal yang baru membuatnya penasaran.
“2 korban tadi maksudnya apa?”
“Oh,” Donna tertawa, “Diceritain gak?” tanyanya kepada Ega dan Adis.
“Mau tau, Bu?” Adis terkekeh memandang Finny.
“Kalau kalian mau saja,” balas Finny cuek.
“He he he jadi begini...”
Selama Ega menjelaskan maka dilain tempat terlihat Nugie terus mengajak Bumi menuju kelasnya yang terdapat sedikit murid-murid disitu karena sedang jam istirahat.
“Kenapa bapak dibawa kesini?” tanya Bumi dengan nada sok kalem, biasalah, mau sok keren ~
“Entar ya, Pak,” Nugie tersenyum manis dan melepaskan pegangan tangannya.
Nugie menuju bangkunya dan mengubek-ubek isi tas, senyum manisnya lagi-lagi tercipta saat mengeluarkan benda seperti buku besar dan ia segera menghampiri Bumi.
“Pak Bumi...” panggil Nugie dengan nada yang lembut.
“Ya?” respon Bumi dengan sok cool, biasalah ~
“Bener kan yang kemarin bapak bilangin ke saya.... kalau horoskop bapak Libra?”
“Bapak tak pernah berbohong, apalagi terhadap wanita,” kata Bumi dengan senyum wibawa seorang guru, guru cabul lebih tepatnya.
“Terima kasih, pak,” senyum manis Nugie mengembang hingga matanya menyipit dan kesan manisnya bertambah.
GUE KEREN ABIS!” seru Bumi dalam hatinya yang bangga, “Oh, tadi katanya mau nanyain soal pelajaran Bapak, dibagian mananya yang tidak kamu mengerti.”
“Emmm,” Nugie menunduk malu, ia memainkan-mainkan ujung kaki kanannya kekanan dan kekirini, “Pelajaran..... cinta.”
“Cinta?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Iya,” Nugie mengangguk.
“Cinta siapa?”
“Cintanya bapak,” Nugie tersenyum malu-malu.
“Oh,” Bumi tersenyum dan membatin, “ASTAGA YA TUHAN! KENAPA GUE BISA SEGANTENG INI SIH AMPE MURID SENDIRI NAKSIR? CIA HA HA HA HA HA!!
“Jadi, Pak...”
“Ya?”
“Emm menurut bapak cocok gak...”
Bumi menghela nafas, “Entahlah, tapi kalau tak salah ada aturan tentang guru dan murid yang tidak boleh...”
“.... Dengan anjing betina warna putih?” potong Nugie.
Bumi terdiam, begitu juga Nugie, sekelas mendadak hening.
“Hah?” alis Bumi naik sebelah.
“Iya!” Nugie tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.
“T-Tunggu... apa hubungannya dengan anjing betina?”
“Iiih bapak kok gak peka sih?!” Nugie malah ngambek.
“Peka apanya? Bapak malah gak ngerti kamu ngomongin apa.”
“Iiih bapak! Jago deh bikin penasaran gitu,” Nugie tertawa dan menabok-nabok pergelangan tangan Bumi.
“Bapak beneran nggak ngerti!” Bumi sewot.
“Hehehe,” Nugie cekikikan, “Jadi gini, Pak. Waktu ngeliat bapak, bapak ngingetin saya sama sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Iya,” Nugie mengangguk.
“Apanya?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Ntar ya,” Nugie membuka halaman bukunya dan mengarahkannya kearah Bumi, “Jreng! Jreng! He he he he!”
Bumi terdiam, diam sediam-diamnya dari diam yang ada di Planet Bumi ini. Karena Nugie dengan polosnya menunjukan sebuah potret anjing didalam buku tersebut.
“.... Terus?” Bumi akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Iih si Bapak,” Nugie tertawa dan memukul lengan Bumi, “Tuh liat bulunya, mirip warna rambut bapak kan? Bulunya juga kisut-kisut berantakan, sama kayak rambut bapak! He he he.”
Bumi terdiam seketika.
“Hmm,” sedangkan Nugie tersenyum, menutup mata dan memeluk buku yang berisi foto anjing tersebut, “Ini namanya Kiko, anjing peliharaan kakakku. Kiko juga lahir ditanggal yang pas dengan horoskop Libra.”
“Oh....” respon Bumi dengan wajah kaku.
“Jadi!” Nugie memandang Bumi dengan raut wajah semangat, “Menurut bapak, Kiko dijodohin dengan anjing betina putih cocok gak? Kan bintang kalian sama-sama Libra! Apa pun yang menjadi pilihan bapak pasti sama dengan pilihan Kiko.”
“Oh...”
“Hmm bentar,” Nugie meminta Bumi memegang bukunya, “Saya ada foto-foto anjing betina lainnya, bapak pilihin ya? Karena pilihan bapak pasti pas dengan Kiko, karena kalian mirip! He he he, bentar ya?”
Setelah itu Nugie dengan semangat luar biasa berlari kearah bangkunya, sedangkan Bumi berdiri kaku sambil memegang buku berisikan foto-foto Kiko, seekor anjing jantan yang bulu-bulunya mirip dengan rambut Bumi yang gondron berantakan.
“A-Anjing.... gue disamain dengan anjing....” gumam Bumi dengan raut wajah tak percaya.
Salah satu siswi mendekat dan menepuk pundak Bumi.
“Kan tadi udah dibilangin, Pak. Nugie emang gitu orangnya.”
Bumi melongo.
Sedangkan dikantin terlihat Ega sudah selesai menceritakan pengalaman ia bersama Adis saat berhadapan dengan Nugie, sama seperti Bumi. Dulu mereka juga mengira kalau Nugie naksir dengan mereka walau kenyataannya berbeda.
“Ha ha ha, jadi bagaimana pak disamain dengan kura-kura?” Donna cekikikan memandang Ega.
“Ya kagetlah, kirain mau nyatain perasaan gitu kayak di film-film, taunya nanyain kenapa gue jalannya lamban kayak kura-kura,” Ega cengengesan.
“Makanya jangan gampang berharap,” Donna tertawa semena-mena, begitu juga Adis.
“Lebih parah dia, disamain dengan Doraemon,” Ega menadahkan kepalanya kesamping menunjuk Adis.
“Makanya gue cukur kumis,” Adis cengengesan dan mengingat kalau dirinya disamain dengan Doraemon gara-gara kumisnya.
Donna tertawa terbahak-bahak, begitu juga Adis dan Ega yang mengingat pengalaman mereka dengan Nugie sebelum-sebelumnya. Hanya Finny yang tak percaya, itu bisa dilihat dari alisnya mengkerut dan bertanya.
“Apa benar begitu?”
“Ya,” Adis mengangguk, “Nugie itu gampang terkesan orangnya, tapi kesannya dalam arti yang lain.”
“Ya dan... oh itu dia!” seru Ega saat melihat Bumi kembali kekantin.
Bumi kemudian duduk dibangku ia yang semula, dengan wajah tak menyangka dan dengan bahu yang lesu. Melihat itu membuat Ega dan Adis cengengesan, tapi Donna yang bertanya duluan.
“Udah, Pak?”
“... Ya...” Bumi mengangguk lesu dengan tatapan mata kedepan.
“Terus?” lanjut Adis.
Mendengar itu tiba-tiba membuat raut wajah Bumi mengerut, bibir kecut dan tak ayal lagi ia menarik-narik rambutnya.
“Rambut sialan!” serunya.
Donna, Finny, Adis, Ega dan seisi kantin terperanjat.
“Nape loe?!” Ega menyeringitkan dahi.
“Rambut gue disamain dengan anjing!” seru Bumi.
“PFFFFTTTT!!!!” Donna, Adis dan Ega serempak menahan tawanya karena Bumi jauh lebih parah dari Adis dan Ega, yaitu disama-samain dengan binatang Anjing.
WHY??!! KENAPA HARUS WHY?! KENAPA WHY ARTINYA HARUS KENAPA??!!!” seru Bumi yang frustasi dan menjeduk-jedukan kepalanya meja, bahasanya saja sampai acak kadut saking frustasinya dimiripin sama anjing.
Ega, Adis dan Donna berusaha menenangkan Bumi walau mereka tertawa nista sedari tadi melihat penderitaan Bumi.  Sementara itu Finny menutup mulutnya dan menoleh kearah lain.
