Type something and hit enter

author photo
Posted by On
- - - - -


          Setiap orang pasti memiliki kenangan yang indah dalam hidupnya. Kenangan-kenangan tersebut akan selalu tersimpan di memori mereka, sebuah kenangan yang tidak akan pernah pudar hingga ajal menjemput mereka. Beberapa orang kerap kali menjadikan kenangan indah mereka sebagai bahan cerita untuk anak serta cucu-cucu mereka. Bahkan sampai menginjak kepala 6 pun, kenangan indah di masa remaja akan tetap selalu ada di kepala maupun hati mereka.
            Beberapa orang sering kali menyebutkan bahwa masa SMA adalah masa-masa yang penuh dengan kenangan. Masa-masa dimana setiap remaja yang umurnya baru menginjak belasan tahun mulai mencicipi apa yang dinamakan kebersamaan, cinta, dan juga rasa kehilangan.
            Untuk itu cerita ini dibuat berdasarkan pengalaman setiap orang, khususnya negara Indonesia yang mana para remajanya memiliki kenangan tersendiri pada masa-masa sekolah mereka. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata ataupun kata yang menyinggung hati para pembaca, dan juga mohon maaf apabila ada kesamaan karakter serta jalan ceritanya, karena sesungguhnya hal tersebut benar-benar atas ketidaksengajaan yang (saya) lakukan.
            Maka dari itu School Days pun dimulai...
-SCHOOL DAYS-
            Senior High School 48 And Enginering School...
            Sekolah yang kerap kali dijadikan taruhan oleh beberapa orang, khususnya siswa kelas IX SMP yang mana mereka akan segera lulus dari sekolah mereka masing-masing. Bagaimana tidak, karena sekolah tersebut telah mendapat peringkat dunia dan juga menjadi sekolah terfavorit di Indonesia. Sekolah yang memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik, serta fasilitasnya yang terbilang cukup mewah dan sangat bagus.
            Untuk menjadi murid di sekolah itu pun tidak mudah. Para murid harus melewati ujian masuknya terlebih dahulu, dan untuk dapat mengikuti seleksi ujian masuk itu, siswa yang mendaftar di haruskan memiliki rata-rata nilai di atas 80 pada setiap mata pelajaran, bukan hanya mata pelajaran yang di UN kan saja . Itu merupakan syarat utama untuk dapat mengikuti seleksi ujian masuk ke SMA 48 ES tersebut. Selain itu, setiap siswa juga harus bersaing dengan jutaan murid yang mendaftar ke sekolah tersebut, bukan hanya dari negara Indonesia saja. Sekalipun mereka memiliki rata-rata nilai di atas 80 atau bahkan 90, mereka tetap harus bersaing dengan murid lainnya.
            Akan tetapi di balik fakta yang kejam itu, beberapa murid juga meyakini adanya penerimaan siswa Unik, yang mana proses seleksinya akan jauh berbeda dengan seleksi yang biasanya. Namun orang-orang masih belum mengetahui arti dan maksud dari kata Unik tersebut, dan sampai saat ini hal tersebut masih sering di perdebatkan oleh orang-orang, khususnya para remaja yang akan mendaftar ke SMA 48 ES.

-Awal Mula-
            Hampir setiap hari SMA 48 ES selalu menjadi buah bibir di kalangan para remaja, khususnya anak SMP yang akan segera lulus dari sekolahnya. Namun mereka tidak menduga bahwa murid-murid di SMA 48 ES tidak seperti apa yang di gambarkan oleh seleksi ujian masuknya yang kejam. Sama halnya seperti sekolah-sekolah lain, SMA 48 ES juga memiliki murid yang terbilang berandal. Terlihat ada beberapa murid yang berkeliaran ketika jam pelajaran masih berlangsung.
            Di samping itu, salah satu kelas tampaknya tidak ada guru yang mengajar. Melainkan seorang muridlah yang mengajari murid-murid yang lainnya. Gadis tinggi semampai dengan rambut yang di gerai berdiri dihadapan para murid sambil menerangkan materi yang tertera pada papan tulis itu.
“Ada lagi yang mau nanya?” serunya.
“Ve,” sahut seseorang dengan mengangkat tangannya.
            Ve..
            Gadis yang memiliki nama panjang Jessica Veranda itu kembali menerangkannya, khususnya pada orang yang sebelumnya mengangkat tangan.
Ia terbilang sangat cerdas karena memiliki rata-rata nilai di atas 92. Selain itu dengan parasnya yang cantik serta pipi gempalnya, semua murid dapat mudah jatuh cinta padanya. Ve sering kali menaikan kacamata bulatnya yang selalu turun, sehingga para murid tau akan ciri khasnya. Dengan segala kelebihannya itu, di tambah dengan sikapnya yang selalu ramah kepada setiap orang, maka ia menjadi salah satu primadona sekolah setelah ketua OSIS SMA 48 ES.
            Veranda kerap kali di banding-bandingkan dengan ketua OSIS SMA 48 ES, yang mana kecantikan serta kepintaran mereka sangatlah tipis jika di bandingkan. Tiap-tiap hari ia selalu mendapatkan satu sampai lima surat cinta di dalam tasnya. Tak jarang ada juga pria yang secara langsung menyatakan perasaannya di hadapan Ve. Akan tetapi ia selalu menolaknya, tentunya dengan cara yang halus agar tidak membuat penganggumnya itu menjadi sakit hati karenanya.
