Type something and hit enter

author photo
Posted by On

S.H.A.N.I, Part 1

Cerita ini hanyalah fiktif belaka.

****
Tahun 2094, Indonesia menjadi negeri adidaya terkuat setelah Amerika Serikat. Hal itu dikarenakan perkembangan teknologi super canggih yang dikembangkan Presiden Alexander Gio Gunawan dengan bantuan dari beberapa negara. Namun, banyaknya anak muda bumi pertiwi yang kreatif dan lihai dalam teknologi, membuat Indonesia sedikit lebih unggul dibanding negara lainnya. Teknologi berupa memperbanyak keturunan dengan cara mudah, atau biasa disebut kloning. Lalu, teknologi cyborg, atau teknik menggabungkan beberapa komponen robotik ke dalam tubuh manusia. Kemudian, memproduksi berbagai macam robot untuk kebutuhan manusia, termasuk di bidang militer. Hingga dilakukan percobaan pembuatan mesin waktu. Dengan semua itu, tak heran negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa ini kehidupannya sudah sangat melebihi kata modern.
Jakarta tidak lagi berperan sebagai ibukota negara. Melihat kemajuan teknologi yang sangat pesat, akhirnya pemerintah memperluas dua wilayah provinsi di pulau Jawa sebagai basis perkotaan sekaligus ibukota terbesar di dunia. Dan, kota itu diberi nama Megapholis. Dua provinsi di Jawa yang terpilih adalah Jawa Barat dan Banten. Tak mengherankan, dua provinsi itu dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan tingkat pemanasan global yang cukup tinggi. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan jarang ada yang tumbuh di sini. Orang-orang sudah membabat habis hutan atas perintah Presiden Gio.
            Lalu, bagaimana dengan provinsi lainnya? Tentu saja sama halnya dengan kota Megapholis. Yang membuatnya berbeda adalah gedung-gedung pencakar langit tidak begitu banyak, malahan area hijau beberapa masih bisa dirasakan sehingga udara di luar kota Megapholis masih terasa sejuk. Lalu untuk urusan teknologi, provinsi-provinsi di luar Megapholis tidak mengembangkan teknologi yang sama dengan kota tersebut. Hanya mengembangkan teknologi berbasis virtual saja. Meski begitu, tetap saja Presiden Gio mengawasi perkembangan teknologi setiap daerahnya.
            Seperti saat ini, tepat di sebuah gedung pencakar langit. SHAN TECHNO INDUSTRIES. Sebuah gedung tempat dilakukannya berbagai percobaan teknologi. Kloning, cyborg, robot, hingga mesin waktu terdapat di sini. Industri yang dibangun oleh Presiden Gio demi menyejahterakan warganya sekaligus basis bisnis dan pertahanan terbesar di dunia. Hasil dari perusahaan tersebut telah membawa dampak baik bagi warganya. Masyarakat menjadi mudah dalam beraktivitas dan bekerja. Taraf hidup masyarakat pun semakin naik.
            “Bagaimana hasil perkembangan manusia cyborg yang sedang kalian uji?”
            Presiden Gio berada di satu ruangan di gedung itu. Sekeliling ruangan dilapisi dinding-dinding kaca sehingga ia bisa melihat percobaan lainnya yang sedang dilakukan para ilmuan di industri tersebut. Ranjang besar berada di tengah ruangan dengan seorang gadis berambut panjang terbaring di atasnya. Beberapa ilmuan mengenakan jas putih tampak bertekur dengan komputer dan mesin-mesin di ruangan itu.
            “Kondisinya sangat stabil, Pak.” Seorang ilmuan pria sedang memeriksa pergelangan kiri gadis itu menggunakan alat scan. Lengan kiri gadis itu tidak seperti kebanyakan manusia, melainkan lengan kirinya terbuat dari komponen-komponen robot.
            “Juga jantung robotik yang ada dalam tubuhnya sangat stabil. Percobaannya berhasil.” Salah seorang ilmuan wanita berkacamata dan rambutnya diikat kuncir kuda ikut menjawab pertanyaan Presiden Gio.
