Type something and hit enter

author photo
Posted by On


S.H.A.N.I, Part 2

Tujuhpuluh enam tahun sebelum Indonesia menjadi negeri adidaya terkuat, kondisi Tanah Air belum semodern dan secanggih tahun 2094. Teknologi canggih seperti kloning hingga mesin waktu tidak telihat di sini. Hanya saja perkembangan gadget secara terus-menerus membuat masyarakatnya semakin bergantung dengan teknologi tersebut, terutama smartphone. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat negeri ini akan jadi salah satu negeri adidaya terkuat.
            Seiring berkembangnya teknologi, pasti juga menghasilkan peluang kerja yang banyak dan menggiurkan. Ini sudah menjadi kewajiban setiap manusia. Tanpa bekerja, manusia tidak akan bisa bertahan. Namun, bukan berarti dalam mencari pekerjaan—apalagi yang sesuai dengan bidang—merupakan perkara mudah. Seperti yang sedang dialami oleh pemuda berusia duapuluh satu tahun ini.
            “Jadi, apa saya diterima kerja di sini, Pak?”
            “Melihat dari dokumen yang kamu miliki, ijazah, dan lainnya, maaf... saya tidak bisa menerima Anda bekerja di sini.”
            “Memangnya kenapa, Pak?”
            “Pekerjaan ini cukup berat, dan saya rasa Anda tidak cocok dengan pekerjaan ini.”
            “Tolonglah saya, Pak. Saya sudah mengajukan banyak lamaran tapi ditolak terus.”
            “Tetap tidak bisa. Anda mau seharian bekerja menggunakan rok mini? Enggak, kan.”
            “Enggak, Pak.”
            “Nah, makanya.”
            Ya, tidak heran mengapa lamaran kerjanya ditolak. Itu karena pemuda tersebut melamar ke sebuah perusahaan pembalut di Bandung tanpa memperhatikan detail tertulis dari iklan lowongan kerja. Di iklan tersebut sudah tertulis jelas bahwa perusahaan itu hanya membutuhkan SPG (Sales Promotion Girl). Parahnya, pemuda itu langsung main melamar saja tanpa menimbang terlebih dahulu. Sungguh logic sekali pemuda itu.
            Meski mendapat penolakan, pemuda itu tidak mau menyerah. Ia melamar kerja ke tempat lain sampai benar-benar mendapatkan pekerjaan. Ia pun mencoba peruntungannya di sebuah hotel di pusat kota Bandung. Dengan kemeja rapi dan celana kain hitam, serta rambut acak-acakan yang disisir rapi, ia pun melangkah memasuki hotel. Ia begitu siap menghadapi peruntungannya.
            Namun, baru saja hendak memasuki pintu masuk hotel, ia dikagetkan dengan banyaknya orang dari dalam hotel berbondong-bondong keluar, terlebih lagi ada beberapa orang berseragam polisi. Polisi-polisi itu memboyong beberapa orang pria dan wanita dari dalam hotel, yang membuatnya sedikit janggal adalah para wanita yang diboyong itu berpakaian minim. Alhasil, pemuda itu mengernyitkan dahi melihatnya.
            “Mbak, ini ada apa ya, kok orang-orangnya pada dibawa polisi?” tanya pemuda itu pada resepsionis hotel.
            “Oh, mereka kena razia, Mas,” jawab resepsionis itu sambil tersenyum.
            “Razia apa, Mbak?”
            “Razia karena mereka sedang melakukan hubungan badan di kamar-kamar hotel ini, Mas.”
            “Kok bisa gitu, Mbak?” Sebelah alis pemuda itu terangkat.
            “Ya, bisa lah, Mas. Ini kan hotel cinta.” Resepsionis itu mengedip-ngedipkan kedua matanya. Kemudian, dikulumnya jari telunjuk kanannya seraya menatap pemuda itu. “Kenapa memangnya, Mas? Masnya mau kena razia juga? Kalau mau, saya bisa kok milihin kamarnya buat Mas.” Resepsionis itu menopang dagu di atas meja menggunakan kedua tangannya. Tatapannya sangat genit pada pemuda itu. “Gimana, Mas? Mau nggak mumpung saya masih sendiri?”