“Hihihihi,” Finny tertawa pelan, bisa dibilang Finny juga tertawa melihat kesenggsaraan Bumi.
Mungkin Bumi satu-satunya guru baru disekolah ini.
Yang dimiripin sama anjing oleh muridnya sendiri.
Nasib ~
BEAUTIFUL AURORA © VI
Gara-gara kejadian kemarin maka Bumi berniat memotong rambutnya, akan tetapi yang dimintai tolong adalah orang yang salah yaitu Leffy. Akan tetapi Leffy tidak memiliki skill memotong rambut yang mumpuni sehingga Dion ikut campur, mereka berdua malah berebutan untuk memotong rambut Bumi hingga akhirnya rambut Bumi terpotong pendek namun acak-acakan gara-gara ulah 2 anggota keluarganya itu.
Tapi itu tidak masalah bagi Bumi apalagi rambutnya jadi tak jauh berbeda dengan kakak sepupunya yaitu Dion yang berambut pendek acak-acakan. Yang bisa membuatnya terlepas dari kemiripan KIKO, SANG-ANJING-JANTAN-PELIHARAAN-KAKAKNYA-NUGIE.
“Langsung potong rambut ya, Pak?” Adis terkekeh melihat penampilan rambut Bumi yang baru diruang guru.
“Ya,” Bumi memiringkan bibir dan menghisap rokoknya.
“Jadi bagaimana perasaan anda saat dimirip-miripin dengan anjing?” tanya Ega dengan lagak reporter, ia mengarahkan kotak hitam kearah mulut Bumi.
“Rasanya ingin Bumi kiamat sekarang juga,” balas Bumi ketus.
“Bumi kok ngomongin Bumi,” Adis terkekeh.
Adis dan Ega masih dengan nistanya mengejek Bumi hingga akhirnya Finny datang dan langsung duduk dikursinya.
“Pagi, Bu,” sapa Ega.
“Pagi, Bu Finny,” dan disambung Adis.
“Pagi,” balas Finny cuek dan melakukan aktifitas biasa yaitu membereskan mejanya.
“Hui junior, kasih salam,” kata Ega ketus kepada Bumi dan kepalanya menadah kearah Finny.
“Palingan nggak dibalas,” jawab Bumi cuek sambil menghisap rokok.
Finny menghentikan aktifitasnya dan berdiam diri saat Bumi mengatakan hal itu.
“Waduh, bahaya ini!”
Melihat tingkah Finny barusan membuat Ega dan Adis buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan ngacir keluar ruangan guru. Sedangkan Bumi hanya menyeringitkan dahi memandang meraka yang sudah keluar dan kembali memandang Finny.
“Apanya yang bahaya?” tanya Bumi.
Finny tak menjawab, dan ia melanjutkan aktifitasnya membereskan meja. Setelah itu ia melipat tangan dan memejamkan mata, seolah menunggu bel berbunyi.
“Ngantuk, Bu?” tanya Bumi, tapi Finny sama sekali tidak menggubrisnya.
“Hmmm,” Bumi memiringkan bibir.
Finny terus bersikap seperti itu dan merasa sikapnya itu membuat Bumi tak banyak lagi bertanya, akan tetapi ia merasa kuping kanannya sedikit hangat. Ia membuka matanya untuk memeriksa dan betapa terkejutnya ia melihat Bumi sudah mendekat dan mengarahkan senter kearah kupingnya tersebut.
“Kau ini apa-apaan?!” Finny tentu saja sewot dan menjauh.
“Oh,” Bumi cengengesan, “Pengen meriksa saja, saya bingung kenapa ibu tidak pernah mendengarkan saya ngomong. Takutnya banyak kotoran gitu jadi telinga ibu mampet.”
“Jangan kurang ajar!” seru Finny sambil melotot.
“He he he he,” Bumi malah tertawa ringan.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Tidak,” Bumi menyandarkan duduknya dan memutar-mutar senter, “Sudah saya bilang sebelumnya bukan? Kalau saya ini ‘Panas’ dan dengan gampangnya mencairkan ‘Es’ pada diri Ibu.”
“Apa maksudmu?” Finny menyeringitkan dahi.
“Tuh buktinya,” Bumi cengengesan dan menunjuk Finny, “Ibu merespon semua pembicaraan saya, tadi ibu bersikap tidak mau menjawab omongan saya gara-gara omongan saya sebelumnya yang mengatakan percuma bukan memberi salam kepada Ibu karena ibu pasti tidak membalas?”
Finny terdiam memandang Bumi.
“Saya tidak sungguh-sungguh tadi, Bu,” Bumi tersenyum.
“... Aku tidak menanyakannya,” kata Finny ketus.
“Raut wajah ibu yang menanyakannya,” Bumi lagi cengengesan.
“Jangan sok akrab dengan saya!” Finny melotot.
“Kalau saya sok akrab, saya udah disitu ngampiri Ibu, ngerangkul pundak ibu dan sok asik ngajak ngobrol. Yang saya lakukan ini hanya basa-basi semata antara rekan kerja.”
“Alesan!”
“Makin mencair nih he he, saya ‘Panas’ sekali bukan?” Bumi tertawa.
“Dih!” dengan kesal Finny kembali keposisinya semula.
“Tapi tenang saja, Bu. Semua ada timbal baliknya.”
“Apalagi?” Finny memalaskan wajahnya dan melipat tangannya.
“Hukum alam. Es memang mencair apabila terkena panas, atau bisa dibilang saya adalah api disini. Tapi saat Es mencair, dia akan menjadi air, sebuah cairan yang sanggup mematikan api sebesar apapun.”
Finny menyeringitkan dahi, ia pun menjelingkan matanya kearah Bumi.
“Jadi tenang saja, Ibu pasti akan bisa membalas sifat saya yang satu ini,”Bumi cengengesan.
“Anda ini terlalu filosofis!” kata Finny dengan nada menyindir.
“Ibu terlalu dingin sih,” balas Bumi cuek.
“Apa hubungannya?”
“Karena kita rekan kerja sesama guru.”
“Apalagi itu?” Finny sewot setengah mati.
“Itu adalah lawan kata dari ini.”
“Kau ini!” Finny melotot dan menoleh kearah Bumi.
Akan tetapi Finny tiba-tiba terdiam, alisnya mengkerut saat melihat Bumi, lebih tepatnya rambut Bumi. Bumi yang diihat seperti itu tentu saja penasaran.
“Kenapa, Bu?”
“.... Kau memotong rambut?”
“Oh...” Bumi menadahkan kepalanya keatas dan memilin rambutnya yang sudah pendek, “Ya, kok baru sadar sekarang Bu?”
“Oh,” Finny kembali menoleh kearah depan.
“Tambah cakep gak saya, Bu?” Bumi cengengesan.
“Haaaah,” Finny memiringkan bibir dan menoleh kearah lain.
“Sakit hati loh Bu, disamain sama anjing,” keluh Bumi.
Mendengar hal itu hampir saja membuat Finny tertawa akan tetapi dengan cepat ditahannya.
“Oh iya, Bu.”
“Saya tidak perduli!” seru Finny.
“Tapi nanti ibu penasaran.”
“Ck.”
“Sebentar doang, 1 menit gak sampai. Percaya sama saya.”
“Ck,” Finny lagi-lagi mendesir dan dengan lagak terpaksa akhirnya ia menoleh.
Akan tetapi alisnya mengkerut karena lagi-lagi Bumi bersimbuh disampingnya, senyum melebar dan kedua tangannya direntangkan.
“Selamat pagi Bu Finny yang cantik nan manis!”
“Kau ini apa-apaaan?!” seru Finny dengan wajah memerah.
“Ngasih salam, gak boleh ya, Bu?”
“Salam seperti apa itu? Berlebihan!”
“Berarti hanya saya satu-satunya yang memberi salam seperti itu. Itu artinya Ibu harus berterima kasih sama saya!”
“Kenapa juga aku harus berterima kasih?!” Finny sewot.
“Ya... kan saya ngasih salam seperti itu, ditambah pujian.”
“Saya tidak cantik!” Finny melotot.
“Gak ada cermin dirumah, Bu?” Bumi terkekeh.
Sementara itu dikejauhan terlihat guru-guru lain menyeringitkan dahi melihat perbincangan Finny dan Bumi.
“Selamat pagi,” salam Donna saat memasuki ruangan guru yang tempat duduknya diantara guru-guru tersebut.
“Oh, Pagi. Baru sampai, Bu?”
“Iya,” Donna mengangguk dan penasaran dengan apa yang dilihat guru-guru lain, “Kenapa?”
“Itu,” salah satu guru menunjuk.