“Gimana? Udah jelas belum?”
“Udah.. Gue gak se-bodoh yang lo pikirkan kali,”
            Ve terkekeh saat mendengar kata-kata itu dari pria di hadapannya. Setelah itu, Ve kembali ke tempat duduknya semula karena tidak ada lagi murid yang mau bertanya. Ia membiarkan para murid mencatat semua hal yang ada di papan tulis terlebih dahulu, sementara dirinya kembali duduk ke tempatnya. Ia duduk di samping seorang gadis berambut sebahu yang tampaknya sedari tadi dirinya asik melakukan aktivitas di luar pelajaran.
            Ve menggeleng-geleng melihat kelakuan teman sebangku, seraya dirinya mulai menegurnya.
“Salin dulu Nal, itu semua bahan UAS,” ujarnya.
“Iya-iya tunggu bentar kek,” sahut gadis yang di panggil *Nal* oleh Veranda.
            Devi Kinal Putri...
            Gadis berambut sebahu yang menjadi teman sebangku Veranda. Sikapnya terbilang cuek dan sangat tidak suka di perhatikan oleh siapapun. Mereka berdua sangatlah bertolak belakang dalam hal apapun, namun faktanya Kinal merupakan sahabat dekat Ve sejak umur 8 tahun.
            Kinal juga memiliki rata-rata nilai yang cukup baik, yaitu 84. Ia bukanlah murid yang rajin namun bukan juga murid yang pemalas. Dapat dikatakan Kinal adalah murid yang seimbang dalam membagi waktu dan hal yang lainnya. Ia memiliki hobi menggambar meskipun dirinya sangat tidak pandai menggambar. Maka dari itu, semua gambarannya pasti berbentuk abstrak.
“Gua nyalin buku lo aja deh Ve. Hari ini gue mau main ke kosan lo lagi,” katanya,
Veranda memiringkan bibirnya. “Hem.. Lagi? Akhir-akhir ini kamu jadi sering main ke kosan aku Nal,”
“Terus kenapa? Gak boleh?”
“Boleh kok, siapa juga yang larang.”
            Mereka mengakhiri percakapan. Lalu seorang pria berkacamata datang ke meja mereka. Pria itu membawa sebuah kertas yang berisikan sesuatu di dalamnya. Tanpa berkata apapun, pria itu langsung menyimpan kertas tersebut di atas meja mereka.
“Apa ini?” tanya Ve.
“Kuisioner,” Jawab pria berkacamata itu.
Ve melihat ke sekitarnya. Dirinya telah menyadari bahwa kertas kuisioner itu hanya di berikan untuknya seorang.
“Yang lainnya..,”
“Kertasnya cuma ada satu. Gua cuma di kasih satu kertas tadi,” pria itu memotong perkataan Ve.
“Aha!” ucap Kinal secara spontan. Sehingga pria itu dan juga Ve melirik ke arahnya.
“Ini si Evan pasti cuma mau modus,” celetuknya lagi.
“Modus?” Pria bernama Evan itu mengkerutkan dahinya.
“Ya! Kalau memang kertas kuisionernya cuma ada satu, kenapa lo mau ngasih satu kertas itu ke Veranda? Kan aneh...,” Kinal menduga-duga.
Evan menatapnya datar. “Gua gak nyangka pemikiran lo bisa sampai kesana,”
“Lihat! Bahkan pertanyaan kuisionernya banyak yang aneh. Pasti lo sendiri yang buat kuisioner ini kan!” lagi-lagi Kinal menduga.
“Loh.. Iya juga ya,” ucap Ve juga. Ia mengusap-usap dagunya sembari fokus membaca.
“Kenapa ada pertanyaan kayak gini. *Bagaimana sikap yang akan anda berikan kepada penganggum anda di luar sana yang terus menerus mencoba mendekati serta mengejar-ngejar anda?* Apa aku harus jawab pertanyaan ini?” papar Ve.
Evan menggaruk pelipisnya di sambung dengan tawa yang ringan. “si kampret itu ternyata bikin pertanyaan yang aneh-aneh,” gumamnya.
“Apa? Tadi lo bilang apa?” tanya Kinal.
“Eh-eh.. Gak ada apa-apa kok. Dah isi aja dulu, gue juga gak ngerti soal pertanyaannya,”
“Dan apa itu Leader Of Relationship. Apa mungkin klub yang bertanggung jawab soal kuisioner ini?” tanya Ve setelah ia melihat logo tersebut di bagian paling bawah.
“Isi aja dulu cepet!” Evan berbicara keras.
“Duuh.. I-iyaudah deh aku isi,” Ve mengalah.