            Pemuda itu bergidik. Ia tak menyangka bahwa hotel yang ia tuju untuk melamar kerja adalah hotel cinta. Kalau ibarat bahasa kasarnya, yaitu hotel mesum/prostitusi. “Hehehe. Enggak deh, Mbak. Saya pergi aja.”
            “Loh nggak jadi, nih? Yah... sayang banget.”
            Tak mau berlama-lama, pemuda itu pun berlari meninggalkan resepsionis itu, tak memperdulikan tatapan-tatapan heran dari setiap polisi dan orang-orang yang menatapnya. Diambilnya motor butut miliknya yang terparkir dan melaju meninggalkan hotel. Sepanjang perjalanan ia terus menggerutu perihal hotel cinta tersebut, terlebih lagi ia baru pertama kali ke tempat seperti itu.
            “Haduh, Mak, sungguh malang sekali nasib anakmu ini.”
            Pemuda itu masih belum menyerah demi mendapatkan pekerjaan. Ia melajukan motornya menembus jalan raya yang sedikit macet hingga akhirnya sampai di sebuah mall ternama di Bandung, Trans Studio Mall. Motor ia parkirkan di basement dan masuk ke dalam mall dengan amplop berisikan dokumen lamaran kerja. Sesaat ia pun sudah sampai di bagian HRD mall tersebut dan mulai melakukan wawancara.
            “Jadi, apa saya diterima kerja di sini, Pak?”
            “Hmm, mohon maaf karena kami sedang tidak mencari karyawan baru,” jawab sang HRD mall dengan mimik wajah serius.
            “Kok gitu sih, Pak? Kalau begitu mah nggak usah diwawancara.” Pemuda itu sedikit protes pada si HRD tersebut.
            “Hehehe. Maaf, saya lupa kalau kalau mall ini sedang tidak mencari karyawan baru.”
            “Hadeuh.” Pemuda itu mengurut-urut keningnya seraya menggelengkan kepala.
            Lagi-lagi penolakan. Entah mengapa hari ini jadi hari kurang beruntung baginya. Bukannya mendapat pekerjaan, tapi hasilnya nol. Dia sudah kebingungan untuk mencari pekerjaan kemana lagi. Alhasil, ia pun pergi meninggalkan mall tersebut, tanpa arah tujuan yang jelas.
            Tanpa terasa senja mulai datang, dan pemuda itu masih berkutat dengan jalan raya yang terlihat ramai akibat para manusia yang telah menyelesaikan aktivitasnya. Laju motor bututnya membawa pemuda itu ke sebuah taman yang berada di tengah kota dan terdapat gedung pemerintahan milik wali kota Bandung. Pemuda itu memarkirkan motornya di area parkir, lalu masuk ke area taman yang terdapat patung badak. Banyak pengunjung dan penjual dagangan berhamburan di sana. Mereka tampak sedang bermain atau hanya sekadar duduk-duduk saja.
            Pemuda itu menghampiri tepian kolam yang di pinggirannya terdapat patung badak. Ia duduk di tepi kolam itu seraya menatap para pengunjung taman ini. Dihelanya napas panjang, menyelonjorkan kedua kakinya, dan menatap langit jingga di atas sana. Seakan senja tahu betapa malangnya nasib pemuda itu hari ini. Pandangannya beralih ke sekumpulan anak kecil yang sedang bermain pesawat-pesawatan di dekat area gembok cinta. Alih-alih pemuda itu pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Buku catatan kecil dan satu pena. Torehan tinta pada pena tersebut mulai tertuang di atas lembar kertas buku, menuangkan imajinasinya membentuk rangkaian cerita fiksi ilmiah.
            “Alkisah, di sebuah kerajaan bernama Sandekala, hiduplah seorang pemuda yang sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya. Ia tampak kesusahan dalam mencari pekerjaan. Berbagai tempat usaha di kerajaan itu sudah ia sambangi, namun hasilnya tidak satu pekerjaan pun yang ia dapat, walaupun jadi tukang bersih-bersih sekalipun. Ia frustasi dan tidak tahu harus bagaimana. Ia pun duduk di bangku taman kerajaan, menatap langit jingga dengan gumpalan awan-awan putih. Tiba-tiba saja muncul seorang peri cantik di samping kanannya. Peri cantik itu tersenyum dan meminta pemuda itu mengajukan tiga permintaan, maka ia akan mengabulkannya. Pemuda itu terkejut, kemudian...”