Donna kemudian melihat arah yang ditunjuk dan dilihat oleh kedua matanya kalau Finny dan Bumi terlibat perbincangan yang ‘Seru’. Alis Donna naik sebelah dan tertawa.
“Waw, langka,” ujarnya.
“Iya,” salah satu guru mengangguk, “Baru kali ini saya melihat Bu Finny berbicara sepanjang lebar seperti itu sama guru lain.”
“Ha ha ha ha,” Donna tertawa dan duduk dibangkunya, ia pun bergabung bersama guru lain menonton percakapan yang terjadi antara Finny dan Bumi dikejauhan.
“Lain kali kalau mau tidur, tabur badan ibu dengan kapur Bagus,” kata Bumi.
“Untuk apa?” Finny sewot mendengar saran aneh tersebut.
“Yeee, daripada dikerubungin semut. Kan tadi udah saya bilang ibu itu manis.”
“B-Berisik!” seru Finny dengan wajah memerah.
“Malu-malu lagi,” Bumi cengengesan.
“Berisik!” Finny melotot memandang Bumi.
“Saya Bumi, bukan berisik.”
“Arrghh!!!” Finny mati kutu dibuatnya.
Ya sudahlah.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Jam istirahat pertama lagi-lagi dijadikan Bumi untuk menyantap makanan dikantin bersama Ega, Adis dan beberapa guru yang lain. Bumi yang merasa tidak canggung bergabung dengan perbincangan guru yang belum dikenalnya maka memilih untuk bersantai ditepian kantin yang ia lihat memiliki bangku panjang. Setelah berpamitan maka Bumi menuju tempat itu untuk merokok.
Setelah menghidupkan rokok maka yang harus ia lakukan adalah menghembuskannya.
“Haaaaaah....”
Bumi menyeringitkan dahi, karena ia mendengar suara helaan nafas yang berada didekatnya. Ia menoleh dan melihat seorang siswa berkacamata tertunduk lesu dibangku yang sama dengannya. Merasa kalau siswa ini ada masalah maka Bumi melakukan apa yang harus ia lakukan.
Yaitu pura-pura tak mendengar.
Itu dikarenakan Bumi malas ikut campur dengan masalah orang lain meskipun itu muridnya sendiri. Sedangkan sang siswa berkacamata itu semakin menjadi-jadi menghela nafas supaya Bumi sadar akan keberadaan dirinya dan bertanya kepadanya.
“Haaaaaaaah,” siswa menghela nafas.
“Fuuuuuuh,” Bumi menghembuskan asap rokok, pura-pura nggak dengar.
Siswa bergeser kesamping agar jaraknya mendekati Bumi.
“Haaaaaaaaah,” dia kembali menghela nafas dengan nada yang cukup kuat.
“Fuuuuuuuuhhh!!!” Bumi menghembuskan asap rokok dan menjauhkan jaraknya dari sang siswa.
Ada 10 kali mereka melakukan itu sampai-sampai Bumi sudah berada diujung bangku panjang tersebut.
“HAAAAAAAAAAAHHHH!!!” dan lagi-lagi sang siswa berkacamata menghela nafas, hanya saja suaranya kali ini benar-benar nyaring.
Ini sudah cukup menyebalkan bagi Bumi, dan dengan terpaksa ia menoleh.
“Eh ada orang rupanya,” ujarnya berpura-pura kaget, padahal sedari tadi dia sudah sadar.
“Iya pak,” kata siswa itu dengan lagak mengeluh menunduk kebawah.
“.... Ada masalah apa?” sebuah pertanyaan yang terpaksa dikeluarkan Bumi karena tingkah siswa tersebut.
“Gak ada sih, Pak...”
“Oh yaudah, lebih baik kamu kembali kekelas saja,” saran Bumi, cara ‘Mengusir’ dengan lembut.
“Oh rupanya ada, Pak,” siswa itu mengubah keputusannya karena merasa ‘Diusir’.
Sialan loe!” umpat Bumi dalam hati dan bertanya, “Jadi masalahnya apa?”
Siswa berkacama itu tersenyum, ia kemudian memandang langit biru dengan pandangan sayu. Setelah itu ia mengeluarkan suaranya.
“Pak...”
“Ya?”
“Kenapa ya... hidup itu tak sesuai dengan ekspetasi kita?”
Mendadak hening.
Loe ngomong apaan anjir?! Udah bikin gue terpaksa ikut campur, loe malah ngomong sok-sok bijak lagi!” umpat Bumi didalam hati.
“Saya merasa tidak ada gunanya hidup seperti ini,” gumamnya lagi dengan nada dramatis.
“Kenapa kamu ngomong begitu?” tanya Bumi sok khawatir padahal dia membantin, “Bodo amat.
“Tapi...” siswa itu tersenyum dan kembali memandang langit, “... Saya rasa cinta bisa menyelamatkan saya.”
Nah kan! Cinta-cinta-cinta! Siswa model ginian pasti gak pernah  jauh dari urusan asmara!” batin Bumi yang kesal setengah mati karena dipaksa masuk dalam masalah asmara siswa tersebut.
“O-Oh... cinta ya? Waw! Kalau begitu cari saja cintanya, kelar urusanmu,” Bumi memberi saran agar masalah ini tidak berlarut dan ia tidak mau repot.
“Tapi saya membutuhkan bantuan, Pak... dan saya rasa... tidak ada yang bisa membantu saya selain bapak. Karena hanya ada bapak saja disini.”
ELO YANG NARGETIN GUE BUAT TAU MASALAH ELO! KENAPA HARUS GUE?! MURID EDAN!!” batin Bumi penuh gejolak.
“Oh... kenapa harus bapak ya? Ha ha ha ha,” tanya Bumi dengan tawa tak nyaman.
“Karena... saya lihat kemarin sepertinya Nugie antusias dengan bapak,” jawabnya.
“Nugie?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Iya,” siswa berkacamata itu mengangguk.
“Tunggu-tunggu, kamu ini siapa?”
“Saya Yanda, Pak. Teman sekelas Nugie! Yang duduknya paling ujung!” jelas siswa berkacamata yang bernama Yanda tersebut.
“Oh iya-iya, terus.... kenapa emangnya dengan Nugie?”
Yanda tersenyum, ia lagi-lagi memandang langit dengan tatapan sayu dan berkata, “Takdir, Pak.”
LOE NGOMONG APAAN ANJIR?!!” udah kesekian kalinya Bumi membatin kesal.
“Jadi ini berawal dari pertemuan awal saya dengan Nugie, Pak. Jadi pada waktu itu...”
“Oke, stop-stop!” potong Bumi.
“Kenapa, Pak?”
“Langsung intinya saja,” alasan Bumi karena ia malas mendengar cerita yang dimana Yanda memiliki rasa dengan Nugie.
“Oh he he he, memang tak salah, untung saja ketemu bapak disini,” Yanda cengengesan.
BERUNTUNG APAAN! LOE YANG NYAMPERIN GUE!” yah, Bumi lagi-lagi membatin.
“Jadi kemarin saya ngeliat Nugie senyum-senyum melulu sama bapak, apalagi dia sempet ngomongin jodoh gitu. Walau saya tak mengerti kenapa alasannya tapi saya rasa bapak memiliki sesuatu yang bikin Nugie seperti itu.”
“Oh...”
“Kira-kira bapak tau kenapa Nugie seperti itu sama bapak?”
TUH GEBETAN LO NGEMIRIP-MIRIPIN GUE SAMA ANJING! PUAS LOE?!!” nggak usah disebuti lagi ini dialog batinnya siapa.
“O-Oh... itu ya, bapak juga gak tau. Emang Nugie gitu ya mandang bapak?” tanya Bumi pura-pura tak tahu.
“Saya lihat sih begitu, Pak.”
“Tapi kenapa kamu membicarakan ini dengan saya? Saya kirain kamu cemburu dan mau melabrak bapak ha ha ha ha.”
“Ha ha ha  ya enggaklah pak, kan ada aturan kalau murid sama guru itu dilarang pacaran ha ha ha.”
“Ha ha ha betul juga.”
“Lagian bapak terlalu tua buat Nugie ha ha ha,” lanjut Yanda.
“Ha ha ha ha,” Bumi tertawa dan lagi-lagi membatin, “Pernah kena banting guru baru gak?
“Jadi apa rencananya?” tanya Bumi, malas.
“Gak ada sih, Pak. Kira-kira ada tips gak, Pak?”
“Tips?”
“Ya.”
“Hmmm,” Bumi mengurut-urut dagu.
Bumi sebenarnya ingin memberi Yanda tips sebagai berikut:
1.  Bumi meminta Yanda memakai kostum anjing.