            Sementara Ve mengisi kuisioner di bantu dengan Kinal disana, Evan sibuk memainkan handphonenya. Pria berkacamata itu adalah ketua murid di kelas XI – IPA 1, yang mana kelas tersebut adalah kelasnya Ve dan juga Kinal. Saat hari pertama di tahun ajaran baru, terjadi sebuah persaingan yang cukup sengit. Persaingan untuk memperebutkan posisi ketua murid di kelas XI – IPA 1. Evan unggul 5 poin di bandingkan dengan Veranda, dan alahasil Evan pun menjadi ketua murid di kelasnya. Meskipun Ve mendapatkan poin terbanyak kedua setelah Evan, ia tidak mau mengambil jabatan wakil ketua murid untuk mendampingi Evan. Ia memberikan jabatannya tersebut ke orang yang menurutnya sudah mampu.
            Sebagai alasan utama kenapa Ve tidak ingin mengambil jabatan itu karena dirinya tidak terlalu suka mengikuti organisasi maupun klub di sekolah. Itu sudah menjadi prinsip hidupnya selama ia masih bersekolah. Dan dirinya juga tidak pernah mencalonkan diri untuk menjadi ketua murid di kelasnya, melainkan dirinya di calonkan oleh murid-murid yang lain.
“Ini...,” Ve memberikan kembali kertas kuisioner itu. seraya Evan mulai memeriksa kembali hasil pekerjaan Ve.
            Merasa urusannya telah selesai, Evan pun pergi dari hadapan mereka.
“Kalau gitu gua mau ke ruang OSIS dulu. Ada kemungkinan gua gak akan balik lagi ke kelas sampai bel pulang,” ucapnya sambil pergi meninggalkan kelas.
Sementara Ve dan Kinal hanya dapat melihatnya dari meja mereka.
“Hmph! Mentang-mentang anak OSIS, maunya bertindak seenaknya!” ejek Ve.
~oOo~
            Bel istirahat telah berbunyi, semua murid mulai berhamburan keluar dari kelas mereka. Di samping itu terdapat sebuah ruangan yang sangat ramai di dalamnya. Bukan ramai karena di penuhi oleh banyak murid, melainkan ramai karena murid di dalam berteriak-teriak karena memperdebatkan sesuatu.
            Pria berkacamata yang baru masuk itu langsung menutup telinganya rapat-rapat. Ia berjalan ke arah meja di ujung ruangan sambil terus menutup kupingnya. Kertas yang di bawanya pun jadi kusut karena ia sedikit meremasnya.
            Sampailah pria itu di depan meja yang di maksud. Seorang gadis tersenyum manis di hadapannya. Gadis itu menadahkan wajahnya ke arah sang pria, dengan menahan dagunya sebagai tumpuan kepalanya.
“Gimana? Lancar kah?” tanya gadis itu.
“Ck! Naomi.. Kenapa lo masukin pertanyaan yang aneh-aneh ke dalam kuisionernya. Bukannya lo bilang kalau kuisioner ini khusus untuk Veranda agar dia mau menjadi angggota OSIS,”
“Hihi.. Gak ada maksud apa-apa kok,” gadis bernama Naomi itu tertawa.
“Jadi gimana! Dia mau gak jadi anggota OSIS!” Naomi bertanya dengan penuh semangat. Matanya itu berbinar-binar.
“Gua gak nanya soal itu tadi,”
“Yaaaahhh...,” Naomi kecewa. “Kenapa gak di tanyain sih Evan!” ia terlihat geram.
“Percuma... Entah udah berapa kali gue nawarin dia untuk jadi anggota OSIS. Dan jawabannya tetaplah sama,”
Naomi memanyunkan bibirnya bersamaan dengan wajah yang masam.
“Kalau lo pengen dia jadi anggota OSIS, kenapa gak lo sendiri yang tawarin? Lo kan ketua OSIS nya,” ujar Evan.
“Habisnya gua gak sanggup Van! D.. Dia itu.. D-dia adalah Idola di sekolah ini!” wajah Naomi tiba-tiba memerah.
Evan menatap datar pada Naomi. “Apa lo gak sadar tentang peran lo disekolah ini MI!”
“Eh? Gue? Peran gue kan sebagai ketua OSIS SMA 48 ES,”
“Ck! Bukan itu yang gue maksud! Ah.. Sudahlah lupakan,” Evan duduk di salah satu kursi.
            Sedangkan Naomi beranjak dari kursi dinasnya, ia mulai bersikap manja di hadapan Evan. Lalu ia duduk di atas pangkuan Evan sambil menghadap ke arahnya. Ia mengelus lehernya yang lapang sambil bersikap erotis di hadapannya.
“Van.. Tolong bujuk dia lagi ya. Please...,” pintanya dengan nada yang manja.
Evan masih menatap Naomi dengan datar. Sampai suatu ketika seseorang memanggilnya.
“Evan!”
“YA!” Evan langsung bangun setelah mensahutnya, sehingga membuat Naomi yang tengah duduk di atas pangkuannya jatuh ke bawah.
            Evan kini sudah pergi dari ruangan OSIS.
“Duh.. Sialan! Awas aja kalau lo balik lagi kesini,” gerutunya sambil mengusap-usap bokongnya.
