Type something and hit enter

author photo
Posted by On

Secret of The Earth
Secret 01 : Bad Boys
 

Bumi, sebuah planet yang dihuni oleh berbagai makhluk hidup, termasuk manusia di dalamnya. Dengan akal yang dimiliki, manusia memanfaatkan seluruh sumber daya alam untuk menghidupi diri dan menjadi pemimpin di muka bumi.
Jutaan tahun Bumi menyimpan segudang misteri. Sampai saat ini, belum ada yang bisa memastikan bagaimana proses terbentuknya, berapa lama, bahkan bagaimana bentuknya pun masih diperdebatkan. Yang ada saat ini hanyalah Hipotesis dan Pendapat dari para ahli Geologi. Ini menunjukkan betapa Agungnya Tuhan Pencipta alam semesta ini dan menjadi pengingat betapa kecilnya kita dihadapan-Nya.
Di salah satu belahan bumi yang menyimpan banyak misteri ini, seorang gadis sedang berjalan di koridor salah satu Sekolah, tepatnya Sekolah Menengah Atas Negeri 48 Jakarta. Pakaiannya seragam putih abu-abu lengkap juga tas selempangan, rambut panjangnya diikat kebelakang. Wajahnya yang cantik itu terlihat tersenyum membalas sapaan beberapa teman yang berpapasan dengannya.
Dia pun masuk ke dalam kelas yang di pintunya bertuliskan “Kelas XI IIS-2”, didalamnya telah ada beberapa siswa yang datang. Dia menaruh tasnya itu di meja paling depan yang berhadapan langsung dengan meja guru. Dia pun duduk di kursinya kemudian mengambil buku pelajaran geografi dalam tas dan membacanya.
Sedang asyik membaca, pandangannya teralihkan pada seorang siswa yang baru saja masuk ke dalam kelas. Siswa itu juga memakai seragam putih abu-abu namun ia juga mengenakan jaket berwarna hitam, rambutnya yang ‘jabrig’ terlihat acak-acakan. Siswa itu duduk di kursi paling pojok belakang setelah melempar tas ranselnya ke meja. Ia mengambil HP dari saku celananya dan memasang headset ke kedua telinganya, lalu menyandarkan kepala ke tembok sambil memejamkan mata.
Gadis itu menutup bukunya dan bangkit dari kursi. Ia berjalan menghampiri siswa berjaket hitam.
“Mulai lagi nih drama paginya.” Kata seorang siswi pada siswi yang lain.
“Iya, gak bosen-bosen apa ya?”
Gadis berambut panjang telah sampai di meja siswa berjaket hitam. Siswa berjaket hitam tidak menyadari karena ia sedang asyik mendengar lagu di headsetnya sambil menggoyang-goyangkan kepala.
“Braaaaaaak!”
Siswa berjaket hitam membuka satu matanya karena mendengar suara gebrakan meja. Setelah melihat siapa yang melakukannya, siswa itu kembali memjamkan kedua matanya. Geram melihat itu, gadis berambut panjang akhirnya mencabut kedua kabel headset dari telinga siswa berjaket hitam.
“Apaan sih, Mel!” Dengan berangnya siswa itu berteriak kepada siswi yang dipanggil ‘Mel’
“Kamu tuh yang apa-apaan. Niat sekolah enggak sih? Bolos tiap hari, kalau ada di kelas cuma tidur atau dengerin musik.”
“Terus ngapain lu urusin gw?! Kakak gw bukan, ibu bukan, bibi bukan.”
“Gw kan…”
“Ketua kelas? Anggota OSIS? Konselor Siswa? Ya gw tau. Bisa berhenti ganggu gw?” Tanya Liwa dengan ketus
“Bisa. Kalo lo berhenti sekolah seenak jidat lu.” Jawab ‘Mel’ tak kalah ketusnya.
“Gw sekolah bayar sendiri, bukan dibayarin lu. Ngapain lu ngatur-ngatur.”
“Sekolah juga punya aturan!”
“Yaudah sih, guru-guru aja biasa aja sama gw. Ngapain lu yang ngotot mulu? Perhatian lo sama gw? Naksir?”
“Sialan! Pede banget lu ya jadi orang.” Teriak ‘Mel’ sambil hendak meninju siswa berjaket hitam.
“Eiiit… Tahan Melody.” Lerai seorang siswa berkacamata. Tangannya menahan tangan ‘Melody’ “Udah ah, ribut mulu kalian.”