            “Sebentar,” sanggah pemuda itu, menghentikan aktivitas menulisnya, “Lah, kenapa gue bikin cerita fantasy, gue kan mau bikin cerita fiksi ilmiah?” Ditepuknya kening pemuda itu menggunakan penanya. “Ah, gara-gara hari ini nih, otak gue jadi geser dikit.”
            Alhasil, pemuda itu menutup buku catatannya, kembali menatap langit senja yang semakin meredup, pertanda malam sebentar lagi akan tiba. Meski begitu, taman ini masih ramai saja. Dihela napas panjang, ia sedikit merasakan getaran pada saku celana disertai bunyi nada dering. Bunyi dan getaran itu membuatnya untuk mengambil benda dari dalam sakunya itu. Dilihatnya layar pada smartphone-nya yang menampilkan satu nama. Lantas, pemuda itu menjawab panggilan itu.
            “Halo,” sapa pemuda itu.
            “Hai, Rio,” balas suara seorang wanita dari seberang panggilan sana.
            “Kenapa, Yona?”
            “Gimana, udah dapat kerjaan?”
            Pemuda itu menghela napas pendek. Pandangannya kembali dialihkan ke area taman. “Gimana mau dapat, ditolak terus. Malang sekali nasibku hari ini, Yon.”
            “Sabar. Kan nyari kerjaan itu nggak gampang. Kalau kamu terus berusaha pasti dapat.”
            “Iya, Yon.”
            “Kenapa kamu nggak nyoba ngelamar kerja ke tempat kerja Papa aku aja. Lumayan lho, daripada kamu luntang-lantung terus nyari kerja.”
            Rio memutar kedua bola matanya, disusul dengan hembusan kasar napasnya. “Hah... kamu tahu sendiri kan, kalau aku ngelamar kerja ke sana pasti ijazahku bakal ditahannya. Mana mau aku kalau sampai begitu.”
            “Iya juga sih. Pasti bakal sulit lagi ke depannya. Terus sekarang kamu dimana? Lagi ngapain?”
            “Di Taman Balai Kota lagi nulis.”
            “Oh. Tapi aku salut sama kamu, walau masih susah nyari kerja tapi duit cair terus. Tuh, buktinya cerpen-cerpen sama puisi kamu dimuat di media cetak. Belum lagi lukisan kamu banyak yang beli.”
            Rio terkekeh. “Ya. Tapi kalau tetap di situ-situ terus pasti nggak enak juga, aku perlu kerjaan lain buat tambah-tambah.”
            “Hahaha. Iya-iya. Perlu aku temenin di sana?”
            “Hehehe.” Rio cengengesan. “Nggak usah, Yon. Aku bentar lagi balik ke kosan, kok.”
            “Hmm, oke deh. Hati-hati di jalan, ya.”
            “Iya.”
            Sambungan telepon pun terputus. Rio memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Dipandangnya kembali langit yang sudah gelap. Ia sadar bahwa perutnya belum terisi sejak tadi siang. Ia pun memasukkan kembali buku catatan dan penanya ke dalam tas, beranjak untuk mencari penjual dagangan makanan di taman ini. Pandangannya tertuju pada satu pedagang bakso chuanki yang sedang duduk di bawah pohon beringin. Dihampirinya pedagang bakso tersebut.
            “Bang, chuankinya satu pake mie, ya.”
            “Oke.” Pedagang bakso chuanki mengacungkan kedua jempolnya.
            Rio pun duduk di bawan pohon beringin sambil menunggu pesanannya datang. Tak butuh waktu lama pesanannya pun telah datang. Rio langsung melahap mangkok berisi bakso chuanki tersebut. Setiap suapan sendok chuanki yang masuk ke dalam mulutnya membuat tubuhnya terasa hangat di kala hawa dingin menerpa kulitnya.
            “Mas, makannya jangan jauh-jauh, sini di dekat saya aja.” Pedagang bakso chuanki itu tiba-tiba saja berbicara kepada Rio. Nada bicaranya dibuat cempreng layaknya wanita, namun itu justru terdengar seperti suara banci.
            Melihat dan mendengar pedagang bakso chuanki itu, membuat Rio tersedak. Terlebih lagi pedagang bakso chuanki itu menatap padanya dengan pandangan mesum. Rio bergidik melihatnya. Nafsu makannya seketika hilang.