            Shinta Naomi, ketua OSIS SMA 48 ES. Gadis berpostur tubuh tidak terlalu tinggi itu sudah menjabat sebagai ketua OSIS selama 2 dekade. Paras cantik serta bibir mungilnya membuat dirinya di kagumi oleh banyak laki-laki di sekolahnya. Ia juga merupakan salah satu primadona di sekolahnya. Namanya kerap kali menjadi buah bibir di kalangan para pria, bukan hanya murid tapi guru-guru pun kerap kali membicarakannya. Dirinya juga sering kali di bandingkan dengan Veranda, siswi kelas XI – IPA 1 yang juga merupakan primadona di SMA 48 ES.
            Jika dibandingkan, Ve dan Naomi hanya memiliki satu perbedaan yang mencolok, yaitu sifatnya. Nilai akademis mereka juga hanya berbeda 0.1 angka. Ve memiliki rata-rata 92, sedangkan Naomi memiliki rata-rata nilai 93 untuk semua mata pelajaran. Soal paras cantiknya pun tidak jauh berbeda, namun mereka memiliki ciri khas masing-masing.
            Ve dengan pipi gempalnya, sedangkan Naomi dengan bibir mungilnya.
            Ada sebuah fakta tentang Shinta Naomi, yakni dirinya sangat mengidolakan sosok Veranda. Ia sadar kalau dirinya kerap kali di banding-bandingkan dengan Veranda, namun ia selalu menghiraukan hal tersebut. Sejak kelas X saat pertama kali dirinya menjabat sebagai ketua OSIS, Naomi sudah berusaha keras untuk mengajak Ve masuk ke dalam anggota OSIS, tentunya dengan bantuan anggota OSIS yang lainnya.
Akan tetapi sampai sekarang ia tidak berani berhadapan langsung dengan Ve yang menjadi sosok idolanya. Ketika ia melihat Ve dari kejauhan, ia selalu memijat-mijat pipinya sendiri seakan-akan dirinya sangat gemas melihat pipi gemuk milik Veranda. Di campur dengan rasa bungah yang berlebih serta pipinya juga terkadang sedikit memerah.
            Semua anggota OSIS telah mengetahui bahwa Naomi mengidolakan Veranda, namun hanya ada satu orang yang tau tentang sifat Naomi yang begitu fanatik pada sosok Veranda. Orang itu adalah....
“Mi! Naomi!”
            Seorang pria datang menghampiri Naomi yang kini tengah duduk bersantai di kursi dinasnya. Pria itu membawa semangkuk bakso dan juga segelas air putih. Lalu ia menyimpan kedua benda itu di atas meja dinas Naomi.
“S.. Sesuai janji gue yang kemarin, um...,” pria itu begitu gugup saat berhadapan dengan Naomi.
“Wow! Kerja bagus Vit,” Naomi memuji sedangkan pria yang di panggil *Vit* itu tertawa cengengesan.
“Sekarang lo bawa dokumen ini ke ruang tata usaha. Itu surat perizinan untuk Event nanti,” pinta Naomi.
“A.. Ah, siap-siap Mi..,” Dengan sigap pria itu mengambil lembaran kertas itu lalu pergi dari ruang OSIS.
Naomi terkekeh saat melihat kelakuan bawahannya itu, sampai suatu ketika seseorang berusaha menegur Naomi.
“Mau sampai kapan lo perlakukan dia seperti babu Mi,” celetuk seorang gadis dengan matanya yang begitu berat.
            Gadis itu seperti baru bangun dari tidur yang lelap, dengan rambutnya yang acak-acakan serta wajahnya yang masih mengantuk.
“Oh Yona, baru bangun lo...,” sahut Naomi sambil mulai menikmati bakso.
Yona bangun lalu meregangkan badannya. “Lo tau kan, sejak kelas X dia udah suka sama lo,” katanya lagi.
“Heh,” Naomi mendengus. “Gua tau kok,” Jawabnya.
Kemudian Yona menggeleng pelan. “Kalau lo emang gak suka sama dia, setidaknya jangan perlakukan dia seperti babu. Gua tau dia itu punya mental yang lemah, jadi....”
“Tapi dia sendiri gak keberatan tuh gua perlakukan seperti babu. Gue udah satu kelas sama dia sejak kelas 9 SMP Yon, gue tau betul soal sifatnya dan juga mental lemahnya” potong Naomi
“Lantas kalau lo tau soal sifatnya, kenapa sampai sekarang lo masih perlakukan dia seperti babu? Apa mungkin julukan ketua OSIS yang kejam itu memang bukan isapan jempol belaka?”
Naomi terkekeh. “Gue cuma suka aja ngerjain tuh anak. Sebagai tambahan, Vito juga masuk jadi anggota OSIS karena gue.”
Yona memiringkan bibirnya. “Begitu ya,” katanya.
“Berkat kemampuannya dalam membujuk seseorang, kita bisa dengan mudah meminta apapun ke pihak sekolah, di saat kita sedang membutuhkannya,”
“Oh.. Jadi karena hal itu, dia menjabat sebagai humas ya,”
“Sudah pasti! Gue yang simpen dia di posisi itu,” Naomi seperti membanggakan dirinya.
Yona menghela nafasnya. “Yah.. setidaknya lo masih belum kelewat batas,”
“AH! T.. Tunggu dulu...,” ucap Naomi secara spontan. Hal itu membuat Yona terheran.