“Dia nya nih ngeselin.” Dengan emosi yang masih meluap Melody menunjuk pria berjaket hitam yang kini sudah memasang headsetnya kembali dan bersandar di tembok sambil memejamkan mata seolah tidak terjadi apapun.
“Kaya gak tau Liwa aja lu sih.” Yang dimaksud ‘Liwa’ adalah siswa berjaket hitam tadi.
Melody akhirnya menenangkan diri dan kembali duduk di tempatnya. Siswa yang tadi melerai mereka duduk di samping Liwa.
“Liwa Liwa… Saat siswa lain berlomba-lomba rebutan perhatian Melody, lu malah cuek gitu aja.”
“Lu ngomong apa, Mar?” Liwa melepas headsetnya sebelah untuk mendengar apa yang dikatakan teman sebangkunya.
“Gak.” Jawabnya dengan cuek
“Ck.” Liwa pun kembali memasang headsetnya.
Bel pelajaran pertama berdering. Seorang guru laki-laki berperawakan tinggi dan berambut panjang masuk ke kelas. Setelah berdo’a, pelajaran Sejarah pun dimulai.
Di jam pelajaran berikutnya, pelajaran B. Indonesia, seluruh siswa dikelas XI IIS-2 tampak khusyuk membuat contoh teks eksplanasi, tugas yang diberi oleh guru Mapel tersebut. Kecuali Liwa. Dia tidak ada di kelas. Dia sekarang sedang berhadapan dengan guru BK.
“Kamu ini sering banget bolos Liwa, Khususnya pelajaran Matematika. Apa kamu ada masalah sama pelajaran itu?” Tanya sang guru BK dengan ramah, beda dengan gambaran guru BK pada sekolah-sekolah lain.
“Iya pak, gurunya bikin jengkel, sok tau, seenaknya sendiri, gitu deh. Saya saranin pecat aja deh pak guru itu. Gak kompeten, neranginnya gak jelas, ngasih soal salah, ngoreksi salah, tapi gak mau disalahin dan ngerasa paling bener.”
Sang Guru BK hanya tertawa mendengar muridnya tersebut. “Kok kamu nilai matematikanya bisa bagus kalau gurunya kaya gitu?”
“Ya jadinya saya belajar sendiri di rumah pak.”
Guru BK tersenyum “Liwa, Bapak tahu kalau kamu ini siswa yang cerdas, tapi kamu harus tetap menghormati gurumu bagaimanapun itu. Kalau kamu ada keluhan, tolong bicarakan baik-baik dengan gurunya. Dan kamu juga lupa satu hal yang penting yaitu kedisiplinan. Bapak tahu kamu sering terlambat, sering tidur di kelas, bajunya gak rapih, rambut juga. Bapak harap kamu bisa perbaiki itu semua ya.”
“Iya pak.” Liwa mengangguk
Setelah itu Guru BK mempersilahkan Liwa kembali ke kelasnya.
Liwa berjalan di koridor sekolah, beberapa siswa tampak sudah keluar dari kelasnya. Ditengah perjalanan menuju ke kelasnya, ia melihat seorang siswi berkacamata sedang dibully oleh tiga orang siswi lain.
“HEH CEWE CULUN! BERANI-BERANINYA YA LU DEKETIN COWO GW!” Bentak seorang siswi sambil menunjuk muka siswi berkacamata.
“Dasar cewe genit murahan!” Tambah seorang lagi berbicara dengan mendekatkan mulutnya ke muka siswi berkacamata
“Gak diajarin moral ya lu sama orangtua?!” Siswi yang lain bahkan menjambak rambut siswi berkacamata.
Siswi yang menjadi korban pembully-an mengaduh kesakitan.
“Aaaa…Aaa… Ampun Manda.” Rintihnya.
“Ampan-ampun-ampan-ampun. Dasar pelacur!” Siswi bernama Manda mengangkat tangannya, bersiap menampar pipi siswi berkacamata. Siswi berkacamata yang masih di jambak oleh teman Manda hanya bisa pasrah melihat itu.
Tiba-tiba pergelangan tangan Manda dicengkram oleh seseorang dengan cengkraman yang kuat sehingga Manda mengaduh. Teman-temannya yang lain berbalik dan melihat seorang siswa  berjaket hitam, dengan wajah cueknya menghempaskan tangan Manda.