            Presiden Gio tersenyum. Menopang dagu menggunakan tangan kanannya, kemudian dielusnya perlahan. “Kalau begitu, dia sudah bisa dipasarkan. Aku sudah tidak sabar, mengingat banyak sekali client yang ingin memiliki gadis itu. Keuntungan kita akan melimpah dan perusahaan ini akan semakin maju saja.”
            “Umm... k-kalau itu...” Ilmuan wanita berkacamata tadi tampak ragu dengan penuturan Presiden Gio.
            “Ada apa, Jennifer?” tanya Presiden Gio, memandang skeptis ilmuan wanita itu. “Apakah ada masalah?”
            “T-tidak, Pak,” jawab Jennifer seraya memegang erat lengan kanan gadis itu. “Saya tidak yakin kalau apa yang Bapak katakan itu akan berjalan lancar.”
            Presiden Gio mengernyitkan dahi. “Kenapa bisa begitu?”
            “S-soalnya itu...”
            “Gadis ini adalah anak kami, Pak.” Ilmuan pria yang sedari tadi memeriksa lengan gadis itu segera memotong pembicaraan Jennifer.
            “Albert...”
            Mendengarnya, membuat Presiden Gio menepuk keningnya. Ia tertawa hiperbolis. “Ah, iya, aku baru ingat kalau gadis itu adalah anak kalian.” Presiden Gio berkacak pinggang seperti pose seorang superhero. “Tapi, bukannya gadis itu bukanlah anak kandung kalian, melainkan anak yang kalian ambil dari jalanan sejak ia masih bayi?”
            Albert dan Jennifer tercekat. “Meski dia bukan darah daging kami, tapi kami membesarkannya seperti anak kami sendiri,” jawab Albert.
            “Lalu, kenapa kalian melakukan percobaan cyborg ini kepada anakmu sendiri?”
            “I-itu...”
            “Ayah, Ibu.”
            Gadis yang berbaring di atas ranjang tiba-tiba saja bersuara, memanggil Albert dan Jennifer yang notabene adalah orang tuanya. Badannya ditegakkan sehingga ia bisa melihat raut wajah ayah dan ibunya menunjukkan kecemasan. Pandangannya kemudian beralih ke Presiden Gio yang tersenyum memandangnya.
            “Shani, jangan banyak bergerak dulu, Nak,” ujar Jennifer seraya menuntun Shani kembali rebahan.
            “Ibu, apa Presiden Gio mau mencoba mengambilku lagi?”
            Jennifer sedikit tersentak mendengar pertanyaan Shani yang terang-terangan. Ia paham betul bahwa Shani sangat diinginkan oleh Presiden Gio, bahkan banyak orang, lantaran Shani merupakan salah satu percobaan tersukses yang pernah dialami oleh industri ini. Namun, tetap saja sebagai orang tua—meski bukan orang tua kandung—pasti tidak menginginkan anaknya diambil orang lain dengan tujuan tertentu. Alih-alih Jennifer membungkukkan badan dan berbisik di telinga Shani.
            “Ibu nggak akan ngebiarin kamu diambil orang lain. Sebisa mungkin Ibu dan Ayah akan melindungimu. Jangan khawatir.”
            Shani merasa lega mendengar perkataan ibunya. Ia mengangguk, menanggapi ucapan ibunya yang membuatnya merasa tenang. Menoleh ke kiri, kini dilihatnya sang ayah sedang berdebat serius dengan Presiden Gio perihal Shani.
            “Saya tidak setuju jika Shani harus diperjualbelikan kepada client-client Anda. Itu sama saja saya mencampakkan anak saya, Pak.” Albert berdebat dengan Presiden Gio. Nada bicaranya naik satu oktaf, pertanda kalau emosinya tidak bisa dibendung lagi.
            “Di era yang jauh melebihi kata modern ini, banyak manusia mencampakkan orang lain bahkan dirinya sendiri,” ucap Presiden Gio tenang, namun aura kekesalan tampak di wajahnya. Itu terlihat dari urat-urat pada keningnya mencuat. “Lihatlah. Kita sudah banyak menciptakan hal-hal baru yang jauh melebihi batas. Negeri kita bahkan menjadi salah satu negeri adidaya terkuat di dunia. Inilah kesuksesan yang sudah kita raih, Albert.”