2. Setiap ada Nugie maka Yanda harus bertingkah seperti anjing dan memelet-memeletkan lidahnya.
Tips itu ada dipikirannya karena sesuai kenyataan kemarin kalau Nugie kesengsem melihat Bumi bukan karena tertarik antara pria dan wanita, tapi penampilan rambut Bumi yang mirip anjing peliharaan kakaknya Nugie.
Tapi cara itu tidak manusiawi menurut Bumi walau dia sebenarnya ingin sekali memberikan tips itu kepada Yanda dan berharap Yanda menerapkannya. Dengan nada suara yang normal maka Bumi mengeluarkan suaranya.
“Begini, kemampuanmu apa?”
“Kemampuan?”
“Ya, kemampuanmu apa?”
“Aaaaa....” Yanda melongo dengan wajah bego, “Contohnya seperti apa, Pak?”
“Contohnya ya, kayak bapak gini. Bapak bisa ngalahin 5 orang berbadan besar seorang diri,” Bumi mendengus angkuh.
“Yang bener, Pak?” Yanda terperangah.
“Ya.... begitulah.”
“Oh.... tapi kok firasat saya mengatakan kalau itu bohong ya, Pak?”
Bumi keki, “Ya itu hanya firasatmu saja. Jadi begitulah, kira-kira kemampuan apa yang kamu miliki?”
“Memang kenapa, Pak?”
“Begini,” Bumi berdehem sebentar, “Setiap wanita itu selalu memikirkan kesan pertama dari pria yang ditemuinya, dan bapak rasa dengan menunjukan kemampuan kamu maka itu bisa menjadikan kesan untuknya. Dan tentu saja gara-gara itu kamu bisa masuk dalam ingatannya.”
“Wow!” Yanda takjub.
“Ya begitulah, jadi tunjukan kemampuanmu itu dihadapan dia. Yang sewajarnya.”
“Baik, Pak!” seru Yanda semangat.
“Jadi apa kemampuanmu?”
“Kemampuan saya, Pak?” tanya Yanda semangat.
“Ya! Kemampuan kamu?!” Bumi bertanya balik dengan semangat, lebih tepatnya pura-pura semangat.
“KEMAMPUAN SAYA?!” suara Yanda semakin nyaring saking semangatnya.
“IYA! KEMAMPUAN KAMU?! APA KEMAMPUAN KAMU ANAK MUDA?!” Bumi juga tak mau kalah.
“KEMAMPUAN SAYA, PAK?!”
“YA!!!!”
“SAYA MAMPU MENILEP KEMBALIAN UANG IBU SAYA WAKTU DISURUH BELANJA, PAK!” teriak Yanda bangga.
GUE TABOK JUGA LOE LAMA-LAMA!!!” teriak Bumi kesal setengah mati didalam hati.
“Bapak bilang kan tadi yang wajar,” Bumi memalaskan wajahnya.
“Eh, yang tadi gak wajar ya, Pak?” Yanda bertanya balik.
“Agak kurang, masa harus bawa-bawa ibu kamu kan buat nunjukin kemampuanmu dihadapan Nugie? Apalagi nilep duit, itu memberi citra negatif.”
“Bener juga,” Yanda memanggut-manggut, “Gak kepikiran tadi he he he he.”
Otak loe begeser berapa derajat sih? Itu aje ditanyain wajar atau kagaknya!” yah, ini lagi-lagi Bumi yang mengeluh didalam hati.
“Oh!” Yanda menepuk kepalan tangannya sendiri, “Apa bermain drum termasuk wajar, Pak?”
“Drum?” Bumi menyeringitkan dahi.
“Iya, Pak.”
“Itu kemampuanmu? Bermain drum?” tanya Bumi dan melakukan tingkah seperti sedang memainkan drum.
“Iya, Pak. Saya jago main drum dari dulu,” kata Yanda yang juga ikut-ikutan bergaya bermain drum imajinasi dengan kedua tangannya.
“Hmm,” Bumi menghentikan kedua tangannya yang berlagak sedang memukul drum, “Bisa-bisa, coba saja.”
“Bener, Pak?!” senyum Yanda merekah.
“Ya kan tadi bapak bilang coba saja.”
“Oke! Tak dung-dung-dung-dung,” keluar suara mulut dari Yanda seolah-olah ia memukul drum diudara,  “Ba-dump! Tsss!”
“Waw hebat sekali,” Bumi menepuk-nepuk tangan, terpaksa melihat ‘Kegilaan’ muridnya itu.
“Iya pak, saya memang hebat he he he,” Yanda cengengesan.
Mati aje loe,” dan Bumi membatin.
“Kalau begitu,” Yanda kemudian beranjak, “Saya harus bersiap-siap.”
“Loh? Mau hari ini?”
“Lebih cepat lebih baik bukan, Pak?” tanya Yanda penuh kemenangan.
“Memangnya ada drum disekolah?”
“Ada, Pak. Diruangan kesenian, rencananya nanti pas istirahat kedua saya melakukan ini.”
“Oh begitu,” Bumi mengangguk-angguk, “Kalau caramu ini berhasil dan kalau ada yang nanya dapat darimana cara itu, bilang saja dari bapak ya?” Bumi cengengesan.
“Tenang saja, Pak! Saya yakin cara dari bapak ini berhasil.”
“Oke, good luck,” Bumi memberi tanda jempol.
“Kalau begitu saya permisi, Pak.”
Yanda kembali kehabitatnya sedangkan Bumi mulai cengengesan dan membatin, “He he he he kalau cara loe berhasil dan banyak yang nanyain, kan gue yang kena imbasnya dan murid-murid cewek disini pada kagum sama gue.”
Tanpa disadari oleh Bumi kalau tak jauh dari situ ada Finny yang berada dibalik dinding kantin dan mendengar percakapan antara Bumi dan Yanda barusan. Finny ada disitu tidak sengaja karena awalnya ia mau kekoperasi yang jaraknya dekat dari kantin, tapi waktu mendengar suara Bumi ia merasa malas melanjutkan perjalanannya.
Karena ia tidak mau Bumi menegurnya saat melewatinya.
Setelah selesai merokok maka Bumi beranjak dari bangku dan pergi dari tempat itu, Finny kemudian nongol memandang punggung Bumi yang menjauh terlebih lagi ia mendengar rencana Yanda saat Bumi dan Yanda berbicara.
“Hmmm,” gumam Finny dengan raut wajahnya yang dingin nan manis.
BEAUTIFUL AURORA © VI
Jam sudah menunjukan pukul 11.25 siang, itu berarti 5 menit lagi akan memasuki jam istirahat kedua yang dimana dijadikan waktu bagi Yanda untuk melakukan aksinya. Sementara itu SANG-PENCETUS-IDE yaitu Bumi sedang asyik mengobrol dengan beberapa guru diruangan guru karena bagaimanapun juga ia harus berkenalan dengan semua guru disitu.
“Oh kamu dari Bandung? Sama atuh,” ujar salah satu guru bapak-bapak.
“Iya, Pak he he he.”
Sementara itu Ega dan Adis melihat Bumi dikejauhan.
“Bisa bergaul juga tuh anak,” komentar Ega ketus.
“Namanya juga manusia,” Adis menguap.
“Eh, nanti kerumah Enu atau Beny?”
“Enu aje, rumah Beny ada acara katanya.”
“Hmm, kalau gitu gakpapalah. Sekalian mau ngeliat tetangga Enu yang anggota group idol itu, mudah-mudahan aje dia lewat depan rumah Enu nanti,” Ega cengengesan.
“Punya orang,” Adis juga cengengesan.
“Bodo,” balas Ega cuek sambil menguap.
Selagi Ega dan Adis bercakap-cakap, diseberang meja mereka terlihat Finny sedang mengoreksi tugas murid-murid ia sebelumnya dilembaran kertas.
“Hey.”
Finny menoleh dan melihat Donna duduk ditempat duduk Bumi, tak ada ekspresi yang Finny keluarkan dan melanjutkan tugasnya mengoreksi.
“Tadi ngomongin apa aja?” bisik Donna.
Finny menyeringitkan dahi, “Apanya?”
“Pura-pura gak tau lagi, tadi pagi aku ngeliat kamu ngobrol gitu sama Bumi. Asyik kayaknya ya yang diobrolin,” Donna cekikikan tertawa.
“Ish!” Finny bergidik jijik.
“Nggak usah kayak gitu, lagian mau sampai kapan sih kamu begini? Ini udah 10 tahun loh, masa gara-gara itu kamu sampai begini terus?”
Finny terdiam dan menoleh kearah Donna yang tersenyum kepadanya.
“Itu masa lalu kamu, aku akuin dia itu memang brengsek.  Tapi bukan berarti kamu merubah sikap kamu sampai seperti ini, bahkan terhadap semua orang.”
“.... Bisa jangan membicarakannya lagi?” Finny memiringkan bibir dan melanjutkan pekerjaannya.