Manda memegangi pergelangan tangannya sambil terus mengaduh.
“Siapa Lo?!” Teriak salah seorang teman Manda
“Gak penting.” Kata Liwa sambil memandang kearah lain.
“Berani-beraninya lo macem-macem sama kami.” Kata teman Manda yang lain.
“Ya beranilah.”
“Heh! Bilangin ke pacar lu ini, jangan suka deketin cowo orang!” Teriak Manda yang masih memegang pergelangan tangannya.
“Ya ya ya ya” Liwa membalas dengan malasnya.
“Awas aja lu, ya!” Ancam Manda.
Liwa memeperhatikan name tag ketiga siswi, “Amanda Dwi Arista, Ayu Safira Oktaviani, Chikita Ravenska Mamesah. Gw akan inget itu. Plus gw ingetin lu, jangan sekali-kali lagi lu gangguin dia. Dan yang terakhir…” Liwa lebih mencondongkan kepalanya ke arah tiga siswi itu. “Jangan bicara soal moral kalau lu sendiri gak punya Moral.”
Tiga siswi itu gemetar, mereka pun akhirnya pergi menjauh.
“M- makasih udah nolongin aku.” Kata siswi berkacamata.
“Iya. Dan jangan kege-eran atau apa, gw kebetulan lewat sini, gw gak suka aja sama pembully-an terhadap yang lemah. Jadi gw ngelakuin itu karena reflek, bukan apa-apa” Ucap Liwa tanpa menoleh ke arah siswi berkacamata.
“Iya.”
“Nama lu siapa?”
“E-eh anu, Viny.” Ucap Viny malu-malu.
“Kalau mereka ganggu lu lagi, ngomong aja eg w. Gw…..”
“Liwaul Hamd. XI IIS-2” Potong Viny.
Liwa pun melangkah pergi meninggalkan Viny. Sedangkan Viny terus melihat Liwa sampai hilang di belokan koridor sambil tersenyum.
Liwa melangkahkan kaki ke ruang kelasnya. Saat ia hendak masuk, ia hampir bertubrukan dengan Melody yang hendak keluar.
“Awas! Ngalangin lu.” Kata Melody ketus.
Liwa mengalah, ia memberikan jalan untuk Melody dan dua temannya lewat.
Setelah Melody dan dua temannya lewat, kini teman sebangku Liwa yang keluar.
“Udah istirahat, Mar?”
“Udah. Gimana kasus lu?”
“Ya gitu aja sih. Gw ke WC dulu ya, Mar, Mules.”
“Iya.”
Liwa pun melangkahkan kaki ke wc sekolah. Melody yang bersama temannya menoleh ke belakang, ia menatap Liwa dengan tatapan menyelidik.
“Pasti mau bolos lagi ni anak.Gw harus ikutin.” Batin Melody.
“Yona, Shania, gw ke wc dulu deh ya.” Ucap Melody sambil berjalan mengkikuti Liwa.
Liwa yang sedang berjalan ke arah wc sekolah merasa ada yang aneh, seperti ada yang mengikutinya. Ia menoleh kebelakang, namun ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Ia tak pikir panjang, ia masuk ke dalam ruangan WC laki-laki.
Melody lega karena hampir saja ketahuan, untung dia langsung masuk ke dalam kelas, entah kelas siapa itu. Ia memperhatikan Liwa yang masuk ke dalam ruang WC laki-laki.
“Pasti ada jalan rahasia disana. Apa gw masuk aja ya?” Batin Melody sambil melihat sekitar. “Bagus. Sepi.” Dia pun berjalan perlahan kemudian mengendap-endap masuk ke dalam ruang WC laki-laki.
Dia berjalan dengan perlahan dan hati-hati berusaha tidak membuat suara. Di dalam ada 6 kamar mandi yang berjajar. Melody menyelidik satu per satu kamar mandi itu, lima kamar mandi kosong, kini tersisa kamar mandi terakhir yang terletak di pojok. Pintu kamar mandi tertutup namun ada celah yang membuat Melody bisa melihat orang yang ada di dalamnya. Dan benar saja itu adalah Liwa.
Melody sebenarnya merasa tidak enak, sekarang ia seperti tukang intip. Namun perasaan itu ia buang jauh-jauh demi melihat bagaimana Liwa bisa bolos setiap hari dengan mudahnya. Padahal keamanan sekolah ini sangat ketat.