“Vito.. Dia jago dalam hal membujuk.. itu berarti!!”
“Apa?” lanjut Yona.
“YON! Hari ini posisi bendahara bakalan ada yang nempatin!” mata Naomi berbinar-binar, dengan wajahnya yang begitu semangat.
“Jessica.. Veranda?”
“YA! ITU BENAR! Dan kali ini dia pasti mau jadi anggota OSIS!” Naomi mengepalkan tangannya dengan perasaan yang penuh semangat.
“Err.. Tapi...,”
“Yon! Gue titip ruangan OSIS ya! Gue mau cari Vito dulu di luar!” potong Naomi.
            Setelah itu Naomi pergi meninggalkan Yona disana.
            Yona terlihat menghembuskan nafas kasarnya. Ia melihat ke sekitar ruangan OSIS, yang mana masih di penuhi oleh orang-orang yang sangat berisik.
“Yupi, Shania, Beby. Kayaknya gue gak perlu misahin mereka...,” gumamnya ketika melihat 3 gadis di hadapannya yang tengah sibuk berdebat.
            Yona adalah salah satu anggota OSIS yang mana dirinya sering kali disebut sebagai wakil ketua OSIS SMA 48 ES. Namun faktanya, gadis bernama lengkap Viviyona Apriyani itu hanya menjabat sebagai sekertaris tunggal. Sikap kepemimpinannya itu membuatnya di anggap sebagai wakil ketua OSIS, mendampingi Naomi.
            Sementara itu, kini Naomi tengah mencari keberadaan Vito. Di saat ia melewati ruang-ruang kelas itu, jelas para pria memandanginya. Tak sedikit pria yang mengikutinya dari belakang, namun Naomi tetap menghiraukannya.
            Sampailah ia di ruangan TU. Terlihat Vito masih berbincang-bincang di dalam. Naomi pun menunggu.
Sekitar 10 menit berlalu, Vito pun keluar dari ruang tata usaha. Pada saat itu juga Naomi langsung menghampiri Vito, lalu menggenggam tangannya, membawanya pergi ke suatu tempat.
            Jelas Vito terkejut akan perlakuan gadis idamannya itu.
“K.. Kita mau kemana Mi?!” tanyanya dengan begitu gugup.
“Udah ikut aja!” katanya.
            Naomi membawanya ke suatu tempat di belakang gedung olahraga. Tempat yang sepi dan juga sunyi.
“M.. Mi?” panggilnya.
“Ssssttt...,” Naomi menutup mulut Vito dengan jari telunjuknya. Ia melihat ke sekitarnya bermaksud untuk memastikan kalau tidak ada orang lain di sekitar tempat itu.
            Lalu Naomi pun mulai membuka pembicaraan.
“Ekhem! Gini Vit, gua pengen minta tolong ke lo,”
“Ah..,” Vito menggaruk pelipisnya. “M.. Minta tolong, s-soal apa ya?” keringat dingin mulai bercucuran dari leher Vito.
“Jadi gini.. Lo tau kan, posisi bendahara OSIS masih belum ada yang ngisi,”
“Y-ya? Terus?”
“Nah! Gua ada satu calon untuk mengisi posisi bendahara. Tapi sayangnya orang itu sangat sulit untuk di bujuk,”
“Err.. Jessica.. Veranda?”
“Loh, itu udah tau. Kalau gitu bisa kita persingkat, gue pengen lo bujuk dia untuk bergabung dengan OSIS. Sebagai imbalan, lo boleh minta apapun yang lo mau, dan dengan senantiasa gue akan kabulkan permintaan lo itu. Tentunya setelah lo berhasil bujuk dia jadi anggota OSIS,” tuturnya.
Vito terlihat ragu. “Duh.. G-Gue sedikit gak yakin Mi,”
“Ayolah...,” Naomi memeluk Vito, sehingga Vito tidak dapat berbuat apa-apa.
“Lo pasti bisa Vit, pasti bisa!” ucapnya menyemangati.
“K.. Kah! Khalau githu...,” nafas Vito mulai berat. “G-Gue ... Gue usahain deh!” lanjutnya.
Naomi melepas pelukannya. “Bagus kalau gitu, gue tunggu hasilnya pulang sekolah nanti ya. Bye...,”
            Naomi pergi meninggalkan Vito sendiri di tempat itu. Sedangkan Vito masih mengelus dadanya yang berdegup kencang.
-SCHOOL DAYS-
            Jam pulang pun tiba. Murid-murid telah berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Di samping itu, Naomi yang baru saja keluar dari ruang kelasnya, kini tampak sedang menguntit seseorang. Ia terus mengikuti kemanapun orang itu pergi. Sampai pada akhirnya ia berakhir di sebuah tempat yang sepi.
            Ia mengintip di balik tembok, yang mana di seberang sana terdapat 2 orang murid saling berhadapan. Kemudian ia membuka sebuah alat seperti walkitalkie kecil, seperti alat yang sangat canggih.
“Beruntung dia gak sadar kalau tadi gue masang microphone kecil di badannya. Jadi..,” Naomi mulai mengaktifkan walkitalkie itu.  
“Ekhem.. Ve,” suara tersebuat keluar dari walkietalkie.