Donna menghela nafas dan tersenyum, ia mengelus rambut Finny dengan lembut dan menoleh kearah Bumi yang sedang tertawa diperbincangannya dengan guru yang lain.
“Tambah cakep ya dia pas potong rambut.”
“Ng? Siapa?” Finny menyeringitkan dahi.
“Itu,” Donna memonyongkan bibir untuk menunjuk Bumi dikejauhan.
“Heleeeeh,” Finny lagi-lagi memiringkan bibir dan melanjutkan pekerjaannya.
“Bukannya waktu SMP kamu bilang tipe cowok kamu seperti itu, semua kriteria fisik yang kamu sebutin waktu itu ada pada dirinya kan?” Donna cengengesan.
“Udah lupa tuh,” balas Finny cuek.
“Wuuuu,” Donna memanyunkan bibir dan menoyor pelan kepala Finny dengan ujung jari.
Segala perbincangan diruangan guru masih terjadi hingga pada akhirnya bel tanda istirahat ke-2 berbunyi keras disegala penjuru sekolah.
“Kantin yuk? Gak sempet makan tadi pas istirahat pertama,” ajak Donna kepada Finny.
“Aku masih banyak tugas.”
“Ngomongin gue ya?” Ega cengengesan memandang Donna.
“Oh,” senyum Donna hingga matanya menyipit, “Kalau ngomongin bapak membuat gaji saya naik maka dengan senang hati saya membicarakan bapak setiap hari.”
“Meeeh,” Ega memalaskan matanya memandang Donna.
“Lagian PD amat diomongin,” Donna cengengesan.
“Ng? Suara apa tuh?” Adis menyeringitkan dahi.
“Apanya?” Ega menoleh.
“Coba kalian diem,” suruh Adis.
Donna, Ega pun diem. Begitu juga seisi ruangan guru karena samar-samar mereka mendengar suara microphone dari arah luar. Karena penasaran maka semua guru yang ada disitu pun keluar ruangan.
“Ngapain tuh anak?” Ega menyeringitkan dahi.
Bisa terlihat jelas kalau ditengah lapangan Yanda sedang melakukan tes suara microphone yang dibantu teknisi dari ruang kesenian. Semua orang yang ada disekolah pun kebingungan melihat drum set lengkap dilapangan.
“Loh? Itu Yanda bukan? Anak kelas 10 B?” tanya seorang guru kepada guru lain.
“Iya ya, tuh anak kenapa?”
Suara hiruk pikuk mulai terdengar kesana kemari. Finny yang melihat keberadaan Yanda ditengah halaman dengan drum set kemudian mencari ‘Sang-Pencetus-Ide’, tak perlu lama karena Bumi sendiri yang menghampiri tempat ia berada bersama yang lain.
“Oh elu,” kata Adis saat merasakan ada seseorang berdiri dibelakangnya.
“Kenapa tuh?” tanya Bumi, pura-pura tak tahu.
“Entahlah,” jawab Ega cuek dan menopang kedua tangannya dipagar koridor.
Sedangkan Finny hanya bisa menjelingkan matanya kearah Bumi, tapi tak lama karena ia kembali melihat aktifitas yang Yanda lakukan ditengah lapangan.
Sementara itu Yanda sudah selesai melakukan tes suara microphne disetiap panel drum dan duduk dikursi set. Yanda berdiri sejenak dan mencondongkan bibirnya kearah microphone disalah satu panel drum.
- “Selamat siang, saya tahu kalau keberadaan saya disini mengundang banyak tanya dan perhatian. Tapi memang itulah yang saya butuhkan untuk rencana saya, dan...” Yanda memandang arah kelasnya sendiri dan tersenyum karena melihat keberadaan Nugie didepan kelas, - “.... Ini saya persembahkan untuk Nugie, cintaku.”
“Heh?” Nugie melongo dengan wajah begonya yang cantik.
Tak ayal lagi, gara-gara itu suara sorak-sorak begitu menggelegar disekolah. Terlebih lagi Nugie mulai digoda oleh teman-temannya.
“Ciee Nugie!! Cieee sama Yanda! Ha ha ha ha!”
“Eh? Eh? Eh?” Nugie celingak-celingukan karena bingung setengah mati.
Sementara itu juga terjadi perbincangan didepan ruang guru.
“Ha ha ha ha ha enak ya kalau jadi muda begini,” Donna tertawa.
“Merasa udah tua, Bu?” Adis cengengesan.
“Ha ha ha ha kelakuan,” Ega terkekeh memandang Yanda dikejauhan.
Sementara itu Bumi melipat tangan dan mendengus-dengus bangga melihat Yanda hendak melakukan sarang yang ia berikan sebelumnya, sementara itu Finny yang sedari tadi menjelingkan matanya memandang Bumi hanya bisa memiringkan bibir melihat tingkahnya.
“Oke, Bang. Gue siap,” pinta Yanda kepada abang-abang tukang teknisi.
Melihat Yanda hendak melakukan aksinya maka suasanya menjadi tenang, Yanda memejamkan mata seolah-olah ia mengumpulkan niat dari usahanya itu tanpa diketahui orang-orang kalau ia sedang buang angin saking tegangnya.
“Oke, siap-siap,” komando kang Teknisi, “3.... 2..... 1......”
Dan saat angka nol disebutkan maka abang-abang teknisi menekan tombol Play, kelopak mata Yanda terbuka dan terbakar semangat. Terdengar suara alunan distorsi yang berat keluar dari soundsystem dan tanpa basa-basi Yanda melakukan hentakan drum mengikuti lagu tersebut.
“HUOOOOOOOOOOOOOO!!! DUNIA INI SAMPAH! BANGSAAAAT!!!!!”
itulah lirik lagu yang keluar dari lagu tersebut.
 “SAMPAH! DUNIA INI SAMPAH! MANUSIA HINA! MATILAH KALIAN  MEMDEKAM DALAM TANAH TERLUDAH DARAH KOTOR JIWA!!!!
“YEAAAAAAAAAH!!!!” dan Yanda juga berteriak mengikuti lirik lagu dan begitu membabi buta menggebuk-gebuk drum.
Semua orang yang menyaksikan penampilan Yanda mendadak terdiam, diam sediamnya meskipun suara yang keluar dari soundsystem sudah mencemari diam yang ada. Mereka mengira Yanda akan memainkan lagu romantis untuk menunjukan kesungguhannya terhadap Nugie. Tapi siapa sangka.... Yanda malah memainkan drum untuk lagu Black Metal.
“BANGSAT! BANGSAT! KALIAN SEMUA AMPAS! MATILAH KALIAN! MATI! MATI! MATI! MATIIIIII!! YEAAAAAAAH!!!!”
“YEAAAAAAAHHHH!!!” Yanda lagi-lagi ikutan berteriak sambil menghentakan drum, kepalanya menadah keatas dan lidahnya menjulur-julur saking menghayatinya.
Semua wajah penonton sengak bukan main melihat penampilan Yanda, akan tetapi tidak semuanya.... karena ada 1 orang yang sepertinya frustasi melihat penampilan Yanda.
“YA TUHAN! MAHLUK APA YANG KUCIPTAKAN INI?!!”
Ya, itu adalah batin Bumi yang berteriak sambil memegang kepalanya. Dan memang salah dia yang tidak menanyakan genre musik kesukaan Yanda, karena Yanda adalah penggemar lagu-lagu Black Metal garis keras.
“Pffft,” Finny segera menutup mulutnya menahan tawa karena ia tahu rasa tak menyangka yang didapatkan oleh Bumi.
Demi menyelamatkan populasi kehidupan disekolah maka dengan cepat satpam sekolah dan Kepala Sekolahnya sendiri menyergap Yanda sewaktu menggebuk-gebuk drum.
“MATIKAN LAGUNYA!” hardik Kepala Sekolah kepada abang teknisi.
“I-Iya, Pak.”
Lagu berhenti dan terlihatlah Yanda sedang memberontakah karena aksinya dihentikan oleh Kepala Sekolah dan juga satpam.
“LEPASKAN SAYA PAK! SAYA MAU MENUNJUKAN BUKTI CINTA SAYA!” ronta Yanda sambil berteriak.
“APANYA?! KERASUKAN KAMU YA?! HAH?! KERASUKAN DEMIT DARI POHON MANA KAU INI?! HAH?!” pak Kepala Sekolah alias pak Bambang juga tak mau kalah.
Selagi Yanda memberontak, terlihat senyum Nugie merekah setelah melihat aksi Yanda sebelumnya, ia pun bertanya kepada teman-temannya.