Liwa terlihat celingukan dan tampak memastikan apa ada orang di kamar mandi sebelah. Dia tidak sadar bahwa ada orang yang mengintipnya dari celah pintu.
Melody yang melihat itu tampak sangat girang.
“Akhirnya, bisa gw ungkap rahasia bagaimana Liwa bisa bolos setiap hari. Mampus lu besok-besok gak akan bisa seenaknya bolos.”
Liwa menyelidik sekitar sekali lagi kemudian menatap lurus ke depan, ia menarik nafas dan….
‘BOOFHH’
Melody kaget bukan main. Liwa tiba-tiba menghilang begitu saja, terlihat asap berwarna hitam muncul dan kemudian menghilang di tempat semula Liwa berada. Melody masih mematung beberapa saat memikirkan apa yang barusan terjadi sampai pintu ruang WC terlihat bergerak.
Melody baru ingat kalau dia ada di dalam kawasan khusus untuk pria. Dengan sigapnya ia berlari ke pintu ruang WC yang sudah terbuka sambil menundukan kepalanya berharap bisa menyembunyikan identiasnya. Karena berlari sambil menunduk ia menubruk orang yang baru saja membuka pintu ruang WC sehingga mereka berdua jatuh tersungkur. Tak sengaja ia bertatapan dengan orang yang ditubruknya.
“Melody? Ngapain lu…”
‘Plaaaaak!’ Perkataanya terpotong karena ditampar oleh Melody.
“E-eh, Sorry Marco, reflek! Sumpah! Pokoknya lu jangan bilang siapa-siapa ya!” Melody langsung bangkit dan berlari menjauh dari tempat itu.
Dan yang ditabrak Melody adalah teman sebangku Liwa yang bernama ‘Marco’, dia masih terduduk sambil memperhatikan Melody yang berlari.
“Kenapa lagi tuh orang?” Gumamnya sambil menggelengkan kepala.


Liwa duduk memandang pemandangan kota sore hari sambil menenggak kopi kaleng. Dari atas sini ia bisa melihat hiruk pikuk kota. Sebuah bangunan gedung yang tak rampung ini telah menjadi tempat nongkrongnya selama 5 bulan terakhir. Disinilah tempat dia berdiam diri setiap membolos sekolah.
Sebuah sofa, meja yang dipenuhi sampah dari makanan dan minuman yang dimakan Liwa, dan sedikit jauh dari situ, sebuah samsak tinju, menemani Liwa di tempat persembunyiannya ini.
Liwa melepas seragam sekolah yang ia kenakan, menyisakan kaos dalamnya. Tubuh kekarnya dapat terlihat dengan jelas. Liwa berjalan, mendekati samsak tinju kemudian memukul samsak itu pelan beberapa kali.  Liwa berdiri tepat dihadapan samsak itu, memasang kuda-kuda. Setelah menarik nafas, satu pukulan keras dari tangan kanan ia lancarkan, membuat samsak tinju bergoyang. Disusul pukulan tangan kirinya. Susul menyusul tinjuan keras ia lontarkan pada samsak itu.
Liwa memberi jeda pada pukulannya, menarik nafas dalam dan memperkuat kuda – kuda. Satu pukulan dari tangan kanan tertuju pada samsak itu, lebih keras dari pukulan yang lain. Samsak itu berayun kebelakang. ‘Boofh’ Liwa menghilang dan muncul melayang di sisi sebaliknya. Pukulan yang lebih kuat ia hantamkan pada samsak itu yang langsung berayun kencang bahkan sampai terlepas.
Liwa mendarat dan kemudian mendekati samsaknya. “Yah, copot lagi.”
‘Drrrrrrrttt Drrrrrrrrrrtttttt’ Ponsel Liwa yang diletakkan dia atas meja bergetar. Liwa segera berjalan mendekat dan mengambil HP nya. Dilihatnya panggilan masuk dari Anin, adiknya. Liwa mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo, Nin. Ada apa?”
“Kak, lagi dimana?”
“Emang kenapa?”
“Stok telor abis nih, kalau lewat minimarket nanti tolong beliin.”
“Oh, oke. Udah itu aja?”
“Iya kayanya. Yaudah ya. Dah.”