            Albert menggeleng. “Kesuksesan yang didapat hanya untuk kepentingan Anda sendiri.”
            “Kau yakin?” Presiden Gio menaikkan sebelah alisnya. “Lalu, kau anggap apa mereka yang sudah memanfaatkan hasil-hasil percobaan kita dengan baik?”
            “I-itu...”
            Belum sempat Albert menjawab, angin kencang berhembus menyeruak ke seluruh ruangan dan beberapa area dalam gedung industri tersebut. Benda apapun yang berada di sana beterbangan saat angin itu berhembus. Presiden Gio, Albert, Jennifer, berserta para ilmuan dalam ruangan tentu saja terkejut. Sementara Shani sudah memosisikan dirinya duduk di tepi ranjang. Ia merasakan hembusan angin itu, tapi ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
            “Apa yang terjadi?!” teriak Presiden Gio pada beberapa ilmuan yang berada di samping ruangan yang sedang ia tempati.
            “Ada kesalahan saat kami menguji mesin waktu yang sedang kami buat, Pak,” jawab salah satu ilmuan, panik. “Tiba-tiba saja muncul gerbang waktu sangat besar yang mengakibatkan timbulnya hembusan angin kencang.”
            Benar saja yang dikatakan ilmuan itu, gerbang waktu besar berwarna hitam dengan pusaran seperti awan berwarna putih tampak jelas di depan mata saat Presiden Gio dan Albert menghampirinya. Para ilmuan kewalahan menangani gerbang waktu tersebut.
            “Cepat hentikan gerbang waktunya! Bisa gawat kalau gerbangnya terus terbuka!” perintah Presiden Gio.
            “Sedang kami usahakan, Pak!” balas ilmuan itu panik. Ia tengah mengutak-atik komputernya, mencoba mencari jalan keluar. “Bagaimana ini?!”
            “Saya tahu bagaimana cara menghentikannya!” teriak salah seorang ilmuan lainnya. Ia juga sedang bertekur dengan komputernya. “Kita harus meminta bantuan pada seseorang dari masa lalu. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi dia sangat paham dengan distorsi ruang dan waktu.”
            Gerbang waktu itu semakin menghitam. Kali ini diikuti oleh cahaya-cahaya kilat menyambar ke segala penjuru ruangan itu. Presiden Gio, Albert, dan para ilmuan lainnya berusaha menghindari kilat-kilat tersebut yang bisa saja menyambar mereka.
            “Bagaimana kau bisa tahu?” Albert mulai bertanya pada ilmuan itu.
            “Saya mendapatkan informasinya dari sini.” Ilmuan itu menunjukkan layar monitornya yang memperlihatkan seseorang lengkap dengan riwayat hidupnya. “Ini saya dapatkan dari internet. Orang ini adalah seorang penulis fiksi ilmiah, tapi dia paham tentang ruang dan waktu. Terdengar tidak masuk akal, tapi siapa tahu saja itu benar. Kita tidak punya pilihan lain.”
            “Lalu, di tahun berapa orang itu tinggal?”
            Ilmuan itu menunjuk layar monitor pada Albert yang memperlihatkan tahun dimana orang itu tinggal. Lantas, Albert bergegas menuju Jennifer dan Shani yang sedang memeluk satu sama lain karena ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi. Dipandangnya sejenak wajah istrinya itu. Kemudian, ia mengecup kening istrinya.
            “Ini kesempatan bagi kita. Shani tidak boleh sampai jatuh ke tangan Presiden Gio.”
            “Bagaimana caranya?”
            “Kirim Shani ke masa lalu, ke tempat dimana orang yang paham tentang ruang dan waktu itu tinggal.”
            “Hah?!” Jennifer terkejut mendengar penjelasan suaminya. “Kenapa harus dikirim ke sana? Bagaimana caranya ke sana?”
            “Gerbang waktu besar itulah jalan satu-satunya, Jen. Perusahaan ini baru mengembangkan satu mesin waktu saja. Kita tidak punya pilihan lain lagi.”
            Jennifer semakin mempererat pelukannya pada Shani. Ia melihat putrinya yang sedang memandangnya. Ia tak kuasa kalau harus melihat putrinya pergi. Lantas, ia memegang erat kedua tangan suaminya.