“Eh? Eh? Yanda penyembah setan ya?”
“.... Mungkin....” jawab temannya, datar.
“Berarti dia suka ngasih tumbal gitu dong?” tanyanya lagi.
“.... Bisa jadi....”
“Waaah!” senyum Nugie merekah memandang Yanda ditengah lapangan, setelah itu ia berjingkrak-jingkrak, “Keren! Aku punya temen penyembah setan!!!”
Ya.... gadis yang satu ini memang gampang terkesan. Korbannya saja 3 orang, gurunya malahan, yaitu Ega, Adis dan Bumi.
Sementara itu Yanda masih memberontak bahkan ia sampai menggigit pergelangan tangan satpam dan hendak kembali ke set drum.
“ALALALALALALALALA!”teriak satpam.
“KAU INI KENAPA HAH?! SEGITU AMAT MAU MAIN DRUM?! LAGIAN ITU DRUM SEKOLAH! KALAU HANCUR MAU KAU GANTI?!” hardik pak Bambang yang menahan tubuh Yanda dari belakang.
“SAYA TIDAK PERDULI DENGAN SEMUA INI PAK! INI DEMI PEMBUKTIAN CINTA SAYA KEPADA NUGIE YANG TELAH DIAMANATKAN PAK BUMI KEPADA SAYA!” teriak Yanda penuh gelora.
“Bumi?” pak Bambang menyeringitkan dahi dan melihat sekeliling, “PAK BUMI! DIMANA KAU PAK?! TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ANAK INI!!!” teriak pak Bambang.
Semua orang mencari keberadaan Bumi, dan tentu saja keberadaannya itu mudah ditemukan karena ia masih berdiri didepan ruang guru. Semua guru yang ada disitu pun memandangnya dengan mata penuh selidik.
Bumi berkeringat, menelan ludah dan mengangkat tangan kanannya.
“Saya Kerak, saya bukan Bumi,” tuturnya dengan wajah datar dan pucat.
Dan akhirnya.... Bumi malah menerima panggilan ‘Kerak’ yang diberikan Adis dan Ega dihari-hari sebelumnya untuk mekanisme pertahanan hidupnya.
****
Sementara itu di jam yang sama, terlihat puluhan motor berjejer rapi disalah satu gedung tua yang tak terpakai. Dijejeran motor itu terdapat begitu banyak orang-orang yang berkumpul. Ada yang memakai kaos ada juga yang memakai seragam SMA, akan tetapi kesaman orang-orang itu adalah memakai jaket kulit.
Salah satu siswa SMA itu masuk kedalam gedung dengan lintingan rokok dimulutnya. Dan didalam gedung juga terdapat begitu banyak siswa-siswa SMA yang sedang nongkrong diatas sofa usang.
“Si Digo mana?” tanyanya pada salah satu yang asyik bermain kartu remi disitu.
“Diatas kali.”
Siswa itu kemudian berjalan dan menaiki tangga gedung yang sudah berlumut itu. Dia terus berjalan keatas yang dimana kaca-kaca gedung ditiap sisinya sudah pecah dimana-mana, dan terlihatlah seorang pemuda dengan kaos merah sedang duduk ditepi gedung, menikmati kota Jakarta dari atas dengan kepulan asap dimulutnya.
“Digo.”
Pemuda yang dipanggil dengan nama Digo itu tidak menggubris panggilan itu karena dia merasa orang yang memanggilnya akan menghampirinya untuk melakukan keperluannya. Dan benar saja orang yang memanggilnya itu menghampiri dia dan duduk disampingnya.
“Apa?” tanya Digo sambil menghisap rokok.
“Tadi gue dapat info, katanya sekolah kita kedatangan guru baru.”
“Guru baru?”
“Ya,” teman Digo mengangguk, “Kata mulai mengajar dari 3 hari yang lalu.”
“Hoo,” Digo kembali menghisap rokok dan menghembuskannya, “Terus, apa urusannya denganku?”
“Hanya memberitahu saja, lagipula besok kita harus masuk. Sudah hampir memasuki waktu seminggu semenjak kita membolos.”
“.... Apa gurunya tengil?”
“Entahlah. Apa kau ingin mencari tahu?”
“Itu tidak penting bagiku... tapi kalau dia tengil dan banyak tingkah... akan kubuat dia masuk kedalam masalahku.”
“Heh,” teman Digo terkekeh dan menghembuskan asap rokok.
“Beta! Digo!”
Suara panggilan itu menarik perhatian mereka berdua untuk menoleh kebelakang dan mereka melihat salah satu teman mereka terengah-engah dipinggiran tangga. Teman Digo yang bernama Beta ini kemudian berbicara menggantikan Digo.
“Ada apa?”
“Anak-anak B.R.S.X masuk kewilayah kita!”
“Hooo,” Digo menyeringai.
“Tunggu apa lagi, suruh semuanya bersiap!” seru Beta.
Teman mereka yang menginformasikan tadi pun turun kebawah, sementara itu Digo dan Beta mulai beranjak untuk menyusul.
“B.R.S.X, berani-beraninya geng anak SMA 39 itu kesini,” ujar Beta.
Digo tak menjawab, ia membungkuk sebentar untuk mengambil jaketnya yang terbubuh sebuah tulisan yang sama dengan jaket kulit yang dipakai oleh Beta. Dan tulisan itu dikedua jaket itu berbunyi ‘BERANDAL’. Digo memakai jaket tersebut dan turun kebawah.
Sesampainya dibawah ia melihat rekan-rekannya yang lain sudah menunggu dimotor mereka masing-masing.
“Kalian sudah tahu bukan kalau B.R.S.X masuk kewilayah kita?” tanya Digo.
“Ya!” seru anggota-anggotanya yang lain.
“Mereka hanya geng baru yang ingin mencari nama! Dan mereka sengaja masuk kewilayah kita untuk mencari ribut agar nama mereka terangkat dan dikenal oleh geng-geng besar selain geng kita!”
Digo kemudian mengambil tongkat baseball alumunium yang bertengger dipintu gedung.
“APA KALIAN RELA GENG KITA MENJADI BATU LONCATAN MEREKA?!” teriak Digo sambil mengangkat tongkat baseball-nya.
“OUHH!!!” anggota-anggota yang lain juga berseru sambil mengangkat senjata mereka masing-masing.
“APA KALIAN RELA MEMBIARKAN MEREKA SEENAK JIDATNYA MENGINJAKKAN KAKINYA DIWILAYAH KITA?!”
“OUUUUHHHHH!!!!”
“MULAI HARI INI DAN DETIK INI...” Digo menyeringai dan menaruh badan tongkat baseball dipundaknya, “B.R.S.X HANYA AKAN TINGGAL NAMA!! DAN KITA JADIKAN MEREKA SEBAGAI CONTOH UNTUK GENG-GENG LAIN YANG HENDAK BERURUSAN DENGAN KITA!”
“OOUUUUUUUUUUUUUUUUHHH!!!”
Sorak sorai anggotanya begitu menggebu-gebu mendengar komando yang dilancarkan oleh Digo yang bercampur dengan suara deru motor yang ada disitu. Digo bersama Beta kemudian menaiki motor tunggangan mereka masing-masing. Digo menoleh kebelakang dan mengangkat tongkat baseball dengan tangan kirinya.
“LULUH LANTAHKAN MEREKA!!”
Setelah berkata seperti itu maka Digo mulai menge-gas motornya dan diikuti oleh anggota-anggotanya yang lain berjumlah 60 orang lebih dan diantaranya adalah siswa-siswa SMA lain. Mereka semua memakai jaket yang memiliki sebuah tulisan yang sama dengan jaket hitam yang dipakai oleh Digo yaitu BERANDAL. BERANDAL adalah salah satu geng sekolah yang cukup disegani oleh geng-geng sekolah lainnya, sebuah geng yang tak akan sungkan-sungkan bermain kekerasan untuk eksistensi mereka di kota elit Jakarta.
Dan Digo adalah ketua mereka, salah satu murid kelas XI (sebelas) yang bersekolah di SMA JAKARTA 67, tempat dimana Bumi menjadi Guru disekolah tersebut.
****
Kembali kesekolah.
Karena ulah Yanda diistirahat kedua tadi maka dia dihukum untuk membersihkan halaman oleh Kepala Sekolah, dan tentu saja Yanda tidak sendirian karena dia ditemani juga oleh Bumi, SANG-PEMBERI-IDE.
“Haaah,” Bumi menghela nafas, “Capek.”
“Sedikit lagi, Pak,” ujar Yanda yang asyik menyapu.