“Dah”
Panggilan pun terputus. Liwa segera mengambil seragamnya dan berjalan turun dari gedung itu menuju pagar yang tak bisa dilewati, ‘Booofh’ Liwa menghilang kemudian muncul di sisi lain dari pagar itu. Liwa kembali berjalan melewati gang-gang sempit yang sepi, 10 menit berjalan, ia sampai di belakang gedung sekolah. Liwa berdiri di hadapan tembok bagian luar WC sekolah. ‘Booofh’ Liwa kembali menghilang dan kini sudah muncul di dalam gedung sekolah, tepatnya di dalam WC.
Liwa berjalan di lorong sekolah yang sudah sepi. Liwa menuju ke kelasnya dan mengambil tas miliknya di meja paling pojok. Dahinya mengkerut ketika melihat secarik kertas yang tergeletak diatas tasnya itu. Belum sempat membaca, ia melihat sekeliling, ia merasa ada yang mengawasinya. Namun, ia tak menemukan apa-apa. ia segera mengalihkan kembali perhatiannya pada kertas yang ia temukan. Di kertas itu terdapat sebuah tulisan berbunyi “AWAS!!!” Liwa makin heran.
“Awas? Awas untuk apa?” Baru saja bergumam, tiba-tiba sebuah meja di kelas itu melayang dengan cepat kearah Liwa. ‘Booofh’ Liwa reflek menggunakan kekuatannya untuk menghilang dan muncul beberapa meter dari tempat ia berdiri semula. Ia dapat melihat meja yang tadi hendak mengenainya menghantam tembok dan hancur. Temboknya pun retak.
Liwa hendak melihat arah datangnya meja itu. Namun ketika baru menengok, dia kembali melihat sesuatu melayang kearahnya. Kini dua buah balok kayu disusul sebuah kursi dibelakangnya. Dengan sigap Liwa menangkis kedua balok kayu dengan tangannya dan menendang kursi itu sampai hancur. Liwa memasang kuda-kuda bersiap jika kembali ada serangan.
“WOOOIII!!! JANGAN JADI PENGECUT LU! MAJU SINI KALAU BERANI!!!” Teriak Liwa entah pada siapa.
Tak ada serangan lagi, Liwa berlari keluar kelas mencari pelaku penyerangan tersebut. Namun  tak ada satupun orang disana. Lorong-lorong ia susuri, melihat ke ruang kelas lain, dan tetap tak bisa menemukan siapapun.
Liwa segera mengambil kembali tasnya dan bergegas keluar sekolah lewat WC.


Liwa turun dari angkot dan berjalan menuju rumahnya. Sepanjang perjalanannya tadi, ia terus memikirkan penyerangan di sekolah. Siapa pelakunya dan apa motifnya menjadi pertanyaan besar. Pintu rumah ia buka dan langsung masuk kedalamnya.
“Eh Kakak, telornya beli gak?”
“Nih” Liwa menyerahkan sekantung plastik yang berisi telur. “Kakak, keatas dulu ya, Nin. Capek.”
“Gak makan dulu? Tumben.”
“Ntar aja deh.” Liwa menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua kemudian bergegas mandi.
Setelah beberapa menit di kamar mandi, ia kelua dan berpakaian kemudian menjatuhkan diri diatas kasur. Pikirannya masih memikirkan hal yang sama. Terus dipikirkan namun tak ada penjelasan. Akhirnya ia mencoba tidur, mengistirahatkan diri. Baru saja memejamkan mata. Anin memanggilnya dari bawah
“KAAAAAAAAAKKK!!! ADA TEMENNYA NYARIIN NIH!”
“Temen? Nyariin? Siapa ya?” Liwa membatin. Pasalnya dia tak memiliki teman dekat. Dan sekarang ada teman yang mencarinya. Hal yang sangat jarang.
Didorong rasa penasarannya, Liwa bangkit dan menuruni tangga, kemudian berjalan ke ruang tamu. Terlihat seorang gadis sedang duduk disana.
“Melody?!” Liwa tampak kaget “Ngapain lu kesini?”
“Sama tamu gak sopan amat lu.” Ucap Melody “Ada yang mau gua omongin sama lu. Penting!”
“Gak cukup apa lu ceramahin gue di sekolah sampai harus ke rumah gue segala. Udah mending lu pulang. Gue capek mau istirahat.”
Liwa pun berbalik, menghiraukan Melody. Saat ia hendak berjalan kembali ke kamarnya, Melody menarik tangan Liwa kemudian mendekat dan berbisik
“Lu bisa ngilang kan?”

Click to comment