            “Kalau Shani tidak kembali bagaimana, Albert? Aku takut Shani tidak kembali ke sini lagi,” ujar Jennifer, merasa khawatir. Air matanya mulai terurai.
            “Tenang saja. Aku akan sedikit memprogram Shani terlebih dahulu. Dia pasti akan kembali bersama orang itu.”
            “Aku harap kau benar.”
            Albert tersenyum. Dilihatnya sejenak Shani yang kini menatap padanya. Ia merasakan perasaan yang sama dengan istrinya, sama-sama tidak ingin kehilangan putri semata wayangnya. Meski mereka bukanlah orang tua kandung Shani, tapi mereka sangat menyayanginya layaknya anak mereka sendiri. Direngkuhnya tubuh Shani dalam pelukan. Mengusap lembut punggung yang ditutupi rambut panjangnya. Kemudian, ia mengecup pucuk kepala Shani yang harum beraroma stroberi.
            “Shani, dengerin Ayah, ya,” ujarnya seraya melepas pelukannya. Dipegangnya kedua bahu anaknya itu. “Nanti Shani jaga diri baik-baik, ya. Shani anaknya kuat. Ayah yakin Shani pasti bisa.”
            Shani memandang polos wajah ayahnya itu. Meski umur Shani menginjak sembilan belas tahun, namun ia tidak mengerti dengan maksud perkataan ayahnya itu. Kemudian, Shani mulai membuka suaranya. “Emang Shani mau kemana, Yah? Shani mau pergi, ya?”
            Sudut mata Albert berair dan hendak keluar dari peraduannya, namun ia berusaha menahannya untuk tidak keluar. “Bukan pergi, Sayang,” diusapnya rambut panjang anaknya sejenak, “...tapi melihat dunia luar yang jauh lebih indah dibandingkan di sini.”
            “Ayah sama Ibu ikut?”
            Albert dan Jennifer tidak menjawab. Alih-alih Albert membuka bagian rongga di lengan cyborg kiri anaknya. Diambilnya obeng kecil, lalu dia mulai mengutak-atik bagian tersebut. Hal itu membuat Shani menegakkan badan, pandangannya langsung lurus ke depan. Setelah bagian tersebut diutak-atiknya, Albert kembali menutup bagian tersebut. Lalu, membisikkan sesuatu ke telinga Shani.
            “Kamu mengerti kan, Sayang?” tanya Albert setelah membisikkan sesuatu ke telinga Shani.
            “Iya, Ayah.”
            “Jen, bawa Shani mendekat ke arah gerbang waktu itu. Aku akan mengalihkan perhatian Presiden Gio!” titah Albert kepada istrinya. Jennifer mengangguk.
            Albert pun bergegas menuju Presiden Gio dan beberapa ilmuan lainnya yang kini masih berusaha menghentikan gerbang waktu tersebut. Albert lalu berbicara ke salah satu ilmuan itu. “Kau bilang kalau orang yang paham ruang dan waktu itu ada di tahun yang berbeda, itu berarti harus ada orang yang ke sana untuk menjemput orang itu.”
            “Ya, kau benar. Tapi siapa?”
            Semua orang yang ada di situ saling bersipandang. Mereka tak menyadari—kecuali Albert—bahwa Jennifer sedang menuntun Shani ke gerbang waktu itu. Tanpa menunggu basa-basi apa pun lagi, Shani melompat masuk ke dalam gerbang waktu tersebut. Sialnya, Presiden Gio tak sengaja melihatnya. Alih-alih ia langsung berteriak.
            “Hei! Anakmu itu kenapa masuk ke dalam sana?! Dia tak boleh pergi dari sini!”
            Presiden Gio hendak berlari menyusul Shani yang sudah masuk ke dalam gerbang waktu. Namun terlambat baginya, sesaat Shani telah memasuki gerbang waktu itu, tiba-tiba saja gerbang itu menutup dan menghilang. Melihatnya, bukan main Presiden Gio betapa kesalnya. Hasil percobaan yang akan ia berikan kepada para client hilang begitu saja.
****
Ditulis oleh Martinus Aryo.


Click to comment