“Ck, kalau begitu sisanya kau saja.”
“Lah? Kok gitu, Pak?” Yanda tampak tak terima.
“Karena bapak capek, masa begitu saja kau tidak tahu?”
“Ya maksud saya sama-sama gitulah, kan ini gara-gara bapak juga,” keluh Yanda.
“Sekarang bapak tanya, tadi Nugie senyum-senyum sama kau bukan?”
“Iya sih, jangan-jangan.... dia udah suka sama saya,” senyum Yanda mengembang karena tadi ia sempat melihat Nugie senyumnya merekah saat memandang dirinya didepan kelas.
Padahal Nugie tersenyum kearahnya karena alasan lain. Itu bisa dilihat dengan tingkah Nugie didalam kelas.
“Eh? Eh? Kalau nyembah setan gitu suka minum-minum darah gak?”
“Iya kayaknya,” teman sebangkunya mengangguk cuek.
“Wuaaaaah!! Yanda pasti suka minum darah! Besok aku bawain darah ayam deh, lalu aku suruh dia minum!” seru Nugie semangat.
“Emangnya dapat darah ayam darimana?” temannya menyeringitkan dahi.
“Tetangganya tante aku kan buka jasa pemotongan ayam, nanti aku minta tanteku bilangin ke mereka untuk ngumpulin darah-darah ayam yang mereka sembelih!” senyum Nugie begitu ceria.
“Nugie-Nugie,” temannya menggeleng-gelengkan kepala dan memiringkan bibir.
“He he he, nanti aku kasih darahnya ke Yanda, lalu pas dia minum aku rekam deh! Teman-temannya yang sama-sama penyembah setan pasti senang melihat dia minum darah!”
“Direkam?” teman Nugie lagi-lagi menyeringitkan dahi.
“Iya, rencananya mau aku masukin ke Youtube rekamannya!” Nugie tersenyum manis dan mengangguk-angguk.
“Haaaah, terserah loe deh.”
Nugie begitu gembira dengan rencananya tersebut, sedangkan Yanda masih mesem-mesem sendiri mengingat senyum Nugie yang diarahkan kepadanya. Berbanding terbalik dengan ekspetasi Yanda, Nugie malah menganggap Yanda sebagai Penyembah Setan.
“Kalau begitu bapak kekantin dulu, panas, capek,” Bumi menyerahkan sapunya kepada Yanda.
“Sama-sama dong, Pak,” pinta Yanda.
“Habis selesai nyapu kau kesana,” ujar Bumi dengan malas.
“Oke deh, Pak!” seru Yanda yang begitu semangat melanjutkan hukumannya.
Bumi kemudian berjalan menuju kantin yang dibilang sepi karena sekarang sudah memasuki jam pelajaran. Dikantin hanya sedikit stand yang masih buka karena bunyi bel sekolah selanjutnya adalah bunyi bel terakhir aktifitas ngajar-mengajar disekolah itu.
Bumi memesan teh es seadanya dan membawanya kesamping gedung kantin. Dirasa sepi dan tubuhnya peluh akan keringat maka Bumi hendak membuka kemejanya agar tubuhnya itu terkena angin sepoi-sepoi yang berasal dari pohon-pohon yang ada disitu.
“Haaaaah, panasnya....” keluhnya saat membuka kemeja.
Dan bisa dilihat kalau tubuhnya itu penuh dengan luka-luka, tak hanya dibagian depan, akan tetapi juga punggungnya. Ada luka tusukan, luka goresan dan masih begitu banyak luka-luka lainnya. Bumi kemudian menyeruput teh es dan membiarkan bulir-bulir angin menerpa tubuhnya yang berkeringat tersebut.
Dan tanpa Bumi sadari lagi, kalau disitu terdapat Finny yang melihat dirinya. Finny awalnya dari koperasi untuk membeli sebuah penggaris dan spidol untuk kebutuhannya, dan saat ia kembali ia merasa kalau melewati jalan yang terhubung dengan kantin akan jauh lebih cepat. Tapi dia tak menyangka akan melihat Bumi disamping gedung kantin terlebih lagi Bumi membuka kameja-nya.
Finny bersembunyi dibalik dinding, matanya terperangah dan menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“I-Itu.... itu luka-luka apa....” gumamnya dengan raut wajah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Luka-luka ditubuh Bumi memang begitu banyak bahkan bisa dilihat bekas-bekasnya dari kejauhan. Entah darimana Bumi mendapatkan luka itu akan tetapi itu bisa menandakan kalau Bumi sudah begitu ‘Akrab’ dengan yang namanya kekerasan.
Bumi membakar lintingan rokok dan menghembuskannya sambil menatap langit dengan mata malasnya.
“Haaaaaah..... ternyata jadi guru berat juga,” gumamnya.
Apakah yang akan terjadi kedepannya?
Ada rahasia apakah antara Bumi dan Kepala Sekolah?
Apa Finny akan bertanya mengenai bekas-bekas luka yang ada ditubuh Bumi?
Apakah nanti Digo akan bermasalah dengan Bumi?
Apakah Yanda nanti akan meminum darah pemberian Nugie?
Akankah Ega dan Adis berhasil mendapatkan jodoh gadis muda impian mereka?
Dan APAKAH BENAR 7 PERMEN MILKITA SAMA DENGAN SEGELAS SUSU?!
Simpan pertanyaan itu dihati pembaca karena pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab di bagian-bagian berikutnya.... kecuali pertanyaan yang terakhir, biarkan saja itu menjadi misteri dunia.
Sampai jumpa dibagian berikutnya, itupun kalau saya berniat melanjutkannya.
[ B e r s a m b u n g ]
BEAUTIFUL AURORA © VI
PENULIS CERITA
Dion
IDE CERITA
Dion & Mumu
EDITOR
Tidak ada, mahal nyewa editor.
[ C E L O T E H A N ]
Assalamualaikum Warohmattullahhi Wabarokatuh.
Ya saya kembali menulis sebuah cerita, hanya saja ini bukanlah cerita fanfic yang seperti yang sudah-sudah. Cerita Beautiful Aurora 6 ini adalah buah ide saya dan istri saya (Bulan April baru resmi jadi istri, tapi kayaknya nggak apa-apa untuk diakuin sekarang). Saya memang kembali sebuah menulis cerita
TAPI
Saya tidak akan terlalu fokus dengan hal ini (Membuat cerita), jadi saya tidak akan berjanji apapun apakah cerita ini akan tamat atau tidak, karena saya akan melanjutkan cerita ini apabila saya sedang mood menulis.
Semoga ini sudah jelas he he he.
Dan saya ingin memberitahukan sesuatu, anggap saja tambahan bacaan untuk pembaca:
[1]. Semua judul Beautifull Aurora akan direvisi menjadi Beautiful Aurora (Huruf L pada kalimat Beautifull berkurang 1)
[2]. Semua nama karakter dicerita ini adalah original buatan saya dan istri saya. DAN Finny itu bukanlah plesetan nama dari Vienny JKT48, entah kenapa saya merasa nanti akan ada pembaca yang merasa Finny itu adalah Vienny. Saya sudah bilang sebelumnya ini (B.A 6) bukan fanfic. Bahkan saya merasa cerita-cerita saya sebelumnya juga bukan fanfic. (Tinggal ubah nama-nama anggota JKT48 nya saja kalau saya mau)
[3]. Cerita ini tidak jelas, dan juga tidak akan jelas kapan update-nya jadi jangan tanyakan kapan update-nya. Saya tegaskan kalau menulis cerita bukanlah prioritas utama saya, dan apabila ada yang bertanya KAPAN UPDATE lagi... tenang saja, saya anggap cerita ini sudah saya tamatkan tanpa saya beritahu lanjutannya dengan rangkuman atau point-point seperti yang sudah-sudah.
[4]. Kalau ada yang berkata, “Terus ngapain bikin cerita kalau gak jelas kapan update-nya?”, saya akan menjawabnya disini jadi tak perlu saya ulangi 2 kali, “Saya tidak akan mengikuti aturan pemikiran orang yang bertanya seperti tadi.
[5]. Jangan lupa sholat 5 waktu.
DION