(Suara dari walkitalkie akan di warnai merah)
“Y-ya..,”
“Aku suka sama kamu,”
“Kok dia malah...,” Naomi menutup mulutnya seakan-akan dirinya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Kamu mau gak jadi pacar aku...,”
“A.. Aku juga, suka sama kamu Vito. Aku memang sudah memerhatikanmu sejak kelas X,”
“Kampret! Di suruh bujuk untuk masuk jadi anggota OSIS, malah di tembak,” tanpa sadar Naomi mengelap sebuah cairan di pipinya.
“Eh.. Apa ini? A.. Air mata?!” ia telah menyadarinya.
“Kenapa gue... Eh..?” Air mata itu terus bercucuran dari matanya.
            Hatinya seperti tidak dapat menerima kenyataan, dan alhasil ia pun pergi dari tempat itu dengan meninggalkan walkietalkienya di bawah.
“Aku juga cinta sama kamu Vit. Tapi.. A.. Aku masih ingin mempertimbangkan soal hubungan seperti itu. A.. Aku rasa, untuk sekarang lebih baik kita berteman dulu,”
“Hem.. Jadi gitu ya,”
“Huh? Respon kamu polos banget Vit,”
“Loh? Terus harus gimana?”
“Ah sudahlah lupakan. Soal tawaran untuk menjadi anggota OSIS, aku terima deh. Hihi..,”
“A.. Ah! Seriusan?!”
“Ya. Aku juga pengen tau lebih banyak tentang kamu Vit. Sejujurnya, untuk pertamakalinya aku berkata jujur soal perasaanku kepada seorang pria seperti ini. A.. Aku benar-benar sangat malu,”
“Haha! Kamu ini selain cantik, penuh misteri juga ternyata. Eh.. Jadi mau di anter pulang gak nih?”
“Boleh. Ayo...,”
**************************
(Flashback 2 Jam yang lalu)
“P.. Permisi,” pria itu mengetuk pintu kelas.
“Eh Ve.. itu kan cowok yang lo suka,” celetuk gadis berambut sebahu.
“K.. KINAL!” Ve langsung menutup mulut Kinal rapat-rapat. Ia tampak malu-malu saat Kinal berkata demikian.
“Mau ngapain tuh orang datang kesini?! IH!” Ve terlihat kesal dengan pipi gempalnya yang mulai memerah, hampir menyerupai sebuah tomat.
“Apa ada yang namanya Jessica Veranda?” panggil pria itu dari ambang pintu.
“EH?! D.. Dia nyari aku?!” Jantung Ve mulai berdebar-debar.
*BUK!
            Kinal menepuk pundak Veranda dengan sedikit keras, sehingga tangan Ve yang tengah membekam mulut Kinal pun terlepas.
            Kemudian Kinal mengangkat tangan Ve tinggi-tinggi, sehingga pria di ambang pintu melihatnya.
“Ini! Verandanya ada disini!” teriak Kinal. Dan mereka sukses mengalihkan perhatian semua orang.
            Ve terlihat berang atas perlakuan Kinal, namun faktanya ia juga begitu malu dan gugup. Para murid di kelas itu juga baru pertama kalinya melihat Veranda seperti itu.
“Ada yang mau di bicarakan, bisa tolong kemari sebentar,” pinta pria itu.
“AH! M.. Mau di bicarakan! A.. Apa mungkin, p-p-pernyataan cin...,”
*BUK!
            Lagi-lagi Kinal menepuk pundak Ve, disaat Ve tidak sempat melanjutkan kata-katanya.
“Udah cepetan sana!” ucap Kinal.
“I-iyaudah deh...,” Ve segera beranjak dari kursinya. Lalu pergi menghampiri pria di ambang pintu.
            Setelah itu, sang pria langsung membawanya keluar kelas. Mereka lanjut berbincang-bincang.
“Maaf nih sebelumnya, saya dari anggota OSIS, cuma mau menawarkan,”
“Menawarkan?” Ve mengernyitkan dahinya.
“Ya. Kira-kira kamu mau gak jadi anggota OSIS?” tawarnya.
“Oh iya! Sebelumnya namaku Vito,” lanjutnya dengan mengulurkan tangannya.
“A-Aku juga udah tau kok, hihi...,” balas Ve.
“Wah.. begitu ya. Jadi gimana soal tawarannya?” tanya Vito kembali.
“Kalau soal itu.. Um.. Mungkin aku pikir-pikirin dulu deh,”
“Gitu ya. Yasudahlah, kalau kamu mau, datanglah ke ruangan OSIS besok,”
Ve mengangguk memahaminya.
“Kalau gitu saya pergi dulu, maaf sudah mengganggu,” Vito sedikit membungkuk.
Di samping itu Veranda hanya membalasnya dengan senyuman serta anggukan kepala. Setelah Vito pergi, Ve kembali ke kelasnya. Ia kembali duduk di tempatnya semula, tentu Kinal langsung bertanya...
“Gimana?! Lo terima gak!” tanyanya.
“Eh?! A.. Aku masih mempertimbangkannya Nal,”
“Lah? Katanya lo suka sama dia. Tapi kok malah...,”
“Nal.. Tadi dia cuma mau nawarin aku untuk jadi anggota OSIS. Bukan pernyataan cinta!” Ve memperjelasnya.