            “Sini dong, Mas,” lanjut pedagang bakso chuanki itu. Kali ini disertai lambaian gemulai tangannya.
            Rio semakin bergidik. Sebelum hal yang tak diinginkan menimpa dirinya, ia meletakkan mangkok baksonya di atas tanah. Kemudian, dia mengambil langkah seribu meninggalkan pedagang bakso chuanki itu.
            “Lho, Mas! Mas mau kemana? Masnya belum bayar!” teriak pedagang bakso chuanki saat melihat Rio sudah semakin jauh jaraknya.
            “Duitnya di bawah mangkok, Mbak! Eh, bang maksudnya!” balas Rio yang jaraknya sudah semakin menjauh.
            “Ckckck. Dasar, anak muda.”
            Langkah Rio terhenti di parkiran taman. Ia mengatur napasnya terengah-engah mengingat pedagang bakso chuanki itu akan mengejarnya, tapi ternyata tidak. Sungguh malang nasibnya hari ini, sudah sulit sekali mendapatkan pekerjaan, ditambah lagi tingkah pedagang bakso chuanki yang seperti banci. Entah kesialan apalagi yang akan menimpanya nanti, yang jelas ia sudah lelah dan hendak pulang ke kosannya.
            Melangkah gontai menuju motor bututnya yang terparkir, membawa serta merta beban kesialan di punggungnya. Ia terhuyung seperti pemabuk. Rasa lelah benar-benar menyiksa dirinya. Ia terus berjalan semakin terhuyung tatkala dirasakannya getaran-getaran yang mengguncang tanah parkiran taman itu. Langkahnya terhenti.
            “Gempa?”
            Memang getaran-getaran tersebut dirasakan seperti gempa kecil, tapi dugaannya salah.
Dari tempatnya berdiri, muncul kilat-kilat kecil menyambar ke area parkiran taman. Rio terperanjat karena kilat itu muncul tiba-tiba. Seiring kemunculan kilat-kilat tersebut, dari arah samping kanannya muncul lubang hitam kecil. Lubang tersebut kian lama kian membesar diikuti sambaran kilat putih mengelilingi lubang itu. Rio menghindar dari setiap sambaran kilat, berusaha agar kilat itu tidak menyambar dirinya. Kedua matanya membelalak. Mulutnya menganga lebar, tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
            “I-ini kan...” Lubang hitam itu pun semakin besar, disertai gumpalan awan-awan putih di dalamnya. “Mustahil. Gerbang waktu!”
            Lututnya melemas. Ia jatuh terduduk melihat gerbang waktu yang mustahil terjadi di masa sekarang. Pikirannya berkecamuk ke satu pertanyaan, bagaimana gerbang waktu bisa muncul, itu merupakan hal paling mustahil di dunia ini?
            Rio semakin tercengang tatkala melihat seorang gadis muncul dari gerbang waktu tersebut. Gadis itu berjalan pelan keluar dari gerbang waktu itu. Dia memakai dress sebatas lutut berwarna putih. Rambutnya panjang tergerai hingga punggung. Wajahnya terlihat sangat cantik dan manis. Namun yang sedikit mengganjal adalah tangan kirinya berbeda dari tangan manusia biasanya. Pandangannya ditolengkan ke segala arah, melihat dunia baru yang baru saja ia jajaki. Gerbang waktu di belakangnya pun menghilang. Pandangan gadis itu beralih pada Rio, menunjukkan senyum yang menciptakan lesung pipi.
            “Hai,” sapa gadis itu ramah. Senyum di bibirnya masih mengembang.
            Rio terdiam. Mulutnya menganga tak percaya melihatnya. Ada gadis cantik yang keluar dari gerbang waktu?! Ia masih terduduk. Gadis itu menatap heran pemuda di depannya, namun senyum masih merekah di bibirnya.
            “Hai,” gadis itu kembali menyapa. Kali ini disertai uluran tangan kanan, hendak bersalaman.
            Rio masih diam tak bergerak. Ia tak percaya dengan yang dilihatnya. Tangan kanannya terangkat hendak bersalaman dengan gadis itu. Namun, tubuhnya seakan menolak menerima ajakan salaman itu. Alih-alih pemuda itu terbaring jatuh. Kedua matanya tertutup. Alam bawah sadar mulai membawanya pergi semakin jauh.
****
Ditulis oleh Martinus Aryo

Click to comment