Copyright © Melodion 2018 All Right Reserved.
BEAUTIFUL AURORA © VI

9 comments

avatar

Pada baca tuh. Jangan pada nanya kapan update daripada gak ada bahan bacaan lagi.

avatar

Karena yang menulis, membaca adalah penduduk Bumi
[img] https://4.bp.blogspot.com/-QdyOoCcMY-w/WqmkL4ect1I/AAAAAAAAE6I/PK3Z3u9ZEYQjmBCyibS4llLWs7U6ewjbwCEwYBhgL/s1600/Melodion%2Bevil%2Blaugh%2B02.gif [/img]

avatar

Akhirnya ada hiburan lagi hahaha
dan sudah w duga bg dion bisa membuat cerita selain cerita fanfic, semangat om! ^^

avatar

Kocaaaak wkwkwk, akhirnya ba 6 dibuat jg n jauh brbedaa,, mantab bg dion :D

avatar

seperti biasanya cerita yg dibikin bang dion komedinya selalu dapet, apalagi detil- detil "kecil" yang membuat pembaca tenggelam dalam delusi.

avatar

Mantaplah...
tapi tetep kebayangnya Viny Jeketi... gapaplah cuma muka ini

avatar

Gegara bocah nanya "Buang kapan apdet nya buang?" Ilang mood si Dion kelar idol Lo!

avatar

Ha ha ha ha terima kasih

Click to comment