“Loh.. begitu ternyata. Terus lo bilang apa?”
“Tadi kan aku bilang, aku masih mempertimbangkannya. Tapi ada kemungkinan aku bakalan join ke OSIS deh. Karena sejujurnya aku baru tau kalau dia juga anggota OSIS,”
“Heh!” Kinal mendengus. “Itu artinya lo masuk OSIS cuma karena pengen deketin tuh anak dong!” celetuk Kinal.
“Ehehe..,” Ve tertawa cengengesan.
(1 Jam kemudian, tepatnya saat jam pelajaran terakhir dimulai)
            Seorang gadis datang berkunjung ke ruangan OSIS. ia tampak sedang mencari-cari seseorang disana. Lalu di bukanya pintu ruangan OSIS, dan ia pun masuk ke dalam.
“Apa ada yang namanya Vito?”
“S-Saya...,” sahut seseorang, lalu orang itu menghampiri.
            Vito menghampiri gadis di ambang pintu.
“Ada urusan apa ya? Maaf ketua OSIS nya masih ikut jam pelajaran di kelas. Seperti yang kamu lihat, hanya ada saya di ruangan ini,” katanya.
“Loh.. Si kampret Evan gak ada juga ternyata,” celetuk gadis itu sambil memeriksa ke semua sudut ruangan dari ambang pintu.
“Oh, mau nyari Evan toh,” celetuk Vito juga.
“EH! Bukan-bukan! Gue mau ketemu sama lo kok,” gadis itu memperjelas tujuannya.
“Oh.. Jadi, ada urusan apa sama saya?” tanya Vito lagi.
“Hei.. denger ini baik-baik,” Gadis itu sedikit mendekatkan dirinya pada Vito, ia hendak membisikan sesuatu padanya.
“Lo pengen Veranda masuk jadi anggota OSIS? Kalau begitu tembak aja dia! Lo tau kan artinya?”
“EH?! M.. maksudnya pernyataan cinta?!”
“YA! Lo pengen dia masuk jadi anggota OSIS kan? Udah deh ikutin aja kata-kata gue!”
“T.. T-Tapi.. Gue gak punya perasaan ke orangnya,”
“Ya ampun.. ini cuma sekedar pancingan aja! Gue yakin, dia pasti bakalan nolak lo,”
“Lalu darimana lo tau kalau dia bakalan mau jadi anggota OSIS setelah gue tembak?”
“Ek! S.. Soal itu..,” gadis itu mulai ragu untuk menjawabnya. Ia menggaruk pelipisnya, dan sudah mulai kehabisan kata-kata.
“Sssshhh... Sudahlah! Pokoknya lo ikutin deh kata-kata gue! Gue jamin, serius...,” gadis itu menyatukan kedua telapak tangannya, seperti sedang memohon.
“Um.. Y-yasudah deh. Kalau gitu pulang sekolah nanti gue bakalan nembak dia,”
“Good! Berarti sekarang semuanya sudah beres. Kalau gitu gue pergi dulu,”
“EH! Tunggu dulu. Nama lo siapa?!”
“Kinal.. Panggil aja Kinal atau Nal juga boleh,” Jawab Kinal sembari pergi dari hadapan Vito.

~oOo~
            Keesokan harinya, di ruangan OSIS SMA 48 ES.
“Untuk itu.. saya mau menjadi bendahara OSIS, selama saya masih menjadi anggota OSIS di sekolah ini. Mohon bantuannya...,” gadis berpipi gempal itu membungkuk.
            Di saat itu juga suasana ruangan OSIS benar-benar tidak dapat terkendali. Mereka langsung berbondong-bondong menghampiri sang anggota baru, bermaksud untuk berkenalan dengannya.
            Sementara itu, sang ketua OSIS, Naomi bergeming sambil melipat kedua tangannya. Mulutnya itu sedikit terbuka seakan-akan dirinya tidak percaya kalau posisi bendahara dapat diisi oleh idolanya, yaitu Jessica Veranda.
Kemudian Yona datang menghampiri Naomi.
“Ternyata babu lo berhasil bujuk dia,” celetuk Yona.
Naomi tidak menanggapinya, melainkan dirinya langsung menghampiri Vito yang tengah berada di kerumunan itu. Di tariknya tangan Vito sehingga keluar dari kerumunan itu, tentu Vito terkejut atas perlakuan atasannya tersebut.
“A.. Ah Mi, soal permintaan yang lo bilang kemarin. Kayaknya gak perlu aja deh,” seru Vito.
“Hm?! Kenapa? Lo gak mau minta apapun ke gue?” timbal Naomi.
“Gak perlu deh, ehehe..,” Vito menggaruk pelipisnya sambil tertawa ringan. “Dengan adanya bendahara baru, gue udah sedikit seneng kok. Lo juga pasti seneng kan Mi?”
“Lo seneng karena ada bendahara baru?!” Naomi terlihat merah padam.
“Eh? M.. Mi?! Kok lo malah...,”
“Sini!” Naomi menarik paksa tangan Vito, sehingga dirinya kini sangat dekat dengan Naomi.
Lalu Naomi melanjutkan pembicaraan.
“Denger-denger, kemarin lo nembak cewek ya? Cewek yang populer di sekolah ini,”
“EH?! A.. Anu, kok.. T-Tau darimana?!” Vito terbelalak karena ia tidak menyangka bahwa Naomi bisa tau sampai sejauh itu.
“Hah! Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Lo nya aja yang bego, sampai ketinggalan berita penting kayak gitu. Eh.. Gak masalah juga sih, orang berita pentingnya tentang lo ini,”
“T.. Tapi um..,” Vito terlihat mulai gugup.
“Apa? Lo mau ngomong sesuatu hah?” Naomi seperti menantangnya.
“A.. Anu.. Sebenarnya gue di tolak kemarin, jadi..,”
“HAH!” ucap Naomi secara spontan.
Perlakuannya tersebut sukses mengalihkan perhatian semua orang disana.
“Hei! Apa yang kalian lihat?! Lanjutin pesta penyambutannya!” sentak Naomi.
            Anggota OSIS yang lain pun kembali berisik seperti sebelumnya. Di samping itu, Naomi tersenyum di hadapan Vito dengan mengelus dadanya yang tiba-tiba berdegup keras.
“Bisa lo ceritakan secara rinci, kenapa lo bisa di tolak sama Veranda?”
“EK! L-Lo juga tau kalau orang yang gue tembak kemarin adalah Veranda!”
“Ya! Ketua OSIS tau semuanya,” katanya dengan enteng.
            Vito kembali menampakan wajah yang murung. Ia pun lanjut menceritakan kronologisnya di depan Naomi.
“Y-yah.. Err.. Kemarin gue nembak dia di belakang gedung serbaguna sekolah,”
“Terus?”
“Dia nolak gua.. Tapi dia berkata jujur kalau sebenarnya dia juga suka sama gue Mi. Dan alasan kenapa dia ingin bergabung dengan OSIS karena dia.. M-Mau tau lebih banyak tentang gue,”
“APA?! S.. Serius?!”
Vito mengangguk pelan.
            Wajah Naomi tiba-tiba merah padam. Ia memanyunkan bibirnya di hadapan Vito, tentu Vito tidak paham akan maksud dari sikap Naomi terhadapnya.
“Kalau gitu mulai sekarang...,”
“A.. Apa?!” tanya Vito karena Naomi tidak melanjutkan kata-katanya.
            Kemudian Naomi ikut bergabung dalam kerumunan di tengah. Ia tampak menghampiri Veranda disana, bermaksud untuk berkenalan serta membicarakan sesuatu dengannya.
“Ekhem! H.. Hai...,” sapa Naomi, wajahnya itu terlihat sedikit memerah.
“Eh.. Um.. A.. Aku,” nampaknya Veranda juga terlihat gugup di hadapan Naomi.
“S.. S-Selamat ya, um.. semoga lo betah jadi anggota OSIS,” Naomi mengulurkan tangannya.
            Ve yang paham akan maksud dari perlakuan Naomi pun ikut mengulurkan tangannya. Mereka pun saling berjabat tangan.
“G.. Gue Naomi! S-Salam kenal!”
“Ah.. Yah, aku Veranda. Bendahara baru disini. Ngomong-ngomong kamu menjabat sebagai apa?” tanyanya dengan polos.
“HAH?! Lo beneran gak tau?!”
“A.. Anu, maaf aku benar-benar gak tau...,” Ve terlihat mengernyitkan dahinya.
Naomi pun mulai menghembuskan nafas kasarnya. “Gue ketua OSIS nya! Errrrr!” Ia geram
“EH! S.. Serius?! K-Kalau gitu.. A-Aku minta maaf ya. Aku benar-benar tidak tau...,” Ve menundukan kepalanya.
“Sigh! Padahal gue udah jadi ketua OSIS selama 2 dekade dari kelas X. Tapi sampai sekarang dia masih belum menyadarinya! Apa mungkin dia memang gak pernah merhatiin gue?!” batin Naomi.
“Um.. Naomi?” panggil Ve.
“Eh.. S-sorry ya tadi gue...,” Naomi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia membelakangi Ve disana.
“Pokoknya, kita semua berharap yang terbaik dari lo. Dan juga...,” Naomi kembali berbalik menghadap Veranda, lalu melanjutkan kata-katanya.
“Gue gak akan biarin lo dapetin dia dengan mudah!”
“H.. Hah?!” Veranda terlihat kebingungan.
            Kehidupan Veranda sebagai anggota OSIS dan juga murid SMA 48 pun di mulai. Tanpa di sadari, Naomi merubah status Veranda yang awalnya adalah Idolanya, sekarang menjadi saingannya di OSIS maupun di sekolah. Sikap posessifnya itu telah di sadari oleh Evan dan juga Yona. Evan sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu ruangan OSIS, sedangkan Yona sedari tadi bersandar di tembok sembari memerhatikan tingkah laku ketuanya tersebut.

To Be Continued...


1 comments:

avatar

Mantap... Penulis Pengagum Rahasia (Cinta Palsu) ada di blog melodion. Bakalan ditunggu stiap updatenya

Click to comment